Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

UNIVERSITAS ANDALAS

PEMILIHAN MENU BAGI KELOMPOK RENTAN

Oleh :

AISYAH MARDINA No. BP. 1411222003


REPITALINA No. BP. 1411222014
DATU RIDHA SIAHAAN No. BP. 1411222016
CYNTHIA ARIANI DEWI No. BP. 1411222018
DINA QORINA No. BP. 1411222021
PANJI MAULANA No. BP. 1411222030
SARAH TSURAYYA No. BP. 1411222036
MEGGYANI PUTRI No. BP. 1411222037
ZIKRA PUTRI SANTI No. BP. 1411222041
RETNO DEVIANI No. BP. 1411222048

PRODI ILMU GIZI


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2017
KATA PENGANTAR

Dengan nama Allah Yang Maha Penyayang, segala puji bagi Allah yang

telah melimpahkan Rahmat dan Karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan

makalah tentang “Pemilihan Menu Saat Bencana Bagi Kelompok Rentan” selama

proses penyusunan makalah ini penulis banyak mendapat dukungan dari berbagai

pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih

kepada dosen pengajar dan kepada teman-teman yang telah membantu penulisan

makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai pada waktunya.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan

dan kelemahan. Hal ini bukanlah kesengajaan dari penulis, karena itu kami

mengharapkan tanggapan, kritik dan saran serta ide dari semua pihak demi

kesempurnaan dari makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi

pembaca dalam menambah ilmu dan referensi.

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................i

DAFTAR ISI.................................................................................................................ii

BAB 1 : PENDAHULUAN..........................................................................................4

1.1 Latar Belakang....................................................................................................4

1.2 Tujuan Penelitian................................................................................................4

1.2.1 Tujuan Umum..............................................................................................4

1.3 Manfaat Penelitian..............................................................................................4

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................5

2.1 Pengertian Bencana............................................................................................5

2.2 Tujuan Pemberian Pangan..................................................................................5

2.3 Standar bantuan gizi untuk kelompok berisiko:.................................................5

2.4 Situasi tanggap darurat.......................................................................................9

2.4.1 Siaga darurat................................................................................................9

2.4.2 Tanggap darurat bencana.............................................................................9

2.4.3 Transisi Darurat.........................................................................................12

2.5 Panduan Prinsip Pemberian Makan..................................................................12

2.6 STANDAR MINIMUM SEKTORAL..............................................................12

2.6.1 Standar Minimum Sanitasi, Air Bersih dan Kebersihan............................12

2.5.2....................................................................................................................13

2.6.2 Standar Minimum Gizi..............................................................................13

ii
2.6.3 Standar Minimum Bantuan Pangan...........................................................13

2.6.4 Standar Minimum Layanan Kesehatan......................................................14

2.7 Contoh pemilihan menu....................................................................................14

BAB 3 : PENUTUP....................................................................................................17

3.1 Kesimpulan.......................................................................................................17

3.2 Saran.................................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB 1 : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pangan merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi, jika pangan suatu

negara kuat maka kuat pulalah rakyat yang berada di dalamnya. Pangan bahkan

dijadikan sebagai tolak ukur kesejahteraan masyarakat. Sebuah negara yang memiliki

pangan yang berdaulat bisa hidup sendiri dan tak gentar dengan ancaman negara lain.

Pangan bagi individu sendiri juga sangat dibutuhkan untuk kelangsungan

hisupnya. Pangan di dalam tubuh dijadikan sebagai bahan baku metabolism sehingga

tubuh dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Pangan yang baik, bergizi dan

seimbang merupakan tujuan dari negara bagi rakyatnya.

Negara Indonesia adalah negara yang sering ditimpa bencana, sehingga

negara harus mampu menyiapkan simpanan pangan yang baik agar bisa mengatasi

maslah pangan jika bencana terjadi.

Kelompok rentan sangat butuh perhatian lebih dalam bencana, oleh karena itu

penyusunan menunya juga harus diperhatikan sedemikian mungkin agar tidak terjadi

keadaan kurang nutrisi berat bagi kelompok rentan tersebut. Maka dalam makalah ini

akan diberikan cara dan contoh pemilihan menu bagi kelompok rentan.

1.2 Tujuan Penelitian


1.2.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menjadi panduan
dalam pemilihan menu saat bencana untuk kelompok berisiko.
1.3 Manfaat Penelitian
1. Menjelaskan bagaimana pemilihan menu yang baik bagi kelompok rentan.
2. Dapat Menjelaskan tindakan gizi apa yang harus dilakukan saat bencana.
3. Mengetahui hal yang dianjurkan dan dilarang dalam masalah gizi saat

bencana.

4
5

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Bencana


“Bencana adalah suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh

alam, manusia atau keduanya yang mengakibatkan korban manusia, kerugian harta

benda, kerusakan lingkungan,kerusakan sarana prasarana dan fasilitas umum serta

menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat.”

(Sudewo, 2006).

2.2 Tujuan Pemberian Pangan


Tujuan pemberian pangan dalam situasi darurat adalah:
a) Bertahan hidup,

b) Mempertahankan/memperbaiki status gizi, utamanya pada kelompok rentan,

c) Menyelamatkan aset produksi,

d) Menghindari migrasi massal,

e) Menjamin tersedianya pangan dalam jumlah yang cukup unuk seluruh

penduduk,

f) Mendorong rehabilitasi keadaan secara swadaya masyarakat,

g) Mengurangi kerusakan sistem produksi pangan dan pemasarannya.

2.3 Standar bantuan gizi untuk kelompok berisiko:


Berikut ini merupakan standar bantuan gizi untuk kelompok berisiko:

1. Bayi

o Bayi berumur kurang dari enam bulan harus diberi ASI secara

eksklusif atau dalam kasus-kasus khusus dapat diberikan susu

pengganti ASI yang tepat dalam jumlah yang memadai.


6

o Anak-anak berumur 6-24 bulan mempunyai akses terhadap makanan

tambahan yang bergizi dan sarat energi.

o Sejumlah 30% dari kandungan energi dalam menu balita disarankan

berasal dari sumber lemak. Apabila anak usia 6-24 bulan tidak

mempunyai akses terhadap ASI, makan makanan yang diberikan

harus memenuhi untuk mencukupi kebutuhan gizi mereka.

o Harus diupayakan cara untuk mempersiapkan makanan pelengkap

yang tepat untuk anak – anak terutama dibawah usia 24 bulan.

o Dari sisi kebutuhan suplementasi, balita wajib mendapatkan vitamin A

sesuai dengan program yang sudah berjalan.

DALAM SITUASI DARURAT:

a. Menyusui menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana

untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih bahan bakar dan

kesinambungan ketersediaan susu formula dalam jumlah yang

memadai.

b. Pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare,

kekurangan gizi dan kematian bayi.

c. Sumbangan susu formula dari donor, maka distribusi maupun

penggunaannya harus dimonitor oleh tenaga yang terlatih, sesuai

dengan beberapa prinsip di bawah ini:

Susu formula hanya boleh diberikan pada keadaan sangat terbatas,


yaitu:
1. Telah dilakukan penilaian terhadap status menyusui dari ibu, dan relaktasi

tidak memungkinkan. Diberikan hanya kepada anak yang tidak dapat

menyusu, misalnya: anak piatu, dll.


7

2. Bagi bayi piatu dan bayi yang ibunya tidak lagi bisa menyusui, persediaan

susu formula harus dijamin selama bayi membutuhkannya.

3. Diusahakan agar pemberian susu formula dibawah supervisi dan monitoring

yang ketat oleh tenaga kesehatan terlatih.

4. Ibu atau pengasuh bayi perlu diberi informasi yang memadai dan konseling

tentang cara penyajian susu formula yang aman dan praktek pemberian

makan bayi yang tepat.

5. Hanya susu formula yang memenuhi standar Codex Alimentarius yang bisa

diterima.

6. Sedapat mungkin susu formula yang diproduksi oleh pabrik yang melanggar

Kode Internasional Pemasaran Susu Formula jangan/tidak diterima.

7. Jika ada pengecualian untuk butir di atas, pabrik tersebut sama sekali tidak

diperbolehkan mempromosikan susu formulanya.

8. Susu Kental Manis dan Susu cair tidak boleh diberikan kepada bayi berumur

kurang dari 12 bulan.

9. Susu formula diberi label dengan petunjuk yang jelas tentang cara penyajian,

masa kadaluwarsa minimal 1 tahun, dalam bahasa yang dimengerti oleh ibu,

pengasuh atau keluarga.

10. Botol dan dot tidak boleh di distribusikan dan tidak dianjurkan untuk

digunakan. Pemberian susu formula hendaknya menggunakan cangkir atau

gelas.

11. Susu bubuk skim tidak boleh diberikan sebagai komoditas tunggal atau

sebagai bagian dari distribusi makanan secara umum, karena dikhawatirkan

akan digunakan sebagai pengganti ASI.


8

2. Wanita Subur

o Perempuan yang hamil atau menyusui mempunyai akses terhadap gizi

dan bantuan tambahan

o Perhatian khusus diberikan untuk melindungi, meningkatkan dan

mendukung perawatan gizi bagi wanita usia subur.

o Ibu hamil mendapatkan tambahan sejumlah 285 kkal/hari

o Ibu menyusui maka diberikan tambahan 500 kkal/hari

o Pemberian mikronutrient sesuai keadaan kehamilan

o Minimal 2.100 untuk ibu hamil kalori terpenuhi

o Informasi, pendidikan dan pelatihan yang tepat tentang gizi diberikan

kepada para professional yang relevan, juru rawat, dan lembaga-

lembaga yang bergerak dalam praktek pemberian makan bayi dan

anak.

3. Lansia

o Akses kaum lanjut usia untuk mendapatkan makanan yang bergizi dan

dukungan gizi yang tepat dilindungi, ditingkatkan, dan didukung.

o Lansia harus mampu mengakses sumber-sumber pangan termasuk

bantuan pangan dengan lebih mudah.

o Makanan disesuaikan dengan kondisi lansia serta mudah disiapkan

dan dikonsumsi.

o Makanan yang diberikan pada lansia harus memenuhi kebutuhan

protein tambahan serta vitamin dan mineral.

4. Lain lain

o Keluarga yang mempunyai anggota keluarga sakit kronis, termasuk

mereka yang menderita HIV/AIDS dan anggota keluarga yang


9

mempunyai kecacatan tertentu mempunyai akses terhadap makanan

bergizi yang tepat dan dukungan gizi yang memadai.

o Terbangun sistem berbasis komunitas untuk menjamin perawatan

individu-individu yang rentan secara semestinya.

2.4 Situasi tanggap darurat


2.4.1 Siaga darurat
Merupakan suatu keadaan potensi terjadinya bencana yang ditandai dengan

adanya pengungsi dan pergerakan sumber daya. Kegiatan penanganan gizi

tergantung situasi dan kondisi yang terjadi.

2.4.2 Tanggap darurat bencana


Ada 2 tahap darurat yang dapat dilakukan, yakni:

- Tahap Darurat Awal

Tahap darurat awal juga digolongkan atas beberapa fase, diantaranya:

1. Fase I Tanggap Darurat Awal

Fase I ini ditandai dengan kondisi sebagai berikut:

 Korban bencana berada atau belum berada di dalam

pengungsian.

 Petugas belum sempat mengidentifikasi korban secara

lengkap,

 Bantuan pangan sudah mulai berdatangan,

 Adanya penyelenggaraan dapur umum jika diperlukan.

Lamanya fase ini maksimal sampai 3 hari setelah bencana. Pada fase

ini hal yag dapat dilakukan adalah :

 Memberikan makanan yang bertujuan agar pengungsi tidak

lapar dan dapat mempertahankan status gizinya.

 Mengawasi pendistribusian bantuan bahan makanan.


10

 Menganalisis hasil Rapid Health Asssesment (RHA).

Penyelenggaran makanan bagi korban bencana mempertimbangkan


hasil analisis RHA dan standar ransum. Rasum adalah bantuan bahan
makanan yang memastikan korban bencana mendapatkan asupan
energi, protein dan lemak untuk mempertahankan kehidupan dan
beraktivitas. Ransum dibedakan dalam bentuk kering (dry ration) dan
basah (wet ration). Dalam perhitungan ransum basah diprioritaskan
penggunaan garam beriodium dan minyak goreng yang difortifikasi
dengan vitamin A.
Contoh Standar Ransum Fase I Tahap Darurat Awal

Contoh Perhitungan Kebutuhan Bahan Makanan Mentah Untuk 1500 Orang


Selama 3 Hari Pada Fase I Tahap Tanggap Darurat Awal

2. Fase II Tanggap Darurat Awal

Kegiatan terkait penanganan gizi pada fase II, adalah:

1. Menghitung kebutuhan gizi


11

Hal yang harus dilakukan dalam menghitung kebutuhan gizi adalah

dengan; (1) mengetahui jumlah pengungsi berdasarkan kelompok

umur; (2) memperhitungkan setiap orang pengungsi butuh 2100

kkal, 50 g protein, 40 g lemak; (3) lalu menyusun menu.

2. Pengelolan penyelenggaraan makanan di dapur umum.

 Tempat pengolahan
 Sumber bahan makanan
 Petugas pelaksana
 Penyimpanan bahan makanan basah
 Penyimpanan bahan makanan kering
 Cara mengolah
 Cara distribusi
 Peralatan makan dan pengolahan
 Tempat pembuangan sampah sementara
 Pengawasan penyelenggaraan makanan
 Mendistribusikan makanan siap saji
 Pengawasan bantuan bahan makanan

- Tahap Darurat Lanjut

Tanggap darurat lanjut dilaksanakan setelah tahap darurat awal. Lamanya

tahap ini tergantung situasi dan kondisi di daerah bencana. Kegiatan yang

dilakukan pada tahap ini adalah :

d. Analisis faktor penyulit berdasarkan hasil Rapid Heatlh

Assesment.

e. Pengumpulan data antropometri balita, ibu hamil, dan menyusui.

f. Menghitung proporsi status gizi balita kurus dan jumlah ibu hamil

dengan risiko KEK.

g. Menganalisis adanya faktor penyulit seperti diare, campak, DBD,

dan lain lain.


12

2.4.3 Transisi Darurat


Transisi darurat adalah suatu keadaan sebelum dilakukan rehabilitasi dan
rekonstruksi. Kegiatan penanganan gizi pada situasi transisi darurat disesusaikan
dengan situasi dan kondisi yang ada, dapat dilaksanakan kegiatan gizi seperti pada
tanggap darurat.

2.5 Panduan Prinsip Pemberian Makan


Panduan prinsip pemberian makan pada bayi 0-6 bulan dalam situasi darurat adalah

sebagai berikut:

a. Semua bayi harus tetap diberi ASI - bayi memiliki hak untuk mendapat ASI

sejak lahir - harus ada upaya maksimal pemberian ASI meskipun ibu

mengalami masalah - upaya relaktasi harus dilakukan terlebih dahulu sebelum

mengambil alternatif pemberian susu formula,

b. Ciptakan lingkungan yang optimal sebagai dukungan pemberian ASI, lanjutkan

sampai 2 thn,

c. Penggunaan PASI (cth. susu formula) dikendalikan dengan pedoman:

 Pemberian PASI hanya diberikan pada bayi yang sudah tidak mungkin

mendapat ASI, dengan nilai gizi yang mencukupi, diberikan dengan cangkir

 Pemberian PASI dibawah pengawasan nakes

 Pemberian PASI bagi bayi tertentu tidak boleh menggangu proses pemberian

ASI disekitarnya

 Rekomendasi penggunaan cangkir, bukan botol susu untuk meminimalisir

risiko diare.

2.6 STANDAR MINIMUM SEKTORAL


2.6.1 Standar Minimum Sanitasi, Air Bersih dan Kebersihan
Air bersih, sanitasi dan kebersihan adalah unsur terpenting dalam kelangsungan
hidup pada tahap awal situasi bencana.
13

Indikator:
a) Korban bencana memiliki kewajiban untuk pemeliharaan sarana – sarana
sebagaimana mestinya.
b) Rata – rata jumlah air yang digunakan per individu adalah sekitar 15
liter/hari.
c) Jarak terjauh antara lokasi penampungan dengan sumber daya air adalah 500
meter.
d) Maksimum 20 pengguna/jamban dengan memperhatikan pemisahan menurut
gender.
2.5.2. Standar Minimum Ketahanan Pangan
Ketahanan pangan mencakup akses terhadap pangan, ketercukupan stok pangan,
kualitas, jenis dan kesehatan makanan.
Indikator:
1. Program ketahanan pangan sedapat mungkin tidak merusak lingkungan.
2. Jaminan keamanan lingkungan kerja.
3. Bahan pangan mendasar dan komoditas penting lain tersedia di pasaran.
4. Terdapat program pembagian susu gratis.
2.6.2 Standar Minimum Gizi
Penyebab langsung kekurangan gizi adalah penyakit atau asupan makanan
yang tidak mencukupi.
Indikator:
o Tersedianya akses terhadap makanan pokok (bubur atau ubiubian), kacang-
kacangan dan sumber lemak.
o Tersedianya makanan yang mengandung vitamin C, A atau makanan yang
kaya zat besi.
o Suplai garam beryodium untuk >90% rumah tangga.
o Tidak ada kasus kekurangan vitamin C, pellagra, beri-beri atau kekurangan
Ribloflavin.
2.6.3 Standar Minimum Bantuan Pangan
Bila pengkajian awal menentukan bahwa bantuan pangan adalah respons yang
tepat, maka hal ini harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek dan
diusahakan untuk kebutuhan jangka panjang.
14

o Jatah makanan dibagikan berdasarkan kebutuhan setempat akan energi,


protein, lemak, vitamin & mineral.
o Masyarakat dilibatkan dalam perencanaan program bantuan pangan.
o Tingkat akses masyarakat terhadap bahan bakar dan air menjadi bahan
pertimbangan pemilihan komoditas untuk bantuan.
o Tersedianya bahan makanan & bumbu yang secara budaya cukup penting.
o Bantuan pangan harus tahan minimal selama 6 bulan di daerah yang terkena
bencana.
2.6.4 Standar Minimum Layanan Kesehatan
Dalam situasi bencana, golongan masyarakat yang paling membutuhkan layanan
kesehatan adalah wanita dan anak –anak.
Indikator:
1. Semua orang mempunyai akses terhadap layanan kesehatan.
2. Layanan kesehatan menggunakan teknologi yang tepat dan diterima secara
sosial dan budaya.
3. Tindakan medis khusus seperti vaksinasi massal.
4. Tersedianya stok obat – obatan penting, alat medis, vaksin dan bahan

perlindungan dasar

2.7 Contoh pemilihan menu


A. Bayi
15
16
BAB 3 : PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah :

1. Golongan kelompok rentan terdiri dari; Bayi, Ibu hamil dan menyusui,

lansia, dan pengidap penyakit berat.

2. Walaupun dalam keadaan darurat bayi tetap harus diberikan ASI,

namun jika tidak tersedia maka dapat diberika susu formula namun ada

syarat dan ketentuannya.

3. Walaupun dalam kondisi bencana ibu hamil dan menyusui tetap harus

diberi penambahan kalori tidak boleh kurang.

3.2 Saran
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis

mengharapkan kritikan dan saran dari pembaca sehingga makalah ini bisa jadi lebih

baik dan bermanfaat.

17
DAFTAR PUSTAKA

Al-Bishry, Yordan M. 2017. “Perancangan Media Informasi Mengenai Standar


Minimum Respons Bencana di Indonesia. Diakses dalam
http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/333/jbptunikompp-gdl-yordanmalb-16640-
3-babii.pdf pada 28 Februari 2017.
Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. 2012. “Pedoman Kegiatan Gizi
dalam Penanggulangan Bencana”. ISBN 978-602-235-138-2. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI.
Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan. 2014. “BUku Saku Petugas Lapangan
Penanggulangan Krisis dan Kesehatan”. Diakses dalam
http://penanggulangankrisis.kemkes.go.id/__pub/files59107Buku%20Saku
%20PPKK%202014_Final.pdf pada 28 Februari 2017.
Yuniz. 2010. “Pemberian Makan Pada Kelompok Rentan dalam Situasi Darurat”.

Diakses dalam http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2010/07/makanan-

kelompok-rentan-pada-situasi-darurat.pdf pada 28 Februari 2017.