Anda di halaman 1dari 13

AKUNTANSI HOTEL

SAP 1
PARIWISATA DAN BERBAGAI JENIS INDUSTRI PARIWISATA
Dosen: Dr. I Nyoman Wijana Asmara Putra, S.E., M.Si.,

Oleh:

Kelompok 5

Ni Putu Widianjani (1515351081 / 02)

Komang Winda Trinadewi (1515351083 / 03)

Ni Wayan Sukma Kartika Dewi (1515351084/ 04)

Ni Komang Rima Susanti (1515351099 / 05)

Desak Made Darmayoni (1515351151 / 31)

Ni Kadek Putri Sartika (1515351163 / 38)

PROGRAM NON REGULER


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2018
1.1 KONSEP DASAR PARIWISATA

PENGERTIAN PARIWISATA
Indonesia sebagai Negara yang mempunyai keindahan alam dan atraksi budaya menawan
mempunyai kesempatan untuk menjadi salah satu tujuan wisata. Pariwisata di Indonesia
diharapkan menjadi sumber devisa yang mendukung penerimaan negara dari sektor lainnya .
Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan
secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata. (UU No.
9 tahun 1990 pasal 1). Sehingga lingkup pengertian wisata adalah:
1. Kegiatan perjalanan.
2. Dilakukan secara sukarela.
3. Bersifat sementara.
4. Perialanan itu seluruhnya atau sebagian bertujuan untuk menikmati obyek dan daya
tarik wisata
Obyek dan daya tarik wisata merupakan sasaran perjalanan wisata yang meliputi :
1. Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang berwujud keadaan alam serta flora dan fauna,
seperti pemandangan alam, panorama indah, hutan rimba dengan tumbuhan hutan tropis,
serta binatang-binatang langka.
2. Karya manusia yang berwujud museum, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah,
seni budaya, wisata agro (pertanian), wisata tirta (air), wisata petualangan, taman
rekreasi dan tempat hiburan.
Wisata minat khusus, seperti berburu, mendaki gunung, gua, industri dan kerajinan, tempat
perbelanjaan, sungai air deras, tempat-tempat ibadah, tempat-tempat ziarah dan lain- lain, secara
tidak langsung memberikan peluang atau sebagai salah satu wujud strategi dalam mencintai dan
melestarikan nilai-nilai tempat-tempat wisata yang dimaksud.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia "kepariwisataan" merupakan kata nomina, yaitu kata
benda berarti perihal atau yang berhubungan dengan pariwisata. Sedangkan "pariwisata" juga
merupakan kata nomina yang berarti berhubungan dengan perjalanan untuk rekreasi,
pelancongan, dan turisme Kalau pariwisata dikaitkan dengan kata bahari (pariwisata bahari)
artinya pariwisata yang obyeknya adalah laut dan isinya (berperahu, berselancar, menyelam dan
sebagainya.
Kata "Pariwisata" berasal dari bahasa Jawa Kuna, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia :
 Kata "pari" berarti semua, segala, sekitar, sekeliling.
 Kata "wisata" berarti bepergian bersama-sama untuk memperluas pengetahuan,
bersenang- senang dan sebagainya.
Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusaha an
obyek dan daya tarik wisata usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut (UU No. 9 tahun 1990
pasal 1). Sehingga lingkup pariwisata meliputi:
1. Semua kegiatan yang berhubungan dengan perjalanan wisata
2. Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata, seperti kawasan wisata, taman rekreasi,
kawasan peninggalan sejarah (candi, makam) museum, waduk, pagelaran seni budaya,
tata kehidupan masyarakat dan yang bersifat alamiah, seperti keindahan alam, gunung
berapi, danau, pantai dan lain-lain
3. Pengusahaan jasa dan sarana pariwisata seperti biro perjalanan wisata, pramuwisata,
pameran, angkutan wisata, akomodasi dan lain-lain.
Mc. Intosh dan Goeldner (1984:4) mengatakan pariwisata sebagai sekumpulan fenomena
dan hubungan yang tumbuh dari interaksi antara wisatawan (para pelancong), para pengusaha
dengan pemerintah dan masyarakat tuan rumah. Interaksi itu terjadi dalam suatu proses di mana
pemerintah dan masyarakat tuan rumah berusaha untuk mempengaruhi para wisatawan dan
pengunjung lainnya tersebut untuk singgah di tempat/daerah atau negara yang mereka kunjungi.
Mereka juga mendefinisikan kepariwisataan sebagai sekumpulan kegiatan, pelayanan, dan
industri yang dapat memberikan pengala pengalaman mengatakan pariwisata adalah gejala
ekonomi karena adanya permintaan dari pihak wisatawan dan penawaran dari pemberi jasa
pariwisata (biro perjalanan, penginapan, rumah makan) atas produk dan berbagai fasilitas terkait
Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata
(UU No. 9 tahun 1990 Bab I pasal 1). Kepariwisataan meliputi perencanaan, peng- turan,
pelaksanaan, pengawasan pariwisata baik yang dilakukan oleh pemerintah, pihak swasta
maupun oleh masyarakat
Wisatawan menurut kamus besar bahasa Indonesia merupakan kata nomina yang berarti
orang berwisata, pelancong, atau turis artinya oaring yang memasuki wilayah atau Negara lain
dengan tujuan apapun asal bukan untuk tinggal menetap atau melakukan usaha teratur, dan
mengeluarkan uangnya dinegara yang dikunjungi serta tidak memperoleh uang dari Negara
tersebut. Inpres No.9/1969 mendefinisikan wisatawan adalah setiap orang yang berpergian dari
tempat tinggalnya untuk berkunjung ke temat lain dengan menikmati kunjungan tersebut.
Pendit (1991:10) mengatakan wisatawan adalah orang yang memasuki wilayah Negara asing
dengan tujuan apapun asal bukan untuk tinggal menetap atau melakukan usaha yang teratur, dan
mengeluarkan uangnya di negara yang dikunjungi serta tidak memperoleh uang dari negara
tersebut. Wisatawan dibedakan menjadi wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik
The Committee of Statistical Experts of the League of Nations (1937) memberikan beberapa
definisi terkait dengan wisatawan sebagai berikut:
1. Wisatawan adalah setiap orang yang mengunjungi suatu negara selain negara di mana ia
biasanya tinggal, dan dengan periode setidak-tidaknya selama 24 jam
2. Yang biasa dianggap sebagai wisatawan adalah:
a. Orang-orang yang bepergian untuk tujuan bersenang-senang, alasan keluarga,
untuk tujuan kesehatan dan lain sebagainya
b. Orang-orang yang bepergian untuk mengadakan pertemuan atau mewakili
kedudukan sebagai diplomat, misi keagamaan, orang-orang yang bepergian
dengan alasan dagang.
c. Orang-orang yang sing dalam pelayaran lautnya, sekalipun bila mereka tinggal
kurang dari 24 jam.
3. Yang tidak biasa dianggap sebagai wisatawan adalah:
a. Orang-orang yang datang baik dengan dasar kontrak maupun tidak, untuk
mencari kerja atau yang bekerja pada suatu aktivitas usaha negara tersebut.
b. Orang-orang lain yang datang untuk menetap menjadi penduduk di negara
tersebut.
c. Pelajar dan orang-orang muda yang mondok di rumah pemondokan atau asrama.
Sedangkan Komisi statistik Perserikatan Bangsa-Bangsa (967 memberikan definisi
pengunjung (visitors) adalah setiap orang yang mengunjungi suatu negara selain negara tempat
tinggalnya yang biasa, untuk berbagai tujuan selain mencari dan melakukan suatu pekerjaan
yang menguntungkan di negara yang dikunjungi.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa yang bisa disebut sebagai wisatawan
adalah yang memiliki ciri-ciri berikut:
1. Perjalanan itu dilakukan lebih dari 24 jam.
2. Perjalanan itu dilakukan hanya untuk sementara waktu.
3. Orang yang melakukannya tidak mencari nafkah di tempat di negara yang dikunjungi

1.2 JENIS PARIWISATA DAN USAHA PARIWISATA

JENIS-JENIS PARIWISATA
Definisi pariwisata dan wisatawan yang telah dijelaskan memberi gambaran tentang tujuan
seseorang melakukan perjalanan wisata. Definisi tersebut akan mempengaruhi dan menentukan
jenis-jenis pariwisata yang dapat dikembangkan di daerah tujuan wisata sehingga menarik
wisatawan untuk mengunjunginya. Menurut Spillane (1989) terdapat beberapa jenis pariwisata:

a) Pleasure tourism (pariwisata menikmati perjalanan)

Jenis pariwisata ini dilakukan oleh orang yang meninggalkan tempat tinggalnya untuk
berlibur. Jenis pariwisata ini menyangkut begitu banyak unsur yang sifatnya berbeda karena
pengertian utilitas pleasure yang berbeda sesuai dengan karakter, citarasa, latar belakang
kehidupan, dan temperamen individu.

b) Recreation tourism (pariwisata rekreasi)

Jenis pariwisata ini dilakukan oleh orang yang menghendaki pemanfaatan hari-hari libur
untuk istirahat, memulihkan kembali kesegaran jasmani dan rohani yang akan menyegarkan
keletihan dan kelelahan.

c) Cultural tourism (pariwisata budaya)

Jenis pariwisata ini ditandai oleh adanya rangkaian motivasi seperti keinginan untuk
belajar dipusat pembelajaran dan riset, mempelajari adat istiadat, cara hidup masyarakat
suatu negara, mengunjungi tempat bersejarah, dan sebagainya.

d) Sport tourism (pariwisata dan olah raga)

Jenis pariwisata ini dibagi dalam dua kategori:

1. Big sport event seperti : Olympiade games, tenis Wimbledon, kejuaraan sepak bola
dunia, dan sebagainya.

2. Sporting tourism of practionaer yaitu pariwisata olah raga bagi mereka yang ingin
berlatih dan ingin mempraktikan sendiri, seperti pendakian gunung, memancing, dan
sebagainya yang tentunya akan menarik wisatawan untuk mengunjungi negara yang
menyediakan fasilitas pariwisata untuk olah raga.

e) Business shoping tourism (pariwisata dagang besar-belanja)

Jenis perjalanan ini menurut banyak ahli tidak termasuk dalam kegiatan pariwisata
karena unsur voluntary tidak terlibat didalamnya. Dalam jenis pariwisata ini, unsur yang
ditekankan adalah kesempatan yang digunakan oleh pelaku perjalanan wisata menggunakan
waktu-waktu bebasnya untuk menjadikan dirinya sebagai wisatawan dengan mengunjungi
dan menikmati obyek wisata berbelanja.

f) Convention tourism (pariwisata konveksi)

Jenis pariwisata ini mengalami perkembangan yang luar biasa dan menjadi penting
dalam sumbangan terhadap devisa negara. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya negara yang
mulai tertarik dan menggarap jenis pariwisata ini dengan banyaknya hotel dan bangunan-
bangunan yang khusus dilengkapi untuk menunjang convention tourism. Fasilitas konveksi
ini digunakan untuk melakukan pertemuan-pertemuan kepala negara ataupun organisai-
organisasi dunia yang melibatkan banyak negara dan banyak peserta.

USAHA PARIWISATA

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No.9 tahun 1990 pengertian usaha


pariwisata yaitu kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan jasa pariwisata atau menyediakan
atau mengusahakan obyek dan daya tarik wisata, usaha sarana pariwisata dan usaha lain yang
terkait dibidang tersebut. United Nations Conference on Trade and Development (1971) dalam
Guidelines for Tourism Statistics mengatakan bahwa industri pariwisata bukan merupakan suatu
sektor ekonomi tertentu atau bukan merupakan cabang produksi tertentu. Adapun barang-barang
dan jasa-jasa yang diperhitungkan dalam pariwisata berasal dari beberapa sektor dan ini
memenuhi permintaan wisatawan asing maupun dalam negeri. Berdasarkan hal tersebut sektor-
sektor yang dianggap termasuk sektor pariwisata adalah :

1) Akomodasi termasuk didalamnya hotel, villa, penginapan dan pemondokan

2) Jasa boga termasuk di dalamnya restoran, cafetaria, dan rumah makan.

3) Usaha wisata termasuk di dalamnya pengusahaan obyek wisata, usaha sourvenir, dan
usaha hiburan.

4) Agen perjalanan wisata termasuk di dalamnya travel agent.

5) Perusahaan angkutan atau transportasi termasuk di dalamnya perusahaan angkutan darat,


angkutan laut, angkutan udara yang menunjang perjalanan wisman dan wisdom.

6) Convention organizer.
7) Pelatihan dan pendidikan.

Lastara (1997) mengemukakan bahwa usaha jasa pariwisata adalah usaha yang
menyediakan jasa perencanaan, jasa pelayanan dan jasa penyelenggaraan pariwisata, yang dapat
terdiri dari berbagai jenis usaha. Yang termasuk sebagai usaha pariwisata adalah:

1) Usaha biro perjalanan wisata, adalah usaha penyediaan jasa perencanaan dan atau jasa
pelayanan dan penyelenggaraan wisata (UU No.9 tahun 1990 tentang kepariwisataan).

2) Usaha agen perjalanan wisatra, adalah usaha jasa perantara untuk menjual dan atau
mengurus jasa untuk perjalanan wisata.

3) Usaha jasa pramuwisata, adalah seseorang yang bertugas memberikan bimbingan,


penerangan dan petunjuk tentang obyek wisata, serta membantu segala sesutau yang
diperlukan oleh wisatawan di dalam perjalanan.

4) Usaha jasa konveksi, perjalanan insentif dan pameran, merupakan usaha dengan kegiatan
pokok memebri jasa pelayanan bagi suatu pertemuan kelompok orang (negarawan,
cendekiawan, usahawan) untuk membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan
kepentingan bersama.

5) Usaha jasa impresariat, adalah kegiatan pengurusan penyelenggaraan hiburan baik yang
berupa mendatangkan, mengirimkan maupun mengembalikan serta menentukan tempat,
waktu dan jenis hiburan.

6) Usaha jasa konsultan pariwisata, adalah jasa berupa saran dan nasehat yang diberikan
untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul mulai dari penciptaan gagasan,
pelaksanaan dan operasinya disusun secara sistematis berdasarkan disiplin ilmu yang
diakui, yang disampaikan secara lisan, tertulis maupun gambar oleh tenaga ahli
profesional.

7) Usaha jasa informasi pariwisata, adalah keterangan dalam bentuk apapun mengenai
segala sesutau yang berhubungan dengan kepariwisataan.

Lastara (1997) juga mengemukakan bahwa usaha sarana pariwisata meliputi kegiatan
pembangunan, pengelolaan, dan penyediaan fasilitas, serta pelayanan yang diperlukan dalam
penyelenggaraan pariwisata, seperti jenis usaha berikut:
1) Penyediaan akomodasi.

2) Penyediaan makan dan minum.

3) Penyediaan angkutan wisata.

4) Penyediaan sarana wisata tirta.

5) Pawasan pariwisata.

1.3 MOTIVASI MELAKUKAN PERJALANAN WISATA

H. Peter Gray (1970) mengemukakan beberapa alasan seseorang melakukan perjalanan


untuk bersenang-senang (pleasure travel) sebagai berikut

1) Faktor haus akan sinar (sunlust), dimaksudkan sebagai sifat-sifat yang mendasar pada
tabiat manusia, yang menyebabkan seseorang ingin pergi meninggalkan sesuatu yang
sudah biasa dilihat dan dirasakan, untuk melihat suatu daerah atau kebudayaan baru yang
berbeda.

2) Faktor yang menimbulkan jenis perjalanan khusus, yang bergantung pada adanya hal-hal
yang menyenangkan (amenities) yang berbeda dan lebih baik untuk tujuan tertentu
dibandingkan dengan yang ada ditempat sendiri, seperti liburan musim dingin di Florida,
Hawai atau Caribia oleh orang-orang Canada dan orang-orang yang berasal dari Amerika
Serikat sebelah Utara.

Spilance (1989) produk dari objek atau industri pariwisata mempunyai beberapa sifat khusus,
antara lain:

a) Produk wisata tidak dapat dipindahkan karena orang tidak dapat membawa produk ke
wisatawan, akan tetapi wisatawan itu sendiri yang harus mengunjungi, mengalami, dan
dating untuk menikmati produk wisata.
b) Produksi dan konsumsi terjadi pada waktu yang bersamaan. Tanpa wisatawan yang
sedang menggunakan jasa wisata itu tidak akan terjadi kegiatan produksi wisata.
c) Pariwisata tidak mempunyai standar ukuran yang objektif karena pariwisata memiliki
berbagai ragam jenis pariwisata.
d) Wisatawan tidak dapat mencicipi, menikmati, ataupun menguji produk itu sebelumnya
karena wisatawan hanya melihat brosur, internet, ataupun alat promosi lainnya.
e) Produk wisata mengandung resiko tinggi karena memerlukan modal besar, sedangkan
permintaannya sangat peka dan rentan terhadap situasi ekonomi, politik, sikap
masyarakat, dan kesukaan wisatawan.

Dinas Pariwisata Provinsi Bali (200) mengemukakan bahwa hasrat ingin tahu dan jiwa
petualang yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada manusia merupakan dorongan terhadap
kita untuk melakukan perjalanan kemana saja yang ingin kita lintasi dan nikmati obyek
wisatanya meskipun samapai ke negeri orang. Selain hal tersebut ada beberapa faktor menjadi
penyebab untuk melakukan perjalanan wisata yaitu:

1) Kondisi lingkungan
Kondisi sekitar yang kurang baik atau rusak, lingkungan tempat tinggal yang bising dan
kotor, ataupun pemandangan yang membosankan.
2) Kondisi sosial budaya
Seperti kurang tersedianya fasilitas rekreasi, kegiatan yang rutin dalam masyarakat
sekitar, terlalu banyak kerja, adanya perbedaan sosial antar anggota masyarakat dan lain-
lain yang sering menjadi alasan untuk pergi ke tempat-tempat yang kondisinya lebih baik
dan menyenangkan.
3) Kondisi ekonomi
Konsumsi yang tinggi dari masyarakat, biaya hidup sehari-hari, tingkat daya beli yang
tinggi, banyaknya waktu luang serta relatif rendahnya ongkos angkutan, juga akan
mendorong seseorang untuk melakukan perjalanan wisata.
4) Pengaruh kegiatan pariwisata
Peningkatan publikasi dan penyebaran informasi serta timbulnya pandangan tentang
nilai lebih dari kegiatan berwisata terhadap fungsi sosial masyarakat dapat mendorong
kegiatan wisata.

1.4 PEMASARAN PARIWISATA

Pemasaran mempunyai peran yang sangat penting dalam industri pariwisata khususnya
untuk memberikan pencitraan daerah tujuan wisata. Pemasaran daerah tujuan wisata adalah
keseluruhan usaha untuk mengenalkan produk wisata yang ditawarkan oleh daerah tujuan wisata
baik yang tangiable maupun intangiable produk, mengenali identitas wisatawan yang
mempunyai waktu, uang dan mempunyai keinginan untuk berwisata, dan mencari cara terbaik
untuk mencapai dan meyakinkan wisatawan untuk berkunjung ke daerah tujuan wisata.

Tujuan utama pemasaran pariwisata adalah tidak hanya menyangkut jumlah maksimal
wisatawan yang berkunjung dan tinggal lebih lama tetapi lebih diutamakan quality tourism yang
dengan promosi selektif dapat mencapai wisatawan dengan belanja yang sangat besar dan terjadi
repeat queast. Pemasaran daerah tujuan wisata dapat dilakukan tidak hanya dengan melakukan
promosi melalui iklan, brosur, internet, ataupun alat-alat promosi lainnya tetapi dapat juga
dengan mengundang penulis atau wartawan pariwisata asing dengan tujuan agar penulis atau
wartawan tersebut menulis atau meliput hasil kunjungannya didaerah tujuan wisata wariss.

Dalam manajemen pemasaran global, prinsip-prinsip dalam marketing mix masih


berlaku. Marketing mix sebagai strategi pemasaran sebenarnya mempertemukan antara
penawaran dan permintaan pasar. H.F Stanley dalam (Spillance, 1998), seorang konsultan
Pasific Asia Travel Association membagi unsure marketing mix dalam pariwisata menjadi :

1) Product mix : Masalah pemeliharaan warisan budaya, peninggalan sejarah, dan


pemeliharaan fisik dan nonfisik.
2) Distribution mix : Layanan agar wisatawan memperoleh kepuasan saat mengkonsumsi
produk pariwisata.
3) communication mix : Agar suatu produk wisata diketahui oleh wisatawan maka
wisatawan harus diberi informasi, diperkenalkan, ditarik, dan didorong agar
mengunjungi suatu daerah tujuan wisata. Ada beberapa pendekatan communication mix,
yaitu :
a) Sales promotion, meliputi kegiatan komunikasi yang diarahkan kepada wisatawan
melalui media umum, biro perjalanan, dan hubungan langsung dengan wisatawan.
b) Image promotion, kegiatan komunikasi ini dilakukan dengan cara membujuk secara
halus untuk member kesan dan gambaran suatu daerah tujuan wisata.
c) Melalui pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan kepada semua staf organisasi yang
terkait dalam matarantai kegiatan pariwisata.
d) Melalui jasa penerangan kantor pariwisata, termasuk jasa surat-menyurat, dan
hubungan korespondensi melalui alat komunikasi.
4) Service mix : Kebijakan pemerintah untuk memperlancar perjalanan dan persinggahan
wisatawan.

ASPEK DAN DAMPAK PEMBANGUNAN PARIWISATA

Berkembangnya industry pariwisata disuatu negara/daerah akan menarik sector lain


untuk berkembang karena produknya atau jasanya diperlukan untuk menunjang industri
pariwisata. Penelitian ini dilakukan Chau di Hawai (Spillance,1989) menunjukan bahwa
setiap kenaikan kunjungan wisatawan sebanyak 25.000 orang mengakibatkan terciptanya
kesempatan kerja langsung sejumlah 390 orang dan tidak langsung sejumlah 243 orang.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh International Union of Office Travel Organization
menyimpulkan bahwa kesempatan kerja yang terbuka diseluruh dunia untuk bidang hotel dan
restoran diperkirakan mencapai 750.000 orang pertahunnya (Spillance,1989).

Menurut Tambunan (1999), industru pariwisata dapat menjadi sumber Pendapatan Asli
Daerah (PAD) adalah industry pariwisata yang dimiliki masyarakat daerah community tourism
development (CTD). Dengan pengembangan CTD, pemerintah daerah dapat memperoleh
peluang penerimaan pajak dan beragam restribusi yang bersifat legal. Sebagaii contoh,
keberadaan sebuah hotel disuatu daerah kabupaten atau kota akan menjadi sumber PAD bagi
kabupaten atau kota dari penerimaan:

a. Pajak daerah
b. Restribusi daerah
c. Laba BUMD
d. Bagi hasil pajak
e. Bukan pajak

Bagi provinsi, keberadaan hotel yang ada didaerahnya akan menjadi sumber PAD dari
penerimaan:

a. Pajak provinsi
b. Restribusi provinsi
c. Laba BUMD provinsi
d. Bagi hasil pajak provinsi

Dinas Pariwisata Provinsi Bali (2005), manfaat dan keuntungan dalam pembangunan dan
pembangunan pariwisata bila direncanakan dan diarahkan dengan baik adalah:

1. Manfaat ekonomi (kesejahteraan)


Manfaat ekonomi bagi penduduk, pengusaha maupun pemerintah setempat, seperti:
a. Penerimaan devisa
b. Kesempatan berusaha
c. Terbukanya lapangan kerja
d. Meningkatnya pendapatan masyarakat dan pemerintah
e. Mendorong pembangunan daerah
2. Manfaat sosial budaya
a. Pelestarian budaya dan adat istiadat
b. Meningkatkan kecerdasan masyarakat
c. Meningkatkan kesehatan dan kesegaran jasmani ataupun rohani
d. Mengurangi konflik sosial
3. Manfaat dalam berbangsa dan bernegara
a. Mempererat persatuan dan kesatuan
b. Menumbuhkan rasa memiliki, keinginan untuk memelihara dan mempertahankan
negara yang ujungnya tumbuh rasa cinta terhadap tanah air
c. Memelihara hubungan baik internasional dalam hal pengembangan pariwisata
4. Manfaat bagi lingkungan
Pembangunan dan pengembangan pariwisata diarahkan agar dapat memenuhi keinginan
wisatawan.

Dampak-dampak yang tidak diinginkan karena berkembangnya kepariwisataan di suatu daerah,


dapat menyangkut segi ekonomi, sosial budaya, politik maupun lingkungan, seperti:

1. Harga-harga barang atau jasa pelayanan menjadi naik.


2. Penduduk, khususnya remaja suka mengikuti pola hidup para wisatawan yang tidak
sesuai dengan budaya dan kepribadian bangsa kita sendiri.
3. Banyaknya pemanfaatan wisatawan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab untuk
melakukan hal-hal yang tidak pantas.
4. Terjadinya pengrusakan lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA

Widanaputra, A.A.GP., Suprasto, H Bambang., Ariyanto, Dodik., Sari, Maria M Ratna. 2009.
Akuntansi Hotel (Pendekatan Sistem Informasi)