Anda di halaman 1dari 6

Diare Akut Dehidrasi Berat

No.dokumen : /SOP/UKP/RI/66

No.revisi :
SOP
Tanggal terbit:

Halaman :

Puskesmas Silawan Agusto Lopes Martins,ST


NIP.19800818200501 1 015

1. Pengertian Diare adalah buang air besar yang frekuensi lebih sering dari biasanya ( pada
umumnya 3 kali atau lebih ) perhari dengan konsistensi cair dan berlangsung
kurang dari 7 hari, di sertai dengan tanda-tanda dehidrasi berat berupa penurunan
kesadaran (apatis, letargis), tidak ingin minum, denyut jantung meningkat, naadi
tidak teraba atau lemah, napas dalam, mata sangat cekung, tidak ada air mata,
mukosa bibir kering dan pecah-pecah, turgor kulit > 2 detik, CRT memanjang,
ekstremitas dingin, produksi urin minimal
2. Tujuan Prosedur ini dibuat dimaksudkan untuk mengatur tatacara melakukan penanganan
penderita Diare Akut Dehidrasi Berat dan mencegah terjadinya komplikasi lebih
lanjut
3. Kebijakan Surat Keputusan Pemimpin Puskesmas Silawan Nomo Tentang Panduan
Klinis
4. Referensi Panduan Praktis Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer 2014
Buku Bagan MTBS tahun 2013
5. Alat Tempat tidur, Tabung oksigen dan kelengkapannya, Tensimeter, Stetoskop, timer, ,
1nfuse set, Timbangan, NaCl 0,9% atau RL.
6. Langkah- 1. Petugas menerima pasien dengan ramah
Langkah 2. Petugas melakukan anamnesa
a. Frekuensi buang air besar perhari
b. lamanya diare
c. Volume diare,warna tinja,adanya darah atau lendir
d. Gejala lain yang menyertai: demam,nyeri perut,perut kembung,muntah
e. Gejala dehidrasi,riwayat buang air kecil terakhir
f. Riwayat makan makanan sebelumnya
g. Tanda tanda diare invasif: diare dengan faeses di sertai darah (disentri),
demam,nyeri abdomen
3. Petugas melakukan pemeriksaan
a. Pemeriksaan untuk menentukan beratnya diare dan derajat dehidrasi
b. Pemeriksaan tanda tanda vital pasien
c. Nyeri tekan abdomen atau tanda tanda peritonitis ,kualitas bising usus
4. Petugas menegakkan diagnosa sesuai hasil pemeriksaan yang di dapat
a. Frekuensi buang air besar 3 xatau lebih
b. konsistensi feses lembek atau cair
c. Tanda tanda dehidrasi
d. Tanda tanda syok : gelisah,nadi cepat lemah,akral dingin.
5. Petugas melakukan konseling dan edukasi
6. Petugas memberikan resep sesuai diagnosa
a. Pemberian terapi rehidrasi mengguunakan Bagan Sesuai Pedoman WHO
b. Pemberian obat oral
 Oralit
 Zink
 Anti biotik: di berikan bila ada indikasi pasien mengalami infeksi
bakteri invasif
7. Petugas mempersilahkan pasien untuk menuju apotik
8. Petugas melakukan pencatatan
7. Prosedur Penatalaksanaan
Prinsip tatalaksana diare pada balita adalah LINTAS DIARE (Lima Langkah
Tuntaskan Diare), yaitu:
1.Rehidrasi
Untuk diare dengan Dehidrasi berat, maka pemberian cairan dapat di sesuaikan
alur sebagai berikut
2. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut
Pemberian zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat
keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume
tinja, serta menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya.
Berdasarkan bukti ini semua anak diare harus diberi Zinc segera saat anak
mengalami diare.
Dosis pemberian Zinc pada balita:
- Umur < 6 bulan : ½ tablet (10 mg) per hari selama 10 hari.
- Umur > 6 bulan : 1 tablet (20 mg) per hari selama 10 hari.
Zinc tetap diberikan selama 10 hari walaupun diare sudah berhenti.
Cara pemberian tablet zinc : Larutkan tablet dalam 1 sendok makan air matang
atau ASI, sesudah larut berikan pada anak diare.

3. Teruskan pemberian ASI dan Makanan


Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada
penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah
berkurangnya berat badan. Anak yang masih minum ASI harus lebih sering
diberi ASI. Anak yang minum susu formula juga diberikan lebih sering dari
biasanya. Anak usia 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang telah mendapatkan
makanan padat harus diberikan makanan yang mudah dicerna dan diberikan
sedikit lebih sedikit dan lebih sering. Setelah diare berhenti, pemberian
makanan ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan berat
badan

4. Antibiotik Selektif
Antibiotika tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya kejadian diare
pada balita yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotika hanya bermanfaat pada
penderita diare dengan darah (sebagian besar karena Shigellosis) dan suspek
kolera.
Obat-obatan anti diare juga tidak boleh diberikan pada anak yang menderita
diare karena terbukti tidak bermanfaat. Obat anti muntah tidak dianjurkan
kecuali muntah berat. Obat-obatan ini tidak mencegah dehidrasi ataupun
meningkatkan status gizi anak, bahkan sebagian besar menimbulkan efek
samping yang berbahaya dan bisa berakibat fatal. Obat anti protozoa digunakan
bila terbukti diare disebabkan oleh parasit (amuba, giardia).
5. Nasihat kepada orang tua/pengasuh
Ibu atau pengasuh yang berhubungan erat dengan balita harus diberi nasehat
tentang:
a. Cara memberikan cairan dan obat di rumah
b. Kapan harus membawa kembali balita ke petugas kesehatan bila :
- Diare lebih sering
- Muntah berulang
- Sangat haus
- Makan/minum sedikit
- Timbul demam
- Tinja berdarah
- Tidak membaik dalam 3 hari.

Konseling dan Edukasi


Pencegahan diare menurut Pedoman Tatalaksana Diare Depkes RI (2006) adalah
sebagai berikut:
1. Pemberian ASI
2. Pemberian makanan pendamping ASI
3. Menggunakan air bersih yang cukup
4. Mencuci tangan
5. Menggunakan jamban
6. Membuang tinja bayi dengan benar
7. Pemberian imunisasi campak

Kriteria Rujukan
1. Anak diare dengan dehidrasi berat dan tidak ada fasilitas rawat inap dan
pemasangan intravena.
2. Jika rehidrasi tidak dapat dilakukan atau tercapai dalam 3 jam pertama
penanganan.
3. Anak dengan diare persisten
4. Anak dengan syok hipovolemik
8. Unit terkait 1. UGD
2. Farmasi
3. Laboratorium
9. Diagram Alir

Petugas menerima Petugas Petugas


pasien dengan ramah melakukan melakukan
anamnesis pemeriksaan fisik

Petugas Petugas melakukan Petugas menegakkan


memberikan konseling dan diagnosis sesuai hasil
resep edukasi pemeriksaan
anamnesis

Petugas
mempersilahkan Petugas merujuk pasien
pasien menuju apabila pasien
apotek memenuhi kriteia rujuk

Petugas melakukan
pencatatan

10. Dokumen terkait 1. Rekam Medik


2. Hasil pemeriksaan Laboratorium
3. Buku register
4. Form MTBM,MTBS
11. Rekaman historis No Yang diubah Isi Perubahan Tanggal mulai diberlakukan
perubahan