Anda di halaman 1dari 4

Kontribusi agama Islam dalam kehidupan politik khususnya menyangkut prinsip-prinsip

kekuasaan politik, Agama dalam hal ini adalah Islam, merupakan alat atau seperangkat aturan
dan ajaran yang salah satunya bertujuan mewujudkan persatuan dan kesatuan di tengah
banyaknya perbedaan antara individu yang satu dengan yang lain yang secara naluriah tidak bisa
hidup secara individual. Dalam Islam, Al-Qur’an merupakan pedoman pertama bagi manusia
setelah yang keduanya Hadits, yang merupakan sumber hukum pertama bagi manusia
dimaksudkan untuk menjadi tuntunan.

Beberapa prinsip yang diajarkan Al-quran untuk tujuan tersebut antara lain:

1. Prinsip persatuan dan persaudaraan.

2. Prinsip persamaan.

3. Prinsip kebebasan.

4. Prinsip tolong-menolong.

5. Prinsip perdamaian.

6. Prinsip musyawarah.

Salah satu ayat Al-Quran yang berkaitan langsung dengan prinsip – prinsip dasar kekuasaan
politik terdapat dalam surat QS.004: An-Nisaa’ ayat 58 dan 59,

Innallaha ya'murukum an tu'adduul amaanaati ila ahlihaa wa-idzaa hakamtum bainannaasi an


tahkumuu bil 'adli innallaha ni'immaa ya'izhukum bihi innallaha kaana samii'an bashiiran (58)

Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu athii'uullaha waathii'uurrasuula wauuliil amri minkum fa-in


tanaaza'tum fii syai-in farudduuhu ilallahi warrasuuli in kuntum tu'minuuna billahi wal yaumi-
aakhiri dzalika khairun waahsanu ta'wiilaa (59)

"Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak


menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu
menetapkan dengan adil. Sesungguhnya, Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya
kepadamu. Sesungguhnya, Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." – (QS.4:58)

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(-Nya), dan ulil-amri di antara
kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." –
(QS.4:59)

Dalam kehidupan politik, secara lebih khusus Al-quran mengajarkan harus dilandasi dengan
empat hal yang pokok yaitu:

1. Sebagai bagian untuk melaksanakan amanat.

Amanat merupakan sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain untuk dipelihara dan
dikembalikan bila saatnya tiba atau bila diminta oleh pemiliknya. Amanat tersebut meliputi
amanat antara manusia dengan Allah SWT, Manusia dengan manusia lainnya, manusia dengan
lingkungannya, serta manusia dengan dirinya sendiri Amanat adalah sendi utama dalam
berinteraksi social terutama dalam bidang kekuasaan politik. Bagi pemegang kekuasaan politik
telah diperintahkan untuk menunaikan amanat berupa usaha mencerdaskan rakyat dan
membangun mental dan spiritual.

Kamaa arsalnaa fiikum rasuulaa minkum yatluu 'alaikum aayaatinaa wayuzakkiikum


wayu'allimukumul kitaaba wal hikmata wayu'allimukum maa lam takuunuu ta'lamuun(a)

"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-
ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan
Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." – (QS.2:151)

2. Sebagai bagian untuk menegakkan hukum dengan adil.

Hukum merupakan peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat, yang dikukuhkan
penguasa atau pemerintah untuk mengatur pergaulan hidup masyarakat. Salah satu sumber
hukum yang berpengaruh adalah agama. Suatu sistem politik tidak akan dapat dilaksanakan
dengan baik dan tidak akan membawa kemaslahatan bersama apabila tidak didukung oleh hukum
yang baik dan juga penerapan hukum yang adil dan konsisten.

Innaa anzalnaa ilaikal kitaaba bil haqqi litahkuma bainannaasi bimaa araakallahu walaa takul(n)-
lilkhaa-iniina khashiiman
"Sesungguhnya, Kami telah menurunkan Kitab kepadamu, dengan membawa kebenaran, supaya
kamu mengadili antara manusia, dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan
janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang
yang hianat," – (QS.4:105)

3. Tetap dalam koridor taat kepada Allah, Rasul-Nya, dan ulil amri.

Ulil Amri adalah orang atau sekelompok orang yang mendapatkan tugas untuk mengurusi urusan
– urusan kaum muslimin baik menyangkut masalah ibadah, pendidikan, social, ekonomi, bahkan
termasuk urusan hubungan luar negeri dan juga pemimpin perang. Tetap dalam koridor taat pada
Allah dan Rasulnya berarti apa yang dilakukan sudah jelas bahwa harus berdasar Al-Qur’an dan
Hadist, sedangkan Ulil Amri bertugas sebagai fasilitator agar umat dapat menjalankan dengan
sebaik – baiknya. Sedangkan yang boleh diatur oleh Ulil Amri hanyalah hal – hal atau urusan
yang belum ditur secara jelas oleh Al-Qur”an dan As-Sunah.

4. Selalu berusaha kembali kepada Al-quran dan Sunnah Nabi SAW.

Al-Qur’an dan Hadist hanya memuat ketentuan – ketentuan pokok bagi kehidupan manusia.
Setiap permasalahan yang dihadapi terkadang belum ada pemecahannya dalam kedua sumber
suci tersebut. Oleh sebab itu terkadang menimbulkan perbedaan pendapat, tetapi apapun
pendapat atau keputusan yang diambil haruslah berpulang pada Al-Quran dan Hadist sebagai
sumber utama.

..yauma akmaltu lakum diinakum wa-atmamtu 'alaikum ni'matii waradhiitu lakumu-islaama


diinan..

..Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-redhai Islam itu jadi agamamu…. (QS.5:3)

Islam memberi kontribusi bagaimana seharusnya memilih dan mengangkat seorang yang akan
diberi amanah untuk memegang kekuasaan politik. Yaitu orang tersebut haruslah:

1. Seorang yang benar dalam pikiran, ucapan, dan tindakannya serta jujur.

2. Seorang yang dapat dipercaya.


3. Seorang memiliki keterampilan dalam komunikasi.

4. Seorang yang cerdas.

5. Yang paling penting Anda seorang yang dapat menjadi teladan dalam kebaikan.