Anda di halaman 1dari 11

Prosiding Seminar Lignoselulosa 2016

Cibinong, 6 Oktober 2016

Review

Ekstraktif bahan alam untuk bioproduk

Suminar Setiati Achmadi*

Departemen Kimia, Institut Pertanian Bogor


Jln. Tanjung, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680

*email korespondensi: ssachmadi@yahoo.com

Abstrak

Ekstraktif bahan alam di makalah ini ditekankan pada bahan alami yang diperoleh dari hutan, tidak
semata-mata diekstraksi dari kayu, melainkan juga dari bagian lain pada tumbuhan. Tidak seperti
selulosa dan lignin, yang termasuk metabolit primer, pada dasarnya ekstraktif adalah metabolit
sekunder, dengan jumlah atom karbon kurang dari 40, dan umumnya hanya menyusun 1-5% dari bobot
kayu. Meski demikian, nilai ekonominya sangat tinggi mengingat sebagian besar dari senyawa alam ini
berkhasiat dan merupakan endemik Indonesia. Dari sudut pandang kimia, ekstraktif terbagi ke dalam 3
golongan besar, yaitu lemak, terpena/terpenoid, dan fenolik. Selain unsur karbon, hidrogen, dan
oksigen, unsur lain dalam jumlah sedikit adalah sulfur dan fosforus. Bioproduk utama yang dibahas di
sini ialah minyak kayu manis, jernang, damar mata kucing, ekstrak fenolik dari daun surian,
gondorukem dan terpentin, gaharu, ekstrak dari tumbuhan akar kuning, kelompok steroid dari tumbuhan
belawan putih, minyak lawang, kopral, dan minyak masohi. Minyak atsiri adalah kekayaan alam
Indonesia dan beberapa sumbernya menghadapi kepunahan. Banyak di antara ekstraktif ini bermanfaat
bagi kesehatan, dan pengalaman menunjukkan ada potensi bahwa tumbuhan hutan dapat dibudidayakan
sebagai pengaya hutan tanaman industri yang ada; demikian pula bahwa ekstraktif dapat dipanen
melalui upaya kultur jaringan, atau disintesis di laboratorium.

Kata kunci: ekstraktif kayu; hasil hutan bukan kayu; metabolit sekunder; minyak atsiri; resin

Natural product extractives for bioproducts

Extractives in this paper are emphasized on natural products derived from forests, not solely extracted
from wood, but also from other parts of the plant. Unlike cellulose and lignin, which are categorized as
primary metabolites, extractives are basically secondary metabolites, with the number of carbon atoms
less than 40, and generally only make up 1-5% of the weight of the tree. Nevertheless, the economic
value is very high considering that most of these natural compounds are efficacious and are endemic to
Indonesia. From the standpoint of chemical, extractives are divided into three major categories, namely
lipids, terpenes/terpenoids, and phenolics. In addition to carbon, hydrogen, and oxygen, small amounts
of other elements, sulfur and phosphorus, are exist. Bioproducts to be discussed here are that of
cinnamon oil, dragon’s blood (jernang), resin (damar), phenolics extract from the leaves of surian,
rosin and turpentine, agarwood/aloeswood, extracts of yellow-root plant (akar kuning), steroid
extracted from belawan putih plant, oil mace, copal, and massoia oil. Essential oils are the natural
wealth of Indonesia and some of the natural sources are facing extinction. Many of these extractives are
beneficial to health, and experience shows that forest plants can be cultivated as an add-on the existing
industrial tree plantations; likewise that the extractive can be harvested through the efforts of tissue
culture, or synthesized in the laboratory.

Keywords: essential oil; non-timber forest products; resin, secondary metabolites; wood
extractive

1
Prosiding Seminar Lignoselulosa 2016
Cibinong, 6 Oktober 2016

Pengertian Ekstraktif Kayu VS. Hasil Hutan Bukan-Kayu (HHBK)


Istilah “ekstraktif” saja dapat menyesatkan, apalagi di sektor pertambangan, yang berarti
kegiatan yang mengambil sumber alam tanpa dapat mengembalikannya ke alam. Sementara itu, yang
dimaksud dengan “ekstraktif kayu” adalah bahan bukan selulosa, bukan hemiselulosa, dan bukan lignin,
yang merupakan bagian dari dinding sel, umumnya berbobot molekul tinggi dan dapat mencapai jutaan.
Selulosa dan lignin digolongkan ke dalam metabolit primer, sedangkan ekstraktif kayu adalah berupa
senyawa organik berbobot molekul rendah dan tergolong ke dalam metabolit sekunder (secondary
metabolites, atau bahkan natural products).
Metabolit sekunder berukuran molekul dengan < C40, menyusun 1-5% dari kayu, dan sangat
ditentukan secara genetika oleh spesies tumbuhan yang bersangkutan, juga bergantung pada lokasi di
dalam tumbuhan, Selain dari kayu, ekstraktif juga dapat diperoleh dari kulit, daun, dan buah. Jenis
ekstraktif dapat mencapai ribuan dalam satu jenis kayu.
Pada bidang hasil hutan juga dikenal “hasil hutan bukan-kayu (HHBK)”, yaitu hasil hutan
hayati, baik nabati maupun hewani dan turunannya yang berasal dari hutan, kecuali kayu. HHBK dapat
menjadi alternatif sebagai pendapatan tunai bagi masyarakat setempat (Achmadi, 2016). Rotan dan
bambu termasuk HHBK. Rotan bahkan pernah menjadi andalan HHBK bagi Indonesia tetapi
kelimpahannya sudah menurun saat ini. Paparan ini membahas lebih pada metabolit sekunder dan
turunannya.

Golongan Kimia Ekstraktif Kayu


Berdasarkan asal-muasal biosintesisnya, zat ekstraktif dapat dibagi ke dalam 4 kelompok utama,
yaitu lemak, flavonoid (termasuk senyawa fenolik dan polifenolik), terpenoid (Tabel 1), dan sejumlah
kecil alkaloid (mengandung unsur nitrogen dan sulfur). Peneliti lain menggolongkan senyawa bahan
alam ini berdasarkan tipe yang lebih spesifik. Flavanoid adalah golongan fenolik yang paling melimpah.
Golongan ini memberi warna pada daun dan bunga serta rasa asam pada buah yang belum masak. Selain
sebagai bahan penyamak, tanin juga dapat digunakan sebagai perekat kayu.

Tabel 1. Golongan ekstraktif kayu


Golongan Struktur kimia Sumber dan kegunaan
Lemak Lemak: asam linoleat Kemiri (Aleurites moluccana),
nyamplung (Calophyllum
inophyllum).

Trigliserida

Lilin lebah
Suberin (gabus)

Alkohol lemak C20H41OH (Eikosanol)


Malam: CH3-(CH2)n-O-CO-(CH2)m-CH3
Suberin: [-O-(CH2)n-CO-] n = 18-28

Terpenoid Umum pada kayu jarum;


monoterpena (α-pinena, β-
pinena, untuk terpentin;
Monoterpena limonena dalam minyak atsiri.

2
Prosiding Seminar Lignoselulosa 2016
Cibinong, 6 Oktober 2016

Diterpena: komponen
gondorukem.

Diterpena

Triterpena
Fenolik

Fenolik sederhana: asam galat

Pinoslvin dalam kayu pinus,


sangat beracun.
Stilbena: pinosilvin

Flavanoid: taksifolin, krisin,


genistein, tanin.
Flavanoid: taksifolin

Lignan: biasanya tidak toksik,


pinoresinol, antioksidan yang
baik.

Lignan: pinoresinol

Fungsi ekstraktif kayu


Fungsi ekstraktif sangat beragam. Salah satunya adalah untuk pertahanan, misalnya sebagai
repelan, bisa, dan toksin. Masih banyak senyawa ekstraktif yang belum terungkap fungsinya. Semua
fungsi tersebut dapat diturunkan menjadi senyawa obat dan kosmetik, asalkan dikaji fungsi dan
dosisnya. Pemanenan yang lestari ekstraktif kayu perlu dipikirkan. Sebaliknya, keberadaan ekstraktif
mengganggu proses pulping dan pengerjaan kayu, seperti pengecatan.

3
Prosiding Seminar Lignoselulosa 2016
Cibinong, 6 Oktober 2016

Sebanyak 16 jenis kayu tropis Indonesia yang diteliti sifat desorpsi dan adsorpsinya
memperlihatkan bahwa sifat higroskopis kayu dipengaruhi oleh ekstraktif yang menyumpal daerah
amorf dalam dinding sel. Penyingkiran ekstraktif dengan air panas atau pelarut organik mengakibatkan
pengerutan yang berlebihan. Semua sampel yang diteliti memperlihatkan kolaps parsial, yang
menyiratkan plastisisasi ekstraktif pada suhu tinggi dan kadar air yang tinggi dalam struktur dinding sel
(Choong & Achmadi, 1991).
Ekstraktif kayu memiliki peran penting dalam perlindungan terhadap serangan rayap dan jamur.
Pada percobaan di Uganda dengan 3 spesies kayu yang tahan rayap, antara lain Albizia coriaria,
ekstraktif dikeluarkan dan digunakan untuk mengawetkan kayu Pinus caribaea dan Antiaris toxicaria
yang rentan serangan rayap. Setelah diekspos ke rayap Macrotermes bellicosus di lapangan, ternyata
keawetan kayu Pinus meningkat 50% dibandingkan kontrol. Selain itu teramati juga bahwa
penyingkiran ekstraktif menurunkan resistensi kayu yang semula awet (Syofuna et al., 2012).

Beberapa ekstraktif kayu yang berpotensi dalam perdagangan


Sekitar 30 ribu sampai 40 ribu jenis tumbuhan yang tersebar di setiap pulau, 20% di antaranya
memberikan hasil hutan berupa kayu dan sisanya (80%) justru berpotensi memberikan HHBK, antara
lain berupa ekstraktif kayu. Ekstraktif yang sudah biasa dikomersialkan di antaranya cendana, gaharu,
kayu putih, masohi (diambil minyak atsirinya), jernang dan kemenyan (resin), dan pinang (flanoid).
Gaharu yang berasal dari pohon Aquilaria malaccensis, merupakan turunan kayu (bentukan kayu yang
memiliki sifat baru) terjadi akibat infeksi jamur (Fusarium sp., Botryodiplodia sp., Popularia sp., atau
Pytium sp.). Manfaat berbagai ekstraktif meliputi manfaat sosial ekonomi terutama pada peningkatan
pendapatan bagi masyarakat sekitar hutan, pencegahan dan pengurangan perladangan berpindah, serta
pencegah laju urbanisasi dengan menyediakan lapangan kerja. Data statistik ekstratif kayu selalu
menunjukkan peningkatan nilai ekspor, tetapi dengan menurunnya sumber daya hutan dapat
mengkhawatirkan kelestariannya.

Kayu manis
Trans-Sinamaldehida (3-fenil-2-propenal) merupakan komponen utama minyak sinamon, yakni
mencapai 56%. Minyak sinamon adalah komoditas yang lazim disuling dari kulit pohon (Gambar 1).
Senyawa yang rentan teroksidasi ini memiliki aktivitas antioksidan, dengan IC50 5 mg/L, dibandingkan
dengan senyawa rujukan butil hidroksi toluena (BHT), dengan IC50 10 mg/L (Pebriana, 2011).
Kepunahan sumber daya ini mungkin tidak mengancam karena kulit kayu manis dapat dipanen dari
terubusan pohonnya.

Gambar 1. Trans-Sinamaldehida dan sumbernya dari minyak kayu manis

Jernang
Jernang merupakan eksudat dari buah rotan (Daemonorops draco). Warnanya yang merah
menyebabkan komoditas ini dijuluki dragon’s blood. Getah ini tidak saja dimanfaatkan sebagai zat
warna, melainkan juga sebagai obat mujarab di Jambi. Pada dunia perdagangan, dikenal 3 kelas mutu
jernang, yaitu “super”, A, dan B. Kriteria tersebut semata-mata dari tampilan fisik (Gambar 2).

4
Prosiding Seminar Lignoselulosa 2016
Cibinong, 6 Oktober 2016

Identifikasi senyawa kimia memperlihatkan bahwa senyawa penciri jernang adalah drakorhodin, dan
senyawa 3,4-dihidro5-metoksi-6-dimetil-2-fenil-2H-1-benzopiran-7-ol selalu hadir bersama dengan
drakorhodin (Achmadi et al., 2013). Untuk keperluan perdagangan, sangat diperlukan senyawa murni
dari kelompok antosianin ini, agar mutu jernang dapat ditentukan secara lebih terukur. Upaya
mengisolasi drakorodin telah berhasil mendapatkan kemurnian 65% (Sarman, 2014).

Gambar 2. Drakorhodin dan senyawa 3,4-dihidro5-metoksi-6-dimetil-2-fenil-2H-1-benzopiran-7-ol


serta sumbernya dari getah buah rotan

Harga yang tinggi menjadi bumerang, sehingga banyak perambah menebang rotan. Jernang terancam
punah. Untuk mendapatkan 1- 2 kg getah sekarang diperlukan 2 pekan; dibandingkan dengan 10-15
tahun silam, pencari jernang hanya perlu 1 pekan di hutan untuk memperoleh 7-10 kg getah kering,
sedangkan untuk pendapatkan 1 kg getahnya diperlukan 28-30 kg buah jernang. Permintaan akan ekspor
jernang sangat tinggi, yaitu untuk bahan baku herbal. Jalan keluar terbaik adalah budi daya agar mutu
biji dan kontinuitas pasokan jernang terjaga. Masyarakat desa di Jambi mulai membudidayakan jernang
pada 2006.

Damar Mata Kucing


Lampung Barat menjadi penghasil damar mata kucing (repong) tertinggi di dunia. Komoditas
resin ini dihasilkan dari Shorea javanica. Senyawa penciri damar mata kucing ialah α-kopaena
(Mulyani, 2013) (Gambar 3). Kelestarian sumber daya ini sangat mengkhawatirkan. Dari total 350
kepala keluarga (KK), rata-rata tiap KK memiliki lahan seluas 2 hektar, dengan sekitar 50 pohon damar
per hektar. Setiap pohon, dalam sebulan rata-rata menghasilkan getah damar 2 kg. Pohon damar mulai
menghasilkan getah sejak usia 20 tahun. Dalam keadaan banyak hujan, produksi getah damar terganggu.
Harga pasar dinilai rendah karena mutu damar menurun. Selama ini ada 3 tingkat mutu getah damar,
yakni kualitas asalan, AC, AB, dan ABC atau kualitas ekspor. Rendahnya harga juga berakibat warga
menjual pohon damar warisan tinggalan leluhur kepada pengelola kayu atau menggantinya dengan
tanaman karet. Salah satu yang perlu dipikirkan ialah standardisasi mutu dan harga.

Gambar 3. α-Kopaena dan sumbernya dari Shorea

5
Prosiding Seminar Lignoselulosa 2016
Cibinong, 6 Oktober 2016

Surian
Kajian atas daun, kayu teras, dan kayu gubal surian (Toona sinensis) (Gambar 4)
menyimpulkan bahwa ekstrak etanol dari ketiga bagian tumbuhan ini memiliki aktivitas antioksidan
sangat tinggi dengan kemampuan menangkap radikal bebas DPPH dan sangat toksik saat diujikan pada
larva udang. Hasil anasisis GC-MS pirolisis menunjukkan bahwa pirogalol dalam ekstrak daun dan 9,19-
siklolanostan-3-ol dalam ekstrak kayu teras bertanggung jawab atas tingginya aktivitas antioksidan
ekstrak. Senyawa seskuiterpenoid yang terdeteksi, yaitu amortena, α-kadinol, -kadinena, dan α-
kopaena dalam ekstrak kayu teras dan kayu gubal diduga berperan dalam toksisitas ekstrak (Sari et al.,
2011).

Gambar 4. Pirogalol dan 9,19-siklolanostan-3-ol dan sumbernya dari daun surian

Gondorukem
Getah pinus (Pinus merkusii) (Gambar 5) diolah untuk lanjut menghasilkan terpentin dan
gondorukem. Gondorukem dimanfaatkan sebagai pengemulsi di industri tinta cetak, penyalut, industri
perekat, dan farmasi. Kandungannya kompleks, terdiri atas 90% berbagai asam resin dengan kerangka
diterpena dan 10% senyawa non-asam resin; salah satunya ialah asam merkusat. Pengesteran asam-asam
resin ini telah berhasil memenuhi syarat sebagai biodiesel menurut SNI 04-7182-2006, yang meliputi
parameter viskositas kinematik, titik kabut, total sulfur, blangan asam, bilangan iodin, dan kadar metil
ester. Khusus untuk titik nyala yang lebih rendah dari standar biodiesel, metil ester gondorukem cocok
untuk digunakan sebagai biogasolin (Mulyaningrum, 2008). Asalkan upaya reboisasi hutan tidak
terganggu, sumber daya gondorukem terbilang aman.

Gambar 5. Asam merkusat sebagai salah satu asam resin dari getah pinus

Gaharu
Gaharu (Gambar 6) bukan khas produk Kalimantan, melainkan tersebar sampai ke Nusa
Tenggara dan Papua. Dari keempat tempat tumbuh tersebut, kadar dan senyawa yang terkandung sangat
beragam. Keragaman juga ditentukan oleh mutu atau kematangan gaharu. Dari kemedangan Papua,
hanya teridentifikasi senyawa dominan berupa metil oktanoat. Dari 4 kelas mutu gaharu asal Kalimantan
(kacangan B, teri B, medang A, dan medang B), rendemen damar wangi tidak berkorelasi dengan kadar
senyawa seskuiterpena dan kromon yang merupakan penentu mutu gaharu. Dengan menggunakan

6
Prosiding Seminar Lignoselulosa 2016
Cibinong, 6 Oktober 2016

kromatografi gas-spektrometri massa, teridentifikasi 10 senyawa seskuiterpena dan 3 kromon, dengan


kandungan yang berbeda-beda (Anwar, 2011). Mutu gaharu berdasarkan SNI saat ini, dari yang terendah
ke yang tertinggi adalah kemedangan, super tanggung A, dan super A. Kadar seskuiterpena yang
terekstraksi baik dalam aseton maupun etil asetat meningkat dari 5-6% ke 12-13%. Senyawa penciri
gaharu Pulau Bangka adalah aromadendrena dan -gurjunena (Muntaqo, 2012).

Gambar 6. Metil oktanoat dan aromadendrena; kayu sebelum dan sesudah menghasilkan gaharu

Akar Kuning
Akar kuning (Fibraurea chloroleuca) (Gambar 7), pasak bumi (Eurycoma longifolia), dan
seluang bilum (Lavanga sarmentosa) adalah 3 dari banyak tanaman obat khas Kalimantan. Sekarang,
semakin sulit saja menemukan tanaman obat ini sebab pengumpul hasil hutan harus memburunya jauh
ke dalam hutan.

Gambar 7. 6-Hidroksiarkangelisina dan sumbernya dari tumbuhan akar kuning

Saponin dari akar tumbuhan akar kuning yang diekstraksi dengan campuran pelarut
metanol:diklorometana (2:1), memberikan rendemen 6%. Selanjutnya, saponin dihidrolisis untuk
memisahkan sapogenin dari gulanya. Salah satu triterpenoid sapogenin yang terdeteksi memiliki bobot
molekul 534 (Gunawan, 2008). Uji in vitro pada mencit jantan dewasa yang hatinya rusak
memperlihatkan bahwa sapogenin memiliki aktivitas sebagai hepatoprotektor yang lebih baik
dibandingkan saponin. Ekstrak sapogenin lebih mampu mencegah kerusakan hati daripada metode
pengobatan (Hardian, 2008).

Belawan Putih
Hutan gambut di Indonesia memiliki biodiversitas flora yang khas. Senyawa antibakteri dari
ekstrak kloroform daun belawan putih (Tristania whiteana) (Gambar 8) telah ditemukan melalui
analisis bioautografi terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus epidermidis. Dari kajian ini berhasil
diisolasi dan diidentifikasi asam betulinat. Selain kegunaannya sebagai obat diare bagi penduduk asli
Kalimantan, asam betulinat pun berpotensi sebagai obat kontrasepsi (Handayani et al., 2014).

7
Prosiding Seminar Lignoselulosa 2016
Cibinong, 6 Oktober 2016

Gambar 8. Asam betulinat dan sumbernya dari tumbuhan belawan putih

Minyak Lawang
Beragam minyak atsiri khas dihasilkan dari Sulawesi. Minyak lawang (Gambar 9) merupakan
minyak gosok terkenal, disuling dari Cinnamomum cullilawan. Safrole diisolasi dari minyak lawang ini
melalui ekstraksi basa. Selanjutnya, reaksi dengan eugenol yang berasal dari minyak cengkih
menghasilkan hidroksikavikol dengan rendemen 71% (Arifin et al., 2014). Hidroksikavikol diketahui
memiliki aktivitas antibakteri, antiradang, antioksidan, antikanker, dan antimutagen.

Gambar 9. Hidroksikavikol dan safrole serta sumbernya dari minyak lawang komersial

Kopal
Kopal (Gambar 10) disadap dari pohon Agathis loranthifolia, yang banyak tumbuh di Ternate,
selain di Sukabumi. Kandungan utama kopal adalah limonena, yang mencapai 44%, bergantung pada
tempat tumbuhnya. Limonena terdiri atas R-(+)-limonena dan S-(-)-limonena dengan enantiomer S yang
harganya lebih mahal. Upaya untuk mengisolasi enantiomer S bahkan menghasilkan senyawa baru
karvon 100% (Resmeilina, 2011), yang harga jualnya jauh lebih mahal lagi. Proses isolasi campuran
rasemik limonena dengan pelarut ternyata mudah mengoksidasi senyawa alam ini. Masalah utama dalam
perdagangan kopal adalah kandungan pengotornya.

Gambar 10. Limonena, produk kopal, dan sumbernya dari pohon agatis

8
Prosiding Seminar Lignoselulosa 2016
Cibinong, 6 Oktober 2016

Minyak Masohi
Minyak masohi merupakan komoditas ekspor yang merupakan hasil sulingan dari kulit pohon
masohi (Cryptocarya massoia), tumbuhan endemik di Papua dan sedikit di Maluku. Importir
memanfaatkannya sebagai perisa (flavor) pada es krim dan juga sebagai konstituen kosmetik. Rasanya
seperti kelapa. Kandungan utama minyak masohi adalah masoilakton C10 (5,6-dihidro-6-pentil-2H-
piran-2-on) dan senyawa ini diusulkan sebagai penciri mutu. Ada juga sedikit kandungan C12 (Wijaya,
2015).
Untuk memperoleh bahan baku, kulit pohon dikupas (Gambar 11), dikeringkan, dan disuling.
Sumber daya pohon masohi semakin menipis dan akan ancaman kepunahan sudah di depan mata.
Pengangkutan dari pedalaman Papua ke luar pulau sering menggunakan helikopter. Penyulingan skala
besar tidak dilakukan di Papua, melainkan di Pulau Jawa.

O O n

Gambar 11. Masoilakton C10 (n = 3), komoditas minyak masoi, dan sumber dayanya

Gagasan untuk pengembangan bioproduk dari ekstraktif kayu


Ekstraktif kayu menjadi anugerah kekayaan bangsa Indonesia, yang wajib diantisipasi dari
kepunahannya. Misalnya, dari 70 jenis minyak atsiri yang diperdagangkan di dunia, 40 di antaranya dari
Indonesia, dan sebagian adalah ekstraktif kayu. Pada tahun 2010, Dewan Atsiri Indonesia (2007) telah
mencanangkan peta jalan pengembangan industri minyak atsiri Indonesia. Dinyatakan, pada tahun 2019,
indikator kinerjanya adalah (1) terwujudnya keseimbangan pasokan dan kebutuhan pasar minyak atsiri,
(2) sebesar 100% industri minyak atsiri sudah menggunakan peralatan produksi yang standar, (3) sebesar
90% petani mencapai produktivitas potensial tanaman atsiri, (4) sebesar 95% volume produksi minyak
atsiri industri sudah memenuhi standar mutu, (5) proporsi nilai ekspor produk turunan minyak atsiri 55%
dari total nilai ekspor produk minyak atsiri, dan (6) produk perisa (flavor) & pewangi (fragrance)
Indonesia memasok 25% kebutuhan industri pengguna di dalam negeri. Target DAI perlu didukung.
Bercermin dari kemajuan minyak nilam, dapat dikembangkan bioteknologi, meliputi kultur
jaringan, aplikasi genetik guna mendapatkan gen pemacu produksi minyak, dan aplikasi enzim untuk
memacu produksi minyak. Strategi seperti ini dapat ditiru untuk tumbuhan hutan penghasil ekstraktif.
Kita dapat memulainya dengan riset dasar, yakni dengan menyingkap struktur kimia dan sifat-sifatnya,
baik sifat kimia, fisik, maupun hayatinya. Setelah itu, senyawa aktif dapat diformulasi dengan senyawa
aktif lain lebih meningkatkan manfaatnya.
Untuk spesies yang belum terancam punah, sumber daya ekstraktif bisa ditanam di pekarangan.
Upaya sederhana lainnya dapat dengan memanfaatkan bagian tanaman yang tidak mematikan pohon,
contohnya adalah dari daun surian. Untuk sumber daya yang terancam punah, dapat dengan sintesis
kimiawi. Kayu merbau (Intsia palembanica) sudah sukar didapatkan dari hutan. Dari spesies ini
diperoleh robidanol, yaitu flavanoid yang terbukti berpotensi sebagai senyawa pemutih kulit (Batubara
et al., 2011). Upaya menyintesis robidanol sudah diinisiasi meski rendemen belum mencapai 50%.
Masoilakton C10 sudah pernah disintesis, dan dapat di-scale-up guna mengantisipasi punahnya kayu
masohi di habitat aslinya. Homolog masoilakton telah dapat disintesis tetapi rendemen baru mencapai
47% (Abe & Sato, 1955).

9
Prosiding Seminar Lignoselulosa 2016
Cibinong, 6 Oktober 2016

Selaras dengan kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pengembangan


HHBK diarahkan pada areal di dalam kawasan hutan negara dan lahan milik masyarakat, baik untuk
tujuan produksi, lindung maupun konservasi. Pengalaman baik telah diperoleh dari pelaksanaan proyek
pengayaan hutan di areal PT Inhutani I di Kalimantan Timur dengan bantuan dana dari the International
Tropical Timber Organization, dikerjakan selama 40 bulan. Tumbuhan obat indigenus yang terseleksi
antara lain akar kuning, pasak bumi, tabat barito, dan saluang bilum. Bibit telah berhasil dikumpulkan,
disemaikan, dipindahkan dan ditanam di tegakan hutan tanaman akasia, dan tumbuh subur layaknya di
hutan alam. Gambar 12 adalah yang berkenaan dengan akar kuning, mulai dari penyiapan lahan
pembibitan, pemindahan ke lapangan, dan tanaman sekitar usia 3 tahun.

Gambar 12. Pengayaan hutan tanaman industri di Kalimantan Timur, dari pembibitan, pengangkutan
ke lapangan, sampai kondisi pertumbuhan usia 3 tahun

Dari kajian mikologi, ada contoh yang menakjubkan dari pohon kina, penghasil senyawa
antimalaria. Umumnya, alkaloid kuinina diekstraksi dari kulit pohon. Cendawan endofit Cercospora sp.
dan Diaporthe spp. yang diisolasi dari daun dan ranting pohon kina berhasil ditumbuhkan dalam media
sintetik dan kina dapat dipanen kapan pun dari tempat tumbuh yang relatif sempit tanpa bergantung pada
pengulitan batang. Berikut ini adalah temuan yang menyiratkan bahwa alkaloid spesifik dapat
diekstraksi dari media sintetik yang ditumbuhi Fusarium sp. (Tabel 2). Di pihak lain, galur Diaporthe
sp. bahkan mampu memproduksi sampai 185 mg L-1 (Hidayat et al., 2015).
Tabel 2. Produksi alkaloid dari endofit Fusarium sp.
Nomor koleksi Konsentrasi (mg L-1)
Spesies
IPBCC Kuinina Kuinidina Sinkonina Sinkonidina
F. incarnatum 15.1251 0.8 - - 3.610-5
15.1252 0.8 - - -
15.1253 0.9 - - 2.010-4
F. oxysporum 15.1250 0.9 - - -
F. solani 15.1248 0.9 - - -
15.1249 0.7 - - 2.510-5

Demikian gagasan untuk melestarikan produksi ekstraktif kayu, baik melalui penanaman, teknik sintesis
senyawa organik, maupun memanfaatkan spesies hayati lain. Semoga pemikiran ini bermanfaat.

10
Prosiding Seminar Lignoselulosa 2016
Cibinong, 6 Oktober 2016

Daftar Pustaka

Abe, S. & Sato F. (1955). Studies on the synthesis of massoi-lactone and its homologues. Part II.
Synthesis of nonyn-1-ol-4-carboxylic acid-1-lactone (Massoi-lactone). Bulletin of the Chemical
Society of Japan, 29(1): 88-90.
Achmadi, S.S., Toriq, U., Arifin, B. (2013). Measurement of chemical markers in dragon’s blood. Paper
presented at Conference on QIR (Quality in Research), Yogyakarta, 25-28 Juni 2013.
Achmadi, S.S. (2016). Pelestarian produksi hasil hutan bukan-kayu berlandaskan kajian kimiawi. Orasi
Ilmiah Guru Besar IPB. 23 April 2016. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Arifin, A., Tang, D.F., Achmadi, S.S. (2015). Transformation of eugenol and safrole into
hydroxychavicol. Indonesian Journal of Chemistry, 15(1): 77- 85.
Anwar, F. (2011). Identifikasi komponen kimia empat tingkat mutu gaharu [skripsi]. Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor.
Batubara, I., Darusman, L.K., Mitsunaga, T., Aoki, H., Rahminiwati, M., Djauhari, E., Yamauchi, K.
(2011). Flavanoid from Intsia palembanica as skin whitening agent. Journal of Biological Science,
11(8): 475-480. Doi: 10.10.3923/jbs.2011.
Choong, E.T. & Achmadi, S.S. (1991). Effect of extractives on moisture sorption and shrinkage in
tropical woods. Wood and Fiber Science, 23(2): 185–196.
[DAI] Dewan Atsiri Indonesia. (2007). Roadmap Pengembangan minyak atsiri Indonesia.
Gunawan, A. (2008). Deduksi struktur sapogenin akan tanaman akar kuning [skripsi]. Bogor (ID):
Institut Pertanian Bogor.
Handayani, D., Achmadi, S.S., Agusta, A. (2014). Senyawa antibakteri daun belawan putih
(Tristaniopsis whiteana). Jurnal Biologi Indonesia, 10(1): 93-100.
Hardian, P. (2008). Ekstrak sapogenin akar kuning sebagai hepatoprotektor pada mencit yang diinduksi
parasetamol [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Hidayat, I., Radiastuti, N., Rahayu, G., Achmadi, S.S., Okane, I. (2015). Three quinine- and
cinchonidine-producing Fusarium species from Indonesia. Current Research in Environmental &
Applied Mycology, 5(4): 4-10. Doi 10.5943/cream/5/4/4.
Mulyani, S. (2013). Senyawa penciri damar mata kucing untuk pembaruan parameter Standar Nasional
Indonesia [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Mulyaningrum. (2008). Metil ester gondorukem sebagai kandidat bahan bakar nabati [tesis]. Bogor
(ID): Institut Pertanian Bogor.
Muntaqo, F.A. (2012). Korelasi kadar seskuiterpena dengan mutu gaharu Standar Nasional Indonesia.
Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Pebriana, E. (2011). Isolasi sinamaldehida dari minyak kulit kayu manis sebagai antioksidan [skripsi].
Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Resmeiliana. (2011). Ciri kimiawi asam resin kopal Agathis loranthifolia [tesis]. Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor.
Sari, R.K., Syafii, W., Achmadi, S.S., Hanafi, M. (2011). Aktivitas antioksidan dan toksisitas ekstrak
etanol surian (Toona sinensis). Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan, 4(2): 46-52.
Sarman, S.A. (2014). Upaya isolasi drakorodin dari resin Daemonorops draco [skripsi]. Bogor (ID):
Institut Pertanian Bogor.
Syofuna, A., Banana, A.Y., Nakabonge, G. (2012). Efficiency of natural wood extractives as wood
preservatives against termite attack. Maderas, 14(2): 155–163.
Wijaya, A.F. (2015). Metode isolasi terbaik dan kadar masoilakton minyak masoyi (Cryptocarya
massoia) dari berbagai daerah Papua [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

11