Anda di halaman 1dari 47

Proposal Penelitian

KONVERSI MINYAK BIJI KARET MENJADI FRAKSI BAHAN BAKAR


CAIR MELALUI REAKSI CATALYTIC HYDROCRACKING
MENGGUNAKAN KATALIS Co/ZAS DAN
Co-Mo/ZAS YANG TEREMBANKAN
PADA ZEOLIT ALAM
SARULLA

Oleh:

Nama : Dwi Maya Suri


NIM : 4132210003
Program Studi : Kimia

Diajukan Untuk Melakukan Penelitian


Dalam Penyusunan Skripsi

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2017
Judul Penelitian : Konversi Minyak Biji Karet Menjadi Fraksi Bahan Bakar
Cair Melalui Reaksi Catalytic Hydrocracking
Menggunakan Katalis Co/ZAS dan Co-Mo/ZAS yang
Terembankan Pada Zeolit Alam Sarulla
Nama : Dwi Maya Suri
NIM : 4132210003
Jurusan : Kimia
Program Studi : Kimia

Menyetujui:
Dosen Pembimbing Skripsi

Junifa Layla Sihombing, S.Si., M.Sc


NIP : 198006202006042001

Mengetahui :

Jurusan Kimia Program Studi Kimia


Ketua, Ketua,

Agus Kembaren, S.Si., M.Si Destria Roza, S.Si., M.Si


NIP : 196808141994031004 NIP : 197111217199702200

Tanggal Seminar :

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN DEPAN i
HALAMAN PENGESAHAN ii
DAFTAR ISI iii
DAFTAR GAMBAR v
DAFTAR TABEL vi

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Batasan Masalah 6
1.3 Rumusan Masalah 6
1.4 Tujuan Penelitian 6
1.5 Manfaat Penelitian 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Biji Karet 8
2.2 Karakteristik Biji Karet 9
2.3 Esterifikasi 10
2.4 Transesterifikasi 11
2.5 Zeolit 12
2.5.1 Klinoptilolit 11
2.5.2 Mordenit 13
2.6 Zeolit Sebagai Katalis 16
2.7 Zeolit Sebagai Bahan Pengemban 18
2.8 Katalis Zeolit Teremban Logam 19
2.9 Aktivasi Zeolit 20
2.10 Hidrorengkah (Hydrocracking) 20
2.11 Karakterisasi Material Katalis 21
2.11.1 XRD (X-Ray Diffraction) 21
2.11.2 BET (Brunauer-Emmett-Teller) 21
2.11.3 Spektroskopi Infra Merah 22

iii
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian 23
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian 23
3.3 Alat 23
3.4 Bahan 23
3.5 Prosedur Kerja 24
3.5.1 Ekstraksi Minyak Biji Karet 24
3.5.2 Penentuan Karakteristik Minyak Biji Karet 24
3.5.2.1 Penentuan Kadar Air Minyak Biji Karet 24
3.5.2.2 Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) Minyak Biji Karet 24
3.5.2.3 Penentuan Berat Jenis Minyak Biji Karet 25
3.5.3 Produksi MEFA Dari Minyak Biji Karet 25
3.5.3.1 Metode Esterifikasi 25
3.5.3.2 Metode Transesterifikasi 25
3.5.4 Preparasi dan Karakterisasi Katalis 25
3.5.4.1 Preparasi Zeolit Alam Sarulla 25
3.5.4.2 Pembuatan Katalis Co/ZAS 25
3.5.4.3 Pembuatan Katalis Co-Mo/ZAS 25
3.5.5 Karakterisasi Katalis 27
3.5.5.1 Penentuan Dealuminasi Katalis 27
3.5.5.2 Penentuan Kristalinitas Katalis 27
3.5.5.3 Penentuan Luas Permukaan, Volume Total Pori 27
3.5.6 Produksi Fraksi Bahan Bakar Cair Dari MEFA Minyak Biji Karet 28
3.5.6.1 Metode Catalytic Hydrocracking 28
3.5.6.2 Analisis Produk Cair dengan GC 29
3.5.7 Bagan Alir Penelitian 31

DAFTAR PUSTAKA 39

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Biji Karet 8


Gambar 2.2 Struktur Kerangka Zeolit 11
Gambar 2.3 Struktur Klinoptilolit 12
Gambar 2.4 Contoh Difraksi XRD Klinoptilolit 12
Gambar 2.4 Struktur Mordenit 13
Gambar 2.6 Contoh Difraksi XRD Mordenit 13
Gambar 2.7 Struktur Sangkar (a) tipe HEU, (b) tipe MOR 14
Gambar 2.8 Situs Asam Bronsted dan Asam Lewis Pada Zeolit 16
Gambar 3.1 Bagan Alir Ekstraksi Minyak Biji Karet 29
Gambar 3.2 Bagan Alir Penentuan Kadar Air Minyak Biji Karet 30
Gambar 3.3 Bagan Alir Penentuan Kadar FFA Minyak Biji Karet 30
Gambar 3.4 Bagan Alir Penentuan Berat Jenis Minyak Biji Karet 31
Gambar 3.5 Bagan Alir Produksi MEFA 32
Gambar 3.6 Bagan Alir Preparasi Zeolit 33
Gambar 3. 7 Bagan Alir Pembuatan dan Karakterisasi Katalis Co/ZAS 34
Gambar 3.8 Bagan Alir Pembuatan dan Karakterisasi Katalis Co-Mo/ZAS 35
Gambar 3. 9 Produksi Fraksi Bahan Bakar Cair 36

v
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Komposisi Asam Lemak dalam Minyak Biji Karet 9


Tabel 2.2 Karakteristik Fisik dan Sifat Kimia Minyak Biji Karet 9

vi
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak bumi di dunia.


Namun, sampai saat ini masih mengimpor Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk
mencukupi kebutuhan bahan bakar minyak di sektor transportasi dan industri. Hal
tersebut didukung oleh data dari Global Subsidies Initiative (GSI) tahun 2013, di
mana rata-rata anggaran dana yang dialokasikan untuk subsidi mencapai 3,1
persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) per tahun. Korelasi antara pengadaan
dan penggunaan bahan bakar di Indonesia tidak berbanding lurus, sehingga
menyebabkan terjadinya kenaikan harga bahan bakar yang beberapa tahun ini
dirasakan oleh masyarakat Indonesia.

Kenaikan harga minyak mentah dunia memberi dampak yang besar pada
perekonomian nasional, terutama dengan adanya kenaikan harga BBM. Secara
langsung berakibat pada naiknya biaya transportasi, biaya produksi industri dan
pembangkitan tenaga listrik. Dalam jangka panjang impor BBM ini akan makin
mendominasi penyediaan energi nasional apabila tidak ada kebijakan pemerintah
untuk melaksanakan penganekaragaman energi dengan energi terbarukan
(Risnoyatiningsih, 2010). Energi mempunyai peran penting dalam mendukung
pembangunan nasional yang berkelanjutan. Apabila masalah energi tidak segera
ditanggulangi, maka tidak menutup kemungkinan bahwa Indonesia akan menjadi
Negara net import energy di masa depan.

Menurut Sudirman Said dalam outlook Energi Indonesia 2014,


Ketergantungan terhadap energi fosil terutama minyak bumi dalam pemenuhan
konsumsi di dalam negeri masih tinggi yaitu sebesar 96%, di mana minyak bumi
48%, gas 18% dan batubara 30%. Tingginya konsumsi energi fosil tersebut
diakibatkan oleh adanya subsidi sehingga harga energi menjadi murah dan
masyarakat cenderung boros dalam menggunakan energi. Di sisi lain, Indonesia
menghadapi penurunan cadangan energi fosil yang terus terjadi dan belum dapat

1
2

diimbangi dengan penemuan cadangan baru, sedangkan keterbatasan infrastruktur


energi yang tersedia juga membatasi akses masyarakat terhadap energi.

Pemerintah telah berusaha dalam mewujudkan kemandirian energi dan


ketahanan energi nasional dalam mendukung pembangunan nasional
berkelanjutan dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No
79 Tahun 2014 tentang “Kebijakan Energi Nasional” yang kebijakan utamanya
yaitu meliputi ketersediaan energi untuk kebutuhan nasional, prioritas
pengembangan energi, pemanfaatan sumber daya energi nasional, dan cadangan
energi nasional. Untuk mencapai kemandirian energi dan ketahanan energi,
pemanfaatan sumber daya alam sebagai sumber energi baru dan terbarukan dapat
dijadikan solusi dalam mengatasi permasalahan krisis bahan bakar maupun
cadangan energi masa depan.

Tanaman karet merupakan salah satu komoditi terbesar di Indonesia. Pada


tahun 2011, Indonesia memiliki kebun karet seluas 3,4 juta hektar (Kementan,
2011). Indonesia dapat menghasilkan biji karet sebesar 1500 kg/ha/tahun dengan
kandungan minyak nabati pada biji karet sebesar 40-50% dari bahan kering
sehingga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan.
Wizna dkk (2000) mengemukakan bahwa daging biji karet terdiri atas bahan
kering 92,22%; protein kasar 19,20%; lemak kasar 47,20%; serat kasar 6,00%;
abu 3,49%; BETN 24,11%. Minyak biji karet mengandung asam lemak yaitu
asam palmitat 13,11%, asam stearat 12,66%, asam arachidat 0,54%, asam oleat
39,45%, asam linoleat 33,12% dan asam lemak lainnya 1,12% (Setyawardhani
dkk, 2010). Kandungan asam lemak dalam minyak biji karet dan memiliki rantai
hidrokarbon panjang dan mengandung lemak tinggi memungkinkan dapat
dikonversi atau dimanfaatkan menjadi bahan bakar nabati (biofuel)
(Setyawardhani dkk. 2010).

Biofuel merupakan bahan bakar baik cair, padat, maupun gas hasil
konversi dari material-material biologis yang ketersediannya melimpah serta
murah sehingga dapat diperbaharui dan ramah terhadap lingkungan
(Dahyaningsih, 2013). Contoh biofuel dari biomassa yaitu biodiesel dan
biogasolin. Proses produksi biodiesel dapat dilakukan melalui metode esterifikasi

2
3

dan transesterifikasi dengan menghasilkan Metil Ester Faty Acid (MEFA),


sedangkan biogasolin dapat dilakukan melalui catalytic hydrocracking yang
produknya berupa senyawa hidrokarbon ringan rantai lurus (Zinoviev, 2007).
Catalytic Hydrocracking merupakan proses perengkahan berkatalis dengan
mereaksikan minyak nabati dengan sejumlah gas hidrogen pada keadaan suhu dan
tekanan tertentu, sehingga dihasilkan produk bahan bakar cair setara fraksi
biogasolin berupa alkana cair rantai lurus dari C-15 sampai C-18. Proses catalytic
hydrocracking ini mempunyai kelebihan yaitu dapat memberikan konversi yang
tinggi, yield kearah middle distilat tinggi, kualitas alkana yang dihasilkan
mempunyai bilangan setana yang tinggi (Chheda, 2007). Melalui catalytic
hydrocracking diharapkan dari minyak biji karet dapat dihasilkan fraksi bahan
bakar cair yang setaraf dengan biogasolin.

Menurut Fika Hesti Wulandari dan Sri Wahyuni (2015), konversi fraksi
hidrokarbon rantai panjang membutuhkan katalis perengkahan yang merupakan
katalis heterogen (padatan). Katalis heterogen yang pernah digunakan oleh
peneliti terdahulu yaitu NiO/SiO2 pada proses transeterifikasi minyak kelapa
(Kamisah D. Pandiangan dan Wasinton Simanjuntak, 2012), Ni/Z,Pd/Z,NiPd/Z
dan NiPd/Z-Nb2O5 pada reaksi hidrorengkah plastik polipropilena (I.F.
Nurcahyo, Wega Trisunaryanti, Triyono, Endang Tri Wahyuni, 2008) dan NiO-
CoO-MoO pada reaksi hidrorengkah pelumas bekas (Junifa Layla Sihombing dan
Wega Trisunaryanti, 2010). Sedangkan katalis heterogen yang paling umum
digunakan yaitu CaO, ZnO, SrO, TiO2 dan ZrO2 (Boey, P., Maniam, G., Hamid,
S.,(2011), Mustafa, B., Purwanti,E.,(2011), Yoo,S.,Lee, H., Veriansyah,
B.,Jaehoon, K., Jae, K., Lee, Y., (2010)).

Indonesia termasuk negara kaya akan mineral zeolit. Mineral-mineral yang


termasuk dalam grup zeolit pada umumnya dijumpai dalam batuan tufa yang
terbentuk dari hasil sedimentasi debu vulkanik yang telah mengalami proses
alterasi, proses diagenesis, dan proses hidrotermal (Kudrata,2008). Zeolit
memiliki sifat-sifat fisika dan kimia sebagai penyerap, penukar ion, penyaring
molekul dan sebagai katalisator (Kudrata,2008). Komposisi utama zeolit di
Indonesia adalah mordenit sekitar 70% (Sihombing, 2010). Indonesia berada

3
4

dalam wilayah rangkaian gunung api mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa tenggara,
sampai Sulawesi. Salah satu produk dari gunung api berupa tuf yang tersebar luas
mengikuti jalur gunung api tersebut dan sebagian atau seluruhnya telah
mengalami proses diagenesis menjadi zeolit. Oleh karena itu, secara geologi
Indonesia berpotensi besar menghasilkan zeolit seperti yang terdapat di Sumatera
Utara, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur,
dan Sulawesi dengan sumber daya 447.490.160 ton (Kudrata,2008). Menurut data
dari Neraca Sumber Daya Mineral Non Logam Nasional Tahun 2008 terdapat
zeolit di Desa Simangumban Kecamatan Pahae Jae Kabupaten Tapanuli Utara
Provinsi Sumatera Utara sebanyak 16,200,000 ton. Oleh karena itu pada penelitian
ini digunakan katalis zeolit alam Sarulla dengan harga relatif murah dan mudah
diperoleh serta juga didasarkan pada rasio Si/Al yang tinggi dapat meningkatkan
kekuatan asam dan konversi hidrokarbon yang berpengaruh pada proses reaksi
perengkahan katalitik.

Berdasarkan sifat fisika dan sifat kimia zeolit tersebut zeolit dapat
dimanfaatkan sebagai penyerap, penukar ion, penyaring molekul dan katalisator
(Kudrata,2008). Katalis yang digunakan dalam proses perengkahan pada
umumnya adalah katalis logam yang dimodifikasi dengan suatu bahan
pengemban. Salah satu bahan pengemban yang sering digunakan yaitu zeolit.
Adanya logam aktif pada zeolit (sistem pengemban-logam) akan memperbesar
luas permukaan dan meningkatkan keasaman katalis (Suyati dkk., 2009).

Penelitian terdahulu telah dilakukan oleh Ari Anggara Wibowo dkk (2014)
dalam mengkonversi minyak biji karet menjadi fraksi bahan bakar menggunakan
zeolit Y dengan mengipregnasi logam Nikel. Dimana hasil penelitian yang
dilakukan yaitu produk dari Hydrocracking MEFA minyak biji karet berupa
produk cair, kokas, gas dan residu. Konversi produk cair optimal terjadi pada
katalis Ni/ZY pada variasi perbandingan katalis : umpan 1:2 (b/b) pada temperatur
proses 450oC dengan konversi produk cair sebesar 87,37% dengan selektivitas
fraksi bensin (C6-C11) 74,24% dan Diesel (C12-C20) 25,76%. Dalam uji
aktivitas zeolit sebagai katalis yang teremban logam telah dilakukan oleh Junifa
Layla Sihombing, Jasmidi dan Ahmad Nasir Pulungan (2014) pada konversi

4
5

minyak dedak padi menjadi biogasolin melalui proses catalytic cracking, hasil
penelitian menunjukan sampel ZAS, NiO/ZAS, NiOMoO/ZAS,
NiOCoOMoO/ZAS memiliki luas permukaan berturut-turut 14,845 m2/g , 12,273
m2/g , 9,825 m2/g , 10,975 m2/g dan konversi produk bahan bakar cair tertinggi
diperoleh dengan katalis NiOCoOMoO/ZAS pada temperatur 450oC sebesar
73,43% (b/b) dengan selektivitas terhadap fraksi bensin (biogasolin) dan diesel
masing-masing sebesar 58,50 % dan 40,75%.

Logam-logam transisi seperti Cr, Pt, Ni, Pd, dan Mo telah banyak diteliti
sebagai logam yang diembankan pada zeolit alam dengan hasil yang baik
(Trisunaryanti, 2009). Menurut Beurden (2004) penambahan promotor dalam
katalis dapat meningkatkan luas permukaan untuk mengadsorpsi reaktan sehingga
aktivitas katalitik per unit luas permukaan meningkat. Penambahan promotor
melahirkan konsep baru dalam dunia katalis, yaitu sistem katalis multimetal.
Dimana sistem katalis multimetal banyak diminati karena dengan penambahan
sebuah logam dapat memperbaiki aktivitas, selektivitas, dan stabilitas dari katalis
(Nasir dkk, 2009). Menurut Reddy dkk. (2007) Kinerja katalitik dari katalis
multimetal jauh berbeda dari kinerja masing-masing komponennya. Pada
penelitian ini digunakan logam Co dan Mo yang diembankan pada zeolit alam
Sarulla yang telah di aktivasi dengan metode pengasaman dan kalsinasi pada suhu
tinggi (500C) dengan mengadopsi sistem katalis multimetal. Diharapkan proses
preparasi, aktivasi, dan kalsinasi serta pengembanan logam Co dan Mo yang
diembankan pada zeolit alam sarulla dapat digunakan sebagai katalis yang
memiliki aktivitas dan daya tahan yang tinggi terhadap reaksi catalytic
hydrocracking minyak biji karet dilihat dari sifat nilai keasaman, luas permukaan
spesifik, dan kristalinitasnya.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka pada penelitian ini akan
dilakukan preparasi katalis zeolit alam sarulla (ZS), zeolit alam aktif asam
(ZAS) Co dan Co-Mo dibuat dengan metode impregnasi. Reaksi karakterisasi
meliputi penentuan jumlah situs asam, luas permukaan spesifik, rerata jejari pori,
volume total pori, dan kristalinitas. Uji aktivitas katalis dilakukan pada reaksi
catalytic hydrocracking minyak dari biji karet menjadi fraksi bahan bakar cair
dalam reaktor sistem fixed bed. Untuk memperoleh kondisi optimum maka

5
6

dilakukan variasi katalis dan umpan, yaitu: 1:2, 1:4, dan 1:6 pada temperatur
450oC.

1.2 Batasan Penelitian


Penelitian ini dibatasi pada minyak biji karet yang diekstrak menggunakan
metode sokletasi dan katalis yang berasal dari zeolite alam Sarullah yang terlebih
dahulu dilakukan aktivasi dan pengembanan logam Co dan Co-Mo pada katalis
serta pengujian aktivitas zeolit dilakukan pada proses catalytic hydrocracking
minyak dari biji karet menjadi fraksi bahan bakar cair.

1.3 Perumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana metode preparasi dan karakterisasi katalis Co/ZAS dan Co-
Mo/ZAS zeolit Sarulla?
2. Bagaimana proses pembuatan fraksi bahan bakar cair dari minyak biji
karet menggunakan katalis Co/ZAS dan Co-Mo/ZAS melalui proses
catalytic hydrocracking?
3. Bagaimana pengaruh variasi katalis dan umpan pada metode catalytic
hydrocracking terhadap yield fraksi bahan bakar cair yang dihasilkan?

1.4 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui cara preparasi dan karakterisasi katalis Co/ZAS dan
Co-Mo/ZAS zeolit Sarulla.
2. Untuk mengetahui proses pembuatan fraksi bahan bakar cair dari minyak
biji karet menggunakan katalis Co/ZAS dan Co-Mo/ZAS melalui proses
catalytic hydrocracking.
3. Mengetahui pengaruh suhu pada metode catalytic hydrocracking terhadap
yield fraksi bahan bakar cair yang dihasilkan.

6
7

1.5 Manfaat Penelitian


Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan potensi zeolit alam yang telah diaktivasi dan dimodifikasi
sebagai katalis dalam proses catalytic hydrocracking minyak dari biji
karet.
2. Mengetahui efektivitas dan efisiensi biji karet untuk dapat dikonversi
menjadi senyawa hidrokarbon fraksi ringan melalui catalytic
hydrocracking.
3. Memberikan informasi dan nilai tambah untuk pemanfaatan biji karet
sebagai sumber bahan bakar alternatif baru dan terbarukan.

7
8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biji Karet


Tanaman karet merupakan salah satu komoditi terbesar di Indonesia. Pada
tahun 2011, Indonesia memiliki kebun karet seluas 3,4 juta hektar (Kementan,
2011). Indonesia dapat menghasilkan biji karet sebesar 1500 kg/ha/tahun dengan
kandungan minyak nabati pada biji karet sebesar 40-50% dari bahan kering
sehingga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan.
Biji karet merupakan hasil lain disamping karet alam dari tanaman karet (Hevea
brasiliensis) yang kurang dimanfaatkan. Biji karet berukuran besar dan memiliki
kulit atau cangkang yang keras. Warnanya cokelat kehitaman dengan bercak-
bercak berpola yang khas (Setiawan dan Andoko, 2005).
Menurut syamsunarno dan sunarno (2014) satu buah karet umumnya berisi
4 biji karet dan satu kg buah karet berisi 247,80 ± 27,58 buah karet serta 100 biji
karet mempunyai berat 408,36 ± 65,88 g atau 4,08 ± 0,65 g per biji. Menurut Toh
dan Chia (1978), satu buah karet berisi 2 – 4 biji dengan bobot rata-rata ber biji
3,95 ± 0,96 g per biji. Menurut Setyawardhani dkk (2010), setiap pohon
diperkirakan menghasilkan 5.000 butir biji per tahun atau satu hektar lahan dapat
menghasilkan 2,3 sampai 3 juta biji per tahun. Sedangkan menurut Wizna dkk
(2000) berat daging biji karet adalah 60% dari bobot biji secara keseluruhan.

Gambar 2.1 Biji Karet


(Sumber : Dokumentasi Penulis)

8
9

2.2 Karakteristik Biji Karet


Wizna dkk (2000) mengemukakan bahwa daging biji karet terdiri atas
bahan kering 92,22%; protein kasar 19,20%; lemak kasar 47,20%; serat kasar
6,00%; abu 3,49%; BETN 24,11%. Minyak biji karet mengandung asam lemak
yaitu asam palmitat 13,11%, asam stearat 12,66%, asam arachidat 0,54%, asam
oleat 39,45%, asam linoleat 33,12% dan asam lemak lainnya 1,12%
(Setyawardhani dkk, 2010). Kandungan asam lemak dalam minyak biji karet dan
memiliki rantai hidrokarbon panjang dan mengandung lemak tinggi
memungkinkan dapat dikonversi atau dimanfaatkan menjadi bahan bakar nabati
(biofuel) (Setyawardhani dkk. 2010).
Tabel 2.1 Komposisi Asam Lemak dalam Minyak Biji Karet
Komposisi Gugus alkil komposisi (%berat)
Asam Palmitat 16 : 0 7–8
Asam Stearat 18 : 0 9 – 10
Asam Oleat 18 : 1 28 – 30
Asam Linoleat 18 : 2 33 – 35
Asam Linolenat 18 : 3 20 – 21
Asam Arakhidat 20 : 0 0,5
(Sumber : Mittelbach dan Remschmidt, 2006)
Tabel 2.2 Karakteristik Fisik dan Sifat Kimia Minyak Biji Karet
Karakteristik Jumlah
Fisika
Spesific Gravity (15o C) 0,925 – 0,929
Melting Point 305o C
Densitas 0,9209 g/mL
Refractive Index 1,4743 – 1,4749
Kimia
FFA 6,66%
Bilangan Saponifikasi (mg KOH/g) 187,6 – 191,4
Bilangan Iodim (mg iodine/g) 133,8 – 146,6
Bahan yang tak tersabunkan 0,6 – 1,0
(Sumber: Nadarajah, 1973)

9
10

2.3 Esterifikasi

Esterifikasi adalah suatu reaksi ionik yang merupakan gabungan dari


reaksi adisi dan reaksi penataan ulang eliminasi (Davidek, 1990). Esterifikasi juga
dapat didefinisikan sebagai reaksi antara asam karboksilat dan alkohol (Gandhi,
1997). Esterifikasi dapat dilakukan dengan menggunakan katalis enzim (lipase)
dan asam anorganik (asam sulfat dan asam klorida), dengan berbagai variasi
alkohol biasanya metanol, etanol, 1-propanol, 1-butanol, amyl alkohol dan lain-
lain (Ozgulsun, dkk, 2008 dan Yan, dkk, 2001).

Gambar 2.2. Reaksi Esterifikasi


(Sumber : Utomo, 2011)

Reaksi esterifikasi digunakan sebagai proses pendahuluan untuk


mengkonversi FFA menjadi metil ester sehingga dapat mengurangi kadar FFA
dalam minyak nabati dan selanjutnya ditransesterifikasi dengan menggunakan
katalis basa untuk mengkonversi trigliserida menjadi metil ester (Utomo, 2011).
Mekanisme reaksi esterifikasi :

Gambar 2.3. Mekanisme Reaksi Esterifikasi


(Sumber : Fessenden and Fessenden, 1995)

10
11

2.4 Transesterifikasi

Reaksi Transesterifikasi adalah reaksi yang reversible, maka digunakan


alkohol yang berlebih untuk menggeser kesetimbangan alami bergerak ke arah
pembentukan senyawa ester asam lemak dan gliserol (Utomo, 2011). Proses
transesterifikasi adalah proses yang bertujuan untuk mengubah asam-asam lemak
dari trigliserida dalam bentuk ester dengan bantuan alkohol seperti metanol dan
etanol. Katalis yang biasa digunakan pada proses ini adalah katalis asam berupa
HCl dan H2SO4. Sedangkan untuk katalis basa (alkali) digunakan NaOCH3, KOH
dan NaOH. Proses tranesterifikasi dengan katalis alkali, seperti natrium atau
kalium hidroksida memberikan keuntungan tambahan yaitu prosesnya dapat
dioperasikan pada suhu rendah (Chumaidi, 2008).

Gambar 2.4. Reaksi Transesterifikasi Pada Minyak


(Sumber : Hambali et al., 2008)

Untuk mempercepat jalannya reaksi dan meningkatkan hasil, proses dilakukan


dengan pengadukan yang baik, penambahan katalis dan pemberian reaktan
berlebih agar reaksi bergeser ke kanan (Azis dkk, 2012). Reaksi transesterifikasi
harus digunakan bahan baku minyak nabati murni yang mengandung asam lemak
bebas (FFA) yang rendah. Gerpen et al. (2004) menyarankan bahwa jumlah
maksimum kandungan asam lemak bebas (FFA) minyak nabati yang dapat
ditoleransi oleh katalis basa pada reaksi transesterifikasi adalah kurang dari 2 %
dan lebih disukai kurang dari 1 %.

11
12

Gambar 2.5. Mekanisme Reaksi Transesterifikasi


(Sumber : Schuchardt et al., 1998)
2.5 Zeolit
Pada tahun 1756, ahli mineralogi bernama Axel Frederick Cronstedt
menemukan mineral alam, stilbite, yang akan kehilangan air ketika dididihkan,
dan dia menamakannya zeolite (Didiek Hadjar Goenadi, 2004). Zeolit merupakan
senyawa aluminosilikat terhidrasi yang mempunyai struktur kerangka tiga dimensi
dengan rongga didalamnya. Nama zeolit berasal dari dua kata dalam bahasa
Yunani yaitu zein yang berarti mendidih dan lithos yang berarti batuan. Oleh
karena itu zeolit mempunyai sifat mendidih atau mengembang apabila
dipanaskan. Dimana air dalam rongga-rongga zeolit akan mendidih bila
dipanaskan pada suhu 100oC (Sutarti dan Rahmawati, 1994). Mineral zeolit
banyak ditemukan di alam sebagai batuan sedimen vulkano. Penyusunan utama
zeolit adalah mordenit dan klipnotilonit dalam berbagai variasi komposisi.
Material ini terdiri dari 3 komponen yaitu kation yang dipertukarkan, kerangka
aluminosilikat dan air (Karna Wijaya, 2015).
Rumus Empiris Zeolit :
Mx⁄n [(AlO2 )X (SiO2 )Y ] m H2 O

12
13

Dimana n = valensi kation M (alkali/alkali tanah), x,y = jumlah tetrahedron per


unit sel, m = jumlah molekul air per unit sel, M = kation alkali/alkali tanah (Karna
Wijaya, 2015).
Zeolit tidak dapat diidentifikasi hanya berdasarkan analisis komposisi
kimia saja, melainkan harus dianalisis strukturnya. Struktur Kristal zeolit, dimana
semua atom Si dan Al dalam bentuk tetrahedral (TO4) yang disebut unit bangun
primer, sedangkan unit bangun sekunder zeolit adalah kation-kation dan fasa
airnya (Karna Wijaya, 2015).
Struktur kerangka zeolit tersusun atas unit-unit tetrahedral (AlO4)-5 dan
(SiO4)-4 yang saling berikatan melalui atom oksigen membentuk pori-pori zeolit.
Ion silikon bervalensi 4, sedangkan aluminium bervalensi 3. Hal ini yang
menyebabkan struktur zeolit kelebihan muatan negatif yang diseimbangkan oleh
kation-kation logam alkali atau alkali tanah seperti Na+, K+, Ca+ atau Sr+
maupun kation-kation lainnya (Tadeus dkk, 2013). Kation-kation tersebut terletak
diluar tetrahedral, dapat bergerak bebas dalam rongga-rongga zeolit dan bertindak
sebagai counter ion yang dapat dipertukarkan dengan kation-kation lainnya, sifat-
sifat inilah yang mendasari zeolit sebagai penukar kation. Berdasarkan sifat fisika
dan sifat kimia zeolit tersebut zeolit dapat dimanfaatkan sebagai penukar ion,
penyaring molekuler, adsorben dan katalis (Kudrata, 2008).

Gambar 2.6 Struktur Kerangka Zeolit


Sumber : Jahro, 2003

Mineral zeolit yang umum ditemukan antara lain : analcime, chabazite,


clinoptilolite, erionite, ferrierite, heulandite, laumintite, mordenite, dan philipsite.
Clinoptilolite merupakan zeolit alam yang paling banyak digunakan untuk
berbagai macam aplikasi. Selain itu chabazite dan mordenite juga digunakan
secara komersial namun dalam jumlah kecil karena jumlahnya di alam yang lebih
terbatas. (Didiek Hadjar Goenadi, 2004).

13
14

2.5.1 Klinoptilolit
Klinoptilolit termasuk jenis zeolit yang mempunyai kelas SBU : 4-4-1 dan
prototype struktur HEU (Heulandite), mempunyai rumus kimia kristalografi
dalam bentuk Na dalam sel satuan adalah: Na6Al6Si30O72.24H2O. Data parameter
struktur Klinoptilolit : Simetri grup ruang : C12/m1, sistim 14ristal : Monoklinik,
parameter kisi : a = 17.662, b = 17.911, c = 7.407 Å, sudut antar sumbu : a = 90.0,
b = 116.4, g =90.0o (Supandi Suminta, 2006)

Gambar 2.7 Struktur Klinoptilolit


Sumber : Supandi Suminta, 2006

Gambar 2.8 Contoh Difraksi XRD Klinoptilolit


Sumber : Supandi Suminta 2006

14
15

Keterangan puncak 2 zeolit alam hasil fitting antara sudut 2q = 10,70o s.d
12,5o merupakan suatu cirri bahwa gambar zeolit berfasa klinoptilolit (Supandi
Suminta, 2006)

2.5.2 Mordenit
Mordenit termasuk jenis zeolit yang mempunyai kelas SBU : 5-1 dan
prototype struktur MOR (Mordenit), mempunyai rumus kimia kristalografi dalam
be ntuk Na dalam sel satuan adalah : Na8(Si40Al8O96)24H2O. Data parameter
struktur Mordenit : simetri grup ruang : Cmcm (No. 63), sistim kristal :
Ortorombik, parameter kisi : a = 18.11, b = 20.53, c = 7.528 Å, sudut antar sumbu
: a = 90.0, b = 90.0, g = 90.0o, (Supandi Suminta 2006)

Gambar 2.9 Struktur Mordenit


Sumber: Suminta dan Las, 2006

Gambar 2.10 Contoh Difraksi XRD Mordenit


Sumber : Supandi Suminta 2006

15
16

Zeolit sudut mordenit garis warna merah pada bidang (200) sudut 2𝜃 = 9,818o,
Profil pola difraksi zeolit alam pada skala antara sudut 2 𝜃 = 8,00 o s.d 12o.

a b
Gambar 2.11 Struktur Sangkar (a) tipe HEU, (b) tipe MOR
Sumber : Supandi Suminta, 2006

Berdasarkan kristallografi dalam sel satuan, rumus struktur sangkar


klinoptilolit dan mordenit berturut-turut adalah:
(M)6/n [ (AIO2)6 (SiO2)30] 28 H2O atau (M)6/n Al6 Si30 O72. 28 H2O
(klinoptilolit, M = K, Na atau Ca)
(M)8/n [ (AIO2)8 (SiO2)40] 21 H2O atau (M)8/n Al8 Si40 O96. 21 H2O
(mordenit, M = Na atau Ca)
Kedua jenis zeolit ini mengandung silikat tinggi, perbedaan kedua jenis
ini adalah jumlah atom Si dan AI. Klinoptilolit memiliki atom Si = 30 dan Al = 6,
sedangkan mordenit memiliki atom Si = 40 dan Al = 8. Zeolit mordenit telah
berhasil disintesa, sedangkan zeolit jenis klinoptilolit sulit disintesa. Meskipun
demikian, zeolit ini tersedia di alam dengan kemumian yang tinggi (supandi dkk.
1999)

2.6 Zeolit Sebagai Katalis


Berdasarkan sifat fisika dan sifat kimia zeolit tersebut zeolit dapat
dimanfaatkan sebagai penyerap, penukar ion, penyaring molekul dan katalisator
(Kudrata,2008). Kemampuan zeolit sebagai penyerap, katalis dan penukar ion
sangat bergantung kepada perbandingan Al dan Si, sehingga dapat dikelompokkan
menjadi 3 (Sutarti, 1994 ) :

16
17

1. Zeolit sintetis dengan kadar Si rendah


Zeolit jenis ini banyak mengandung Al, berpori, mempunyai nilai ekonomi
tinggi karena efektif untuk pemisahan dengan kapasitas besar. Volume
porinya dapat mencapai 0,5 cm3 tiap cm3 volume zeolit.
2. Zeolit sintetis dengan kadar Si sedang
Jenis zeolit ini mempunyai perbandingan Si/Al 2 hingga 5. Contoh zeolit
sintetis jenis ini adalah zeolit omega.
3. Zeolit sintetis dengan kadar Si tinggi
Zeolit jenis ini sangat higroskopis dan menyerap molekul non polar
sehingga baik untuk digunakan sebagai katalisator asam untuk
hidrokarbon. Zeolit jenis ini misalnya zeolit ZSM-5, ZSM-11, ZSM-21,
ZSM-24.
Penggunaan katalis dalam waktu tertentu akan menyebabkan penurunan
aktivitas. Penurunan aktivitas katalis terjadi karena katalis mengalami deaktivasi.
Deaktivasi ini diakibatkan oleh pengotor (fouling), yaitu pembentukan karbon
atau kokas dalam proses perengkahan (Trisunaryanti dkk., 2002). Kokas/residu
karbon mendeaktivasi katalis dengan meracuni situs-situs aktif dan/atau mem-
block pori-pori katalis. Kokas yang terbentuk dapat dihilangkan dengan
pembakaran pada 600 0C (Chen and Manos, 2004).
Hasil penelitian Trisunaryanti dan Emmanuel (2009) menyatakan bahwa
deposit kokas pada permukaan katalis CoO-MoO/ZnO zeolit alam aktif
mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya waktu penggunaan
sehingga menyebabkan menurunnya aktivitas katalis. Salah satu faktor penyebab
terbentuknya kokas yaitu keasaman total katalis. keasaman total katalis
merupakan gabungan dari asam Bronsted dan asan Lewis. Semakin tinggi
keasaman katalis maka pembentukan kokas semakin cepat (Wang, 2007).
Pembentukan asam Bronsted dan asam Lewis dapat dilihat pada :

17
18

Gambar 2.12 Situs Asam Bronsted dan Asam Lewis Pada Zeolit
Sumber : Tatsumi, 2004

Zeolit memiliki situs asam bronsted yang berasal dari gugus silanol
permukaan. Tidak ada gugus silanol terminal pada struktur zeolit karena
tetrahedral silica dan alumina yang saling berikatan membentuk kerangka 3
dimensi. Situs bronsted terjadi jika logam penyeimbang muatan listrik zeolit
digantikan oleh proton (H+) yang terikat pada oksigen (gugus OH). Jika situs
asam bronsted dipanaskan pada temperature tinggi <500 oC, situs bronsted akan
berubah menjadi situs asam lewis sambil melepaskan molekul air (H2O). situs
lewis yang tidak stabil akan distabilkan oleh adanya uap air menjadi situs lewis
sebenarnya. Adanya situs asam bronsted dan lewis pada kerangka zeolit
menjadikan zeolit dapat digunakan sebagai katalis asam untuk reaksi perengkahan
pada industry petrokimia dan petroleum (Wega Trisunaryanti, 2015).

2.7 Zeolit Sebagai Bahan Pengemban


Bahan pengemban berupa zeolit alam banyak bercampur dengan materi
pengotor, baik yang bersifat kristalin maupun amourfous. Sehingga zeolit alam
perlu diaktivasi dan dimodifikasi untuk meningkatkan aktivitasnya sebagai
katalis. Salah satu sifat yang perlu dimodifikasi adalah keasaman. Keasaman
zeolit dapat ditingkatkan dengan dealuminasi dan dengan pengembanan logam
dan oksida logam tertentu. Penelitian tentang modifikasi suatu katalis dalam

18
19

sistem pengemban-logam telah banyak dilakukan guna meningkatkan aktivitas


katalis. Septiansyah (2011) telah melakukan modifikasi katalis dengan metode
impregnasi terhadap logam Nikel (Ni) ke dalam zeolit jenis mordenit sebagai
pengemban, dan diperoleh kesimpulan bahwa persentase Ni terbesar yang terserap
ke dalam zeolit terjadi pada zeolit-Ni 0,2 M.

2.8 Katalis Zeolit Teremban Logam


Katalis heterogen merupakan katalis yang ada dalam fase berbeda dengan
pereaksi dalam reaksi yang dikatalisisnya. Katalis heterogen ini biasanya berupa
katalis dengan system logam pengemban (bifungsional). System katalis tersebut
dipilih karena katalis logam tunggal tidak memiliki kestabilan termal yang tinggi
dan akan membentuk logam pejal yang dapat memperkecil luas permukaan serta
mudah terdeaktivasi. Maka dari itu katalis logam perlu didispersikan ke dalam
material pengemban (padatan pendukung) yang berpori, stabil terhadap panas dan
zat kimia, luas permukaan besar, serta kuat secara mekanisme (Trisunaryanti dan
Emmanuel, 2009)
Katalis bifungsional terdiri atas situs asam dan logam, dimana situs asam
terdapat pada material pengemban, seperti zeolit, silica alumina dan alumina,
sedangkan situs logam terdapat pada logam transisi seperti Ni, Mo,W, Co, dan
kombinasi. Logam transisi dipilih sebagai katalis karena memiliki orbital d
kosong sehingga efektif menerima pasangan dari reaktan untuk mencapai suatu
reaksi. Pengemban yang digunakan harus memiliki luas permukaan cukup besar
sebagai tempat untuk mendistribusikan logam. Logam dapat terdispersi secara
merata di seluruh system pori zeolit sehingga dihasilkan permukaan logam yang
aktif (Zhang dkk, 2003). Dengan cara ini katalis yang dihasilkan akan lebih
efisien dengan luas permukaan spesifik besar, stabilitas termal tinggi, masa pakai
yang lebih lama, serta menghasilkan katalis yang lebih selektif. Selain itu, aktivasi
melalui perlakuan asam diperlukan untuk meningkatkan jumlah situs asam, pori
dan luas area sehingga dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produk
hidrocracking (Trisunaryanti dkk, 2013)

19
20

2.9 Aktivasi Zeolit


Proses aktivasi dilakukan untuk meningkatkan aktivitas zeolit . proses
aktivitas zeolit dapat dilakukan dengan dua cara yaitu aktivitas secara fisis dan
kimia. Proses aktivitas secara fisis dilakukan dengan pemanasan (300 oC - 400 oC)
dengan tujuan agar zeolit mengalami dehidrasi yang berakibat membuka pori-pori
pada zeolit. Proses aktivasi secara kimia dapat dilakukan dengan larutan asam
(H2SO4), basa (NaOH), dan garam (NaCl) (Karna Wijaya, 2015).

2.10 Hidrorengkah (Hydrocracking)


Hidrorengkah merupakan kombinasi dari perengkahan katalitik dan
hidrogenasi pada tekanan yang tinggi. Hidrogen menghidrogenasi presekutor
kokas pada katalis sehingga akan meminimalkan laju pembentukan kokas di mana
waktu hidup katalis yang lama dapat dicapai sebelum regenerasi diperlukan.
Proses hidrorengkah modern dikembangkan terutama untuk mengolah umpan
yang memiliki kandungan senyawa aromatic polisiklis tinggi yang relative tidak
reaktif dalam perengkahan katalitik (Trisunaryanti, 2015).
Temperatur reaksinya lebih rendah dibandingkan perengkahan kalitik,
dalam rentang 200-400oC, dan tekanan hydrogen sekitar 1-10 MPa tergantung
pada bahan baku dan jenis reaksi yang diinginkan. Tekanan hydrogen minimum
biasanya diatur sesuai kebutuhan untuk meminimalisasi laju pembentukan kokas,
tetapi tekanan hydrogen yang terlalu tinggi menyebabkan konsumsi hydrogen
yang berlebihan. Hal ini mungkin dapat menurunkan angka oktan fraksi bensin.
Umpan yang tinggi kandungan aromatiknya dibutuhkan untuk menghasilkan
fraksi bensin dengan angka oktan yang tinggi secara langsung dari alat perengkah
(Trisunaryanti, 2015).
Katalis berbasis mordenit baik digunakan untuk menghasilkan
hidrokarbon c3 hingga c4 dari nafta, tetapi tidak cukup stabil untuk umpan
minyak gas. Paladium pada zeolit Y merupakan katalis yang sesuai digunakan
dalam proses pengolahan minyak di Union Oil/Exxon, tetapi Paladium tipe L dan
Ω tidak sesuai. Katalis ini dapat diracun oleh sejumlah kecil konsentrasi senyawa
organosulfur dan organonitrogen sehingga bahan baku biasanya melalui reactor
hidrodesulfurrizer (HDS) terlebih dahulu, di mana substansinya akan diubah
menjadi H2S dan NH3 (Satterfield, 1980)

20
21

2.11 Karakterisasi Material Katalis


2.11.1 XRD (X-Ray Diffraction)
Analisis X-Ray Difraktometri merupakan metode analisis struktur Kristal
baik dalam bentuk Kristal tunggal maupun serbuk, material polikristalin dan
amorf. Metode analisis ini merupakan metode analisis kualitatif tetapi dapat juga
digunakan untuk analisis kuantitatif seperti kalibrasi, standart internal, standart
kalibrasi eksternal, pola pengindeksan, ukuran kristalit dan kristalinitas. Prinsi
analisisnya yaitu serbuk dikenai sinar-x kemudian difraksinya di tangkap dengan
suatu detector germanium. Selanjutnya diolah oleh computer menghasilkan output
dalam bentuk difraktogram. Dari difraktogram harga d-spacing dari pengamatan
difraksi puncak dapat dihitung dengan menggunakan hokum bragg (Karna
Wijaya, 2015). Karakterisasi X-Ray Diffraction (XRD) dimaksudkan untuk
menentukan sifat kristal atau kristalinitas dari suatu katalis. Kebanyakan katalis
berbentuk padatan kristal seperti oksida logam, zeolit, dan logam berpenyangga.
Di dalam analisis XRD, kristal katalis memantulkan sinar X yang dikirimkan dari
sumber dan diterima oleh detektor. Dengan melalui sudut kedatangan sinar X
maka spektrum pantulan adalah spesifik yang berhubungan langsung dengan
lattice spacing dari kristal yang dianalisis. Teknologi XRD mempunyai
kemampuan untuk mengidentifikasi dan menentukan besarnya bagian fasa dalam
padatan, film tipis, dan sampel multi fasa (Darmawan dkk, 2004). Kemudahan
untuk mereduksi katalis bergantung pada kristalinitas pengemban dimana jika
kristalinitasnya lebih tinggi maka garam lebih mudah direduksi dibandingkan
pengemban dengan kristalinitas yang rendah (Triyono dalam Pulungan, 2011).

2.11.2 BET (Brunauer-Emmett-Teller)


Metode BET merupakan metode yang digunakan untuk mengukur luas
permukaan, volume total pori dan distribusi jejari pori. Isoterm adsorpsi Langmuir
diperluas hingga adsorpsi multilayer. Seperti dalam pendekatan Langmuir, untuk
layer pertama laju evaporasi dianggap sama dengan laju kondensasi dan panas
adsorpsi diambil bebas. Untuk layer di luar layer pertama laju adsorpsi diambil
sebanding dengan jumlah yang ada dalam layer tersebut (Trisunaryanti, 2015).

21
22

Penentuan karakter fisik katalis dilakukan dengan alat penganalisa serapan gas.
Asumsi BET adalah bahwa molekul-molekul diatas tumpukan adsorbat adalah
berkesetimbangan dengan uapnya, ini berarti bahwa pada permukaan yang hanya
tertutupi satu lapisan adsorbat, maka sebuah kesetimbangan itu ada antara lapisan
dan uap dan pada uap lapisan yang teradsorbsi. Lapisan di atas akan
berkesetimbangan dengan uap dan seterusnya selama jumlah molekul teradsorbsi
membentuk lapisan1,2 dan seterusnya, masing-masing lapisan adalah konstan.
Penelitian terkait penentuan BET untuk melihat perbedaan ukuran pori, volume
pori dan luas permukaan adalah zeolit hasil sintesis sebagai pengaruh penggunaan
template n-CTMABr, dilakukan karakterisasi BET pada sampel Z1-kal (tanpa
template n-CTMABr) dan Z4-kal. Hasil analisis pori menggunakan metode
adsorpsi gas N2 (BET) Data analisis BET menunjukkan pada Z4-kal terjadi
peningkatan ukuran pori dari 20,87 menjadi 27,61 sehingga terjadi peningkatan
ukuran pori sebesar 32,29 % (Trisunaryanti, 2006).

2.11.3 Spektroskopi Infra merah


Spektroskopi FTIR (fourier transform infrared) merupakan salah satu
teknik analitik yang sangat baik dalam proses identifikasi struktur molekul suatu
senyawa. Komponen utama spektroskopi FTIR adalah interferometer Michelson
yang mempunyai fungsi menguraikan (mendispersi) radiasi inframerah menjadi
komponen-komponen frekuensi. Penggunaan interferometer Michelson tersebut
memberikan keunggulan metode FTIR dibandingkan metode 3 spektroskopi
inframerah konvensional maupun metode spektroskopi yang lain. Diantaranya
adalah informasi struktur molekul dapat diperoleh secara tepat dan akurat
(memiliki resolusi yang tinggi). Keuntungan yang lain dari metode ini adalah
dapat digunakan untuk mengidentifikasi sampel dalam berbagai fase (gas, padat
atau cair). Kesulitan-kesulitan yang ditemukan dalam identifikasi dengan
spektroskopi FTIR dapat ditunjang dengan data yang diperoleh dengan
menggunakan metode spektroskopi yang lain. Spektrum hasil pengujian sampel
tersebut akan sangat membantu dalam identifikasi gugus fungsi (Harmita, 2006).

22
23

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dan kuantitatif.
Di mana pada penelitian ini akan diteliti berapa banyak minyak biji karet yang
dapat dikonversi menjadi fraksi bahan bakar, dan pengaruh dari katalis alam
Sarullah yang teremban logam Co dan Co-Mo pada pembuatan fraksi bahan
bakar.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian akan dilaksanakan selama 3 bulan (Maret s.d Mei) dan
dilakukan di Laboratorium Penelitian Jurusan Kimia Universitas Negeri Medan,
Jalan Williem Iskandar Pasar V Medan Estate Deli Serdang Sumatera Utara.

3.3 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat alat
gelas, seperangkat alat refluks, seperangkat alat sokhlet, seperangkat alat oksidasi,
evaporator, termometer, piknometer, neraca analitik, indikator pH, corong pisah,
penyaring buchner, pompa vakum, Hot plate, pengaduk magnetik, saringan 100
mesh, penggerusan (lumpang dan mortal), krus porselin, oven, desikator,
Spektrometer FTIR, XRD (X-Ray Difractometer), BET (Brunauer-Emmett-
Teller) dan GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spectroscopy).

3.4 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah aquades, biji
karet, zeolit alam Sarulla, HCl (p.a), Metanol (p.a), Na2SO4 Anhidrat, H2SO4 (p.a
merck), Co(NO3)2.6H2O(p.a merck), (NH4)6Mo7O24.4H2O (p.a merck) H3PO4
(p.a), NaOH (p.a.), AgNO3 (p.a), gas nitrogen, gas oksigen, gas hidrogen n-
Heksan (teknis) dan indikator PP.

23
24

3.5 Prosedur Kerja


Adapun prosedur penelitian yang dilaksanakan dalam penelitian ini
meliputi beberapa tahap yaitu sebagai berikut :

3.5.1 Ekstraksi Minyak Biji Karet


Biji karet dipisahkan dari cangkangnya, kemudian biji karet tersebut
dijemur dibawah sinar matahari selama 2-3 hari, lalu biji karet dihaluskan dengan
blender. Biji karet yang telah halus dikeringkan kembali menggunakan oven pada
suhu 110C selama 1 jam. Kemudian biji karet diekstrak agar didapatkan
minyaknya dengan pelarut n-heksan pada suhu 60C selama 2 jam (4 siklus) lalu
dipisahkan pelarutnya menggunakan evaporator sehingga menghasilkan minyak
dan getah (gum).
Setelah itu melakukan degumming untuk memisahkan getah dari minyak
biji karet dengan menambahkan larutan H3PO4 20% sebanyak 0,2 % b/b minyak
diaduk dengan pengadukan konstan sampai warna menjadi lebih hitam dan
selanjutnya dipisahkan dengan corong pisah. Kemudian dilakukan netralisasi pada
minyak hasil degumming dengan air hangat (60oC) sebanyak 10 % dari berat
minyak diaduk diatas hot plate hingga homogen, lalu dikeringkan dalam oven
pada suhu 110 oC (30 menit).

3.5.2 Penentuan Karakteristik Minyak Biji Karet


3.5.2.1 Penentuan Kadar Air Minyak Biji Karet
Menimbang 5 gram minyak, lalu dimasukkan ke dalam oven pada
temperatur 110oC selama 4 jam. kemudian didinginkan dalam desikator dan
ditimbang. Panaskan lagi dalam oven selama 30 menit dan didinginkan dalam
desikator, lalu ditimbang.

3.5.2.2 Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) Minyak Biji Karet
Mengambil 3 mL sampel minyak ke dalam erlenmeyer 250 mL, lalu
ditambahkan 50 mL metanol, panaskan sampai sampai suhu 450C. Kemudian

24
25

ditambahkan indikator pp 2-3 tetes lalu dititrasi dengan larutan standart NaOH 0,1
N sehingga warna merah muda (titik akhir titrasi).

3.5.2.3 Penentuan Berat Jenis Minyak Biji Karet


Berat jenis (BJ) adalah perbandingan berat dari volume sample minyak
dengan berat air yang volumenya sama pada suhu 250C. Cara penentuan berat
jenis yaitu membersihkan piknometer lalu ditimbang, kemudian piknometer diisi
dengan aquades bersuhu 20 sampai 300C. Pengisian dilakukan sampai air dalam
botol meluap dan tidak ada gelembung udara di dalamnya.Setelah ditutup, botol
direndam dalam bak air yang bersuhu 250C selama 30 menit. Angkat botol dari
bak, keringkan dengan kertas pengisap dan timbang berat botol dengan isinya.
Sampel minyak biji karet disaring dengan kertas saring untuk membuang benda
asing dan kandungan air. Selanjutnya sampel minyak diperlakukan sama seperti
langkah di atas.

3.5.3 Produksi MEFA Dari Minyak Biji Karet


3.5.3.1 Metode Esterifikasi
Minyak biji karet dipanaskan pada temperatur 1000C selanjutnya
dilakukan reaksi Esterifikasi yang dilakukan dalam labu leher 3 yang berisi
perbandingan rasio molar metanol : Minyak (6:1) dengan katalis H2SO4 (1% v/v
terhadap total volume metanol + minyak biji karet), dipanaskan pada temperatur
6000C selama 1 jam dengan kecepatan pengadukan 300 rpm dan catat waktu
reaksi, sampel diambil setiap 15 menit untuk diketahui laju pembentukan Metil
Ester Fatty Acid (MEFA) dan Free Fatty Acid (FFA) sesuai SNI 01-3555-1998.
Diambil 3 ml sampel ke dalam erlenmeyer 250 ml, lalu ditambahkan metanol,
panaskan sampai suhu 450C. Kemudian ditambahkan indikator pp 2-3 tetes lalu
dititrasi dengan larutan standart NaOH 0,1 N sehingga warna merah muda (titik
akhir Titrasi).

3.5.3.2 Metode Transesterifikasi


Setelah selesai dilajutkan dengan reaksi transesterifikasi dengan
menambahkan NaOH 1% b/b pada temperatur 600C selama 60 menit dengan
kecepatan pengadukan 300 rpm. Setelah reaksi selesai, ditambahkan HCl 0,6 N

25
26

sebanyak 3 – 5 tetes dan gliserin ± 2,5 ml sehingga diperoleh 2 lapisan, lapisan


atas (metil ester) dan lapisan bawah (mengandung gliserin). Lapisan bawah di
drain dan lapisan atas diuapkan pada temperatur 740C kemudian dicuci dengan air
distilat beberapa kali. Kemudian metil ester dikeringkan dengan Na2SO4 Anhidrat,
sampel dianalisis menggunakan GC.

3.5.4 Preparasi dan Karakterisasi Katalis


3.5.4.1 Preparasi Zeolit Alam Sarulla
Zeolit alam Sarulla dihancurkan dan diayak sehingga didapat zeolit alam
dengan ukuran lolos ayakan 100 mesh. Zeolit alam berukuran 100 mesh ini
kemudian dicuci dengan perendaman dalam aquadest selama sehari semalam pada
temperatur kamar. Kemudian zeolit disaring dan endapan yang bersih dikeringkan
pada temperatur 120C diperoleh sampel zeolit alam (ZS). Sampel ZS yang sudah
dibersihkan pada penanganan awal dilakukan dealuminasi menggunakan HCl 3M
lalu direfluks pada suhu 90C selama 30 menit, larutan hasil refluks disaring dan
endapan yang dihasilkan dicuci dengan aquadest sampai sisa HCl hilang (ditandai
dengan sudah tidak terbentuknya endapan lagi dengan penambahan AgNO3 pada
filtrat), endapan disaring kemudian diovenkan pada suhu 120C sampai kering
selama 3 jam, kemudian dikalsinasi selama 2 jam pada suhu 500C dengan dialiri
gas Nitrogen sehingga diperoleh zeolit alam sarulla teraktivasi asam (ZAS).

3.5.4.2 Pembuatan Katalis Co/ZAS


Sebanyak 4,8667 gram kobalt nitrat (Co(NO3)2.6H2O) dilarutkan dalam
aquabidest pada labu alas bulat, ditambah ZAS sebanyak 100 gram kemudian
direfluks sambil diaduk dengan pengaduk magnet selama 5 jam pada temperatur
80C, kemudian dikeringkan pada temperatur 120C selama 2 jam dan diperoleh
katalis Co/ZAS. selanjutnya dioksidasi dengan dialiri gas O2 (±20 mL/menit) pada
suhu 500C selama 2 jam maka diperoleh katalis CoO/ZAS. Kemudian katalis
CoO/ZAS direduksi dengan dialiri gsas hydrogen (±20 mL/menit) pada suhu
500C selama 2 jam diperoleh katalis Co/ZAS.

26
27

3.5.4.3 Pembuatan Katalis Co-Mo/ZAS


Sebanyak 0,9105 gram ammonium heptamolibdat tetrahidrat
(NH4)6Mo7O24.4H2O dilarutkan dalam aquabidest pada labu alas bulat, ditambah
ZAS sebanyak 100 gram kemudian direfluks sambil diaduk dengan pengaduk
magnet selama 5 jam pada temperatur 80C, kemudian dikeringkan pada
temperatur 120C selama 2 jam dan diperoleh katalis Mo-ZAS. Sebanyak 2,4333
gram kobalt nitrat (Co(NO3)2.6H2O) dilarutkan dalam aquabidest kemudian
ditambahkan Mo-ZAS, kemudian direfluks sambil diaduk dengan pengaduk
magnet selama 5 jam pada temperatur 80C, kemudian dikeringkan pada
temperatur 120C selama 2 jam dan diperoleh katalis CoMo/ZAS. Padatan Co-
Mo/ZAS selanjutnya dioksidasi dengan dialiri gas O2 (± 20 mL/menit) pada suhu
500C selama 2 jam maka diperoleh katalis CoO-MoO/ZAS. Kemudian katalis
CoO-MoO/ZAS direduksi dengan dialiri gsas hydrogen (±20 mL/menit) pada
suhu 500C selama 2 jam diperoleh katalis Co-Mo/ZAS.

3.5.5 Karakterisasi Katalis


3.5.5.1 Penentuan Dealuminasi Katalis
Penentuan dealuminasi dilakukan dengan menggunakan teknik analisis
spektrofotometer FT-IR dimana metode analisis menggunakan metode pelet KBr.
Sampel Katalis Co/ZAS dan Co-Mo/ZAS dikarakterisasi secara terpisah dengan
cara mencampurkan sampel dengan serbuk KBr murni (1 : 25). Kemudian digerus
menggunakan lumpang dan alu hingga homogen. Lalu dimasukkan ke dalam cell
khusus dan dimampatkan, selanjutnya dikarakterisasi menggunakan alat
Spektrofotometri FT-IR.

3.5.5.2 Penentuan Kristalinitas Katalis


Penentuan kristalin katalis dilakukan dengan menggunakan alat
difraktometer sinar-X. Sampel Katalis Co/ZAS dan Co-Mo/ZAS dikarakterisasi
secara terpisah dengan cara diambil sekitar 0,5 gram bubuk sampel katalis
ditempatkan di dalam tempat sampel dan dianalisis langsung dengan

27
28

difraktometer sinar-X menggunakan radiasi Cu K pada tegangan 40 kV, arus 30


mA serta 2𝜃 = 3,00 – 80,00 derajat.

3.5.5.3 Penentuan luas permukaan, volume total pori dan rerata jejari pori
Pengukuran luas permukaan, volume total pori, dan rerata jejari pori
dilakukan dengan menggunakan metode yang dikembangkan oleh Branauer,
Emmett dan Teller (BET). Metode BET didasarkan pada fenomena adsorbsi gas
lapis tunggal yang berlangsung pada temperatur tetap (Augustine dalam Pulungan,
2011). Alat yang digunakan adalah Gas Sorption Analyzer NOVA. Pengukuran
dilakukan dengan menempatkan sejumlah sampel di dalam tabung sampel alat
tersebut, kemudian dipanaskan dan dilakukan proses degassing dengan gas
nitrogen selama 45 menit pada temperatur 150C. Sampel kemudian didinginkan,
sampai terbentuk lapis tunggal molekul nitrogen pada permukaan padatan.
Tekanan gas pada ruang sampel akan berkurang akibat terjadinya adsorbsi gas
dalam sampel. Volume gas (v) atau berat gas (w) yang teradsorpsi pada
temperatur nitrogen cair seterusnya dapat ditentukan. Dengan terukurnya
perubahan tekanan dan volume/berat gas yang teradsorpsi pada sampel dibantu
dengan perangkat lunak komputer yang terdapat dalam peralatan tersebut maka
dapat ditentukan luas permukaan spesifik, volume total pori, dan rerata jejari pori
untuk katalis Co/ZAS dan Co-Mo/ZAS.

3.5.6 Produksi Fraksi Bahan Bakar Cair Dari MEFA Minyak Biji Karet
3.5.6.1 Metode Catalytic Hydrocracking
Pada Metode Catalytic Hydrocracking ini katalis yang digunakan yaitu
Co/ZAS dan Co-Mo/ZAS. Umpan yang digunakan adalah minyak biji karet.
Proses hydrocracking dilakukan dengan perbandingan katalis dan umpan masing-
masing 1:2, 1:4, 1:6. Katalis dan umpan ditimbang, selanjutnya katalis diletakkan
dalam wadah umpan. Kemudian keduanya dimasukkan ke dalam reaktor fixed-bed
yang terbuat dari stainless steel. Setelah itu reaktor dimasukkan ke dalam furnace
dan dipanaskan sampai temperatur 450C dan umpan diuapkan serta dialirkan ke
dalam reaktor. Produk yang terbentuk dialirkan melalui selang silikon dengan
melewati kondensor dan produk cair yang terdiri dari fraksi bensin, diesel, dan

28
29

minyak berat yang dianalisis dengan GC. Produk terdiri dari fraksi cair, gas dan
kokas. Jumlah % (b/b) fraksi cair, gas dan kokas dihitung menggunakan
persamaan berikut:
WPC
% (b/b) produk cair = Wumpanx 100%

Dimana; WPC = berat produk cair (g)


Wumpan = berat umpan (g)

WK1-WK2
% (b/b) kokas = Wumpan x 100%

Dimana; WK1 = berat katalis sebelum proses hidrorengkah (g)


WK2 = berat katalis sesudah proses hidrorengkah (g)
Wumpan = berat umpan (g)

Jumlah konversi gas dapat diketahui jika % berat residu yaitu berat minyak
bij kareti yang tidak tercracking telah diketahui yaitu dengan menghitung jumlah
selisih antara wadah umpan sebelum (WU1) dan sesudah (WU2) dengan persamaan:

(WU1-WU2)
% (b/b) residu = W umpan x 100%

Dimana; WU1 = Berat umpan sebelum proses cracking (gram)


WU2 = Berat umpan sesudah proses cracking (gram)
Wumpan = Berat umpan (gram)

Luas kromatogram GC fraksi B/D/MB


% K fraksi B/D/MB= x 100%
luas kromatogram GC

Dimana; K = Kromatogram
B = Fraksi Bensin
D = Fraksi Diesel
MB = Fraksi Minyak Berat

3.5.6.2 Analisis Produk Cair dengan GC


Analisis produk konversi fraksi cair dari proses Catalytic Hydrocracking
MEFA minyak biji karet dengan menggunakan katalis Co/ZAS dan CoMo/ZAS

29
30

dilakukan dengan menggunakan gas kromatografi (GC) yang dioperasikan dengan


kondisi sebagai berikut:
Temperatur awal oven : 50C
Waktu awal : 2 menit
Kenaikan temperatur oven : 10C/menit
Temperatur akhir : 280C
Detektor : FID
Temperatur detektor : 300C
Temperatur Injektor : 280C
Gas pembawa : He
Total Flow : 40 mL/menit
Mode Injeksi : 100 Kpa
Jumlah injeksi : 2 𝜇𝐿
Kolom : HP5 (5% Phenyl Methyl Siloxane)
Panjang Kolom : 30 meter

Analisis dilakukan dengan menginjeksikan sampel pada alat GC sehingga


diperoleh data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif menunjukkan beberapa
jenis produk yang ada dan data kuantitatif menunjukkan besarnya persentasi
konversi yang terjadi.

30
31

3.5.7 Bagan Alir Penelitian


Ekstraksi Minyak Biji Karet

Biji Karet

Dihaluskan

Di oven pada T = 110 oC, t = 20 menit

Diekstraksi (Metode Sokhletasi), T = 60oC, t = 2 jam

Ampas Minyak Biji Karet Dengan Pelarut

Dievaporasi

Pelarut Minyak Biji Karet

Didegumming dengan H3PO4 20 %, v =


0,2% dari volume minyak
Dinetralisasi dengan air panas 10% (b/b)
Dikeringkan T= 110 oC, t = 30 menit

Minyak Biji Karet Murni


(Analisis GC)

Gambar 3.1 Bagan Alir Ekstraksi Minyak Biji Karet

31
32

Penentuan Kadar Air Minyak Biji Karet

2-5 gr minyak biji karet

Dikeringkan T= 110 oC t = 3-5 jam


Dimasukkan ke dalam desikator
Ditimbang

Dihitung Kadar Air


Minyak

Gambar 3.2 Bagan Alir Penentuan Kadar Air Minyak Biji Karet

Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) Minyak Biji Karet

3 mL minyak
biji karet

Ditambah 50 mL metanol

Dipanaskan pada T = 45oC

Ditambahkan indikator pp 2-3 tetes

Dititrasi menggunakan NaOH 0,1 N

Dihitung FFA sebagai Asam linoleat

% FFA

Gambar 3.3 Bagan Alir Penentuan Kadar FFA Minyak Biji Karet

32
33

Penentuan Berat Jenis Minyak Biji Karet (25C)

Piknometer Ditimbang

Diisi aquades T= 20-30 oC


Botol direndam dalam wadah air T=
25oC selama 30 menit
Diangkat dan dibersihkan dengan
kertas penghisap
Ditimbang berat botol dan isinya

Berat botol dan isinya

Piknometer berisi minyak biji karet

Botol direndam dalam wadah air T=25oC


selama 30 menit
Diangkat dan dibersihkan dengan kertas
penghisap
Ditimbang berat botol dan minyak

Berat botol berisi minyak biji karet

Gambar 3.4 Bagan Alir Penentuan Berat Jenis Minyak Biji Karet

33
34

Produksi MEFA melalui Proses Esterifikasi dan Transesterifikasi

Minyak : Metanol
(1:6)

Ditambak H2SO4 1% v/v terhadap


volume methanol dan minyak
Diaduk dengan kecepatan 300 rpm
selama 1 jam pada suhu 60o C

Hasil Esterifikasi

Ditambahkan katalis NaOH 1% b/b minyak

Direaksikan pada suhu 60C selama 60 menit


dengan kecepatan pengadukan 300 rpm

Lapisan Bawah : Lapisan Atas :


Gliserol MEFA

Dimurnikan dengan cara pencucian dengan air


hangat dan dilakukan pengeringan dengan
menambahkan Natrium Sulfat Anhidrat

Disaring menggunakan kertas saring

MEFA
(Analisis GC)

Gambar 3.5 Bagan Alir Produksi MEFA melalui Proses Esterifikasi dan
Transesterifikasi

34
35

Preparasi Zeolit Alam Sarulla

Zeolit alam

Digerus dan diayak dengan ayakan 100 mesh


Dicuci dengan aquadest selama 24 jam
Disaring

Endapan Zeolit
Alam bersih

Dikeringkan dalam oven pada 110C


Direfluks dengan HCl 3N pada 90C, t = 30 menit
Disaring dan dicuci sampai pH 6
Dikeringkan dan dikalsinasi T = 500C, t = 4 jam

Zeolit Alam
Aktif (ZAS)

Gambar 3.6 Bagan Alir Preparasi Zeolit

35
36

Pembuatan dan Karakterisasi Katalis Co/ZAS

Zeolit Alam Teraktivasi/ZAS Co(NO3)2.6H2O

Ditimbang 4,8667 gram


Ditimbang 100 g
Ditambah aquabidest

Campuran
Direfluks dan diaduk t=5 jam, T=80C
Dikeringkan selama 2 jam; T=120C
Dikalsinasi t=2 jam; T=500oC, dialiri gas N2 (±
20 mL/det)
Dioksidasi t=2 jam; T=500oC, dialiri gas O2 (±
20 mL/det)
Direduksii t=2 jam; T=500oC, dialiri gas H2 (±
20 mL/det)

Katalis Co/ZAS

Karakterisasi

XRD FTIR GC-MS

Gambar 3. 7 Bagan Alir Pembuatan dan Karakterisasi Katalis Co/ZAS

36
37

Pembuatan dan Karakterisasi Katalis Co-Mo/ZAS

Zeolit Alam Teraktivasi/ZAS (NH4)6Mo7O24.4H2O

Ditimbang 0,91 gram


Ditimbang 100
Ditambah aquabides
gCampuran

Direfluks dan diaduk t=5 jam;T=80C


Dikeringkan selama 2 jam; T=120C

Mo-ZAS Co(NO3)2.6H2O

Ditimbang 2,43 gram

Campuran Ditambah Aquabides

Co-Mo
Dikalsinasi t=2 jam; T= 500oC,
Dialiri gas N2 (± 20 mL/det)
Dioksidasi t=2 jam; T=500oC,
Dialiri gas O2 (± 20 mL/det)
Direduksi t=2 jam; T=500oC,
Dialiri gas O2 (± 20 mL/det)

Katalis Co-Mo/ZAS

DikarakterisasiX
RD

FTIR BET

Gambar 3.8 Bagan Alir Pembuatan dan Karakterisasi Katalis Co-Mo/ZAS

37
38

Produksi Fraksi Bahan Bakar Cair Melalui Catalytic Hydrocracking

Minyak Biji Katalis


Karet

Divariasikan dengan perbandingan


1:2 ;1:4 ; 1:6

Dimasukan dalam furnace T = 450oC

Produk Cair

Dianalisis

GC

Gambar 3. 9 Produksi Fraksi Bahan Bakar Cair Melalui Catalytic


Hydrocracking

38
DAFTAR PUSTAKA

Beurden, PV., (2004), On the Catalytic Aspect of Steam-Methane Reforming,


http://www.ecn.nl/docs/library/report/2004/1044003.pdf,
Boey, P., Maniam, G., Hamid, S., 2011, Performance Of Calcium Oxide As A
Heterogeneous Catalyst In Biodiesel, Production : A Review Chemical
Engineering Journal.
Chen, S and Manos, G., (2004), Study of Coke and Coke Precursors During
Catalytic Cracking of n-hexane and 1-hexene Over Ultrastable Y Zeolite,
Catalysis Letters.
Chheda, J.N, Hubber G.W and Domesic J.A, (2007), Liquid-Phase Catalytic
Processing of Biomassa-Derivat Oxygenated Hydrocarbons to Fuel and
Chemical, Angew Chem Inted.
Dahyaningsih, E dkk, (2013), Pembuatan Biofuel Dari Minyak Nyamplung
(Cacophyllum inophyllum L) Melalui Hydrocracking Dengan Katalis Ni-
Mo/Zeolit. Jurnal Teknik POMITS.
Efiyanti, L., dan Trisunaryanti, W., (2014), Hidrorengkah Katalitik Minyak Kulit
Jambu Biji Mete (CNSL) Menjadi Fraksi Bensin dan Diesel, Jurnal
Penelitian Hasil Hutan, 32(1): 71-81 ISSN : 0216-4329, Universitas Gajah
Mada, Yogyakarta.
Ginting, Eva Marlino dan Nurdin Bukit., (2014), Karakterisasi Material, Unimed
Press, Medan.
Goenadi, Didiek Hadjar, (2004), Teknologi Pengolahan Zeolit Menjadi Bahan
yang Memiliki Nilai Ekonomi Tinggi, Journal of Indonesian Zeolites,
Bandung.
Kementrian Pertanian, (2011), Statistik Direktorat Jenderal Perkebunan. Luas
Perkebunan dan Produksi Karet Alam Indonesia 2006-2011, Kementrian
Pertanian, Jakarta.
Kusdarto, (2008), Potensi Zeolit di Indonesia, 7(2), Journal of Indonesia Zeolite,
Bandung
Lontoh, Lucky, Kieran Clarke and Christopher Beaton, (2013), Tinjauan Energi
Di Indonesia, The International Institute for Sustainable Development
(IISD), Switzerland.
Mittelbach, M., Remschmidt, C., (2006), Biodiesel The Comprehensive Hand
Book, Ed Ke-3, Australia., Boersendruck Ges.
Mustafa, B., Purwanti, E., 2011, Kalor Biodiesel Hasil Esterifikasi Dengan
Katalis Al-MCM-41 dan Transesterifikasi Dengan Katalis Kalium
Hidroksida Minyak Biji Nyamlung (Colophyllum Inophyllum). Prosiding
Kimia FMIPA-ITS.
Nadarajah., Abeysinghe, Dayaratne & Tharmalingan, (1973),The Potensialities of
Rubber Seeds Collection and its Utilization in Sri Lanka, Journal Rubb.
Res. Inst., Sri Lanka.
Pulungan, A.N., (2011), Preparasi dan karakterisasi katalis NiO-CoO-
MoO/ZeolitAlam dan NiO-CoO-MoO/Zeolit-Y untukreaksi Hidrorengkah
Minyak Laka menjadi fraksi bensin dan diesel, Skripsi, Jurusan Kimia,
FMIPA UGM

39
Reddy, B.M., Reddy, G.K, Rao, K.N., Khan, A., and Ganesh, I., (2007), Silica
Supported Transition Metal-Based Bimetallic Catalysts for Vapour Phase
Selective Hydrogenation of Furfuraldehyde, J. Mol. Catal. A: Chem.
Risnoyatiningsih, S., (2010), Biodiesel From Avocado Seeds By
Transesterification Process, Jurnal teknik Kimia, UPN.
Said, Sudirman dkk, (2014), Outlook Energi Indonesia, Dewan Energi Indonesia,
Jakarta.
Setiawan, D.H dan A. Andoko, (2005), Petunjuk Lengkap Budidaya Karet,
Agromedia Pustaka, Jakarta.
Setyawardhani, D., Distantina, S., Henviana, H., dan Dewi, A.S., (2010),
Pembuatan Biodiesel dari Asam Lemak Jenuh Minyak Biji Karet,
Seminar Rekayasa Kimia dan Proses, Jurusan Teknik Kimia, Universitas
Diponegoro, Semarang.
Septiansyah, I., (2011), Preparasi, karakterisasi dan Uji Performa Katalis Zeolit-
Ni dalam Perengkahan Katalitik Minyak Jelantah, Universitas
Tanjungpura, Pontianak. (Skripsi)
Sihombing,J.L.,Jasmidi., Nurmalis., Pulungan A.N., (2014). Konversi MEFA
Dedak Padi Menjadi Biogasolin Melalui Proses Catalytic Hyodrocracking
Dengan Katalis Zeolit Alam Teremban Logam Ni, Jurnal Saintika.
Sihombing, J.L., (2010), Preparasi dan Karakterisasi Katalis NiO-MoO-
CoO/Zeolit Alam dan NiO-MoO/Zeolit Alam untuk Reaksi Hidrorengkah
Pelumas Bekas Menjadi Fraksi Bensin dan Diesel, Thesis, UGM,
Yogyakarta
Suminta, Supandi., A.Purwanto, Bambang Heru P., E. Herda, Thamzil Las.,
(1999), Analisis Struktur Klinoptilolit Dan Mordenit Alam, Prosiding
Pertemuan dan Presentasi ltmiah, Yogyakarta.
Suminta , Supandi., (2006), Karakterisasi Zeolit Alam dengan Metode Difraksi
Sinar-X, 5(2), Journal of Indonesian Zeolites.
Sutarti, M dan Rachmawati, M., (1994), Zeolit Tinjauan Literatur, Pusat
Dokumentasi dan Informasi Ilmiah LIPI, Jakarta.
Suyati, L., Nuryanto, R., dan Sulistyorini, H., (2009), Perengkahan Produk Cair
Hasil Pirolisis Sabut Kelapa dengan Menggunakan Katalis Zeolit Alam
dan Ni/Zeolit pada Suhu 400 oC, Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan
Kimia, Laboratorium Kimia Fisik, Jurusan Kimia FMIPA, Universitas
Diponegoro.
Syamsunarno, Mas Bayu dan Mas Tri Djoko Sunarno., (2014), Kajian Biji Karet
(Hevea Brasiliensis) Sebagai Kandidat Bahan Baku Pakan Ternak..3(2)..
Jurnal Ilmu Peternakan dan Perikanan.
Tadeus, Astro., Imelda H. Silalahi1, Endah Sayekti1, Aladin Sianipar, (2013),
Karakterisasi Katalis Zeolit-Ni Regenerasi dan Tanpa Regenerasi Dalam
Reaksi Perengkahan Katalitik. JKK Vol 2 No 1. Bandung
Tatsumi, T., (2004), Zeolites: Catalysis, Encyclopedia of Supramolecular
Chemistry, 1: 1, 1610-1616, Yokohama National University, Yokohama,
Japan.
Toh, K.S., and S.K Chia., (1978), Nutrional Value Of Rubber Seed Meal and
Livestock. Feeding Stuff For Livestock In Sout Asia. Procc. Symposium
MSAP, Malaysian.

40
Trisunaryanti, W and Emmanuel, I., (2009), Preparation, Characterization,
Activity, Deactivation, and Regeneration Tests of CoO-MoO/ZnO and
CoO-MoO/ZnO-Activated Zeolite Catalysts for the Hydrogen Production
from Fusel Oil, Indonesian Journal Chemistry, 9(3):361-368.
Trisunaryanti, W., Triyono., dan Taufiyanti, F., (2002), Deaktivasi dan
Regenerasi Katalis Cr/Zeolit Alam Aktif untuk Proses Konversi Metil
Isobutil Keton, Gama Sains IV (2).
Trisunaryanti, W., (2009), Zeolit Alam Indonesia Sebagai Adsorben dan Katalis
Dalam Mengatasi Masalah Lingkungan dan Krisis Energi, FMIPA UGM,
Yogyakarta.
Trisunaryanti, W., (2015), Material Katalis dan Karakteristiknya, UGM Press,
Yogyakarta.
Wang, B., 2007, Zeolite Deactivation During Hydrocarbon Reactions:
Characterisation of Coke Precursors and Acidity, Product Distribution, a
Thesis Submitted for the Degree of Doctor of Philosophy of the University
College London, London.
Wijaya, Karna., (2015), Pengantar Kimia Material, Digibook, Yogyakarta.
Wibowo, Ary Anggara., Salsabila Firdausyah, Siti Hajjah, Dina Dwiyanti, Junifa
Layla Sihombing, Ahmad Nasir Pulungan, (2014) , Study Of Rubber Seed
Oils Hydrocracking Into Biogasoline And Diesel Fraction Over The
Combination Y-Zeolite And Ni Catalyst, Proceeding: The First
International Seminar on Trends in Science and Science Education,
Medan.
Wizna, Mirnawati, J. Novirman, Yenti dan Zuryani., (2000), Pemanfaatan Produk
Fermentasi Biji Karet (Hevea Brasiliensis) Dengan Rhizopus Oligosporus
Dalam Ransum Ayam Boiler. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner,
Bogor.
Yoo, S., Lee, H., Veriansyah, B., Jaehoon, K., Jae, K., Lee, Y., (2010), Synthesis
Of Biodiesel Frommrapeseed Oil Using Supercritical Methanol With
Metal Oxide Catalysis. Bioresource Technology.
Zinoviev, S., Arumugam, S., Miertus, S., (2007), Background Paper on Biofuel
Production Technologies Working Document. ICS-UNIDO.

41