Anda di halaman 1dari 13

KERANGKA KONSEP, VARIABEL DAN HIPOTESIS

Januari 24, 2009 · Disimpan dalam Materi III Metodologi Penelitian

A. Kerangka Konsep

Konsep merupakan abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari hal-hal khusus.
Oleh karena konsep merupakan abstraksi maka konsep tidak dapat langsung diamati atau
diukur. Konsep hanya dapat diamati atau diukur melalui konstruk atau yang lebih dikenal
dengan nama variabel. Jadi variabel adalah simbol atau lambang yang menunjukkan nilai
atau bilangan dari konsep. Variabel adalah sesuatu yang bervariasi.

Contoh: Sehat adalah konsep; istilah ini mengungkap sejumlah observasi tentang hal-
hal atau gejala-gejala yang mencerminkan kerangka keragaman kondisi kesehatan seseorang.
Untuk mengetahui apakah seseorang itu “sehat” atau “tidak sehat” maka pengetahuan konsep
“sehat” tersebut harus melalui konstruk atau variabel-variabel misalnya: tekanan darah,
denyut nadi, Hb darah, dan sebagainya. Tekanan darah, denyut nadi, Hb darah dan
sebagainya ini variabel-variabel yang digunakan untuk mengobservasi atau mengukur apakah
seseorang itu “sehat” atau “tidak sehat”.

Sosial-ekonomi adalah suatu konsep, dan untuk mengukur sosial ekonomi keluarga
misalnya, harus melalui variabel-variabel: tinggi pendidikan, pekerjaan dan pendapatan
keluarga itu.

Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-
konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan.

Contoh sederhara:
Dari contoh kerangka konsep penelitian tersebut di atas dapat dilihat bahwa di sana ada 4 konsep
yaitu konsep tentang faktor predisposisi, faktor pendukung, faktor pendorong terhadap terjadinya
perilaku, dan konsep faktor perilaku pemberian ASI itu sendiri. Tiap konsep, masing-masing
mempunyai variabel-variabel sebagai indikasi pengukuran masing-masing konsep tersebut.
Misalnya untuk mengukur faktor predisposisi maka dapat melalui variabel pengetahuan,
pendidikan, sikap, dan persepsi.

Konsep perilaku pemberian ASI sebagai variabel dependen (vanabel tergantung) di


sini dapat diukur melalui variabel “praktek menyusui”. Artinya perilaku pemberian ASI oleh
ibu-ibu dapat diobservasi atau diukur dari praktek ibu-ibu dalam memberikan (Air Susu Ibu)
kepada anak atau bayi mereka. Apakah mereka memberikan ASI kepada bayi-bayi mereka
atau tidak, bila memberikan bagaimana frekuensinya, caranya dan sebagainya.

A. VARIABEL

Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimilikinya oleh anggota-
anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok yang lain.
Definisi lain mengatakan bahwa variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat,
atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentangsesuatu konsep
pengertian tertentu, misalnya umur jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, pekerjaan,
pengetahuan, pendapatan, penyakit dan sebagainya.
Berdasarkan hubungan fungsional antara variabei-variabel dengan yang lainnya,
variabel dibedakan menjadi dua, yaitu terganiung, akibat, terpengaruh atau variabel
dependen, dan bebas, sebab, mempengaruhi atau variabel independen. Disebut variabel
tergantung atau dependen karena variabel ini dipengaruhi oleh variabel bebas atau variabel
independen. Misalnya, variabel jenis pekerjaan (dependen) dipengaruhi oleh variabel
pendidikan (independen), variabel pendapatan (dependen) dipengaruhi oleh variasi pekerjaan
(independen), dan sebagainya.

Pengukuran Variabel

Pengukuran variabel dikelompokkan menjadi 4 skala pengukuran, yakni: a) skala


nominal, b) skala ordinal, c) skala interval dan d) skala ratio.

1. Skala nominal, adalah suatu himpunan yang terdiri dari anggota-anggota yang mempunyai
kesamaan tiap anggotanya, dan memiliki perbedaan dari anggota himpunan yang lain.
Misalnya, jenis kelamin dibedakan antara laki-laki dan perempuan; pekerjaan, dapat
dibedakan petani, pegawai, dan pedagang; suku bangsa, dapat dibedakan antara Jawa,
Sunda, Batak, Ambon, dan sebagainya. Pada skala nominal, kita menghitung banyaknya
subjek dari setiap kategori gejala, misalnya jumlah wanita dan pria. masing-masing
sekian orang, jumlah pegawai dan bukan pegawai sekian orang, dan sebagainva. Masing-
masing anggota himpunan tersebut tidak ada perbedaan nilai.

2. Skala ordinal, adalah himpunan yang beranggotakan menurut rangking, urutan, pangkat,
atau jabatan. Dalam skala ordinal tiap himpunan tidak hanya dikategorikan kepada
persamaan atau perbedaan dengan himpunan yang lain, tetapi juga berangkat dari
pertanyaan lebih besar atau lebih kecil. Misalnya, variabel pendidikan dikategorikan SD,
SLP, dan SLTA, variabel pendapatan dikategorikan tinggi, sedang, dan rendah, variabel
umur dikategorikan anak-anak, muda, dan tua, dan sebagainya.

3. Skala interval, seperti pada skala ordinal, tetapi himpunan tersebut dapat memberikan nilai
interval atau jarak antar urutan kelas yang bersangkutan. Kelebihan dari skala ini adalah
bahwa jarak nomor yang sama menunjukkan juga jarak yang sama dari sifat yang diukur.
Contoh:

Interval a sampai d adalah 4 – 1 = 3 interval d dan c adalah 5 – 4 = 1. Dalam hal ini tiap
anggota dalam kelas mempunyai persamaan nilai interval. Contoh lain adalah tentang
skala pengukuran suhu dengan Fahrenheit dan Celsius, di mana masing-masing
mempunyai aturan skala yang berbeda letak dan jaraknya, meskipun masing-masing
memulainya dari nol. Contoh lain lagi adalah skala waktu tahun Masehi dan tahun Hijriah,
meskipun masmg-masing memulai dari bilangan 1.

4. Skala ratio, adalah variabel yang mempunyai perbandingan yang sama, lebih besar atau
lebih kecil. Variabel seperti panjang berat dan angka agregasi adalah variabel rasio.
Misalnya, apabila sekarang beras beratnya 1 kuintal. maka 5 karung beras beratnva 5
kuintal.

B. Hipotesis

Hasil suatu penelitian pada hakikatnya adalah suatu jawaban atas pertanyaan
penelitian yang telah dirumuskan di dalam perencanaan penelitian. Untuk mengarahkan
kepada hasil penelitian ini dalam perencanaan penelitian perlu dirumuskan jawaban
sementara dari penelitian ini. Jawaban sementara dari suatu penelitian ini biasanya disebut
hipotesis. Jadi hipotesis di dalam suatu penelitianr berarti jawaban sementara penelitian,
patokan juga, atau dalil sementara yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian
tersebut. melalui pembuktian dari hasil penelitian, maka hipotesis ini dapat benar atau salah,
dapat diterima atau ditolak.

Kesimpulan yang diperoleh dari pembuktian atau analisis dari dalam menguji
rumusan jawaban sementara atau hipotesis itulah akhir suatu penelitian. Hasil akhir
penelitian ini disebut juga kesimpulan penelitian, generalisasi atau dalil yang berlaku umum,
walaupun pada taraf tertentu hal tersebut mempunyai perbedaan tingkatan sesuai dengan
tingkat kemaknaan (significantcy) dari hasil analisis statistik. Hasil pembuktian hipotesis atau
hasil akhir penelitian ini juga sering disebut thesis.
Hipotesis ditarik dari serangkaian fakta yang muncul sehuhubungan dengan masalah
yang diteliti. Dari fakta dirumuskan hubungan antara satu dengan yang lain dan membentuk
suatu konsep yang merupakan abstraksi dari hubungan antara berbagai fakta.

Hipotesis sangat penting bagi suatu penelitian karena hipotesis ini maka penelitian
diarahkan. Hipotesis dapat membimbing (mengarahkan) dalam pengumpulan data. Secara
garis besar hipotesis dalam penelitian mempunyai peranan sebagai berikut:

1. Memberikan batasan dan memperkecil jangkauan penelitian.


2. Memfokuskan perhatian dalam rangka pengumpulan data.
3. Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta atau data.
4. Membantu mengarahkan dalam mengidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti
(diamati).

Dari hipotesis peneliti menarik kesimpulan dalam bentuk yang masih sementara dan
harus dibuktikan kebenarannya (hipotesis) sebagai titik tolak atau arah dari pelaksanaan
penelitian. Memperoleh fakta untuk perumusan hipotesis dapat dilakukan antara lain dengan:

1. Memperoleh sendiri dari sumber aslinya, yaitu dari pengalaman langsung di lapangan,
rumah sakit, Puskesmas, atau labotarium. Dalam mengemukakan fakta ini kita tidak
berusaha untuk melakukan perubahan atau penafsiran dari keaslian fakta yang diperoleh.
2. Fakta yang diidentifikasi dengan cara menggambarkan atau menafsirkannya dari sumber
yang asli, tetapi masih berada di tangan orang yang mengidentifikasi tersebut, sehingga
masih dalam bentuknya yang asli.
3. Fakta yang diperoleh dari orang yang mengidentifikasi dengan jalan menyusunnya dalam
bentuk penalaran abstrak, yang sudah merupakan simbol berpikir sebagai generalisas;
dari hubungan antara berbagai fakta atau variabel.

Fakta adalah sangat penting dalam penelitian, terutama dalam perumusan hipotesis.
Sebab, hipotesis merupakan kesimpulan yang ditarik berdasarkan fakta yang ditemukan. Hal
ini berarti sangat berguna untuk dijadikan dasar membuat kesimpulan penelitian. Meskipun
hipotesis ini sifatnya suatu ramalan, tetapi bukan hanya sekadar ramalan sebab, hipotesis
ditarik dari dan berdasarkan suatu hasil serta Problematik yang timbul dari penelitian
pendahuluan dan hasil pemikiran yang logis dan rasional. Hipotesis juga dapat dirumuskan
dari teori ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

C. Bentuk Rumusan Hipotesis


Pada hakikatnya hipotesis adalah sebuah pernyataan tentang hubungan yang
diharapkan antara dua variabel atau lebih yang dapat di uji secara empiris. Biasanya hipotesis
terdiri dan pernyataan terhadap adanya atau tidak adanya hubungan antara dua variabel, yaitu
variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat dependent variabel. Variabel bebas
ini merupakan variabel penyebapnya atau variabel pengaruh, sedang variabel terikat
merupakan variabel akibat atau variabel terpengaruh.

Contoh sederhana : Merokok adalah penyebab penyakit kanker paru-paru paru. Di dalam
contoh ini merokok adalah variabel yaitu variabel independen (penyebabnya), sedangkan
kanker paru-paru merupaksn variabel dependen atau akibatnya.

Seperti telah diuraikan di atas, bahwa hipotesis adalah suatu simpulan sementara atau
jawaban sementara dari suatu penelitian sebab itu hipotesis harus mempunyai landasan
teoretis, bukan hanya sekadar suatu dugaan yang tidak mempunyai landasan ilmiah,
melainkan lebih dekat kepada suatu kesimpulan. Ciri-ciri suatu hipotesis antara lain sebagai
berikut:

1. Hipotesis hanya dinyatakan dalam bentuk pernyataan (statement) bukan dalam bentuk
kalimat tanya.
2. Hipotesis harus tumbuh dari ilmu pengetahuan yang diteliti. Hal ini berarti bahwa
hipotesis hendaknya berkaitan dengan lapangan ilmu pengetahuan yang sedang atau akan
diteliti.
3. Hipotesis harus dapat diuji, Hal ini berarti bahwa suatu hipotesis harus mengandung atau
terdiri dari variabel-variabel yang diukur dan dapat dibanding-bandingkan. Hipotesis
yang tidak jelas pengukuran variabelnya akan sulit mencapai hasil yang objektif
4. Hipotesis harus sederhana dan terbatas. Artinya hipotesis yang tidak menimbulkan
perbedaan-perbedaan, pengertian, serta tidak terlalu luas sifatnya.

Agar dapat merumuskan hipotesis yang memenuhi kriteria tersebut perlu


dipertimbangkan berbagai hal antara lain yang terpenting adalah teknik yang akan digunakan
dalam menguji rumusan hipotesis yang dibuat. Apabila suatu teknik tertemu dalam rumusan
hipotesis ditetapkan, maka bentuk rumusan hipotesis yang dibuat dapat digunakan dalam
penelitian.

D. Jenis-Jenis Rumusan Hipotesis


Berdasarkan bentuk rumusannya, hipotesis dapat digolongkan tiga. yakni:

1. Hipotesis Kerja

Adalah suatu rumusan hipotesis dengan tujuan untuk membuat ramalan tentang
peristiwa yang rerjadi apabila suatu gejala muncul. Hipotesis ini sering juga disebut
hipotesis kerja. Biasanya makan rumusan pernyataan: Jika…..maka…….. Artinya, jika
suatu faktor atau variabel terdapat atau terjadi pada suatu situasi, maka ada akibat tertentu
yang dapat ditimbulkannya.

Contoh sederhana:

a. Jika sanitasi lingkungan suatu daerah buruk, maka penyakit menular di daerah tersebut
tinggi.

b. Jika persalinan dilakukan oleh dukun yang belum dilatih, maka angka kematian bayi di
daerah tersebul tinggi.

c. Jika pendapatan perkapita suatu negara rendah, maka status kesehatan masyarakat di
negara tersebut rendah pula.

d. dan lain-lain.

Meskipun pada umumnya rumusan hipotesis seperti tersebut di atas, tetapi hal
tersebut bukan saru-satunya rumusan hipotesis kerja. Karena dalam rumusan hipotesis
kerja yang paling penting adalah bahwa rumusan hipotesis harus dapat memberi
penjelasan tentang kedudukan masalah yang diteliti, sebagai bentuk kesimpulan yang
akan diuji. Oleh sebab itu penggunaan rumusan lain seperti di atas masih dapat
dibenarkan secara ilmiah.

2. Hipotesis Nol atau Hipotesis Statistik

Hipoiesis Nol biasanya dibuat untuk menyatakan sesuatu kesamaan atau tidak
adanya suatu perbedaan yang bermakna antara kelompok atau lebih mengenai suatu hal
yang dipermasalahkan. Bila dinyatakan adanya perbedaan antara dua variabel, disebut
hipotesis alternatif.

Contoh sederhana : hipotesis nol

a. Tidak ada perbedaan tentang angka kematian akibat penyakit jantung antara penduduk
perkotaan dengan penduduk pedesaan.

b. Tidak ada perbedaan antara status gizi anak balita yang tidak mendapat ASI pada
waktu bayi, dengan status gizi anak balita yang mendapat ASI pada waktu bayi.

c. Tidak ada perbedaan angka penderita sakit diare antara kelompok penduduk yang
menggunakan air minum dari PAM dengan kelompok penduduk yang menggunakan
air minum dari sumur.

d. dan sebagainya.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa kedua kelompok yang bersangkutan


adalah sama, misalnya status gizi dari balita yang mendapatkan ASI sama dengan status
gizi anak balita yang tidak mendapatkan ASI. Bila hal tersebut dirumuskan dengan
“selisih” maka akan menunjukkan hasil dengan nol, maka disebut hipotesis nol. Bila
dirumuskan dengan “persamaan” maka hasilnya sama, atau tidak ada perbedaan. Oleh
sebab itu apabila diuji dengan metode statistika akan tampak apabila rumusan hipotesis
dapat diterima, dapat disimpulkan sebagaimana hipotesisnya. Tetapi bila rumusannya
ditolak, maka hipotesis alternatifhya yang diterima. Itulah sebabnya maka sdperti
rumusan hipotesis nol dipertentangkan dengan rumusan hipotesis altematif. Hipotesis nol
biasanya menggunakan rumus Ho (misalnya HO : x = y) sedangkan hipotesis alternatif
menggunakan simbol Ha (misalnya, Ha : x = > y).

Berdasarkan isinya, suatu hipotesis juga dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:


pertama, hipotesis mayor, hipotesis induk, atau hipotesis utama, yaitu hipotesis yang
menjadi sumber dari hipotesis-hipotesis yang lain. Kedua, hipotesis minor, hipotesis
penunjang, atau anak hipotesis, yaitu hipotesis yang dijabarkan dari hipotesis mayor. Di
dalam pengujian statisik hipotesis ini sangat penting, sebab dengan pengujian terhadap
tiap hipotesis minor pada hakikatnya adalah menguji hipotesis mayornya.

Contoh tidak sempurna :

Hipotesis mayor: “Sanitasi lingkungan yang buruk mengakibatkan tingginya


penyakit menular”. Dari contoh ini dapat diuraikan adanya dua variabel, yakni variabel
penyebab (sanitasi lingkungan) dan variabel akibat (penyakit menular). Kita ketahui
bahwa penyakit menular itu luas sekali, antara lain mencakup penyakit-penyakit diare,
demam berdarah, malaria, TBC, campak, dan sebagainya. Sehubungan dengan
banyaknya macam penyakit menular tersebut, kita dapat menyusun hipotesis minor yang
banyak sekali, yang masing-masing memperkuat dugaan kita tentang hubungan antara
penyakit-penyakit tersebut dengan sanitasi lingkungan, misalnya :

a. Adanya korelasi positif antara penyakit diare dengan buruknya sanitasi lingkungan

b. Adanya hubungan antara penyakit campak dengan rendahnya sanitasi lingkungan.

c. Adanya hubungan antara penyakit kulit dengan rendahnya sanitasi lingkungan.

d. dan sebagainya.

Apabila dalam pengujian statistik hipotesis-hipotesis tersebut terbukti bermakna


korelasi antara kedua variabel di dalam masing-masing hipotesis minor tersebut, maka
berarti hipotesis mayornya juga diterima. Jadi ada korelasi yang positif antara sanitasi
lingkungan dengan penyakit menular.

3. Hipotesis Hubungan dan Hipotesis Perbedaan

Hipotesis dapat juga dibedakan berdasarkan hubungan atau perbedaan 2 variabel


alau lebih. Hipotesis hubungan berisi tentang dugaan adanya hubungan antara dua
variabel. Misalnya, ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan praktek pemeriksaan
hamil. Hipotesis dapat diperjelas lagi menjadi : Makin tinggi pendidikan ibu, makin
sering (teratur) memeriksakan kehamilannya. Sedangkan hipotesis perbedaan
menyatakan adanya ketidaksamaan atau perbedaan di antara dua variabel; misalnya.
praktek pemberian ASI ibu-ibu de Kelurahan X berbeda dengan praktek pemberian ASI
ibu-ibu di Kelurahan Y. Hipotesis ini lebih dielaborasi menjadi: praktek pemberian ASI
ibu-ibu di Kelurahan X lebih tinggi bila dibandingkan dengan praktek pemberian ASI
ibu-ibu di Kelurahan Y.

http://agenta08.wordpress.com/2009/01/24/kerangka-konsep-variabel-dan-hipotesis/
A. Varibel Penelitian

Variabel adalah konsep yang mempunyai variabilitas. Konsep adalah abstraksi atau
penggambaran dari fenomena tertentu. Vatiabel sering disebut juga sebagai obyek atau masalah
penelitian. Ada beberapa Macam-macam variabel, antara lain:

1. Varibel bebas, disebut jiga variabel pengaruh, variabel perlakukan, kausa, treatment.
2. Variabel terpengaruh, tidak bebas
3. Variabel perantara, variabel penghubung ialah variabel yang menjembatani pengaruh
variabel bebas dengan varibel terikat.
4. Variabel pendahulu, adalah variabel bebas yang berpengaruh pada variabel tergantung
tetapi sekaligus berpengaruh pada variabel lain sebagai variabel bebas terhadap variabel
tergantung tersebut.Variabel prakondisi ialah variabel yang keberadaanya merupakan
prasarat bagi bekerjanya suatu varibel bebas terhadap variabel tergantung.

Ditinjau dari segi korelasi antar variabel dalam penelitian, terdapat beberapa bentuk korelasi
antara lain:

1. Korelasi simetris, yaitu terjadi apabila antar dua variabel ada hubungan, tetapi tidak ada
mekanisme saling mempengaruhi, masing-masing bersifat mandiri.
2. Korelasi asimetris, ialah korelasi antar dua variabel dengan satu variabel (bebas bersifat
mempengaruhi varibel yang lain (terikat)
3. Korelasi timbal balik, korelasi antar dua variabel yang atar keduanya saling
mempengaruhi

B. Definisi Operasional

Dalam penelitian perlu memberi definisi, sehingga peneliti dan pembaca tidak mengaitkan
pikiranya dengan hal lain. Tipe-tipe definisi :

1. Definisi konsepsi (definisi konstitutif), adalah definisi yang diperoleh dari kamus. Adalah
definisi akademik dan mengandung pengertian yang universal untuk suatu kata atau
kelompok kata. Definisi ini biasanya bersifat abstrak dan formal.
2. Definisi operasional (definisi fungsional). Kerlinger memberikan dua bentuk definisi
operasional yaitu: definisi operasional yang dapat diukur dan definisi operasional
eksperimental. Definisi operasional yang dapat diukur menyatakan suatu konsep yang
dapat diukur dalam penyelidikan. Definisi operasional eksperimental peneliti
menguraikan secara rinci variable-variabel yang diteliti.

C. Hipotesa / Hipotesis
Hipotesis adalah dugaan sementara atau jawaban sementara dari permasalah penelitian. Hipotesis
mempunyai beberapa kegunaan antara lain:

1. Memberikan arah penelitian yang akan dilakukan.


2. Sebagai alat untuk melokalisasikan fenomena-fenomena, dan menuntun cara identifikasi
variabel yang dibutuhkan untuk menjawab masalah penelitian.
3. Sebagai petunjuk/dasar dalam penentuan sampel, metode dan alat pengukuran data.
4. Sebagai dasar untuk menentukan teknik/cara pengolahan data dan analisis data.

Hipotesis adalah penjelasan sementara tingkah laku, gejala-gejala, atau kejadian tertentu yang
telah terjadi atau yang akan terjadi. Hipotesis juga bisa berupa jawaban sementara, dugaan
sementara dari masalah penelitian. Ada beberapa karakteristik hipotesis yang baik, antara lain:

 Dapat diteliti
 Menunjukkan hubungan antar variable-variabel.
 Dapat diuji
 Mengikuti temuan-temuan penelitian terdahulu

Hipotesis dalam penelitian memeiliki beberapa fungsi antara lain:

 Hipotesis membimbing pikiran peneliti dalam memulai penelitian


 Hipotesis menentukan tahapan atau prosedur penelitian
 Hipotesis membantu menetapkan format dalam menyajikan, menganalisis dan
menafsirkan data penelitian

Ditinjau dari segi tipe-tipe hipotesisi atau bentuk-bentuknya, hipotesis dibagi menjadi beberapa
macam, antara lain:

 Hipoteis nol, mengandung arti tidak ada pengaruh, tidak ada interaksi, tidak ada
hubungan, atau tidak ada perbedaan
 Hipotesis alternatif, pernyataan operasional dari hipotesis penelitian. Hipotesis alternative
disebut juga hipotesa kerja, yang menyatakan ada hubungan,Hipotesis alternative disebut
juga hipotesa kerja, yang menyatakan ada hubungan, perbedaan, pengaruh antar variable.
Bila hipotesi salternatif berdasarkan teori disebut dengan hipotesis deduktif. Tetapi bila
didasarkan pada pengamatan disebut dengan hipotesis induktif.
 Hipotesis non-directional, tidak menunjukkan suatu arah.
 Hipotesis directional, menunjukkan arah pengaruh atau perbedaan.

Ada lima kriteria dalam membuat formulasi hipotesis, antara lain:

 Rumusan berupa kalimat deklaratif yang menjawab permasalan penelitian


 Rumusan mengekspresikan macam hubungan antar dua variable atau lebih
 Mengandung istilah operasional, yaitu memungkinkan untuk dilakukan pembuktian
secara empiric. Secara praktis, kelayakan pembuktian ditentukan oleh: keterukuran
variabel (measurable), keterujian korelasi (provable).
 Berkaitan dengan teori yang telah mapan, atau hasil penelitian sebelumnya.
 Mempunyai cakupan yang “cukupan”, tidak terlalu umum atau luas dan tidak terlaau
sempit atau spesifik.