Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-NYA lah
sehingga proses penyusunan makalah METODOLOGI RISET KEPERAWATAN dapat
terselesaikan. Sebab sebesar apapun semangat dan keinginan seorang hamba untuk
melakukan suatu pekerjaan itu tidak akan tercapai, tanpa pertolongan dan hidayah-NYA ,
sehingga keinginan dan apa yang dicita-citakan dapat terwujud. Karena pada hakekatnya
segala daya dan upaya hanya milik-NYA.

Makalah ini kami susun dalam rangka menyelesaikan tugas perbaikan nilai
METODOLOGIRISET KEPERAWATAN

pada khususnya,untuknya menambah dan meningkatkan pengetahuan. Makalah ini


kami buat sebagai materi tambahan dalam penguasaan mata kuliah kami yakni
METODOLOGI RISET KEPERAWATAN.

Kami ucapkan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah
memberikan arahan kepada kami beserta teman-teman yang selalu memberikan suport dan
motivasi kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik.
Kami sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh sebab itu kritik dan saran
dari pembaca sangat kami harapkan demi penyempurnaan makalah kami selanjutnya.

Jombang 09 Februari 2013

Penyusun

1
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………………1

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………… 1

DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………… 2

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ………………………………………………………………………..3


1.2 Rumusan Masalah …………………………………………………………………….3
1.3 Tujuan …………………………………………………………………………………3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian kerangka konsep,variable,hipotesis dan definisi operasional…………,…4

2.2 Pembagian kerangka konsep,variable,hipotesis dan definisi operasional…………… 5

2.3 Tujuan kerangka konsep,variable,hipotesis dan definisi operasional……………..… 7

2.4 Contoh – Contoh kerangka konsep,variable,hipotesis dan definisi operasional….… 9

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ………………………………………………………………………… 21

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………..….. 22

2
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Dalam setiap penelitian haruslah ada sistimatika untuk menjadikan sebuah data penelitian
yang valid dan tidak terjadi kerancuan di dalamnya di antaranya adalah adanya kerangka
konsep,variable,hipotesis dan definisi operasional dari ke empatnya harus ada dan tidak
boleh ada satupun yangkurang di dalamnya sehingga terjadi suatu Konsep abstraksi yang
terbentuk oleh generalisasi dari hal-hal khusus. Oleh karena konsep merupakan abstraksi
maka konsep tidak dapat langsung diamati atau diukur dan harus mengalami tahap tahap
penyeleksian yang nanti akan di singgung dalam makalah ini.

1.2 Rumusan masalah


 Apa Pengertian kerangka konsep,variable,hipotesis dan definisi operasional?
 Apa saja Pembagian kerangka konsep,variable,hipotesis dan definisi operasional?
 Apa Tujuan kerangka konsep,variable,hipotesis dan definisi operasional?
 Bagaimana Contoh – Contoh kerangka konsep,variable,hipotesis dan definisi
operasional?

1.3 Tujuan
 Mengetahui Pengertian kerangka konsep,variable,hipotesis dan definisi
operasional.
 Mengetahui Pembagian kerangka konsep,variable,hipotesis dan definisi
operasional.
 Mengetahui Tujuan kerangka konsep,variable,hipotesis dan definisi operasional.
 Memahami Contoh – Contoh kerangka konsep,variable,hipotesis dan definisi
operasional.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian kerangka konsep,variable,hipotesis dan definisi operasional.

1. KERANGKA KONSEP
 Pengertian

Konsep merupakan abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari hal-hal


khusus. Oleh karena konsep merupakan abstraksi maka konsep tidak dapat langsung
diamati atau diukur. Konsep hanya dapat diamati atau diukur melalui konstruk atau yang
lebih dikenal dengan nama variabel. Jadi variabel adalah simbol atau lambang yang
menunjukkan nilai atau bilangan dari konsep. Variabel adalah sesuatu yang bervariasi.

Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara


konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan
dilakukan.

2. VARIABEL
 Pengertian

Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimilikinya oleh anggota-
anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok yang lain.
Definisi lain mengatakan bahwa variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri,
sifat, atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentangsesuatu
konsep pengertian tertentu, misalnya umur jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan,
pekerjaan, pengetahuan, pendapatan, penyakit dan sebagainya.

3. HIPOTESIS
 Pengertian

Hasil suatu penelitian pada hakikatnya adalah suatu jawaban atas pertanyaan
penelitian yang telah dirumuskan di dalam perencanaan penelitian. Untuk mengarahkan
kepada hasil penelitian ini dalam perencanaan penelitian perlu dirumuskan jawaban
sementara dari penelitian ini. Jawaban sementara dari suatu penelitian ini biasanya
disebut hipotesis. Jadi hipotesis di dalam suatu penelitianr berarti jawaban sementara

4
penelitian, patokan juga, atau dalil sementara yang kebenarannya akan dibuktikan dalam
penelitian tersebut. melalui pembuktian dari hasil penelitian, maka hipotesis ini dapat
benar atau salah, dapat diterima atau ditolak.

4. DIFINISI OPERASIONAL
 Pengertian

Dalam penelitian perlu memberi definisi, sehingga peneliti dan pembaca tidak
mengaitkan pikiranya dengan hal lain. Tipe-tipe definisi :

1. Definisi konsepsi (definisi konstitutif), adalah definisi yang diperoleh dari kamus.
Adalah definisi akademik dan mengandung pengertian yang universal untuk suatu
kata atau kelompok kata. Definisi ini biasanya bersifat abstrak dan formal.
2. Definisi operasional (definisi fungsional). Kerlinger memberikan dua bentuk definisi
operasional yaitu: definisi operasional yang dapat diukur dan definisi operasional
eksperimental. Definisi operasional yang dapat diukur menyatakan suatu konsep yang
dapat diukur dalam penyelidikan. Definisi operasional eksperimental peneliti
menguraikan secara rinci variable-variabel yang diteliti.

2.2. Pembagian kerangka konsep,variable,hipotesis dan definisi operasional

1. KERANGKA KONSEP
 Pembangian
a. faktor predisposisi
b. faktor pendukung
c. faktor pendorong
d. faktor perilaku

Tiap konsep, masing-masing mempunyai variabel-variabel sebagai indikasi pengukuran


masing-masing konsep tersebut. Misalnya untuk mengukur faktor predisposisi maka
dapat melalui variabel pengetahuan, pendidikan, sikap, dan persepsi.

5
2.VARIABEL
 Pembagian

Berdasarkan hubungan fungsional antara variabei-variabel dengan yang lainnya, variabel


dibedakan menjadi dua, yaitu terganiung, akibat, terpengaruh atau variabel dependen, dan
bebas, sebab, mempengaruhi atau variabel independen. Disebut variabel tergantung atau
dependen karena variabel ini dipengaruhi oleh variabel bebas atau variabel independen.
Misalnya, variabel jenis pekerjaan (dependen) dipengaruhi oleh variabel pendidikan
(independen), variabel pendapatan (dependen) dipengaruhi oleh variasi pekerjaan
(independen), dan sebagainya.

3. HIPOTESIS
 Pembagian

Berdasarkan bentuk rumusannya, hipotesis dapat digolongkan tiga. yakni:

1. Hipotesis Kerja

Adalah suatu rumusan hipotesis dengan tujuan untuk membuat ramalan tentang peristiwa
yang rerjadi apabila suatu gejala muncul. Hipotesis ini sering juga disebut hipotesis kerja.
Biasanya makan rumusan pernyataan: Jika…..maka…….. Artinya, jika suatu faktor atau
variabel terdapat atau terjadi pada suatu situasi, maka ada akibat tertentu yang dapat
ditimbulkannya.

2. Hipotesis Nol atau Hipotesis Statistik

Hipoiesis Nol biasanya dibuat untuk menyatakan sesuatu kesamaan atau tidak adanya
suatu perbedaan yang bermakna antara kelompok atau lebih mengenai suatu hal yang
dipermasalahkan. Bila dinyatakan adanya perbedaan antara dua variabel, disebut hipotesis
alternatif.

3.Hipotesis Hubungan dan Hipotesis Perbedaan

Hipotesis dapat juga dibedakan berdasarkan hubungan atau perbedaan 2 variabel alau
lebih. Hipotesis hubungan berisi tentang dugaan adanya hubungan antara dua variabel.

6
4. DEFINISI OPERASIONAL
 Pembagian

1. Definisi variabel

Sebelum suatu variabel dapat diukur, perlu untuk pertama kali dibuat prosedur atau

definisi operasional yang menguraikan bagaimana pengukuran akan dibuat dan

penjelasan mengenai variabel tersebut menurut peneliti.

2. Indikator / pengukuran

Pengukuran adalah penetapan atau pemberian angka terhadap obyek atau

fenomena menurut aturan tertentu. Ada tiga kata kunci yang diperlukan dalam

memberikan definisi terhadap pengukuran, yaitu angka, penetapan dan aturan.

a. Angka, adalah sebuah simbol dalam bentuk 1, 2, 3, … dan seterusnya, yang

tidak mempunyai arti, kecuali diberikan arti kepadanya. Jika pada angka telah

dikaitkan dengan arti kuantitatif, maka angka tersebut berubah menjadi bilangan

(number).

b. Penetapan, adalah memetakan (Mapping).

c. Aturan, adalah panduan atau perintah untuk melaksanakan sesuatu.

2.3 Tujuan kerangka konsep,variable,hipotesis dan definisi operasional

1. KERANGKA KONSEP
 Tujuan

Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep
yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan.

7
2. VARIABEL

 Tujuan

Mampu Mengidentifikasi suatu variabel untuk diteliti dalam suatu proyek riset
mencakup penangkapan hanya sebagaian tentang yang dapat dirunjukkan oleh konsep.
Peneliti harus memutuskan bagaimana menentukan variabel yang akan diukur.
Identifikasi variabel yang jelas akan memberikan petunjuk bagi suatu proyek riset.

3. HIPOTESIS

 Tujuan

Memperoleh sendiri dari sumber aslinya, yaitu dari pengalaman langsung di lapangan, rumah
sakit, Puskesmas, atau labotarium. Dalam mengemukakan fakta ini kita tidak berusaha untuk
melakukan perubahan atau penafsiran dari keaslian fakta yang diperoleh.

Fakta yang diidentifikasi dengan cara menggambarkan atau menafsirkannya dari sumber
yang asli, tetapi masih berada di tangan orang yang mengidentifikasi tersebut, sehingga masih
dalam bentuknya yang asli.

Fakta yang diperoleh dari orang yang mengidentifikasi dengan jalan menyusunnya dalam
bentuk penalaran abstrak, yang sudah merupakan simbol berpikir sebagai generalisas; dari
hubungan antara berbagai fakta atau variabel.

4.DEFINISI OPERASIONAL
 Tujuan

Tujuan Definisi operasional adalah untuk penjelasan semua variabel dan istilah yang
akan digunakan dalam penelitian secara operasional sehingga akhirnya mempermudah
pembaca dalam mengartikan makna penelitihan.

8
2.4 Contoh – Contoh kerangka konsep,variable,hipotesis dan definisi operasional

1. KERANGKA KONSEP
 Contoh

Dari contoh kerangka konsep penelitian tersebut di atas dapat dilihat bahwa di sana ada 4
konsep yaitu konsep tentang faktor predisposisi, faktor pendukung, faktor pendorong
terhadap terjadinya perilaku, dan konsep faktor perilaku pemberian ASI itu sendiri. Tiap
konsep, masing-masing mempunyai variabel-variabel sebagai indikasi pengukuran masing-
masing konsep tersebut. Misalnya untuk mengukur faktor predisposisi maka dapat melalui
variabel pengetahuan, pendidikan, sikap, dan persepsi.

Konsep perilaku pemberian ASI sebagai variabel dependen (vanabel tergantung) di sini dapat
diukur melalui variabel “praktek menyusui”. Artinya perilaku pemberian ASI oleh ibu-ibu
dapat diobservasi atau diukur dari praktek ibu-ibu dalam memberikan (Air Susu Ibu) kepada
anak atau bayi mereka. Apakah mereka memberikan ASI kepada bayi-bayi mereka atau tidak,
bila memberikan bagaimana frekuensinya, caranya dan sebagainya.

2. VARIABEL
 Contoh

Pengukuran variabel dikelompokkan menjadi 4 skala pengukuran, yakni: a) skala nominal, b)


skala ordinal, c) skala interval dan d) skala ratio.

9
1. Skala nominal, adalah suatu himpunan yang terdiri dari anggota-anggota yang mempunyai
kesamaan tiap anggotanya, dan memiliki perbedaan dari anggota himpunan yang lain.
Misalnya, jenis kelamin dibedakan antara laki-laki dan perempuan; pekerjaan, dapat
dibedakan petani, pegawai, dan pedagang; suku bangsa, dapat dibedakan antara Jawa, Sunda,
Batak, Ambon, dan sebagainya. Pada skala nominal, kita menghitung banyaknya subjek dari
setiap kategori gejala, misalnya jumlah wanita dan pria. masing-masing sekian orang, jumlah
pegawai dan bukan pegawai sekian orang, dan sebagainva. Masing-masing anggota
himpunan tersebut tidak ada perbedaan nilai.

2. Skala ordinal, adalah himpunan yang beranggotakan menurut rangking, urutan, pangkat,
atau jabatan. Dalam skala ordinal tiap himpunan tidak hanya dikategorikan kepada persamaan
atau perbedaan dengan himpunan yang lain, tetapi juga berangkat dari pertanyaan lebih besar
atau lebih kecil. Misalnya, variabel pendidikan dikategorikan SD, SLP, dan SLTA, variabel
pendapatan dikategorikan tinggi, sedang, dan rendah, variabel umur dikategorikan anak-anak,
muda, dan tua, dan sebagainya.

3. Skala interval, seperti pada skala ordinal, tetapi himpunan tersebut dapat memberikan nilai
interval atau jarak antar urutan kelas yang bersangkutan. Kelebihan dari skala ini adalah
bahwa jarak nomor yang sama menunjukkan juga jarak yang sama dari sifat yang diukur.

Contoh:

Interval a sampai d adalah 4 – 1 = 3 interval d dan c adalah 5 – 4 = 1. Dalam hal ini tiap
anggota dalam kelas mempunyai persamaan nilai interval. Contoh lain adalah tentang skala
pengukuran suhu dengan Fahrenheit dan Celsius, di mana masing-masing mempunyai aturan
skala yang berbeda letak dan jaraknya, meskipun masing-masing memulainya dari nol.
Contoh lain lagi adalah skala waktu tahun Masehi dan tahun Hijriah, meskipun masmg-
masing memulai dari bilangan 1.

4. Skala ratio, adalah variabel yang mempunyai perbandingan yang sama, lebih besar atau
lebih kecil. Variabel seperti panjang berat dan angka agregasi adalah variabel rasio.
Misalnya, apabila sekarang beras beratnya 1 kuintal. maka 5 karung beras beratnya 5 kuintal.

10
3. HIPOTESIS
 Contoh

1. Hipotesis Kerja

Adalah suatu rumusan hipotesis dengan tujuan untuk membuat ramalan tentang peristiwa
yang rerjadi apabila suatu gejala muncul. Hipotesis ini sering juga disebut hipotesis kerja.
Biasanya makan rumusan pernyataan: Jika…..maka…….. Artinya, jika suatu faktor atau
variabel terdapat atau terjadi pada suatu situasi, maka ada akibat tertentu yang dapat
ditimbulkannya.

Contoh sederhana:

a. Jika sanitasi lingkungan suatu daerah buruk, maka penyakit menular di daerah tersebut
tinggi.

b. Jika persalinan dilakukan oleh dukun yang belum dilatih, maka angka kematian bayi di
daerah tersebul tinggi.

c. Jika pendapatan perkapita suatu negara rendah, maka status kesehatan masyarakat di
negara tersebut rendah pula.

d. dan lain-lain.

Meskipun pada umumnya rumusan hipotesis seperti tersebut di atas, tetapi hal tersebut bukan
saru-satunya rumusan hipotesis kerja. Karena dalam rumusan hipotesis kerja yang paling
penting adalah bahwa rumusan hipotesis harus dapat memberi penjelasan tentang kedudukan
masalah yang diteliti, sebagai bentuk kesimpulan yang akan diuji. Oleh sebab itu penggunaan
rumusan lain seperti di atas masih dapat dibenarkan secara ilmiah.

2. Hipotesis Nol atau Hipotesis Statistik

Hipoiesis Nol biasanya dibuat untuk menyatakan sesuatu kesamaan atau tidak adanya suatu
perbedaan yang bermakna antara kelompok atau lebih mengenai suatu hal yang
dipermasalahkan. Bila dinyatakan adanya perbedaan antara dua variabel, disebut hipotesis
alternatif.

11
Contoh sederhana : hipotesis nol

a. Tidak ada perbedaan tentang angka kematian akibat penyakit jantung antara penduduk
perkotaan dengan penduduk pedesaan.

b. Tidak ada perbedaan antara status gizi anak balita yang tidak mendapat ASI pada waktu
bayi, dengan status gizi anak balita yang mendapat ASI pada waktu bayi.

c. Tidak ada perbedaan angka penderita sakit diare antara kelompok penduduk yang
menggunakan air minum dari PAM dengan kelompok penduduk yang menggunakan air
minum dari sumur.

d. dan sebagainya.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa kedua kelompok yang bersangkutan adalah


sama, misalnya status gizi dari balita yang mendapatkan ASI sama dengan status gizi anak
balita yang tidak mendapatkan ASI. Bila hal tersebut dirumuskan dengan “selisih” maka akan
menunjukkan hasil dengan nol, maka disebut hipotesis nol. Bila dirumuskan dengan
“persamaan” maka hasilnya sama, atau tidak ada perbedaan. Oleh sebab itu apabila diuji
dengan metode statistika akan tampak apabila rumusan hipotesis dapat diterima, dapat
disimpulkan sebagaimana hipotesisnya. Tetapi bila rumusannya ditolak, maka hipotesis
alternatifhya yang diterima. Itulah sebabnya maka sdperti rumusan hipotesis nol
dipertentangkan dengan rumusan hipotesis altematif. Hipotesis nol biasanya menggunakan
rumus Ho (misalnya HO : x = y) sedangkan hipotesis alternatif menggunakan simbol Ha
(misalnya, Ha : x = > y).

Berdasarkan isinya, suatu hipotesis juga dapat dibedakan menjadi 2, yaitu: pertama, hipotesis
mayor, hipotesis induk, atau hipotesis utama, yaitu hipotesis yang menjadi sumber dari
hipotesis-hipotesis yang lain. Kedua, hipotesis minor, hipotesis penunjang, atau anak
hipotesis, yaitu hipotesis yang dijabarkan dari hipotesis mayor. Di dalam pengujian statisik
hipotesis ini sangat penting, sebab dengan pengujian terhadap tiap hipotesis minor pada
hakikatnya adalah menguji hipotesis mayornya.

Contoh tidak sempurna :

Hipotesis mayor: “Sanitasi lingkungan yang buruk mengakibatkan tingginya penyakit


menular”. Dari contoh ini dapat diuraikan adanya dua variabel, yakni variabel penyebab
(sanitasi lingkungan) dan variabel akibat (penyakit menular). Kita ketahui bahwa penyakit

12
menular itu luas sekali, antara lain mencakup penyakit-penyakit diare, demam berdarah,
malaria, TBC, campak, dan sebagainya. Sehubungan dengan banyaknya macam penyakit
menular tersebut, kita dapat menyusun hipotesis minor yang banyak sekali, yang masing-
masing memperkuat dugaan kita tentang hubungan antara penyakit-penyakit tersebut dengan
sanitasi lingkungan, misalnya :

a. Adanya korelasi positif antara penyakit diare dengan buruknya sanitasi lingkungan

b. Adanya hubungan antara penyakit campak dengan rendahnya sanitasi lingkungan.

c. Adanya hubungan antara penyakit kulit dengan rendahnya sanitasi lingkungan.

d. dan sebagainya.

Apabila dalam pengujian statistik hipotesis-hipotesis tersebut terbukti bermakna korelasi


antara kedua variabel di dalam masing-masing hipotesis minor tersebut, maka berarti
hipotesis mayornya juga diterima. Jadi ada korelasi yang positif antara sanitasi lingkungan
dengan penyakit menular.

3. Hipotesis Hubungan dan Hipotesis Perbedaan

Hipotesis dapat juga dibedakan berdasarkan hubungan atau perbedaan 2 variabel alau lebih.
Hipotesis hubungan berisi tentang dugaan adanya hubungan antara dua variabel. Misalnya,
ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan praktek pemeriksaan hamil. Hipotesis dapat
diperjelas lagi menjadi : Makin tinggi pendidikan ibu, makin sering (teratur) memeriksakan
kehamilannya. Sedangkan hipotesis perbedaan menyatakan adanya ketidaksamaan atau
perbedaan di antara dua variabel; misalnya. praktek pemberian ASI ibu-ibu de Kelurahan X
berbeda dengan praktek pemberian ASI ibu-ibu di Kelurahan Y. Hipotesis ini lebih
dielaborasi menjadi: praktek pemberian ASI ibu-ibu di Kelurahan X lebih tinggi bila
dibandingkan dengan praktek pemberian ASI ibu-ibu di Kelurahan Y.

4. DEFINISI OPERASIONAL
 Contoh

Pada penelitian tentang pengaruh senam nifas ibu pasca salin terhadap involusi uteri,
maka factor usia, dan paritas bisa dianggap sebagai variable kontrol. Pengontrolan
dapat dilakukan dengan membatasi sample pada ibu-ibu pasca salin dengan paritas 1
dan usia antara 20-30 tahun. Peneliti ingin mencari hubungan antara kebiasaan minum
kopi dan insiden PJK. Kebiasaan merokok merupakan variable perancu., oleh karena ia

13
berhubungan dengan kebiasaan minum kopi dan berhubungan pula dengan kejadian insiden
penyakit jantung koroner. Sebelum suatu variabel dapat diukur, perlu untuk pertama kali
dibuat prosedur atau definisi operasional yang menguraikan bagaimana pengukuran akan
dibuat dan penjelasan mengenai variabel tersebut menurut peneliti.

Contoh definisi operasional :

a. Fertilitas seorang wanita, adalah jumlah kelahiran hidup selama masa reproduksinya.

b. Pengetahuan Tentang HIV-Aids, adalah jumlah jawaban responden yang benar terhadap
20 pertanyaan mengenai imunisasi.

2. Indikator / pengukuran

Pengukuran adalah penetapan atau pemberian angka terhadap obyek atau fenomena
menurut aturan tertentu. Ada tiga kata kunci yang diperlukan dalam memberikan
definisi terhadap pengukuran, yaitu angka, penetapan dan aturan.

a. Angka, adalah sebuah simbol dalam bentuk 1, 2, 3, … dan seterusnya, yang

tidak mempunyai arti, kecuali diberikan arti kepadanya. Jika pada angka telah

dikaitkan dengan arti kuantitatif, maka angka tersebut berubah menjadi bilangan

(number).

b. Penetapan, adalah memetakan (Mapping).

c. Aturan, adalah panduan atau perintah untuk melaksanakan sesuatu.

Dalam mengukur, aturan yang diberikan bisa saja seperti ini bila mampu menjawab

tujuh sampai dengan sepuluh pertanyaan dengan jumlah pertanyaan sepuluh maka

diberi kode 1 katagori baik, bila mampu menjawab pertanyaan lima sampai tujuh

diberi angka dua dengan kataori cukup dan bila mampu menjawab kurang dari lima diberi
kode 3 dengan katagori jelek. Yang diukur dari suatu obyek sebenarnya bukanlah obyek
tersebut, juga bukan sifatnya, tetapi indikator dari sifat tersebut. Misalnya Indikator
dari pencemaran air buangan adalah BOD (biochemical Oxigen Demand) dari air bunagan
terebut.

14
Kriteria indikator yang baik sensitif, stabil, dapat diukur.

a. Sensitif, artinya indikator tersebut harus sensitif terhadap perubahan situasi dan
kondisi.

b. Stabil, artinya status pengukuran dan perubahan yang terjadi harus stabil dan
kontinnyu.

c. Dapat diukur (measurability of event), artinya perubahan kondisi harus dapat diobservasi
dan diukur dengan tepat, dan prosedur pengukurannya sederhana.

3. Alat Ukur

Alat ukur ini maksudnya adalah cara pengumpulan data. Ada beberapa cara
pengumpulan data, yaitu :

a. Kuesioner (daftar pertanyaan)

b. Pengamatan (observasi) / angket

c. Wawancara

a. Kuesioner (daftar pertanyaan)

Adalah suatu cara pengumpulan data yang dilakukan dengan cara

mengedarkan suatu daftar pertanyaan yang berupa formulir. Menurut jenis

penyusunanya dapat dibagi dalam dua golongan besar yaitu :

1) Kuesioner tipe isian

Pengajuan pertanyaan dalam bentuk pertanyaan atau permintaan komentar

terhadap suatu kejadian atau keadaan. Ada dua bentuk, yaitu :

- Kuesioner open end item, responden diberi kebebasan seluas-luasnya ntuk memjawab
pertanyaan. Misalnya,

Bagaimana pendapat saudara jika :

Semua orang yang ketahuan melakukan pelacuran dikebiri

…………………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

Orang-orang yang korupsi ditembak saja.

15
………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………..

- Kuesioner supply type item, responden hanya memberikan kebebasan menjawab


yang terbatas. Misalnya :

Hobby saudara apa :…………………

Penyakit apa yang paling saudara takuti: :………………

2) Kuesioner tipe pilihan.

Yaitu Cuma meminta responden untuk memilih salah satu jawaban atau lebih dari sekian
banyak jawaban yang sudah disediakan. Misalnya :

Apakah anda mempunyai keinginan untuk mengabdi dan menolong orang lain yang
menderita sakit ?

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak pernah

Apakah anda mempunyai keinginan menjadi ministering angel bagi orang yang
membutuhkan anda ?

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak pernah

Apakah anda interes pada ilmu keperawatan ?

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak pernah

16
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun daftar pertanyaan adalah sebagai
berikut :

Pertanyaan harus ditulis dengan kalimat yang sederhana, singkat dan jelas, sehingga
mudah dimengerti, baik oleh responden maupun pelaksana.

Pertanyaan jangan mempunyai arti ganda, sedapat mungkin pertanyaan jangan sampai
menyinggung perasaan.

Usahakan agar tidak ada pertanyaan yang mengharuskan responden mengingat


kembali masa lampau, misalnya pada umur berapa ibu mendapat haid pertama ?

Usahakan agar pertanyaan tidak mengharuskan responden untuk menghitung,


misalnya berapa selisih umur ibu dengan putra ibu yang kedua?

b. Pengamatan (observasi) / angket.

Ada beberapa jenis pengamatan, yaitu :

1) Pengamatan terlibat (observasi partisipasif).

Pengamat benar-benar mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan


dengan kata lain pengamat ikut aktif berpartisipasi pada aktivitas yang telah diselidiki.

2) Pengamatan sistematis

Pengamatan yang mempunyai kerangka atau struktur yang jelas. Dan pada umumnya
observasi sistematis ini didahului suatu observasi pendahuluan, yakni dengan observasi
partisipasif.

3) Obsevasi eksperimental

Dalam observasi ini pengamat dimasukan dalam kondisi dan situasi tertentu. maka observasi
ini sering disebut pengamatan terkendali.

Beberapa alat Observasi, antara lain adalah :

1) Check List

Adalah daftar pengecek, berisi nama subyek dan beberapa gejala / identitas lainnya dari
sasaran pengamatan. Pengamat tinggal memberikan tanda check (x) pada daftar yang
telah disediakan.

2) Skala Penilaian (rating scale)

Adalah daftar yang berisikan ciri-ciri tingkah laku, yang dicatat secara bertingkat.

3) Daftar riwayat kelakuan (anecdotal record) Adalah catatan – catatan mengenai tingkah
laku seseorang yang luar biasa sifatnya atau yang khas.

17
4) Alat-alat mekanik (elektronik) Alat ini antara lain adalah : alat perekam, alat
fotografis, film, tape recorder dan –lain-lain.

c. Wawancara

Adalah suatu metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data secara lisan dari
responden atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan responden. Pengumpulan data
dengan teknik ini dapat digunakan untuk memperoleh data yang bersifat fakta,
misalnya umur, pekerjaan, jumlah anak dan lainya. Wawancara dapat pula digunakan
untuk mengetahui sikap, pendapat, pengalaman, dan lain-lain. Misalnya, sikap terhadap
program imunisasi pada ibu hamil, pendapat tentang prosedur pelayanan pengobatan dan
lain-lain. Keuntungan pengumpulan data dengan teknik wawancara adalah :

Flesibel karena urutan masalah tidak harus sesuai dengan dfatar pertanyaan.

Jawaban dapat diperoleh dengan segera.

Dapat menilai sikap dan kebenaran jawaban yang diberikan oleh responden.

Dapat membantu responden dalam mengingat hal-hal yang lupa.

Kerugian pengumpulan data dengan teknik wawancara adalah :

Relatif membutuhkan tenaga, waktu dan biaya yang besar.

Dapat menimbulkan kesalahan atau bias yang berasal dari pewancara maupun dari
responden.

Bila pertanyaan yang diajukan terlalu banyak maka akan melelahkan hingga kualitas data
akan menurun. Untuk mengatasi hal tersebut wawancara dapat

dilakukan 2 kali.

4. Skala ukuran

Berkaitan dengan proses kuantifikasi , data dan variabel biasanya diklasifikasikan


dalam empat jenis skala pengukuran. Klasifikasi ini selain untuk keperluan penentuan
alat pengambil data, juga sangat penting untuk penentuan metode analisis mana yang
sesuai diterapkan. Tingkat pengukuran yang luas digunkakan dibagi dalam empat katagori
Yaitu ukuran nominal, ordinal, interval dan rasio.

18
a. Ukuran Nominal

Ukuran nominal adalah ukuran yang hanya diperoleh atau yang ditetapkan atas dasar proses
penggolongan Diperoleh dari hasil menghitung dan membilang (bukan mengukur), jadi
yang kita lakukan hanyalah menghitung semata-mata banyaknya subyek misalnya
wanita sekian orang, pegawai sekian orang yang sifatnya hanya membedakan. Ukuran
nominal ini adalah ukuran yang paling sederhana, dimana angka yang diberikan
kepada objek hanya mempunyai arti sebagai objek saja, dan tidak menunjukkan jarak
maupun ukuran antara katagori dalam ukuran itu. Objek dikelompokkan kedalam
himpunan-himpunan yang tidak boleh tumpang tindih dan bersisa. Beberapa data
nominal antara lain : jenis kelamin, kehadiran (hadir dan tak hadir, tempat kelahiran
(disurabaya), kebangsaan (Indonesia), bahasa (Inggris), Jabatan (ketua, bendahara,
sekretaris), pekerjaan (pegawai, pedagang, petani, dsb).

b. Ukuran Ordinal

Data berjenjang atau berbentuk peringkat, artinya jarak satu data dengan yang lain mungkin
tidak sama. Juara I, II, III ; golongan I, II, III ; tingkat pendidikan; derajad keasaman dan
sebagainya yang menunjukkan peringkat antara data satu dengan lainnya.

c. Ukuran Interval

Pengukuran bersifat kontinyu, yang didalam pengukuran itu diasumsikan terdapat


satuan pengukuran yang sama, selain mengurutkan obyek berdasarkan suatu atribut juga
memberikan informasi tentang interval antara satu obyek dengan obyek lainnya. Ciri
khas data interval adalah data yang jaraknya sama tetapi tidak memiliki nilai nol
absolut. Pada data ini, walaupun datanya nol, tetapi masih memiliki nilai. Misalnya nol
derajad celcius, ternyata masih ada nilainya.

d. Ukuran Rasio

Data yang jaraknya sama tetapi memiliki nilai nol absolut, artinya kalau data nol berarti tidak
ada apa-apanya. Misalnya : Hasil pengukuran panjang (M), berat (kg). Bila nol meter
maka tidak ada panjangnya. Ukuran rasio diperoleh apabila selain informasi tentang
urutan dan interval antar responden juga bila dipunya informasi tambahan tentang jumlah
absolut antribut yang dimiliki oleh salah satu obyek. Jadi ukuran rasio adalah suatu
bentuk interval jaraknya tidak dinyatakan sebagai perbedaan nilai antar obyek tetapi antara

19
obyek dengan nilai nol absolut. Karena terdapat titik nol maka perbandingan rasio dapat
ditentukan.

Skala Pengukuran

Sifat Membedakan Jenjang Selisih Kelipatan

Nominal + - - -

Ordinal + + - -

Interval + + + -

Rasio + + + +

5. Skor

Adalah nilai dari hasil penelitian yang kita buat sesuai dengan kriteria penelitian kita.
Misalnya : Pengetahuan tentang penularan TB Paru, ada soal sejumah 20 buah dibuat skor
sebagai berikut :

- Kurang : 0 - 7 jawaban benar

- Cukup : 8 - 14 jawaban yang benar

- Baik :15 - 20 jawaban benar

20
BAB II

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Konsep merupakan abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari hal-hal khusus.
Oleh karena konsep merupakan abstraksi maka konsep tidak dapat langsung diamati atau
diukur. Konsep hanya dapat diamati atau diukur melalui konstruk atau yang lebih dikenal
dengan nama variabel. Jadi variabel adalah simbol atau lambang yang menunjukkan nilai
atau bilangan dari konsep. Variabel adalah sesuatu yang bervariasi. Kerangka konsep
penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin
diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan.

Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimilikinya oleh anggota-
anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok yang lain.
Definisi lain mengatakan bahwa variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri,
sifat, atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentangsesuatu
konsep pengertian tertentu, misalnya umur jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan,
pekerjaan, pengetahuan, pendapatan, penyakit dan sebagainya.

karakteristik yang diamati yang mempunyai variasi nilai dan merupakan


operasionalisasi dari suatu konsep agar dapat diteliti secara empiris atau ditentukan
tingkatannya.

21
DAFTAR PUSTAKA

http://agenta08.wordpress.com/2009/01/24/kerangka-konsep-variabel-dan-hipotesis sabtu
09 februari 2012 22:18

22