Anda di halaman 1dari 4

1.

Jenis riba
A. Riba Qard, tambahan kelebihan yg telah disyaratkan dalamperjanjian antara pemberi
pinjaman dan peminjam, dalam hal ini pemberi pinjaman meminta adanya tambahan
sejumlah tertentu kepada pihak peminjam pada saat peminjam mengembalikan
pinjam.
Contoh
Upin meminjam uang kepada Ipin sebesar Rp.9.000.000,- dalam waktu sebulan,
dalam perjanjian Upin harus mengembalikan Rp.9.900.000,- kepada Ipin. Kelebihan /
selisih uang Rp 900.000,- adalah riba.
B. Riba Jahilyah :
Riba yag imbul adanya keterlambatan pembayaran dari si peminjam sesuai dengan
waktu/ jatuh tempo yg ditentukan.
Contoh
Upin meminjam uang kepada ipin Rp.9.000.000,-jatuh waktu 1 bulan dengan
perjanjian apabila dilunasi tepat waktu harus dibayar pokok dan bunga
Rp.9.900.000,- akan tetapi apa bila pada waktu ditetapkan tidak bisa melunasi maka
atas keterlambatannya itu dikenakan tambahan 2% dari pokok setiap bulannya.
Jadi yg membuat riba disini adalah Rp.900.000,- ditambah keterlambatan tiap bulan
2%.
2. MAGHARIB
a. Maisir
Maisyir adalah suatu kegiatan bisnis yang di dalamnya jelas bersifat untung-untungan
atau spekulasi yang tidak rasional, tidak logis, tak jelas barang yang ditawarkan baik
secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Aktivitas bisnis yang mengandung
aktivitas maisyir adalah kegiatan bisnis yang dilakukan dalam rangka mendapatkan
sesuatu dengan untung-untungan atau mengadu nasib.
b. Gharar menurut bahasa adalah khida’ ; penipuan. Dari segi terminologi : penipuan
dan tidak mengetahui sesuatu yang diakadkan yang didalamnya diperkirakan tidak
ada unsur kerelaan. Menurut Islam, gharar ini merusak akad. Demikian Islam
menjaga kepentingan manusia dalam aspek ini. Imam an-Nawawi menyatakan bahwa
larangan gharar dalam bisnis Islam mempunyai peranan yang begitu hebat dalam
menjamin keadilan. Gharar adalah suatu kegiatan bisnis yang tidak jelas kuantitas,
kualitas, harga dan waktu terjadinya transaksi tidak jelas. Aktivitas bisnis yang
mengandung gharar adalah bisnis yang mengandung risiko tinggi, atau transaksi yang
dilakukan dalam bisnis tak pasti atau kepastian usaha ini sangat kecil dan risikonya
cukup besar.
3. Perbedaan bank syariah dan bank konvensional
 Bank syariah adalah lembaga keuangan yang memiliki usaha menghimpun sekaligus
menyalurkan dana kepada masyarakat dengan berpedoman pada prinsip-prinsip
syariah yang dibenarkan dalam agama Islam dan mengedepankan kerja sama dalam
skema bagi hasil.
Perbedaan bank syariah dan bank konvensional
Bank syariah
- Hukum Syariah Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist dan telah difatwakan oleh
Majelis Ulama Indonesia (MUI)
- Investasi Usaha yang halal saja
- Orientasi Keuntungan (profit oriented) dan kemakmuran dan kebahagian dunia
akhirat
- Keberadaan Dewan Pengawas Ada

Konvensional

- Hukum positif yang berlaku di Indonesia.


- Semua usaha Keuntungan (profit oriented) semata
- Keuntungan Bagi hasil Bunga Hubungan Nasabah dan Bank Kemitraan Kreditur dan
debitur
- Keberadaan Dewan Pengawas Tidak ada
4. Wadiah merupakan tabungan yang dijalankan berdasarkan akad wadiah, yakni titipan
murni yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat sesuai dengan kehendak
pemiliknya. Bank sayariah menggunakan akad wadiah yadh adh dhamanah. Nasabah
bertindak sebagai penitip yang memberikan hak kepada bank sayariah untuk
menggunkan atau memanfaatkan uang atau barang titipannya, sedangkan Bank Syariah
bertindak sebagai pihak yag dititipi dana atau barang yang disertai hak untuk
menggunakan atau memanfaatkan dana atau barang tersebut. Bank bertanggung jawab
atas keutuhan harta titipan tersebut serta mengembalikannya kapan saja pemilik
menghendakinya. Bank juga berhak sepenuhnya atas keuntungan dari hasil penggunaan
atau pemanfaatan dana atau barang tersebut.
Wadiah yadh adh dhamanah ini mempunyai implikasi hukum yang sama dengan qardh,
maka nasabah menitipkan dan bank tidak boleh saling menajajikan untuk
membagihasilkan keuntungan harta tersebut. Bank diperkenankan memberikan bonus
kepada pemilik harta titipan selama tidak disayaratkan du muka. Kebijakan bank syariah
semata yang bersifat sukarela.
 Tabungan wadiah merupakan tabungan yang bersifat titipan murni yang harus dijaga
dan dikembalikan setiap saat (on call) sesuai dengan keinginan pemilik harta
 Keuntungan atau kerugian dari penyaluran dana atau pemanfaatan barang menjadi hak
milik atau tanggungan Bank. Sedangkan nasabah penitip tidak dijanjikan imbalan dan
tidak menanggung kerugian.
 Bank dimungkinkan memberikan bonus kepada pemilik harta sebagai intensif selama
tidak diperjanjikan dalam akad pembukaan rekening.

Tabungan Mudharobah

 Tabungan mudharabah adalah tabungan yang dijalankan berdasarkan akad


mudharabah. Mudharabah mempunyai dua bentuk, yakni mudharabah mutlaqoh dan
mudharabah muqayyadah. Bank syariah bertindak sebagai mudharib dan nasabah
sebagai shahibul mal. Bank syariah dalam kapasitasnya sebagai mudharib,
mempunyai kuasa untuk melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan
dengan prinsip Syariah serta mengembangkannya, termasuk melakukan akad
mudharabah dengan pihak lain. Bank syariah juga memilki sifat sebagai seorang wali
amanah, yang berarti bank harus berhati –hati atau bijaksana serta beritikad baik dan
bertanggung jawab atas segala sesuatu yang timbul akibat kesalahan atau kelalainnya.

 Dalam mengelola dana tersebut, bank tidak bertanggung jawab terhadap kerugian
yang bukan disebabkan kelalainnya. Namun apabila yang terjadi adalah miss
management, bank bertanggung jawab penuh terhadap kerugian tersebut.

5. prinsip 5 C :
a. Charakter :
Menggambarkan watak dan kepribadian dari calon nasabah/mitra. Bank perlu
melakukan analisa terhadap karakter calon nasabah dengan tujuan untuk mengetahui
bahwa nasabah/ mitra memiliki itikat baik, apabila diberikan pembiayaan dapat
menyelesaikan pada waktunya. Untuk mengetahui charakter nasabah/ mitra bisa
dilihat dari
1. BI Checking yg diminta dari Bank Indonesia, di BI Checking akan terlihat apakah
nasabah/ mitra memiliki pinjaman dari bank lain, tingkat penggolongan nya apakah
lancar, kurang lancar, diragukan atau macet.
2. Informasi dari pihak lain :
Yaitu bisa menanyakan tetangga kanan, kiri, kepada perangkat desa setempat,
kepada teman sesama pengusaha sejenis.
b. Capasity :
Untuk mengetahui kemampuan nasabah dalam mengembalikan pembiayaan,
dengan cara :
- Bagaimana usaha nasabah, apakah masih kecil, menengah dan besar.
- Berapa omzet, Pendapatan, engeluaran dan keuntungan, dilihat dari laporan
keuangan.
- Bila calon nasabah/ mitra pegawai, bisa dilihat dari slip gaji.
- Untuk mengetahui kondisi ini harus dilakukan on the spot, datang ke tempat
usaha nasabah/ mitra.
c. Capital :
- Capital atau modal perlu di teliti dengan baik dalam analisa.
- Modal yg dimiliki harus lebih besar dengan pembiayaan, dengan maksud apabila
suatu saat nasabah/ mitra mengalami wan prestasi maka, harta atau modal yg ada
masih bisa untuk menutup/ melunasi pembiayaan.
- Hal ini bisa dilhat dari laporan keuangan serta kita melakukan on the spot
langsung ke nasabah/ mitra.
d. collateral :
- Agunan yg diserahkan oleh pemilik agunan untuk menjamin fasilitas pembiayaan
nasabah/ mitra.
- Dimaksudkan apabila nasabah/ mitra wan prestasi maka agunan tersebut untuk
mengcover hutangnya.
- Agunan ini rationya harus lebih besar dibanding dengan pembiayaan minimal
120%.
- Secara rinci agunan bisa dipertimbangkan menjamin fasilitas pembiayaan dikenal
dengan MAST :
1. Marketability : Agunan yg diterima harus mudah diperjual belikan.
2. Ascertainability of value : Agunan yg diserahkan harus memiliki standar harga
yg lebih pasti.
3. Stability of value : Agunan yg diserahkan memiliki harga yg stabil, sehingga
waktu agunan dijual maka hasilnya bisa menutup kewajiban nasabah/ mitra.
4. Transferability : Agunan yg diserahkan mudah dipindah tangankan dan mudah
dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.
e. Condition of Economy:
- Merupakan analisa tentang kondisi perekonomian. Bank perlu mengkaitkan sektor
usaha nasabah dengan kondisi ekonomi.
- Bagaimana pengaruh kondisi ekonomi saat ini, masa datangterhadap usaha
nasabah/mitra.