Anda di halaman 1dari 30

PERCOBAAN 5

TEKNIK MASERASI PADA PENETAPAN KADAR TANNIN DALAM TEH

I. TUJUAN

1. Memisahkan senyawa tannin dalam sampel teh dengan teknik maserasi

2. Menetapkan kadar senyawa tannin hasil pemisahan dengan teknik titrasi

permanganometri

II. PRINSIP

Ekstraksi tannin dalam sampel teh dapat dilakukan dengan teknik maserasi

(perendaman). Maserasi tersebut menggunakan pelarut air. Filtrat yang diperoleh

dititar dengan KMnO4 0,1N untuk mengetahui kadar tannin dalam teh. Metode

penentuan kadar tanin dalam teh secara titrasi permanganometrimerupakan suatu

metode yang disebut dengan metode Lowenthal-Procter. Metode ini didasari oksidasi

fenolat oleh larutan kalium permanganat dengan adanya indigo carmine sebagai

indikator redoks untuk menunjukkan titik akhir titrasi.


III. REAKSI

1. Reaksi Standarisasi

Setengah reaksi redoks larutan KMnO4 denganH2C2O4

Oks: C2O4-2 2CO2 + 2e- (x5)


(Ion oksalat) (karbondioksida)

Red: MnO4- + 8H+ + 5e- Mn2+ + 4H2O (x2)


(Ion permanganat) (Ion Hidrogen) Ion Mangan II (Air)

5C2O4-2 10CO2 + 10e-


(Ion oksalat) (Karbon Dioksida)

2MnO4- + 16H+ + 10e- 2Mn2+ + 8H2O


(Ion Permanganat) (Ion Hidrogen) (Ion Mangan II) (Air)

5C2O4-2 + 2MnO4- + 16H+ 10CO2 + 2Mn2+ + 8H2O


(Ion Oksalat) (Ion Permanganat) (Ion Hidrogen) (Karbon Dioksida) (Ion Mangan II) (Air)

(Basset J 1994 : halaman 409)1

2. Reaksi Tanin

(Harbone,J.B.1987 : Halaman 107)2


IV. DASAR TEORI

Tanaman teh merupakan salah satu tanaman yang termasuk kedalam genus camellia

yang banyak tersebar di wilayah kawasan asia tenggara. Teh sendiri merupakan minuman

yang mengandung kafein, yang dibuat dengan cara menyeduh daun pucuk, atau tangkai daun

yang dikeringkan dari tanaman camellia sinensis dengan penambahan air panas. Teh dapat

dikelompokan menjadi 3 golongan yaitu teh hijau, teh hitam, teh oolong. Ketiga jenis teh ini

mengandung polifenol yang berfungsi sebagai antioksidan yang mampu melindungi tubuh

dari serangan radikal bebas. Bahkan potensi antioksidan teh tersebut lebikuat dibandngkan

antioksidan dalam sayuran dan buah-buahan . Dimana kandungan senyawa folipenol yang

berfungsi sebagai antioksidan yang dapat melindungi tubuh dari radikal bebas. Bahkan

antioksidan the dianggap lebih kuat dibandingkan dengan antioksidan dalam sayuran dan

buah-buahan dimana kandungan senyawa polifenol yang berfungsi pada sayur dan buah

hanya sekitar 0,25 % dan komponen tersebut umumnya terdapat dalam keadaan terikat atau

terkonjugasi dengan senyawa gula, sedangkan senyawa komposisi polifenol pada teh yang

terdiri dari flavanol, flavandiol, flavanoida, dan asam-asam fenolat diperkirakan sekitar 30

% dari berat kering daun teh. Sehingga banyak peneliti membuktikan senyawa polifenol

sebagai anti-kanker terutama kanker lambung, esophagus dan kulit. Bahkan polifenol pun

mampu menurunkan kolesterol dan mencegah penggumpalan (winarsi, 2007)1

Tanin merupakan turunan fenol. Pada miskroskop, tanin biasanya tampak sebagai

massa butiran bahan berwana kuning, merah atau coklat. Tanin dapat ditemukan dalam

bagian yang berbeda dari tumbuhan, misalnya pada daun, jaringan pembuluh, buah yang

belum masak, kulit, biji, dan jaringan tumbuhan karena penyakit. Tanin dapat ditemukan

dalam sel biasa atau dalam iodiblas. Didalam sel, tanin terdapat dalam vakuola atau dalam

bentuk tetes di sitoplasma dan seringkali masuk kedalam dinding sel. Tanin dalam

tumbuhan berfungsi sebagai pelindung tumbuhan untuk melawan dehidrasi, pembusukan


dan perusakan oleh hewan. Secara komersial, tanin digunakan sebagai khususnya dalam

industri penyamakan kulit (mulyani, 2006)2

Tanin mengandung sebagian besar gugus hidroksifenolik. Proteksi dari serangan

ternak dapat dilakukan dengan menimbulkan rasa sepat, serangan dari bakteri dan insekta

diproteksi dengan menonaktifkan enzim-enzim protoase dari bakteri dan insekta yang

bersangkutan (Cheeke dan Shull, 1985)3. Tanin juga membentuk komplek dengan

komponen polimer dinding sel dari serangan organisme patogen dan menghentikan

pembelahan sel (Swain, 1979)4. Tanin secara umum dibagi menjadi dua kelas, yaitu :

1. Tanin Kondensasi

Tanin kondensasi dikenal juga sebagai proanthocyanidin, adalah paling banyak

tedistribusi pada tanaman, tidak mudah dihidrolisis dan terdapat dalam struktur yang

komplek (Cheeke dan Shull, 1985). Tanin kondensasi merupakan senyawa polimer dari

flavan -3-01 (catekin) atau flavan -3; 4-diol (leucoanthocyanidin) atau turunannya yang

dihubungkan oleh ikatan C-C atau C-O-C (Leinmuller et al., 1991)5.

2. Tanin Hidrolisis

Tanin hidrolisis merupakan ester dari glukosa dengan asam galat. Tanin ini dapat

dihidrolisis dengan asam mineral panas menjadi gula dan asam-asam yang menjadi unsur

pokoknya (Cheeke dan Shull, 1985).

Menurut Hangerman (1992)6, Interaksi tanin dipengaruhi oleh karakteristik protein

seperti komposisi asam amino dan titik isoleotik serta karakteristik tanin seperti bobot

molekul, temperatur, komposisi-komposisi pelarut dan waktu.


Gambar 1. Struktur tanin terhidrolisis (a) dan

terkondensasi (b) Sumber: (Dennis et al., 2005)7

Menurut Susanti (2000)8, sifat utama tanin pada tanaman tergantung pada gugus

fenolik-OH yang terkandung dalam tanin.


Sumber: Secaraetgaris
(Dennis besar7 sifat tanin dapat dijabarkan
al., 2005)
sebagai berikut :

1. Tanin secara umum memiliki gugus fenol dan bersifat koloid.

2. Semua jenis tanin dapat larut dalam air, kelarutannya besar dan akan bertambah besar

apabila dilarutkan dalam air panas. Begitu pula dalam pelarut organik seperti metanol,

etanol, aseton dan pelarut organik lainnya.

3. Reaksi warna terjadi bila disatukan dengan garam besi. Reaksi ini digunakan untuk

menguji klasifikasi tanin. Reaksi tanin dengan garam besi akan memberikan warna hijau dan

biru kehitaman, tetapi uji ini kurang baik karena selain tanin yang dapat memberikan reaksi

warna, zat-zat lain juga dapat memberikan reaksi warna yang sama.

4. Tanin mulai terurai pada suhu 98,8 0

5. Tanin dapat dihidrolisis oleh asam, basa, dan enzim. C.


6. Ikatan kimia yang terjadi antara tanin-protein atau polimer lainnya terdiri dari ikatan

hidrogen, ikatan ionik, dan ikatan kovalen.

7. Tanin mempunyai berat molekul tinggi dan cenderung mudah dioksidasi menjadi suatu

polimer, sebagian besar tanin amorf (tidak berbentuk) dan tidak mempunyai titik leleh.

8. Warna tanin akan menjadi gelap apabila terkena cahaya atau dibiarkan di udara terbuka.

9. Tanin mempunyai sifat bakteristatik dan fungistatik.

Maserasi istilah aslinya adalah macerare (bahasa Latin, artinya merendam) : adalah

sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi bahan nabati yaitu direndam

menggunakan pelarut bukan air (pelarut nonpolar) atau setengah air, misalnya etanol encer,

selama periode waktu tertentu sesuai dengan aturan dalam buku resmi kefarmasian. Salah

satu metode yang digunakan untuk uji kuantitatif senyawa tanin dalam teh adalah metode

Lowenthal-procter ( Sudarmadji, 1984 )9. Metode ini menggunakan metode titrasi oksidasi

yaitu dengan menggunakan senyawa pengoksidasi kalium permanganat. Penentuan kadar

tanin dalam metode ini adalah berdasarkan jumlah gugus pada senyawa tanin. Titrasi dengan

larutan kalium permanganat, gugus fenol pada tanin akan teroksidasi. Jumlah gugus fenol

berbanding lurus dengan jumlah kalium permanganat yang diperlukan untuk titrasi. Pereaksi

kalium permanganat bukan pereaksi baku primer. Sangat sukar untuk mendapatkan pereaksi

ini dalam keadaan murni dan bebas dari mangan dioksida (Bassett, J,1994)10.
V. ALAT DAN BAHAN

a. Alat-alat yang digunakan :

1. Erlenmeyer 100 9. Buret makro

mL 10. Batang pengaduk

2. Piala gelas 11. Botol semprot

3. Gelas ukur 50 mL 12. Statif dan klem

4. Pipet volumetrik 13. Neraca analitik

5 dan 10 mL 14. Kertas Saring

5. Pipet tetes 15. Bunsen

6. Corong 16. Kaki tiga

7. Alas Titar

8. Neraca Analitik

b. Bahan-bahan yang digunakan:

1. Sampel daun teh 6. Gelatin (C76H124O29N24

2. Kalium Permanganat (KMnO4) 7. Garam jenuh (NaCl)

0,1N 8. Asam sulfat (H2SO4

3. Indigo Carmine (C16H8N2Na2O8S2

4. Aquades (H2O)

5. Asam Oksalat (H2C2O4.2H2O)


VI. CARA KERJA

1. Standarisasi KMnO4
Dipipet sebanyak 25mL
Ditimbang Dimasukan ke Labu Ke Erlenmeyer 250mL,
Asam Oksalat Takar 100mL, ditera ditambah H2SO4 4N
dan dihomogenkan 25mL, dipanaskan hingga
630 mgram
dengan aquadest 700C

Dalam keadaan panas dititar


dengan KMNnO4, sampai
timbul warna merah muda
dari larutan tidak berwana

2. Penetapan Kadar tannin dalam sampel

Sampel ditimbang 2,0 Dimasukan ke Larutan tersebut


gram, ke gelas piala Labu takar 100mL disaring ke
100mL, ditambahkan ditera dan
gelas piala
air mendidih 20mL dan dihomogenkan
kering
diamkan selama 20 dengan aquadest
menit

Titar dengan KMnO4 0,1N Pipet 5mL filtrate,


hingga warna biru menjadi dimasukan ke
kuning. Catat volume Erlenmeyer 250mL,
titran sebagai A. tambahkan 75mL air
(Lakukan 2 kali dan 5mL indigo
pengulangan) carmine

Titar dengan KMnO4 Pipet 10mL sampel


Pipet 5mL ke
0,1N , hingga warna (filtarat), tambahkan
Erlenmeyer 250mL
larutan biru menjadi 10mL NaCl asam, 5mL
tambahkan 75mL air
kuning. Catat volume gelatin dan 2gram
dan 5mL indigo
titran sebagai B Kaolin, aduk hingga
carmine
(lakukan 2kali homogen, saring slurry
pengulangan) dan filtrat nya
3. Pembuatan Larutan Indigo Carmine

Ditimbang teliti 6 g Ditambahkan asam sulfat Lalu ditambahkan air


indigo carmine 25 mL bebas air CO2 sampai
menjadi 1 L

4. Pembuatan Larutan NaCl Asam

Di pipet 975 mL Ditambahkan 25 mL asam


larutan jenuh ke sulfat pekat
piala gelas

5. Pembuatan Gelatin

p
Ditimbang teliti 25 g Ditambahkan 1 L Dipanaskan
gelatin NaCl jenuh hingga larut

VII. DATA PENGAMATAN

Nama Praktikan :

1. Abdurrahman Risyad Baihaqi

2. Ni Luh Gede Mega Atikadevi

NIM :

1. 1617480

2. 1617666

Kelas : 2C

Kelompok : 2

Tanggal Praktek : 22 Februari 2018

Nama Sampel : Daun Teh kering


Deskripsi Sampel Uji : Daun kering, berwana coklat kehijauan, berbau khas teh

A. Kualitatif

Identifikasi Bahan

No. Nama Bahan Rumus Molekul Sifat

1. 1 Kalium KMnO4 o Bentuk padatan

Permanganat o Tidak berbau

o Larut dalam air berwana

ungu

2. 2 Natrium NaCl o Bentuk padatan kristal

Klorida putih

o Larut dalam air

o Tidak berbau

3. 3 Gelatin Gelatin o Gelatin berupa padatan

o Tidak berbau

o Tidak berasa

o Rapuh dalam keadaan

kering

o Bewarna putih.

4. 4 Kaolin Al2SiO2O5 (OH)4 o Berupa padatan

o Bewarna putih
o Tidak berbau

o Kaolin larut dalam air

dingin atau air panas

5. 5Asam Oksalat H2C2O4.2H20 o Asam oksalat merupakan

. senyawa kimia yang

berbentuk kristal putih

o Tidak larut dalam air

6. 6 Asam Sulfat H2SO4 o Wujud: cairan,

. o Warna : tidak bewarna,

o Bau: tidak berbau.

o Asam sulfat larut dalam

air.

7. 7Indigo Carmine C16H8N2Na2O8S2 o Pewarna makanan dan

minuman, yang

mengubahnya menjadi

warna biru.

o Berwujud padatan biru

keunguan yang tidak

berbau
B. Kuantitatif

1. Standarisasi KMnO4 0,1N

Baku primer Bobot zat Volume Perhitungan [KMnO4]

baku KMnO4

primer (g) (mL)

H2C2O4.2H2O 0,6298 23,47 𝑁 𝐾𝑀𝑛𝑂4

𝑚𝑔 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑜𝑘𝑠𝑎𝑙𝑎𝑡
H2C2O4.2H2O 23,50 =
𝑉 𝐾𝑀𝑛𝑂4 × 𝐵𝐸 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑜𝑘𝑠𝑎𝑙𝑎𝑡 × 𝐹𝑃

𝑉1+𝑉2
Volume rata-rata : 2

=
23,47 𝑚𝐿+23,50 𝑚𝐿 629,8 𝑚𝑔
2 =
𝑚𝑔 𝑚𝐿
23,50 𝑚𝑙 × 63 ⁄𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘 × 4 (𝑚𝐿)
= 23,48 mL
𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘⁄
= 0,1064 𝑚𝑙

V sampel V KMnO4A (mL) V KMnO4 B Titik akhir titrasi

(mL) (mL)

5 4,30 2,20 Biru hijau kuning

5 4,30 2,20 Biru hijau kuning


VIII. PERHITUNGAN

1. Standarisasi KMnO4 0,1 N

a. Perhitungan bobot Asam Oksalat (H2C2O4) yang ditimbang

𝑚𝑔 𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘⁄ 𝑚𝐿
𝑚𝑔 𝐻2 𝐶2 𝑂4 = 25 𝑚𝑙 × 63 ⁄𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘 × 0,1 𝑚𝐿 × 4 ( ⁄𝑚𝐿)

= 630 𝑚𝑔

= 0,630 𝑔𝑟𝑎𝑚

b. Normalitas KMnO4 0,1 N

𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘 𝑚𝑔 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑜𝑘𝑠𝑎𝑙𝑎𝑡 (𝑚𝑔)


𝑁 𝐾𝑀𝑛𝑂4 ( )=
𝑚𝐿 𝑚𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑚𝐿
𝑉 𝐾𝑀𝑛𝑂4 (𝑚𝐿) × 𝐵𝐸 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑜𝑘𝑠𝑎𝑙𝑎𝑡( ) × 𝐹𝑃(𝑚𝐿)
𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘

629,8 𝑚𝑔
=
𝑚𝑔 𝑚𝐿
23,48 𝑚𝑙 × 63 ⁄𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘 × 4 (𝑚𝐿)

𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘⁄
= 0,1064 𝑚𝑙

Keterangan Rumus

Simbol Uraian Satuan


N KMnO4 Konsentrasi KMnO4 mgrek/mL
mg Asam
Bobot asam oksalat mg
oksalat
V KMnO4 Volume KMnO4 mL
BE Asam Bobot ekuivalen asam
mg/mgrek
oksalat oksalat
FP Faktor pengenceran -
1. Kadar Tannin dalam Sampel Teh
𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘 42𝑚𝑔 100𝑚𝐿 𝑔
(A−B) 𝑚𝐿 𝑥 𝑁 𝐾𝑀𝑛𝑂4 ( )𝑥 𝑥 𝑥 10−3
𝑚𝐿 𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘 5𝑚𝐿 𝑚𝑔𝑟𝑎𝑚
Tanin (%) = x 100 %
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 (𝑔𝑟𝑎𝑚)

𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘 𝑚𝑔
( 4,30 −2,20 )𝑚𝑙 𝑥 0,1064 𝑥 42 𝑥 20 𝑥 10−3 𝑔/𝑚𝑔
𝑚𝑙 𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘
= x 100%
2,0011 𝑔

= 9,38 % ( 𝑏⁄𝑏)

Simbol Uraian Satuan


% Kadar senyawa tannin
% (b/b)
tannin dalam sampel
Volume KMnO4 yang
bereaksi dengan total
A mL
senyawa polifenol dalam
sampel
Volume KMnO4 yang
bereaksi senyawa polifenol
B mL
selain dari tanni dalam
sampel
N
Konsentrasi KMnO4 mgrek/mL
KMnO4
BE
Bobot ekuivalen tannin mg/mgrek
tannin
FP Faktor pengenceran -
m
Bobot sampel teh Mg
sampel
IX. PEMBAHASAN

Percobaan kali ini adalah penetapan kadar tanin dalam teh dengan teknik maserasi.

Tenik maserasi adalah bagian dari teknik ekstraksi. Ekstraksi adalah proses penarikan suatu

zat dengan pelarut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut

cair. Teknik ekstraksi sangat berguna untuk pemisahan secara cepat dan bersih, baik untuk

zat organik atau anorganik, untuk analisis makro maupun mikro. Selain untuk kepentingan

analisis kimia, ekstraksi juga banyak digunakan untuk pekerjaan preparatif dalam bidang

kimia organik, biokimia, dan anorganik di laboratorium. Tujuan ekstraksi ialah memisahkan

suatu komponen dari campurannya dengan menggunakan pelarut.

Teknik maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan

pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan.

Maserasi merupakan teknik yang bertujuan untuk menarik zat-zat berkhasiat yang tahan

pemanasan maupun yang tidak tahan pemanasan. Pengikatan atau pelarutan zat

aktif berdasarkan sifat kelarutannya dalam suatu pelarut (like dissolved like), penyarian zat

aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari, cairan

penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya

perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Selama proses

perendaman, cairan akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang

mengandung zat aktif. Kemudian zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan

konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di luar sel, maka larutan yang

terpekat didesak keluar. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan

diganti oleh pelarut dengan konsentrasi rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut terus

berulang hingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan antara larutan di luar sel

dengan larutan di dalam sel. Keuntungan cara ekstraksi dengan maserasi adalah cara
pengerjaan dan peralatan yang sederhana. Namun metode ini juga memiliki kekurangan,

yaitu cara pengerjaannya yang lama dan ekstraksi yang kurang sempurna.

Tanin adalah suatu senyawa Polifenol dari tumbuhan,berasa Pahit dan Kelat yang

bereaksi dan dengan menggumpalkan Protein ,atau senyawa organik lainnya termasuk

Asam Amino dan Alkohol. Tanin mempunyai kemampuan mengendapkan protein, karena

tanin mengandung sejumlah kelompok ikatan fungsional yang kuat dengan molekul protein

yang selanjutnya akan menghasilkan ikatan silang yang besar dan komplek yaitu protein

tanin. Tanin mempunyai berat molekul 0,5-3 KD. Tanin alami larut dalam air dan

memberikan warna pada air, warna larutan tanin bervariasi dari warna terang sampai warna

merah gelap atau coklat, karena setiap tanin memiliki warna yang khas tergantung

sumbernya.

Penentuan kadar tanin dalam sampel daun teh ini melibatkan titrasi

permanganatometri. Dalam praktikum ini, standarisasi dilakukan dengan penimbangan asam

oksalat seberat 0,6298 gram, kemudian ditambahkan asam kuat yaitu H2SO4, dipanaskan

sampai 70o, dan dititrasi dengan KMnO4 0,1 N hingga larutan yang tak berwana berubah

menjadi larutan merah muda. Permanganometri merupakan titrasi redoks yang dilakukan

berdasarkan reaksi oleh kalium permanganat (KMnO4). Titrasi ini melibatkan dua tahapan,

yakni titrasi analit dengan larutan kalium permanganat dan kemudian standardisasi kalium

permanganat dengan larutan asam oksalat. Standarisasi ini bertujuan untuk megetahui

konsentrasi KMnO4 yang sebenarnya biasanya dalam menuliskan konsentrasi normalitas

dituliskan hingga empat angka di belakang koma, hal ini menunjukkan ketelitian pada

normalitas KMnO4 yang dipakai pada percobaan ini. Titrasi permanganometri ini harus

dilakukan ditempat yang gelap atau cahaya matahari yang seminimal mungkin karena

KMnO4 bisa teroksidasi apabila terkena paparan sinar matahri.. Titrasi yang dilakukan

dalam suasana asam. Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi dan reduksi yang terjadi
antara KMnO4 dengan larutan baku tertentu. Hasil titik akhir titrasi pada saat proses

standarisasi kalium permanganate ditunjukkan dengan adanya perubahan warna larutan

menjadi merah muda. Kalium permanganat merupakan zat pengoksidasi yang sangat kuat.

Pereaksi ini dapat dipakai tanpa penambahan indicator, karena mampu bertindak sebagai

indikator. Permanganat dengan asam oksalat, dengan adanya asam sulfat, menghasilkan gas

karbon dioksida: Reaksi ini lambat pada suhu kamar, tetapi menjadi cepat pada 70°C. maka

diperlukan pemanasan sebelum dititrasi, dalam praktikum ini praktikan memanaskan larutan

terlebih dahulu. Ion mangan(II) mengkatalisis reaksi ini; jadi, reaksi ini adalah otokatalitik;

sekali ion mangan(II) telah terbentuk, reaksi menjadi semakin cepat. Pada proses titrasi

permanganometri tidak perlu ditambahkan indikator untuk mengatahui terjadinya titik

ekivalen, karena MnO4 yang berwarna ungu dapat berfungsi sebagai indikator sendiri ( auto

indicator ). Titik akhir titrasi adalah saat larutan berwarna merah muda keunguan. Pada saat

titrasi yang melibatkan kalium permanganat sebaiknya digunakan alat gelas (buret, botol

penyimpanan larutan) yang berwarna gelap, karena dikhawatirkan kalium permanganat yang

sedang digunakan, terurai oleh cahaya, sehingga apabila tidak ada botol ataupun alat gelas

yang gelap, sebaiknya digunakan penutup ( bisa berupa alumunium foil ataupun plastik

hitam) untuk membungkus alat gelas bening tersebut agar kedap cahaya. Pada saat

penentuan konsentrasi kalium permanganat, digunakan asam oksalat sebagai zat baku

primer. Asam oksalat dikatakan zat baku primer dikarenakan asam oksalat merupakan zat

yang stbil, memiliki Mr tinggi dan memiliki kriteria lainnya sebagai standar primer.

Standardisasi terhadap KMnO4 perlu dilakukan karena kristal KMnO4 sering sudah

terkontaminasi dengan MnO2. Selain itu MnO2 juga mudah terbentuk di dalam larutan

karena adanya berbagai bahan organik. Oleh karena itu, setelah kristal larut larutan

dipanaskan untuk mempercepat oksidasi zat-zat organik dan setelah dingin larutan disaring

untuk memisahkan MnO2. Umumnya KMnO4 distandardisasi oleh asam oksalat yang
merupakan bahan baku primer yang baik; sangat murni, stabil selama pengeringan, dan tidak

higroskopis. Titrasi oksalat oleh KMnO4 berlangsung pada larutan yang sudah dipanaskan

sampai sekitar 70 °C dengan penambahan KMnO4 tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu

lambat. Pemberian yang terlalu cepat cenderung menyebabkan reaksi antara MnO4- dengan

Mn2+ (kesalahan positif), sedangkan jika terlalu lambat mungkin terjadi kehilangan oksalat

karena membentuk peroksida yang kemudian terurai menjadi air (kesalahan negatif). Pada

standardisasi ini diperoleh konsentrasi KMnO4 sebesar 0.1064 N.

Menetapkan kadar tanin dalam sampel tehyaitu dengan

cara titrasi permanganat (metode Lowenthal). Metode

ini didasari oksidasifenolat oleh larutan kalium permanganat dengan adanya

indigo carmine sebagai indikator redoks untuk menunjukkan titik akhir titrasi. Titik

akhir dimana merubah warna yang semua biru menjadi warna kuning.

Sampel teh yang merupakan padatan yang berwarna coklat kehijauan yang

akan diuji ditimbang sebanyak 2 gram. Sampel dimasukkan ke gelas piala dan

ditambahkan air panas sebanyak 20 mL dan didiamkan selama 20 menit agar senyawa-

senyawa dari dalam sampel teh larut termasuk tanin yang larut dalam air panas.

Didiamkan hingga suhu teh menurun, sebelum dimasukkan ke labu takar untuk

mencegah kerusakan pada labu takar. Sampel dimasukkan secara kuantitatif ke labu takar

100 mL dan ditera dengan akuades lalu dihomogenkan. Dilakukan penyaringan sampel

dengan kertas saring dengan lipatan berbentuk kipas. Digunakan kertas saring berbentuk

kipas karena yang dipergunakan dalam praktek ini adalah hasil filtrat dari hasil

penyaringan dan hasil endapan tidak diperhitungkan sehingga tidak perlu

memperhitungkan endapan yang. Hasil filtrat kemudian dipipet. Pemipetan dilakukan 2

kali yaitu untuk pemipetan 5 mL langsung ke labu takar 100 mL dan pemipetan 10 mL

untuk ke gelas piala. Pemipetan langsung ke labu takar sebanyak 5 mL dilakukan secara
kuantitatif dengan menggunakan pipet volumetri dan dilakukan 2 kali atau secara duplo.

Dilakukan penambahan 75 mL air suling dan indikator indigo carmine sebanyak 5 mL.

Kemudian dititrasi dengan KMnO4 yang telah distandarisasi terlebih dahulu. Perubahan

warna yang terjadi dalam titrasi adalah dari warna yang semula biru saat ditambahkan

indigo carmine, setelah dititrasi menjadi warna kuning. Fungsi indigo carmine adalah

sebagai indikator perubahan warna dalam titrasi ini. Volume pentitar yang dikeluarkan

adalah volume A atau volume total polifenol dalam sampel. Pada pemipetan sampel 10

mL, dilakukan secara duplo dengan penambahan 10 mL NacL asam, 2 mL gelatin , dan

2 gram kaolin. Penambahan NaCl asam adalah untuk mengendapkan senyawa tannin

yang terkandung di dalam sampel teh, sedangkan fungsi dari gelatin dan kaolin adalah

untuk mengubah endapan tannin yang terbentuk menjadi bentuk slurry. Setelah

penambahan NaCl asam, gelatin, dan kaolin dilakukan penyaringan dengan kertas lipat

berbentuk kipas. Slurry yang merupakan tannin itu tidak dapat melewati kertas s aring,

sehingga filtrat hasil penyaringan merupakan senyawa polifenol non tannin. Hasil filtrat

kemudian dipipet sebanyak 5 mL dan dipindahkan secara kuantitatif ke labu takar 100

mL. Ditambahkan 75 mL air dan indigo charmine sebanyak 5 mL, dan ditirasi dengan

KMnO4 yang telah distandarisasi. Perubahan warna yang terjadi akibat penambahan

indikator adalah dari yang semula berwarna biru menjadi berwarna kuning. Volume

titran hasil titrasi adalah volume B mL atau volume dari polifenol non tannin. Jadi dalam

perhitungan dalam menentukan kadar tannin nantinya volume senyawa total polifenol

dikurangi dengan senyawa polifenol non tannin (A-B) mL. Kemudian dihitung hasil uji

dengan menggunakan rumus:

𝒎𝒈𝒓𝒆𝒌 𝒎𝒈 𝒈 𝟏𝟎𝟎 𝒎𝑳
(𝑨−𝑩)𝒎𝑳 𝒙 𝑵 𝑲𝑴𝒏𝑶𝟒 ( )𝒙 𝑩𝒆𝒓𝒂𝒕 𝑬𝒌𝒖𝒊𝒗𝒂𝒍𝒆𝒏( )𝒙 𝟏𝟎−𝟑 ( ) 𝒙 ( )
𝒎𝑳 𝒎𝒈𝒓𝒆𝒌 𝒎𝒈 𝟓𝟎 𝒎𝑳
× 𝟏𝟎𝟎%
𝑮𝒓𝒂𝒎 𝑺𝒂𝒎𝒑𝒆𝒍 (𝒈)
Kadar tanin yang diperoleh dari pengujian kadar tanin dalam daun teh adalah 9,38

%. Kadar tanin yang diperoleh ini Sesuai dengan literatur yaitu kadar dalam teh biasanya

9-20%. kadar tanin yang diukur dengan kadar tanin sebenarnya mungkin terutama

disebabkan oleh kurang optimalnya proses isolasi yang dilakukan seperti kurang lamanya

proses maserasi yang dilakukan sehingga tidak seluruh tanin terekstrak dari sampel

kasarnya.

X. KESIMPULAN

Dari percobaan di atas didapatkan kadar tannin dalam sampel teh sebesar 9,38

% (b/b)
XI. DAFTAR PUSTAKA

a. Reaski

1. Bassett j, R.CDenny, G.H Jeffery, J. Mendham. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia

Analisis Kuantitatif anorganik. Edisi 4. Penerjemah : A. Hayana

Pudjaatmaka. Jakarta: Penerbit buku Kedokteran EGC. (halaman 409)

2. Harbone J B.1987. Metode fitokimia penuntun cara modern menganalis

tumbuhan. Terbitan kedua. Terjemahan oleh pandmawnata kosasih. Press.

Bandung. (halaman 107)

b. Landasan Teori

1. Winarsi, Hery. 2007. Antioksidan alami dan radikal bebas. Kanisius:

Yogyakarta.

2. Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

3. Cheeke, P.R., and L.R. Shull. 1985. Tannins dan Polyphenolic. Compounds. In

: Cheeke, P.R. (Ed.). Natural Toxicants in Feeds and Poisonous Plants. AVI

Publishing Company, Connecticut. USA.

4. Swain, T., 1979. Tannins and lgnins. In : Rosenthal, G.A., and D.H. JAnzen

(Eds) Herbivores : Their Interaction with Secondary Plant Metabolites.

Academic Press. New York.

5. Leinmuller, E., H.G. Steingass and K.H. Menke. 1991. Tannins in Ruminant

Feedstuffs. Animal Research and Development : Institute for Scientific Coo.

Tubingen Germany. 33 : 9-62

6. Hangerman A.E. 1992. Tannin-Protein Interaction. Phenolic Compounds In

Food and Their Effects on Health 1. American Chemical Society, Washington

D.C.
7. Dennis, O., W. J. M. Smith., J. D. Brooker, & M. C. ScWeeney. 2005

Tolerance mechanisms of streptococci to hydrolysable and condensed tannins.

Anim Feed Sci. Technol. 121: 59-75

8. Susanti, C. M. E. 2000. Autokondensat tanin sebagi perekat kayu lamina.

Jurusan IPK. Program pasca sarjana IPB. Bogor. Desertasi

9. Sudarmaji, S., Bambang dan Suhardi, 1984. Prosedur Analisa Untuk Bahan

Makanan dan Pertanian. Penerbit Liberty Yogyakarta. hal 108.

10. Bassett j, R.CDenny, G.H Jeffery, J. Mendham. 19994. Buku Ajar Vogel Kimia

Analisis Kuantitatif anorganik. Edisi 4. Penerjemah : A. Hayana Pudjaatmaka.

Jakarta: Penerbit buku Kedokteran EGC.


LAMPIRAN

I. IDENTIFIKASI BAHAN KIMIA

Gambar Rumus molekul Berat Nama Sifat fisika

molekul senyawa
Rumus bangun Sifat kimia

Nama IUPAC

- - Sampel  Padatan,

daun teh berwarna

hitam

kehijauan,

berbau khas

teh

 Larut dalam

air

KMnO4 197,12 Kalium  Larutan

gr/mol permangan berwarna

at ungu-

kehitaman

 Kelarutan

dalam basa

alkali
Kalium manganat(VII)
berkurang jika

volume logam

alkali berlebih
 Merupakan

zat

pengoksidasi

yang kuat

 Bereaksi

dengan materi

yang

tereduksi dan

mudah

terbakar

menimbulkan

bahaya api

dan ledakan.

C16H8N2Na2O8S2 466.36 g Indigo  larutan,

/mol carmine berwarna

biru, tidak

berbau

 Sebagai

indikator
Garam dinatrium asam
 Garam
3,3′-diokso-2,2′-
oraganik
bisindoliden-5,5′-

disulfonat
H2O 18 g/mol Air  Cairan, tidak

berwarna,tida

k berbau

 Titik didih

100◦C

Air, Oksida  pKA

 Densitas 1

g/mL

NaCl 58.4 g/m Natrium  Larutan , tidak

ol klorida berwarna,

asam tidak berbau

 Rapuh (mudah

hancur)

Natrium klorida  Asin (garam

dapur)

 Larut dalam

air (air laut)

 Bisa didapat

dari reaksi

NaOH dan

HCl sehingga

pHnya netral

 Ikatan ionik

kuat (Na+) +

(Cl-) selisih
elektronegatif

nya lebih dari

 Larutannya

merupakan

elektrolit kuat

karena

terionisasi

sempurna pada

air.

90.000 Gelatin  Cairan tidak

g/mol berwarna,

tidak berbau

 Larut dalam

air panas,

gliserol dan

asam asetat

serta pelarut

organik

lainnya

 Titik leleh

35°C

Al2SiO2O3(OH)4 Kaolin  Padatan

serbuk
berwarna

putih

kecoklatan

, tidak

berbau

H2SO4 98.079 g Asam  Cairan

/mol sulfat higroskopis,

berminyak,

tak berwarna,

tak berbau

 Titik lebur

10 °C (283 K)

 Titik didih

337 °C

(610 K)

H2C2O4.2H2O 90.03 g/ Asam  Kristal,

mol oksalat berwarna

putih,

tidak

berbau

 Korosif

 Larut

dalam air
II. BAGAN KERJA

1. Standarisasi KMnO4 0,1 N

Padatan asam oksalat yang Pemipetan larutan asam


Penambahan H2SO4 ke
berwarna putih, setelah oksalat ke erlenmeyer
erlenmeyer
dilarutkan dengan aquades
(larutan tidak berwarna)

Pemanasan larutan asam Pengisian buret dengan


oksalat sebelum di titrasi KMnO4 0,1 N (berwarna Proses titrasi sampai titik
(larutan tidak berwarna) ungu) akhir

Titik akhir titrasi berwarna


pink
2. Sampel

Sampel teh yang sudah Air dipanaskan sampai Sampel direndam dengan
ditimbang (padatan mendidih air yang sudah diapanaskan
berwarna hijau) sebanyak 20 mL (20 menit)

Setelah dingin, dimasukkan Dipipet 5 mL sampel, Sampel sebelum


ke labu takar, ditera dan dimasukkan ke erlenmeyer ditambahakan indigo
dihomogenkan dengan air charmine

Penambahan indigo Dititrasi dengan KMnO4 0,1 Sampel teh yang sudah
cahrmine sebanyak 5 mL N dan volume titran sebagai dihomogenkan dipipet 10
A mL mL ke 2 gelas piala
Sampel ditambah dengan Ditambahkan dengan Ditambahkan slurry 2 gram
NaCl Asam untuk Gelatin untuk merubah (brbentuk padatan
mengendapkan tanin endapan menjadi slurry berwarna putih)

Diaduk sampai slurry Proses penyaringan dengan Filtrak penyaringan tidak


terbentuk (berwarna putih kertas saring kipas berwarna
kecoklatan)

Dipipet 5 mL ke Setelah dilakukan titrasi, titrasi


erlenmeyer, ditambah 75 berwarna kuning. Titran sebagai B
mL aquades dan 5 mL mL
indigo cahrmine