Anda di halaman 1dari 44

MAKALAH

MATA KULIAH KEPERAWATAN BEDAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN VESIKOLITHIASIS

Disusun oleh:
Kelompok 7

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
MAKALAH
MATA KULIAH KEPERAWATAN BEDAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN VESIKOLITHIASIS

Disusun oleh :
Ninuk Profita Sari 162310101127
Kiki Aprelia 162310101162
Fidella Ucca Fairuz 162310101167
Sri Yuni Wulandari 162310101183
M. Rizqon Ni’amullah 162310101236

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018

i
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i
DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii
BAB I KONSEP DASAR ..................................................................................... 1
1.1 Definisi ....................................................................................................... 1
1.2 Etiologi ....................................................................................................... 1
1.3 Patofisiologi ............................................................................................... 3
1.4 Manifestasi Klinis ...................................................................................... 4
1.5 Pemeriksaan penunjang .............................................................................. 4
1.6 Penatalaksanaan ......................................................................................... 6

BAB II ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS ............................................ 9


2.1 Pengkajian Keperawatan ............................................................................ 9
2.2 Diagnosa Keperawatan ............................................................................. 14
2.3 Pathway .................................................................................................... 15
2.4 Intervensi Keperawatan ............................................................................ 16
2.5 Evaluasi Keperawatan .............................................................................. 18

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN BERDASARKAN KASUS ............... 19

3.1 Pengkajian Keperawatan ......................................................................... 19


3.2 Analisis Data ........................................................................................... 26
3.3 Diagnosa Keperawatan ........................................................................... 27
3.4 Intervensi Keperawatan ........................................................................... 28
3.5 Implementasi Keperawatan ..................................................................... 31
3.6 Evaluasi Keperawatan ............................................................................. 34

BAB IV PENUTUP ............................................................................................ 36


4.1 Kesimpulan ............................................................................................. 36
4.2 Saran ....................................................................................................... 36

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 38

ii
1

BAB 1 KONSEP DASAR PENYAKIT

1.1 Definisi
Vesikolitiasis adalah batu yang ada di vesika urinaria ketika terdapat
defisiensi substansi tertentu, seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan
asam urat meningkat atau ketika terdapat defisiensi subtansi tertentu, seperti
sitrat yang secara normal mencegah terjadinya kristalisasi dalam urin
(Smeltzer, 2002:1460).

1.2 Etiologi
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan batu kandung kemih
adalah :
a. Faktor-Endogen

 Faktor genetik,

 Familia

 Hiperkalsiuria, Suatu peningkatan kadar kalsium dalam urin,


disebabkan karena, hiperkalsiuria idiopatik (meliputi hiperkalsiuria
disebabkan masukan tinggi natrium, kalsium dan protein),
hiperparatiroidisme primer, sarkoidosis, dan kelebihan vitamin D
atau kelebihan kalsium.
2

 Hipositraturia, Suatu penurunan ekskresi inhibitor pembentukan


kristal dalam air kemih, khususnya sitrat, disebabkan idiopatik,
asidosis tubulus ginjal tipe I (lengkap atau tidak lengkap), minum
Asetazolamid, dan diare dan masukan protein tinggi.

 Hiperurikosuria, Peningkatan kadar asam urat dalam air kemih yang


dapat memacu pembentukan batu kalsium

 Hiperoksalouria, Kenaikan ekskresi oksalat diatas normal (45


mg/hari), kejadian ini disebabkan oleh diet rendah kalsium,
peningkatan absorbsi kalsium intestinal, dan penyakit usus kecil atau
akibat reseksi pembedahan yang mengganggu absorbsi garam
empedu.

b. Faktor-Eksogen.

Faktor lingkungan, pekerjaan (sopir) , makanan, infeksi bakteri


(kurang personal hygine) dan kejenuhan mineral dalam air minum.
c. Faktor-lainnya.

Infeksi, stasis dan obstruksi urine, keturunan, air minum, pekerjaan,


makanan atau penduduk yang vegetarian lebih sering menderita batu saluran
kencing atau buli-buli (Syaifuddin, 1996). Batu kandung kemih dapat
disebabkan oleh kalsium oksalat atau agak jarang sebagai kalsium fosfat.
Batu vesika urinaria kemungkinan akan terbentuk apabila dijumpai satu atau
beberapa faktor pembentuk kristal kalsium dan menimbulkan agregasi
pembentukan batu proses pembentukan batu kemungkinan akibat
kecenderungan ekskresi agregat kristal yang lebih besar dan kemungkinan
sebagai kristal kalsium oksalat dalam urine.
Dan beberapa medikasi yang diketahui menyebabkan batu ureter
pada banyak klien mencakup penggunaan obat-obatan yang terlalu lama
seperti antasid, diamox, vitamin D, laksatif dan aspirin dosis tinggi.
(Prof.Dr.Arjatmo T. Ph. D.Sp. And. Dan dr. Hendra U., SpFk, 2001).
3

Menurut Smeltzer (2002:1460) bahwa, batu kandung kemih disebabkan


infeksi, statis urin dan periode imobilitas (drainage renal yang lambat dan
perubahan metabolisme kalsium).

1.3 Patofisiologi
Batu pada vesika dapat berasal dari vesika urinaria sendiri (batu
primer) atau bisa juga berasal dari ginjal, traktus urinarius bagian atas (batu
sekunder). Pada umumnya batu vesika terbentuk dalam vesika
urinari, tetapi pada beberapa kasus tertentu batu terbentuk di ginjal lalu
turun menuju buli-buli, kemudian terjadi penambahan deposisi batu untuk
berkembang menjadi lebih besar. Batu vesika yang turun dari ginjal pada
umumnya berukuran kecil sehingga dapat melalui ureter dan dapat
dikeluarkan spontan melalui uretra.
Secara teoritis batu dapat terbentuk diseluruh saluran kemih
terutama pada tempat-tempat yang sering mengalami hambatan aliran urin
yaitu pada sistem kalises ginjal atau vesika. Batu terdiri dari kristal-kristal
yang tersusun dari bahan-bahan organik maupun anorganik yang terlarut
didalam urin. Yang mana kristal tersebut akan tetap berada pada keadaan
metastable (terlarut) didalam urin jika tidak ada keadaan yang menyebabkan
terjadinya presipitasi kristal. Kondisi Metastable dipengaruhi oleh pH larutan,
adanya koloid didalam urine, konsentrasi solute di dalam urine, laju aliran urine di dalam
saluran kemih, atau adanya korpus alienum di dalam saluran kemih yang bertindak
sebagai inti batu.
Lebih dari 80% batu saluran kemih terdiri atas batu kalsium, baik yang berikatan
dengan oksalat maupan dengan fosfat, membentuk batu kalsium oksalatdan kalsium
fosfat; sedangkan sisanya berasal dari batu asam urat, batu magnesium ammonium fosfat
(batu infeksi), batu xanthyn, batu sistein, dan batu jenis lainnya. Pada penderita usia
tua atau dewasa komposisi batu biasanya merupakan batu asam urat yakni
lebih dari 50% dan paling banyak berlokasi di vesika. Gambaran fisik batu
yakni halus maupun keras.
4

1.4 Manifestasi Klinis


Menurut Brunner & Sudart (2002:1460) dan Soeparman (1999:337)
vesikolithiasis memiliki tanda dan gejala sebagai berikut :
a. Jika terjadi infeksi maka akan ditemukan tanda-tanda yakni sistitis, dan
terkadang terjadi hematuria
b. Timbul nyeri tekak suprasimpisis karena adanya infeksi atau adanya
urin retensi saat dilakukan palpasi
c. Buang air kecil yang kurang lancar dan terkadang terhenti yang akan
menimbulkan rasa sakit bila pasien merubah posisi saat buang air kecil.
d. Koliks
e. Adanya pembesaran prostat yang dapt ditemukan pada pria diatas
50tahun
f. Timbulnya rasa terbakar saat dan setelah melakukan buang air kecil
g. Timbulnya demam yang disebabkan oleh obstruksi saluran kemih

1.5 Pemeriksaan Penunjang


a. BNO
Untuk melihat adanya batu radio-opak di saluran kemih. Urutasn
radio-opak dengan beberapa jenis batu saluran kemih :

Jenis Batu Radioopasitas

Kalsium Opak

MAP Semiopak

Urat/sistin Non opak


5

b. IVP
Berguna untuk mendeteksi adanya batu semiopak ataupun batu non
opak yang tidak terlihat di BNO, menilai anatomi dan fungsi ginjal, mendeteksi
divertikel, indentasi prostat.

c. USG
Menilai adanya batu di ginjal atau buli-buli (echoic shadow), hidronefrosis,
pembesaran prostat.

d. Pemeriksaan Laboratorium
Darah rutin, kimia darah, urinalisa dan kultur urin. Pemeriksaan ini sering
dilakukan karena cenderung tidak mahal dan hasilnya dapat memberikan gambaran jenis
batu dalam waktu singkat. Pada pemeriksaan dipstick, batu buli berhubungan dengan
hasil pemeriksaan yang positif jika mengandung nitrat, leukosit esterase, dan darah. Batu
vesika sering menyebabkan disuria dan nyeri hebat oleh karena itu banyak pasien
yangsering mengurangi konsumsi air sehingga urin akan pekat. Pemeriksaan
6

mikroskopis menunjukkan adanya sel darah merah dan leukosit, dan adanya kristal yang
menyusun batu vesika. Pemeriksaan kultur juga berguna untuk memberikan antibiotik
yang rasional jika dicurigai adanya infeksi.
e. Pemeriksaan Urin
1. Urinalisis 1
Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk
tujuan diagnosis infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi
berbagai jenis penyakit ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti
diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap
status kesehatan umum.

2. Pemeriksaan Makrokoskopik

Urinalisis dimulai dengan mengamati penampakan makroskopik : warna


dan kekeruhan. Urine normal yang baru dikeluarkan tampak jernih sampai
sedikit berkabut dan berwarna kuning oleh pigmen urokrom dan urobilin.
Intensitas warna sesuai dengan konsentrasi urine; urine encer hampir tidak
berwarna, urine pekat berwarna kuning tua atau sawo matang. Kekeruhan
biasanya terjadi karena kristalisasi atau pengendapan urat (dalam urine
asam) atau fosfat (dalam urine basa). Kekeruhan juga bisa disebabkan oleh
bahan selular berlebihan atau protein dalam urin.

1.6 Penatalaksanaan
a. Konservatif
1. Penanganan nyeri
Tujuannya ialah mengurangi rasa nyeri dan dapat menghilangkan
penyebabnya yakni dengan diberikan morfin untuk mencegah syok
dan sinkop akibat nyeri yang timbul. Dan juga dapat dengan cara
lain yakni dengan merendam area panggul dengan air hangat.
2. Terapi nutrisi dan medikasi

Terapi diberikan dengan memasukkan cairan adequat dan


menghindari makanan tertentu khususnya yang mengandung
7

kalsium. Hal ini cukup efektif untuk mencegah pembentukan batu


dan mencegah penambahan ukuran batu.
Beberapa terapi medikasi menurut jenis batunya, anataralain:
 Batu kalsium dapat diturunkan dengan diet rendah kalsium,
amonium klorida atau asam asetohidroksemik (lithostat)
 Batu fosfat dapat diturunkan dengan menggunakan jeli
aluminium hidroksida
 Batu urat atau asam urat dapat menggunakan allofurinol
(zyloprime)
 Batu oksalat bisa dengancara pembatasan pemasukan
oksalat, terapi gelombang kejut esktrokoproreal dan
pengangkatan batu perkutan atau uretroskopi

b. Litrottipsi gelombang kejut esktrokoproreal (ESWL)


Merupakan prosedur non infasif yang digunakan untuk
menghancurkan batu di koliks ginjal. batu dipecahkan dengan litotriptor
secara mekanis melalui sistoskop atau dengan memakai gelombang ultrasonic
atau elektrohidrolik. Setelah batu pecah menjadi partikel-partikel kecil
maka akan dikeluarkan secara spontan.

c. Terapi pembedahan
Terapi ini dilakukan jika tersedia alat litrotriptor. Tetapi harus di
diperlukan suatu indikasi misalnya jika batu kadung kemih selalu
menyebabkan gangguan miksi yang hebat sehingga perlu diadakan
tindakan pengeluaran. Litotirptor hanya mampu memecahkan batu
dalam ukuran kurang dari 3cm. Untuk ukuran lebih dari 3cm dapat
dilakukan dengan menggunakan batu kejut atau sistolitotomi
1. Transurethral Cystolitholapaxy, teknik ini dilakukan setelah adanya batu
ditunjukkan dengan sistoskopi, kemudian diberikan energi untuk
membuatnya menjadi fragmen yang akan dipindahkan dari dalam buli
8

dengan alat sistoskopi. Energi yang digunakan dapat berupa energi mekanik
(pneumatic jack hummer), ultrasonic dan elektrohidraulik dan laser
2. Percutaneus Suprapubic cystolithopaxy, tenik ini selain digunakan untuk
dewasa juga digunakan untuk anak- anak, teknik percutaneus
menggunakan endoskopi untuk membuat fragmen batu lebih cepat
hancurlalu dievakuasi. Sering tenik ini digunakan bersama teknik yang
pertama dengan tujuan stabilisasi batu dan mencegah irigasi yang
ditimbulkan oleh debris pada batu.
3. Suprapubic Cystostomy: tenik ini digunakan untuk memindah batu dengan
ukuran besar, juga di indikasikan untuk membuang prostate, dan
diverculotomy. Pengambilkan prostate secara terbuka diindikasikan jika
beratnya kira- kira 80-100gr. Keuntungan tehnik ini adalah cepat, lebih
mudah untuk memindahkan batu dalam jumlah banyak, memindah
batuyang melekat pada mukosa buli dan kemampuannya untuk memindah
batu yang besar dengan sisi kasar. Tetapi kerugian penggunaan teknik ini
adalah pasien merasa nyeri post operasi, lebih lama dirawat di rumah sakit,
dan lebih lama menggunakan kateter.
9

BAB 2. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

2.1 Pengkajian
A. Identitas Klien
Nama :-
Umur : Kebanyakan terjadi pada pria diatas 50 tahun.
Jenis Kelamin : Kebanyakan terjadi pada laki-laki dari pada perempuan
No. RM : ZZZZ
Suku :-
Alamat :
B. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama
Klien datang dengan keluhan saat berkemih mendapati nyeri pinggang
dan berdarah.
2. Riwayat Penyakit Sekarang

Klien dengan vesikothialisis memiliki gejala buang air kecil susah,


adanya darah pada urin, nyeri pada pinggang. Klien datang kerumah sakit
pada tanggal 6 Maret 2017 dengan keluhan yang dirasakan klien adalah
nyeri dan berdarah saat berkemih. pasien mengeluhkan nyeri pada kandung
kemih dan menjalar ke penis, pasien juga mengalami gangguan
gastrointestinal dan perubahan dalam eliminasi urine dengan merasakan
nyeri saat berkemih dan sulit untuk mengeluarkan urine. Pasien juga
mengatakan terdapat darah dalam urinnya saat berkemih.hal ini diakibatkan
karena pasien yang kurang mengkonsumsi air,yaitu hanya 3 gelas dalam
sehari, klien lebih suka duduk santai dengan minum soda atau teh. Klien
juga mengaku bahwa saat berkemih membutuhkan waktu yang agak lama
dan perlu melakukan mengejan saat berkemih.saat berkemih awalnya urin
keluar lancar lalu kemudian keluar secara sedikit demi sedikit. Klien juga
tidak pernah mengalami riwayat pemasangan kateter dan tidak pernah
mengalami trauma pada organ reproduksinya
10

3. Riwayat Penyakit dahulu


Tanyakan kepada pasien apakah ada riwayat penyakit yang sama
penyakit jantung,penyakit ginjal, penyakit hipertensi, dan penyakit
saluran kemih.
4. Riwayat penyakit keluarga
Tanyakan apakah ada keluarga yang pernah mengalami vesikothialisis
atau ada keluhan atau bahakan sakit yang sama.

C. Pemeriksaan Fisik

1. Suhu
Keadaan suhu tubuh klien vesikothialisis kemungkinan menetap pada suhu
normal 36,5-37,5.
2. Nadi
Jarang terjadi peningkatan, dan rentang nadi normal 60x-100x/ menit.
3. Tekanan darah
Tekanan darah dalam rentang 130/80 mmHg.
4. Respirasi
Respirasi pada klien dengan vesikothialisis masih dalam batas normal 16x-
20x/menit
5. Berat Badan
Berat badan klien yang terkena vesikothialisis dapat menurun berat
badannya dari batas normal BMI akibat dari veskiothialisis yang dapat
menimbulkan mual dan muntah bahkan kehilangan selera makan yang
dikategotrikan sangat kurus < 16,00, kurus < 18,50, normal 18,50-
24,99, kegemukan > = 25,00, obesitas >= 30,00
D. Pemeriksaan Pola
1. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Kaji definisi sehat menurut pasien, dari mulai pola diet, nutrisi apa saja yang
dipenuhi, gaya hidup seperti apa yang dilakukan selama sehat. Data
pendukung: pemeriksaan fisik umum
2. Pola nutrisi dan metabolisme
11

Kaji kebiasaan makan dan minum sebelum MRS, diet RS, intake makanan,
adanya mual, muntah, kesulitan menelan, keadaan yang mengganggu
nutrisi, status gizi yang berhubungan dengan keadaan tubuh: postur tubuh,
BB, TB, IMT, pengetahuan tentang nutrisi terkait penyakitnya, intake
cairan, tanda-tanda kelebihan cairan, perubahan intake makanan terkait
penyakit, budaya, stress, adanya kelainan psikologis terkait makan. Data
pendukung lain: hasil pemeriksaan system Gastrointestinal, kulit,
rambut, kuku
3. Pola eliminasi
Kaji lebih mendalam keadaan BAK dan BAB pada klien mulai dari obat
yang dikonsumsi , keluhan saat BAK dan BAB, serta karakteristik dari BAK
dan BAB. Data pendukung: Hasil pemeriksaan system genitourinary
4. Pola aktivitas dan latihan
Kaji aktivitas atau pola hidup yang dilakukan oleh klien yaitu seperti
oksigenasi, olahraga, dan ROM. Data pendukung: hasil pemeriksaan
kardiovaskuler, respirasi, muskuloskeletal, neurologi
5. Pola tidur dan istirahat
Kaji kebiasaan pola tidur klien pada saat sebelum masuk rumah sakit,
apakah pernah mengkonsumsi obat-obatan untuk tidur dan kebutuhan jam
tidur klien. Data pendukung: pemeriksaan fisik umum
6. Pola persepsi dan kognitif
Kaji tingkat kesadaran dan fungsi dari panca indera dalam tubuh klien, serta
kemampuan klien untuk berfikir menyelesaikan masalah. Data
pendukung: Hasil pemeriksaan neurologi
7. Pola persepsi diri dan konsep diri
Kaji klien dari pekerjaan yang dikerjakan, situasi dan kondisi di
keluarganya. Data pendukung: pemeriksaan fisik umum
8. Pola peran dan hubungan
Peran pasien dalam keluarga, pekerjaan yang dilakukan klien serta
hubungan dengan masyarakat di lingkungan klien tinggal atau bahkan di
12

tempat kerja atau tempat baru. Data pendukung: pemeriksaan kesehatan


umum
9. Pola seksualitas dan reproduksi
Kaji apakah klien ada masalah dalam memenuhi kebutuhan seksualitas,
penggunaan alat kontrasepesi atau bahkan ada masalah dalam sistem
reproduksi klien. Data pendukung: Hasil pemeriksaan system
reproduksi, payudara, rektal
10. Pola toleransi coping- stress
Klien apakah mengeluhkan mengenai keadaan psikologisnya mulai dari
adakah stressor yang membuat klien merasa maladaptif pada keadaanya.
Data pendukung: pemeriksaan umum
11. Pola tata nilai dan kepercayaan
Kaji latar belakang mulai dari suku dan budaya apa yang biasa dilakukan
serta keyakinan agama yang dianut oleh klien. Data pendukung:
pemeriksaan umum

E. Pemeriksaan penunjang
a. Urinalisa
1) Warna kuning, coklat atau gelap.
2) pH lebih dari 7,6 biasanya ditemukan kuman area splitting, organisme
dapat berbentuk batu magnesium amonium phosphat, pH yang rendah
menyebabkan pengendapan batu asam urat.
3) Sedimen : sel darah meningkat (90 %), ditemukan pada penderita dengan
batu, bila terjadi infeksi maka sel darah putih akan meningkat.
4) Biakan Urin : Untuk mengetahui adanya bakteri yang berkontribusi
dalam proses pembentukan batu saluran kemih.
5) Ekskresi kalsium, fosfat, asam urat dalam 24 jam untuk melihat apakah
terjadi hiperekskresi.
b. Darah
1) Hb akan terjadi anemia pada gangguan fungsi ginjal kronis.
2) Lekosit terjadi karena infeksi.
13

3) Ureum kreatinin untuk melihat fungsi ginjal.


4) Kalsium, fosfat dan asam urat.
c. Radiologis
1) Foto BNO/IVP untuk melihat posisi batu, besar batu, apakah terjadi
bendungan atau tidak.
2) Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP tidak dapat dilakukan, pada
keadaan ini dapat dilakukan retrogad pielografi atau dilanjutkan
dengan antegrad pielografi tidak memberikan informasi yang memadai.
3) PV (Pem Postvoid) : mengetahui pengosongan kandung kemih
4) Sistokopi : Untuk menegakkan diagnosis batu kandung kencing.
d. Foto KUB
Menunjukkan ukuran ginjal ureter dan ureter, menunjukan adanya batu.
e. Endoskopi ginjal
Menentukan pelvis ginjal, mengeluarkan batu yang kecil.
f. EKG
Menunjukan ketidak seimbangan cairan, asam basa dan elektrolit.
g. Foto Rontgen
Menunjukan adanya di dalam kandung kemih yang abnormal.
h. IVP ( intra venous pylografi )
Menunjukan perlambatan pengosongan kandung kemih,membedakan
derajat obstruksi kandung kemih divertikuli kandung kemih dan penebalan
abnormal otot kandung kemih.
i. Vesikolitektomi ( sectio alta )
Mengangkat batu vesika urinari atau kandung kemih.
j. Litotripsi bergelombang kejut ekstra korporeal.
Prosedur menghancurkan batu ginjal dengan gelombang kejut.
k. Pielogram retrograd
l. USG (Ultra Sono Grafi)
Untuk mengetahui sejauh mana terjadi kerusakan pada jaringan ginjal.
Menunjukan abnormalitas pelvis saluran ureter dan kandung kemih.
Diagnosis ditegakan dengan studi ginjal, ureter, kandung kemih, urografi
14

intravena atau pielografi retrograde. Uji kimia darah dengan urine dalam 24
jam untuk mengukur kalsium, asam urat, kreatinin, natrium, dan volume
total merupakan upaya dari diagnostik. Riwayat diet dan medikasi serta
adanya riwayat batu ginjal, ureter, dan kandung kemih dalam keluarga di
dapatkan untuk mengidentifikasi faktor yang mencetuskan terbentuknya
batu kandung kemih pada klien ke getah bening dengan biaya ringan.

2.2 Diagnosa Keperawatan


1. Retensi urin b.d penyumbatan batu pada ginjal d.d urin berdarah saat
berkemih.
2. Nyeri b.d ketidaklancaran saat berkemih d.d nyeri pinggang.
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake cairan
yang tidak terpenuhi d.d mual muntah yang berlebihan.
15

2.3 Pathway Vesicothialisis


Penyebab Infeksi :
1. Proteus Sp
2. E.coli
3. Psudomonas
kliestiella

Kelainan Organik : Kelainan Metabolik :


1. BPH 1. Hiperkalsiuria
2. Striktur uretra 2. Hiperokalsiuria

Vesikolithiasis

Obstruksi

Retensi Urin Ginjal

Tekanan Blas Hidroureter dan hedronefrosis

Iritasi pada Blas GFR

Nyeri Sekresi protein terganggu

Resio Infeksi Gangguan keseimbangan asam dan basa

Produksi asam meningkat


Resti
septikimia Mual dan muntah

pengelolaan Ketidakseimbangan
nutrisi: kurang dari
kebutuhan tubuh
Sinar laser pembedahan

1. Pre op
2. Intra op
3. Post op
4.
16

2.4 Intervensi Keperawatan


No Diagnosa Tujuan & Kriteria Intervensi
Keperawatan Hasil
1. Domain 3: Eliminasi Eliminasi Urin (0503) Perawatan Retensi
dan Pertukaran Tujuan: Urin (0620)
Kelas 1: Fungsi Tidak ada lagi darah 1. Melakukan
Urinarius dalam urin pengkajian
Retensi urin b.d Kriteria Hasil: komprehensif
penyumbatan batu pada 1. Dapat mengatur sistem
ginjal d.d urin berdarah pola eliminasi perkemihan
saat berkemih. 2. Mampu fokus terhadap
mengosongkan inkontinensia
kemih (misalnya
sepenuhnya output urin,
3. Mampu pola berkemih,
mengenali warna fungsi
urine normal kognitif,
4. Mampu masalah
melaporkan perkemihan
bahwa darah yang sebelumnya)
terlihat dalam 2. Memonitor
urine berkurang. efek dari obat-
obat yang
diresepkan
3. Memberikan
waktu yang
cukup untuk
pengosongan
kandung
kemih (10
menit)
17

4. Melakukan
pemasangan
kateter
sementara,
sesuai dengan
kebutuhan.

2. Domain 12: Pengetahuan: Manajemen Nyeri


Kenyamanan Managemen Nyeri (1400)
Kelas 1: Kenyamanan (1843). 1. Pastikan perawatan
Fisik Tujuan: analgesik bagi
Nyeri akut bd Nyeri pada klien dapat pasien dilakukan
ketidaklancaran saat berkurang atau hilang dengan
berkemih d.d nyeri Kriteria Hasil: pemantauan yang
pinggang. 1. Mampu mengontrol ketat
nyeri, dan mencari 2. Pilih dan
bantuan untuk implementasikan
mengatasi nyerinya tindakan yang
2. Melaporkan bahwa beragam
nyeri berkurang (farmakologi,
dengan nonfarmakologi,
menggunakan interpersonal)
manajemen nyeri untuk
3. Mampu mengenali memfasilitasi
nyeri (skala, penurunan nyeri
intensitas, frekuensi sesuai dengan
dan tanda-tanda kebutuhan
nyeri) 3. Dorong pasien
4. Menyatakan rasa untuk memonitor
nyaman setelah nyeri nyeri dan
berkurang menangani
18

nyerinya dengan
tepat
4. Dukung
istirahat/tidur yang
adekuat untuk
membantu
penurunan nyeri
3. Domain 2: Nutrisi, Status Nutrisi (1004) Managemen Nutrisi
Kelas 1. Makan. Tujuan: (1100)
Mempertahankan 1. Kolaborasi
Ketidakseimbangan kebutuhan nutrisi yang dengan ahli gizi
nutrisi kurang dari adekuat untuk
kebutuhan tubuh b.d menentukan
intake cairan yang tidak Kriteria hasil: jumlah kalori dan
terpenuhi d.d mual 1. Mampu nutrisi yang
muntahyang berlebihan. mengidentifikasi dibutuhkan
nutrisi 2. Berikan makanan
2. Tidak adanya tanda yang terpilih
tanda malnutrisi 3. Berikan informasi
3. Tidak terjadi tentang
penurunan berat kebutuhan nutrisi
badan yang berarti

2.5 Evaluasi
Hasil akhir yang diharapkan untuk pasien yaitu:
a. Pasien dapat kembali BAK secara normal

b. Pasien tidak merasakan nyeri pada daerah yang nyeri

c. Pasien dapat makan kembali secara normal tanpa mual dan muntah
19

BAB 3. ASUHAN KEPERAWATAN BERDASARKAN KASUS

3.1 Pengkajian Keperawatan


1. Identitas
a. Identitas Klien
Nama : Tn. A
Usia : 50 tahun
Status Perkawinan : Menikah
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Suku : Jawa
Bahasa yang digunakan : Bahasa Indonesia
Alamat rumah : Solo, Jawa Tengah
Sumber biaya : BPJS
Tanggal masuk RS : 6 Maret 2017
Diagnosa Medis : Vesikothialisis
a. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Ny. I
Hubungan dengan klien : Istri
2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
1) Keluhan utama saat masuk rumah sakit
Klien datang kerumah sakit pada tanggal 6 Maret 2017 dengan keluhan yang
dirasakan klien adalah nyeri dan berdarah saat berkemih.
b.Riwayat Penyakit Sekarang
Keluhan utama yang sering terjadi pada pasien dengan batu kandung kemih adalah
nyeri pada kandung kemih dan menjalar ke penis, berat ringannya tergantung pada
lokasi dan besarnya batu, dapat terjadi nyeri/kolik renal. Klien juga dapat
mengalami gangguan gastrointestinal dan perubahan dalam eliminasi urine dengan
merasakan nyeri saat berkemih dan sulit untuk mengeluaran urine.
20

c.Riwayat Kesehatan Saat Pengkajian


1) Keluhan utama: BAK berwarna merah
2) Keluhan penyerta: Saat BAK nyeri pinggang
d. Riwayat Kesehatan Lalu
1. Riwayat sakit dengan keluhan yang sama disangkal

2. Riwayat sakit jantung disangkal.

3. Riwayat sakit hipertensi disangkal.

4. Riwayat penyakit ginjal disangkal.

5. Riwayat infeksi saluran kemih disangkal.

6. Riwayat operasi disangkal.

e. Riwayat Kesehatan Keluarga


Tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang sama dan riwayat penyakit darah
tinggi, penyakit ginjal, penyakit batu saluran kemih, diabetes melitus, dan
keganasan.
f. Riwayat Psikososial-Spiritual
1) Psikologi :Klien berkeinginan untuk lekas sembuh dari sakit yang dialami
2) Spiritual : Ibadah yang dilakukan klien saat belum masuk rumah sakit dapat
Melaksanakan sholat 5 waktu. Pada saat dirumah sakit klien mengantakan sulit
untuk melakukan ibadah.
3. Lingkungan
Klien tinggal di lingkungan yang bersih dan nyaman di daerah pinggiran kota.
4. Pola Kebiasaan Sehari-hari Sebelum dan Saat Sakit
a. Pola Nutrisi dan Cairan
1. Sebelum sakit klien mampu makan dengan baik dan teratur yaitu 3x sehari.
2. Setelah masuk rumah sakit pasien mengeluhkan kesulitan makan.
b. Pola Cairan
1. Sebelum sakit klien mampu memenuhi kebutuhan cairannya 7-8 gelas/hari.
2. Setelah masuk rumah sakit kebutuhan hanya terpenuhi 3-5 gelas/hari.
c. Pola Eliminasi
21

1) BAK
a) Sebelum sakit keluarga menyatakan BAK ± 5x/hari dengan warna urine
kuning jernih, dan bau khas dari urin.
b) Saat sakit keluarga mengatakan klien BAK ± 4-5x/hari : ±550cc/BAK, total
BAK ±2.200cc/hari.
2) BAB
a) Sebelum sakit klien BAB ±1x/hari secara rutin.
b) Selama sakit keluarga mengatakan klien BAB 1x dalam 2 hari
Balance cairan :
Total input : 2.877 cc/hari
Total output : 2.200 cc/hari
IWL : BB X 10
: 55kg x 10 = 550cc/hari
Rumus balance cairan : input – (output + IWL)
: 2.877 – (2200 + 550)
: ± 1277 cc
d. Pola Personal Hygine
1) Mandi
a) Sebelum sakit klien mandi secara rutin 2x sehari
b) Saat sakit klien membersihkan diri dengan di lap oleh keluarganya 2x
sehari.
2) Oral hygien
a) Sebelum sakit kelurga menyatakan bahwa klien rajin merawat gigi dengan
memebersihkan dan menyikat gigi baik setelah makan dan saat mandi.
b) Saat sakit keluarga menyatakan bahwa memebersihkan gigi klien 1x/hari
saat pagi hari.
e. Pola istirahat dan tidur
1) Keluarga mengatakan sebelum sakit klien memiliki jam tidur yang baik dan
kurang lebih waktu yang dibutuhkan untuk tidur sehari 6-8 jam.
2) Saat sakit keluarga mengatakan klien sulit tidur dan terbangun di malam hari
untuk berkemih kurang lebih waktu tidur 3-4 jam.
22

f. Pola istirahat dan latihan


1) Sebelum sakit keluarga mengatakan memenuhi rutinitas sehari-hari dari jam
07.00-17.00 WIB.
2) Setelah sakit klien tidak melakukan aktifitas yang rutin dan melakukan
kegiatannya dibantu oleh pefrawat dan keluargayang menjaga.
g. Pola kebiasaan yang mempengaruhi aktivitas
klien suka mengkonsumsi minuman bersoda dengan alasan minuman bersoda
menyegarkan.
5. Pemeriksaan Fisik
A. Keadaan Umum : Sedang.

B. Kesadaran : Compos mentis.

C. Vital sign : T : 130/80 mmHg R : 20 x/menit N : 84 x/menit S : 36,5 °C

D. Status Umum

1. Kepala : Simetris, mesocephal, rambut tidak mudah dicabut.

2. Mata : Pupil bulat isokor (+/+), refleks cahaya (+/+), eksoftalmus tak ada,
konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik.

3. Hidung : Tidak ada discharge, tidak ada deviasi septum nasi, tidak ada napas
cuping hidung.

4. Telinga : Simetris, tidak ada kelainan.

5. Mulut/Gigi : Mukosa tidak anemis, lidah kotor (-), gigi palsu (+), tonsil dalam
batas normal.

6. Leher : Trakhea di tengah, limfonodi tidak membesar, kelenjar tiroid tidak


membesar, tekanan vena jugularis tidak meningkat.

7. Thorax

Paru-paru

Inspeksi : Dinding dada simetris kanan-kiri, retraksi tak ada, ketinggalan gerak
tidak ada.
23

Palpasi : Vokal fremitus kanan sama dengan kiri.

Perkusi : Paru-paru sonor, batas paru hepar di SIC VI dekstra.

Auskultasi : Suara napas vesikuler di seluruh lapang paru, tidak ada suara
tambahan.

Jantung

Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak.

Palpasi : Iktus cordis tidak teraba.

Perkusi : Batas jantung :

Batas kanan atas SIC II LPSD

Batas kanan bawah SIC IV LPSD

Batas kiri atas SIC II LPSS

Batas kiri bawah SIC VI 2 jari lateral LMCS

Auskultasi : BJ1 > BJ2, reguler, murmur (-), gallop (-).

8. Abdomen

Inspeksi : Datar
Auskultasi : Bising usus (+) normal.

Palpasi : Supel, kembung (-), defense muscular (-), nyeri tekan (+) di suprapubik

Hepar/Lien : Tak teraba.

Perkusi : Timpani di seluruh lapang abdomen, asites (-), NKCV (+/-)

6. Pemeriksaan Penunjang
 Hemoglobin : L 10.5 g/dL
 Leukosit : 10090 /uL
 Hematokrit : L 32 %
 Eritrosit : L 3.9 10^6/uL
 Hitung jenis :
24

Basofil : 0.2 %

Eosinofil : L 1,9 %

Batang : L 0.00 %

Segemen : H 81.0 %

Limfosit : L 16.7%

Monosit : 7.9 %

 Ureum darah H 70,8 mg/dL


 Kreatinin darah 1,21 mg/dL
 Produksi urine : < 500-1000 ml
 Produksi urine : < 500-1000 ml
 Warna kuning, coklat atau gelap.
 pH >7,6
 Sedimen : sel darah meningkat (90 %)
 Biakan Urin : ada bakteri yang berkontribusi dalam proses pembentukan
batu saluran kemih.
7. Penatalaksanaan
A. Terapi Konservatif

Indikasi terapi konservatif :

 Batu Asimptomatik, tanpa obstruksi dan tanpa infeksi


 Diameter < 4 mm
 Tujuannya untuk mengurangi nyeri, memperlancar aliran urin dengan
pemberian diuretikum, dan minum banyak supaya dapat mendorong batu
keluar

1. Minum yang banyak sehingga diuresis 2 L/hari

2. Inj cefotaxime 2x1 gr

B. Terapi Operati
25

A.1. EHL (Elektrohidrolik)

- Merupakan salah satu sumber energi yang cukup kuat untuk menghancurkan batu
kandung kemih

- Tidak dianjurkan pada batu yang keras dan besar

A.2. Litotripsi

- Cukup aman digunakan pada batu kandung kemih

- Batu buli-buli dengan ukuran <2,5 cm

A.3. Vesikolitotomi

- Batu buli-buli yang berukuran lebih dari 2,5 cm pada orang dewasa dan
semua ukuran pada anak-anak

- Batu buli-buli yang tidak dapat dipecahkan dengan lithotriptor

- Batu buli-buli multiple

A.4. ESWL

- Batu dengan diameter 5-20 mm

- Fungsi ginjal masih baik

- Umumnya dilakukan lebih dari satu kali untuk batu kandung kemih

C. Edukasi

1. Banyak minum air putih lebih dari 8 gelas ukuran sedang per hari.

2. Hindari kebiasaan menahan buang air kecil, buang air kecil normalnya setiap 4
jam atau 6 kali per hari.

3. Kurangi konsumsi teh dan kopi.

4. Aktivitas yang cukup dan olahraga teratur.


26

3.2 Analisa Data


Hari/
Data Etiologi Masalah Paraf
Tanggal
Selasa / DS : Sering berkemih Domain 3. Eliminasi Riz
06 Maret a. BAK ↑ dan pertukaran
Ns R.
2016 berwarna Sering berkemih Kelas 2. Fungsi
merah tekanan ureter urinarius
b. Saat BAK tinggi
nyeri ↑ Retensi urin (00023)
pinggang Berkemih Sedikit

DO :
Sumbatan
Segmen H 81.0 %
Saluran
Perkemihan

Selasa / DS : Nyeri Akut Domain 12. Riz


06 Maret a. Saat BAK ↑ Kenyamanan
Ns R.
2016 nyeri Nyeri pinggang Kelas 1.
pinggang ↑ Kenyamanan Fisik
b. Sering Berdarah saat
bangun berkemih Nyeri Akut (00132)
malam hari
27

Selasa / DS : Ketidakseimbang Domain 2. Nutrisi Riz


06 Maret a. Klien mengeluh an nutrisi : Kelas 1. Makan
Ns R.
2016 susah makan kurang dari
saat di rumah kebutuhan tubuh Ketidakseimbanga
sakit. ↑ nutrisi : kurang dari
Mual muntah kebutuhan tubuh
DO :
↑ (00002)
a. klien
Nyeri abdomen
mengalami
mual muntah

1.3 Diagnosa Keperawatan


1.) Retensi urin b.d sumbatan saluran perkemihan d.d BAK berwarna merah
Saat BAK nyeri pinggang, dan segmen 81,0%.
2.) Nyeri akut b.d nyeri pinggang d.d Saat BAK nyeri pinggang dan sering
bangun tidur.
3.) Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d Klien
mengeluh susah makan saat di rumah sakit, klien mengalami mual muntah
28

1.4 Intervensi Keperawatan

Paraf
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi &
Nama
1. Domain 3. Eliminasi dan Tujuan:
Manajemen cairan (4120)
Riz
pertukaran Setelah dilakuakan perawatan selama
1. Jaga intae/asupan yang akurat dan catat Ns R.
Kelas 2. Fungsi urinarius 1 x 24 jam pernafasan pasien optimal
dan bersihan jalan nafas tidak
output
Riz
2. Timbang berat badan setiap hari dan monitor
Retensi urin (00023) terganggu
status pasien. Ns R.

KH:
3. Masukkan kateter urin Riz
4. Monitor status hidrasi
Eliminasi urin (0503) Ns R.
5. Monitor hasil laboratorium yang relevan
1. Pola eliminasi dipertahankan pada
dengan retensi cairan. Riz
skala 5
2. Jumlah urin dipertahankan pada Ns R.

skala 5 Riz
3. Intake cairan dipertahankan pada
Ns R.
skala 5
29

2. Domain 12. Kenyamanan Tujuan: Manajemen Nyeri (1400) Riz


Kelas 1. Kenyamanan Setelah dilakuakan perawatan selama 1. Lakukan pengkajian nyeri secara
Fisik 1 x 24 jam skala nyeri pasien menurun komprehensif yang meliputi lokasi, Ns R.
dan pasien menjadi nyaman. karakteristik, onset/durasi, dan frekuensi. Riz
Nyeri Akut (00132) 2. Observasi adanya petunjuk nonverbal
Ns R.
KH: mengenai ketidaknyamanan terutama pada
Kontrol nyeri (1605) klien yang tidak dapat berkomunikasi secara
Riz
1. Mengenali kapan nyeri terjadi ke efektif Ns R.
skala 5 3. Gunakan tindakan pengontrol nyeri sebelum
Riz
2. Menggambarkan faktor penyebab nyeri bertambah
ke skala 5 4. Dukung istirahat/tidur yang adekuat untuk Ns R.
3. Melaporkan nyeri yang terkontrol membantu penurunan nyeri. Riz
ke skala 5 5. Libatkan keluarga dalam modalitas
Ns R.
penurunan nyeri jika memungkinkan.
.

3 Domain 2. Nutrisi Tujuan: Manajemen gangguan makan (1030) Riz


Kelas 1. Makan 1. Kolaborasi dengan tim kesehatan yang
lain untuk mengembangkan rencana Ns R.
30

Ketidakseimbanga nutrisi : Setelah dilakuakan perawatan selama perawatan dengan melibatkan klien Riz
kurang dari kebutuhan 1 x 24 jam skala nyeri pasien menurun dengan orang-orang terdekatnya dengan
Ns R.
tubuh (00002) dan pasien menjadi nyaman. tepat.
2. Monitor asupan kalori makanan harian Riz
KH: 3. Sediakan program latihan dibawah
Ns R.
Status nutrisi : asupan makanan observasi yang diperlukan
dan cairan (1008) 4. Timbang beratbadan klien secara rutin
Riz
5. Bangun program perawatan dan follow Ns R.
1. Asupan makanan secara oral pada up.
Riz
skala 5
2. Asupan secara intravena pada skala Ns R.

5
31

3.5 Implementasi Keperawatan


Paraf
Evaluasi
No Hari/Tanggal/Jam Diagnosa Keperawatan Implementasi &
Formatif
Nama
1. 1Selasa / 06 Maret Retensi urin Monitor status hidrasi Klien bersedia dan kooperatif
Riz
.2016/ 08.30 WIB
Ns R.

2. Selasa / 06 Maret Manajemen Nyeri Melakukan pengkajian nyeri Klien bersedia dan kooperatif Riz
2016/ 08.45 WIB secara komprehensif yang meliputi
Ns R.
lokasi, karakteristik, onset/durasi,
dan frekuensi.

3. Selasa / 06 Maret Manajemen Nyeri Observasi adanya petunjuk Klien berusaha menjelaskan Riz
2016/ 08.45 WIB nonverbal mengenai dengan mengerang
Ns R.
ketidaknyamanan terutama pada
klien yang tidak dapat
berkomunikasi secara efektif
32

4. 2Selasa / 06 Februari Manajemen Nyeri Gunakan tindakan pengontrol Klien bersedia dan kooperatif Riz
.2016/ 08.50 WIB nyeri sebelum nyeri bertambah
Ns R.

5. 3Selasa / 06 Maret Ketidakseimbanga nutrisi : Berkolaborasi dengan tim Klien kooperatif. Riz
.2016/ 09.00 WIB kurang dari kebutuhan kesehatan yang lain untuk
Ns R.
tubuh mengembangkan rencana
perawatan dengan melibatkan
klien dengan orang-orang
terdekatnya dengan tepat
6. 4Selasa / 06 Maret Retensi urin Menjaga intake/asupan yang Klien kooperatif. Riz
.2016/ 09.10 WIB akurat dan catat output
Ns R.

7. 5Selasa / 06 Maret Memeriksa TD Klien Klien bersedia dan Riz


.2016/ 12.55 WIB kooperatif.
Ns R.
33

8. 6Selasa / 06 Maret Ketidakseimbanga nutrisi : Monitor asupan kalori makanan Klien bersedia dan kooperatif Riz
.2016/ 13.00 WIB kurang dari kebutuhan harian
Ns R.
tubuh
34

3.6 Evaluasi Keperawatan


Evaluasi Paraf
Diagnosa
No Hari/Tanggal/Jam Sumatif &
Keperawatan
(SOAP) Nama
1. Selasa / 06 Maret Retensi Urin S : Klien Riz
2016/ 13.15 mengatakan
Ns R.
“dapat kencing
normal lagi”
O : klien dapat
kencing dengan
normal kembali
A : Masalah
retensi urin
dapat teratasi
sebagian
P : Lanjutkan
intervensi
2. Selasa / 06 Maret Nyeri Akut S : Klien Riz
2016/ 13.20 mengatakan
Ns R.
“nyeri sudah
sedikit
berkurang”
O : Klien
meringis
A : Masalah
belum teratasi
P : Lanjutkan
intervensi
35

3. Selasa / 2 Ketidakseimbanga S : Klien Riz


November 2004 / nutrisi : kurang mengatakan
Ns R.
12.45 dari kebutuhan “ nafsu
tubuh makanku
bertambah
karena ini
makanan
favoritku”
O : Makanan
habis 1 porsi
A : Masalah
teratasi
P:-
36

BAB 4.PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah di atas adalah:
1. Vesikolitialisis adalah batu yang ada di vesika urinaria ketika terdapat
defisiensi substansi tertentu, seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan
asam urat meningkat atau ketika terdapat defisiensi subtansi tertentu, seperti
sitrat yang secara normal mencegah terjadinya kristalisasi dalam urin.
2. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan batu kandung kemih
adalah faktor endogen yang meliputi faktor genetik, familial, hiperkalsiuria,
hipositraturia, hiperurikosuria, dan hiperoksalouria. Faktor ekstrogen
meliputi faktor lingkungan, pekerjaan (sopir) , makanan, infeksi bakteri
(kurang personal hygine) dan kejenuhan mineral dalam air minum.
3. Gejala yang timbul adalah nyeri tekan, buang air kecil kurang lancar, koliks,
adanya pembesaran prostat, demam dan timbul rasa terbakar setelah buang
air kecil.
4. Penatalaksaan dari vesikolitialisis adalah uretroskopi, terapi nutrisi dan
medikasi, penanganan nyeri, Transurethral Cystolitholapaxy: tehnik ini
dilakukan setelah adanya batu, Percutaneus Suprapubic cystolithopaxy, dan
Suprapubic Cystostomy: tehnik ini digunakan untuk memindah batu.

4.2 Saran
4.2.1 Saran bagi Pembaca

Pembaca diharapkan dapat menelaah dan memahami serta menanggapi apa


yang telah penulis susun untuk kemajuan penulisan makalah selanjutnya.
4.2.2 Saran bagi Mahasiswa Keperawatan
Mahasiswa keperawatan diharapkan terus menggali mengenai pengetahuan
akan asuhan keperawatan pada Vesikolitialisis dengan tujuan saat sudah terjun di
lapangan dapat mengatasi masalah klien secara holistik.
37

4.2.3 Saran bagi Perawat


Perawat diharapkan dapat bertindak secara profesional dalam memberikan
asuhan keperawatan pada pasien Vesikolitialisis dengan mampu mengkaji masalah
dengan akurat sehingga dapat merumuskan diagnosa yang tepat sekaligus dapat
membuat intervensi secara tepat untuk pasien, melaksanakan implementasi secara
tepat pada evaluasi dapat diperoleh hasil yang diharapkan dan sesuai dengan tujuan
sehingga maslah dapat teratasi.
38

DAFTAR PUSTAKA

Al Khairid, Hariz. 2015.


[diakses melalui https://dokumen.tips/documents/presentasi-kasus-
vesikolithiasis.html tanggal 7 April 2018]
Anna,R. 2013. Vesikolitiasis.
https://plus.google.com/101630335918661342394/posts/8ux14DE86eu
(diakses pada tanggal 07 April 2018)
Bulecheck,Gloria. Howard buther, Joanne Doatcherman and Cheryl
Wagner. 2016. Nursing Interventions Clasification (NIC).
Singapore:Elsevier
Herdman, T.Heather. 2015. NANDA International Inc.Diagnosa
Keperawatan:Definisi dan Klasifikasi 2015-2017,Ed.10. Jakarta:Penerbit
Buku Kedokteran EGC
Moorhead, Sue. Marion Johnson, Meridean L maas, Elizabeth Swanson. 2016.
Nursing Outcome Classification (NOC). Singapore:Elsevier
Munandar Andi, Arief. [Diakses melalui
https://www.scribd.com/document/210640789/VESIKOLITIASIS-FIX-
pdf pada tanggal 7 April 2018]
39
40
41