Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

JENIS-JENISNALAT PENILAIAN,
TAHAPAN PEMBUATAN dan
PENGGUNAAN TES TERTULIS
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Proses terakhir dalam kegiatan pembelajaran adalah penilaian atau evaluasi. Evaluasi
adalah kegiatan penilaian dan pengukuran yang berupa kegiatan mengumpulkan dan
mengolah informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut
digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil suatu keputusan untuk
langkah berikutnya.

Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mempunyai tujuan, tujuan tersebut
dinyatakan dalam rumusan kemampuan atau perilaku yang diharapkan dimiliki siswa setelah
menyelesaikan kegiatan belajar. Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran serta
kualitas proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan, perlu dilakukan suatu usaha
penilaian atau evaluasi terhadap hasil belajar siswa. Kegunaan evaluasi dalam proses
pendidikan adalah untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah menguasai tujuan pelajaran
yang telah ditetapkan, juga dapat mengetahui bagian-bagian mana dari program pengajaran
yang masih lemah dan perlu diperbaiki. Salah satu cara yang digunakan dalam evaluasi
diantaranya dengan menggunakan alat penilaian, tahapan pembuatan, dan penggunaan tes
tertulis.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:
1. Apa saja jenis-jenis alat penilaian ?
2. Bagaimana ciri-ciri alat penilaian yang baik?
3. Bagaimana langkah – langkah tahapan pembuatannya?
4. Apa pengertian tes tertulis?
5. Apa kelebihan dan kekurangan tes tertulis?

1
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari isi makalah yang dibahas adalah:
1. Mengetahui jenis-jenis alat penilaian
2. Mengetahui ciri-ciri alat penilaian yang baik
3. Mengetahui bagaimana langkah – langkah tahapan pembuatannya
4. Mengetahui apa pengertian tes tertulis
5. Mengetahui kelebihan dan kekurangan tes tertulis

1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang diambil dari pembahasan “jenis-jenis alat penilaian, tahapan
pembuatan dan penggunaan tes tertulis” adalah menambah wawasan pengetahuan tentang
evaluasi pendidikan dan pelatihan sehingga dapat diaplikasikan dalam dunia pendidikan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 JENIS – JENIS PENILAIAN

Dari segi alatnya, penilaian hasil belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu teknik tes
dan teknik bukan tes (nontes). Berikut ini, merupakan penjelasannya:

1. Teknik Tes

Tes ini ada yang diberikan secara lisan (menuntut jawaban secara lisan), ada tes tulisan
(menuntut jawaban secara tulisan), dan ada tes tindakan (menuntut jawaban dalam bentuk
perbuatan). Soal-soal tes ada yang disusun dalam bentuk objektif, ada juga yang dalam
bentuk esai atau uraian.

Tes adalah suatu alat pengumpul data yang bersifat resmi karena penuh dengan batasan-
batasan. Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa,
terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran sesuai dengan
tujuan pendidikan dan pengajaran. Namun tes juga dapat digunakan untuk menilai hasil
belajar bidang afektif dan psikomotoris.

Ada dua jenis tes yang akan dibahas, yakni tes uraian atau tes essai dan tes objektif. Tes
uraian terdiri dari uraian bebas, uraian terbatas dan uraian berstruktur. Sedangkan tes objektif
terdiri dari beberapa bentuk, yakni bentuk pilihan benar-salah, pilihan berganda dengan
berbagai variasinya, menjodohkan, dan isian pendek atau melengkapi.

a. Tes uraian (tes subjektif)

Secara umum, tes uraian adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawabnya dalam
bentuk menguraikan, menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan alasan, dan
bentuk lain yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata
dan bahasa sendiri.

3
Bentuk tes uraian dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1) Uraian bebas (free essay)

Dalam uraian bebas jawaban siswa tidak dibatasi, bergantung pada pandangan siswa itu
sendiri karena pertanyaannya bersifat umum.

Kelemahan tes ini ialah guru sukar menilainya karena jawaban siswa bervariasi, sulit
menentukan kriteria penilaian, sangat subjektif karena tergantung pada gurunya sebagai
penilai.

2) Uraian terbatas

Dalam bentuk ini pertanyaan telah diarahkan kepada hal-hal tertentu atau ada
pembatasan tertentu. Pertanyaan sudah lebih spesifik pada objek tertentu.

3) Uraian berstruktur

Uraian berstruktur merupakan soal yang jawabannya berangkai antara soal pertama
dengan soal berikutnya, sehinga jawaban di soal pertama akan mempengaruhi benar-salahnya
jawaban di soal berikutnya. Data yang diajukan biasanya dalam bentuk angka, tabel, grafik,
gambar, bagan, kasus, bacaan tertentu, diagram, dan lain-lain.

b. Tes Objektif

Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Dalam
penggunaan tes objektif jumlah soal yang diajukan jauh lebih banyak daripada tes essay.

Macam-macam tes objektif:

1) Tes benar-salah (true- false)

2) Tes pilihan ganda (multiple choice test)

3) Tes menjodohkan (matching test)

4) Tes isian (completion test)

4
2. Teknik bukan tes (Non tes)

Hasil belajar dan proses tidak hanya dinilai oleh tes, tetapi juga dapat dinilai oleh alat-
alat non tes atau bukan tes. Penggunaan non tes untuk menilai hasil dan proses belajar masih
sangat terbatas jika dibandingkan dengan penggunaan tes dalam menilai hasil dan proses
belajar. Para guru disekolah pada umumnya lebih banyak menggunakan tes daripada bukan
tes mengingat alatnya mudah dibuat, penggunaannya lebih praktis dan yang dinilai terbatas
pada aspek kognitif berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh siswa setelah menyelesaikan
pengalaman belajarnya. Berikut ini penjelasan dari alat bukan tes atau nontes:

a. Wawancara

Wawancara adalah suatu metode atau cara yang digunakan untuk mendapatkan
jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak. Wawancara dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu wawancara bebas dan wawancara terpimpin.

b. Kuesioner

Kuesioner sering disebut juga angket. Kuesioner adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus
diisi oleh orang yang akan diukur (responden). Kuesioner dapat ditinjau dari beberapa segi:

1) Ditinjau dari segi siapa yang menjawab, maka ada:

a) Kusioner Langsung

b) Kuesioner Tidak Lansung

2) Ditinjau dari segi cara menjawab maka dibedakan atas:

a) Kuesioner Tertutup

b) Kuesioner Terbuka

c. Skala

5
Skala adalah alat untuk mengukur nilai, sikap, minat, dan perhatian yang disusun dalam
bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden dan hasilnya dalam bentuk rentangan nilai
sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Skala dibagi menjadi dua, yaitu:

1) Skala Penilaian

Skala penilaian mengukur penampilan atau perilaku orang lain oleh seseorang melalu
pernyataan perilaku individu pada suatu titik kontinuum atau suatu katagori yang bermakna
nilai.

2) Skala Sikap

Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu. Hasilnya
berupa katagori sikap, yakni mendukung(positif), menolak(negatif), dan netral.

d. Daftar Cocok (Cheklist)

Daftar cocok adalah deretan pernyataan(yang biasanya singkat-singkat) dimana responden


yang dievaluasi tinggal membubuhkan tanda cocok(V) ditempat yang sudah disediakan.

e. Observasi

Observasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara
teliti serta pencatatan secara sistematis. Ada 3 jenis observasi yakni:

1) Observasi Langsung

2) Observasi Dengan Alat (Tidak Langsung)

3) Observasi Partisipasi

f. Sosiometri

Sosiometri adalah untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyesuaikan dirinya,


terutama hubungan sosial siswa dengan teman sekelasnya. Sosiometri dapat dilakukan
dengan cara menugaskan kepada semua siswa dikelas tersebut untuk memilih satu atau dua
temannya yang paling dekat atau paling akrab. Usahakan dalam kesempatan memilih tersebut
agar tidak ada siswa yang berusaha melakukan kompromi untuk saling memilih supaya
pilihan tersebut bersifat netral, tidak diatur sebelumnya. Tuliskan nama pilihan tersebut pada

6
kertas kecil, kemudian digulung dan dikumpulkan oleh guru. Setelah seluruhnya terkumpul,
guru mengolahnya dengan dua cara. Cara pertama melukiskan alur-alur pilihan dari setiap
siswa dalam bentuk sosiogram sehingga terlihat hubungan antar siswa berdasarkan
pilihannya. Cara kedua adalah memberi skor kepada pilihan siswa.

2.2 CIRI – CIRI ALAT PENILAIAN YANG BAIK

1. Sahih (valid/validitas)

Suatu skala atau instrumen penilaian dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi
apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi penilaiannya atau memberikan hasil penilaian
yang sesuai dengan maksud dilakukannya penilaian tersebut, sedangkan tes yang memiliki
validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan penilaian.
Validitas adalah kesahihan pengukuran atau penilaian dalam penelitian. Dalam analisis isi,
validitas dilakukan dengan berbagai cara atau metode sebagai berikut:

a) Pengukuran produktivitas (productivity) yaitu derajat di mana suatu studi menunjukkan


indikator yang tepat yang berhubungan dengan variable

b) Predictive validity yaitu derajat kemampuan penilaian dengan peristiwa yang akan dating

c) Construct validity yaitu derajat kesesuaian teori dan konsep yang dipakai dengan alat
penilaian yang dipakai dalam penelitian tersebut.

2. Konsisten (reliable/reliabilitas)

Hasil pengukuran selalu konsisten bila dilaksanakan pada siswa yang sama dalam
waktu dan kondisi yang berlainan, atau dengan instrument yang paralel pada subjek dan
waktu yang sama, akan memberikan hasil yang tetap, konsisten, “ajeg” selama aspek yang
diukur belum berubah. Reliabilitas sering diterjemahkan dengan keterpercayaan,
keterandalan, keajengan (stability) atau kemantapan (consistency). Pada hakikatnya,
reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya, artinya beberapa kali
seperangkat instrument atau alat penilaian diujikan kepada subjek yang sama dalam kurun
waktu yang berbeda atau instrument yang paralel pada subjek dan waktu yang sama, akan
memberikan hasil yang “tetap”,”ajeg” selama aspek yang diukur belum berubah. “Tetap”

7
mengandung arti kapanpun isnstrumen penilaian tersebut digunakan akan memberikan hasil
yeng relatif sama. Adapun “ajeg” berarti hasil pengukuran saat ini menunjukkan kesamaan
hasil bila diberikan pada waktu berlaianan terhadap siswa yang objektivitas.

Selain valid dan reliable, ada juga yang dilengkapi dengan analisis butir (guna
mengetahui tingkat kesukaran dan indeks diskriminasi setiap butir, khususnya untuk
instrument jenis tes), objektivitas, praktikabilitas, ekonomis, taraf kesukaran, dan daya
pembeda, yaitu sebagai berikut:

a) Objektivitas

Instrumen atau alat penilaian hendaknya terhindar dari pengaruh-pengaruh subjektifitas


pribadi penilai atau evaluator dalam menetapkan hasilnya. Dalam menekan pengaruh
subjektifitas yang tidak bisa dihindari, hendaknya evaluasi atau penilaian dilakukan mengacu
pada pedoman terutama menyangkut masalah kontinuitas dan komprehensif.

Penilaian harus dilakukan secara kontinu (terus-menerus). Dengan penilaian yang berkali-
kali dilakukan maka penilai atau evaluator akan memperoleh gambaran yang lebih jelas
tentang keadaan audience yang dinilai. Penilaian yang diadakan secara on the spot dan hanya
satu atau dua kali, tidak akan dapat memberikan hasil yang objektif tentang keadaan audience
yang di evaluasi. Faktor kebetulan akan sangat mengganggu hasilnya.

b) Praktikabilitas

Sebuah intrumen atau alat penilaian dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi
apabila bersifat praktis mudah pengadministrasiannya dan memiliki ciri mudah dilaksanakan,
tidak menuntut peralatan yang banyak, memberi kebebasan kepada audience mengerjakan
yang dianggap mudah terlebih dahulu, mudah pemeriksaannya artinya dilengkapi pedoman
skoring serta kunci jawaban, dan dilengkapi petunjuk yang jelas sehingga dapat di laksanakan
oleh orang lain.

c) Ekonomis

Pelaksanaan penilaian menggunakan instrumen atau alat penilaian tersebut tidak


membutuhkan biaya yang mahal tenaga yang banyak dan waktu yang lama.

d) Taraf Kesukaran

8
Instrumen yang baik terdiri atas butir-butir instrumen atau alat penilaian yang tidak terlalu
mudah dan tidak terlalu sukar. Butir soal yang terlalu mudah tidak mampu merangsang
audience mempertinggi usaha memecahkannya dan sebaliknya kalau terlalu sukar membuat
audiece putus asa serta tidak memiliki semangat untuk mencoba lagi karena di luar
jangkauannya. Di dalam isitlah evaluasi index kesukaran ini diberi simbol p yang dinyatakan
dengan “Proporsi”.

e) Daya Pembeda

Daya pembeda sebuah instrumen adalah kemampuan instrumen tersebut membedakan


antara audience yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan audience yang tidak pandai
(berkemampuan rendah). Indek daya pembeda ini disingkat dengan D dan dinyatakan
dengan Index Diskriminasi. (Ulianta, Artikel Pendidikan).

9
2.3 LANGKAH – LANGKAH TAHAPAN PEMBUATAN TES

1. Menentukan persiapan dan tujuan mengadakan tes.


2. Pemilihan materi dan pembatasan terhadap bahan yang akan diteskan.
3. Menentukan bentuk dan jenis tes.
4. Merumuskan tujuan instruksional khusus dari tiap bagian bahan.
5. Menderetkan semua tes dalam tabel persiapan yang memuat pula aspek tingkah laku
terkandung dalam tes itu. Tabel ini digunakan untuk mengadakan identifikasi
terhadap tingkah laku yang dikehendaki, agar tidak terlewati.
6. Menyusun tabel spesifikasi yang memuat pokok materi, aspek berpikir yang diukur
beserta imbangan antara kedua hal tersebut. Uraian secara terinci tentang tabel
spesifikasi, akan disajikan pada bab berikutnya.
7. Menentukan jumlah butir tes dan menuliskan butir-butir soal, didasarkan atas tes yang
sudah dituliskan pada tabel dan aspek tingkah laku yang dicakup.
8. Menentukan skor.
9. Membuat kisi-kisi.
10. Menyusun tes berdasarkan kisi-kisi.

Kecenderungan yang ada pada guru-guru beberapa waktu yang lalu, pengukuran ranah
kognitif hanya ditekankan pada 3 aspek yang pertama, yaitu, ingatan, pemahaman, dan
aplikasi. Penyusunan item yang paling mudah dilakukan adalah pengukuran aspek ingatan.
Untuk aspek-aspek lainnya, walaupun dikehendaki dan diusahakan masuk ke dalam kategori
pemahaman dan aplikasi, setelah diperiksa kemungkinan besar juga masih bersifat ingatan.
Itulah sebabnya dalam tulisan ini akan dikemukakan cara-cara item mengenai aspek beserta
contoh-contohnya.

Komponen-komponen tes

Apabila guru sudah bekerja keras sebelum melaksanakan tes, maka pekerjaan sesudahnya
akan menjadi lancar, mudah, dan hasilnya pun lebih baik.

10
Komponen atau kelengkapan sebuah tes terdiri dari atas:

1. Buku tes, yakni lembaran atau buku yang memuat butir-butir soal yang harus
dikerjakan oleh siswa.
2. Lembar jawaban, yaitu lembaran yang sediakan oleh penilaian bagi testee untuk
mengerjakan tes. Untuk soal bentuk pilihan ganda biasanya dibuatkan lembaran
nomor dan hurf a, b, c, d, menurut banyaknya alternatif yanmg disediakan.
3. Kunci jawaban tes berisi jawaban-jawaban yang dikehendaki. Kunci jawaban ini
dapat berupa huruf-huruf yang dikehendaki atau kata/kalimat. Umtuk tes bentuk
uraian yang dituliskan adalah kata-kata kunci ataupun kalimat singkat untuk
memberikan ancar-ancar jawaban.

11
2.4 TES TERTULIS
Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. Tes Tertulis merupakan tes
dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Dalam
menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi
dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar dan lain
sebagainya.
Ada dua bentuk soal tes tertulis, yaitu:
a. Soal dengan memilih jawaban
 Pilihan Ganda (multiple choice test)
Multiple choice test terdiri atas suatu keterangan atau pemberitahuan tentang suatu
pengertian yang belum lengkap. Dan untuk melengkapinya harus memilih satu dari beberapa
kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Atau Multiple choice test terdiri atas bagian
keterangan (stem) dan bagian kemungkinan jawaban atau alternatif (option). Kemungkinan
jawaban (option) terdiri atas satu jawaban benar yaitu kunci jawaban dan beberapa pengecoh.
 Dua Pilihan (benar-salah, ya-tidak)
Tes benar-salah (true-false). Soal-soalnya berupa pernyataan-pernyataan (statement).
Statement tersebut ada yang benar dan ada yang salah. Orang yang ditanya bertugas untuk
menandai masing-masing pernyataan itu dengan melingkari huruf B jika pernyataan itu betul
menurut pendapatnya dan melingkari huruf S jika pernyataannya salah.
 Menjodohkan (matching test)
Matching test dapat kita ganti dengan istilah mempertandingkan, mencocokkan,
memasangkan, atau menjodohkan. Matching test terdiri atas satu seri pertanyaan dan satu seri
jawaban. Masing-masing pertanyaan mempunyai jawaban yang tercantum dalam seri
jawaban. Tugas murid ialah mencari dan menempatkan jawaban-jawaban sehingga sesuai
atau cocok dengan pertanyaannya.
b. Soal dengan Mensuplai-Jawaban.
 Isian atau Melengkapi (Completion test)

12
Completion test biasa kita sebut dengan istilah tes isian, tes menyempurnakan, atau tes
melengkapi. Completion test terdiri atas kalimat-kalimat yang ada bagian-bagiannya yang
dihilangkan. Bagian yang dihilangkan atau yang harus diisi oleh murid ini adalah merupakan
pengertian yang kita minta dari murid.

 Soal Uraian
Pengertian tes uraian adalah butiran soal yang mengandung pertanyaan atau tugas
yang jawaban atau pengerjaan soal tersebut harus dilakukan dengan cara mengekspresikan
pikiran peserta tes secara naratif. Cirri khas tes uraian ialah jawaban terhadap soal tersebut
tidak disediakan oleh orang yang mengkontruksi butir soal, tetapi dipasok oleh peserta tes.
Peserta tes bebas untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Setiap peserta tes dapat
memilih, menghubungkan, dan atau menyampaikan gagasan dengan menggunakan kata-
katanya sendiri.

13
2.5 KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TES TERTULIS

Kelebihan Tes tertulis


1) Dapat mengukur kemampuan sejumlah siswa dalam tempat yang terpisah dan dalam
waktu yang sama.

2) Dalam tes tulis, peserta didik relatif memiliki kebebasan untuk menjawab soal, Sehingga
secara psikologi peserta didik lebih bebas dan tidak terikat.

3) Pada tes tertulis, karena soalnya sama maka obyektifitas hasil penilaian lebih dapat
dipertanggung jawabkan dari pada tes lisan ataupun tes tindakan.

Kekurangan Tes Tulis


1) Belum tentu cocok mengukur psikomotorik dan mengukur ranah afektif pada tingkat
karakteristik.
2) Hasil dari tes tulis sedikit agak diragukan karena peserta dapat melakukan kucurangan
dalam mengerjakan.
3) Apabil tidak menggunakan bahasa yang tegas dan lugas dapat mengandung pengertian
ganda, sehingga berakibat data yang masuk salah.

14
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN

Adapun hasil pembahasan dari bab sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa hal ,
diantaranya sebagai berikut:
1. Dari segi alatnya, penilaian hasil belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu teknik tes
dan teknik bukan tes (nontes).
2. Ciri – Ciri Alat Penilaian Yang Baik
- Sahih (valid/validitas)
- Konsisten (reliable/reliabilitas)
3. Langkah langkah pembuatan tes ada 10
- Menentukan persiapan dan tujuan mengadakan tes.
- Pemilihan materi dan pembatasan terhadap bahan yang akan diteskan.
- Menentukan bentuk dan jenis tes.
- Merumuskan tujuan instruksional khusus dari tiap bagian bahan.
- Menderetkan semua tes dalam tabel persiapan yang memuat pula aspek
tingkah laku terkandung dalam tes itu. Tabel ini digunakan untuk mengadakan
identifikasi terhadap tingkah laku yang dikehendaki, agar tidak terlewati.
- Menyusun tabel spesifikasi yang memuat pokok materi, aspek berpikir yang
diukur beserta imbangan antara kedua hal tersebut. Uraian secara terinci
tentang tabel spesifikasi, akan disajikan pada bab berikutnya.
- Menentukan jumlah butir tes dan menuliskan butir-butir soal, didasarkan atas
tes yang sudah dituliskan pada tabel dan aspek tingkah laku yang dicakup.
- Menentukan skor.
- Membuat kisi-kisi.
- Menyusun tes berdasarkan kisi-kisi.

15
4. Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. Tes Tertulis merupakan tes
dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan.
Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis
jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda, mewarnai,
menggambar dan lain sebagainya.

5. Kelebihan dan kekurangan tes tertulis adalah :

Kelebihan Tes tertulis


1) Dapat mengukur kemampuan sejumlah siswa dalam tempat yang terpisah dan dalam
waktu yang sama.

2) Dalam tes tulis, peserta didik relatif memiliki kebebasan untuk menjawab soal, Sehingga
secara psikologi peserta didik lebih bebas dan tidak terikat.

3) Pada tes tertulis, karena soalnya sama maka obyektifitas hasil penilaian lebih dapat
dipertanggung jawabkan dari pada tes lisan ataupun tes tindakan.

Kekurangan Tes Tulis


4) Belum tentu cocok mengukur psikomotorik dan mengukur ranah afektif pada tingkat
karakteristik.
5) Hasil dari tes tulis sedikit agak diragukan karena peserta dapat melakukan kucurangan
dalam mengerjakan.
6) Apabil tidak menggunakan bahasa yang tegas dan lugas dapat mengandung pengertian
ganda, sehingga berakibat data yang masuk salah.

16
DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas.2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi:Penilaian Berbasis Kelas. Jakarta:


Depdiknas Djiwandono, M. Soenardi. 1996. Tes Bahasa dalam Pengajaran. Bandung: ITB.
_____. 2008. Tes Bahasa: Pegangan bagi Pengajar Bahasa. Jakarta: PT Indeks.
Haryati, Mimin. 2007. Model dan Teknik Penilaian pada Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta:
Gaung Persada Press.
Joesmani. 1988. Pengukuran dan Evaluasi dalam Pengajaran. Jakarta: Depdikbud.
Nurkancana, Wayan & Sumartana. 1983. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Nurgiyantoro, Burhan. 2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta:
BPFE.
Sanjaya, Wina. 2008. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Surapranata, Sumarna. 2005. Panduan Penulisan Tes Tertulis: Implementasi Kurikulum
2004. Bandung: Rosda.
Weir, Cyrill. 1990. Communicative Language Testing. New York: Printice Hall.

17
18