Anda di halaman 1dari 5

PERBANDINGAN EFISIENSI ANESTESI PADA SUBKONJUNGTIVA DAN

PERIBULBAR PADA OPERASI KATARAK-STUDI BERBASIS RUMAH SAKIT


PEDESAAN

Dr Sachin Daigavane dan Dr Neha Chandak


ABSTRAK
Anestesi pada peribulbar untuk operasi katarak merupakan tehnik yang sangat popular,
sementara anestesi pada subkonjungtiva telah memiliki banyak kelebihan yang terkait dengan
operasi katarak. Penelitian berikut dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi efesiensi
anestesi pada subkonjungtiva, disamping anestesi peribulbar. Hasil penelitian menyarankan
bahwa anestesi subkonjungtiva memberikan waktu operasi lebih baik dengan sedikit
komplikasi dan hemat biaya ketika digunakan dengan anestesi peribulbar.

KATA KUNCI
Anastesi Subkonjungtiva, Anastesi Peribulbar, Katarak.

PENDAHULUAN MANFAAT
Anestesi pada peribulbar untuk Untuk mengevaluasi efisiensi
katarak merupakan tehnik yang sangat perbandiangan anestesi pada
populer pada dekade sebelumnya. Kelmin subkonjungtiva dan anestesi peribulbar
(1970) yang pertamakali menerapkan selama control nyeri pada injeksi dan
tehnik ini pada tahun 1970. Pada tahun operasi (operasi manual katarak dengan
1986, Davis dan Mandel melaporkan sayatan kecil).
penggunaan anestesi pada peribulbar pada
operasi intraokuler1-3. TUJUAN
Tidak seperti anestesi peribulbar,  Untuk mengevaluasi waktu operasi (
anestesi subkonjungtiva menghilangkan insersi speculum mata dan
risiko perforasi perdarahan pada pelepasannya)
retrobulbar, dan trauma pada saraf optik.  Untuk mengobservasi komplikasi
Hal ini berhubungan dengan operasi yang berhubungan dengan
ketidaknyamanan yang minimal dan local anestesi.
dianggap aman4-5.  Untuk mengevaluasi efektifitas harga.
Melihat pada kekurangan anestesi
peribulabar yang terdokumentasi, pada DESAIN PENELITIAN
anastesi peribulbar memiliki durasi yang Studi cross sectional acak.
lebih pendek dan metode anestesi yang
kurang invasif untuk operasi katarak. BAHAN DAN METODE
Dengan demikian, berkembanglah Penelitian dilakukan di Departemen
peran anestesi pada subkonjungtiva, yang Oftalmologi (AVBRH). Pasien menjalani
digunakan sebagai tambahan anestesi pada operasi katarak dipilih secara acak untuk
peribulbar. Jika melakukan manipulasi penelitian ini. Mereka dibagi lagi menjadi
sklera untuk membangun terowongan dua kelompok masing-masing terdiri dari
sklera, onset anestesi yang cepat dilakukan 100 pasien.
pada area yang berdekatan dengan bleb
yang terlihat. Anestesi subkonjungtiva DURASI PENELITIAN : 2 tahun
yang superior menghasilkan analgesik yang JUMLAH SAMPEL : 200 pasien
adekuat, tapi tidak adekuat untuk akinesia 6.
KRITERIA INKLUSI ml. 5 ml ini diinjeksikan dengan jarum 24G
Semua pasien yang menjalani operasi pada persimpangan bawah 1/3 luar dan 2/3
katarak tanpa adanya penyakit okular yang dalam bagian bawah orbital rim. Demikian
lain. pula, disuntikkan 3 ml pada persimpangan
2/3 luar dan 1/3 dalam pada bagian atas
KRITERIA EKSKLUSI orbital rim. Tekanan intermitten selama 2
1. Pasien yang sebelum operasi menit diaplikasin diatas bola mata setelah
menggunakan obat sedative, injeksi untuk mencapai hipotensi.
analgesic atau anxiolitik. Analisis nyeri untuk kedua kelompok
2. Pasien dengan gangguan kognitif saat disuntik dan saat operasi dicatat oleh
yang mendalam yang tidak bisa ahli bedah berdasarkan skala analog visual.
menilai rasa sakit atau yang tidak Waktu operasi dicatat oleh ahlli bedah
dapat memberikan inform consent untuk kedua kelompok dari penyisipan dan
secara tertulis. pemindahan speculum. 20 menit dianggap
3. Pasien dengan sensitivitas terhadap sebagai waktu rata-rata dan lebih dari 20
lignokain atau hyaluronidase. menit dianggap diatas rata-rata.
4. Penderita hipertensi, penyakit Kompliakasi seperti kemosis, mata hitam,
jantung sistemik, diabetes, glaucoma, edema pada palpebral, perdarahan
asma bronkial, dan operasi mata subkonjungtiva dicatat oleh ahli bedah
sebelumnya. yang sama selama operasi.
Dari 200 pasien : 109 pasien adalah
laki-laki sedangkan 91 pasien adalah OBSERVASI
perempuan. Usia rata-rata untuk pasien Tabel 1 : Skor nyeri selama injeksi pada
yang menjalani pengobatan katarak adalah kedua kelompok
61 sampai 70 tahun untuk kedua kelompok. Nyeri Kelompok Kelompok N2- P-value
 Kelompok A (100 pasien) menerima selama A B Value
anestesi subkonjungtiva. injeksi
 Kelompok b (100 pasien) menerima Grade 00 00
anestesi peribulbar. 0
Untuk mengurangi bias dan disparitas Grade 07 00
tehnik bedah, MSICS pada semua pasien 1
dilakukan oleh satu ahli bedah. Grade 49 00
2
Pada kelompok A; 2ml lignokain2% Grade 26 00 184.6 P<
dengan 1:200000 adrenalin dengan 150 unit 3 0.0001
hyaluronidase dan 2ml bupavicain (0.75%) Grade 06 26 signifikan
dimasukkan kedalam jarum suntik ukuran 5 4
ml. dari jumlah ini 4 ml, hanya 2 ml yang Grade 05 65
diinjeksikan pada ruang subkonjungtival 5
pada posisi jam 12, subkonjungtiva bagian Grade 04 03
superior dilubangi dengan jarum 26G 6
dengan tepi miring ke bawah untuk Grade 02 04
meminimalkan kemungkinan perforasi 7
struktur yang lebih dalam. Kondisi bleb Grade 01 02
yan baik menunjukkan injeksi 8
7-9
subkonjungtiva yang tepat . Grade 00 00
Pada kelompok B; 3ml lignokain 2% 9
dengan 1:200000 adrenalin dengan 150 unit Grade 00 00
hyaluronidase dan 2 ml bupivacaine 10
(0.75%) dimasukkan dalam jarum suntik 5 Total 100 100
Tabel 4: Waktu operasi pada kedua
Tabel 2 : Skor nyeri selama operasi kelompok
N2
pada kedua kelompok Nyeri Kelompok Kelompok - P-
Nyeri Kelo Kelo N2- P- selama A B Value value
selama mpok mpok Value value operasi
operasi A B Rata-rata 97 94 0.30
Grade 0 83 89 20 menit 1.04 NS
Grade 1 16 09 Diatas 3 6 p
Grade2 01 02 rata-rata >0.05
Grade3 00 00 Total 100 100
Grade 4 00 00
Grade5 00 00 Tabel 5 : Komplikasi pada Tehnik
Grade 6 00 00 184.9 P< Komplikasi Kelompok Kelompok N2- p-
Grade7 00 00 0.000 A B value value
Grade 8 00 00 1 Kemosis 1 0
Grade 9 00 00 signifi SCH 8 3
Grade 00 00 kan Mata hitam 0 1
10 Edema 0 8 4.20 0.52
Total 100 100 palpebral NS
Tanpa 91 88 p>
Tabel 3 : Skor nyeri setelah operasi kompliasi 0.05
pada kedua kelompok Total 100 100
Nyeri Kelompok Kelompok N2- P-value
setelah A B Value DISKUSI
operasi Sebanyak 200 pasien dengan semua
Grade 0 00 00 jenis katarak direkrut untuk percobaan. 100
Grade 1 12 18 pasien dialokasikan untuk menerima
Grade 2 48 52 anestesi subkonjungtiva (kelompk A) dan
Grade 3 26 20 100 dialokasikan untuk menerima anestesi
Grade 4 10 03 peribulbar (kelompok B).
Grade 5 02 04 Selama injeksi, nyeri selama operasi
Grade 6 02 01 184.9 P< dan pasca operasi dianalisis dengan
Grade 7 00 02 0.0001 bantuan skala analog visual ( skor nyeri 0-
Grade 8 00 00 signifikan 10)11.
Skor nyeri pada saat injeksi pada
Grade 9 00 00
kelompok A 49% (grade 2) yang secara
Grade 10 00 00
signifikan lebih rendah daripada kelompok
Total 100 100
B dimana skornya adalah 65% (grade 5).
Hal ini menunjukkan bahwa pemberian
anestesi subkonjungtiva (kelomok A)
menyebabkan lebih sedikit nyeri
dibandingkan dengan anestesi peribulbar
(kelompok B) seperti yang ditunjukkan
pada statistik 12-19.
Skor nyeri setelah opersi (VAS-OP)
tidak ada perbedaan signifikan pada kedua
grup, bahwa kontrol nyeri pada anestesi
subkonjugtiva sama dengan anestesi
peribulbar selama MSICS 14-19.
Tidak ada perbedaan signifikan yang 2003;87: 667-72
dicatat dengan mengacu pada waktu yang 3. Bellucci R, Morselli S, Pucci V, et
ada di kedua kelompok tersebut. al. Intraocular penetration of topical
Komplikasi anestesi seperti lidocaine 4%. J Cataract Refract
perdarahan subkonjungtiva lokal juga lebih Surg 1999; 25: 642–7.
sering terjadi bila menggunakan tehnik ini, 4. Pipat Kongsap, Superior
yang sesuai dengan hasil Tulvatana et al 20. subconjunctival anesthesia versus
Tidak seperti anestesi peribulbar, anestesi retrobulbar anesthesia for manual
subkonjungtiva menghilangkan resiko small-incision cataract surgery in a
perforasi, kerusakan retrobulbar, dan residency training program: a
trauma saraf oprik, dan dikaitkan dengan randomized controlled trial, Clin
ketidaknyamanan yang minimal 21. Ophthalmol.2012; 6: 1981–1986.
Pada kelompok A, total volum larutan Published online 2012 Nov 30. doi:
anestesi yang digunakan hanya 2 ml, 10.2147/OPTH.S38606 PMCID:
sedangkan pada kelomok B, total volume PMC3516495.
yang digunakan adalah 8 ml. jadi anestesi 5. Hamilton RC, Gimbel HV, Javitt
subkonjungtiva ternyata lebih hemat JC. The prevention of
biaya10. complications of regional
Anestesi retrobulbar menginduksi anesthesia for ophthalmology.
penurunan kecepatan yang tinggi pada Ophthalmol Clin North Am. 1990;
pembuluh retrobulbar yang kontras dengan 3: 111–125.
anestesi konjungtiva. Oleh karena itu, 6. K K Huber, A Remky. Effect of
anestesi subkonjungtiva harus retrobulbar versus subconjunctival
dipertimbangkan, terutama pada pasien anesthesia on retrobulbar
dengan masalah perfusion ocular, misalnya haemodynamics.
glaukoma6. 7. Tinnungwattana U1, Gorvanich S,
Kulvichit K, Tulvatana W.
KESIMPULAN Combined deep topical and superior
Anestesi subkonjungtiva subconjunctival anesthesia for
menghasilkan anestesi yang adekuat namun extracapsular cataract ex- traction in
tidak adekuat untuk akinesia. Anestesi a rural eye camp.
subkonjungtiva menunjukkan skor nyeri 8. Khurana AK1, Sachdeva RK,
yang lebih rendah pada saat pemberian, dan Gombar KK, Ahluwalia BK. Acta
aman serta lebih nyaman dengan tingkat Ophthalmol (Co- penh). 1994 Dec;
komplikasi yang lebih rendah selama 72(6):727-30. Evaluation of
MSICS. Sehingga bisa dijadikan alternatif subconjunctival anesthesia vs
yang efektif untuk anestesi peribulbar. peribulbar anesthesia in cataract
Juga, anestesi subkonjungtiva ternyata surgery.
lebih hemat biaya daripada anestesi 9. Niger J Clin Pract. 2011 Jul-Sep;
peribulbar. 14(3):280-3. doi: 10.4103/1119-
3077.86767. Retrobulbar versus
Subconjunctival anesthesia for
REFERENSI cataract surgery.
1. Datta A, Ghosh AK, Basu S, Das 10. Srinivasan M, Vamshidhar M,
SK, Ghosal S, Exploring the Gopal R. Sodium Bicarbonate an
anesthetic options for MSICS, alternative to hyaluronidase in
AIOC 2008: 82-83. ocular anesthesia for cataract
2. Gogate PM, Deshpande M, ECCE surgery, Indian J Ophthalmology
VS MSICS affordable in .289 - 285;48 ;2000
developing countries, BR JO 11. Mc Caffery M, Pasero C. 0-10
Numeric Pain rating scale: Pain: retrobulbar anesthesia for
Clinical manual, St. Louis, 1999, P, extracapsular cataract extraction.
16. Anesth Analg. 2006; 102:1900. 

12. Charles Joseph Anderson, M.D.
21. Javitt JC, Addiego R, Friedberg HL,
Subconjunctival anesthesia in
et al. Brain stem anesthesia after
cataract surgery. 
 retrobulbar block. Ophthalmology.
13. H. John Shammas, MD, Mary 1987; 94: 718–724. 

Milkie, Rosie Yeo, MD. Topical
22. Tulvatana W, Kulvichit K,
and subconjunctival anesthesia for
Tinnungwattana U. Circumferential
phacoemulsi cation: Prospective
sub- conjunctival anesthesia versus
study. 
 retrobulbar anesthesia for
14. Jacques Ripart, MD; Kenneth extracapsular cataract extraction.
Mehrige, MD; Robert Della Rocca, Anesth Analg. 2006;
MD. Local & Regional Anesthesia 102:1900.
 23)
for Eye Surgery Authors:
 23. Kongsap P. Visual outcome of
15. Zehetmayer M, Radax U, Skorpik manual small-incision cataract
C, et al. Topical versus peribulbar surgery: comparison of modi ed
anesthesia in clear corneal cataract Blumenthal and Ruit techniques. Int
surgery. J Cataract Refract Surg. J Ophthalmol. 2011; 4: 62–65.
1996; 22: 480–484.
16. Unal M, Yücel I, Altin M. Pain
induced by phacoemulsi cation
performed by residents using
topical anesthesia. Ophthalmic Surg
Lasers Imaging. 2007; 38: 
 386–
391. 

17. Mathew MR, Webb LA, Hill R.
Surgeon experience and patient
comfort during 
 clear corneal
phacoemulsi cation under topical
local anesthesia. J Cataract Refract
Surg. 2002; 28: 1977–1981. 

18. Edge R, Navon S. Scleral
perforation during retrobulbar and
peribulbar anes- thesia: risk factors
and outcome in 50,000 consecutive
injections. J Cataract Refract Surg.
1999; 25: 1237–1244.
19. Pautler SE, Grizzard WS,
Thompson LN, et al. Blindness
from retrobulbar injection into the
optic nerve. Ophthalmic Surg.
1986; 17: 334–337. 

20. Tulvatana W, Kulvichit K,
Tinnungwattana U. Circumferential
subconjunctival anesthesia versus