Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

HAK DAN KEWAJIBAN SEBAGAI WARGA NEGARA


“Di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Umum Pendidikan Kewarganegaraan”

Disusun oleh :
Dheamira Rosida 161610101023
Balqis Salsabila 161610101024
Rismawati Tri 161610101025
Kartika Artha 161610101026

Dosen Pengampu :
Wajihuddin, S.Pd., M.Hum

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan.
Makalah ini kami susun sebagai salah satu tugas dari mata kuliah umum
Pendidikan Kewarganegaraan dengan judul “ Hak dan Kewajiban sebagai Warga
Negara”.
Terima kasih saya sampaikan kepada Bapak Wajihuddin, S.Pd., M.Hum
selaku dosen mata kuliah umum Pendidikan Kewarganegaraan yang telah
membimbing dan memberikan kuliah demi lancarnya terselesaikan tugas makalah
ini.
Demikian tugas ini kami susun semoga bermanfaat dan dapat memenuhi
tugas mata kuliah umum Pendidikan Kewarganegaraan dan penulis berharap
semoga makalah ini bermanfaat bagi diri kami dan khususnya untuk pembaca.
Tak ada gading yang tak retak, begitulah adanya makalah ini. Dengan
segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang konstruktif dan membangun
sangat kami harapkan dari para pembaca guna peningkatan pembuatan makalah
pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.

Jember, 11 April 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………... i
DAFTAR ISI……………………………………………………………….. ii
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………….
1.1 Latar Belakang………...……………………………………………….
1.2 Rumusan Masalah…...…………………………………………………
1.3 Tujuan Penulisan…………………...…………………………………..
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………...
2.1 Makna Hak Dan Kewajiban Warga Negara ...……………………......
2.1.1 Definisi Hak……………………………………………………….
2.1.2 Definisi Kewajiban………………………………………………..
2.1.3 Definisi Warga Negara…………………………………………….
2.1.4 Definisi Hak dan Kewajiban Warga Negara………………………
2.2 Hak dan Kewajiban Warga Negara dalam UUD RI Tahun 1945 di
Indonesia……………………….…..………………………………….
2.3 Ketimpangan/Ketidakseimbangan Antara Hak dan Kewajiban Negara
Dalam Praktik Kehidupan...…………………………………………...
BAB III CONTOH KASUS…..……………………………………………
BAB IV PENUTUP...………………………………………………………
4.1 Kesimpulan………………………………………………………….....
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….....
LAMPIRAN…………………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan negara demokratis yang memiliki elemen-elemen
seperti masyarakat. Masyarakat sangat berperan dalam pembangunan suatu
negara. Negara merupakan alat dari masyarakat yang memiliki kekuasaan untuk
mengatur hubungan-hubungan manusia dalam masyarakat, dan yang paling
terlihat adalah unsur-unsur dari negara yang berupa rakyat, wilayah dan
pemerintah. Salah satu unsur negara adalah rakyat. Rakyat yang tinggal di suatu
negara merupakan penduduk dari negara yang bersangkutan. Warga negara adalah
bagian dari penduduk suatu negara. Tetapi tidak sedikit pula yang bukan
merupakan warga negara bisa tinggal di suatu negara lain yang bukan merupakan
negara asalnya. Suatu negara memiliki undang-undang atau peraturan yang
mengatur tentang kewarganegaraan. Indonesia merupakan salah satu negara yang
memiliki peraturan tentang kewarganegaraan tersebut. Peraturan tersebut memuat
tentang siapa saja yang bisa dianggap sebagai warga negara.
Negara memiliki hak dan kewajiban bagi warga negaranya, begitu pula
dengan warga negara juga memiliki hak dan kewajiban terhadap negaranya. Hak
dan kewajiban merupakan suatu hal yang terikat satu sama lain, sehingga dalam
praktik harus dijalankan dengan seimbang.
Hak merupakan segala sesuatu yang pantas dan mutlak untuk didapatkan
oleh individu sebagai anggota warga negara sejak masih berada dalam kandungan,
sedangkan kewajiban merupakan suatu keharusan / kewajiban bagi individu dalam
melaksanakan peran sebagai anggota warga negara guna mendapat pengakuan
akan hak yang sesuai dengan pelaksanaan kewajiban tersebut.
Pada era globalisasi ini sering terlihat tingginya angka akan tuntutan hak
tanpa diimbangi dengan kewajiban. Jika hak dan kewajiban tidak berjalan secara
seimbang dalam praktik kehidupan, maka akan terjadi suatu ketimpangan yang
akan menimbulkan gejolak masyarakat dalam pelaksanaan kehidupan individu
baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana makna hak dan kewajiban warga negara?
2. Bagaimana hak dan kewajiban warga negara dalam dalam UUD RI Tahun
1945?
3. Bagaimana jika terdapat ketimpangan/ketidakseimbangan antara hak dan
kewajiban negara dalam praktik kehidupan?

1.3 TUJUAN PENULISAN


1. Mengetahui dan memahami makna hak dan kewajiban warga negara.
2. Mengetahui, memahami dan mampu melaksanakan hak dan kewajiban
warga negara dalam dalam UUD RI Tahun 1945.
3. Mengetahui dan memahami ketimpangan/ketidakseimbangan antara hak
dan kewajiban negara dalam praktik kehidupan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 MAKNA HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA
2.1.1 Definisi Hak

a. Menurut Prof. Dr. Notonegoro

Hak adalah kuasa untuk menerima atau melakukan suatu yang semestinya
diterima atau dilakukan melulu oleh pihak tertentu dan tidak dapat oleh pihak lain
manapun juga yang pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa olehnya.

b. Menurut Para Ahli (Umum)

HAK adalah suatu peran yang bersifat fakultatif artinya boleh dilaksanakan atau
tidak dilaksanakan.

c. Menurut Soerjono Soekanto

Hak dibedakan menjadi 2 :

1. Hak searah atau relatif, muncul dalam hukum perikatan atau perjanjian. Misal
hak menagih atau melunasi prestasi.

2. Hak jamak arah atau absolut, terdiri dari :

a) Hak dalam HTN (Hukum Tata Negara) pada penguasa menagih pajak, pada
warga hak asasi;

b) Hak kepribadian, hak atas kehidupan, hak tubuh, hak kehormatan dan
kebebasan;

c) Hak kekeluargaan, hak suami istri, hak orang tua, hak anak;

d) Hak atas objek imateriel, hak cipta, merek dan paten.

Hak dalam bahasa Belanda disebut Subjectief recht, sedangkan objectief recht
artinya Hukum.

1. Hak Mutlak (absolut), ialah memberikan kekuasaan atau wewenang kepada


yang bersangkutan untuk bertindak, dipertahankan dan dihormati oleh orang lain.
a) Hak asasi manusia;

b) Hak publik, misal hak atas kemerdekaan atau kedaulatan, hak negara
memungut pajak;

c) Hak keperdataan, hak menuntut kerugian, hak kekuasaan orang tua, hak
perwalian, hak pengampuan, hak kebendaan dan hak imateriel.

2. Hak relatif (nisbi), ialah memberikan hak kekuasaan atau wewenang kepada
orang tertentu untuk menuntut kepada orang kain tertentu untuk berbuat atau tidak
berbuat sesuatu, dan menyerahkan sesuatu.

a) Hak publik relatif, hak untuk memungut pajak atas pihak tertentu;

b) Hak keluarga relatif, hak suami istri;

c) Hak kekayaan relatif, hak dalam hukum perikatan atau perjanjian misal jual -
beli.

Sedangkan pengertian hak Absolut dan hak Relatif menurut Sudikno adalah
macam - macam hak secara garis besar (dalam Sudikno, 2003), Hak dibagi dalam
2 (dua) macam golongan yaitu:

1. Hak Absolut (absolute rechten, onpersoonlijke rechten).Hak absolut adalah


hubungan hukum antara subyek hukum dengan obyek hukum yang menimbulkan
kewajiban pada setiap orang lain untuk menghormati hubungan hukum itu. Hak
absolut memberi wewenang bagi pemegangnya untuk berbuat atau tidak berbuat,
yang pada dasarnya dapat dilaksanakan terhadap siapa saja dan melibatkan setiap
orang. Isi hak absolut ini ditentukan oleh kewenangan pemegang hak. Kalau ada
hak absolut pada seseorang maka ada kewajiban bagi setiap orang lain untuk
menghormati dan menanggungnya. Pada hak absolut pihak ketiga berkepentingan
untuk mengetahui eksistensinya sehingga memerlukan publisitas. Hak absolut
terdiri dari hak absolut yang bersifat kebendaan dan hak absolut yang tidak
bersifat kebendaan. Hak absolut yang bersifat kebendaan meliputi hak kenikmatan
(hak milik, hak guna bangunan dan sebagainya) dan hak jaminan.
2. Hak Relatif (nisbi, relative rechten, persoonlijke rechten).Hak relatif adalah
hubungan subyek hukum dengan subyek hukum tertentu lain dengan perantaraan
benda yang menimbulkan kewajiban pada subyek hukum lain tersebut. Hak relatif
adalah hak yang berisi wewenang untuk menuntut hak yang hanya dimiliki
seseorang terhadap orang-orang tertentu. Jadi hanya berlaku bagi orang-orang
tertentu; (kreditur dan debitur tertentu). Pada dasarnya tidak ada pihak ketiga
terlibat. Hak relatif ini tidak berlaku bagi mereka yang tidak terlibat dalam
perikatan tertentu, jadi hanya berlaku bagi mereka yang mengadakan perjanjian.
Hak relatif ini berhadapan dengan kewajiban seseorang tertentu. Orang lain, pihak
ketiga tidak mempunyai kewajiban. Antara kedua pihak terjadi hubungan hukum
yang menyebabkan pihak yang satu berhak atas suatu prestasi dan yang lain wajib
memenuhi prestasi.

d. Menurut Salmond,

Di dalam hak terdapat 4 pengertian :

1. Dalam arti sempit, hak berpasangan dengan kewajiban

a) Hak yang melekat pada seseorang sebagai pemilik;

b) Hak yang tertuju kepada orang lain sebagai pemegang kewajiban antara hak
dan kewajiban berkorelatif;

c) Hak dapat berisikan untuk kewajiban kepada pihak lain agar melakukan
perbuatan (comission) atau tidak melakukan (omission) suatu perbuatan;

d) Hak dapat memiliki objek yang timbul dari comission dan omission;

e) Hak memiliki titel, ialah suatu peristiwa yang menjadi dasar sehingga hak itu
melekat pada pemiliknya.

2. Kemerdekaan, hak memberikan kemerdekaan kepada seseorang untuk


melakukan kegiatan yang diberikan oleh hukum namun tidak untuk menggangu,
melanggar, menyalahgunakan sehingga melanggar hak orang lain, dan
pembebasan dari hak orang lain.
3. Kekuasaan, hak yang diberikan untuk, melalui jalan dan cara hukum, untuk
mengubah hak-hak, kewajiban-kewajiban, pertanggungjawaban atau lain-lain
dalam hubungan hukum.

4. Kekebalan atau imunitas, hak untuk dibebaskan dari kekuasaan hukum orang
lain.

e. Menurut Curzon

Hak dikelompokan menjadi 5, yaitu :

1. Hak sempurna, misal dapat dilaksanakan dan dipaksakan melalui hukum, dan
hak tidak sempurna, misal hak yang dibatasi oleh daluwarsa;

2. Hak utama, hak yang diperluas oleh hak-hak lain, hak tambahan, melengkapi
hak utama;

3. Hak publik, ada pada masyarakat, negara dan hak perdata, ada pada seseorang.

4. Hak positif, menuntut dilakukannya perbuatan, hak negatif agar tidak


melakukan;

5. Hak milik, berkaitan dengan barang dan hak pribadi berkaitan dengan
kedudukan seseorang;

Hak Legal dan Hak Moral

 Hak legal adalah hak yang didasarkan atas hukum dalam salah satu
bentuk. Hak legal ini lebih banyak berbicara tentang hukum atau sosial.
Contoh kasus,mengeluarkan peraturan bahwa veteran perang memperoleh
tunjangan setiap bulan, maka setiap veteran yang telah memenuhi syarat
yang ditentukan berhak untuk mendapat tunjangan tersebut.
 Hak moral adalah didasarkan atas prinsip atau peraturan etis saja. Hak
moral lebih bersifat soliderisasi atau individu. Contoh kasus, jika seorang
majikan memberikan gaji yang rendah kepada wanita yang bekerja di
perusahaannya padahal prestasi kerjanya sama dengan pria yang bekeja di
perusahaannya. Dengan demikain majikan ini melaksanakan hak legal
yang dimilikinya tapi dengan melnggar hak moral para wanita yang
bekerja di perusahaannya. Dari contoh ini jelas sudah bahwa hak legal
tidak sama dengan hak moral.

Hak Positif dan Hak Negatif

 Hak Negatif adalah suatu hak bersifat negatif , jika saya bebas untuk
melakukan sesuatu atau memiliki sesuatu dalam arti orang lain tidak boleh
menghindari saya untuk melakukan atau memilki hal itu. Contoh: hak atas
kehidupan, hak mengemukakan pendapat.
 Hak positif adalah suatu hak bersifat postif, jika saya berhak bahwa orang
lain berbuat sesuatu untuk saya. Contoh: hak atas pendidikan, pelayanan,
dan kesehatan. Hak negatif haruslah kita simak karena hak ini terbagi lagi
menjadi 2 yaitu: hak aktif dan pasif. Hak negatif aktif adalah hak untuk
berbuat atau tidak berbuat sperti orang kehendaki. Contoh, saya
mempunyai hak untuk pergi kemana saja yang saya suka atau mengatakan
apa yang saya inginkan. Hak-hak aktif ini bisa disebut hak kebebasan. Hak
negatif pasif adalah hak untuk tidak diperlakukan orang lain dengan cara
tertentu. Contoh, saya mempunyai hak orang lain tidak mencampuri urasan
pribadi saya, bahwa rahasia saya tidak dibongkar, bahwa nama baik saya
tidak dicemarkan. Hak-hak pasif ini bisa disebut hak keamanaan.

Hak Khusus dan Hak Umum

 Hak khusus timbul dalam suatu relasi khusus antara beberapa manusia
atau karena fungsi khusus yang dimilki orang satu terhadap orang lain.
Contoh: jika kita meminjam Rp. 10.000 dari orang lain dengan janji akan
saya akan kembalikan dalam dua hari, maka orang lain mendapat hak yang
dimiliki orang lain.
 Hak Umum dimiliki manusia bukan karena hubungan atau fungsi tertentu,
melainkan semata-mata karena ia manusia. Hak ini dimilki oleh semua
manusia tanpa kecuali. Di dalam Negara kita Indonesia ini disebut dengan
“ hak asasi manusia”.

Hak Individual dan Hak Sosial


 Hak individual disini menyangkut pertama-tama adalah hak yang dimiliki
individu-individu terhadap Negara. Negara tidak boleh menghindari atau
mengganggu individu dalam mewujudkan hak-hak yang ia milki. Contoh:
hak beragama, hak mengikuti hati nurani, hak mengemukakan pendapat,
perlu kita ingat hak-hak individual ini semuanya termasuk yang tadi telah
kita bahas hak-hak negative.
 Hak Sosial disini bukan hanya hak kepentingan terhadap Negara saja, akan
tetapi sebagai anggota masyarakat bersama dengan anggota-anggota lain.
Inilah yang disebut dengan hak sosial. Contoh: hak atas pekerjaan, hak
atas pendidikan, hak ata pelayanan kesehatan. Hak-hak ini bersifat positif.

2.1.2 Definisi Kewajiban


Menurut Prof.Dr. Notonagoro : Wajib adalah beban untuk memberikan
sesuatu yang semestinya dibiarkan atau diberikan melulu oleh pihak tertentu tidak
dapat oleh pihak lain manapun yang pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa
oleh yang berkepentingan. Kewajiban adalah sesuatu yang harus dilakukan.
Kewajiban dikelompokan menjadi 5, yaitu :
1. Kewajiban mutlak, tertuju kepada diri sendiri maka tidak berpasangan dengan
hak dan nisbi melibatkan hak di lain pihak;
2. Kewajiban publik, dakam hukum publik yang berkorelasi dengan hak publik
ialah wajib mematuhi hak publik dan kewajiban perdata timbul dari perjanjian
berkorelasi dengan hak perdata;
3. Kewajiban positif, menghendaki dilakukan sesuatu dan kewajiban negatif, tidak
melakukan sesuatu;
4. Kewajiban universal atau umum, ditujukan kepada semua warga negara atau
secara umum, ditujukan kepada golongan tertentu dan kewajiban khusus,
timbul dari bidang hukum tertentu, perjanjian;
5. Kewajiban primer, tidak timbul dari perbuatan melawan hukum, misal
kewajiban untuk tidak mencemarkan nama baik dan kewajiban yang bersifat
memberi sanksi, timbul dari perbuatan melawan hukum misal membayar
kerugian dalam hukum perdata.
2.1.3 Definisi Warga Negara
Dalam UUD 1945 Amandemen tentang warga negara dan Penduduk diatur
dalam pasal 26 dan pasal 27. Dalam pasal 26 mengatur apa yang telah dimaksud
Warga Negara yaitu orang – orang Bangsa Indonesia asli dan orang – orang
Bangsa lain yang disyahkan dengan UU sebagai WNI. Penduduk ialah WNI dan
WNA yang bertempat tinggal diIndonesia. Selanjutnya diatur dengan UUNo.
12tahun 2006 tentang kewarga negaraan RI .
Pasal 27
a. ayat 1 : Mengatur tentang persamaan kedudukan WNI dalam hukum dan
Pemerintahan dan wajib menjujung hukum dan pemerintahan tanpa
kecualinya.
b. ayat 2 : Tiap-tiap WN berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
bagi kemanusiaan.
c. Ayat 3 : Setiap WN berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan
bela negara. Selanjutnya upaya bela negara diatur dalam UUNo. 3 tahun
2002 tentang Pertahanan Negara.
Dalam UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara
a. Pasal 9 ayat (1) Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam
upaya bela negara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pertahanan
negara.
b. Pasal 9 ayat (2) Keikut sertaan warga negara dalam upaya belanegara,
sebagaimanaa dimaksud dalam ayat 1, diselenggarakan melalui :
1. Pendidikan kewarganegaraan ;
2. Pelatihan dasar kemiliteran secara wajib ;
3. Pengabdian sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia secara
sukarela atausecara wajib ;
4. Pengabdian sesuai dengan profesi.
a. Pasal 9 ayat (3) Ketentuan mengenai pendidikan kewarganegaran,
pelatihan dasar kemiliteran secara wajib, dan pengabdian sesuai dengan
profesi diatur dengan undang undang.
Penjelasan pasal 9 UU No. 3 Tahun 2002
Ayat (1) Upaya bela negara adalah sikap dan perilaku warganegara yang
dijiwai oleh kecintaannya kepadda Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan
hidup bangsa dan Negara. Upaya bela negara, selain sebagai kewajiban
dasar negara, juga merupakan kehormatan bagi setiap warga negara yang
dilaksanakan dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, dan rela
berkorban dalam pengabdian kepada negara dan bangsa.
Ayat (2)
Huruf a :Dalam pendidikan kewarganegaraan sudah
tercakup pemahaman tentang kesadaran bela
Negara.
Huruf b :Cukup jelas
Huruf c :Cukup jelas
Huruf d : Yang dimaksud dengan pengabdian sesuai dengan
profesi adalah pengabdian warga negara yang
mempunyai profesi tertentu untuk kepentingan
pertahanan negara termasuk dalam menanggulangi
dan/atau memperkecil akibat yang ditmbulkan oleh
perang, bencana alam, atau bencana lainnya.
Ayat (3) : Cukup jelas Pengertian warga negarasecara umum adalah
penduduk sebuah negara atau bangsa berdasarkan keturunan, tempat lahir
dan sebagainya, yang memiliki kewajiban dan hak penuh sebagai seorang
warga negara dari negara itu (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1994)

2.1.4 Definisi Hak dan Kewajiban Warga Negara


Hak warga negara adalah suatu kewenangan yang dimiliki oleh warga
negara guna melakukan sesuatu sesuai peraturan perundangundangan. Dengan
kata lain hak warga negara merupakan suatu keistimewaan yan menghendaki agar
warga negara diperlakukan sesuai keistimewaan tersebut. Sedangkan Kewajiban
warga negara adalah suatu keharusan yang tidak boleh ditinggalkan oleh warga
negara dalam kehidupan bermasyarkat berbangsa dan bernegara. Kewajiban
warga negara dapat pula diartikan sebagai suatu sikap atau tindakan yang harus
diperbuat oleh seseorang warga negara sesuai keistimewaan yang ada pada warga
lainnya. Erat kaitannya dengan kedua istilah ini ada beberapa istilah lain yang
memerlukan penjelasan yaitu tanggung jawab dan peran warga negara. Tanggung
jawab warga negara merupakan suatu kondisi yang mewajibkan seorang warga
negara untuk melakukan tugas tertentu. Tanggung jawab itu timbul akibat telah
menerima suatu wewenang. Sementara yang dimaksud dengan peran warga
negara adalah aspek dinamis dari kedudukan warga negara. Apabila seorang
warga negara melaksanakan hak dan kewajiban sesuai kedudukannya maka
warga tersebut menjalankan suatu peranan. Istilah peranan itu lebih banyak
menunjuk pada fungsi, penyesuaian diri dan sebagai suatu proses. Istilah peranan
mencakup 3 hal yaitu :
a. Peranan meliputi norma yang dihubungkn dengn posisi seseorang
dalam masyarakat. Dalam konteks ini peranan merupakan rangkaian
peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan
kemasyarakatan.
b. Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh
individu dalam masyarakat sebagai organisasi.
c. Peranan dapat juga dikatakan sebagai perilaku individu yang penting
bagi struktur sosial masyarakat.
Dari pengertian di atas tersirat suatu makna bahwa hak dan kewajiban
warga negara itu timbul atau bersumber dari negara. Maksudnya negaralah yang
memberikan ataupun membebankan hak dan kewajiban itu kepada warganya.
Pemberian/pembebanan dimaksud dituangkan dalam peraturan perundang-
undangan sehingga warga negara maupun penyelenggara negara memiliki
peranan yang jelas dalam pengaplikasian dan penegakkan hak serta kewajiban
tersebut.
2.2 HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA DALAM DALAM
UUD RI TAHUN 1945
Berikut ini diuraikan beberapa jenis hak dan kewajiban warga negara yang
diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
a. Hak Atas Kewarganegaraan
Pasal 26 Ayat (1) dan (2) dengan tegas menjelaskan warga negara dan
penduduk indonesia. Berdasarkan ketentuan pasal 26 Ayat (1) bahwa “Yang
menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang
bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga Negara”.
Adapun pasal 26 Ayat (2) menyebutkan bahwa yang menjadi “Penduduk
Indonesia ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di
Indonesia”.
Pasal 26 ini merupakan jaminan atas hak warga negara untuk mendapatkan
status kewarganegaraannya yang tidak dapat dicabut secara semena-mena. Pasal
26 ini juga merupakan salah satu pencerminan dari pokok pikiran kedaulatan
rakyat, penjabaran sila keempat yang menjadi landasan kehidupan politik di
negara Indonesia.
b. Kesamaan Kedudukan Dalam Hukum Dan Pemerintahan
Negara Republik Indonesia menganut asas bahwa setiap warga negara
mempunyai kedudukan yang sama di hadapan hukum dan pemerintahan. Ini
merupakan suatu konsekuensi dari prinsip kedaulatan rakyat yang bersifat
kerakyatan. Pasal 27 Ayat (1) menyatakan bahwa “Segala warga negara
bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib
menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”.
Hal ini menunjukan adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban dan
tidak adanya diskriminasi di antara warga negara mengenai kedua hal ini. Pasal 27
Ayat (1) ini merupakan jaminan hak warga negara atas kedudukan yang sama
dalam hukum dan juga merupakan kewajiban warga negara untuk menjunjung
hukum dan pemerintahan.
c. Hak Atas Pekerjaan dan Penghidupan yang Layak bagi Kemanusiaan
Pasal 27 Ayat (2) menyatakan bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak atas
pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Pasal ini
memperlihatkan suatu asas keadilan sosial dan kerakyatan yang merupakan hak
warga negara atas pekerjaan dan penghidupan yang layak.
Berbagai peraturan perundang-undangan yang mengatur hal ini misalnya
terdapat dalam Undang-Undang Agraria, Perkoperasian, Penanaman Modal,
Sistem Pendidikan Nasional, Tenaga Kerja, Perbankan, dan sebagainya yang
bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja agar warga negara memperoleh
penghidupan yang layak.
d. Hak dan Kewajiban Bela Negara
Pasal 27 Ayat (3) menyatakan bahwa “Setiap warga negara berhak dan
wajib ikut serta dalam upaya pembelaan Negara”. Ketentuan tersebut menegaskan
hak dan kewajiban warga negara menjadi sebuah kesatuan. Dengan kata lain,
upaya pembelaan negara merupakan hak sekaligus menjadi kewajiban dari setiap
warga negara Indonesia.
e. Kemerdekaan Berserikat dan Berkumpul
Pasal 28 menetapkan hak warna negara dan penduduk untuk
“Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran secara lisan
maupun tulisan, dan sebagainya. Syarat-syaratnya akan diatur dalam undang-
undang”.
Dalam ketentuan ini terdapat tiga hak warga negara, yaitu hak kebebasan
berserikat, hak kebebasan berkumpul, serta hak kebebasan untuk berpendapat.
f. Kemerdekan Memeluk Agama
Pasal 29 Ayat (1) menyatakan bahwa “Negara berdasar atas ketuhanan
Yang Maha Esa”. Ketentuan ayat ini menyatakan kepercayaan bangsa Indonesia
terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian Pasal 29 Ayat (2) menyatakan
“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya
masing-masing dan beribadah menurut agamanya dan kepercayaan itu”. Hal ini
merupakan hak warga negara atas kebebasan beragama. Dalam konteks kehidupan
bangsa Indonesia, kebebasan beragama ini tidak diartikan bebas tidak beragama,
tetapi bebas untuk memeluk satu agama sesuai dengan keyakinan masing-masing,
serta bukan berarti pula bebas untuk mencampuradukkan ajaran agama.
g. Pertahanan dan Keamanan Negara
Pertahanan dan keamanan negara dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan dalam bentuk hak dan kewajiban
yang dirumuskan dalam Pasal 30 Ayat (1) dan (2). Ketentuan tersebut menyatakan
hak dan kewajiban warga negara untuk ikut serta dalam usaha pertahanan dan
keamanan negara.
h. Hak Mendapat pendidikan
Sesuai dengan tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercermin
dalam alenia keempat pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, yaitu bahwa pemerintah negara Indonesia antara lain
berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa, pasal 31 Ayat (1) Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menetapkan bahwa
“Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Ketentuan ini merupakan
penegasan hak warga negara untuk mendapatkan pendidikan.
Selanjutnya dalam Pasal 31 Ayat (2) ditegaskan bahwa “Setiap warga
negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”.
Pasal ini merupakan penegasan atas kewajiban warga negara untuk mengikuti
pendidikan dasar. Untuk maksud tersebut, Pasal 31 Ayat (3) Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa “Pemerintah
mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang
meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”.
i. Kebudayaan Nasional Indonesia
Pasal 32 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 menetapkan bahwa “Negara memajukan kebudayaan nasional
Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat
dalam memelihara dalam mengembangkan nilai-nilai budayanya”. Hal ini
merupakan penegasan atas jaminan hak warga negara untuk mengembangkan
nilai-nilai budayanya. Kemudian dalam Pasal 32 Ayat (2) disebutkan “Negara
menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional”.
Ketentuan ini merupakan jaminan atas hak warga negara untuk mengembangkan
dan menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pergaulan.
j. Perekonomian Nasional
Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
mengatur tentang perekonomian nasional. Pasal 33 yang terdiri atas lima ayat
menyatakan sebagai berikut.
1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas
kekeluargaan.
2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai
hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
3. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai
oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
4. Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi
dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan,
berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga
keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
5. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam
undang-undang.
Ketentuan pasal 33 ini merupakan jaminan hak warga negara atas usaha
perekonomian dan hak warga negara untuk mendapatkan kemakmuran.
k. Kesejahteraan Sosial
Masalah kesejahteraan sosial dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesi Tahun 1945 diatur dalam Pasal 34. Pasal 34 terdiri atas empat
ayat.
1. Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.
2. Negara mengembangkan sistim jaminan sosial bagi seluruah rakyat dan
memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan
martabat kemanusiaan.
3. Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan
dan fasilitas pelayanan umum yang layak.
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam
undang-undang.
Pasal 34 ini menunjukkan suatu semangat bangsa indonesia untuk
mewujudkan keadilan sosial. Ketentuan dalam pasal ini memberikan jaminan atas
hak warga negara untuk mendapatkan kesejahteraan sosial yang terdiri atas hak
mendapatkan jaminan sosial, hak mendapatkan jaminan kesehatan, dan hak
mendapatkan fasilitas umum yang layak.
Untuk mencapai keseimbangan antara hak dan kewajiban, yaitu dengan
cara mengetahui posisi diri kita sendiri. Seorang warga negara harus tahu hak dan
kewajibannya sebagai warga negara. Seorang pejabat atau pemerintah pun harus
tahu akan hak dan kewajibannya. Seperti yang sudah tercantum dalam hukum dan
aturan-aturan yang berlaku. Jika hak dan kewajiban seimbang dan terpenuhi,
maka kehidupan masyarakat akan aman sejahtera. Hak dan kewajiban di
Indonesia ini tidak akan pernah seimbang apabila masyarakat tidak bergerak
untuk merubahnya.
Sampai saat ini masih banyak rakyat yang belum mendapatkan haknya.
Oleh karena itu, kita sebagai warga negara yang berdemokrasi harus bangun dari
mimpi kita yang buruk ini dan merubahnya untuk mendapatkan hak-hak dan tak
lupa melaksanakan kewajiban kita sebagai rakyat Indonesia. Sejumlah sifat dan
karakter warga negara yang bertanggung jawab dan mandiri adalah sebagai
berikut :
1. Memiliki rasa hormat dan bertanggung jawab, sifat ini adalah sikap dan
perilaku sopan santun, ramah tamah dan melaksanakan semua tugas dan
fungsinya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2. Bersikap kritis, sikap ini adalah sikap dan perilaku yang berdasarkan data
dan fakta yang valid (sah) serta argumentasi yang akurat
3. Melakukan diskusi dan dialog, sifat ini adalah sikap dan perilaku dalam
menyelesaikan masalah (problem solving) hendaknya dilakukan dengan
pola diskusi dan dialog untuk mencari kesamaan pemikiran terhadap
penyelesaian masalah yang dihadapi
4. Bersifat terbuka, sifat ini adalah sikap dan perilaku yang transpran serta
terbuka, sejauh masalah tersebut tidak bersifat rahasia.
5. Rasional, sifat ini adalah pola dan perilaku yang berdasarkan rasio atau
akal pikiran yang sehat.
6. Adil, sifat ini adalah sikap dan perilaku menghormati persamaan derajat
dan martabat kemanusiaan.
7. Jujur, sifat ini adalah sikap dan perilaku yang berdasarkan data dan fakta
yang sah dan akurat.
8. Karakteristik warga negara yang mandiri meliputi :
a. Memiliki kemandirian
b. Memiliki tanggung jawab pribadi, politik dan ekonomi sebagai warga
Negara
c. Menghormati martabat manusia dan kehormatan pribadi
d. Berpartisipasi dalam urusan kemasyarakatan dengan pikiran dan sikap
yang santun
e. Mendorong berfungsinya demokrasi konstitusional yang sehat
2.3 KETIMPANGAN/KETIDAKSEIMBANGAN ANTARA HAK DAN
KEWAJIBAN NEGARA DALAM PRAKTIK KEHIDUPAN
BAB III
CONTOH KASUS
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA