Anda di halaman 1dari 6

BAB 10

PENGHAPUSAN DISKRIMINASI DALAM


BERBAGAI BENTUK

Diskriminasi dalam berbagai bentuk telah merambah ke


berbagai bidang kehidupan bangsa dan dianggap sebagai hal yang
biasa dan wajar serta tidak menganggap bahwa hal tersebut
merupakan suatu bentuk diskriminasi.
Perlakuan diskriminatif tidak disadari oleh subjek yang
menerima perlakuan diskriminasi tersebut dan oleh yang
memperlakukan tindakan diskriminasi tersebut. Praktik diskriminasi
merupakan tindakan pembedaan untuk mendapatkan hak dan
pelayanan kepada masyarakat dengan didasarkan warna kulit,
golongan, suku, etnis, agama, jenis kelamin, dan sebagainya serta
akan menjadi lebih luas cakupannya jika kita mengacu kepada
Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
Pasal 1 ayat (3) UU tersebut menyatakan bahwa diskriminasi
adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung
ataupun tidak langsung didasarkan perbedaan manusia atas dasar
agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status
ekonomi, jenis kelamin, bahasa, dan keyakinan politik, yang berakibat
pengangguran, penyimpangan atau penghapusan pengakuan,
pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar
dalam kehidupan, baik individual maupun kolektif dalam bidang
politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan yang
lain.

Permasalahan yang Dihadapi


Dari segi peraturan perundang-undangan, beberapa peraturan
perundang-undangan telah diarahkan untuk menghapuskan
kesenjangan dan menghilangkan praktik diskriminasi, antara lain
untuk menghapuskan diskriminasi terhadap perempuan, suku etnis,
kelompok rentan, dan kelompok minoritas. Namun, perubahan yang
diharapkan belum terwujudkan secara optimal, antara lain disebabkan
oleh peraturan perundang-undangan yang ada belum dijadikan acuan
dalam melakukan tindakan untuk dijadikan dasar hukum pada proses
hukum penanganan kasus atau perkara.
Terkait dengan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan,
Indonesia yang telah meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala
Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on The
Elimination of All Forms of Discrimination Against Women/CEDAW)
atau Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap
Perempuan mempunyai kewajiban untuk melaksanakan dan
melaporkan pelaksanaan upaya menghapuskan segala bentuk
diskriminasi kepada dunia internasional. Namun, harus diakui bahwa
pelaksanaan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan ini masih
menghadapi kendala yang tidak kecil. Hal tersebut, antara lain,
disebabkan kurangnya koordinasi antarkelembagaan sehingga terjadi
tumpang tindih dalam pelaksanaannya. Selain itu, juga masih ada
kelemahan komitmen instansi/lembaga yang terkait sehingga sering
mengakibatkan lambatnya upaya penanganan berbagai masalah
diskriminasi di Indonesia.
Selain itu, masih sering terjadi bahwa pelayanan kepada
masyarakat menjadi kurang dengan alasan bahwa hal itu disebabkan
legitimasi dari pernyataan dalam peraturan perundang-undangan
belum mengatur ketentuan yang harus dilakukan.
10 - 2
Diskriminasi juga dapat terjadi, antara lain, pada kehidupan
masyarakat miskin atau kurang mampu. Akses untuk mendapatkan
pelayanan khususnya pelayanan kesehatan, masih sering
menimbulkan diskriminasi, terutama kepada golongan masyarakat
miskin, dan menimbulkan ketidakadilan. Hal tersebut, antara lain,
disebabkan rendahnya kepedulian sosial penyelenggara rumah sakit.
Di samping itu, dikarenakan tidak adanya perangkat peraturan
perundang-undangan yang mempunyai aturan kekuatan hukum dan
sanksi yang tegas bagi rumah sakit yang menolak memberikan
pelayanan kesehatan bagi pasien miskin, menyebabkan penolakan dan
penahanan rumah sakit terhadap pasien miskin masih sering terjadi.
Sementara itu, kondisi buruh pada umumnya, sebagai kelompok
masyarakat rentan lain yang memerlukan perlindungan, masih belum
membaik selama 2004. Penghentian hubungan kerja oleh berbagai
perusahaan karena alasan efisiensi atau penjualan perusahaan serta
pembayaran upah di bawah standar minimum yang ditetapkan
Pemerintah berlangsung selama 2004. Keadaan itu menunjukkan tidak
terpenuhinya hak atas upah yang adil sesuai dengan prestasi dan yang
dapat menjamin kelangsungan kehidupan keluarga mereka.
Selain itu, berbagai kasus buruh migran masih mewarnai
kondisi HAM di Indonesia sepanjang 2004. Kasus-kasus tersebut
merupakan permasalahan yang berlanjut yang terjadi di tahun-tahun
sebelumnya. Sepanjang 2004 buruh migran Indonesia mengalami
berbagai masalah, seperti tidak cukup terlindunginya buruh migran
perempuan, terjadinya perdagangan perempuan, perlakuan terhadap
buruh yang tidak berdokumen yang sah, pengiriman buruh migran ke
wilayah konflik, kekerasan terhadap buruh migran perempuan,
pengenaan hukuman mati, dan deportasi massal dari negara migrasi.

Langkah-Langkah Kebijakan dan Hasil-Hasil yang Dicapai


Beberapa ketentuan yang merupakan suatu upaya untuk
menghapuskan tindakan diskriminasi, antara lain sebagai berikut.
a) Diskriminasi terhadap perempuan perlu mendapatkan
perhatian yang lebih mengingat khusus diskriminasi terhadap
perempuan itu, Indonesia telah meratifikasi CEDAW dengan

10 - 3
UU No. 7 Tahun 1984. Dalam Konvensi itu disebutkan 12
bentuk diskriminasi terhadap perempuan, yaitu (1) perempuan
dan kemiskinan; (2) pendidikan dan pelatihan perempuan; (3)
perempuan dan kesehatan; (4) kekerasan terhadap perempuan;
(5) perempuan dan konflik bersenjata; (6) perempuan dan
ekonomi; (7) perempuan dalam kekuasaan dan pengambilan
keputusan; (8) mekanisme kelembagaan untuk kemajuan
perempuan; (9) hak asasi perempuan; (10) perempuan dan
media; (11) perempuan dan lingkungan hidup; dan (12) anak
perempuan.
Berbagai upaya yang telah dilakukan untuk menghapuskan dua
belas bentuk diskriminasi tersebut, antara lain yang menyangkut
kekerasan terhadap perempuan dengan ditetapkannya UU No.
23 Tahun 2004 pada September 2004 tentang Penghapusan
Kekerasan dalam Rumah Tangga. Di samping itu, dalam
mendukung upaya penghapusan diskriminasi tersebut, dalam
Program Legislasi Nasional (Prolegnas) tahun 2005 akan
dibahas berbagai rancangan undang-undang yang berkaitan
dengan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan, antara
lain RUU tentang Keimigrasian, RUU tentang Kesehatan, RUU
tentang Pornografi dan Pornoaksi, dan RUU tentang Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana.
b) Masih adanya pembedaan penggolongan dalam pencatatan
sipil, khususnya bagi orang keturunan Cina, walaupun dalam
akta kelahiran telah dicantumkan warga negara Indonesia,
masih diperlukan penegasan kembali dengan surat bukti
kewarganegaraan RI (SBKRI). Walaupun telah ada Keputusan
Presiden tentang tidak diperlukannya SBKRI, dalam praktiknya
hal tersebut masih saja terjadi. Keadaan itu pada akhirnya dapat
menimbulkan kerancuan karena perlu adanya pembuktian
kewarganegaraan terhadap warga negara tetapi khususnya suku
etnis Cina, yang telah menjadi warga negara Indonesia, masih
perlu surat bukti lain untuk mendukung keberadaannya. Adanya
diskriminasi itu menimbulkan ketidakadilan bagi suku/etnik
tersebut karena mengalami perbedaan.

10 - 4
c) Dengan diundangkannya UU No. 39 tahun 2004 tentang
Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar
Negeri, diharapkan agar aparat atau lembaga yang terkait
dengan pelayanan, penempatan, dan pelindungan bagi tenaga
kerja Indonesia (TKI) dapat memberikan pelindungan dan
pemenuhan HAM bagi buruh pekerja migran di luar negeri.
d) Langkah positif dalam upaya pelindungan buruh migran
adalah telah ditandatanganinya Nota Kesepahaman
(Memorandum of Understanding/MoU) antara Indonesia dan
Malaysia. Penandatanganan itu mempunyai arti penting bagi
upaya pelindungan migran Indonesia di Malaysia mengingat 90
persen buruh migran di Malaysia berasal dari Indonesia.

Tindak Lanjut yang Diperlukan


Dalam rangka penghapusan diskriminasi terhadap perempuan,
kelompok rentan, kelompok minoritas, dan masyarakat miskin, perlu
ditindaklanjuti, antara lain pembuatan peraturan perundang-undangan
yang tidak diskriminasi terhadap perempuan, kelompok rentan,
kelompok minoritas serta upaya pemberian pelayanan terutama
kepada masyarakat miskin melalui penguatan dukungan, komitmen,
dan keinginan yang tegas dari semua pihak terkait.
Sangat penting pula untuk ditindaklanjuti adalah pelaksanaan
yang konsisten dan komitmen dari pimpinan pemerintahan terhadap
perundang-undangan yang mendukung upaya penghapusan
diskriminasi terhadap perempuan, kelompok rentan, kelompok
minoritas, dan masyarakat miskin.
Di samping itu, untuk menjaga dan melaksanakan komitmen
Indonesia sebagai konsekuensi meratifikasi CEDAW langkah utama
yang perlu ditindaklanjuti adalah melalui sosialisasi dan peningkatan
kesadaran hukum terhadap materi peraturan perundang-undangan
tidak saja kepada masyarakat, tetapi juga kepada aparat penegak
hukum sebagai landasan hukum dan juga persamaan persepsi untuk
menangani berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan, kelompok
rentan, serta kelompok minoritas. Diharapkan dengan langkah-
langkah tersebut akan tercipta hubungan yang sinergis antarinstansi
10 - 5
penegak hukum, seperti kepolisian, kejaksaan, dan hakim serta
instansi terkait yang lain dan masyarakat luas. Di samping sangat
penting, hal itu juga untuk memperbaiki mekanisme pelayanan publik
kepada masyarakat pada umumnya dan kelompok rentan, kelompok
minoritas, dan masyarakat miskin pada khususnya sehingga upaya
segala bentuk diskriminasi dapat dihapuskan secara bertahap, tetapi
pasti.

10 - 6