Anda di halaman 1dari 27

TUGAS IMUNOLOGI

LECTIN PATHWAY COMPLEMENT

OLEH :

KELOMPOK 17

Ni Nyoman Englandari Murti (1008505011)

A.A Feby Danuswari (1008505054)

Putu Lita Astriani (1008505056)

Ni Putu Yulia Purnami (1008505059)

Gusti Ayu Eka Pertiwi (1008505060)

Putu Ika Indah Indraswari (1008505061)

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS UDAYANA

2013
DAFTAR ISI

Halaman

Daftar Isi..................................................................................................... i
Daftar Gambar…………………………...………………………..……... ii
Bab I : Pendahuluan..................................................................................
1.1 Latar Belakang........................................................................
1.2 Rumusan Masalah...................................................................
1.3 Tujuan.....................................................................................
1.4 Manfaat..................................................................................
Bab II : ISI................................................................................................
2.1. Pengertian Sistem Imun........................................................
2.2 Pengertian Komplemen………………………….................
2.3 Proses dan Prinsip Lectin Pathway Complement………......
2.4
Bab III: Penutup.........................................................................................
3.1 Kesimpulan....................……………………………………
Daftar Pustaka
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Tiga Jalur Aktivasi Komplemen ……………………………..


Gambar 2. Struktur MBL dan Ficolin ………………………..................
Gambar3. Struktur MASP.............................................. ..........................
Gambar 4. MBL mengenali permukaan bakteri........................................
Gambar 5. Kompleks MBL dengan MASP 1 dan 2 …………………......
Gambar 6. Jalur aktivasi komplemen........................................................
DAFTAR PUSTAKA

Abbas , A.K., Lichtman, A.H and Pober ,J.S .2005. Cellular and Molecular
Immunology 3rd ed. Philadelphia: WB Saunders.

Baratawidjaja, K.G. 1998. Imunologi Dasar Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Fujita, Teizo. 2002. Evolution of the Lectin-Complement Pathway and It’s Role in
Innate Immunity. Imunology Volume 2 :346-353
Gorbach, S.L., Bartlett, J.G., and Blacklow, N.R. 2003. Infectious Diseases 3rd ed.
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins

Janeway C.A., Jr. and R. Medzhitov. 2002. Innate Immune Recognition. New
Haven:Section of Immunobiology and Howard Hughes Medical Institute,
Yale University Schoolof Medicine.

Janeway, et. al. 2005. Immunobiology. New York : Garland Science.

Male D, Champion B, Cooke A, Owen M. 1991. The Immune System. In


Advanced Immunology 2 nd ed. New York; Gover Med Publ.
Playfair, J.H.L. dan B.M. Shain. tt. At a Glance Imunologi. Erlangga Medical
Series.
Rintoko, Bimo. 2009. Fungsi Utama Sistem Imun Spesifik Seluler Dan Jalur
Komplemen Yang Berperan. Jakarta : Dental Preventive dan Aesthetic
Clinic.

Roitt IM, Brostoff J, Male J. 1993. Immunology, 3 rd ed. St Louis Mosby Co.

Summerfield, et.al. (1997) Association of mutations in mannose binding protein


gene with childhood infection in consecutive hospital series. Brittish
Medical Journal 314: 1229-1231.
Sompayrac, Lauren. 1999. How the Immune System Works. Malden, MA :
Blackwell Science.
U.S. Departement Of Health and Human Services National Iistitutes Of Health. tt.
Understanding the Immune System How It Works. United States of
America : National Institute of Allergy and Infectious Diseases National
Cancer Institute
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Imunologi adalah cabang ilmu biomedis yang berkaitan dengan respons


organism terhadap penolakan antigen, pengenalan diri sendiri dan bukan
dirinya, serta semua efek biologis, serologis dan kimia fisika fenomena imun.
Dalam menghadapi serangan benda asing yang dapat menimbulkan infeksi atau
kerusakan jaringan, tubuh manusia dibekali sistem pertahanan untuk
melindungi dirinya. Sistem pertahanan tubuh yang dikenal sebagai mekanisme
imunitas alamiah ini, merupakan tipe pertahanan yang mempunyai spektrum
luas, yang artinya tidak hanya ditujukan kepada antigen yang spesifik. Selain
itu, di dalam tubuh manusia juga ditemukan mekanisme imunitas yang didapat
yang hanya diekspresikan dan dibangkitkan karena paparan antigen yang
spesifik. Tipe yang terakhir ini, dapat dikelompokkan manjadi imunitas yang
didapat secara aktif dan didapat secara pasif. Berbagai organik dan anorganik,
baik yang hidup maupun yang mati, asal hewan, tumbuhan, jamur bakteri,
virus, parasit, berbagai debu dalam polusi, uap, asap dan lain-lain iritan,
ditemukan dalam lingkungan hidupdan kerja kita sehingga setiap saat bahan-
bahan tersebut dapat masuk ke dalam tubuh dan menimbulkan berbagai
penyakit bahkan kerusakan jaringan. Selain itu, sel badan yang menjadi tua dan
sel yang bermutasi menjadi ganas, merupakan bahan yang tidak diingini dan
perlu disingkirkan (Rintoko,2009).
Lingkungan di sekitar manusia mengandung berbagai jenis unsur
pathogen, misalnya bakteri, virus, fungus, protozoa dan parasit yang dapat
menyebabkan infeksi pada manusia. Infeksi yang terjadi pada manusia normal
umumnya singkat dan jarang meninggalkan kerusakan permanen. Hal ini
disebabkan tubuh manusia memiliki suatu sistem yaitu sistem imun yang
melindungi tubuh terhadap unsur-unsur patogen. Respon imun seseorang
terhadap terhadap unsur-unsur patogen sangat bergantung pada kemampuan
sistem imun untuk mengenal molekul-molekul asing atau antigen yang terdapat
pada permukaan unsur patogen dan kemampuan untuk melakukan reaksi yang
tepat untuk menyingkirkan antigen. Dalam pandangan sekarang, respon imun
diperlukan untuk tiga hal, yaitu pertahanan, homeostatis dan pengawasan. Yang
pertama ditujukan untuk infeksi mikroorganisme, yang kedua terhadap
eliminasi kompone-komponen tubuh yang sudah tua dan yang ketiga
dibutuhkan untuk menghancurkan sel-sel yang bermutasi terutama yang
menjadi ganas. Dengan perkataan lain, respon imun dapat diartikan sebagai
suatu system agar tubuh dapat mempertahankan keseimbangan antara
lingkungan di luar dan di dalam badan (Rintoko,2009). Di dalam makalah ini
akan dijelaskan tentang apa itu sistem imun seluler dan respon imunologik
terhadap bakteri dan jalur komplemen yang berperan terutama jalur lectin
(Lectin pathway complement).
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan sistem imun ?
1.2.2 Apa yang dimaksud dengan innate imunity ?
1.2.3 Apa yang dimaksud dengan sistem komplemen?
1.2.4 Apa yang dimaksud dengan lectin pathway complement dan bagaimana
prinsip serta prosesnya?
1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui apa itu sistem imun.
1.3.2 Mengetahui apa yang dimaksud dengan innate imunity .
1.3.3 Mengetahui apa yang dimaksud dengan sistem komplemen
1.3.4 Mengethui apa yang dimaksud dengan lectin pathway complement dan
bagaimana prinsip serta prosesnya
1.4 Manfaat
1.3.1 Dapat mengetahui apa itu sistem imun dan bagaimana kerjanya dalam
tubuh manusia.
1.3.2 Dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan innate imunity
1.3.3 Dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan sistem komplemen
1.3.4 Dapat mengethui apa yang dimaksud dengan lectin pathway complement
dan bagaimana prinsip serta prosesnya
BAB II
ISI
2.1 Sistem Imun
Menurut Karnen Garna Baratawidjaja dalam buku Imunologi Dasar
Edisi Ketiga, sistem imun ialah semua mekanisme pertahanan yang digunakan
tubuh untuk mempertahankan keutuhan tubuh sebagai perlindungan terhadap
bahaya yang dapat ditimbulkan oleh berbagai bahan dalam lingkungan hidup.
Fungsi sistem kekebalan tubuh adalah untuk melindungi tubuh dari infeksi dan
penyakit. Sistem kekebalan tubuh bekerja untuk mengidentifikasi patogen dan
sel-sel tumor yang dapat menyebabkan penyakit dan mengeliminasi dari sistem
tubuh (Baratawidjaja, 1998). Sistem kekebalan tubuh terdiri dari sel, jaringan,
dan organ yang bekerjasama untuk mempertahankan tubuh terhadap serangan
oleh penyerbu "asing" terutama mikroba (kuman), mikroba penyebab infeksi
seperti bakteri, virus, parasit, dan jamur. Karena tubuh manusia menyediakan
lingkungan yang ideal untuk bentuk mikroba apapun, mikroba-mikroba
tersebut mencoba untuk mendobrak masuk ke dalam tubuh. Tugas sistem
kekebalan tubuh adalah menjaga dari serangan mikroba atau jika gagal untuk
mencari dan menghancurkan mikroba tersebut. Sistem kekebalan tubuh
manusia sangatlah kompleks. Sistem ini dapat mengenali dan mengingat jutaan
musuh yang berbeda, dan dapat menghasilkan sekresi. Rahasia keberhasilannya
adalah sebuah jaringan komunikasi yang rumit dan dinamis. Jutaan sel diatur
dalam set dan subset, berkumpul seperti awan berbentuk lebah berkerumun di
sekitar sarang dan menyampaikan informasi bolak-balik. Setelah sel kekebalan
tubuh menerima suatu peringatan, maka akan dilakukan perubahan taktis dan
mulai memproduksi bahan kimia kuat. Zat-zat ini memungkinkan sel untuk
mengatur pertumbuhan mereka sendiri dan perilaku sendiri (Departement Of
Health and Human Servive, tt). Organ dari sistem kekebalan tubuh ditempatkan
di seluruh tubuh. Disebut organ limfoid karena sisitem ini adalah rumah bagi
limfosit. Sel darah putih merupakan pemain kunci dalam sistem kekebalan
tubuh. Sumsum tulang jaringan lunak di pusat cekungan tulang adalah sumber
utama dari semua sel darah, termasuk sel darah putih yang bertugas untuk
menjadi sel-sel kekebalan tubuh. Timus adalah organ yang terletak di belakang
tulang dada, limfosit yang dikenal sebagai limfosit T, atau hanya "sel T,"
matang dalam timus. Limfosit dapat melakukan perjalanan ke seluruh tubuh
menggunakan pembuluh darah. Sel-sel juga dapat melakukan perjalanan
melalui sistem pembuluh limfatik yang sejajar vena tubuh dan arteri. Sel dan
cairan dipertukarkan antara darah dan pembuluh limfatik, memungkinkan
sistem limfatik untuk memantau tubuh untuk menyerang mikroba. Sistem
kekebalan tubuh manusia dibagi kepada dua, yaitu kekebalan tubuh non
spesifik dan kekebalan tubuh spesifik. Sistem imun non spesifik merupakan
pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi serangan berbagai
mikroorganisme, oleh karena dapat memberikan respon langsung terhadap
antigen, sedang sistem imun spesifik membutuh waktu untuk mengenal antigen
terlebih dahulu sebelum dapat memberikan responnya (Departement Of Health
and Human Servive, tt).
Innate Imunnity
Mikroorganisme yang ditemui sehari-hari dalam kehidupan seorang
individu yang sehat menyebabkan penyakit. Kebanyakan dideteksi dan
dihancurkan dalam beberapa menit atau jam dengan mekanisme pertahanan
yang tidak bergantung pada ekspansi klonal antigen-spesifik C limfosit. Ini
adalah mekanisme imunitas bawaan. Imunitas bawaan bergantung pada
sejumlah reseptor dan protein disekresikan yang dikodekan dalam germline dan
yang mengakui fitur umum untuk banyak (Gorbach, 2003). Imunitas bawaan
juga terdapat di balik respon inflamasi, hal ini dipicu oleh makrofag, leukosit
PMN, dan sel mast melalui reseptor imun bawaan mereka. Kelemahan dalam
kekebalan bawaan meskipun sangat jarang ditemui tetapi hampir selalu
mematikan. Komplemen jalur juga bisa dipicu oleh lektin mannose-binding,
suatu protein fase akut. Di antara sel-sel yang menanggung reseptor pengenalan
kekebalan bawaan atau germline-encoded adalah makrofag, sel dendritik (DC),
sel mast, neutrofil, eosinofil, dan sel NK. Sel-sel ini dapat menjadi aktif selama
inflamasi respon, yang hampir selalu merupakan menjadi tanda infeksi dengan
patogen mikroba. Sel-sel tersebut cepat berdiferensiasi menjadi sel efektor
singkat yang berperan utama untuk menyingkirkan infeksi (Janeway, 2002).
Sistem imun non spesifik ini dibagi kepada empat yaitu pertahanan fisik
dan mekanik, pertahanan biokimiawi, pertahanan humoral serta pertahanan
seluler. Dalam sistem pertahanan fisik atau mekanik ini, kulit, selaput lendir,
silia saluran napas, batuk dan bersin akan mencegah masuknya berbagai kuman
patogen ke dalam tubuh. Kulit yang rusak misalnya oleh luka bakar dan selaput
lendir yang rusak oleh asap rokok akan meninggikan risiko infeksi. Pertahanan
biokimiawi adalah seperti asam hidroklorida dalam lambung, enzim proteolitik
dalam usus, serta lisozim dalam keringat, air mata, dan air susu. Berbagai
bahan dalam sirkulasi berperanan pada pertahanan humoral seperti komplemen,
interferon, dan C-Reactive Protein. Komplemen berperan meningkatkan
fagositosis dan mempermudah destruksi bakteri dan parasit. Interferon pula
dilepas sebagai respon terhadap infeksi virus. Di samping itu, ia juga dapat
mengaktifkan Natural Killer cell (sel NK). Fagosit, makrofag, sel NK dan sel
K berperanan dalam sistem imun non spesifik selular dan berperan untuk
menangkap, mamakan, membunuh dan akhirnya mencerna kuman
(Baratawidjaja, 1998).
Adaptive Imunnity
Diketahui respon imun bawaan merupakan reaksi pertahanan umum,
sedangkan respon adaptif adalah respon spesifik untuk patogen tertentu yang
diinduksi dimana memberikan perlindungan jangka panjang. Seseorang yang
pulih dari campak misalnya, terlindungi seumur hidup terhadap campak oleh
sistem kekebalan tubuh adaptif, meskipun tidak terhadap virus umum lainnya,
seperti yang menyebabkan gondok atau cacar air. Respon imun adaptif
menghilangkan atau menghancurkan patogen dan setiap molekul beracun yang
mereka hasilkan. Karena tanggapan ini bersifat merusak, diarahkan hanya
terhadap molekul asing dan tidak melawan molekul sendiri. Respon imun
adaptif yang dilakukan oleh sel darah putih yang disebut lymphocytes. Ada dua
kelas yang luas dari respon-respon antibodi, disebut sel B dan sel T. Dalam
respon antibodi, sel B diaktifkan untuk mensekresi antibodi, yang merupakan
protein yang disebut imunoglobulin.Dalam respon imun sel T, sel T diaktifkan
bereaksi secara langsung terhadap antigen asing yang disajikan kepada mereka
pada permukaan sel inang, sehingga yang disebutsebagai sel antigen-penyajian.
Dikasus lain, sel T menghasilkan molekul sinyal yang baik dalam
mengaktifkan makrofag untuk menghancurkan mikroba yang telah mereka
phagocytosed atau membantu mengaktifkan Sel B untuk membuat antibodi
terhadap mikroba (Abbas, 2005).
Berbeda dengan sistem imun non spesifik, sistem imun spesifik
mempunyai kemampuan untuk mengenal benda yang dianggap asing bagi
dirinya. Benda asing yang pertama kali muncul dalam badan segera dikenal
oleh sistem imun spesifik sehingga terjadi sensitisasi sel-sel sistem imun
tersebut. Jika sel imun tersebut berpapasan kembali dengan benda asing yang
sama, maka benda asing yang terakhir ini akan dikenal lebih cepat, kemudian
dihancurkan olehnya. Sistem imun spesifik terbagi antara humoral dan selular
di mana yang berperan dalam humoral adalah limfosit B manakala pada selular
adalah limfosit T. Antibodi yang dihasilkan sel B ini dapat pertahankan tubuh
dari infeksi ekstraseluler virus dan bakteri serta menetralisir toksinnya. Fungsi
utama sistem imun spesifik seluler pula untuk pertahanan terhadap bakteri yang
hidup intraseluler, virus, jamur, parasit dan keganasan (Baratawidjaja, 1998).

2.2 Sistem Komplemen


Komplemen adalah kumpulan sembilan protein plasma (C1-C9) bukan antibody
yang diperlukan pada reaksi antigen-antibodi sehingga terjadi kerusakan jaringan
atau kematian mikroba serta lisis sel. Sedikitnya ada 11 jenis protein komplemen
yang ada dalam plasma normal, masing-masing ada dalam keadaan inaktif tetapi
bila komplemen diaktivasi, setiap jenis komplemen mempunyai fungsi spesifik.
Jalur komplemen merupakan jalur yang berperan dalam respon imunologik
terhadap bakteri anaerob. Sistem komplemen mengandung lebih dari 18 macam
protein. Protein-protein ini bekerja dalam satu kaskade, dimana satu protein akan
mengaktifkan protein berikutnya. Sistem komplemen diaktifkan melalui 3 jalur
yang berbeda :
1. Jalur Klasik
Pada jalur ini komplemen diaktivasi melalui interaksi antigen dengan antibodi
spesifik yang mencetuskan komponen C1, C2 dan C4 untuk membentuk
konvertase yang membelah C3.

2. Jalur Alternatif
Jalur alternative terjadi dimulai dari C3 tanpa melalui tiga reaksi pertama yang
terdapat pada jalur klasik (C1, C2 dan C4). Jalur alternative terjadi terus
menerus dalam derajat klinis yang tidak berarti. Bakteri (endotoksin), jamur,
virus, parasit agragat IgA(IgA1 dan IgA2) dan IgG4, dan factor nefritik dapat
mengaktifkan komplemen melalui jalur alternative.

3. Jalur MBP (Mannan Binding Protein)


MBP Protein pengikat mannan, suatu molekul mirip C1q yang mengenali
komponen mikroba seperti mannan ragi dan mengaktivasi C1r dan C1s dan
karena itu mengaktivasi keseluruhan jalus klasik.

2.3 Lectin Pathway Complement


Komplemen pertama kali dijelaskan pada tahun 1890 sebagai protein
labil terhadap panas dalam serum yang 'mengkomplemen' antibodi yang stabil
terhadap panas dalam membunuh bakteri. Saat ini sistem komplemen terdiri
atas lebih dari 30 protein plasma dan sel protein permukaan, yang dikenal
sebagai sistem pertahanan host yang sangat canggih yang terlibat pada imunitas
bawaan (innate imunity) dan sebagai salah satu efektor utama dari mekanisme
antibody-mediated immunity. Setelah sistem komplemen diaktifkan, rantai
reaksi yang melibatkan proteolisis dan perakitan terjadi, yang menghasilkan
pembelahan komponen komplemen ketiga (C3). Kaskade yang mengarah ke
pembelahan C3 disebut jalur aktivasi (activation pathway). Hal ini diikuti oleh
jalur litik, ketika terbentuk membran attack complex (MAC) (Fujita, 2002).
Ada tiga jenis jalur aktivasi komplemen yaitu classical, lectin dan
alternative pathway seperti yang ditunjukkan pada gambar 1.
Gambar 1. Tiga Jalur Aktivasi Komplemen (Fujita, 2002).
Pada gambar 1 dijelaskan lectin pathway (jalur lektin) diinisiasi oleh
pengikatan oleh mannose binding lectin (MBL) atau ficolin yang terasosiasi
dengan MBL, MBL-associated serin protease 1 (MASP1), MASP2, MASP3
dan small MBL associated-protein (SMAP) pada kelompok karbohidrat pada
permukaan sel bakteri. MASP2 bertanggung jawab untuk aktivasi C4 dan C2
untuk membentuk kompleks enzim C4bC2a, yang berperan sebagai C3
convertase dan membelah C3 menjadi C3 dan C3 b. MASP1 mampu membelah
C3 langsung (Fujita, 2002).
Lectin pathway melibatkan pengenalan karbohidrat oleh reseptor
pengenalan pola, seperti mannose binding lectin (MBL) dan ficolins, dan
selanjutnya aktivasi enzim terkait yang dikenal sebagai MBL-associated serin
protease (MASPs). Aktivasi sistem komplemen menyebabkan tiga aktivitas
biologis utama: opsonisasi patogen, kemotaksis dan aktivasi leukosit; dan
pembunuhan langsung dari patogen (Fujita, 2002).

Mannose Binding Lectin (MBL)


Lektin didefinisikan secara sederhana sebagai protein yang secara
khusus mengikat karbohidrat. Mannose-binding lektin dan ficolins, merupakan
gugus yang terlibat pada pengenalan molekul di lectin pathway. Mannose-
binding lektin adalah-lektin tipe C yang memiliki peran penting dalam lini
pertama pertahanan sistem host. Pentingnya molekul ini dibuktikan oleh
beberapa penelitian klinis dimana defisiensi MBL terkait dengan peningkatan
kerentanan terhadap berbagai infeksi (Fujita, 2002).
Mannose-binding lektin (MBL), juga disebut protein pengikat manosa
(MBP), adalah protein serum kalsium yang berperan dalam respon imun
bawaan dengan mengikat karbohidrat pada permukaan berbagai patogen (virus,
bakteri , jamur, protozoa) di mana ia dapat mengaktifkan sistem komplemen
atau bertindak langsung sebagai opsonin. Mannose-binding lektin adalah
anggota dari keluarga collectin protein, yang dibuat di hati dan dapat
mengopsonisasi bakteri dengan penandaan permukaan patogen untuk
memfasilitasi pengenalan dan ingesti oleh fagosit. Dinamakan collectin karena
mereka memiliki wilayah seperti kolagen dan wilayah lektin. Lektin adalah
protein yang mengikat molekul gula, biasanya pada permukaan bakteri.
Domain kolagen berinteraksi dengan bagian efektor dari sistem kekebalan
tubuh bawaan. MBL2 gen pada kromosom manusia 10 menghasilkan MBL.
MBL merupakan keluarga collectin protein, yang terdiri dari collagen
like domain dan carbohydrate-recognition domain (CRD). Tiga polipeptida
terlipat bersama sama untuk membentuk subunit struktural dan 3-6 dari subunit
ini bergabung untuk membentuk MBL, yang memiliki massa molekul 300-650
kDa (Gambar 2)

Gambar 2. Struktur MBL dan Ficolin (Fujita, 2002).


Melalui CRD, MBL mengikat karbohidrat dengan 3 - dan 4-hidroksil di
kelompok cincin piranosa pada kehadiran kalsium. Jadi, ligan menonjol untuk
MBL adalah mannose dan N-asetil-glukosamin (GlcNAc), sedangkan
karbohidrat yang tidak cocok persyaratan sterik ini, misalnya galaktosa dan
asam sialic, yang biasanya terdapat pada glikoprotein mamalia, memiliki
afinitas yang tidak terdeteksi oleh MBL. Spesifisitas sterik MBL
memungkinkan pengenalan spesifik karbohidrat pada mikroorganisme patogen,
termasuk bakteri, jamur, parasit protozoa dan virus, dan menghindari
pengenalan self non infeksi. MBL terdapat pada mamalia, ayam dan ikan.
Ficolins, seperti MBL, adalah kelompok protein yang berisi struktur batang
seperti kolagen. Tidak seperti MBL, ficolin memiliki domain seperti
fibrinogen, yang mirip dengan fibrinogen rantai β-dan γ-chains (Gambar 2).
Awalnya ficolin diidentifikasi sebagai transforming growth factor-β1 Protein
(TGF-β1) pada membrane rahim babi. Sejak saat itu, ficolins telah
diidentifikasi pada mamalia, termasuk manusia, tikus, babi. Serum ficolins
adalah lektin yang memiliki spesifisitas untuk mengikat GlcNAc24. Dalam
serum manusia dikenal dua jenis ficolin, yaitu L-ficolin/P35 (ficolin L) dan H-
ficolin (Hakata antigen) yang telah diidentifikasi dan keduanya memiliki
aktivitas lektin. Ficolin lain, dikenal sebagai M-ficolin yang ditemukan dalam
leukosit dan paru - tidak dianggap sebagai protein serum (Fujita, 2002).
Baru-baru ini, telah dilaporkan bahwa L-ficolin/P35 dan H-ficolin
mengaktifkan jalur lektin komplemen yang berasosiasi dengan MASPs. Fungsi
domain seperti fibrinogen dari ficolins tidak sepenuhnya dipahami, namun
penelitian terbaru telah menunjukkan bahwa domain seperti fibrinogen dari
beberapa lektin memiliki fungsi yang mirip untuk CRD dari tipe C lektin, yang
menunjukkan bahwa ficolins mungkin juga berfungsi sebagai pengenalan pola
reseptor untuk membedakan patogen dari self (Fujita, 2002).

Serin Protease pada Lectin Pathway


MASPs, adalah bagian dari serin-protease, yang merupakan enzim
proteolitik yang bertanggung jawab untuk aktivasi lectin pathway. MBL dan
ficolins telah ditemukan terasosiasi dengan MASP1 dan MASP2, dan small
MBL-associated protein (sMAP or MAp19 : bentuk terpotong MASP2). Baru-
baru ini, sebuah MASP ketiga (MASP3), yang dihasilkan oleh splicing
alternatif MASP1, dilaporkan terasosiasi dengan MBL. Struktur keseluruhan
dari MASPs menyerupai dua komponen proteolitik dari faktor pertama dalam
jalur komplemen klasik, C1r dan C1s (gambar 3).

Gambar 3. Struktur MASP (Fujita, 2002).


Pengikatan komponen pengenalan pada lectin pathway (yaitu, MBL
atau ficolins) pada karbohidrat mikroba mengaktifkan serin protease spesifik,
MASPs. MASP2 adalah komponen enzim yang menyerupai C1s di jalur klasik
yang membelah komponen komplemen C4 dan C2 untuk membentuk C3
convertase C4bC2a, yang berperan dalam aktivasi jalur lektin dan klasik.
Sebaliknya, MASP1 mampu membelah C3 secara langsung yang akan
menghasilkan aktivasi alternatif pathway (Fujita, 2002).
Fungsi MASP3 dan SMAP yang saat ini belum diketahui secara jelas.
MASP1, MASP2, MASP3 dan SMAP dikodekan oleh dua gen, SMAP adalah
bentuk terpotong MASP2, dan MASP3 dihasilkan dari gen MASP1 dengan
alternatif splicing (Fujita, 2002).
Lectin Pathway
Patogen memiliki gula permukaan, seperti manosa, yang tidak ada pada
permukaan sel mamalia. MBL adalah contoh dari pengenalan pola reseptor
yang terdapat sebagai protein bebas dalam plasma darah. MBL mengikat
permukaan bakteri yang menampilkan penataan ruang tertentu seperti residu
gula karbohidrat, mannose atau fruktosa (Janeway et al., 2005).

Gambar. 4 MBL mengenali permukaan bakteri (Janeway et al., 2005).

Setelah MBL mengenali patogen, domain lektin yang akan mengikat


mannose, atau residu gula karbohidrat pada permukaan patogen, dan
mengaktifkan komplemen melalui jalur MB-lektin. MBL dapat mengenali
jamur seperti Candida albicans, virus seperti HIV dan influenza A, banyak
bakteri, termasuk Salmonella dan Streptococcus, dan parasit seperti Leishmania
(Somapayrac, 1999).
Dalam rangka mengaktifkan sistem komplemen, MBL membentuk
kompleks dengan mengikat protein lain yaitu serin protease (MBL-associated
serin protease) yang disebut MASPs. Ketika MBL mengikat target (misalnya,
mannose pada permukaan bakteri), fungsi protein MASP seperti convertase
untuk memecah C3 menjadi C3a dan C3b. C3 melimpah dalam darah, jadi ini
terjadi sangat efisien. Fragmen C3b kemudian dapat mengikat ke permukaan
bakteri. C3b dapat menyebabkan kaskade komplemen yang dapat dilanjutkan
dalam menggabungkan dengan protein komplemen lain untuk membuat
membran attack complex, yang menyebabkan lisis sel patogen. C3b juga dapat
mengikat untuk melengkapi reseptor pada fagosit menyebabkan opsonisasi
patogen (Somapayrac, 1999).

Gambar 5. Kompleks MBL dengan MASP 1 dan 2


(Janeway et al., 2005).

Ketika MBL membentuk kompleks dengan MASP-1 dan MAPS-2 pada


pengikatan MBL pada permukaan bakteri, protease serin menjadi aktif dan
kemudian dapat mengaktifkan sistem komplemen dengan membelah dan
mengaktifkan C4 dan C2. MASP2 membelah komponen komplemen C4 dan
C2 untuk membentuk C3 convertase (C4bC2a), yang berperan dalam aktivasi
jalur lektin dan klasik. Sebaliknya, MASP1 mampu membelah C3 secara
langsung (Fujita, 2002).
Gambar 6. Jalur aktivasi komplemen (Janeway et al., 2005).

Jalur MBL melibatkan protein MBL, MASP-1, MASP-2, C4, dan C2.
MASP bertindak sebagai C3 convertase, menciptakan sebuah fragmen C3b dari
C3. C3b menempel pada permukaan patogen dan berikatan dengan reseptor
pada fagosit menyebabkan opsonisasi. C3b juga dapat menggabungkan dengan
protein lain pada permukaan patogen dan membentuk membran attack complex
yang menyebabkan lisis sel (Janeway et al., 2005).
Lectin pathway dapat dirangkum sebagai berikut:
1 Lectin complemen pathway diinisiasi oleh pengenalan molekul karbohidrat
spesifik pada permukaan sel mikroba oleh mannose binding-lectin (MBL).
Pengikatan MBL mengaktifkan aktivitas enzim MBL-associated serine
protease-1 atau -2 (MASP-1 atau MASP-2).

2 Aktivasi MASP-1 atau MASP-2 memecah protein komplemen C4 menjadi


C4a yang dilepaskan dan C4b yang terikat pada permukaan sel mikroba.
Fungsi C4a sebagai anafilatoksin yang menstimulasi reaksi peradangan.
3 Aktivasi MASP-1 atau MASP-2 juga memecah protein komplemen C2
menjadi C2a yang dilepaskan dan C2b yang terkait dengan C4b untuk
membentuk sistem enzim convertase C3.

4 C3 convertase memecah protein komplemen C3 menjadi C3a yang


dilepaskan dan C3b yang dibutuhkan untuk membentuk sistem enzim C5
convertase dan juga berfungsi sebagai opsonin.
5 C3b berikatan dengan C3 convertase membentuk sistem enzim C5
convertase. C3b juga berfungsi sebagai opsonin dan terikat ke permukaan
sel target untuk meningkatkan deteksi oleh reseptor phagocyte expressing
complemen. Sel dendritik folikular di pusat-pusat germinal juga
mengekspresikan reseptor komplemen yang meningkatkan penangkapan
kompleks imun untuk dipresentasikan pada limfosit B.

6 C5 convertase memecah protein komplemen C5 menjadi C5a yang


dilepaskan dan C5b yang merekrut protein komplemen tambahan yang
akan terlibat dalam pembentukan membran attack complex (MAC). C5a
berfungsi sebagai anafilatoksin yang merangsang peradangan.
7 C5b merekrut protein komplemen C6 dan C7 dan memasukkan
kompleksnya ke dalam membran sel yang diikuti oleh perekrutan protein
komplemen C8 dan C9.

8 Protein komplemen C8 dan C9 membentuk pori membran yang


menyebabkan lisis sel. Kelompok protein komplemen C5b-C9 dikenal
sebagai membran attack complex (MAC). Selain itu, permukaan sel yang
terikat dengan C3b meningkatkan deteksi oleh reseptor fagosit.
9. Peningkatan fagositosis sel target dimediasi oleh ikatan permukaan dengan
protein komplemen C3b yang berfungsi sebagai opsonin dan dideteksi oleh
reseptor komplemen fagosit. Opsonisasi dari sel target dengan IgG juga
terdeteksi oleh fagosit dan Natural killer sel dengan ekspresi reseptor Fc.
Fagosit utama meliputi makrofag, neutrofil dan sel dendritik dan pada tingkat
lebih rendah yaitu basofil dan eosinofil.

(immunopdia. Org )

Penyakit Terkait dengan Mutasi pada MBL


Gen MBL2 mengkodekan mannose binding lektin (MBL) yang
disekresikan oleh hati ke dalam aliran darah. Meskipun tingkat serum MBL
biasanya agak rendah (1500 mikrogram/liter), MBL memiliki peran penting
dalam imunitas bawaan. Frekuensi defisiensi MBL diakibatkan mutasi dari gen
MBL2 pada populasi umum telah diperkirakan antara 5 dan 10%. Defisiensi
MBL timbul dari mutasi dan polimorfisme promotor di MBL2 telah dikaitkan
dengan peningkatan risiko, tingkat keparahan, dan frekuensi infeksi dan
autoimunitas.
Meskipun sebagian besar individu dengan defisiensi MBL sehat,
mereka memiliki peningkatan kerentanan terhadap penyakit tertentu. Defisiensi
ini telah dilaporkan menjadi sangat umum pada bayi dengan infeksi saluran
pernapasan berulang, otitis media, dan diare kronis. Defisiensi MBL juga
berhubungan dengan penyakit non infeksi pada orang dewasa termasuk lupus
eritematosus sistemik, rheumatoid arthritis dan cystic fibrosis. Defisiensi MBL
juga menimbulkan masalah bagi individu dengan immunocompromised lain,
seperti pasien kanker yang menjalani kemoterapi. Pada pasien ini, ada korelasi
kuat antara defisiensi MBL dan terjadinya infeksi klinis yang signifikan. Selain
itu, studi dari pasien cystic fibrosis menemukan bahwa pasien defisiensi MBL
memiliki harapan hidup 8-tahun lebih pendek dari orang yang cukup MBL,
karena peningkatan kolonisasi bakteri dari paru-paru.
Meskipun MBL terlibat dalam mengatasi bakteri dan patogen lainnya,
defisiensi MBL juga terkait dengan penyakit autoimun seperti lupus dan
rheumatoid arthritis. Hal ini dapat dijelaskan oleh sistem kekebalan tubuh yang
memiliki beberapa jalur yang memiliki fungsi yang sama sehingga jika salah
satu tidak bekerja dengan baik, sistem kekebalan tubuh masih dapat beroperasi.
Misalnya, jalur klasik, MB-lektin, dan alternatif semua membuat C3 convertase
yang mengarah ke opsonisasi patogen, perekrutan sel-sel inflamasi, dan
membunuh patogen. Jika jalur lektin tidak bekerja dengan baik karena
kekurangan MBL, sistem kekebalan tubuh akan mengkompensasi dengan
meningkatkan aktivasi melalui jalur lain. Terutama adalah peningkatan
konsentrasi antibodi, yang digunakan dalam jalur klasik. Penelitian telah
menunjukkan peningkatan kadar serum konsentrasi antibodi IgM pada pasien
kekurangan MBL dengan rheumatoid arthritis. Semakin banyak antibodi,
semakin tinggi kemungkinan bahwa beberapa antibodi akan self-reaktif,
dimana hal inilah yang terjadi pada arthritis.
Selain itu terdapat pengaruh polimorfisme gen MBL pada kerentanan
terhadap infeksi setelah transplantasi hati karena semua MBL diproduksi pada
hati. Infeksi adalah penyebab utama kematian setelah transplantasi hati.
Dapus yg di blog pakek
Terapi untuk Defisiensi MBL
Terapi untuk pasien defisiensi MBL salah satunya adalah dengan
pemberian infus intravena MBL yang dimurnikan yang diperoleh dari plasma
donor manusia dalam upaya untuk mencegah atau memperbaiki infeksi. Terapi
MBL dapat digunakan dalam tiga kasus klinis. Pertama, dimana defisiensi
MBL menyebabkan peningkatan kerentanan terhadap penyakit, MBL pengganti
dapat digunakan untuk meningkatkan ketahanan terhadap penyakit itu. Kedua,
dalam terapi MBL pada infeksi akut, dengan meningkatkan respon imun,
mempercepat resolusi penyakit pada pasien defisiensi MBL. Ketiga, terapi
MBL dapat digunakan untuk mengubah riwayat alami penyakit kronis
(Summerfiled, 2003).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan