Anda di halaman 1dari 17

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

MENGGUNAKAN MODEL GAMBAR (PICTURE AND PICTURE)


PADA PEMBELAJARAN IPA TENTANG GERAK BENDA
BAGI SISWA KELAS I SD NEGERI 1 DERMAJI
UPK LUMBIR KABUPATEN BANYUMAS
PADA SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2015/2016

ABSTRAK
Herni
(NIP:19610622 198608 2 001)
SD NEGERI 1 DERMAJI
UPK LUMBIR KABUPATEN BANYUMAS

Herni, S.Pd.SD. 2016. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Model Gambar
(Picture And Picture) Pada Pembelajaran IPA Tentang Gerak Benda Bagi Siswa Kelas I SD
Negeri 1 Dermaji UPK Lumbir Kabupaten Banyumas Pada Semester Genap Tahun Pelajaran
2015/2016. Masalah dalam penelitian ini adalah karena rendahnya hasil belajar IPA gerak benda bagi
siswa kelas I SD Negeri 1 Dermaji tahun pelajaran 2015/2016. Penelitian ini memiliki tujuan untuk
meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran IPA khususnya gerak benda dan meningkatkan
kinerja guru agar lebih profesional sebagai pendidik. Pelaksanaan penelitian dilakukan menggunakan
pembelajaran model gambar (picture and picture) yang dilaksanakan secara bertahap, yaitu melalui
siklus I dan siklus II. Dari penelitian ini dapat diketahui hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA
gerak benda semakin meningkat. Hal ini dibuktikan dari hasil belajar IPA yang diperoleh pada
pembelajaran prasiklus yaitu dengan nilai terendah 30, nilai tertinggi 90, nilai rata-rata kelas 52,73
dengan ketuntasan belajar 21,21%. Hasil belajar pada siklus I diperoleh nilai terendah 40, nilai
tertinggi 100 dan rata-rata kelas 64,85 dengan ketuntasan belajar 45,45%. Adapun hasil belajar pada
siklus II adalah nilai terendah 70, nilai tertinggi 100, nilai rata-rata kelas 81,82 dan ketuntasan
belajarnya 100%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dengan menggunakan pembelajaran model
gambar (picture and picture) dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas I khususnya
gerak benda.

Kata kunci : picture and picture, hasil belajar, gerak benda.


PENDAHULUAN

Kehidupan manusia merupakan sebuah perjalanan yang harus dilalui dan dijalani

dengan penerapan ilmu-ilmu yang diperoleh dan diimplikasikan dalam sebuah perbuatan.

Pada era modern seperti sekarang ini, seseorang dituntut untuk dapat menghadapi sebuah

persaingan dengan cara peningkatan kualitas yang dimiliki. Manusia yang berkualitas

itulah yang akan maju dan mampu meraih sebuah keberhasilan serta dapat

mempertahankan eksistensinya sehingga pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM)

yang berkualitas adalah sebuah tujuan utama yang harus didapat. Sebuah keterampilan

(skill) merupakan suatu hal yang harus dimiliki semua orang dalam menjalani sebuah

kehidupan. Dalam rangka peningkatan SDM itulah, pemerintah melalui sistem pendidikan

nasional menyusun program dan kebijakan yang bertujuan dan berorientasi pada

peningkatan mutu pendidikan yang salah satunya yaitu dengan cara meningkatkan kualitas

guru sebagai agen pembelajaran.

Pendidikan merupakan dasar dari suatu perjalanan hidup manusia yang dibentuk

untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan dan masyarakat pada jangka panjang. Suatu

negara dapat dikatakan maju dan berkembang jika proses pendidikannya tertata,

terprogram dan mampu menghasilkan generasi yang kompeten. Tujuan pendidikan

nasional adalah sebuah terget yang harus dicapai oleh semua pelaku pendidikan yang

mana dalam hal ini penyelenggaraan pendidikan dapat selaras antara kebijakan pemerintah

dengan tenega pendidik khususnya guru yang berperan sebagai pelaku pendidikan. Bukti

pemerintah dalam upaya program pendidikan pada saat ini dapat kita lihat dengan adanya

pendidikan gratis, bantuan sarana prasarana, dan peningkatan profesional guru. Dalam

paradigma pendidikan pada era sekarang ini, guru merupakan orang yang berperan

sebagai fasilitator yang dituntut untuk dapat membentuk siswa yang berkarakter positif

dan bermoral.
Pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) merupakan jenjang dimana pada

jenjang ini anak akan mengalami perubahan dan pembentukan karakter. Kemampuan

membaca, menulis dan berhitung (calistung) adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat

ditawar lagi karena dari tiga komponen inilah yang akan menentukan kemampuan siswa

pada jenjang berikutnya. Guru diharapkan dapat membentuk dasar-dasar karakter siswa

yang siap untuk mengikuti alur dan program pendidikan yang telah diupayakan oleh

pemerintah.

Sebagai fasilitator dalam proses pelaksanaan pendidikan, guru harus mampu untuk

menciptakan suatu pembelajaran yang berorientasi pada tujuan pendidikan nasional. Hal

ini sebagaimana tersirat dalam penjabaran sistem pendidikan nasional yang mana dalam

hal ini adalah sebuah usaha untuk menciptakan karakter siswa melalui pengarahan,

percontohan, percobaan, perlakuan dan latihan. Guru dituntut untuk benar-benar

mengetahui dan memahami karakteristik dari setiap muridnya dimana setiap siswa

memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan karakteristik inilah yang menjadi

tantangan bagi para guru dalam upaya mencerdaskan anak bangsa yang didalamnya

terdapat variasi irama hasil belajar yang bermacam-macam pula.

Seringkali guru kurang memahami dalam menangani hasil belajar dari siswa di

kelasnya. Sebagian besar guru yang fokus bercerita dan menjelaskan tanpa menciptakan

ide-ide atau hal baru yang dapat menarik perhatian siswa. Pembelajaran dilaksanakan

dengan tempo yang datar dan itu-itu saja, tanpa penggunaan alat peraga dan media

pembelajaran yang dapat meningkatkan semangat siswa dalam mengikuti proses

pembelajaran. Model mengajar yang dilaksanakan oleh guru saat ini sangatlah belum ada

titik terang dalam upaya perkembangan, karena mayoritas guru masih menggunakan

model belajar yang tradisional seperti ceramah, diskusi, dan tanya jawab. Hal ini

menyebabkan siswa kurang tertarik dalam mengikuti proses pembelajaran dan merasa
bosan akan kondisi pembelajaran yang berlangsung. Kelemahan inilah yang sangat

berpengaruh besar terhadap keberhasilan siswa dalam memahami sebuah materi ajar.

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada kelas I di SD Negeri 1 Dermaji Unit

Pendidikan Kecamatan (UPK) Lumbir Kabupaten Banyumas. Peneliti akan melakukan

penelitian tindakan kelas pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) gerak benda.

Peneliti melakukan perbaikan pada materi pelajaran ini karena setelah melakukan

pembelajaran IPA gerak benda ternyata hasil belajar dari siswa masih sangat jauh dari

harapan. Krateria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran IPA di SD Negeri 1

Dermaji adalah ≥ 70,00. Hampir seluruh siswa memperoleh hasil belajar yang rendah dan

jauh dari harapan. Hal ini dibuktikan dengan memberikan 10 soal uraian singkat yang

berkaitan dengan gerak benda kepada 33 siswa, dari 33 siswa hanya 7 siswa yang dapat

mencapai ketuntasan atau 21,21%, sedangkan yang 26 siswa masih belum tuntas atau

78,79

Materi pelajaran IPA merupakan sebuah materi ajar dimana siswa akan dikenalkan

tentang diri sendiri, mahkluk hidup dan lingkungan alam. Hal ini bertujuan supaya siswa

dapat mengenal dirinya sendiri sebagai manusia dan mahkluk hidup. Pemahaman tentang

lingkungan alam juga sangat ditekankan pada materi ajar ini. Adanya konsep-konsep

proses kehidupan baik dalam ruang lingkup manusia, hewan, dan tumbuhan. Materi ajar

ini juga akan membawa siswa untuk dapat mengenal benda mati yang ada disekitar

masyarakat yang memiliki karektaristik yang bermacam-macam

Berbekal dari hasil belajar siswa yang masih rendah pada materi pelajaran IPA gerak

benda, peneliti akan mencoba dan berupaya untuk mencoba mencari tahu penyebabnya

melakukan sebuah perbaikan melalui penelitian tindakan kelas. Pada penelitian tindakan

kelas ini peneliti akan fokus terhadap upaya meningkatkan hasil belajar siswa dengan cara

penggunaan model pembelajaran gambar (picture and picture) pada materi pelajaran IPA
gerak benda. Model pembelajaran gambar (picture and picture) merupakan proses

pembelajaran dengan mengupayakan ketertarikan siswa pada proses pembelajaran yaitu

dengan cara pengunaan alat peraga yang berupa gambar-gambar yang berhubungan

dengan materi ajar. Penggunaan gambar-gambar ini diharapkan akan dapat menarik dan

memusatkan siswa terhadap materi sehingga siswa tidak merasa bosan atau jenuh. Peneliti

juga memiliki keyakinan bahwa penggunaan model pembelajaran gambar (picture and

picture) akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA gerak

benda.

Berdasarkan permasalahan pembelajaran IPA tentang gerak benda bagi siswa

kelas I SD Negeri 1 Dermaji dengan menggunakan model pembelajaran gambar

(picture and picture) maka dapat diidentifikasi masalahnya sebagai berikut:

a. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA gerak benda bagi siswa kelas I SD

Negeri 1 Dermaji masih sangat rendah dan perlu ditingkatkan.

b. Perilaku dan fokus siswa dalam mengikuti pembelajaran masih sangat kurang dan

masih cukup banyak siswa yang bergurau sendiri ketika guru sedang memaparkan

materi.

c. Mayoritas siswa masih kurang memahami materi yang diajarkan guru, namun

mereka ada rasa malu dan tidak mau untuk bertanya.

1. Siswa belum terangsang semangat dan motivasinya sehingga tidak muncul rasa

ketertarikan kepada materi dalam pembelajaran yang berlangsung. Berdasarkan dari

permasalahan pembelajaran di atas, maka peneliti merumuskan masalah dalam

penelitian ini yaitu sebagai berikut bagaimanakah cara menggunakan model

pembelajaran gambar (picture and picture) untuk meningkatkan hasil belajar siswa

pada mata pelajaran IPA gerak benda bagi siswa kelas I SD Negeri 1 Dermaji pada

semester genap tahun pelajaran 2015/2016?


Kajian Teori

1. Pengertian belajar menurut Ernest R. Hilgard (1948: 2.4) dalam modul Strategi

Pembelajaran di SD S1 PGSD Universitas Terbuka menyatakan bahwa belajar

merupakan proses perubahan tingkah laku yang diperoleh melalui latihan dan perubahan

itu disebabkan karena ada dukungan dari lingkungan yang positif yang menyebabkan

terjadinya interaksi edukatif.

2. Pengertian hasil belajar menurut Oemar Hamalik (2006: 30) hasil belajar adalah bila

seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut,

misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.

3. Menurut Benyamin Bloom (1956: 2.19) dalam modul Strategi Pembelajaran di SD S1

PGSD Universitas Terbuka yang dapat menunjukan hasil belajar mencakup aspek

kognitif, afektif, dan psikomotorik.

4. Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menurut Direktorat Ketenagaan (2006)

dalam Modul Perspektif Pendidikan SD S1 PGSD Universitas Terbuka (2009: 8.15)

secara umum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah pengetahuan tentang gejala alam

yang dapat didefinisikan sebagai cara berfikir untuk memahami alam semesta, cara

melakukan ivestigasi, dan ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari penyelidikan.

2. Model Pembelajaran

a. Pengertian Model pembelajaran Gambar (Picture and Picture) menurut Riyanto

(1990) yang dikutip pada situs https://zaifbio.wordpress.com tanggal 24 Maret 2016

merupakan salah satu jenis bahasa yang memungkinkan terjadinya komunikasi, yang

diekspresikan lewat tanda dan simbol. Media gambar merupakan salah satu jenis bahasa

yangmemungkinkan terjadinya komunikasi, yang diekspresikan lewat tanda dan simbol.


b. Langkah-Langkah Model pembelajaran Gambar (Picture and Picture) menurut

Jamal Ma’mur Asmani pada situs http://www.infoduniapendidikan.com tanggal 23 Maret

2016 sebagai berikut:

a) Penyampaian kompetensi dasar oleh guru.

b) Guru menyajikan materi sebagai pengantar.

c) Ditampilkannya berbagai gambar yang relevan dengan materi oleh guru.

d) Guru menunjuk atau memanggil siswa secara bergiliran untuk memasangkan atau

mengurutkan berbagai gambar menjadi urutan yang logis.

e) Guru menanyakan alasan atau dasar pemikiran siswa dari urutan gambar yang

dilakukan.

f) Berdasarkan alasan atau urutan gambar tersebut, guru mulai menanamkan konsep atau

materi, sesuai kompetensi yang ingin dicapai.

c. Mengajak siswa membuat kesimpulan atau rangkuman materi yang diterimanya dari

pembelajaran yang dilakukan.

Berdasarkan kajian teori yang sudah dipaparkan, maka dapat disimpulkan kerangka

pikiran bahwa rendahnya hasil belajar siswa disebabkan proses pembelajaran yang belum

kondusif dan efektif. Peneliti akan berupaya untuk melalukan modifikasi dan perbaikan

proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran gambar (picture and

picture). Dalam melakukan perbaikan pembelajaran pada siklus I peneliti akan

menggunakan model pembelajaran gambar (picture and picture). Jika pada siklus I telah

berhasil dan menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa yang maksimal, maka peneliti

berhenti pada siklus tersebut. Tetapi apabila pada siklus I belum berhasil maka perbaikan

pembelajaran akan dilanjutkan ke siklus II dengan menggunakan model pembelajaran

yang sama tetapi diupayakan adanya penyempurnaan proses pembelajaran dengan cara

menambah gambar-gambar yang lebih relevan dan menarik pada proses pembelajaran.
Kerangka pikiran apabila digambarkan sebagai berikut:

PENELITI SISWA
Kondisi Menggunakan
Awal Hasil belajar siswa rendah
metode ceramah
dan penugasan

SIKLUS I
Diterapkan
Tindakan Menggunakan model
Metode baru
pembelajaran gambar
(picture and picture)

SIKLUS II
Kondisi Hasil Belajar
Perbaikan dan
Akhir Siswa Meningkat
penyempurnaan dari
Optimal
siklus I dengan
menggunakan model
pembelajaran gambar
(picture and picture)

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Pelaksanaan Penelitian Tindak Kelas

Berdasarkan kerangka berfikir dan konsep teori di atas, maka hipotesis tindakan
Individualization (TAI)
yang diajukan adalah diduga melalui penggunaan model pembelajaran gambar (picture

and picture) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran IPA gerak benda bagi

siswa kelas I SD Negeri 1 Dermaji pada semeseter genap tahun pelajaran 2015/2016.

Metode Penelitian

Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas I SD Negeri 1

Dermaji semeseter genap tahun pelajaran 2015/2016. Adapun tempat penelitian ini di

SD Negeri 1 Dermaji UPK Lumbir Kabupaten Banyumas. Seluruh proses penelitian ini

dilaksanakan Februari hingga April semester II tahun pelajaran 2015/2016, sedangak

untuk pelaksanaan penelitian tindakan kelas pada siklus I : 12 Maret 2016 Siklus II : 19

Maret 2016.sedangkan pihak yang membantu dalam penelitian ini pengawas sekolah,

kepala sekolah dan teman sejawat.


Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara dan observasi.

Adapun teknik analsis data menggunakan metode analisis deskriptif komparatif, yaitu

dengan membandingkan hasil nilai tes awal dengan nilai siswa yang diperoleh pada

masing-masing siklus dengan tujuan untuk melihat perkembangan dan peningkatan

hasil belajar yang terjadi. Secara garis besar prosedur perbaikan atau langkah-

langkah pembelajaran terdiri dari 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) observasi

dan 4) refleksi

Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Deskripsi Kondisi Awal (Prasiklus)

Sebelum melakukan penelitian tindakan kelas peneliti melakukan observasi hasil


belajar siswa kelas I SD Negeri 1 Dermaji dengan hasil yang masih sangat rendah
dalam memahami materi ajara IPA khususnya materi gerak benda. Sedangkan KKM
mata pelajaran IPA yaitu ≥ 70. Dengan 10 soal hanya 7 siswa (21,21%) yang tuntas
belajar , sedangkan 26 siswa (78,79%) belum tuntas belajar ditunjukkan dalam grafik 1
Grafik 1 Ketuntasan hasil belajar siswa

78,79%
80%
70%
60%
50%
40%
30% 21,21%
20%
10%
0%
Prasiklus
Tuntas Tidak Tuntas

Setelah peneliti melakukan refleksi, peneliti menemukan beberapa permasalahan

dalam pembelajaran antara lain: 1) siswa belum mempunyai semangat belajar yang
tinggi, 2) siswa kurang motivasi baik baik dari faktor intern maupun ekstern dan 3)

guru belum menggunakan strategi belajar yang tepat.

2. Pelaksanaan Tindakan Kelas

Pada pelaksanaan siklus I dengan menggunakan metode picture and picture dalam

pembelajaran hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Melalui pemberian tes evaluasi

berupa soal uraian sebanyak 10 soal dari 33 siswa, sebanyak 15 siswa ( 45,45%) telah tuntas

belajar atau KKM sedangkan sebanyak 18 siswa ( 54,55%) belum tuntas belajar atau KKM

ditunjukkan dalam grafik 2

Grafik 2 Ketuntasan hasil belajar siswa siklus I

54,55%
60%
45,45%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Prasiklus

Tuntas Tidak Tuntas

Berdasarkan hasil belajar yang diperoleh pada siklus I peneliti melakukan refleksi

tindakan kelas. Pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I media yang digunakan

dapat menarik perhatian siswa, namun masih banyak siswa yang hasil belajarnya di bawah

KKM. Hal tersebut disebabkan karena alat peraga atau media yang digunakan sangat terbatas

sehingga siswa tidak dapat menyerap materi secara maksimal. Oleh sebab itu, peneliti perlu

melanjutkan perbaikan pembelajaran pada siklus II dengan menggunakan metode yang sama

tetapi alat peraga yang digunakan diperbanyak sehingga semua siswa dapat tercukupi. Selain

itu peneliti juga harus memvariasi media supaya dapat meningkatkan motivasi belajar siswa

yang akan mempengaruhi hasil belajar siswa dan menggunakan prinsip PAIKEM
(Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan) melalui penyampaian

materi yang lebih komunikatif dan menyajikan gambar-gambar yang menarik dan variatif

tetapi tetap terfokus pada materi gerak benda.

Pada siklus II mengalami peningkatan hasil belajar yang signifikan. Semua siswa telah

tuntas belajar sebanyak 33 (100%) telah berhasil mendapat nilai 100. Berdsarkan hasil belajar

yang telah diperoleh siswa pada siklus II peneliti menyimpulkan bahwa perbaikan

pembelajaran IPA gerak benda telah berhasil karena ketuntasan hasil belajar siswa mencapai

100%. Rata-rata kelas yang diperoleh mencapai 81,82.

Gambar 3 Diagram Batang Hasil Belajar Pada Siklus II

100%
100%

50%
0%
0%
Prasiklus

Tuntas Tidak Tuntas

Perbaikan pembelajaran IPA gerak benda yang telah dilaksanakan pada siklus II

melalui penggunaan media atau alat peraga gambar yang menarik dan bervariasi telah dapat

meningkatkan hasil belajar siswa sehingga peneliti mengakhiri perbaikan pembelajaran ini

cukup sampai siklus II.

B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Pada saat pelaksanaan pembelajaran prasiklus, hasil belajar yang diperoleh siswa kelas

I SD Negeri 1 Dermaji pada mata pelajaran IPA gerak benda jauh dari yang diharapkan.

Setelah peneliti melakukan analisis dan perbaikan pembelajaran pada siklus I dan II

pemahaman siswa dalam pelajaran IPA gerak benda dengan menggunakan model

pembelajaran gambar (picture and picture) menunjukkan peningkatan minat dan hasil belajar

siswa pada setiap siklusnya.


Berdasarkan hasil pengamatan dari pelaksanaan perbaikan pembelajaran baik pada

prasiklus, siklus I maupun pada Siklus II tentang hasil belajar siswa dapat dilihat pada Tabel

4.7 di bawah ini.

Tabel 4.7 Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran IPA

No Kegiatan Rata-rata Siswa Tuntas Belajar Siswa Belum Tuntas


. Belajar
Frekuensi % Frekuensi %

1. Studi Awal 52,73 7 21,21 26 78,79

2. Siklus I 64,85 15 45,45 18 54,55

3. Siklus II 81,82 33 100 0 0

Dari Tabel 4.7 tentang Rekapitulasi hasil evaluasi siswa pada pembelajaran dapat

diperoleh keterangan sebagai berikut:

a. Pada prasiklus, jumlah siswa yang tuntas ada 7 siswa dari 33 siswa dengan persentase

21,21% dan siswa yang belum tuntas ada 26 siswa dengan persentase 78,79%. Rata-rata

kelas yang diperoleh mencapai nilai 52,53.

b. Pada Siklus I, jumlah siswa yang tuntas ada 15 siswa dari 33 siswa dengan persentase

45,45% sedangkan siswa yang belum tuntas sebanyak 18 siswa dengan persentase

54,55%. Rata-rata kelas yang diperoleh mencapai 64,85.

c. Pada siklus II, jumlah siswa yang tuntas ada 33 siswa dari 33 siswa dengan persentase

100% dan siswa yang belum tuntas ada 0 siswa dari 30 siswa dengan persentase 0%.

Rata-rata kelas mencapai nilai 81,82.

Dari Tabel 4.7 di atas tentang rekapitulasi hasil belajar siswa pada pembelajaran

IPA gerak benda telah terjadi peningkatan yang sangat baik, untuk lebih jelasnya dapat

dilihat pada Gambar 4.7 berikut:

Gambar 4.7 Diagram Batang Hasil Belajar Siswa pada Prasiklus, Siklus I dan
Siklus II

100%
100%
90% 78,79%
80%
70% 54,55%
60% 45,45%
50%
40%
30% 21,21%

20%
10% 0%
0%
Pra siklus Siklus I Siklus II

Tuntas Tidak Tuntas

Dari Gambar 4.10 di atas dapat dilihat bahwa ketuntasan hasil belajar siswa pada

pembelajaran IPA gerak benda mengalami peningkatan yang sangat baik. Dari 33 siswa

pada prasiklus, jumlah siswa yang tuntas hanya 7 siswa dengan persentase 21,21% dan

siswa yang belum tuntas sebanyak 26 siswa dengan persentase 78,79%. Rata-rata kelas

yang diperoleh yaitu 52,73. Sedangkan pada siklus I, jumlah siswa yang tuntas

meningkat menjadi 15 siswa dengan persentase 45,45% dan siswa yang belum tuntas

mengalami penurunan yaitu menjadi 18 siswa dengan persentase 54,55% Rata-rata

kelas yang diperoleh yaitu 64,85. Kemudian pada siklus II, jumlah siswa yang tuntas

meningkat optimal yaitu sebanyak 33 siswa dengan persentase 100% dan siswa yang

belum tuntas menurun menjadi 0 siswa dengan persentase 0%. Rata-rata kelas yang

diperoleh mencapai 81,82.

Dari uraian hasil penelitian mulai dari prasiklus, siklus I hingga siklus II, maka

dapat disimpulkan bahwa setelah peneliti menggunakan model pembelajaran gambar

(picture and picture) telah terjadi peningkatan terhadap hasil belajar IPA pada siswa
kelas I SD Negeri 1 Dermaji pada pelajaran IPA gerak benda yang dilaksanakan pada

semester genap Tahun Pelajaran 2015/2016.

Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil pelaksanaan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian

Tindakan Kelas (PTK) pada materi gerak benda yang pada mata pelajaran IPA Kelas I SD

Negeri 1 Dermaji semester genap tahun pelajaran 2015/2016 dengan menggunakan model

pembelajaran gambar (picture and picture) dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pelaksanaan penelitian dilakukan menggunakan pembelajaran model gambar (picture and picture)

yang dilaksanakan secara bertahap, yaitu melalui siklus I dan siklus II. Dari penelitian ini dapat

diketahui hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA gerak benda semakin meningkat. Hal ini

dibuktikan dari hasil belajar IPA yang diperoleh pada pembelajaran prasiklus yaitu dengan nilai

terendah 30, nilai tertinggi 90, nilai rata-rata kelas 52,73 dengan ketuntasan belajar 21,21%. Hasil

belajar pada siklus I diperoleh nilai terendah 40, nilai tertinggi 100 dan rata-rata kelas 64,85

dengan ketuntasan belajar 45,45%. Adapun hasil belajar pada siklus II adalah nilai terendah 70,

nilai tertinggi 100, nilai rata-rata kelas 81,82 dan ketuntasan belajarnya 100%. Kesimpulan dari

penelitian ini adalah dengan menggunakan pembelajaran model gambar (picture and picture) dapat

meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas I khususnya gerak benda.

DAFTAR PUSTAKA

R, Hilgard, Ernest. (2011). Modul 2. Pembelajaran Di Sekolah Dasar. Strategi Pembelajaran.

Jakarta: Pusat Penerbit Universitas Terbuka.


Bloom, Benyamin. (2011). Modul 2. Pembelajaran Di Sekolah Dasar. Strategi Pembelajaran.

Jakarta: Pusat Penerbit Universitas Terbuka.

Direktorat Ketenagaan. (2009). Modul 8. Kurikulum Sekolah Dasar. Perspektif Pendidikan

SD. Jakart: Penerbit Universitas Terbuka.

Asmani, Jamal Ma’mur. Diunduh dari

http://www.infoduniapendidikan.com/2015/06/pengertian-dan-langkah-model-

pembelajaran-picture-and-picture.html?m=1 tanggal 23 Maret 2016.

Sudjana dan Rivai. (2002). Diunduh dari https://zaifbio.wordpress.com/2013/04/05/model-

pembelajaran-kooperatif-tipe-picture-to-picture/ tanggal 24 Maret 2016.

Kurikulum 2004. (2012). Modul 2. Pendekatan Dalam Pembelajaran IPA SD: Pembelajaran

IPA di SD. Tangerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka.

TIM-Mills. (2012). (2012). Peningkatan Hasil Belajar IPS Melalui Cooperative Learning

Dengan Model STAD Di Kelas IX-B SMPN 2 Kedungbanteng Tahun Pelajaran

2011-2012. Jurnal Paedagog, 15 (7), hal.134.

Joyce, Bruce dan Weil, Marsha.(2014).Pembelajaran Kelas Rangkap. Tangerang Selatan.

Penerbit: Universitas Terbuka.

W, Sri Anitah, dkk. (2011). Modul 1. Hakikat Strategi Pembelajaran. Strategi Pembelajaran

di SD. Jakarta: Pusat Penerbit Universitas Terbuka.

Wardani, IG.A.K.dkk. (2009). Modul 8. Kurikulum Sekolah Dasar. Perspektif Pendidikan

SD. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka.

Trowbridge and Bybee. (1990). Diunduh dari http://www.marioatha.com/2014/04/definisi-

IPA-atau-pengertian-IPA-menurut-para-ahli.html?m=1 tanggal 23 Maret 2016.


S. Winataputra, Udin. (2007). Diunduh dari http://kumpulan-contoh-

ptk.blogspot.com/2014/01/pengertian-hasil-belajar-menurut-para-ahli-.html? tanggal

23 Maret 2016.

Hardy dan Fleer. (1996). Diunduh darihttp://www.contohmakalah.id/2015/01/pengertian-dan-

ruang-lingkup-pendidikan.html?m=1 tanggal 23 Maret 2016.

J. Moran, Michael. Diunduh dari http://manfaat-it.blogspot.co.id/2014/01/tentang-

pengertian-energi.html?m=1 pada tanggal 23 Maret 2016.

Sasrawan, Hedi. Diunduh dari http://hedisasrawan.blogspot.co.id/2015/08/8-macam-sumber-

energi-artikel-lengkap.html tanggal 24 Maret 2016.

Surya, Mohammad. dalam Sukirman, dkk. (2007) Diunduh dari

http://publik22.blogspot.co.id/2014/05/hakekat-pembelajaran.html?m=1 tanggal 23

Maret 2016.

Sudrajat. (2009). Diunduh dari http://ilmugreen.blogspot.co.id/2012/07/hakikat-model-

pembelajaran.html?m=1 tanggal 23 Maret 2016.

Riyanto. (1990). Diunduh dari https://zaifbio.wordpress.com/2013/04/05/model-

pembelajaran-kooperatif-tipe-picture-to-picture/ tanggal 24 Maret 2016.

Asmani, Jamal Ma’mur. Diunduh dari

http://www.infoduniapendidikan.com/2015/06/pengertian-dan-langkah-model-

pembelajaran-picture-and-picture.html?m=1 tanggal 23 Maret 2016.

Sudjana dan Rivai. (2002). Diunduh dari https://zaifbio.wordpress.com/2013/04/05/model-

pembelajaran-kooperatif-tipe-picture-to-picture/ tanggal 24 Maret 2016.

Istarani. (2011). Diunduh dari http://fkippgsd265-unpak.blogspot.co.id/2013/07/model-

pembelajaran-picture-and-picture_2782.html tanggal 24 Maret 2016.