Anda di halaman 1dari 23

KEGAWATAN HEAT STROK

Untuk Pemenuhan Tugas Blok Kegawat Daruratan Sistem II

Disusun oleh :
 Ika Tiyasari  Euis Dessy R
 Nur Holilah  Eva Ayu Amaliya
 Tutik Ainul M  Adi Prayitno
 Siti Alfiyah  Rizqi Auwaluwiyanti
 Utari Listiani  Rufaidah
 Siti Lutfiyatul  Dhatu Rama Mahardhika
 Presti Indah L  Ellisna Sari

PROGRAM STUDI NERS (TAHAP AKADEMIK)

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

TAHUN 2017
DAFTAR ISI
Halaman Judul................................................................................................ i

Daftar Isi......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .............................................................................. 1


B. Tujuan Penulisan .......................................................................... 1
C. Metode Penulisan ......................................................................... 2
D. Sistematika Penulisan ................................................................... 2

BAB II KONSEP DASAR

A. Definisi ......................................................................................... 3
B. Etiologi .......................................................................................... 3
C. Patofisiologi .................................................................................. 4
D. Manifestasi Klinik ........................................................................ 4
E. Penatalaksanaan ............................................................................ 6
F. Pengkajian .................................................................................... 7
G. Pathways ..................................................................................... 10
H. Diagnosa Keperawatan ............................................................... 11
I. Fokus Intervensi dan rasional ..................................................... 11

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................. 20
B. Saran ............................................................................................ 20

Daftar Pustaka

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Paparan lingkungan yang panas.Dalam jenis serangan panas yang
disebut pitam panas non exertional, kondisi disebabkan oleh lingkungan yang
panas yang mengarah kenaikan suhu tubuh, tanpa aktivitas fisik yang
berat.Jenis pitam panas biasanya terjadi pada cuaca panas, lembab, terutama
untuk waktu yang lama.Hal ini terjadi paling sering pada orang dewasa yang
lebih tua dan orang dengan penyakit kronis.
Aktivitas berat.Dalam jenis serangan panasyang disebut pitam panas
exertional, kondisi disebabkan oleh peningkatan suhu tubuhdisebabkan oleh
aktivitas fisik dalam cuaca panas.Siapapun berolah raga atau bekerja dicuaca
panas bisa mendapatkan heatstroke exertional, tapi itu kemungkinan besar
terjadi jika tidak terbiasa dengan suhu tinggi.
Kemungkinan komplikasi pitam panas shock, yang merupakan kondisi
yang disebabkan oleh tiba-tiba kehilangan aliran darah. Tanda-tanda syok
termasuk tekanan darah sangat rendah, bibir biru dan kuku, dan sejuk, kulit
lembab dan dingin.
Jika atau orang lain tidak bertindak cepat pada gejala serangan panas,
bisa mati atau mengalami kerusakan otak atau organ vital lainnya. Dalam
menanggapi serangan panas, organ ini membengkak, dan jika tidak
mendinginkan suhu tubuh dengan cepat, kerusakan dari pembengkakan ini
bisa permanen.

B. TUJUAN PENULISAN
Tujuan umum: Mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan yang
aman dan efektif bagi pasien yang mengalami Heat Strok
Tujuan khusus:
1. Mahasiswa mampu mendefinisikan pengertian Heat Strok
2. Mahasiswa mampu menyebutkan etiologi/predisposisi Heat Strok

1
3. Mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi Heat Strok
4. Mahasiswa mampu menyebutkan manifestasi klinis Heat Strok
5. Mahasiswa mampu menyebutkan penatalaksanaan Heat Strok
6. Mahasiswa mampu menjelaskan pengkajian secara teori dan kasus Heat
Strok
7. Mahasiswa mampu membuat pathways keperawatan Heat Strok
8. Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan secara teori dan
kasus Heat Strok
9. Mahasiswa mampu menyusun intervensi dan rasional secara teori dan
kasus Heat Strok

C. METODE PENULISAN
Data penulisan makalah kami peroleh dari:
1. Research Library
Pengambilan sumber dari buku-buku yang terkait Heat Strok
2. Web Search
Pengambilan sumber dari internet yang ada hubungannya dengan Heat
Strok

D. SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I: PENDAHULUAN (latar belakang masalah, tujuan penulisan, metode
penulisan, sistematika penulisan)
BAB II: KONSEP DASAR (pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi
klinis, penatalaksanaan, pengkajian, pathways keperawatan, diagnosa
keperawatan, intervensi dan rasional)
BAB III: PENUTUP (kesimpulan)

2
BAB II

KONSEP DASAR

A. PENGERTIAN
Heat stroke adalah penyakit berat dengan ciri temperatur inti > 40
derajat celcius disertai kulit panas dan kering serta abnormalitas sistem saraf
pusat seperti delirium, kejang, atau koma yang disebabkan oleh pajanan panas
lingkungan (sengatan panas klasik) atau kegiatan fisik yang berat. (Dwinda,
2014)
Heat stroke adalah cedera paling parah dari cedera panas. Terdapat dua
bentuk heat stroke, yakni Exertional Heat stroke (EHS) umumnya terjadi
pada orang muda yang terlibat dalam aktivitas fisik berat untuk jangka waktu
lama dalam lingkungan panas, dan Non Exertional Heat stroke (NEHS) yang
lebih sering mempengaruhi orang tua, orang yang sakit kronis dan orang yang
sangat muda (Halman et al, 2009).
Heat stroke adalah kondisi mengancam jiwa dimana suhu tubuh
mencapai lebih dari 40°C atau lebih.Heat stroke dapat disebabkan karena
kenaikan suhu lingkungan, atau aktivitas yang dapat meningkatkan suhu
tubuh.
Kesimpulan, Heat Stroke adalah kondisi cedera panas dengan
temperatur >40 derajat celcius atau lebih.Disebabkan pajanan panas
lingkungan (sengatan panas) atau kegiatan fisik yang berat.

B. ETIOLOGI/ PREDISPOSISI
1. Disfungsi hipotalamus sehingga menyebabkan kegagalantermoregulasi,misal
pada usia lanjut, bayi dan anak-anak..
2. Volume intravaskuler yang tidak memadai.
3. Disfungsi jantung.
4. Gangguan pada kulit yang mengganggu pelepasan keringat.
5. Konsumsi obat-obatan yang dapat mengganggu pembuangan panas

3
C. PATOFISIOLOGI
Suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan gangguan metabolic dan
kematian sel, hingga disfungsi organ. Adanya hipertermia mula-mula akan
mengaktifkan proses termoregulasi tubuh, respons fase akut, serta peningkatan
permeabilitas secara direk. Kegagalan termoregulasi tersebut kemudian
menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah kulit serta splanknik.Vasodilatasi
splanknik itulah yang mengakibatkan perpindahan darah dari organ sentral
(yang terpajan utama dengan panas) ke perifer (yang relative suhunya lebih
rendah).
Dengan demikian, terjadi hipoperfusi splanknik dan iskemia, yang turut
memicu pelepasan ROS dan NO yang menyebabkan kerusakan mukosa usus
dan hiperpermeabilitas. Endotoksin dari usus akan masuk ke sirkulasi dan
memicu respon fase akut, yang semakin memproduksi sitokin-sitokin pirogen
dan NO. Sitokin pirogen kemudian akan mengaktifkan proses termoregulasi,
dan proses serupa terulang kembali. endotoksin tersebut juga yang
menyebabkan syok, hingga disfungsi dan kegagalan organ.

D. MANIFESTASI KLINIK
1. Tanda-tanda dan gejala kelelahan panas yang paling umum termasuk
(Heat Exhaustion):
a. Kebingungan
b. Urin berwarna gelap (tanda dehidrasi)
c. Pusing
d. Pingsan
e. Kelelahan
f. Sakit kepala
g. Kram otot
h. Mual
i. Kulit pucat
j. Berkeringat banyak

4
k. Detak jantung yang cepat
2. Tanda-tanda dan gejala serangan panas (Heat Stroke)
a. Demam tinggi (104°F atau lebih tinggi)
b. Sakit kepala parah
c. Pusing
d. Sebuah penampilan memerahatau merahpada kulit
e. Kurangnya berkeringat
f. Kelemahan otot atau kram
g. Mual
h. Muntah
i. Detak jantung cepat
j. Napas cepat
k. Merasa bingung, cemas atau bingung
l. Kejang

Faktor Resiko
1. Faktor Risiko untuk Heat Kelelahan
Panas kelelahan sangat berkaitan dengan indeks panas, yang
merupakan pengukuran seberapa panas yang rasakan ketika efek dari
kelembaban relatif dan suhu udara digabungkan.Sebuah kelembaban
relatif 60% atau lebih menghambat penguapan keringat, yang menghambat
kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri.
Risiko penyakit yang berhubungan dengan panas secara dramatis
meningkat ketika heat index naik ampai 90° atau lebih.Jadi penting
terutama selama gelombang panas untuk memperhatikan indeks panas
dilaporkan, dan juga untuk di ingat bahwa indeks panas bahkan lebih
tinggi ketika berdiri di bawah sinar matahari penuh.
Jika tinggal di daerah perkotaan, mungkin sangat rentan untuk
mengembangkan kelelahan panas selama gelombang panas yang
berkepanjangan, terutama jika adakondisi atmosfer stagnan dan kualitas
udara yang buruk. Dalam apa yang dikenal sebagai "efek pulau panas,"

5
aspal dan beton menyimpan panas siang hari dan hanya secara bertahap
melepaskannya di malam hari, sehingga suhu malam hari lebih tinggi.
Faktor risiko lain yang terkait dengan penyakit yang berhubungan
dengan panas meliputi:
a. Umur
Bayi dan anak sampai usia 4, dan orang dewasa di atas usia 65, sangat
rentan karena mereka menyesuaikan diri dengan panas lebih lambat
dari orang lain.
b. Kondisi kesehatan tertentu
Ini termasuk jantung, paru-paru, atau penyakit ginjal, obesitas atau
berat badan, tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit mental, sifat sel
sabit, alkoholisme, terbakar sinar matahari, dan kondisi papun yang
menyebabkan demam.Orang dengan diabetes memiliki peningkatan
risiko kunjungan gawat darurat, rawat inap, dan kematian dari penyakit
yang berhubungan dengan panas dan mungkin terutama cenderung
meremehkan risiko mereka selama gelombang panas.
Obat-obatan ini termasuk diuretik, obat penenang, obat penenang,
stimulan, beberapa obat jantung dan tekanan darah, dan obat untuk
kondisi kejiwaan.

E. PENATALAKSANAAN KEGAWATAN
1. Pendinginan tubuh dengan cepaat merupakan pengobatan pilihan pada
heat stroke.Pada heat stroke suhu inti(internal) harus di turunkan secepat
mungkin menjadi 390C.
2. Pada Heat stroke terapi oksigen dimulai untuk menyuplai kebutuhan
jaringan yang berlebihan karena kondisi hipermetabolik.Berikan oksigen
dengan menggunakan nonrebreathing mask(100%) atau intubasi perlu
untuk memperbaiki kegagalan system kardiopulmonal.
3. Segera lakukan penggantian cairan untuk memperbaiki sirkulasi dan
mempermudah pendinginan.

6
a. Pada heat stroke sebaiknya di lakukan pemberian cairan melalui vena
pusat (paling sedikit satu jalur)
b. Lakukan terapi cairaan Ringer Latat atau normal saline hingga
elektrolit seimbang.
c. Jumlah penggantian caian di dasarkan pada respon klien dan hasil
laboratorium .
4. Resusitasi Jantung Paru(RJP)mungkin di perlukan setiap saat jika terjadi
penghentian istem kardiopulmonal.
5. Pemberian Terapi:
a. Diuretik untuk meningkatkaan dieresis.
b. Obat antikonvulsi untuk menghentikan kejang.
c. Kalium untuk mengoreksi hipokalemia dan nattrium bikarbonat untuk
mengoreksi asidosis metabolicsesuai hasil pemeriksaan laboratorium.
d. Menggigil hebat dapat di kendalikan dengan diazepam (valium).
e. Klien dengan deplesi factor pembekuan dapat diobati dengan trombsit
atau plasma beku yang segar.

F. PENGKAJIAN FOKUS KEGAWATAN


1. Pengkajian primer
a. Suhu tubuh lebih besar dari 106° F (41° C)
b. Status mental berkisar kebingungan – koma
c. Kulit tampak kemerahan, kepanasan. Tahap awal heat stroke adalah
kulit kering karena tubuh kehilangan kemampuan berkeringat.
d. Hipotensi
e. Airway
f. Breathing
g. Circulation
Takikardia
2. Pengkajian sekunder
a. Riwayat penyakit sebelumnya
b. Pemeriksaan fisik

7
1) Aktivitas dan istirahatnya
Gejala : merasa lemah, lemas akibat penurunan nafsu makan,
aktifitas berkurang karena suhu tubuh meningkat.
Tanda : penurunan pola istirahat akibat gelisah yang ditimbulkan
oleh suhu tubuh.
2) Eliminasi
Gejala : inkontenensia kandung kemih / usus atau mengalami
gangguan fungsi.
Tanda : pengeluaran urine menurun.
3) Makanan
Gejala : mual, muntah dan mengalami perubahan selera, penurunan
berat badan.
Tanda : gangguan menelan.
4) Nyeri/kenyamanan
Gejala : ketidaknyamanan atau gelisah dikarenakan suhu tubuh
naik.
Tanda : wajah menyeringai, gelisah, tidak bisa beristirahat,
merintih.
5) Keamanan
Pemeriksaan fisik di dapatkan tanda-tanda sebagai berikut :
a) Suhu
Suhu di ukur per rektal, diatas 41° C, namun bisa lebih rendah
karena mekanisme pengeluaran panas yang terjadi.
b) Pulse
Takikardia mencapai 130 x/menit
c) Tekanan darah
Biasanya normal atau hipotensi.Hal ini disebabkan oleh
sejumlah faktor, termasuk vasodilatasi dari pembuluh kulit,
panyatuan darah dalam sistem vena dan dehidrasi.Hipotensi
juga bisa disebabkan keruskan miokard. Hal ini biasanya akan
kembali normal seiring menurunnya suhu tubuh.

8
d) Pernafasan
Biasanya terjadi takipnea karena stimulasi dari sistem saraf
pusat.
3. Psikososial
Respon emosi pengkajian mekanisme koping yang digunakan pasien juga
penting untuk menilai pasien terhadap penyakit yang di deritanya dan
perubahan peran pasien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau
pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari baik dalam keluarga atau pun
dalam masyarakat.
4. Spesifik dan kronis
a. Spesifik yaitu suhu tubuh berkisar 106° F (41°C), kulit panas dan
kering.
b. Kronis, komplikasi stroke panas adalah disminata intravaskuler
coagulasi (DIC).
5. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan darah
Didapatkan hipernatremi, hiperkalemi, peningkatan kreatinin kinase
pada rhabdomyolisis (keluarnya kandungan sel otot, seperti :
myoglobin, potassium, phosphate, dll kedalam plasma), peningkatan
nitrogen urea darah dan hematokrit meningkat.
b. Pemeriksaan urinalisis
Didapatkan sel darah putih atau merah, dan peningkatan protein dan
mioglobin.
c. Elektrokardiogram
Dapat menunjukkan gambaran perubahan segmen ST dan gelombang
T dengan menunjukan iskemia miokardium.
d. Pada heat stroke, analisa gas darah arteri menunjukkan asidosis
metabolic

9
G. PATHWAYS KERAWATAN

Radiasi Gelombang udara


panas

Heat Stroke

Destruksi jaringan Rangsang mekanik


dan biokimia

Kontak dengan
Gangguan keseimbangan
permukaan kulit Saluran
cairan dan elektrolit
napas
Kerusakan Keracunan Gas Perubahan konsentrasi ion
kulit
di ruang ekstraseluler
Kulit kemerahan
Konsentrasi CO
dan kering
dalam Hb meningkat Ketidak seimbangan
potensial membran ATP
ASE
Kehilangan Hb tidak dapat
barrier kulit mengikat O2 Difusi Na+ dan K+ berlebih

Suplai O2 ke Kejang
Kerusakan jaringan menurun
integritas kulit
Kelemahan
Hipoksia jaringan fisik
Aktivitas otot
Penurunan
meningkat
kesadaran
Jaringan saraf Intoleransi
terbuka Gangguan
Aktivitas
perfusi jaringan Metabolisme
Resiko Cidera meningkat
Peningkatan
respon nyeri
Hiperpireksia

Gangguan rasa
nyaman nyeri
Nurarif, Amin Huda. 2015

10
H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hiperpireksia b.d kegagalan mekanisme pengaturan panas.
2. Gangguan perfusi jaringan b.d perubahan respon motorik/sensori, gelisah
3. Resiko tinggi cidera b.d kejang berulang
4. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai oksigen
(pengiriman ) dan kebutuhan
5. Kerusakan integritas kulit b/d kerusakan permukaan kulit sekunder
destruksi lapisan kulit.
6. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d kerusakan kulit atau jaringan:
pembentukan edema.

I. FOKUS INTERVENSI DAN RASIONAL


1. Hiperpireksia b.d kegagalan mekanisme pengaturan panas.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
menunjukkan temperatur dalam batas normal.
Kriteria hasil:
a. Bebas dari kedinginan
b. Suhu tubuh stabil 36 -37 C
Intervensi Rasional

Mandiri

a. Pendinginan tubuh dengan Dapat membantu pendinginan


menggunakan selimut didalam tubuh agar kembali
hipotermia (hypothermia normal.
blanket) dan tanggalkan pakaian
klien.
b. Beri deazepam jika menggigil Dapat meredakan tubuh dari rasa
hebat. kedinginan akibat suhu tubuh tidak
stabil.

c. Pada heat exhaustion, pantau Agar mengetahui terjadi suatu

11
perubahan irama jantung dan komplikasi atau normal.
tanda-tanda vital setiap 15 menit
atau hingga klien stabil.

2. Gangguan perfusi jaringan b.d perubahan respon motorik atau sensori,


gelisah.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam bebas
dari gelisah.
Kriteria hasil:
a. Mempertahankan tingkat kesadaran biasa atau perbaikan, kognisi, dan
fungsi motorik atau sensori.
b. Mendemonstrasikan tanda vital stabil dan tidak ada tanda-tanda
peningkatan TIK.
Intervensi Rasional

Mandiri

a. Catat ada atau tidaknya refleks- Penurunan refleks menandakan


refleks tertentu seperti refleks adanya kerusakan pada tingkat otak
menelan, batuk dan babinksi tengah atau batang otak dan sangat
dan sebagainya). berpengaruh langsung terhadap
keamanan pasien. Tidak adanya
refleks batuk atau refleks yang
menunjukkan adanya kerusakan
pada medulla.

b. Pantau suhu dan atur suhu Demam dapat mencerminkan


lingkungan sesuai indikasi. kerusakan pada hipotalamus.

c. Catat turgor kulit dan keadaan Gangguan ini dapat mengarahkan


membran mukosa. pada masalah hipotermia atau
pelebaran pembuluh darah yang
pada akhirnya akan berpengaruh

12
negatif terhadap tekanan serebral.

d. Bantu pasien untuk Aktivitas ini akan meningkatkan


menghindari atau membatasi tekanan intoraks dan intra abdomen
batuk, muntah, pengeluaran yang dapat meningkatkan TIK.
feses yang dipaksakan atau
mengejan jika mungkin.
e. Perhatikan adanya gelisah yang Petunjuk nonerbal ini mengindikasi
meningkat, peningkatan adanya peningkatan TIK atau
keluhan dan tingkah laku yang menandakan adanya nyeri ketika
tidak sesuai lainnya. pasien tidak dapat mengungkapkan
keluhannya secara verbal. Nyeri
yang tidak hilang dapat menjadi
pemacu munculnya TIK saat
berikutnya.

Kolaborasi

a. Batasi pemberian cairan sesuai Pembatasan cairan mungkin


indikasi. diperlukan untuk menurunkan
Berikan cairan melalui IV edema serebral; meminimalkan
dengan alat kontol. fluktuasi aliran vaskuler tekanan
darah (TD) dan TIK

b. Berikan oksigen tambahan Menurunkan hipoksemia, yang


sesuia indikasi. mana dapat meningkatkan
vasodilatasi dan volume darah
serebral yang meningkatkan TIK.

3. Risiko tinggi cidera b.d kejang berulang.


Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pasien
bebas dari cidera.

13
Kriteria hasil:
a. Menunjukkan homeostatis.
b. Tidak ada perdarahan mukosa dan bebas dari komplikasi lain.
Intervensi Rasional

Mandiri

a. Kaji tanda-tanda komplikasi Mengetahui komplikasi lain yang


lanjut. terjadi didalam tubuh.

b. Kaji status kardiopulmonar. Agar tidak kekurangan oksigen


didalam tubuh, menjaga pola
aktivitas yang berlebihan.

c. Kolaborasi untuk pemantauan Dapat menjelaskan kondisi yang


laboratorium: monitor darah terjadi agar selalu dipantau dan
rutin. dapat dimengerti.

d. Kolaborasi untuk pemberian Mengidentifikasi hal yang mungkin


antibiotik. akan muncul jika tidak diberi
antibiotik.

4. Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan antara suplai oksigen


(pengiriman) dan kebutuhan.
Tujuan: Setelah dilakukan keperawatan selama 3x24 jam pasien bebas dari
intoleransi aktivitas.
Kriteria hasil:
a. Melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas sehari-
hari).
b. Menunjukkan penurunan tanda fisiologis intoleransi,misal; nadi,
pernapasan, dan TD masih dalam rentang normal pasien.

14
Intervensi Rasional

Mandiri

a. Kaji kemampuan pasien untuk Mempengaruhi pilihan intervensi


melakukan tugas atau AKS atau bantuan.
normal, catat laporan kelelahan,
keletihan, dan kesulitan
menyelesaikan tugas.
b. Kaji kehilangan atau gangguan Menunjukkan perubahan neurologi
keseimbangan gaya jalan, karena defisensi vitamin B12
kelemahan otot. mempengaruhi keamanan pasien
atau resiko cidera.

c. Awasi TD, nadi, pernapasan, Meningkatkan istirahat untuk


selama dan sesudah aktivitas. menurunkan kebutuhan oksigen
tubuh dan menurunkan regangan
jantung dan paru.

d. Ubah posisi pasien dengan Hipotensi postural atau hipoksia


perlahan dan pantau terhadap serebral dapat menyebabkan pusing,
pusing. berdenyut, dan peningkatan resiko
cidera.

e. Rencanakan kemajuan aktivitas Meningkatkan secara bertahap


dengan pasien, termasuk tingkat aktivitas sampai normal dan
aktivitas yang pasien pandang memperbaiki tonus otot atau stamina
perlu. Tingkatkan tingkat tanpa kelemahan. Meningkatkan
aktivitas sesuai intoleransi. harga diri dan rasa terkontrol.

f. Gunakan teknik penghematan Mendorong pasien melakukan


energi, misal; mandi dengan banyak dengan membatasi
duduk, duduk untuk melakukan penyimpangan energi dan mencegah
tugas-tugas. kelemahan.

15
5. Kerusakan integritas kulit b/d kerusakan permukaan kulit sekunder
destruksi lapisan kulit.
Tujuan: Menunjukkan regenerasi jaringan.
Kriteria hasil: Mencapai penyembuhan tepat waktu pada area luka.
Intervensi Rasional

a. Kaji atau catat ukuran, warna, Memberikan informasi dasar


kedalaman luka, perhatikan tentang kebutuhan penanaman kulit
jaringan nekrotik dan kondisi dan kemungkinan petunjuk tentang
sekitar luka. sirkulasi pada area graft.

b. Tinggikan area graft bila Menurunkan pembengkakan atau


mungkin atau tepat. Pertahankan membatasi resiko pemisahan graft.
posisi yang diinginkan dan
imobilisasi area bila
diindikasikan.
c. Lakukan perawatan luka yang Menurunkan resiko infeksi atau
tepat dan tindakan kontrol kegagalan kulit.
infeksi.
d. Cuci sisi dengan sabun ringan, Graft kulit diambil dari kulit orang
cuci, dan minyaki dengan krim, itu sendiri atau orang lain untuk
beberapa waktu dalam sehari, penutupan sementara pada luka
setelah balutan dilepas dan sampai kulit orang itu siap ditanam
penyembuhan selesai. Lakukan
program kolaborasi : Siapkan
atau bantu prosedur bedah
atau balutan biologis

6. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d kerusakan kulit atau jaringan:


pembentukan edema.
Tujuan: Klien dapat mendemonstrasikan hilang dari ketidaknyamanan.

16
Kriteria hasil : Menyangkal nyeri, melaporkan perasaan nyaman, ekspresi
wajah dan postur tubuh rileks.
Intervensi Rasional

a. Berikan anlgesik narkotik yang Analgesik narkotik diperlukan


diresepkan prn dan sedikitnya untuk memblok jarak nyeri dengan
30 menit sebelum prosedur nyeri berat.
perawatan luka. Evaluasi
keefektifannya.
b. Bantu dengan pengubahan Menghilangkan tekanan pada
posisi setiap 2 jam bila tonjolan tulang dependen.
diperlukan. Dapatkan bantuan Dukungan adekuat pada luka
tambahan sesuai kebutuhan, selama gerakan membantu
khususnya bila pasien tak dapat meinimalkan ketidaknyamanan.
membantu membalikkan badan
sendiri.
c. Berikan ayunan di atas tempat Menurunkan nyeri dengan
tidur bila diperlukan. mempertahankan berat badan jauh
dari linen tempat tidur terhadap
luka dan menuurnkan pemajanan
ujung saraf pada aliran udara.

17
KASUS

Tn. Jono, 34 tahun, terkena serangan gelombang udara panas. Datang dengan
penurunan kesadaran, kulit memerah dan kering.Suhu tubuh 40°C, RR 32×/menit.

Pengkajian primary survey dan sekundery survey

Identitas Pasien

Nama : Tn. J

Umur : 34 tahun

Pengkajian primary survey

A : Tidak ada gangguan pada jalan napas

B : RR : 32X/menit

C : Akral hangat

D : pasien mengalami penurunan kesadaran

E : Kulit memerah dan kering

Seluhan utama : kulit memerah dan kering, suhu tubuh 40°C

Pengkajian sekundery survey

a. Aktivitas / Istirahat
Gejala : Merasa lemah, lemas akibat penurunan nafsu makan, aktivitas
berkurang karena suhu tubuh meningkat.
Tanda : Penurunan pola istirahat akibat gelisah yang ditimbulkan oleh suhu
tubuh.
b. Eliminasi
Gejala : Inkontenensia kandung kemih / usus mengalami gangguan fungsi.
Tanda : Pengeluaran urine menurun

18
c. Makanan
Gejala : Mual, muntah dan mengalami perubahan selera, penurunan berat
badan.
Tanda : Gangguan menelan
d. Nyeri / ketidaknyamanan
Gejala : Ketidaknyamanan atau gelisah dikarenakan suhu tubuh naik.
Tanda : Wajah menyeringai, gelisah, tidak bisa beristirahat, merintih.

Masalah Etiologi Diagnosa

DO : Suhu tubuh 400C kegagalan mekanisme Hiperpireksia


DS :- pengaturan panas

DO : Kulit memerah dan kerusakan permukaan Kerusakan integritas kulit


kering kulit sekunder destruksi
DS :- lapisan kulit
DO : Penurunan kejang berulang Resiko cidera
kesadaran
DS :-

Diagnosa keperawatan :

1. Hiperpireksia berhubungan dengan kegagalan mekanisme pengaturan panas


2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
3. Resiko cidera berhubungan dengan kejang berulang

19
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Heat stroke adalah penyakit berat dengan ciri temperatur inti > 40
derajat celcius disertai kulit panas dan kering serta abnormalitas sistem saraf
pusat seperti delirium, kejang, atau koma yang disebabkan oleh pajanan panas
lingkungan (sengatan panas klasik) atau kegiatan fisik yang berat.
Suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan gangguan metabolic dan
kematian sel, hingga disfungsi organ. Adanya hipertermia mula-mula akan
mengaktifkan proses termoregulasi tubuh, respons fase akut, serta peningkatan
permeabilitas secara direk.
Tanda-tanda dan gejala serangan panas (Heat Stroke) yaitu demam
tinggi (104°F atau lebih tinggi), sakit kepala parah, pusing, sebuah penampilan
memerahatau merahpada kulit, kurangnya berkeringat dll. Pendinginan tubuh
dengan cepaat merupakan pengobatan pilihan pada heat stroke.Pada heat
stroke suhu inti(internal) harus di turunkan secepat mungkin menjadi 39
derajat celcius. Segera lakukan penggantian cairan untuk memperbaiki
sirkulasi dan mempermudah pendinginan

B. Saran
Sebagai bagian dari dunia kesehatan, seorang tenaga medis terutama
perawat harus memiliki keterampilan dan pengetahuan konsep dasar penyakit
yang baik agar dapat menentukan diagnosis yang tepat bagi pasien sehingga
angka kesakitan dan kematian dapat ditekan.

20
DAFTAR PUSTAKA

Baatticaca,Fransisca B,2008.Asuhan Keperawatan Pada Klien Denga Gangguan


SistemPersyarafan.Salemba Medika:Jakarta.

Buku ajar asuhan kebidanan neonatus bayi, balita atau anak.Octa dwinda R SKM
Edisi 1.Yogyakarta.Deepublish. 2014.

https://www.scribd.com/doc/46552793/Heatstroke-Fixed diunduh pada tanggal 4


oktober 2017 jam 20:27

Kapita Selekta Kedokteran. Ed.4. Jakarta: Media Aesculapius.

Sudoyo, Aru W. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV. Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia: Jakarta

21