Anda di halaman 1dari 6

Kelompok D:

 Ananda Nurul Hidayah (170710101313)


 Dina Ari Kurnia (170710101328)
 Ricky Candra Irawan (170710101263)
 Dana Kristina (170110101012)
 Geovani (170810101248)

LIBERALISME

Sejarah Liberalisme

Sejarah liberalisme dimulai dari zaman Renaissance, sebagai reaksi terhadap


ortodoksi religius. Saat itu kekuasaan gereja mendominasi seluruh aspek kehidupan manusia.
Semua aturan kehidupan ditentukan dan berada di bawah otonomi gereja. Hasilnya, manusia tidak
memiliki kebebasan dalam bertindak, otonomi individu dibatasi dan bahkan ditiadakan. Kondisi ini
memicu kritik dari berbagai kalangan, yang menginginkan otonomi individu dalam setiap tindakan
dan pilihan hidup. Otonomi individu dipahami sebagai keterbebasan dari determinasi dan intervensi
eksternal, berupa pembatasan, pemaksaan atau berbagai bentuk ancaman dan manipulasi, dalam
melakukan tindakan. Menurut liberalisme, individu adalah pencipta dan penentu tindakannya. Dengan
konsep seperti ini, maka kesuksesan dan kegagalan seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri, oleh
tindakan-tindakannya dan pilihan-pilihan terhadap tindakan tersebut. Intinya, manusia memiliki
kebebasan dalam hidupnya, manusia adalah pribadi yang otonom.
Dalam perkembangannya, ada dua corak liberalisme, liberalisme yang dipelopori oleh
John Locke dan liberalisme yang dipelopori oleh Jean Jacques Rousseau. John Locke
berpendapat bahwa kebebasan yang menjadi nilai dasar liberalisme dipahami sebagai
ketidakhadiran intervensi eksternal dalam aktivitas-aktivitas individu. Kebebasan adalah hak
properti privat. Karenanya, pemerintah bersifat terbatas (minimal) terhadap kehidupan
warganya. Untuk itu harus ada aturan hukum yang jelas dan lengkap dalam menjamin
kebebasan sebagai hak properti privat ini. Corak liberalisme ini kemudian mendasari dan
menginspirasi munculnya libertarianisme yang dipelopori oleh Alexis de Tocqueville,
Friedrich von Hayek dan Robert Nozick.
Di sisi lain Rousseau berpendapat bahwa pemerintah harus tetap berfungsi menjamin
terlaksananya kebebasan individu dalam masyarakat. Corak liberalisme ini selanjutnya
mendasari dan menginspirasi munculnya liberalisme egalitarian, dengan tokohnya antara lain
John Rawls dan Ronald Dworkin. Liberalisme ini berusaha menyatukan ide kebebasan dan
kesamaan individu dalam masyarakat. Pemerintah dibutuhkan untuk meredistribusikan nilai-
nilai sosial dalam melaksanakan dan mencapai kebebasan dan kesamaan individu-individu
dalam masyarakat.
Lalu, kegagalan sosialisme dan marxisme dalam mengatasi konflik pada masyarakat
seperti terlihat di Uni Sovyet dan negara-negara lain di dunia menjadikan liberalisme sebagai
konsep yang dominan saat ini.
Pokok-pokok Liberalisme

Menurut Sukarna (1981), ada tiga pokok mendasae dari ideologi Liberalisme yakni kehidupan,
kebebsan, dan hak milik (Life, Liberty, and Property). Dibawah ini adalah nilai-nilai pokok yang
bersumber dari tiga nilai liberalisme tadi:

 Kesempatan yang sama (Hold the basic equality of all human being). Bahwa manusia
memiliki kesempatan yang sama dalam segala bidang kehidupan baik politik, sosial, ekonomi
dan kebudayaan. Namun karena kualitas manusia yang berbeda-beda sehingga dalam
menggunakan persamaan kesempatan itu akan berlainan tergantung kepada kemampuan
masing-masing. Terlepas dari itu semua, hal ini (persamaan kesempatan) adalah suatu nilai
yang mutlak.
 Dengan adanya pengakuan terhadap persamaan manusia, di mana setiap orang mempunyai
hak yang sama untuk mengemukakan pendapatnya, maka dalam setiap penyelesaian masalah-
masalah baik dalam kehidupan sosial, politik ekonomi, kebudayaan dan negara dilakukan
secara diskusi dan dilaksanakan dengan persetujuan, dimana dalam hal ini sangat penting utuk
menghilangkan egoisme individu. (Treat the other reason equally).
 Pemerintah harus mendapat persetujuan dari yang diperintah. Pemerintah tidak boleh
bertindak menurut kehendaknya sendiri,tetapi harus bertindak menurut kehendak rakyat.
(Goverment by the consent of the people of the governed)
 Berjalannya hukum (the rule of law). Fungsi negara adalah untuk membela dan mengabdi
pada rakyat. Terhadap hak asasi manusia merupakan hukum abadi yang mana seluruh
peraturan atau hukum dibuat oleh pemerintah untuk melindungi dan mempertahankannya.
Maka untuk menciptakannya, harus ada patokan tertinggi yakni Undang-undang, persamaan
dimuka umum dan persamaan sosial.
 Yang menjadi pemusatan kepentingan adalah individu. (The emphasis of Individu).
 Negara hanyalah alat (the state is instrument). Negara itu sebagai suatu mekanisme yang
digunakan untuk tujuan-tujuan yang lebih besar dibandingkan negara itu sendiri. di dalam
ajaran Liberal klasik, ditekankan bahwa masyarakat pada dasarnya dianggap, dapat
memenuhi dirinya sendiri, dan negara hanyalah merupakan suatu langkah saja ketika usaha
sukarela masyarakat telah mengalami kegagalan.
 Dalam liberalisme tidak menerima ajaran dogmatis (refus dogatism). Hal ini karena
pandangan filsafat dari John Locke yang menyatakan bahwa semua pengetahuan itu
didasarkan pada pengalaman. Dalam pandangan itu, kebenaran itu adalah berubah.

Penerapan Liberalisme dalam Aspek-aspek Kehidupan

Dalam negara liberal, kehidupan beragama diatur secarabebas sehingga muncul sekelompok
orang yang atheis (tidak mempercayai keberadaan Tuhan dan penolakan terhadap agama).

Liberalisme dalam aspek ekonomi menjelaskan bahwa perekonomian adalah bidang yang
harus dikembangkansesuai dengan kodrat manusia yang bebas, sehingga perekonomian memang
seharusnya berdasar prinsip pasar bebas(free market). Artinya semua hubungan ekonomi tercipta oleh
pasar bebas, campur tangan dari pihak penguasa tidak dibenarkan. Bisa diartikan bahwa pada aspek
ekonomi biarkan individu, kelompok atau suatu masyarakat mengatur segala hal untuk memenuhi
kebutuhannya sendiri, tanpa campur tangan pemerintah. Termasuk pemerintah tidak diperbolehkan
untuk menentukan harga pasar.Pemerintah ikut camput sesedikit mungkin, serta biarkan swasta dan
masyarakat yang menentukan. Jika pihak swasta sudah memasuki area ekonomi maka kita bisa lihat
dampaknya pada era sekarang ini, semua dikuasai oleh pihak swasta sedangkan pemerintah dan
masyarakatnya dirugikan. Terjadinya pasar bebas, dimaksudkan agar setiap individu bebas bersaing
dalamkapital (kepemilikan uang dan barang) serta harga (kemampuan mengidentifikasi jual-beli)
dipasaran untukmemperebutkan monopoli kekuasaan dan dominasi.

Dalam politik, liberalisme menetang adanya kekuasaan yang otoriter. Dengan kata lain
ideologi liberal ini dapat diwujudkan dalam sistem demokrasi karena sama-sama memberikan
kebebasan pada individu. Dalam aspek politik ini liberalisme agaknya cocok diterapkan di Indonesia
dimana individu diberikan kebebasan sehingga masyarakat dapat menyatakan pendapat dan aspirasi
mereka namun tetap dengan mekanisme pertanggungjawaban. Namun di sisi lain seperti yang dapat
kita ketahui bahwa di negara-negara yang menganut paham liberal biasanya melakukan pengambilan
keputusan melalui sistem voting. Voting adalah cara pengambilan keputusan berdasarkanjumlah
mayoritas suara pemilih. Voting merupakan salah satu ciri dari negara demokrasi liberal dimana
dalam pengambilan keputusan setiap satu orang memiliki suara“one man one vote”.

Selain itu paham liberal dalam bidang sosial dan budaya cenderung lebih mengedepankan
nilai-nilai kebebasan dan tidak terlalu memandang nilai dan norma. Kebebasan masyarakat di negara
liberal dapat kita lihat misalnya dari cara berpakaian, gaya hidup(lifestyle), sikap individualistis,
bahkan di negara liberal contohnya seperti di negara Belanda kebebasan untuk menikah dengan
sesama jenis pun telah dilegalkan.

Kelebihan dan Kekurangan Liberalisme

Kelebihan dari ideologi liberalisme:

1. Menumbuhkan inisiatif dan kreasi masyarkat dalam mengatur kegiatan ekonomi. Masyarakat
tidak perlu menunggu komando dari pemerintah.
2. Setiap individu bebas untuk memiliki sumber-sumber daya produksi. Hal ini mendorong
partisipasi masyarakat dalam perekonomian.
3. Timbul persaingan untuk maju karena kegiatan ekonomi sepenuhnya diserahkan kepada
masyarakat.
4. Menghasilkan barang-barang bermutu tinggi, karena barang yang kurang bermutu tidak akan
laku di pasar.
5. Efisiensi dan efektivitas tinggi karena setiap tindakan ekonomi didasarkan atas motif mencari
keuntungan
6. Kontrol sosial dalam sistem pers liberal berlaku secara bebas. Berita-berita ataupun ulasan
yang dibuat dalam media massa dapat mengandung kritik-kritik tajam, baik ditujukan kepada
perseorangan lembaga atau pemerintah.
7. Masyarakat dapat memilih partai politik tanpa ada gangguan dari siapapun.

Kelemahan ideologi liberalisme

Konsepsinya tentang masyarakat dan individu yang asosial dan egois, yang motivasi utamanya
dalam bertindak adalah pemenuhan kepentingan sendiri. Pandangan ini telah dituduh sebagai tidak
memperhatikan kooperasi sosial atau kepentingan umum dari semua individu, kecuali mungkin hanya
memandangnya sebagai agregasi kepentingan pribadi tiap-tiap individu dan oleh karenanya hanya
sebagai alat untuk memuaskan kepentingan-kepetingan pribadi tersebut. Jadi lanjut argumen itu,
indivudualisme liberal gagal menangkap sifat sosial kegiatan manusia, atau bahkan melegitimasi
model-model perilaku yang anti sosial dan ke-aku-an sesutu yang dapat diterima secara moral.

Teori ini dikritik oleh kritikus sosialis, atas dukungan dan pembenaran yang diberikannya atas
ketimpangan kehidupan sosial dan ekonomi, dengan melindungi hak untuk menumpuk kekayaan
pribadi secara tak terbatas tanpa memperhatikan akiabat sosialnya. Lanjut, kesenjangan ekonomi dan
sosial tersebut cenderung mengikis persamaan politik yang didasarkan pada demokrasi, karena
berlakunya kekuasaan politik istimewa; pemegang konsentrasi kemakmuran.
Daftar Pustaka

Sukarna. Ideologi : Suatu Studi Ilmu Politik. (Bandung: Penerbit Alumni, 1981)

Teori politik dan ideologi liberalisme (Yogyakarta: penerbit alumni Universitas Gadjah Mada, 2004)

Ridha aida. Liberalisme dan Komunitarianisme: Konsep tentang Individu dan Komunitas.
DEMOKRASI Vol. IV No. 2 Th. 2005