Anda di halaman 1dari 9

4.12. G. ROKATENDA, Nusa Tenggara Timur

4.12. G. ROKATENDA , Nusa Tenggara Timur Puncak G. Rokatenda dilihat dari laut arah selatan P.

Puncak G. Rokatenda dilihat dari laut arah selatan P. Palue (Agustus 2008)

KETERANGAN UMUM

Nama

Nama Kawah : Ada dua buah kawah dan tiga buah kubah lava di puncak G. Rokatenda. Ketiga kubah lava tersebut masing-masing terbentuk pada tahun 1928; 1964 dan 1981, terletak pada pola garis lurus berarah utara -selatan. Tipe Gunungapi : Tipe A (strato) Lokasi Geografis : 8°19'LS dan 121°42'30" BT

: G. Rokatenda

Lokasi

: Pulau Palue, sebelah utara Flores Tengah. Kecamatan Awa di

Administrasi

pulau Palue bagian utara, Kabupaten Sikka, Propinsi Nusa

Tenggara Timur Ketinggian : 875 m di atas permukaan laut atau ± 3000 m di atas dasar laut

Kota Terdekat : Desa Awa yang merupakan pusat Kecamatan di pulau Palue. Sedangkan kampung terdekat di pulau Flores ialah Roka, merupakan kampung pinggir pantai utara Flores Pos Pengamatan : Ropa, Desa Keliwumbu,Kec. Maurole, Ende 86381 (08 o 30’ 08,34” LS dan 121 o 42’ 44,10” BT, 5 m dpl)

PENDAHULUAN

Cara pencapaian Gunungapi Rokatenda dapat dicapai dari pos pengamatan gunungapi G. Rokatenda yang berada di kampung Roka dengan menggunakan perahu kayu bermotor, lama perjalanan 1,5 jam ke kampung Awa. Pendakian ke puncak dapat ditempuh dari 2 jalan yaitu dari sebelah Barat (Kampung Ona) dan dari sebelah Utara (Kampung Awa). Lama perjalanan menuju puncak 3 jam.

(Kampung Awa). Lama perjalanan menuju puncak  3 jam. Peta lokasi G. Rokatenda Wisata Wisata gunungapi

Peta lokasi G. Rokatenda

Wisata Wisata gunungapi berupa depresi kawah dan puncak pada pulau gunungapi tengah

laut.

SEJARAH LETUSAN

Letusan G. Rokatenda bersifat efusif dan eksplosif yang menghasilkan lava dan piroklatik. Akhir dari satu perioda erupsi sering dicirikan oleh pembentukan kubah lava. Penyebaran aliran piroklastik sampai ke pantai (Kampung Awa). Perioda letusan terpendek adalah 1 tahun terjadi antara tahun 1972 dan 1973, keduanya berupa letusan abu. Perioda letusan terpanjang yang tercatat dalam sejarah adalah 35 tahun, terjadi antara tahun 1928 dan 1963, keduanya berupa letusan efusif yang menghasilkan kubah lava pada titik letusan yang sama.

Pra 1928

Terjadi letusan hebat kira-kira 200 tahun dihitung berdasarkan keterangan penduduk, sekitar delapan generasi sebelum letusan 1928. Tampak bekas-bekas letusannya berupa lima buah kawah dan sebuah lava dome. Perioda Rokatenda, dengan garis tengah berkisar antara 200 700 m.

1928

Terjadi letusan pada 4 Agustus 25 September, mengakibatkan perubahan lava dome, memperlihatkan bekas letusan berupa empat buah kawah. Letusan mengakibatkan kerusakan tanah, korban manusia sebanyak 266 jiwa, yang sebagian besar disebabkan gelombang pasang laut.

1929-1963

Selama lebih kurang 34 tahun tidak ada kegiatan yang meningkat ataupun terjadi letusan. Kegiatan gunungapi hanya pada kegiatan fumarola saja. Akhirnya pada tahun 1963, menjelang 1 Januari 1964 terjadi getaran gempa setempat, terdengar suara gemuruh di bawah gunung Rokatenda, yang disusul kepulan asap tebal membumbung tinggi di atas gunung Rokatenda, kemudian muncul kubah lava dari titik letusan 1928, disertai guguran lava pijar dan lava dingin. Kegiatan pembentukan kubah lava berlangsung lama, mengakibatkan korban 1 orang tewas dan 3 orang luka-luka. Akhir Juni, ketinggian kubah lava lebih kurang 51 m dari dasar kubah (kawah letusan 1928). Tebal abu 2 cm sepanjang 2 km dari puncak dan 5 cm disekitar puncak.

1966

Terjadi peningkatan kegiatan.

1972

Terjadi letusan dari sebuah kawah samping, bekas letusan 1928, sebelah Timurlaut kawah utama.

1973

Terjadi letusan abu pada tanggal 27 dan 28 Oktober. Hujan abu tersebar di seluruh pulau, dengan jarak 5000 m dari titik letusan. Ketebalan abu sekitar 3 cm.

1981

Terjadi peningkatan kegiatan, 18 Januari muncul kubah lava baru diantara gunung Ili Manunai dengan Rokatenda.

1984

Peningkatan kegiatan yang dirasakan penduduk pada tanggal 9 dan 21 Mei, juga pada tanggal 3 dan 7 Juni.

1985

Tanggal 23 Maret 1985, jam 17.40 waktu setempat terjadi letusan selama 45 menit, yang didahului suara gemuruh kecil dilanjutkan dengan letusan, hembusan abu setinggi lebih kurang 1000-2000 m, dengan lontaran material berkisar 200-300 m di atas puncak. Lokasi letusan berasal dari lereng tubuh kubah lava 1981, sebelah Baratlaut dengan ukuran lubang letusan 40 x 30 m, dalamnya dari bibir kawah lebih kurang 20 m. Abu letusan tersebar kearah Barat dan menutupi kampung-kampung Nitung, Waikoro dan Koa. Ketebalan abu rata-rata 3 mm. Kegiatan menunjukkan adanya pertumbuhan kubah lava

2008

Oktober, terjadi peningkatan kegempaan

2009

April, terjadi peningkatan kegempaan

GEOLOGI

G. Rokatenda merupakan pulau gunungapi yang masih aktif. Geologi gunungapi Rokatenda dipetakan oleh Igan Supriatman S., dkk. Tahun 2000. Hasil pemetaan memisahkan produk Rokatenda tua dan muda. Rokatenda tua dibentuk oleh batuan lava dan aliran piroklastik yang penyebarannya banyak menempati lereng Barat dan Selatan gunung, dan juga terdiri dari sisa-sisa kerucut kecil pada kaki gunung Rokatenda bagian Barat, Baratdaya dan Tenggara. Rokatenda (muda) menghasilkan lava dan aliran piroklastik, juga membentuk gumuk-gumuk kecil antara lain Matomere, Rokatenda dan Ili Manunai.

GEOFISIKA

Seismik Gempa yang terekam G. Rokatenda terdiri dari gempa-gempa Vulkanik Dalam (VA), Vulkanik Dangkal (YB), Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).

Pada survei seismik temporer tahun 2009 dipasang tiga stasiun seismometer temporer digital di tubuh G. Rokatenda. Sementara di Pos PGA dilakukan penyadapan dari data analog ke digital dari stasiun seismik permanen G. Rokatenda. Episenter gempa vulkanik pada survei tersebut pada umumnya berlokasi di sebelah barat dan barat daya dari puncak/kawah G. Rokatenda dengan kedalaman pada kisaran 1,7 7 km di bawah puncak G. Rokatenda.

Lokasi dan Posisi Stasiun Seismik Permanen dan Temporer G. Rokatenda

Nama Stasiun

Posisi Geografis

Ketinggian

Jenis

Lintang

Bujur

(m Ellips)

Seismometer

Sta. Permanen

08 o 21'13.0" S

121 o 43'27.4" E

109

L4C

Datamark 1 (DM01)

08 o 18'07.04" S

121 o 43'29.60" E

64

L4C

Datamark 2 (DM02)

08˚18'23.00" S

121˚41'10.50" E

53

L4C

Datamark 3 (DM03)

08˚20'25.80" S

121˚40'49.40" E

1190

L4C

8 17’ 30” LS 121 121 45’02“ BT  45’02“ BT 8 17’ 30” LS
8 17’ 30” LS
121 121 45’02“ BT
45’02“ BT
8 17’ 30” LS
N
T
 Stasiun Seismik
 Pusat Gempa 20-23 April
2009
 Pusat Gempa 24-25 April
2009
8 21’ 22” LS
121 40’08” BT

Peta lokasi dan sebaran pusat gempa vulkanik G. Rokatenda

GEOKIMIA

Mata air panas Mata air panas yang rutin diukur temperaturnya adalah Mata Air Panas Ona dan mata Air Panas Lidi.

Analisis Batuan Analisis kimia batuan gunungapi Rokatenda mempunyai kandungan SiO 2 berkisar antara 41,0 48,6 dan 54,9 60,1. Kandungan K 2 O berkisar antara 0,44 1,48 dan 1,76 2,81. Kedalaman jalur Beniof 192 km.

Analisis Gas Di dalam kawah terdapat paling tidak 6 lokasi solfatara, dengan temperatur dari 93 o C

185 o C.

Komposisi Gas Vulkanik Gunungapi Rokatenda

Unsur

H

2

O

2 +Ar

N

2

CO

CO 2

SO 2

H 2 S

HCl

H

2 O

% mol

-

12,88

62,71

-

15,42

-

- 8,98

 

-

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

Sistem Pemantauan Kegiatan G. Rokatenda dipantau secara menerus baik secara visual dan kegempaan dari pos pengamatan di Kampung Kolorongo, Desa Koa Nora, Kabupaten Ende, NTT.

Visual

Pengamatan visual dan cuaca yang meliputi: kenampakan gunung, warna dan tinggi tekanan asap, suhu udara, keadaan cuaca, kelembaban udara, tekanan udara, curah hujan, angin.

Kegempaan Seismometer penerima gempa dengan sistem radio telemetri dipasang di sebelah timur puncak G. Kelimutu pada posisi geografi 08 o 21’ 13,00” LS dan 121 o 43’ 27,40” BT, ketinggian lk. 340 m dml. Sinyal gempa ditransmisikan dengan sistim radio pancar (RTS) ke Pos Pengamatan G. Rokatenda dan direkam dengan pencatat gempa tipe PS-2.

KAWASAN RAWAN BENCANA

Tingkat kerawanan bencana G. Rokatenda dibagi menjadi tiga tingkat (secara berurutan dari tertinggi ke terendah), adalah: Kawasan rawan bencana III, Kawasan rawan bencana II, dan Kawasan rawan bencana I.

KAWASAN RAWAN BENCANA III

1. Kawasan rawan bencana terhadap awan panas, apabila G.Rokatenda meletus kembali pada masa datang dengan jenis dan tipe erupsi yang relatif identik dengan erupsi-erupsi sebelumnya, kemungkinan akan mengarah terutama ke bagian baratdaya dan timur dengan jarak jangkau maksimum 1,5-1,75 km dari pusat erupsi.

2. Kawasan rawan bencana terhadap aliran dan guguran lava, apabila pada erupsi mendatang terjadi lagi aliran lava, maka sebarannya diperkirakan hanya di sekitar puncak/di dalam Kawah Rokatenda. Apabila erupsinya membesar, maka kemungkinan lava akan mengalir lebih jauh dari pusat erupsi, dan cenderung akan mengalir ke sektor baratdaya, dan timur dengan jarak jangkau maksimum 1-1,5 km dari pusat erupsi.

3. Kawasan rawan bencana terhadap material lontaran dan hujan abu lebat, untuk mengantisipasi skala erupsi G. Rokatenda yang relatif lebih besar dari skala erupsi di masa silam, maka radius lingkaran sebaran material lontaran batu pijar berukuran lebih dari 6 cm, dan hujan abu lebat hingga radius 2 km dari pusat erupsi.

KAWASAN RAWAN BENCANA II

1. Kawasan rawan bencana terhadap awan panas, kawasan rawan bencana II yang kemungkinan terlanda awan panas, adalah sektor baratdaya, dan timur. Apabila skala erupsinya membesar, maka kemungkinan dapat terjadi perluasan aliran awan panas ke arah utara, barat, baratlaut, timurlaut dan tenggara. Jarak jangkaunya diprediksi dapat mencapai jarak lebih dari 3 km dari pusat erupsi (terutama ke arah baratdaya).

2. Kawasan rawan bencana terhadap aliran lava, apabila pada erupsi yang akan datang

terjadi aliran lava, maka sebarannya diperkirakan akan melanda daerah baratdaya (sesuai dengan arah bukaan kawahnya).

3. Kawasan rawan bencana terhadap material lontaran dan hujan abu lebat, untuk mengantisipasi skala erupsi G.Rokatenda yang relatif lebih besar dari skala erupsi di masa silam, maka radius lingkaran sebaran material lontaran batu pijar dan hujan abu lebat hingga radius 5 km dari pusat erupsi.

KAWASAN RAWAN BENCANA I

2. Kawasan rawan bencana terhadap hujan abu dan material lontaran batu (pijar), untuk mengantisipasi skala erupsi G. Rokatenda yang relatif lebih besar dari skala erupsi di masa silam, maka radius lingkaran sebaran material lontaran batu pijar dan hujan abu dibatasi hingga radius 7 km dari pusat erupsi.

Peta Kawasan Rawan Bencana G. Rokatenda

Peta Kawasan Rawan Bencana G. Rokatenda

DAFTAR PUSTAKA

Eka Kadarsetia, Amin Saefudin, Nababan T., Sunarman, 2000, Laporan Penyelidikan Kimia Air dan Gas Gunung Rokatenda Nusa Tenggara Timur, Direktorat Vulkanologi Bandung Hutchison, 1982, Indonesia dalam Thorpe, RS, 1982, Andesite, John Willey & Sons. Harun Said, 1990, G. Rokatenda, Berita Berkala Vulkanologi, Edisi Khusus, No. 130, Direktorat Vulkanologi Bandung Igan Supriatman S., Agung Pribadi; Roni Taufiqurrohman, 2000, Laporan Pemetaan Geologi Gunungapi Rokatenda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Direktorat Vulkanologi Bandung. Kasturian P.; Wirasaputra A.D., 1981, Laporan Pemeriksaan Puncak dan Pemetaan Daerah Bahaya Gunung Rokatenda, Direktorat Vulkanologi Bandung. Waziel Effendi; Rivai Chaniago; 1998; Geologi Foto Gunungapi Rokatenda Kabupaten Sikka Propinsi Nusa Tenggara Timur, Direktorat Vulkanologi Bandung. Umar rosadi., dkk, 2009, Pemantauan Gunungapi Rokatenda Nusa Tenggara Timur, laporan, Pusat Vulkanologi dan mitigasi Bencana Geologi.

9