Anda di halaman 1dari 52

ASUHAN KEPERAWATAN

KEGAWATDARURATAN PARIWISATA
DI AREA WISATA TAMAN MARGASATWA SEMARANG
TANGGAL 25 MEI – 6 JUNI 2015

Dosen Pembimbing:

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Tugas Stase Keperawatan GADAR Wisata Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Karya Husada Semarang

OLEH :

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA

SEMARANG 2015
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Akhir Praktek


Asuhan Keperawatan
Kegawatdaruratan Pariwisata
Di Area Wisata Taman Margasatwa Semarang
Pada 25 Mei – 7 Juni 2015

Mengetahui Pembimbing Lapangan


Semarang, Juni 2015

drh. Aniek Sus Hartatik


KATA PENGANTAR

Puji syukur kelompok panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segala rahmat dan
bimbingan-Nya, sehingga kelompok dapat menyelesaikan Lapora Akhir Praktek di Komunitas
Pariwisata dengan judul “Asuhan Keperawatan Kegawatdaruratan Pariwisata Di Area Wisata
Taman Margasatwa Semarang, Tanggal 25 Mei – 7 Juni 2015.
Laporan akhir ini, kelompok susun dalam rangka memenuhi salah satu tugas stase
Kegawatdaruratan Pariwisata Profesi Ners di STIKES Karya Husada semarang. Dalam
penyusunan Laporan Akhir ini, kelompok banyak mengalami kesulitan baik dalam mencari
literatur referensi maupun diskusi bersama kelompok, namun berkat bantuan, bimbingan dan
dukungan dari berbagai pihak akhirnya Laporan Akhir ini dapat kelompok selesikan dengan
sebaik mungkin. Maka pada kesempatan ini, dengan ketulusan hati perkenankanlah kelompok
menyampaikan rasa terima kasih kapada:
1. Bapak Ns. Fery Agusman SKM, M.Kep, S.Kom, selaku Ketua STIKES Karya Husada
Semarang yang telah memfasilitasi perijinan untuk Praktek Profesi Ners.
2. Ibu Ns. Nyoman S.Kep, selaku koordinator Prodi Ners STIKES Karya Husada Semarang.
3. Bapak Ir. Kusyanto, selaku Kepala pengelola UPTD dan Bapak Bambang HP, selaku
Kepala Tata Usaha UPTD Taman Margasatwa Semarang, yang telah memfasilitasi kami
untuk Praktek Kegawatdaruratan Pariwisata di Taman Margasatwa Semarang.
4. Bapak drh. Hendrik Tri Setiyawan dan Ibu drh. Aniek Sus Hartati selaku pembimbing
Lapangan di Taman Margasatwa Semarang.
5. Ibu Ns. Nyoman S.Kep selaku pembimbing Akademik praktek Kegawatdaruratan
pariwista.
6. Teman-teman semua kelompok Praktek Kegawatdaruratan Pariwisata Di Area Pariwisata
Taman Margasatwa semarang yang saling membantu untuk menyelesaikan laporan ini.
Kelompok menyadari, walaupun kami sudah berusaha maksimal dalam penyusunan laporan
akhir ini, pasti masih banyak kekurangan dalam penyusunannya. Maka kelompok berharap
adanya kritik dan saran yang membangun dalam usaha memperbaiki dan penyempurnaan
Laporan Akhir ini.
Semarang, Juni 2015

Kelompok 1 Praktek Kegawatdaruratan Pariwisata


DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masa globalisasi menurut adanya perkembangan dan perubahan di segala bidang salah satu
diantaranya adalah bidang kesehatan. Dengan berbagai inovasi yang dilakukan di bidang
kesehatan, perubahan bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi, maka terjadi peningkatan
usia harapan hidup warga Indonesia dan ini memberikan dampak tersendiri dalam upaya
peningkatan derajat/status kesehatan penduduk.
Penyelenggaraan upaya kesehatan oleh bangsa Indonesia untuk mencapai peningkatan
derajat hidup sehat bagi setiap penduduk adalah merupakan hakekat pembangunan
kesehatan yang termuat di dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dengan tujuan agar
dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, sebagai salah satu unsure
kesejahteraan umum dari tujuan nasional. Agar tujuan tersebut dapat tercapai secara optimal,
diperlukan partisipasi aktif dari seluruh anggota masyarakat bersama petugas kesehatan. Hal
ini sesuai dengan telah diberlakukannya UU No. tahun 1992 yaitu pasal 5 yang menyatakan
bahwa setiap orang berkewajiban untuk ikut serta dalam memelihara dan meningkatkan
derajat kesehatan perorangan, keluarga dan lingkungan.
Dibidang lain khususnya dunia pariwisata dari tahun ke tahun menunjukkan perkembangan
yang sangat pesat. Hal ini disebabkan, antara lain, oleh perubahan struktur sosial ekonomi
negara di dunia dan semakin banyak orang yang memiliki pendapatan lebih. Selain itu,
kepariwisataan telah berkembang menjadi suatu fenomena global, menjadi kebutuhan dasar,
serta menjadi bagian dari hak asasi manusia yang harus dihormati dan dilindungi. Melihat
perkembangan ini, pemerintah, dunia usaha pariwisata, dan masyarakat wajib
mempersiapkan diri untuk dapat menjamin kenyamanan dan keamanan wisatawan dalam
berwisata.
Berdasarkan UU Pariwisata RI NO 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan pasal 20
menyebutkan bahwa setiap wisatawan berhak memperoleh informasi yang akurat mengenai
daya tarik wisata, pelayanan pariwisata sesuai standar, pelayanan kesehatan, perlindungan
hak pribadi dan perlindungan asuransi yang beresiko tinggi. Khususnya pelayanan kesehatan
sampai saat ini masih menjadi perhatian khusus oleh karena belum banyak daya tarik wisata
yang mempersiapkan betul sarana prasarana yang memadai untuk memberikan pelayanan
kesehatan kepada komunitas wisatawan yang mengunjungi obyek wisata tersebut.
Masyarakat atau komunitas sebagai bagian dari subyek dan obyek pelayanan kesehatan dan
dalam seluruh proses perubahan hedaknya perlu dilibatkan secara lebih aktif dalam usaha
peningkatan status kesehatannya dan mengikuti seluruh kegiatan kesehatan komunitas.
Taman Margasatwa Semarang merupakan salah satu obyek wisata yang ada di Semarang
yang menyuguhkan beberapa koleksi satwa yang bisa dinikmati, taman bermain anak dan
wisata air. Lokasi Taman Margasatwa Semarang ini sangat strategis, dipinggir jalan yang
mudah dijangkau baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Wisatawan pun
yang datang dari berbagai daerah baik Semarang sendiri, Kendal, Weleri, Batang,
Pekalongan, maupun daerah Demak dan sekitarnya. Melihat jauhnya tempat asal dari para
wisatawan dan luasnya Taman Margasatwa Semarang (± 100 hektar), maka perlu
diantisipasi beberapa hal yang mungkin membuat wisatawan mengalami gangguan
kesehatan baik sebelum maupun setelah berkeliling menikmati wahana yang disajikan
Taman Margasatwa seperti kelelahan, kram, pusing, terpeleset dan lain-lainnya.
Dalam upaya meningkatkan kemampuan bekerja dengan individu, keluarga dan kelompok
ditatanan pelayanan kesehatan komunitas dengan menerapkan konsep kesehatan dan
keperawatan komunitas, serta sebagai salah satu upaya menyiapkan tenaga perawat
professional yang mempunyai kompetensi keperawatan secara mandiri, maka mahasiswa
Program Studi Ners STIKES Karya Husada Semarang melaksanakan Praktek Klinik
Keperawatan Kegawatdaruratan Pariwisata di Area Wisata Taman Margasatwa Semarang
yang terletak di Jalan Semarang Kendal KM 17 Semarang, dengan menggunakan 2
pendekatan individu dan kelompok.
Pendekatan individu dilakukan dengan cara setiap mahasiswa jika dimungkinkan
memberikan asuhan kepada individu wisatawan ataupun masyarakat yang mengalami
kegawatdaruratan wisata yang terjadi. Pendekatan secara kelompok dilakukan dengan cara
meningkatkan pengetahuan, keterampilan para karyawan Taman Margasatwa di bidang
kegawatdaruratan pariwisata dan mendorong adanya posko kesehatan yang memadai, serta
memberi penyuluhan kepada kelompok-kelompok wisatawan yang datang.
Selain itu, selama proses belajar klinik di komunitas pariwisata, mahasiswa wajib
mengidentifikasi demografi dengan resiko yang bisa terjadi dan sumber yang tersedia,
selanjutnya bekerjasama dengan komunitas dalam merancang, melaksanakan dan
mengevaluasi perubahan komunitas. Harapan yang ada, masyarakat akan mandiri dalam
upaya meningkatkan status kesehatannya masing-masing.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah menyelesaikan pengalaman praktik klinik keperawatan kegawatdaruratan
pariwisata, mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan pada wisatawan sesuai
konsep dan teori kegawatdaruratan pariwisata dan berkolaborasi dengan lintas program
dan sektoral baik lembaga formal maupun nonformal dalm mewujudkan pelayanan
kesehatan di komunitas area wisata.
2. Tujuan Khusus
Setelah menyelesaikan praktek keperawatan kegawatdaruratan pariwisata ini, mahasiswa
mampu:
a. Menerapkan strategi yang tepat dalam mengkaji komunitas area wisata.
b. Mengumpulkan data, menganalisa dan menentukan masalah kesehatan yang spesifik
berdasarkan analisa demografi area wisata.
c. Menentukan prediksi masalah yang mungkin muncul di area wisata sesuai
prioritasnya.
d. Melakukan penanganan kasus kegawatdaruratan pada wisatawan yang berkunjung
baik kasus di darat maupun di air.
e. Menerapkan pendidikan kesehatan yang spesifik sesuai kebutuhan wisatawan dan
komunitas Taman Margasatwa Semarang.
C. Manfaat
1. Untuk Mahasiswa
a. Dapat mengaplikasikan konsep kegawatdaruratan pariwisata secara nyata kepada
masyarakat di lokasi Daya Tarik Wisata.
b. Belajar menjadi perawat professional dalam menerapkan asuhan keperawatan
komunitas pariwisata.
c. Meningkatkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan bijaksana dalam menghadapi
dinamika masyarakat khususnya para wisatawan.
d. Meningkatkan ketrampilan komunikasi, kemandirian dan hubungan interpersonal.
2. Untuk Masyarakat (Komunitas Taman Margasatwa Semarang)
a. Mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk berperan aktif dalam upaya peningkatan
kesehatan dan pencegahan penyakit.
b. Mendapat kemampuan untuk mengenal, mengerti dan menyadari masalah kesehatan
dan mengetahui cara menyelesaikan masalah kesehatan yang mungkin bisa terjadi di
Taman Margasatwa Semarang
3. Untuk Pendidikan
a. Salah satu tolak ukur keberhasilan STIKES Karya Husada Semarang, Program
Profesi Ners stase Kegawatdaruratan Pariwisata.
b. Sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam pengembangan model praktek
keperawatan komunitas pariwisata selanjutnya.
4. Untuk Profesi
a. Upaya menyiapkan tenaga perawat yang professional, berpotensi secara mandiri
sesuai dengan kompetensi yang telah ditentukan.
b. Memberikan suatu model baru dalam keperawatan komunitas pariwisata sehingga
profesi mampu mengembangkannya.
c. Salah satu bukti profesionalisme keperawatan pariwisata telah terintis.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Pariwisata
1. Pengertian
Pengertian pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, bersifat
sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari
keseimbanganatau keserasian dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi
sosial, budaya, alam dan ilmu. Suatu perjalanan dianggap sebagai perjalanan wisata bila
memenuhi tiga persyaratan yang diperluka, yaitu:
a. Harus bersifat sementara
b. Harus bersifat sukarela (voluntary) dalam arti tidak terjadi karena dipaksa
c. Tidak bekerja yang sifatnya menghasilkan upah ataupun bayaran
Wisata merupakan suatu kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut
yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmatiobyek dan daya
tarik wisata. Sedangkan wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata.
2. Jenis- jenis Pariwisata
Menurut pendit (1994), pariwisata dapat dibedakan menurut motif wisatawan untuk
mengunjungi suatu tempat.
a. Wisata Budaya
yaitu perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan
hidup seseorang dengan jalan mengadakan kunjungan atau peninjauan ketempat lain
atau keluar negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan adat istiadat mereka, cara
hidup mereka, budaya dan seni mereka. Seiring perjalanan serupa ini disatukan dengan
kesempatan-kesempatan mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan budaya, seperti
eksposisi seni (seni tari, seni drama, seni musik dan seni suara), atau kegiatan bermotif
kesejarahan dan sebagainya.
b. Wisata Maritim atau Bahari
Jenis wisata ini banyak dikaitkan dengan kegiatan olahraga di air, lebih-lebih di danau,
pantai, teluk, atau laut seperti memancing, berlayar, menyelam sambil melakukan
pemotretan, kompetisi berselancar, balapan mendayung, melihat-lihat taman laut
dengan pemandangan indah dibawah permukaan air serta berbagai rekreasi perairan
dan sebagainya.
c. Wisata Cagar Alam (Taman Konservasi)
Untuk jenis wisata ini biasanya banyak diselenggarakan oleh agen atau biro perjalanan
yang mengkhuskan usaha-usaha dengan jalan mengatur wisata ketempat atau daerah
cagar alam, taman lindung, hutan daerah pegunungan, dan sebagainya yang
kelestariannya dilindungi oleh undang-undang
d. Wisata Konvensi
yang dekat dengan wisata jenis politik adalah apa yang dinamakan wisata konvensi.
Berbagai negara pada dewasa ini membangun wisata konvensi ini dengan
menyediakan fasilitas bangunan dengan ruangan-ruangan tempat bersidang bagi para
peserta suatu konferensi, musyawarah, konvensi atau pertemuan lainnya baik yang
bersifat nasional maupun internasional.
e. Wisata Pertanian (Agrowisata)
sebagai halnya wisata industri, wisata pertanian ini adalah pengorganisasian perjalanan
yang dilakukan oleh proyek-proyek pertanian, perkebunan, ladang pembibitan dan
sebagainya dimana wisatawan rombongan dapat mengadakan kunjungan dan
peninjauan untuk tujuan studi maupun melihat-lihat keliling sambil menikmati
segarnya tanaman beraneka warna dan suburnya pembibitan berbagai jenis syur-mayur
dan palawija di sekitar perkebunan yang dikunjungi.
f. Wisata Baru
Jeni ini banyak dilakukan di negeri-negeri yang memang memiliki daerah atau hutan
tempat berburuyang dibenarkan oleh pemerintah dan digalakan oleh berbagai agen
atau biro perjalanan.
g. Wisata Ziarah
Jenis wisata ini sedikit banyak dikaitkan dengan agama, sejarah, adat istiadat dan
kepercayaan umat atau kelompok dalam masyarakat.

3. Tipologi Wisatawan
Menurut Plog (1972) dan Pitana (2005) mengelompokkan tipologi wisatawan sebagai
berikut:
a. Allocentris, yaitu wisatawan hanya ingin mengunjungi tempat-tempat yang belum
diketahui, bersifat petualanagan, dan mau memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh
masyarakat lokal.
b. Psycocentris. yaitu wisatawan yang hanya ingin mengunjungi daerah tujuan wisata
sudah mempunyai fasilitas dengan standar yang sama dengan negaranya
c. Mid-Centris, yaitu terletak diantara tipologi Allocentris dan Psycocentris
Menurut Pitana (2005), tipologi wisatawan perlu diketahui untuk tujuan perencanaan,
termasuk dalam pengembangan kepariwisataan, tipologi yang lebih sesuai adalah
tipologi berdasarkan atas kebutuhan riil wisatawan sehingga pengelola dalam
melakukan pengembangan objek wisata sesuai dengan segmentasi wisatawan.
4. ekologi Pariwisata
Ekologi pariwisata adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara unsur
hayati yang dapat dibudisayakan dan nonhayati yang dapat dikelola untuk kegiatan
pariwisata tanpa harus menyimpang dari tata alam yang ada (pencagaran).
Alam dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata dengan menerapkan asas pencagaran
sebagai berikut:
 Benefisiasi
 Optimalisasi
 Alokasi
 Reklamasi
 Substitusi
 Restorasi
 Integrasi
 Preservasi
5. Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Pariwisata
Menurut Medlik 1980 dalam Ariyanto 2005, faktor-faktor utama dan faktor lain yang
mempengaruhi permintaan pariwisata dapat dijelaskan sebagai berikut:
 Harga, harga yang tinggi pada suatu daerah tujuan wisata maka akan memberikan
imbas/timbal balik pada wisatawan yang akan bepergian/ calon wisata, sehingga
permintaan wisatapun akan berkurang begitupula sebaliknya
 Pendapatan, apabila pendapatan suatu negara tinggi maka kecenderungan
untukmemilih daerah tujuan wisata sebagai tempat berlibur akan semakin tinggi dan
bisa jadi mereka membuat sebuah usaha pada DTW jika dianggap menguntungkan.
 Sosial budaya, dengan adanya sosial budaya yang unik dan bercirikan atau dengan
kata lain berbeda dari apa yang ada dinegara caalon wisata berasal maka,
peningkatan permintaan terhadap wisata akan tinggi hal ini akan membuat sebuah
keingintahuan dan penggalian pengetahuan sebagai khasanah kekayaan pola pikir
budaya mereka
 Saspol (Sosial Politik), dampak sosial politik belum terlihat apabila keadaan DTW
dalam situasi aman dan tentram, tetapi apabila hal tersebut berseberangan dengan
kenyataan, maka saspol akan sangat terasa dampak/ pengaruhnya dalam terjadinya
permintaan.
 Intensitas keluarga, banyak/sedikitnya keluarga juga berperan serta dalam
permintaan wisata hal ini dapat diratifikasi bahwa jumlah keluarga yang banyak
maka keinginan untuk berlibur dari salah satu keluarga tersebut akan semakin besar,
hal ini dapat dilihat dari kepentingan wisata itu sendiri.
 Harga barang subtitusi
 Harga barang komplementer merupakan suatu barang yang saling melengkapi

B. Konsep Gawat Darurat


Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD) adalah serangkaian usaha-usaha
pertama yang dapat dilakukan pada kondisi gawat darurat dalam rangka menyelamatkan
pasien dari kematian. Di luar negeri, PPGD ini sebenarnya sudah banyak di ajarkan pada
orang-orang awam atau orang-orangawam khusus, namun sepertinya hal ini masih sangat
jarang diketahui oleh masyarakat Indonesia.
Prinsip utama PPGD adalah menyelamatkan pasien dari kematian pada kondisi gawat
darurat. Kemudian filosofi dalam PPGD adalah "Time saving is life saving", dalam artian
bahwa seluruh tindakan yang dilakukan pada saat kondisi gawat darurat haruslah benar-
benar efektif dan efisien, karena pada kondisi tersebut pasien dapat kehilangan nyawa
dalam hitungan menit saja (henti nafas selama 2-3 menit dapat mengakibatkan kematian).
C. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Menurut Mondy (2008) keselamatan kerja adalah perlindungan karyawan dari
luka-luka yang disebabkan oleh kecelakaan yang terkait dengan pekerjaan. Resiko
keselamatan merupakan aspek-aspek dari lingkungan kerja yang dapat menyebabkan
kebakaran, ketakutan aliran listrik, terpotong, luka memar, keseleo, patah tulang,
kerugian alat tubuh, penglihatan dan pendengaran.
Sedangkan kesehatan kerja menurut Mondy (2008) adalah kebebasan dari
kekerasan fisik. Resiko kesehatan merupakan faktor-faktor dalam lingkungan kerja yang
bekerja melebihi periode waktu yang ditentukan, lingkungan yang dapat membuat stres
emosi atau gangguan fisik.
Beberapapendapatmengenaipengertiankeselamatandankesehatankerjaantara lain:
1. Menurut Mangkunegara (2002) Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu
pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah
maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil
karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur.
2. Menurut Suma’mur (2001), keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha untuk
menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja
di perusahaan yang bersangkutan.
3. Menurut Simanjuntak (1994), Keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan yang
bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup
tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja
.
4. Mathis dan Jackson (2002), menyatakan bahwa Keselamatan adalah merujuk pada
perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cedera yang terkait
dengan pekerjaan. Kesehatan adalah merujuk pada kondisi umum fisik, mental dan
stabilitas emosi secara umum.
5. Menurut Ridley, John (1983) yang dikutip oleh Boby Shiantosia (2000), mengartikan
Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat
dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan
lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut.
6. Jackson (1999), menjelaskan bahwa Kesehatan dan Keselamatan Kerja menunjukkan
kepada kondisi-kondisi fisiologis-fisikal dan psikologis tenaga kerja yang diakibatkan
oleh lingkungan kerja yang disediakan oleh perusahaan.
Kesehatan pekerja bisa terganggu karena penyakit, stres, maupun karena
kecelakaan. Program kesehatan yang baik akan menguntungkan para pekerja secara
material, selain itu mereka dapat bekerja dalam lingkungan yang lebih nyaman,
sehingga secara keseluruhan para pekerja akan dapat bekerja secara lebih produktif

D. Dasar Pemberlakuan
Pemerintah memberikan jaminan kepada karyawan dengan menyusun Undang-
undang Tentang Kecelakaan Tahun 1947 Nomor 33, yang dinyatakan berlaku pada
tanggal 6 januari 1951, kemudian disusul dengan Peraturan Pemerintah Tentang
Pernyataan berlakunya peraturan kecelakaan tahun 1947 (PP No. 2 Tahun 1948), yang
merupakan bukti tentang disadarinya arti penting keselamatan kerja di dalam perusahaan.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1992, menyatakan bahwa sudah
sewajarnya apabila tenaga kerja juga berperan aktif dan ikut bertanggung jawab atas
pelaksanaan program pemeliharaan dan peningkatan kesejahteraan demi terwujudnya
perlindungan tenaga kerja dan keluarganya dengan baik. Jadi, bukan hanya perusahaan
saja yang bertanggung jawab dalam masalah ini, tetapi para karyawan juga harus ikut
berperan aktif dalam hal ini agar dapat tercapai kesejahteraan bersama.
Penerapan program K3 dalam perusahaan akan selalu terkait dengan landasan
hukum penerapan program K3 itu sendiri. Landasan hukum tersebut memberikan pijakan
yang jelas mengenai aturan yang menentukan bagaimana K3 harus diterapkan.
Berdasarkan Undang-Undang no.1 tahun 1970 pasal 3 ayat 1, syarat keselamatan
kerja yang juga menjadi tujuan pemerintah membuat aturan K3 adalah :
1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan.
2. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran.
3. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan.
4. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau
kejadian-kejadian lain yang berbahaya.
5. Memberi pertolongan pada kecelakaan.
6. Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja.
7. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu, kelembaban,
debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar radiasi, suara dan getaran.
8. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik physik maupun
psychis, peracunan, infeksi dan penularan.
9. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai. \
10. Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik.
11. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup.
12. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban.
13. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses
kerjanya.
14. Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau
barang.
15. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan.
16. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan
penyimpanan barang.
17. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya.
18. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang
bahayakecelakaannya menjadi bertambah tinggi.
Undang-Undang tersebut selanjutnya diperbaharui menjadi Pasal 86 ayat 1
Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 yang menyebutkan bahwa setiap pekerja/ buruh
berhak untuk memperoleh perlindungan atas:
1. Keselamatan dan kesehatan kerja
2. Moral dan kesusilaan
3. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama.
Sedangkan ayat 2 dan 3 menyebutkan bahwa “untuk melindungi keselamatan
pekerja/buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan
upaya keselamatan dan kesehatan kerja.” (ayat 2), “Perlindungan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang- undangan
yang berlaku.” (ayat 3). Dalam Pasal 87 juga dijelaskan bahwa Setiap perusahaan wajib
menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan
sistem manajemen.

E. Tujuan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Program keselamatan dan kesehatan kerja bertujuan untuk memberikan iklim
yang kondusif bagi para pekerja untuk berprestasi, setiap kejadian baik kecelakaan dan
penyakit kerja yang ringan maupun fatal harus dipertanggungjawabkan oleh pihak-pihak
yang bersangkutan (Rika Ampuh Hadiguna, 2009). Sedangkan menurut Rizky Argama
(2006), tujuan dari dibuatnya program keselamatan dan kesehatan kerja adalah untuk
mengurangi biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan kerja dan penyakit akibat
hubungan kerja. Beberapa tujuan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
adalah:
1. Mencegah kerugian fisik dan finansial baik dari pihak karyawan dan perusahaan
2. Mencegah terjadinya gangguan terhadap produktivitas perusahaan
3. Menghemat biaya premi asuransi
4. Menghindari tuntutan hukum dan sebagai tanggung jawab sosial perusahaan kepada
karyawannya

F. Penyebab Kecelakaan Kerja


Menurut Mangkunegara (2008) faktor-faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja,
yaitu:
1. Keadaan Tempat Lingkungan Kerja
a. Penyusunan dan penyimpanan barang-barang yang berbahaya kurang
diperhitungkan keamanannya.
b. Ruang kerja yang terlalu padat dan sesak.
c. Pembuangan kotoran dan limbah yang tidak pada tempatnya.
2. Pengaturan Udara
a. Pergantian udara di ruang kerja yang tidak baik (ruang kerja yang kotor, berdebu,
dan berbau tidak enak).
b. Suhu udara yang tidak dikondisikan pengaturannya.
3. Pengaturan Penerangan
a. Pengaturan dan penggunaan sumber cahaya yang tidak tepat.
b. Ruang kerja yang kurang cahaya, remang-remang.

4. Pemakaian Peralatan Kerja


a. Pengamanan peralatan kerja yang sudah usang atau rusak.
b. Penggunaan mesin, alat elektronik tanpa pengamanan yang baik.
5. Kondisi Fisik dan Mental Pegawai
a. Stamina pegawai yang tidak stabil.
b. Emosi pegawai yang tidak stabil, kepribadian pegawai yang rapuh, cara berpikir
dan kemampuan persepsi yang lemah, motivasi kerja rendah, sikap pegawai yang
ceroboh, kurang cermat, dan kurang pengetahuan dalam penggunaan fasilitas
kerja terutama fasilitas kerja yang membawa risiko bahaya.

G. Usaha Mencapai Keselamatan Kerja


Usaha – usaha yang dapat dilakukan untuk mencapai keselamatan kerja dan
menghindari kecelakaan kerja antara lain:

1. Analisis Bahaya Pekerjaan (Job Hazard Analysis)


Job Hazard Analysisadalahsuatu proses untuk mempelajari dan menganalisa suatu
jenis pekerjaan kemudian membagi pekerjaan tersebut ke dalam langkah langkah
menghilangkan bahaya yang mungkin terjadi.
Dalammelakukan Job Hazard Analysis, ada beberapa langkah yang
perludilakukan:
a. Melibatkan Karyawan.
Hal ini sangat penting untuk melibatkan karyawan dalam proses job hazard
analysis. Mereka memiliki pemahaman yang unik atas pekerjaannya, dan hal
tersebut merupakan informasi yang tak ternilai untuk menemukan suatu bahaya.
b. Mengulas Sejarah Kecelakaan Sebelumnya.
Mengulas dengan karyawan mengenai sejarah kecelakaan dan cedera yang pernah
terjadi, serta kerugian yang ditimbulkan, bersifat penting. Hal ini merupakan
indikator utama dalam menganalisis bahaya yang mungkin akan terjadi di
lingkungan kerja

c. Melakukan Tinjauan Ulang Persiapan Pekerjaan.


Berdiskusi dengan karyawan mengenai bahaya yang ada dan mereka ketahui di
lingkungan kerja. Lakukan brainstorm dengan pekerja untuk menemukan ide atau
gagasan yang bertujuan untuk mengeliminasi atau mengontrol bahaya yang ada.
d. Membuat Daftar, Peringkat, dan Menetapkan Prioritas untuk Pekerjaan Berbahaya.
Membuat daftar pekerjaan yang berbahaya dengan risiko yang tidak dapat diterima
atau tinggi, berdasarkan yang paling mungkin terjadi dan yang paling tinggi tingkat
risikonya. Hal ini merupakan prioritas utama dalam melakukan job hazard analysis.
e. Membuat Outline Langkah-langkah Suatu Pekerjaan.
Tujuan dari hal ini adalah agar karyawan mengetahui langkah-langkah yang harus
dilakukan dalam mengerjakan suatu pekerjaan, sehingga kecelakaan kerja dapat
diminimalisir.
2. Risk Management
Risk Management dimaksudkanuntuk mengantisipasi kemungkinan
kerugian/kehilangan (waktu,produktivitas,dan lain-lain) yang berkaitan dengan
program keselamatan dan penanganan hukum
3. Safety Engineer
Memberikan pelatihan, memberdayakan supervisor/manager agar mampu
mengantisipasi/melihat adanya situasi kurang ‘aman’ dan menghilangkannya
4. Ergonomika
Ergonomikaadalahsuatu studi mengenai hubungan antara manusia dengan
pekerjaannya, yang meliputi tugas-tugas yang harus dikerjakan, alat-alat dan perkakas
yang digunakan, serta lingkungan kerjanya.
Selainke-empathaldiatas, cara lain yang dapatdilakukanadalah:
a. Job Rotation
b. Personal protective equipment
c. Penggunaan poster/propaganda
d. Perilaku yang berhati-hati

H. Masalah kesehatan karyawan


Beberapa kasus yang menjadi masalaha kesehantan bagi para karyawan adalah:
1. Kecanduan alkohol & penyalahgunaan obat-obatan
Akibat dari beban kerja yang terlalu berat, para karyawan terkadang menggunakan
bantuan dari obata-obatan dan meminum alcohol untuk menghilangkan stress yang
mereka rasakan. Untuk mencegah hal ini, perusahaan dapat melkaukan pemeriksaan
rutin kepada karyawan tanpa pemberitahuan sebelumnya dan perusahaan tidak
memberikan kompromi dengan hal-hal yang merusak dan penurunan kinerja (missal:
absen, tidak rapi, kurang koordinasi, psikomotor berkurang)
2. Stress
Stresadalah suatu reaksi ganjil dari tubuh terhadap tekanan yang diberikan kepada
tubuh tersebut. Banyak sekali yang menjadi penyebab stress, namun beberapa
diantaranya adalah:
3. Faktor Organisasional, seperti budaya perusahaan, pekerjaan itu sendiri, dan kondisi
kerja
4. Faktor Organisasional seperti, masalah keluarga dan masalah finansial
5. Burnout
"Burnout” adalah kondisi terperas habis dan kehilangan energi psikis maupun fisik.
Biasanya hal itu disebabkan oleh situasi kerja yang tidak mendukung atau tidak sesuai
dengan kebutuhan dan harapan. Burnout mengakibatkan kelelahan emosional dan
penurunan motivasi kerja pada pekerja. Biasanya dialami dalam bentuk kelelahan
fisik, mental, dan emosional yang intens (beban psikologis berpindah ke tampilan
fisik, misalnya mudah pusing, tidak dapat berkonsentrasi, gampang sakit) dan
biasanya bersifat kumulatif
I. Defenisi – defenisi yang berhubungan dengan Keselamatan Kerja
a. Aman
Aman adalah keadaan yang relatif bebas dari bahaya, dengan kata lain bahaya
yang ada masih berada pada tingkat yang relative dapat diterima. Keadaan yang aman
dapat juga dikatakan sebagai keadaan yang selamat dan sehat.
b. Bahaya
Bahaya adalah potensi tindakan atau keadaan dalam mengakibatkan kecelakaan.
Tindakan dan keadaan yang tidak aman memiliki kontribusi yang sama dalam
menyebabkan kecelakaan. Karena itu untuk mencegah terjadinya kecelakaan,
tindakan dan keadaan yang tidak aman harus diminimasi.
c. Kecelakaan
Kecelakaan adalah kejadian atau peristiwa yang tidak diharapkan yang
menyebabkan cedera, sakit, kerugian, atau kerusakan. Defenisi kecelakaan ini kadang
masih diartikan salah dalam hal : kesempatan terjadinya kecelakaan, hubungan antara
kecelakaan dan konsekuensi, serta lama terjadinya kecelakaan.
Kecelakaan terjadi bukan hanya berdasarkan pada kesempatan saja, kecelakaan
terjadi karena ada sebabnya. Sebab – sebab yang dapat mengakibatkan kecelakaan
adalah tindakan dan keadaan yang tidak aman. Kecelakaan tidak selalu
mengakibatkan cedera, kecelakanan juga dapat mengakibatkan penyakit seperti
kerusakan paru – paru. Kecelakaan tidak selalu terjadi dalam waktu yang singkat,
kejadian yang mengakibatkan cedera dan penyakit dapat terjadi selama lebih dari
berjam – jam, berhari – hari, berminngu – minggu, berbulan – bulan, bahkan sampai
bertahun – tahun, contohnya : cedera punggung dan kerusakan paru - paru
d. Kerugian
Kerugian adalah kehilangan yang biasanya lebih dapat dimengerti apabila dibuat
dalam bentuk rupiah (uang). Kerugian yang diakibatkan oleh kecelakaan dapat
bermacam – macam. Selain cedera, sakit, dan kematian, kerugian, juga dapat berupa
kerusakan property, perlengkapan, material, dan biaya untuk mengganti.
Kerugian lainnya seperti kehilangan waktu, produksi, dan penjualan. Masih
banyak kerugian lainnya seperti biaya pembuatan laopran, penyelidikan,
pembersihan, pelayanan, medis dan legal, rumah sakit, perbaikan dan pemulihan
nama baik.
e. Resiko
Resiko adala ukuran seberapa sering kesempatan terjadinya suatu tindakan atau
keadaan yang merupakan kesempatan terjadinya cedera, sakit, kerusakan atau
kerugian, dan seberapa berat konsekuensinya.

J. Faktor – Faktor Dominan Penyebab Terjadinya Kecelakaan


Berbagai penelitian telah banyak dilakukan untuk menggali faktor – faktor dominan
penyebab terjadinya kecelakaan. Temuan – temuan ini lalu diklasifikasikan untuk masing
– masing jenis kecelakaan dan digunakan sebagai dasar kebijakan manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja agar kecelakaan tersebut tidak terulang, dan penanganan
korban sebaik mungkin agar kerugiannya seminimal mungkin. Bebrapa peneliti
berpendapat perlu mengkaji semua potensi bahaya dari suatu kegiatan, yang diantaranya
berpendapat bahwa penyebab kecelakaan antara lain :
1. Lingkungan tempat berlangsungnya kegiatan kondisinya tidak aman
2. Perilaku orang yang tidak aman sebagai pekerja dan atau pengunjung di fasilitas
umum
3. Metoda kerja atau pelaksanaan kegiatan tidak mengikuti prosedur standar yang aman.

Tabel. 1. Jenis Fasilitas Umum dan Potensi Bahaya yang dapat menimbulkan
kecelakaan (Darwin, 2003)
Jenis Fasilitas Sumber potensi Penyebab Potensi bahaya
Umum bahaya

Sekolah Ruang Kelas / Lantai / tangga Terpeleset, kebakaran


Toilet / Ruang licin / radiasi, sesak napas,
Lab terjadi leleh, panas,
Korsleting
ledakan
Listrik, debu,
eksperimen
salah

Rumah sakit Ruang Perawatan Tidak steril, Infeksi nosokomial,


lantai licin, terpeleset, hubungan
rangkaian, singkat, radiasi,
listrik, peralatan komplikasi /
medis, mall meninggal
praktek

Taman wisata / Pohon tua Angin besar Pohon tumbang


kebun raya /
Jalanan Becek / licin Terpleset
kebun binatang
Binatang buas Kondisi Kabur menerkam /
menggigit
Kandang buruk
Mati
Penerangan jalan Bias ular
Rampok / perkosaan
Keamanan
rendah

Stasiun KA Perlintasan Tidak dijaga Tertabrak

Emplasemen Lantai licin / Terpeleset


basah
Tangga naik / Terjatuh / tergilas
turun Layout / disain
Terinjak – injak
Antrian di loket berdesakan
Copet

Pasar Modern Layout Kondisi lantai / Kebakaran

(Mall / Tata listrik Jalan becek Terpeleset


Tradisional)
Kualitas Bangunan roboh
Bangunan

Wisata Pantai Cuaca Badai Tenggelam

Geologi Arus bawah laut Terseret arus

Binatang Ubur – ubur Disengat / digigit

Ikan hiu

Terminal Bis Layout Polusi Udara Sesak napas,

Jalan / lantai Aliran Tertabrak


kendaraan
Terpleset
Licin / oli /
sampah

Pelabuhan Lantai Licin Terpleset

Tangga kapal Disain Terjatuh

Bandara Lantai Licin

Lingkungan Gap social Copet / jambret / Rudapaksa


social ekonomi / penodongan
Luka
pengangguran
Tusuk / gores

J. KONSEP DASAR PENYAKIT


a. DIABETES MELLITUS
1) Pengertian Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus (DM)/ penyakit kencing manis merupakan penyakit metabolik
yang berlangsung kronik progresif dengan gejala hiperglikemia (kadar gula darah lebih
dsari normal), yang disebabkan oleh gangguan sekresi insulin, gangguan kerja insulin
atau keduanya. Hiperglikemi kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan
jangka panjang, disfungsi dan kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal,
saraf jantung dan pembuluh darah (Darmono, 2005).

2) Klasifikasi Diabetes Mellitus (DM)


Klasifikasi terbaru tahun 1999 oleh American Diabetes Association / World Health
Organization (ADA / WHO) lebih menekankan penggolongan berdasarkan penyebab dan
proses penyakit.
Ada 4 jenis DM berdasarkan klasifikasi terbaru, yaitu :
1. DM type I : IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus)
Ditandai oleh penghancuran sel-sel beta pancreas, kombinasi faktor genetik
imonologi dan mungkin pula lingkungan (virus) diperkirakan turut menimbulkan
distraksi sel beta
2. DM type 2 NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus)
Disebabkan oleh resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin
3. DM type Spesifik Lain
Disebabkan oleh berbagai kelainan genetik spesifik (kerusakan genetik sel beta
pankreas dan kerja insulin). Penyakit pada pankreas, gangguan endokrin lain, obat-
obatan atau bahan kimia, infeksi (rubela kongenital dan CMV)
4. Diabetes Kehamilan
DM yang hanya muncul pada kehamilan
(Price, 2006)
3). Etiologi
 DM type I : IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus)
Pada tipe ini insulin tidak diproduksi. Hal ini disebabkan dengan timbulnya reaksi
otoimun oleh karena adanya peradangan pada sel beta insulitis. Kecenderungan ini
ditemukan pada individu yang memiliki antigen HLA (Human Leucocyte Antigen).
Faktor imunologi. Respon abnormal dimana Ab terarah pada jaringan normal tubuh
dengan cara bereaksi dengan jaringan tersebut sebagai jaringan asing.
Faktor lingkungan : virus / toksin tertentu dapat memacu proses yang dapat menimbulkan
distruksi sel beta.
 DM type 2 NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus)
Etiologi biasanya dikaitkan dengan faktor obesitas. Hereditas atau lingkungan penurunan
produksi insulin endogen atau peningkatan resistensi insulin
 DM type Spesifik Lain
Disebabkan oleh berbagai kelainan genetik spesifik (kerusakan genetik sel beta pankreas
dan kerja insulin). Penyakit pada pankreas, gangguan endokrin lain, obat-obatan atau
bahan kimia, infeksi (rubela kongenital dan CMV)
 Diabetes Kehamilan
Awitan selama kehamilan, disebabkan oleh hormon yang diekskresikan plasenta dan
mengganggu kerja insulin.
(Brunner & Suddarth, 2002)

Menurut Semeltrzer (2002) faktor resiko yang berhubungan dengan proses terjadinya
diabetes melitus khusunya tipe II adalah:
1. Riwayat keluarga
2. Obesitas (> 20 %, BB ideal) atau indeks masa tubuh (IMT) > 27 kg/m2
3. Umur (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia 65 tahun)
4. Seseorang dengan tekanan darah tinggi (> 140/90)
5. Gaya hidup
6. Pola makan salah
Keadaan hiperglikmeia yang terus menerus akan mempunyai dampak pada kemampuan
pembuluh darah tidak berkontraksi dan relaksasi berkurang. Beberapa ciri resiko tinggi
adalah:
a. Lamanya penyakit diabetes melitus yang melebihi 10 tahun
b. Usia pasien yang lebih dari 409 tahun
c. Riwayat merokok
d. Penurunan denyut nadi perifer
e. Penurunan sensibilitas
f. Deformitas anatomis atau bagian yang menonjol (seperti bunion dan kalus).
g. Riwayat ulkus kaki atau amputasi.
(Smeltzer, 2001)
4). Patofisiologi
Etiologi diabetes melitus bermacam-macam. Pada DM ketidakmampuan
menghasilkan insulin karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autimun.
Hiperglikemia puasa terjadi akibat glukosa yang tidak teratur oleh hati. Glukosa dari
makanan juga tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan
menimbulkan hiperglikemia post prandial.
Jika hiperglikemia ini parah dan melebihi ambang ginjal maka akan timbul
Glukosuria. Glukosuria ini akan menyebabkan diuresis osmotik yang meningkatkan
pengeluaran kemih (poliuri) dan timbul rasa haus (polipsi) sehingga terjadi dehidrasi.
Glukosuria mengakibatkan keseimbangan kalori negatif sehingga menimbulkan rasa lapar
yang tinggi (polipagi).
Penggunaan glukosa oleh sel menurun mengakibatkan produksi metabolisme energi
menjadi menurun, sehingga tubuh menjadi lemah.
Keadaan hiperglikemik yang terus menerus menyebabkan gangguan pada
kemampuan pembuluh darah, tidak berkontriksi dan relaksasi berkuranbg. Hal ini
mengakibatkan sirkulasi darah tubuh menurun, terutama kaki, serta efek dari hiperglikemia
termasuk hiperglikolisis yang melibatkan fungsi saraf menyebasbkan sistem perifer
mengalami kerusakan terutama komponen sensorik-motorik, sehingga menimbulkan
neuropati diabetik.
Demielinisasi menyebabkan perlambatan hantaran saraf dan berkurangnya
sensitivitas. Hilangnya sensasi suhu dan nyeri meningkatkan kemungkinan klien mengalami
cidera yang parah dan tidak disadari terutama pada kaki sebagai anggota gerak dan tempat
tumpuan. Cidera sejenis ini ditambah gangguan aliran darah dan sistem imun, merupakan
alasan mengapa DM penyebab nomor satu amputasi (Corwin, 2009)
Hiperglikemia dapat mempengaruhi pembuluh darah kecil, arteri kecil sehingga
suplai makanan dan oksigen ke perifer menjadi berkurang, yang akan menyebabkan luka
tidak cepat sembuh, karena suplai makanan dan oksigen tidak adekuat akan menyebabkan
terjadinya infeksi dan terjadinya gangguan.
(Price, 2000)
5). Manifestasi Klinik
Penyakit DM ini pada awalnya sering tidak dirasakan dan tidak disadari oleh
penderita. Gejala-gejala bila muncul tiba-tiba pada anak atau orang dewasa muda. Sedangkan
pada orang dewasa > 40 tahun, kadang-kadang gejala dirasakan ringan sehingga mereka
menganggap tidak perlu berkonsultasi ke dokter. Penyakit DM diketahui dideteksi secara
kebutuhan ketika penderita menjalani pemeriksaan umum (general medikal check-up).
Biasanya mereka baru datang berobat, bila gejala-gejala yang lebih spesifik timbul misanya
penglihatan mata kabur, gangguan kulit dan syaraf, impotensi. Pada saat itu, mereka baru
menyadari bahwa dirinya menderita DM.
Secara umum gehala-gejala dan tanda-tanda yang ditemui meliputi ;
Gejala dan tanda awal
 Penurunan berat badan (BB) dan rasa lemah
Penurunan berat badan dalam waktu relatif singkat, merupakan gejala awal yang
sering dijumpai, selain itu rasa lemah dan cepat capek kerap di rasakan
 Banyak kecing (poliuria)
Gejala yang sering dirasakan penderita adalah sering kencing dengan volume urine
yang banyak kencing yang sering pada malam hari terkadang sangat mengganggu
penderita
 Banyak minum (polidepsia)
Rasa haus dan ingin minum terus. Kadang hal ini sering ditafsirkan karena udara yang
panas dan banyak kerja berat, padahal tanda-tanda ini muncul sebagai awal gejala
penyakit DM
 Banyak makan (polifagia)
Penderita sering makan (banyak makan) dan kadar glukosa darah semakin tinggi,
namun tidak dapat seluruhnya dimanfaatkan untuk masuk ke dalam sel
Gejala Kronis
 Gangguan penglihatan
Pada mulanya penderita DM ini sering mengeluh penglihatannya kabur, sehingga
sering mengganti kaca mata untuk dapat melihat dengan baik.
 Gangguan syaraf tepi / kesemutan
Pada malam hari, penderita sering mengeluh sakit dan rasa rasa kesemutanh terutama
pada kaki
 Gatal-gatal / bisul
Keluhan gatal sering dirasakan penderita, biasanya gatal di daerah kemaluan, atau
daerah lipatan sulit seperti ketiak, paha atau dibawah payudara, kadang sering timbul
bisul dan luka yang lama sembuhnya akibat sepele seperti luka lecet terkena sepatu
atau tergores jarum.
 Rasa tebal di kulit
Penderita DM sering mengalami rasa tebal dikulit, terutama bila benjolan terasa
seperti diatas bantal atau kasur. Hal ini juga menyebabkan penderita lupa
menggunakan sandal / sepatu karena rasa tebal tersebut.
 Gangguan fungsi seksual
Gangguan ereksi / disfungsi seksual / impotensi sering dijumpai pada penderita laki-
laki yang terkena DM, namun pasien DM sering menyembunyikan masalah ini karena
terkadang malu menceritakannya pada dokter.
 Keputihan
Pada penderita DM wanita, keputihan dan gatal merupakan gejala yang sering
dikeluhkan, bahkan merupakan satu-satunya gejala yang dirasakan. Hal ini terjadi
karena daya tahan penderita DM kurang, sehingga mudah terkena infeksi antara lain
karena jamur.
Individu pengidap diabetes melitus tipe II sering memperlihatkan satu atau lebih
gejala non-spesifik, antara lain:
1. Peningkatan angka infeksi akibat peningkatan konsentrasi glukosa di sekresi
mukus, gangguan sistem imun dan penurunan aliran darah
2. Gangguan penglihatan nyang berhubungan dengan keseimbangan air, kerusakan
retina
3. Parestesia atau abnormalitas sensasi
4. Kandidiasis vagina, dapat menyebabkan rasa gatal dan rabas di vagina akibat
peningkatan kadar glukosa di sekret vagina dan urine
5. Pelisutan otot karena protein otot digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi
tubuh
Pada kaki diabetes, menurut Suyono (2005), dapat ditandai dengan :
1. Sakit pada tungkai jika berdiri, berjalan dan melakukan kegiatan fisik
2. Jiika diraba kaki terasa ingin tidak hangat
3. Rasa nyeri pada kaki saat istirahat dan malam hari
4. Sakit pada telapak kaki setelah berjalan
5. Jika luka sukar sembuh
6. Pemeriksaan tekanan nadi pada kaki menjadi kecil atau hilang
7. Perubahan warna kulit, kaki tampak pucat atau kebiru-biruan

6). Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan perlu dilakukan pada kelompok dengan resiko tinggi untuk DM.
Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan dengan pemeriksaan glukosa darah sewaktu, kadar
glukosa darah puassa kemudian diikuti dengan test toleransi glukosa oral (TTGO) standar.
Untuk kelompok resiko tinggi yang hasil pemeriksaan penyaringnya negatif perlu
pemeriksaan penyaring ulang tiap tahun. Bagi pasien berusia > 45 th tanpa faktor resiko
pemeriksaan penyaring dapat dilakukan setiap 3 tahun.
Diagnosa diabetes melitus dapat ditegakkan melalui 3 cara, pertanma jika
keluahan 3P ditenukan, maka pemeriksaan gula darah sewaktu > 200mg/dl sudah cukup
untuk menegakkan diagnosa DM.menurut Corwin (2009), tanda diagnostik DM adalah
glukosa darah meningkat, kadar glukosa plasma puasa lebih dari 126 mg/100ml pada dua
waktu pemeriksaan yang berbeda. Kadar glukosa j post prandial (setelah makan) uga
mengalami peningkatan. Glukosa dalam urine, keton dalam urine, peningkatan kadar
hemoglobin terglikosilasi menunjukkan diabetes melitus yang tidak terkontrol.
Pemeriksaan Diagnostik
Glukosa darah : meningkat 200 – 100 mg/dl atau lebih
Aseton plasma (keton) : positif secara mencolok
Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat
Osmolitas serum : meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 mCsm/l
Elektrolit
Natrium : mungkin normal meningkat atau menurun
Kalium : normal atau peningkatan semu (perpindahan seluler) selanjutnya akan menurun
Fosfor : lebih sering menurun
Hemoglobin gliserol : kadarnya meningkat 2 – 4 kali lipat dari normal yang mencerminkan
kontrol DM yang kurang selama 4 bulan terakhir (lama hidup SDM) dan karenanya sangat
bermanfaat dalam membedakan DKA dengan kontrol tidak adekuat versus DKA yang
berhubungan dengan insiden (mis ISK baru)
Gas darah arteri : biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan HCC, (asidosis
metabolik) dengan kompensasi alkalosis respiratorik
Trombosit daerah : Ht mungkin meningkat (dehidrasi), leukositosis, hemokonsentrasi,
merupakan respons terhadap stres atau infeksi
Ureum / kreatinin : mungkin meningkat atau normal (dehidrasi / penurunan fungsi ginjal)
Amilase darah : mungkin meningkat yang mengindentifikasikan adanya pankreatis akut
sebagai penyebab dari DKA
Insulin darah : mungkin menurun / bahkan sampai tidak ada (pada tipe I) atau normal sampai
tinggi (tipe II) yang mengidentifikasi insufisiensi insulin / ganggguan dalam penggunaannya
(endogen / eksogen). Resistensi insulin dapat berkembang sekunder terhadap pembentukan
(antibodi)
Pemeriksaan fungsi tiroid : peningkatan aktivitas hormon tiroid dapat meningkatkan glukosa
darah dan kebutuhan akan insulin
Urine : gula dan aseton positif, berat jenis dan osmolalitas mungkin meningkat kultur dan
sensitivitas : kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih, infeksi pernafasan dan infeksi
pada luka (Dongoes, 2002)

7). Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi diabetes melitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin
dan kadar glukosa darah dalam upaya mengurangi komplikasi.
Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan DM, yaitu:
1. Pendidikan kesehatan
2. Diet/ perencanaan makan
3. Latihan jasmani
4. Terapi obat
5. Pemangtauan / kontrol gula darah
Menurut Suyono (2005), pada kaki diabetes memerlukan perawatan khusus, antara
lain:
1. Periksa kaki setiap hari, apakah ada kulit retak, melepuh, luka perdarahan
2. Bersihkan kaki setiap hari pada waktu mandi dengan air bersih dan sabun mandi. Bila
perlu gosok kaki dengan sikat lunak atau batu apung. Keruingkan kaki dengan handuk
kecil atau lembut. Yakinkan daerah sela-sela jari kaki dalam keadaan kerinbg, terutama
sela jari ke tiga – ke empat dan ke empat – ke lima.
3. Berikan pelembab/ lotion (hand body lotion) pada kaki yang kering, tetapi tidak padda
sela-sela kaki
4. Gunting kuku kaki lurus mengikuti bentuk normal jari kaki, tyidak terlalku pendek,
tidaki terlalu dekat dengan kulit, kemudian kikir agar kuku tidak tajam
5. Memakai alas kaki sepatu atau sandal untuk melindungi kaki
6. Gunakan sepatu atau sandal dengan ukuran yang sesuai dan enak untuk dipakai dengan
ruang dalam sepatu cukup untuk jari-jari
7. Periksa sepatu sebelum dipakai
8. Bila ada luka kecil, segera obati luka dan tutup dengan pembalut bersih
9. Segera ke dokter bila kaki mengalami luka.
10. Periksa kaki ke dokter secara rutin.

b. HIPERTENSI
1). Pengertian Hipertensi

Hypertension (HTN) or high blood pressure is a cardiac chronic medical condition in


which the systemic arterial blood pressure is elevated (Porth, 2007).

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan


sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg.( Smith Tom, 1995).

Menurut WHO, penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan sistolik lebih


besar atau sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan diastolic sama atau lebih besar 95
mmHg ( Kodim Nasrin, 2003 ).
Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara 95 – 104 mmHg,
hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105 dan 114 mmHg, dan hipertensi berat
bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih. Pembagian ini berdasarkan peningkatan
tekanan diastolic karena dianggap lebih serius dari peningkatan sistolik ( Smith Tom, 1995 ).

Hipertensi adalah tekanan darah tinggi atau istilah kedokteran menjelaskan hipertensi
adalah suatu keadaan dimana terjadi gangguan pada mekanisme pengaturan tekanan darah
(Mansjoer,2000 : 144)

Hipertensi adalah keadaan menetap tekanan sistolik melebih dari 140 mmHg atau
tekanan diastolic lebih tinggi dari 90 mmHg. Diagnostic ini dapat dipastikan dengan
mengukur rata-rata tekanan darah pada 2 waktu yang terpisah (FKUI, 2001 : 453)

Berdasarkan uraian diatas dapatdisimpulkan bahwa hipertensi adalah peningkatan


tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan
diastoliknya diatas 90 mmHg.

2) Etiologi

Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar


yaitu : ( Lany Gunawan, 2001 )

1. Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui


penyebabnya,
2. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain.
Hipertensi primer terdapat pada lebih dari 90 % penderita hipertensi, sedangkan 10
% sisanya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Meskipun hipertensi primer belum diketahui
dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang
sering menyebabkan terjadinya hipertensi.

Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi terjadi
sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer. Namun ada
beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:

1. Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atautransport Na.
2. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkantekanan darah
meningkat.
3. Stress Lingkungan.
4. Hilangnya Elastisitas jaringan and arterisklerosis pada orang tua sertapelabaran pembuluh
darah.
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan –
perubahan pada:

1. Elastisitas dinding aorta menurun


2. Katub jantung menebal dan menjadi kaku
3. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20
tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya
kontraksi dan volumenya.
4. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karena kurangnya efektifitas
pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
5. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer
Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data
penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi.
Faktor tersebut adalah sebagai berikut :

1. Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar
untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi.

2. Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah:
a. Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat )
b. Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan )
c. Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih )
3. Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah :
a. Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr )
b. Kegemukan atau makan berlebihan
c. Stress
d. Merokok
e. Minum alcohol
f. Minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin )
Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah :

1. Ginjal
a. Glomerulonefritis
b. Pielonefritis
c. Nekrosis tubular akut
d. Tumor
2. Vascular
a. Aterosklerosis
b. Hiperplasia
c. Trombosis
d. Aneurisma
e. Emboli kolestrol
f. Vaskulitis
3. Kelainan endokrin
a. DM
b. Hipertiroidisme
c. Hipotiroidisme
4. Saraf
a. Stroke
b. Ensepalitis
c. SGB
5. Obat – obatan
a. Kontrasepsi oral
b. Kortikosteroid
3). Manifestasi Klinis

Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita


hipertensi yaitu :

a. Mengeluh sakit kepala, pusin


b. Lemas, kelelahan
c. Sesak nafas
d. Gelisah
e. Mual
f. Muntah
g. Epistaksis
h. Kesadaran menurun

4). Patofisiologi

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak


dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf
simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla
spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan
dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia
simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang
serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya
noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai factor seperti kecemasan
dan ketakutan dapat mempengaruhirespon pembuluh darah terhadap rangsang
vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun
tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pada saat bersamaan dimana
system saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar
adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal
mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi
kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh
darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan
pelepasan rennin. Rennin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah
menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi
aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh
tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung
mencetuskan keadaan hipertensi untuk pertimbangan gerontology. Perubahan structural dan
fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah
yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya
elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang
pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah.
Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi
volume darah yang dipompa oleh jantung ( volume sekuncup ), mengakibatkan penurunan
curang jantung dan peningkatan tahanan perifer ( Brunner & Suddarth, 2002 ).

5). Klasifikasi

Secara klinis derajat hipertensi dapat dikelompokkan sesuai dengan rekomendasi dari
“The Sixth Report of The Join National Committee, Prevention, Detection and Treatment of
High Blood Pressure “ (JNC – VI, 1997) sebagai berikut :

No Kategori Sistolik(mmHg) Diastolik(mmHg)

1. Optimal <120 <80

2. Normal 120 – 129 80 – 84

3. High Normal 130 – 139 85 – 89

4. Hipertensi

Grade 1 (ringan) 140 – 159 90 – 99

Grade 2 (sedang) 160 – 179 100 – 109

Grade 3 (berat) 180 – 209 100 – 119

Grade 4 (sangat berat) >210 >120


6). Penatalaksanaan

Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat


komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan
darah dibawah 140/90 mmHg. Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :

1. Penatalaksanaan Non Farmakologis.


a. Diet
Pembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat menurunkan
tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin dalam plasma dan kadar
adosteron dalam plasma.

b. Aktivitas.
Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan dengan batasan
medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging, bersepeda atau
berenang.

2. Penatalaksanaan Farmakologis.
Secara garis besar terdapat bebrapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:

a. Mempunyai efektivitas yang tinggi.


b. Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.
c. Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
d. Tidak menimbulakn intoleransi.
e. Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien.
f. Memungkinkan penggunaan jangka panjang.
g. Golongan obat - obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi seperti
golongan diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis kalsium,
golongan penghambat konversi rennin angitensin.
7). Pemeriksaan Penunjang

1. Riwayat dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh


2. Pemeriksaan retina
3. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kerusakan organ seperti ginjal dan jantung
4. EKG untuk mengetahui hipertropi ventrikel kiri
5. Urinalisa untuk mengetahui protein dalam urin, darah, glukosa
6. Pemeriksaan : renogram, pielogram intravena arteriogram renal, pemeriksaan fungsi
ginjal terpisah dan penentuan kadar urin.
7. Foto dada dan CT scan.

8). Komplikasi

Meningkatnya tekanan darah seringkali merupakan satu-satunya gejala pada


hipertensi essensial. kadang-kadang hipertensi essensial berjalan tanpa gejala dan baru
timbul gejala setelah komplikasi pada organ sasaran seperti pada ginjal, mata,otak, dan
jantung. gejala-gejala-gejala seperti sakit kepala, mimisan, pusing, migrain sering ditemukan
sebagai gejala klinis hipertensi essensial.

Pada survei hipertensi di Indonesia tercatat gejala-gejala sebagai berikut:


pusing, mudah marah, telinga berdengung, mimisan(jarangan), sukar tidur, sesak nafas, rasa
berat di tengkuk, mudah lelah, dan mata berkunang-kunang.

Gejala akibat komplikasi hipertensi yang pernah dijumpai adalah:


Gangguan penglihatan, Gangguan saraf, Gagagl jantung,Gangguan fungsi ginjal, Gangguan
serebral (otak), yang mengakibatkan kejang dan pendarahan pembuluh darah otak yang
mengakibatkan kelumpuhan, gangguan kesadaran hingga koma, sebelum bertambah parah
dan terjadi komplikasi serius seperti gagal ginjal, serangan jantung, stroke, lakukan
pencegahan dan pengendalian hipertensi dengan merubah gaya hidup dan pola makan.
beberapa kasus hipertensi erat kaitannya dengan gaya hidup tidak sehat. seperti kurang olah
raga, stress, minum-minuman, beralkohol, merokok, dan kurang istirahat. kebiasaan makan
juga perlu diqwaspadai. pembatasan asupan natrium (komponen utama garam), sangat
disarankan karena terbukti baik untuk kesehatan penderita hipertensi.
Dalam perjalannya penyakit ini termasuk penyakit kronis yang dapat menyebabkan
berbagai macam komplikasi antara lain :

1. Stroke
2. Gagal jantung
3. Ginjal
4. Mata
Hubungan stroke dengan hipertensi dapat dijelaskan dengan singkat, bahwa tahanan
dari pembuluh darah memiliki batasan dalam menahan tekanan darah yang datang. Apalagi
dalam otak pembuluh darah yang ada termasuk pembuluh darah kecil yang otomatis
memiliki tahanan yang juga kecil. Kemudian bila tekanan darah melebihi kemampuan
pembuluh darah, maka pembuluh darah ini akan pecah dan selanjutnya akan terjadi stroke
hemoragik yang memiliki prognosis yang tidak baik.

Dengan demikian kontrol dalam penyakit hipertensi ini dapat dikatakan sebagai
pengobatan seumur hidup bila ingin dihindari terjadinya komplikasi yang tidak baik.

8). Pencegahan
Dengan adanya faktor-faktor yang dapat dihindarkan tersebut, tentunya hipertensi
dapat dicegah dan bagi penderita hipertensi agar terhindar dari komplikasi yang fatal.
Usaha-usaha pencegahan dan pengobatan yang dapat dilakukan yaitu sebagai berikut.:

1. Mengurangi konsumsi garam dalam diet sehari-hari, maksimal 2 gram garam dapur.
Batasi pula makanan yang mengandung garam natrium seperti corned beef, ikan
kalengan, lauk atau sayuran instan, saus botolan, mi instan, dan kue kering. Pembatasan
konsumsi garam mengakibatkan pengurangan natrium yang menyebabkan peningkatan
asupan kalium. Ini akan menurunkan natrium intrasel yang akan mengurangi efek
hipertensi.
2. Menghindari kegemukan (obesitas). Batasan kegemukan adalah jika berat badan lebih
10% dari berat badan normal. Pada penderita muda dengan hipertensi terdapat
kecenderungan menjadi gemuk dan sebaliknya pada penderita muda dengan obesitas akan
cenderung hipertensi. Pada orang gemuk akan terjadi peningkatan tonus simpatis yang
diduga dapat mengakibatkan tekanan darah meningkat.
3. Membatasi konsumsi lemak. Ini dilakukan agar kadar kolesterol darah tidak terlalu tinggi
karena kolesterol darah yang tinggi dapat menyebabkan endapan kolesterol. Hal ini akan
menyumbat pembuluh darah dan mengganggu peredaran darah sehingga memperberat
kerja jantung dan memperparah hipertensi. Kadar kolesterol normal dalam darah yaitu
200-250 mg per 100cc serum darah.
4. Berolahraga teratur dapat menyerap dan menghilangkan endapan kolesterol pada
pembuluh nadi. Olah raga yang dimaksud adalah gerak jalan, berenang, naik sepeda dan
tidak dianjurkan melakukan olah raga yang menegangkan seperti tinju, gulat atau angkat
besi karena latihan yang berat dapat menimbulkan hipertensi.
5. Makan buah-buahan dan sayuran segar amat bermanfaat karena banyak mengandung
vitamin dan mineral kalium yang dapat membantu menurunkan tekanan darah.
6. Tidak merokok dan tidak minum alkohol karena diketahui rokok dan alkohol dapat
meningkatkan tekanan darah. Menghindari rokok dan alkohol berarti menghindari
kemungkinan hipertensi.
7. Latihan relaksasi atau meditasi berguna untuk mengurangi stres atau ketegangan jiwa.
Kendorkan otot tubuh sambil membayangkan sesuatu yang damai dan menyenangkan,
mendengarkan musik dan bernyanyi sehingga mengurangi respons susunan saraf pusat
melalui penurunan aktivitas simpatetik sehingga tekanan darah dapat diturunkan.
8. Merangkai hidup yang positif. Hal ini dimaksudkan agar seseorang mengurangi tekanan
atau beban stres dengan cara mengeluarkan isi hati dan memecahkan masalah yang
mengganjal dalam hati. Komunikasi dengan orang dapat membuat hati menjadi lega dan
dari sini dapat timbul ide untuk menyelesaikan masalah.
9. Memberi kesempatan tubuh untuk istirahat dan bersantai dari pekerjaan sehari-hari yang
menjadi beban jika tidak terselesaikan. Jika hal ini terjadi pada Anda, lebih baik
melakukan kegiatan santai dulu. Setelah pikiran segar kembali akan ditemukan cara untuk
mengatasi kesulitan itu.
10. Membagi tugas yang kita tidak bisa selesaikan dengan sendiri dapat mengurangi beban
kita. Orang yang berpendapat dirinya mampu melakukan segala hal dengan sempurna
biasa disebut perfeksionis, orang ini akan selalu stres dan menanggung beban kerja dan
pikiran berlebihan. Kita harus sadar bahwa kemampuan setiap orang terbatas untuk
mampu mengerjakan segala-galanya. Dengan memberi kesempatan pada orang lain untuk
membantu menyelesaikan tugas kita, beban kita dapat berkurang dan kita juga banyak
teman, yang tentunya akan menimbulkan rasa bahagia.
11. Menghilangkan perasaan iri atau dengki juga mengurangi ketegangan jiwa sehingga hati
kita menjadi tentram. Menolong orang lain dengan tulus dan memupuk sikap perdamaian
juga akan memberikan kepuasan yang tersendiri pada kita. Dengan memupuk sikap-sikap
seperti itu, tentu kita akan mengurangi ketegangan, beban, stres yang timbul sehingga
hipertensi dapat dihindari.
12. Orang yang sudah pernah memeriksakan dirinya dan diketahui menderita hipertensi,
dapat diberikan obat-obat golongan diuretika, alfa bloker, beta bloker, vasodilator,
antagonis kalsium dan penghambat ACE.

c. ASAM URAT
1. Pengertian
Asam urat merupakan kelainan metabolik yang disebabkan karena penumpukan
purin atau eksresi asam urat yang kurang dari ginjal.
Asam urat merupakan penyakit heterogen meliputi hiperurikemia, serangan
artritis akut yang biasanya mono-artikuler. Terjadi deposisi kristal urat di dalam dan sekitar
sendi, parenkim ginjal dan dapat menimbulkan batu saluran kemih (Edu S. Tehupeiory,
2000).
Suatu penyakit metabolik yang merupakan salah satu jenis penyakit reumatik
dimana pembentukan asam urat tubuh yang berlebihan/penurunan ekskresi asam urat (Arif,
2010).
Gout merupakan terjadinya penumpukan asam urat dalam tubuh dan terjadi kelainan
metabolisme purin. Gout merupakan kelompok keadaan heterogenous yang berhubungan
dengan defek genetik pada metabolisme purin (hiperurisemia) (Brunner dan Suddarth,
2012).
2. Etiologi
 Faktor genetik dan faktor hormonal yang menyebabkan gangguan metabolisme yang
dapat mengakibatkan meningkatnya produksi asam urat.
 Jenis kelamin dan umur
Prosentase Pria : Wanita yaitu 2 : 1 pria lebih beresiko terjadinya asam urat yaitu umur
(30 tahun keatas), sedangkan wanita terjadi pada usia menopouse (50-60 tahun).
 Berat badan
Kelebihan berat badan meningkatkan risiko hiperurisemia dan gout berkembang karena
ada jaringan yang tersedia untuk omset atau kerusakan, yang menyebabkan kelebihan
produksi asam urat.
 Konsumsi alkohol
Minum terlalu banyak alkohol dapat menyebabkan hiperurisemia, karena alkohol
mengganggu dengan penghapusan asam urat dari tubuh.
 Diet
Makan makanan yang tinggi purin dapat menyebabkan atau memperburuk gout. Misalnya
makanan yang tinggi purin : kacang-kacangan, rempelo dll.
 Obat-Obatan Tertentu
Sejumlah obat dapat menempatkan orang pada risiko untuk mengembangkan
hiperurisemia dan gout. Diantaranya golongan obat jenis diuretik, salisilat, niasin,
siklosporin, levodova.

3. Patofisiologi
1. Presipitasi kristal monosodium urat, dapat terjadi di jaringan jika konsentrasi dalam
plasma lebih dari 9 mg/dl.
2. Respon leukosit polimorfonuklear (PMN) dan selanjutnya akan terjadi fagositosis kristal
oleh leukosit.
3. Fagositosis, terbentuk fagolisosom dan akhirnya membran vakuol disekeliling kristal
bersatu dengan membran leukositik lisosom.
4. Kerusakan lisosom, terjadi robekan membram lisosom dan pelepasan enzim dan oksida
radikal ke dalam sitoplasma.
5. Kerusakan sel, terjadi respon inflamasi dan kerusakan jaringan.
Setiap orang memiliki asam urat di dalam tubuh, karena pada setiap metabolisme normal
dihasilkan asam urat. Normalnya, asam urat ini akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui
feses (kotoran) dan urin, tetapi karena ginjal tidak mampu mengeluarkan asam urat yang ada
menyebabkan kadarnya meningkat dalam tubuh.
Hal lain yang dapat meningkatkan kadar asam urat adalah kita terlalu banyak mengkonsumsi
bahan makanan yang mengandung banyak purin. Asam urat yang berlebih selanjutnya akan
terkumpul pada persendian sehingga menyebabkan rasa nyeri atau bengkak.

4. Tanda dan Gejala


1. Stadium Arthritis Gout Akut
 Sangat akut, timbul sangat cepat dalam waktu singkat.
 Keluhan utama: nyeri, bengkak, terasa hangat, merah dengan gejala sistemik berupa
demam, menggigil dan merasa lelah.
 Faktor pencetus: trauma lokal, diet tinggi purin (kacang-kacangan, rempelo dll),
kelelahan fisik, stres, diuretik.
 Penurunan asam urat secara mendadak dengan allopurinol atau obat urikosurik dapat
menyebabkan kekambuhan.
2. Stadium Interkritikal
Stadium ini merupakan kelanjutan dari stadium akut dimana terjadi periode interkritikal
asimptomatik.
3. Stadium Arthritis Gout Menahun
Stadium ini umumnya pada pasien yang mengobati sendiri sehingga dalam waktu lama
tidak berobat secara teratur pada dokter. Pada tahap ini akan terjadi benjolan-benjolan di
sekitar sendi yang sering meradang yang disebut sebagai tofus. Tofus ini berupa benjolan
keras yang berisi serbuk seperti kapur yang merupakan deposit dari kristal monosodium
urat. Tofus ini akan mengakibatkan kerusakan pada sendi dan tulang di sekitarnya. Tofus
pada kaki bila ukurannya besar dan banyak akan mengakibatkan penderita tidak dapat
menggunakan sepatu lagi.
5. Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan Laboraturium
LED , CRP analisis cairan sendi asam urat darah dan urine 24 jam ureum, kreatinin..
Peningkatan kadar asam urat serum (hyperuricemia), Peningkatan asam urat pada urine
24 jam, Cairan sinovial sendi menunjukkan adanya kristal urat monosodium, Peningkatan
kecepatan waktu pengendapan
 Pemeriksaan X-Ray
Pada pemeriksaan x-ray, menampakkan perkembangan jaringan lunak

6. Penatalaksanaan
1. Non farmakologi
a. Pembatasan makanan tinggi purin (± 100-150 mg purin/hari).
b. Cukup kalori sesuai kebutuhan yang didasarkan pada TB dan BB.
c. Tinggi karbohidrat kompleks (nasi, roti, singkong, ubi) disarankan tidak kurang dari
100 g/hari.
d. Rendah protein yang bersumber hewani.
e. Rendah lemak, baik dari nabati atau hewani.
f. Tinggi cairan. Usahakan dapat menghabiskan minuman sebanyak 2,5 ltr atau sekitar
10 gelas sehari dapat berupa air putih masak, teh, sirop atau kopi.
g. Tanpa alkohol, termasuk tape dan brem perlu dihindari juga. Alkohol dapat
meningkatkan asam laktat plasma yang akan menghambat pengeluaran asam urat
2. Farmakologi
a. Pengobatan fase akut, obat yang digunakan untuk mengatasi nyeri dan inflamasi
(colchicine, indometasin, fenilbutazon, kortikostropin)
b. Pengobatan hiperurisemia, terbagi dua golongan, yaitu:
Golongan urikosurik (probenesid, sulfinpirazon, azapropazon, benzbromaron) dan
Inhibitor xantin (alopurinol).
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
KEGAWATDARURATAN PARIWISATA
DI AREA WISATA TAMAN MARGASATWA SEMARANG

A. Daya Tarik Wisata Taman Margasatwa Semarang


1. Sejarah Taman Margasatwa
Taman Margasatwa Semarang merupakan tempat konservasi satwa yang memadukan
konsep edukasi dengan konsep rekreasi, sehingga para pengunjung yang datang ke
Taman Margasatwa Semarang bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih luas mengenai
kekayaan flora dan fauna yang tersebar di negeri kita tercinta sekaligus berekreasi
melepas kepenatan dari rutinitas kegiatan mereka sehari-harinya bersama keluarga, teman
atau kerabat terdekatnya. Taman Margasatwa Semarang hingga tahun 2012 ini telah
memiliki 40 jenis satwa dan setiap periodenya akan selalu ditambah dengan jenis satwa
lain untuk melengkapi koleksi kebun binatang. Masing-masing jenis satwa jumlahnya
berkisar 2 ekor hingga 6 ekor, mereka ditempatkan di suatu lokasi yang mirip dengan
habitatnya semula.
Taman Margasatwa Semarang adalah program lanjutan pemerintah kota semarang yang
dulu bernama Taman Hiburan Rakyat (THR) yang berdiri sejak tahun 1954 yang terletak
di desa Tegalwareng dan pada saat itu berada di tengah-tengah kota Semarang yang saat
ini digunakan sebagai Taman Rekreasi Wonderia. THR waktu itu digunakan sebagai
kebun binatang yang menempati arel seluas 20 Ha dan pada malam harinya digunakan
sebagai taman hiburan rakyat (THR) yang pengelolaanya berada dbawah Dinas T.H.R
dan Pariwisata Kota Semarang. Lambat laun Taman Budaya yang memiliki dua fungsi
yang berbeda ini, pada siang hari berfungsi sebagai kebun binatang dan pada malam hari
digunakan untuk pertunjukkan hiburan malam dianggap tidak memadai lagi, karena
alasan-alasan sebagai berikut :
 Adanya hiburan malam membuat binatang yang menjadi terganggu, sakit, stress
dan mati.
 Lahan yang ada menjadi terasa semakin sempit.
 Polusi dari limbah kotoran binatang dirasa mengganggu kesehatan penduduk
disekitar lokasi.
Pada tahun 1985 kebun binatang Tegalwareng akhirnya direlokasi yang ke-2 ; pindah ke
Taman Lele yang berada di kecamatan Tugu dan Tinjomoyo yang belokasi di kelurahan
Sukorejo kecamatan Gunungpati, dengan luas 57,5 Ha. Nama kebun binatang diubah
menjadi Taman Margasatwa dan Kebun Raya atau dsingkat menjadi Taman Margaraya
Semarang. Taman Margaraya merupakan sebuah fasilitas berfungsi ganda, yaitu sebagai
objek wisata alam dan budaya, serta sebagai lahan penghijauan kota. Atraksi yang
terdapat di objek wisata ini adalah Kebun Raya (Botanical Garden) yang memuat konsep
sebagai hutan kota, kebun binatang, taman-taman buatan dan taman-taman bermain anak-
anak.
Kemudian pada tahun 2004 pemerintah kota Semarang merasa perlu kembali merelokasi
Kebun Binatang Tinjomoyo ke lokasi baru, dikarenakan beberapa hal dibawah ini :
 Lokasi yang sulit dijangkau dari pusat kota.
 Lokasi disekitar kebun binatang sangat labil, sehingga merusak bangunan.
 Jembatan penghubung ke lokasi Kebun Binatang yang putus akibat diterjang
banjir & gerusan air.
Dengan pertimbangan diatas pada tahun 2006, Kebun Binatang Tinjomoyo direlokasi
ulang ke wilayah barat kota Semarang, tepatnya di Jl. Urip Sumoharjo No.1 Semarang
atau yang lebih dikenal dengan Jalan Raya Semarang - Kendal Km. 17 dan dengan lokasi
baru ini Kebun Binatang Tinjomoyo beralih nama pula menjadi: Kebun Binatang
Mangkang Semarang (Taman Margasatwa Semarang) yang menempati luas lahan sekitar
10 Ha. Konsep yang ditawarkan oleh taman Margasatwa ini adalah konservasi, edukasi
dan rekreasi. Hal ini ditunjukkan dengan penambahan serta perawatan secara berkala
seluruh koleksi puspa dan satwa, serta fasilitas pendukung untuk konservasi-edukasi-
rekreasi. Saat ini jumlah koleksi satwa saat sebanyak 40 jenis satwa yang berasal dari
sumbangan pihak terkait maupun hasil konservasi satwa.
2. Gambaran Umum
Taman Margasatwa Semarang merupakan tempat konservasi satwa yang memadukan
konsep edukasi dengan konsep rekreasi, sehingga para pengunjung yang datang ke
Taman Margasatwa Semarang bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih luas mengenai
kekayaan flora dan fauna yang tersebar di negeri kita, sekaligus berekreasi melepas
kepenatan dari rutinitas kegiatan sehari-hari, bersama keluarga, teman, dan kerabat
terdekat. Taman Margasatwa Semarang hingga tahun 2013 ini telah memiliki 47 jenis
satwa dan setiap periodenya akan selalu ditambah dengan jeni-jenis satwa lain untuk
melengkapi koleksi kebun binatang. Masing-masing jenis satwa jumlahnya berkisar 2
ekor hingga 6 ekor, mereka ditempatkan di suatu lokasi yang mirip dengan habitatnya
semula. Selain koleksi satwa juga menyediakan wahan yang lain seperti flying fox,
atraksi naik gajah, bebek air, waterboom dan taman bermain. Selain itu setiap liburan
juga memfasilitasi film documenter pendidikan terkait satwa di gedung multi media
mulai jam 09.00, 11.00, 13.00 WIB. Dengan harga tiket tanda masuk yang terjangkau,
membuat kunjungan wisatawan dari tahun selalu meningkat.

Table 1. Daftar Harga Tiket Tanda Masuk


HTM Biaya
Pintu Utama Rp. 5.000,00
Becak Air Rp. 5.000,00
Bendi Wisata Rp. 5.000,00
Kereta Wisata Rp. 3.000,00
Naik Gajak Rp. 5.000,00
Flying Fox Rp. 10.000,00
Tiket Lebaran Rp. 7.500,00
Water Boom Rp. 10.000,00
Film Satwa Rp. 3.000,00
Table 2. Pengunjung dan Pendapatan Taman Margasatwa Semarang Per-Tahun
Tahun Pengunjung Pendapat
2006 29.874 Rp. 166.499.500
2007 202.593 Rp. 819.595.750
2008 202.982 Rp. 868.561.750
2009 231.594 Rp. 1.247.862.250
2010 191.943 Rp. 1.219.576.500
2011 225.612 Rp. 1.807.995.000
2012 243.883 Rp. 2.316.834.000

3. Koleksi Satwa
Saat ini jumlah koleksi satwa sebanyak 40 jenis satwa yang berasal dari sumbangan pihak
terkait maupun hasil konservasi satwa. Diantaranya Ular Phyton, Kerbau albino, Sapi
Bali, Nilgay, Kuda, Rusa (Timor, Tutul), Kijang, Kancil, Burung (Kasuari, Merak,
Pelikan, Kakak Tua, dll), Gajah, Singa, Buaya, Harimau, Orang Utan, berbagai jenis kera,
Beruang Madu, dll.
Beberapa gambar koleksi satwa yang ada di Taman Margasatwa Semarang:

Gambar 1 Gambar 2
Gambar 3

Gambar 6

Gambar 7
Gambar 8
Gambar 9
4. Taman Bermain
Waterboom:
Selain waterboom disediakan sarana rekreasi pendukung: kolam pasir putih, kolam batu
terapi, sewa pakaian renang dan kedai makanan. Wahana ini khusus untuk anak-anak,
ember tumpah, papan luncur, kedalaman air kolam maksimal hanya 60 cm.

B. Masalah Kesehatan Yang Terjadi Pada Petugas Taman Margasatwa Semarang


Setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan kepada petugas Taman Margasatwa Semarang,
petugas mengalami Hipertensi, Diabetes Mellitus, dan Asam Urat.
1. Hiperternsi
2. Diabetes Mellitus
3. Asam Urat