Anda di halaman 1dari 5

A.

hkkPendahuluan

Demam tifoid adalah penyakit sistemik yang di sebabkan ole bakteri di tandai dengan
demam insidius yang berlangsung lama, sakit kepala yang berat, badan lemas, anoreksia,
bradikardi relatif, splenonogameli, pada penderita kulit putih 25% di antaranya
menunjukkan adanya “rose spot” pada tubuhnya tidak produktif pada awal penyakit.
Penderita dewasa lebih banyak terjadi konstipasi di banding dengan diare. Gejala lebih
sering serupa dengan geja;la yang ringan dan tidak khas. Demam tifoid ulserasi pada
pelagues payeri pada ileum yang dapat menyebabkan terjadinya pendarahan atau perfosi
(sekitar 1% dari kasus). Hal tersebut sering terjadi pada penderita yang terlambat diobati.

B. Epidemiologi

Angka kejadian demam tifoid di ketahui lebih tinggi pada negara yang sedang
berkembang di daerah tropis. Demam tifoid erat kaitannya dengan gigeyene perorangan
dan sanitasi lingkungan. Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan jumlah kasus
demam tifoid di seuruh dunia mencapai 16-33 juta dengan 500-600 ribu kematian setiap
tahunnnya. Anak yang paling rentan terkena demam tifoid, walaupun gejala yang di alami
anak lebih ringan dari dewasa.

Demam tifoid menyerang penduduk di semua negara. Demam tifoid banyak di negara
yang berkembang di mana hygiene pribadi dan sanitasi lingkungan yang kurqang baik.
Prevelansi kasus yang bervariasi tergantung lokasi, kondisi lingkungan setempat dan
perilaku masyarakat. Angka insidensi di seluruh dunia skitar 17 juta pertahun dengan
600.000 orang yang meninggal karena penyakit ini. WHO memperkirakan 70% kematian
yang terjadi di asia. Pemakaian obat yang tidak rasional merupakan salah satu masalah
pada pusat pelayanan pada pusat pelayanan kesahatan. Endemik demam tifoid terjdi di 2
provinsi di jawah tengah, dengan peningkatan jumlah kasus dengan tifoid selama tiga
tahun berturut-turut dari tahun 2017 dengan kasus 154, pada tahun 2008 terjadi 197
kasus, pada tahun 2009 naik 4.817 kasus, pada tahun 2010 naik lagi 5.021 kasus
(Riskesda2010).

Demam tifoid termasuk dalam penyakit 10 penyakit terbanyak yang di rawat rumah
sakit. Demam thyfoid menduduki urutan ke 3 dari 10 penyakit yang terbnyak di rawat di
rumah sakit yang sebnyak 55.098 kasus dengan angka kematin (case patality rate) CFR
sebesar 1,06% (Profil Kesehatan Indonesia 2011). Demam tifoid merupakan salah satu
angka dari penyebab kematian di indonesia. Hal yang perlu di perhatikan dalam penulran
infeksi shalmonella meliputi penularan, masa inkubasi danmasa yang dapat menular, serta
pengendalian infeksi aktif dan pencegahan shalmonellasis dan dalam makalah ini yang di
bahas tentang epidemoogi penyakit demam tifoid atau yang sering di sebutvengan
penyakit types.
C. Etiologi
Demam tipod di sebabkan oleh S. Typhi, basil Tifoid, basal gram negatif, berflagel
(bergerak dengan bulu getar), dan tidak menghasilkan spora. Untuk tujuan studi
epidemologi maka pemeriksaan laboratorium “phage” dan “pilsed fiel gel electrophosis”
dari S. Typhi mempunyai nilai yang tinggi untuk melakukan identifikasi terhadap isolat.
Untuk demam B, S. Paratyphi C dan di kenal seberapa macam “phage types” . baqkteri
tersebut memasuki tubuh manusia melluli saluran pencernan dan manusia merupaka
sumber utama infeksi yang mengeluarkan mikroorganisme penyebab penyakit saat
sedang sakit atau dalam pemulihan. Kuman tersebut dapat hidup dengan baik pada tubuh
manusia maupun pada suhu yang lebih rendah sedikit, namun mati pada suhu 70°C
maupun oleh antiseptik.

Salmonella typhi memiliki tiga macam antigen yaitu, antigen O (somatik) merupakan
polisakarida yang sifatnya spesifik untuk grup salmonella dan berada pada permukaan
organisme dan juga merupakan somatik antigen yang tidak menyebar, H (flagela) terdapat
pada flgella dab bersifat termolabil dan dan antigen Vi berupa bahan termolabil yang di
duga sebagai plapis tipis dinding sel kuman dan melindungi anti gen O terhadap
fagositosis.

D. Gejala dan Masa Inkibasi

Gejala klonis yang disebabkan oleh demam tifoid bisa bervariasi, mulai dari yang
ringan hingga berat. Biasany, gejala yang muncul pada orang dewasalebih ringan
ketimbang yang terlihat pada anak. Kuman yang telah masuk ke dalam tubuh anak yang
tidak segera menunjukan gejala yang nyata. Namun, masih membutuhkan masa tinas
sekitar 7-14 hari. Masa tunas ini bisa lebih cepat bila kuman yang masuk melalui
makanan. Secaraumum ada berapa tanda yang menunjukan seorang anak yang terinfeksi
oleh kuman Salmonella typhi. Adapun gejala demam tifoid ialah sebagai berikut.

1. Masa Inkubasi dan klinis


Masa inkubasi dapat berlangsung &-21 hari, walaupun pada umumnya adalah 10-
12 hari. Awal keluhan dan gejala penyakit tersebut tidaklah khas, berupa :
anoeksia, rasa malas, sakit kepala bagian depan, nyeri otot, lidah kotor dan
gangguan perut (perut meragam dan sakit)

2. Masa Laten dan Periode infeksi


a. Minggu pertama (awal terinfeksi0
Setelah melewati masa inkubasi 10-14 hari, gejala penyakit pada awalnya
sama dengan penyakirt yanglain, seperti demam tinggi yang perpanjangan
yaitu setinggi seperti demam yang berkepanjangan yaitu setinggi 39°C hingga
40°C, sakit kepala, pusing, pegal-pegal, anoreksia, mual, muntah, batuk
dangan nadi antara 80-100 kali permenit, denyut lemah, pernapasan semakin
cepat dengan gambaran bronkitis karatal, perut kembung dan merasa tak enak,
sedangkan diare dan sembelit silih berganti. Pada akhir minggu pertma, diare
lebih sering terjadi.

b. Minggu kedua
Minggu pertama, suhu tubuh berangsur angsur meningkat setiap hari, yang
bisanya menurun pada pagi hari kemudian meningkat pada sore atau malam
hari. Oleh karena itu, minggu kedua suhu suhu tubuh penderita terus-menerus
dalam keadaan tinggi (demam). Suhu badan yang tinggi dengan penurunan
yang sedikit pada pagi hari berlangsung, terjadi perlambtan relatif nadi
penderita.

c. Minggu ketiga
suhu tubuh berangsur-angsur turun dan normal kembali pada pada akhir
minggu. Hal itu jika terjadi tanpa konplikasi atau berhasil di obati bila keadaan
membaik, gejala akan berkurang dan temperatur mulai turun. Meskipun
demikian justru komplikasi pendarahan dan perporasi cenderung untuk terjadi
akibat lepasnya kerak dari ulkus. Jika keadaan makin memburuk, di mana
toksemia memberat dengan terjadinya tanda khas berupa delerium atau stupor,
otot-otot bergerak terus, inkotinensia alvi dan inkontinensia urin.

d. Minggu keempat
Merupakan stadium penyembuhan meskipun pada awal meskipun pada awal
minggu ini dapat di jumpai adanya pneumia lobar atau tromboflabitis vena
femoralis

E. Patogenesis

Salmonella typhi dan salmonella paratyphi masuk ke dalam tubuh manusia melalui
makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kumana akan di musnakan oleh asam
lambung lambung dan sebagian lagi masuk ke dalam usus halus dan berkembang biak.
Bila respom imunitas humoral mukosa iga usus kurang baik maka kuman akan menembus
sel-sel epitel terutama sel M dan selanjutnya ke lamina propia. Di lamina propia kuman
berkembang biak dan di pagosit oleh sel-sel pagosit magropak dan selanjutnya akan di
bawah ke plague mayeri ileum distal dan kemudian kuman yang dapat di dalam
magropak ini masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakteriomia pertama yang
asimtomatik) dan menyebar ke organ ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan
kemudian berkembang biak lagi di luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke
dalam sirkulasi darah lagi yang mengakibatkan bakterimia yang ke dua kalinya dengan di
sertai tanda dan gejala penyakit infeksi sistemik, seperti demam, malaise, mialgia, sakit
kepala dan sakit perut.
F. Cara penularan

Cara penularan yaitu melalui air dan makanan kuman salmonella dapat bertahan lama
dalam makanan penggunaan air minum secara massal yang tercemar bakteri sering
menyebabkan terjadinya KLB vektor berupa serangga juga dapat berperan dalam
penularan penyakit.

G. Cara pencegahan
a. Berikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya mencuci tangan
setelah membuang air besar dan sebelum memegang makanan dan minuman
sediakan fasilitas untuk mencuci tangan secukupnya.
b. Buanglah kotoran pada jamban yang saniter dan yang tidak terjangkau oleh lalat.
Pemakaian kertas toilet yang cukup untuk mencegah kontaminasi cari. Di tempat
yang tidak ada jamban, tinja di buang/tanam dari sumber air hilir.
c. Lindungi masyarakat dari kemungkinan kontaminasi. Lakukan pemurnian dan
pemberian klorin terhadap air yang akan di ditribusikan kepada masyarakat.
Sediakan air aman bagi perorangan dan rumah tangga. Jika bepergian piknik atau
berkemah air yang akan diminum hendaknya di rebus atau diberi bahan kimia.
d. Berantas lalat dengan cara menghilangkan tempat berkembang biak mereka
dengan sistem pengumpilan dan pembuangan sampah yang baik.
e. Terapkan standar kebersihan pada waktu penyiapan dan menangani makanan;
simpan makanan dalam lemari es pada suhu yang tepat. Makan makanan yang
masih pana dan jika kita makan buh-buahan hendaknya di kupas dulu.
f. Lakuka pastiurisasi terhadap susu dan produk susu. Lakukan pengawasan yang
ketat terhadap sanitasi dan kesahatan lainnya terhadap produksi, penyimpanan dan
distribusi produk susu.
g. Terepkan peraturan yang ketat tentang prosedur jaga mulut terhadap industri yang
memproduksi makanan dan minuman.
h. Batasi pengumpulan dan penjualan kerang-kerangan dari sumber yang jelas yang
tidak tercemar. Rebuslah kerang sebelum di hidangkan.
i. Beri penjelaan yang cukup kepad penderita, penderita yang sudah sembuh dan
kepada carrier tentang cara menjaga kebersihan perorangan. Budayakan kebiasaan
mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dan sebelum meniyiapkan
makanan.
j. Promosikan pemberian air susu ibu kepada bayi yang sedang menyusui rebuslah
susu dan air akan di pakai untuk makana bayi.
k. Carrier di larang untuk menangani/menjamah makanan dan di larang untuk
merawat penderita. Lakuakan identifikasi terhadap carrier dan lakukan
pengawasan terhadap mereka.
l. Pemberian imunisasi terhadap pada penderita demam tifoid tidak di anjurkan di
AS. Saat imunisasi hanya di berikan kepada mereka dengan resiko tinggi seperti
petugas labiratorium mikrobiologis, mereka yang berpergian ke daererah
endemis, mereka yang tinggal di daerah endemis anggota keluarga dengan carrier.
Vaksin yang tersedia adalah vaksi oral hidup yang mengandung S.Typhi strain
Ty21a (diperlukan 3-4 dosis perhari), dan vaksin parenteral yang beredar adalah
vaksin jenis tunggal yang berisi Vi antigen polisakarida. Vaksin oral yang berisi
Ty21a janagan di berikan untukpengobatan malaria, mefloquine. Oleh karena
menimbulkan efek samping yang berat maka vaksin “whole cell’ yang
diinaktivikasi di ajurkan untuk tidak di gunakan. Vaksi dosis tungal yang
mengandung Vi antigen polisakarida adalah vaksin pilhan, karena kurang
reaktogenik. Vaksin booster perlu di berikan kepada mereka yang secara terus
menerus mempunyai resiko tertular. Booster diberikan dengan interval antara 2-5
tahun tergantung jenis vaksinnya. Demam paratyfhoid: uji coba di lapangan
denganmenggunakan vaksin oral tifoid (ty21a) memberikan perlindungan persial
terhadap paratifoid, namun perlindungan yang di berikan tidak sebaik terhadap
tifoid.