Anda di halaman 1dari 2

Ketiga, al-i'tidal atau tegak lurus.

Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman:

‫ِل قَ َّوامِ ينََ ُكونُواَ آ َمنُواَ الَّذِينََ أَيُّ َها َيا‬ َ ‫شنَآنَُ يَج ِر َمنَّ ُكمَ َو‬
َِّ ِ ‫لَ بِالقِسطَِ شُ َه َداء‬ َ َ ‫للا َواتَّقُواَ لِلتَّق َوى أَق َربَُ ه ََُو اع ِدلُواَ ت َع ِدلُواَ أ‬
َ َّ‫ل‬
َ َ‫علَى قَوم‬ ََّ ِ‫للاَ إ‬
ََّ ‫ن‬ َّ
َ‫ت َع َملُونََ ِب َما َخ ِبير‬

Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak
membela (kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah
kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena
keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya
Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Maidah: 8)

Keadilan adalah salah satu Perintah yang paling banyak ditemukan dalam Al-
Qur’an. Prinsip ini tidak boleh dilanggar oleh sebuah pemerintahan, apapun bentuk
pemerintahan itu.salah satu ayat dalam Al-Qur an terdapat pada QS An-Nisa, 4: 58

Di Indonesia, yang paling dominan adalah mengikuti Imam Asy’ari dalam aspek aqîdah, Imam Syâfi’i
dalam aspek fiqh, dan Imam Ghazâli dalam aspek tasawuf. Karya-karya mereka dikaji di pesantren,
madrasah, majlis ta’lim, masjid, mushalla, dan lain-lain. Imam Asy’ari terkenal dengan
kemampuannya menggabungkan dimensi rasionalitas Mu’tazilah (karena lama menjadi pengikut
Mu’tazilah) dan tradisionalitas Jabariyah (fatalistik). Teori kasb (upaya/usaha) adalah buktinya. Teori
ini dimunculkan sebagai mediasi antara kaum rasionalis dan tradisionalis, bahwa manusia
mempunyai kemampuan untuk berusaha, namun hasil akhirnya berada dalam kekuasaan Allah[7].

Imam Syâfi’i terkenal dengan kemampuannya menggabungkan rasionalitas ahlu al-ra’yi (pengikut
Imam Hanafi di Irak) dan tradisionalitas ahlu al-hadîs (pengikut Imam Mâlik di Madinah). Konsep
qiyâs (analogi) dan istiqrâ’ (penelitian induktif) dalam menjawab masalah-masalah aktual adalah
pemikiran cemerlang Imam Syâfi’i yang menggemparkan jagat intelektualitas pada masa itu.
Sedangkan Imam Ghazâli terkenal dengan kemampuannya menggabungkan rasionalitas filosof,
formalitas ahli fiqh, dan esoteritas kaum sufi. Ihyâ’ Ulûmiddîn adalah master piece Al-Ghazali yang
mengandung kedalaman kajian aqîdah, filsafat, fiqh, tasawuf, sosial dan politik dalam satu kesatuan
yang holistik. Tasawuf falsafi dan amali digabungkan dalam satu pemikiran dan tindakan yang
membawa perubahan positif bagi masa depan dunia dan akhirat.[8] Menurut KH. M. Hasyim Asy’ari,
Ahlusssunnah Wal Jamaah adalah golongan yang berpegang teguh kepada sunnah Nabi, para
sahabat, dan mengikuti warisan para wali dan ulama. Secara spesifik, Ahlusssunnah Wal Jamaah
yang berkembang di Jawa adalah mereka yang dalam fikih mengikuti Imam Syafi’i, dalam akidah
mengikuti Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, dan dalam tasawuf mengikuti Imam al-Ghazali dan Imam
Abu al-Hasan al-Syadzili.[4] Menurut Muhammad Khalifah al-Tamimy, Ahlusssunnah Wal Jamaah
adalah para sahabat, tabiin, tabiit tabi’in dan siapa saja yang berjalan menurut pendirian imam-
imam yang memberi petunjuk dan orang-orang yang mengikutinya dari seluruh umat semuanya.[5]
Definisi di atas meneguhkan kekayaan intelektual dan peradaban yang dimiliki Ahlusssunnah Wal
Jamaah, karena tidak hanya bergantung kepada al-Qur’an dan hadits, tapi juga mengapresiasi dan
mengakomodasi warisan pemikiran dan peradaban dari para sahabat dan orang-orang salih yang
sesuai dengan ajaran-ajaran Nabi. Terpaku dengan al-Qur’an dan hadis dengan membiarkan sejarah
para sahabat dan orang-orang saleh adalah bentuk kesombongan, karena merekalah generasi yang
paling otentik dan orisinal yang lebih mengetahui bagaimana cara memahami, mengamalkan dan
menerjemahkan ajaran Rasul dalam perilaku setiap hari, baik secara individu, sosial, maupun
kenegaraan. Berpegang kepada al-Qur’an dan hadis ansich, bisa mengakibatkan hilangnya esensi
(ruh) agama, karena akan terjebak pada aliran dhahiriyah (tekstualisme) yang mudah menuduh
bid’ah kepada kAlarna, Badrun, (2000), cet. 1, NU, Kritisisme dan Pergeseran Makna Aswaja,
Yogyakarta : Tiara Wacana

Al-Asy’ari, Abi al-Hasan Ali ibn Ismail, (t.th). al-Ibanah An Ushul al-Diyanah, Beirut : Dar al-Kutub al-
Ilmiyyah

Asmani, Jamal Makmur, (2014), Manhaj Pemikiran Aswaja, dalam

http://aswajacenterpati.wordpress.com/2012/04/02/manhaj-pemikiran-aswaja/

Hasyim, Yusuf, (2014), Aswaja Annahdliyah; Dari Madzhabi Menuju Manhaji


dalam,_http://aswajacenterpati.wordpress.com/2012/04/02/aswaja-annahdliyah-dari-madzhabi-
menuju-manhaji/

LIM, FKI (2010), cet. 2, Gerbang Pesantren, Pengantar Memahami Ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah,
Kediri: Litbang Lembaga Ittihadul Muballigin PP. Lirboyo

Madjid, Nurcholis, (2000), cet. 4, Islam Doktrin Dan Peradaban, Jakarta: Paramadina, , hlm. 282-84 .

Misrawi, Zuhairi, (2010), cet. 1, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, Moderasi, Keumatan, Dan
Kebangsaan, Jakarta : Kompas

Nasir, Sahilun A. (2010), cet. 1 Pemikiran Kalam (Teologi Islam), Sejarah, Ajaran, dan
Perkembangannya, Jakarta : Rajawali Press

-----------Ahlussunnah Wal Jama’ah Sebagai Manhajul Fikr, dalam


http://halmahera21.wordpress.com/2009/07/06/ahlussunnah-wal-jama%E2%80%99ah-sebagai-
manhajul-fikr/omunitas yang dijamin masuk surga, seperti khalifah empat.[6]