Anda di halaman 1dari 5

ALHAMDULILLAHI, 2X

Innal hamda lillaahi nahmaduhu


wanas ta iinuhuu
wanastag firuh
wa na’uudzubillaahi min syuruuri anfusinaa
wa min sayyiaati akmaalinaa,
mayyahdihillaahu falaa mudilalah
wa man yud lilhu falaa hadiyalah.

Asyhadu allaa ilaahaillallaah wahdahu laa syariikalah


wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhuu warasuuluhu
laanabiyya ba’dah.
Allaahumma shalli wa sallim wabaarik ‘alaa muhammadin
wa ‘alaa aalihii wa shohbihi wa manih tadaa bi hudaahu
ilaa yaumil qiyaamah.
Amaaba’du,
Yaa ayyuhannasu uushikum wa iyyaaya bi taqwallaahi
fa qad faazaal muttaquun.
yaa ayyuhaladziina aamanut taqullaha haqqo tuqaa tihii
wala tamuutunnaa illaa wa antum muslimuun.
Yaa ayyuhalladziina amanut taqullaaha
wa quuluu qaulan sadiidaa.
Yuslih lakum akmaalakum
wa yag firlakum dzunuubakum
wa man yuti’illaaha wa rasuulahu
fa qad faaza fauzan ‘adziimaa.

Jama ah Jum at yang di Rahmati Allah SWT


Pertama-tama dan untuk sekian kalinya, marilah kita panjatkan puji dan syukur kita kehadirat
Allah SWT atas segal limpahan Rahmat, Kasih sayang dan Hidayahnya, serta tak lupa pula
kita senantiasa bersolawat dan kirim salam kepada junjungan kita, Nabi akhir zaman, Nabi
Muhammad SAW, beserta keluarga dan pengikut setianya..
Pada kesempatan yang berbahagia ini, Saya mengingatkan utamanya kepada diri saya pribadi
dan juga kepada jama’ah pada umumnya, untuk senantiasa meningkatkan taqwa kepada
Alloh SWT, dengan sebenar-benarnya. yaitu ikhlas menjalankan apa yang telah
diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang telah dilarang- Nya.

Hadirin Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah.


Tema Kubah : Aktualisasi nilai-nilai isra’ mi’raj dalam konteks kehidupan multikultur

Salah satu peristiwa penting dalam sejarah peradaban umat Islam adalah perjalanan
Isra’ Mi’raj yang dialami oleh Nabi Muhammad Saw.

Sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa, di mana nilai-nilai yang terpancar dari
peristiwa tersebut tetap saja akan aktual sepanjang zaman.

Wajar,jika kemudian setiap tanggal 27 Rajab, peristiwa Isra’ Mi’raj itu selalu
diperingati oleh umat Islam dan dijadikan momentum untuk mengktualisasikan
kembali nilai-nilai yang tekandung di dalamnya.
Terlebih sekarang ini kita telah digoncang oleh berbagai kasus kekerasan dan
sederet praktik de-moralisasi, mulai dari kekerasan atas nama agama,kekerasan
terhadap TKI, aksiterorisme, mafia peradilan, korupsi, konflik internal partai politik,
dan sebagainya.

ada empat nilai yang fundamental yang penting dari peristiwa Isra Miraj, yaitu:
Pertama,peristiwa Isra’, -yang berarti perjalanan Nabi Muhammad Saw malam hari
dari Masjidil Haram Mekah ke Masjil Aqsha Palistina-, memberikan isyarat bahwa
manusia perlu membangun komunikasi sosial-horisontal.

Di situ, perjalanan Nabi Saw masih bersifat horisontal dari bumi ke bumi, yang
disimbolkan dari masjid ke masjid, yakni masjid al-Haram Makkah ke Masjid al-Aqsha
Palestina.

Maka, mestinya masjid sebagai simbol sentra kegiatan dan keberagamaan umat
Islam harus ditransformasikan kedalam kehidupan sosial.

Umat Islam harus mampu membangun relasi sosial yang harmoni di tengah
kehidupan global yang serba kompetitif.

Bukankah al-dînmu’amalah?. Artinya, bukankah agama itu salah satu intinya


adalah bagaimana seseorang bisa berinteraksi secara baik dengan sesama.

Keislaman seseorang jangan hanya diukur ketika di masjid.

Sebab tidak jarang sewaktu di masjid seseorang tampak khusyuk shalatnya, namun
begitu keluar dari masjid malah nyolong sandal.

Saat sholat, ia tampak khusyuk, begitu di kantor atau ruang kerja, nilai khusyukan
sholat ia tinggalkan.

Akibatnya, ia melakukan korupsi dan manipulasi.

Ada pula orang rajin ke masjid, namun dengan tetangganya tidak bisa rukun,
bahkan memelihara konflik berkepanjangan.

Keberagamaan yang seperti itu jelas keberagamaan yang semu dan tidak otentik.
Sebab salah satu keberagamaan yang hakiki, ditandai dengan kemampuan
seseorang untuk menjalin komunikasi sosial yang baik dengan para tetangga.

Di samping itu, perjalanan isra’ Nabi Saw dari dari Masjidil Haram Mekah ke Masjil
Aqsha Palistina juga memberi isyarat bahwa mestinya antara masjid satu dengan
masjid yang lain, harus ada sinergi dan harmoni dalam membangun kegiatan
dakwah dan pendidikan.

Jangan sampai masjid justru dijadikan upaya untuk membentuk idiologi sektoral
yang sempit, yang justru merusak ukhuwwah umat Islam.
Misalnya, dengan mudah orang lalu mengkafirkan, atau mem-bid’ahkan terhadap
kelompok lain yang berbeda, apalagi untuk menanamkan ideologi “keislaman
sempit” yang anti Pancasila dan NKRI. Mestinya kita ini semakin “Islami”, semakin
cinta Indonesia. We are moslem-Indonesian, and Indonesian-Moslem.

Kedua, peristiwa mi’raj, di mana Nabi Saw kemudian naik ke Sidratul Muntaha,
berjumpa dengan Allah Swt.

Perjalanan spiritual itu memberikan pelajaran penting bahwa manusia harus


melakukan “transedensi”, dengan mendekatkan diri kepada Allah Swt, sehingga
terhindar dari jebakan kehidupan materialisme, yang seringkali membuat manusia
kalap dan lupa diri, sehingga melakukan tindakan pelanggaran hukum yang banyak
merugikan orang lain.

Sebagai makhluk homo religius, manusia harus mampu membangun relasi yang
harmoni dengan Tuhan.

Dengan begitu, makasifat-sifat Tuhan sebagai Dzat yang Maha Kasih dan sumber
kebaikan, harus kita terjemahkan dalam kehidupan aktual sehari-hari.

Nilai-nilai kejujuran harus tetap kita perjuangkan, untuk melawan segala bentuk
demoralisasi.

Kita sangat prihatin dan sedih, ketika kejujuran tidak lagi diperhatikan. Fenomena
“nyontek berjama’ah” pada waktu Ujian Akhir Nasional adalah potret buram bagi
dunia pendidikan yang telah dikotori oleh praktik menipulasi. Falsafah Jawa yang
menyatakan “soposing jujur bakale mujur” (barang siapa yang jujur akan beruntung)
telah dicampakkan sedemikian rupa, dan diganti dengan “soposing jujur malah kojur”
(barang siapa yang jujur akan hancur). .Ketahuilah bahwa kejujuran akan membawa
ketenangan dan kedamaian. Kita mungkin memang bisa membohongi puluhan
orang, ratusan bahkan ribuan orang, namun kita tidak bisa membohongi diri kita
sendiri, apalagi membohongi Tuhan.

Ketiga, setelah Nabi Muhammad menjalani mi’raj (naik) keatas, beliau berjumpa
dengan Tuhan, sebuah pengalaman spiritual yang sangat indah. Namun luar biasa,
Nabi Saw kemudian masih mau turun kembali untuk menyampaikan pesan-pesan
Tuhan kepada umatnya, demi keselamatan umatnya.

Seandainya Nabi Saw itu orang yang egois, niscaya beliau enggan turun lagi bumi.
Bukankah saat itu Nabi Saw telah berada dalam puncak kenikmatan spiritual yang
sangat indah? Sebuah pertemuan antara al-habib (pencinta) dan al-mahbub(kekasih)
yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Itu cermin bahwa beliau adalah
manusia paripurna (insan kamil) dan seorang sufi yang otentik, yang bukan hanya
shalih ( baik pribadi dirinya), tetapi juga mushlih (membuat orang lain jadi baik).

Peristiwa itu juga memberi pelajaran penting bahwa kita tidak boleh terjebak pada
kesalehan ritual-spiritual semu. Sebab kesalehan yang otentik adalah manakala
seseorang bisa membangun relasi yang harmonis dan seimbang, antara dirinya
denganTuhan (hablun min Allah),dan dirinya dengan sesama manusia (habl min al-
nas), termasuk alam lingkungan sekitarnya (hablma’a al-bi’ah).

Keempat, dalam Isra’ Mi’raj, Nabi Saw mendapat perintah yang sangat penting yaitu
perintah shalat. Sedemikian pentingnya shalat, sehingga perintah itu diterima
langsung oleh Nabi, Saw tanpa perantara.

Shalat adalah tiang agama, barangsiapa yang menegakkan shalat berarti


menegakkan agama, barangsiapa yang meninggalkan shalat berarti menghancurkan
agama.

Demikian, sabda Nabi Saw dalam hadisnya. Namun hal yang lebih penting lagi
adalah bagaimana kita memaknai ulang pesan moral dalam ritual shalat tersebut.
Jangan kita terjebak pada shalat seremonial, tanpa makna. Al-Qur’an mengkrtik
orang-orang yang shalat sebagai pendusta agama dan masih akan celaka, jika
mereka sâhûn (lalai akan pesan moral di balik ajaran shalat (Q.S, al-Ma’un: 3-4).
Seolah Allah Swt berpesan kepada kita, wahai umat Islam, kalian itu ma’af“
jengkang-jenngking” (baca: sujud-rukuk), tidak ada gunanya, jika tidak
membuahkan kesadaran moral dalam hidup kalian. Jadi, ritualitas itu harus
membuahkan kesalehan moral.

Shalat sesungguhnya mengajarkan kepada kita semua akan pentingnya disiplin


waktu. Kalau begitu, ciri kebaikan shalat seseorang adalah disiplin waktu, yang
kemudian diterapkan dalam dunia kerjanya.

Di dalam shalat terkandung pesanke-tawadlu’an (rendah hati), sebab betapa kita rela
meletakkan kepala yang kita hargai ketempat sujud. Kesombongan dan kepongahan
bukan sifat orang yang baik shalatnya. Shalat mengajarkan kita akan pentingnya
menebar nilai kedamaian dan keharmonisan. Bukankah ketika kita mengakhiri
shalat, kita selalu mengucap salam (assalamu’alaikum), sambil menoleh ke kanan dan
kekiri ? Seolah Tuhan berkata kepada kita semua: ”Wahai hamba-Ku, kalian Aku
perbolehkan kembali kepada -aktifitas duniamu lagi, tapi tolong ya, tebarkan salam
damai dan kasih sayang pada sekelilingmu. Jangan menebar teror dan meledakkan
bom. Sebab hal itu bertentangan dengan pesan salam di akhir shalatmu”. Jangan
pula kalian korupsiya, sebab hal itu membuat rakyat semakin sengsara.

Akhirnya, semoga kita semua dapat mengambil berbagai pelajaran penting dari
peristiwa Isra’ Mi’raj dan mengaktualisasikan dalam kehidupan sosial. SEMOGA. Wa.
Alla hua’lam bi shawab.

Barokallahu Li walakum Fil Qur’an nil adzim Wana fa ani Wa iyaakum


Bima Fii Minal Ayati Wadzakril Hakim Wataqobaala Minaa Wamingkum
Tilawatahu inaahu Huwas saamii ul Alim Aquulu Qauli Hadza Wa as Tak
Firullahal Adzim Li walakum Walisa’iril Muslimiin Na wal Muslimat Wal
Mukminiin Na Wal Mukminat

Fas Tagfiruuhu Huwal Gofururoohiim.


1. Alhamdulillah 2X
Mu’a yadi sobirina biaziizi nasrih Wa muya saari saakirina Lihamidi sukri
Wa mu wa fakil muh tariina lil kiyami bi amrih
Ahma duhu ala ma an ama Wa as lama li amrihi fiima hakama wa abrom
Ashadu anla ilahailallah wahdahula sariikalah Wa as hadu ana
Muhamadda abduhu Warasulu
Allaahuma solii ala sayidina muhamaad Sollallaahu alaihi wa ala alihi
muntahad dzuuhur
Solatan da’i man bila fana’i wala futuur Wasallaamutasliima kasiro
Amaa bakdu
Faya ayuhannasu Takulla Inallaha amarakum bi amri bada afiihi bi nafsih
Wasanaa bi mala ikati wa ayaa da bil mukminiin min ibadih
Fakola azaa ming ko’il Inallaaha wa mala ikatahu yosoluna ala naabi
Ya ayuuhal lazi na amanu solu ala ihi wasalaamutaasliima
Allahumaa soluu ala sayidina Muhamaad, sayidil mursaliin
Wa ambiyak ika, Wa rosulika, Wa mala ika tikal mukoroobiin
Wa ahli zo atika Azj maiin.
2. Allahumaagfir
Lil mukminiina Wal mukminat Wal muslimiina Wal muslimat Inaaka
samii’u Qoriibu muzibudaa a wat
Robbana firlana, Wali ihwanina alaaziina sabaguna bil iiman Wa la tadz
alna Fii Qulu bina gilaa lillaaziina amanu. Robbaana inaaka Ro ufur
rohiim.
Robbana atina Fidunya HasanahWa fil ahiroti hasanah, wakina aza
banaar
3. Ibadallah Inallaaha yak muru bil adli Wal ihsani, Wa iita idil Qurba
Wa yan ha Anil fah sa i wal mungkar Wal bag yi Ya i zukum la alaakum
Tazakaaruun Faz kuruullaha al azim Yaz kurkum Was kuruuhu ala
nikmatihi yazikum wala zikrullahi akbar