Anda di halaman 1dari 36

PERAN GEOLOGI TEKNIK DALAM PERENCANAAN

KONSTRUKSI SIPIL

Sesuatu kegiatan dalam perencanaan dan pelaksanaan konstruksi sipil memerlukan


dukungan atau geologi agar menghasilkan suatu konstruksi yang kuat, nyaman, awet, dan
aman.
JUDD (1957) mendefinisikan sebagai aplikasi pendidikan dan pengalaman ilmu kebumian (geologi)
guna menyelesaikan problema kebumian seperti fondasi, stabilitas, bencana alam, dll oleh ahli sipil.

Dengan demikian cakupan disiplin geologi teknik melipitu :

1. Paparan geologi permukaan seperti terain (bentang alam),topogtafi, kelerengan, tata air
permukaan, sebaran laterallitologi (batuan dan tanah) sebaran lateran struktur geologi
patahan, lipatan dab.
2. Paparan geologi bahwa permukaan seperti stratigafi, struktur geologi tegak seperti lipatan,
patahahn atau retakan batuan serta gambaran kondirifisik batuan.
3. Paparan dinamika tanah kebumian meliputi keadaan geofisika kebumian terkait masalah
gempa dan sseismitasi. Termasuk bencana dari dalam bumi dan meterologis (hujan,angin)
4. Paparan terinci sebaran dan sifat teknis fisik masing-masing jenis batuan termasuk pelapukan
baik sebagai pendukung fondasi maupun sebagai matrial bahan bangunan.

http://tunkyhaditama.blogspot.co.id/2010/11/peran-geologi-teknik-dalam-perencanaan.html
Manfaat Mempelajari Struktur Geologi

Geologi strukturitu lebih penting dan sangat penting, itu akan terpakai sampai di tempat kerja
kelak bagi pelajar/siswa/mahasiswa yang mengambil jurusan geologi dan pertambangan...
geologi struktur memang pelajaran buat jurusan geologi tapi orang pertambangan juga mesti
tahu...alasannya agar kelak gak ada penipuan dari geologi tentang adanya singkapan bahan
galian.dari geologi struktur, kita bisa menganalisa arah STRIKE dari singkapan bahan galian,
kemiringan DIP dari bahan galian, penyebarannya,tingkat kestabilan lereng berdasarkan
kekar dan sesar selain itu masih banyak lagi pokoknya penting, jadi sebisa mungkin kita
pelajari sebai-baiknya.

Contoh manfaat fungsi belajar kekar, sesar dan lipatan ;

Manfaat mempelajari Kekar:

a. Untuk mengetahui kemana sumber dari Fine (urat mineral).


b. Sebagai reservoir minyak.
c. Sebagai cebakan mineral-mineral bernilai ekonomis.
d. Dalam Geologi Teknik dapat dijadikan sebagai acuan membuat terowongan, bendungan
dan bangunan teknik lainnya.
e. Sebagai jalan migrasi Minyak.
f. Bila ada struktur geologi lainnya berupa sesar, kekar bisa dijadikan sebagai data penting
untuk mencari arah sesar dan pola tegasan yang terjadi ada di daerah tersebut.

Manfaat mempelajari Sesar:

a. Mengetahui jenis-jenis sesar secara umum.


b. Mampu menginterpetasi pada peta bahwa pada daerah tertentu jika ada sesar dengan cara
melihat pola kontur dan pola pengaliran dipeta.
c. Mampu mengetahui tegasan lokal (setempat) pada daerah tertentu.
d. Mampu mengenali dan tahu bentukan-bentukan yang ada di batuan bila batuan itu
mengalami pensesaran. Sepeti adanya: breksiasi, lereng curam yang memanjang.
e. Pada dunia tambang dapat digunakan sebagai perencanaan sistem penambangan.
f. Sebagai tempat lewat, pengendapan, pembentukan dari cebakan mineral.
g. Dalam keilmuan (science) struktur terpenting dalam Teori Tektonik Lempeng.
h. Sebagai jalan lewatnya (migrasi) minyak dan gas bumi
i. Bagian perangkap untuk membentuk reservoar minyak dan gas bumi.
j. Dalam bidang panasbumi :
a. Jalan lewat air atau uap air dari dalam ke atas (bila panas).
b. Jalan lewat air dari permukaan ke bawah.
k. Dapat dipakai sebagai acuan untuk membangun bangunan pada tempat tertentu.

Manfaat mempelari Lipatan:

a. Mampu mengetahui jenis lipatan, mengelompokkan jenis lipatan dan pola tegasan yang
menyebabkan lipatan itu terjadi.
b. Mampu menginterpetasi pada peta bentukan lipatan dengan melihat pola kontur, pola
pengaliran.
c. Mengetahui bagian-bagian (unsur-unsur) dari suatu lipatan.
d. Dalam perminyakan bisa dijadikan sebagai tempat cebakan minyak dan gas bumi.
e. Sebagai perencanaan pembangunan penambangan pada dunia tambang.

https://www.kompasiana.com/andri_sulistyo/manfaat-mempelajari-geologi-struktur-di-dunia-
pertambangan_54f98e21a333112d3c8b5914
PERAN PENTING ILMU GEOTEKNIK DALAM PEMBANGUNAN

Dewasa ini, pembangunan di dunia global semakin meningkat. Namun, kebanyakan orang
hanya memperhatikan nilai estetikanya saja, tanpa memperhatikan seberapa lama ketahanan suatu
infrastruktur tersebut jika dikenakan beban, terjadi goncangan, dan terpengaruh cuaca. Dalam
artikel ini saya ingin menyampaikan bahwa tidak semua orang dapat mendesain suatu infrastruktur
yang tahan lama, hanya mereka yang sudah memamahi Ilmu Geoteknik yang bisa.

Dalam dunia teknik sipil sendiri, ilmu geoteknik merupakan langkah awal terbentuknya suatu
infrastruktur. Tanpa ilmu geoteknik mustahil suatu infrastruktur dapat berdiri dengan kokoh, karena
ilmu geoteknik merupakan cabang dari ilmu teknik sipil yang mempelajari ilmu tanah dimana
didalam ilmu ini akan dikupas tentang kemampuan tanah menahan beban, sehingga pembangunan
infrastruktur dapat direncanakan sebaik mungkin agar dapat berdiri kuat dan kokoh sesuai dengan
umur yang telah direncanakan sebelumnya.

Ilmu geoteknik ini terbagi lagi dalam beberapa pemahaman. Mekanika tanah merupakan
pemahaman yang paling mendasar. Ilmu ini mempelajari tentang sifat-sifat tanah, ketahanan tanah
dan juga yang lainnya. Pemahaman yang tak kalah penting adalah Rekayasa Pondasi. Ilmu ini di
pelajari karena didalamnya terdapat bagaimana cara pembuatan pondasi yang kokoh, dan tahan
terhadap semua beban bahkan goncangan. Yang mana pada dasarnya pembuatan pondasi harus
kuat, tahan lama dan yang paling penting adalah ekonomis. Semoga dengan artikel ini, kita semua
dapat lebih tau tentang peran penting ilmu geoteknik dalam pembangunan, meskipun tidak semua
bisa dibahas.

ILMU GEOTEKNIK

Pengertian

Di dalam dunia teknik sipil ini, ilmu geoteknik merupakan hal pokok yang sangat krusial
dalam pembangunan suatu infrastruktur. Tanpa ilmu ini, dapat dipastikan bahwa suatu infrastruktur
tidak dapat berdiri dengan kokoh, karena geoteknik merupakan cabang ilmu teknik sipil yang
mempelajari ilmu tanah dimana didalam ilmu ini akan dipelajari kemampuan tanah menahan beban
yang ada diatasnya, sehingga pembangunan infrastruktur dapat direncanakan sebaik mungkin agar
dapat berdiri kokoh sesuai umur rencana. Pada dasarnya ilmu ini merupakan ilmu yang tua yang
implementasinya berjalan bersamaan dengan tingkat peradaban manusia, mulai dari pembangunan
di jaman sebelum masehi seperti pembangunan pyramid dan percandian hingga jaman yang modern
seperti yang sekarang ini dengan adanya pembangunan gedung-gedung pencakar langit (Agustian,
2012).

Pada dasarnya, geoteknik adalah suatu alat dalam perencanaan atau design sebuah
bangunan. Data geoteknik sendiri harus digunakan secara benar dan sangat teliti dengan asumsi
serta batasan yang sudah ada dan dipergunakan untuk dapat mencapai hasil yang kita inginkan
(Wijaya, 2012). Seseorang yang ahli dalam ilmu geoteknik biasa disebut Engineer Geotek. Pekerjaan
penting yang harus dilakukan oleh seorang engineer geotek yaitu memberikan panduan-panduan
mengenai potensi geoteknik yang akan terjadi bila dilakukan secara asal-asalan kepada pihak terkait.
Salah satu akibat dari ketidak hati-hatian dalam penggunaan asumsi dan batasan yang telah ada
adalah Menara Pizza di Italia yang disebabkan karena kurangnya kekuatan dukung tanah terhadap
menara tersebut (Agustian, 2012).

Secara keilmuan, bidang teknik sipil ini mempelajari lebih mendalam ilmu Mekanika Tanah,
Rekayasa pondasi, dan Struktur bawah Tanah. Mengenai peranan mekanika tanah dan teknik
pondasi dalam pembangunan, akan dijelaskan pada subbab yang selanjutnya, sedangkan struktur
bawah tanah tidak akan dibahas.

Beberapa contoh akibat salah perhitungan

Gambar 1: Robohnya gedung akibat pondasi tidak sesuai spesifikasi

(Sumber: http://www.insetgalus.com/berita?id=Bangunan_Belum_Selesai_Sudah_Roboh)

Salah satu gedung bangunan di RSUD Sangir, roboh sebelum pekerjaan selesai ke tahap finishing, ini
disebabkan akibat kondisi pondasi gedung tidak sesuai dengan spesifikasi kontrak.

Gambar 2: Bangunan roboh karena pondasi yang tidak kuat menahan beban

(Sumber: http://winthropclub.com/wp-content/uploads/2015/08/bangunan-roboh.jpg)
Pada gedung ini, diperkirakan pondasi bangunan yang tidak kuat. Permasalahan ini biasanya
disebabkan karena lokasi bangunan yang berada di lokasi yang tidak ideal (miring) dan penggunaan
material yang kurang padat.

Jadi, pada intinya geoteknik merupakan cabang ilmu dari teknik sipil yang didalamnya
menerapkan geologi dalam tahap perencanaan, maupun pelaksanaan pada sebuah pekerjaan
pengkontruksian, dimana geologi sendiri merupakan sebuah disiplin ilmu yang mempelajari seluk
beluk kerak bumi, mulai dari asal-susul, jenis, komposisi, dan penyebaran materialnya, hingga
struktur dan proses yang terjadi. Ilmu ini juga merupakan ilmu dasar dari terbentuknya sebuah
infrastruktur sesuai apa yang diinginkan sebelumnya, yang mana pada dasarnya merupakan suatu
alat dalam perencanaan sebuah bangunan dengan data yang digunakan secara benar dan sangat
teliti dengan asumsi serta batasan yang sudah ada dan dipergunakan untuk mencapai hasil yang kita
inginkan. Seseorang yang ahli dalam ilmu ini disebut Engineer Geotek. Ilmu geoteknik mempelajari
lebih mendalam tentang ilmu Mekanika Tanah, Rekayasa Pondasi dan Struktur Bawah Tanah.

MEKANIKA TANAH

Pengertian

Mekanika tanah adalah bagian dari geoteknik yang merupakan salah satu cabang dari ilmu
teknik sipil. Mekanika tanah adalah cabang dari ilmu teknik dimana mekanika tanah khusus
mempelajari tentang perilaku tanah serta sifat yang diakibatkan oleh tegangan dan regangan yang
disebabkan oleh gaya - gaya yang bekerja pada tanah itu sendiri. Ini berkaitan dengan struktur tanah
serta bahan yang terdapat pada tanah tersebut. Karena pada dasarnya tanah berasal dari bebatuan
yang lapuk (badrudin, 2013). Istilah mekanika tanah diberikan oleh Karl von Terzaghi pada tahun
1925 melalui bukunya “Erdbaumechanik auf bodenphysikalicher Grundlage” (Mekanika Tanah
berdasar pada Sifat-Sifat Dasar Fisik Tanah), yang membahas tentang prinsip-prinsip dasar dari ilmu
mekanika tanah modern, dan menjadi dasar studi-studi lanjutan ilmu ini, sehingga Terzaghi disebut
sebagai “Bapak Mekanika Tanah” (Agustian,2012).

Ilmu ini sangat berhubungan erat dengan pekerjaan teknik, seperti halnya pekerjaan
perkerasan jalan raya, perencanaan pembuatan pondasi, perencanaan pembangunan bawah tanah
(gorong - gorong, terowongan, dan lain-lain), sampai pada perencanaan pembangunan penahan
longsor. Hal-hal yang menjadi pokok perhatian dalam ilmu mekanika tanah adalah kadar air, angka
pori, porositas, serta derajat kejenuhan. Karakteristik tanah juga merupakan poin terpenting dalam
mekanika tanah (Miniaha, 2013).

Agar suatu infrastruktur tersebut dapat berfungsi secara sempurna, maka seorang sarjana
teknik harus bisa membuat perkiraan dan pendugaan yang tepat tentang kondisi tanah dilapangan.
Oleh karena itu, sangat penting bagi sarjana teknik sendiri untuk ahli dalam berfikir menggunakan
logika.

Peran dalam Pembangunan

Dalam dunia teknik sipil, tanah merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah
pembangunan infrastruktur. Hal ini disebabkan karena tanah merupakan tumpuan dari bangunan
tersebut, semakin kuat tanah, maka umur bangunan tersebut otomatis akan sedikit lebih lama (jika
kekuatan bangunan dipengaruhi oleh tanah). Dalam dunia tenik sipil sendiri, ilmu mekanika tanah
digunakan pada berbagai pekerjaan penting seperti pekerjaan perkerasan jalan raya, pekerjaan
galian dan timbunan tanah, perencanaan pondasi gedung, perencanaa bangunan dibawah tanah
misalnya terowongan, perencanaan galian tanah, perencanaan bendungan, perencanaan bangunan
penahan tanah longsor, dan pekerjaan pondasi bangunan seprti gedung bertingkat tinggi (ahadi,-).

Dalam kajian mekanika tanah ini, hal yang paling penting dari tanah adalah Sifat Tanah. Sifat
tanah ini meliputi profil tanah, warna tanah, teksture tanah, struktur tanah, porositas tanah serta
konsistensi tanah.

Profil Tanah

Profil tanah ini merupakan sebuah penampang melintang tanah atau bisa disebut dengan
irisan tegak lurus kebawah dari permukaan tanah yang menampakkan lapisan-lapisan tanah.

Gambar 3: Profil Tanah

(Sumber: https://noviaanggra.wordpress.com/2012/05/21/sifat-siat-fisik-dan-sifat-morfologi-
tanah/)

Horizon O merupakan lapisan atas, lapisan olah dan lapisan humus. Horizon A adalah
horizon mineral ber BOT sehingga berwarna agak gelap. Horizon E horizon adalah horizon yang telah
tereluviasi atau biasa disebut dengan tercuci sehingga kadar BOT, liat silikat, F dan Al rendah, tetapi
pasir dan debu kuarsa seskuoksida dan mineral resisten lainnya telah tinggi dan berwarna gelap.
Sedangkan horizon B merupakan horizon illuvial atau tempat terakumulasinya bahan-bahan yang
tercuci dari horizon diatasnya. Horizon B sendiri terbagi lagi dalam beberapa sub lapisan seperti sub
lapisan B1 yang merupakan daerah peralihan horizon (warna agak gelap), sub lapisan B2 merupakan
daerah kandungan kapur tinggi (waran gelap) dan yang terakhir adalah sub lapisan B3 merupakan
daerah penimbunan unsur Fe. Selanjutnaya adalh horizon C. Horison ini adalah hasil pelapukan dan
penghancuran oleh iklim terhadap batuan induk yang berlangsung lama dan sifatnya mirip batuan
induk. Terakhir adalah horizon R (redrock) yang merupakan dasar daripada tanh itu sendiri yang
terdiri dari batuan yang sangat pejal dan belum mengalami pelapukan (anggara, 2012).

Profil tanah perlu dipelajari karena untuk mengetahui kedalaman lapisan olah yang disebut
dengan lapisan atas, dan solum, mengetahui kelengkapan atau differensiasi horizon pada profil,
serta untuk mengetahu warna tanah.

Warna Tanah

Warna tanah ini merupakan ciri utama yang paling mudah untuk mendeterminasi tanah.
Warna tanah berfungsi sebagai penunjuk warna tanah berfungsi sebagai penunjuk dari sifat tanah,
karena warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanah tersebut.
Penyebab perbedaan warna permukaan tanah umumnya dipengaruhi oleh perbedaan kandungan
bahan organik(Hardjowigeno, 1992). Warna tanah ditentukan dengan membandingkan warna tanah
tersebut dengan warna standar pada buku Munsell Soil Color Chart. Diagram warna baku ini disusun
tiga variabel, yaitu hue, value dan chroma. Dalam hal ini, Hue adalah warna spectrum yang dominan
sesuai dengan panjang gelombangnya, Value menunjukkan gelap terangnya warna, sesuai dengan
banyaknya sinar yang dipantulkan, dan Chroma menunjukkan kemurnian atau kekuatan dari warna
spektrum. Chroma didefiniskan juga sebagai gradasi kemurnian dari warna atau derajat pembeda
adanya perubahan warna dari kelabu atau putih netral ke warna lainnya (Anggara, 2012)

Teksture Tanah

Tekstur tanah ini menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah yang dinyatakan sebagai
perbandingan proporsi relative antara fraksi pasir, debu dan liat. Klasifikasi ukuran, jumlah dan luas
permukaan fraksi-fraksi tanah menurut Sistem USDA dan Sistem Internasional (dimodifikasi dari
Foth, 1984).
Diameter (mm) Jumlah pertikel Luas permukaan
Separat tanah
USDA Internasional (g-1) (cm2 g-1)
pasir sangat kasar 2,00 - 1,00 - 90 11

pasir kasar 1,00 - 0,50 - 720 23

pasir sedang 0,50 - 0,25 - 5.700 45

Pasir - 2,00 - 0,20 4.088 29

pasir halus 0,25 - 0,10 - 46.000 91

pasir sangat halus 0,10 - 0,05 - 722.000 227

Debu 0,05 - 0,002 - 5.776.000 454

Debu - 0,02 - 0,002 2.334.796 271

liat*) <0,002 <0,002 90.250.853.000 8.000.000

Tabel ini memperlihatkan bahwa makin kecil ukuran separate berarti makin banyak jumlah
dan makin luas permukaannya per satuan bobot tanah, yang menunjukkan makin padatnya partikel-
partikel per satuan volume tanah. Tanah yang didominasi pasir akan banyak mempunyai pori-pori
makro, tanah yang didominasi debu akan banyak mempunyai pori-pori meso, sedangkan yang
didominasi liat akan banyak mempunyai pori-pori mikro (shinta, 2015).

Struktur Tanah

Struktur tanah merupakan kenampakan atau susunan partikel-partikel primer tanah hingga
partikel sekunder yang membentuk agregat. Struktur tanah berfungsi memodifikasi pengaruh
tekstur terhadap kondisi drainse atau aerasi tanah, karena susunan antara agregat tanah akan
menghasilkan ruang yang lebih memudahkan system perakaran tanaman untuk berpenetrasi dan
mengabsorbsi hara dan air, sehingga pertumbuhan dan produksi menjadi lebih baik (Hanafiah,
2007). Jadi tanah yang bertekstur baik akan mempunyai kondisi drainase dan aerasi yang baik pula.

Porositas Tanah

Porositas adalah proporsi ruang pori tanah yang terdapat dalam suatu volume tanah yang
dapat ditempati oleh air dan udara , sehingga merupakan indicator kondisi drainase dan aerasi
tanah. Tanah yang poreus berarti tanah yang cukup mempunyai ruang pori untuk pergerakan air dan
udara masuk dan keluar tanah yang secara leluasa , sebaliknya jika tanah tidal poreus (Hakim ,1996).
Porositas tanah adalah kemampuan tanah dalam menyerap air berkaitannya dengan tingkat
kepadatan tanah. Semakin padat tanah berarti semakin sulit untuk menyerap air, maka porositas
tanah semakin kecil. Sebaliknya semakin mudah tanah menyerap air maka tanah tersebut memiliki
porositas yang besar (Shinta, 2015). Jadi porositas merupakan proporsi ruang pori tanah yang
terdapat dalam suatu volume tanah yang dimana tempat tersebut dapat ditempati oleh air dan
udara, yang mana dalam hal ini dipengaruhi oleh tingkat kepadatan tanah, semakin tanah tesebut
padat maka akan semakin sulit menyerap air sehingga porositas tanah semakin kecil dan juga
sebaliknya. Tanah yang porositasnya baik adalah tanah yang porositasnya besar karena perakaran
tanaman mudah untuk menembus tanah dalam menvari bahan organik. Selain itu tanah tersebut
mampu menahan air hujan sehingga tanaman tidak selalu kekurangan air.

Kesimpulan

Jadi, tanah adalah suatu benda berbentuk tiga dimensi, tersusun dari masa padat, cair dan
gas yang terdapat di permukaan bumi, berasal dari hasil pelapukan batuan dan atau dekomposisi
bahan organik. Komponen Tanah 4 komponen penyusun tanah yaitu bahan padatan berupa bahan
mineral, bahan padatan berupa bahan organic, air, dan udara. Tekstur tanah adalah keadaan
tingkat kehalusan tanah yang terjadi karena terdapatnya perbedaan komposisi kandungan fraksi
pasir, debu dan liat yang terkandung pada tanah Struktur tanah merupakan gumpalan-gumpalan
kecil dari dari butiran tanah. Pengukuran tanah adalah konsep umum yang menjelaskan teori dan
penerapan pengukuran bentang alam. Pengukuran tanah adalah unsur kualitatif yang utuh
dari survey. Dengan mengusai ilmu mekanika tanah ini yang terkonsentrasi pada kondisi tanah yang
ada, maka sebuah bangunan dapat direncanakan dengan baik misalnya pada perencanaan pondasi
tiang pancang yang merupakan jenis pondasi dalam maka perlu dilakukan penelitian terlebih dahulu
sehingga dengan begitu dapat kita diketahui jenis tanah dan letak permukaan tanah keras sehingga
kedalaman tiang pancang dapat ditetapkan. Contoh yang lain adalah pada struktur tanah yang tidak
terlalu bagus maka dapat ditetapkan pondasi tertentu sehingga bangunan dapat berdiri dengan
kokoh.

REKAYASA PONDASI
Pengertian
Rekayasa pondasi merupakan sebuah cabang dari ilmu geotekntik yang membahas tentang
pondasi baik struktur, bentuk dan lainnya. Sebuah bangunan tidak dapat begitu saja didirikan
langsung di atas permukaan tanah, oleh karena itu diperlukan pondasi. Pondasi merupakan suatu
bagian dari kontruksi bangunan yang berfungsi untuk menempatkan bangunan dan meneruskan
beban yang disalurkan dari struktur atas ke tanah dasar pondasi yang cukup kuat menahannya tanpa
terjadinya diferential pada system strukturnya (Azwaruddin, 2008).
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan tipe pondasi adalah keadaan tanah
pondasi, batasan-batasan akibat kontruksi diatasnya, keadaan daerah sekitar lokasi, waktu dan biaya
pekerjaan serta serta kokoh, kaku dan kuat pondasi tersebut (Azwaruddin, 2008). Kriteria pondasi
yang harus dipenuhi dalam perencanaan suatu pondasi yaitu pondasi harus ditempatkan dengan
tepat, sehingga tidak longsor akibat pengaruh luar, dan juga pondasi harus aman dari kelongsoran
daya dukung, serta pondasi harus aman dari penurunan yang berlebihan

Peran dalam Pembangunan


Secara umum bangunan sipil meliputi dua bagian utama yaitu struktur bagian atas dan
srtuktur bagian bawah. Struktur yang berada di bagian bawah yaitu pondasi yang berinteraksi
dengan tanah dan akan memberikan keamanan bagi struktur atas. Struktur bawah sebagai pondasi
juga secara umum dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam.

Pondasi Dangkal

Pondasi dangkal biasanya dibuat dekat dengan permukaan tanah, umumnya kedalaman
pondasi didirikan kurang 1/3 dari lebar pondasi sampai dengan kedalaman kurang dari 3 m.
Kedalaman pondasi dangkal ini bukan aturan yang baku, tetapi merupakan sebagai pedoman.
Pondasi dangkal biasanya digunakan ketika tanah permukaan yang cukup kuat dan kaku untuk
mendukung beban yang dikenakan dimana jenis struktur yang didukungnya tidak terlalu berat dan
juga tidak terlalu tinggi (khedanta, 2011). Pondasi dangkal terdiri dari pondasi menerus, pondasi
setempat, pondasi kontruksi sarang laba-laba, pondasi tapak, pondasi tikar, pondasi umpak, dan
pondasi rakit

Pondasi Menerus

Gambar 4: Pondasi Menerus


(Sumber: http://kontemporer2013.blogspot.com/2013/08/jenis-jenis-pondasi-bangunan.html)

Gambar 5: Pondasi Menerus tapi dengan batu bata

(Sumber: http://kontemporer2013.blogspot.com/2013/08/jenis-jenis-pondasi-bangunan.html)

Pondasi ini dibuat dalam bentuk memanjang dengan potongan persegi ataupun trapesium.
Penggunaan bahan pondasi ini biasanya sesuai dengan kondisi lingkungan atau bahan yang tersedia
di daerah setempat. Bahan yang digunakan bisa dari batu kali, batubata atau beton kosong/tanpa
tulangan dengan adukan 1 semen : 3 Pasir : 3 kerikil. Keuntungan memakai pondasi ini adalah beban
bangunan dapat disalurkan secara merata, dengan catatan seluruh pondasi berdiri diatas tanah
keras (Karnadi, 2013)
Pondasi Setempat

Gambar 6: Pondasi Setempat

(Sumber: http://kontemporer2013.blogspot.com/2013/08/jenis-jenis-pondasi-bangunan.html)

Pondasi telapak berbentuk seperti telapak kaki seperti ini.Pondasi ini setempat, gunanya
untuk mendukung kolom baik untuk rumah satu lantai maupun dua lantai. Jadi, pondasi ini
diletakkan tepat pada kolom bangunan.Pondasi ini terbuat dari beton bertulang. Dasar pondasi
telapak bisa berbentuk persegi panjang atau persegi (Karnadi, 2013).

Pondasi Kontruksi Sarang Laba-laba

Gambar 7: Pondasi Kontruksi Sarang Laba-laba

(Sumber: http://kontemporer2013.blogspot.com/2013/08/jenis-jenis-pondasi-bangunan.html)

Pondasi ini memanfaatkan tanah sebagai bagian dari struktur pondasi itu sendiri.
Pondasi Sarang Laba-Laba dapat dilaksanakan pada bangunan 2 hingga 8 lantai yang didirikan diatas
tanah dengan daya dukung rendah (Karnadi, 2013)

Pondasi Tapak

Gambar 8: Pondasi Tapak

(Sumber: https://khedanta.wordpress.com/2011/08/04/jenis-pondasi/)

Pondasi tapak digunakan untuk mendukung beban titik individual seperti kolom
struktural. Pondasi tapak ini dapat dibuat dalam bentuk melingkar, dan persegi.
Pondasi tapak disamping diterapkan dalam pondasi dangkal dapat juga digunakan untuk pondasi
dalam (Khedanta, 2011)
Pondasi Tikar

Gambar 9: Pondasi Tikar

(Sumber: https://khedanta.wordpress.com/2011/08/04/jenis-pondasi/)

Pondasi tikar digunakan untuk menyebarkan beban dari struktur atas area yang luas,
biasanya dibuat untuk seluruh area struktur. Pondasi tikar digunakan ketika beban kolom atau beban
struktural lainnya berdekatan dan pondasi tapak saling berinteraksi. Pondasi tikar
sering dipergunakan pada tanah lunak atau longgar dengan kapasitas daya tahan rendah (Khedanta,
2011)

Pondasi Umpak

Gambar 10: Pondasi Umpak

(Sumber: http://syiehpnl.blogspot.co.id/2013/08/jenis-jenis-pondasi-dangkal.html)

Pondasi umpak dijumpai pada rumah kayu, rumah-rumah adat, rumah jaman dulu. Pondasi
jenis ini masih bisa ditemui di perdesaan, yang mayoritas rumahnya masih berstruktur kayu. Rumah
nenek anda pun mungkin masih menggunakannya. Pondasi umpak merupakan pondasi setempat,
terletak di bawah kolom kayu atau bambu. Biasanya menggunakan material batu kali yang dipahat,
pasangan batu ataupun pasangan bata (Syahrizal, 2013).

Pondasi Rakit

Gambar 11: Pondasi Rakit

(Sumber: http://syiehpnl.blogspot.co.id/2013/08/jenis-jenis-pondasi-dangkal.html)

Pondasi rakit bisa digunakan untuk mendukung bangunan yang terletak di tanah lunak.
Selain itu, pondasi ini juga berguna untuk mendukung kolom-kolom yang jaraknya terlalu
berdekatan karena tidak mungkin untuk dipasangi telapak satu per satu, solusinya yakni dijadikan
satu kekakuan (Syahrizal, 2013).

Pondasi Dalam

Pondasi dalam adalah pondasi yang didirikan permukaan tanah dengan kedalam tertentu
dimana daya dukung dasar pondasi dipengaruhi oleh beban struktural dan kondisi permukaan
tanah. Pondasi dalam biasanya dipasang pada kedalaman lebih dari 3 m di bawah elevasi
permukaan tanah (Kharnadi,2013). Pondasi dalam terdiri dari pondasi bored pile dan pondasi
sumuran

Pondasi Bored Pile

Gambar 12: Pondasi Bored Pile

(Sumber: http://kontemporer2013.blogspot.com/2013/08/jenis-jenis-pondasi-bangunan.html)

Pondasi Bored Pile adalah bentuk pondasi dalam yang dibangun di dalam permukaan tanah
dengan kedalaman tertentu. Pondasi di tempatkan sampai ke dalaman yang dibutuhkan dengan cara
membuat lobang yang dibor dengan alat khusus. Setelah mencapai kedalaman yang disyaratkan,
kemudian dilakukan pemasangan begisting yang terbuat dari plat besi, kemudian dimasukkan rangka
besi pondasi yang telah dirakit sebelumnya, lalu dilakukan pengecoran terhadap lobang yang sudah
di bor tersebut (Karnadi, 2013).

Pondasi Sumuran

Gambar 13: Pondasi Sumuran

(Sumber: http://kontemporer2013.blogspot.com/2013/08/jenis-jenis-pondasi-bangunan.html)

Pondasi sumuran sangat tepat digunakan pada tanah kurang baik dan lapisan tanah
kerasnya berada pada kedalaman lebih dari 3m. Diameter sumuran biasanya antara 0.80 - 1.00 m
dan ada kemungkinan dalam satu bangunan. Disebut pondasi Sumuran, karena dalam
pengerjaannya membuat lubang-lubang berbentuk sumur (Karnadi, 2013).

Kesimpulan
Jadi, rekayasa pondasi merupakan cabang ilmu geoteknik yang mempelajari pondasi, dan
juga sebuah ilmu yang digunakan untuk analisis penggunaan pondasi, misal bangunan A pondasinya
yang ini, bangunan B harus yang ini, dan seterusnya. Pondasi sendiri adalah struktur bagian bawah
bangunan yang berhubungan langsung dengan tanah, atau bagian bangunan yang terletak dibawah
permukaan tanah yang mempunyai fungsi memikul beban bagian bangunan lainnya di atasnya.
Pondasi harus diperhitungkan untuk dapat menjamin kestabilan bangunan terhadap beratnya
sendiri, beban-beban bangunan, gaya-gaya luar seperti tekanan angin, gempa bumi, dan lain-lain.
Disamping itu, tidak boleh terjadi penurunan level melebihi batas yang diijinkan. Untuk memilih tipe
pondasi, yang perlu diperhatikan adalah seberapa cocok pondasi tersebut untuk berbagai keadaan di
lapangan dan seberapa lama pondasi tersebut akan terselesaikan.
Pondasi yang merupakan bagian dari konstruksi bangunan harus memenuhi beberapa syarat
yaitu cukup kuat untuk mencegah/menghindarkan timbulnya patah geser yang disebabkan muatan
tegak ke bawah. Dapat menahan gangguan dari unsur-unsur kimiawi di dalam tanah baik
organik maupun anorganik. Dapat menahan tekanan air yang mungkin terjadi. Suatu konstruksi
pondasi yang tidak cukup kuat dan kurang memenuhi persyaratan tersebut diatas, dapat
menimbulkan kerusakan pada bangunannya. Akibat yang ditimbulkan oleh kerusakan ini,
memerlukan perbaikan dari bangunannya bahkan kemungkinan terjadi seluruh bangunan menjadi
rusak dan harus dibongkar.
Pondasi sendiri pada umumnya memiliki 2 jenis, yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam.
Pondasi dalam meliputi pondasi menerus, pondasi setempat, pondasi kontruksi sarang laba-laba,
pondasi tapak, pondasi tikar, pondasi umpak, dan pondasi rakit. Sedangkan pondasi dalam meliputu
pondasi bored pile dan pondasi sumuran. Definisinya telah dijelaskan diatas.

PERAN ILMU GEOTEKNIK DALAM PEMBANGUNAN

Jadi, ilmu geoteknik adalah ilmu yang digunakan untuk berbagai analasis dan perhitungan
dalam aspek pembangunan, baik analisis tanah, hingga perhitungan beban bangunan itu sendiri
serta beban luar yang menimpanya. Ilmu ini juga digunakan untuk memilih pondasi yang cocok
untuk sebuah bangunan, misalnya, beban yang diterima sekian, maka harus memakai pondasi yang
ini, jika bebannya sekian maka pakai pondasi yang ini, dan seterusnya. Oleh karena itu, jika kita ingin
membangun sebuah bangunan, maka ilmu ini harus diterapkan untuk perencanaan maupun
pelaksaan. Hal ini dikarenakan ilmu geoteknik merupakan hal dasar dalam sebuah pembangunan
dan dengan ilmu ini umur pakai sebuah bangunan dapat diperkirakan.
DAFTAR PUSTAKA

Agustian, Robi. 2012. Geoteknik, (Online), (http://robiagustian.blogspot.co.id/2012/04/geoteknik.html,


diakses pada tanggal 18 Oktober 2015).

Anggara, Novia. 2012. Sifat-Sifat Fisik dan Sifat Morfologi Tanah, (Online),
(https://noviaanggra.wordpress.com/2012/05/21/sifat-siat-fisik-dan-sifat-morfologi-tanah/, diakses
pada tanggal 15 desember 2015).

Aryani, Lutfhi. 2014. Mekanika Tanah Dan Batuan, (Online),


(http://luthfiaify.blogspot.co.id/2014/11/materi-teknik-geologi.html, diakses pada tanggal 18
Oktober 2015).

Azwaruddin. 2008. Pengertian Pondasi, (Online), (http://azwaruddin.blogspot.co.id/2008/06/pengertian-


pondasi.html, diakses pada tanggal 15 desember 2015).

Das, Braja, M., 1985, Mekanika Tanah (Prinsip-Prinsip Rekayasa Geoteknis) Jilid-1, Erlangga, Jakarta.

Elisabeth, Gracesia. 2015. Makalah Tiang Pancang Rekayasa Pondasi, (Online),


(http://gracesimpo.blogspot.co.id/2015/05/v-behaviorurldefaultvmlo.html, diakses pada tanggal 17
Oktober 2015).

Karnai, Edi. 2013.Mengenal Jenis-Jenis Pondasi Bangunan, (Online),


(http://kontemporer2013.blogspot.com/2013/08/jenis-jenis-pondasi-bangunan.html, diakses pada
tanggal 15 desember 2015).

Khedata. 2011. Jenis Pondasi, (Online), (https://khedanta.wordpress.com/2011/08/04/jenis pondasi/,


diakses pada tanggal 15 desember 2015).

Kusuawaty, Fitri. 2012. Warna dan Struktur Tanah, (Online),


(http://fitrikusumawaty.blogspot.co.id/p/warna-dan-struktur-tanah-ddit.html. Diakses pada tanggal
15 desember 2015).

Madin, Irah, Susi. 2015. Teori Dasar Geologi Dan Kontruksi, (Online),
(http://susiirahmadinii.blogspot.co.id/2015/02/tugas-geologi-rekayasa.html, diakses pada tanggal 17
Oktober 2015).
Miniaha. 2013. Pengertian Mekanika Tanah, (Online),
(http://miniaha34.blogspot.co.id/2013/08/pengertian-dan-contoh-soal-mekanika.html, diakses pada
tanggal 15 desember 2015

Mustai. Makalah Pondasi, (Online), (http://mustari-teknikcivil.blogspot.co.id/2010/01/makalah-


pondasi.html, diakses pada tanggal 15 desember 2015.

Rofiq, M. 2015. Mekanika Tanah, (Online),

(http://resipil.blogspot.co.id/2015/01/mekanika-tanah.html, diakses pada tanggal 18 Oktober 2015.

Shinta. 2015. Makalah Dasar Ilmu Tanah-Sifat Fisik Tanah, (Online),


(http://shintapertanian.blogspot.co.id/2015/04/unikal-makalah-genetika-tumbuhan-sifat.html,
diakses pada tanggal 15 desember 2015).

Sianturi, Erwin, P. 2011. Rekayasa Pondasi, (Online), (http://erwinsianturi.blogspot.co.id/, diakses pada


tanggal 17 Oktober 2015).

Sutama, Adji. Rekayasa Pondasi 1 (Pondasi Dangkal dan Pondasi Dalam), (Online),
(https://adjisutama.wordpress.com/teknik-sipil/rekayasa-pondasi-i-pondasi-dangkal-dan-pondasi-
dalam/, diakses pada tanggal 15 desember 2015).

Syahrizal. 2013. Jenis-Jenis Pondasi Dangkal, (Online), (http://syiehpnl.blogspot.co.id/2013/08/jenis-jenis-


pondasi-dangkal.html, diakses pada tanggal 15 desember 2015).

Wijaya, Hadi. 2012. Geoteknik dan Hidrogelogi, (Online),


(http://hadiwijayatambang.blogspot.co.id/2012/01/geoteknik-dan-hidrogeologi-geoteknik.html,
diakses pada tanggal 8 November 2015).

Diposting oleh heryudha hendra di 11.25

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

http://heryudhahendra.blogspot.co.id/2016/01/artikel-peran-penting-ilmu-geoteknik.html
Geologi di Tengah Gencarnya Infrastruktur
post date: 14-Feb-2017

 ‘’Geologist not only about exploration and exploitation of resource. We also serve
nation by supporting best infrastructure.’’

Itulah kalimat penutup dari presentasi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono yang disampaikan oleh Dirjan Bina Marga Arie
Setiadi pada perhelatan GIC 2016 di Bandung Oktober silam. Sebuah untaian kalimat
yang mengingatkan bahwa peran geologi dalam pembangunan infrastuktur sangatlah
strategis.

Sejauh ini geologi memang identik dengan eksprorasi dan eksploitasi bidang migas
dan minerba. Sampai tahun 2000an orientasi mahasiswa setelah lulus ingin bekerja di
kedua bidang itu karena menjanjikan penghasilan yang jauh di atas rata-rata. Hasil
dari riset kecil-kecilan di sebuah perguruan tinggi menunjukkan kecenderungan
tersebut.

Kini ketika dalam beberapa tahun terakhir harga migas dan minerba merosot, mulai
ada lirikan ke bidang lain, termasuk geologi teknik. Apalagi pemerintahan Jokowi ini
menempatkan pembangunan infrastuktur sebagai prioritas. Ditambah lagi jumlah
prodi geologi yang meningkat drastis sehingga lulusan geologi menumpuk yang tentu
saja tak mungkin tertampung di industri migas dan minerba.

Kesempatan berkarier di geologi teknik menjadi kian terbuka manakala menteri


pekerjaan umum adalah lulusan geologi. Ada nuansa berbeda ketika posisi tertinggi di
kementerian PPUPR dikomandani seorang geolog. Peran ilmu geologi yang
sebelumnya seakan berada di area pinggiran, kini ditarik ke tengah. Geologi sudah
dijadikan poros keberhasilan pembangunan infrastruktur. Geolog menjadi kunci
keselamatan bangunan infrastuktur.

Dibangunnya bendungan Jatigede yang sudah mangkrak puluhan tahun, selain karena
instruksi dari Presiden Jokowi, tidak lepas pula dari nyali Menteri PUPERA. Selama
ini salah satu faktor yang membikin ‘takut’ adalah keberadaan sesar Baribis yang
melewati bendungan tersebut. Bagi menteri Basuki, keberadaan sesar bisa disiasati
berdasarkan kajian ilmiah dengan meminimalisir risiko yang mungkin ditimbulkan
oleh sesar tersebut.

Benar bahwa kenyataan selama ini tak sedikit infrastruktur yang rusak karena
mengabaikan kondisi geologi. Ambruknya bangunan wisma atlet di Hambalang
misalnya, lepas dari masalah korupsi yang membelit, daerah tersebut secara geologi
kurang layak untuk pembangunan gedung. Batuan dasar berupa lempung yang
menjadi bidang gelincir terjadinya longsor tanah.

Begitu pula jalan Tanjung Redeb di Kalimantan Timur. Karena kajian geologi
diabaikan akhirnya jalan tersebut ambles dan sebagian patah, setiap tahun
membutuhkan miliaran rupiah untuk memperbaikinya. Gerakan tanah yang aktif terus
merusakkan infrastuktur jalan. Padahal jika sejak awal problematika geologi menjadi
pijakan, hancurnya prasarana jalan itu bisa diantisipasi dengan baik.

Contoh paling fenomenal adalah jebolnya bendungan ST Fransiskus pada 1928 di


Kalifornia Amerika Serikat. Bendungan itu runtuh sehingga menggelontorkan 24 juta
meter kubik air menyapu Lembah Santa Clara. Kota Santa Paula terkubur sampai
enam meter, tersetat 450 meninggal termasuk 42 anak sekolah. Penyebab runtuhnya
bendungan karena diabaikannya kondisi geologi dimana bendungan berada pada
wilayah paleomega landslide.

Peran geologi sangat vital dalam pembangunan infrastuktur. Dari analisis kondisi
geologi hasilnya akan memberikan kesimpulan apakah bangunan infrastruktur itu
tetap dilanjutkan atau tidak. Jika dilanjutkan bagaimana strategi meminimalisir risiko,
di sini geolog akan memberikan masukan kepada ahli teknik sipil sebagai pelaksana
pembangunan.

Dalam basis analisis, selain faktor daya dukung tanah, fenomena geologi juga menjadi
faktor krusial, misalnya apakah daerah tersebut merupakan wilayah gempa, atau
daerah patahan, atau bagaimana jenis batuan dan struktur stratigrafinya, dan
sebagainya. Kajian tersebut menjadi bekal untuk merancang bangunan yang kelak
tahan terhadap fenomena geological hazard.

Geolog dengan spesifikasi apa yang menjadi bagian dari pembangunan infrastruktur?
Basuki membuat daftar ada 28 profesi yang menjadi spesialisasi geolog, dua di
antaranya yang paling dekat dengan pembangunan infrastruktur yakni engineering
geologist dan geotechnical geologist.

Dalam perspektif keteknikan peran geologi berada pada posisi antara melihat ke
belakang dan merancang ke depan. Maksudnya, geolog akan melihat kebelakang
untuk mengetahui bagaimana proses geologi di daerah tersebut, sekaligus juga
melihat ke depan bagaimana merancang rekayasa (looking back at geologic processes
and forward to engineering products)

Geologi juga menjadi salah satu faktor penting sejak sebelum pekerjaan kontruksi
sampai pada berlangsungnya pembangunan kontruksi, apakah itu di bawah
permukaan tanah atau di atas tanah. Termasuk juga menentukan dan memahami
material bumi yang ada di wilayah tersebut. Menjadi tugas berat bagi geolog karena
untuk mengurangi dampak bahaya geologi terkadang harus berlawanan dengan
kepentingan manusia.

Indonesia yang berada pada sabuk vulkanis (ring of fire) sejatinya sudah akrab dengan
geological hazard. Hampir seluruh tempat di Indonesia juga lekat dengan potensi
bencana, sehingga bisa dikatakan bahwa di seluruh wilayah pembangunan
infrastruktur terancam bencana geologi. Karena itu peran geolog sangat strategis dan
menjadi kunci dalam pembangunan infrastruktur.

Belajar dari Kasus Hambalang

Para koruptor pada proyek Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) sudah
masuk bui. Dan proyek yang menelan dana Rp 2,1 triliun itu kini terbengkelai. Bukan
saja karena dananya telah dikorupsi, tetapi juga lantaran pembangunan komplek
tersebut tidak memperhatikan faktor geologi. Terbukti dua bangunan yakni Lapangan
Indoor dan Power House ambruk karena tanah pijakannya amblas dua hingga lima
meter.

Beberapa lama kemudian Menteri PUPERA Basuki Hadimuljono lantas membuat tim
audit teknis dari pakar pakar termasuk pakar geologi dari ITB, UI, dan UGM untuk
meneliti secara keseluruhan bangunan di Hambalang. Tiga aspek yang diteliti
yakni dari segi geologi dan geologi teknik, dari segi gerakan tanahnya, dan dari segi
aspek bangunannya.

Beberapa hasil kajian yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa Hambalang
berada di Formasi Jatiluhur yang berupa clay shale (batu lempung yang terdiri atas
lapisan-lapisan tipis). Sifat mekanis clay shale ini ketika kering akan menyusut dan
mengeras, tapi ketika basah akan mengembang, sehingga clay shale ini digolongkan
tanah ekspansif. Pada kondisi basah, batuan ini kehilangan gaya geser sehingga
penurunan tanah bisa terjadi tiba-tiba.

Dengan kondisi geologi seperti itu, pondasi bangunan tidak bisa berada pada clay
stone. Karena itu ketika bangunan proyek Hambalang ini didirikan di lapisan batuan
tersebut, keruntuhan bangunan sudah terjadi. ‘’Harusnya pondasi sampai pada batuan
basement,’’ kata Basuki. Perlu diketahui juga bahwa daerah Hambalang menurut
Badan Geologi merupakan zona merah yang tidak boleh dihuni.

Ambruknya bangunan di proyek Hambalang menunjukkan bahwa kajian geologi


sangat penting untuk pembangunan infrastruktur. Kondisi geologi harus menjadi
pertimbangan utama, tidak bisa diabaikan. Dari kajian tersebut, kondisi geologi yang
ada bisa disiasati, tetapi bisa juga sama sekali tidak bisa diajak kompromi.@

Catatan: Artikel pernah terbit di Berita IAGI Edisi Okt 2016

https://www.iagi.or.id/geologi-di-tengah-gencarnya-infrastruktur.html
KONDISI GEOLOGI DAN IMPLIKASINYA PADA KONSTRUKSI JEMBATAN
SURABAYA-MADURA
BAB 1

PENDAHULUAN

Pembangunan pada dasarnya merupakan suatu rangkaian upaya yang dilakukan terus
menerus untuk mencapai tingkat kehidupan masyarakat yang sejahtera. Sejalan dengan semakin
pesatnya pembangunan dan dimulainya era perbaikan di segala bidang, baik industri, perdagangan
maupun pariwisata, tentunya akan disertai dengan pembangunan infrastruktur untuk menunjangnya.

Suatu infrastruktur (konstruksi) yang baik harus dibangun berdasarkan pertimbangan yang
matang sehingga nantinya konstruksi tersebut dapat bertahan dalam waktu yang lama dan tetap
dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Ilmu geologi yang mempelajari bumi, tempat konstruksi
tersebut berdiri, memiliki kontribusi dan peranan yang sangat vital untuk dapat menunjang
terciptanya maksud dan tujuan pembangunan konstruksi tersebut sehingga diharapkan
pembangunan konstruksi dapat berlangsung dengan cepat dan murah dengan hasil yang memuaskan.

Dalam pembangunan suatu konstruksi, terdapat tiga tahapan utama, yaitu pra konstruksi, syn
konstruksi, dan pasca konstruksi. Pada tahapan pra konstruksi ini peranan geologist mutlak diperlukan
untuk menginvestigasi kondisi geologi daerah konstruksi sehingga didapatkan data dan informasi
geologi yang diperlukan. Data dan informasi geologi tersebut nantinya akan menentukan tahapan
konstruksi selanjutnya (desain konstruksi). Data dan informasi geologi yang diperlukan meliputi
informasi geologi permukaan yang berupa data tanah, batuan, airtanah, struktur geologi, dan
stratigrafi daerah rencana konstruksi. Sedangkan untuk informasi geologi bawah permukaan meliputi
pemetaan, coring, dan pengukuran geofisika lainnya.

Pada tahapan selanjutnya yaitu syn-konstruksi. Pada tahap ini, geologist berperan dalam
mengawasi perkembangan konstruksi suatu bangunan berdasarkan keadaan geologi yang telah
diidentifikasi sebelumnya. Pada tahap selanjutnya yaitu tahapan pasca konstruksi, geologist berperan
dalam maintenance terkait perkembangan kondisi geologi pada daerah konstruksi tersebut.
Indonesia adalah negara dengan gugusan pulau terbesar di dunia. Saat ini, akses penghubung
antar pulau tersebut sebagian besar masih menggunakan akses laut yang lebih lama dan memakan
biaya yang besar. Sehingga untuk menunjang kegiatan pembangunan dan perekonomian antar pulau,
diperlukan adanya akselerasi infrastruktur tertentu untuk menunjang pembangunan tersebut. Salah
satunya adalah pembangunan jembatan.

Jembatan merupakan akses penghubung pulau paling efisien hingga saat ini karena jembatan
dapat memindahkan suatu komoditi dengan waktu lebih cepat, lebih aman, dan lebih murah. Dengan
adanya jembatan maka diharapkan pertumbuhan ekonomi daerah terdampak akan bertambah
dengan lebih cepat. Oleh karena itu, kami mengambil permasalahan mengenai konstruksi jembatan
dan implikasi geologi terhadap konstruksi tersebut. Jembatan yang kami pilih sebagai case study
adalah jembatan paling fenomenal di Indonesia, jembatan terpanjang di Indonesia, yaitu jembatan
Suramadu yang menghubungkan pulau Surabaya dan pulau Madura. Jembatan ini memiliki desain
konstruksi yang cukup menarik untuk dibahas akibat adanya kompleksitas keadaan geologi daerah
tersebut.
BAB II

DASAR TEORI

Geologi adalah ilmu yang mempelajari asal, struktur, komposisi, sejarah, dan proses-proses
yang terjadi di Bumi. Dalam ilmu geologi terdapat cabang ilmu lain yaitu Geologi Teknik. Geologi
Teknik adalah cabang ilmu geologi yang berperan dalam rekayasa keteknikan suatu konstruksi
bangunan berdasarkan kondisi dan aspek-aspek geologinya.

Data-data geologi yang diperlukan untuk menunjang konstruksi berupa :

1. Morfologi dan kemiringan

Meliputi kondisi bentang alam beserta unsur-unsur geomorfologi lainnya, penafsiran genesa
morfologi dan perkembangan geomorfologi yang mungkin akan terjadi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah keadaan bentuk lembah, pola aliran sungai, sudut
lereng, pola gawir dan bentuk-bentuk bukit. Morfologi atau bentang alam seperti tampak pada saat
sekarang ini merupakan hasil kerja dari sistem alam, yaitu proses-proses dalam bumi
(tektonik/vulkanisme) dan proses-proses luar (air permukaan, gelombang, longsoran, tanaman,
binatang termasuk manusia).

Morfologi sangat penting dalam hubungannya dengan pelaksanaan pembangunan, yaitu


untuk mengetahui karakteristik bentang alamnya seperti kemiringan lereng dalam kaitannya dengan
jangkauan optimum sudut lereng untuk keperluan kesampaian lokasi dan operasional kendaraan
pengangkut bahan bangunan dan tataguna lahan pada saat ini.

2. Satuan tanah dan batuan

Satuan tanah dan batuan memberikan informasi mengenai susunan atau urutan stratigrafi
dari tanah dan batuan secara vertikal maupun horisontal. Untuk itu perlu dilakukan pemerian sifat
fisik dan keteknikan tanah/batuan yang dapat diamati langsung di lapangan secara megaskopis.

Penyusunan satuan geologi teknik dilakukan dengan cara pengelompokan tanah dan batuan
yang mempunyai sifat fisik dan keteknikan yang sama atau mendekati sama. Informasi mengenai
kondisi tanah dan batuan ini sangat mutlak diperlukan untuk pembuatan pondasi suatu bangunan.

3. Struktur Geologi
Struktur geologi meliputi pemerian jurus dan kemiringan lapisan batuan, kekar, rekahan,
sesar, lipatan dan ketidakselarasan. Data ini sangat penting dalam pekerjaan pembangunan
infrastruktur guna mengurangi kemungkinan failure akibat struktur geologi atau memecahkan
permasalahan yang dapat terjadi akibat struktur geologi seperti longsor.

Intensitas kekar atau retakan, tingkat kehancuran batuan yang diakibatkan oleh adanya sesar
terutama bila dijumpai sesar aktif maupun perselingan lapisan batuan yang miring adalah merupakan
zona lemah yang dapat menimbulkan permasalahan yang masif seperti longsor dan amblesan.

4. Airtanah

Pengamatan yang perlu dilakukan meliputi kedalaman muka air tanah bebas, sifat korosifitas
air tanah, dan munculnya mata air atau rembesan yang dapat mempengaruhi perencanaan konstruksi
pondasi bangunan. Investigasi airtanah diperlukan untuk mengetahui tingkat korosivitas dan
kemungkinan amblesan akibat air tanah dari bangunan tersebut.

5. Bahaya Geologi

Meliputi pengamatan dan penilaian tentang ada tidaknya bahaya yang mungkin dapat terjadi
sebagai akibat dari faktor geologi. Identifikasi bahaya geologi sangat erat kaitannya dengan
pembangunan infrastruktur, karena dikhawatirkan akan menjadi kendala atau hambatan selama
pembangunan maupun pasca pembangunan, antara laian struktur sesar aktif, gerakan tanah/batuan,
banjir bandang, amblesan tanah/batuan, bahaya kegunungapian, erosi dan abrasi, kegempaan,
tsunami, dan lempung mengembang.

Selain data-data geologi, pengetahuan terhadap desain konstruksi sangat penting diketahui.
Dalam hal ini, konstruksi yang direncanakan berupa bangunan jembatan.

Jembatan adalah suatu bangunan teknik/struktur konstruksi yang dibuat untuk menyebrangi
suatu rintangan seperti lembah/sungai/rel kereta api/jalan raya dibangun untuk laluan pejalan
kaki/kendaraan. Jembatan seiring dengan berjalan waktu, mengalami perubahan macam, bentuk, dan
bahan sesuai dengan kemajuan zaman dan teknologi mulai dari yang sedehana sampai paling
mutakhir.

Pada umumnya suatu bangunan jembatan terdiri dari 4 bagian pokok, yaitu:

1. Konstruksi bangunan atas (superstructure)

Konstruksi bangunan atas (superstructure) yaitu bangunan yang berada pada bagian atas
suatu jembatan yang berfungsi menampung beban-beban yang ditimbulkan oleh suatu lintasan
orang/kendaraan, dll kemudian menyalurkan bebannya pada bagian bawah. Bagian-bagian
superstructures terdiri atas atas :

- Trotoir : Sandaran dan peninggi trotior, konstruksi trotoir


- Lantai kendaraan
- Balok diafragma
- Balok gelagar
- Ikatan pengaku
- Perletakan (rol dan sendi)
2. Konstruksi bangunan bawah (substructure)

Konstruksi bangunan bawah (substructure) yaitu bangun jembatan yang terletak pada bagian
bawah, yang fungsinya menerima beban-beban yang diberikan bangunan atas dan kemudian
menyalurkan ke pondasi. Beban tersebut kemudian oleh pondasi disalurkan ke tanah. Meliputi :

- Pangkal jembatan (abutment dan pondasi)


- Pilar (pier dan pondasi)

Gambar II-1. Konstruksi jembaran

3. Pondasi

Pondasi jembatan berfungsi meneruskan seluruh beban jembatan ke tanah dasar.


Berdasarkan sistimnya, fondasi abutment atau pier jembatan dapat dibedakan menjadi beberapa
macam jenis, antara lain :

a) Pondasi telapak (spread footing)

b) Pondasi sumuran (caisson)

c) Pondasi tiang (pile foundation)

 Tiang pancang kayu (Log Pile),


 Tiang pancang baja (Steel Pile),
 Tiang pancang beton (Reinforced Concrete Pile),
 Tiang pancang beton prategang pracetak (Precast Prestressed Concrete Pile),
 Tiang beton cetak di tempat (Concrete Cast in Place),
 Tiang pancang komposit (Compossite Pile)
4. Oprit

Oprit merupakan timbunan jalan pendekat jembatan, yaitu segmen yang menghubungkan
konstruksi perkerasan dengan kepala jembatan. Permasalahan utama pada timbunan jalan pendekat
ini yaitu sering terjadinya penurunanatau deformasi pada ujung pertemuan antara struktur
perkerasan jalan terhadap ujung kepala jembatan.

Gambar II-2. Oprit jembaran


Gambar II-3. Oprit jembaran (Teknis)
BAB III

STUDI KASUS

KONDISI GEOLOGI DAN IMPLIKASINYA PADA KONSTRUKSI JEMBATAN SURABAYA-MADURA

Pembangunan jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) sangat dipengaruhi oleh kondisi


geologi daerah konstruksi. Suatu jembatan perlu bertumpu pada batuan yang rigid dari berbagai aspek
agar stabilitas dan keberlangsungan jembatan dapat terpenuhi sesuai yang direncanakan. Aktivitas
tektonik/struktur geologi dan kondisi geologi lainnya dapat menyebabkan batuan yang sebelumnya
terbentuk cukup masif akan dapat menjadi retak atau pecah dan membentuk zona zona lemah.
Keberadaan zona lemah pada batuan pondasi menyebabkan penurunan kualitas batuan. Karena itu
keberadaan zona lemah ini perlu mendapat perhatian lebih dalam perencanaan kontruksi jembatan.

GEOLOGI REGIONAL DAERAH KONSTRUKSI

Secara fisiografi daerah Surabaya-Madura dan sekitarnya termasuk bagian Timur Perbukitan
Kendeng, bagian Tengah Perbukitan Rembang-Madura, Pedataran Aluvium Jawa sebelah Utara,
Pedataran Tengah Jawa Timur dan bagian Timur lekuk Randublatung (Gambar III-1 dan III-2).

Tiga satuan morfologi dapat di bedakan di daerah ini, yaitu dataran rendah, perbukitan
bergelombang dan perbukitan karst. Dataran rendah menjulang hingga 25 m di atas permukaan laut,
dan terbentang di bagian Selatan dan Tengah. Daerah dibagian Selatan merupakan bagian dari delta
Sidoarjo yang dibentuk oleh K. Surabaya dan K. Porong. Perbukitan bergelombang menjulang antara
15-200 m di atas permukaan laut, umumnya berpuncak tumpul dan landai. Satuan ini terbentang di
bagian Utara dan Barat. Daerah Perbukitan Karst menjulang antara 50-200 m di atas permukaan laut,
dan menempati bagian Timurlaut. Di daerah ini umumnya lereng agak terjal.

Gambar III-1. Sketsa Peta Fisiografi Lembar Surabaya dan Sepulu (Sukardi,1992)

Gambar III-2. Fisiografi Pulau Jawa (Van Bemmelen, 1949) dan lokasi pembangunan jembatan
Surabaya-Madura
Gambar III-3. Peta Geologi Lembar Surabaya & Sapulu (Supandjono, dkk, 1992)

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Surabaya & Sapulu yang dibuat oleh Supandjono, dkk
(1992), skala 1 : 100.000, di daerah Surabaya-Madura dan sekitarnya setidaknya dapat dibagi menjadi
3 (tiga) satuan stratigrafi tidak resmi. Berurutan dari umur tua sampai muda terdiri dari: Satuan
Batupasir (Formasi Pamekasan – Qpp) pada lajur Rembang-Madura yang terdiri dari Batupasir,
Batulempung dan konglomerat yang diperkirakan berumur Plistosen, Satuan Batupasir (Formasi
Kabuh – Qpk) pada lajur Kendeng yang terdiri dari Batupasir dan Konglomerat yang diperkirakan
Plistosen Tengah dan Satuan Aluvium (Qa) yang terdiri dari kerakal, kerikil, pasir dan lempung.

Gambar III-4. Urutan stratigrafi daerah Surabaya dan sekitarnya (Supandjono, dkk, 1992)

Secara umum terdapat tiga pola kelurusan struktur utama di Pulau Jawa, dari tua ke muda
yaitu pola Meratus yang berarah Timurlaut-Baratdaya, pola Sunda yang berarah Utara-Selatan, dan
pola Jawa yang berarah Barat-Timur (Pulunggono dan Martodjojo, 1994).

Gambar III-5. Pola struktur umum Pulau Jawa (Pulunggono Dan Martodjojo,1994)

GEOLOGI DAERAH KONSTRUKSI

Menurut Sukardi, 1992, struktur geologi di Lajur Rembang-Madura memperlihatkan tektonik


yang lebih kuat daripada di Lajur Kendeng. Lipatan di Lajur Rembang-Madura mempunyai kemiringan
lapisan antara 50° dan 20° sedangkan di Lajur Kendeng hanya berkisar antara 10° dan 30°. Sesar-
sesarnya juga memperlihatkan bahwa Lajur Rembang-Madura lebih rapat dibandingkan dengan yang
di Lajur Kendeng. Sesar di Lajur Rembang umumnya berupa sesar turun. Pada Gambar III-6, terlihat
ada 6 antiklin yang berada di cakupan wilayah kajian yang pada tahapan selanjutnya akan
diperhitungkan pengaruh sumber gempa terhadap lokasi antikilin-antiklin tersebut. Antiklin tersebut
berada di Rembang, Bojonegara, Surabaya dan Pulau Madura.
Gambar III-6. Antiklin yang terdapat di daerah Jawa Timur dan Madura (R Sukamto, N Ratman dan T
O Simandjuntak, 1996)

Gambar III-7. Struktur geologi daerah Surabaya dan Madura

(S Gafoer dan N Ratman, 1999)

Gambar III-8. Peta seimotektonik pulau jawa

(E.K.Kertapati, A. Soehaimi & A.Djuhanda, 1998)

Gambar III-9. Peta sebaran sesar aktif pulau jawa

(Supartoyo, Eka Tofani Putrantu & Djadja, 2005)

Gambar III-8 dan Gambar III-9 memperlihatkan sumber gempa dangkal yang terjadi di Pulau
Jawa yang berada di susunan struktur geologi sesar aktif. Identifikasi mekanisme struktur geologi aktif
di pulau jawa didapatkan dengan cara interpretasi peta geologi regional skala 1:100.000 berdasarkan
legenda dan penampang melintang yang diperlihatkan pada Gambar III-10 hingga Gambar III-11.

Untuk mengetahui besarnya sudut penunjaman Flores back arc, maka dilakukan pembuatan
penampang melintang di koordinat lokasi tersebut dan dilakukan pengeplotan jarak dan kedalaman
kejadian gempa utama terhadap koordinat Flores back arc.

Gambar III-10. Peta geologi regional (S Gafoer dan N Ratman, 1999)

Gambar III-11. Tampak atas dan penampang melintang antiklin di sekitar Pulau Madura (S Gafoer
dan N Ratman, 1999)

Gambar III-11 memperlihatkan mekanisme antiklin Tempayung dengan sudut 24o dan 30o
dengan kedalaman 300m.
Mekanisme struktur geologi yang terjadi, pada umumnya dapat berupa normal faults, horst
dan graben, reverse fault, strike slip dan anticline dengan mekanisme yang diperlihatkan pada Gambar
III-12 sampai dengan Gambar III-16.

Gambar III-12. Mekanisme Normal fault

Gambar III-13. Horst dan Graben

Gambar III-14. Reverse Fault

Gambar III-15. Strike slip faults

Gambar III-16. Syncline dan Anticline

KONDISI SEISMOTEKTONIK SURAMADU


Sumber-sumber gempa di Indonesia diklasifikasikan dalam tiga zona sumber gempa, yaitu:

1) Zona subduksi, yaitu zona kejadian gempa yang terjadi didekat batas pertemuan antara lempeng
samudra yang menunjam masuk kebawah lempeng benua. Kejadian gempa akibat thrust fault, normal
fault, reverse slip dan strike slip yang terjadi sepanjang pertemuan lempeng dapat diklasifikasikan
sebagai zona subduksi.

2) Zona transformasi, yaitu zona kejadian gempa strike-slip yang terjadi pada patahanpatahan yang
terdefinisi dengan jelas, seperti Sesar Sumatra, dll.

3) Zona diffuse seismic, yaitu kejadian gempa yang tidak termasuk dalam dua klasifikasi diatas.

Gambar III-17. Zona sumber gempa di Indonesia (Firmansjah & Irsyam, 1999; Kertapati, 1999)

Surabaya dan Madura berada pada area 1 dan 20 (lihat Gambar III-17). Hal ini menunjukkan
bahwa efek dominan sumber gempa diakibatkan oleh zona subduksi Jawa-Sumatra di bagian selatan
Jawa dan Flores back arc thrust source zones di bagian timur jawa dekat cekungan Bali. Zona subduksi
Jawa terbentang dari Selat Sunda hingga Cekungan Bali, dimana lempeng samudra menunjam masuk
ke bawah lempeng benua dengan kecepatan relatif sekitar 77mm/tahun.

Pada awal penunjaman di parit palung Jawa memiliki sudut yang landai hingga mencapai
kedalaman 100 km, yang biasa disebut Megathrust zone. Setelah kedalaman 100 km sudut
penunjaman bertambah besar dengan dip sekitar 50o (Firmansyah & Irsyam) yang menerus hingga
kedalaman 600km, yang biasa disebut Benioff Zone (Gambar IV-28).

Gambar III-18. Penampang melintang kondisi geologi pulau jawa (DR. J. A. Katili, 1963)

Selain gempa-gempa yang terjadi akibat terjadinya pergerakan lempeng, Surabaya-Madura


juga dipengaruhi oleh gempa yang terjadi pada zona-zona patahan yang berada disekitarnya, seperti
patahan Lasem di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah pada daerah pegunungan Kendeng.
Gempa-gempa yang terjadi akibat patahan pada dan diluar patahan tersebut diatas, tidak
diperhitungkan karena kontribusinya tidak turut mempengaruhi perhitungan kegempaan daerah
Surabaya. Jumlah dan besarnya Magnituda gempa di zona subduksi ini dipengaruhi oleh umur,
komposisi dan kecepatan pergeseran lempeng. Sepanjang Busur Sunda faktor-faktor tersebut sangat
mempengaruhi jumlah terjadinya dan ukuran maksimum gempa dan dapat terlihat bahwa gempa
dangkal terdistribusi ke zona yang menyudut.

Identifikasi Distribusi Lokasi Pusat Gempa di Sekitar Suramadu

Analisa zona sumber gempa membutuhkan informasi dari katalog gempa yang berupa catatan
lokasi sumber gempa, mekanisme gempa serta besar magnituda yang terjadi. Studi seismotektonik
yang menggambarkan kondisi struktur sumber gempa dapat melengkapi karakteristik sumber gempa
yang akan dikaji. Sumber gempa USGS dari tahun 1973-2006 yang di plotkan pada peta Indonesia
diperlihatkan pada Gambar IV-19.

Gambar III-19. Sebaran sumber gempa (Mw) di Indonesia berdasarkan data USGS

Gambar III-20. Sebaran sumber gempa di Surabaya-Madura dengan momen magnitude 5>Mw> 9.56
Jumlah pusat gempa pada suatu area tertentu akan berpengaruh pada nilai parameter gempa,
sehingga kondisi distribusi lokasi pusat gempa akan berpengaruh pada penentuan area untuk model
zona sumber gempa.

Permodelan Zona Sumber Gempa di Suramadu

Permodelan zona sumber gempa merupakan penentuan area setiap sumber gempa yang
diambil dari area distribusi lokasi sumber gempa yang terletak pada radius sekitar 500 km dari
surabaya. Potongan melintang dari distribusi sumber gempa di setiap area dipergunakan untuk
menganalisa sudut penunjaman subduksi sumber gempa yang terjadi dan juga untuk memisahkan
sumber gempa yang berbeda jenis mekanismenya yang terletak pada area yang sama. Gempa yang
termasuk strike slip didefinisikan terletak pada kedalaman kurang dari 50 km dan diluar daerah
subduksi.

Gambar III-21. Kontur sumber gempa untuk pulau jawa

Gambar III-22. Area sumber gempa subduksi dengan kedalaman < 50 km

Gambar III-23. Area sumber gempa subduksi dengan kedalaman > 50km

Gambar III-24. Pembagian area sumber gempa subduksi

Gambar III-25. Fault zone of Rembang-Madura-Kangean-Sakala (Satyana, 2004)

Pada daerah ini, terlihat adanya kompleksitas keadaan geologi. Pada gambar III-25, terlihat
adanya fault zone yang sangat kompleks pada daerah tersebut. Pulau Madura mengalami uplift yang
cukup cepat yang diimbangi dengan isostasi cekungan selat madura yang semakin mendalam.
Gambar III-26. Sayatan geologi Madura-Jawa Timur (Satyana, 2004)

Berdasarkan pada sayatan diatas dapat kita lihat bahwa antara Pulau Jawa dan Pulau Madura
dipisahkan oleh struktur yang sangat kompleks. Pada gambar Pulau Madura merupakan bagian yang
memisahkan diri dari Pulau Jawa karena proses pull apart basin.

IMPLIKASI PERMASALAHAN GEOLOGI TERHADAP KONSTRUKSI JEMBATAN SURAMADU

Konstruksi jembatan Suramadu dibuat dengan mempertimbangkan aspek geologi yang cukup
kompleks di daerah tersebut. Konstruksi jembatan Suramadu terdiri dari 36 bentang untuk sisi
Surabaya dan 45 bentang sisi Madura dengan panjang masing-masing 40 meter. Konstruksi
bangunan diatas menggunakan PCI Girder. Sedangkan untuk bagian bawah menggunakan pondasi
pipa baja berdiameter 60 cm dengan panjang rata-rata 25 meter untuk sisi surabaya dan 27 meter
untuk sisi Madura.

Jenis litologi dari masing-masing tempat pondasi mempengaruhi konstruksi dari jembatan. Sisi
bagian pondasi Madura lebih dikuatkan konstruksinya dibandingkan dengan pondasi sisi Surabaya. Sisi
Madura tersusun atas litologi batugamping yang mudah mengalami subsidence sehingga dengan
kondisi tersebut, pondasi sisi Madura menjadi perhatian lebih dengan potensi failure yang lebih besar.
Pada sisi Surabaya menggunakan jumlah bentang yang lebih sedikit karena pondasi yang berada di sisi
Surabaya menumpu diatas litologi berupa aluvial yang relatif stabil.

Kondisi tektonik dan struktur geologi juga menjadi hal yang sangat dipertimbangkan dalam
pembangunan jembatan Suramadu ini. Pondasi pada sisi Madura lebih dikuatkan karena terdapat
struktur geologi yang sangat kompleks sehingga penentuan jumlah bentang yang berada pada sisi
Madura berjumlah yang lebih banyak daripada sisi Surabaya. Madura merupakan pulau yang
berbentuk akibat adanya uplifting terus menerus. Selat Madura merupakan hasil isostasi dari
pengangkatan yang terus menerus akibatnya selat ini pun semakin mendalam.

Dari segi resiko kegempaan, daerah jembatan Suramadu termasuk dalam daerah yang cukup
aman karena berada pada sisi back arc pulau Jawa yang relatif lebih tenang. Namun yang menjadi
perhatian adalah efek dominan sumber gempa yang dapat berasal dari beberapa sumber yaitu zona
subduksi : Jawa-Sumatra di bagian selatan Jawa dan Flores back arc thrust source zones di bagian
timur jawa dekat cekungan Bali dan patahan Lasem. Patahan Lasem ini cukup aktif dan berbahaya jika
tidak diperhitungkan dalam pembangunan jembatan Suramadu.
Pada bagian tengah jembatan, dibuat dengan cable stay bridge. Hal tersebut dibuat karena
jembatan tersebut memotong laut yang cukup dalam sehingga pembangunan di dalam air susah untuk
dilakukan. Konstruksi pondasi bagian tengah yang demikian sangat efektif karena pembuatannya lebih
mudah. Disisi lain konstruksi yang demikian dibuat dikarenakan basement dari jembatan tersebut
memiliki kompleksitas struktur geologi yang dikhawatirkan dapat menyebabkan failure pada jembatan
sehingga harus dibuat simpel dan sederhana dan bertumpu pada bagian yang relatif rigid pada daerah
yang kompleks struktur geologi tersebut.

BAB IV

KESIMPULAN

1. Investigasi geologi adalah hal yang mutlak dilakukan dalam membangun konstruksi suatu bangunan.

2. Peranan ilmu geologi sangat dibutuhkan khususnya pada masa pra konstruksi.

3. Konstruksi jembatan Suramadu dibangun dengan menitikberatkan pada aspek geologi berupa jenis
litologi, struktur geologi, dan kegempaan.

4. Konstruksi jembatan Suramadu pada sisi Madura lebih dikuatkan dibandingkan pada sisi Surabaya
karena pada sisi Madura terdapat keadaan geologi yang lebih berpeluang menyebabkan jembatan
tersebut mengalami failure.

DAFTAR PUSTAKA

Aldiamar, Fahmi, 2007, Analisis Resiko Gempa dan Pembuatan Respom Spektra Desain untuk Jembatan
Suramadu dengan Pemodelan Sumber Gempa 3D, Institut Teknologi Bandung

Supandjono, dkk, 1992, Peta Geologi Lembar Surabaya-Sapulu, skala :100.000. Bandung : Puslitbang Geologi

http://argajogja.blogspot.com/2011/06/desain-metode-konstruksi-jembatan.html
http://hamdimhd.blogspot.com/2012/07/construction-method-suramadu-project.html

http://oneadit.blogspot.co.id/2013/12/kondisi-geologi-dan-implikasinya-pada_8208.html