Anda di halaman 1dari 23

Rangkuman Pengelompokan Teori – Teori Dan Pendekatan Kedalam

Sejumlah Paradigma

1. ORGANIC PARADIGM

Ada beberapa versi dari paradigma organik, tapi konsep umumnya mengacu pada
beberapa aplikasi pemahaman Yunani klasik dari sifat manusia secara keseluruhan komposit.
Paradigma organik telah sering disebut model dari sifat manusia sebagai gabungan dari
dimensi fisik, sosial, mental dan spiritual. Pemahaman ini sifat manusia kadang-kadang
digambarkan sebagai metafora karena telah dianggap seperti berbagai aspek dunia di mana
kita hidup. Model organik dari sifat manusia akhirnya digantikan dalam filsafat karena, dalam
bentuk Platonis hirarkis, itu telah digunakan untuk mendukung struktur hirarkis dalam Gereja
dan Negara. Metafora menunjukkan organicism dalam masyarakat juga telah dihindari di
masa kita sebagian karena Hegel diperpanjang ini ke konsep metafisik dari Volksgeist yang
kemudian digunakan sebagian untuk mendukung nasionalisme totaliter. Mengapa kemudian,
harus kita kembali versi modern dari paradigma organik? Wawasan utama pada ini adalah
bahwa dalam seratus tahun terakhir ilmu biologi dan obat-obatan cenderung menggunakan
kategori mirip dengan paradigma organik, tetapi belum tentu menafsirkan beberapa dimensi
dari sifat manusia untuk menjadi hirarkis atau ideologi. Interpretasi saat ini akan lebih
menekankan sistem checks and balances untuk kesehatan dan kesejahteraan. Kedua,
Darwinisme baru, yang kurang hirarkis dan mengakui kedua evolusi alam dan budaya, atau
co-evolusi, memberikan kita ruang konseptual yang cukup untuk mempertimbangkan
kembali peran alam dan versi ekologi paradigma organik. Ketiga, definisi yang cukup luas
dari kapasitas interpretif dan metafisika, di sisi lain, dapat digunakan untuk membawa lagi
pertimbangan integratif dan metafisik kembali ke tempat yang tepat dalam diskusi akademik
filsafat moral dan politik. Keempat, paradigma organik ekologis adalah kerangka analisis
yang setidaknya memiliki kapasitas untuk penegasan, akomodasi, moderasi, adaptasi dan
sintesis. Ini memiliki kapasitas untuk menampung pluralisme dalam masyarakat kita sendiri
dan dalam komunitas global.

Sebuah versi modern dari paradigma organik akan terbukti menjadi alat yang sangat
berguna atau kerangka analisis untuk memahami dinamika filsafat moral dan politik.
Paradigma organik ekologi juga dapat membawa beberapa koherensi filsafat moral
dan politik dan harus dipertimbangkan kembali.

Posisi Paradigma Organic Paradigm Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

Adapun kedudukan organic paradigm dalam pradigma ilmu sosial yaitu terletak pada
kubu paradigma klasik dimana merasa harus menempatkan diri sebagai value free researcher,
yang harus senantiasa membuat pemisahan antara nilai-nilai subjektif yang dimilikinya
dengan fakta objektif yang diteliti.

2. PARADIGMA KONFLIK
a. Asumsi Ontologi

Realitas yang kontradiksi dan fenomena fakta sosial yang sering muncul dalam sebab
akibat akan direfleksikan oleh teori konflik melalui logika dialektik dan endingnya adalah
terciptanya dunia lebih baik. . Paradigma ini memandang manusia sebagai mahluk yang
obyektif yang hidup dalam realitas sosial , maka filsafat materialisme merupakan dasar dari
ilmu pengetahuan manusia. Dalam hal ini manusia sebagai objek ilmunya yang akan dikaji
dalam kajian paradigma konflik dari berbagai paham realis.

b. Asumsi Epistemologi

Menurut paradigma konflik manusia pada dasarnya memiliki sifat kerjasama karena
manusia sebagai mahluk sosial, dimana perilakunya diasumsikan rasional. Dalam ciri
demikian, manusia diyakini memiliki potensi untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya
melalui berbagai cara yaitu pengalaman, pemikiran dan pendidikan.

Selanjutnya, masyarakat dipandang sebagai realitas struktural. Struktur ini merupakan


suatu kondisi yang muncul dalam perjalanan sejarahnya. Setiap kelompok masyarakat
cenderung memunculkan sifat-sifat manusiawinya jika struktur sosialnya mendukung untuk
menuju arah tersebut. Masyarakat akan timpang jika eksis perbedaan yang mencolok antar
warga dalam hal materi, power dan status.

Untuk dapat memahami manusia, paradigma konflik mendekatinya dengan


menerapkan filsafat materialisme. Inilah yang menurut mereka mesti mendasari
pengembangan ilmu tentang manusia dan masyarakat. Karena terkait dengan struktur,
berbagai komponen dalam masyarakat (manusia, lembaga, organisasi, dan kelas) tidak dapat
dipelajari terpisah secara sendiri-sendiri, namun mesti secara holistik. Holistik dan historis
merupakan dua kata kunci pokok dalam pengembangan ilmu-ilmu sosiologi di bawah
paradigma konflik.

c. Asumsi Metodologi

Karl Marx diposisikan Purdue sebagai tokoh yang memberi pengaruh besar dalam
terbentuk dan berkembangnya paradigma konflik ini. Sumbangan penting yang diberikan
Marx adalah penerapan dialektika sebagai metode. Kontradiksi yang pokok pada masyarakat
kapitalisme adalah yang terjadi antara kelompok pemilik pabrik (borjuis) dengan buruh
(proletar) yang selalu menimbulkan konflik.

Marx membangun konsep dan teorinya dari filsafat Hegel dan Feuerbach. Marx
mengambil dialektika gagasan dari Hegel yang lalu dipadu dengan material religius dari
Feuerbach, sehingga menghasilkan dialektika materialistis (Ritzer: 2008). Dialektika Marx
adalah hubungan timbal balik antara materi dan pikiran. Materi diubah oleh proses-proses
pikiran sementara pada saat yang sama pikiran diubah oleh perwujudannya dalam benda-
benda material (Campbell: 1994).

d. Asumsi Aksiologi

Dahrendorf mengatakan bahwa masyarakat mempunyai dua wajah yaitu konflik dan
consensus, hal inilah yang mendorong adanya pemisahan antara konflik dan consensus.
Dalam kerangka pikir dalam bukunya The Functions of Social Conflict, Coser mengatakan
bahwa “suatu konflik dikatakan fungsional selama tidak menyentuh atau tidak berkaitan
dengan inti suatu system. Dan suatu konflik yang terjadi kemudian meronrong eksistensi inti
suatu system, maka konflik itu sifatnya disfungsional. Coser mengemukakan beberapa fungsi
konflik. Pertama, konflik dapat menciptakan integrasi dalam in group. Pada dasarnya konflik
memiliki kekuatan integratif maksudnya dapat mengintegrasikan anggota yang sebelumnya
terjadi konflik dengan out group, kohesi social atau integrasi social sangat lemah. Namun
pada saat terjadi konflik dengan pihak luar, maka secara spontan anggota kelompok
memperkuat integrasi social untuk menghadapi lawan dari luar (out group).
Posisi Paradigma Conflict Paradigm Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

Dalam pembahasan diatas dapat disimpulkan Termasuk dalam Paradigma Kritis sejalan
dengan pendapat Karl Marx tentang Teori Kritis berangkat dari 4 (empat sumber) kritik yang
dikonseptualisasikan oleh Immanuel Kant, Hegel, Karl Marx dan Sigmund Freud. Hegel
merupakan peletak dasar metode berpikir dialektis. Kritik didefinisikan sebagai refleksi diri
atas tekanan dan kontradiksi yang menghambat proses pembentukan diri-rasio dalam sejarah
manusia.
Menurut Marx, yang berdialektika bukan fikiran, tapi kekuatan-kekuatan material
dalam masyarakat. Pikiran hanya refleksi dari kekuatan material (modal produksi
masyarakat). Sehingga teori kritis bagi Marx sebagai usaha mengemansipasi diri dari
penindasan dan elienasi yang dihasilkan oleh penguasa di dalam masyarakat. Kritik dalam
pengertian Marxian berarti usaha untuk mengemansipasi diri dari alienasi atau keterasingan
yang dihasilkan oleh hubungan kekuasaan dalam masyarakat.
3. SOSIAL BEHAVIORIST
Perilaku sosial adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku umum
yang ditunjukkan oleh individu dalam masyarakat. Hal ini pada dasarnya dalam menanggapi
apa yang dianggap dapat diterima oleh kelompok sebaya seseorang atau melibatkan
menghindari perilaku yang ditandai sebagai tidak dapat diterima. Jenis perilaku manusia
terutama menentukan bagaimana individu berinteraksi satu sama lain dalam suatu kelompok
atau masyarakat. Sementara perilaku sosial sering dimodelkan untuk menciptakan lingkungan
sosial yang nyaman, perilaku anti-sosial, seperti agresi, kambing hitam dan kelompok
bullying, juga dapat didefinisikan sebagai perilaku sosial yang negatif, terutama dalam kasus
di mana orang lain dalam kelompok sebaya semua berperilaku sesuai.

Hanya interaksi positif antara individu-individu dalam masyarakat bantuan


menciptakan lingkungan bagi warga menyenangkan, kegiatan yang ditetapkan oleh kelompok
sebaya dapat diterima, bahkan jika berbahaya untuk memilih individu atau sub kelompok
dalam masyarakat, juga merupakan bagian dari perilaku sosial. Studi pelanggaran HAM
besar-besaran telah membantu menggambarkan sejauh mana perilaku berbahaya, tetapi dapat
diterima secara sosial, telah bertahan dalam beberapa masyarakat. Contoh penerimaan yang
luas dari perilaku negatif dalam kelompok sebaya termasuk insiden sejarah genosida massa
dan perbudakan manusia.

Posisi social Behaviorism Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

Adapaun kedudukan social behaviorist dalam paradigma ilmu social yaitu terletak
pada paradigma klasik yang berasumsi bahwa ada suatu realitas sosial yang objektif, karena
itu suatu penelitian juga haris objektif, yakni untuk memeroleh pengetahuan tentang suatu
objek atau realitas sosial sebagaimana adanya.
4. STRUCTURE FUNCTIONALISM

Teori fungsionalisme struktural adalah suatu bangunan teori yang paling besar
pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad sekarang. Tokoh-tokoh yang pertama kali
mencetuskan fungsional yaitu August Comte, Emile Durkheim dan Herbet Spencer.
Pemikiran structural fungsionalsangat dipengaruhi oleh pemikiran biologis yaitu menganggap
masyarakat sebagai organisme biologis yaitu terdiri dari organ-organ yang saling
ketergantungan, ketergantungan tersebut merupakan hasil atau konsekuensi agar organisme
tersebut tetap dapat bertahan hidup. Sama halnya dengan pendekatan lainnya pendekatan
structural fungsional ini juga bertujuan untuk mencapai keteraturan sosial.

Teori struktural fungsional ini awalnya berangkat dari pemikiran Emile Durkheim,
dimana pemikiran Durkheim ini dipengaruhi oleh Auguste Comte dan Herbert Spencer.
Comte dengan pemikirannya mengenai analogi organismik kemudian dikembangkan lagi
oleh Herbert Spencer dengan membandingkan dan mencari kesamaan antara masyarakat
dengan organisme, hingga akhirnya berkembang menjadi apa yang disebut dengan requisite
functionalism, dimana ini menjadi panduan bagi analisa substantif Spencer dan penggerak
analisa fungsional. Dipengaruhi oleh kedua orang ini, studi Durkheim tertanam kuat
terminology organismik tersebut. Durkheim mengungkapkan bahwa masyarakat adalah
sebuah kesatuan dimana didalamnya terdapat bagian bagian yang dibedakan.

Posisi Structure Functionalist Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

Dari uraian di atas, maka kedudukan structure functionanlism dalam paradigm ilmu
social berada pada paradigm karena masyarakat senantiasa berada dalam keadaan berubah
secara berangsur-angsur dengan tetap memelihara keseimbangan. Setiap peristiwa dan setiap
struktur fungsional bagi sistem sosial itu. Demikian pula semua institusi yang ada, diperlukan
oleh sosial itu, bahkan kemiskinan serta kepincangan sosial sekalipun. Masyarakat dilihat
dalam kondisi: dinamika dalam keseimbangan.
5. TEORI KONFLIK MODERN

Teori konflik muncul sebagai reaksi dari munculnya teori struktural fungsional.
Pemikiran yang paling berpengaruh atau menjadi dasar dari teori konflik ini adalah pemikiran
Karl Marx. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, teori konflik mulai merebak. Teori konflik
menyediakan alternatif terhadap teori struktural fungsional.
Menurut teori konflik, masyarakat disatukan dengan “paksaan”. Maksudnya,
keteraturan yang terjadi di masyarakat sebenarnya karena adanya paksaan (koersi). Oleh
karena itu, teori konflik lekat hubungannya dengan dominasi, koersi, dan power. Terdapat
dua tokoh sosiologi modern yang berorientasi serta menjadi dasar pemikiran pada teori
konflik, yaitu Lewis A. Coser dan Ralf Dahrendorf.
A. Asumsi Ontologi Teori Konflik Modern
Asumsi dasar teori Teori konflik ialah bahwa semua elemen atau unsur
kehidupan masyarakat harus berfungsi atau fungsional sehingga masyarakat secara
keseluruhan bisa menjalankan fungsinya dengan b a i k . Namun demikian, teori ini
mempunyai akar dalam karya KarlMarx di dalam teori sosiologi klasik dan dikembangkan
oleh beberapa pemikir sosial yang berasal dari masa-masa kemudian. Teori konflik adalah
satu perspektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu sistem sosial
yang terdiri dari bagian-bagian atau komponen-komponen yang mempunyai kepentingan
yang berbeda-beda dimana komponen yang satu berusaha untuk menaklukkan komponen
yang lain guna memenuhi kepentingannya atau memperoleh kepentingan sebesar-besarnya.
B. Asumsi Epistemologi Teori Konflik Modern

P a d a d a s a r n ya p a n d a n g a n t e o r i k o n f l i k t e n t a n g m a s ya r a k a t
sebetulnya tidak banyak berbeda dari pandangan teori funsionalisme s t r u c t u r a l k a r e n a
k e d u a n ya s a m a - s a m a m e m a n d a n g m a s ya r a k a t sebagai satu sistem yang tediri
dari bagian-bagian. Perbedaan antara keduanya terletak dalam asumsi mereka yang berbeda-
beda tentang elemen-elemen pembentuk masyarakat itu. Menurut teori fungsionalisme struktural,
elemen-elemen itu fungsional sehingga masyarakat secara keseluruhan bisa berjalan secara
normal. Sedangkan teori konflik, elemen-elemen itu mempunyai kepentingan yang berbeda-
beda sehingga mereka berjuang untuksaling mengalahkan satu sama lain guna
memperoleh kepentingan sebesar-besarnya.

C. Asumsi Metodologi Teori Konflik Modern


Teori konflik merupakan sebuah pendekatan umum terhadap keseluruhan lahan sosiologi dan
merupakan teori dalam paradigm fakta sosial., karena Teori konflik juga mengatakan bahwa konflik
itu perlu agar terciptanya perubahan sosial didalam masyarakat itu sendiri.
D. Asumsi Aksiologi Teori Konflik Modern

Pada dimensi ini mengunakan Pendekatan subyektif, karena Teori konflik melihat
bahwa di dalam masyarakat tidak akan selamanya berada pada keteraturan. Buktinya dalam
masyarakat manapun pasti pernah mengalami konflik-konflik atau ketegangan-ketegangan.
Posisi Modern Conflict Theory Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

Pada Teori konflik modern berada dalam perspektif paradigma kritis karena
merupakan proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan, penyatuan dan
pemeliharaan struktur sosial. Konflik dapat menempatkan dan menjaga garis batas antara dua
atau lebih kelompok. Konflik dengan kelompok lain dapat memperkuat kembali identitas
kelompok dan melindunginya agar tidak lebur ke dalam dunia sosial sekelilingnya.

6. SOSIAL-PSYCHOLOGICAL PARADIGM

Tingkah laku merupakan hasil interaksi individu dan masyarakat yang disebabkan
adanya proses sosialisasi (individu-individu saling berinteraksi dalam masyarakat) dan
negosiasi (individu-individu yang tidakj komform dengan standar masyarakat menciptakan
standar baru yang dapat diterima masyarakat. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya
karena manusia memiliki akal dan perasaan. Dalam rangka pengembangan masyarakat,
Psikologi Sosial memandang manusia sebagai makhluk yang tingkah lakunya dipengaruhi
dan mempengaruhi lingkungan sosialnya.

Psikologi Sosial adalah ilmu pengetahuan yang mana memiliki nilai-nilai dan
metode-metode yang digunakan oleh bidang ilmu pengetahuan lain. Nilai-nilai dasar yang
harus dipenuhi semua bidang agar dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan:

 Akurasi: teliti, tepat, bebas dari kesalahan.


 Obyektivitas: bebas dari bias
 Skeptisme: menerima hanya bila telah diverifikasi.
 Berpikiran terbuka: mengubah pandangan bila terbukti tidak benar.

Psikologi Sosial berbeda dengan sosiologi. Psikologi Sosial fokusnya pada individu
yaitu mempelajari perilaku dan pemikiran individu sementara Sosiologi focus pada
kelompok-kelompok besar atau masyarakat sebagai suatu keutuhan. Contohnya: dalam suatu
kasus KDRT, Psikologi Sosial akan focus pada penyebab orang-orang tertentu melakukan
KDRT, sedangkan Sosiologi akan melihat perbandingan angka KDRT pada berbagai lapisan
dalam kelompok masyarakat.
Posisi Social-Psychological Paradigm Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

Adapun kedudukan social-psychological paradigm dalam paradigm ilmu sosial yaitu


ada pada paradigm konstruktivis yang merupakan penelitian yang refleksif, yang ingin
merefleksikan suatu realitas sosial sesuai dengan penghayatan subjek-subjek yang terkait
dalam realitas itu sendiri.

7. PARADIGMA HUMANIS RADIKAL

Para penganut paradigma humanis radikal berminat mengembangkan sosiologi


perubahan radikal dari pandangan subyektifis. Pendekatan terhadap ilmu sosial sama dengan
kaum interpretatif yaitu nominalis, anti-positivis, volunteris dan ideografis. Arahnya berbeda,
yaitu cenderung menekankan perlunya menghilangkan atau mengatasi berbagai pembatasan
tatanan sosial yang ada.

Pandangan dasarnya yang penting adalah bahwa kesadaran manusia telah dikuasai
atau dibelenggu oleh suprastruktur ideologis yang ada di luar dirinya yang menciptakan
pemisah antara dirinya dengan kesadarannya yang murni (aliensi), atau membuatnya dalam
kesadaran palsu (false consciousness) yang menghalanginya mencapai pemenuhan dirinya
sebagai manusia sejati. Karena itu agenda utamanya adalah memahami kesulitan manusia
dalam membebaskan dirinya dari semua bentuk tatanan sosial yang menghambat
perkembangan manusia sebagai manusia. Penganutnya mengecam kemapanan habis-habisan.
Proses-proses sosial dilihat sebagai tidak manusiawi. Untuk itu mereka ingin memecahkan
masalah bagaiman manusia bisa memutuskan belenggu-belenggu yang mengikat mereka
dalam pola-pola sosial yang mapan utnuk mencapai harkat kemanusiaannya. Meskipun
demikian masalah-masalah pertentangan struktural belum menjadi perhatian mereka.

Posisi Paradigma Humanis Radikal Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

Adapun kedudukan dari paradigm humanis radikal dalam paradigm ilmu social yaitu
terdapat pada paradigm kritis karena manusia telah dikuasai atau dibelenggu oleh
suprastruktur ideologis yang ada di luar dirinya yang menciptakan pemisah antara dirinya
dengan kesadarannya yang murni (aliensi), atau membuatnya dalam kesadaran palsu (false
consciousness) yang menghalanginya mencapai pemenuhan dirinya sebagai manusia sejati.
8. PARADIGMA STRUKTURALIS RADIKAL

Penganutnya juga memeperjuangkan sosiologi perubahan radikal tetapi dari sudut


pandang obyektifitas. Pendekatan ilmiahnya memeiliki beberapa persamaan dengan kaum
fungsionalis, namun mempunyai tujuan akhir yang saling berlawanan. Analisanya lebih
menekankan pada pertentangan struktural, bentuk-bentuk penguasaan dan pemerosotan
harkat kemanusiaan. Karenanya pendekatannya cendserung realis, positivis, determinis dan
nomotetis.

Kesadaran manusia dianggap tidak penting. Hal yang lebih penting adalah hubungan-
hubungan struktural yang terdapat dalam kenyataan sosial yang nyata. Mereka menekuni
dasar-dasar hubungan sosial dalam rangka menciptakan tatanan sosial baru secara
menyeluruh. Penganut paradigma ini terpecah dalam dua perhatian, pertama lebih tertarik
untuk menjelaskan bahwa kekuatan sosial yang berbeda-beda serta hubungan antar kekuatan
sosial merupakan kunci untuk menjelaskan perubahan sosial. Sebagian mereka lebihbtertarik
padaa keadaan penuh pertentangan dalam suatu masyarakat. Paradigma ini diilhami oleh
pemikiran Marx tua setelah terjadinya perpecahan epistemologi dalam sejarah pemikiran
Marx, selain pengaruh Weber. Paradigma inilah yang menjadi bibit lahirnya teori sosiologi
radikal. Penganutnya antara lain Althusser, Polantzas, Colletti, dan beberapa penganut
kelompok kiri baru.

Posisi Paradigma Strukturalis Radikal Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

Adapun kedudukan paradigm strukturalis radikal dalam paradigm ilmu social yaitu
terletak pada paradigma kritis karena melihat bahwa realitas sosial yang mereka amati
merupakan penampakan realitas semu dimana Kesadaran manusia dianggap tidak penting

9. PARADIGMA INTERPRETATIF

Paradigma interpretatif sesungguhnya menganut pendirian sosiologi keteraturan


seperti halnya fungsionalisme, tetapi mereka menggunakan pendekatan objektivisme dalam
analisis sosialnya sehingga hubungan mereka dengan sosiologi keteraturan bersifat tersirat.
Mereka ingin memahami kenyataan sosial menurut apa adanya, yakni mencari sifat yang
paling dasar dari kenyataan sosial menurut pandangan subjektif dan kesadaran seseorang
yang langsung terlibat dalam peristiwa sosial bukan menurut orang lain yang mengamati.
Pendekatannya cenderung nominalis, antipositivis dan ideografis. Kenyataan sosial muncul
karena dibentuk oleh kesadaran dan tindakan seseorang. Karenanya, mereka ber usaha
menyelami jauh ke dalam kesadaran dan subjektivitas pribadi manusia untuk menemukan
pengertian apa yang ada di balik kehidupan sosial. Sungguhpun demikian, anggapan-
anggapan dasar mereka masih tetap didasarkan pada pan dangan bahwa manusia hidup serba
tertib, terpadu dan rapat, kemapanan, kesepakatan, kesetiakawan. Pertentangan, penguasan,
benturan sama sekali tidak menjadi agenda kerja mereka. Mereka terpengaruh lansung oleh
pemikiran sosial kaum idealis Jerman yang berasal dari pemikiran Kant yang lebih menekan
kan sifat hakikat rohaniah daripada kenyataan sosial. Perumus teori ini yakni mereka yang
penganut filsafat fenomenologi antara lain Dilttey, Weber, Husserl, dan Schutz.

Posisi Paradigma Interpretative Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

Kedudukan paradigma interpretative dalam paradigm ilmu social yaitu terletak pada
paradigma klasik karena paradigma interpretative berangkat dari asumsi ada suatu realitas
sosial yang objektif, karena itu suatu penelitian juga haris objektif, yakni untuk memeroleh
pengetahuan tentang suatu objek atau realitas sosial sebagaimana adanya.

10. FUCSIONALIST PARADIGM

Sebagaimana di ketahui bahwa pada Functionalist paradigm merupakan salah satu


paradigma yang memandang atau menyatakan bahwa realitas berada dalam kenyataan dan
berjalan sesuai dengan hukum alam atau sesuai dengan kenyataan, dengan pendekatan secara
objektif.
functionalist paradigm ini berakar pada sociology of regulation dengan menggunakan
sudut pandang objektif. Functionalist menekankan pada generalisasi untuk memberikan
kekuatan akumulasi pengetahuan atas fenomena sebab akibat. Serta penjelasan keilmuannya
selalu berdasarkan pada angka yang mengandung kepastian sehingga tidak bisa ditolak.
 Dimensi Ontologis
Secara umum diketahui bahwa dimensi ontologis, peneliti berada dalam pendekatan objektif
dan akan melihat kenyataan sebagai objek. Artinya, objek adalah sesuatu yang berada di luar
peneliti dan yang bebas dari penelitinya (value free) dan dapat diukur secara objektif dengan
menggunakan instrument. Sedangkan dalam pendekatan subyektif, kenyataan adalah sesuatu
yang ada dan dilibatkan oleh peneliti dalam penelitiannya dan peneliti juga ikut andil dalam
penelitian tersebut (not value free). Pada dimensi ontologis dalam paradigma Functionalist
kebenaran realitas sosial tergantung dari pelaku atau peneliti.
 Dimensi Epistemologi
Pada dimensi ini penelitiannya untuk pendekatan objektif sehingga lebih bersifat
relatif, karena dalam penelitian sosialnya bergantung bagaimana hubungan anatara peneliti
dengan objek yang diteliti. Pendekatan objektif atau positivistic lebih menuntut penyusunan
kerangka teori dalam membuktikan suatu teori untuk dijadikan suatu konsep baru.
 Dimensi Aksiologis
Pendekatan objektif nilai-nilai dengan nilai yang nyata, dimana pada dimeni ini yang
dianut peneliti tidak boleh mempengaruhi penelitiannya dengan menghindari pernyataan-
pernyataan yang berkaitan dengan nilai dalam hasil penelitian dengan menggunakan bahasa
yang impersonal. Dalam penelitian pada paradigma ini kandungan nilai, moral harus ada
dalam penelitian yang tidak terpisahkan dari si peneliti yang bertidak sebagai pengamat
subjektivitas dari pelaku sosial.
 Dimensi Metodologis
Pada dimensi ini menngunakan Pendekatan objektif yang lebih menekankan pada
logika deduktif dan teoritis dan pengembangan hipotesis dilakukan untuk menguji hubungan
sebab akibat dan hasilnya cenderung statis dan untuk mengetahui hal tersebut di uji secara
dealektis dengan metode kuantitatif
Posisi Functionalist Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial
Pada functionalist paradigm posisi dalam paradigma ilmu sosial terdapat pada paradigma
Kontruktivisme karena sebagaimana diketahui bahwa functionalist berakar pada sociology of
regulation dengan menggunakan sudut pandang objektif. Ciri khasnya adalah perhatian yang
besar pada penjelasan-penjelasan mengenai status quo, keteraturan sosial, konsensus,
integrasi sosial, soliadritas, pemenuhan kebutuhan dan aktualisasi, yang memandang ilmu
sosial sebagai analisis sistematis yang mengadakan pengamatan langsung.

11. PARADIGMA POSITIVISME

Paradigma positivisme adalah paradigm yang muncul paling awal dalam dunia ilmu
pengetahuan. Kepercayaan dalam pandangan ini berakar pada paham ontology realism yang
menyatakan bahwa realitas berada dalam kenyataan dan berjalan sesuai dengan hokum alam.
Penelitiannya berusaha untuk mengungkap kebenaran dari realitas yang ada dan bagaimana
realitas tersebut berjalan sesuai dengan kenyataannya. Dalam paradigm ini mempunyai
prespektif yang didasarkan pada sosiologi regulasi dengan pendekatan obyektif dan
cenderung mengasumsikan dunia social sebagai produk empiris yang sangat nyata serta
mempunyai hubungan satu dengan yang lainnya (sebab-akibat).
Paradigma positivist/fungsionalis ini telah ratusan tahun menjadi pedoman bagi
ilmuwan dalam mengungkapkan kebenaran realitas. Kebenaran tersebut tidak merupakan
kebenaran yang mutlak karena harus diuji terlebih dahulu berdasarkan beberapa factor
empiris untuk menjustifikasi kebenaran realitas yang ada pada saati tu. Dalam paradigma ini
obyek ilmu pengetahuan dan pernyataan pengetahuan harus memenuhi beberapa syarat
yaitu harus dapat diamati (observable), dapat diulang (repeatable), dapat diukur
(measurable), dapat diuji (testable) dan dapat diramalkan (predictable) (Kerlinger,1973).

Paradigma ini memiliki pendekatan yang berusaha untuk menjelaskan hubungan


sosial dengan pemikiran yang rasional, dengan orientasi yang pragmatic berkaitan
dengan pengetahuan tepat guna dan mengedepankan regulasi yang efektif serta
pengendalian hubungan sosial. Pendekatan ini cenderung mengartikulasikan dunia sebagai
dunia artefek empiris dan hubungan yang ada dapat diidentifikasi dan diukur dengan ilmu
natural seperti biologi dan mekanik. Paradigma ini didasarkan pada norma rasionalitas
purposive (Burrel & Morgan,1979).

Berlandaskan fakta social dan uraian diatas, maka dapat dikatakan bahwa paradigm
positivist/fungsionalis melihat teori dalam penelitian sebagai dogma atau doktrin Karena itu
dalam mengembangkan penelitiannya selalu didasarkan pada logika deduktif, aksioma,
standart dan hukum, selain dari itu bukanlah sebuah teori dan menempatkan hipotesis
sebagai fakta atau hukum. Peran dari akal menurut positivist/fungsionalis adalah semua
yang ada didasarkan pada akal.

Posisi Paradigma Positivisme Dalam Perspektif / Paradigma Ilmu Sosial


Adapun kedudukan paradigma positifisme dalam paradigma ilmu social terdapat pada
paradigma konstruktivis karena paradigma positivism selalu menekankan pada generalisasi
untuk memberikan kekuatan akumulasi pengetahuan atas fenomena sebab akibat. Serta
penjelasan keilmuannya selalu berdasarkan pada angka yang mengandung kepastian
sehingga tidak bias ditolak. Bagi pendukung paradigm ini penjelasan dan deskripsi adalah
hubungan antara logika, data dan hokum atau mungkin standart yang diperoleh. penelitian
yang refleksif, yang ingin merefleksikan suatu realitas sosial sesuai dengan penghayatan
subjek-subjek yang terkait dalam realitas itu sendiri.

12. INTERPRETATIV
Paradigma Interpretivisme adalah cara pandang yang bertumpu pada tujuan untuk
memahami dan menjelaskan dunia sosial dari kacamata aktor yang terlibat di dalamnya. Jadi
paradigma interpretivisme adalah paradigma yang memusatkan pada penyelidikan tentang
cara manusia memaknai kehidupan sosial mereka serta bagaimana manusia mengekspresikan
pengalaman mereka melalui bahasa, suara, perumpamaan, gaya pribadi maupun ritual sosial.
 Dimensi Ontologis
Pandangan ontologis paradigma ini yaitu “Realitas sosial hadir dalam beragam bentuk
konstruksi mental, berdasarkan pada situasi sosial dan pengalamannya, bersifat lokal dan
spesifik, kemudian bentuk dan formatnya bergantung pada orang yang
menjalaninya.”(Guba.1900a:27). Interpretivisme menuntut pendekatan holistic,
menyeluruh yaitu mengamati objek secara keseluruhan, tidak diparsialkan, tidak
dieliminasi dalam variable-variabel guna mendapat pemahaman lengkap apa adanya,
karena objek tidak mekanistis melainkan humanistis.
 Dimensi Epistemologis
Realitas itu diciptakan secara sosial maka para interpretivis ini percaya bahwa pemahaman
hanya bisa dicapai dari pandangan pelaku realitas tersebut. Dan para pakar interpretif
mencoba untuk mengurangi jarak antar subjek yang mengetahui (the knower) dan objek
pengetahuan (the known), dan temuan yang dihasilkan penelitian adalah sesuatu yang
timbul dari interaksi antara peneliti dan komunitas. Teori diciptakan secara induktif,
melalui interaksi antara peneliti dan kolektif (kelompok) sosial. Interpretivisme menuntut
menyatunya subjek dengan objek penilitiannya serta subjek pendukungnya seperti
observasi.
 Dimensi Aksiologis
Konsep ini menyatakan bahwa para pakar interpretivis harus mempercoba memperkecil
pengaruh nilai-nilai dalam proses penelitian. Penilaian seseorang tidak hanya dipengaruhi
oleh faktor luar tetapi juga oleh faktor dalam dirinya.
 Dimensi Metodologis

Teori tumbuh karena adanya fakta di lapangan yang sudah diamati dengan melihat
interaksi tersebut, sehingga teori atau hipotesis tidak perlu dibuat sebelumnya seperti pada
paradigma fungsionalis/positivist. Pengumpulan data dilakukan melalui proses dialog dengan
aktor sosial untuk memaknai realitas sosial yang ada.
Posisi Interpretivism Paradigm Dalam Perspektif / Paradigma Ilmu Sosial
Posisi interpretivism paradigm dalam paradigma ilmu sosial terdapat pada paradigma
Kontruktivisme, karena dengan mengacu kepada karakteristik interpretivism yang diberikan
Chua, terdapat poin penting yang bisa diidentifikasi, yaitu bahwa paradigma interpretivisme
ini menekankan pada upaya mengonstruksi (constructivis) dan menafsirkan tindakan
masyarakat, baik melalui pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya maupun sebagaimana
yang direfleksikan melalui pengalaman mereka (aktor atau pelaku) yang terlibat secara
langsung dalam interaksi sosial. Oleh sebab itu, tujuan sosiologi interpretive adalah
menemukan makna tersembunyi yang ada di balik tindakan-tindakan sosial sebagaimana
dipahami oleh para pelaku (aktor yang diteliti) melalui suatu upaya pemahaman yang baik.
13. CRITICAL INQUIRY

14. FEMINISM

Feminisme merupakan pandangan yang menitikberatkan pada permasalahan-


permasalahan perempuan. Feminisme sangat berbeda dengan teori atau aliran lain dalam
hubungan internasional, teori ini memperkenalkan gender sebagai kategori empiris yang
relevan dan alat analisis untuk memahami hubungan kekuasaan global serta posisi normatif
untuk membangun alternativeworld orders. Feminisme menawarkan apa yang di sebut
dengan “lensa feminis” sebagai alternatif untuk melihat dunia karena konsep-konsep
hubungan internasional mengenai dunia yang ada saat ini dirasakan penuh akan ekspektasi
dan pengalaman gender tertentu yakni maskulinitas.
Dimensi epistimologis sebagai alat untuk membangun ilmu pengetahuan, dianggap
sebagai sebuah metodologi yang universal. Jika perempuan ditambahkan dalam khazanah itu,
apakah mungkin metodologi yang telah ada digunakan untuk menganalisis dan membangun
pengetahuan yang baru, sebab secara empiris kita ketahui bahwa biopsikososial laki-laki dan
perempuan itu berbeda. perbedaan itu tentu efek pengalaman hidup karena keduanya
dibesarkan dan dibentuk secara kontekstual oleh masyarakat disekitarnya sesuai dengan
aturan, norma, dan harapan-harapan yang didasarkan pada jenis kelamin mereka. Ini semua
membuat laki-laki dan perempuan memiliki pola pikir, perasaan, dan perilaku yang berbeda.
Untuk mengembangkan metodologi feminis sebetulnya adalah bagaimana perspektif
feminisnya nanti mewarnai penggunaan metode-metode penelitian yang telah ada. Paradigma
metodologi feminis adalah epistimologi. Kita harus memakai pengalaman hidup, pemikiran,
refleksi interpretasi, dan formula pengalaman perempuan sebagai titik tolak pijakan riset kita.
Dimensi ontologi adalah bagaimana kita memandang realitas kehidupan. Feminis
adalah subjektivitas, memprioritaskan women’s ways of knowing dan menggunakan berbagai
macam metode untuk mengakses isu yang sensitif bagi perempuan yang mengkini-kan
pengalaman perempuan. Selain itu keberagaman di muka bumi diakui tidak ada kebenaran
yang universal.
Dimensi metodologis adalah kerangka konseptual dan teoretis yang digunakan dalam
meninjau tema penelitian adalah konsep-konsep subordinasi, penindasan, hubungan
kekuasaan, dan sebagainya yang terkait dengan situasi perempuan setiap hari. Metodologi
feminis juga terbuka setiap saat untuk berubah jika hal tersebut diperlukan saat peneliti
berada dilapangan. Fleksibilitas perubahan berdasarkan kebutuhan dilapangan ini
disebut emergent design.
Dimensi aksiologi adalah bagaimana nilai-nilai yang kitamiliki mempengaruhi
penelitian kita. Dalam metodologi feminis, ilmu pengetahuan dipandang sebagai aktivitas
yang tertanam dalam konteks sosiohistoris dan dibentuk oleh kepedulian dan komitmen
personal, sehingga bias peneliti tidak dapat dihindari. Pre-understanding tidak mungkin
dihindari tetapi harus diminimalisir.
Posisi Feminism Dalam Perspektif / Paradigma Ilmu Sosial
Feminsim Pada paradigma posisi dalam paradigma ilmu sosial terdapat pada
paradigma kritis karena sebagaimana kita ketahui bahwa feminisme berakar pada gender
yang menyetarakan persamaan kedudukan dengan pria dalam apek sosial politik, hukum dan
pendidikan dimana wanita diharapkan lebih berperan dalam arsitektur (include) daripada
hanya di eksploitasi keindahan tubuhnya dijadikan patokan dalam represi makna ruang
interior (exclude).
15. POST MODERN

Paradigma ini muncul karena adanya kelemahan dari paradigm positivist, Interpretif
dan kritisme serta teknologi yang sangat canggih. Menurut Roslender (1995) dalam
Indriantoro (1999) menjelaskan bahwa post modern menolak pendapatmodernismeyang
meyakinibahwamanusia mempunyai kapasitasuntuk maju, untuk memperbaiki dirinya
sendiri dan berpikir secara rasional. Bagi seorang post modernis tidak ada keadaan yang
lebih baik, tidak ada dunia yang lebih baik, tidak ada yang disebut kemajuan atau
pengendalian alam. Post modern membuang metode dan teori yang dominan mengenai
modernitas dan mengantikannya dengan metode poststructuralist.

Oleh sebab itu, post modern menempuh jalan yang berbeda dengan paradigma
sebelumnya. Logika yang biasa dipakai pada paradigma sebelumnya tidak akan mampu
untuk menunjukkan kebenaran yang semakin kompleks yang tidak dapat ditolak. Menurut
paradigma postmo, kebenaran itu tidak bisa dibayangkan, oleh sebab itu setiap manusia
harus aktif untuk membangun kebenaran itu sendiri. Jalan kebenaran tersebut perlu untuk
dicari secara aktif dan kreatif untuk memberi makna oleh sebab itu yang ada perlu
didekonstruksi karena tidak mampu lagi menemukan kebenaran.

Paradigma ini berusaha untuk menggantikan uniformitas universalitas dengan


pluralitas yang bersifat local dengan mengikut sertakan modernisme tetapi tanpa
keistimewaan yang spesifik. Apa saja yang dulunya ditolak oleh modernitas karena tidak
terjelaskan oleh akal seperti emosi, intuisi, imajinasi berusaha dirangkul kembali oleh
paradigma ini dan diberi tempat yang layak dalam kehidupan manusia.

Post modernisme memunculkan suatu kritik terhadap modernitas yang cenderung


bersifat reduksionisme sehingga membuka peluang untuk menunjukkan realitas baik yang
inferior maupu yang superior. Karena dalam modernitas, realitas cenderung direduksi
supaya bias dikuasai. Pusat perhatian post modernis adalah proses yang artinya bahwa ada
yang sedang terjadi dan perlu diinvestigasi dengan cara yang relevan. Suatu aspek yang
mendasar dari paradigm post modern adalah bangkitnya suatu fakta bahwa kosmologi kita,
pandangan dunia kita (worldview) secara pasti menentukan etika dan cara hidup kita.

Ciri sosial post modernisme adalah menekankan pada hubungan internal, organisme
dan kreativitas yang menyatakan bahwa pemikiran itu akan berusaha untuk mengatasi
mekanisme atau menjadikan manusia seperti mesin, sehingga manusia lebih bersifat
partisipatif dan emansipatoris. Paradigma ini menolak materialism yang mendasari segala
bentuk kebijakan

 Aspek ontologis

memandang realitas secara subyektif dan beragama yang dapat dilihat oleh partisipan
pada suatu penelitian.

 Aspek epistemology

paradigma ini melihat peneliti berinteraksi dengan apa yang diteliti.

 Aspek metodologi

paradigm post modern lebih menekankan pada keakuratan dan reliabilitas melalui
verifikasi dan logical discourse.

 Aspek Aksiologi
paradigma ini lebih menekankan pada peran nilai (roleofvalue) dalam riset artiny
apeneliti membawa nilai-nilai social yang diletakkan untuk menjustifikasi
fenomena yang diinvestigasi.

Posisi Post Modern Dalam Perspektif / Paradigma Ilmu Sosial


Kedudukan post modern dalam paradigma ilmu social yaitu terletak pada paradigma
kritis karena paradigma tersebut memiliki tujuan untuk untuk memeroleh temuan yang
memiliki signifikansi sosial
16. CRITICAL THEORY ( TEORI KRITIS )

Teori kritis menolak skeptitisme dengan tetap mengaitkan antara nalar dan kehidupan
sosial yang bersifat empiris dan interpretatif dengan klaim – klaim normatif tentang
kebenaran, moralitas dan keadilan.Teori kritis tidak hanya mau menjelaskan,
mempertimbangkan,merefleksikan dan menata realitas sosial tetapi juga bahwa teori tersebut
mau mengubah. Pada dasarnya Teori kritis mau jadi praktis.

 Aspek Ontologis Paradigma Teori Kritis

Historical realism: relitas yang teramati (virtual reality ) merupakan realitas “ semu “
yang telah terbentuk oleh proses sejarah dan kekuatan - kekuatan sosial, budaya, dan
ekonomi politik.

 Aspek Epistemologik Paradigma Teori Kritik

Transaksionalis / Subjektive: hubungan antara peneliti dan yang diteliti selain di


jembatani oleh nilai nilai tertentu. pemahaman tentang suatu realitas merupakan value
mediated findings

 Aspek Metodologis Paradigma Teori Kritis

Participative : mengutamakan analisis komprehensif, kontekstual dan multilevel


analysis yang bisa dilakukan melalui penempatan diri sebagai aktiifis / partisipan dalam
proses transaksi sosial. Kriteria kualitas penelitian : historical situatedness, sejauh mana
penelitian memperhatikan konteks historis, sosial,budaya,ekonomi dan politik.

 Aspek Aksiologis Paradigma Teori Kritis


Nilai, etika dan pilihan moral me rupakan bagian yang tak terpisahkan dari suatu
penelitian. Peneliti menempatkan diri sebagai transformative intellectual, advokat dan
aktivis.Tujuan penelitian : kritk sosial, transformasi, emansipasi,dan social empowerment.

Posisi Critical Theory Dalam Perspektif/Paradifma Ilmu Sosial

Pada Critical Theory ( Teori Kritis ) posisi dalam paradigma ilmu sosial terdapat pada
paradigma Kritis karena sebagaimana diketahui bahwa pada paradigma ini Mendefinisikan
ilmu sosial sebagai suatu proses yang secara kritis berusaha mengungkap : the real stuctures”
di balik ilusi, false needs, yang dinampakkan dunia materi, dengan tujuan membantu
membentuk kesadaran sosial agar memperbaiki dan mengubah kondisi kehidupan manusia.
Begitupun yang diketahui pada Teori kritis menolak skeptitisme dengan tetap mengaitkan
antara nalar dan kehidupan sosial yang bersifat empiris dan interpretatif dengan klaim –
klaim normatif tentang kebenaran, moralitas dan keadilan.Teori kritis tidak hanya mau
menjelaskan, mempertimbangkan,merefleksikan dan menata realitas sosial tetapi juga bahwa
teori tersebut mau mengubah. Pada dasarnya Teori kritis mau jadi praktis. Serta ini dapat
diketahui dari beberapa ciri atau karasteristik yang ada pada teori ini.
17. CONTRUKTIVISM
Dalam paradigma atau faham yang guba deskripsikan dalam penelitian ilmu sosial
salah satunya adalah Contruktivism, faham ini melihat realitas empiris besifat konstruktif,
sehingga berbeda dengan faham positivisme dan postpositivisme. Selain itu Contruktivism
berpendapat bahwa semua aktivitas manusia dalah praktek sosial kontigen yang maknanya
dikontruksi dalam pasang surut interaksi sosial. Pada faham ini memberikan ruang terbuka
bagi kajian gender, kajian postkolonial, kajian etnitasan, kajian seni, kajian bahasa dan kajian
budaya lokal (multikultural).
 Dimensi Ontologis
Secara Ontologis faham ini bersifat Relativitastis, dan menykini bahwa realitas itu ada
dalam bentuk berbagai macam konstruksi mental berdasarkan pengalaman sosial, bersifat
lokal dan spesifik dan tergantung pada orang yang melakukanya sehingga tidak bisa
digeneralisir. Oleh sebab itu tidak ada realitas yang bisa diungkapkan secara tuntas oleh ilmu
pengetahuan. Faham ini menganut
prinsip relativitas dalam memandang suatu fenomena alam atau sosial sebagai satu kesatuan.
 Dimensi Epistemologi
Pada Contruktivism penelitian dan realitas/fenomena yang diteliti menyatu sebagai satu
entitas. Temuan peneliti merupakan hasil interaksi antara peneliti yang diteliti. Pemahaman
tentang suatu realitas, atau temuan penelitian merupakan produk interaksi antar peneliti
dengan yang diteliti.
 Dimensi Aksiologis
Konstruktivisme menempatkan nilai, etika dan pilihan moral merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari suatu penelitian. Peneliti berperan sebagai passiorate participant,
fasilitator yang menjembatani subjektivitas pelaku sosial, karena faham ini memiliki tujuan
peneltian untuk rekonstruksi realitas sosial secara dialektik antara peneliti dengan aktor sosial
yang diteliti.
 Dimensi Metodologis
Metodologi Paradigma Konstruktivisme sama dengan Teori Kritik yan tetap bersifat
Hermeneutical dan Dialektical, bahwa peneliti harus keluar dari laboratorium, pergi ke alam
bebas untuk menangkap fenomena alam sewajarnya, apa adanya dan secara menyeluruh
tanpa campur tangan dan manipulasi pengamat/pihak peneliti. Dengan setting natural, maka
metode yang lebih sering di gunakan adalah metode kualitatif dibanding dengan kuantitatif.
Teori muncul berdasarkan data yang ada, dan pengumpulan data dilakukan dengan proses
hermeneutik dan dialektik yang difokuskan pada konstruksi, rekonstruksi dan elaborasi suatu
proses sosial.
Posisi Contruktivism Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial
Guba dan Lincoln sendiri mengkategorisasikan 4 (empat) paradigma yaitu positivism,
post-positivism, Critical Theory, dan Construtivism. Mengutip dari karya Dedy N. Hidayat
”Penelitain proposal Penelitian untuk Pengembangan Ilmu.” Di kategorikan dalaam
paradigma kontruktivisme dimana, Constructivism paradigm, Memandang ilmu sosial
sebagai analisis sitematis terhadap socially meaning full action melalui pengamatan langsung
dan rinci terhadap pelaku sosial dalam setting keseharian alamiah, agar mampu memahami
dan menafsirkan bagaimana para pelaku sosial yang bersangkutan menciptakan dan
memelihara/mengelola dunia sosial mereka.
18. POST POSITIVISM

Post-positivisme merupakan perbaikan positivisme yang dianggap memiliki


kelemahan-kelemahan, dan dianggap hanya mengandalkan kemampuan pengamatan
langsung terhadap objek yang diteliti. Secara ontologis aliran post-positivisme
bersifat critical realism dan menganggap bahwa realitas memang ada dan sesuai dengan
kenyataan dan hukum alam tapi mustahil realitas tersebut dapat dilihat secara benar oleh
peneliti. Secara epistomologis: Modified dualist/objectivist, hubungan peneliti dengan realitas
yang diteliti tidak bisa dipisahkan tapi harus interaktif dengan subjektivitas seminimal
mungkin. Secara metodologis adalahmodified experimental/ manipulatif.

Postpositivisme adalah aliran yang ingin memperbaiki kelemahan pada Positivisme.


Satu sisi Postpositivisme sependapat dengan Positivisme bahwa realitas itu memang nyata
ada sesuai hukum alam. Tetapi pada sisi lain Postpositivisme berpendapat manusia tidak
mungkin mendapatkan kebenaran dari realitas apabila peneliti membuat jarak dengan realitas
atau tidak terlibat secara langsung dengan realitas. Hubungan antara peneliti dengan realitas
harus bersifat interaktif, untuk itu perlu menggunakanprinsip trianggulasi yaitu penggunaan
bermacam-macam metode, sumber data, data, dan lain-lain.

Selanjutnya menurut Guba (1990:23) sistem keyakinan dasar pada peneliti Postpositivisme
adalah sebagai berikut:

1. Asumsi ontologi: “Critical realist – reality exist but can never be fully apprehended. It
is driven by natural laws that can be only incompletely understood.” Yang artinya
“Realis kritis – artinya realitas itu memang ada, tetapi tidak akan pernah dapat
dipahami sepenuhnya. Realitas diatur oleh hukum-hukum alam yang tidak dipahami
secara sempurna.
2. Asumsi epistomologi: “Modified objectivist – objectivity remains a regulatory ideal,
but it can only be approximated with special emphasis placed on external guardians
such as the critical tradition and critical community.”yang artinya “Objektivis
modifikasi - artinya objektivitas tetap merupakan pengaturan (regulator) yang ideal,
namun objektivitas hanya dapat diperkirakan dengan penekanan khusus pada penjaga
eksternal, seperti tradisi dan komunitas yang kritis.”
3. Asumsi metodologi: “Modified experimental/manipulative – emphasize critical
multiplism. Redress imbalances by doing inquiry in more natural settings, using more
qualitative methods, depending more on grounded theory, and reintroducing
discovery into the inqury process.” Yang artinya “Eksperimental/manipulatif yang
dimodifikasi, maksudnya menekankan sifat ganda yang kritis. Memperbaiki
ketidakseimbangan dengan melakukan penelitian dalam latar yang alamiah, yang
lebih banyak menggunakan metode-metode kualitatif, lebih tergantung pada teori-
grounded (grounded-theory) dan memperlihatkan upaya (reintroducing) penemuan
dalam proses penelitian.”
Posisi Post Positivism Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial
Adapun kedudukan Post Positivism dalam paradigma ilmu social yaitu terletak pada
paradigma kritis karena penelitian selalu melibatkan value judgment dan keberpihakan pada
nilai-nilai tertentu karena paradigma Postpositivisme berpendapat bahwa manusia tidak
mungkin mendapatkan kebenaran dari realitas apabila peneliti membuat jarak dengan realitas
atau tidak terlibat secara langsung dengan realitas.

19. JENIS-JENIS PARADIGMA DALAM ILMU SOSIAL


A. Pengertian Setiap Paradigma
Paradigma menurut Guba (1990, hal.17) mempunyai definisi sebagai serangkaian
keyakinan dasar yang membimbing tindakan. Paradigma pada dasarnya merupakan sudut
pandang peneliti dalam melihat penelitiannya.
Paradigma dibedakan menjadi tiga:
 Paradigma Klasik
Paradigma yang menganalogikan Ilmu Sosial sebagai Ilmu Alam. Paradigma yang
menempatkan ilmu pengetahuan menyelidiki sebab akibat fenomena. Sebagai metode yang
terorganisir untuk mengkombinasikan logika deduktif dengan pengamatan empiris, guna
secara probabilistik menemukan atau memperoleh konfirmasi tentang hukum sebab akibat
yang bisa dipergunakan untuk memprediksi pola-pola umum gejala sosial tertentu.
 Paradigma Konstruktif
Paradigma yang memandang Ilmu Sosial sebagai analisis sistematis terhadap pelaku
sosial, yang dilakukan melalui pengamatan langsung dan rinci terhadap pelaku sosial.
Paradigma yang memandang ilmu pengetahuan sebagai analisis sistematis yang disertai
dengan pengamatan langsung dan rinci terhadap pelaku sosial dalam setting keseharian yang
alamiah, agar mampu memahami dan menafsirkan bagaimana para pelaku sosial yang
bersangkutan menciptakan dan memelihara/mengelola dunia sosial mereka.
 Paradigma Kritis
Paradigma yang memandang Ilmu Sosial sebagai sebuah proses yang kritis yang
bertujuan menyatakan struktur nyata dalam kehidupan sosial. Paradigma yang mencoba
menghasilkan berbagai transformasi dalam tatanan sosial, dengan menghasilkan ilmu
pengetahuan yang berciri historis dan struktural, yang dinilai menurut tingkat keterposisian
sejarahnya dan kemampuannya untuk menghasilkan praksis, atau tindakan.
B. Paradigma Ilmu Sosial dalam Asumsi Ontologis, Epistemologis, Metodologis dan
Aksiologis
 Paradigma Klasik
 Secara Ontologis
Secara ontologis berbicara mengenai hakikat realitas atau kenyataan. Paradigma Klasik
percaya bahwa realitas yang ada di luar sudah diatur oleh hukum dan kaidah-kaidah
tertentu secara universal.
 Secara Epistemologis
Secara epistemologis berbicara mengenai hubungan peneliti dengan yang diteliti.
Paradigma Klasik meyakini bahwa peneliti bersifat objektif, maka peneliti harus menjaga
jarak dengan objek yang diteliti.
 Secara Metodologis
Secara Metodologis berbicara mengenai cara yang akan digunakan dalam memperoleh
pengetahuan. Cara yang dipakai dalam pardigma ini adalah cara hipotesis dan metode
deduktif.
 Secara Aksiologis
Secara Aksiologis berbicara mengenai pertimbangan nilai dari peneliti mengenai objek
yang diteliti. Dalam Paradigma Klasik nilai, etika dan moral berada di luar proses
penelitian. Peneliti bertindak sebagai pengamat.
 Paradigma Konstruktif
 Secara Ontologis
Dalam Paradigma Konstruktif, kebenaran tentang suatu realitas bersifat relatif. Artinya
kebenaran realitas sosial tergantung pada individu pelaku sosial.
 Secara Epistemologis
Dalam Paradigma ini, kebenaran atau realitas dunia sosial, merupakan hasil interaksi dari
sesama pelaku sosial.
 Secara Metodologis
Dalam paradigma ini, cara yang dipakai untuk mengetahui kebenaran realitas sosial adalah
cara dialektis dengan metode-metode seperti metode kualitatif.
 Secara Aksiologis
Dalam paradigma ini nilai, etika dan pilihan moral si peneliti tidak boleh dipisahkan dari
proses penelitian. Peneliti bertindak sebagai fasilitator yang menjembatani keragaman
subjektivitas pelaku sosial.
 Paradigma Kritis
 Secara Ontologis
Dalam paradigma ini, realitas sosial dipandang sebagai sesuatu yang semu karena
merupakan hasil dari proses sejarah, sosial maupun politik.
 Secara Epistemologis
Dalam paradigma ini, hubungan antara peneliti dengan yang diteliti selalu dijembatani
oleh nilai-nilai tertentu. Nilai itu sendiri ditemukan oleh si peneliti itu sendiri.
 Secara Metodologis
Dalam paradigma ini, cara yang dipakai untuk mengetahui kebenaran suatu realitas adalah
peneliti bertindak sebagai partisipan atau biasa disebut sebagai aktivis perubahan sosial.
 Secara Aksiologis
Dalam paradigma ini nilai, etika dan pilihan moral tidak dapat dipisahkan dari proses
penelitian. Peneliti bertindak sebagai aktivis, advokat maupun sebagai transformative
intellectual.