Anda di halaman 1dari 10

Suku Asmat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Suku Asmat adalah sebuah suku di Papua. Suku Asmat dikenal dengan hasil ukiran
kayunya yang unik. Populasi suku Asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di
pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. Kedua populasi ini saling
berbeda satu sama lain dalam hal dialek, cara hidup, struktur sosial dan ritual. Populasi
pesisir pantai selanjutnya terbagi ke dalam dua bagian yaitu suku Bisman yang berada
di antara sungai Sinesty dan sungai Nin serta suku Simai.

Seorang dari suku Asmat tengah membuat ukiran kayu

Pengertian Suku Asmat


Suku Asmat adalah nama dari sebuah suku terbesar dan paling terkenal di antara sekian
banyak suku yang ada di Papua, Irian Jaya, Indonesia. Salah satu hal yang membuat
suku asmat cukup dikenal adalah hasil ukiran kayu tradisional yang sangat khas.
Beberapa ornamen / motif yang seringkali digunakan dan menjadi tema utama dalam
proses pemahatan patung yang dilakukan oleh penduduk suku asmat adalah mengambil
tema nenek moyang dari suku mereka, yang biasa disebut mbis. Namun tak berhenti
sampai disitu, seringkali juga ditemui ornamen / motif lain yang menyerupai perahu atau
wuramon, yang mereka percayai sebagai simbol perahu arwah yang membawa nenek
moyang mereka di alam kematian. Bagi penduduk asli suku asmat, seni ukir kayu lebih
merupakan sebuah perwujudan dari cara mereka dalam melakukan ritual untuk
mengenang arwah para leluhurnya.
Kondisi Alam
Wilayah yang mereka tinggali sangat unik.Dataran coklat lembek yang tertutup oleh
jaring laba-laba sungai.Wilayah yang ditinggali Suku Asmat ini telah menjadi Kabupaten
sendiri dengan nama Kabupaten Asmat dengan 7 Kecamatan atau Distrik.Hampir setiap
hari hujan turun dengan curah 3000-4000 milimeter/tahun.Setiap hari juga pasang surut
laut masuk kewilayah ini,sehingga tidak mengherankan kalau permukaan tanah sangat
lembek dan berlumpur.Jalan hanya dibuat dari papan kayu yang ditumpuk di atas tanah
yang lembek.Praktis tidak semua kendaraan bermotor bisa lewat jalan ini.Orang yang
berjalan harus berhati-hati agar tidak terpeleset,terutama saat hujan.

Pertentangan
Ada banyak pertentangan di antara desa berbeda Asmat. Yang paling mengerikan
adalah cara yang dipakai Suku Asmat untuk membunuh musuhnya. Ketika musuh
dibunuh, mayatnya dibawa ke kampung, kemudian dipotong dan dibagikan kepada
seluruh penduduk untuk dimakan bersama. Mereka menyanyikan lagu kematian dan
memenggalkan kepalanya. Otaknya dibungkus daun sago yang dipanggang dan
dimakan. Namun hal ini sudah jarang terjadi bahkan hilang resmi dari ingatan.

Persebaran
Suku asmat tersebar dan mendiami wilayah disekitar pantai laut arafuru dan
pegunungan jayawijaya, dengan medan yang lumayan berat mengingat daerah yang
ditempati adalah hutan belantara, dalam kehidupan suku Asmat, batu yang biasa kita
lihat dijalanan ternyata sangat berharga bagi mereka. Bahkan, batu-batu itu bisa
dijadikan sebagai mas kawin. Semua itu disebabkan karena tempat tinggal suku Asmat
yang membetuk rawa-rawa sehingga sangat sulit menemukan batu-batu jalanan yang
sangat berguna bagi mereka untuk membuat kapak, palu, dan sebagainya.

Kampung Asmat
Sekarang biasanya, kira-kira 100 sampai 1000 orang hidup di satu kampung. Setiap
kampung punya satu rumah Bujang dan banyak rumah keluarga. Rumah Bujang dipakai
untuk upacara adat dan upacara keagamaan. Rumah keluarga dihuni oleh dua sampai
tiga keluarga, yang mempunyai kamar mandi dan dapur sendiri. Hari ini, ada kira-kira
70.000 orang Asmat hidup di Indonesia. Mayoritas anak-anak Asmat sedang bersekolah.

Ciri Fisik
Penduduk Asmat pada umumnya memiliki ciri fisik yang khas,berkulit hitam dan
berambut keriting. Tubuhnya cukup tinggi. Rata-rata tinggi badan orang Asmat wanita
sekitar 162 cm dan tinggi badan laki-laki mencapai 172 cm.

Mata Pencaharian
Kebiasaan bertahan hidup dan mencari makan antara suku yang satu dengan suku yang
lainnya di wilayah Distrik Citak-Mitak ternyata hampir sama. suku asmat darat, suku citak
dan suku mitak mempunyai kebiasaan sehari-hari dalam mencari nafkah adalah berburu
binatang hutan seperti, ular, kasuari, burung, babi hutan dll. mereka juga selalu
meramuh / menokok sagu sebagai makan pokok dan nelayan yakni mencari ikan dan
udang untuk dimakan. kehidupan dari ketiga suku ini ternyata telah berubah.
Sehari-hari orang Asmat bekerja dilingkungan sekitarnya,terutama untuk mencari
makan, dengan cara berburu maupun berkebun, yang tentunya masih menggunakan
metode yang cukup tradisional dan sederhana. Masakan suku Asmat tidak seperti
masakan kita. Masakan istimewa bagi mereka adalah ulat sagu. Namun sehari-harinya
mereka hanya memanggang ikan atau daging binatang hasil buruan.
Dalam kehidupan suku Asmat “batu” yang biasa kita lihat dijalanan ternyata sangat
berharga bagi mereka. Bahkan, batu-batu itu bisa dijadikan sebagai mas kawin. Semua
itu disebabkan karena tempat tinggal suku Asmat yang membetuk rawa-rawa sehingga
sangat sulit menemukan batu-batu jalanan yang sangat berguna bagi mereka untuk
membuat kapak, palu, dan sebagainya.
Makanan Pokok
Makanan Pokok orang Asmat adalah sagu,hampir setiap hari mereka makan sagu yang
dibuat jadi bulatan-bulatan yang dibakar dalam bara api.Kegemaran lain adalah makan
ulat sagu yang hidup dibatang pohon sagu,biasanya ulat sagu dibungkus dengan daun
nipah,ditaburi sagu,dan dibakar dalam bara api.Selain itu sayuran dan ikan bakar
dijadikan pelengkap. Namun yang memprihatinkan adalah masalah sumber air bersih.Air
tanah sulit didapat karena wilayah mereka merupakan tanah berawa.Terpaksa
menggunakan air hujan dan air rawa sebagai air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Pola Hidup
Satu hal yang patut ditiru dari pola hidup penduduk asli suku asmat,mereka merasa
dirinya adalah bagian dari alam, oleh karena itulah mereka sangat menghormati dan
menjaga alam sekitarnya, bahkan, pohon disekitar tempat hidup mereka dianggap
menjadi gambaran dirinya. Batang pohon menggambarkan tangan, buah
menggambarkan kepala, dan akar menggambarkan kaki mereka

Cara Merias Diri[


Suku asmat memiliki cara yang sangat sederhana untuk merias diri mereka. mereka
hanya membutuhkan tanah merah untuk menghasilkan warna merah. untuk
menghasilkan warna putih mereka membuatnya dari kulit kerang yang sudah
dihaluskan. sedangkan warnah hitam mereka hasilkan dari arang kayu yang dihaluskan.
cara menggunakan pun cukup simpel, hanya dengan mencampur bahan tersebut
dengan sedikit air, pewarna itu sudah bisa digunkan untuk mewarnai tubuh.

Adat istiadat suku asmat


Suku Asmat adalah suku yang menganut Animisme, sampai dengan masuknya para
Misionaris pembawa ajaran baru, maka mereka mulai mengenal agama lain selain agam
nenek-moyang. Dan kini, masyarakat suku ini telah menganut berbagai macam agama,
seperti Protestan, Khatolik bahkan Islam. Seperti masyarakat pada umumnya, dalam
menjalankan proses kehidupannya, masyarakat Suku Asmat pun, melalui berbagai
proses, yaitu :

 Kehamilan, selama proses ini berlangsung, bakal generasi penerus dijaga dengan
baik agar dapat lahir dengan selamat dengan bantuan ibu kandung alau ibu mertua.
 Kelahiran, tak lama setelah si jabang bayi lahir dilaksanakan upacara selamatan
secara sederhana dengan acara pemotongan tali pusar yang menggunakan
Sembilu, alat yang terbuat dari bambu yang dilanjarkan. Selanjutnya, diberi ASI
sampai berusia 2 tahun atau 3 tahun.
 Pernikahan, proses ini berlaku bagi seorang baik pria maupun wanita yang telah
berusia 17 tahun dan dilakukan oleh pihak orang tua lelaki setelah kedua belah
pihak mencapai kesepakatan dan melalui uji keberanian untuk membeli wanita
dengan mas kawinnya piring antik yang berdasarkan pada nilai uang kesepakatan
kapal perahu Johnson, bila ternyata ada kekurangan dalam penafsiran harga perahu
Johnson, maka pihak pria wajib melunasinya dan selama masa pelunasan pihak pria
dilarang melakukan tindakan aniaya walaupun sudah diperbolehkan tinggal dalam
satu atap.
 Kematian, bila kepala suku atau kepala adat yang meninggal, maka jasadnya
disimpan dalam bentuk mumi dan dipajang di depan joglo suku ini, tetapi bila
masyarakat umum, jasadnya dikuburkan. Proses ini dijalankan dengan iringan
nyanyian berbahasa Asmat dan pemotongan ruas jari tangan dari anggota keluarga
yang ditinggalkan.

Unik
Dalam memenuhi kebutuhan biologisnya, baik kaum pria maupun wanita melakukannya
di ladang atau kebun, disaat prianya pulang dari berburu dan wanitanya sedang berkerja
di ladang. Selanjutnya, ada peristiwa yang unik lainnya dimana anak babi disusui oleh
wanita suku ini hingga berumur 5 tahun.

Rumah Adat
Rumah Tradisional Suku Asmat adalah Jeu dengan panjang sampai 25 meter.Sampai
sekarang masih dijumpai Rumah Tradisional ini jika kita berkunjung ke Asmat
Pedalaman.Bahkan masih ada juga di antara mereka yang membangun rumah tinggal di
atas pohon.

Agama
Masyarakat Suku Asmat beragama Katolik,Protestan,dan Animisme yakni suatu ajaran
dan praktik keseimbangan alam dan penyembahan kepada roh orang mati atau patung.
Bagi Suku Asmat ulat sagu merupakan bagian penting dari ritual mereka.Setiap ritual ini
diadakan,dapat dipastikan,kalau banyak sekali ulat yang dipergunakan. (Kal
Muller,Mengenal Papua,2008,hal.31)
Kepercayaan Dasar
Adat istiadat suku Asmat mengakui dirinya sebagai anak dewa yang berasal dari dunia
mistik atau gaib yang lokasinya berada di mana mentari tenggelam setiap sore hari.
Mereka yakin bila nenek moyangnya pada jaman dulu melakukan pendaratan di bumi di
daerah pegunungan. Selain itu orang suku Asmat juga percaya bila di wilayahnya
terdapat tiga macam roh yang masing-masing mempunyai sifat baik, jahat dan yang
jahat namun mati. Berdasarkan mitologi masyarakat Asmat berdiam di Teluk Flamingo,
dewa itu bernama Fumuripitis. Orang Asmat yakin bahwa di lingkungan tempat tinggal
manusia juga diam berbagai macam roh yang mereka bagi dalam 3 golongan.

 Yi – ow atau roh nenek moyang yang bersifat baik terutama bagi keturunannya.
 Osbopan atau roh jahat dianggap penghuni beberapa jenis tertentu.
 Dambin – Ow atau roh jahat yang mati konyol.
Kehidupan orang Asmat banyak diisi oleh upacara-upacara. Upacara besar menyangkut
seluruh komuniti desa yang selalu berkaitan dengan penghormatan roh nenek moyang
seperti berikut ini :

 Mbismbu (pembuat tiang)


 Yentpokmbu (pembuatan dan pengukuhan rumah yew)
 Tsyimbu (pembuatan dan pengukuhan perahu lesung)
 Yamasy pokumbu (upacara perisai)
 Mbipokumbu (Upacara Topeng)
Suku ini percaya bahwa sebelum memasuki surga, arwah orang yang sudah meninggal
akan mengganggu manusia. Gangguan bisa berupa penyakit, bencana, bahkan
peperangan. Maka, demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah, mereka yang
masih hidup membuat patung dan menggelar pesta seperti pesta patung bis
(Bioskokombi), pesta topeng, pesta perahu, dan pesta ulat-ulat sagu.
Roh-roh dan Kekuatan Magis

 Roh setan
Kehidupan orang-orang Asmat sangat terkait erat dengan alam sekitarnya. Mereka
memiliki kepercayaan bahawa alam ini didiami oleh roh-roh, jin-jin, makhluk-makhluk
halus, yang semuanya disebut dengan setan. Setan ini digolongkan ke dalam 2
kategori :
1. Setan yang membahayakan hidup. Setan yang membahayakan hidup ini dipercaya
oleh orang Asmat sebagai setan yang dapat mengancam nyawa dan jiwa seseorang.
Seperti setan perempuan hamil yang telah meninggal atau setan yang hidup di pohon
beringin, roh yang membawa penyakit dan bencana (Osbopan).
2. Setan yang tidak membahayakan hidup. Setan dalam kategori ini dianggap oleh
masyarakat Asmat sebagai setan yang tidak membahayakan nyawa dan jiwa seseorang,
hanya saja suka menakut-nakuti dan mengganggu saja. Selain itu orang Asmat juga
mengenal roh yang sifatnya baik terutama bagi keturunannya., yaitu berasal dari roh
nenek moyang yang disebut sebagai yi-ow
 Kekuatan magis dan Ilmu sihir
Orang Asmat juga percaya akan adanya kekuatan-kekuatan magis yang kebanyakan
adalah dalam bentuk tabu. Banyak hal -hal yang pantang dilakukan dalam menjalankan
kegiatan sehari-hari, seperti dalam hal pengumpulan bahan makanan seperti sagu,
penangkapan ikan, dan pemburuan binatang.
Kekuatan magis ini juga dapat digunakan untuk menemukan barang yang hilang, barang
curian atau pun menunjukkan si pencuri barang tersebut. Ada juga yang
mempergunakan kekuatan magis ini untuk menguasai alam dan mendatangkan angin,
halilintar, hujan, dan topan.

Sumber Alam dan Potensi Alam


Selain ikan,cucut,kepiting,udang,teripang,ikan penyu,cumi-cumi,dan hewan lainnya yang
melimpah ruah.Daerah Asmat juga memiliki sumber daya alam yang amat luar
biasa,seperti : rotan,kayu,gahar,kemiri,kulit masohi,kulit lawang,damar,dan kemenyan.

Wanita Dalam Pandangan Suku Asmat


Simbolisasi perempuan dengan Flora & Fauna yang berharga bagi masyarakat Asmat
(pohon/kayu,kuskus,anjing,burung kakatua dan nuri,serta bakung),seperti kata Asmat di
atas,menunjukkan bagaimana sesungguhnya masyarakat Asmat menempatkan
perempuan yang sangat berharga bagi mereka.Hal ini tersirat juga dalam berbagai seni
ukiran dan pahatan mereka.Namun dalam gegap gempitanya serta kemasyuran pahatan
dan ukiran Asmat.Tersembunyi suatu realita derita para Ibu dan gadis Asmat yang tak
terdengar dari dunia luar.
Derita perempuan Asmat menjadi pelakon tunggal dalam menghidupi suku
tersebut.Setiap harinya mereka harus menyediakan makanan untuk suami dan anak-
anaknya,mulai dari mencari ikan,udang,kepiting,dan tembelo sampai kepada mencari
pohon sagu yang tua,menebang pohon sagu,menokok,membawa sagu dari
hutan,memasak dan menyajikan.Setelah itu mencuci tempat makanan atau tempat
masak termaksud mengambil air dari telaga atau sungai yang jernih untuk keperluan
minum keluarga.
Sementara itu kegiatan laki-laki Asmat sehari-harinya adalah menikmati makanan yang
disediakan istrinya,mengisap tembakau,dan berjudi.Kadang suami membuat rumah atau
perahu,namun dengan batuan istri.Ada pula suami yang mau menemani istrinya mencari
kayu bakar.Sayangnya mereka hanya benar-benar menemani.Mendayung
perahu,menebang kayu,dan membawanya pulang adalah tugas istri.Suami yang cukup
berbaik hati akan membantu membawakan kapak istrinya.
Jika istri tidak menyiapkan permintaan suaminya seperti sagu atau ikan,maka istri akan
menjadi korban luapan kemarahan.Jika mereka kalah judi,maka istri pula yang akan
dijadikan obyek kekesalan.Mereka yang tinggal di Agats,kini terbiasa pula untuk
mabuk,mereka lebih rentan untuk mengamuk,sehingga istripun yang akan lebih banyak
menerima tindak kekerasan.
Kadangkala laki-laki Asmat mengukir,jika mereka ingin tau atau jika hendak
menyelenggarakan pesta.Ketika laki-laki mengukir,maka tugas perempuan akan
semakin bertambah.Perempuan harus terus menyediakan sagu bakar dan makanan lain
yang diinginkan suami mereka agar dapat terus bertenaga untuk mengukir.Semakin
lama laki-laki mengukir,semakin banyak pula makanan yang harus mereka sediakan.Hal
itu berarti akan semakin lelah perempuan Asmat,karena harus memangur,meramah,dan
mengolah sagu,dan bahkan menjaring ikan,lebih tragisnya lagi,jika ukiran itu dijual,maka
uangnya hanya untuk suami yang membuatnya,perempuan Asmat tidak menerima
imbalan apapun untuk jerih payahnya menyediakan makanan. Padahal tanpa makanan
itu,satu ukiranpun tidak akan selesai dibuat.(Dewi Linggasari,2004,Yang Perkasa Yang
Tertindas. Potret Hidup Perempuan Asmat.Yogyakarta : Bigraf Publishing,bekerjasama
dengan Yayasan Adhikarya IKAPI dan The Fourt Foundation.Hal.22).

Bencana Yang Di Waspadai


Bencana bagi Suku Asmat kurang lebih ada 3,yaitu ;

 Penyakit Malaria
 Buaya
 HIV/AIDS
Setelah virus HIV/AIDS marak di Asmat dan mulai merenggut korban jiwa,semakin
bertumpuk daftar persoalan yang harus dihadapi PEMDA dan seluruh masyarakat
Asmat.Sebagai sebuah Kabupaten baru yang tengah sibuk-sibuknya melakukan
pembenahan infrastruktur dan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam rangka
menyelenggarakan sebuah pemerintahan baru,dalam berbagi aspek,berjangkitnya
HIV/AIDS ini merupakan sebuah pukulan telak yang bakal menyedot
dana,waktu,tenaga,dan pikiran dari segenap komponen masyarakat Asmat,instansi-
instansi terkait dalam jajaran pemerintahan Kabupaten Asmat khususnya dan sudah
pasti butuh Pemerintah Pusat perlu segera mengambil langkah-langkah
penanggulanggannya.

Mitologi
Dalam hal kepercayaan orang Asmat yakin bahwa mereka adalah keturunan dewa yang
turun dari dunia gaib yang berada di seberang laut di belakang ufuk, tempat matahari
terbenam tiap hari. Menururt keyakinan orang Asmat, dewa nenek-moyang itu dulu
mendarat di bumi di suatu tempat yang jauh di pegunungan. Dalam perjalanannya turun
ke hilir sampai ia tiba di tempat yang kini didiami oleh orang Asmat hilir, ia mengalami
banyak petualangan. Dalam mitologi orang Asmat yang berdiam di Teluk Flaminggo
misalnya, dewa itu namanya Fumeripitsy. Ketika ia berjalan dari hulu sungau ke arah
laut, ia diserang oleh seekor buaya raksasa. Perahu lesung yang ditumpanginya
tenggelam. Dalam perkelahian sengit yang terjadi, ia dapat membunuh si buaya, tetapi
ia sendiri luka parah. Ia terbawa arus yang mendamparkannya di tepi sungai Asewetsy,
desa Syuru sekarang. Untung ada seekor burung Flamingo yang merawatnya sampai ia
sembuh kembali; kemudian ia membangun rumah yew dan mengukir dua patug yang
sangat indah serta membuat sebuah genderang em, yang sangat kuat bunyinya. Setelah
ia selesai, ia mulai menari terus-menerus tanpa henti, dan kekuatan sakti yang keluar
dari gerakannya itu memberi hidup pada kedua patung yang diukirnya. Tak lama
kemudian mulailah patung-patung itu bergerak dan menari, dan mereka kemudian
menjadi pasangan manusia yang pertama, yaitu nenek-moyang orang Asmat.
Upacara Adat
Upacara suku Asmat yaitu
Ritual Kematian
Orang Asmat tidak mengenal dalam hal mengubur mayat orang yang telah meninggal.
Bagi mereka, kematian bukan hal yang alamiah. Bila seseorang tidak mati dibunuh,
maka mereka percaya bahwa orang tersebut mati karena suatu sihir hitam yang kena
padanya. Bayi yang baru lahir yang kemudian mati pun dianggap hal yang biasa dan
mereka tidak terlalu sedih karena mereka percaya bahwa roh bayi itu ingin segera ke
alam roh-roh. Sebaliknya kematian orang dewasa mendatangkan duka cita yang amat
mendalam bagi masyarakat Asmat.
Suku Asmat percaya bahwa kematian yang datang kecuali pada usia yang terlalu tua
atau terlalu muda, adalah disebabkan oleh tindakan jahat, baik dari kekuatan magis atau
tindakan kekerasan. Kepercayaan mereka mengharuskan pembalasan dendam untuk
korban yang sudah meninggal. Roh leluhur, kepada siapa mereka membaktikan diri,
direpresentasikan dalam ukiran kayu spektakuler di kano, tameng atau tiang kayu yang
berukir figur manusia. Sampai pada akhir abad 20an, para pemuda Asmat memenuhi
kewajiban dan pengabdian mereka terhadap sesama anggota, kepada leluhur dan
sekaligus membuktikan kejantanan dengan membawa kepala musuh mereka,
sementara bagian badannya di tawarkan untuk dimakan anggota keluarga yang lain di
desa tersebut.
Apabila ada orang tua yang sakit, maka keluarga terdekat berkumpul mendekati si sakit
sambil menangis sebab mereka percaya ajal akan menjemputnya. Tidak ada usaha-
usaha untuk mengobati atau memberi makan kepada si sakit. Keluarga terdekat si sakit
tidak berani mendekatinya karena mereka percaya si sakit akan ´membawa´ salah
seorang dari yang dicintainya untuk menemani. Di sisi rumah dimana si sakit
dibaringkan, dibuatkan semacam pagar dari dahan pohon nipah. Ketika diketahui bahwa
si sakit meninggal maka ratapan dan tangisan menjadi-jadi. Keluarga yang ditinggalkan
segera berebut memeluk sis akit dan keluar rumah mengguling-gulingkan tubuhnya di
lumpur. Sementara itu, orang-orang di sekitar rumah kematian telah menutup semua
lubang dan jalan masuk (kecuali jalan masuk utama) dengan maksud menghalang-
halangi masuknya roh-roh jahat yang berkeliaran pada saat menjelang kematian. Orang-
orang Asmat menunjukkan kesedihan dengan cara menangis setiap hari sampai
berbulan-bulan, melumuri tubuhnya dengan lumpur dan mencukur habis rambutnya.
Yang sudah menikah berjanji tidak akan menikah lagi (meski nantinya juga akan
menikah lagi) dan menutupi kepala dan wajahnya dengan topi agar tidak menarik bagi
orang lain.
Mayat orang yang telah meninggal biasa diletakkan di atas para (anyaman bambu),
yang telah disediakan di luar kampung dan dibiarkan sampai busuk. Kelak, tulang
belulangnya dikumpulkan dan disipan di atas pokok-pokok kayu. Tengkorak kepala
diambil dan dipergunakan sebagai bantal petanda cinta kasih pada yang meninggal.
Orang Asmat percaya bahwa roh-roh orang yang telah meninggal tersebut (bi) masih
tetap berada di dalam kampung, terutama kalau orang itu diwujudkan dalam bentuk
patung mbis, yaitu patung kayu yangtingginya 5-8 meter. Cara lain yaitu dengan
meletakkan jenazah di perahu lesung panjang dengan perbekalan seperti sagu dan ulat
sagu untuk kemudian dilepas di sungai dan seterusnya terbawa arus ke laut menuju
peristirahatan terakhir roh-roh.
Saat ini, dengan masuknya pengaruh dari luar, orang Asmat telah mengubur jenazah
dan beberapa barang milik pribadi yang meninggal. Umumnya, jenazah laki-laki dikubur
tanpa menggunakan pakaian, sedangkan jenazah wanita dikubur dengan menggunakan
pakaian. Orang Asmat juga tidak memiliki pemakaman umum, maka jenazah biasanya
dikubur di hutan, di pinngir sungai atau semak-semak tanpa nisan. Dimana pun jenazah
itu dikubur, keluarga tetap dapat menemukan kuburannya.

 Ritual Pembuatan dan Pengukuhan Perahu Lesung


Setiap 5 tahun sekali, masyarakat Asmat membuat perahu-perahu baru.Dalam proses
pembuatan prahu hingga selesai, ada berapa hal yang perlu diperhatikan. Setelah
pohon dipilih, ditebang, dikupas kulitnya dan diruncingkan kedua ujungnya, batang itu
telah siap untuk diangkut ke pembuatan perahu. Sementara itu, tempat pegangan untuk
menahan tali penarik dan tali kendali sudah dipersiapkan. Pantangan yang harus
diperhatikan saat mengerjakan itu semua adalah tidak boleh membuat banyak bunyi-
bunyian di sekitar tempa itu. Masyarakat Asmat percaya bahwa jika batang kayu itu
diinjak sebelum ditarik ke air, maka batang itu akan bertambah berat sehingga tidak
dapat dipindahkan.
Untuk menarik batang kayu, si pemilik perahu meminta bantuan kepada kerabatnya.
Sebagian kecil akan mengemudi kayu di belakang dan selebihnya menarik kayu itu.
Sebelumnya diadakan suatu upacara khusus yang dipimpin oleh seorang tua yang
berpengaruh dalam masyarakat. Maksudnya adalah agar perahu itu nantinya akan
berjalan seimbang dan lancar.
Perahu pun dicat dengan warna putih di bagian dalam dan di bagian luar berwarna
merah berseling putih. Perahu juga diberi ukiran yang berbentuk keluarga yang telah
meninggal atau berbentuk burung dan binatang lainnya.Setelah dicat, perahu dihias
dengan daun sagu. Sebelum dipergunakan, semua perahu diresmikan terlebih dahulu.
Para pemilik perahu baru bersama dengan perahu masing-masing berkumpul di rumah
orang yang paling berpengaruh di kampung tempat diadakannya pesta sambil
mendengarkan nyanyi -nyanyian dan penabuhan tifa. Kemudian kembali ke rumah
masing-masing untuk mempersiapkan diri dalam perlombaan perahu. Para pendayung
menghias diri dengan cat berwarna putih dan merah disertai bulu-bulu burung. Kaum
anak-anak dan wanita bersorak-sorai memberikan semangat dan memeriahkan
suasana. Namun, ada juga yang menangis mengenang saudaranya yang telah
meninggal.
Dulu, pembuatan perahu dilaksanakan dalam rangka persiapan suatu penyerangan dan
pengayauan kepala. Bila telah selesai, perahu -perahu ini dicoba menuju tempat musuh
dengan maksud memanas -manasi mereka dan memancing suasana musuh agar siap
berperang. Sekarang, penggunaan perahu lebih terarahkan untuk pengangkutan bahan
makanan.

 Upacara Bis
Upacara bis merupakan salah satu kejadian penting di dalam kehidupan suku Asmat
sebab berhubungan dengan pengukiran patung leluhur (bis) apabila ada permintaan
dalam suatu keluarga. Dulu, upacara bis ini diadakan untuk memperingati anggota
keluarga yang telah mati terbunuh, dan kematian itu harus segera dibalas dengan
membunuh anggota keluarga dari pihak yang membunuh.
Untuk membuat patung leleuhur atau saudara yang telah meninggal diperlukan kurang
lebih 6-8 minggu. Pengukiran patung dikerjakan di dalam rumah panjang (bujang) dan
selama pembuatan patung berlangsung, kaum wanita tidak diperbolehkan memasuki
rumah tersebut. Dalam masa-masa pembuatan patung bis, biasanya terjadi tukar-
menukar istri yang disebut dengan papis. Tindakan ini bermaksud untuk mempererat
hubungan persahabatan yang sangat diperlukan pada saat tertentu, seperti peperangan.
Pemilihan pasangan terjadi pada waktu upacara perang-perangan antara wanita dan
pria yang diadakan tiap sore.
Upacara perang-perangan ini bermaksud untuk mengusir roh-roh jahat dan pada waktu
ini, wanita berkesempatan untuk memukul pria yang dibencinya atau pernah menyakiti
hatinya. Sekarang ini, karena peperangan antar clan sudah tidak ada lagi, maka upacara
bis ini baru dilakukan bila terjadi mala petaka di kampung atau apabila hasil
pengumpulan bahan makanan tidak mencukupi. Menurut kepercayaan, hal ini
disebabkan roh-roh keluarga yang telah meninggal yang belum diantar ketempat
perisitirahatan terakhir, yaitu sebuah pulau di muara sungai Sirets.
Patung bis menggambarkna rupa dari anggota keluarga yang telah meninggal. Yang
satu berdiri di atas bahu yang lain bersusun dan paling utama berada di puncak bis.
Setelah itu diberikan warna dan diberikan hiasan-hiasan.Usai didandani, patung bis ini
diletakkan di atas suatu panggung yang dibangun dirumah panjang. Pada saat itu,
keluarga yang ditinggalkan akan mengatakan bahwa pembalasan dendam telah
dilaksanakan dan mereka mengharapkan agar roh-roh yang telah meninggal itu
berangkat ke pulau Sirets dengan tenang. Mereka juga memohon agar keluarga yang
ditinggalkan tidak diganggu dan diberikan kesuburan. Biasanya, patung bis ini kemudian
ditaruh dan ditegakkan di daerah sagu hingga rusak.

 Upacara pengukuhan dan pembuatan rumah bujang (yentpokmbu)


Orang-orang Asmat mempunyai 2 tipe rumah, yaitu rumah keluarga dan rumah bujang
(je). Rumah bujang inilah yang amat penting bagi orang-orang Asmat. Rumah bujang ini
dinamakan sesuai nama marga (keluarga) pemiliknya.
Rumah bujang merupakan pusat kegiatan baik yang bersifat religius maupun yang
bersifat nonreligius. Suatu keluarga dapat tinggal di sana, namun apabila ada suatu
penyerangan yang akan direncanakan atau upacara-upacara tertentu, wanita dan anak-
anak dilarang masuk. Orang-orang Asmat melakukan upacara khusus untuk rumah
bujang yang baru, yang dihadiri oleh keluarga dan kerabat. Pembuatan rumah bujang
juga diikuti oleh beberapa orang dan upacara dilakukan dengan tari-tarian dan
penabuhan tifa.