Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

BATU GINJAL

Disusun oleh
Zahra Umaiya Anggraeni, S.Kep
1306378035

PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
2017

1
LAPORAN PENDAHULUAN
BATU GINJAL

I. Anatomi dan Fisiologi


Sistem perkemihan merupakan sebuah system yang sangat penting dalam eksresi
berbagai zat yang tidak dibutuhkan tubuh, system perkemIhan terdiri dari ginjal, ureter,
uretra dan bladder (Sherwood, 2009). Masing-masing komponen memiliki tugas dan
fungsi vital dalam proses pembentukan urin hingga urin dikeluarkan dari tubuh.
Ginjal merupakan sepasang organ berbentuk seperti kacang yang terletak di kolumna
vertebralis atau di area lumbal (Mader, 2012). Lokasi spesifik ginjal adalah antara
vertebra toraks ke 12 dan lumbal 3. Ginjal kiri lebih tinggi daripada ginjal kanan karena
adanya organ hati di ginjal kanan. Ginjal direkatkan oleh suatu jaringan pengikat yang
disebut fascia renal yang mengikat ginal di bawah peritenium. Ginjal orang dewasa rata-
rata berukuran panjang 1 cm, lebar 5-7,5 cm dan tebal 2,5 cm (Black & Hawk, 2014).
Ginjal tersusun dari unit fungsional mikroskopik yang disebut nefron. Kumpulan
dari nefron ini membentuk unit region luar yang tampak bergranular yang disebut korteks
ginjal, dan unit region dalam yang tampak bergaris disebut medulla ginjal dan pelvis
ginjal. Kortes ginjal berada di bawah kapsul fibrosa dan bagian ujung korteks memanjang
ke medulla membentuk kolumna renalis. Medula ginjal terbagi menjadi 8-18 duktus
pengumpul yang membentuk pyramid renal. Dasar piraid terletak di kortikomedularis,
apeks pyramid memanjang ke pelvis renalis membentuk papilla. Paipila memiliki 10-25
bukaan yang dilalui urin menuju ke pelvis ginjal.

2
Nefron secara umum terdiri dari komponen vaskular yaitu glomerulus, suatu kapiler
yang berbentuk bola yang menjadi tempat penyaring zat terlarut (Sherwood, 2009).
Komponen vascular lain adalah arteriol aferen dan eferen yang berfungsi untuk
membawa darah dari dan ke nefron. Komponen tubular nefron terdiri dari kapsul
bowman yang berfungsi sebagai pengumpul filtrate glomerulus, tubulus proksimal
tubulus reabsorbsi dan sekresi zat tertentu, angsa henle dan tubulus distal tempat
reabsorbsi Na + dan H+.

Proses Pembentukan Urin


1. Filtrasi Glomerulus
Filtrasi glomerulus dimulai ketika arteriol aferen melewati glomerulus. Membrane
semipermeable glomerulus kemudian menyaring darah secara selektif, menahan sel
darah dan protein, membiarkan air dan molekul-molekul terlarut lewat. Proses ini
menghasilkan filtrate glomeruli yang komposisinya mirip dengan plasma. Filtrate ini
ditampung oleh kapsula bowman.
Komponen darah yang tersaring Komponen darah yang tidak
(Mader, 2012) tersaring (Mader, 2012)
Air, sampah nitrogen, nutrient dan ion Sel darah dan protein plasma

Dalam filtrasi glomerulus terdapat beberapa gaya yang berperan yaitu


a. Tekanan darah kapiler glomerulus yang memberi efek mendorong filtrasi

3
b. Tekanan osmotik koloid plasma yang memberi efek melawan filtrasi. Penurunan
protein plasma menurunkan tekanan onkotik sehingga meningkatkan laju filtrasi
glomerulus.
c. Tekanan hidrostatik kapsula bowman yang memberi efek melawan filtrasi.
Apabila terjadi obstruksi pada kandung kemih maka akan menyebabkan
terbendungnya cairan di belakang obstruksi sehingga meningkatkan tekanan
hidrostatik kapsula bowman (Sherwood, 2009). Akibatnya cairan dari glomerulus
tidak dapat masuk ke kapsula bowman.
2. Reabsorbsi Tubulus Proksimal
Reabsorbsi tubulus terjadi secara aktif dan pasif. Beberapa ion seperti klorin
direabsorbsi secara pasif, sedangkan Natrium dan molekul nutrient sepeti asam amino
dan glukosa direabsorbsi secara aktif. Akan tetapi setiap molekul memiliki jumah
maksimum reabsorbsi (Tm). Setiap bahan yang jumlahnya melewati Tmnya maka
tidak akan direabsorbsi dan dikeluarkan bersamaan dengan urin.
No Bahan/ Zat Tm
1 Glukosa 300 mg/ml, namun pada kenyataannya glukosa
mulai muncul pada kada 180 mg/100 ml

3. Sekresi Tubular
Sekresi tubular ini merupakan penambahan zat-zat asing atau sisa yang sudah tidak
digunakan lagi oleh tubuh. Bahan-bahan penting yang disekresikan oleh tubulus
adalah ion hydrogen, ion kalium, anion dan kation organic dan senyawa-seyawa asing
tubuh (Sherwood, 2009).

Fungsi Ginjal
1. Mempertahankan keseimbangan air dalam tubuh
2. Mempertahanan osmolaritas cairan tubuh
3. Mengatur jumlah dan konsentrasi cairan tubuh.
4. Membantu mempertahankan keseimbangan asam basa.
5. Ekskresi produk-produk metabolisme seperti urea, asam urat dan kreatinin.
6. Menghasilkan eritopoetin, hormone yang merangsang produksi sel darah merah.

Ureter
Ureter merupakan saluran yang mengalirkan urin dari duktus pengumpul ke kandung
kemih. Panjang ueter pada oang dewasa biasanya adalah 25-35 cm (Black & Hawk,
2014). Ureter memanjang secara vertical sepanjang otot psoas menuju pelvis. Secara
anatomis ureter memiliki daerah-daerah yang menyempit yaitu sudut ureteropelvis,
pelvis brim (tempat ureter bersilangan dengan arteri iliaka) dan sudut ureterovesikal.
4
Tiga lokasi ini berfungsi untuk mencegah refluks urin ke ginjal. Karena strukturnya
yang menyempit menyebabkan batu biasanya tertahan dan menyebabkan obstruksi di
daerah ini (Black& Hawk, 2014).

Kandung Kemih

Kandung kemih adalah organ kosong yang terletak di separuh anterior pelvis, di
belakang simfisis pubis. Kandung kemih terdri dari lapisan epitel transisional dengan
beberapa kelenjar penyekresi mucus. Kandung kemih juga tersusun dari tiga lapisan
otot yang disebut otot detrusor yang menyebabkan kandung kemih menjadi organ yang
elastis dan kuat. Volume urin yang mampu ditampung oleh kandung kemih adalah 250-
400 ml (Sherwood, 2009).

Uretra dan Meatus

Uretra merupkan saluran yang terakhir yang akan mengeluarkan urin. Uretra pada
perempuan biasanya memiliki panjang 4 cm. Hal ini menyebabkan perempuan lebih
sering mengalami infeksi saluran kemih dibandingkan dengan laki-laki. Laki-laki
memiliki panjang saluran uretra mencapai 20 cm (Black & Hawk, 2014).

II. Definisi, faktor resiko, dan etiologi


Definisi
Urolitiasis merupakan materi padat yang terbentuk dalam ginjal yang terjadi akibat
tingginya konsentrasi substrat dalam urin. Batu ginjal adalah benda padat yang dibentuk
oleh presipitasi berbagai zat terlarut dalam urin pada saluran kemih (Grace & Borley,
2007). Batu dapat ditemukan di setiap bagian ginjal sampai ke kandung kemih dan
ukurannya bervariasi dari deposit granuler yang kecil seperti pasir atau kerikil, sampai
batu sebesar kandung kemih yang berwarna orange. Batu ginjal yang ditemukan di
saluran urin biasanya disebut urolitiasis sedangkan yang ditemukan pada ginjal biasanya
disebut nefrolitiasis. Diameter batu bervariasi mulai dari <1mm hingga batu besar yag
dapat mendilatasi seluruh pelvis (Rubin & Strayer, 2012). Komponen penyusun batu
bervariasi, yang paling umum ditemui adalah kristal kalsium, sedangkan komponen yang
jarang adalah struvit, megnesium, amonium, asam urat, atau kombinasi dari bahan-bahan
tersebut (Corwin, 2009).

5
Gb.1 batu ginjal

Sumber: mayo.edu

Faktor Risiko dan Etiologi


Terdapat dua faktor utama yang dapat menyebabkan terbentuknya batu ginjal yaitu stasis
urin dan supersaturasi urin dengan kristaloid yang tidak dapat larut (Black & Hawk,
2014). Segala kondisi seperti retensi urin, diversi urine continent dan imobilisasi yang
menghambat aliran urine dan menyebabkan stasis (tidak ada pergerakan) urine di saluran
kemih meningkatkan kemungkinan pembentukan batu (NHS, 2015). Peningkatan
konsentrasi suatu zat terlarut pembentuk batu seperti kalsium, oksalat dan asam urat
dalam urin disertai dengan penurunan konsentrasi zat pelarut serta penurunan konsentrasi
zat penghambat (inhibitor) presipitasi seperti sitrat dan magnesium dapat menyebabkan
terbentuknya batu ginjal. Selain itu, terbentuknya zat anti inhibitor seperti alumunium,
besi dan silicon juga dapat meningkatkan pembentukan batu. Peningkatan konsentrasi
menyebabkan presipitasi Kristal seperti kalsium, asam urat dan fosfat. Kadar pH urin
mempengaruhi solubilitas jenis kristal tertentu dengan beberapa jenis Kristal yang lain
yang sudah siap berpresipitasi dalam kondisi asam dan beberapa dari kondisi basa.
Kondisi seperti renal tubular asidosis, pemberian inhibitor karbonik anhydrase,
kebesaraan bakteri pemecah urea dan kondisi diare berat dapat mnjadi faktor penyebab
peningkatan konsentrasi zat. Obat-obatan seperti asetazolamid, dan alumunium
hidroksida serta vitamin C juga dapat meningkatkan pembentukan batu dengan cara
meningkatkan suatu subtansi pembentuk batu. Infeksi, benda asing dan kegagalan
pengosongan kandung kemih secara komplet, kelainan metabolik, obesitas dan
peningkatan berat badan berlebihan juga berkonstribusi dalam pembentukan batu (Black
& Hawk, 2014).
Faktor risiko pembentukan batu ginjal adalah
1. Imobilisasi dan gaya hidup sendentary yang menyebabkan stasis

6
2. Dehidrasi, yang menyebabkan supersaturasi
3. Gangguan metabolik yang menyebabkan peningkatan kadar kalsium dan ion
lainnya dalam urin
4. Riwayat batu ginjal sebelumnya
5. Minum air dengan kadar mineral tinggi
6. Diet tinggi purin, oksalat, suplemen kalsium, protein hewani
7. Infeksi saluran kemih
8. Pemakain kateter jangka panjang
9. Penyakit kandung kemih neurogenik
10. Riwayat mutilasi genital pada perempuan.

Jenis-Jenis Batu

a. Batu Kalsium
Kalsium merupakan substansi pembentuk batu yang paling banyak yaitu sekitar 90%.
Batu kalsium umumnya tersusun atas kalsium fosfat atau kalsium oksalat. Batu tersebut
dapat berukuran kecil sampai batu staghorn besar yang mengisi seluruh pelvis renal.
Biasa terjadi pada usia 20an terutama laki-laki. Hiperkalsiuria, yaitu peningkatan
jumlah kasium dalam urin, disebabkan 4 hal:
a. Peningkatan reabsorpsi tulang yang membebaskan kalsium, misalnya pada
penyakit Piaget, hiperparatiroid, penyakit Chusing, imobilitas, dan osteolisis
akibat tumor malignan pada payudara, paru-paru, dan prostat.
b. Absorpsi kalsium dalam jumlah besar pada usus seperti pada sindrom susu
alkalli, sarkoidosis, dan konsumsi vitamin D berlebihan.
c. Gangguan absorpsi tubulus ginjal dalam filtrasi kalsium seperti pada asidosis
tubulus ginjal.
d. Abnormalitas struktur seperti pada “sponge kidney”
Sekitar 35% penderita batu kalsium tidak memiliki level serum kalsium yang tinggi
dan tidak menunjukkan penyebab hiperkalsiuria yang jelas. Terdapat 2 jenis
hiperkalsiuria:
a. Gangguan utama adalah peningkatan absorpsi kalsium oleh usus atau
peningkatan reabsorpsi tulang. Peningkatan level serum kalsium memicu filtrasi
kalsium oleh ginjal dan supresi hormon paratiroid. Hal tersebut pada akhirnya
menyebabkan penurunan reabsorpsi tubulus yang meningkatkan konsentrasi
kalsium urin.

7
b. Peningkatan kalsium pada ginjal akibat kerusakan tubulus. Hipokalsemia
menstimulasi produksi hormon paratiroid yang meningkatkan absorpsi kalsium.
Lingkaran tersebut melengkapi gangguan yang pertama menyebabkan
peningkatan kalsium. Pasien yang mengalami masalah ini sering disebut “calsium
wasters”.

b. Batu Oksalat
Merupakan jenis batu kedua terbanyak. Oksalat tidak larut dalam urin. Kelarutannya
tergantung pada perubahan pH urin. Mekanisme timbulnya oksalat belum jelas,
kemungkinan berhubungan dengan diet. Penyakit ini sering muncul terutama pada area
dengan makanan pokok berupa sereal misalnya pada daerah peternakan. Peningkatan
insiden batu oksalat dapat dihubungkan dengan:
a. Hiperabsorpsi oksalat misalnya pada penyakit yang menyebabkan inflamasi
usus dan konsumsi produk berbahan dasar kedelai dalam jumlah besar.
b. Overdosis absorpsi asam misalnya vitamin C yang memetabolisme oksalat.
c. Familial oxaluria (oksalat dalam urin)

c. Batu Struvit
Batu struvit atau biasa disebut triple fosfat tersusun atas carbonate apatite dan
magnesium amonium fosfat. Penyebabnya adalah bakteri tertentu biasanya Proteus
yang mengandung enzim urease dan berkembang ketika urine dalam keadaan alkalin.
Enzim tersebut mengubah urea menjadi 2 molekul amonia yang meningkatkan pH urin.
Batu yang terbentuk adalah batu staghorn. Batu struvit sulit dihancurkan karena
batunya yang keras dikelilingi nukleus bakteri yang melindungi dari antibiotik.
Fragmen kecil yang tertinggal ketika operasi menyebabkan siklus pembentukan batu
kembali.

d. Batu Asam Urat


Batu asam urat disebabkan oleh peningkatan ekskresi urat, penurunan jumlah cairan,
dan pH urin yang rendah. Hiperuricuria terjadi karena peningkatan produksi asam urat
atau pemberian agen uricosuric. Sekitar 25% orang dengan penyakit encok berpotensi
mengalami batu asam urat. Diet tinggi purin (protein) dapat memicu pembentukan batu
asam urat.

8
III. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis biasanya terjadi ketika batu berada di area yang sempit. Manifesitasi
umum yang sering terjadi yaitu:
1. Nyeri kolik, karakteristik nyeri adalah tajam dan sangat menyakitkan, terjadi secara
tiba-tiba yang biasanya terjadi akibat pergerakan batu dan iritasi yang ditimbulkan.
Lokasi nyeri biasanya bergantung pada letak batu. Batu yang berada di renal disebut
kolik renal yang bersal dari region lumbal bagian dalam dan menjalar di daerah
testis pada laki-laki dan kandung kemih pada perempuan. Apaila batu berada di
ureter, nyeri akan menjalar ke organ genital dan paha.
2. Mual, muntah, pucat, takikardi, diaphoresis dan cemas => biasanya terjadi apabila
pasien sedang mengalami nyeri yang luar biasa.
3. Urin sedikit akibat adanya obstruksi
4. Berkemih lebih sering dari biasanya karena tidak tuntas.
5. Apabila batu berada di kandung kemih mengalami urgensi, dan hematuria, tekanan
pada leher kandung kemih saat mikturisi dapat menyebabkan perasaan berat di
region suprapubik, obstruksi berkemih, pengurangan kapasitas kandung kemih, dan
aliran urin berselang. Jika batu memasuki uretra maka aliran urin terhambat.

IV. Patofisiologi
Black & Hawk (2014) menyatkan umumnya pembentukan kristal batu melibatkan
proses nukleasi, di mana kristal dibentuk dari urin yang mengalami supersaturasi.
Selanjutnya terjadi proses agregasi akan menghasilkan partikel yang lebih besar. Salah
satu partikel ini kemungkinan akan masuk ke dalam saluran kemih hingga akhirnya
terjebak pada suatu area di mana akan terjadi batu. Pada seseorang yang memiliki
jumlah zat inhibitor yang adekuat, maka zat akan mencegah agregasi sehingga
mencegah pembentukan batu. Substansi inhibitor seperti sitrat dan magnesium
berfungsi untuk mencegah agregasi partikel dan pembentukan kristal. Terdapat
antiinhibitor seperti aluminium, besi, dan silikon dalam urin yang memicu terbentuknya
batu.

Selain itu, pada orang dengan riwayat keluarga urolitiasis memiliki kemungkinan
pembentukan matrix berserabut yang membentuk suatu substansi yang menjadi tempat
menempelnya cikal bakal batu. Matrix berserabut ini terbentu dari mukoprotein.

9
Sehingga seseorang dengan produksi mukoprotein berlebihan dapat mengalami
peningkatan risiko pembentukan batu ginjal.

V. Komplikasi

Menurut Corwin (2009), obstruksi urin dapat terjadi disebelah hulu dari batu di bagian
mana saja di saluran kemih. Obstruksi di atas kandung kemih dapat menyebabkan
hidroureter, yaitu pembengkakan ureter oleh urin. Hidroureter yang berlanjut dapat
menyebabkan hidronefrosis yaitu pembengkakan pelvis ginjal dan sistem duktus
pengumpul akibat urin refluks ke ginjal. Hidronefrosis dapat menyebabkan ginjal tidak
dapat memekatkan urin sehingga terjadi ketidakseimbangan elektrolit dan cairan. Tanda
dan gejala hidronefrosis meliputi adanya nyeri flank (nyeri pada region samping dan
belakang di abdomen atas), dysuria, mual dan muntah, infeksi, selain itu pada kondisi ini
seringkali terjadi gangguan pemekatan urin (Medline, 2016). Obstruksi juga
menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik interstisium dan dapat menyebabkan
penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR). Obstruksi yang tidak diatasi dapat menyebabkan
kolapsnya nefron dan kapiler sehingga terjadi iskemia nefron karena suplai darah yang
terganggu, sehingga dapat terjadi gagal ginjal jika ke dua ginjal terserang.

VI. Pengkajian

 Pemeriksaan fisik (Doengoes et al, 2010)

a. Aktivitas Istirahat
- Aktivitas Sendentary atau aktivtas yang menyebabkan klien terpapar dengan
temperatur tinggi.
- Pembatasan aktivitas atau imobilisasi terkait dengan kondisi saat ini.
b. Sirkulasi
- Klien biasanya megalami peningkatan tekanan darah, nadi dan kecemasan
- Hangat dan pallor
c. Eliminasi
- Adanya infeksi dan riwayat batu ginjal sebelumnya
- Adanya penurunan output urin
- Adanya perasaan terbakar saat melakukan miksi
Data Objective
- Klien biasanya mengalami oliguria, hematuria, dan gangguan pengosongan
kandung kemih
- Pola eliminasi urin menjadi lebih sering karena ada gangguan kandung kemih

10
d. Makanan
Data Subjektif
- Mual dan muntah
- Pola diet, makanan yang mengandung tinggi natrium, low calcium bias
meningkatkanrisiko batu ginjal
- Intake cairan insufficient
Data Objective
- Adanya distensi perut dan penurunan bising usus
e. Nyeri
Data Subjektif
- Nyeri menjalar dan dideskripsikan sebagai nyeri akut, dan tidak ilang dengan
positioning.
Data objektif
- Adanya tenderness area ginjal saat palpasi

 Pemeriksaan Diagnostik
a. Foto Polos Abdomen
Pemeriksaan ini sering dijalani pada tahap-tahap awal diagnosis. Biaya
pemeriksaannya lebih murah dibandingkan dengan CT scan atau MRI.
Pemeriksaan foto polos abdomen biasanya ditujukan untuk melihat adanya batu
pada empedu. pankreas, dan ginjal, penyumbatan pada saluran pembuangan dari
ginjal dan saluran usus, nyeri perut yang amat sangat, adanya kantong udara
maupun cairan pada selaput pembungkus perut, dan kasus-kasus seperti cacingan.
Seperti halnya CT scan, pemeriksaan ini juga terkadang memerlukan zat kontras
untuk melihat dan menilik fungsi organ tubuh tertentu. Persiapan sebelum
pemeriksaan sama seperti halnya pemeriksaan CT scan. Pasien dianjurkan untuk
berpuasa dan mengonsumsi obat-obat pencahar sesuai anjuran dokter. Khusus
untuk pemeriksaan ginjal, pasien diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan darah
terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah fungsi ginjal masih
dalam keadaan normal atau tidak. Jika tidak normal maka pemeriksaan tidak
dilakukan dengan memakai zat kontras.
b. Pilogram Intravena (IVP)
Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan awal untuk visualisasi pelvis renal klien,
system pengumpul, dan ureter. Pemeriksaan ini digunakan untuk mengetahui
adanya kelainan pada pengisian intraluminal dan kelainan urogenital. Prosedur
dilakukan dengan mengunjeksi zat kontras melalui intravena di lengan atas.
Kemudian urologist akan melihat pererakan zat kontras hingga difiltrasi di ginjal
sampai urin terkolesi di duktus pengumpul dan di keluarkan.
11
c. Antegrade Pielogram (APG)
APG merupakan pemeriksaan yang biasanya digunakan untuk melihat adanya
obstruksi pada saluran kemih atas termasuk ginjal ureter dan bladder. Prosedur
dilakukan dengan menginjeksi zat kontras ke ginjal melalui area flanc. Kemudian
urologist akan menggunakan X-ray untuk melihat pergerakan zat kontras di dalam
saluran kemih untuk mengetahui area yang mengalami obstruksi.
d. Sistoskopi
Sitoskopi digunakan untuk melihat adanya batu, infeksi, refluks vesikoureter
tumor prostat, striktur uretra dan tumor.

 Pemeriksaan Laboratorium
a. Urinalisis
Urinalisis bertujuan untuk mengetahui kandungan yang terdapat pada urin.
Urinalisis terdiri dan pemeriksaan makroskopis (warna, bau, kejernihan/kekeruhan,
dan berat jenis), mikroskopis atau sedimen urin (eritrosit, leukosit, silinder, sel
epitel, kristal, bakteri, parasite Trichomonas, candida, dan lain-lain), serta kimia
urin (pH, berat jenis, protein, glukosa, keton, bilirubin, urobilinogen, nitrit, esterase
leukosit, darah/Hb). Pemeriksaan kimia urin saat ini kebanyakan dikerjakan dengan
cara kimia kening menggunakan canik celup (test strip), baik yang terdiri dari 1, 3,
atau 9/10 uji sekaligus pada 1 carik celup.

Hal yang perlu diperhatikan pada urinalisis adalah pertama pemilihan bahan
spesimen. Urin yang ideal untuk dipakai adalah urin pertama pada pagi hari (Black
& Hawk, 2014). Spesimen ini pekat sehinggga lebih mudah mendapatkan kelainan
yang ada. Kedua cara pengambilan spesimen. Pengambilan sampel urin porsi
tengah secara bersih (midstream clean catch) (Black & Hawk, 2014). Porsi tengah
urin adalah bagian urin yang dikeluarkan di tengah proses miksi (pengeluaran urin).
Secara bersih yaitu didahului dengan membersihkan alat kelamin lalu urin
ditampung langsung tanpa mengenai bagian badan atau penampung lain. Pada
perempuan disarankan penampungan urin dengan membuka labia alat kelamin.
Ketiga adalah menggunakan penampung yang bersih, bermulut lebar, dan bertutup
yang rapat tidak bocor. Keempat adalah urin tersebut harus diperiksa/dianalisis
dalam jangka waktu 1 jam dari saat pengeluaran agar unsur-unsur yang ada tidak/
belum berubah tenutama pH dan unsur-unsur selular. Apabila perlu jangka waktu

12
lebih lama sebelum dapat diperiksa maka diusahakan dengan menempatkan
penampung urin dalam pendingin (lemari es atau cool box).
b. Pemerikasaan Darah
Pemeriksaan darah dapat digunkana untuk mengetahui fungsi ginjal. Beberapa zat
yang dapat digunakan sebagai acuan adalah Blood Urea Nitrogen (BUN), Kreatinin
dan Urea. BUN merupakan hasil akhir utama dari metabolism protein yang
diekskresikan melalui ginjal. BUN yang meningkat menandakan adanya insufiensi
renal. BUN dapat meningkat apabila ada obstruksi saluran kemih bilateral.

Kreatininn serum penting untuk diperiksa. Kadar kreatinin serum lebih spesifik
untuk menilai fungsi renal. Kadar kreatinin serum dapat meningkat apabila ada
infeksi, insufiensi renal dan gagal ginjal serta obstruksi ginjal.

c. Pemeriksaan Prokalsitonin
Tes ini dilakukaan bersamaan dengan tes darah lainnya. Tes prokalsitonin
digunakan untu mengetahui adanya sepsis. Biasanya tes ini akan dilakukan pada
pasien yang sudah mengalami tanda dan gejala infeksi seperti demam.

VII. Masalah keperawatan dan diagnosis yang mungkin muncul


1. Nyeri akut b.d peningkatan frekuensi dan dorongan kontraksi ureteral
2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya obstruksi (kalkuli) pada
renal atau pada uretra.
3. Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, tujuan tindakan yang diprogramkan
dan pemeriksaan diagnostik berhubungan dengan kurangnya informasi.
4. Nyeri akut b.d. disrupsi (sayatan) kulit dan jaringan
5. Kerusakan integritas kulit/ jaringan b.d. interupsi secara mekanis pada kulit/
jaringan
6. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri, kondisi fisik, post operatif
7. Resiko infeksi dengan faktor risiko luka pada kulit, trauma jaringan, cairan tubuh
yang stasis, adanya pathogen/ kontaminasi, terpapar secara lingkungan, dan
prosedur invasive.
8. Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh dengan faktor risiko eksposure terhadap
lingkungan yang dingin, efek medikasi/ agen anastesi, usia/ berat yang ekstrim, dan
dehidrasi

13
9. Resiko terhadap deficit volume cairan dengan faktor risiko retriksi intake oral,
kehilangan cairan melalui rute yang abnormal (pemasangan tube, drain) dan rute
normal (muntah, hilangnya integritas vascular, perubahan kemampuan dalam
pembekuan), usia dan berat badan yang ekstrim.
VIII. Rencana asuhan keperawatan (terlampir)

IX. Treatment/ pengobatan dan terapi/ medikasi


1. Manajemen Medis
a. Prosedur Endourologi
Prosedur ini dilakukan dengan mempertimbangkan ukuran dan posisi batu.
Terdapat beberapa alat yang digunakan yaitu sitoskop, ureteroskop atau
ureterenoskop. Prinsip dari prosedur ini adalah memasukkan alat tersebut untuk
mengangkat batu melalui kateter simpul (loop) dan expanding basket untuk
menangkap batu. Batu yang berukuran besar sebelumnya dilarutkan kemudian
kateter dimasukan untuk mengangkat batu.
Ureteroskop dimasukan melalui sitoskopi untuk mengambil batu yang berada di
ureter. Sedangkan ureterenoskopi digunakan apabila batu berada di saluran urin
bagian atas. Komplikasi yang sering terjadi adalah perdarahan, retensi urin,
perforasi kandung kemih.
b. Litotripsi
Prosedur ini menggunakan laser yang dimasukkan bersamaan dengan ureteroskope
untuk mengangkat dan meregangkan batu. Irigasi air secara konstan perlu
dilakukan untuk menurunkan panas pada prosedur ini.
c. ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotrypsi)
Alat ini dikenal pertama kali oleh Caussy (1980), dapat memecahkan batu ginjal,
batu ureter proksimal, batu buli-buli tanpa tindakan invasive dan tanpa pembiusan.
Batu dipecah menjadi fragmen-fragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui
saluran kemih. Tidak jarang pecahan-pecahan batu yang keluar menimbulkan
nyeri dan hematuria. ESWL memiliki beberapa keuntungan, yaitu: prosedurnya
yang aman dan nyaman karena tanpa luka operasi, morbiditas rendah, mudah
digunakan, dan pasien dapat berobat jalan. Sedangkan kekurangan ESWL adalah
angka bebas batunya yang lebih rendah dibandingkan dengan PCNL dan operasi
terbuka terutama untuk batu ginjal dengan ukuran besar (<20 mm). Angka bebas

14
batu ESWL juga dipengaruhi oleh ukuran batu, lokasi, komposisi batu, kondisi
ginjal dan anatomis dari sistem pelviokalises
.

d. Prosedur Percutaneur Nephrolithotomy (PCNL)


Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL) merupakan salah satu tindakan minimal
invasif di bidang urologi yang bertujuan mengangkat batu ginjal dengan
menggunakan akses perkutan untuk mencapai sistem pelviokalises. Keuntungan
prosedur PCNL adalah angka bebas batu yang lebih besar daripada ESWL, dapat
digunakan untuk terapi batu ginjal berukuran besar (>20 mm), dapat digunakan
pada batu kaliks inferior yang sulit diterapi dengan ESWL, dan morbiditasnya
yang lebih rendah dibandingkan dengan operasi terbuka baik dalam respon
sistemik tubuh maupun preservasi terhadap fungsi ginjal pasca-operasi.
Kelemahan PCNL adalah dibutuhkan keahlian khusus dan pengalaman untuk
melakukan prosedurnya

2. Management keperawatan Post Prosedur.


a. Monitor Keluaran urin
Jaga pengeluaran urin klien 0,5 ml/kg BB/Jam hal ini untuk memastikan bahwa
tidak ada obstruksi. Hal lain yang harus dilakukan adalah periksa adanya indikasi
perdarahan, retensi urin dan retensi batu. Apabila diperlukan dapat dilakukan
irigasi kandung kemih utnuk memastikan batu keluar.
3. Management non Medis
a. Meningkatkan intake cairan

15
Peningkatan intake cairan ini dapat memfasilitsi batu kecil untuk dibuang dan
mencegah pembentukan batu baru. Konsumsi cairan dapat diberikan dalam
volume 3-4 liter untuk memastikan urin keluar sebanyak 2,5-3 liter per hari. Hal
ini juga akan mengurangi nyeri, menurunkan konsentrasi senyawa pembentuk
batu, dan mencegah infeksi dan pembesaran batu akibat retensi urin.
b. Mengurangi nyeri dengan pemberian obat-obatan anti nyeri dan relaksasi
c. Perubahan pola diet
Klien dengan batu oksalat harus mengurangi konsumsi makanan yang
mengandung oksalat seperti teh, tomat, kopi instan, kacang-kacangan, bayam
asparagus dll. Klien dengan batu asam urat harus mengikuti diet rendah purin.

4. Penatalaksanaan Farmakologi
- Pemberian diuretic pada pasien dengan urin yang mengandung kalsium yang
tinggi.
- Pemberian allopurinol pada pasien dengan batu oksalat
- Pemberian potasium sitrat untuk menaikkan pH pada batu asam urat dan sistin

16
DAFTAR PUSTAKA

Black, Joyce M., Hawk, Jane H. (2014). Keperawatan Medikal Bedah: Manajemen Klinis
untuk Hasil yang diharapkan. Jakarta: Salemba Medika

Corwin, Elisabeth J. 2008. Buku Saku Patofisiologi, Ed.3, trans. Nike Budhi Subekti. Jakarta:
EGC.

Doenges, M.E., Moorhouse, M.F., & Murr, A.C. (2010). Nursing Care Plans Guidelinesfor
Individualizing Client Care Across the Life Span Edition 8. USA : F.A. Davis Company.

Grace, P.A., Borley, N. R. (2006). At a Glance: Ilmu Bedah Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga
Medical Series

NHS.(2016). Kidney Stone . http://www.nhs.uk/Conditions/Kidney-stones/Pages/Causes.aspx


diakses pada 27/09/2016

Rubbin, R., Strayer D.(2012). Pathology: Clinicopathologic foundation of Medicine 6th edition.
PA: Lippincot William and Wilskins

Madder, Sylvia. (2012). Human Physiology. PA: Walter Kluwer

Medline. (2016). Hydronephrosys. https://medlineplus.gov/ency/article/000506.htm diakses


pada 28/9/2016

Sherwood, Lauralee. (2009). Human Physiology: from cell to system. Singapore: Elsevier.

17
Rencana Asuhan Keperawatan

No. Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi


1. Nyeri akut b.d agen injuri Kriteria Evaluasi : Mandiri:
fisik  Menyatakan nyeri hilang - Kaji nyeri, catat lokasi,
atau terkontrol. karakteristik, intensitas
 Menunjukkan nyeri (skala 0-10).
hilang, mampu - Berikan tindakan
tidur/istirahat dengan kenyamanan, mis.,
tepat. perawtan mulut, pijatan
 Menunjukkan punggung, ubah posisi.
penggunaan - Dorong penggunaan
keterampilan relaksasi tehnik relaksasi, mis.,
dan kenyamanan umum bimbingan
sesuai indikasi situasi imajinasi,visualisasi.
pasien. - Bantu melakukan latihan
rentang gerak dan
dorong ambulasi dini.
Hindari posisi duduk
lama.
- Selidiki dan laporkan
adanya kekakuan otot
abdominal dan nyeri
tekan

Kolaborasi :
Berikan obat sesuai indikasi,
obat analgesik
2. Gangguan perfusi jaringan Tujuan : - Observasi tanda-tanda
berhubungan dengan Gangguan perfusi dapat vital (nadi, tekanan
adanya obstruksi (calculi) diatasi darah dan pernafasan).

18
pada renal atau pada Kriteria : - Observasi Produksi
uretra. - Produksi urine 30 – 50 urine setiap jam.
Data Penunjang: cc perjam. - Observasi perubahan
Urine out put  30 cc per - Perifer hangat tingkat kesadaran.
jam - Tanda-tanda vital dalam - Kolaborasi dengan tim
Daerah perifer dingin batas normal : kesehatan:
pucat  Sistolik 100 – 140  Pemeriksaan
TD  100/70 mmHg, mmHg. laboratorium: kadar
HR > 120 X/mt,  Diastolik 70 – 90 ureum/kreatinin,
RR > 28 X/mt. mmHg. Hb, urine HCT.
Pengisian kapiler > 3 detik  Nadi 60 – 100 X/mt  Pemberian diet
 Pernafasan 16 – 24 rendah protein,
X/mt rendah kalsium dan
- Pengisian kapiler  3 posfat
detik  Pemberian
ammonium
chloride dan
mandelamine.
3. Kurangnya pengetahuan Tujuan : - Kaji tingkat
tentang sifat penyakit, Pengetahuan pasien tentang pengetahuan pasien dan
tujuan tindakan yang penyakitnya meningkat keluarga tentang
diprogramkan dan Kriteria penyakit dan
pemeriksaan diagnostik - Pasien dapat pengobatannya.
berhubungan dengan menjelaskan kembali - Berikan penjelasan
kurangnya informasi. tentang sifat penyakit, tentang penyakit, tujuan
Data Penunjang: tujuan tindakan yang pengobatan dan
- Pasien menyatakan diprogramkan dan program pengobatan.
belum memahami pemeriksaan diagnostik. - Berikan kesempatan
tentang penyakitnya. - Pasien tidak bertanya pasien dan keluarga
- Pasien bertanya-tanya lagi tentang keadaan untuk mengekspresikan
tentang proses penyakit dan program perasaannya dan

19
penyakit dan pengobatannya. mengajukan pertanyaan
pengobatan. - Pasien kooperatif dalam terhadap hal-hal yang
- Pasien kurang program pengobatan. belum dipahami.
kooperatif dalam - Diskusikan pentingnya
program pengobatan banyak minum air putih
3 – 4 liter perhari selama
tidak ada kontra
indikasi.
- Diskusikan tentang
pentingnya diet rendah
protein, rendah kalsium
dan posfat.
- Batasi aktifitas fisik
yang berat.

20