Anda di halaman 1dari 21

CASE OBSTETRI GINEKOLOGI

Penguji:
dr. Cipta Pramana, Sp. OG

Disusun Oleh:
Andre Ferryandri S
030.08.025
Purnamandala
030.08.195

KEPANITERAAN KLINIK ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RSUD KOTA SEMARANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
PERIODE 4 NOV 2013 – 11 JANUARI 2014
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. K
Umur : 29 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Karang Anyar VII
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status perkawinan : Menikah
Pendidikan : SMA

II.ANAMNESA (Auto dan Alloanamnesa) ( Tanggal 27 Mei 2013 )


A. Keluhan utama :
Perdarahan per vaginam pasca melahirkan sejak 2 jam yang lalu.
B. Keluhan tambahan :
Muntah, urine berwarna merah, dan lemas.
C. Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke IGD RSUD Semarang pada jam 13.30 dengan keluhan utama
perdarahan per vaginam pasca melahirkan sejak 2 jam yang lalu.
OS melahirkan di klinik bidan 3 jam yang lalu dengan persalinan normal.Dari Bidan
yang membantu persalinan pasien diketahui 30 menit plasenta lahir dengan lengkap,
perdarahan per vaginam tidak berhenti dan pasien segera dirujuk ke RSUD Semarang
untuk mendapat penanganan lebih lanjut.Saat dirujuk pasien terpasang infus RL
dengan oksitosin 5 unit dan sudah diberikan Kalnex 250 mg.
Darah yang keluar berwarna merah segar tanpa disertai prongkolan. Darah keluar
tidak berhenti namun tidak memancar bersamaan dengan nadi pasien. Perdarahan
yang keluar >500cc.
Selain perdarahan, pasien juga mengeluh muntah yang diawali mual. Muntah
sebanyak 2 kali. Sekali muntah sekitar seperempat gelas. Muntah tidak menyembur
dan tidak bercampur darah. Pasien tidak merasakan adanya mulas dan tidak mengeluh
nyeri perut ataupun nyeri di daerah vagina pada saat perdarahan. Keluhan nyeri
kepala, pusing berputar, demam, dan sesak nafas disangkal oleh pasien. Saat di IGD,
pasien sudah merasa lemas namun tidak mengantuk.
D. Riwayat haid
Menarche : 10 tahun HPHT : 08 Maret 2013
Siklus : 28 hari HPL : 15 Desember 2013
Lama : 7 hari
E. Riwayat pernikahan
Menikah 1x, pada saat usia 24 tahun, usia pernikahan 5 tahun
F. Riwayat Obstetri
P3A0U29 tahun
1. 2009 / klinik bersalin/ spontan / aterm / perempuan / 3300 g / hidup
2. 2011 / klinik bersalin / bidan / spontan / aterm / perempuan / 3200 g / hidup
3. 2013 / klinik bersalin / bidan / spontan / aterm / perempuan /Dirujuk ke Sultan
Agung karena Asfiksia
G. Riwayat Antenatal Care
Selama hamil, pasien memeriksakan diri ke bidan setiap bulan, suntik TT (+)
H. Riwayat KB
Pasien memakai suntik selama 1 tahun.
I. Riwayat Penyakit Keluarga
DM :-
Hipertensi :-
Penyakit jantung : -
Alergi :-
Asma :-
J. Riwayat Penyakit Dahulu
DM :-
Hipertensi : ibu
Penyakit jantung : -
Alergi :-
Asma :-

K. Riwayat Operasi
Pasien mengaku tidak pernah menjalani operasi apapun sebelumnya
III. PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pemeriksaan fisik pada tanggal 7 Desember 2013
pukul 13.30
a. Status Generalisata
i. Keadaan umum : tampak sakit sedang
ii. Kesadaran : Compos mentis
iii. Keadaan gizi : baik
b. Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 90x/menit, reguler
Pernapasan : 20x/menit, reguler
Suhu : 36.3 ° C
c. Kepala : Normocephali, tidak teraba benjolan
d. Mata : Konjungtiva pucat : +/+
Sklera ikterik : -/-
Pupil : bulat, isokor
Reflex cahaya : +/+
e. Telinga : Normotia
Sekret : -/-
Serumen : -/-
f. Hidung : bentuk : normal
Sekret : -/-
g. Mulut : bibir tidak sianosis
Uvula : di tengah
Faring : tidak hiperemis
Lidah : tidak kotor
h. Leher : Trachea : di tengah
Kel. Tiroid : tidak membesar
i. Axilla : KGB tidak membesar
j. Payudara : Simetris kanan-kiri, areola mammae tidak retraksi,
tidak teraba massa, tanda radang (-), nyeri tekan (-)
k. Thorax
Inspeksi : Bentuk simetris saat statis dan dinamis, tidak tampak
retraksi sela iga
Palpasi : Stem fremitus kanan/kiri sama kuat
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Suara nafas vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)
l. Jantung
Inspeksi : tidak tampak pulsasi ictus cordis
Palpasi : ictus cordis teraba pada ICS V linea midclavicula sinistra
Perkusi : batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : bunyi jantung I normal, bunyi jantung II normal, reguler,
murmur (-), galop (-)
m. Abdomen
Inspeksi : datar
Palpasi : perut teraba supel, nyeri tekan (+) pada suprasimpisis
Auskultasi : bising usus (+) normal
n. Genitalia : tampak normal, tanda radang (-), oedem (-)
o. Ekstremitas : edema -/- akral dingin: +/+
p. Reflex : fisiologis + + patologis: - -
+ + - -
pukul 14.20

a. Status Generalisata
i. Keadaan umum : tampak sakit berat
ii. Kesadaran : Soporkoma
b. Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 70/55 mmHg
Nadi : 110x/menit, irreguler
Pernapasan : 26x/menit, reguler
Suhu : 36.0 ° C
IV. PEMERIKSAAN DALAM
Pemeriksaan Obstetri:
TFU : Setinggi pusat
CUT : lunak
PPV : perdarahan aktif
ASI :-/-
Mobilisasi :-
VUV : robekan +
Portio : lunak, laserasi (+) arah jam 7 dan 11
OUE : 5 cm,Pemeriksaan dengan kasa didapatkan jaringan kotiledon +

V. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium 7-12-13
Pukul 15.06 Nilai Normal
Hb 7,4 g/dL 12-16
Ht 22,5 % 37-47
Leukosit 28,4 /uL 4,8-10,8
Trombosit 218000 /uL 150000-400000
HBsAg - Negative

VI. RESUME
Perempuan P3A0, usia 29 tahun. Pasien post partum spontan 2 jam.
Perdarahan segar aktiv keluar pervaginam >500cc. Mual +, Muntah + 2 kali,
lemas +. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit
sedang, kesadaran compos mentis, tekanan darah 120/70 mmHg, nadi 90x
permenit, suhu 36,3 derajat celcius, pernafasan 20x permenit.lalu sejam
kemudian menjadi tekanan darah 90/55 mmHg ,nadi 110x/menit,
irregular,26x/menit, regular
Pemeriksaan Obstetri:
TFU : Setinggi pusat
CUT : lunak
PPV : perdarahan aktiv
VUV : robekan +
Portio : lunak, laserasi (+)arah jam 7 dan 11
OUE : 5 cm,Pemeriksaan dengan kasa didapatkan jaringan kotiledon +

VII. DIAGNOSIS KERJA


P3A0usia29tahun
Post partum spontan 2 jam
Perdarahan postpartum et causa suspek atonia uteri
Robekan jalan Lahir
Laserasi portio
VIII. DIAGNOSIS BANDING
Retensio Plasenta
Plasenta restan

IX. PENATALAKSANAAN
1.Memeriksa dan menjaga sesuai A,B,C,D (Airway , Breathing, Circulation,Disability)
A: Jalan nafas pasien bersih
B:Pasien terlihat bernafas semakin cepat dan sulit
(Pasang oksigen 12ml/menit, periksa saturasi,jika masih buruk pasang dengan
sungkup 8ml/m ,Jika nafas dan saturasi masih buruk intubasi (co-Anestesi) )
C: Terdapat perdarahan yang masif pervaginam,
>Pasang IV line tiga jalur, dengan RL
>Pasang Kateter untuk menilai sirkulasi
>Periksa lab darah lengkap terutama HB dan golongan darah
>Menghubungi bang darah
>Mengendalikan Perdarahan
D:Permeriksaan kesadaran pasien kuantitatif ataupun kualitatif
Resusitasi Cairan
Menggunakan Status Trauma Gieseck
Tanda TS I TS II TS III
Sesak nafas - Ringan ++
Tekanan darah N Turun Tak teratur
Nadi Cepat Sangat cepat Tak teraba
Urin N Oliguria Anuria
Kesadaran N Disorientasi / Koma
Gas darah N
pO2 / pCO2 pO2 / pCO2
CVP N Rendah Sangat rendah
Blood loss % EBV Sampai 10% Sampai 30% Lebih 50%

Dari keadaan umum pasien,pada pukul 15.10 sesuai status trauma gieseck perkiraan
jumlah perdarahan mencapai 2000 ml,lakukan cek HB tiap jam, untuk menilai
kebutuhan tranfusi
Jika WB menggunakan rumus (HBn – Hb x) X BB X 6
HB meningkat 1 g% post tranfusi 450 ml WB
Jika PRC menggunakan rumus (HBn – Hb x) X BB X 3
HB meningkat 1 g% post tranfusi 4ml/KgBB PRC
Terapi cairan yang dibutuhkan pasien pada pukul 15.10 , 1 kolf WB 450 ml, Ditambah
1 kolf HES , 2 kolf RL
Pengendalian Perdarahan
1.Jahit robekan jalan lahir dan klem laserasi
2.Periksa fundus  lembek (paling sering atonia uteri)  lakukan Kompresi Bimanual
Saatakan kompresi bimanual, bisa dilakukan evakuasi bekuan darah
3.Perdarahan lanjut, berikan Oksitosin 5 unit IV bolus dan lakukan masase uterus
4.Jika gagal, lakukan plasenta manual untuk mengeluarkan sisa plasenta dan
menyingkirkan ruptur uteri.
5.Dapat diberikan kembali Uterotonika tambahan
Ergotamin 0,25 mg IM / 0,125 mg IV
Misoprostol 800ug / rectal
6. Pemasangan tampon uterovagina
7.Jika perdarahan lanjut dan kontraksi buruk lakukan Hypogastric ligation atau
Histerektomi

X. Komplikasi
DIC
Syok Hypovolemik
Udema Paru
Gagal Jantung
Gagal Ginjal
XI. PROGNOSIS
Ad Vitam : dubia ad malam
Ad Functionam : dubia ad malam
Ad Sanationam : ad malam
Tinjauan Pustaka

Anatomi Uterus

Uterus diperdarahi oleh arteria uterina kiri dan kanan yang terdiri atas ramus asendens
dan ramus desendens. Pembuluh darah ini berasal dari arteria iliaka interna (a.
Hipogastrika) yang melalui dasar ligamentum latum masuk ke dalam uterus di daerah
serviks kira-kira 1,5cm di atas forniks lateralis vagina.
Pembuluh darah lain yang memberi pula darah ke uterus adalah arteria ovarika kiri dan
kanan. Arteria ini berjalan dari lateral dinding pelvis, melalui ligamentum infundibulo-
pelvikum mengikuti tuba Falloppii, beranostomosis dengan ramus asendens arteria
uterina di sebelah lateral, kanan dan kiri uterus. Bersama-sama dengan arteri-arteri
tersebut di atas terdapat vena-vena yang kembali melalui pleksus vena ke vena
hipogastrika.
Perdarahan Postpartum

Perdarahan postpartum adalah perdarahan lebih dari 500-600cc dalam masa 24 jam
setelah kala III (plasenta) lahir yang berpotensi menyebabkan perubahan hemodinamik.

Menurut waktu terjadinya dibagi atas dua bagian


a. perdarahan postpartum primer (dini) yang terjadi 24 jam setelah anak lahir
b. perdarahan postpartum sekunder (lambat) yang terjadi setelah 24 jam, biasanya antara
hari ke 5 sampai 15 postpartum.

Etiologi perdarahan postpartum dini


1. Atonia uteri.
Pada atonia uteri uterus tidak mengadakan kontraksi dengan biak, dan ini
merupakan sebab utama dari perdarahan postpartum. Uterus yang sangat teregang
(hidramnion, kehamilan ganda atau kehamilan dengan janin besar), partus lama
dan pemberian narcosis merupakan predisposisi untuk terjadinya atonia uteri).
2. Laserasi jalan lahir, perlukaan serviks, vagina, dan perineum dapat menimbulkan
perdarahan yang banyak bila tidak direparasi dengan segera.
3. Hematoma, hematoma yang biasanya terdapat pada daerah-daerha mengalami
laserasi atau pada daerah jahitan perineum
4. Lain-lain
a. Sisa plasenta atau selaput janin yang menghalangi kontraksi uterus,
sehingga masih ada pembuluh darah yang tetap terbuka
b. Rupture uteri
c. Inversion uteri
Etiologi perdarahan postpartum lambat
1. Tertinggalnya sebagian plasenta
2. Subinvolusi di daerah insersi plasenta
3. Dari luka bekas sectio sesarea
Perdarahan postpartum dapat terjadi karena berbagai macam faktor, antara lain :
1. Tissue
2. Tonus
3. Trauma
4. Trombosit
Perdarahan dalam kala uri
Biasanya setelah janin lahir, beberapa menit kemudian mulailah proses pelepasan
plasenta disertai sedikit perdarahan. Bila plasenta sudah lepas dan turun ke bagian bawah
rahim, maka uterus akan berkontraksi (his pengeluaran plasenta) untuk mengeluarkan
plasenta.

Retensio Plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir dalam waktu 1 jam setelah
bayi lahir.
Retensio plasenta terjadi bila plasenta tetap tertinggal dalam uterus setengah jam setelah
anak lahir. Plasenta yang sukar dilepaskan dengan pertolongan aktif kala tiga bisa
disebabkan oleh adhesi yang kuat antara plasenta dan uterus.

Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena tumbuh melekat lebih dalam yang
menurut tingkat perlengketannya dibagi menjadi :
1. plasenta adhesive yang melekat pada desidua endometrium lebih dalam
2. plasenta inkreta dimana vili khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua
sampai ke miometrium
3. plasenta akreta yang menembus lebih dalam ke dalam miometrium tetapi belum
menembus serosa
4. plasenta perkreta yang menembus sampai serosa atau peritoneum dinding rahim

Faktor predisposisi terjadinya plasenta akreta adalah plasenta previa, bekas seksio
sesarea, pernah kuret ulang, dan multiparitas. Bila sebagian kecil dari plasenta mash
tertinggal dalam uterus disebut plasenta restan dan dapat menimbulkan perdarahan
postpartum. Proses kala III didahului dengan tahap pelepasan plasenta yang ditandai oleh
perdarahan pervaginam atau sampai akhirnya tahap ekspulsi, plasenta lahir. Pada retensio
plasenta, sepanjang plasenta belum terlepas, maka tidak akan menimbulkan perdarahan.
Sebagian plasenta yang sudah lepas dapat menimbulakn perdarahan yang cukup banyak
dan harus diantisipasi dengan segera melakukan manual plasenta, meskipun kala uri
belum lewat setengah jam.

Sisa plasenta bisa diduga bila kala uri berlangsung tidak lancar, atau setelah melakukan
plasenta manual atau menemukan adanya kotiledon yang tidak lengkap pada saat
melakukan pemeriksaan plasenta dan masih ada perdarahan dari ostium uteri eksternum
pada saat kontraksi rahim sudah baik dan robekan jalan lahir sudah terjahit. Untuk itu,
harus dilakukan eksplorasi ke dalam rahim dengan cara manual/digital atau kuret dan
pemberian uterotonika. Anemia yang ditimbulkan setelah perdarahan dapat diberi
transfuse darah sesuai dengan keperluannya.

Plasenta dapat sudah terlepas tetapi belum keluar karena atonia uteri dan akan
menyebabkan perdarahan yang banyak atau karena adanya lingkaran konstriksi pada
bagian bawah rahim akibat kesalahan penanganan kala III, yang akan menghalangi
plasenta keluar (plasenta inkarserata)

Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan, tapi bila sebagian
plasenta sudah lepas akan terjadi perdarahan dan ini merupakan indikasi untuk segera
mengeluarkannya. Plasenta mungkin pula tidak keluar karena kandung kemih atau rektum
penuh, karena itu keduanya harus dikosongkan.

Atonia uteri
Atonia uteri adalah keadaan lemahnya tonus/kontraksi rahim yang menyebabkan uterus
tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat implantasi plasenta setelah bayi
dan plasenta lahir.

Faktor predisposisi terjadinya atonia uteri antara lain :


1. Umur (yang terlalu muda atau tua)
2. Paritas (sering dijumpai pada multipara dan grandemultipara)
3. Partus lama dan partus terlantar
4. Obstetric operatif dan narkosa
5. Uterus terlalu regang dan besar, misalnya pada gemeli, hidramnion atau janin
besar.
6. Kelainan pada uterus, seperti mioma uteri, uterus couvelair pada solusio plasenta
7. Malnutrisi
Etiologi atonia uteri tersebut antara lain :
1. Anestesi
2. Distensi berlebihan (gemeli, makrosomia, hidramnion)
3. Partus lama
4. Partus terlalu cepat
5. Persalinan karena induksi oksitosin
6. Multiparitas
7. Korioamnionitis
8. Pernah atonia sebelumnya

Diagnosis ditegakkan bila setelah bayi dan plasenta lahir ternyata perdarahan masih aktif
dan banyak, bergumpal, dan pada palpasi didapatkan fundus uteri masih setinggi pusat
atau lebih dengan kontraksi yang lembek. Perlu diperhatikan bahwa pada saat atonia uteri
didiagnosis, maka pada saat itu juga masih ada darah sebanyak 500-1000 cc yang sudah
keluar dari pembuluh darah, tetapi masih terperangkap dalam uterus dan harus
diperhitungkan dalam kalkulasi pemberian darah pengganti.

Tatalaksana
Banyaknya darah yang hilang akan mempengaruhi keadaan umum pasien. Pasien bisa
masih dalam keadaan sadar, sedikit pucat, atau sampai syok berat. Tindakan pertama
yang harus dilakukan bergantung pada keadaan kliniknya.
Pada umumnya dilakukan secara simultan (bila pasien syok) hal-hal sebagai berikut :
 Sikap Trendelenburg, memasang IV line dan memberikan oksigen
 Sekaligus merangsang kontraksi uterus dengan cara :
o Masase fundus uteri dan merangsang putting susu
o Pemberian oksitosin dan turunan ergot melalui suntikan secara IV, IM,
atau SC. Efek samping pemberian dapat berupa diare, hipertensi, mual
muntah, febris, dan takikardia.
o Pemberian misoprostol 800-1000ug per rectal
o Kompresi bimanual eksternal dan atau internal
o Kompresi aorta abdominalis
o Pemasangan tampon kondom, kondom dalam kavum uteri disambung
dengan kateter, difiksasi dengan karet gelang dan diisi cairan infuse 200
ml yang akan mengurangi perdarahan dan menghindari tindakan operatif.
o Tindakan memasang tampon kasa uterovaginal tidak dianjurkan dan hanya
bersifat sementara sebelum tindakan bedah dilakukan
 Bila semua tindakan itu gagal, maka dipersiapkan untuk dilakukan tindakan
operatif laparotomi dengan pilihan bedan konservatif (mempertahankan uterus)
atau melakukan histerektomi. Alternatifnya berupa :
 Ligasi arteria uterine atau arteria ovarika
 Operasi ransel B Lynch
 Histerektomi supravaginal
 Histerektomi total abdominal

Tatalaksana perdarahan postpartum pada atonia uteri


Tahap 1
Perdarahan yang tidak begitu banyak dapat diatasi dengan cara pemberian uterotonika,
massage uteri, dan memasang gurita
Tahap 2
Bila perdarahan belum berhenti dan bertambah banyak, selanjutnya berikan infus dan
transfusi darah dan dapat dilakukan kompresi bimanual, kompresi aorta, tamponade utero
vaginal, jepitan arteri uterine dengan cara Henkel, perasat Zangemeister, dan perasat
Fritch.
Tahap 3
Bila semua upaya di atas tidak menolong juga, maka usaha terakhir adalah
menghilangkan sumberperdarahan, dapat ditempuh dengan dua cara, yaitu dengan
meligasi arteri hipogastrika atau histerektomi

Kompresi Bimanual Uterus


Ada dua cara melakukan kompresi bimanual uterus
1. Seluruh tangan dimasukkan dalam vagina dan digenggamkan, uterus ditekan
antara tangan yang berada di vagina dan tangan yang di luar
2. Seluruh tangan dimasukkan dalam vagina dan memegang serviks, sedangkan
tangan yang lain memegang fundus uteri, kemudian fundus uteri didekatkan pada
serviks uteri. Tindakan ini biasanya tidak dapat dilangsungkan terlalu lama,
karena tindakan ini sangat melelahkan penolong. Apabila tindakan ini gagal dalam
menghentikan perdarahan, dapat dilakukan pemasangan tampon uterus atau
lapaoromoi untuk melakukakn ligasi arteria hipogastrika ataupun histerektomi.
Pemasangan tampon uterovagina
1. Vagina dibuka dengan speculum, dinding depan dan belakang serviks dipegang
dengan ring tang, kemudian tampon dimasukkan dengan menggunakan tang
melalui serviks sampai ke fundus uteri. Tampon tang ditarik beberapa cm, dan
kemudian memegang lagi tampon dan didorong ke fundus uteri. Hal ini diulangi
berkali-kali sampai seluruh rongga uterus dipenuhi oleh tampon. Sedangkan
tangan asisten berada di fundus uteri.
2. Apabila perdarahan masih terjadi setelah pemasangan tampon ini, pemasangan
tampon tidak boleh diulangi, dan segera harus dilakukan laparotomi untuk
melakukan histerektomi ataupun ligasi arteria hipogastrika.
Ligasi arteria hipogastrika
1. Irisan pada kulit dilakukan pada garis tengah antara pusat dan simfisi. Untuk
mencapai pembuluh darah yang akan diikat dilakukan irisan pada parametrium
(bilamana perlu ligamentum rotundum dipotong sedistal mungkin)kemudian
parametrium dibuka secara tajam dan tumpul hingga bifurcation arteria iliaca
communis tampak.
2. Ureter dengan mudah dapat ditarik ke medial dan biasanya melekat pada sisi
medial parametrium. Dengan cara ini mobilisasi sigmoid kea rah medial juga
dipermudah bilamana kita hendak mengadakan pengikatan arteria hipogastrik
ayang kiri. Jaringan ikat kendor yang menutupi arteria hipogastrika diangkat
dengan menggunakan gunting dan kemudian arteria hipogastrika diangkat dengan
pertolongan jarum Deschamps. Pengikatan arteria hipogastrika pada dua tempat
dengan jarak kurang lebih 1cm dengan menggunakan catgun khromik no.2. di sini
harus dijaga jangan sampai terjadi perlakuan vena hipogastrika yang letaknya
posteromedial dari arteri tersebut. Ligamentum rotundum bila dipotong kemudian
dapat dijahit kembali dan peritoneum pada akhir operasi ditutup.
3. Apabila hal tersebut di atas terjadi dan tidak ada fasilitas untuk melakukan
laparotomi, maka dapat dilakukan tindakan sementara yaitu penjepitan
parametrium menurut Henkel.
Penjepitan parametrium menurut Henkel
Vagina dibuka dengan dua spekulu, kemudian bibir depan dan belakang serviks
dipegang dengan ring tang dan sebelum itu telah disiapkan klem Kelly yang
panjang lurus ataupun bengkok sebanyak dua buah. Kemudian serviks dengan
perantaraan dua ring tang ditarik sejauh mungkin ke kiri dan dengan klem Kelly
forniks lateralis kanan dijepit. Setelah itu serviks ditarik ke kanan dan dengan
klem Kelly hal yang sama dikerjakan pada forniks lateralis yang kiri. Klem
tersebut dibiarkan selam 12-24 jam. Bahaya tindakan ini adalah ikut terjepitnya
ureter dan kemungkinan terjadi fistula uretero vaginalis

Robekan jalan lahir


Pada umumnya robekan jalan lahir terjadi pada persalinan dengan trauma. Pertolongan
persalinan yang semakin manipulative dan traumatic akan memudahkan robekan jalan
lahir dank arena itu dihindarkan memimpin persalinan pada saat pembkaan serviks belum
lengkap. Robekan jalan lahir biasanya akibat episiotomy, robekan spontan perineum,
trauma forceps atau vakum ekstraksi, atau karena versi ekstraksi.

Robekan yang terjadi bisa ringan (lecet/laserasi), luka episiotomy, robekan perineum
spontan derajat ringan sampai rupture perinei totalis, robekan pada dinding vagina,
forniks uteri, serviks, daerah sekitar klitoris dan uretra dan bahkan yang terberat, rupture
uteri. Oleh karena itu, pada setiap persalinan hendaklah dilakukan inspeksi yang teliti
untuk mencari kemungkinan adanya robekan ini. Perdarahan yang terjadi saat kontraksi
uterus baik, biasanya karena ada robekan atau sisa plasenta. Pemeriksaan dapat dilakkan
dengan cara melakukan inspeksi pada vulva, vagina, dan serviks dengan memakai
speculum untuk mencari sumber perdarahan dengan cirri warna darah yang merah segar
dan pulsatif sesuai denyutnadi. Perdarahan karena ruptura uteri dapat diduga pada
persalinan macet, atau uterus dengan lokus minoris resistensia dan adanya atonia uteri
dan tanda cairan bebas intraabdominal. Semua sumber perdarahan yang terbuka harus
diklem, diikat dan luka ditutup dengan jahitan catgut lapis demi lapis sampai perdarahan
berhenti.
Teknik penjahitan memerlukan asisten, anestesi lokal, penerangan lampu yang cukup,
serta speculum dan memperhatikan kedalaman luka.
Gangguan faal pembekuan darah
1. Seringkali perdarahan postpartum yang persisten adalah akibat dari gangguan
pembekuan darah. Biasanya untuk mengetahui adanya gangguan ini dilakukan
Clott observation test. Cara melakukan Clott observasion test adalah sebagai
berikut : 5cc darah dimasukkan dalam tabung gelas, kemudian diobservasi dan
dicatat kapan terjadi pembekuan darah. Setelah terjadi pembekuan masih
dilakukan observasi untuk melihat apakah masih terjadi lisis bekuan darah
tersebut.
2. Perdarahan akibat gangguan pembekuan darah ini umumnya dapat diatasi dengan
pemberian darah segar. Dalam keadaan ini setiap tindakan akan menambah
perdarahan
Gangguan pembekuan darah baru dicurigai bila penyebab yang lain disingkirkan apalagi
disertai ada riwayat pernah mengalami hal yang sama pada persalinan sebelumnya. Akan
ada tendensi mudah terjadi perdarahan setiap dilakukan penjahitan dan perdarahan akan
merembes atau timbul hematoma pada bekas jahitan, suntikan, perdarahan dari gusi,
rongga hidung, dan lain-lain.
Pada pemeriksaan penunjang ditemukan hasil pemeriksaan faal hemostasis yang
abnormal. Waktu perdarahan dan waktu pembekuan memanjang, trombositopenia, terjadi
hipofibrinogenemia, dan terdeteksi adanya FDP (fibrin degradation product) serta
perpanjangan tes protrombin dan PTT (partial thromboplastin time).
Predisposisi untuk terjadinya hal ini adalah solusio plasenta, kematian janin dalam
kandungan, eklampsia, emboli cairan ketuban, dan sepsis. Terapi yang dilakukan adalah
dengan transfuse darah dan produknya seperti plasma beku segar, trombosit, fibrinogen,
dan heparinisasi atau pemberian EACA (epsilon amino caproic acid)

Diagnosis

1. Palpasi uterus, bagaimana kontraksi uterus dan tinggi


fundus uteri
1. Tonus
2. Memeriksa plasenta dan ketuban, apakah lengkap atau
2. Tissue
tidak
3. Trauma
3. Lakukan eksplorasi kavum uteri untuk mencari :
4. Trombosit
a. Sisa plasenta dan ketuban
b. Robekan uterus
4. Inspekulo : untuk melihat robekan pada serviks, vagina,
dan varises yang pecah
5. Pemeriksaan laboratorium : darah lengkap, clotting time-
bleeding time

Untuk membuat diagnosis perdarahan postpartum perlu diperhatikan ada perdarahan yang
menimbulkan hipotensi dan anemia. Apabila hal ini dibiarkan berlangsung terus, pasien
akan jatuh dalam keadaan syok. Perdarahan postpartum tidak hanya terjadi pada mereka
yang mempunyai predisposisi, tetapi pada setiap persalinan kemungkinan untuk
terjadinya perdarahan postpartum selalu ada.
Perdarahan yang terjadi di sini dapat deras atau merembes saja. Perdarahan yang deras
biasanya akan segera menarik perhatian, sehingga cepat ditangani, sedangkan perdarahan
yang merembes karena kurang Nampak seringkali tidak mendapat perhatian yang
seharusnya. Perdarahan yang bersifat merembes ini bila berlangsung lama akan
mengakibatkan kehilangan darah yang banyak. Untuk menentukan jumlah perdarahan,
maka darah yang keluar setelah uri lahir harus ditampung dan dicatat.
Kadang-kadang perdarahan terjadi tidak keluar dari vagina, tetapi menumpuk di vagina
dan di dalam uterus. Keadaan ini biasanya diketahui karena adanya kenaikan dari
tingginya fundus uteri setelah uri keluar.
Untuk menentukan etiologi dari perdarahan postpartum diperlukan pemeriksaan yang
lengkap meliputi anamnesis, pemeriksaan umum, pemeriksaan abdomen dan pemeriksaan
dalam.
Pada atonia uteri terjadi kegagalan kontraksi uterus, sehingga pada palpasi abdomen
uterus didapatkan membesar dan lembek. Sedangkan pada laserasi jalan lahir uterus
berkontraksi dengan baik, sehingga pada palpasi teraba uterus yang keras. Dengan
pemeriksaan dalam dilakukan eksplorasi vagina, uterus dan pemeriksaan inspekulo.
Dengan cara ini dapat ditentukan adanya robekan dari serviks, vagina, hematoma dan
adanya sisa-sisa plasenta.

Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam menolong persalinan dengan komplikasi
perdarahan postpartum, yaitu :
a. penghentian perdarahan
b. jaga jangan sampai timbul syok
c. penggantian darah yang hilang

Pencegahan
Klasifikasi kehamilan risiko rendah dan tinggi akan memudahkan penyelenggaraan
pelayanan kesehatan untuk menata strategi pelayanan ibu hamil saat perawatan antenatal
dan melahirkan dengan mengatur petugas kesehatan mana yang sesuai dengan jenjang
rumah sakit rujukan. Akan tetapi, pada saat proses persalinan, semua kehamilan
mempunyai risiko untuk terjadinya patologi persalinan, salah satunya adalah perdarahan
pascapersalinan. Antisipasi terhadap hal tersebut dapat dilakukan sebagai berikut.
1. Persiapan sebelum hamil untuk memperbaiki keadaan umum dan mengatasi setiap
penyakit kronis, anemia, dan lain-lain sehingga pada saat hamil dan persalinan
pasien tersebut ada dalam keadaan optimal.
2. Mengenal faktro predisposisi perdarahan postpartum seperti multiparitas, anak
besar, hamil kembar, hidramnion, bekas seksio, ada riwayat PPP sebelumnya dan
kehamilan risiko tinggi lainnya yang risikonya akan muncul saat persalinan
3. Persalinan harus selesai dalam waktu 35 jam dan pencegahan partus lama
4. Kehamilan risiko tinggi agar melahirkan di fasilitas rumah sakit rujukan.
5. Kehamilan risiko rendah agar melahirkan di tenaga kesehatan terlatih dan
menghindari persalinan dukun.
6. Menguasai langkah-langkah pertolongan pertama menghadapi perdarahan
postpartum dan mengadakan rujukan sebagaimana mestinya.
Tujuan pengobatan adalah untuk menimbulkan kontraksi uterus. Pertama-tama dapat
diberikan obat-obat yang dapat menimbulkan kontraksi uterus seperti oksitosin dan atau
pemberian obat-obat golongan methergin secara intravena atau intramuskuler. Di samping
pemberian obat ini, dapat dilakukan masase uterus melalui dinding abdomen.
Bila dengan cara tersebut di atas perdarahan masih berlangsung terus, dapat dilakukan
kompresi bimanual uterus. Sebelumnya kandung kemih harus dikosongkan.

Anda mungkin juga menyukai