Anda di halaman 1dari 5

GEOTEXTILE

Geotextile meliputi woven (tenun) dan non woven (tanpa tenun). Tenun dihasilkan dari
‘interlaying’ antara benang-benang melalui proses tenun, sedangkan non woven dihasilkan
dari beberapa proses seperti : heat bonded (dengan panas), needle punched (dengan jarum),
dan chemical bonded (enggunakan bahan kimia). Baik woven maupun non woven dihasilkan
dari benang dan serat polimer terutama : polypropelene, poliester, polyethilene dan
polyamide.

Sebenarnya geotekstil pada awalnya dibuat dari berbagai bahan seperti serat-asli (kertas,
filter, papan kayu, bambu) , misalnya penggunaan jute untuk percepatan konsolidasi sebagi
pengganti pasir sebagai bahan drainase (vertical drain) yang banyak dilakukan di India atau
dilakukan di Belanda dengan menggunakan serat filter.

Perkuatan tanah lunak juga menggunakan papan-papan kayu atau anyaman bambu yang
ditempatkan di atas di atas tanah lunak (jaman Romawi kuno dan juga di Kalimantan
Indonesia). Hanya bahan organik tersebut mudah lapuk sehingga umur konstruksi tidak dapat
lama kecuali bahan dari bambu atau kayu yang apabila berada dalam air secara terus
menerus akan bersifat permanen.

1. Woven Geotextile

Woven Geotextile adalah lembaran Geotextile terbuat dari bahan serat sintetis tenunan
dengan tambahan pelindung anti ultra violet yang mempunyai kekuatan tarik yang cukup
tinggi, yang dibuat untuk mengatasi masalah untuk perbaikan tanah khususnya yang terkait
di bidang teknik sipil secara efisien dan efektif, antara lain untuk mengatasi atau
menanggulangi masalah pembuatan jalan dan timbunan pada dasar tanah lunak, tanah rawa.

Bahan baku material ini adalah Polypropylene polymer (PP) dan ada juga dari Polyester (PET)
yang didukung oleh hasil test dan hasil riset di laboratorium, mengikuti standar ASTM, antara
lain : kekuatan tarik, kekuatan terhadap tusukan, sobekan, kemuluran dan juga ketahanan
terhadap mico organisme, bakteri, jamur dan bahan-bahan kimia.

Material ini dibuat dalam berberapa macam tipe. Pemilihan tipe yang tepat tergantung pada
kondisi tanah dasar, fungsi dan beban yang direncanakan.

2. Non Woven Geotextile

Geotextile (Geotekstil) Non Woven, atau disebut Filter Fabric (Pabrik) adalah jenis
Geotextile yang tidak teranyam, berbentuk seperti karpet kain. Umumnya bahan dasarnya
terbuat dari bahan polimer Polyesther (PET) atau Polypropylene (PP).Non Woven Geotextile

FUNGSI
Geotextile Non Woven berfungsi sebagai :
1. Filter / Penyaring
Sebagai filter, Geotextile Non Woven berfungsi untuk mencegah terbawanya partikel-
partikel tanah pada aliran air. Karena sifat Geotextile Non Woven adalah permeable (tembus
air) maka air dapat melewati Geotextile tetapi partikel tanah tertahan. Aplikasi sebagai
filter biasanya digunakan pada proyek-proyek subdrain (drainase bawah tanah).
2. Separator / Pemisah

Sebagai separator atau pemisah, Geotextile Non Woven berfungsi untuk mencegah
tercampurnya lapisan material yang satu dengan material yang lainnya.

Contoh penggunaan Geotextile sebagai separator adalah pada proyek pembangunan jalan di
atas tanah dasar lunak (misalnya berlumpur). Pada proyek ini, Geotextile mencegah naiknya
lumpur ke sistem perkerasan, sehingga tidak terjadi pumping effect yang akan mudah
merusak perkerasan jalan. Selain itu keberadaan Geotextile juga mempermudah proses
pemadatan sistem perkerasan.

3. Stabilization / Stabilisator
Fungsi Geotextile ini sering disebut juga sebagai Reinforcement / Perkuatan. Misalnya
dipakai pada proyek-proyek timbunan tanah, perkuatan lereng dll. Fungsi ini sebenarnya
masih menjadi perdebatan dikalangan ahli geoteknik, sebab Geotextile bekerja
menggunakan metode membrane effect yang hanya mengandalkan tensile strength (kuat
tarik) sehingga kemungkinan terjadinya penurunan setempat pada timbunan, masih besar,
karena kurangnya kekakuan bahan. Apalagi sifat Geotextile yang mudah mulur terutama jika
terkena air (terjadi reaksi hidrolisis) menjadikannya rawan sebagai bahan perkuatan lereng.

4. Lain-lain
Fungsi Geotextile yang lain adalah sebagai pengganti karung goni pada proses curingbeton
untuk mencegah terjadinya retak-retak pada proses pengeringan beton baru.

 GEOTEXTILE SEBAGAI PENANGANAN LONGSORAN

Salah satu aplikasi geotekstil adalah untuk penanganan longsoran, beberapa penelitian
menunjukkan bahwa penanggulangan longsoran dengan bahan geosintetik atau geotekstil
pada ruas jalan sebagai perkuatan timbunan jalan mempunyai fungsi sebagai berikut :

1. Geosintetik atau geotekstil sebagai separator, yaitu mencegah bercampurnya agregat


pilihan dengan lapisan asli tanah lunak
2. Geosintetik atau geotekstil sebagai perkuatan tanah dasar, yang mana material
geosintetik atau geotekstil memiliki properties kekuatan tarik yang melawan pergerakan
tanah dasar baik mengembang ataupun menyusut.
3. Geosintetik atau geotekstil sebagai perkuatan lereng jalan sementara atau permanen
4. Geomembrane sebagai perkuatan pada bahu jalan, yang berfungsi untuk mencegah
perubahan kadar air pada tanah dasar karena geomembran mempunyai sifat kedap air,
tahan pelapukan terhadap zat kimia tanah, dan organisme pembusukan dalam tanah,
selain itu mempunyai tahanan terhadap kekuatan tarik terhadap longsoran , daya tahan
terhadap sobek, dan daya tahan coblos yang tinggi.
5. Geotekstil non woven atau tanpa tenunan yang terbuat dari serat polyprophylene
melalui proses needle punched adalah cocok untuk apliaksi pada tanah dasar yang
banyak mengandung sisa-sisa tanaman karena mempunayi daya tahan coblos yang lebih
tinggi dibandingkan dengan bahan lainnya. Disamping itu geotekstil non woven memiliki
sifat hidrolik propertis yang lebih bagus shingga bisa sekaligus berfunsi sebagai filter
yang hanya melarutkan air tanpa membawa agregat tanah .

Langkah-langkah perhitungan adalah :

1. Penentuan beban yang bekerja di ruas jalan


2. Analisa stabilitas internal dengan menghitung : tebal lapis perkuatan tanah, panjang
geotekstil di depan dan di belakang bidang longsor, panjang total geotekstil bidang
longsor, panjang overlap bahan perkuatan, panjang overlap bahan perkuatan, analisis
stabilitas lereng, stabilitas terhadap kuat dukung tanah.

1.2 GEOTEXTILE/GEOGRID PADA TIMBUNAN TANAH

Geotekstil adalah lembaran sintesis yang tipis, fleksibel, permeable yang digunakan untuk
stabilisasi dan perbaikan tanah dikaitkan dengan pekerjaan teknik sipil. Pemanfaatan
geotekstil merupakan cara moderen dalam usaha untuk perkuatan tanah lunak.

Beberapa fungsi dari geotekstil yaitu:

1. untuk perkuatan tanah lunak.


2. untuk konstruksi teknik sipil yang mempunyai umur rencana cukup lama dan
mendukung beban yang besar seperti jalan rel dan dinding penahan tanah.
3. sebagai lapangan pemisah, penyaring, drainase dan sebagai lapisan pelindung.

Geotextile dapat digunakan sebagai perkuatan timbunan tanah pada kasus:

1. Timbunan tanah diatas tanah lunak


2. Timbunan diatas pondasi tiang
3. Timbunan diatas tanah yang rawan subsidence

Timbunan Tanah Diatas Tanah Lunak

Pada hakekatnya, timbunan diatas tanah lunak merupakan masalah daya dukung.
Pertimbangan lain adalah bahwa stabilitas timbunan kritis pada akhir konstruksi. Hal ini
dikarenakan permeabilitas tanah lempung lunak yang tidak memungkinkan pengaliran dan
konsolidasi pada masa konstruksi. Pada akhir konstruksi, beban telah diterapkan, tetapi tidak
ada peningkatan kuat geser tanah akibat konsolidasi.

Sesudah konsolidasi terjadi, peningkatan kuat geser umumnya menghilangkan perlunya


perkuatan geotextile untuk menambah stabilitas. Untuk memperoleh peningkatan kuat
geser, tinggi timbunan harus sedemikian sehingga pada awal kosntruksi mengakibatkan
tegangan vertikal yang melewati tegangan pra-konsolidasinya.

Jadi peranan geotextile adalah mempertahankan stabilitas sampai tanah lunak terkonsolidasi
(kuat geser meningkat berarti) sampai saat dapat memikul beban timbunan itu sendiri.

Keuntungan yang dapat diambil dari penggunaan geotekstil perkuatan tanah lunak adalah
Konstruksi sederhana sehingga mudah untuk dilaksanakan, menghemat waktu pelaksanaan,
menghemat biaya konstruksi. Sedangkan kerugian dari penggunaan geotekstil adalah bahwa
geotekstil tidak tahan terhadap sinar ultra violet. Tetapi hal ini dapat diatasi dengan
penutupan berupa pasangan batu kali ataupun dengan bahan lainya.

1.3 GEOTEXTILE PADA STRUKTUR DINDING PENAHAN TANAH

Penambahan lapis geotekstil pada lapisan tanah sirtu sering dipergunakan


untuk mengatasi permasalahan pada struktur penahan tanah. Cara ini mampu
memberikan peningkatan kemampuan rnenerima beban yang cukup besar.
Suatu model penelitian dibuat di laboratorium untuk mempelajari
seberapa besar peningkatan beban yang dapat dipikul oleh model struktur penahan
tanah. Model percobaan berupa bak uji berukuran 100 x 50 x 60 cm3. Pengamatan
dilakukan dengan membandingkan lateral displacement pada model struktur
penahan tanah tanpa geotekstil maupun dengan penambahan lapis geotekstil.
Dilakukan tes pembebanan dengan mengamati peningkatan beban yang dapat
dipikul model struktur penahan tanah.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa peningkatan beban terbesar yang


dapat dipikul oleh model struktur penahan tanah dengan lapisan geotekstil
dibandingkan dengan tanpa lapisan geotekstil adalah sebesar 824%, yaitu pada
percobaan dengan menggunakan geotekstil type HATE Reinfox sebanyak 7 lapis
(sejarak 7.5 cm). Peningkatan beban yang terjadi dengan pemakaian 5 lapis HATE
Reinfox (sejarak 10 cm) adalah sebesar 684%, sedangkan pada pemakaian 3 lapis
HATE Reinfox adalah sebesar 586% bila dibandingkan dengan tanpa pemakaian
geotekstil.

Sedangkan dan type HDPE G-Line, peningkatan beban terbesar yang


dapat dipikul oleh model struktur penahan tanah dengan lapisan geotekstil
dibandingkan dengan tanpa lapisan geotekstil adalah sebesar 683%, yaitu pada
percobaan dengan menggunakan 7 lapis HDPE G-Line (sejarak 7.5 cm).
Peningkatan beban yang terjadi dengan penambahan 5 lapis HDPE G-Line
(sejarak 10 cm) adalah sebesar 519%, sedangkan pada pemakaian 3 lapis HDPE
G-Line adalah sebesar 142% bila dibandingkan dengan tanpa pemakaian lapisan
geotekstil.

GEOGRID

Geogrid adalahPerkuatan sistem anyaman.Geogrid berupa lembaran berongga dari bahan


polymer. Pada umumnya sistem serat tikar banyak digunakan untuk memperkuat badan
timbunan pada jalan, lereng atau tanggul dan dinding tegak. Mekanisme kekuatan perkuatan
dapat meningkatkan kuat geser.

Pembangunan jalan diatas tanah lunak dengan metode:

1. Penggunaan cerucuk kayu yang berfungsi sebagai settlement reducer, yang walaupun
memiliki kelemahan keterbatasan umur material namun telah terbukti dan diterima
sebagai suatu sistem.
2. Penggunaan sistem Corduroy/geotextile bagian dari tanah soil reinforcement untuk
menaklukkan kuat geser.
3. Penggunaan sistem Cakar ayam yang dikombinasikan dengan geotextile diatas tanah
lunak.
4. Menggunakan cerucuk matras beton dengan komponen cerucuk dan matras dimana
setiap unit pelat matras masing-masing berada disebuat titik/cerucut.
5. Penggunaan bahan expandsed Polysstyrene yang yang mempunyai berat jenis sangat
rendah untuk konstruksi timbunan jalan raya, maupun sebagai lapisan pendukung
fondasi diatas tanah lunak sehingga memperkecil tegangan yang bekerja.

VERTIKAL DRAIN
Umumnya jenis tanah yang mengalami konsolidasi berlebihan adalah lempung lunak jenuh.
Terdapat beberapa metode yang bisa dilakukan guna perbaikan tanah lunak terhadap
penurunan yang berlebihan (settlemen) dan secara garis besar dapat dikelompokan dalam
tiga kategori : pertama dapat dilakukan dengan memasang vertical drain, kedua dengan
menggunakan cerucuk atau corduroy serta yang ketiga dengan menggunakan pondasi tiang.

Pertama memasang vertical drain, tanah lempung lunak jenuh adalah tanah dengan rongga
kapiler yang sangat kecil sehingga proses konsolidasi saat tanah dibebani memerlukan waktu
cukup lama, sehingga untuk mengeluarkan air dari tanah secara cepat adalah dengan mebuat
vertical drain pada radius tertentu sehingga air yang terkandung dalam tanah akan
termobilisasi keluar melalui vertical drain yang telah terpasang. Vertical drain ini dapat
berupa stone column atau menggunakan material fabricated yang diproduk oleh geosinindo
atau pabrik yang lainnya. Pekerjaan vertical drain ini biasanya dikombinasikan dengan
pekerjaan pre-load berupa timbunan tanah, dengan maksud memberikan beban pada tanah
sehingga air yang terkandung dalam tanah bisa termobilisasi dengan lebih cepat.

Kedua dengan menggunakan cerucuk bamboo atau corduroy, prinsip kerjanya sebelum
dilakukan penimbunan terlebih dahulu memasang bantalan baik yang terbuat dari bamboo
(cerucuk) atau dari kayu gelondongan (corduroy) sehingga saat tanah dihampar tidak
bercampur dengan tanah asli dibawahnya dan tanah timbunan tersebut membentuk satu
kesatuan yang mengapung diatas tanah aslinya semacam pontoon yang mengapung diatas
air. Terdapat pondasi cerucuk bamboo yang telah dimodifikasi dan dipatentkan oleh Pak
Mansyur Irsyam (dosen ITB) yang telah diaplikasikan pada bebepara daerah di indonesia serta
telah terbukti manfaatnya.

Ketiga dengan menggunakan taing pancang, bisa berupa bore pile atau PC spun pile,
sehingga struktur yang akan kita bangun diatas tanah tersebut tidak lagi menumpuh pada
tanah lunak tersebut akan tetap menumpu pada lapisan tanah keras dibawahnya. Satu hal
yang perlu diperhatikan saat merencanakan pondasi tiang pancang pada tanah lunak adalah
negative skin friction.

Dua metode perbaikan tanah lunak yang saya sebutkan pertama cocok diaplikasikan pada
pekerjaan jalan, yard penumpukan barang pada dermaga dll. Sementara untuk untuk pondasi
dari struktur atau proses equipment yang tepat diguanakan adalah menggunakan pondasi
tiang pancang.

SUMBER :

Google.com