Anda di halaman 1dari 24

1

LAPORAN PRAKTIK LAPANGAN


PENILAIAN KESEJAHTERAAN SAPI PERAH
DI WILAYAH KPGS CIKAJANG, KUD MANDIRI BAYONGBONG, DAN
KSU TANDANGSARI
30 Oktober 2017– 27 Januari 2018

Oleh:
Kelompok Sapi Perah
PPDH Angkatan II Tahun 2016/2017

Dimas Prasetyo, SKH B94164213


Elisabet M Sinaga B , SKH B94164215
Firyal Husnun Nabilah, SKH B94164218
Muhamad Reza, SKH B94164232
Muhamad Rizky, SKH B94164233
Thol’at Hamdi, SKH B94164248

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2018
2
3

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIK LAPANGAN


PENILAIAN KESEJAHTERAAN SAPI PERAH
DI WILAYAH KPGS CIKAJANG, KUD MANDIRI BAYONGBONG, DAN
KSU TANDANGSARI
30 Oktober 2017– 27 Januari 2018

Nama Kegiatan : Magang kesrawan sapi perah


Tempat : KSU Tandangsari, KUD Mandiri Bayongbong, dan
KPGS Cikajang.
Peserta : Dimas Prasetyo, SKH B94164213
Elisabet M Sinaga B, SKH B94164215
Firyal Husnun Nabilah, SKH B94164218
Muhamad Reza, SKH B94164232
Muhamad Rizky, SKH B94164233
Thol’at Hamdi, SKH B94164248

Menyetujui,

Dosen Pembimbing Koordinator

Drh. Fadjar Satrija, M.Sc, PhD Dr. drh. Ligaya ITA Tumbelaka, SpMP, M.Sc
NIP.196410031988031002 NIP.196003301985032001

Mengetahui,

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKH IPB

Prof. drh. Agus Setiyono, M.S., Ph.D., A.P.Vet


NIP.196308101988031004

Tanggal Pengesahan:
4
5

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penilaian kesejahteraan hewan sapi perah di dilakukan di KSU Tandangsari, KUD
Mandiri Bayongbong, dan KPGS Cikajang pada tanggal 30 Oktober 2017– 27
Januari 2018 penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Medik dan paramedik di dilakukan di KSU Tandangsari, KUD Mandiri
Bayongbong, dan KPGS Cikajang atas bimbingan, arahan, nasihat, dan
ilmu yang diberikan selama kegiatan magang berlangsung.
2. Seluruh pegawai dilakukan di KSU Tandangsari, KUD Mandiri
Bayongbong, dan KPGS Cikajangyang telah memberikan ilmu dan
bimbingan selama kegiatan magang.
3. Dr drh Fadjar Satrija, MSc selaku dosen pembimbing.
4. Seluruh pihak di luar lingkungan magang yang telah memberikan kritik,
saran, doa, dan semangat selama penulis melaksanakan magang.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan pada laporan
kegiatan ini sehingga penulis terbuka untuk menerima kritik dan saran demi
kesempurnaan laporan ini. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kami selaku
penulis dan pembaca.

Bogor, Maret 2018

Penulis
6
7

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan 1
Manfaat 1
METODOLOGI 1
HASIL DAN PEMBAHASAN 2
Good Feeding 3
Kriteria Body Condition Score 3
Good Health 5
Kriteria penilaian hair loss dan lesions 6
Kriteria penilaian swelling 7
Kriteria penilaian mobility lameness 8
Kriteria penilaian mastitis 8
Kriteria Calf/heifer Survivability 9
Kriteria Cull/casuality cow 10
Good Housing 10
Kriteria Penilaian Mobility Individual Scoring 10
Kriteria Penilaian Cleanliness 11
Appropriate Behaviour 12
Kriteria penilaian respond to stockperson (respon terhadap peternak) 12
SIMPULAN DAN SARAN 13
Simpulan 13
Saran 13
DAFTAR PUSTAKA 14
8

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Hasil Penilaian Kesejahteraan Hewan pada Sapi Perah 2


Tabel 2 Kalkulasi Penilaian Kesejahteraan Hewan pada Sapi Perah 3
Tabel 3 Rekapitulasi Penilaian Kesejahteraan Hewan pada Sapi Perah 3
Tabel 4 Penilaian BCS di masing – masing lokasi. 4
Tabel 5 Penilaian respond to stockperson 12

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1
Kriteria penentuan Body Condition Score (BCS) 4
Gambar 2
Sapi yang mengalami hari loss 6
Gambar 3
Sapi yang mengalami lesi di kaki belakang 6
Gambar 4
Sapi yang mengalami kebengkakan pada bagian sendi di
kaki belakang 8
Gambar 5 Kelenjar mamari tidak sama besar dan konsistensi keras 9
Gambar 6 Sapi terlihat nyaman dengan peternaknya 13
1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sapi perah merupakan salah satu komoditi utama subsektor peternakan.


Adanya komoditi di subsektor peternakan dapat membantu memenuhi kebutuhan
protein hewani masyarakat Indonesia setiap harinya. Peningkatan konsumsi susu
bersamaan dengan peningkatan populasi hewan penghasil susu termasuk populasi
sapi perah dan produksi susu sapi perah. Peningkatan populasi hewan berkaitan
dengan kesejahteraan hewan tersebut. Akan tetapi, kesejahteraan hewan
merupakan salah satu aspek yang seringkali tidak diperhatikan. Oleh karena itu,
perlunya memperhatikan kesejahteraan hewan, karena erat kaitannya dengan
produksi sapi perah tersebut.
Kesejahteraan hewan mencakup lima poin, yaitu bebas dari rasa lapar dan
haus, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari luka, penyakit, dan sakit, bebas
dari rasa takut dan penderitaan, serta bebas mengekspresikan perilaku normal atau
perilaku alami. Menurut AssureWel (2013) kriteria penilaian kesejahteraan hewan
sapi perah meliputi mobilitas, BCS, kebersihan, kerontokan rambut dan lesio,
kebengkakan, kerusakan ekor, respon terhadap manusia, kebutuhan khusus
(perawatan dan pengobatan), mastitis, kemampuan bertahan anak sapi, dan jumlah
sapi yang diafkir.
Permasalahan pada sapi perah dapat dilihat dari berbagai sudut pandang,
khususnya oleh dokter hewan. Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) FKH
IPB wajib melakukan penilaian kesejahteraan hewan (kesrawan) sehingga dapat
mempraktikan kesejahteraan hewan.

Tujuan

Tujuan dari praktik kerja lapangan kesejahteraan hewan adalah


mengetahui masalah kesrawan di sapi perah, melatih kemampuan untuk
melakukan penilaian kesrawan, dan memberikan saran untuk perbaikan kesrawan

Manfaat

Mahasiswa dapat melihat langsung masalah kesrawan di sapi perah dan


melatih kemampuan melakukan penilaian kesrawan.

METODOLOGI

Penilaian kesejahteraan hewan pada sapi perah dilakukan di KSU


Tandangsari, KUD Mandiri Bayongbong, dan KPGS Cikajang pada tanggal 30
Oktober 2017– 27 Januari 2018. Penilaian dilakukan terhadap sapi perah milik
anggota koperasi di ketiga wilayah tersebut. Kesejahteraan hewan dinilai dengan
2

pendekatan Welfare quality dengan mengamati welfare output kesejahteraan


hewan menggunakan indikator penilaian yang diuraikan dalam AssureWel (2013)
(Tabel 1).
Penilaian dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Pengamatan
langsung dilakukan dengan cara menilai sapi secara langsung di peternakan.
Penilaian dilakukan pada 120 ekor sapi yang berada di wilayah KSU Tandangsari,
dan 40 ekor sapi yang berada di wilayah KUD Mandiri Bayongbong, dan 40 ekor
sapi yang berada di wilayah KPGS Cikajang 40 ekor. Metode pengukuran
langsung dibagi menjadi individual scoring, herd measures (sapi laktasi), serta all
animals on farm. Pengukuran individual terdiri atas mobility, BCS, cleanliness,
hairloss and lesions, dan swelling. Pengamatan tidak langsung dilakukan
menggunakan data yang dikompilasi di kantor koperasi. Pengukuran tidak
langsung dilakukan dengan catatan kasus (record measures) yang terdiri atas
mastitis, calf/heifer survivability, dan cull and casualty cows.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil penilaian kesejahteraan hewan sapi perah di KSU Tandangsari, KUD
Mandiri Bayongbong, dan KPGS Cikajang tersaji dalam Tabel 1, Tabel 2 dan
Tabel 3.
Tabel 1 Hasil Penilaian Kesejahteraan Hewan pada Sapi Perah
Parameter Skor Sumedang Bayongbong Cikajang
Mobility 0-1 40 30 31
2 0 8 9
3 0 2 0
BCS T 0 2 2
M 38 37 36
F 2 1 2
Cleanliness 0 18 19 20
2 22 21 20
Hair loss lesions, and swelling
Head and neck 0 39 38 39
H 1 2 1
L 0 0 0
1S 0 0 0
2S 0 0 0
Body 0 39 39 38
H 1 1 2
L 0 0 0
1S 0 0 0
2S 0 0 0
Front leg 0 38 37 35
H 2 0 0
L 0 3 4
1S 0 0 1
2S 0 0 0
Rear leg 0 28 32 36
H 11 5 0
L 0 2 4
1S 0 1 0
2S 1 0 0
3

Tabel 2 Kalkulasi Penilaian Kesejahteraan Hewan pada Sapi Perah


Mobility BCS Cleanliness Hair loss, lesions, and swellings
Head and Body Front Rear leg
neck leg
0-1 101 Thin 4/120 0 57/120 0 116/120 116/120 110/120 96/120
2 17 Mod 111/120 2 63/120 H 4/120 4/120 2/120 16/120
3 2 Fat 5/120 L 0 0 7/120 6/120
1S 0 0 1/120 1/120
2S 0 0 0/120 1/120

Tabel 3 Rekapitulasi Penilaian Kesejahteraan Hewan pada Sapi Perah


Indikator Skor Sumedang Bayongpong Cikajang
Broken tails Ada/tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Cows needing further Ada/tidak ada Ada (2 ekor) Ada (5 ekor) Ada (7 ekor)
care
Indikator Skor Sumedang Bayongbong Cikajang
Response to stock person Sociable, Sociable Relaxed Sociable
relaxed, (40 ekor) (30 ekor) (20 ekor)
nervous Nervous Relaxed
(10 ekor) (17ekor)
Nervous
(3 ekor)
Regulary stock person Ya/tidak Ya Ya Ya

No. of recorded cases of Ada/tidak ada 3/120 4/120 4/120


mastitis per 100 cows for (ekor)
the previous 12 month

No. of recorded cases of Ada/tidak ada Tidak Ada Tidak ada Ada (1 ekor)
lameness per 100 cows (ekor)
fo the pervious 12 month
Calf/Heifer Survivability Ada/tidak ada Tidak ada Tidak ada 1 ekor (Calves:
(no, losses per 100 cows (ekor) birth - 24 hours
calved) m & f)

Cull and Casualty Cows Ada/Tidak Tidak ada 1 ekor 1ekor(Unplanned


(no, losses per 100 cows (ekor) (Unplanned culls or casualty
calved) culls or casualty cows)
cows)

Good Feeding

Salah satu prinsip yang harus dipenuhi dalam penilaian kesejahteraan hewan
(welfare quality) adalah good feeding. Indikator penilaian yang diuraikan dalam checklist
assurewel for dairy cattle 2013 yaitu body condition score (BCS).

Kriteria Body Condition Score


Body Condition Score (BCS) merupakan metode penilaian umum yang
dikembangkan untuk memperkirakan kondisi tubuh sapi secara subjektif dengan
4

penglihatan dan perabaan yang berbasis pada evaluasi penimbunan lemak tubuh.
Nilai BCS telah terbukti menjadi alat praktis yang penting dalam menilai kondisi
tubuh ternak. Hal tersebut terjadi karena BCS merupakan indikator sederhana
terbaik dari cadangan lemak yang tersedia dan dapat digunakan oleh ternak dalam
periode apapun (Budiawan et al. 2015). Bagian kerangka sapi yang digunakan
untuk penilaian BCS terdiri dari tujuh bagian yaitu loin, prosessus spinosus dan
prosessus transversus, pin bone, hook bone, rump, tail head ligament, dan sacral
ligament (Mishra et al. 2016). Bagian-bagian tersebut dapat dinilai dengan dua
metode, metode perabaan dan metode visual (Gambar 1).

Gambar 1 Kriteria penentuan Body Condition Score (BCS)


(Sumber: Edmonson et al.1989)
Hasil penilaian kesejahteraan hewan terhadap aspek bebas dari rasa lapar
dan haus disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4 Penilaian BCS di masing – masing lokasi.


Lokasi Farm Body Condition Score
KSU Tandangsari
I Thin : 0/20
Moderate : 19/20
Fat : 1/20
II Thin : 0/20
Moderate : 19 /20
Fat : 1/20
Total Thin : 0/40
Moderate : 38/40
Fat : 2/40
KUD Mandiri Bayongbong
I Thin : 2/20
Moderate : 18/20
Fat : 1/20
II Thin : 1/20
Moderate : 18/20
Fat : 0/20
Total Thin : 2/40
Moderate : 37/40
Fat : 1/40
KPGS Cikajang
I Thin : 1/20
Moderate : 17/20
Fat : 1/20
II Thin : 1/20
Moderate : 19/20
5

Fat : 1/20
Total Thin : 2/40
Moderate : 36/40
Fat : 2/40
Persentase
Keseluruhan Thin : 3%
Moderate : 93%
Fat : 4%

Sapi di KSU Tandang sari yang memiliki skor BCS 2˗<4 sebanyak 38 ekor
(95%) tergolong moderate, sapi yang yang memiliki skor BCS 4-5 sebanyak 2
ekor (5%) tergolong fat, dan tidak ada sapi yang memilik nilai BCS 1˗<2 atau
yang tergolong thin. Sapi di wilayah KUD Mandiri Bayongbong memilik
persentase 5% tergolong thin, 92.5% tergolong moderate, dan 2.5% tergolong
fat. Sapi di wilayah KPGS Cikajang memiliki persentase 5% tergolong thin, 90%
moderate, dan 5% fat.
Penilaian kesejahteraan hewan berdasarkan aspek Good feeding dengan
parameter penilaian menggunakan BCS didapati bahwa total sapi dengan BCS 2-
<4 atau ideal memiliki persentase tertinggi, yaitu 93%. Persentase tersebut
menjelaskan bahwa manajemen pakan dari tiga peternakan tersebut sudah
dilakukan dengan baik, namun masih ditemukan beberapa ekor sapi dengan skor
BCS yang buruk di KUD Mandiri Bayongbong dan KPGS Cikajang.
Sapi yang memilik nilai BCS <2.0 di KUD Mandiri Bayongbong
mayoritas adalah sapi yang berumur tua dan terkena penyakit infeksi pernafasan.
Sapi tua sudah tidak mampu meningkatkan nilai konversi pakan menjadi bobot
badan secara baik, sehingga pakan yang masuk kedalam tubuh tidak cukup untuk
meningkatkan bobot badan. Sapi yang terjangkit penyakit infeksi pernafasan akan
menunjukkan gejala klinis berupa produksi susu menurun, lesu, malas berbaring,
nafsu makan dan minum menurun. Penurunan nafsu makan dan minum ini yang
akan menyebabkan bobot badan sapi menurun.
Nilai BCS yang tergolong thin di KPGS cikajang dikarenakan
pengetahuan peternak tentang manajemen pemberian pakan yang kurang dan
kulitas konsentrat yang dibawah standar. Kualitas konsetrat pada sapi perah harus
diperhatikan karena kualitas konsentrat akan mempengaruhi produksi susu dan
berat badan sapi. Pemberian konsentrat pada sapi laktasi dapat diberikan sekita
1.5% - 3% bobot badan dengan kandungan protein kasar minimal 12%, TDN
60%, dan serat kasar maksimal 20 % (Laryska 2013). Mayoritas peternak
memberikan hijauan berupa jerami. Salah satu hijauan yang baik untuk sapi
adalah rumput gajah, karena memiliki persentasi protein sebanyak 9.5% lebih
tinggi dibandingkan kadar protein jerami yang hanya 6%.

Good Health

Komponen utama prinsip bebas dari rasa sakit, luka, dan penyakit adalah
menyediakan lingkungan untuk mendukung kesehatan ternak yang baik,
melaksanakan prosedur praktik yang baik untuk menjaga kesehatan dan
meminimalkan rasa sakit. Penilaian kesejahteraan hewan terhadap rasa sakit, luka,
dan penyakit dapat dinilai berdasarkan beberapa aspek, yaitu hair loss, lession,
6

dan swelling, kejadian kepincangan, kejadian mastitis, kerusakan ekor, sapi yang
membutuhkan perawatan lebih lanjut , dan pencatatan kematian.Hasil penilaian
menunjukkan tidak adanya sapi yang mengalami kerusakan ekor. Akan tetapi,
terjadi penyimpangan hasil dari beberapa aspek yang dapat disebabkan oleh
manajemen perkandangan yang tidak sesuai dengan ternak.

Kriteria penilaian hair loss dan lesions


Penilaian terhadap hair loss dan lesions berdasarkan pada kebotakan dan
lesio yang terbentuk pada seluruh area tubuh yang dibagi menjadi 4 daerah, yaitu
kepala dan leher, tubuh, kaki depan, dan kaki belakang. Adanya gesekan, infeksi
parasit, dan defisiensi nutrisi dapat menyebabkan terjadinya alopesia (kebotakan).
Lesio pada tubuh sapi dapat berkaitan dengan struktur bangunan kandang, kondisi
kandang, dan sistem restrain yang diterapkan oleh peternak. Menurut AssureWel
(2015a) kejadian hair loss, lessions (lesio), dan swelling (kebengkakan) berkaitan
erat dengan kondisi perkandangan yang meliputi manajemen perkandangan dan
struktur bangunan yang kurang tepat.
Hasil penilaian terhadap hair loss (tabel 1) pada tiga lokasi yaitu, KSU
Tandangsari, KUD Mandiri Bayongbong, dan KPGS Cikajang menunjukkan
bahwa sebanyak 26 ekor sapi dari total 120 ekor sapi mengalami kebotakan.
Kebotakan tersebut terdiri dari 4 ekor kebotakan pada area kepala, 4 ekor pada
bagian badan, 2 ekor pada bagian kaki depan, dan 16 ekor pada bagian kaki
belakang. Sapi yang mengalami hari loss dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 2 Sapi yang mengalami hari loss


(dokumentasi pribadi)

Lesio yang terjadi pada hasil assessment yang dilakukan di KSU


Tandangsari, KUD Mandiri Bayongbong, dan KPGS Cikajang (Tabel 1) sebanyak
13 ekor dari 120 ekor sapi yang terdiri dari 7 ekor di bagian kaki depan dan 6 ekor
pada kaki belakang. Sapi yang mengalami lesio dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3 Sapi yang mengalami lesi di kaki belakang


(dokumentasi pribadi)
7

Hasil penilaian menunjukkan bahwa kejadian alopesia atau kebotakan


umumnya terjadi pada bagian kaki. Alopesia yang terbentuk dapat disebabkan
oleh gesekan terhadap konstruksi kandang. Pembatas kandang umumnya terbuat
dari bambu atau kayu yang memiliki permukaan yang kasar. Menurut AssureWel
(2015a) adanya alopesia, luka, dan pembengkakan pada daerah kaki belakang
sangat menunjukkan area berbaring tidak nyaman yang dapat disebabkan oleh
permukaan berbaring tidak rata. Kaki belakang yang tidak baik akan
menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan. Adanya luka dapat menyebabkan
infeksi sekunder.
Mayoritas lesio disebabkan oleh gesekan antara tubuh sapi dengan
konstruksi kandang yang terjadi secara terus menerus. Lantai kandang yang licin
menyebabkan sapi mudah terpeleset yang memicu terjadinya luka akibat kontak
antara tubuh sapi dan konstruksi. Menurut Kielland et al. (2009) lesio pada bagian
kaki merupakan kejadian umum yang terjadi pada beberapa peternakan dalam
bentuk kandang di Norwegia. Hal yang paling umum menjadi faktor penyebab
terjadinya kejadian ini berkaitan dengan lantai yaitu, material alas kandang. Alas
kandang yang keras memicu terjadinya skin lession lebih banyak dibandingkan
dengan alas kandang yang lebih lunak. Adanya lesi berkaitan dengan alas kandang
dan luas daerah berbaring

Kriteria penilaian swelling


Hasil penilaian swelling (Tabel 1) di wilayah KSU Tandangsari, KUD
Mandiri Bayongbong, dan KPGS Cikajang adalah sebanyak 3 dari 120 ekor.
Banyak faktor yang menyebabkan terbentuknya kebengkakan. Mayoritas
terjadinya kebengkakan disebabkan oleh kontruksi kandang yang kurang tepat.
Contoh penyebab kasus kebengkakan yang terjadi di KSU Tandangsari
disebabkan oleh kandang sapi yang tidak dilapasi oleh karpet karet menyebabkan
bagian kaki sapi mengalami benturan dengan lantai semen, tembok ataupun kayu
pembatas sehingga terjadi lesi dan pembengkakan pada sendi kaki sapi. Sapi yang
mengalami kebengkakan dapat dilihat pada gambar 3.
Menurut Santosa (2009) penggunaan karpet pada lantai kandang sapi perah
ternyata dapat memperkecil kejadian luka kaki. Mayoritas sapi yang memiliki
hairloss, lession, dan swelling adalah sapi dengan alas kandang yang kotor dan
licin. Keadaan lesi pada bagian persendian terkait dengan waktu yang dihabiskan
untuk berbaring di permukaan abrasif, tekanan lokal yang berkepanjangan atau
gesekan persendian di permukaan keras, dan benturan persendian dengan
peralatan kandang (Kester et al 2014).
8

Gambar 4 Sapi yang mengalami kebengkakan pada bagian sendi di kaki belakang
(dokumentasi pribadi)

Kriteria penilaian mobility lameness


Kepincangan merupakan penyakit yang mempengaruhi profitabilitas pada
sapi perah. Dampak dari kepincangan tergantung dari derajat keparahannya.
Kepincangan berkaitan erat dengan rasa sakit dan tidak nyaman, memiliki peluang
terjadinya penyakit lain (contohnya mastitis dan kebengkakan pada hocks),
penurunan produksi susu, peningkatan kegagalan reproduksi, serta penurunan
bobot tubuh (Assurewel 2015c). Penilaian dilakukan terhadap lameness yang
dilakukan per 100 ekor sapi dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Jumlah kasus
kepincangan terjadi pada 1 ekor sapi di wilayah KPGS Cikajang (0.01%)
sementara tidak ada kasus kepincangan di wilayah peternakan KSU Tandangsari
dan KUD Mandiri Bayongbong (Tabel 3).
Penyebab kepincangan dapat juga disebabkan oleh laminitis. Menurut
Kloosterman (2007) gejala klinis yang timbul pada sapi yang mendertita laminitis,
yaitu sapi mengalami stres, tidak mau makan (anoreksia), berdiri dengan tidak
seimbang, dan apabila dipaksa berjalan, sapi akan berjalan pincang dengan kaki
yang sakit akan dipijakkan secepat mungkin. Kondisi dilapang salah satunya
menunjukkan kuku sapi yang terlalu panjang. Sapi terlihat menumpu dengan tidak
normal. Kondisi kandang kotor dan alas kandang yang licin. Laminitis yang
diderita akibat menejemen kandang yang buruk.
Ukuran kandang untuk sapi laktasi yaitu 1.25 m x 1.75 m. Kandang
dilengkapi dengan tempat pakan dan minum yang diletakkan memanjang.
Kandang memiliki lantai yang tidak licin dan mudah dibersihkan (Prihanto 2009).
Kondisi kandang di lapangan sebagian tidak sesuai. Beberapa kandang masih
memiliki ukuran yang belum sesuai, lantai yang licin dan susah dibersihkan.
Kandang yang tidak sesuai akan berpengaruh terhadap kondisi kesehatan dan
kenyamanan sapi. Kondisi lantai kandang harus lebih diperhatikan, karena
penyebab kepincangan salah satunya akibat kondisi kandang yang licin dan kotor
dapat menyebabkan sapi terjatuh dan trauma.

Kriteria penilaian mastitis


Mastitis merupakan peradangan pada ambing yang disebabkan oleh
mikroorganisme dan mudah menular pada ternak sapi yang sehat. Mastitis terjadi
akibat adanya luka pada puting ataupun jaringan ambing, sehingga terjadi
kontaminasi mikroorganisme melalui puting yang luka Aziz et al (2013). Mastitis
merupakan masalah yang umum terjadi pada sapi perah karena dapat
9

mempengaruhi produktivitas sapi, baik dari segi biaya terapi maupun penurunan
produksi susu. Menurut Sudarwanto dan Sudarnika (2008) kerugian ekonomi
yang diakibatkan oleh mastitis pada peternakan sapi perah antara lain:
a) Penurunan produksi susu per kwartir per hari antara 9–45,5%
b) Penurunan kualitas susu yang mengakibatkan penolakan susu mencapai
30–40% dan penurunan kualitas hasil olahan susu
c) Peningkatan biaya perawatan dan pengobatan serta pengafkiran ternak
lebih awal
Jumlah kejadian mastitis di KSU Tandangsari sebesar 0. 03 %, KUD
Mandiri Bayongbong dan KPGS Cikajang sebesar 0. 04%. Kejadian mastitis pada
KUD Mandiri Bayongbong dan KPGS Cikajang lebih tinggi apabila dibandingkan
dengan KSU Tandangsari (Tabel 2). Tingginya kasus mastitis dapat terjadi karena
faktor kebersihan kandang, kebersihan sapi, higiene personal, dan sanitasi
lingkungan sekitar. Kondisi sapi yang mengalami mastitis dapat dilihat pada
gambar 4.

Gambar 5 Kelenjar mamari tidak sama besar dan konsistensi keras


(dokumentasi pribadi)

Beberapa hasil pengamatan menunjukkan masih adanya peternak yang


kurang menjaga kebersihan kandang dan tidak dilakukannya teat dipping setelah
pemerahan. Menurut Aziz et al (2013) terdapat hubungan negatif antara bahan
dan tingkat kebersihan lantai kandang terhadap kejadian mastitis, semakin tinggi
tingkat kebersihan lantai kandang maka mastitis akan semakin rendah. Lantai
kandang berbahan karet memiliki permukaan yang masif dan mempermudah
dalam pembersihan dan diperoleh kejadian mastitis yang lebih rendah.

Kriteria Calf/heifer Survivability


Calf/heifer survivability merupakan tingkat keselamatan atau tingkat
bertahan hidup anak sapi (pedet) setelah dilahirkan yang berkaitan dengan
manajemen pemeliharaan pedet hingga mencapai usia dara yang siap untuk
dikawinkan. Kejadian ini umumnya dipengaruhi oleh penyakit infeksius (seperti
pneumonia), abnormalitas kongenital, trauma, infeksi parasit, dan
ketidakseimbangan metabolisme (AssureWel 2015b). Penilaian dilakukan
terhadap Calf/heifer survivability yang dilakukan per 100 ekor sapi dalam kurun
waktu 12 bulan terakhir. Tidak terdapat data yang mendukung mengenai
pencatatan calf/heifer survivability di KSU Tandangsari. Terdapat 1 ekor (calves:
birth-24 hours) di KPGS Cikajang. Penyebab kematian pedet adalah abortus.
10

Kriteria Cull/casuality cow


Cull/casualtity cow merupakan pencatatan mengenai sapi yang diafkir di
dalam suatu peternakan. Afkir dilakukan karena kejadian penyakit, kematian sapi,
atau karena keputusan peternak. Sapi afkir (culling) umumnya merupakan sapi
yang mengalami kepincangan/kelumpuhan (lameness), mastitis, penyakit
metabolik, dan infertilitas. Culling rate merupakan salah satu indikator langsung
dan tidak langsung dari status kesejahteraan hewan (FAWC 2009). Cull/casualty
cow sebaiknya berada pada kondisi minimum dan usia hidup sapi dapat
berlangsung panjang. Manajemen peternakan yang baik, kemampuan kerja
peternak, kebutuhan nutrisi ternak, dan pengendalian penyakit harus diperhatikan
untuk meminimalkan jumlah ternak yang perlu di afkir (AssureWel 2015b).
Penilaian dilakukan terhadap culling yang dilakukan per 100 ekor sapi
dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Tidak ada data yang mendukung di KSU
Tandangsari. Terdapat 1 ekor sapi afkir di KUD Mandiri Bayongbong dan KPGS
Cikajang. Jumlah sapi yang di afkir berkaitan dengan tingkat kepedulian peternak
dan petugas medis dalam manajemen pemeliharaan dan kesehatan ternak, lokasi
dan lingkungan peternakan, frekuensi penyuluhan atau diskusi dengan petugas
medis, serta sistem pelayanan kesehatan dan sistem pencatatan (recording).
Berdasarkan kenyataan dilapangan di KUD Mandiri Bayongbong apabila ada sapi
yang memerlukan waktu pengobatan yang lama atau masih dalam waktu
pengobatan yang lama maka beberapa koloni peternak lebih memilih menjual sapi
sakit tersebut daripada harus menunggu proses persembuhan karena berkaitan
dengan nilai ekonomi.

Good Housing

Kriteria Penilaian Mobility Individual Scoring


Penilaian terhadap kenyamanan kondisi perkandangan (housing) sapi perah
dapat dilihat dari jumlah kasus permasalahan gerak (mobility) dari sapi-sapi yang
diamati. Immobility menjadi isu kesejahteraan hewan di industri susu, karena
tingginya tingkat kejadian di tingkat petani. Gangguan gerak pada sapi tidak
hanya tentang ketidaknyamanan dan rasa sakit, tetapi dapat menjadi predisposisi
untuk penyakit lainnya seperti mastitis, pembengkakan hocks, mengurangi
kesuburan, penurunan kualitas susu dan mengurangi nafsu makan. Banyaknya
komplikasi yang dapat menyertai gangguan mobilitas tersebut, deteksi dini,
penentuan kausa dan pengobatan sangat penting dilakukan (AssureWel 2016).
Gangguan mobilitas yang disebabkan oleh lesio di kaki secara umum dapat
berupa infeksi (dermatitis digital dan pembusukan) dan perdarahan tidak menular
(perdarahan tunggal, ulkus tunggal, dan white line disease) dan penting dilakukan
pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui penyebab primernya, sehingga dapat
ditangani dengan tepat (AssureWel 2016).
Penilaian terhadap mobility individual scoring di KSU Tandangsari
memiliki good/imperfect mobility score sebesar 100% (0-1) dan KUD Mandiri
Bayongbong memiliki good/imperfect mobility score sebesar 75% (skor 0-1),
impaired mobility score sebanyak 20% (skor 2) dan severely impaired 5% (skor
3), dan penilaian terhadap mobility individual scoring di KPGS Cikajang memiliki
good score imperfect mobility score sebesar 77.5 % (skor 0-1), dan impaired
11

mobility score sebanyak 22.5% (skor 2). Penilaian mobility individual scoring
dikatakan baik apabila rata-rata skor <5% terhadap skor ≥2 (CIWF 2017).
Berdasarkan nilai tersebut, Mobility score di KUD Mandiri Boyongbong
dan KPGS Cikajang masih belum cukup baik, karena rata-rata skor ≥2 masih
diatas 5%. Tingginya angka gangguan mobilitas di kedua tempat ini setidaknya
dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, karena sapi-sapi di koperasi tidak pernah
mendapat kesempatan untuk melakukan exercise dan beberapa kandang memiliki
sanitasi yang buruk, misalnya bedding yang selalu basah dan banyak kotoran yang
tidak segera dibersihkan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya malformasi kuku
(menyerupai kaki aladin) dan laminitis. Kedua, karena masalah pakan yang tidak
berimbang dapat mengakibatkan terjadinya asidosis metabolik, yang berujung
pada laminitis.

Kriteria Penilaian Cleanliness


Penilaian kesejahteraan hewan terkait bebas dari rasa tidak nyaman dapat
timbul dari beberapa parameter. Hewan ternak besar seperti sapi, parameter yang
dapat menimbulkan rasa tidak nyaman antara lain kebersihan tubuh sapi
(cleanliness). Kebersihan tubuh sapi tidak hanya berpengaruh terhadap rasa
nyaman, namun juga dapat meningkatkan risiko timbulnya suatu penyakit,
contohnya mastitis subklinis (Ellis et al. 2006; Sant’Anna dan Paranhos da Costa
2011).
Penilaian terhadap cleanliness di KSU Tandangsari memiliki clean score
sebesar 45%, very dirty score sebesar 55%. Penilaian terhadap cleanliness di
KUD Mandiri Bayongbong memiliki clean score sebesar 47.5% dan very dirty
score sebesar 52.5%. Penilaian terhadap cleanliness di Cikajang memiliki clean
score sebesar 50% dan very dirty score sebesar 50%. Kategori penilaian terhadap
cleanliness, sapi yang memiliki clean score adalah sapi yang bersih atau tampak
sedikit kotor pada bagian belakang tubuh sapi dan bagian ambing. Kategori very
dirty score adalah tampak sangat kotor pada bagian belakang tubuh sapi dan
bagian ambing (AssureWel 2013). Sebagian besar kebersihan di tiap koperasi
berkaitan dengan kepedulian peternak pada ternak-ternaknya.
Kekotoran (feses/lumpur) di berbagai area tubuh sapi disebabkan oleh hal
yang berbeda dan dapat mempengaruhi kesejahteraan dengan berbagai cara.
Secara alamiah, sapi akan memilih untuk berbaring di daerah kering yang bersih.
Kotoran pada mantel dapat mengiritasi kulit, meningkatkan kemungkinan infestasi
ektoparasit, mengakibatkan suhu dingin, dan menunjukkan tidak adanya grooming
facility (sikat dan pohon).
Kekotoran bagian belakang kemungkinan akibat sanitasi yang buruk,
ditambah diare pemberian makanan yang salah, perubahan pada pemberian
makan, rumput yang rimbun, endoparasit, penyakit menular. Sementara kekotoran
di kaki bagian bawah dikaitkan dengan peningkatan risiko kepincangan,
dermatitis digital, dermatitis interdigital, dan mastitis. Hal ini dapat disebabkan
oleh sistem pembuangan yang buruk, keterbatasan luasan bedding, atau
overstocking. Kekotoran pada area ambing dan puting bisa disebabkan oleh
sanitasi atau diare. Kotoran di ambing sangat terkait dengan kejadian mastitis dan
menurunkan kualitas susu, sehingga sangat penting secara ekonomi, disamping
aspek animal welfare (AssureWel 2016).
12

Appropriate Behaviour

Kriteria penilaian respond to stockperson (respon terhadap peternak)


Salah satu penilaian yang penting pada sebuah peternakan, adalah respon
terhadap ternak. Respon (sikap) ternak terhadap peternak merupakan timbal balik
sikap peternak pada ternak. Penilaian mungkin saja dilakukan terhadap sikap
peternak pada ternak, namun peternak dapat menutupi perilaku kurang baik
terhadap ternak saat petugas assesor datang menilai. Respon ternak adalah yang
paling jujur. Beberapa studi (AssureWel 2016b; Lawlis 2001) telah
mendemonstrasikan bahwa ada hubungan antara sikap, perilaku, dan metode
penanganan peternak dengan kesejahteraan ternak. Ternak yang menunjukkan
sikap ramah atau nyaman dengan peternak mengalami peningkatan produksi susu
(Lawlis 2001), sedangkan ternak yang berhati-hati bahkan takut kepada peternak
mengalami penurunan pada produksi susu (AssureWel 2016). Evaluasi poin
respon pada peternak sangat perlu untuk dilakukan, untuk meningkatkan
kesejahteraan dan kebahagiaan hewan ternak serta peternak. Hasil penilaian
respond to stockperson tersaji dalam Tabel 5.

Tabel 5 Penilaian respond to stockperson


Lokasi Farm
Respon To StockPerson
KSU Tandang Sari, Sumedang
I Sociable: 20/20
II Sociable: 20/20
Total 100/100 (100%)
Lokasi Farm
Respon To StockPerson
KPGS Cikajang, Garut
Sociable: 11/20
I Relaxed 8/20
Nervous: 1/20
Sociable 9/20
II Relaxed 9/20
Nervous: 2/20
Total 88/100 (88%)
Lokasi Farm
Respon To StockPerson
KUD Mandiri Bayombong, Garut
Relaxed: 16/20
I
Nervous 7/20
Relaxed: 14/20
II
Nervous 3/20
Total 100/100 (100%)

Penilaian poin respond to stockperson terdiri atas tiga hasil dari paling
rendah ke tinggi yaitu sociable/ramah, Relaxed/Nyaman, dan Nervous/gugup.
Respon ternak akan Sociable atau Relaxed jika peternak memperlakukan dengan
baik, dan respon ternak akan Nervous jika perlakuan peternak kurang baik.
Berdasarkan hasil penilaian KSU Tandang sari sebanyak 40 ekor bersikap
Sociable. Hasil penilaian di KUD Mandiri Boyongbong menunjukkan sebanyak
30 ekor bersikap relaxed dan 10 ekor bersikap nervous. Sementara, hasil di KPGS
Cikajang, yaitu sebanyak 20 ekor bersikap sociable, 17 ekor bersikap relaxed dan
3 ekor bersikap nervous.
13

Gambar 6 Sapi terlihat nyaman dengan peternaknya


(dokumentasi pribadi)

Hubungan interaksi peternak dan ternak dalam sebuah peternakan harus


dalam kondisi yang baik, karena salah satu manfaat ketika hubungan peternak
dengan ternak baik adalah dapat meningkatkan produktivitas dari ternak tersebut
(Lawlis 2001). Idealnya, beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
hubungan peternak dengan ternak adalah dengan mengubah sikap peternak,
pelatihan dan pembinaan untuk peternak, dan memperketat seleksi peternak.
Perilaku handling yang baik merupakan salah satu cara yang dilakukan dalam
memberikan rasa nyaman pada ternak yaitu dengan mengelus, kondisi kandang
yang tenang, berbicara dengan ternak, menyikatnya secara teratur. Perilaku baik
dapat meningkatkan rasa nyaman ternak, sehingga meningkatkan produktivitas.
Salah satu contoh perilaku handling yang kurang baik adalah dengan memukul
maupun menampar ternak, membentak dengan nada tinggi, pengiringan ternak
dengan cepat, dan keadaan kandang yang berisik maupun saat pemberian pakan
tidak baik. Perilaku tersebut dapat menurunkan rasa nyaman ternak, sehingga
berdampak pada menurunnya produktivitas ternak.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Penilaian terhadap kesrawan sapi perah menunjukkan status kesrawan di


KSU Tandangsari (Sumedang) sudah cukup baik, sedangkan hasil penilaian
kesejahteraan hewan di KUD Mandiri Bayongbong (Garut) dan KPGS Cikajang
(Garut) belum baik. Secara keseluruhan, KSU Tandangsari, KUD Mandiri
Bayongbong, dan KPGS Cikajang harus lebih memerhatikan manajemen kandang
yang baik.

Saran

1. Menjaga higiene dan sanitasi kandang dan operator selama proses pemerahan
susu, melakukan teat dipping secara rutin, serta menjaga kebersihan peralatan
perah perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan ambing.
14

2. Perbaikan kandang terutama dikandang-kandang yang masih menggunakan


sistem tradisional yaitu penggunaan kayu dan pemberian alas kandang yang
sesuai.
3. Peningkatan pengetahuan terhadap peternak mengenai manajemen kandang
dan kesehatan sapi perah dapat melalui penyuluhan dan edukasi terkait
manajemen pemeliharaan sapi perah yang baik dan benar secara rutin
bersamaan dengan koperasi.

DAFTAR PUSTAKA

Al tuffyli YI, Shekhan MI. 2012. Clinical and bacteriological study of


subcutaneous abscesses caused by gram positive bacteria in cow and sheep
in Al-Qadissiyia province. J Vet Met Sci. 11(2): 80-85.
[AssureWel] Advancing Animal Welfare Assurance. 2013. Dairy Cattle
Assesment Protocol Version 4. Bristol (GB): United Kingdom.
[AssureWel] Advancing Animal Welfare Assurance. 2015a. Culls and casualty
cows [Internet]. Tersedia pada: http://www.assurewel.org/dairycows/
cullandcasualtycows. Diakses pada: [5 Maret 2018].
[AssureWel] Advancing Animal Welfare Assurance. 2015b. Hair loss, Lesion,
and Swweeling [Internet]. Tersedia pada: http://www.assurewel.
org/dairycows /hariloss,lesionandsweeling. Diakses pada: [5 Maret 2018].
[AssureWel] Advancing Animal Welfare Assurance. 2015c. Mobility [Internet].
Tersedia pada: http://www.assurewel.org/dairycows/mobility. Diakses pada:
[5 Maret 2018].
[AssureWel] Advancing Animal Welfare Assurance. 2016. Response of cattle to
stockperson [Internet]. [Diunduh 2018 Maret 6]. Tersedia pada: www.
assurewel.org/dairycows /respons eofcattletostockperson.
Aziz AS, Surjowardojo P, Sarwiyono. 2013. Hubungan bahan dan tingkat
kebersihan lantai kandang terhadap kejadian mastitis melalui uji California
Mastitis Test (CMT) di Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan. J Ternak
Tropika. 14(2) :72-81.
Budiawan A, M Nur Ihsan, Sri Wahjuningsih. 2015. Hubungan Body Condition
Score Terhadap Service Per Conception dan Calving Interval Sapi Potong
Peranakan Ongole Di Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan. J Ternak
Tropika 16(1): 34-40.
[CIWF] Compassion in World Farming. 2014. Measuring welfare in dairy cows
[Internet]. [Diunduh 2018 Maret 6]. Tersedia pada: www.
compassioninfoodbusiness.com.
Edmonson AJ, Lean IJ, Weaver LD, Farver T, Webster G. 1989. A body
condition scoring chart for Holstein dairy cows. J. Dairy Sci. 72 :68-70.
Ellis KA, Mihm M, Innocent G, Cripps P, McLean WG, Howard CV, Grove-
White DG. 2006. Assessing the relationship between dairy cow cleanliness
and bulk milk hygiene on organic and conventional farms. Proceedings of
the 11th International Symposium on Veterinary Epidemiology and
Economics.
15

Kielland C, Ruud LE, Zanella AJ, Osteras O. 2009. Prevalence and risk factors for
skin lesion on leg of dairy cattle housed in freestalls in Norway. J Dairy Sci.
92(11): 5487-5496.
Kester EM, Holzhauer K, Frankena. 2014. A descriptive review of the prevalence
and risk factors of hock lesions in dairy cows. Vet J. 202(2):222-228.
Kloosterman P. 2007. Laminitis – prevention, diagnosis, and treatmen. WCDS
Advances in Dairy Technology. 19: 157-166.
Laryska N, Nurhajati T. 2013. Peningkatan kadar lemak susu sapi perah dengan
pemberian pakan konsentrat komersial dibandingkan dengan ampas tahu.
Agroveteriner vol 1 (2).
Mishra S, Kumari K, dan Dubey A. 2016. Body condition scoring of dairy cattle:
a review [internet]. [Diunduh pada 2018 Mar 4]. Tersedia pada:
https://www.rroij.com/open-access/body-condition-scoring-of-dairy-cattle-
a-review.
Prihanto. 2009. Manajemen pemeliharaan induk laktasi di peternakan sapi perah
CV. Mawar mekar farm kabupaten karanganyar [skripsi]. Surakarta (ID):
Universitas Sebelas Maret.
Santosa A. 2009. Profil Usaha Peternakan Sapi Perah di Indonesia. Jakarta: LIPI
Pr.
Singer AJ, Talan DA. 2014. Management of skin abscesses in the era of
methicillin-resistant Staphylococcus aureus. N ENGL J MED. 370:1039-
1047.
Sudarwanto M, Sudarnika E. 2008. Nilai diagnostik tes IPB mastitis dibandingkan
dengan jumlah sel somatik dalam susu. Joint Meeting of the 3rd
international Meeting on Asian Zoo/Wildlife Medicine and Conservation
(AZWMC). Bogor, Agustus 2008. pp 19-22.
16

Anda mungkin juga menyukai