Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

Diaper Rash atau Napkin Eczema atau juga disebut Diaper Dermatitis merupakan
kelompok dermatosis spesifik, yang merupakan satu dari sekian banyak kasus
dermatologik yang terjadi pada bayi dan anak-anak, tercatat 1 juta anak menderita
diaper rash tiap tahunnya.[1,2] Kondisi ini dapat disebabkan karena penggunaan atau
kontak langsung popok dengan kulit bayi (dermatitis kontak iritan) yang merupakan
penyebab terbanyak. Selain itu penggunaan diaper juga dapat memperparah kondisi
kulit yang sudah memiliki erupsi misalnya pada psoriasis. Hal tersebut dibuktikan
pada beberapa penelitian menyebutkan bahwa pada daerah tertentu yang jarang
menggunakan popok pada bayi akan memiliki insiden Napkin Eczema yang lebih
rendah..[3]
Beberapa hal yang dapat mencetuskan napkin eczema atau diaper rash meliputi
kondisi kulit yang lembab, pajanan langsung kulit dengan urin atau feses, infeksi
mikroorganisme (jamur, bakteri, dan virus), gangguan nutrisi, iritasi bahan kimia,
antibiotic, penyakit diare, dan anomali traktus urinarius.[4]
Diaper rash adalah salah satu gangguan kulit yang paling umum pada masa anak-
anak, tercatat hampir 1 juta anak berobat jalan tiap tahunnya. Dalam suatu survei
pada 1.089 bayi, 50% di antaranya mengalami diaper rash, namunhanya 5% yang
memiliki ruam parah. Puncak kejadian diaper rash yaitu antara usia 9 sampai 12
bulan. Hubungan antara usia dan frekuensi diaper rash dapat disebabkan oleh
beberapa faktor, termasuk perubahan pola makan dari ASI kesusu formula dan
makanan padat selama 12 bulan pertama kehidupan. Bayi yang diberi ASI lebih
jarang mengalami diaper rash daripada bayi yang diberi susu formula. ASI
mengandung sel darah putih yang aktif melawan infeksi dan bahan kimia alami yang
sekaligus memberikan peningkatan perlindungan terhadap infeksi pada bulan-bulan

1
pertama. Insidensi diaper rash sampai 4 kali lebih tinggi pada bayi yang mengalami
diare.[4]
Tujuan dari terapi diaper rash yaitu: (1) memperbaiki kerusakan kulit, dan (2)
mencegah rekurensi. Prinsip terapi yaitu menjaga area popok tetap bersih dan kering,
meskipun hal ini tidak mudah. Popok tipe superabsorbent (berdaya serap tinggi)
merupakan jenis popok yang paling bagus, dan sebaiknya diganti secara teratur,
terutama di malam hari. Jika menggunakan popok kain, sebaiknya dicuci secara
menyeluruh dengan bersih dan juga diganti secara teratur. Area yang bersentuhan
dengan popok sebaiknya dibersihkan dengan air, dan aqueous cream setiap kali
pergantian popok. Ointment protektif, seperti zink, dan ointment silikon protektif,
seringkali berguna. Steroid poten sebaiknya tidak digunakan pada kasus-kasus ringan.
Penggunaan topikal steroid pada bayi perlu diperhatikan dan dibatasi selama 3 sampai
7 hari, sebab obat ini lebih banyak diabsorbsi perkutaneus pada bayi dibanding pada
orang dewasa. Terapi anti jamur hendaknya tidak digunakan secara rutin, hanya jika
dicurigai adanya infeksi Candida spp.[2,3,4]

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI

Diaper rash adalah kondisi kulit yang ditandai dengan adanya peradangan akut
pada kulit di daerah popok bayi. Walaupun kondisi ini relatif umum. Hal ini dapat
menyebabkan rasa sakit yang berat dan stres serta perasaan tidak nyaman pada bayi.[5]

B. EPIDEMIOLOGI

Diaper rash adalah salah satu gangguan kulit yang paling umum pada masa anak-
anak, tercatat hampir 1 juta anak berobat jalan tiap tahunnya. Dalam suatu survei
pada 1.089 bayi, 50% di antaranya mengalami diaper rash, namunhanya 5% yang
memiliki ruam parah. Puncak kejadian diaper rash yaitu antara usia 9 sampai 12
bulan. Hubungan antara usia dan frekuensi diaper rash dapat disebabkan oleh
beberapa faktor, termasuk perubahan pola makan dari ASI kesusu formula dan
makanan padat selama 12 bulan pertama kehidupan. Bayi yang diberi ASI lebih
jarang mengalami diaper rash daripada bayi yang diberi susu formula. ASI
mengandung sel darah putih yang aktif melawan infeksi dan bahan kimia alami yang
sekaligus memberikan peningkatan perlindungan terhadap infeksi pada bulan-bulan
pertama. Insidensi diaper rash sampai 4 kali lebih tinggi pada bayi yang mengalami
diare.[4]
Frekuensi dan tingkat keparahan diaper rash lebih rendah jika jumlah rata-rata
penggantian popok per hari sebanyak delapan kali atau lebih, terlepas dari jenis
popok yang digunakan. Bayi yang menggunakan popok sekali pakai yang

3
superabsorbent memiliki frekuensi dan tingkat keparahan ruam popok yang jauh
lebih rendah bila dibandingkan dengan bayi yang menggunakan popok kain. [4]
Prevalensi diaper rash ditemukan bervariasi dari satu negara ke negara lain,
berkisar antara 15% di Italia, 16% di Inggris, 43,8% di China, 75% di AS dan 87% di
Jepang.[6] Sebuah penelitian prospektif dilakukan di rumah sakit Jumhoria, Benghazi,
Libya untuk jangka waktu 1 tahun mulai Januari 2012. Ini melibatkan pasien anak-
anak yang berusia kurang dari lima tahun yang datang ke klinik dermatologi.
Sebanyak 618 pasien anak, ruam popok terlihat pada 100 kasus (16%) pasien anak.
.[6,7]

Gambar 1. Distribusi diaper rash menurut usia.[7]

Pada populasi di China dilaporkan 25% bayi mengalami diaper rash selama 4
minggu pertama kehidupan. Pada penelitian lain menunjukan 52% anak mulai dari
masa bayi hingga usia > 24 bulan dapat mengalami diaper rash. Meskipun jarang

4
menimbulkan efek samping yang dapat mengancam kehidupan, namun diaper rash
dapat menyebabkan perasaan tidak nyaman pada anak-anak.[8]

C. ETIOLOGI

Penyebab dermatitis popok adalah multifaktorial. Faktor-faktor pemicunya adalah


kelembaban yang berkepanjangan, urin, feses, dan lain-lain. Hal ini dapat membuat
integritas kulit mudah rusak akibat gesekan, menurunkan fungsi sawar, dan membuat
kulit menjadi mudah terkena iritasi yang tidak jarang akan menimbulkan infeksi
sekunder pada kulit.[3]
Faktor yang mendasari terjadinya iritasi pada kulit, meliputi derajat kelembapan
(kulit yang basah lebih mudah mengalami kerusakan), peningkatan pH (kulit yang
alkalis dapat meningkatkan penetrasi mikroorganisme dan aktivitas fecal enzim),
kolonisasi mikroorganisme (Staphylococcus aureus atau Candida), dan riwayat
keluarga mengenai keadaan dermatologik primer (psoriasis, eksema, atau dermatitis
seboroik).[3]

Gambar 2. Faktor yang terlibat dalam diape rash. [9]

5
Faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi timbulnya diaper rash, antara lain:
.[3,10]

1) Maserasi dan kelembapan


Stratum korneum bertanggung jawab sebagai barrier air di epidermis, terdiri
dari sel-sel yang secara terus-menerus mati dan digantikan oleh sel-sel baru dalam
siklus selama 12-24 hari. Matrix ekstraseluler yang bersifat hidrofobik berperan
sebagai barrier air, mencegah hilangnya air dari tubuh serta masuknya air serta
substansi hidrofilik lainnya dari luar. Sedangkan sel-sel hidrofilik di stratum
korneum (corneocyte) memberikan perlindungan mekanik dari lingkungan luar
dalam bentuk lapisan tanduk.[3,10]
Kelembaban yang tinggi akan menyebabkan beberapa efek pada stratum
korneum. Pertama, akan membuat permukaan kulit lebih rentan dan sensitive
terhadap gesekan. Kemudian akan menyebabkan peningkatan penyerapan
substansi iritan ke lapisan kulit di bawah stratum korneum. Terpaparnya lapisan
ini akan memudahkan masuknya mikroorganisme patogen. Proses yang terjadi
dalam jangka waktu lama di kulit akan menyababkan eritem, dan jika air terus-
menerus kontak dengan bagian ini akan memicu terjadinya dermatitis. [3,10]
2) Gesekan
Gesekan antara kulit dan popok merupakan faktor penting dalam beberapa
kasus diaper rash. Hal ini didukung oleh predileksi tersering diaper rash yaitu di
tempat yang paling sering terjadi gesekan, misalnya pada permukaan dalam paha,
permukaan genital, bokong dan pinggang. [10]
3) Urin
Bayi yang baru lahir mengeluarkan urine lebih dari 20 kali dalam 24 jam.
Frekuensi berkemih ini berkurang seiring pertumbuhan dan mencapai 7 kali
dalam 24 jam pada umur 12 bulan. Selama beberapa tahun, amonia dipercaya
sebagai penyebab utama terjadinya diaper rash. Namun sekarang telah diketahui
bahwa amonia bukan penyebab utama terjadinya diaper rash. Jumlah
mikroorganisme terkait amonia tidak berbeda antara bayi dengan atau tanpa

6
diaper rash. Hal ini menunjukkan bahwa hasil degradasi urine lainnya selain
amonia memegang peranan penting pada kejadian diaper rash. Suatu penelitian
membuktikan bahwa urin yang disimpan selama 18 jam pada suhu 37o C dapat
menginduksi terjadinya dermatitis ketika diberikan pada kulit bayi. Saat ini jelas
bahwa pH urin memegang peranan penting pada penyakit ini. Urin yang memiliki
pH tinggi (alkalis) pada bayi dapat menimbulkan irritant napkin dermatitis. [3,10]
4) Fases
Telah diketahui selama bertahun-tahun bahwa feses manusia memiliki efek
iritan pada kulit. Pada feses bayi terdapat protease, pankreas, lipase, dan enzim-
enzim lainnya yang dihasilkan oleh bakteri dalam usus. Enzim ini berperan
penting dalam proses terjadinya iritasi kulit. Efek iritan dari enzim tersebut
semakin meningkat dengan adanya kenaikan pH dan gangguan fungsi barier.[3,10]
Urea yang diproduksi oleh berbagai bakteri pada feses dapat meningkatkan
pH feses. Meningkatnya pH dapat meningkatkan aktivitas enzim lipase dan
protease pada feses. Produksi feses cair yang berlebihan berhubungan dengan
pemendekan waktu transit dan feses ini mengandung sejumlah besar sisa enzim
percernaan yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit. [3,10]
5) Mikroorganisme
Hampir 80% Candida albicans berhasil diidentifikasi pada bayi dengan iritasi
kulit perianal dan menjadi penyebab terbanyak dermatitis popok iritan pimer.
Infeksi terjadi umumnya 48-72 jam setelah iritasi. Kondisi yang dapat
meningkatkan kemungkinan infeksi sekunder jamur meliputi pemberian
antibiotik, immunodefisiensi, dan diabetes mellitus. Bakteri seperti
Staphylococcus aureus atau Streptokokus grup A juga dapat menyebabkan erupsi
di daerah popok. Namun, kolonisasi Staphylococcus aureus lebih sering terjadi
pada anak dengan dermatitis atopik. Bakteri lain yang dapat menyebabkan
peradangan pada vagina dan jaringan sekitarnya (vulvovaginitis) termasuk
Shigella, Escherichia coli, dan Yersinia enterocolitica. [3]

7
6) Faktor nutrisi
Dermatitis popok dapat menjadi tanda awal kekurangan biotin dan
zink pada anak-anak. [3]
7) Zat kimia iritan
Sabun, deterjen dan antiseptik dapat memicu atau memperparah dermatitis
kontak iritan primer. Namun, dengan menggunakan popok sekali pakai
kemungkinan ini akan berkurang. [3]
8) Diare
Peningkatan produksi feses cair berhubungan dengan pemendekan waktu
transit sehingga feses lebih banyak mengandung enzim-enzim sisa pencernaan.
[3,10]

9) Antibiotik
Penggunaan antibiotik spektrum luas pada bayi dengan otitis media dan
infeksi saluran pernapasan terbukti dapat menyebabkan peningkatan insiden
dermatitis popok iritan. Antibiotik dapat membunuh bakteri, baik flora normal
maupun bakteri patogen. Ketidakseimbangan kedua bakteri ini, dapat
menyebabkan infeksi jamur. Hal ini dapat terjadi ketika bayi mengkonsumsi
antibiotik atau pemberian ASI oleh ibu yang mengkonsumsi antibiotik. Selain itu,
kesalahan dalam penggunaan bahan topikal untuk melindungi kulit juga dapat
meningkatkan resiko terjadinya diaper rash. [3,10]
10) Kesalahan atau kurangnya perawatan kulit
Penggunaan sabun mandi dan bedak yang salah dapat meningkatkan resiko
terjadinya dermatitis iritan. Cara pembersihan dan pengeringan di daerah popok
yang tidak tepat serta frekuensi penggantian popok yang jarang juga dapat
menjadi faktor pencetus. [10]
11) Abnormalitas perkembangan traktus urinarius
Adanya anomali saluran kemih dapat menyebabkan urin keluar terus-menerus
dan meningkatkan predisposisi infeksi saluran kemih. [3,10]

8
Pada akhirnya, etiologi dari dermatitis popok iritan primer masih belum jelas.
Maserasi dan gesekan tampaknya berperan penting dalam kerusakan barrier kulit.
Adanya enzim proteolitik dan lipase di feses dapat berperan sebagai iritan di kulit
yang mengalami gangguan barrier, terutama jika pH urin tinggi akibat enzim yang
dapat memecah urea di urin menjadi ammonia. Adanya invasi sekunder dari Candida
albicans yang ada di feses juga meningkatkan risiko terjadinya dermatitis popok. [10]

D. PATOGENESIS

Iritan utama penyebab Diaper Rash adalah enzim protease dan lipase feses, yang
aktivitasnya sangat meningkat oleh pH yang tinggi. Permukaan kulit yang asam juga
penting untuk pemeliharaan mikroflora normal yang memberikan perlindungan
terhadap invasi oleh bakteri patogen dan jamur. Aktivitas enzime lipase dan protease
juga sangat meningkat dengan percepatan waktu transit makanan di dalam saluran
pencernaan, terbukti dengan tingginya insiden dermatitis iritan popok pada bayi yang
mengalami diare dalam 48 jam sebelumnya.[11]
Pemakaian popok menyebabkan peningkatan yang signifikan terhadap
kelembaban dan pH kulit. Keadaan basah yang berkepanjangan akan menyebabkan
maserasi (pelunakan) dari stratum korneum, lapisan pelindung terluar kulit, yang
berhubungan dengan kerusakan lamela lipid interseluler. Serangkaian studi popok
dilakukan terutama pada akhir tahun 1980an menemukan penurunan signifikan
terhadap kelembaban kulit setelah pengenalan popok dengan inti yang memiliki daya
serap tinggi. Penelitian terbaru menemukan bahwa fenomena ini terus berlangsung.
Akibatnya, stratum korneum lebih mudah terkena kerusakan oleh gesekan dari
permukaan popok dan iritasi lokal. [11]

9
Gambar 3. Patogenesis Diaper Rash. [11]

Kulit bayi merupakan pertahanan yang baik terhadap penyakit dengan


permeabilitas yang sama dengan kulit orang dewasa. Beberapa penelitian melaporkan
kehilangan air transepidermal pada kulit bayi lebih sedikit dibandingkan pada kulit
orang dewasa. Namun, kelembaban, kurangnya udara, paparan asam atau paparan
iritan, dan peningkatan gesekan kulit dapat merusak pertahanan kulit. [11]
pH normal kulit adalah antara 4,5 dan 5,5. Ketika urea dari urin dan feses
bercampur, urease mengurai urin, menurunkan konsentrasi ion hydrogen (pH
meningkat). Peningkatan pH meningkatkan hidrasi pada kulit dan membuat kulit
bersifat lebih permeabel. [11]
Sebelumnya, amonia diyakini menjadi penyebab utama dari diaper rash.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ketika ammonia atau urin ditempatkan pada

10
kulit selama 24-48 jam, tidak ada kerusakan kulit yang terjadi. Serangkaian studi telah
menunjukkan bahwa pH produk pembersih dapat mengubah spektrum mikrobiologi
pada kulit. Nilai pH sabun yang tinggi dapat mendorong pertumbuhan
propionibakterial pada kulit, sedangkan syndets (yaitu, deterjen sintetis) dengan pH
5,5 tidak menyebabkan perubahan mikroflora.11
Perkembangan dermatitis popok kontak iritan bersifat multifaktorial. Kulit di
daerah popok mempengaruhi untuk iritasi karena overhidrasi atau terpapar air lebih
lama di stratum korneum dan epidermis, adanya iritan-iritan, seperti urin atau tinja,
gesekan pada kulit dan adanya pH kulit yang tinggi. Adanya urin dapat menyebabkan
overhidrasi pada kulit, membuat permukaan kulit lebih rentan dan meningkatkan
permeabilitas kulit karena iritan. [5]
Kehadiran enzim tinja, protease dan lipase spesifik, telah diidentifikasi sebagai
iritasi utama pada kulit, sementara garam empedu meningkatkan kerusakan enzim
feses pada kulit itu sendiri. Kehadiran faktor-faktor ini dapat menyebabkan
terganggunya integritas kulit, penghalang epidermis pada startum korneum, yang
menyebabkan kerusakanpada barrier kuit dan mengakibatkan peradangan dan
dimulainya perbaikan. [5]
Karena proses perbaikan sedang berlangsung dan dengan adanya kondisi yang
disebutkan di atas, dermatitis popok berkembang. Seiring proses perbaikan berlanjut,
epidermis tetap terganggu sampai iritasi mulai mereda setelah beberapa hari dan
secara bertahap kesehatan kulit dipulihkan. [5]

11
Gambar 4. Diaper Dermatitis.[5]

E. MANIFESTASI KLINIS

Sejauh ini, tipe diaper rash yang paling banyak adalah irritant contact dermatitis.
Gejala akut yang sering muncul adalah eritema pada kulit area pubis, pantat dan
beberapa area yang memiliki lipatan kulit yang menunjukkan bahwa gejala tersebut
muncul akibat paparan langsung kulit dengan diaper atau popok. Gambaran eritema
tersebut akan menetap selama 3-12 minggu. Terkadang hal ini sulit dibedakan dengan
dermatitis kontak alergi. Gejala lain yang dapat muncul adalah bula dan vesikel
seperti pada impetigo bulosa jika permukaan kulit sudah terinfeksi bakteri
Staphylococcus aureus, sedangkan infeksi Streptococcus group A akan memberikan
gejala erythematous patch pada perianal. Selain itu bakteri enteric dapat
menyebabkan dysuria, gatal pada vagina dan radang pada vulva. Coxsackie virus

12
menyebabkan papul eritematosa pada pantat, telapak tangan dan kaki, bahkan ulkus
pada faring posterior. Vesikel yang bergerombol dan nyeri pada area perianal dan
vaginal dapat disebabkan akibat infeksi virus herpes. Pruritus merupakan gejala
tipikal dari infeksi akibat cacing dan parasite misalnya Sarcoptes scabiei. [3]
Jacquet Erosive Dermatitis merupakan bentuk dari diaper dermatitis yang paling
parah dan dapat terjadi pada segala umur yang dapat menyebabkan diare. Gejala yang
timbul pada kulit meliputi nodul eritema yang erosive dan ulkus serta erosi dengan
tepi yang meninggi. Namun akhir-akhir ini dengan adanya popok yang memiliki
kemampuan penyerapan yang tinggi maka insiden Jacquet Erosive Dermatitis
semakin berkurang.[3]
Gambaran lain yang dapat timbul adalah miliaria rubra akibat oklusi dari duktus
kelenjar ekrin kulit pada daerah yang kontak dengan komponen plastic pada popok.
Sedangkan papul pseudoverrucous dan nodul terjadi pada area perianal pasien segala
usia yang memiliki predisposisi adanya kulit lembab yang terus menerus. [3]

Gambar 5. Napkin (diaper) dermatitis. [13]

13
Gambar 6. Dermatitis popok iritan primer. [10]

F. DERAJAT DIAPER RASH. [5]

a) Sedikit : bayi mempunyai beberapa warna pink yang samar-samar di area


popok.
b) Ringan : bayi mempunyai area berwarna pink dan beberapa benjolan menonjol
c) Sedang : bayi mempunyai warna pink yang jelas di area yang lebih luas dan
beberapa tanda kemerahan di area yang lebih kecil.
d) Sedang ke berat : bayi mempunyai warna kemerahan yang lebih banyak , kulit
terkelupas, benjolan yang menonjol (papul), dan mulai munculnya pustul.
e) Berat : bayi mempunyai tanda kemerahan yang luas dan beberapa papul
disertai pustul yang lebih banyak. [5]

14
Gambar 7. Derajat Diaper Rash. [5]

G. DIAGNOSIS

Penegakan diagnosis dari diaper rash dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan


fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis keluhan yang sering muncul adalah
berupa kemerahan atau rash pada pantat dan selakangan serta area sekitar genital
setelah penggunaan popok yang cukup lama. Selain itu jenis popok dan lama
penggunaan dalam satu hari juga harus digali karena akan mempengaruhi penegakan
diagnosis. Riwayat atopi pada keluarga serta penggunaan obat-obatn juga harus
ditanyakan kepada keluarga pasien. [4]

15
Kemudian pada pemeriksaan fisik, yang meliputi inspeksi (efloresensi), juga
harus dievaluasi khususnya area yang mengalami lesi. Area yang sering terjadi adalah
pada daerah yang kontak dengan popok, yaitu bokong, alat kelamin, perut bagian
bawah, daerah kemaluan, dan paha atas. Bagian-bagian yang lebih dalam dari lipatan
inguinal jarang terkena. Pola khas lain yang baru-baru ini diketahui adalah erosi yang
terlokalisir di lateral paha atas dan bokong, permukaan kulit dalam kontak terdekat
dengan popok basah atau kotor. Bokong, genitalia, perut bagian bawah, dan atas paha
biasanya yang paling parah terkena dampak, paling sering unilateral, namun tidak
jarang bilateral, dalam posisi yang sesuai ke daerah-daerah di mana kontak langsung
dapat terjadi dengan perekat yang kuat pada popok. Biasanya distribusi lesi juga
tergantung pada posisi di mana bayi diperbolehkan untuk berbaring.Pada bentuk
paling ringan hanya ada eritema, tetapi dengan meningkatnya keparahan, papula,
vesikel, erosi kecil, dan ulkus lebih besar dapat terjadi. Pada bentuk kronis,
skuamadapat disertai eritema. Skuama biasanya tampak mencolok, terutama dalam
tahap penyembuhan. Pada kasus yang parah, dapat erosi superfisial atau bahkan
ulserasi. [4]
Pada beberapa bayi, erosi terbatas pada batas daerah yang tertutup popok dan
kadang peradangan dapat terlihat pada tepi popok akibat kontak kulit yang lama
dengan bagian tepi popok. Gambaran dapat berupa eritema, lembab, dan kadang
muncul plak berskuama pada daerah genital dan bokonga. Pada reaksi akut, eritema
dapat disertai pengelupasan kulit sedikit demi sedikit. Skuama yang lebih halus lebih
sering muncul pada kasus lama. Kadang-kadang, bentuk erosi diaper rash dapat
disertai vesikel kecil, dan erosi dapat berkembang menjadi lebih karakteristik,
dangkal, bulat, ulkus dengan tepi yang menonjol (Jacquet dermatitis).Pada bayi laki-
laki dapat terjadi iritasi dan krusta di ujung penis. Pada bayi laki-laki dan perempuan,
keterlibatan alat kelamin dapat menyebabkan disuria. Jika mengenai glans penis,
bayi laki-laki dapat mengalami retensi urin akut.[4]

16
Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis ini jarang dilakukan.
Pemeriksaan penunjang lebih cenderung untuk menemukan apakah terdapat infeksi
dan mikroorganisme apa yang menginfeksi.[12]
1) Pemeriksaan laboratorium
 Darah lengkap : Pemeriksaan darah lengkap dapat dilakukan, terutama jika
muncul gejala sistemikseperti demamdan jika dicurigai adanya infeksi
sekunder. Jika ditemukan anemia bersama dengan hepatosplenomegali dan
timbul ruam dapat dicurigai sebagai histiositosis sel Langerhans atau sifilis
kongenital.[12]
 Pemeriksaan serologi untuk sifilis dilakukan pada pasien yang dicurigai
menderita sifilis kongenital.[12]
 Kadar serum zink kurang dari 50 mcg/dl dapat ditemukan pada pasien dengan
acrodermatitis enterohepatika.[12]
2) Pemeriksaan kerokan kulit. Pada pasien yang diduga candidiasis, pengikisan lesi
papul atau pustul menunjukkan adanya pseudohifa, hifa dan blastospora dengan
diameter 2-4 µm dengan menggunakan larutan KOH 10%, larutan lugol atau air
suling.[12]
3) Pemeriksaan histopatologi: biopsi kulit dilakukan untuk melihat struktur
histologinya. Gambaran histologi diaper rash umumnya seperti dermatitis iritan
primer dengan spongiosis epidermal dan inflamasi ringan pada lapisan
dermis.[3,10]

H. DIAGNOSIS BANDING

a) Dermatitis Seboroik Infantil


Dermatitis seboroik infantil dialami pada minggu-minggu pertama kehidupan
dan cenderung mengenai lipatan tubuh, termasuk lipatan ketiak, daerah kemaluan
dan leher, tetapi juga dapat melibatkan wajah dan kulit kepala. Lesi pada lipatan
tampak sebagai sisik eritem mengkilat, tetapi pada kulit kepala dapat ditemukan

17
krusta kekuningan. Kondisi tersebut biasanya dapat dibedakan dengan diaper
dermatitis (tidak mengenai lipatan), kandidosis (biasanya pustuler) dan dermatitis
atopik (lebih gatal). [13]

Gambar 8. Dermatitis seboroik infantil. Kondisi ini mengenai lipatan tubuh. [13]

b) Kandidosis
Infeksi primer oleh C. albicans jarang terjadi pada bayi sehat. Hal ini
umumnya terjadi akibat komplikasi sekunder dari infantile seborrhoeic eczema
atau diaper rash. Lesi dapat berupa eritema, skuama dan pustul. Sering kali
melibatkan daerah fleksura, dan dapat tampak lesi satelit. [13]

Gambar 9. Candidiasis: erosi konfluen, kerak marginal, dan “satellite pustules”


di daerah yang tertutup oleh popok pada seorang bayi. Dermatitis atopik atau
psoriasis juga terjadi pada distribusi ini dan mungkin secara bersamaan.[13]

18
c) Napkin psoriasis
Diaper rash tipe psoriasis terjadi selama 2 bulan dan berakhir 2-4 bulan.
Ruam terdiri dari plak bentuk psoriasis pada area popok disertai papul satelit. plak
merah terang berbatas tegas, tidak bersisik, dan berbatas tegas, baik terlokalisir
maupun berkelompok di daerah intertriginosa/lipatan seperti ketiak juga
merupakan ciri dari penyakit ini. Terkadang lesi pada punggung dan ekstremitas
memiliki morfologi yang sama dengan lesi di area popok. [13]

Gambar 10. Napkin psoriasis. [12]

19
Gambar 11. Differensial Diagnosis Diaper Dermatitis

20
I. PENATALAKSANAAN

Dalam penatalaksanaan Dermatitis Popok dikenal dengan tatalaksana ABCDE.[1,5]

A. Air (udara). Popok harus dibiarkan terbuka sebisa mungkin ketika bayi
tertidur untuk menjaga kulit bayi tetap kering.[1,5]
B. Barrier Ointment (salep barrier). Pasta Zink Oksida, petrolatum, dan salep
lainnya diaplikasikan seriap penggantian popok bila perlu. Pemberian bedak
bayi pada daerah popok tidak memberikan manfaat antimikroba dan
menambah resiko terjadinya aspirasi.[1,5]
C. Cleansing and anti-candidal treatment (pembersihan dan terapi anti kandida).
Disarankan untuk membersihkan dengan air bersih atau minyak mineral
dengan lembut sehingga terhindar dari trauma friksi . Agen anti kandida perlu

21
diberikan jika terdapat tanda adanya infeksi kandidiasis. Nystatin per oral
diindikasikan ketika terdapat kandidiasis oral. [1,5]
D. Diapers (popok). Popok sebaiknya diganti sesering mungkin serta segera
setelah buang air besar. [1,5]
E. Edukasi kepada orang tua pasien atau orang terdekat yang merawat.[1,5]
Dermatitis popok iritan dan dermatitis popok kandida (atau kombinasi keduanya)
termasuk dermatitis popok yang paling sering terjadi. Kandida akan memperburuk
dermatitis popok jika terjadi dalam waktu lebih dari 3 hari. Meskipun drmikian
banyak krim antifugal yang efektif pada daerah ini (daerah popok). Sebuah kombinasi
baru dan mudah digunakan (meskipun lebih mahal) yakn kombinasi resep yang
mengandung mikonazol dan zink oksida telah diakui untuk penatalaksanaan
dermatitis popok. Dibutuhkan edukasi kepada orang tua serta dokter layanan primer
diharapkan memberikan instruksi pemakaian topical steroid dalam penatalaksanaan
kasus dermatitis popok. Karena tingginya penyerapan steroid pada daerah lembab
serta adanya oklusi pada popok, pada regio ini penggunaan steroid harus dibatasi
dalam penggunaan jangka pendek (3 samapai 7 hari) hidrokortison (1% atau 2,5%)
salep. Penggunaan steroid tersebut efektif pada hampir semua kasus dermatitis popok
ketika dibutuhkan pemakaian steroid topical. Demikian juga dengan pemakaian
produk steroid terhalogenasi seperti nystatin dan triamcinolone serta clotrimazole dan
betamethason dipropionate, harus dihindari karena meningkatkan resiko athopy
steroid dan suppresi aksis hipotalamus pituitari ketika steroid jenis potensi sedang
dan tinggi digunakan pada daerah popok. Akhirnya, orang tua harus diberi
pengetahuan bahwa faktanya masalah DP juga dapat diselesaikan dengan melatih
anak untuk menggunakan toilet sehingga popok tidak perlu digunakan.[1]
Tujuan dari terapi diaper rash yaitu: (1) memperbaiki kerusakan kulit, dan (2)
mencegah rekurensi. Prinsip terapi yaitu menjaga area popok tetap bersih dan kering,
meskipun hal ini tidak mudah. Popok tipe superabsorbent (berdaya serap tinggi)
merupakan jenis popok yang paling bagus, dan sebaiknya diganti secara teratur,
terutama di malam hari. Jika menggunakan popok kain, sebaiknya dicuci secara

22
menyeluruh dengan bersih dan juga diganti secara teratur. Area yang bersentuhan
dengan popok sebaiknya dibersihkan dengan air, dan aqueous cream setiap kali
pergantian popok. Ointment protektif, seperti zink, dan ointment silikon protektif,
seringkali berguna. Steroid poten sebaiknya tidak digunakan pada kasus-kasus ringan.
Penggunaan topikal steroid pada bayi perlu diperhatikan dan dibatasi selama 3 sampai
7 hari, sebab obat ini lebih banyak diabsorbsi perkutaneus pada bayi dibanding pada
orang dewasa. Terapi anti jamur hendaknya tidak digunakan secara rutin, hanya jika
dicurigai adanya infeksi Candida spp.[1,10]
Keberhasilan terapi mencakup hal-hal sebagai berikut: [10]
 Memperhatikan penggunaan popok
a) Penggunaan popok sekali pakai
Penggunaan popok sekali pakai yang berkualitas baik, terutama yang
mengandung bahan gel absorbent (popok sekali pakai berdaya serap tinggi),
dapat mengurangi kejadian diaper rash dengan tingkat keparahan yang cukup
ringan dibandingkan popok kain yang dapat dicuci. Gel yang terdapat pada
popok sekali pakai dapat mengabsorbsi sekitar 80 kali lipat dari total beratnya,
sehingga dapat mengurangi kelembaban, dan akhirnya mencegah terjadi
maserasi kulit. Penggunaan popok jenis ini juga berhubungan dengan pH
normal kulit.[10]
b) Pemakaian popok yang mengandung emolien
Saat ini tersedia popok sekali pakai yang lapisan teratasnya mengandung
emolien, biasanya didominasi oleh white soft paraffin. Penggunaan popok ini
dapat mengurangi tingkat keparahan diaper rash. Saat ini, telah tersedia juga
jenis popok dengan struktur dasar berkerut yang menahan feses di inti popok
(diaper core).[10]
c) Frekuensi penggantian popok
Popok sebaiknya diganti lebih dari delapan kali sehari dan sesegera
mungkin setelah defekasi. Penggantian popok juga sebaiknya dilakukan saat

23
tengah malam agar bayi tidak tidur dengan popok yang basah sepanjang
malam. [10]
 Perawatan rutin di area popok
Perawatan kulit rutin akan mencegah rekurensi setelah erupsi hilang. Setiap
penggantian popok, dapat digunakan emolien seperti white soft paraffin, dan
campuran white soft paraffin dan cairan paraffin, zink, Dexpanthenol ointment. [10]
 Terapi spesifik
Kortikosteroid topikal berguna dan biasanya digunakan kecuali pada kasus-
kasus ringan. Namun penggunaannya tidak melebihi hidrokortison 1%. Pendapat
lainnya menyatakan dapat digunakan hidrokortison 1 sampai 2,5 % dalam jangka
pendek, yaitu 3-7 hari. Obat ini diberikan sebanyak 2 kali sehari setelah mandi,
idealnya dalam bentuk ointment. Sebuah studi penelitian menunjukkan bahwa
Aloe vera topikal dan Calendula officinalis merupakan terapi efektif dermatitis
popok pada bayi. [10]

J. PENCEGAHAN

Cara terbaik untuk mencegah ruam popok adalah menjaga area popok tetap bersih
dan kering. Beberapa strategi sederhana dapat membantu mengurangi kemungkinan
timbulnya ruam popok pada kulit bayi:
 Sering mengganti popok. Lepaskan popok basah atau kotor sesegera mungkin.
Jika anak dalam perawatan, minta anggota yang merawat untuk melakukan hal
yang sama.[14]
 Bilas bagian bawah bayi dengan air hangat sebagai bagian dari proses mengganti
popok. Bisa menggunakan wastafel atau bak mandi untuk hal ini. Kain yang
lembab, kapas, dan tisu bayi bisa membantu membersihkan kulit, lakukan dengan
lembut. Jangan gunakan tisu basah yang mengandung alkohol dan pewangi. Jika
menggunakan sabun, pilihlah yang kandungannya ringan dan bebas pewangi
buatan. [14]

24
 Perlahan tepuk kulit hingga kering dengan handuk bersih atau biarkan mengering
sendiri. Jangan menggosok bagian bawah bayi. Menggosok bisa mengiritasi kulit.
[14]

 Jangan mengikat popok terlalu erat. Popok yang ketat mencegah aliran udara,
yang membentuk lingkungan lembab yang bisa membuat ruam popok. Popok
yang ketat juga bisa menyebabkan gatal pada bagian pinggang atau paha. [14]
 Berikan bayi lebih banyak waktu tanpa popok. Bila memungkinkan, biarkan bayi
tanpa popok. Mengekspos kulit ke udara adalah cara alami dan lembut untuk
membiarkannya kering. Untuk menghindari keadaan yang lebih buruk, cobalah
meletakkan bayi di atas handuk besar dan biarkan dalam beberapa waktu bermain
saat dia telanjang. [14]
 Pertimbangkan untuk menggunakan salep secara teratur. Jika bayi sering terkena
ruam, oleskan salep saat mengganti popok untuk mencegah iritasi kulit. Minyak
petrolum dan zink oksida adalah bahan yang sudah terbukti ada dalam banyak
salep untuk popok. [14]
 Setelah mengganti popok, cuci tangan dengan baik. Pencucian tangan dapat
mencegah penyebaran bakteri atau jamur ke bagian lain tubuh bayi. [14]

K. KOMPLIKASI.[1,15]

Komplikasi dari diaper rash yaitu ulkus punch-out atau erosi dengan tepi
meninggi (Jacquet erosive dieper dermatitis), papul dan nodul pseudoverucous dan
plak dan nodul violaceous (granuloma gluteale infantum). Jacquet erosive diaper
rash memberikan gambaran eritema, skuama berlapis-lapis, terdapat fisura dan area
erosi pada kulit yang kontak dengan popok. [1,15]

25
Gambar 5 Jacquet erosive diaper rash [15]

Granuloma gluteal infantum merupakan penyakit yang tidak biasa dengan ciri
nodul merah keunguan dengan ukuran yang berbeda-beda (0.5-0.3 cm) timbul pada
area popok pada bayi umur 2-9 bulan. Pada pemeriksaan biopsi didapatkan infiltrat
limfosit, sel plasma, netrofil, dan eosinofil. [3,15]

L. PROGNOSIS

Dermatitis popok iritan primer hampir selalu menunjukkan respon terhadap terapi
dan pada jangka panjang dermatitis popok akan berakhir permasalahannya ketika
popok tidak lagi digunakan seiring dengan berlatihnya anak menggunakan toilet
secara mandiri. Meskipun demikian pada beberapa anak, erupsi pada daerah popok
merupakan tanda pertama kecurigaan adanya kelainan kulit kronis, khususnya
psoriasis dan dermatitis atopi. Karena dermatitis atopi sering diinisiasi dengan adanya
dermatitis popok dengan ruam yang persis dengan dermatitis popok iritan biasa maka
perlu pertimbanagn untuk tidak memberi harapan prognosis yang lebih optimis
kepada orang tua dengan anak dengan lesi tersebut.[10]

26
BAB III

KESIMPULAN

Napkin Eczema atau Diaper Rash atau juga disebut Diaper Dermatitis merupakan suatu
erupsi pada area kulit yang tertutupi diaper atau popok pada bayi. Kondisi ini dapat
disebabkan karena penggunaan atau kontak langsung popok dengan kulit bayi (dermatitis
kontak iritan) yang merupakan penyebab terbanyak. Penyebab Diaper Dermatitisatau
dermatitis popok adalah multifaktorial. Faktor-faktor pemicunya adalah kelembaban yang
berkepanjangan, urin, feses, gesekan, mikroorganisme dan juga obat-obatan.Sejauh ini, tipe
diaper rash yang paling banyak adalah irritant contact dermatitis. Gejala akut yang sering
muncul adalah eritema pada kulit area pubis, pantat dan beberapa area yang memiliki lipatan
kulit yang menunjukkan bahwa gejala tersebut muncul akibat paparan langsung kulit dengan
diaper atau popok. Gambaran eritema tersebut akan menetap selama 3-12 minggu.
Penegakan diagnosis dapat dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
penunjang. Pada anamnesis keluhan yang sering muncul adalah berupa kemerahan atau rash
pada pantat dan selakangan serta area sekitar genital setelah penggunaan popok yang cukup
lama. Selain itu jenis popok dan lama penggunaan dalam satu hari juga harus digali karena
akan mempengaruhi penegakan diagnosis. Riwayat atopi pada keluarga serta penggunaan
obat-obatn juga harus ditanyakan kepada keluarga pasien. Kemudian pada pemeriksaan fisik,
yang meliputi inspeksi (efloresensi), juga harus dievaluasi khususnya area yang mengalami
lesi. Area yang sering terjadi adalah pada daerah yang kontak dengan popok, yaitu bokong,
alat kelamin, perut bagian bawah, daerah kemaluan, dan paha atas. Gambaran yang dapat
muncul adalah eritema, vesikel, papul dan bahkan sampai erosi.
Penatalaksanaan yang paling utama adalah menjaga kebersihan kulit pada daerah yang
kontak langsung dengan popok. Popok tipe superabsorbent (berdaya serap tinggi) merupakan
jenis popok yang paling bagus, dan sebaiknya diganti secara teratur, terutama di malam hari.
Jika menggunakan popok kain, sebaiknya dicuci secara menyeluruh dengan bersih dan juga
diganti secara teratur. Area yang bersentuhan dengan popok sebaiknya dibersihkan dengan

27
air, dan aqueous cream setiap kali pergantian popok. Ointment protektif, seperti zink, dan
ointment silikon protektif, seringkali berguna.

28
DAFTAR PUSTAKA

1. Chang, M.W., dan S.J Orlow. Neonatal, Pediatric ,and Adolescent Dermatology
dalam Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine (edisi ke-7). USA:
McGrawHill, 2008) pg. 1197-1197
2. Lawton. S. 2013. Guidelines for the Management of Nappy Rash. Nottingham
University Hospital. From : http://www.cks.li brary.nhs.uk/nappy_rash/vi
ew_whole_guidance. (Diakses pada tanggal 05 Desember 2017)
3. Serdaroğlu.S. dan Üstünbaş T.K. 2010. Diaper Dermatitis (Diaper rash, napkin
rash) . Journal of Turkish Academy of Dermatology 4 (4). From :
http://www.jtad.org (Diakses pada tanggal 05 Desember 2017)
4. Singalavanija, S., & Frieden, I. J. (2005). Diaper Dermatitis. Pediatric in Review,
XVI, 142-147. From : http://www.diaper07dermattits.jtad.org. (Diakses pada
tanggal 05 Desember 2017)
5. Merrill. L. 2015. Prevention, Treatment and Parent Education for Diaper
Dermatitis. Journal of CNE. From : http://www.diaperderm attits00009
78090.jtad.org. (Diakses pada tanggal 05 Desember 2017)
6. Biranjia. H, Pandamikum. L. 2015. A Study to Investigate the Prevalence of
Nappy Rash among Babies Aged 0 to 36 Months Old in a Tropical Country.
Austin journal of Dermatology. pg 1-3. Department of Health Sciences,
University of Mauritius, Mauritius.
7. Elfaituri, S.S. 2016. Diaper Rash: Frequency, Causes and Type of Inflammation
among Under Five Years Old Libyan Pediatric Patients. Clinical Dermatology
Open Access Journal. ISSN: 2574-7800. From : http://www.di aperrash:frequency
andtypeofinflammati on//among.under.org. (Diakses pada tanggal 05 Desember
2017)

29
8. Li, C. H., Zhu, Z. H., & Dai, Y. H. (2012). Diaper Dermatitis : a Survey of Risk
Factor for Children Aged 1 - 24 Months in China. Journal of International
Medical Research, XL, 1752-1760.
9. Greener. M. Burleigh. A. 2017. Nappy Rash: From Treatment to Protection.
Clinical Review. . From : http://www.Nappyra shdermattits00009cli nicalrevi
we78090.jtad.org

10. Burns.T, D. J., Gennery, A. R., & Cant, A. R. (2004). The Neonate. Diaper
Dermatitis. In S. Breathnach, N. Cox, & C. Griffiths, Rook's Textbook of
Dermatology (pp. 17.22-17.26). Massachusetts: Blackwell Sciences. London:
Blackwell Publishing.
11. Rania Dib, MD, Becjtel A.K. Diaper Rash. Pathophysiology. From :
https://emedic ine.medscape.com/article/801222-overview#showall (Diakses 06
Desember 2017)
12. James W, Berger T, Elston D. Atopic Dermatitis, Eczema, and Noninfectious
Immunodeficiency Disorders. In: Andrews' disease of the skin : CLINICAL
DERMATOLOGY. USA: Waunders Company; 2006. p. 80-81.
13. Gawkrodger DJ. Dermatology, An Illustrated colour text, 3rd ed. New York:
Churchill Livingstone. 2002. p108
14. Mayo. C. 2017. Prevention. Diaper Rash – Sumptoms and causes-Mayo clinic.
From : file:///F:/KULIT/Diaperrash-symptomsandcauses-mayoclinic.html.
(Diaskes 07 Desember 2017)
15. Weller R, Hunter J, Savin J, Mark D. Eczema and Dermatitis. In: Clinical
Dermatology. 4 ed. Australia: Balckwell; 2008. p. 102-103.

30