Anda di halaman 1dari 21

“Upaya Peningkatan Kemampuan Berbicara Terhadap Permainan

Kata Berangkai Pada Siswa Kelas IV SDN Genengan 02


KecamatanKawedanan Kabupaten Magetan
Tahun Pelajaran 2012/2013”

oleh :

Lusiana Elok Pratiwi

09141133/7D/PGSD

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

IKIP PGRI MADIUN

2013
KATA PENGANTAR

Tiada kata yang lebih mulia selain mengucap puji syukur kehadirat Allah

SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia – Nya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan penyusuna skripsi yang berjudul “Upaya Peningkatan Permainan

Kata Berangkai Terhadap Kemampuan Berbicara Siswa Kelas IV SDN Genengan

02 Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan Tahun Pelajaran 2012/2013.”

Sholawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi

Muhammad SAW beserta keluarganya, keturunanya, sahabat serta siapa saja

yang selalu mengikuti sunah tauladannya.

Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini tidak

terlepas dari dorongan, bantuan, dan bimbingan dari berbagai pihak, untuk itu

penulis menyampaikan banyak-banyak terima kasih kepada:

1. Bapak Dr.H. Parji, M.Pd, selaku rektor di IKIP PGRI Madiun.

2. Bapak Drs. Vitalis Djarot Sumarwoto,M.Pd, selaku Dekan Fakultas Ilmu

Pendidikan.

3. Bapak Drs.H.Ibadullah Malawi, M.Pd, selaku Ketua Program Studi

Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

4. Bapak Drs. Edy selaku dosen yang selalu membimbing dengan penuh

kesabaran, walaupun beliau sibuk namun tetap bertanggung jawab dan

professional dalam membimbing dan mengarahkan penulis sampai penullisan

skripsi ini terselesaikan.

5. Bapak Suwasto, S.Pd, selaku kepala sekolah serta bapak dan ibu guru SDN

Genengan 02 Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan.

6. Teman-teman PGSD 7D yang selalu membantu, bekerjasama dan sumbang

saran dalam penyelesaian proposal ini.


Penulis menyadari proposal ini masih jauh dari sempurna, untuk itu

penulis tetap mengharapkan kritik dan saran untuk kebaikan penulisan ini.

Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua. Amin.

Madiun, Januari 2013

Penulis

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL......................................................................................... i

KATA PENGANTAR....................................................................................... ii

DAFTAR ISI...................................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah............................................................... 1

B. Identifikasi Masalah...................................................................... 5

C. Rumusan Masalah ........................................................................ 5

D. Tujuan Penelitian ......................................................................... 5

E. Manfaat Penelitian....................................................................... 6

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN ............................ 7

A. Kajian Teori.................................................................................. 7

B. Pengertian Kerterampilan Berbicara............................................ 9

C. Tujuan keterampilan berbicara .................................................... 10

D. Jenis – jenis Berbicara.................................................................. 11

E. Hipotesis Tindakan...................................................................... 13

F. Kerangka Berpikir....................................................................... 13

BAB III METODOLOGI PENELITIAN.......................................................... 15

A. Obyek Tindakan ...................................................................... 15

B. Setting, Lokasi dan Subyek Penelitian.......................................... 20

C. Pengumpulan Data ....................................................................... 21

D. Analisis Data ................................................................................ 22

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 24


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang Masalah

Peran pendidikan sangat penting bagi masyarakat demi menciptakan

kemajuan pendidikan, kecerdasan, kedamaian, keterbukaan dan demokratis. Oleh

karena itu pembaharuan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan

kualitas pendidikan suatu bangsa. Kemajuan negara Indonesia dapat dicapai

melalui penataan pendidikan yang baik, dengan adanya berbagai upaya

peningkatan mutu pendidikan diharapkan dapat meningkatkan harkat dan

martabat manusia Indonesia. Untuk mencapainya, pembaharuan pendidikan di

indonesia perlu terus dilakukan untuk menciptakan dunia pendidikan yang adaptif

terhadap perubahan jaman.

Keterampilan berbahasa muncul secara beruntutan, mula-mula pada masa

kecil kita menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu membaca dan

menulis. Menyimak dan berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah.

Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuan,

merupakan catur tunggal (Henry Guntur Tarigan, 2008:1).

Menurut St. Y. Slamet (2008:123) kesulitan dalam berbicara, seperti

halnya kesulitan dalam menyimak, disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu

faktor yang menimbulkan kesulitan dalam berbicara adalah yang datang dari

teman berbicara. Seperti kita ketahui, dalam setiap kegiatan berbicara teman

bicara menafsirkan makna pembicaraan agar komunikasi dapat berlangsung terus

sampai pembicaraan tercapai. Apabila teman bicara tidak dapat menangkap

makna pembicaraan maka komunikasi terputus atau dengan kata lain tujuan

komunikasi tidak tercapai.siswa dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan jika


terampil berbicara. Selama ini keterampilan berbicara siswa belum mendapatkan

hasil yang maksimal seperti yang diharapkan.

Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam keterampilan berbicara,

tidak lepas dari pendekatan, metode dan teknik pembelajaran yang dipakai.

Pendekatan, metode dan teknik sangat berhubungan erat dengan keterampilan

berbicara. Menurut Tarigan (dalam Djago Tarigan, 1997:3.5) pendekatan adalah

seperangkat asumsi korelatif yang menangani hakikat bahasa, pengajaran bahasa

dan pembelajaran bahasa. Metode merupakan rencana keseluruhan penyajian

bahan bahasa secara rapi, tertib,tidak ada bagian-bagiannya yang berkontradiksi

dan kesemuanya itu didasarkan pada pendekatan terpilih. Teknik merupakan

suatu muslihat, tipu daya dalam menyajikan suatu bahan. Teknik harus sejalan

dengan metode dan serasi dengan pendekatan.

Oleh karena itu dapat dikembangkan suatu model pembelajaran yang

mampu meningkatkan kemampuan berbicara siswa khususnya pada mata

pelajaran bahasa indonesia Agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pemilihan model pembelajaran ini harus mampu mengembangkan kemampuan

siswa dalam berfikir logis, kritis dan kreatif. Pada kenyataannya saat ini model

pembelajaran masih sangat jarang di terapkan dalam KBM di kelas, karena saat

ini guru lebih menekankan pembelajaran yang hanya mengacu pada buku

pegangan guru dan lembar kerja siswa yang sudah saja.

Dalam kegiatan pembelajaran, guru menjelaskan konsep secara

informatif, menjelaskan contoh soal, dan memberikan soal – soal latihan. Guru

merupakan pusat kegiatan sedangkan siswa selama kegiatan cenderung pasif,

hanya mencatat, mendengarkan, mengerjakan tugas dari guru. Dengan demikian

pengalaman belajar yang telah mereka miliki tidak berkembang.


Mengingat pelajaran bahasa indonesia yang sangat penting untuk

pendidikan, maka guru diharapkan mampu menerapkan pembelajaran sedemikian

rupa agar dalam pelaksanaan pembelajaran siswa mampu mengeluarkan pendapat

dan juga melatih siswa berbicara secara sepontan dalam pelajaran bahasa

indonesia kelas IV yang harapannya siswa mampu mendapatkan hal – hal baru

yang menjadikan pelajaran mereka lebih berbeda dari teknik – teknik

pembelajaran lain, dari penerapan kata berangkai ini diharapkan siswa mampu

mengasah otak mereka untuk berfikir secara luas yang kaitannya dengan materi

yang disampaikan oleh guru bidang study karena kata berangkai ini dapat

diterapkan dalam berbagai macam mata pelajaran pada siswa sekolah dasar.

Ada beberapa siswa yang kurang antusias mengikuti pelajaran

dikarenakannya tidak adanya motifasi belajar dari diri mereka. Siswa tersebut

masih pasif, enggan, dan takut , malu untuk bertanya. Mereka memilih diam jika

ada suatu hal yang belum mereka mengeti atau pahami daripada mereka harus

bertanya kepada guru yang mengajar.menurut seorang siswa, hal ini disebabkan

karena mereka tidak berani kepada guru, takut salah dan hanya bertanya kepada

teman. Keaktifan siswa untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR) masih kurang,

beberapa siswa mengatakan tidak mengerjakan PR karena tidak bisa

mengerjakan, lupa, malas, dan lain sebagainya. Keadaan tersebut, bila di diamkan

siswa akan mengalami kesulitan dalam mempelajari dan memehami konsep-

konsep berikutnya.

Sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa, perlu dikembangkan

suatu pembelajaran yang tepat, sehingga dapat memberikan kesempatan bagi

siswa untuk bertukar pendapat, bekerjasama dengan teman, berinteraksi dengan

guru, menggunakan maupun mengingat kembali materi yang di ajarkan. Di dalam

pengajaran ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengajaran


diantaranya adalah kesiapan mental siswa, sarana dan prasarana, serta penilaian

sebagai umpan balik pengajaran. Untuk itu diperlukan suatu cara untuk

memotivasi siswa agar lebih semangat dalam belajar dan bisa mencapai

ketuntasan belajar. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mencapai

kompetensi tertentu adalah dengan penilaian yang diperoleh melalui permainan

kata berangkai yang diambil dari siswa kelas IV SDN Genengan 02 Kecamatan

Kawedanan Kabupaten Magetan.

Dari uraian di atas, maka dilakukan penelitian dengan judul “ Upaya

Peningkatan Permainan Kata Berangkai Terhadap Kemampuan Berbicara

Siswa Kelas IV SDN Genengan 02 Kecamatan Kawedanan Kabupaten

Magetan Tahun Pelajaran 2012/2013.”

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah yang dikembangkan di atas, dapat di

identifikasikan masalah sebagai berikut :

1. Minat siswa dalam berbicara rendah sebab kebanyakan anak

cenderung takut, ragu dan malu ketika harus berbicara dan

menyampaikan gagasan.

2. Selama pembelajaran, guru tidak memberikan kesempatan kepada

siswa untuk bertanya atau mengutarakan pendapatnya, sehingga siswa

tidak terbiasa berbicara dan keterampilan berbicara siswa akan

terabaikan.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dijabarkan di atas, selanjutnya dapat

ditentukan rumusan penelitian sebagai berikut:

• Apakah dengan penggunaan permainan kata berangkai dapat

meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas IV SDN Genengan

02 Kec. Kawedanan Kab. Magetan Tahun Pelajaran 2012/2013?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian ini, tujuan yang hendak

dicapai adalah sebagai berikut:

• “Untuk meningkatkan permainan kata berangkai terhadap kemampuan

berbicara siswa kelas IV SDN Genengan 02 Kec. Kawedanan Kab.

Magetan Tahun Pelajaran 2012/2013”.

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut

1. Manfaat Teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pengembangan ilmu

pengetahuan, khususnya teori berbicara.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Guru
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi atau masukan

bagi guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk melatih

kemampuan siswa dalam berbicara khususnya dengan penggunaan

permainan kata berangkai sebagai sumber belajar.

b. Bagi Siswa

Hasil penelitian dapat memberikan pengalaman dalam melatih

kemampuan berbicara siswa.

c. Bagi Sekolah

Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai referensi dan bahan

kajian penelitian lebih lanjut.


BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Kata Berangkai

1. Deskripsi kata berangkai

Games ini merupakan permainan berkelompok yang mengajak para

peserta membuat kata – kata baru yang berkaitan dengan kata yang telah

disusun. Mereka dibiarkan berfantasi secara bebas dan mengembangkan

pemikirannya. Permainan ini dapat digunakan kapan saja selama program

pembelajaran.

2. Tujuan Kata Berangkai

Games ini bertujuan untuk melatih keterampilan berbicara dengan

menagajak siswa membuat kata – kata baru yang berkaitan dengan materi

dari guru, ketermpilan bahasa yang melibatkan proses berbahasa secara

keseluruhan, termasuk menciptakan suatu kata – kata baru dalam

keterampilan berbahasa.

3. Prosedur atau Cara Bermain


a. Sambil membagikan sebuah pensil dan secarik kertas kepada setiap

peserta, fasilitator menerangkan bahwa dalam permainan ini para

peserta akan diberikan kata – kata tertentu dan diminta menulis kata

benda, gagasan, pribadi, binatang dan lain – lain yang keluar dari

pemikirannya. Perlu ditegaskan bahwa permainan ini hanyalah sekedar

permainan bukan merupakan suatu tes psikologis.

b. Fasilitator menerangkan bahwa saat kata diberikan, peserta diminta

menulis kata sebanyak-banyaknya yang ada hubungannya dengan kata

yang diberikan. Sebagai contoh: jika kata yang diberikan pertama

adalah “anjing”, peserta dapat menuliskan “tulang”,

“menggonggong”, “menyalak”, “menggigit”, dan seterusnya.

c. Setelah menerangkan urutan permainan, fasilitator membacakan satu

kata dari daftar kata yang ada dan mempersilahkan peserta

memikirkan selama dua menit untuk menuliskan kata – kata ysng

berkaitan dengan kata tersebut.

d. Fasilitator kemudian membacakan kata yang lain dan peserta berfikir

untuk menuliskan kata – kata yang berkaitan dengannya. Demikian

seterusnya sampai memiliki “asosiasi bebas” sejumlah empat sampai

lima kata.

e. Ketika para peserta telah menuliskan reaksinya terhadap kata terakhir

yang diberikan, fasilitator meminta peserta membacakan kata – kata

berangkainya dan jika mungkin menerangkan mengapa mereka

memilih dan menyusun kata – kata itu.


f. Fasilitator dapat ,menyimpulkan kegiatan ini dengan memberikan

penjelasan singkat tentang bagaimana pengaruh tentang kemampuan

menyusun pemikiran dengan kegiatan – kegiatan profesional.

B. Pengertian Kerterampilan Berbicara

Keterampilan berbahasa lisan itu sebagai dasar keterampilan

berkomunikasi. Itulah sebabnya dalam pengajaran berbahasa selalu

dimulai dari pengajaran mendengar dan berbicara. Dapat kita sadari

sedalam-dalamnya bahwa tugas kita sehari-hari banyak dipengaruhi oleh

keterampilan berbicara dan kita banyak menyita waktu hanya untuk

berbicara. Belum lagi kita bayangkan bagaimana tugas seorang guru,

dapat dikatakan bahwa gejolak dan kesibukan dunia sangat dipengaruhi

oleh kesibukan-kesibukan manusia berbicara. Keterampilan berbicara

bukan sekedar diperlukan sewaktu-waktu, melainkan keperluan

berkomunikasi sepanjang masa. Itulah sebabnya maka sejak kanak-kanak

orang selalu dilatih berbahasa atau berbicara sebaik-baiknya.

Menurut St.Y. Slamet (2009:35) keterampilan berbicara merupakan

keterampilan yang mekanistik. Semakin banyak berlatih, semakin dikuasai

dan terampil seseorang dalam berbicara. Tidak ada orang yang terampil

berbicara tanpa melalui proses berlatih. Dalam belajar dan berlatih

berbicara seorang perlu dilatih pelafalan, pengucapan, pengontrolan suara,

pengendalian diri, pengontrolan gerak-gerik tubuh, pemilihan kata,

kalimat dan intonasinya, penggunaan bahasa yang baik dan benar, dan

pengaturan atau pengorganisasian ide.

C. Tujuan keterampilan berbicara


Iskandarwassid dan Dadang Sunendar (2008:242-243) menyatakan

bahwa, program pengajaran keterampilan berbicara harus mampu

memberikan kesempatan kepada setiap individu mencapai tujuan yang

diharapkan.

Menurut Gorys Keraf dalam Slamet (2008:37) tujuan berbicara adalah

sebagai berikut:

a. Mendorong : pembicara untuk member semangat, membangkitkan

kegairahan, serta menunjukkan rasa hormat dan pengabdian;

b. Meyakinkan : pembicara berusaha mempengaruhi keyakinan atau

sikap mental/ intelektual kepada para pendengar;

c. Berbuat/bertindak : pembicara menghendaki tindakan atau reaksi

fisik dari para pendengar dengan keterbangkitannya emosi;

d. Memberitahukan : pembicara berusaha menguraikan atau

menyampaikan sesuatu kepada pendengar, dengan harapan agar

pendengar mengetahui tentang suatu hal;

e. Menyenangkan : pembicara bermaksud menggembirakan,

menghibur para pendengar agar terlepas dari kerutinan yang

dialami oleh pendengar;

Sedangkan menurut Djago Tarigan dalam Slamet (2008:37)

menyatakan bahwa tujuan berbicara meliputi:

1. Menghibur

2. Menginformasikan

3. Menstimuli
4. Meyakinkan

5. menggerakkan

D. Jenis – jenis Berbicara

Menurut Henry Guntur (1984: 22-23) jenis – jenis berbicara ada dua

yaitu :

a. Berbicara di depan umum (public speaking) meliputi:

1. Berbicara untuk melaporkan (informative speaking)

2. Berbicara untuk kekeluargaan (felloship speaking)

3. Berbicara untuk meyakinkan (persuasive speaking)

4. Berbicara untuk merundingkan (deliberative speaking)

b. Berbicara pada konferensi (conference speaking) meliputi:

1. Diskusi kelompok (group discussion), dibedakan menjadi:

a) Tidak resmi (informal) meliputi:

1) Kelompok studi (study groups)

2) Kelompok pembuat kebijaksanaan (policy making groups)

b) Resmi (formal) meliputi:

1) Konferensi

2) Diskusi panel

3) Simposium
2. Prosedur parlementer (parliamentary prosedure)

3. Debat

Menurut Puji Santoso ( 2008:6.356.38) jenis- jenis berbicara yaitu:

a. Berbicara berdasarkan tujuannya

1. Berbicara memberitahukan, melaporkan, dan menginformasikan

2. Bicara menghibur

3. Berbicara membujuk, mengajak, meyakinkan atau menggerakkan

b. Berbicara berdasarkan situasinya

1. Berbicara formal

2. Berbicara informal

c. Berbicara berdasarkan cara penyampaiannya

1. Berbicara mendadak

2. Berbicara berdasarkan catatan

3. Berbicara berdasarkan hafalan

4. Berbicara berdasarkan naskah

d. Berbicara berdasarkan jumlah pendengarnya

1. Berbicara antarpribadi

2. Berbicara dalam kelompok kecil

3. Berbicara dalam kelompok besar


E. Kerangka Berpikir

Masalah – masalah yang ada setelah melakukan penelitian di SDN

Genengan II, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan adalah

kemampuan berbicara siswa masih rendah dikarenakan anak cenderung takut,

ragu dan malu ketika harus berbicara dan menyampaikan gagasan. Selama

pembelajaran, guru tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk

bertanya atau mengutarakan pendapatnya, sehingga siswa tidak terbiasa

berbicara dan keterampilan berbicara siswa akan terabaikan.

Untuk meningkatkan kemampuan berbicara perlu digunakan suatu

inovasi baru, inovasi tersebut adalah permainan kata berangkai. Tuuan

permainan ini adalah untuk melatih keterampilan berbicara dengan menagajak

siswa membuat kata – kata baru yang berkaitan dengan materi dari guru,

ketermpilan bahasa yang melibatkan proses berbahasa secara keseluruhan,

termasuk menciptakan suatu kata – kata baru dalam keterampilan berbahasa.

Untuk itu, setiap kelompok harus bertanggung jawab atas keberhasilan

kelompoknya.

F. Hipotesis Tindakan

Hipotesis adalah suatu jawaban bersifat sementara terhadap

permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul

(Andrews, et al dalam Sangadji dan Sopiah, 2010: 90). Sedangkan menurut

Setyosari (2012: 110) hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah

penelitian, yang kebenarannya masih perlu diuji secara empiris. Berdasarkan

kedua pendapat tentang pengertian hipotesis, dapat disimpulkan bahwa


hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap masalah

penelitian, yang tingkat kebenaranya masih lemah sehingga masih perlu diuji

secara empiris melalui data yang terkumpul.

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka penulis merumuskan

hipotesis penelitian sebagai berikut:

Ada peningkatan permainan kata berangkai terhadap kemampuan

berbicara siswa kelas IV SDN Genengan 02 Kec. Kawedanan Kab. Magetan

Tahun Pelajaran 2012/2013.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Obyek Tindakan

1. Rancangan Penelitian

Wina Sanjaya, (2009:26) mengemukakan bahwa penelitian ini

menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas “Penelitian tindakan kelas

merupakan suatu proses pengkajian masalah pembelajaran di dalam kelas

melalui refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah tersebut dengan

cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta

menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut.

Suharsimi Arikunto, (2006:16) mengemukakan bahwa dalam penelitian

tindakan kelas terdapat empat tahapan, yaitu tahap perencanaan, tahap

pelaksanaan, tahap pengamatan, dan refleksi.

Gb 3.1 Model tahapan penelitian tindakan kelas

Perencanaan

Refleksi SIKLUS I Pelaksanaan

Pengamatan
Perncanaan

Refleksi SIKLUS II Pelaksanaan

Pengamatan

Agar lebih jelas penulis maka harus diperhatikan hal – hal berikut ini:

a. Tahap perencanaa (planning)

Menurut Suharsimi Arikunto, (2006: 17) Dalam tahap ini dijelaskan

tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana

tindakan tersebut dilakukan. PTK dilakukan secara berpasangan atau

kolaborasi. Pihak pertama melakukan tindakan dan pihak kedua yang

mengamati proses jalannya tindakan

b. Tahap pelaksanaan (acting)

Tahap pelaksanaan merupakan implementasi atau penerapan isi

rancangan. Selama melaksanakan tindakan, guru sebagai pelaksana

tindakan harus mengacu pada program yang telah dipersiapkan dan

disepakati

c. Tahap pengamatan (observing)


Menurut Suharsimi Arikunto, (2006:19) Tahap pengamatan berjalan

bersamaan dengan saat pelaksanaan tindakan. Kegiatan pengamatan

dilakukan oleh pengamat atau observer

d. Refleksi (reflecting )

Refleksi merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang

sudah dilakukan. Kegiatan refleksi dilakukan ketika guru pelaksana sudah

selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk

mendiskusikan implementasi rancangan tindakan

SIKLUS I

1. Tahap Perencanaan (planning)

Tahap perencanaan (planning) meliputi sebagai berikut :

a. Melakukan observasi ke sekolah yang akan dijadikan sebagai tempat

penelitian.

b. Mengidentifikasi permasalahan yang terjadi di kelas.

c. Menentukan pokok bahasan.

d. Menyusun silabus dan RPP.

e. Mempersiapkan instrumen untuk menganalisis data seperti : soal – soal

IPS, pedoman penilain, format penilaian..

2. Tahap Pelaksanaan (actuating)

Pertemuan I

a Kegiatan awal

1) Guru membuka pelajaran (memberi salam dan presensi)

2) Guru memberikan apersepsi (melakukan tanya jawab berkaitan dengan

materi yang akan diajarkan)