Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH KEPERAWATAN BENCANA

PENGELOLAAN KORBAN MASSAL BENCANA KEBAKARAN

Disusun dalam rangka memenuhi tugas kelompok


Mata Kuliah Keperawatan Bencana

Dosen Pengampu : Ns. Anastasia Hardyati., S.Kep., M.Kep.Sp.KMB

Disusun Oleh :
Kelompok 3

Abigail Citra Brimora 132151032


Siti Nurul Hidayati 132151017
Achmad Fitroh Bayhaqi 132151003

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN & NERS


FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMAD HUSNI THAMRIN
JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Pengelolaan Korban Massal Bencana Kebakaran.
Makalah ini telah dirancang dan disusun sebaik mungkin, sehingga dapat
memperkecil kemungkinan adanya ketidakteraturan dalam sistematika penulisan. Akan tetapi
kami sebagai makhluk yang tidak sempurna menyadari bahwa makalah yang kami sajikan ini
masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik konstuktif senantiasa kami
harapkan. Harapan kami, makalah ini dapat memberikan pencerahan kepada kita selaku
mahasiswa pada khususnya, serta bagi bagi kehidupan bangsa pada umumnya.
Mudah-mudahan makalah yang sederhana ini dapat menjadi sumbangsih bagi dunia
pendidikan dalam mengembangkan kreatif dan gemar belajar.
Dan pada kesempatan yang baik ini pula kami mengucapkan terimakasih kepada
semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan penulisan makalah ini,
sehingga makalah ini dapat tersaji dihadapan para pembaca.

Jakarta, 06 April 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. ii


DAFTAR ISI ................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... 2
2.1 Definisi Kebakaran .................................................................................... 2
2.2 Klasifikasi Kebakaran ................................................................................ 3
2.3 Proses Terjadinya Kebakaran .................................................................... 6
2.4 Proses Evakuasi Keadaan Darurat Kebakaran .......................................... 6
2.5 Penanganan Korban Massal Kebakaran .................................................... 7
2.6 Sistem Pencegahan Kebakaran di Rumah Sakit ...................................... 13
2.7 Sistem Evakuasi Kebakaran di Rumah Sakit ......................................... 20
2.8 Perkiraan Sumber Daya Manusia Yang Dibutuhkan .............................. 23
2.9 Perlunya Memperhatikan Kebutuhan Khusus Pasien ............................. 24
2.10 Pasien Prioritas Dalam Evakuasi ...........................................................24
2.11 Kontrak Darurat/Pemberitahuan Keluarga ............................................ 26
2.12 Peralatan Saat Evakuasi ....................................................................... 26
BAB III PENUTUP ...................................................................................... 28
3.1 Kesimpulan ............................................................................................. 28
3.2 Saran ........................................................................................................ 28
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 29

iii
BAB I
PENDAHULUAN

Kebakaran merupakan hal yang sangat tidak diinginkan, tidak mengenal waktu, tempat
atau siapapun bisa menjadi korbannya. Kebakaran merupakan salah satu bencana yang
memerlukan tindakan penanganan secara cepat dan tepat. Semakin cepat dan tepat
penanganan bencana kebakaran, maka kerugian (baik kerugian berupa hilangnya nyawa,
cederanya manusia maupun kemgian materiil) yang timbul akibat kebakaran ini akan
semakin kecil.
Pengelolaan bencana kebakaran juga bukan sekedar menyediakan alat pemadam atau
melakukan latihan peran kebakaran, namun diperlukan suatu program yang terencana dalam
suatu sistem manajemen kebakaran yang merupakan upaya terpadu untuk mengelola resiko
kebakaran mulai dari perecanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan tindak lanjutnya (Ramli,
2010).
Pengelolaan korban massal seringkali menjadi masalah umum yang sering terjadi ketika
terjadi bencana kebakaran. Untuk itu diperlukan pengetahuan mengenai apa itu bencana
kebakaran serta upaya dalam pengelolaan korban saat kebakaran itu terjadi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI KEBAKARAN


Kebakaran merupakan suatu bencana yang disebabkan oleh api atau pembakaran
tidak terkawal, membahayakan nyawa manusia, bangunan atau ekologi. Kebakaran
adalah suatu peristiwa oksidasi dengan ketiga unsur (bahan bakar, oksigen dan panas)
yang berakibat menimbulkan kerugian harta benda atau cidera bahkan sampai kematian.
Bagian ini mempertimbangkan aspek pencegahan kebakaran yang berkaitan dengan
bahan yang tahan terhadap pembakaran dan bahan-bahan yang mudah terbakar dan
memerlukan perawatan khusus jika akan digunakan di rumah sakit. Tujuan dari strategi
pencegahan ini adalah untuk membatasi terjadinya dan besarnya kebakaran dan untuk
menunda penyebarannya ketika kebakaran terjadi di rumah sakit. Sebelum kita
melakukan pencegahan kebakaran, pertama-tama kita harus memahami tiga bahan utama
yang membentuk api: 1. panas, 2. bahan bakar, dan 3. oksigen. Paradigma di bawah ini,
yang disebut sebagai "fire triangle", menunjukkan bagaimana ketiga komponen ini
berinteraksi untuk menciptakan api.
 Bahan bakar adalah bahan yang mudah terbakar yang dapat digunakan sebagai
sumber penyalaan api, agar tetap menyala.
 Oksigen adalah agen pengoksidasi yang bereaksi dengan bahan bakar untuk
memulai dan melanjutkan api. Konsentrasi lebih rendah dari hasil oksigen dalam
pembakaran bahan bakar lebih lambat.
 Panas Api memerlukan oksigen dan bahan bakar bereaksi satu sama lain pada
suhu melebihi suhu ambang batas, disebut sebagai "titik nyala." Bahan dan bahan
kimia yang berbeda memiliki titik nyala yang berbeda, beberapa di antaranya suhu
rendah dan beberapa tinggi. Semakin rendah suhu titik nyala suatu senyawa,
semakin mudah menyatu senyawa.

v
Ada lima kelas kebakaran yang dikategorikan berdasarkan jenis bahan bakar /
pembakaran yang berkontribusi. 5 kelas ini adalah sebagai berikut:
1. Kelas A: Kebakaran yang melibatkan bahan yang mudah terbakar seperti kayu,
kain, kertas, karet, dan banyak plastik.
2. Kelas B: Kebakaran yang melibatkan cairan yang mudah terbakar, cairan yang
mudah terbakar, gemuk minyak bumi, ter, minyak, minyak berbasis cat, pelarut,
alkohol, dan gas yang mudah terbakar.
3. Kelas C: Kebakaran yang melibatkan peralatan listrik berenergi, seperti perkakas
listrik, kabel, kotak sekering, peralatan, TV, komputer, dan motor listrik.
4. Kelas D: Kebakaran yang melibatkan logam yang mudah terbakar seperti
magnesium, potasium, titanium, zirkonium, lithium, dan sodium.
5. Kelas K: Kebakaran yang melibatkan minyak masak dan lemak yang mudah
terbakar yang digunakan dalam peralatan memasak komersial.

2.2 KLASIFIKASI KEBAKARAN

Menurut Agus Triyono (2001), kebakaran terjadi karena manusia, peristiwa alam, dan
penyalaan/unsur kesengajaan.
a. Kebakaran karena manusia yang bersifat kelalaian, seperti:
 Kurangnya pengertian, pengetahuan tentang penanggulangan bahaya kebakaran.
 Kurang hati-hati dalam menggunakan alat atau bahan yang dapat menimbulkan
api.
 Kurangnya kesadaran pribadi atau tidak disiplin.
b. Kebakaran karena peristiwa alam terutama menyangkut cuaca dan gunung berapi,
seperti sinar matahari, letusan gunung berapi, gempa bumi, petir, angin dan topan.
c. Kebakaran karena penyalaan sendiri, sering terjadi pada gudang-gudang bahan kimia
dimana bahan-bahan tersebut bereaksi dengan udara, air dan juga dengan bahan-bahan
lainnya yang mudah meledak atau terbakar.
d. Kebakaran karena unsur kesengajaan, untuk tujuan-tujuan tertentu, misalnya:
 Sabotase untuk menimbulkan huru-hara, kebanyakan dengan alasan politis.
 Mencari keuntungan pribadi karena ingin mendapatkan ganti rugi melalui
asuransi kebakaran.
 Untuk menghilangkan jejak kejahatan dengan cara membakar dokumen atau
bukti-bukti yang dapat memberatkannya.
 Untuk jalan taktis dalam pertempuran dengan jalan bumi hangus.

KEBAKARAN TERJADI KARENA :


Penyebab kebakaran dapat bermacam-macam. Penyebab ini harus dapat diidentifikasi
pihak managemen, sehingga penyebab kebakaran dapat dicegah. Berikut beberapa
penyebab yang menimbulkan kebakaran :

a. Bahaya listrik
Kebakaran akibat listrik sering terjadi di kantor – kantor dibandingkan dengan
rumah. Penyebabnya bisa berawal dari kontak/sirkuit listrik yang terlalu banyak atau
kontak yang terlalu panas, dan kabel – kabel yang tidak aman. Kekurangan jumlah
stop kontak yang menyebabkan penggunaan adaptor juga akan menyebabkan
kebakaran. Bahaya listrik memerlukan electrical audit untuk mengecek kabel yang
tidak aman maupun kabel yang memiliki terlalu banyak beban.

b. Hot work
Kebakaran yang disebabkan oleh hot work sering berasal dari sumber – sumber yang
tidak diperkirakan, sehingga sebaiknya perkantoran mengurangi portable heater
seperti oven, kompor dan lain – lain.

vii
c. Mesin
Mesin yang sangat panas dapat menyebabkan kebakaran, sehingga harus secara
teratur di servis. Tempat pembuangan udaranya harus selalu dibersihkan untuk
mencegah terjadinya pemanasan mesin.

d. Rokok
Merupakan salah satu penyebab kebakaran di tempat kerja. Rokok seharusnya
dilarang di daerah kerja dimana bahan – bahannya mudah terbakar.

e. Cairan yang mudah terbakar


Dalam pencegahannya, cairan yang mudah terbakar seharusnya disimpan dalam
tempat yang tertutup logam. LPG juga merupakan cairan yang mudah terbakar dan
harus disimpan secara aman.

f. Bad Housekeeping
Seperti print-out komputer atau berkas – berkas yang masih berserakan di atas meja,
peralatan listrik seperti komputer yang masih tersambung aliran listrik bisa saja
memicu timbulnya kebakaran. Perlu ada kebijakan kantor yang membiasakan
seluruh karyawannya untuk disiplin melakukan prosedur-prosedur pencegahan
sebelum meninggalkan ruang kerjanya pada jam pulang kantor.

g. Kebakaran yang disengaja


Merupakan usaha percobaan untuk menutupi kriminalitas atau berasal dari
perselisihan perorangan. Perusahaan dapat mencegah kebakaran yang disengaja
dengan memastikan sistem proteksi kebakaran dites secara berkala.

2.3 PROSES TERJADINYA KEBAKARAN


Proses terjadinya api harus memenuhi 3 unsur utama, yakni bahan bakar, suhu
panas, dan oksigen. Jika ketiga unsur tersebut bertemu maka akan menimbulkan api.
Siklus api dalam waktu 3-10 menit akan mencapai titik 600-1000 derajat celcius. Hal
inilah yang akan mengaktifkan fire alarm secara otomatis pada bangunan. Jaringan Fire
alarm akan menyala apabila ada input manual dari manusia melalui tombol push button,
melalui detektor panas atau asap yang terpasang, atau ada aktivasi dari control room.
Pada tahap ini, perlu ada konfirmasi terlebih dahulu dari petugas yang terdekat yang
berada pada sumber bunyi alarm. Bisa jadi, false alarm yang berbunyi. Hal ini bisa karena
human error, atau kesalahan teknis pada jaringan instalasinya.
Jika memang terjadi kebakaran, maka prosedur evakuasi keadaan darurat
kebakaran harus segera dilakukan. Saat pertama kali mendengar alarm berbunyi, maka
yang dilakukan pertama kali adalah memperingatkan orang-orang disekitar agar waspada.
Matikan semua peralatan elektronik yang tersambung ke listrik, mengunci semua lemari
dokumen, Pindahkan benda-benda yang mudah terbakar ke titik yang sekiranya aman,
Selamatkan dokumen penting, lalu Bersiaga dan bersiap menunggu instruksi /
pengumuman dari Fire Commander maupun Safety Representative jika berada di dalam
gedung.

2.4 PROSES EVAKUASI KEADAAN DARURAT KEBAKARAN

Adapun langkah-langkah prosedur evakuasi keadaan darurat kebakaran yang akan


diarahkan seperti berikut ini:
1. Tetap tenang dan jangan panik

2. Segera menuju tangga darurat yang terdekat dengan berjalan biasa dengan cepat
namun tidak berlari

3. Lepaskan sepatu hak tinggi karena menyulitkan dalam melangkahkan kaki

4. Jangan membawa barang yang lebih besar dari tas kantor/tas tangan

5. Beritahu orang lain/tamu yang masih berada didalam ruangan lain untuk segera
melakukan evakuasi

6. Bila pandangan tertutup asap, berjalanlah dengan merayap pada tembok atau
pegangan pada tangga, atur pernafasan pendek-pendek

7. Jangan berbalik arah karena akan bertabrakan dengan orang-orang dibelakang anda
dan menghambat evakuasi

8. Segeralah menuju titik kumpul yang ada di tempat tersebut untuk menunggu
instruksi berikutnya

2.5 PENANGANAN KORBAN MASSAL KEBAKARAN


Kebutuhan terbesar untuk pertolongan pertama dan pelayanan kedaruratan
muncul dalam beberapa jam pertama. Banyak jiwa yang tidak tertolong karena sumber-

ix
sumber daya lokal, termasuk transportasi tidak dimobilisasi segera. Oleh karena itu
sumber daya lokal sangat menentukan dalam penanganan korban di fase darurat.

1. Tindakan Keselamatan
Tindakan penyelamatan diterapkan untuk memberi perlindungan kepada
korban, tim penolong dan masyarakat yang terekspos dari segala risiko yang mungkin
terjadi dan dari risiko potensial yang diperkirakan dapat terjadi (perluasan area yang
terbakar misalnya banyak material terbakar menjadi berbahaya, kemacetan lalu lintas,
dan lain-lain).
 Langkah-langkah penyelamatan yang dilakukan, antara lain :
Aksi langsung yang dilakukan untuk mengurangi risiko seperti dengan
memadamkan kebakaran, isolasi material berbahaya, penggunaan pakaian
pelindung, dan evakuasi masyarakat yang terpapar oleh bencana.

 Aksi pencegahan yang mencakup penetapan area larangan berupa:


1) Daerah pusat bencana—terbatas hanya untuk tim penolong profesional
yang dilengkapi dengan peralatan memadai.

2) Area sekunder—hanya diperuntukkan bagi petugas yang ditugaskan untuk


operasi penyelamatan korban, perawatan, komando dan kontrol,
komunikasi, keamanan/keselamatan, pos komando, pos medis lanjutan,
pusat evakuasi dan tempat parkir bagi kendaraan yang dipergunakan untuk
evakuasi dan keperluan teknis.

3) Area tersier—media massa diijinkan untuk berada di area ini, area juga
berfungsi sebagai “penahan” untuk mencegah masyarakat memasuki
daerah berbahaya.

4) Luas dan bentuk area larangan ini bergantung pada jenis bencana yang
terjadi (gas beracun, material berbahaya, kebakaran, kemungkinan
terjadinya ledakan), arah angin dan topografi.

2. Tindakan Keselamatan
Langkah penyelamatan akan diterapkan oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan
unit-unit khusus (seperti ahli bahan peledak, ahli material berbahaya, dan lain-lain)
dalam menghadapi masalah khusus. Area larangan ditetapkan oleh Dinas Pemadam
Kebakaran dan jika diperlukan dapat dilaku-kan koordinasi dengan petugas khusus
seperti kepala bandar udara, kepala keamanan di pabrik bahan kimia, dan lain-lain.

3. Langkah Pengamanan
Langkah pengamanan diterapkan dengan tujuan untuk mencegah campur tangan pihak
luar dengan tim penolong dalam melakukan upaya penyelamatan korban kebakaran.
Akses ke setiap area penyelamatan dibatasi dengan melakukan kontrol lalu lintas dan
keramaian.

 Langkah penyelamatan ini memengaruhi penyelamatan dengan cara:


1) Melindungi tim penolong dari campur tangan pihak luar.
2) Mencegah terjadinya kemacetan dalam alur evakuasi korban dan mobilisasi
sumber daya.

3) Melindungi masyarakat dari kemungkinan risiko terpapar oleh kecelakaan


yang terjadi.
4) Faktor keselamatan dan keamanan ini dilaksanakan oleh dinas pemadam
kebakaran dan pihak-pihak lain yang mungkin terkait seperti tenaga medis,
kepolisian, serta unit lainnya.

4. Pencarian dan Penyelamatan


Kegiatan pencarian dan penyelamatan dalam bencana kebakaran terutama dilakukan
oleh dinas pemadam kebakaran setempat dan dapat berasal dari tenaga suka rela bila
dibutuhkan. Tim ini akan:
1) Melokalisasi korban.
2) Memindahkan korban dari daerah berbahaya ke tempat
pengumpulan/penampungan jika diperlukan.
3) Memeriksa status kesehatan korban (triase di tempat kejadian).
4) Memberi pertolongan pertama jika diperlukan.
5) Memindahkan korban ke pos medis lanjutan jika diperlukan.

xi
6) Bergantung pada situasi yang dihadapi (gas beracun, material berbahaya), tim ini
akan menggunakan pakaian pelindung dan peralatan khusus. Jika tim ini bekerja
di bawah kondisi yang sangat berat, penggantian anggota tim dengan tim
pendukung harus lebih sering dilakukan.

5. Pertolongan Pertama Pada Korban Kebakaran


Ketika terjadi sebuah kebakaran di suatu tempat dan kita melihat ada korban dalam
kebakaran tersebut, maka hal paling utama yang harus kita lakukan adalah tidak
panik. upayakan diri tetap tenang dalam melakukan tindakan penyelamatan.
Selanjutnya, kita harus mencoba untuk memahami situasi serta kondisi dan melihat
segala kemungkinan evakuasi yang bisa dilakukan dengan segera sambil menunggu
datangnya pertolongan dari petugas terkait. Yang paling penting adalah kita harus
tetap berhati-hati karena kesalahan prosedur justru akan membuat korban semakin
parah. untuk itu, kita harus memahami dulu tahapan luka bakar yang terjadi pada
tubuh korban sehingga bisa mengambil Tindakan untuk menolong Korban Kebakaran
sesuai dengan luka bakar yang dialami. Luka bakar dibagi menjadi 3 derajat :

a) Tindakan untuk menolong Korban Kebakaran tingkat 1


Luka bakar tingkat satu adalah luka bakar yang menimbulkan kerusakan jaringan
kulit hanya di bagian luar. misalnya, kulit terkena sengatan matahari langsung,
kulit melakukan kontak langsung dengan objek panas seperti air panas atau uap
panas. Gejala Luka Bakar Tingkat 1 yaitu kemerahan pada bagian kulit yang
terbakar, bengkak ringan, nyeri, kulit belum sampai terkoyak karena melepuh.
Tindakan untuk menolong Korban Kebakaran derajat 1 ini adalah dengan :
 Menyiram kulit menggunakan air mengalir pada bagian luka yang
terbakar atau mengkompres dengan air dingin menggunakan handuk kecil
atau sapu tangan.
 Menutup luka bakar tingkat 1 dengan kain perban steril untuk mencegah
infeksi pada permukaan kulit. Jangan memberi mentega atau minyak pada
luka bakar

b) Tindakan untuk menolong Korban Kebakaran tingkat 2


Luka bakar tingkat ini menyebabkan kerusakan lapisan bawah kulit. terjadi
misalnya karena sengatan matahari yang berlebihan, cairan panas, dan percikan
api dari bensin atau substansi lain. Gejala luka bakar tingkat dua seperti
kemerahan, keluat bintik hitam bergaris, melepuh, bengkak yang tidak hilang
selama beberapa hari, kulit terlihat lembab atau becek.
Tindakan untuk menolong Korban Kebakaran derajat 2 ini adalah dengan:
 Menyiram kulit menggunakan air mengalir pada bagian luka yang
terbakar atau mengkompres dengan air dingin menggunakan handuk kecil
atau sapu tangan.
 Keringkan luka dengan handuk bersih atau bahan lain yang lembut
 Tutup dengan perban steril untuk menghindari infeksi
 Angkat bagian tangan atau kaki yang terluka lebih tinggi dari organ jantung.
 Segera cari pertolongan medis jika korban mengalami luka bakar di sekitar
bibir atau kesulitan bernapas.

Tindakan untuk menolong Korban Kebakaran tingkat 3


Luka bakar ini menghancurkan semua lapisan kulit dan tergolong luka bakar paling
parah. yang dikategorikan sebagai luka bakar tingkat 3 misalnya kontak terlalu lama
dengan sumber panas dan sengatan listrik tegangan tinggi. Gejalanya : daerah luka
tampak berwarna putih, kulit hancur, dan nyeri karena ujung saraf telah rusak.
Penanganan Tindakan untuk menolong Korban Kebakaran sebagai berikut :
 Jika korban masih dalam keadaan terbakar, padamkan api dengan
menggunakan selimut, karpet, jaket dan bahan lain.
 Kesulitan bernapas dapat terjadi pada korban khususnya bila luka terdapat
pada wajah, leher dan di sekitar mulut karena korban menghirup asap yang
menyertai pembakaran. Lakukan pemeriksaan untuk memastikan korban dapat
bernapas dengan baik.
 Tempelkan kain basah atau air ingin, namun jangan menggunakan air es untuk
luka di bagian wajah, tangan dan kaki. Tujuan hal ini adalah untuk
menurunkan suhu pada daerah luka.
 Tutup luka bakar dengan perban steril dan tebal, kain bersih, sarung bantal,
atau bahan lain yang anda temukan. Tetapi jangan bahan yang mudah rontok
seperti kapas / kapuk justru akan menempel ke luka bakar.

xiii
6. Penerapan Rencana Penatalaksanaan Korban Massal Kebakaran di Rumah
Sakit
a. Penerimaan di Rumah Sakit dan Pengobatan
Di rumah sakit, struktur perintah yang jelas diperlukan dan pelaksanaan triase
harus menjadi tanggung jawab dari klinisi yang berpengalaman hal ini dapat
berarti hidup atau mati bagi si pasien, dan akan menetapkan prioritas dan aktivitas
dari keseluruhan petugas.
b. Proses Penyiagaan
Pesan siaga dari pusat komunikasi harus disampaikan langsung kepada Unit
Gawat Darurat (melalui telepon atau radio). Kepala penanganan korban massal
yang ditunjuk di Rumah sakit harus mengaktifkan rencana penanganan korban
massal. Dan mulai memanggil tenaga penolong yang dibutuhkan.

c. Mobilisasi
Jika bencana terjadi dalam radius 20 menit dari Rumah Sakit, Tim Siaga
Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit akan segera diberangkatkan ke lokasi
kejadian. Jika bencana tersebut terjadi dalam jarak lebih dari 20 menit dari
Rumah Sakit, tim tersebut hanya akan diberangkatkan berdasarkan permintaan
Tim Kesehatan Daerah.

d. Pengosongan Fasilitas Penerima Korban


Harus diusahakan untuk menyediakan tempat tidur di Rumah Sakit untuk
menampung korban bencana massal yang akan dibawa ke Rumah Sakit tersebut.
Untuk menampung korban, Pos Komando Rumah Sakit harus segera
memindahkan para penderita rawat inap yang kondisinya telah memungkinkan
untuk dipindahkan.
2.6 SISTEM PENCEGAHAN KEBAKARAN DI RUMAH SAKIT
Pencegahan kebakaran sangat penting untuk menghindari / meminimalkan
kerusakan atau kerugian harta benda dan kehidupan. Kemampuan untuk cepat
mendeteksi dan memadamkan kebakaran adalah faktor kunci dalam menghindari
skenario terburuk, yaitu evakuasi rumah sakit.

1. Sistem Alarm Kebakaran


Ada beberapa cara di mana api dapat dideteksi. Metode deteksi tradisional dan
jelas adalah seseorang melihat api dan / atau bau asap, pada titik mana alarm
kebakaran harus diaktifkan atau pemberitahuan dikeluarkan. Di beberapa kasus,
seorang "pelari" yang ditunjuk menyampaikan pemberitahuan kepada orang lain dari
mulut ke mulut. Dalam kasus lain, tembakan manual alarm menarik atau perangkat
inisiasi alarm yang diaktifkan secara manual digunakan untuk membunyikan alarm
kebakaran. Menurut Asosiasi Perlindungan Kebakaran Nasional di Amerika Serikat,
disarankan persyaratan untuk menginstal dan menemukan perangkat pemicu alarm
kebakaran manual adalah sebagai berikut :
 Kotak tarik manual harus terpasang dengan aman di latar belakang warna yang
kontras.
 Bagian yang dapat dioperasikan dari kotak alarm kebakaran tidak boleh lebih
dari 1,07 m (42 inci) hingga 1,22 m (48 inci) di atas tingkat lantai.
 Kotak tarik manual harus ditempatkan sehingga mencolok, tidak terhalang, dan
dapat diakses.
 Kotak tarik manual harus ditempatkan sehingga jarak perjalanan horizontal
antar kotak di lantai mana pun tidak
 lebih dari 61 m (200 kaki).
 Selain itu, kotak tarik manual harus ditempatkan dalam 1,52 m (5 kaki) dari
kedua sisi bukan yang dikelompokkan (mis., bank elevator dan tangga yang
terletak bersama) dengan lebar lebih dari 12,2 m (40 kaki).

INGAT : Sistem alarm kebakaran dibuat untuk meningkatkan keamanan penghuni


bangunan dan untuk meminimalkan kerusakan properti.

2. Detektor Asap dan Panas

xv
Berbagai sensor asap dan panas dapat dipasang sebagai bagian dari sistem alarm
kebakaran untuk mendeteksi kebakaran yang dimulai area lalu lintas rendah jauh dari
personil / staf. Sensor ini idealnya memicu sistem peringatan otomatis dengan terlihat
(lampu berkedip / lampu strobo) dan lonceng atau peringatan suara yang terdengar
untuk menunjukkan bahwa api terdeteksi. Sensornya juga harus dapat menentukan
lokasi di mana api terdeteksi, melalui panel annunciator terpencil itu menyala untuk
menunjukkan area di mana perangkat pendeteksi kebakaran dipicu.
 Detektor asap umumnya akan mendeteksi api lebih cepat daripada detektor
panas. Namun, personel yang bertanggung jawab atas penentuan lokasi khusus
untuk detektor asap dan panas harus mempertimbangkan kemungkinan adanya
alarm palsu atau tidak diinginkan. Untuk misalnya, detektor asap tidak mungkin
digunakan di dapur fasilitas. Sebaliknya, pilihlah suhu-tetap detektor panas jika
terjadi peningkatan suhu yang tiba-tiba dalam api.
 Asap dan panas dari api akan cenderung menumpuk di bagian tertinggi dari
ruang tertutup gedung. Di sinilah detektor harus ditempatkan.
 Lokasi detektor asap dan panas tergantung pada jenis detektor yang digunakan
dan geometri dan hunian ruang.
 Biasanya, area cakupan maksimum untuk detektor asap dan panas adalah 100
persegi meter (1.076,4 kaki persegi) dan 50 meter persegi (538,2 kaki persegi),
masing-masing.

Ada tiga jenis detektor asap : terionisasi, fotolistrik, dan gabungan terionisasi /
fotolistrik. Terionisasi detektor asap relatif murah, sementara detektor fotolistrik cenderung
lebih mahal.
3. Sistem Penekan Untuk Memadamkan Api
Setelah api terdeteksi, sistem penekan untuk memadamkan api diperlukan untuk
meminimalkan kerusakan dan menghindari pengungsian. Berbagai peralatan
pemadam kebakaran dapat dipasang di berbagai lokasi di rumah sakit untuk
memerangi spesifik
jenis kebakaran, dengan pertimbangan khusus untuk para pasien yang menempati
setiap area dan peralatan medis yang ditampung di daerah itu.

 Alat Pemadam api


Alat pemadam kebakaran diberi label dengan simbol dan huruf standar yang
mewakili kelas api itu sendiri :
1) ABC Dry Chemical
Alat pemadam ini, yang dinilai untuk kebakaran Kelas A, B,
dan C, mengandung 2,3 hingga 9,1 kg (5 hingga 20 pon)
monoammonium fosfat. Monoammonium fosfat adalah
agen pemadam yang ditumbuk halus yang mirip dengan
yang berwarna kuning bedak talek. Gas nitrogen digunakan
untuk propelan. Alat pemadam kimia kering, yang memiliki
kisaran sekitar 4,6 m (15 kaki), mudah digunakan tetapi
sangat berantakan. Mereka biasanya ditemukan di lorong dan kadang-kadang di
laboratorium.

2) Karbon Dioksida (CO2)


Pembuluh bertekanan tinggi ini diisi dengan 2,3 atau 4,5 kg (5
atau 10 pon) CO2 cair. Mereka harus digunakan hanya pada
cairan yang mudah terbakar atau kebakaran listrik. Karena CO2
dikeluarkan sebagai gas, pemadam memiliki sangat terbatas
jangkauan operasi sekitar 1,2 m hingga 1,8 m (4 hingga 6 kaki).
Alat pemadam ini mudah dikenali karena tidak memiliki
pengukur tekanan, kebanyakan ditemukan di laboratorium atau
ruang mekanis.

xvii
3) Halon
Alat pemadam api halon, yang memiliki jangkauan sekitar 4,6 m (15 kaki), dinilai
untuk kebakaran Kelas B dan Kelas C tetapi juga efektif dalam
memerangi kebakaran Kelas A. Mereka menggunakan
bromochlorodifluoromethane (halon 1211) sebagai pemadam
mereka agen. Halon adalah agen yang sangat bersih yang tidak
meninggalkan residu, membuatnya efektif untuk digunakan di
sekitar komputer dan peralatan sensitif lainnya. Namun, halon
1211 dianggap tidak aman lingkungan pada tahun 1995, dan
penggunaannya sedang dihapus di banyak negara.

4) Dry Powder
Alat pemadam ini dimaksudkan untuk kebakaran Kelas D
(logam). Api dipadamkan dengan mengisolasi dan
mencekiknyadengan bubuk berbasis tembaga atau natrium
klorida. Alat pemadam bubuk kering yang memiliki jangkauan
0,9 m hingga 1,8 m (3 hingga 6 kaki).

5) Class K Extinguishers
Alat pemadam ini dinilai untuk memerangi kebakaran Kelas K
(minyak). Dalam beberapa tahun terakhir, banyak dapur komersial
telah dimulai untuk menggunakan peralatan memasak yang lebih
efisien dan minyak goreng tidak jenuh yang beroperasi pada suhu
yang jauh lebih tinggi dari minyak dan peralatan sebelumnya.
Pemadam Kelas K dikembangkan untuk memerangi bahaya baru ini.
Alat pemadam ini menggunakan agen pH rendah, kalium-asetat, yang
memiliki pemadam kebakaran dan pendinginan yang lebih besar. Efek untuk jenis
bahaya ini. Sebagian besar alat pemadam ini dapat digunakan dengan aman untuk
melawan kebakaran Kelas A, B, atau C juga (meskipun label harus diperiksa
terlebih dahulu). Jangkauan mereka adalah 3 m hingga 3,6 m (10 hingga 12 kaki).
Alat pemadam kelas K bisa ditemukan di dapur tempat penggorengan lemak
dalam digunakan.
 Cara Menggunakan Alat Pemadam Kebakaran
Berikut ini adalah pertimbangan penting sebelum Anda mencoba melawan api:
1. Pastikan bahwa setiap orang meninggalkan area tersebut, seseorang telah
membunyikan alarm, dan seseorang memanggilnya pemadam kebakaran.
2. Pastikan bahwa Anda memiliki rute pelarian terhindar di punggung Anda.
3. Pastikan bahwa api kecil, terbatas, dan tidak menyebar.
4. Pastikan Anda tahu apa yang terbakar dan bahwa Anda memiliki jenis alat
pemadam yang tepat untuk melawan api.
5. Anda memiliki pengetahuan tentang penggunaan alat pemadam ini.
6. Pastikan bahwa Anda menjaga punggung Anda agar keluar dengan jelas dan
berdiri sejauh 2 hingga 3 meter (6 hingga 8 kaki) dari api.
7. Keamanan Anda sangat penting; jika api tidak terkendali, segera tinggalkan
area tersebut.
8. Petugas pemadam kebakaran (atau petugas kesehatan dan keselamatan) dan
staf rumah sakit harus dilatih tentang cara menggunakan perangkat pencegah
kebakaran.
9. Sesi pelatihan reguler harus dilakukan sebagai bagian dari keselamatan dan
evakuasi dijadwalkan fasilitas medis simulasi.

 Water Sprinkle Systems (Sistem Penyiram Air)


Sistem ini memiliki diameter butiran air lebih besar dari 1 mm, dan cakupan luas
permukaan kumulatif untuk 1 liter air kira-kira 3 meter
persegi. Biasanya, dalam sistem penyemprot api, jaringan
pipa penuh terus-menerus diisi dengan air. Kepala
sprinkler adalah katup yang peka terhadap panas yang
melepaskan air setelah suhu melebihi suhu yang telah
ditetapkan, umumnya 30oC di atas suhu kamar. Setiap kepala sprinkler beroperasi
secara independen dan hanya akan mengaktifkan setelah cukup panas mencapai
katup. Oleh karena itu, hanya sprinkler yang terdekat dengan api yang akan
beroperasi, memaksimalkan tekanan air yang tersedia ke lokasi api. Sistem
sprinkler tidak secara otomatis melepaskan air setelah aktivasi alarm kebakaran,
tetapi bertindak secara independen.

xix
 Smoke Extractor (Pendeteksi Asap)
Merupakan bagian integral dari pembangunan keamanan kebakaran saat terjadi
kebakaran. Penyebaran dan akumulasi asap yang cepat biasanya merupakan salah
satu risiko tertinggi bagi kehidupan manusia dalam hal api. Salah satu cara untuk
meminimalkan bahaya ini adalah dengan menggabungkan sistem ekstraksi asap
khusus, biasanya didesain awal sistem panas seperti ventilasi dan AC.
a) Sistem pendeteksi asap adalah sistem mekanik yang dapat diaktifkan secara
manual atau otomatis alarm dipicu.
b) Sistem ini dirancang untuk menghilangkan asap berbahaya dari area
kebakaran dan mencegah penyebaran ke area lain di gedung melalui
penutupan ventilasi tertentu dan pemompaan tekanan tinggi udara ke area
yang ditentukan untuk mencegah asap masuk.
c) Sistem pendeteksi asap cenderung cukup mahal untuk dimasukkan ke
dalam fasilitas yang ada.

4. Tangga Darurat
Tangga yang disiapkan untuk sarana evakuasi kebakaran, diletakkan di tempat yang
tahan api dan diujung-ujung jalanya dilengkapi dengan pintu yang tahan api. Tangga
darurat terhubung dengan assembly meeting point (tempat berkumpul).

5. Peta Evakuasi
Sebuah denah yang menjelaskan ke arah mana pasien, staf, dan pengunjung harus
meninggalkan tempat saat terjadi kebakaran dan proses evakuasi berlangsung.

6. Assembly Meeting Point ( Titik Kumpul )

Tempat akhir / tujuan dari proses evakuasi kebakaran, merupakan sebuah tanah
lapang yang terpisah dari bangunan. Di tempat ini biasanya akan didata siapa saja
penghuni yang sudah dan belum meninggalkan gedung saat terjadi kebakaran.

7. Pelatihan Evakuasi Saat Terjadi Kebakaran


Setelah suara alarm kebakaran, diharapkan staf rumah sakit akan mengaktifkan sistem
atau urutan yang dipraktekkan kegiatan dalam menanggapi. Setiap fasilitas kesehatan
harus memiliki sistem unik yang telah disesuaikan untuk memenuhi
kebutuhannya.Rencana evakuasi / tanggapan harus didiskusikan dan dikembangkan oleh
administrasi rumah sakit dan rekayasa dan tim medis. Rencana tersebut harus mencakup
pelatihan yang dijadwalkan secara rutin untuk semua staf.

 Pelatihan Staf
Pelatihan umum untuk semua staf harus mencakup, tetapi tidak terbatas pada, hal-hal
berikut:
a) Pelatihan tentang cara mengangkat dan memindahkan pasien.
b) Pelatihan tentang cara menggunakan alat pemadam kebakaran.
c) Pelatihan tentang apa yang harus dilakukan jika mereka melihat api.
d) Pelatihan tentang apa yang harus dilakukan jika mereka mendengar alarm dan
melihat lampu yang berkedip.
e) Pelatihan khusus menentukan peran dan tanggung jawab masing-masing anggota
staf. Misalnya, dalam kasus alarm kebakaran, seperti siapa yang memberi tahu
layanan kebakaran dan sisanya di rumah sakit.

xxi
2.7 SISTEM EVAKUASI KEBAKARAN DI RUMAH SAKIT
Sistem ini merupakan komponen penting dari tujuan untuk menyelamatkan
nyawa dalam situasi darurat di rumah sakit. Rencana evakuasi menyeluruh perlu
berada di tempat yang semua anggota staf ketahui dan berpengalaman dalam
melaksanakannya. Bagian ini menyajikan langkah-langkah dasar yang terlibat dalam
evakuasi fasilitas medis. Penting untuk dicatat bahwa tidak ada perbaikan metodologi
untuk evakuasi; prosedur akan bervariasi untuk setiap fasilitas perawatan kesehatan
individu.
Ingat bahwa prosedur evakuasi hanya dilakukan sebagai tindakan terakhir bagi
rumah sakit. Dalam kasus kebakaran, evakuasi dilakukan setelah tindakan
pencegahan dan penekanan terhadap pemadaman api yang mengancam nyawa.
Asumsi berikut dibuat dalam pengembangan
1. Insiden Komando Sistem Rumah Sakit (ICS) akan digunakan sepanjang durasi
evakuasi tanggapan.
2. Panduan ini tidak menggantikan atau mengubah struktur ICS tetapi
dimaksudkan untuk berkontribusi sebagai operasi tambahan yang mungkin
diaktifkan selama evakuasi. Evakuasi fasilitas perawatan kesehatan mungkin
diperlukan dalam berbagai bencana, tidak hanya pada saat terjadi kebakaran.

 Suara Dari Alarm Kebakaran


Begitu alarm kebakaran dipicu, perlu ada personel yang ditunjuk untuk
menyelidiki alasan alarm (dan kemungkinan alarm palsu) dan untuk
mengidentifikasi tingkat ancaman. Mereka juga harus menentukan apakah api adalah
api kecil yang dapat ditekan atau apakah evakuasi diperlukan.
Petugas yang ditunjuk kali ini harus berkomunikasi dengan operator telepon
rumah sakit, yang akan menginformasikan apa yang terjadi, sisanya staf petugas
dalam tindakan evakuasi perlu mengarahkan jalur evakuasi.
 Notifikasi Dari Lembaga Eksternal
Jika ada ancaman kebakaran dan keputusan untuk mengevakuasi dibuat, harus
ada orang yang ditunjuk untuk bertanggung jawab untuk memberitahukan kepada
seluruh bagian yang ada di rumah sakit dari perintah evakuasi, menggunakan sistem
yang tepat seperti email, teks pesan, dan sistem komunikasi internal rumah sakit
dengan pengeras suara.
Prosedur pusat operasi darurat rumah sakit harus mencakup pemberitahuan
segera yang sesuai lembaga seperti pemadam kebakaran, polisi, dan atau tentara,
serta kantor bencana nasional. Agar jika terjadi kebakaran, pertimbangan untuk
mengirim pemberitahuan yang mencolok, di berbagai lokasi di rumah sakit, dapat
segera terinformasikan dan penanganan dapat segera di atasi. Seperti contoh
notifikasi yang ditunjukkan di bawah ini :

 Jenis-Jenis Evakuasi
Kerangka waktu untuk evakuasi mungkin berbeda tergantung pada sifat ancaman
dan jumlah waktu yang bisa diambil untuk mempersiapkan pasien bergerak. Jenis
evakuasi khusus adalah sebagai berikut:

• "Langkah darurat" - segera


Segera mengevakuasi atau pasien dan staf bisa
mati; tidak ada waktu untuk
mempersiapkan.

• Evakuasi secepat dan seaman mungkin;


Cepat waktu terbatas untuk mempersiapkan (1
hingga 2 jam) dan ikuti prosedur.

• Tidak ada bahaya langsung; waktu yang


Bertahap cukup untuk prosedur evakuasi sistematis
(banyak jam hingga beberapa hari).

• Jangan memindahkan pasien, tetapi


Persiapan mulailah bersiap untuk evakuasi.
xxiii
Ancaman api dan bom, misalnya, mungkin memerlukan evakuasi segera atau cepat
tergantung pada tingkat bahaya. Bencana alam dengan periode peringatan yang
memadai, seperti angin topan dan banjir, mungkin hanya membutuhkan waktu yang
bertahap seperti evakuasi fasilitas perawatan kesehatan. Tindakan berikut mungkin
diperlukan ketika jenis instruksi evakuasi "Persiapan" dikeluarkan:
 Jika Anda mendengar alarm kebakaran atau melihat lampu berkedip, tutup
semua pintu api di area Anda.
 Pastikan bahwa koridor jalan keluar jelas untuk memungkinkan pergerakan
pasien dan peralatan.
 Cari dan amankan rekam medis pasien dan persediaan medis.
 Siapkan peralatan transportasi evakuasi siap pakai seperti kursi roda, selimut,
dan brankar.
 Buat gerakan sistem untuk memindahkan orang ke titik yang ditunjuk.
 Tunggu instruksi selanjutnya, jangan mengungsi kecuali diberi kewenangan
untuk melakukannya.

 Perpindahan Pergerakan
Komandan insiden rumah sakit menentukan, berdasarkan laporan dari orang-orang
yang terdeteksi dan / atau dilaporkan adanya situasi kebakaran, jenis evakuasi seperti
apa saja yang diperlukan adalah sebagai berikut :
 Horizontal: Mode utama evakuasi, ini melibatkan memindahkan pasien
yang berada dalam bahaya segera ancaman tetapi menjaga mereka di lantai
mereka saat ini.
 Vertikal: Ini biasanya melibatkan evakuasi lengkap dari lantai tertentu di
rumah sakit. Pasien dan staf akan dievakuasi keluar dari rumah sakit hanya
jika perlu.
 Tetap Tinggal di Tempat: Staf dapat diinstruksikan untuk "berlindung di
tempat" yaitu tetap di unit mereka dan menunggu instruksi selanjutnya.
Jenis pergerakan tergantung pada jenis bahaya; misalnya, api mungkin berada di
lantai bawah.
 Rute Evakuasi
Rute evakuasi harus ditetapkan dengan jelas. Semua staf rumah sakit harus
mengetahui tentang rute evakuasi dan mana yang harus diambil, berdasarkan jenis
evakuasi dan seperti yang diinstruksikan oleh komandan insiden rumah sakit.
Anggota staf yang ditugaskan secara khusus, kadang-kadang disebut sebagai
"sipir" atau "petugas kesehatan dan keselamatan," seharusnya kemudian
mengarahkan pasien dan pengunjung untuk secara teratur dan tenang untuk
mengungsi. Perencanaan evakuasi harus mempertimbangkan semua ruang di sekitar
rumah sakit. Ini akan membantu dalam pengembangan rute transit darurat, area titik
kumpul, dan sebagainya.

2.8 PERKIRAAN SUMBER DAYA MANUSIA YANG DIBUTUHKAN


Evakuasi yang efektif dari fasilitas perawatan kesehatan tergantung pada jumlah
staf dan personil terlatih yang tersedia, kapan saja diberikan titik waktu, untuk
melakukan tugas evakuasi yang diperlukan. Memahami ruang lingkup evakuasi dan
mengetahui jumlah minimum orang yang diperlukan untuk melakukan prosedur ini
jika terjadi keadaan darurat penting dalam menyelamatkan nyawa.
 Rasio staf didasarkan pada protokol rumah sakit dan peraturan perundangan
negara.
 Umumnya, semua departemen lain (mis., Biomedis) mungkin memiliki satu
orang yang bertugas setelah jam kerja regular atau semua personel di
departemen akan dipanggil.
 Setiap shift harus memiliki petugas kesehatan dan keselamatan atau sipir di
tempat yang terlatih dan berpengetahuan mengenai respons kebakaran dan
prosedur evakuasi. Jumlah minimum sipir yang bertugas ditentukan sesuai
dengan protokol darurat fasilitas perawatan kesehatan.
 Dalam beberapa kasus, relawan dapat membantu evakuasi bertahap atau cepat
dari rumah sakit.

xxv
2.9 PERLUNYA MEMPERHATIKAN KEBUTUHAN KHUSUS PASIEN

Penting untuk mengidentifikasi kebutuhan khusus pasien, beberapa di


antaranya mungkin memerlukan perhatian tambahan :
 Kebutuhan Pasien Penyandang Cacat
Pasien yang tidak dapat mendengar atau melihat atau berada di bawah anestesi
(tidak sadar) pada saat evakuasi mungkin membutuhkan akomodasi khusus.
 Kebutuhan Perawatan dan Peralatan Medis
Pasien mungkin memerlukan peralatan pendukung kehidupan spesifik
(misalnya, ventilator) yang harus menyertai mereka kapanpun mereka
mengungsi. Peralatan yang dioperasikan dengan baterai harus diperiksa secara
teratur saat melewati rumah sakit agar pemeliharaan dapat terprogram dengan
baik. Obat spesifik yang diperlukan pasien untuk pengobatan juga harus
menyertai mereka ketika mereka mengungsi.
 Kebutuhan Dukungan Emosional
Pasien mungkin memerlukan dukungan psikologis sebagai akibat dari stres
situasi bencana.
Biasanya, persediaan medis disimpan di dalam gedung rumah sakit utama;
idealnya, bagaimanapun, mereka harus disimpan dalam
fasilitas independen yang dirancang untuk menahan bahaya. Ini akan
memungkinkan akses mudah ke pasokan medis kritis dan peralatan untuk
mengobati pasien selama evakuasi.

2.10 PASIEN PRIORITAS DALAM EVAKUASI

Memprioritaskan pasien sehubungan dengan sumber daya fisik terbatas yang


tersedia untuk evakuasi (misalnya pertugas, lift, tangga, alat transportasi) adalah
salah satu tugas yang paling menantang secara logistik dan etika yang terlibat dalam
evakuasi rumah Sakit. Tidak ada model prioritas tunggal yang akan berfungsi
dengan baik di semua rumah sakit dan semua keadaan.
Di bawah ini adalah beberapa prioritas evakuasi potensial yang umum dalam
aturan yang dipilih. Pemimpin rumah sakit, termasuk kepala eksekutif petugas,
administrator, dan dewan rumah sakit, harus menggunakan aturan ini untuk
membahas pasien prioritas sebagai bagian dari upaya perencanaan mereka. Dalam
evakuasi langsung yang sangat sensitif terhadap waktu dan melibatkan ancaman
langsung dan luas terhadap keselamatan hidup, prioritasnya adalah untuk
mendapatkan sebanyak mungkin pasien selamat. Oleh karena itu, contoh model
(dimana pasien membutuhkan bantuan paling banyak adalah yang terakhir untuk
dipindahkan) dapat diadopsi dalam situasi ini. Prioritas standar seperti situasi ini
ditunjukkan pada Tabel :

Peringkat Prioritas untuk Evakuasi Pasien Segera

Jika waktu sangat penting dan contoh model dapat diterapkan, pasien ICU
dapat dipindahkan setelah semua unit perawatan umum telah dievakuasi. Selain itu,
untuk memaksimalkan jumlah pasien yang dievakuasi dalam waktu paling sedikit,
model ini memastikan bahwa pasien perawatan kritis memiliki akses ke gas medis,
hisap, dan pemantauan selama mungkin.
Jika evakuasi model sumber daya dimungkinkan, pasien ICU harus dievakuasi
karena sumber transportasi tersedia. Meskipun pasien ICU mungkin yang terakhir
meninggalkan rumah sakit, mereka harus menjadi yang pertama meninggalkan titik
kumpul, karena mereka adalah prioritas tertinggi untuk transfer ke rumah sakit lain.
Dalam evakuasi cepat, rencana transportasi standar harus didasarkan pada
proses yang teratur dan cepat di mana seluruh pasien unit perawatan dipindahkan
secara berurutan. Evakuasi secara bersamaan juga dapat dilakukan; yaitu, medis
umum / bedah unit dan ICU dapat dievakuasi secara paralel bila mungkin untuk
menghindari permintaan yang tidak merata.

xxvii
2.11 KONTAK DARURAT/ PEMBERITAHUAN KELUARGA

Harus ada kontak darurat untuk semua pasien. Informasi tentang contact person ini
biasanya disimpan bersama rekam medis pasien. Dalam evakuasi, petugas yang
ditunjuk harus:
 Berusaha untuk memberi tahu anggota keluarga dan pihak lain yang
bertanggung jawab tentang tujuan transfer pasien.
 Jawab panggilan dan tanggapi pertanyaan dari anggota keluarga tentang
kesejahteraan dan lokasi pasien.
 Lokasi pasien saat ini dan tujuan mereka harus ditentukan oleh komandan
insiden rumah sakit.

2.12 PERALATAN SAAT EVAKUASI

Beberapa peralatan ini dapat dipasok oleh kantor bencana nasional, dinas pemadam
kebakaran, atau angkatan pertahanan / tentara. Ada catatan praktis penting yang
perlu diingat ketika menggunakan alat transportasi di rumah sakit saat evakuasi,
seperti berikut:
 Sejumlah peralatan yang cukup harus tersedia untuk mengevakuasi setiap
lantai fasilitas.
 Peralatan harus disimpan di area yang mudah diakses setiap saat; seharusnya
tidak disimpan dalam keadaan terkunci lemari.
 Semua peralatan transportasi harus menjadi bagian dari program pemeliharaan
preventif terencana yang biasa direncanakan. Dalam hal evakuasi, penting
untuk memiliki peralatan transportasi yang tersedia untuk pasien. Peralatan ini
mungkin seperti ; selimut, kursi roda, tempat tidur, dan lainnya.
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Kebakaran merupakan salah satu bencana yang memerlukan tindakan penanganan secara
cepat dan tepat. Semakin cepat dan tepat penanganan bencana kebakaran, maka kerugian
(baik kerugian berupa hilangnya nyawa, cederanya manusia maupun kemgian materiil).
Adapun langkah-langkah prosedur evakuasi keadaan darurat kebakaran yang akan diarahkan
seperti berikut ini:
1. Tetap tenang dan jangan panik
2. Segera menuju tangga darurat yang terdekat dengan berjalan biasa dengan cepat namun
tidak berlari
3. Beritahu orang lain/tamu yang masih berada didalam ruangan lain untuk segera
melakukan evakuasi

3.2 SARAN
Pengelolaan korban massal seringkali menjadi masalah umum yang sering terjadi ketika
terjadi bencana kebakaran. Untuk itu kita perlu mengetahui dan memperdalam lagi tentang
pengelolaan korban massal bencana kebakaran untuk menghindari jumlah jatuhnya korban.

xxix
DAFTAR PUSTAKA

Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibar Bencana: Panduan bagi Petugas
Kesehatan yang Bekerja dalam Penanganan Krisis Kesehatan akibat Bencana di
Indonesia. Pusat Penanggulangan Krisis, Depkes RI.Jakarta, 2007.
Pan American Health Organization. 2014. Hospital Don't Burn! Hospital Fire Prevention
and Evacuation. Washington DC: PAHO.
Setyawan Arief, dkk. 2008. Studi Eksploratif Tingkat Kesadaran Penghuni Gedung
Bertingkat Terhadap Bahaya Kebakaran: Studi Kasus Di Universitas Kristen Petra
Surabaya. 4 (1): 28-38

Sumber internet :
https://www.bromindo.com/prosedur-evakuasi-keadaan-darurat-kebakaran/ (diakses pada
Jumat, 6 April 2018, pukul 16:35)
https://www.bromindo.com/tindakan-untuk-menolong-korban-kebakaran/ (diakses pada
Jumat, 6 April 2018, pukul 16:54)
https://www.scribd.com/document/363161593/MAKALAH-BENCANA-KEBAKARAN
(diakses pada Jumat, 6 April 2018, pukul 17:09)