Anda di halaman 1dari 9

Analisis Partisipasi Murni (APM)

Keberhasilan pembangunan suatu wilayah ditentukan oleh sumber


daya manusia yang berkualitas. Pendidikan merupakan salah satu cara
meningkatkan kualitas SDM tersebut. Oleh karena itu, peningkatan mutu
pendidikan harus terus diupayakan, dimulai dengan membuka kesempatan
seluas-luasnya kepada penduduk untuk mengenyam pendidikan, hingga pada
peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pendidikan. Salah
satu cara untuk mengetahui seberapa banyak penduduk yang memanfaatkan
fasilitas pendidikan dapat dilihat dari persentase penduduk menurut
partisipasi sekolah yaitu dengan menghitung Angka Partisipasi Murni (APM).
APM merupakan Proporsi penduduk pada kelompok umur jenjang
pendidikan tertentu yang masih bersekolah terhadap penduduk pada
kelompok umur tersebut. Sejak tahun 2007, Pendidikan Non Formal (Paket
A, Paket B, dan Paket C) turut diperhitungkan (BPS, 2014). APM
menunjukkan partisipasi sekolah penduduk usia sekolah di tingkat pendidikan
tertentu. Seperti APK, APM juga merupakan indikator daya serap penduduk
usia sekolah di setiap jenjang pendidikan. Tetapi, jika dibandingkan APK,
APM merupakan indikator daya serap yang lebih baik karena APM melihat
partisipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang
sesuai dengan standar tersebut.
APM di suatu jenjang pendidikan didapat dengan membagi jumlah
siswa atau penduduk usia sekolah yang sedang bersekolah dengan jumlah
penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang sekolah tersebut.
Hasil perhitungan APM Jawa Barat pada tahun 2015 yaitu sebesar 97,68%
untuk SD/MI, 79,55% untuk SMP/MTS, 56,73% untuk SM Sederajat, dan
15,78% utuk Perguruan Tinggi. Jika dilihat dari tiap kabupaten, nilai APM
SD/MI tertinggi terdapat pada Kabupaten Kuningan yaitu sebesar 100% yang
artinya Seluruh penduduk Kabupaten Kuningan pada usia 7-12 bersekolah
pada jenjang sekolah dasar. Mernurut BPS (2014), Jika APM = 100, berarti
seluruh anak usia sekolah dapat bersekolah tepat waktu, jadi seluruh
penduduk Kabupaten kuningan pada usia 7-12 tahun dapat bersekolah tepat
waktu. Sedangkan APM SD/MI terendah terdapat pada Kota Bogor yaitu
Sebesar 94,82% yang artinya terdapat 94,82% penduduk Kabupaten Bogor
yang berusia 7-12 tahun yang bersekolah pada jenjang sekolah dasar. APM
SMP/MTS tertinggi terdapat pada Kota Sukabumi yaitu sebesar 91,74%.
APM SMP/MTS terendah terdapat pada kabupaten Bogor yaitu sebesar
72,97%. APM SMA Sederajat tertinggi terdapat pada Kota Bekasi yaitu
sebesar 80,98%. APM SMA Sederajat terendah terdapat pada Kabupaten
Cianjur yaitu sebesar 37,18%. APM PT tertinggi terdapat pada Kota Bandung
yaitu sebesar 39,60%. APM PT terendah terdapat pada kabupaten Cianjur
yaitu sebesar 3,86%. Jika dilihat dari grafik APM SD/MI hingga Perguruan
tinggi menunjukkan hasil tren yang berbeda-beda tiap kabupatennya ada yang
memiliki nilai APM yang tinggi dan ada juga yang memiliki nilai yang
rendah. Hal tersebut disebabkan oleh Prodik Domestik Bruto (PDRB), Akses
Air Bersih, Rasio Murid Sekolah, Tingkat Kemiskinan, Angka melek Huruf,
Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus (BPPN, 2009). Dari hasil
diatas menunujukkan bahwa pendidikan di Jawa Barat telah memenuhi
program pemerintah wajib belajar 12 tahun. Menurut BPPN (2009) Jawa
Barat merupakan salah satu Provinsi yang memiliki tingkat APM yang
melebihi rata-rata, sehingga dapat diketahui bahwa pendidikan di Jawa Barat
sudah baik, hal ini dipengaruhi oleh akses keterjangkauan dimana Jawa Barat
merupakan wilayah yang berbatasan dengan wilayah ibukota sehingga untuk
infrastruktur dan fasilitas umum lainnya sudah tertata dengan baik dan mudah
untuk diakses. Selain itu, kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan
juga yang menyebabkan nilai APM di Jawa Barat menjadi tinggi.
Rasio Jenjang
Pengukuran kualitas pendidikan seringkali menitikberatkan kepada
ketersediaan fasilitas sekolah, bahan ajar, murid, dan pengajar. Perhitungan
kualitas pendidikan dapat ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya Rasio
siswa dibandingkan jumlah guru dan Rasio Jumlah Guru dan Sekolah. Rasio
Jenjang tersebut dapat gunakan untuk mengevaluasi bahwa suatu daerah
sudah memiliki tingkat pendidikan yang sudah baik atau belum. Selain itu,
rasio jenjang dapat berpengaruh pada ketepatan murid dalam menuntaskan
sekolahnya.
Rasio jenjang SD antara Siswa dan Guru pada Provinsi Jawa Barat yaitu
sebesar 18,51%, sedangkan Rasio jenjang MI antara Siswa dan Guru pada
Provinsi Jawa Barat yaitu sebesar 14,65%. Rasio jenjang SD antara Siswa
dan Guru tertinggi yaitu terdapat pada Kabupaten Bogor yaitu sebesar
24,01% yang artinya tiap 1 guru harus mengajar sejumlah 24 murid SD di
Kabupaten Bogor. Rasio jenjang SD antara Siswa dan Guru terendah yaitu
terdapat pada Kabupaten Pangandaran yaitu sebesar 11,16% yang artinya tiap
1 guru hanya mengajar 11 murid SD di Kabupaten Pangandaran. Hal tersebut
berarti bahwa Kabupaten Bogor membutuhkan lebih banyak guru lagi untuk
memenuhi standar SNI, sedangkan Kabupaten Pangandaran membutuhkan
lebih banyak murid lagi agar sesuai dengan SNI. Rasio jenjang MI antara
Siswa dan Guru tertinggi yaitu terdapat pada Kota Sukabumi yaitu sebesar
19,60%. Rasio jenjang MI antara Siswa dan Guru terendah yaitu terdapat
pada Kabupaten Majalengka yaitu sebesar 9,01%. Perbedaan nilai rasio
antara SD dan MI menunjukkan bahwa nilai rasio SD lebih besar daripada
nilai rasio MI, dapat diartikan bahwa minat pendidikan penduduk di Jawa
Barat lebih memilih SD daripada MI. Rasio jenjang SD antara Guru dan
Sekolah pada Provinsi Jawa Barat yaitu sebesar 12,90%, sedangkan Rasio
jenjang MI antara Siswa dan Guru pada Provinsi Jawa Barat yaitu sebesar
11,08%. Rasio jenjang SD antara guru dan sekolah menandakan bahwa tiap 1
sekolah harus ada beberapa pengajar. Besarnya rasio SD daripada MI
menandakan bahwa jumlah bangunan SD lebih banyak dari pada MI. Rasio
jenjang SD antara Guru dan Sekolah tertinggi yaitu terdapat pada Kota
Cirebon yaitu sebesar 24,01% yang artinya tiap 1 sekolah ada 24 guru yang
mengajar. Rasio jenjang SD antara Guru dan Sekolah terendah yaitu terdapat
pada Kabupaten Tasikmalaya yaitu sebesar 11,16% yang artinya tiap 1
sekolah ada 11 pengajar. Hal ini menunjukkan bahwa Kota Cirebon sudah
melebihi SNI dan ketersediaan guru untuk mengajar sudah mencukupi sedang
Kabupaten Majalengka belum sesuai SNI dan masih kekurangan guru untuk
mengajar pada tiap sekolahnya. Rasio jenjang MI antara Guru dan Sekolah
tertinggi yaitu terdapat pada Kota Cirebon yaitu sebesar 19,60%. Rasio
jenjang MI antara Guru dan Sekolah terendah yaitu terdapat pada Kabupaten
Garut yaitu sebesar 6,95%. Semakin besar nilai rasio antara murid dan guru
menandakan bahwa 1 guru harus mengajar sejumlah hasil rasio. Hasil
perhitungan rasio jenjang pada provinsi Jawa Barat ini menunjukkan bahwa
baik rasio siswa per guru maupun rasio Guru per Sekolah tidak berpengaruh
signifikan terhadap Angka Lulusan SD. Kondisi rasio siswa per guru SD/MI
tidak hanya dipandang dari segi kuantitas semata dengan tercapainya rasio
standar nasional 20:1, namun perlu juga dilihat dari segi kualitas yaitu
melihat kondisi kelayakan mengajar maupun pelatihan yang pernah
diikutinya. Tidak ditemukannya pengaruh yang signifikan antara rasio siswa
per guru dengan angka lulusan SD/MI disebabkan karena data provinsi Jawa
Barat dalam Angka tahun 2015 dari jumlah guru yang tersedia untuk
melayani siswa SD/MI terdapat kondisi guru sudah tepat dan sesuai dengan
Standar Nasional Indonesia.
Tabe x.x Angka Partisipasi Masyarakat (APM) Provinsi Jawa Barat
tahun 2015
2015
KABUPATEN/KOTA
APM_SD APM_SMP APM_SMA APM_PT
Bogor 96.29 72.97 55.10 11.84
Sukabumi 99.65 75.76 43.94 9.92
Cianjur 99.89 78.40 37.18 3.86
Bandung 98.00 82.14 55.49 17.04
Garut 98.09 75.28 44.60 5.71
Tasikmalaya 99.09 76.98 54.80 12.16
Ciamis 99.75 78.19 63.39 15.95
Kuningan 100.00 81.58 61.44 11.86
Cirebon 94.82 78.41 57.18 9.00
Majalengka 97.10 82.42 48.68 10.49
Sumedang 99.75 79.53 56.35 20.25
Indramayu 100.00 76.02 60.81 12.43
Subang 97.28 81.78 41.18 9.16
Purwakarta 99.09 83.38 46.94 9.99
Karawang 97.47 84.77 52.70 9.80
Bekasi 99.62 82.23 58.64 9.28
Bandung Barat 96.56 79.39 47.25 6.93
Pangandaran 96.28 77.25 72.98 7.02
Kota Bogor 94.89 77.64 67.31 20.32
Kota Sukabumi 97.60 91.74 71.83 20.70
Kota Bandung 96.25 87.23 74.06 39.60
Kota Cirebon 96.70 82.42 60.72 17.59
Kota Bekasi 94.93 80.66 80.98 33.43
Kota Depok 96.08 82.72 69.72 27.97
Kota Cimahi 98.02 90.85 70.30 32.29
Kota Tasikmalaya 98.34 85.12 69.78 18.01
Kota Banjar 98.07 86.54 71.15 15.85
Jawa Barat 97.76 81.16 59.06 15.50
Grafik Angka Partisipasi Murni SD/MI Provinsi Jawa Barat tahun 2015
101.00
100.00
99.00

APM SD/MI
98.00
97.00
96.00
95.00
94.00
93.00
92.00
APM_SD

Kabupaten/Kota
Gambar XX. Grafik APM SD Provinsi Jawa Barat tahun 2015
Sumber: Hasil Analisis Data BPS, 2018

Grafik Angka Partisipasi Murni SMP /MTs Provinsi Jawa Barat tahun 2015
100.00
90.00
APM SMP/MTs

80.00
70.00
60.00
50.00 APM_S…
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00

Kabupaten/Kota
Gambar XX. Grafik APM SMP Provinsi Jawa Barat tahun 2015
Sumber: Hasil Analisis Data BPS, 2018
Grafik Angka Partisipasi Murni SMA Sederajat Provinsi Jawa Barat tahun 2015
90.00

APM SMA Sederajat


80.00
70.00
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00 APM_SMA

Kabupaten/Kota
Gambar XX. Grafik APM SMA Provinsi Jawa Barat tahun 2015
Sumber: Hasil Analisis Data BPS, 2018

Grafik Angka Partisipasi Murni Perguruan Tinggi Provinsi Jawa Barat tahun 2015
45.00
40.00
35.00
30.00
APM PT

25.00
20.00
15.00
10.00
5.00
0.00
APM_PT

Kabupaten/Kota
Gambar XX. Grafik APM PT Provinsi Jawa Barat tahun 2015
Sumber: Hasil Analisis Data BPS, 2018
Tabel Jumlah Murid, guru, dan Rasio Jenjang Sekolah Dasar (SD)

Rasio Rasio Guru


Kabupaten/Kota ∑Murid ∑Guru ∑Sekolah Murid per per
Guru Sekolah
Bogor 525778 21894 1788 24.01 12.24
Sukabumi 242280 11820 1205 20.50 9.81
Cianjur 254363 14099 1254 18.04 11.24
Bandung 393398 16714 1431 23.54 11.68
Garut 298279 16222 1583 18.39 10.25
Tasikmalaya 169851 10391 1090 16.35 9.53
Ciamis 100214 7720 751 12.98 10.28
Kuningan 104924 7208 650 14.56 11.09
Cirebon 206870 10833 923 19.10 11.74
Majalengka 118135 7972 668 14.82 11.93
Sumedang 110488 7563 612 14.61 12.36
Indramayu 164404 9341 892 17.60 10.47
Subang 146942 9208 872 15.96 10.56
Purwakarta 102003 5606 429 18.20 13.07
Karawang 229464 10923 890 21.01 12.27
Bekasi 306148 14633 917 20.92 15.96
Bandung Barat 161087 8159 704 19.74 11.59
Pangandaran 34181 3062 295 11.16 10.38
Kota Bogor 109326 4971 277 21.99 17.95
Kota Sukabumi 34227 1845 118 18.55 15.64
Kota Bandung 236108 11792 821 20.02 14.36
Kota Cirebon 37197 2043 162 18.21 12.61
Kota Bekasi 260204 11929 700 21.81 17.04
Kota Depok 171725 7601 440 22.59 17.28
Kota Cimahi 52432 2394 124 21.90 19.31
Kota Tasikmalaya 66251 3567 233 18.57 15.31
Kota Banjar 16237 1067 86 15.22 12.41
Jawa Barat 4652516 240577 19915 18.53 12.90
Tabel Jumlah Murid, guru, dan Rasio Jenjang Madrasah Ibtidai'ah (MI)

Rasio Rasio Guru


Kabupaten/Kota ∑Murid ∑Guru ∑Sekolah Murid per per
Guru Sekolah
Bogor 119534 6649 610 17.98 10.90
Sukabumi 54736 3011 336 18.18 8.96
Cianjur 31602 2097 220 15.07 9.53
Bandung 27456 2923 187 9.39 15.63
Garut 36980 2064 297 17.92 6.95
Tasikmalaya 28341 1836 212 15.44 8.66
Ciamis 28799 2284 215 12.61 10.62
Kuningan 11460 825 85 13.89 9.71
Cirebon 25564 1650 152 15.49 10.86
Majalengka 8005 888 74 9.01 12.00
Sumedang 7540 706 58 10.68 12.17
Indramayu 20754 1544 137 13.44 11.27
Subang 12121 1033 107 11.73 9.65
Purwakarta 5365 430 42 12.48 10.24
Karawang 23160 1198 139 19.33 8.62
Bekasi 33066 2164 198 15.28 10.93
Bandung Barat 27064 2021 197 13.39 10.26
Pangandaran - - - - -
Kota Bogor 12693 796 56 15.95 14.21
Kota Sukabumi 4489 229 26 19.60 8.81
Kota Bandung 12363 756 68 16.35 11.12
Kota Cirebon 3971 352 20 11.28 17.60
Kota Bekasi 21766 1611 132 13.51 12.20
Kota Depok 32092 1638 135 19.59 12.13
Kota Cimahi 3562 261 20 13.65 13.05
Kota Tasikmalaya 9720 547 51 17.77 10.73
Kota Banjar 2925 246 22 11.89 11.18
Jawa Barat 605128 39759 3796 14.65 11.08

Sumber :
Badan Pusat Statistik (BPS). 2014. Angka Partisipasi Murni (APM) menurut Tipe Daerah,
Jenis Kelamin dan Jenjang Pendidikan. Diunduh dari: http://www.bps.go.id/ tanggal 24
Februari 2018.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BPPN). 2009. Evaluasi Pelaksanaan Program
Wajardikdas 9 Tahun. Jakarta : BPPN.