Anda di halaman 1dari 24

PRESENTASI KASUS

NEURODERMATITIS

Pembimbing :
dr. Ismiralda Okke Putranti, Sp. KK

Disusun oleh :
Supardi G4A015130

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO

2017

1
LEMBAR PENGESAHAN

PRESENTASI KASUS
Neurodermatitis

Diajukan untuk memenuhi syarat


mengikuti ujian Kepaniteraan Klinik
di bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo Purwokerto

telah disetujui dan dipresentasikan


pada tanggal: April 2017

Disusun oleh :
Supardi G4A015130

Purwokerto, April 2017


Pembimbing,

dr. Ismiralda Okke Putranti, Sp. KK

2
PRESENTASI KASUS

NEURODERMATITIS

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
karunia-Nya lah penulis dapat menyelesaikan penulisan presentasi kasus
”Neurodermatitis”. Penulisan presentasi kasus ini merupakan salah satu syarat
untuk mengikuti ujian Kepaniteraan Klinik di bagian Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Penulis berharap dapat
bermanfaat untuk kepentingan pelayanan kesehatan, pendidikan. Dalam
kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ungkapan terima kasih kepada:
1. dr. Ismiralda Okke Putranti, Sp. KK selaku pembimbing yang telah
memberikan bimbingan dan masukan dalam penyusunan presentasi kasus ini.
Penulis sadar sepenuhnya bahwa dalam penyusunan presentasi kasus ini masih
banyak dijumpai kekurangan. Oleh karena itu, segala masukan yang bersifat
membangun dari para penelaah sangat diharapkan demi proses penyempurnaan.

Purwokerto, April 2017

Penyusun

3
PENDAHULUAN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. K
Umur : 70 tahun
Pekerjaan : Petani
Alamat : Karanggendep 2/2 - patikraja
Jenis Kelamin : Laki-laki
Bangsa : Indonesia, suku Jawa
Agama : Islam
No. CM : 403055
Tanggal masuk RS : 24 maret 2017

II. ANAMNESIS
Diambil dari auto anamnesis pada tanggal 24 Maret 2017 pukul 11.00 WIB
1. Keluhan utama
Gatal dibagian kedua kaki dan lutut.
2. Keluhan tambahan
Kulit menjadi kasar, tebal dan berdarah karena digaruk,dan terasa perih
serta panas.
3. Riwayat penyakit sekarang
Pasien merasakan gatal di kedua kaki dan lutut sejak 1 tahun yang
lalu. Sejak 6 bulan sebelum masuk rumah sakit, muncul kemerahan pada
kulit dibagian kedua kaki dan disertai dengan kulit terasa tebal. Gatal
dirasakan semakin bertambah sehingga pasien seringkali tidak tahan dan
akhirnya menggaruk-garuk daerah yang gatal sehingga daerah yang gatal
terkadang sampai berdarah. Pasien merasakan daerah yang gatal lama-
kelamaan menjadi terasa tebal dan bersisik akibat pasien sering
menggaruknya.
Pasien merasakan gatal bertambah apabila pasien banyak pikiran
dan stres. Sebelumnya pasien sudah pernah berobat ke puskesmas
terdekat dengan keluhan yang sama, pasien diberikan obat berupa salep

4
yang dioleskan pada daerah yang gatal, setelah menggunakan salep
tersebut pasien mengaku keluhan membaik namun setelah obat habis
keluhan dapat muncul kembali
Pasien menyangkal keluhan gatal menjadi semakin bertambah
apabila pasien sedang berkeringat ataupun bertambah berat apabila
pasien menggunakan detergen untuk mencuci.

4. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


a. Riwayat Alergi : Disangkal
b. Riwayat Kencing manis : Disangkal
c. Riwayat Penyakit Asma : Disangkal
d. Riwayat Penyakit Hipertensi : Disangkal
e. Riwayat Penyakit Ginjal : Disangkal

5. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


1. Tidak ada anggota keluarga dengan keluhan serupa
2. Riwayat Alergi : Disangkal
3. Riwayat Kencing manis : Disangkal
4. Riwayat Penyakit Ginjal : Disangkal
5. Riwayat Penyakit asma : Disangkal
6. Riwayat hipertensi : Disangkal

6. RIWAYAT SOSIAL& KEBIASAAN


Pasien seorang laki-laki yang pekerjaan sehari-harinya sebagai petani, dan
tinggal didaerah padat penduduk bersama anak dan cucunya.

III. PEMERIKSAAN FISIK


1. Status Umum
Keadaan umum : Baik, kooperatif
Kesadaran : Compos mentis, GCS E4 M6 V5
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 88 x/menit

5
RR : 18 x/menit
Suhu : 36.8oC
BB : 60
TB : 160
IMT : 23,43 (overwheight)

2. Status Generalis
Kepala : Mesocephal,rambut hitam-putih, distribusi merata.
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), pupil
isokor.
Hidung : Discharge (-/-), tidak ada deviasi septum, nafas
cuping hidung (-)
Mulut/gigi : Bibir sianosis (-), lidah tidak kotor.
Telinga : Daun telinga simetris, serumen (+/+), discharge
(-/-)
Leher : Tidak ada pembesaran limfonodi
Kulit : Sianosis (-), turgor cukup

Pemeriksaan Thorax
Inspeksi : Dinding dada simetris, jejas (-) retraksi (-/-)
Palpasi : Vokal fremitus paru kanan sama dengan kiri
Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi : Suara nafas vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Pemeriksaan Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba di SIC V linea midklavikula sinistra
Perkusi : Batas jantung
Kanan atas SIC II linea parasternal dextra
Kiri atas SIC II linea parasternal sinistra.
Kanan bawah SIC IV linea parasternal dextra
Kiri bawah SIC V linea mid clavicula sinistra
Auskultasi : S1 > S2, regular, murmur (-), gallop (-)

6
Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : Datar, striae (-), distensi (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi : Supel, Nyeri tekan (-), defans muskuler tidak ada
Perkusi : Tympani

Pemeriksaan ginjal
Inspeksi : Kelainan (-) di daerah costo vertebrae kanan dan kiri
Palpasi : Nyeri tekan (-/-), Ballotement (-/-)
Perkusi : Nyeri ketok costo vertebra (-/-)

3. Status Dermatologis
Regio genue dextra dan sinistra
Effloresensi : Plak eritem disertai likenifikasi dan skuamasi, serta terdapat
ekskoriasi mulipel berwarna merah disekitarnya. Plak bentuk bulat, ukuran
3 cm x 1 cm, susunan soliter.
Regio dorsum pedis dextra dan sinistra :
Effloresensi: Plak eritem ditutupi likenifikasi dan skuamasi, serta terdapat
ekskoriasi multipel berwarna merah di sekitarnya. Plak bentuk bulat,
ukuran 2 cm x 1cm , susunan soliter.

7
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang

V. DIAGNOSA KERJA
Neurodermatitis (Liken simpleks kronis)

VI. DIAGNOSIS BANDING


1. Liken Planus
Predileksi: permukaan fleksor pergelangan tangan, batang tubuh, kaki, glans
penis, medial paha, selaput lendir dan vagina.
UKK : lesi yang khas berupa papula kecil, datar, poligonal permukaan
mengkilap, warna keunguan, berangulasi dengan anyaman garis keabu-abuan
(wickham’s striae) pada permukaannya. Di atasnya terdapat skuama halus.

2. Psoriasis
Predileksi: scalp. Tengkuk, interskapula, lumbosakral, bagian ekstensor lutut
dan siku, areola, mamaer, lipatan mamae, umbilicus, punggung kaki dekat
pergelangan.
UKK: makula eritematosa yang merata berbatas tegas dengan skuama tebal
diatasnya. Skuama kasar berlapis-lapis, warna putih transparan, bentuk bulat
atau lonjong, ukuran bervariasi.

3. Dermatitis Atopik
Predileksi: muka, kepala, tengkuk, lipat siku, pergelangan tangan, fosa
poplitea.
UKK : edema, vesika/ bula, dapat disertai ekskoriasi. Pada keadaan kronik
dapat terjadi penebalan kulit/likenifikasi dan hiperpigmentasi.

8
VII. PENATALAKSANAAN
a. Non medikamentosa
1. Edukasi kepada pasien tentang penyakitnya
2. Mencegah garukan pada daerah yang gatal
3. Hindari stress psikologis
4. Istirahat yang cukup
5. Menjaga kebersihan kulit, dan menjaga kelembapan kulit agar kulit tidak
kering.

b. Medikamentosa
Sistemik :
1. Antihistamin : Loratadine 10 mg 1x1 tab
2. Antianxietas : amitriptylin tab 1x1 (malam)
3. Topikal : Betametason 5 gr cream

VIII. PROGNOSIS
Ad vitam : Bonam
Ad fungtionam : Dubia ad bonam
Ad sanationam : Dubia ad bonam

9
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Liken simpleks kronikus adalah Penebalan kulit dengan skala variabel
yang timbul sekunder karena garukan atau gosokan berulang-ulang.
Peradangan kulit kronis, gatal, sirkumskrip, ditandai dengan kulit tebal dan
garis kulit tampak lebih menonjol (likenifikasi) menyerupai kulit batang kayu,
akibat garukan atau gosokan yang berulang-ulang karena berbagai rangsangan
pruritogenik (Djuanda, 2010).
Liken simpleks kronikus atau Neurodermatitis sirkumskripta merupakan
proses yang sekunder ketika seseorang mengalami sensasi gatal pada daerah
kulit yang spesifik dengan atau tanpa kelainan kulit yang mendasar yang
dapat mengakibatkan trauma mekanis pada kulit yang berakhir dengan
likenifikasi. Penyakit ini biasanya timbul pada pasien dengan kepribadian
yang obsessif, dimana selalu ingin menggaruk bagian tertentu dari tubuhnya.
Keinginan untuk menggaruk kadang muncul dari hal-hal yang sepele
seperti luka, gigitan serangga, kulit kering, pakaian, luka bakar, bintil-
bintil atau jerawat, atau dermatitis atopik. Pada awalnya merupakan hal
yang normal, karena adanya gatal sehingga terjadi garukan yang berulang.
Beberapa jenis kulit lebih rentan terhadap likenifikasi, seperti kulit yang
cenderung kearah eksematous (yaitu dermatitis atopik, diastesis atopik).
(Hogan, 2012).

B. SINONIM
Nama lain dari liken simpleks kronikus adalah neurodermatitis sirkumskripta,
istilah yang pertama kali dipakai oleh Vidal, oleh karena itu disebut pula liken
(Djuanda, 2010).

C. EPIDEMIOLOGI
Semua kelompok umur mulai dari anak-anak sampai dewasa dapat terkena
penyakit ini. Kelompok usia dewasa 30 – 50 tahun paling sering mengalami
keluhan neurodermatitis. Secara umum neurodermatitis dapat terjadi pada
laki-laki dan wanita, tetapi lebih sering dilaporkan terjadi pada wanita pada

10
umur pertengahan Individu. Neurodermatitis jarang terjadi pada anak-anak,
karena neurodermatitis merupakan penyakit yang bersifat kronis dan
dipengaruhi oleh keadaan emosi dan penyakit yang mendasarinya. Dilihat
dari ras dan suku bangsa, Asia terutama ras mongoloid lebih sering terkena
penyakit ini kemungkinan karena faktor protein yang dikonsumsinya berbeda
dengan ras dan suku bangsa lainnya (Koenig, 2012)

D. ETIOLOGI
Penyebab liken simpleks kronikus belum diketahui secara pasti. Namun ada
berbagai faktor yang mendorong terjadinya rasa gatal pada penyakit ini,
faktor penyebab dari liken simpleks kronikus dapat dibagi menjadi dua yaitu:
(Wolff ,2012)
a. Faktor Eksterna
1) Lingkungan
Faktor lingkungan seperti panas dan udara yang kering dapat
berimplikasi dalam menyebabkan iritasi yang dapat menginduksi
gatal. Suhu yang tinggi memudahkan seseorang berkertingat sehingga
dapat mencetuskan gatal, hal ini biasanya menyebabkan liken
simpleks kronikus pada anogenital.
2) Gigitan serangga
Gigitan serangga dapat menyebabkan reaksi radang dalam tubuh yang
mengakibatkan rasa gatal

b. Faktor Interna
1) Dermatitis atopik
Asosiasi antara liken simpleks kronikus dan ganguan atopik telah
banyak dilaporkan, sekitar 26 % sampai 75 % pasien dengan
dermatitis atopic terkena liken simplek kronikus.
2) Psikologis
Anxietas telah dilaporkan memiliki prevalensi yang tinggi
mengakibatkan neurodermatitis, yang menunjukan peran dari
anxietas atau obsesi sebagai bagian dari proses patologis dari lesi
yang berkembang.

11
E. PATOFISIOLOGI
Kecemasan telah dilaporkan memiliki prevalensi tertinggi yang
mengakibatkan liken simpleks kronikus. Kecemasan sebagai bagian dari
proses patologis dari lesi yang berkembang. Telah dirumuskan bahwa
neurotransmitter yang mempengaruhi perasaan, seperti dopamine, serotonin,
atau peptide opioid, memodulasikan persepsi gatal melalui penurunan jalur
spinal (Hogan, 2012). Stimulus untuk perkembangan liken simpleks kronikus
adalah pruritus. Pruritus sebagai dasar dari gangguan kesehatan dapat
berhubungan dengan gangguan kulit, proliferasi dari nervus dan tekanan
emosional. Pruritus yang memegang peranan penting dapat dibagi dalam dua
kategori besar, yaitu pruritus tanpa lesi dan pruritus dengan lesi. Pasien
dengan liken simpleks kronikus mempunyai gangguan metabolik atau
gangguan hematologik. Pruritus tanpa kelainan kulit dapat ditemukan pada
penyakit sistemik, misalnya gagal ginjal kronik, obstruksi kelenjar biliaris,
hodgkins lymphoma, polisitemia rubra vera, hipertiroidisme, gluten-sensitive
enteropathy dan infeksi imunodefisiensi. Pruritus yang disebabkan oleh
kelainan kulit yang terpenting adalah dermatitis atopik, dermatitis kontak
alergi dan gigitan serangga (Stewart, 2010).
Pada pasien yang memiliki faktor predisposisi, garukan kronis dapat
menimbulkan penebalan dan likenifikasi. Jika tidak diketahui penyebab yang
nyata dari garukan maka disebut liken simpleks kronikus. Adanya garukan
yang terus menerus diduga karena adanya pelepasan mediator dan aktivitas
enzim proteolitik. Walaupun sejumlah peneliti melaporkan bahwa garukan
dan gosokan timbul karena respon dari adanya stress. Adanya sejumlah saraf
mengandung immunoreaktif CGRP (calcitonin gene-related peptide) dan SP
(substance P) meningkat pada dermis. Hal ini ditemukan pada prurigo
nodularis, tetapi tidak pada liken simpleks kronikus. SP dan CGRP
melepaskan histamine dan sel mast yang selanjutnya akan memicu pruritus.
Ekspresi faktor pertumbuhan saraf p75 pada membran sel Schwan dan sel
perineurum meningkat, mungkin ini menghasilkan hiperplasi neural
(Djuanda, 2010).
Liken simpleks kronikus ditemukan pada kulit di daerah yang mudah
diakses untuk digaruk. Pruritus memprovokasi garukan dan gosokan yang

12
menghasilkan lesi klinis, tetapi patofosiologi yang mendasar tidak diketahui.
Beberapa jenis kulit lebih rentan terhadap likenifikasi, seperti kulit yang
cenderung menuju kondisi eczema (yaitu, dermatitis atopik). Suatu hubungan
antara kemungkinan jaringan saraf pusat dan perifer dan produk sel inflamasi
dalam persiapan gatal di liken simpleks kronikus. Ketegangan emosional pada
penderita cenderung mungkin memainkan peran kunci dalam mendorong
sensasi pruritus, mengarahkan untuk menggaruk yang dapat menjadi reflex
dan kebiasaan. Interaksi di antara lesi primer, faktor psikis, dan intensitas
pruritus mempengaruhi tingkat dan keparahan dari liken simpleks kronikus
(Sularsito, 2010).

F. GEJALA KLINIS
Keluhan utama ialah gatal berulang. Pasien akan mengeluh gatal yang
hilang timbul terutama saat sore hari. Rasa gatal memang tidak terus menerus,
biasanya pada waktu tidak sibuk, bila muncul sulit ditahan untuk tidak
digaruk. Penderita merasa enak bila digaruk; setelah luka, baru hilang rasa
gatalnya untuk sementara (karena diganti dengan rasa nyeri). Lesi biasanya
tunggal, pada awalnya berupa plak eritematosa, sedikit edema, lambat laun
edema dan eritema menghilang, bagian tengah berskuama dan menebal,
likenifikasi dan ekskoriasi; sekitarnya hiperpigmentasi, batas dengan kulit
normal tidak jelas. Gambaran klinis dipengaruhi juga oleh lokasi dan lamanya
lesi akibat digaruk. Letak lesi dapat timbul dimana saja, tetapi yang biasa
ditemukan adalah di scalp, tengkuk, samping leher, lengan bagian ekstensor,
pubis, vulva, skrotum, perianal, paha bagian medial, lutut, tungkai bawah
lateral, pergelangan kaki bagian depan, dan punggung kaki (Siregar, 2013).
Gatal juga dapat bertambah pada saat pasien mengalami stress
psikologis. Pada pasien muda, keluhan gatal umumnya kurang dirasakan
karena tidak begitu mengganggu aktivitasnya, akan tetapi keluhan gatalnya
sangat dirasakan seiring bertambahnya usia dan faktor pemicu stressnya.
Kelainan kulit yang terjadi bisa berupa eritem, edema, papul, likenifikasi
(bagian yang menebal), kering, berskuama atau hiperpigmentasi. Ukuran lesi
bervariasi, berbatas tidak tegas dan bentuk umumnya tidak beraturan. Lesi
pada setiap individu pasien berbeda. Tidak ada penjelasan yang tegas
mengenai berapa lama lesi pada neurodermatitis terbentuk (Siregar, 2013).

13
Lesi tergantung dari sering dan lamanya pasien mengalami keluhan gatal dan
menggaruknya. Dari pemeriksaan efloresensi, lesi tampak likenifikasi berupa
penebalan kulit dengan garis-garis kulit yang semakin terlihat, terlihat plak
dengan ekskoriasi serta sedikit eritematosa (memerah) dan edema. Pada lesi
yang sudah lama, lesi akan tampak berskuama pada bagian tengahnya, terjadi
hiperpigmentasi (warna kulit yang digaruk berubah menjadi kehitaman) pada
bagian lesi yang gatal, bagian eritema dan edema akan menghilang, dan batas
lesi dengan bagian kulit normal semakin tidak jelas (Siregar, 2013).

regio dorsum pedis dextra, tampak plak hiperpigmentasi, soliter,


bentuk oval, ukuran 4 x 6 cm,batas tegas, ireguler, permukaan
likenifikasi, bagian sentral tampak eritem,sebagian erosi multipel, tepi
permukaan ditutupi skuama sedang selapis warna putih.

14
Letak lesi bisa timbul dimana saja, tetapi yang biasa ditemukan adalah
di scalp, tengkuk, samping leher, lengan bagian ekstensor, pubis, vulva,
skrotum, perianal, paha bagian medial, lutut, tungkai bawah lateral,
pergelangan kaki bagian depan, dan punggung kaki. Neurodermatitis di
daerah tengkuk (lichen nuchae) umumnya hanya pada wanita, berupa plak
kecil di tengah tengkuk atau dapat meluas hingga ke scalp. Biasanya
skuamanya banyak menyerupai psoriasis (Hogan, 2012).

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan diantaranya adalah:
a. Tes Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium tidak ada tes yang spesifik untuk
neurodermatitis. Tetapi walaupun begitu, satu studi mengemukakan
bahwa 25 pasien dengan neurodermatitis sirkumskripta positif terhadap
patch test. Pada dermatitis atopik dan mikosis fungiodes bisa terjadi
likenefikasi generalisata oleh sebab itu merupakan indikasi untuk
melakukan patch test. Pada pasien dengan pruritus generalisata yang
kronik yang diduga disebabkan oleh gangguan metabolik dan gangguan
hematologi, maka pemeriksaan hitung darah harus dilakukan, juga
dilakukan tes fungsi ginjal dan hati, tes fungsi tiroid, elechtroporesis
serum, tes zat besi serum, tes kemampuan pengikatan zat besi (iron

15
binding capacity), dan foto dada. Kadar immunoglobulin E dapat
meningkat pada neurodermatitis yang atopik, tetapi normal pada
neurodermatitis nonatopik. Bisa juga dilakukan pemeriksaan potassium
hydroksida pada pasien liken simpleks genital untuk mengeleminasi tinea
cruris (Wolff, 2012).
b. Pemeriksaan histopatologi untuk menegakkan diagnosis neurodermatitis
adalah menunjukkan proliferasi dari sel schwann dimana dapat membuat
infiltrasi selular yang cukup besar. Juga ditemukan neural hyperplasia.
Didapatkan adanya hiperkeratosis dengan area yang parakeratosis,
akantosis dengan pemanjangan rete ridges yang irregular, hipergranulosis
dan perluasan dari papillo dermis. Spongiosis bisa ditemukan, tetapi
vesikulasi tidak ditemukan. Papilomatosis kadang-kadang ditemukan.
Ekskoriasi, dimana ditemukan garis ulserasi punctata karena adanya
jaringan nekrotik papila dermis superfisial. Fibrin dan neutrofil bisa
ditemukan, walaupun keduanya biasanya ditemukan pada penyakit
dermatosis yang lain. Pada papillary dermis ditemukan peningkatan
jumlah fibroblas. Pada lesi yang sudah sangat kronis, khususnya pada
likenifikasi yang gigantik besar, akantosis dan hiperkeratosis dapat dilihat
secara gross,danrete ridges tampak ireguler namun tetap memanjang dan
melebar (Wolff, 2012).

H. DIAGNOSIS
Diagnosis untuk neurodermatitis/ liken simpleks kronis dapat
ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan
penunjang. Pasien dengan neurodermatitis mengeluh merasa gatal pada satu
daerah atau lebih. Sehingga timbul plak yang tebal karena mengalami proses
likenifikasi. Biasanya rasa gatal tersebut muncul pada tengkuk, leher,
ekstensor kaki, siku, lutut, pergelangan kaki. Eritema biasanya muncul pada

16
awal lesi. Rasa gatal muncul pada saat pasien sedang beristirahat dan hilang
saat melakukan aktivitas dan biasanya gatal timbul intermiten (Wolff, 2012).
Pemeriksaan fisis menunjukkan plak yang eritematous, berbatas tegas,
dan terjadi likenifikasi. Terjadi perubahan pigmentasi, yaitu hiperpigmentasi
(Wolff, 2012).
Pada pemeriksaan penunjang histopatologi didapatkan adanya
hiperkeratosis dengan area yang parakeratosis, akantosis dengan pemanjangan
rate ridges yang irregular, hipergranulosis dan perluasan dari papil dermis
(Djuanda, 2010).

I. DIAGNOSIS BANDING
Kasus-kasus primer yang umumnya menyebabkan likenifikasi adalah :
a. Dermatitis kontak alergi
Dermatitis kontak alergi adalah inflamasi dari kulit yang diinduksi oleh
bahan kimia yang secara langsung merusak kulit dan oleh sensitifitas
spesifik, pada kasus penderita umumnya mengeluh gatal pad daerah
pajanan. Kelainan kulit tergantung pada keparahan dermatitis dan
lokalisasinya. Pada yang akut dimulai dengan bercak eritematous yang
berbatas jelas kemudian diikuti dengan edema, papulovesikel, vesikel atau
bulla. Vesikel atau bulla dapat pecah menimbulkan erosi dan eksudasi.
Pada fase kronik kulit terlihat kering, skuama, papul, likenifikasi, fisura,
berbatas tidak tegas (Sularsito, 2010).

b. Plak psoriasis
Psoriasis merupakan gangguan peradangan kulit yang kronik, dengan
karakteristik plak eritematous, berbatas tegas, berwarna putih
keperakan,skuama yang kasar, berlapis-lapis, transparan, disertai
fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner. Lokasi terbanyak ditemukan
didaerah ekstensor. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tetapi
beberapa hipotesa telah mendapatkan bahwa penyakit ini bersifat
autoimun dan residif (Meffert, 2013).

17
c. Dermatitis seboroik
Dermatitis seboroik merupakan gangguan papuloskuamosa yang terdapat
pada daerah kaya sebum seperti kulit kepala, wajah dan punggung.
Dermatitis ini berhubungan dengan malassezia, abnormalitas imunologis,
dan aktivasi dari komplemen. Berhubungan erat dengan keaktifan
glandula sebasea. Biasa terjadi pada bayi umur bulan pertama dan
mencapai puncak pada umur 18-40 tahun. Kelainan kulit terdiri atas
eritema dam skuama yang berminyak dan agak kekuningan, batasnya
agak kurang tegas (Sularsito, 2010)

d. Liken Planus
Lesi yang pruritis, erupsi popular yang dikarakteritikkan dengan warna
kemerahan berbentuk polygonal, dan kadang berbatas tegas. Sering
ditemukan pada permukaan fleksor dari ekstremitas, genitalia dan
membrane mukus. Mirip dengan reaksi mediasi imunologis. Liken planus
ditandai dengan papul-papul yang mempunyai warna dan konfigurasi
yang khas. Papul-papul berwarna merah biru, berskuama, dan berbentuk
siku-siku. Gambaran histopatologi: papul menunjukkan penebalan lapisan
granuloma, degenrasi mencair membrane basal dan sel basal. Dapat pula
ditemukan infiltrate seperti pita yang terdiri dari limfosit dan histiosit
pada lapisan dermis bagian atas (Djuanda, 2010).

e. Dermatitis Atopik
Peradangan kulit kronis yang residif disertai gatal, yang umumnya sering
terjadi selama masa bayi dan anak-anak. Sering berhubungan dengan
peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga atau
penderita. Kelainan kulit berupa papul gatal, yang kemudian mengalami
ekskoriasi dan likenifikasi, distribusinya di lipatan. Gambaran lesi kulit
pada remaja dan dewasa dapat berupa plak papuler, eritematosa, dan
berskuama atau plak likenifikasi yang gatal. Lokasi dermatitis atopik pada
lipat siku dan lipat lutut (fleksor) hilang pada usia 2 tahun, pada
neurodermatitis sirkumskripta pada siku dan punggung kaki (ekstensor)
dan berlanjut sampai tua (Koenig, 2012).

18
J. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan dari neurodermatitis secara primer adalah untuk mengurangi
pruritus dan meminimalkan lesi yang ada dan menghindarkan pasien dari
kebiasaan menggaruk dan menggosok secara terus-menerus. Ini dapat
dilakukan dengan berbagai cara, seperti memotong kuku pasien, memberikan
antipruritus, glukokortikoid topikal atau intralesional, atau produk-produk tar,
konsultasi psikiatrik, dan mengobati pasien dengan cryoterapi,
cyproheptadine, atau capsaicin (Wolff, 2012).
a. Steroid topical (Richards, 2010)
Pengobatan pilihan karena dapat mengurangi peradangan dan gatal serta
perlahan-lahan menghaluskan hiperkeratosisnya. Karena lesinya kronik,
Pentalaksanaannya biasanya lama. Pada lesi yang besar dan aktif, steroid
potensi sedang dapat digunakan untuk mengobati inflamasi akut. Tidak
direkomendasikan untuk kulit yang tipis (vulva, skrotum, axilla dan
wajah). Steroid potensi kuat digunakan selama 3 minggu pada area kulit
yang lebih tebal.
1. Clobetasol
Topical steroid super poten kelas 1: untuk menekan mitosis dan
menambah sintesis protein yang mengurangi peradangan dan
menyebabakan vasokonstriksi.
2. Betamethasone dipropionate cream 0,05%.
Untuk peradangan kulit yang berespon baik terhadap steroid. Bekerja
mengurangi peradangan dengan menekan migrasi leukosit
polimorfonuklear dan memeperbaiki permeabilitas kapiler.
3. Triamcinolone 0,025 %, 0.1%, 0.5 %
Untuk peradangan kulit yang berespon baik terhadap steroid. Bekerja
mengurangi peradangan dengan menekan migrasi leukosit
polimorfonuklear dan memeperbaiki permeabilitas kapiler.
4. Fluocinolone cream 0.1 % atau 0.05%
Topikal kortikosteroid potensi tinggi yang menghambat proliferasi
sel. Mempuyai sifat imonusupresif dan sifat anti peradangan.
b. Obat oral anti anxietas, sedasi dan antidepresi
Obat oral dan anti anxietas dapat dipertimbangkan pada beberapa pasien.
Menurut kebuthan individual, penatalaksanaan dapat dijadwalkan setiap

19
hari, pada ssat pasien tidur, atau keduanya. Antihistamin seperti
dipenhydramine dan hidroxyzine biasa digunakan. Doxepin dan
clonazepam dapat dipertimbangkan pada beberapa kasus. Amitriptilin
merupakan antidepresi trisiklik Amitriptilin bekerja dengan menghambat
pengambilan kembali neurotransmiter di otak. Amitriptilin mempunyai 2
gugus metil, termasuk amin tersier sehingga lebih resposif terhadap
depresi akibat kekurangan serotonin. Senyawa ini juga mempunyai
aktivitas sedatif dan antikolinergik yang cukup kuat. Obat ini
penggunanaya untuk memperbaiki kualitas tidur. Pada pemberian oral,
Amitriptilin diaborpsi dengan baik, kurang lebih 90% berkaitan dengan
protein plasma dan tersebar luas dalam jaringan dan susunan saraf pusat.
Metabolisme di hati berlngsung lambat dan waktu paruh 10,3-25,3 jam,
kemudian diekskresi bersama urin (Stewarts, 2010)
c. Agen anti pruritus
Obat oral dapat mengurangi gatal dengan memblokir efek pelepasan
histamin secara endogen. Gatal berkurang, pasien merasa tenang atau
sedatif dan merangsang untuk tidur. Obat topikal menstabilisasi
membrane neuron dan mencegah inisiasi dan transmisi implus saraf
sehingga memberi aksi anestesi lokal. (Wolff, 2012)
1. Dipenhidramin
Untuk meringankan gejala pruritus yang disebabkan oleh pelepasan
histamin.
2. Cholorpheniramine
Bekerja sama dengan histamin atau permukaan reseptor H1 pada sel
efektor di pembuluh darah dan traktus respiratori.
3. Hidroxyzine
Reseptor H1 antagonis diperifer. Dapat menekan aktifitas histamin
diregion subkortikal sistem saraf pusat.
4. Klonazepam
Untuk anxietas yang disertai pruritus. Berikatan dengan reseptor-
reseptor di SSP, termasuk sistem limbik dan pembentukan retikular.
Efeknya bisa dimediasi melalui reseptor GABA.
d. Agen imunosupresor

20
Tacrolimus, Mekanisme kerjanya pada liken simpleks kronik tidak
diketahui. Dapat mengurangi gatal dan peradangan dengan menekan
pelepasan sitokin dari sel T. juga menghambat transkripsi gen yang
mengkode IL-3, IL-4, IL5, GM-CSF, dan TNF- alfa, yang semuanya
terlibat dalam aktivasi sel T derajat dini. Juga dapat menghambat
pelepasan mediator sel mast dan basofil kulit dan mengurangi regulasi
ekspresi FCeRI pada sel langerhans. Obat dari kelas ini lebih mahal dari
kortikosteroid topikal. Terdapat dalam bentuk ointment dalam konsentrasi
0.03% dan 0.1%. indikasi apabila pilihan terapi yang lain tidak berhasil.
e. Immunodilator
Berasal dari ascomycin, suatu bahan alami yang diproduksi oleh jamur
streptomyces hygroscopicus var asmyeticus, bekerja menghambat
produksi dan pelepasan sitokin inflamasi dari sel T teraktivasi secara
selektif dan berikatan dengan reseptor imunofilin sitosolik makrofilin 12
(cytosolic immunophili receptor macrophilin-12). Menghambat kompleks
yang menghambat kalsineurin fofatase, yang kemudian memblokir
aktivasi sel T dan pelepasan sitokin. Atropi kutaneus tidak didapati pada
percobaan klinis yang merupakan kelebihan terhadap kortikosteroid
topical. Indikasi apabila pilihan terapi yang lain tidak berhasil ( NHS,
2011)

K. PROGNOSIS
Prognosis untuk penyakit liken simpleks kronis adalah :
a. Pengobatan untuk pencegahan pada stadium-stadium awal dapat
membantu untuk mengurangi proses likenifikasi.
b. Rasa gatal dapat diatasi, likenifikasi yang ringan dan perubahan
pigmentasi dapat diatasi setelah dilakukan pengobatan.
c. Relaps dapat terjadi, apabila dalam masa stress atau tekanan
emosional yang meningkat.
Pengobatan yang teratur dapat meringankan kondisi pasien. Penyebab
utama dari gatal dapat hilang, atau dapat muncul kembali. Pencegahan
pada tahap awal dapat menghambat proses penyakit ini. (Djuanda,
2010)

21
III. PEMBAHASAN

Diagnosis neurodermatitis didapatkan dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik


terhadap status dermatologis pasien, yaitu didapatkan hasil pasien mengeluh gatal di
kedua kaki dan lutut sejak 1 tahun yang lalu, dan keluhan yang dirasakan pasien
bersifat kambuh-kambuhan. Keluhan gatal tersebut muncul ketika pasien sedang
banyak pikiran atau stres. Keluhan gatal tersebut tidak bertambah berat apabila pasien
dalam keadaan berkeringat ataupun pasien kontak langsung dengan deterjen untuk
mencuci. Dari pemeriksaan status dermatologikus, didapatkan penebalan pada kulit
didaerah yang gatal akibat sering digaruk oleh pasien.
Hasil anamnesis pada pasien ini sesuai dengan Adhi Juanda pada Ilmu Penyakit
Kulit FKUI bahwa :
1. Penderita mengeluh gatal sekali, rasa gatal memang tidak terus menerus, biasanya
pada waktu tidak sibuk, bila muncul sulit ditahan untuk tidak digaruk.
2. Keluhan timbul dipengaruhi oleh aspek psikologis atau tekanan emosi.
Dari pemeriksaan status dermatologis ini sesuai dengan Adhi Juanda pada Ilmu
Penyakit Kulit FKUI:
1. Lesi dapat muncul pada 1 daerah atau lebih
2. Lesi biasanya tunggal, pada awalnya berupa plak eritematosa, sedikit edematosa,
lambat laun edema dan eritema menghilang, bagian tengah berskuama dan
menebal, likenifikasi dan ekskoriasi, bagian disekitarnya hiperpigmentasi, batas
dengan kulit tegas.
Penatalaksanaan pada pasien ini diberikan obat yaitu antihistamin yaitu loratadine 10
mg 1x1 tab, antidepresi yaitu amitriptylin tab 1x1 (malam) dan diberikan obat topical
yaitu betamethasone cream. Sesuai dengan Adhi Juanda dan Wolff Klauss, bahwa
penatalaksanaan pada penyakit ini adalah tujuannya untuk mengurangi pruritus dan
meminimalkan lesinya dengan menggunakan obat-obatan yaitu :
a. Antihistamin Reseptor H1 yaitu contohnya cholorpheniramine.
b. Antidepresi yang mempunyai aktivitas sedative (contoh: Amitriptylin)
c. Obat topikal menstabilisasi membrane neuron dan mencegah inisiasi dan
transmisi implus saraf sehingga memberi aksi anestesi lokal.
Prognosis untuk penyakit liken simpleks kronis adalah pengobatan untuk pencegahan
pada stadium-stadium awal dapat membantu untuk mengurangi proses likenifikasi,

22
rasa gatal dapat diatasi, likenifikasi yang ringan dan perubahan pigmentasi dapat
diatasi setelah dilakukan pengobatan. Relaps dapat terjadi, apabila dalam masa stress
atau tekanan emosional yang meningkat.

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda A. 2010. Neurodermatitis Sirkumskripta. Dalam: Ilmu Penyakit Kulit dan


Kelamin. Jakarta: FKUI.
2. Hogan DJ, Elston DM. 2012. Lichen simplex chronicus. Medscape [diambil 28
Maret 2017 11:00 WIB]. Available
from:http://emedicine.medscape.com/article/1123423-overview.
3. Koenig TW, Jones SG, Rencie A,Tausk FA. 2012. Noncutaneous manifestations of
skin. Dalam: Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. New York : Mc Graw
Hill
4. Meffert J, O’Connor RE. 2013. Psoriasis. Medscape [diambil 27 maret 2017
22:00 WIB]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/1943419-
overview#showall
5. NHS. 2011. PUVA treatment. Oxford University Hospitals; 2011 [diambil 28
maret 2017 12:00 WIB]. Available from:http://www.ouh.nhs.uk/patient-
guide/leaflets/files%5C120719puva.pdf.
6. Richards R N. 2010. Update on intralesional steroid: focus on dermatoses. J Cutan
Med Surg Jan-Feb; 14(1).
7. Siregar. 2013. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: EGC.
8. Stewart KM. 2010. Clinical care of vulvar pruritus, with emphasis on onecommon
cause, lichen simplex chronicus. Dermat ol Clin Oct; 28(4): 669-80.
9. Sularsito SA, Suria D. 2010. Dermatitis. Dalam: Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
10. Wolff K. 2012. Lichen Simplex Chronicus. Dalam: Fitzpatrick’s Color Atlas &
Synopsis of Clinical Dermatology. New York: McGraw Hill Medical

24