Anda di halaman 1dari 41
FAKULTAS DESAIN dan TEKNIK PERENCANAAN UJIAN TENGAH SEMESTER Periode Genap Tahun Akademik 2007/2008 Jurusan :

FAKULTAS DESAIN dan TEKNIK PERENCANAAN

UJIAN TENGAH SEMESTER Periode Genap Tahun Akademik 2007/2008

Jurusan

: Teknik Sipil

Hari / Tanggal

:

Kd. Kls./MK

: A / TS13404

Waktu

:

Mata Ujian

: Struktur Baja 1

Semester

: IV

Dosen

: Wiryanto Dewobroto

Sifat Ujian

: Open Personal Notes Only

SOAL

1. Teori (30%). Menjadi engineer tidak hanya bisa menghitung, tetapi juga memahami knowledge tentang materi yang dihitung. Jika topik yang akan dibahas adalah tentang sambungan struktur baja dengan baut mutu tinggi (A325 atau A490), maka jelaskan hal tersebut jika dikaitkan dengan :

a. Slip

b. Fatique (kelelahan logam)

c. Perilaku sambungan jika digabung dengan sistem sambungan las.

2. SAMBUNGAN BAUT (75%). Jika diketahui :

Spesifikasi Bahan :

Baja karbon A36 E (modulus elastisitas) = 200 000 MPa Fy tegangan leleh minimum 36 ksi 250 MPa Fu tegangan tarik 58-80 ksi (mean 69 ksi) 475 MPa

HTB (High Tension Bolts) A325 or A325M Tegangan geser nominal tumpu, F nv = 330 Mpa (ulir di bidang geser) Diameter baut = 16 mm Diameter lubang = 18 mm (standard)

Adapun konfigurasi sambungan adalah sebagai berikut : 28 150 Plate 200x28 total 6 M16 A325
Adapun konfigurasi sambungan adalah sebagai berikut :
28
150
Plate 200x28
total 6 M16
A325 bolts
100
19
44
P
P
25
100
50
19 106
L 150x150x19
Area = 53.38 cm2
25
25
45
45
Potongan
45 Tampak Depan
25

Pertanyaan hitung Pu maksimum yang dapat diberikan pada sambungan tersebut (hitung pakai cara LRFD).

Selamat bekerja !

JAWABAN NO.2 ********************************* *** Kekuatan Pelat penyambung *** *********************************
JAWABAN NO.2
*********************************
*** Kekuatan Pelat penyambung ***
*********************************
Plate 200x28
B
61
C
72
P
50
72
A
25
45
45 45
25

16

*** Keruntuhan tumpu Tinjau bagian pelat tepi A:

R

R

R

n

n

n

= 1.5 L tF

c

u

3.0 dtF

u

deformasi layan tidak masalah (AISC-LRFD J3-2b)

= 1.5*16 * 28* 475 3.0 *16 * 28* 475

= 319,200 638,400

R

nA

= 319.200 kN

Tinjau bagian pelat tengah B :

R

n

= 1.5 L tF

c

u

3.0 dtF

u

R

n

= 1.5* 61* 28* 475 3.0 *16 * 28* 475

R

n

= 1,216,950 638,400

Tinjau bagian pelat tengah C :

R

n

= 1.5 L tF

c

u

3.0 dtF

u

R

nB

= 638.400 kN

R

n

= 1.5 * 72 * 28 * 475 3.0 *16 * 28 * 475

R

n

= 1,436,400 638,400

R

nB

= 638.400 kN

Jadi kekuatan ijin pelat terhadap bahaya tumpu

R

P

u

=

(

φ R

nA

+

+

R

nC

) = 0.75(319.2 + 5 * 638.4) = 2633.4 kN

nB

*** Keruntuhan tarik

Lurus

A

A

g

n

=

=

200* 28 = 5600 mm

2

: leleh

(

)

200 2*18 * 28 = 4592 mm

2

:

P

u

= φA F

g

y

= 0.9*5600* 250 /1000 = 1260 kN

fraktur

P

u

=

φA F

n

u

= 0.75* 4592* 475 /1000 = 1636 kN

Staggers

Jadi kekuatan ijin pelat terhadap bahaya tarik

w

n

=

w

g

∑ ∑

d

+

s

2

4

g

=

200

3*16

+

2

45

2

=

4 * 25

192.5 mm

A

n

= 192.5* 28 = 5390 mm

2

P = 1260 kN u **************************************** *** Kekuatan Profil Siku yang disambung ***
P
= 1260 kN
u
****************************************
*** Kekuatan Profil Siku yang disambung ***
****************************************
61
72
B C
16
A
P
50
L 150x150x19
Area = 53.38 cm2
25
25
45
45
45 Tampak Depan
25

*** Keruntuhan tumpu

Tinjau bagian profil siku tepi A:

= 1.5 L tF 3.0 dtF

R

n

c

u

u

deformasi layan tidak masalah (AISC-LRFD J3-2b)

R

R

n

n

= 1.5*16 *19 * 475 3.0 *16 *19 * 475

= 216,600 433,200

R

nA

= 216.6 kN

Tinjau bagian profil siku tengah B :

R

n

= 1.5 L tF 3.0 dtF

c

u

u

R

n

= 1.5* 61*19 * 475 3.0 *16 *19 * 475

R

n

= 825,788 433,200

R

nB

= 433 kN

Tinjau bagian profil siku tengah C :

R

n

= 1.5 L tF 3.0 dtF

c

u

u

R

n

= 1.5*72*19* 475 3.0*16*19* 475

R

n

= 974,700 433,200

R

nC

= 433 kN

Jadi kekuatan ijin pelat terhadap bahaya tumpu

R

P

u

=

(

φ R

nA

+

+

R

nC

) = 0.75(2 *

216.6 + 4 * 433) = 1624 kN

nB

*** Keruntuhan tarik

A

A

g

n

= 5338 mm

= 5338 2*18*19 = 4654 mm

2

: leleh

P

u

=

φ

A F

g

y

2

= 0.9 *5338* 250 /1E 3 = 1201 kN

Karena profil siku hanya tersambung pada satu sisi saja maka SHEAR-LAG harus ditinjau

U

= − ⎜ ⎛ x

L

⎟=

1 − ⎜

135

44 ⎟= ⎞ 0.67

1

0.9

A

e

=

UA

n

= 0.67 * 4654 = 3118 mm

2

Akibat fraktur P =

u

φ

A

e

F = 0.75*3118 * 475 /1E 3 = 1110.8 kN

u

(**)

Jadi kekuatan ijin pelat terhadap bahaya tarik ditentukan oleh keruntuhan fraktur.

***

25

Keruntuhan blok geser 50 81 L 150x150x19 Area = 53.38 cm2 25 45 45 45
Keruntuhan blok geser
50
81 L 150x150x19
Area = 53.38 cm2
25
45
45
45
Tampak Depan
L 150x150x19 Area = 53.38 cm2 25 45 45 45 Tampak Depan P Diameter lobang baut

P

Diameter lobang baut M16 standar adalah 18 mm Luas Geser

A gv

A

nv

Luas Tarik

A gt

A

nt

= 160 *19 = 3040 mm

=

2

(

)

160 2.5 *18 *19 = 2185 mm

= 81*19 = 1539 mm

=

2

(

)

810.5*18 *19 = 1368 mm

2

2

Kuat Putus Geser (AISC-LRFD J4-1) :

0.6 F A

u

nv

= 0.6 * 475 * 2185/1E 3 = 623 kN

Kuat Putus Tarik (AISC-LRFD J4-2) :

F

u

A

nt

= 475 *1368 /1E 3 = 650 kN

Kuat Geser-Blok dimana

F A > 0.6 F A

u

nt

u

nv

maka (AISC-LRFD J4-3a)

φφR =

n

⎣ ⎡ 0.6

FA +≤FA φFA + FA

0.6

y

gv

u nt

u nv

u nt

Mekanisme leleh geser dan putus tarik

φR

n = 0.75[0.6 * 250 * 3040 + 475 *1368]0.75[0.6 * 475 * 2185 + 475 *1368]

φR

n = 829,350 954,393

Jadi kekuatan profil terhadap bahaya geser blok

P

u

= 829.35 kN

********************************* *** Kekuatan Baut Penyambung *** *********************************

Digunakan baut mutu tinggi A325M dimana kuat nominal terhadap geser 330 MPa, dan dianggap bidang geser

kritis terletak pada daerah ulir-drat (kondisi umum)

Kuat geser pada buat (satu sisi) adalah:

P

u

P

u

P

u

= φnA F

b

v

0.75* 6 *( = 298.6 *10

=

1

4

3

π

N

16

2

)*330

Rangkuman perhitungan sambungan

 

Komponen yang dievaluasi

Gaya maks , P u (kN)

Keterangan

1

Pelat

1260

Leleh tarik

2

Profil siku

829

Geser blok

3

Baut mutu tinggi

299

Geser satu bidang

Dari ketiga komponen tersebut maka kekuatan baut paling menentukan (akan pecah terlebih dahulu). Jadi kekuatan sambungan tersebut adalah 299 kN.

FAKULTAS DESAIN dan TEKNIK PERENCANAAN UJIAN TENGAH SEMESTER Periode Genap Tahun Akademik 2009/2010 Jurusan :

FAKULTAS DESAIN dan TEKNIK PERENCANAAN

UJIAN TENGAH SEMESTER Periode Genap Tahun Akademik 2009/2010

Jurusan

: Teknik Sipil

Hari / Tanggal

: Kamis / 4 Maret 2010

Kode Kelas

: ACB

Waktu

: 07.15 – 09.00

Mata Ujian

: Struktur Baja 1

Semester

: IV

Dosen

: Dr. Ir. Wiryanto Dewobroto, MT

Sifat Ujian

: Open handnote (1 sheet)

Pengetahuan Soal Teori (40%)

1. Pada konstruksi baja dengan profil hot-rolled dikenal dua macam sistem sambungan, yaitu [a] las (weld) dan [b] baut. Jelaskan kedua macam alat sambung tersebut, adakah yang satu lebih baik dibanding yang lain, dan kapankah alat-alat sambung tersebut dipakai. Bisakah dalam satu sambungan ke dua alat sambung tersebut digabungkan secara bersama-sama.

2. Alat sambung baut mutu tinggi : dari sisi orientasi pemasangan baut mutu tinggi pada sambungan maka baut tersebut dapat dianggap mengalami gaya-gaya [a] tarik ; [b] geser; [c] tarik dan geser dan [d] tekan. Berikan dalam bentuk gambar bagaimana bentuk sambungan dan penempatan baut yang dimaksud. Gambarkan selengkap mungkin, minimal dapat dilihat dari dua sisi termasuk dimensi (ukuran), dan gambarkan secara proposional.

3. Sambungan dengan gaya tarik aksial, gambarkan bentuk sambungan yang menyebabkan gaya pada baut adalah [a] tarik dan [b] geser. Apa kelebihan dan kekurangan masing- masing bentuk tersebut.

4. Pada penggunaan baut mutu tinggi dikenal dua mekanisme kerja sambungan, yaitu [a] slip- kritis; [b] bearing (tumpu). Pertanyaan :

a. Pada baut dengan diorientasikan seperti apakah (lihat soal no.2) dua mekanisme tersebut dapat bekerja.

b. Adakah syarat khusus agar mekanisme-mekanisme tersebut bekerja.

c. Apakah dalam suatu sambungan dapat bekerja satu mekanisme saja, jika dapat terjadi mekanisme yang mana.

d. Gambarkan dengan diagram gaya-deformasi keberadaan dua mekanisme tersebut.

e. Jika ada dua mekanisme yang bekerja, apakah itu dapat terjadi bersama-sama. Jika tidak, mekanisme yang mana dulu yang dapat terjadi.

Pengetahuan Design (60%) : konfigurasi sambungan baut mutu tinggi

Jawaban : Lihat catatan kuliah dan penjelasan yang diberikan. Tidak dijawab agar tidak dijadikan hapalan.

Jawaban UTS Struktur Baja 1 (Semester Ganjil 2010) - Halaman 1 dari 5

P 50 75 70 70 75 50 70 70 70 70 40 60.6 60.6 70
P
50
75
70
70
75
50
70
70
70
70
40
60.6
60.6
70
50
40
10M16
A325M
50
290
P
P 10 18 16 18 16 18 16 5 5 P
P
10
18
16
18
16
18
16
5
5
P

Masalah SAMBUNGAN BAUT pada baja konstruksi.

Jika diketahui :

Spesifikasi Bahan :

Baja karbon A36 E (modulus elastisitas) = 200 000 MPa Fy leleh minimum 36 ksi 250 MPa Fu tarik 58-80 ksi (mean 69 ksi) 475 MPa

Pertanyaan :

HTB (High Tension Bolts) A325 or A325M Tegangan geser nominal tumpu, F nv = 330 Mpa (ulir di bidang geser) Diameter baut = 16 mm Diameter lubang = 18 mm (standard)

a.

Jika tebal pelat t = 5 mm (sisi luar) dan t = 10 mm (sisi dalam), berapa P maksimum yang dapat diberikan.

b.

Jika digunakan konfigurasi dan jumlah baut yang sama seperti di atas, berapa tebal pelat agar keruntuhan ditentukan dari kekuatan baut yang ada.

c.

Jika digunakan sambungan slip-kritis dengan memberikan Pretensioning min 70% kuat ultimate baut, maka berapa P maksimum yang dapat diberikan sebelum slip.

Catatan :

1. Apabila ada data-data yang dianggap kurang, dipersilahkan untuk mengambil ketentuan

tersendiri dan diberi penjelasan mengapa itu digunakan.

2. Gunakan cara LRFD.

3. Ingat, penilaian ditentukan dari bobot tiap soal.

Jawaban UTS Struktur Baja 1 (Semester Ganjil 2010) - Halaman 2 dari 5

Jawab :

Kekuatan PELAT, pada bagian dalam t = 10 mm, sedang sisi luar t = 2 * 5 10 mm, sama. Oleh karena itu pada perhitungan ditinjau pelat bagian dalam saja.

50 50 60.6 60.6 50 50 A 102 40 B 41 75 18 G 70
50
50
60.6
60.6
50
50
A
102
40
B
41
75
18
G
70
35
18
C
70
P
103
P
290
H
70
D
70
I
70
E
75
40
F

*** Kekuatan Tumpu sekitar Lubang Baut *** Tinjau bagian pelat tepi (paling kanan):

R

R

R

n

n

n

= 1.5L tF 3.0dtF

c

u

u

deformasi di lubang baut tidak menjadi masalah

= 1.5 * 41*10 * 475 3.0 *16 *10 * 475

= 292125 228000

R

n

=

228 kN

per baut (ada 3 baut)

Tinjau bagian pelat tengah :

R

n

= 1.5L tF 3.0dtF

c

u

u

deformasi di lubang baut tidak menjadi masalah

R

n

= 1.5 *102 *10 * 475 3.0 *16 *10 * 475

R

n

= 726750 228000

R

n

= 228 kN

per baut (ada 4 baut)

Tinjau bagian pelat tepi (paling kiri):

R

n

= 1.5L tF 3.0dtF

c

u

u

deformasi di lubang baut tidak masalah

R

n

= 1.5 *103*10 * 475 3.0 *16 *10 * 475

R

n

= 733875 228000

R

n

= 228 kN

per baut (ada 3 baut)

(J3-6b)

(J3-6b)

(J3-6b)

Jadi kekuatan ijin pelat bagian dalam maupun luar terhadap bahaya tumpu adalah

P

u

= φR

n

= 0.75 * 228 *10 = 1710 kN

*** Kekuatan Tarik *** Potongan utuh

A

g

= 290 *10 = 2900 mm

leleh

P

u

= φA F

g

y

2

P

u

= φA F

g

y

= 0.9 * 2900 * 250 /1000 = 652.5 kN

(kekuatan pelat utuh 100%)

Potongan netto A-B-C-D-E-F

w

A

n

n

w

g

n

d

=

= w t = 218 *10 = 2180 mm

= 290 4 *18 = 218 mm

2

;

A

e

n

= A : fraktur

P

u

= φA F

e

u

P

u

= φA F

e

u

= 0.75 * 2180 * 475/1000 = 777 kN

(D2-1)

(D2-2)

Jawaban UTS Struktur Baja 1 (Semester Ganjil 2010) - Halaman 3 dari 5

Potongan netto A-B-G-C-H-D-I-E-F

w

n

w

n

=

=

w

g

∑ ∑

d

+

290

18* 7

+

6

s

2

4 g

60

2

4 *35

= 318.286

>>>

w

g

= 290 mm

Potongan netto A-B-G-H-I-E-F

w

n

=

w

g

∑ ∑

d

+

s

2

4 g

w

n

A

P

n

u

=

290

18*5

+

2

60

2

4*35

=

251.43 mm

= w t = 251.43*10 = 2514 mm

n

2

;

A

e

= A

n

: fraktur

= φA F

e

u

= 0.75 * 2514 * 475 /1000 = 896 kN

Kekuatan BAUT Kuat geser pada baut (dua sisi) adalah:

P

u

= φnA F

b

v

P

=

0.75 * 2 *10 *(

1

u

4

P

u

=

995 kN

π

16

2

)* 330 /1000

tidak menentukan

P

u

= φA F

e

u

(D2-2)

(J3-1 )

Catatan : kondisi kritis ditentukan oleh kekuatan leleh (pelat utuh), selanjutnya potongan kritis adalah pada lubang (baut 4 baris ditengah), yang menjadi lintasan terpendek dan tidak dimungkinkan ada keruntuhan blok.

SAMBUNGAN FRIKSI dengan BAUT MUTU TINGGI (SLIP-CRITICAL)

dimana

R

n

= μD h T N

u

sc

b

s

(J3-4)

μ = rata-rata koefisien slip permukaan, diambil μ = 0.35 untuk permukaan Class A (unpainted clean mill scale steel surfaces or surfaces with Class A coatings on blast-cleaned steel and hot-dipped galvanized and roughened surfaces)

D u =

1.13 adalah faktor pengali yang mewakili rasio rata-rata tegangan pretension baut yang terpasang dan nilai minimum yang ditetapkan

h sc = 1.0 faktor lubang dianggap sebagai lubang standard

N s = jumlah bidang slip , N s = 1 (satu sisi)

T b = minimum fastener tension , T b = 91 kN minimum 0.70 kali kuat tarik baut (Tabel J3.1M)

R

n

=

μD h T N

u

sc

b

s

= 0.35 *1.13*1* 91* 2 = 71.98 kN

P

u

= φnR

n

= 0.85 *10 * 71.98 = 611.8 kN

NOTE: Design loads are used for either design method and all connections must be checked for strength as bearing-type connections.

Jawaban UTS Struktur Baja 1 (Semester Ganjil 2010) - Halaman 4 dari 5

Rangkuman perhitungan sambungan menurut ANSI/AISC 360-05

 

Komponen yang dievaluasi

P u maks (kN)

Efisiensi

Keterangan

Applicabl

sambungan

e

1

Pelat

652.5

(100 % pelat utuh)

Sambungan

ya

2

Baut HTB

995

(153% pelat utuh)

Tumpu

3

HTB - Full Pretensioning

611.8

(94% pelat utuh)

Sambungan

ya

Friksi

JAWABAN PENGETAHUAN DESIGN (BOBOT 60%)

a. Karena pelat sisi luar ada dua, masing-masing t = 5 mm dan pelat dalam hanya satu yaitu t = 10 mm maka pada prinsipnya kekuatan pelat sama. Hitungan yang disusun di atas didasarkan kekuatan satu pelat tunggal t = 10 mm. Adapun P maksimum yang dapat diberikan ditentukan kekuatan yielding pelat yaitu P = 652.5 kN.

b. Jika memakai konfigurasi dan jumlah baut yang sama seperti di atas, dan kekuatan ditentukan oleh kekuatan baut maka ketebalan pelat yang diperlukan adalah

t

=

995 kN

995000

=

φ

F b

y

pelat

0.9* 240* 290

= 16 mm

untuk pelat dalam 8 mm untuk pelat luar.

c. P maksimum yang dapat diberikan sebelum terjadi slip = 612 kN

Jawaban UTS Struktur Baja 1 (Semester Ganjil 2010) - Halaman 5 dari 5

Wiryanto Dewobroto ------------------------------------- Jurusan Teknik Sipil - Universitas Pelita Harapan, Karawaci

Jurusan Teknik Sipil - Universitas Pelita Harapan, Karawaci FAKULTAS DESAIN dan TEKNIK PERENCANAAN UJIAN TENGAH SEMESTER

FAKULTAS DESAIN dan TEKNIK PERENCANAAN

UJIAN TENGAH SEMESTER ( U T S ) G EN A P T A HU N AKA D E MI K 2010 / 2011

Jurusan

: TEKNIK SIPIL

Hari / Tanggal

: Jumat / 4 Maret 2011

Kd. Kelas

: AIJ

Waktu

: 07:15 – 09:00

Mata Ujian

: Struktur Baja 1

SKS

: 2

Dosen

: Dr. Ir. Wiryanto Dewobroto, MT.

Sifat Ujian

: note tulisan tangan 1 lbr

Teori : (Bobot 25%)

1. Berdasarkan orientasi baut terhadap bekerjanya gaya yang dialihkan pada sambungan, berikan contoh bentuk-bentuk sambungannya (gambar / sketch). Dari segi efisiensi penggunaan baut mana yang lebih baik, mengapa ?

2. Apa yang dimaksud shear lag, pada kondisi apa terjadi. Apakah bisa hilang. Berikan contoh sketch sambungan dengan shear lag dan yang tidak.

3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan mekanisme slip kritis dan mekanisme tumpu. Kenapa bisa terjadi mekanisme baut slip kritis, dan faktor-faktor yang mempengaruhi.

Bilamana suatu sambungan harus memakai mekanisme-mekanisme tersebut.

4. Tentang sambungan sistem geser baut mutu tinggi dan sistem las, dapatkah keduanya disatukan dengan cara kumulatif, argumentasi apa yang mendasari jawabanmu.

5. Apa yang dimaksud dengan prying force, jelaskan.

Hitungan (Bobot 75%) Diketahui profil siku tunggal L120x120x12 dan gusset plate tebal 12 mm, mutu ASTM A36 atau setara, disambung dengan baut mutu tinggi ASTM A325, M20 (diameter 20 mm) . Tampak elemen dan potongan sambungan sebagai berikut (gambar bautnya belum ada) :

12 120 12 P P profil siku L120x120x12 gusset plate t = 12 mm 120
12
120
12
P
P
profil siku
L120x120x12
gusset plate t = 12 mm
120

Rencanakan jumlah dan penempatan baut mutu tinggi pada sistem sambungan di atas agar

hasilnya optimum dari sisi penggunaan bahan material, untuk itu kerjakan hal-hal berikut :

1. Gambar sistem sambungan yang anda hitung, skala proporsional,

2. Agar hasilnya optimum tetapi memenuhi kriteria LRFD AISC 2005 maka hal-hal apa yang perlu diperiksa pada perencanaan sistem sambungan anda. Apa yang kritis dan menentukan , tunjukkan dalam hitungan saudara.

3. Berapa P maksimum ijin (beban kerja maksimum) yang dapat bekerja secara aman pada sistem sambungan tersebut

Wiryanto Dewobroto ------------------------------------- Jurusan Teknik Sipil - Universitas Pelita Harapan, Karawaci

Lampiran :

Jurusan Teknik Sipil - Universitas Pelita Harapan, Karawaci Lampiran : Struktur Baja I (UTS 2011) 2
Jurusan Teknik Sipil - Universitas Pelita Harapan, Karawaci Lampiran : Struktur Baja I (UTS 2011) 2
Jurusan Teknik Sipil - Universitas Pelita Harapan, Karawaci Lampiran : Struktur Baja I (UTS 2011) 2

Wiryanto Dewobroto ------------------------------------- Jurusan Teknik Sipil - Universitas Pelita Harapan, Karawaci

Jawaban tentang soal HITUNGAN: (versi 11 Maret 2011 pk 09:00)

Hanya diketahui baut M20 (diameter 20mm) ASTM A3235 dan gambar berikut:

12 120 12 P P profil siku L120x120x12 gusset plate t = 12 mm 120
12
120
12
P
P
profil siku
L120x120x12
gusset plate t = 12 mm
120

Diminta untuk merencanakan sambungan secara optimal, yaitu aman tetapi menggunakan bahan yang sekecil mungkin.

Gaya P dari gambar di atas alihkan dari [1] pelat (gusset plate 12mm) ke [2] profil siku L120 melalui [3] baut dengan orientasi geser. Jadi ada tiga material yang harus diperiksa.

*********************************** ** Profil Siku L120 sebagai batang tarik ** *********************************** Kekuatan batang tarik ditentukan oleh variabel Kuat Bahan F y (yield point) = 250 MPa F u (tensile strength) = 400 MPa (nilai konservative)

108 12 120 12
108
12
120
12
60 profil siku L120x120x12 30 72 60 48 30
60
profil siku
L120x120x12
30
72
60
48
30

Luas penampang gross (tanpa lobang) A g = 12*120 + 108 *12 = 2736 mm 2

Keruntuhan leleh P u siku = P n = 0.9 * A g * F y = 0.9*2736*250/1000 = 615.6 kN

Untuk mencari luas penampang netto (A n ) dan luas penampang efektif (A e ) maka

penempatan baut perlu dibuat.

lokasi
lokasi

Jarak antar baut = 3D = 60 mm, jarak ke tepi pelat 1.5D = 30 mm. Posisi penempatan baut yang optimum telah dicobakan seperti konfigurasi gambar di atas. Adapun lubang baut dibuat pakai bor maka :

Wiryanto Dewobroto ------------------------------------- Jurusan Teknik Sipil - Universitas Pelita Harapan, Karawaci

Luas penampang netto (dengan lobang)

Tinjau potongan vertikal : A n

: A n A

n

Tinjau potongan zigzag

= A g – (20 + 2)*12 = 2472 mm 2

= A g

= 2208 +(36^2/(4*48) = 2215 mm 2 ** govern **

– (20 + 2)*12*2 + (s 2 /4g)

Untuk memperhitungkan shear-lag perlu tahu jumlah baut dan panjang penyambungan (L), untuk itu anggap bahwa yang menentukan adalah keruntuhan leleh.

Baut geser F nv = 330 MPa (lihat Tabel J3.2)

Luas baut M20 adalah A bolt = ¼ D 2 = 0.25 *20 2 = 314 mm 2

P

u baut = P n baut = 0.75 *314* 330/1000 = 77.7 kN / baut (geser tunggal).

n

baut = P u siku / P u baut = 615.6 / 77.7 = 7.922 digunakan 8 M20 A325.

Jadi detail penempatan baut menjadi. Titik berat siku x = (108*12*6 + 120*12*60) / A g = 34.4 mm

60 profil siku L120x120x12 108 posisi pinggir sambungan 12 30 72 30 252 x 34.4
60
profil siku
L120x120x12
108
posisi
pinggir
sambungan
12
30
72
30
252
x
34.4
Faktor untuk memperhitungkan shear lag adalah
U
1 1
0.864
L
252
60
120
12
48
30

Luas potongan efektif A e = U * A n = 0.864 * 2215 = 1914 mm 2 .

Keruntuhan fracture

P u siku = P n = 0.75 * A e * F u = 0.75*1914*400/1000 = 571.4 kN ** govern **

Penempatan lubang mengurangi kekuatan sambungan oleh karena itu agar optimum maka perlu dilakukan perubahan konfigurasinya.

posisi profil siku pinggir 60 L120x120x12 sambungan 30 420 30 48
posisi
profil siku
pinggir
60 L120x120x12
sambungan
30
420
30
48

Wiryanto Dewobroto ------------------------------------- Jurusan Teknik Sipil - Universitas Pelita Harapan, Karawaci

Hitung ulang A n dan A e sebagai berikut:

Luas penampang netto (dengan lobang)

Tinjau potongan vertikal : A n

: A n A

n

Tinjau potongan zigzag

= A g – (20 + 2)*12 = 2472 mm 2 = A g – (20 + 2)*12*2 + (s 2 /4g) = 2208 +(60^2/(4*48) = 2227 mm 2 ** govern **

Ternyata penempatan baut zigzag sangat mempengaruhi A n (luas penampang netto). Oleh

karena itu konfigurasinya perlu diubah lagi menjadi

Oleh karena itu konfigurasinya perlu diubah lagi menjadi cukup satu garis saja, sbb: profil siku L120x120x12

cukup satu garis saja, sbb:

profil siku L120x120x12 30 60 60 60 60 60 60 60 30 38 420 19
profil siku
L120x120x12
30
60
60
60
60
60
60
60
30
38
420
19
Ø22

posisi

pinggir

sambungan

60 60 60 30 38 420 19 Ø22 posisi pinggir sambungan Luas penampang netto (dengan lobang)

Luas penampang netto (dengan lobang)

Tinjau potongan vertikal : A n

Faktor untuk memperhitungkan shear lag adalah

Luas potongan efektif A e = U * A n = 0.92 * 2472 = 2274 mm 2 .

= A g – (20 + 2)*12 = 2472 mm 2

U

x

1 1

34.4

0.92

L

420

Keruntuhan fracture P u siku = P n = 0.75 * A e * F u = 0.75*2274*400/1000 = 682 kN >>>>> keruntuhan leleh (616 kN) jadi pengaruh lubang menjadi tidak signifikan.

***************************************** ** Keruntuhan dengan mekanisme tumpu baut. ** *****************************************

Tinjau kondisi keruntuhan dengan mekanisme tumpu, karena tebal pelat dan tebal profil adalah sama, yaitu 12 mm, maka perhitungan mekanisme tumpu berikut digunakan bersama.

*** Keruntuhan tumpu (gusset plate dan profil siku) Tinjau bagian pelat tepi (perhatikan jarak-jarak pada gambar di atas) :

R

R

R

n

n

n

1.2L tF 2.4dtF

c

u

u

deformasi layan dipertimbangkan (AISC-LRFD J3-10)

1.2*19*12* 400 2.4 * 22*12* 400

109,440 253,440.0

R

nTepi

109.44 kN

Tinjau bagian pelat bagian dalam:

R

n

1.2L tF 2.4dtF

c

u

u

R

n

1.2*38*12* 400 2.4 * 22*12* 400

R

n

218,880 253,440

R

nB

R

nC

218.88 kN

Jadi kekuatan ijin pelat terhadap bahaya tumpu

P

u

R

nTepi

R

nDalam

0.75 109.44 7 * 218.88 1231.2 kN

** not govern **

Wiryanto Dewobroto ------------------------------------- Jurusan Teknik Sipil - Universitas Pelita Harapan, Karawaci

**************************************** ** Keruntuhan dengan mekanisme geser blok. ** ****************************************

Karena gusset plate ukurannya tidak terbatas (karena tidak ada penjelasan pada soal) maka keruntuhan geser blok tidak terjadi pada gusset-plate. Sedangkan profil siku yang disambung

tidak menyeluruh, yaitu hanya satu sisi saja (oleh karena itu ada pengaruh

dimungkinkan akan terjadi geser blok pada profil siku. Ini yang akan kita check sbb :

shear-lag
shear-lag

) maka

posisi profil siku pinggir L120x120x12 sambungan 450 Diameter lobang baut M20 standar adalah 22 mm
posisi
profil siku
pinggir
L120x120x12
sambungan
450
Diameter lobang baut M20 standar adalah 22 mm
Luas Geser
2
450 *12 5400 mm
A gv
2
450 7.5 * 22 *12 3420 mm
A nv
Luas Tarik
2
60 *12 720 mm
A gt
2
60 0.5 * 22 *12 588 mm
A nt
Ø22
60

Kuat Geser-Blok memakai (AISC-LRFD J4-5) R 0.6F A U F A 0.6F A U F A

n

u

nv

bs

u

nt

y

gv

bs

u

nt

Anggap tegangan tarik yang bekerja adalah uniform sehingga U bs = 1.0

R

n

0.6 F A

u

nv

U

bs

F A

u

nt

0.75 0.6* 400*3420

792*10

3

783.9*10

3

0.6 F A

y

gv

1* 400*588

U

bs

F A

u

nt

0.75 0.6* 250*5400

1* 400*588

Jadi kekuatan profil terhadap bahaya geser blok

R

u

R

n

3

783.9 *10 N

783.9 kN

> P u siku = 615.6 kN

Jadi konfigurasi sambungan mampu mengalihkan gaya sekuat profil L120x120x12 sebesar

P u siku = 615 kN

(keruntuhan leleh paling efisien)

FAKULTAS DESAIN dan TEKNIK PERENCANAAN UJIAN AKHIR SEMESTER SEMESTER GENAP TA 2007/2008 Jurusan : Teknik

FAKULTAS DESAIN dan TEKNIK PERENCANAAN

UJIAN AKHIR SEMESTER

SEMESTER GENAP TA 2007/2008

Jurusan

: Teknik Sipil

Hari / Tanggal

: Senin, 26-05-2008

Mata Kuliah

: Struktur Baja I

Waktu

: 14.10 – 15.50

Dosen

: Ir. Wiryanto Dewobroto, MT.

Semester

:

IV

 

Sifat Ujian

: catatan tangan 1 lembar

Ada dua rangka, sebut saja Frame 1 dan Frame 2, tampak samping pada gambar di bawah (kanan) Keduanya dijajarkan pada bagian kolom dipasang bracing, tampak depan gambar bawah kiri. Pada bagian balok (batang ABC) pada kedua frame pada prinsipnya juga ada bracing (tidak terlihat). Dengan penggabungan tersebut dihasilkan konstruksi yang mampu memikul pembebanan q secara stabil dan mandiri (sebagai struktur 3D).

2m 10m q (t/m') q (t/m') q (t/m') B2 A B C B1 balok menerus
2m
10m
q (t/m')
q (t/m')
q (t/m')
B2
A
B
C
B1
balok menerus ABC
kolom BD
pin
D2
D1
D
atau
atau
bracing
(typ)
3m3m
6m

a). Tampak Depan

b). Tampak Samping (Frame 1 atau Frame 2)

Tahap design kolom BD (B1-D1 adalah kolom BD di Frame 1 dst). Untuk pembebanan kolom, pembebanan dapat disederhanakan bekerja pada balok menerus ABC. Tiap balok (kolom) dianggap dapat menerima beban merata q = 10 t/m di balok ABC. Balok di tumpu di B dan C sebagai sendi (tidak menyalurkan momen).

Jika dianggap berat sendiri balok menerus ABC diabaikan, beban q dianggap sebagai beban hidup dan kekuatan balok ABC sudah dihitung terlebih dahulu dan mencukupi maka hitung apakah kolom BD jika digunakan profil baja ST-37 hitung rasio keamanan dengan profil berikut :

1. Profil tunggal WF 200 x 200 x 8 x 12 dengan data profil sebagai berikut (50%)

   

Dimension (mm)

 

A

 

Mass

Momen of Inertia

Radius of Gyration

Section Modulus

Label

2

per meter

4

cm

cm

3

cm

H

B

t1

t2

r

cm

(kg/m)

axis x-x

axis y-y

axis x-x

axis y-y

axis x-x

axis y-y

WH-200

200

200

8

12

13

63.53

49.9

4720

1600

8.62

5.02

472

160

2. profil gabungan (built-up) 2L130x130x12 dengan data profil sebagai berikut (50%)

           

Modulus

Dimensi Standar Profil Siku Sama Kaki

A

berat

satua

cg

Momen Inersia

Radius Girasi

Potonga

n

H x B

t

r

1

r

2

n

x =C y

C

Ix= Iy

max Iu

min Iv

x =r y

r

max r u

min r v

S

x =S y

mm

mm

mm

mm

2

cm

kg/m

cm

4

cm

4

cm

4

cm

cm

Cm

cm

cm

3

130 x 130 12

 

14

7

30.0

23.6

3.64

472

750

194

3.97

5.00

2.54

50.4

Catatan : Gunakan cara AISC LRFD dan bandingkan hasilnya dengan cara SNI

Selamat bekerja

Jawab :

Langkah pertama adalah mendapatkan gaya-gaya internal pada kolom, adapun konfigurasi struktur adalah

2m 10m q (t/m') q (t/m') q (t/m') B2 A B C B1 balok menerus
2m
10m
q (t/m')
q (t/m')
q (t/m')
B2
A
B
C
B1
balok menerus ABC
kolom BD
pin
D2
D1
D
z
z
atau
atau
x
y
bracing
(typ)
3m3m
6m

Dari penjelasan di atas maka dapat diketahui bahwa q (t/m) = 10 t/m hanya bekerja pada satu frame, yaitu frame 1 atau frame 2 karena kedua frame identik maka cukup ditinjau satu saja, dalam hal ini ditinjau frame 1 sebagai berikut :

2m 10m 2m 10m q (t/m') q (t/m') A B C A B C balok
2m
10m
2m
10m
q (t/m')
q (t/m')
A
B
C
A
B
C
balok menerus ABC
R B
R A
z
kolom BD
b). Balok A-B-C
pin
D
a). Frame 1
penyederhanaan
atau
masalah
y
2
* q
1 2 *12
2 *10
1 2 l
AC
∑ = 0
M
R
= =
= 72 t
→ akan dipikul oleh kolom BD (yang di cari).
C
B
10
l BC
∑ → R
F
= 0
= q
*
l
R
= 10 *12 − 72 = 48
t
V
C
AC
B
6m

Mempelajari kondisi batas kolom BD, perhatikan sumbu dan asumsi pertambatan pada kolom

R R B B B B1 D1 D a). sumbu ZX b). sbZY atau atau
R
R
B
B
B
B1
D1
D
a). sumbu ZX
b). sbZY
atau
atau
3m3m
6m

Interprestasi struktur tadi menghasilkan kesepakatan

berikut untuk perhitungan kolom. Tahapan ini adalah sangat penting. Jika berbeda hasilnya pasti salah !

2

sangat penting. Jika berbeda hasilnya pasti salah ! 2 2 1 1 10 Sumbu 1-1 adalah
2 1 1 10
2
1
1
10

Sumbu 1-1 adalah sumbu kuat kolom

k.l

1

1

=

6.0m

Sumbu 2-2 adalah sumbu lemah kolom

k.l

1

1 =

3.0m

Dari soal diketahu bahwa beban yang bekerja q (t/m) adalah beban hidup, jadi load faktornya = 1.6, sehingga P U = 1.6*R B = 1.6*72 t 1152 kN

Jika pakai profil tunggal WF200.200.8.12 , maka :

   

Dimension (mm)

 

A

 

Mass

Momen of Inertia

Radius of Gyration

Section Modulus

Label

2

per meter

4

cm

cm

3

cm

H

B

t

1

t

2

r

cm

(kg/m)

axis x-x

axis y-y

axis x-x

axis y-y

axis x-x

axis y-y

WH-200

200

200

8

12

13

63.53

49.9

4720

1600

8.62

5.02

472

160

Baja ST37 BJ37 Fy = 240 Mpa Pakai cara AISC 1999

Sumbu kuat r = r = r = 86.2 mm 1 − 1 x kL
Sumbu kuat
r
=
r
=
r
=
86.2 mm
1
1
x
kL
1
F
1* 6000
1
240
y
1
− 1
=
=
=
0.7675
λ 1
− 1
r x π
E
86.2
π 200000
Untuk λ 1-1 ≤ 1.5
2
0.7675
F
= 0.658
λ 1 2
1
F
=
0.658
* 240
=
187.56 MPa
cr
y
P
= F
A
= 187.56 * 6353/1E3 = 1191.6 kN
n
cr
g
φP
= 0.85 *1191.6 = 1012.8 kN
**menentukan**
n
Sumbu lemah
r
= r
=
r
= 50.2 mm
2
2
y
kL
1 F
1* 3000
1
240
y
2
− 2
=
=
=
0.659
λ 2
− 2
π
E
50.2
π 200000
r y
Un`tuk λ 2-2 ≤ 1.5
2
0.659
F
= 0.658
λ 2 2
− 2
F
=
0.658
* 240
=
200 MPa
cr
y
P
= F
A
= 200 * 6353/1E3 = 1271 kN
n
cr
g

φP

n

= 0.85 *1271 = 1080 kN

< 1.5

< 1.5

Karena

φP

n

= 1012.8 kN <

P

u

= 1152 kN

kekuatan kolom mepet, sebaiknya diperbesar.

Pakai cara SNI 2000

Karena yang menentukan dari penyelesaian adalah sumbu kuat, maka ditinjau sumbu tersebut

Sumbu kuat r = r = r = 86.2 mm 1 − 1 x kL
Sumbu kuat
r
= r
=
r
= 86.2 mm
1
1
x
kL
1
F
1* 6000
1
240
y
λ
=
=
= 0.7675
< 1.5
c
r
π
E
86.2
π 200000
0.25 <
λ
< 1.2
c

Jadi

1.43 1.43

ω

=

=

1.6

0.67

λ

c

1.6

0.67 * 0.7675

= 1.317

Daya dukung nominal komponen tekan dapat dihitung sebagai

P

n

φP

n

= A

g

F

y

ω

= 6353

240

1.317 *1 3

E

= 0.85 *1158 = 984.3 kN

= 1158 kN

Karena

φP

n

= 984.3 kN <

P

u

= 1152 kN

kolom BB’ tidak memenuhi syarat persyaratan SNI 2000

Pakai cara AISC 1999 atau 2005 tetapi φ = 0.85

Modulus Dimensi Standar Profil Siku Sama Kaki berat cg Momen Inersia Radius Girasi Potonga A
Modulus
Dimensi Standar
Profil Siku Sama Kaki
berat
cg
Momen Inersia
Radius Girasi
Potonga
A
satua
n
n
H x B
t
r
r
C
x =C y
I x = I y
max I u
min I v
r
x =r y
max r u
min r v
S
x =S y
1
2
mm
mm
mm
mm
cm
2
kg/m
cm
cm
4
cm
4
cm
4
cm
cm
cm
cm
3
130 x 130
12
14
7
30.0
23.6
3.64
472
750
194
3.97
5.00
2.54
50.4
1
2
10.0
a
a a
6000

Kolom Profil Siku Ganda 2 L 130 x 130 x 12

Jawab :

b ≤ 0.45 E / F y t
b ≤ 0.45
E
/
F
y
t

b

130

=

t

12

=

10.8

13

Jadi profil siku dapat digolongkan sebagai profil tidak-langsing ok

Rasio kelangsingan kolom Tekuk Batang Gabungan

A

g

I g

2

= 2 * 30 = 60 cm

2 = 6000 mm 2

2

= 2 * 472 = 944 cm

4 ;

r g

2

I g

1

1

=

(

2 * 472 + 30 * 3.64 + 0.5

(

)) 2

2

=

944 60
944
60

=

3.97 cm

= 39.7 mm

= 1972 cm

4

r 1 =

1

1972 60
1972
60

=

5.73 cm

Sumbu kuat

r

=

r

1

1

KL

1* 6000

=

r

1

1

57.3

= 57.3 mm

= 105

tekuk terjadi terhadap sumbu 1-1

Sumbu lemah

r

=

r

2

KL 1* 3000

=

r

2

2

39.7

2

=

39.7 mm

= 75.6

Tekuk Batang Individu

a = 6000 / 3 = 2000 mm

r

min

=

r

v

= 25.4 mm

a

2000

=

r

v

25.4

= 78.6

<< 0.75 * 105 = 78.75 Ok pas sekali

=

57.3mm

Rasio kelangsingan kolom efektif

r ib = radius girasi komponen terhadap sumbu yang sejajar dengan sumbu tekuk kolom gabungan (mm)

r

ib

=

r

1

1

= 57.3 mm

h = 2 * 36.4 + 10 = 82.8 mm

h 82.8 α = = = 0.723 2 r 2 * 57.3 ib 2 2
h 82.8
α =
=
= 0.723
2 r
2 * 57.3
ib
2
2
2
KL
KL
α
a
⎛ ⎜
⎞ ⎟
=
⎜ ⎛
+ 0.82
r
r
(1
+
α 2 )
r
m
o
ib
2 2 0.723 ⎛ 2000 ⎞ 2 = 105 + 0.82 ⎜ ⎟ ⎠ =
2
2
0.723
⎛ 2000 ⎞
2
=
105
+
0.82
= 106.6
2
(1
+
0.723 ) ⎝
57.3

Memakai persamaan E3-2 atau E3-3 untuk menghitung tekuk lentur dari batang tekan dimana

KL KL ⎞ = ⎜ ⎛ r ⎝ r ⎟ ⎠ = 106.6 , sehingga
KL
KL
= ⎜ ⎛
r ⎝
r
= 106.6
, sehingga
m
2
E
π
2 * 200000
F
= π
=
=
173.7 MPa
>> 0.44
F
= 105.6 MPa
e
y
2
(
2
⎛ KL ⎞
106.6 )
r
m
⎛ KL ⎞
E
= 106.6 < 4.71
= 135.97
r
m F
y
F
y
E
F
Karena
KL ≤ 4.71
atau
≥ 0.44F
maka digunakan
F
= 0.658
e
F e
y
cr
r F
y
⎢ ⎣
F
y
240
F
F
= 0.658
e
F
= ⎢ 0.658
173.7
* 240
= 134.6 MPa
cr
y
⎢ ⎣
⎢ ⎣
⎥ ⎦

F

y

(AISC-LRFD E3-2)

P

n

= F A = 134.6 * 6000 /1E3 = 808 kN

cr

g

φP

n

= 0.85 *808 = 685 kN

Karena

φP << P

n

u

maka kolom BB’ tidak memenuhi syarat persyaratan AISC 1999

Pakai cara SNI 2000 untuk siku ganda

Kolom Siku Ganda (SNI 03 – 1729 – 2000) Profil Siku ganda di atas akan dihitung ulang berdasarkan persyaratan SNI untuk bukan Siku Ganda yang hasilnya adalah sebagai berikut :

Sumbu kuat

r

=

r

1

1

= 57.3 mm

KL

1* 6000

=

r

1

1

57.3

= 105

tekuk terjadi terhadap sumbu 1-1

kL 1 F y λ = c r π E 0.25 < λ < 1.2
kL
1
F
y
λ
=
c
r
π
E
0.25 <
λ
< 1.2
c

= 105

1 240 π 200000
1
240
π
200000

= 1.158

1.43 1.43

ω

=

=

1.6

0.67

λ

c

1.6

0.67 *1.158

=

1.735

P

n

= A

g

F

y

ω

= 6000

240

1.735

/1

E

3

=

830 kN

Catatan : hasilnya 103 % dari AISC bakan hitungannya lebih sederhana

φP

n

= 0.85 * 830 = 705 kN

Karena

φP << P

n

u

maka kolom BB’ tidak memenuhi syarat persyaratan SNI 2000

FAKULTAS DESAIN dan TEKNIK PERENCANAAN Ujian Akhir Semester Periode Genap Tahun Akademik 2009/2010 Jurusan :

FAKULTAS DESAIN dan TEKNIK PERENCANAAN

Ujian Akhir Semester

Periode Genap Tahun Akademik 2009/2010

Jurusan

: Teknik Sipil

Hari / Tanggal

: Senin, 17 Mei 2010

Kode Kelas

: ACB

Waktu

: 07.15 – 09.00

Mata Ujian

: Struktur Baja 1

Semester

: IV

Dosen

: Dr. Ir. Wiryanto Dewobroto, MT

Sifat Ujian

: Open notes

Soal 1. (70%)

5 4 3 P u P u 3500 bracing A bracing A WF 150x75x5x7 B
5
4
3 P
u
P u
3500
bracing
A bracing
A
WF 150x75x5x7
B
150
700
150 700
70
75
700
700
Pelat Kopel
100x100x10
150
2 L 70x70x6
3500
700
3500
700
150
700
700
70
18.1
10
700
700
C
C
Tampak Depan
Tampak Samping

Dimensi profil :

Label H x B

t

 

r1

r2

 

A

   

q

Cx=Cy

Ix=Iy

Imax

Imin

 

rx=ry

rmax

rmin

Zx=Zy

mm

mm

mm

cm

2

 

kg/m

cm

cm

4

cm

4

cm

4

cm

cm

cm

cm

3

L70x70

6

8.5

4

8.127

 

6.38

1.81

29.4

 

46.6

12.2

1.98

2.49

1.27

6.26

   

Dimension (mm)

 

A

cm

 

Mass

Momen of Inertia

Radius of Gyration

Section Modulus

Label

2

per meter