Anda di halaman 1dari 9

Lex Privatum, Vol. IV/No.

6/Juli/2016

SANKSI BAGI TENAGA KESEHATAN YANG PENDAHULUAN


MELAKUKAN TINDAK PIDANA DALAM A. Latar Belakang
PRAKTIK PELAYANAN KESEHATANMENURUT Undang-Undang tentang Tenaga
UNDANG-UNDANG NOMOR 36 TAHUN 20141 Kesehataan ini didasarkan pada pemikiran
Oleh : Farlen Kanter2 bahwa pembukaan UUD 1945 mencantumkan
cita-cita bangsa Indonesia yang sekaligus
ABSTRAK merupakan tujuan nasional dan seluruh
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk tumpah darah Indonesia dan untuk
mengetahui bagaimana terjadinya tindak memajukan kesejahteraan umum,
pidana yang dilakukan tenaga kesehatan mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu
dalam praktek pelayanan kesehatan dan wujud memajukan kesejahteraan umum
bagaimana pemberlakuan sanksi pidana bagi adalah pembangunan kesehatan yang
tenaga kesehatan yang melakukan tindak ditujukan untuk meningkatkan kesadaran
pidana. Dengan menggunakan metode kemamuan dan kemampuan hidup sehat bagi
penelitian yuridis normative disimpulkan: 1. setiap orang agar terwujud derajat kesehatan
Tindak pidana oleh tenaga kesehatan dalam masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai
praktik pelayanan kesehatan dapat terjadi investasi bagi pembangunan sumberdaya
apabila setiap orang yang bukan tenaga manusia yang produktif.3
kesehatan melakukan praktik seolah-olah Kesehatan merupakan hak asasi manusia,
sebagai tenaga kesehatan yang telah memiliki artinya setiap orang mempunyai hak yang
izin atau tenaga kesehatan melakukan sama dalam memperoleh akses pelayanan
kelalaian berat yang mengakibatkan penerima kesehatan. Kualitas pelayanan kesehatan yang
pelayanan kesehatan luka berat atau kematian aman, bermutu dan terjangkau juga
serta tenaga kesehatan menjalankan praktik merupakan hak seluruh masyarakat Indonesia.
tanpa memiliki STR termasuk tenaga Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan
kesehatan warga negara asing yang dengan dan teknologi dalam rangka melakukan upaya
sengaja memberikan pelayanan kesehatan kesehatan tersebut perlu didukung dengan
tanpa memiliki STR sementara dan setiap sumberdaya kesehatan, khususnya tenaga
tenaga kesehatan dan tenaga kesehatan kesehatan yang memadai, baik dari segi
warga negara asing yang menjalankan praktik kualitas, kuantitas maupun penyebarannya.
tanpa memiliki izin. 2.Pemberlakuan sanksi Dalam menghadapi tantangan tersebut,
pidana terhadap tenaga kesehatan diperlukan adanya penguatan regulasi untuk
berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun mendukung pengembangan dan
2014 tentang Tenaga Kesehatan terdiri dari pemberdayaan kesehatan melalui percepatan
pidana penjara dan pidana denda sesuai pelaksanaan, peningkatan kerjasama lintas
dengan jenis tindak yang dilakukan oleh sektor dan peningkatan pengelolaannya
tenaga kesehatan. Pidana yang penjara secara berjenjang di pusat dan di
berlaku 3 (tiga) tahun dan 5 (lima) tahun dan daerah.Perencanaan kebutuhan tenaga
pidana denda paling banyak Rp. kesehatan secara nasional disesuaikan dengan
100.000.000.00 (seratus juta rupiah). kebutuhan berdasarkan masalah kesehatan,
Kata kunci: Tenaga kesehatan, tindak pidana, kebutuhan pengembangan program
praktik pelayanan pembangunan kesehatan, serta ketersediaan
tenaga kesehatan tersebut. Pengadaan tenaga
kesehatan sesuai dengan perencanaan
kebutuhan diselenggarakan melalui
1
Artikel Skripsi. Dosen Pembimbing : Petrus Kanisius Sarkol,
3
SH. M. Hum., Fernando J.M.M Karisoh. SH. MH Penjelasan Atas Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014
2
Mahasiswa pada Fakultas Hukum Unsrat, NIM. 110711163 tentang Tenaga Kesehatan. I.Umum.

129
Lex Privatum, Vol. IV/No. 6/Juli/2016

pendidikan dan pelatihan, baik oleh masyarakat, yaitu dalam hal terjadi
pemerintah, pemerintah daerah maupun perubahan-perubahan.6
masyarakat termasuk swasta.Pendayagunaan Penerapan sanksi dalam suatu perundang-
tenaga kesehatan meliputi penyebaran tenaga undangan pidana bukanlah sekedar masalah
kesehatan yang merata dan berkeadilan, teknis perundang-undangan semata,
pemanfaatan tenaga kesehatan dan melainkan bagian tak terpisahkan dari
pengembangan tenaga kesehatan, termasuk substansi atau materi perundang-undangan
peningkatan karir. itu sendiri. Artinya, dalam hal menyangkut
Secara konseptual pendidikan kesehatan masalah penalisasi, kriminalisasi dan
adalah upaya untuk mempengaruhi dan atau deskriminalisasi harus dipahami secara
mengajak orang lain baik individu, kelompok komprehensif baik segala aspek persoalan
atau masyarakat agar melaksanakan perilaku substansi atau materi perundang-undangan
hidup sehat, sedangkan secara operasional pada tahap kebijakan legislasi.7
pendidikan kesehatan adalah semua kegiatan Keberadaan sanksi tindakan menjadi urgen
untuk memberikan dan atau meningkatkan karena tujuannya adalah untuk mendidik
pengetahuan, sikap dan praktik masyarakat kembali pelaku agar mampu menyesuaikan
dalam memelihara dan meningkatkan diri dengan lingkungannya. Sanksi tindakan ini
kesehatan mereka sendiri.4 lebuh menekankan nilai-nilai kemanusiaan
Dalam rangka memberikan perlindungan dalam reformasi dan pendidikan kembali
hukum dan kepastian hukum kepada tenaga pelaku kejahatan. Pendidikan kembali ini
kesehatan baik yang melakukan pelayanan sangat penting karena hanya dengan cara ini,
langsung kepada masyarakat maupun yang pelaku dapat menginsyafi bahwa apa yang
tidak langsung dan kepada masyarakat dilakukan itu bertentangan dengan nilai-nilai
penerima pelayanan itu sendiri diperlukan kemanusiaan.8
adanya landasan hukum yang kuat yang Bahwa sanksi dalam hukum pidana adalah
sejalan dengan perkembangan ilmu merupakan reaksi atas pelanggaran hukum
pengetahuan dan teknologi di bidang yang telah ditentukan undang-undang, mulai
kesehatan serta sosial ekonomi dan budaya. dari penahanan, penuntutan sampai, sampai
Hukuman dalam hukum pidana ditujukan pada penjatuhan hukuman oleh hakim. Simon
untuk memelihara keamanan dan pergaulan menyatakan, bahwa bagian terpenting dari
hidup yang benar.5Hukum bekerja dengan setiap undang-undang adalah menentukan
cara mengatur perbuatan seseorang atau sistem hukum yang dianutnya. Masalah
hubungan antara orang-orang dalam kebijakan menetapkan jenis sanksi dalam
masyarakat. Untuk keperluan pengaturan hukum pidana, tidak terlepas dari masalah
tersebut, maka hukum menjabarkan penetapan tujuan yang ingin dicapai dalam
pekerjaannya dalam berbagai fungsinya yaitu: pemidanaan.9
(1) pembuatan norma-norma, baik yang Sanksi pidana adalah tindakan hukuman
memberikan peruntukan maupun yang badan bagi yang melanggarnya, baik kurungan
menentukan hubungan antara orang dengan maupun penjara. Hukuman badan dapat
orang; (2) penyelesaian sengketa-sengketa; (3)
menjamin kelangsungan kehidupan 6
Satjipto Raharjo, Hukum dan Perubahan Sosial Suatu
Tinjauan Teoretis Serta Pengalaman-Pengalaman di
Indonesia, Cetakan Ketiga Genta Publishing, Yogyakarta,
Oktober 2009, hal. 111
4 7
Hariza Adnani, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Nuha Mahmud Mulyadi dan Feri Antoni Surbakti, Politik Hukum
Medika, Yogyakarta, Oktober 2011. Pidana Terhadap Kejahatan Korporasi, Cetakan Pertama, PT.
hal. 78. Sofmedia, Jakarta, 2010, hal. 91.
5 8
Leden Marpaung, Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana, Sinar Ibid.
9
Grafika. Cetakan Kedua, Jakarta, 2005, hal. 105. Ibid, hal. 92.

130
Lex Privatum, Vol. IV/No. 6/Juli/2016

berdiri sendiri dan atau dengan ditambah A. Tindak Pidana Oleh Tenaga Kesehatan
denda. Jenis tindak pidana yaitu: kejahatan Dalam Praktik Pelayanan Kesehatan
dan pelanggaran.10 Sanksi pidana bersumber Tindak pidana oleh tenaga kesehatan dapat
dari ide dasar, mengapa diadakan terjadi apabila dalam praktik pelayanan
pemidanaan? Sedangkan sanksi tindakan kesehatan setiap orang yang bukan tenaga
bertolak dari ide dasar, untuk apa diadakan kesehatan atau tenaga kesehatan itu sendiri
pemidanaan? Sanksi pidana sesungguhnya melakukan hal-hal sebagaimana diatur dalam
bersifat reaktif terhadap suau perbuatan, Pasal 83 sampai dengan Pasal 86 Undang-
sedangkan sanksi tindakan lebih bersifat Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga
antispatif terhadap pelaku perbuatan Kesehatan dan jenis-jenis perbuatan yang
11
tersebut. dilakukan sebagai berikut:
1. Setiap orang yang bukan tenaga kesehatan
B. RUMUSAN MASALAH melakukan praktik seolah-olah sebagai
1. Bagaimanakah terjadinya tindak pidana tenaga kesehatan yang telah memiliki izin;
yang dilakukan tenaga kesehatan dalam 2. Tenaga kesehatan melakukan kelalaian
praktek pelayanan kesehatan ? berat yang mengakibatkan penerima
2. Bagaimanakahpemberlakuan sanksi pidana pelayanan kesehatan luka berat atau
bagi tenaga kesehatan yang melakukan kematian;
tindak pidana? 3. Tenaga kesehatan menjalankan praktik
tanpa memiliki STR;
C. METODE PENELITIAN 4. Tenaga kesehatan warga negara asing yang
Bahan-bahan hukum yang digunakan untuk dengan sengaja memberikan pelayanan
menyusun Skripsi ini, diperoleh dari penelitian kesehatan tanpa memiliki STR sementara;
hukum kepustakaan, sehingga metode 5. Setiap tenaga kesehatan yang menjalankan
penelitian yang digunakan yakni penelitian praktik tanpa memiliki izin;
hukum normatif. Bahan-bahan hukum yang 6. Setiap tenaga kesehatan warga negara
dikumpulkan tersebut yaitu peraturan asing yang dengan sengaja memberikan
perundang-undangan sebagai bahan hukum pelayanan kesehatan tanpa memiliki SIP.
primer yang mengatur mengenai tenaga
kesehatan dan praktik pelayanan kesehatan B. Pemberlakuan Sanksi Pidana Bagi Tenaga
serta pemberlakuan sanksi pidana apabila Kesehatan
tenaga kesehatan melakukan tindak pidana. Sanksimemegang peranan penting dalam
Bahan-bahan hukum sekunder terdiri dari rangka penegakan hukum (law enforcement)
literatur-literatur dan karya-karya ilmiah terhadap ditaatinya suatu peraturan
hukum yang sesuai dengan materi penulisan perundang-undangan. Secara umum sanksi
Skripsi ini. Bahan-bahan hukum tersier seperti adalah hukum berupa nestapa akibat
kamus-kamus umum dan kamus hukum untuk pelanggaran kaidah hukum. Dalam ilmu
menjelaskan istilah-istilah yang hukum dikenal sanksi perdata, pidana dan
digunakan.Bahan-bahan hukum yang telah administrasi. Sanksi perdata merupakan sanksi
dikumpulkan dianalisis secara kualitatif dan akibat perbuatan melawan hukum yang
normatif. dilakukan oleh seseorang yang mengakibatkan
kerugian pada orang lain, karena itu, kepada
PEMBAHASAN orang yang menimbulkan kerugian diwajibkan
membayar ganti rugi kerugian. Sanksi pidana
10
Whimbo Pitoyo, Panduan Praktisi Hukum Ketenagakerjaan, berkaitan dengan pelanggaran terhadap
(Penyunting) Widy Octa & Nur A. Cetakan Pertama, Visimedia, ketentuan-ketentuan hukum pidana
Jakarta, 2010, hal. 143 (kepentingan/ketertiban umum) dan sanksi
11
Mulyadi Mahmud dan Feri Antoni Surbakti, Op. Cit, hal. 91

131
Lex Privatum, Vol. IV/No. 6/Juli/2016

adminsitrasi berkenaan dengan pelanggaran menakut-nakuti orang banyak (generale


ketentuan hukum dan sanksi administrasi preventie), maupun secara menakut-nakuti
berkenaan dengan pelanggaran ketentuan orang tertentu yang sudah menjalankan
hukum adminsitrasi yang ditetapkan oleh kejahatan, agar dikemudian hari tidak
pejabat tata usaha negara dalam melakukan kejahatan lagi (special prventie);
menyelenggarakan urusan pelayanan kepada b. Untuk mendidik atau memperbaiki orang-
masyarakat.12 orang yang suka melakukan kejahatan agar
Hukum tindak pidana khusus ini diatur menjadi orang yang baik tabiatnya,
dalam undang-undang di luar hukum pidana sehingga bermanfaat bagi masyarakat;
umum. Penyimpangan ketentuan hukum c. Untuk mencegah dilakukannya tindak
pidana yang terdapat dalam undang-undang pidana demi pengayoman negara,
pidana merupakan indikator apakah undang- masyarakat dan penduduk, yakni:
undang pidana itu hukum tindak pidana 1) Untuk membimbing agar terpidana insaf
khusus ataukah bukan, sehingga dapat dan menjadi anggota masyarakat yang
dikatakan hukum tindak pidana khusus adalah berbudi baik dan berguna;
undang-undang pidana atau hukum pidana 2) Untuk menghilangkan noda-noda yang
yang diatur dalam undang-undang pidana diakibatkan oleh tindak pidana.15
tersendiri.13 Sehubungan dengan tujuan pemidanaan ini
Sebagai suatu perundang-undangan yang J. E. Sahetapy berpendapat bahwa
bersifat khusus, dasar hukum maupun pemidanaan bertujuan untuk pembebasan
keberlakuannya, dapat menyimpang dari dan makna pembebasan menghendaki agar si
ketentuan umum Buku 1 KUHP, bahkan pelaku bukan saja harus dibebaskan dari alam
terhadap ketentuan hukum acara (hukum pikiran yang jahat dan keliru, melainkan harus
formal), peraturan perundang-undangan dibebaskan juga dari kenyataan sosial, di mana
tindak pidana khusus dapat pula menyimpang pelaku terbelenggu.16
dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014
tentang Hukum Acara Pidana, Kekhususan tentang Tenaga Kesehatan, Pasal 83: Setiap
peraturan perundang-undangan tindak pidana orang yang bukan tenaga kesehatan
khusus dari aspek, norma, jelas mengatur hal- melakukan praktik seolah-olah sebagai tenaga
hal yang belum diatur di dalam kesehatan yang telah memiliki izin
KUHP.Peraturan perundang-undangan tindak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64
pidana khusus merupakan peraturan dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
perundang-undangan yang mengatur tentang (lima) tahun.
hal-hal yang bersifat khusus di luar KUHP. Jadi Pasal 84:
titik tolak kekhususan suatu peraturan (1) setiap tenaga kesehatan yang melakukan
perundang-undangan khusus dapat dilihat dari kelalaian berat yang mengakibatkan
perbuatan yang diatur masalah subjek tindak penerima pelayanan kesehatan luka berat
pidana, pidana dan pemidanaan.14 dipidana dengan pidana penjara paling
Beberapa sarjana hukum mengemukakan lama 3 (tiga) tahun;
tentang tujuan hukum pidana, ialah: (2) jika kelalaian berat sebagaimana dimaksud
a. Untuk menakut-nakuti orang jangan sampai pada ayat (1) mengakibatkan kematian
melakukan kejahatan, baik dengan
15
Siswantoro Sunarso, Penegakan Hukum Psikotropika, Dalam
12
Lalu Husni, Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Kajian Sosiologi Hukum, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta,
Melalui Pengadilan & Di Luar Pengadilan,Raja Grafindo 2004, hal. 73
16
Persada, Jakarta, 2004. hal. 122-123. Mardani, Penyalahgunaan Narkoba Dalam Perspektif Hukum
13
Aziz Syamsuddin, Op.Cit, hal. 12. Islam dan Hukum Pidana Nasional, Ed. 1, PT. RajaGrafindo,
14
Ibid, hal. 12 Jakarta, 2008, hal. 176.

132
Lex Privatum, Vol. IV/No. 6/Juli/2016

setiap tenaga kesehatan dipidana dengan Malapraktik yang sering dilakukan oleh
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun. petugas kesehatan (dokter dan dokter gigi)
Pasal 85 ayat: secara umum diketahui terjadi karena hal-hal
(1) setiap tenaga kesehatan yang dengan sebagai berikut:18
sengaja menjalankan praktik tanpa a. Dokter atau dokter gigi kurang menguasai
memiliki STR sebagaimana dimaksud praktik kedokteran yang sudah berlaku
dalam Pasal 44 ayat (1) dipidana dengan umum di kalangan profesi kedokteran atau
pidana denda paling banyak Rp. kedokteran gigi;
100.000.000.00 (seratus juta rupiah). b. Memberikan pelayanan kedokteran atau
(2) setiap tenaga kesehatan warga negara kedokteran gigi di bawah standar profesi;
asing yang dengan sengaja memberikan c. Melakukan tindakan medis yang
pelayanan kesehatan tanpa memiliki STR bertentangan dengan hukum.
sementara sebagaimana dimaksud dalam Apabila petugas kesehatan (dokter atau
Pasal 55 ayat (1) dipidana dengan pidana dokter gigi) melakukan hal-hal seperti tersebut
denda Rp. 100.000.000.00 (seratus juta di atas maka yang bersangkutan melanggar
rupiah). hukum kesehatan atau malapraktik dan dapat
Pasal 86 ayat: dikenakan sanksi hukum. Untuk itu maka
(1) setiap tenaga kesehatan yang pihak masyarakat atau pasien dapat menuntut
menjalankan praktik tanpa memiliki izin penggantian kerugian atas kelalaian tersebut.
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 Untuk itu, pihak penuntut atau masyarakat
ayat (1) dipidana dengan pidana denda yang ingin menuntut ganti rugi harus dapat
paling banyak Rp. 100.000.000.00 (seratus membuktikan adanya empat unsur di bawah
juta rupiah). ini:19
(2) setiap tenaga kesehatan warga negara a. Adanya sebuah kewajiban bagi petugas
asing yang dengan sengaja memberikan kesehatan terhadap penderita atau pasien,
palayanan kesehatan tanpa memiliki SIP tetapi tidak dilakukan;
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 b. Petugas kesehatan telah melanggar standar
ayat (1) dipidana dengan pidana denda pelayanan kesehatan (medis) yang lazim
paling banyak Rp. 100.000.000.00 (seratus digunakan;
juta rupiah). c. Penggugat atau penderita dan atau
Dalam praktik kesehatan yang sering keluarganya menderita kerugian yang dapat
dijumpai adalah malpraktik kedokteran dan dimintakan ganti rugi;
kedokteran gigi, sedangkan untuk pertugas d. Secara jelas (factual) kerugian itu
kesehatan yang lain (perawat, bidan, petugas disebabkan oleh tindakan di bawah standar
kesehatan masyarakat, gizi dan apoteker) atau ketentuan profesi kesehatan/medis.
hampir tidak pernah kita jumpai. Hal ini Agar suatu pekerjaan dapat disebut sebagai
disebabkan karena kerugian yang diakibatkan suatu profesi, beberapa syarat yang harus
oleh adanya malapraktik tenaga kesehatan ini, dipenuhi adalah sebagai berikut:
masyarakat mengukurnya hanya dari aspek 1. Adanya spesialisasi pekerjaan.
cedera, cacat dan kematian saja. Kerugian- 2. Berdasarkan keahlian dan keterampilan.
Kerugian semacam ini hanya ditimbulkan oleh 3. Bersifat tetap dan terus-menerus.
adanya malapraktik dokter atau dokter gigi, 4. Lebih mendahulukan pelayanan daripada
sedangkan malapraktik petugas kesehatan lain imbalan/pendapatan.
pada umumnya hanya mengakibatkan 5. Mempunyai rasa tanggung jawab yang
kerugian materi saja.17 tinggi.
18
Ibid, hal. 168-169
17 19
Soekidjo Notoatmodjo, Op. Cit, hal. 168. Ibid, hal. 169.

133
Lex Privatum, Vol. IV/No. 6/Juli/2016

6. Terkelompok dalam suatu organisasi sesuai dengan prosedur kerja yang telah
profesi.20 ditentukan oleh kelompok profesinya,
Beberapa tahun terakhir ini sering kita sehingga yang salah atau yang meyimpang
dengar dan dibahas tentang praktik tenaga dari ketentuan atau prosedur yang baku
kesehatan baik itu dokter atau bidan yang (benar). Dalam bidang kesehatan, malapraktik
melakukan pengguguran kandungan. Sering adalah penyimpangan penanganan kasus atau
juga kita dengar pasien yang menjadi cacat masalah kesehatan (termasuk penyakit) oleh
dan bahkan meninggal dunia setelah ditangani petugas kesehatan, sehingga menyebabkan
oleh dokter atau petugas kesehatan yang lain. dampak buruk bagi penderita atau pasien.
Kemudian polemik yang muncul adalah bahwa Kelalaian disini adalah sikap kelaziman yang
petugas kesehatan yang lain, melakukan berlaku di dalam profesinya. Dalam praktik
pengguguran, menyebabkan pasien cacat kedokteran atau kedokteran gigi, kelalaian
seumur hidup dan bahkan sampai juga diartikan dengan melakukan tindakan
21
meninggal. medis di bawah standar layanan atau standar
Oleh sebab itu masyarakat, terutama yang profesi kedokteran.24
terkena kasus atau yang keluarganya terkena Sanksi, atau sanctie, yaitu akibat hukum
kasus tersebut mengajukan tuntutan hukum. terhadap pelanggar ketentuan undang-
Fenomenan semacam ini adalah bagus kalau undang. Ada sanksi administrasi, ada sanksi
dilakukan secara proporsional, sebab perdata dan ada sanksi pidana.25 Sanksi
fenomena ini menunjukkan meningkatnya Pidana, strafsanctie, akibat hukum terhadap
kesadaran masyarakat terhadap hukum pelanggaran ketentuan pidana yang berupa
kesehatan. Di samping itu, fenomena ini juga pidana dan/atau tindakan.26
menunjukkan adanya kesadaran masyarakat, Sanksi adalah alat pemaksa, memaksa
terutama pasien tentang hak-haknya atau hak- menegakkan hukum ialah memaksa
hak pasien.22 mengindahkan norma-norma hukum.
Di negara-negara maju fenomena Penegakan hukum pidana menghendaki sanksi
malapraktik dan kesadaran akan hak-hak hukum, yaitu sanksi yang terdiri atas dderita
pasien ini memang sudah terjadi puluhan khusus yang dipaksakan kepada si bersalah.
tahun yang lampau. Di negara-negara Derita kehilangan nyawanya (hukuman mati),
berkembang, terutama Indonesia, baru kurang derita kehilangan kebebasannya (penjara dan
lebih dua dasa yang lampau. Sesuai dengan kurungan), derita kehilangan sebagian
ungkapan yang mengatakan lebih baik kekayaan (hukuman denda dan perampasan)
terlambat daripada tidak sama sekali. Artinya, dan derita kehilangan kehormatannya
meskipun terlambat lebih baik kita sadarkan (pengumuman keputusan hakim). Penegakan
kepada masyarakat tentang masalah hukum perdata menghendaki sanksi-sanksi
malapraktik ini dan juga tentang hak-hak juga yang terdiri atas derita dihadapkan di
pasien terhadap petugas kesehatan terutama muka pengadilan dan derita kehilangan
tenaga medis.23 sebagian kekayaannya guna memulihkan atau
Malapraktik, berasal dari kata “mala” mengganti kerugian akibat pelanggaran yang
artinya salah atau tidak semestinya, dilakukannya. Sanksi sebagai alat penegak
sedangkan praktik adalah proses penanganan hukum bisa juga terdiri atas kebatalan
kasus (pasien) dari seorang profesional yang perbuatan yang merupakan pelanggaran
hukum. Baik batal demi hukum (van
20
rechtswege) maupun batal setelah ini
Muhammad Abdulkadir, Etika Profesi Hukum, PT. Citra
Aditya, Bandung, 2001, hal. 58.
21 24
Soekidjo Notoatmodjo, Op. cit, hal. 106 Ibid, hal. 167.
22 25
Ibid, hal. 166. Andi Hamzah, Op.Cit. 138.
23 26
Ibid, hal. 166. Ibid.

134
Lex Privatum, Vol. IV/No. 6/Juli/2016

dinyatakan oleh hakim. Pelanggaran hukum 1. Tindak pidana oleh tenaga kesehatan
acara acapkali ada sanksinya kebatalan juga dalam praktik pelayanan kesehatan
misalnya; batal surat tuduhan yang tidak dapat terjadi apabila setiap orang yang
menyebutkan unsur tempat dan/atau waktu.27 bukan tenaga kesehatan melakukan
Bahwa sanksi dalam hukum pidana adalah praktik seolah-olah sebagai tenaga
merupakan reaksi atas pelanggaran hukum kesehatan yang telah memiliki izin atau
yang telah ditentukan undang-undang, mulai tenaga kesehatan melakukan kelalaian
dari penahanan, penuntutan sampai, sampai berat yang mengakibatkan penerima
pada penjatuhan hukuman oleh hakim. Simon pelayanan kesehatan luka berat atau
menyatakan, bahwa bagian terpenting dari kematian serta tenaga kesehatan
setiap undang-undang adalah menentukan menjalankan praktik tanpa memiliki STR
sistem hukum yang dianutnya. Masalah termasuk tenaga kesehatan warga
kebijakan menetapkan jenis sanksi dalam negara asing yang dengan sengaja
hukum pidana, tidak terlepas dari masalah memberikan pelayanan kesehatan tanpa
penetapan tujuan yang ingin dicapai dalam memiliki STR sementara dan setiap
pemidanaan.28 tenaga kesehatan dan tenaga kesehatan
Jenis-jenis hukuman dapat dilihat dari warga negara asing yang menjalankan
ketentuan Pasal 10 KUHP. Pasal 10 KUHP praktik tanpa memiliki izin
menentukan adanya hukuman pokok dan 2. Pemberlakuan sanksi pidana terhadap
hukuman tambahan. Hukuman pokok adalah: tenaga kesehatan berdasarkan Undang-
1. Hukuman mati; Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang
2. Hukuman penjara; Tenaga Kesehatan terdiri dari pidana
3. Hukuman kurungan; penjara dan pidana denda sesuai dengan
4. Hukuman denda. jenis tindak yang dilakukan oleh tenaga
Hukuman tambahan adalah: kesehatan. Pidana yang penjara berlaku
1. Pencabutan hak-hak tertentu; 3 (tiga) tahun dan 5 (lima) tahun dan
2. Perampasan/penyitaan barang-barang pidana denda paling banyak Rp.
tertentu, dan 100.000.000.00 (seratus juta rupiah).
3. Pengumuman putusan hakim.29
Perbedaan antara hukuman pokok dan B. Saran
hukuman tambahan, adalah hukuman pokok 1. Untuk mencegah terjadinya tindak
terlepas dari hukuman lain, berarti dapat pidana oleh tenaga kesehatan dalam
dijatuhkan kepada terhukum secara mandiri. praktik pelayanan kesehatan diperlukan
Adapun hukuman tambahan hanya upaya pengawasan yang efektif oleh
merupakan tambahan pada hukuman pokok, pemerintah dan pemerintah daerah
sehingga tidak dapat dijatuhkan tanpa ada serta Konsil Tenaga Kesehatan dan
hukuman pokok (tidak mandiri).30 Organisasi Profesi sesuai
kewenangannya.
PENUTUP 2. Pemberlakuan sanksi pidana terhadap
A. Kesimpulan tenaga kesehatan perlu dilaksanakan
sesuai dengan peraturan perundang-
27
C.S.T. Kansil, Christine S.T. Kansil, Engelien R. Palandeng dan undangan yang berlaku dengan tujuan
Godlieb N. Mamahit, Kamus Istilah Aneka Hukum, Edisi untuk memberikan efek jera bagi tenaga
Pertama, Cetakan Kedua, Jala Permata Aksara, Jakarta, 2010, kesehatan serta untuk mencegah tenaga
hal. 383-384.
28
Ibid, hal. 92. kesehatan yang lain melakukan
29
Yulies Tiena Masriani, Pengantar Hukum Indonesia, Cetakan perbuatan yang sama.
Kelima, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hal. 65-66.
30
Ibid, hal. 66.

135
Lex Privatum, Vol. IV/No. 6/Juli/2016

DAFTAR PUSTAKA Mardani, Penyalahgunaan Narkoba Dalam


Abdulkadir Muhammad, Etika Profesi Hukum, Perspektif Hukum Islam dan Hukum
PT. Citra Aditya, Bandung, 2001. Pidana Nasional, Ed. 1, PT.
Adnani Hariza, Buku Ajar Ilmu Kesehatan RajaGrafindo, Jakarta, 2008.
Masyarakat, Nuha Medika, Yogyakarta, Marpaung Leden, Asas-Teori-Praktik Hukum
Oktober 2011. Pidana, Sinar Grafika. Cetakan Kedua,
Anonim, Kamus Hukum, Penerbit Citra Jakarta, 2005.
Umbara, Bandung. 2008. Masriani Tiena Yulies, Pengantar Hukum
Arrasjid Chainur, Hukum Pidana Perbankan, Indonesia, Cetakan Kelima, Sinar
Cetakan Pertama, Sinar Grafika. Jakarta, Grafika, Jakarta, 2009.
2011. Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Edisi
Djamali Abdoel, Pengantar Hukum Indonesia, Revisi, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2008.
Ed. 2. Rajawali Pers, Jakarta, 2009. Mulyadi Mahmud dan Feri Antoni Surbakti,
Hamzah Andi, Terminologi Hukum Pidana, Politik Hukum Pidana Terhadap
Sinar Grafika, Jakarta, 2008. Kejahatan Korporasi, Cetakan Pertama,
Hartanti Evi, Tindak Pidana Korupsi, Ed. 2. Cet. PT. Sofmedia, Jakarta, 2010.
1. Sinar Grafika, Jakarta, 2007. Notoatmodjo Soekidjo, Etika & Hukum
Helmi, Hukum Perizinan Lingkungan Hidup, Kesehatan, Rineka Cipta, PT. Rineka
Cetakan Pertama, Sinar Grafika. Jakarta. Cipta, Jakarta, 2010.
2012. Panjaitan Irwan Petrus & Chairijah, Pidana
Isfandyarie Anny, Tanggung Jawab Hukum dan Penjara Dalam Perspektif Penegak
Sanksi Bagi Dokter Buku I, Cetakan Hukum Masyarakat dan Narapidana,
Pertama, Jakarta, Maret, 2006. CV. Indhili. Co, Jakarta, Juni 2009.
Kansil C.S.T., dan Christine S.T. Kansil. Pokok- Pitoyo Whimbo, Panduan Praktisi Hukum
Pokok Etika Profesi Hukum. Pradnya Ketenagakerjaan, (Penyunting) Widy
Pramita, Jakarta.1996. Octa & Nur A. Cetakan Pertama,
Kansil C.S.T., Christine S.T. Kansil, Engelien R. Visimedia, Jakarta, 2010.
Palandeng dan Godlieb N. Mamahit, Raharjo Satjipto, Hukum dan Perubahan Sosial
Kamus Istilah Aneka Hukum, Edisi Suatu Tinjauan Teoretis Serta
Pertama, Cetakan Kedua, Jala Permata Pengalaman-Pengalaman di Indonesia,
Aksara, Jakarta, 2010. Cetakan Ketiga Genta Publishing,
Lalu Husni, Penyelesaian Perselisihan Yogyakarta, 2009.
Hubungan Industrial Melalui Pengadilan Ridwan Juniarso H dan Achmad Sodik Sudrajat,
& Di Luar Pengadilan,Raja Grafindo Hukum Adminsitrasi Negara dan
Persada, Jakarta, 2004. Kebijakan Pelayanan Publik, Cetakan l.
Lubis Sofyan, Mengenai Hak Konsumen dan Nuansa. Bandung. 2010.
Pasien, Cet. 1. Pustaka Yustisia, Sadjijono, Polri Dalam Perkembangan Hukum
Yogyakarta, 2009. Di Indonesia, (Editor) M. Khoidin,
Mahrus Ali, Dasar-Dasar Hukum Pidana, LaksBang PRESSindo, Yogyakarta, 2008.
Cetakan Pertama, Sinar Grafika, Jakarta, Sudarsono, Kamus Hukum, Cetakan Keenam,
2011. PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2009.
Marbun Rocky, Deni Bram, Yuliasara Isnaeni Sudarsono, Pengantar Ilmu Hukum, Cetakan
dan Nusya A., Kamus Hukum Lengkap Kelima, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2007.
(Mencakup Istilah Hukum & Perundang- Sunarso Siswantoro, Penegakan Hukum
Undangan Terbaru, Cetakan Pertama, Psikotropika, Dalam Kajian Sosiologi
Visimedia, Jakarta. 2012. Hukum, PT. RajaGrafindo Persada,
Jakarta, 2004.

136
Lex Privatum, Vol. IV/No. 6/Juli/2016

Syamsuddin Aziz, Tindak Pidana Khusus,


Cetakan Pertama, Sinar Grafika, Jakarta,
2011.
Titik Triwulan Tutik, dan Shita Febriana,
Perlindungan Hukum Bagi Pasien, PT.
Prestasi Pustakaraya, Jakarta, 2010.
Wahjoepramono Julianta Eka, Konsekuensi
Hukum, Dalam Profesi Medik, CV. Karya
Putra Darwati, Bandung. 2012.
Wahyudi Setya, Iplementasi Ide Diversi Dalam
Pembaruan Sistem Peradilan Pidana
Anak Di Indonesia, Genta Publishing,
Cetakan Pertama, Yoyakarta, 2011.

Waluyadi, Ilmu Kedokteran Kehakiman Dalam


Perspektif Peradilan dan Aspek Hukum
Praktik Kedokteran, Djambatan,
Cetakan Ketiga. Edisi Revisi, Jakarta,
2007.
Wiranata A.B., I. Gede,Dasar-Dasar Etika dan
Moralitas, Citra Aditya Bakti, Bandung,
2005.
Wiyanto Roni, Asas-Asas Hukum Pidana,
Cetakan ke-l. Mandar Maju, Bandung,
2012.

Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014
tentang Tenaga Kesehatan.
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29
Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

Internet
M.
Tempo.co/read/news/2015/05/25/064669226
/praktek-dokter-palsu-di-depok-terbongkar.
http://www. tempo. co/ read/ news/ 2013/
02/ 02/ 060458577/Awas-Obat-Kemoterapi-
Beredar-di-Pengobatan-Cina.

137