Anda di halaman 1dari 64

LAPORAN STUDI KELAYAKAN PERENCANAAN PENAMBANGAN

BATUBARA PT. GARDA TUJUH BUANA

Disusun Oleh :

Mega Bayu Suryantoko (122.13.040

Diajukan sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Pengantar Perencanaan Tambang pada

Semester VIII Tahun Akademik 2016-2017

PROGRAM STUDI EKSPLORASI TAMBANG

INSTITUT TEKNOLOGI DAN SAINS BANDUNG

DELTAMAS

2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Batubara merupakan salah satu sumber daya energi yang sejak berabad- abad lalu mulai
digunakan sehingga keberadaanya selalu menjadi salah satu objek utama yang
dieksplorasi dan dieksploitasi yang kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan
hidup manusia. Batubara merupakan salah satu sumber energi primer yang makin
penting dan merupakan komoditas perdagangan di Indonesia karena bernilai sangat
ekonomis. Keberadaan batubara di Indonesia yang sangat komersial dan sedang
marak-maraknya di eksploitasi terdapat di pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi
Batubara memiliki peran yang sangat penting untuk pendapatan dalam negeri
Indonesia karena komoditas ini menghasilkan sekitar 85 persen dari pendapatan sektor
pertambangan. Batubara merupakan kekuatan dominan di dalam pembangkitan
listrik. Paling sedikit 27 persen dari output energi total dunia dan lebih dari 39 persen
seluruh listrik dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga batubara.
Indonesia merupakan salah satu produsen dan eksportir batubara terbesar didunia,
dimana pada tahun 2013, Indonesia berada di posisi ke empat terbesar produsen
batubara didunia setelah Cina, USA dan Australia. Sejumlah kantung cadangan
batubara yang lebih kecil terdapat di pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan
Papua, sedangkan tiga daerah terbesar sumberdaya batubara Indonesia adalah
Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Penggunaan batubara
dalam negeri relatif rendah. Ekspor batubara Indonesia berkisar antara 70 sampai
80 persen dari produksi batubara total, sisanya dijual dipasar domestik
Berdasarkan data dari Asosiasi Petambangan Batubara Indonesia (APBI),
sebesar78,3% total produksi batubara Indonesia dihasilkan oleh 6 perusahaan
penambang batubara besar yaitu Bumi Resources, Adaro Energy, Kideco Jaya
Agung, Berau Coal, Indo Tambangraya Megah, dan Bukit Asam
Kondisi industri batubara yang tumbuh pesat membuat investasi di sektor tambang
batubara juga meningkat. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya jumlah akuisisi
atas perusahaan pemilik konsesi tambang batubara. Akuisisi perusahaan tambang
batubara bukan hanya perusahaan yang sudah beroperasi namun juga pada

1
perusahaan pemilik izin konsesi yang belum mulai beroperasi. Dengan demikian
untuk keperluan transaksi akuisisi diperlukan valuasi yang tepat atas perusahaan
tambang batubara baik yang sudah beroperasi maupun yang belum supaya diperoleh
nilai wajar yang tidak merugikan investor ataupun pemilik konsesi.
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari disusunnya laporan studi kelayakan ini merupakan suatu upaya yang akan
ditempuh PT. Garda Tujuh Buana untuk mengkaji nilai-nilai kelayakan tambang dan
nilai investasi yang harus dilakukan sehingga tambang batubara yang akan ditambang
memiliki nilai kualitatif serta kuantitatif untuk ditambang.
Tujuan yang ingin dicapai adalah sebagai bahan evaluasi untuk mengetahui nilai
perusahaan yang lebih tepat dengan menggunakan data dan informasi terkini sebagai
dasar amunisi dalam valuasi sehingga dapat diketahui nilai saham PT. Garda Tujuh
Buana saat ini agar dapat dipakai sebagai dasar bagi pemegang saham ataupun calon
investor dalam menentukan nilai penjualan saham
1.3 Ruang Lingkup dan Metode Studi
Penelitian ini dilakukan dengan cara mempelajari dan mengumpulkan data baik dari
internal perusahaan maupun eksternal seperti dari literatur dan jurnal yang telah
dipublikasikan melalui media digital serta sumber lain yang dapat membantu
Selanjutnya dilakukan pengolahan data yang meliputi pemahaman perusahaan dan
industri batubara, melakukan proyeksi kerja, valuasi menggunakan metode
discounted cash flow serta kesehatan dan keselamatan kerja.

1.4 Pelaksana Studi


Pelaksana penelitian ini adalah mahasiswa Institut Teknologi dan Sains Bandung,
Fakultas Teknik dan Desain, program studi Eksplorasi Tambang bernama Mega Bayu
Suryantoko (122.13.040)

2
BAB II
KEADAAN UMUM
2.1 Lokasi dan Luas Wilayah
Dasar kegiatan penambangan PT. Garda Tujuh Buana Tbk. adalah Surat
Keputusan Bupati Bulungan No. 467 tahun 2001 tentang Pemberian Kuasa Pertambangan
Eksploitas untuk wilayah seluas 1.995.003 Ha, dan Kuasa Pertambangan Eksplorasi
seluas 10.410 Ha (KW 96 JNP 249) di Kecamatan Bunyu, Kabupaten Bulungan

Gambar 2.1 Batas KP PT.Garda Tujuh Buana


2.2 Kesampaian Daerah
Daerah Kuasa Pertambangan PT.Garda Tujuh Buana berada di Kecamatan Bunyu,
Kabupaten Bulungan,Provinsi Kalimantan Utara, demgan luas wilayah 198,32 km2 serta
berjarak kurang lebih 60km dari ibukota kecamatan Tanjung Selor. Untuk mencapai
daerah ini, dapat ditempuh melalui Pulau Tarakan dengan waktu sekitar 1 jam perjalanan
menggunakan speed boat.

2.3 Topografi dan Morfologi


3
Berdasarkan kondisi topografi, daerah penelitian merupakan area datar hingga
perbukitan, pada pulau ini tercapat perbukitan memanjang dan melengkung kearah Barat
Laut – Tenggara dengan ketinggian sekitar 110 mdpl. Kelerengan bervariasi anatar 2,5 –
50 % dengan kelerengan rata-rata sekitar 3%. Lembah-lembah dengan tebing terjal
dijumpai pada bagian hulu dengan ketinggian tebing relatif sedang. Disisi Barat dan
Timur perbukitan mengalir beberapa sungai atau alur dengan cabang dan anak-anak sungai
yang relatif pendek hingga mencapai tepi laut atau daratan. Tebing-tebing di perbukitan
menunjukan intensitas erosi yang tinggi.

Perbukitan tersebut dikelilingi oleh dataran banjir, dataran sungai, dan dataran
pantai. Di beberapa tempat, khususnya di bagian utara pulau terdapat rawa-rawa dan
genangan. Kawasan dataran dengan ketinggian kurang dari 7 meter mencakup luasan
sekitar 65% dari seluruh luas Pulau Tarakan. Sedangkan tingkat kelerengan lahan berkisar
0 – 40%. Lereng atau kemiringan lahan merupakan salah satu faktor yang perlu
diperhatikan dalam menentukan layak atau tidaknya suatu wilayah untuk di budibaya.

4
BAB III
GEOLOGI DAN KEADAAN ENDAPAN
3.1 Fisiografi Cekungan Tarakan

Cekungan Tarakan merupakan salah satu dari 3 (tiga) Cekungan Tersier utama yang
terdapat di bagian timur continental margin Kalimantan (dari utara ke selatan:
Cekungan Tarakan, Cekungan Kutai dan Cekungan Barito), yang dicirikan oleh hadirnya
batuan sedimen klastik sebagai penyusunnya yang dominan, berukuran halus sampai
kasar dengan beberapa endapan karbonat
Secara fisiografi, Cekungan Tarakan meliputi kawasan daratan dan sebagiannya lagi
kawasan lepas pantai. Di bagian utara dibatasi oleh tinggian Semporna yang terletak sedikit
di utara perbatasan Indonesia - Malaysia, di sebelah selatan oleh Punggungan Mangkalihat
yang memisahkan Cekungan Tarakan dengan Cekungan Kutai. Ke arah barat dari
cekungan meliputi kawasan daratan sejauh 60 sampai 100 km dari tepi pantai hingga
Tinggian Kucing, ke arah timur batas cekungannya diketahui melewati kawasan paparan
benua dari Laut Sulawesi.
Proses pengendapan Cekungan Tarakan di mulai dari proses pengangkatan.
Transgresi yang diperkirakan terjadi pada Kala Eosen sampai Miosen Awal
bersamaan dengan terjadinya proses pengangkatan gradual pada Tinggian Kuching dari
barat ke timur. Pada Kala Miosen Tengah terjadi penurunan (regresi) pada Cekungan
Tarakan, yang dilanjutkan dengan terjadinya pengendapan progradasi ke arah timur
dan membentuk endapan delta, yang menutupi endapan prodelta dan batial. Cekungan
Tarakan mengalami proses penurunan secara lebih aktif lagi pada Kala Miosen sampai
Pliosen. Proses sedimentasi delta yang tebal relatif bergerak ke arah timur terus berlanjut
selaras dengan waktu
Cekungan Tarakan berupa depresi berbentuk busur yang terbuka ke timur ke arah
Selat Makasar atau Laut Sulawesi yang meluas ke utara Sabah dan berhenti pada zona
subduksi di Tinggian Semporna dan merupakan cekungan paling utara di Kalimantan.

5
Tinggian Kuching dengan inti lapisan Pra-Tersier terletak di sebelah baratnya,
sedangkan batas selatannya adalah Ridge Suikersbood dan Tinggian Mangkalihat
Ditinjau dari fasies dan lingkungan pengendapannya, Cekungan Tarakan terbagi

menjadi empat sub cekungan, yaitu Tidung Sub-basin, Tarakan Sub-basin, Muara

Sub-basin dan Berau Sub-basin.

1. Tidung Sub-basin: Terletak paling utara dan untuk sebagian besar

berkembang di daratan, terisi sedimen berumur Oligosen sampai Miosen

Akhir. Dipisahkan dengan Berau sub-basin di bagian selatan oleh Sekatak

Ridge.

2. Berau Sub-basin: Terletak pada bagian selatan dan sebagian besar berkembang

di daratan. terisi oleh sedimen berumur Eosen Akhir sampai Miosen Akhir.

3. Tarakan Sub-basin: Terletak pada bagian tengah dan merupakan sub

cekungan paling muda. Perkembangan paling utara ke arah lepas pantai dan

terisi dengan Formasi Tarakan-Bunyu yang berumur Miosen Akhir.

4. Muara Sub-basin: Merupakan deposenter paling selatan dan perkembangan

sedimennya ke arah lepas pantai di utara Tinggian Mangkalihat. Dipisahkan

dengan Berau sub-basin, di utaranya oleh Suikerbrood Ridge, yaitu suatu

Tinggian yang berarah Barat- Timur.

Struktur utama di Cekungan Tarakan adalah lipatan dan sesar yang umumnya
berarah baratlaut-tenggara dan timur laut – barat daya. Terdapat pola deformasi
struktur yang meningkat terutama sebelum Miosen Tengah bergerak ke bagian utara
cekungan. Struktur-struktur di Sub-cekungan Muara dan Berau mengalami sedikit
deformasi, sementara di Sub-cekungan Tarakan dan Tidung lebih intensif terganggu
(Ahmad dkk, 1984)

6
Sub-cekungan Berau dan Muara didominasi oleh struktur - struktur regangan yang
terbentuk oleh aktifitas tektonik semasa Paleogen, sementara intensitas struktur di
Sub-cekungan Tarakan dan Tidung berkembang oleh pengaruh berhentinya
peregangan di Laut Sulawesi yang diikuti oleh aktifitas sesar-sesar mendatar di fasa akhir
tektonik Tarakan (Fraser dan Ichram, 1999).
Di Cekungan Tarakan terdapat 3 sinistral wrench fault yang saling sejajar dan berarah
baratlaut-tenggara, yaitu:
1. Sesar Semporna yaitu sesar mendatar yang berada di bagian paling utara,
memisahkan kompleks vulkanik Semenanjung Semporna dengan sedimen neogen
di Pulau Sebatik.
2. Sesar Maratua sebagai zona kompleks transpresional membentuk batas
Subcekungan Tarakan dan Muara.
3. Sesar Mangkalihat Peninsula, yang merupakan batas sebelah selatan
SubCekungan Muara bertepatan dengan garis pantai utara Semenanjung
Mangkalihat dan merupakan kemenerusan dari Sesar Palu-Koro di Sulawesi.
Struktur sesar tumbuh (growth fault) paling umum terdapat di Sub-cekungan
Tarakan dengan arah utara-barat laut (di selatan) dan timur laut (di utara) dengan
perubahan trend yang diperlihatkan oleh perubahan orientasi garis pantai pada mulut
Sungai Sesayap, dari utara - barat laut di selatan Pulau Tarakan ke arah timurlaut di utara
Pulau Bunyu (Wight, dkk. 1993).

Kelompok sesar yang berarah utara lebih menerus dan mempunyai offset terbesar.
Di daerah daratan (onshore), yang melingkupi sub-sub cekungan Tidung, Berau, dan
Tarakan, peta geologi permukaan menunjukkan adanya 2 struktur yang berbeda
antara daerah Sekatak - Bengara (Sub-cekungan Berau) dengan daerah Simenggaris (Sub-
cekungan Tarakan). Di Sekatak-Bengara sesar-sesar turun dan mendatar berarah utara dan
baratlaut mendominasi terutama karena yang tersingkap di permukaan umumnya adalah
endapan-endapan paleogen. Sementara di daerah Simenggaris sesar-sesar turun dan
mendatar berarah timur laut mendominasi permukaan geologi yang ditempati oleh endapan-
endapan Neogen.

7
3.2 Keadaan Endapan

Endapan batubara di daerah penelitian umumnya berumur Paleogen dan Neogen dan
proses pengendapannya berhubungan dengan regresi air laut. Peringkat batubara umumnya
berupa berupa lignit hingga high volatile bituminous dengan nilai kalori rendah, kandungan
air lembab tinggi, kadar abu dan sulfur relatif rendah. Endapan batubara dan endapan tersier
lainnya yang terdapat di Cekungan Kutai, proses pengendapannya diperkirakan juga
berhubungan dengan gerak pemisahan Pulau Kalimantan dan Sulawesi yang kemungkinan
terjadi pada akhir Kapur hingga awal Paleogen

8
BAB IV

RENCANA PENAMBANGAN

4.1 Sistem/Metode dan Tata Cara Penambangan

Memilih metode penambangan tambang terbuka yaitu dengan open pit mining untuk
melaksanakan penambangan batubara ini. Metode tambang terbuka dipilih berdasarkan
pertimbangan faktor-faktor teknis yang mencakup model geologi, kondisi lapisan batubara
(strike, dip, thikness). kondisi lapisan penutup (overburden) serta pertimbangan jumlah
sumber daya batubara. Metode penambangan ini menggunakan kombinasi back hoe dan
dump truck serta bulldozer.

Open pit merupakan teknik penambangan batubara yang dinilai cocok dan sesuai untuk
diterapkan. Teknik penambangan open pit mining ini adalah dengan melakukan
penggalian batubara pada batas-batas penambangan (pit limit) dari arah singkapan (crop
line) menuju ke bawah searah dengan kemiringan lapisan batubara (down dip).

Penggalian ini digunakan dengan membentuk jenjang-jenjang atau lereng multi yang
memiliki geometri tertentu berdasarkan hasil kajian geoteknik dan rencana pengoperasian
alat-alat penambangan. Dengan teknik penambangan ini, diharapkan semua lapisan (seam)
batubara yasmng penyebarannya jelas, dapat ditambang dengan baik.

Gambar 4.1 Bagan Alir kegiatan penambangan

9
4.2 Tahapan Kegiatan Penambangan
a. PIT awal seluas 23.500 m2, tanah pucuk yang dipindahkan sebesar 14.961 m3 dan
tanah penutup yang dipindahkan sebesar 387.030 m3.
b. Tanah penutup akan ditimbun di lokasi Disposal seluas 8 ha
c. Rancangan PIT : overall slop 400 36’, tinggi bench 6 m, lebar bench 5 m, striping
ratio 1,4 : 1
d. Batubara yang dapat diproduksi dari area tersebut 302.850 Mton

Gambar 4.2 Kenampakan Tahapan Kegiatan Penambangan PT.Garda Tujuh Buana

10
4.3 Rencana Produksi (Kuantitas, Kualitas, Cut Off Grade, Stripping Ratio)

Rencana produksi sampai dengan Desember 2003 adalah sebagai berikut :


4.4 Agustus 15.000 Mton
4.5 September 50.000 Mton
4.6 Oktober 50.000 Mton
4.7 Nopember 100.000 Mton
4.8 Desember 100.000 Mton
Pemasaran batubara untuk produksi tersebut diatas yaitu untuk memenuhi
permintaan eksport (Philipina dan Thailand) serta kebutuhan dalam negeri
(Indonesia Power).

Tabel 4.1 Perhitungan Cadangan Batubara Seam A-E Blok Selatan

Kualitas batubara ditentukan dengan analisis batubara di laboraturium, diantaranya


adalah analisis proksimat dan analisis ultimat. Analisis proksimat dilakukan untuk
menentukan jumlah air, zat terbang, karbon padat, dan kadar abu, sedangkan analisis ultimat
dilakukan untuk menentukan kandungan unsur kimia pada batubara seperti : karbon,
hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur tambahan dan juga unsur jarang.
Kualitas batubara ini diperlukan untuk menentukan apakah batubara tersebut
menguntungkan untuk ditambang selain dilihat dari besarnya cadangan batubara di daerah
penelitian.

Untuk menentukan jenis batubara, digunakan klasifikasi American Society for Testing
and Material (ASTM, 1981, op cit Wood et al., 1983)(Tabel 5.2). Klasifikasi ini dibuat
berdasarkan jumlah karbon padat dan nilai kalori dalam basis dry, mineral matter free

11
(dmmf). Untuk mengubah basis air dried (adb) menjadi dry, mineral matter free (dmmf)
maka digunakan Parr Formulas (ASTM, 1981, op cit Wood et al., 1983). Berikut adalah
hasil analisa kualitas batubara yang didapat.

The Coal Quantity

No Coal Seam Measured Reserves Indicative Reserves Inferred Reserves Remarks


MT MT MT
1 Seam A 20,831,461 4,710,070 0
2 Seam B 4,009,646 4,569,825 538,060
3 Seam C 10,263,617 4,375,724 4,430,153
4 Seam D 6,836,460 5,434,166 6,619,724
5 Seam E 113,153,954 60,741,268 11,843,929
Total (MT) 155,095,138 79,831,053 23,431,866

Kualitas Batubara

No Parameter Quality Unit Basis Remarks


1 Total Moisture 31.23 - 39.8 % As Received
A Proximate
2 Inherent Moisture 15.86 - 18.72 % Air Dried Basis
3 Ash Content 2.55 - 3.03 % Air Dried Basis
4 Volatile Matter 41.6 - 47.37 % Air Dried Basis
5 Fixed Carbon 35.53 - 38.51 % Air Dried Basis
6 Total Sulphur 0.11 - 0.20 % Air Dried Basis
7 Gross Cal. Val. 4.471 - 5.200 K Cal / Kg Air Dried Basis
8 Relative Density 1.3 - 1.46 gr/ml Air Dried Basis

B Ultimate
9 Moisture 10.64 % Air Dried Basis
10 Carbon 56.8 % Air Dried Basis
11 Hydrogen 4.39 % Air Dried Basis
12 Nitrogen 0.72 % Air Dried Basis
13 Total Sulphur 0.31 % Air Dried Basis
14 Oxygen 26.07 % Air Dried Basis
15 Chlorine 0.014 % Air Dried Basis

12
C A sh Fusion
Reducing Atmosphre
O
16 Deformation 1230 Celcius Air Dried Basis
O
17 Spherical 1325 Celcius Air Dried Basis
O
18 Hemisphere 1335 Celcius Air Dried Basis
O
19 Flow 1390 Celcius Air Dried Basis

Oxydising
O
20 Deformation 1230 Celcius Air Dried Basis
O
21 Spherical 1325 Celcius Air Dried Basis
O
22 Hemisphere > 1500 Celcius Air Dried Basis
O
23 Flow >1500 Celcius Air Dried Basis

D A sh A nalysis
24 Si 02 7.3 %
25 Al203 5.71 %
26 Fe2O3 41.05 %
27 TiO 1.7 %
28 CaO 11.82 %
29 MgO 6.17 %
30 K2O 0.38 %
31 NaO 0.44 %
32 MnO2 1.79 %
33 SiO3 22.75 %
34 P2O3 0.46 %

Tabel 4.2 Hasil Analisa Kualitas Batubara

4.4 Peralatan (Jenis, Jumlah, Kapasitas)

Dalam lingkungan mekanik pertambangan, Peralatan dan Pengelolaan Tambang


menempati posisi penting dalam proses penambangan dan kemampuan peralatan sering
menjadi kendala produksi yang menentukan kinerja operasi dalam mengekstraksi mineral
dan pengolahan. Studi menunjukkan bahwa biaya pemeliharaan peralatan mencapai 30-60
persen dari total biaya operasional secara langsung dalam operasi mekanik dipertambangan.
Berikut adalah peralatan yang digunakan pada kegiatan penambangan PT. Garda Tujuh
Buana :

13
No Peralatan Merk Type Unit Kapasitas Ket
1 Excavator Hitachi Ex 450 4 3.2 M3
2 Excavator Hitachi Pc 200 8 0.80 M3
3 Grader Komatsu GD 510 2
4 Loader Caterpillar Cat 966 4 3.2 M3
5 Dozer Komatsu D 85 ss 8 4.2 M3
6 Vibro Roller Bomag 2 10 Ton
7 Dump Truck Nissan CWB 16 20 Ton
8 Dump Truck Hino 6x4 22 20 BC M
9 Fuel Truck Hino 2 10.000 Ltr
10 Water Tank Truck Hino 2 10.000 Ltr
11 Service Truck Hino 6x4 2
12 Man Haul Hino 26 Seats 2
13 Supporting Vehicle Isuzu 2 1.5 Ton
14 Angkutan Ringan Taft Hiline 4 x 4 4 2 Ton
15 Trans-staff/Mgr Taft/Jeep Hiline 4 x 4 4 2 Ton
16 Ambulan Daihatsu Minibus 1 0.9 Ton
17 Slurry Pump Sykes 8 50 l/Sec
18 Generator Set Caterpillar 100 KVA 1 100 KVA
19 Generator Set Caterpillar 250 KVA 2 250 KVA
20 Alat Survey Sokkia Set 2010 1 TS
21 Peralatan Lab CCI
22 Alat Bor Koken DPZL 1 150 m
23 Ponton 15 x 80 m 2 6000 Ton
24 Ponton 16 x 100 m 1 8000 Ton
25 Kapal Tarik Caterpillar 2 10000 Ton
26 Kapal Tarik Caterpillar 1 14000 Ton
27 Crushing Plant 1 500 -1000 T/Hr
28 Water Pump Submersible 3 pk 5 Ltr/Sec

Tabel 4.3 Jenis Peralatan Yang Digunakan Dalam Kegiatan Penambangan Batubara PT.
Garda Tujuh Buana
Dari tabel tersebut, dapat dilihat bahwa jenis peralatan utama penambangan yang mutlak
dipergunakan adalah excavator, dump truck dan bulldozer.
A. Excavator
Alat ini berdasarkan fungsi utamanya sering disebut alat gali muat. Pada operasi
penambangan akan digunakan untuk melakukan tugas-tugas sebagai berikut:
1. Melakukan penggalian, pemuatan dan pemindahan serta pencurahan material
lemah seperti humus atau top soil pada lokasi penimbunan atau langsung ke atas
alat angkut.

2. Melakukan penggalian, pemuatan, dan pencurahan lapisan tanah penutup


(overburden), dan mengumpulkannya pada suatu lokasi dekat tambang atau
langsung memuat ke atas alat angkut.

14
3. Melakukan penggalian, pemuatan dan pencurahan lapisan batubara dan
mengumpulkannya pada lokasi dekat tambang atau langsung memuat ke atas
alat angkut.
4. Melakukan perintisan dan pembuatan saluran-saluran air di tambang untuk
sistem drainase tambang.
5. Melakukan perintisan dan pembuatan kolam air di tambang (settling pond)
dalam rangka pengelolaan dan pemantauan lingkungan tambang.
Kemampuan alat ini dalam melakukan jenis pekerjaan di atas didukung oleh:
 Kemampuan daya gali yang besar
 Kemampuan memotong untuk permukaan yang relatif se-block dengan
memanfaatkan blade pada bucket-nya
 Kemampuan melakukan manuiver pada medan yang se-block
 Dengan memanfaatkan kemampuan track yang dimilikinya

B. Dump Truck
Alat ini berdasarkan fungsi utamanya sering disebut truk jungkit dan pada operasi
penambangan akan digunakan untuk melakukan tugas-tugas sebagai berikut:
1. Melakukan pengangkutan, pencurahan hasil penggalian tanah penutup
(overburden) ke lokasi penimbunan tanah penutup (dumping area).
2. Melakukan pengangkutan, pencurahan batubara hasil tambang (Run Of Mine)
dari tambang ke stockpile batubara.
Kemampuan alat ini dalam melakukan jenis pekerjaan di atas didukung oleh:
 Kemampuan muat yang besar dari bucket-nya

 Kemampuan mobilitas yang cepat untuk jarak angkut yang jauh.

 Kemampuan untuk melakukan dumping dari bucket-nya.


 Kemampuan untuk melakukan manuiver pada medan yang se-block
C. Bulldozer
Alat ini fungsi utamanya adalah alat gali, dorong dan gusur. Pada operasi
penambangan akan digunakan untuk melakukan tugas-tugas sebagai berikut :
1. Melakukan pembabatan semak dan mengumpulkannya ke suatu lokasi tertentu
2. Melakukan penggusuran jenis tanaman pohon-pohonan

15
3. Melakukan pengupasan tanah atas atau humus (stripping) dan
mengumpulkannya dekat lokasi tambang
4. Melakukan pembersihan Iapisan tanah penutup (overburden) dan
mengumpulkanya pada suatu lokasi dekat tambang. Apabila berhadapan dengan
material keras, maka digunakan alat tambahan yang disebut ripper
5. Melakukan perintisan dalam pembuatan lantai kerja dan jalan angkut tambang
6. Mengatur bentuk geometri lereng tambang
Kemampuan alat ini dalam melakukan jenis pekerjaan-pekerjaan seperti di atas akan
di dukung oleh:
 Kemampuan daya dorong yang besar yang dimilikinya

 Kemampuan memotong untuk ukuran yang cukup lebar dengan


memanfaatkan blade dan daya dorong yang besar

 Kemampuan merobek material keras dengan memanfaatkan kemampuan


ripper dan daya dorong yang besar

 Kemampuan untuk melakukan manuiver pada medan yang se-block dengan


memanfaatkan kemampuan track yang dimilikinya

4.5 Jadwal Rencana Produksi dan Umur Tambang

Adapun rencana produksi batubara di PT Garda Tujuh Buanapada tahun 2003 pada
bulan Agustus sampai dengan Oktober sebesar 50.000 MT dan pada bulan November
sampai dengan Desember sebesar 100.000 MT.

16
Tabel 4.4. Rencana Produksi Batubara Tahun 2003

Gambar 4.3. Rencana Produksi Batubara Tahun 2003


Rencana produksi batubara pada tahun 2004 sampai dengan 2006 semakin meningkat
sesuai kebutuhan permintaan pasar. Pada tahun 2004 rencana produksi batubara sebesar
1.2000.000 mt, pada tahun 2005 sebesar 2.000.000 mt dan pada tahun 2006 sebesar
3.000.000

17
Tabel 4.5.
Rencana Produksi batubara Tahun 2004 - 2006

Gambar 4.4. Rencana Produksi Batubara Tahun 2004 – 2006

4.6 Rencana Pasca Tambang

Reklamasi dan pasca tambang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan
pertambangan, sehingga pertambangan dalam hal ini dapat disimpulkan bukan hanya
kegiatan gali muat angkut namun harus pula pengembalian lahan sebagaiamana
peruntukan, untuk lebih jau mengenai reklamasi dan pasca tambang mari kita tinjau
berdasarkan pengertiannya sebgai berikut :

Menurut UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara disebutkan


bahwa reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha
pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan
ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya.

Kegiatan Pasca Tambang kegiatan terencana, sistematis, dan berlanjut setelah


sebagian atau seluruh kegiatan usaha pertambangan untuk memulihkan fungsi
lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah
penambangan berakhir. Kemudian juga disebutkan tentang dana jaminan reklamasi
yaitu dana yang disediakan oleh perusahaan sebagai jaminan untuk melakukan

18
reklamasi. Selain itu ada pula Jaminan Pascatambang adalah dana yang disediakan oleh
perusahaan untuk melaksanakan pascatamban

Tabel 4.6. Rencana Biaya Reklamasi PT. Garda Tujuh Buana Tahun 2003/2004

19
BAB V
RENCANA PENGOLAHAN

5.1 Rencana Pengolahan Batubara


Pengolahan batubara adalah suatu proses yang bertujuan untuk menghilangkan
mineral pengotor di dalam batubara. Pengotor yang terdapat di dalam batubara berupa
mineral yang antara lain lempung, pasir, kwarsa dan lain-lain. Pengolahan batubara
bertujuan untuk menghilangkan pengotor yang terdapat di dalam batubara. Pengotor yang
terdapat di dalam batubara akan menjadi abu jika batubara tersebut dibakar. Hal ini menjadi
masalah dalam pemanfaatannya untuk energi karena semakin banyak pengotor di dalam
batubara akan mengurangi nilai kalor atau nilai panas batubara. Oleh kareana itu upaya
yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan pengotor di dalam batubara adalah
dengan melakukan pengolahan.

5.2 Tatacara Pengolahan Batubara


Pengolahan Batubara PT.Garda Tujuh Buana akan dilaksanakan di lokasi crushing
plant dimana lokasi ini menyatu dengan lokasi penumpukan Batubara (raw coal stockpile).
Pengolahan Batubara (coal preparation) bertujuan untuk mereduksi ukuran (size
reduction) batubara pasca operasi penambangan atau Run of Mine (ROM) sehingga
mencapai ukuran yang diinginkan.

5.2.1 Tatacara Pengolahan Batubara


Dalam rangka melakukan peningkatan kualitas maka akan dilakukan beberapa penanganan
terhadap Batubara produksi penambangan (ROM), antara lain:
 Proses pencampuran (Blending)
 Proses penghancuran/pemecahan (Crushing)
 Proses pencucian (Washing)
Pengolahan Batubara secara garis besar adalah proses peningkatan kualitas batubara
sesuai permintaan pasar

20
5.2.2 Diagram Alir Pengolahan Batubara

PENAMBANGAN

PENGANGKUTAN

PENGOLAHAN

Blending

Crushing

Washing

PENYIMPANAN

Gambar 5.1 Diagram Alir Pengolahan Batubara

21
5.2.3 Recovery Pengolahan Batubara
Pada PT. Garda Tujuh Buana Recovery pengolahan batubara adalah memaksimalkan batubara
maupun mineral pengikut agar dapat diproses dan diproduksi maksimal. Adapun prose recovery yang
dilakukan di PT. Garda Tujuh Buana adalah :
a. Menerapkan teknik pengolahan dan peralatan yang tepat
b. Memaksimalkan head grade antara lain dengan cara blending
c. Memproduksi beberapa macam jenisdan kualitas produk
d. Memaksimalkan recovery baik mineral utama dan mineral pengikut
e. Menempatkan dan mendata jumlah dan kualitas tailing dengan baik

5.4 Peralatan Pengolahan Batubara

No. Peralatan Spesifikasi Unit


1. Primary Crusher Jaw Crusher PE 400 x 600, 350 t0n/jam. 65 KVA,
Feed Opening = (400 x 600 ) mm 1
2. Secondary Crusher Jaw Crusher P 250 x 750,150 ton/jam, 45 KVA,
Feed Opening = ( 100 x 200 ) mm 1
3. Hammer Crusher Feed Opening = 20 x 30 mm 1
4. Jigger Feed Opening = 150 mm x 200 mm 1
5. Belt Conveyor Belt 1.100 m x 1 ply, motor 10 Hp x 3 phase, ban mobil
(kijang), spasi roller 70 cm, chain RS 100, Gear box type 100 ; 1 : 4. 1
6 Kolam pencucian Kapasitas 20.000 m3 1

22
SPESIFIKASI PRODUKSI BATUBARA PT.GARDA TUJUH BUANA SITE P.BUNYU
JENIS BATUBARA JUMLAH PRODUKSI Tahun Tambang KALORI KUALITAS
(MT) (UMUR) (Kcal/kg)

Sub Bituminus 350000 2003 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water
Sub Bituminus 1200000 2004 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water
Sub Bituminus 2000000 2005 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water
Sub Bituminus 3000000 2006 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water
Sub Bituminus 10000000 2007 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water
Sub Bituminus 14225000 2008 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water
Sub Bituminus 14225000 2009 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water
Sub Bituminus 14225000 2010 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water
Sub Bituminus 14225000 2011 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water
Sub Bituminus 14725000 2012 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water
Sub Bituminus 14725000 2013 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water
Sub Bituminus 14825000 2014 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water
Sub Bituminus 14925000 2015 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water
Sub Bituminus 14985000 2016 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water
Sub Bituminus 15000000 2017 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water
Sub Bituminus 15000000 2018 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water
Sub Bituminus 15000000 2019 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water
Sub Bituminus 15000000 2020 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water
Sub Bituminus 15000000 2021 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water
Sub Bituminus 12291191 2022 4450-5200 Low sulfur, Low ash, Low water

Tabel 5.2 Spesifikasi Produksi Batubara PT.GTB

5.4.1 Pengolahan Limbah Produksi PT.GTB


Pengelolaan air limbah produksi di PT.Garda Tujuh Buana sebelum terjadinya
proses pengaliran air limbah produksi ke badan air umum seperti sungai atau laut, PT.Garda
Tujuh Buana memastikan bahwa keluaran air limbah yang dihasilkan telah memenuhi baku
mutu yang ditetapkan Pemerintah dan telah melalui treatment. Seluruh lokasi titik penaatan
pembuangan air limbah telah memperoleh ijin melalui Keputusan Bupati Bulungan dan
Keputusan Gubernur Kalimantan Utara .

23
BAB VI
PENGANGKUTAN DAN PENIMBUNAN
6.1 Tata Cara

6.1.1 Pembuatan Jalan Angkut Overburden

Jalan angkut tanah adalah ruas jalan yang dipergunakan untuk mengangkut
tanah penutup dari bukaan tambang ke waste dump area. Tanah penutup sendiri
terdiri dari tanah pucuk (top soil) dan tanah dalam (interburden). Jarak angkut
tanah dari bukaan tambang ke waste dump area diusahakan sedekat mungkin
untuk menjaga agar biaya produksi tidak terlampau tinggi. Dari perencanaan
lokasi waste dump area, maka dapat dilihat bahwa jarak bukaan tambang ke
waste dump area berkisar antara 500m sampai 1.000m. Jalan angkut tanah
terdiri dari tanah merah diperkeras dengan lebar antara 15m sampai 20m.

6.1.2 Pembuatan Jalan Angkut Ore (Batubara)

Jalan angkut batubara adalah jalan angkut batubara hasil pertambangan dari
lokasi penambangan menuju stockpile hingga sampai di pelabuhan untuk
diangkut menggunakan tongkang. Jalan angkut ini memiliki dimensi 12x4.670
meter dan akan dilalui oleh dump truck sebanyak 9 unit.

6.1.3 Penimbunan

Dalam Proses penimbunan waste, akan dilakukan pada daerah penimbunan


yang memiliki luas 8 hektar. Kegiatan ini akan berlangsung selama proses land
clearing dan overburden removal, yaitu dari bulan Mei – Desember tahun 2003.

6.2 Peralatan

Dalam kegiatan pengangkutan dan penimbunan, peralatan-perlatan yang akan


digunakan seperti tabel berikut ini.

24
Gambar 6.1 Peralatan yang digunakan dalam pengangkutan dan penimbunan

25
BAB VII

LINGKUNGAN, KESEHATAN DAN KESELAMATAN


KERJA

7.1 Dampak Lingkungan


Penambangan secara terbuka dapat merusak bentang alam yang ada sebelumnya,
maka setelah kegiatan penambangan selesai, harus dilakukan reklamasi seperti
keadaan semula.

Gambar 7.1 Diagram Rencana


Reklamasi

26
Tabel 7.1 Rencana Biaya Reklamasi (Sumber: PT. Garda Tujuh Buana Tbk.)

7.1.1 Petambangan
Seringkali hutan yang luas dan tanah produktif dibersihkan dan masyarakat
digusur untuk tambang batubara. Mencapai lapisan batubara, air tanah harus dikuras,
sehingga muka air tanah turun dan mengurangi persediaan air untuk pertanian,
rumah tangga dan kehidupan alami lain. Sisa bongkaran batu menggunung di sekitar
lokasi tambang. Logam berat dan mineral terperangkap di batu sisa akan terlepas
ketika bereaksi dengan udara dan air menjadi pencemar air permukaan dan air bawah
tanah.

Masyarakat sekitar tambang terpapar polusi udara dan air. Usia harapan hidup
terenggut dan meningkatnya resiko terkena kanker paru-paru, hati dan penyakit
pernapasan dan ginjal.

Oleh sebab itu PT. Garda Tujuh Buana akan melakukan sistem penambangan
yang bersih dan memperhatikan persebaran polusi udara. Misalnya untuk
penanganan udara, akan dilepaskan unsur/aditif yang dapat mengikat polusi udara
akibat penambangan batubara yang tersebar di udara.

27
7.1.2 Persiapan / Pencucian
Setelah ditambang, batubara disiapkan di unit penyiapan untuk pembakara.
Umumnya, dihancurkan, dicuci dengan air dan kimia lain untuk mengurangi kotoran
seperti lempung, sulfur, dan logam berat lalu dikeringkan. Beberapa cairan pencuci
diketahui bersifat karsinogenik.

Oleh sebab itu PT. Garda Tujuh Buana akan melakukan sistem penambangan
yang bersih dan memperhatikan persebaran polusi air. Misalnya untuk
penanganan air asam tambang, dimana akan ditampung dan dilakukan penanganan
khusus sebelum akhirnya air dapat dikembalikan sebagai air permukaan atau air
bawah tanah, hal ini diharapkan dapat mengurangi kerusakan lingkungan yang
terjadi akibat penambangan batubara.

7.1.3 Transportasi
Pengangkutan batubara dengan kereta, truk, kapal atau tongkang sering diabaikan
sebagai penyebab penyakit bagi masyarakat yang dilalui. Kereta, truk, tongkang
menyebar debu batubara, kadang sampai kadar tinggi hingga meningkatkan penyakit
pernapasan dan denyut jantung. Sebelum dan sesudah diangkut, batubara
ditumpuk dan meyebarkan lebih banyak debunya.

Oleh sebab itu PT. Garda Tujuh Buana melakukan pengangkutan secara tertutup
sehingga debu batubara yang dibawa tidak keluar dari dalam kereta, truk maupun
tongkang, serta penumpukan batubara setelah diangkut ditempat pada areal yang
jauh dari pemukiman warga, sehingga pencemaran udara ke masyarakat
dapat diminimalisir.

7.1.4 Pembakaran
Pembakaran batubara mengeluarkan cemaran berbahaya ke udara hingga ratusan
kilometer, termaksud partikulat, sulfur dioksida, nitrogen oksida, karbon dioksida,
merkuri dan arsenik. Diantaranya akan bereaksi dengan atmosfer dan membentuk
28
ozon dan partikel yang lebih lembut. Terpapar ini semua bisa merusak
sistem peredaran darah, pernapasan dan saraf.

Oleh sebab itu PT. Garda Tujuh Buana akan melakukan sistem penambangan
yang bersih dan memperhatikan persebaran polusi udara. Misalnya untuk
penanganan udara, akan dilepaskan unsur/aditif yang dapat mengikat polusi udara
akibat penambangan batubara yang tersebar di udara.

7.2 Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Industri Pertambangan merupakan suatu kegiatan yang memiliki resiko tinggi


terhadap kecelakaan yang tidak saja mengakibatkan cideranya manusia tapi
juga sering mengakibatkan kematian. Selain resikon kecelakaan para pekerja
tambang juga sangat beresiko terhadap gangguan kesehatan akibat pekerjaannya.
Oleh karena itu masalah keselamatan dan kesehatan kerja (K3) harus mendapat
perhatian yang khusus dalam suatu industri pertambangan yaitu mempunyai aspek
yang sama dengan aspek produksi.

7.2.1 Organisasi Penanganan K-3


Penanganan K-3 adalah tanggung jawab Bagian K3 dan
Lingkungan, dimana Kepala Bagian-nya diposisikan sebagai Wakil Kepala
Teknik Tambang yang langsung bertanggung jawab kepada
General Manager sebagai Kepala Teknik Tambang.
Organisasi yang menangani keselamatan dan kesehatan kerja yang
disebutkan di atas bersifat struktural, bagian tersebut selain melakukan
inspeksi juga sebagai evaluator dan bersifat administratif, dengan tugas:
a. Mengumpulkan data dan mencatat rincian dari setiap kejadian kecelakaan
dan menganalisanya.

29
b. Mengumpulkan data kegiatan dan lokasi yang berpotensi bahaya
dan membuat Standart Operation Procedure (SOP) yang aman untuk
bekerja pada kegiatan tersebut.
c. Membuat peraturan dan petunjuk keselamatan dan kesehatan kerja terhadap
seluruh pekerja.
d. Mengkoordinir pertemuan-pertemuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
e. Melakukan evaluasi terhadap seluruh kegiatan keselamatan dan kesehatan
kerja.

Untuk mewujudkan pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja,


perusahaan membentuk organisasi dan menunjuk personil yang bertanggung
jawab atas keberhasilan pelaksanaan program K3 tersebut. Wadah organisasi
tersebut adalah:
a. Kepala Teknik Tambang
(KTT). b. Pengawas operasional.
c. Pengawas teknik.
d. Petugas K3 (safety officer).
e. Komite K3 (safety committee).

7.2.2 Peralatan K3
Untuk menjamin Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat berlangsung dengan
baik perlu diperhatikan fasilitas-fasilitas standar yang mendukung kegiatan dapat
berjalan dengan aman. Alat perlindungan diri (APD) standar seperti topi proyek,
sepatu pelindung, pelindung mata, masker dan pelindung telinga. Selain pakaian
pelindung tersebut, pemasangan papan-papan peringatan, rambu lalu lintas,
ketentuan atau peraturan pengunaan peralatan yang sesuai dengan fungsinya dan
ketentuan- ketentuan yang membuat lokasi kegiatan aman dan di dukung oleh
personil yang menangani setiap kegiatan menguasai operasional akan menjamin
keselamatan dan kesehatan kerja dapat berlangsung baik.

30
Di lokasi tambang juga agar dilengkapi fasilitas pemadam kebakaran dan gawat
darurat, hal ini untuk menjamin penanganan yang cepat apabila terjadi kecelakaan
agar dapat diatasi dengan cepat, termasuk unit kesehatan yang ditangani paramedic
dan dilengkapi mobil ambulance
No Lokasi Peralatan Keselamatan dan Kesehatan No Lokasi Peralatan Kesel amatan dan Kesehatan
Helm p engaman / Safety helmet Helm p engaman / Safety helmet
Sep atu p engaman / Safety shoes Sep atu p engaman / Safety shoes
Kacamata / Sunglasses Sarung t angan kulit / leather glov es
Sarung tangan kuli t/ leather gloves 4 Instalasi Pengolahan M asker + ear plug
M asker + ear plug Jas laboratorium
1 Tambang
Reflector vest Pemadam ap i
Pemadam ap i Kot ak P3K
Bendera tanda kendaraan Penut up belt conv eyor
Kotak P3K di setiap kendaraan tambang Rambu-rambu keamanan
Rambu lalu lintas 5 Jalur Belt Convey or Pagar p engaman
Helm p engaman / Safety helmet Lamp u p enerangan
Sep atu p engaman / Safety shoes Kabel p emut us aliran listrik darurat
Kacamata / Sunglasses Helm p engaman / Safety helmet
Sarung tangan kulit / leather gloves Sep atu p engaman / Safety shoes
Jalan Angkut dari
M asker + ear plug Kacamata / Sunglasses
2 Bengkel T ambang
Penamp ung miny ak p elumas bekas 6 Sarung t angan kulit / leather glov es
ke Stockpile Inst alasi
Penamp ung besi-besi / suku cadang bekas M asker + ear plug
Pengolahan
Pemadam ap i Bendera tanda kendaraan
Kotak P3K Rambu lalu lint as
Pembersih tump ahan miny ak Helm p engaman / Safety helmet
Helm p engaman / Safety helmet Sep atu p engaman / Safety shoes
Sep atu p engaman / Safety shoes Kacamata / Sunglasses
3 Gudang suku cadang Sarung tangan kulit / leather gloves Sarung t angan kulit / leather glov es
Pemadam ap i 7 Pelabuhan M asker + ear plug
Kotak P3K Pemadam ap i
Bendera tanda kendaraan
Kot ak P3K di setiap kendaraan t ambang
Rambu lalu lintas

Tabel 7.2 Peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

7.2.3 Langkah-Langkah Pelaksanaan K-3 Pertambangan


Pengelolaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja tidak akan berhasil apabila tidak ada
program yang jelas dan terarah. Dengan adanya program pelaksanaan pengelolaan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang lebih terarah maka keberhasilan atau penampilan
dari pengelolaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja lebih mudah dievaluasi dan diatur
untuk perbaikan dan peningkatan dalam program atau waktu selanjutnya.
Langkah-langkah pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja yang harus
dilakukan untuk mencapai hasil yang baik adalah:

31
1. Membuat Peraturan Perusahaan
Berdasarkan Keputusan Menteri No.555.K disebutkan bahwa Kepala Inspeksi
Tambang harus menerbitkan sekurang-kurangnya 12 pedoman teknis. Selain
itu juga membuat peraturan perusahaan atau pedoman-pedomankerja dan
operasi berupa SOP (Standart Operation Procedure) yang khusus
menyangkut keselamatan dan kesehatan kerja sesuai dengan peraturan pemerintah
tentang masalah ini.

Jadi dukungan manajemen terhadap keberhasilan dari pengelolaan


keselamatan dan kesehatan kerja sangat menentukan, karena bagaimanapun
baiknya suatu organisasi dengan program keselamatan kerja yang baik pula, tidak
akan berhasil tanpa dukungan dari manajemen. Dukungan dari manajemen dapat
dibuat dengan tertulis bahwa manajemen mempunyai komitmen terhadap
keselamatan dan kesehatan kerja, dan dukungan tersebut harus diikuti dengan
penyediaan dana dan perhatian yang cukup.

Peraturan perusahaan dapat bersifat umum dan khusus, Peraturan


perusahaan yang bersifat umum berlaku untuk seluruh kegiatan yang ada, mulai
dari lokasi penambangan, jalan angkut Batubara dan stock pile. Peraturan
yang bersifat khusus dibuat pada masing-masing kegiatan, karena masing-masing
kegiatan tersebut memiliki potensi bahaya yang berbeda, sehingga harus dibuat
peraturan khusus yang spesifik.

2. Program Pendidikan Dan Latihan Dasar K3


Program pendidikan dan pelatihan ini sangat diperlukan, agar pekerja dapat
melakukan pekerjaannya dengan aman. Program pendidikan atau pelatihan,
adalah untuk pekerja baru, pelatihan untuk pekerja dengan tugas baru dan
pelatihan penyegaran untuk pekerja lama. Materi-materi yang biasa
disampaikan dalam

32
pelatihan ini adalah membuat tata cara yang aman untuk melakukan pekerjaan,
mengidentifikasi potensi bahaya yang ada dalam lingkungan kerja dan bagaimana
cara pencegahan dan tindakan yang harus dilakukan untuk menghindari apabila
bahaya tersebut terjadi. Program pendidikan dan pelatihan akan dilaksanakan
selama kegiatan tambang berlangsung.

3. Perawatan Peralatan Kerja


Guna mencegah terjadinya kecelakaan, maka perlu dilakukan perawatan secara
berkala terhadap semua peralatan yang dipergunakan Peralatan pelindung
diri, sebaiknya diberikan secara secara berkala dan dibatasi waktu pemakaiannya,
agar dapat efektif terpergunakan.

4. Kesehatan Kerja
Selain penggunaan peralatan dalam upaya perlindungan terhadap
kecelakan, pemeriksaan kesehatan karyawan wajib dilakukan, baik pada awal
mulai bekerja maupun secara berkala selama dinas kerja. Hal ini dapat
mengurangi tingkat kecelakaan akibat penurunannya tingkat kesehatan pekerja
dan karyawan. Rencana pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja PT.
Garda Tujuh Buana termasuk tetapi tidak terbatas pada hal-hal sebagai berikut:

a. Tingkatan kewenangan dan tanggung jawab untuk kesehatan


dan keselamatan kerja di organisasi.
b. Detail program pelatihan dan induksi.
c. Sistem pencatatan kesehatan &
pengobatan d. Penilaian resiko.
e. Prosedur operasional standar untuk daerah beresiko
tinggi. f. Program pencanangan keselamatan kerja.
g. Pengurus keselamatan kerja dan rapat.

33
h. Waktu dan format untuk rapat toolbox keselamatan
kerja. i. Laporan Kecelakaan/bahaya dan prosedur
investigasi.

34
j. Analisa statistika keselamatan kerja.
k. Program audit & inspeksi keselamatan
kerja. l. Pencanangan dan pengawasan
kesehatan.
m. Persyaratan keselamatan kerja.
n. Kebijakan peralatan keselamatan.
o. Analisa pekerjaan keselamatan
kerja. p. Perizinan.

5. Pengawasan
Pengawasan dilakukan secara berjenjang oleh pengawas atau pekerja di
lapangan sampai manajer sehingga efektif dan kondisi aman dari suatu kegiatan
akan terjaga terus. Selain itu juga dilakukan pengawasan silang, karena sering
terjadi hal-hal yang sebelumnya dianggap biasa oleh pengawas pada kegiatan
tersebut tetapi menurut pandangan orang lain mempunyai potensi bahaya yang
harus segera dikoreksi. Dari hasil pengawasan harus ditindak lanjuti dan selalu
dipantau serta dievaluasi.

6. Evaluasi Program

Perbaikan dan peningkatan program K3 Apabila menurut penilaian Inspektur


Tambang tingkat kecelakaan cukup memprihatinkan yang penyebabnya diduga
berkaitan dengan lemahnya program K3 perusahaan tersebut. Tim Evaluasi, yang
anggotanya terdiri dari beberapa inspektur tambang akan mengevaluasi,
memperbaiki, dan meningkatkan program K3 dari perusahaan yang bersangkutan.

No Kegiatan Uraian
p eninjauan / p engecekan untuk mengantisip asi kekurangan dan kondisi tidak aman
p enert iban sesuai p erat uran K-3
1 Patroli Keamanan
melap orkan secara lisan / t ert ulis kep ada sup ervisor bagi p elanggar p eraturan
mengontrol bat as kecep atan kendaraan t ambang
cek kondisi p emadam ap i, mela-kukan inventarisasi dan p engisian kembali jika p erlu
cek kondisi fasilitas transp ortasi
2 Insp eksi Keamanan cek kondisi fasilitas bengkel
cek kondisi dan p enataan gudang
cek kondisi dan p enataan camp utama dan lokasi kerja

35
Diskusi M asalah masalah keselamatan p ada setiap jam
3
Keselamatan diskusi p agi, membantu dan memonit or realisasi diskusi p agi
Kamp any e secara p endekatan p ribadi, p embe-lajaran, mengedarkan slogan, leaflet, dsb
4
Keselamatan evaluasi
inventarisasi Alat Pelindung Diri (APD)
cek kelengkap an p engaman alat-alat
5 Pelindung Keamanan
cek kelengkap an rambu-rambu
melengkap i kekurangan
6 Pemilihan Op erat or cek jenis p eralatan
lap oran kecelakaan tambang
lap oran bulanan
7 Lap oran Keamanan
lap oran tahunan
lap oran p elatihan

36
BAB VIII
ORGANISASI DAN TENAGA KERJA

8.1.Bagan Organisasi

Organisasi dan sistematika kerja untuk pelaksanaan pekerjaan penambangan


batubara di PT Garda Tujuh Buana akan dilakukan se-efisien dan seefektif mungkin
dihubungkan dengan kondisi perusahaan dan sumber daya yang ada untuk menentukan
keberhasilan pencapaian tujuan proyek penambangan batubara di PT Garda Tujuh
Buana.

Sistem organisasi proyek tambang harus mempertimbangkan kebijakan-kebijakan yang


telah berjalan. Fungsi bisnis yang direncanakan di PT Garda Tujuh Buana berupa
penambangan dan produksi pada bahan galian batubara dengan mengutamakan
keselamatan, kesehatan kerja dan perlindungan lingkungan.

Dengan adanya pembatasan sumberdaya, ruang, waktu dan finansial maka sebagai
implikasinya dalam pengelolaan sistem organisasi ini dibutuhkan pengetahuan dan
kemampuan yang komprehensif dalam penanganannya. Demikian juga karena latar
belakang yang heterogen, maka diperlukan aspek koordinasi dan pemeliharaan yang
berkesinambungan demi keutuhan hubungan antar personil.

Agar manajemen operasi proyek penambangan batubara dapat mencapai tujuan yang
diharapkan, maka dibutuhkan suatu organisasi proyek untuk menanganinya. Bentuk
organisasi yang direncanakan untuk melaksanakan manajemen operasi penambangan
ini adalah organisasi garis dan staff (Line and staff organization), dengan pertimbangan:

a. Terdapat spesialisasi yang beraneka ragam yang dapat dipergunakan


secara maksimal.
b. Dalam melaksanakan kegiatan proyek, anggota garis dapat
meminta pengarahan serta informasi dari staff.
c. Pengarahan yang diberikan oleh staff dapat dijadikan pedoman bagi
pelaksana.
d. Staff mempunyai pengaruh yang besar dalam pelaksanaan
pekerjaan.

37
Dari sistem yang diterapkan tersebut maka akan tercipta suatu manajemen
dengan tingkat efisiensi yang tinggi dimana staff dan karyawan akan selalu
berfikir dan bertindak secara profesional demi kepentingan perusahaan.
Kedua unsur tersebut bisa menciptakan suatu sinergi dalam manajemen
operasional. Dengan bentuk organisasi garis dan staff, maka didapat beberapa
manfaat, antara lain :
a. Adanya pembagian tugas yang jelas antara unit-unit yang melaksanakan
tugas pokok dan penunjang.
b. Keputusan yang diambil biasanya telah dipertimbangkan secara matang
oleh segenap unit yang ada didalam organisasi.
c. Adanya kemampuan dan bakat berbeda-beda dari unit
organisasi memungkinkan dikembangkan spesialisasi keahlian.
d. Adanya ahli-ahli dalam staff akan menghasilkan mutu pekerjaan yang
lebih baik.
e. Disiplin para anggota organisasi tinggi, karena tugas yang dilaksanakan
oleh unit organisasi sesuai dengan bidang keahlian, pendidikan dan
pengalamannya.
f. Staff dan karyawan akan loyal ke perusahaan, sehingga bisa
meminimalkan keluar masuknya karyawan dimana mereka merasa selalu
terjamin kehidupan dan kesejahteraannya.

38
Gambar 8.1. Struktur Organisasi PT Garda Tujuh Buana

8.2.Tenaga Kerja

Perencanaan perekrutan tenaga kerja untuk proyek penambangan batubara


perlu dilakukan, karena adanya resiko keterbatasan sumberdaya yang
dimiliki perusahaan, situasi tersebut memberi petunjuk bahwa
sumberdaya manusia termasuk sumberdaya yang harus direncanakan
sehingga diperoleh manfaat yang maksimal.

Kebutuhan sumberdaya manusia disesuaikan untuk menunjang operasi dan


sasaran produksi tambang dengan mempertimbangkan sumberdaya yang
sudah ada saat ini. Disamping itu, atas dasar pertimbangan efisiensi, efektifitas
serta keterbatasan yang dimiliki perusahaan, pelaksanaannya beberapa unit
pekerjaan tidak menutup kemungkinan diserahkan pada sub kontraktor yang
bersedia mengerjakannya. Ditinjau dari hubungan kerjanya, direncanakan
status karyawan PT Garda Tujuh Buana terdiri atas beberapa kategori yaitu:

1. Tenaga kerja lepas.


2. Karyawan tetap.

39
Adapun sumberdaya manusia yang dibutuhkan PT Garda Tujuh Buana
dalam menujang operasi dan sasaran produksi tambang sekitar 234
orang dengan persyaratan yang dapat dilihat pada Tabel 8.1.

Tabel 8.1. Sumberdaya manusia yang dibutuhkan oleh PT Garda


Tujuh Buana

No Pendidikan Jumlah Pengalaman


A Strata 1
1 S1 Tambang 6 orang 4 tahun
2 S1 Geologi 2 orang 3 tahun
3 S1 Sosial 1 orang 4 tahun
4 S1 Administrasi 3 orang 3 tahun
5 S1 Lingkungan 1 orang 4 tahun
6 S1 Manajemen 1 orang 3 tahun
7 S1 Biologi 1 orang 3 tahun
Sub Total 15 orang
B Diploma
1 D3 Sekretaris 1 orang 3 tahun
2 D3 Geodesi 1 orang 3 tahun
3 D3 Mesin 2 orang 3 tahun
4 D3 Kimia 2 orang 3 tahun
5 D3 Tambang / Geologi 4 orang 3 tahun
6 D3 Berbagai Displn 4 orang 3 tahun
7 D3 Akuntasi 1 orang 3 tahun
8 D3 Administrasi 2 orang 3 tahun
9 D3 Sosial 2 orang 3 tahun
10 D1 Komputer 6 orang 3 tahun
Sub Total 25 orang
C Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
1 SMK Tambang 6 orang 3 tahun
2 SMK Bangunan 2 orang 3 tahun
3 SMK Manajemen 2 orang 3 tahun

40
Sub Total 10 orang
D Sekolah Menengah Umum ( SMU )
1 SMU 34 orang 3 Tahun
Sub Total 34 orang
E SLTP
1 SLTP 25 orang 3 tahun
2 SLTP Keatas / T Masak 10 orang
3 SLTP Pembantu 4 orang 3 tahun
Sub Total 75 orang
F SLTA
1 SLTA / STM SIM b 1 Umum 15 orang
2 SLTA / SIM b2 Umum / AB 60 orang
Sub Total 75 rang

8.3.Tingkat Gaji dan Upah Buruh

Dalam pelaksanaan operasi penambangan batubara ini, setiap penempatan awal


seorang karyawan, sekalian dinyatakan hal-hal yang berkaitan dengan perjanjian
kerja antara lain :

1) Gaji pokok 100% dari jumlah yang ditetapkan


2) Upah lembur
3) Pajak ditanggung oleh karyawan
4) Asuransi ASTEK
 Assuransi BPJS Ketenagakerjaan
 Asuransi kematian (AK) menjadi tanggungan perusahaan
 Asuransi BPJS Kesehatan menjadi tanggungan perusahaan
5) Cuti tahunan berlaku bagi semua karyawan
6) Asuransi jiwa dan kecelakaan kolektif

Kriteria tingkat gaji dan upah disesuaikan dengan kualifikasi dan tingkat kerja
tenaga tetap dan tidak tetap. Secara keseluruhan tingkat gaji dan upah dapat dilihat
pada Tabel 8.2.

41
Tabel 8.2. Gaji Karyawan PT Garda Tujuh Buana
Jumlah Pengalaman Total Gaji / Triwulan
No. Pendidikan Gaji / Bulan (Rp)
(orang) (tahun) (Rp)
1 Strata 1 15 3‐4 Rp 9,000,000 Rp 405,000,000
2 Diploma 25 3‐4 Rp 6,000,000 Rp 450,000,000
3 SMK 10 3 Rp 4,000,000 Rp 120,000,000
4 SMU 34 3 Rp 4,000,000 Rp 408,000,000
5 SLTP 75 0‐3 Rp 3,000,000 Rp 675,000,000
6 SLTA 75 0‐2 Rp 3,000,000 Rp 675,000,000
Total 234 Rp 29,000,000 Rp 2,733,000,000

Hubungan antara perusahaan dengan karyawan dapat diatur dengan membuat


Kesepakatan Kerja Bersama (KKB) dengan Serikat Pekerja Indonesia (SPI)
yang disetujui oleh kedua belah pihak dan disahkan oleh Departemen Tenaga
Kerja dan Transmigrasi. Kesepakatan Kerja Bersama atau Serikat Pekerja ini
mengatur mengenai hak dan kewajiban masing-masing pihak, meliputi:

1) Hubungan kerja antar perusahaan dan


karyawan.
2) Pembayaran gaji/upah dan
pajak.
3) Penginapan dan
makanan.
4) Jam kerja dan
lembur.
5) Honor dan
tunjangan.
6) Ketentuan perawatan
kesehatan.
7)
Asuransi.
8) Kompensasi untuk kecelakaan dan
kematian.
9) Ketentuan cuti dan hari libur
umum.
10) Perintah kerja dan prosedur
kedisiplinan.

42
11) Keselamatan dan kesehatan
kerja.
12) Dana
pension.
13) Pemecahan masalah
karyawan.

43
Perusahaan akan bekerja sama BPJS dalam hal pemberian perlindungan bagi
tenaga kerja yang baik dalam masalah jaminan kecelakaan kerja, jaminan
kematian dan jaminan hari tua serta jaminan pemeliharaan kesehatan.

8.4.SISTEM
KERJA
Tenaga kerja yang diperlukan untuk mendukung pekerjaan disesuaikan
dengan desain tambang yang direncanakan. Tenaga kerja yang tidak langsung
berhubungan dengan operasi penambangan jumlahnya relatif tetap selama
umur penambangan, sedangkan untuk tenaga kerja yang terlibat langsung
dalam operasi penambangan, terutama untuk operator alat berat,
disesuaikan dengan jumlah alat yang dioperasikan dengan memperhatikan
jumlah shift dan target produksi.
Jumlah hari kerja karyawan di tambang batubara PT Garda Tujuh Buana.
direncanakan 6 hari dalam 1 minggu, dan 8 jam kerja setiap harinya. Bila
karyawan melakukan pekerjaan diluar jam kerja yang sudah ditetapkan, maka
karyawan akan menerima bonus yang besarnya disesuaikan dengan peraturan
yang berlaku.
Jadwal kerja di lapangan dibagi dalam 2 (dua) shift, sedangkan untuk tenaga
staf, jadwal kerjanya dari jam 08.00 sampai jam 16.00. Kegiatan
penambangan dinyatakan berhenti pada hari-hari libur nasional seperti Idul
Fitri, Idul Adha, Hari Natal, Hari Kemerdekaan dan lainnya.
Pada alternatif ke dua tenaga kerja langsung lebih sedikit karena sistem
pengerjaannya dikontrakkan. Mereka yang akan direkrut adalah yang
mempunyai latar belakang disiplin ilmu dan pengalaman yang sesuai.
Analisis jabatan (job analysis) selanjutnya dibutuhkan untuk mendapatkan
karyawan yang cocok dengan kebutuhan kerja, dengan upah dan beban kerja
yang sesuai pula.

44
BAB IX
PEMASARAN

9.1 Bagan Organisasi

Gambar 9.1. Bagan Organisasi Pemasaran

9.2 Prospek Pemasaran


Pemerintah memiliki kepentingan yang sangat besar pada
pertambangan mineral, khususnya batubara. Hal itu terkait dengan
pemanfaatan batubara sebagai sumber energi bagi pembangkit listrik dan
industri. Oleh karena itu, pemerintah kini tengah berupaya membangun
sejumlah pembangkit listrik dalam rangka penyediaan listrik 10.000 MW.
Sebagian besar kebutuhan energi untuk program itu akan dipenuhi bahan
bakar batubara. Sementara sesuai PP No. 5/2005 tentang Kebijakan Energi
Nasional, ditargetkan hingga tahun 2025, pangsa pasar batubara dalam energi
nasional adalah sebesar 33%. Namun rencana itu sulit dicapai jika cadangan
bahan tambang batubara yang ada tidak segera dieksploitasi. Padahal per
tahun 2006 lalu, total cadangan batubara Indonesia mencapai 6,75 miliar ton,
yang sebagian besar tersebar di Kalimantan dan Sumatera.

45
9.2.1 Dalam Negeri
Dengan diterapkannya Pajak Ekspor (PE) batubara yang kontroversial
pada tahun 2005, namun justru ekspor batubara menunjukkan peningkatan
yang berarti, karena didorong membaiknya harga batubara di pasar dunia.
Sebagai gambaran, menurut catatan BPS, pada tahun 2006 lalu, ekspor
batubara mencapai 183,9 juta ton dengan meraih devisa senilai US$ 6,08
miliar, sekaligus menjadikan Indonesia sebagai eksportir terbesar batubara
dunia sejak tahun 2005.
Sebaliknya penjualan batubara di dalam negeri masih berkisar antara
35 juta - 40 juta ton per tahun. Namun dengan adanya proyek-proyek PLTU
yang dicanangkan pemerintah melalui Fast Track Program, maka
diproyeksikan mulai tahun 2009, pemakaian batubara akan meningkat
tajam yang diperkirakan mencapai 70 juta ton. Mengingat kebutuhan
batubara untuk PLTU Suralaya (3400
MW) sendiri yang dioperasikan Indonesia Power akan meningkat dari 12,5
juta ton pada tahun 2008 menjadi 30 juta ton pada tahun 2012, terdiri dari
jenis high rank coal (9,8 juta ton) dan low rank coal (20,2 juta ton).
Saat ini salah satu proyek PLTU Fast Track Program yang telah
memasuki tahap pembangunan adalah PLTU Labuhan/Banten 2 (2x316
MW) dengan investasi US$ 492,9 juta. Sebelumnya pada Maret 2007, lima
kontrak engineering, procurement and construction (EPC) atas lima proyek
percepatan PLTU telah ditandatangani yaitu Suralaya 1x625 MW dengan
kontraktor CNTIC China, Labuhan 2x316 MW dengan Chengda, Indramayu
3x330 MW dengan Sinomach, PLTU Paiton 1x660 MW dengan Harbin Power
dan PLTU Rembang 2x316 MW dengan Zelan. Sementara pada Mei 2007,
PLN telah menetapkan pemenang lelang proyek PLTU Teluk Naga (3x300
MW), PLTU Pelabuhan Ratu (3x300 MW) dan PLTU Pacitan (2x300 MW).
Sedangkan untuk proyek PLTU Paiton 3-4 (1x800 MW) senilai US$ 800
juta akan digarap Mitsui Co.

46
Sementara itu, proyek-proyek PLTU di luar Jawa yang telah diresmikan
antara lain PLTU Tawaeli (2x15 MW) milik PT Pusaka Jaya Palu Power
dengan investasi US$ 29,5 juta. Sedangkan Proyek PLTU Tanjung Kasam di
Batam akan segera dibangun setelah memperoleh kredit dari sindikasi
perbankan BNI, BRI dan Bukopin senilai US$ 80,9 juta. Dan lima proyek
PLTU lainnya di Luar Jawa akan dibangun Truba Alam Manunggal
Engineering, masing-masing adalah PLTU Banyuasin (2x125 MW), PLTU
Kuala Tanjung (2x125 MW), PLTU Tulang Bawang (2x30 MW), PLTU
Pontianak (2x25 MW dan PLTU Bangka (2x10 MW).
Berdasarkan rencana yang dibuat Kementerian Energi dan Sumber
Daya Manusia (ESDM), alokasi kebutuhan batubara untuk konsumsi dalam
negeri naik tiap tahun. Pada tahun 2015 lalu, Kementerian ESDM
memprediksi kebutuhan batubara untuk dalam negeri sekitar 92,31 juta ton.
Namun dalam kenyataannya, penjualan dalam negeri selama 2015 masih
berkisar pada angka 80 juta ton.

Besarnya alokasi kebutuhan batubara untuk industri dalam


negeri diharapkan bisa di atas 25% dari total produksi batubara Indonesia.
Karena sampai saat ini, masih sekitar 80% dari total produksi batubara
Indonesia dialokasikan untuk pasar luar negeri (ekspor).

47
Grafik 9.1. Prediksi Kebutuhan Batubara untuk Berbagai Sektor Industri,

2015 – 2019 (Sumber: Laporan Industri Batubara di Indonesia)


Mayoritas kebutuhan batubara dalam negeri, dialokasikan untuk sektor
industri pembangkit listrik. Besarnya mencapai sekitar 80% dari total
konsumsi batubara dalam negeri. Hal ini dikarenakan, batubara menjadi bahan
bakar berbiaya murah untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Setiap tahunnya, diprediksi sampai 2019, masih akan didominasi oleh
pembangkit listrik. Hal ini seiring langkah dari PLN untuk terus
meningkatkan kapasitas pembangkit listrik dalam memenuhi kebutuhan
listrik yang semakin tinggi di berbagai daerah di Indonesia. Belum lagi untuk
kebutuhan listrik industri swasta (pembangkit swasta)

48
Secara umum, setiap tahunnya, kebutuhan batubara oleh berbagai sektor
industri di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan grafik di atas, terlihat
pertumbuhan kebutuhan batubara untuk berbagai sektor Industri di
Indonesia sampai tahun 2019. Hal ini menjadi sebuah peluang bisnis yang
menarik bagi para pelaku bisnis dan industri batubara dalam negeri.

9.2.2 Luar Negeri


Sampai saat ini, pasar luar negeri masih menjadi primadona perusahaan
batubara Indonesia. Jika dihitung, ada sekitar 80% lebih produksi batubara
dalam negeri yang diekspor ke laur negeri. Bahkan, saat ini, Indonesia menjadi
negara terbesar dalam jumlah batubara yang diekspor ke luar negeri.
Mengalahkan Australia yang sebelumnya selalu menempati posisi pertama
dalam jumlah ekspor batubara.

Gambar 9.2. Prediksi Volume Konsumsi Batubara Dunia,


1980 – 2040 (Sumber: Laporan Industri Batubara di Indonesia)

Pasar luar negeri memang masih memberikan optimisme kepada


perusahaan batubara dalam negeri. Selain kebutuhannya yang sangat besar,
harganya pun cukup menarik. Khususnya pada masa-masa keemasan, yaitu
di akhir 2010 sampai dengan pertengahan 2012. Dimana, pada periode itu,
penjualan ekspor memberikan nilai yang lebih tinggi dibandingkan pada
masa-masa sebelumnya. Dan kedepannya, kebutuhan dunia akan batubara
akan terus naik seperti pada grafik di atas

49
Pasar Cina
Sejak lama, konsumsi batubara Cina adalah yang terbesar di dunia. Walaupun, sumber
daya dan produksi batubara Cina juga salah satu yang terbesar di dunia dan juga,
volume impor batubara Cina menjadi salah satu yang terbesar berbarengan dengan
impor batubara Jepang.
Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa kebutuhan Cina akan batubara sangat
besar. Jika melihat lebih detail antara jumlah produksi, volume konsumsi batubara,
dan volume impor batubaranya, terlihat bahwa Cina melakukan penyimpanan atau
melakukan stok batubara.
Dengan tingginya pertumbuhan ekonomi Cina yang berbasis industri, maka Cina
membutuhkan sumber daya energi yang murah dan banyak agar dapat menghasilkan
produk yang berdaya saing dari sisi harga. Batubara merupakan salah satu sumber
energi yang cukup murah dibandingkan minyak bumi. Jadi, suatu hal yang wajar
ketika Cina melakukan kebijakan impor dan stok batubara, meskipun sumber daya
dan produksinya besar.
Untuk itu, ketika pertumbuhan ekonomi Cina kembali bagus, maka Cina akan
kembali melakukan impor batubara dari berbagai negara termasuk dari Indonesia.
Pada tahun 2012, Indonesia menempati posisi kedua sebagai suplier/pemasok
batubara terbesar ke Cina. Yaitu, sebesar 34% dari total volume impor batubara
Cina. Posisi pertama ditempati Australia yang mampu mensuplai batubara sebanyak
38% dari total volume impor Cina.
Gambar 9.3. Prediksi Volume Konsumsi Batubara Cina, 2015 – 2040
(Sumber: Laporan Industri Batubara di Indonesia)
Seperti halnya Indonesia, konsumsi batubara Cina terbesar adalah untuk sektor industri
pembangkit listrik. Dengan luas wilayah yang sangat luas dan banyaknya industri yang
beroperasi, maka kebutuhan listrik Cina akan terus meningkat tiap tahunnya.

Pasar India
Setelah Cina, India menjadi negara terbesar sebagai pangsa pasar ekspor batubara
Indonesia. Pada tahun 2012, India mengimpor 96 juta ton batubara Indonesia. Jumlah
ini hanya kalah dari Cina yang mengimpor batubara Indonesia sebesar 115,7 juta
ton.
Untuk itu, India menjadi salah satu target utama penjualan batubara oleh perusahaan
batubara Indonesia. Berdasarkan data dari US Energy Information Administration,
konsumsi batubara India akan terus tumbuh tiap tahunnya.

Gambar 4. Prediksi Volume Konsumsi Batubara India,


2015 – 2040 (Sumber: Laporan Industri Batubara di Indonesia)

Selain itu, selama ini India telah menjadi salah satu negara yang banyak mengimpor
batubara dari Indonesia. Banyak perusahaan Indonesia yang menjadikan India
sebagai salah satu pangsa pasarnya. Dan ke depannya, India menjadi pasar batubara
yang potensial selain Cina.
Pasar Amerika
Selain Cina dan India, Amerika merupakan salah satu negara dengan konsumsi
batubara terbesar di dunia. Bahkan, diprediksi kosumsi batubara Amerika akan
lebih dari India. Hal ini dikarenakan Amerika merupakan salah satu negara dengan
intensitas tinggi dalam hal industrialisasi

Gambar 9.5. Prediksi Volume Konsumsi Batubara Amerika,


2015 – 2040 (Sumber: Laporan Industri Batubara di Indonesia)

Saat ini, Amerika memiliki sumber daya dan cadangan batubara terbesar di dunia.
Namun, Amerika sengaja menahan batubaranya untuk tidak digunakan ketika
harganya masih terbilang rendah untuk tahun-tahun mendatang, Amerika akan
menggunakan batubaranya sendiri. Sehingga, meskipun konsumsi batubara
Amerika tetap besar, namun nilai impornya akan menurun. Tetapi, diharapkan
Amerika tetap akan menjadi pasar batubara yang potensial bagi berbagai
perusahaan batubara di Indonesia
BAB X
INVESTASI DAN ANALISIS KELAYAKAN

10.1 Investasi
10.1.1 Biaya Proyek Pelaksanaan Penambangan
Berdasarkan hasil perhitungan dan asumsi yang digunakan terhadap produksi dan
biaya yang ditimbulkan, didapatkan hasil biaya rata-rata terhadap overburden
removal Rp. 30.290/BCM dan coal removal sebesar Rp. 16.822/Mton, rincian
terlampir sebagai berikut:
UNIT COS T (dalam Rp)
NO. ITEM Total
2003 2004 2005 2006 2007
1 PRODUKS I (/tahun)
Overburden (BCM) 31.019.028 31.019.028 31.019.028 31.019.028 31.019.028 155.095.140
Coal Removal (Mton) 43.426.639 43.426.639 43.426.639 43.426.639 43.426.639 217.133.195
Stipping Ratio 1,4 1,4 1,4 1,4 1,4 1,4
2 BIAYA
Biaya Tetap
- Infras truktur Rp 200.000.000.000 Rp 158.000.000.000 Rp 98.000.000.000 Rp 74.000.000.000 Rp 48.000.000.000 Rp 578.000.000.000
- Equipment Prep. Rp - Rp 10.222.572.000 Rp - Rp 10.222.572.000 Rp - Rp 20.445.144.000
- Heavy Equip. Rp 28.000.000.000 Rp 27.000.000.000 Rp 25.000.000.000 Rp 21.000.000.000 Rp 18.000.000.000 Rp 119.000.000.000
- Peralatan Pendukung Rp 19.500.000.000 Rp - Rp - Rp - Rp - Rp 19.500.000.000
- Mobilis as i Rp 6.500.000.000 Rp - Rp - Rp - Rp - Rp 6.500.000.000
- Demobilis as i Rp - Rp - Rp - Rp - Rp 6.500.000.000 Rp 6.500.000.000
- Manpower Rp 3.250.000.000 Rp - Rp - Rp - Rp - Rp 3.250.000.000
S ub Total Rp 257.250.000.000 Rp 195.222.572.000 Rp 123.000.000.000 Rp 105.222.572.000 Rp 72.500.000.000 Rp 753.195.144.000
Biaya Operas ional
- Biaya Langs ung Rp 113.539.595.000 Rp 152.676.199.000 Rp 163.211.464.000 Rp 136.143.917.000 Rp 161.669.534.000 Rp 727.240.709.000
- Biaya Tak Langs ung Rp 76.800.841.000 Rp 83.545.189.000 Rp 73.892.299.000 Rp 90.537.330.000 Rp 94.052.348.000 Rp 418.828.007.000
- Biaya Tak Terduga Rp 38.068.087.200 Rp 47.244.277.600 Rp 47.420.752.600 Rp 45.336.249.400 Rp 51.144.376.400 Rp 229.213.743.200
S ub Total Rp 228.408.523.200 Rp 283.465.665.600 Rp 284.524.515.600 Rp 272.017.496.400 Rp 306.866.258.400 Rp 1.375.282.459.200
TOTAL BIAYA Rp 485.658.523.200 Rp 478.688.237.600 Rp 407.524.515.600 Rp 377.240.068.400 Rp 379.366.258.400 Rp 2.128.477.603.200
- Overburden Rp 939.566.358.120 Rp 939.566.358.120 Rp 939.566.358.120 Rp 939.566.358.120 Rp 939.566.358.120 Rp 4.697.831.790.600
- Coal Removal Rp 730.522.921.258 Rp 730.522.921.258 Rp 730.522.921.258 Rp 730.522.921.258 Rp 730.522.921.258 Rp 3.652.614.606.290
3 UNIT COS T
- Overburden Rp 30.290 Rp 30.290 Rp 30.290 Rp 30.290 Rp 30.290 Rp 30.290
- Coal Removal Rp 16.822 Rp 16.822 Rp 16.822 Rp 16.822 Rp 16.822 Rp 16.822
Tabel 10.1 Biaya Rata-Rata Pelaksanaan Penambangan (Sumber: Modifikasi dari Prosiding Seminar Nasional Manajemen
Teknologi XXI Program Studi MMT-ITS, Surabaya 19 Juli 2014)
Harga rata-rata satuan overburden dan coal removal didapat berdasarkan hasil
perhitungan owner estimed, dimana dari penelitian harga estimed owner yang digunakan
karena merupakan harga satuan tertinggi yang memberikan pendapatan
terbesar.

NO. ACTIVITY ESTIMED RATE RANGE FUEL INDEX MIN MAX

Overburden
1 Removal Max USD/Bcm 1,453 1,744 Ltr/Bcm 0,698 Rp 29.471 Rp 33.241
1000 Mtr

Overhaul Ltr/Bcm/
2 USD/100 Mtr 0,034 0,041 0,025 Rp 819 Rp 910
Distance 100 Mtr

3 Coal Getting USD/Mton 0,66 0,792 Ltr/Mton 0,49 Rp 16.003 Rp 17.719

Tabel 10.2 Owner Estimed Price (Sumber: Prosiding Seminar Nasional Manajemen
Teknologi XXI Program Studi MMT-ITS, Surabaya 19 Juli 2014)
10.1.2 Analisa Pemodalahn dan Penentuan MARRInvestasi
Komposisi modal dalam proyek pelaksanaan penambangan dapat dilihat sebagai berikut:

KOMPOS IS I MODAL (dalam Rp)


NO. ITEM TOTAL
2003 2004 2005 2006 2007
1 Modal Sendiri Rp 339.960.966.240 Rp 335.081.766.320 Rp 285.267.160.920 Rp 264.068.047.880 Rp 265.556.380.880 Rp 1.489.934.322.240
2 Modal Pinjaman Rp 145.697.556.960 Rp 143.606.471.280 Rp 122.257.354.680 Rp 113.172.020.520 Rp 113.809.877.520 Rp 638.543.280.960
70% 70% 70% 70% 70% 70%
PRES ENTAS E
30% 30% 30% 30% 30% 30%
Tabel 10.3 Komposisi Modal (Sumber: Modifikasi dari Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XXI Program Studi
MMT-ITS, Surabaya 19 Juli 2014)

Bedasarkan komposisi modak dan perhitungan pembobotan WACC (Weight Average Cost of Capital), maka diperoleh
MARRInvestasi sebesar 15,90%, jika diasumsikan nilai cost of capitalhutang 18% dan cost of capitalmodal 15% dimana dirumuskan
sebagai berikut:

MARRInvestasi = (%Hutang x Cost of Capitalhutang) + (%Modal x Cost of Capitalmodal)

= (30% x 18%) + (70% x 15%)

= 15,90%
10.2 Analisis Kelayakan
10.2.1 Discounted Cash Flow
Analisis arus kas dalam penelitian ini menggunakan metode discounted cash flow
untuk meramalkan kondisi keuangan di masa yang akan datang berdasarkan kondisi
saat sekarang untuk menghitung net present value, dimana modal investasi yang
dibutuhkan adalah Rp. 2.128.477.603.200.- dengan komposisi pembagian modal
sendiri sebesar 70% yaitu Rp. 1.489.934.322.240.- dan modal pinjaman sebesar 30%
yaitu Rp. 638.543.280.960.-.

Hasil yang didapat dari analisis cash flow dengan metode discounted cah flow
pada MARRInvestasi sebesar 15,90% adalah net present value positif Rp.
2.416.655.425.604.- dengan internal rate of return (IRR) sebesar 16,36%, analisis
discounted cash flow secara detail seperti berikut:
CASH FLOW (dalam Rp)
NO. ITEM
0 2003 2004 2005 2006 2007
1 B IAYA AWAL
- Infrastruktur -Rp 456.000.000.000
- Equipment Pre p. Rp -
- He av y Equip. -Rp 119.000.000.000
- P e ra la ta n P e ndukung -Rp 19.500.000.000
- Mobilisa si -Rp 6.500.000.000
- Manpower -Rp 3.250.000.000
- Biay a Ope ra siona l Awa l -Rp 113.539.595.000
Sub Total B iaya Awal -Rp 717.789.595.000
2 PENDAPATAN
- Ov erburde n Rp 939.566.358.120 Rp 939.566.358.120 Rp 939.566.358.120 Rp 939.566.358.120 Rp 939.566.358.120
- Coal Remov al Rp 730.522.921.258 Rp 730.522.921.258 Rp 730.522.921.258 Rp 730.522.921.258 Rp 730.522.921.258
- Eska la si Rp - Rp 16.700.892.794 Rp 33.401.785.588 Rp 50.102.678.381 Rp 66.803.571.175
Total Pe ndapatan Rp 1.670.089.279.378 Rp 1.686.790.172.172 Rp 1.703.491.064.966 Rp 1.720.191.957.759 Rp 1.736.892.850.553
3 PENG ELUARAN
B iaya Tetap
- Infrastruktur Rp - Rp - Rp - Rp 74.000.000.000 Rp 48.000.000.000
- P e m ba y a ra n Uang Muka (70%)
Rp 183.252.716.500 Rp 183.252.716.500 Rp 183.252.716.500 Rp 183.252.716.500 Rp 183.252.716.500
Te rha dap P era la ta n Baru da n P e ngganti
- De m obilisasi Rp - Rp - Rp - Rp - Rp 6.500.000.000
Sub Total B iaya Te tap Rp 183.252.716.500 Rp 183.252.716.500 Rp 183.252.716.500 Rp 257.252.716.500 Rp 237.752.716.500
B iaya Ope rational
- Biay a La ngsung Rp - Rp 152.676.199.000 Rp 163.211.464.000 Rp 136.143.917.000 Rp 161.669.534.000
- Biay a Ta k La ngsung Rp 76.800.841.000 Rp 83.545.189.000 Rp 73.892.299.000 Rp 90.537.330.000 Rp 94.052.348.000
- Ba iy a Ta k Te rduga Rp 38.068.087.200 Rp 47.244.277.600 Rp 47.420.752.600 Rp 45.336.249.400 Rp 51.144.376.400
- P inj a m an Bank Rp 145.697.556.960 Rp 143.606.471.280 Rp 122.257.354.680 Rp 113.172.020.520 Rp 113.809.877.520
Sub Total B iaya Ope rasional Rp 260.566.485.160 Rp 427.072.136.880 Rp 406.781.870.280 Rp 385.189.516.920 Rp 420.676.135.920
Total Pe nge luaran Rp 443.819.201.660 Rp 610.324.853.380 Rp 590.034.586.780 Rp 642.442.233.420 Rp 658.428.852.420

PENDAPATAN SEB ELUM PAJAK DAN


Rp 1.226.270.077.718 Rp 1.076.465.318.792 Rp 1.113.456.478.186 Rp 1.077.749.724.339 Rp 1.078.463.998.133
DEPRESIASI

- De pre sia si -Rp 312.002.716.500 -Rp 318.502.716.500 -Rp 318.502.716.500 -Rp 392.502.716.500 -Rp 373.002.716.500
- P a j a k (P ph P a sa l 23) (15%) -Rp 183.940.511.658 -Rp 161.469.797.819 -Rp 167.018.471.728 -Rp 161.662.458.651 -Rp 161.769.599.720
PENDAPATAN SETELAH PAJAK DAN
Rp 730.326.849.560 Rp 596.492.804.473 Rp 627.935.289.958 Rp 523.584.549.188 Rp 543.691.681.913
DEPRESIASI

- De pre sia si Rp 312.002.716.500 Rp 318.502.716.500 Rp 318.502.716.500 Rp 392.502.716.500 Rp 373.002.716.500


ALIRAN KAS OPERASIONAL Rp 1.042.329.566.060 Rp 914.995.520.973 Rp 946.438.006.458 Rp 916.087.265.688 Rp 916.694.398.413
- Terminal Value Rp - Rp - Rp - Rp - Rp -
ALIRAN KAS -Rp 717.789.595.000 Rp 1.042.329.566.060 Rp 914.995.520.973 Rp 946.438.006.458 Rp 916.087.265.688 Rp 916.694.398.413
M ARRInve stasi 15,90%
PRESENT VALUE -Rp 717.789.595.000 Rp 899.335.259.759 Rp 681.164.641.630 Rp 607.913.606.784 Rp 507.695.252.505 Rp 438.336.259.927

Tabel 10.4 Cash Flow Penambangan Batubara (Sumber: Modifikasi dari Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XXI
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 19 Juli 2014)
Berdasarkan aliran kas dengan metode discounted cash flow didapatkan hasil
sebagai berikut:

1. Payback Period selama 9 bulan 17 hari (287 hari).


2. Net Present Value sebesar Rp. 2.416.655.425.604,- (USD 185,896,571.- bila
harga satu dolar setara dengan Rp. 13.000,-) dengan MARRInvestasi sebesar
15,60%.
3. Profitability Index sebesar 3,785 (didapat dari perbandingan antara NPV
dibagi dengan nilai investasi saat ini).
4. Internal Rate of Return sebesar 16,36%.

Sehingga dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa berdasarkan kriteria investasi
proyek pelaksanaan penambangan batubara memenuhi kelayakan investasi, karena
memiliki profitability index > 1 dan nilai internal rate of return > MARRInvestasi.

10.2.2 Analisis Sensitivitas


Setelah perhitungan mengenai analisis investasi telah dilakukan kemudian
dilakukan analisis sensitivitas dengan menganalisis parameter-parameter peubah yang
dapat mempengaruhi kelayakan investasi kontraktor pada proyek penambangan
batubara di masa mendatang. Parameter-parameter tersebut juga digunakan untuk
mengetahui batas-batas kelayakan dari nilai NPV yang dapat diterima.

Parameter-parameter peubah yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Kenaikan biaya operasional yang disebabkan oleh faktor-faktor seperti


kenaikan biaya suku cadang, penggunaan bahan bakar, dan lainnya.
2. Penurunan produksi yang diakibatkan kondisi peralatan, prosuktivitas rendah,
kondisi cuaca yang berbeda dari prediksi, kondisi operasional penambangan
yang berat.
Dimana berdasarkan analisis sensitivitas didapat hasil bahwa penurunan
pendapatan lebih sensitif (NPV = ± 0 pada penurunan pendapatan ± 50,2%)
dibandingkan dengan kenaikan biaya operasional.

Pe nurunan Pe ndapatan Ke naikan Ope ras ional


Se ns itivitas NPV Se ns itivitas NPV
100% -Rp 2.321.874.517.128 100% Rp 812.570.503.476
90% -Rp 1.848.021.522.855 90% Rp 972.978.995.689
80% -Rp 1.374.168.528.581 80% Rp 1.133.387.487.902
70% -Rp 900.315.534.308 70% Rp 1.293.795.980.115
60% -Rp 426.426.540.035 60% Rp 1.454.204.472.327
50% Rp 47.390.454.238 50% Rp 1.614.612.964.540
40% Rp 521.243.338.511 40% Rp 1.775.021.456.753
30% Rp 995.096.442.785 30% Rp 1.935.429.948.966
20% Rp 1.468.949.437.058 20% Rp 2.095.838.441.179
10% Rp 1.942.802.431.331 10% Rp 2.256.246.933.391
0% Rp 2.416.655.425.604 0% Rp 2.416.655.425.604
Tabel 10.5 Nilai Sensitivitas Terhadap Net Present Value

Kurva Analisis Sensitivitas


Rp3.000.000.000.000
Penurunan
Rp2.000.000.000.000 Pendapatan
Net Present Value

Rp1.000.000.000.000
Kenaikan
Rp- Operasional
0% 50% 100% 150%
-Rp1.000.000.000.000

-Rp2.000.000.000.000
-Rp3.000.000.000.000
Sensitivitas

Gambar 10.1 Grafik Sensititivitas pada Proyek Pelaksanaan Penambangasn Batubara


10.2.3 Owner and Operating Cost Analizing
Du m p Tru ck 85 to n Tru ck
A. OWNERSHIP COST S
1 DEP RECIAT ION
a. P urchase p rice =85 *765 0 $ 650.250
b. Salvage value (……… %) =15%*F4 $ 97.538
=85 t on x 1400 lb/t n =119 ,00 0
c. Freight ……… lb @ $...... /cwt $ 4.760
lbs; 1 19,000X$4.00/100
d. Unloading an d moving cost =10%*L6 $ 47 6
e. Delivered price - t ires $ 32,512 $ 557.949 say $ 525 .00 0
f. Operat ing period ………….. Hr/yr 2000
g. Econ omic life …………… hr = ………. Yr (n ) 1500 0 h r => n =1500 0/2 000 = 7.5
h. Depreciat ion = $ …………. (del. P rice less t ire cost ) $ 52 5.000,00
…………. Hr 1 5000 $ 35 /hr
2 INT EREST , T AXES, INSURANCE, AND ST ORAGE
a. Rat e = int erest 14% + t axes 2 % + ot h ers 2% = 18% 18 %
b. Average annual inv est men t rat e = (n+1)/ 2n = = 8.5/15 56,7%
c. Average annual inv est men t = $............. X …….. % = 56.7%*525 ,00 0 $ 297.500
d. Ann ual fixed charge = $................ X 1 8% =18 % * 297 ,50 0 $ 53.550
e. Fixed charge = $ …………………. $ 5 3.550,00 $ 2 6,7 8 /hr
…………… h r/y r 2000
T OT AL OW NERSHIP COST S $ 6 1,7 8 /hr

B. OP ERAT ING COST


1 T IRE REP LACEMENT COST
a. P urchase p rice 1 set of t ires = $ ………………... $ 3 2.512,00
b. T ire life ………………. Hr 2500
c. T ire cost = $ ……………… =325 12/2500 $ 13 /hr
……………… hr
2 T IRE REP AIR COST : ………. % X $ ………….. T ire cost =17% * 13 $ 2,2 1 /hr
3 REP AIR, MAINT ENANCE: ………..% X $ …………. Depreciat io n = 45% * 3 5 * 15 /1 0 $ 2 3,6 3 /hr
4 FUEL : …………….. gal/hr @ $ ………../gal =0.020 * 850 * 1 $ 1 7,0 0 /hr
OR P OW ER: ……………. Kw @ $ ……………/ kW -hr
5 LUBRICAT ION: ………………… gal/h r @ $ ............. /gal = 1/3 * 17 $ 5,6 7 /hr
6 AUXILIARY FUEL:
7 LABOR:
………………. Operat or @ $................... /hr 1 @ $ 12 12
………………. o iler @ $................... /h r
………………. h elper @ $................... /hr
T ot al
+ 35 % benefit 4,2 $ 1 6,2 0 /hr
T OT AL OP ERAT ING COST S $ 7 7,7 1 /hr
T OT AL OW NERSHIP AND OP ERAT ING COST S $ 13 9,4 8 /hr

Tabel 10.6 Owning and Operating Cost Dump Truck


BAB XI
KESIMPULAN

Kesimpulan dari hasil penelitian fisibility study ini adalah sebagai berikut:
1. Sistem pelaksanaan penambangan oleh PT. Garda Tujuh Buana dilakukan
dengan metoda tambang terbuka dan tidak menggunakan peledakan, karena
kondisi lokasi yang mudah sehingga masih bisa menggunakan alat berat.
2. Proses penambangan dilakukan secara berturut dari Pit A – Pit B – Pit C – Pit
D, sehingga akan mempermudah pemindahan alat dari pit satu ke pit lainnya,
serta memperhatikan pertimbangan efektif dan efisiensi penambangan.
3. Total biaya dalam pelaksanaan penambangan adalah Rp. 2.128.477.603.200.-
dengan pembagian 70% adalah modal sendiri dan 30% modal pinjaman.
4. Pendapatan yang diperhitungkan dalam penelitian ini berdasarkan estimasi
produksi baik overburden maupun batubara yang dikalikan dengan harga
satuan (unit price).
5. Berdasarkan analisis investasi menggunakan metode discounted cash flow di
peroleh NPV sebesar Rp. 2.416.655.425.604,- , IRR 16,36% , Profitability Index
3,785 dan MARRInvestasi sebesar 15,90% dan kriteria investasi PBP sebesar
9 bulan 17 hari.
6. Pengujian sensitivitas dilakukan terhadap 2 hal yaitu penurunan pendapatan
yang diakibatkan penurunan produksi dan terhadap kenaikan biaya operasional
dengan hasil pengujian sensitivitas menunjukan NPV = ±0 jika penurunan
pendapatan sama dengan 50,2%.
7. Hasil pengujian sensitivitas menunjukan bahwa penurunan pendapatan lebih
sensitif dibandingkan dengan kenaikan biaya operasional.
8. Sehingga pelaksanaan penambangan oleh PT. Garda Tujuh Buana dinyatakan
Layak Tambang dan Layak Investas