Anda di halaman 1dari 30

PENGARUH PENGGUNAANA LKPD MENGGUNAKAN MODEL

PEMBELAJARAN STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING


TERHADAP KOMPETENSI SISWA SMP KELAS VII PADA MATERI
HUKUM NEWTON

Oleh:

ARIS ALFIKRI

NIM. 15033028 / 2015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMUPENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2018
2

A. Latar Belakang Masalah


Pendidikan merupakan salah satu faktor penting untuk membangun generasi penerus
bangsa. Pendidikan harus dapat menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas, dengan
adanya pendidik siswa diberi pembekalan yang dapat memberikan pengalaman (bimbingan,
pembelajaran dan latihan) untuk memajukan kehidupannya sehingga dapat berkembang
sesuai perkembangan zaman. Pendidikan menjadi salah satu usaha untuk mewujudkan dan
membentuk watak, karakter serta peradaban bangsa yang memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, emosional (pengendalian diri) dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat,
bangsa dan Negara. Dengan demikian, pendidikan hendaknya dapat membuat siswa memiliki
kompetensi sikap, pengetahuan dan ketrampilan yang dapat menjadi kekuatan untuk
menghadapi era globalisasi.
Pada proses pembelajaran dibutuhkan adanya minat belajar dari siswa untuk
menumbuhkan motivasi terhadap pelajaran yang diajarkan oleh guru. Hal ini dikarenakan
minat belajar merupakan salah satu faktor internal yang cukup penting dalam proses belajar
mengajar. Namun metode pembelajaran juga menjadi faktor yang menentukan berhasil
tidaknya proses pembelajaran, dengan metode yang tepat secara otomatis akan mendukung
pencapaian tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran yang dilakukan dengan berbagai
metode untuk mencapai tujuan tersebut, tidak selalu cocok pada semua siswa. Penyebabnya
dapat dikarenakan latar belakang pendidikan siswa, kebiasaan belajar, minat, motivasi belajar
siswa, sarana, lingkungan belajar, metode mengajar guru dan sebagainya. Pemilihan metode
pembelajaran yang tepat akan menimbulkan rasa senang siswa selama mengikuti pelajaran,
siswa akan berusaha untuk berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar dalam hal ini dapat
dikatakan bahwa minat siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar meningkat.
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya dan perubahan guna meningkatkan
kompetensi siswa. Upaya yang dilakukan tersebut berupa pembaharuan sejalan dengan
kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya, dan perubahan pada masyarakat. Untuk
mencapai fungsi dan tujuan tersebut, maka pemerintah terus memperbaiki dan melakukan
evaluasi terhadap kurikulum dan model pembelajaran yang diberlakukan. Kurikulum yang
digunakan saat ini adalah kurikulum 2013 sebagai hasil pengembangan dari kurikulum
tingkat satuan pendidikan (KTSP) dengan menggunakan pendekatan saintifik yang di
anjurkan Kurikulum 2013, sehingga siswa dapat memiliki kompetensi yang diharapkan yaitu
3

menumbuhkan dan mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan (Permendikbud


No. 59 tahun 2014).
Salah satu mata pelajaran pada kurikulum 2013 adalah mata pelajaran fisika. Fisika
merupakan cabang dari Ilmu Pegetahuan Alam (IPA) yang mempelajari tentang sifat dan
fenomena alam atau gejala alam dan seluruh interaksi yang terjadi didalamnya. Untuk
mempelajari fenomena atau gejala alam, dalam fisika menggunakan proses dimulai dari
pengamatan, pengukuran, analisis dan menarik kesimpulan. Tujuan pembelajaran fisika yang
tertuang di dalam kerangka Kurikulum 2013 ialah menguasai konsep dan prinsip serta
mempunyai keterampilan mengembangkan sikap dan pengetahuan sebagai bekal untuk
melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi serta mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Berdasarkan tujuan pembelajaran tersebut, maka
penyelenggaraan mata pelajaran fisika di tingkat SMP harus menjadi acuan untuk dapat
meningkatkan kompetensi holistik yang meliputi aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan
siswa.
Kenyataan di lapangan saat ini, masih belum sesuai dengan yang diharapkan
meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kompetensi siswa namun
kenyataan disekolah masih belum menunjukkan peningkatan kompetensi siswa secara
optimal terutama kompetensi pengetahuan. Berdasarkan observasi melalui wawancara oleh
guru pada salah satu SMP di kota Solok-Selatan yaitu SMPN 7 Sangir bahwa dalam proses
pembelajaran guru menggunakan model pembelajaran ekspositori, yang tidak sesuai dengan
yang di anjurkan pada kurikulim 2013 yaitu berbasis pendekatan saintifik dan siswa hanya
mendengar dan mencatat apa yang disampaikan oleh guru (teacher centered). Selain itu
belum adanya lembar kerja peserta didik (LKPD) yang digunakan sesuai dengan standar
dalam pembelajaran yang dapat menumbuhkan peran aktif dan interaktif kepada siswa
sehingga mempengaruhi kompetensi siswa yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan
Minimum (KKM).
Pada penelitian ini digunakan metode pembelajaran yang merupakan pengembangan
dari pembelajaran kooperatif yaitu Student Facilitator And Explaining (SFAE). Pada tipe ini,
siswa atau peserta didik belajar mempresentasikan ide/ pendapat pada rekan peserta didik
lainnya. Model pembelajaran ini efektif untuk melatih siswa berbicara untuk menyampaikan
ide, gagasan, atau pendapatnya kepada siswa lain sehingga meningkatkan minat, antusias,
motifasi, keaktifan dan rasa senang peserta didik terhadap pembelajaran dan ditambahkan
pada proses pembelajaran berupa pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik adalah suatu
pembelajaran yang berpusat pada siswa mendorong terjadinya peningkatan kemampuan
4

berfikir siswa, meningkatkan motivasi belajar siswa serta melatih kemampuan dalam
berkomunikasi. Dalam mengaplikasikan pendekatan saintifik ini guru berperan sebagai
pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif dan
mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan. Kondisi seperti ini merubah
kegiatan pembelajaran yang teacher oriented menjadi student oriented. Kegiatan menemukan
seperti ini akan lebih baik jika ditunjang dengan lembar kerja peserta didik sehingga siswa
dapat menerapkan secara langsung konsep yang didapatkan. Lembar kerja peserta didik yang
digunakan telah dikembangkan sebelumnya oleh Susialati (2012) yang memenuhi kriteria
valid dan sangat praktis.
Materi pokok yang dipilih dalam penelitian ini adalah Hukum Newton. Guru
menyatakan bahwa siswa masih kesulitan mempelajari materi ini, dan masih keterbatasan
lembar kerja peserta didik yang menunjang pada materi ini, sehingga masih perlu
ditingkatkan lagi dengan lembar kerja peserta didik beserta evaluasi pembelajaran agar siswa
dapat menemukan konsep dan menyelesaikan masalah dari praktikum yang dilakukan dan
dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari terkait dengan materi pembelajaran tersebut.
Materi Hukum Newton dalam proses pembelajaran berkaitan dengan kegiatan penyelidikan
ilmiah dan mudah ditemukan konsepnya pada kehidupan sehari-hari sehingga sangat cocok
jika diajarkan dengan menggunakan metode Student Facilitator And Explaining (SFAE) yang
menuntut motivasi siswa dalam berpendapat berupa pengalaman yang dialami siswa seahri-
hari yang berkaitan dengan materi Hukum Newton.

Berdasarkan permasalahan tersebut, perlu diterapkan lembar kerja peserta didik


dengan metode Student Facilitator And Explaining (SFAE) yang menuntut dan proses
pembelajran berupa pendekatan saintifik yang tidak hanya melibatkan siswa, tetapi juga
lembar kerja peserta didik yang mendukung untuk dapat meningkatkan kompetensi holistik
siswa. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Pengaruh
Penggunaana LKPD Menggunakan Model Pembelajaran Student Facilitator And
Explaining Terhadap Kompetensi Siswa SMP Kelas VII Pada Materi Hukum Newton.

.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka identifikasi masalah dalam
penelitian ini sebagai berikut :
1. Siswa menyatakan kesulitan dalam mempelajari fisika.
2. Belum terpenuhinya pembelajaran sesuai Kurikulum 2013.
5

3. Proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran ekspositori sehingga siswa hanya


mendengar dan mencatat apa yang disampaikan oleh guru (teacher centered).
4. Siswa diminta mengerjakan LKS dan menegerjakan ke depan tetapi yang aktif hanya
siswa yang sering tampil
5. Belum adanya lembar kerja peserta didik (LKPD) yang memadai pada materi Hukum
Newton dengan menggunakan pendekatan saintifik yang dapat meningkatkan kompetensi
holistik siswa.
C. Batasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah dan terkontrol, batasan masalah dalam penelitian ini
adalah :
1. Materi yang di bahas berkenaan pada penelitian ini yaitu KD 3.2 Menganalisis gerak lurus,

pengaruh gaya terhadap gerak berdasarkan Hukum Newton, dan penerapannya pada gerak
benda dan gerak makhluk hidup KD 4.2 Menyajikan hasil penyelidikan pengaruh gaya
terhadap gerak benda.
2. Pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah pembelajaran menurut K13.
3. Penilaian yang dilakukan adalah pada kompetensi pengetahuan melalui tes tertulis,
kompetensi sikap melalui instrumen penilaian observasi yang terdiri dari spiritual, disiplin,
tanggung jawab, dan sopan/santun, serta kompetensi keterampilan melalui instrumen
penilaian unjuk kerja.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat pengaruh yang berarti Penggunaana
LKPD Menggunakan Model Pembelajaran Student Facilitator And Explaining Terhadap
Kompetensi Siswa SMP Kelas VII Pada Materi Hukum Newton Sekolah SMPN 7 Sangir?”.

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah penelitian, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian
ini adalah untuk menyelidiki pengaruh yang berarti pada Penggunaana LKPD Menggunakan
Model Pembelajaran Student Facilitator And Explaining Terhadap Kompetensi Siswa SMP
Kelas VII Pada Materi Hukum Newton Sekolah SMPN 7 Sangir.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat khususnya bagi peneliti dan pendidikan
pada umumnya. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini antara lain sebagai berikut :
1. Peneliti, dapat dijadikan pengalaman dan bekal ilmu pengetahuan dalam mengajar fisika
di masa yang akan datang dan Salah satu syarat untuk menyelesaikan studi kependidikan
Fisika di Jurusan Fisika FMIPA UNP.
6

2. Guru, sebagai masukan bagi guru dalam memilih dan membuat bahan ajar elektronik
interaktif dengan pendekatan saintifik bermuatan nilai karakter untuk siswa.
3. Peneliti lain, sebagai masukan bagi yang ingin melanjutkan dan mengembangkan

penelitian ini dimasa yang akan datang.


G. Tinjauan Pustaka
1. Hakikat Pembelajaran Fisika
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan suatu proses menciptakan
perubahan tingkah laku pada diri individu dalam memperoleh ilmu yang baru yang
sebelumnya belum ada dan kemudian diubah melalui latihan atau pengalaman. Perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari pembelajaran mencakup hampir semua kecakapan,
keterampilan, pengetahuan, kebiasaan, keinginan, motivasi, dan sikap secara sadar dan
terarah. Pembelajaran Menurut Hamalik (2012:57).
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi,
material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi. Manusia terlibat
dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, Pendidik, dan tenaga lainnya, misalnya tenaga
laboratorium. Material, meliputi buku-buku, papan tulis, dan kapur, fotografi, slide, dan film,
audio dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan, terdiri dari ruangan kelas, peralatan audio
visual, juga komputer. Prosedur, meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik,
belajar, ujian dan sebagainya.

Fisika merupakan proses memperoleh informasi melalui metode ilmiah. Permendikbud


No 59 tahun 2014 menyebutkan, “Ilmu Fisika merupakan (1) proses memperoleh
informasi melalui metode empiris (empirical method); (2) informasi yang diperoleh
melalui penyelidikan yang telah ditata secara logis dan sistematis; dan (3) suatu
kombinasi proses berpikir kritis yang menghasilkan informasi yang dapat dipercaya dan
valid”. Langkah-langkah untuk memperoleh ilmu pengetahuan ilmiah dapat melalui
observasi, merumuskan dan menguji hipotesis, mengumpulkan data, dan bereksperimen.
Pembelajaran pada kurikulum 2013 menerapkan pendekatan saintifik. Aspek-aspek
pada pendekatan saintifik (scientific approach) terintegrasi pada pendekatan keterampilan
proses dan metode ilmiah. Pendekatan saintifik meliputi lima pengalaman belajar meliputi,
kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, menalar/mengasosiasi,
dan mengkomunikasikan. Kegiatan mengamati merupakan kegiatan mengamati yang dapat
diinderakan baik itu melihat, mendengar, ataupun menyimak dengan atau tanpa alat. Kegiatan
menanya merupakan kegiatan membuat atau mengajukan pertanyaan tentang informasi yang
7

belum dipahami. Kegiatan mengumpulkan informasi/mencoba dilakukan untuk memperoleh


informasi untuk dianalisis atau diolah pada tahap menalar/mengasosiasi sehingga diperoleh
suatu kesimpulan. Kegiatan yang terakhir adalah mengkomunikasikan yang merupakan
penyajian laporan dari kegiatan yang telah dilakukan.
Sasaran pembelajaran dengan pendekatan saintifik mencakup pengembangan aspek
sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan.
Ketiga aspek kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan psikologis yang berbeda.
Sikap diperoleh melalui aktivitas: menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan
mengamalkan. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas: mengingat, memahami
menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Sementara itu, keterampilan
diperoleh melalui aktivitas: mengamati, menanya, menalar, menyaji, dan mencipta.
Berdasarkan Permendikbud Nomor 59 Tahun 2014 tentang Kurikulum SMA/MA,
Mata pelajaran Fisika SMA/MA bertujuan untuk: (1) Menambah keimanan peserta didik
terhadapa Tuhan Yang Maha Esa; (2) Menunjukkan perilaku ilmiah dalam aktivitas sehari-
hari sebagai wujud implementasi sikap ilmiah dalam melakukan percobaan dan berdiskusi;
(3) Menghargai kerja individu dan kelompok dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud
implementasi melaksanakan percobaan dan melaporkan hasil percobaan; (4)
Mengembangkan pengalaman untuk menggunakan metode ilmiah; (5) mengembangkan
kemampuan bernalar dalam berpikir analisis induktif dan deduktif; (6) menguasai konsep dan
prinsip fisika serta mempunyai keterampilan mengembangkan pengetahuan, dan sikap serta
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

2. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

LKPD merupakan kumpulan dari lembaran yang berisikan kegiatan peserta didik
yang memungkinkan peserta didik melakukan aktivitas nyata dengan objek dan persoalan
yang dipelajari. LKPD berfungsi sebagai panduan belajar peserta didik dan juga
memudahkan peserta didik dan guru melakukan kegiatan belajar mengajar. LKPD juga dapat
didefenisikan sebagai bahan ajar cetak berupa lembar-lembar kertas yang berisi materi,
ringkasan, dan petunjuk-petunjuk pelaksanaan tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik,
yang mengacu pada kompetensi dasar yang dicapai (Andi Prastowo, 2011: 204). Tugas-tugas
yang diberikan kepada peserta didik dapat berupa teori dan atau praktik..

Mengajar dengan menggunakan LKPD semakin populer terutama masa dekade terakhir
ini. Manfaat yang diperoleh dengan menggunakan LKPD antara lain:
8

a. Memudahkan guru dalam mengelola proses belajar


b. Membantu guru mengarahkan peserta didiknya untuk dapat menemukan konsep-konsep
melalui aktivitasnya sendiri atau dalam kelompok kerja

c. Dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan proses, mengembangkan sikap


ilmiah serta membangkitkan minat peserta didik terhadap alam sekitarnya

d. Membantu guru memantau keberhasilan peserta didik untuk mencapai sasaran belajar.

3. Student Facilitator and Explaining


1. Pengertian Student Facilitator and Explaining
Model pembelajaranStudent Facilitator and Explaining merupakan salah satu
dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok kecil. Jumlah
anggota tiap kelompok adalah 4-5 orang siswa secara heterogen.Model
pembelajaranStudent Facilitator and Explaining ini diawali dengan penyampaian tujuan
pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis, dan penghargaan
kelompok (Trianto. 2007:52).

Dalam Lie (2004:50) “Model pembelajaran Student Facilitator and


Explaining merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa mempresentasikan ide
atau pendapat pada siswa lainnya”. Model pembelajaran ini akan menjadikan siswa
sebagai fasilitator dalam pembelajaran dan diajak berpikir secara kreatif sehingga
menghasilkan pertukaran informasi yang lebih mendalam dan lebih menarik. Jadi,
diharapkan siswa aktif selama proses pembelajaran berlangsung.
2. Langkah-langkah model pembelajaranStudent Facilitator and Explaining
Menurut Suprijono dalam “Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi Paikem”
(2009:128-129) langkah-langkah dalam model pembelajaran Student Facilitator and
Explaining dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
Penyampaian kompetensi dasar dalam silabus berguna untuk mengetahui
seberapa jauh tuntutan target kompetensi yang harus dicapai.
2) Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi pembelajaran.
Guru diawal pembelajaran menyampaikan materi yang akan dipelajari secara
garis besar atau melaksanakan demonstrasi di depan kelas. Kemudian, guru
memberikan penekanan materi di akhir pembelajaran.
3) Memberikan kesempatan siswa untuk menjelaskan kepada siswa lainnya.
Guru membentuk beberapa kelompok siswa yang heterogen selama belajar, yaitu
siswa yang berbedakemampuan, jenis kelamin, dan ras.Setiap kelompok diberi 4
9

buah soal yang sama dan siswa dalam kelompok akan diberi nomor 1 sampai
dengan 4. Sehingga masing-masing siswa dalam kelompok akan menjawab soal
sesuai dengan nomornya masing-masing dalam waktu 5 menit. Kemudian, siswa
menjelaskan jawaban soal yang didapatkannya kepada teman sekelompok.
Setelah siswa berdiskusi dan bertukar ide di dalam kelompok, siswa diberikan
kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusinya ke depan kelas.Total waktu
presentasi untuk 4 butir soal yang adalah 10 menit.
4) Guru mengkonfirmasikan semua materi yang disajikan saat itu.
Apabila terdapat kelasahan konsep selama proses pembelajaran, maka guru
meluruskan, membenarkan, melengkapi, dan menjelaskan konsep yang
sebenarnya.

5) Guru menyimpulkan ide/pendapat dari siswa.


Guru bersama siswa menyimpulkan materi pelajaran yang telah dipelajari.
6) Evaluasi.
7) Memberi penghargaan kelompok.
Pada akhir pembelajaran akan diberikan penghargaan kelompok kepada
kelompok siswa yang paling aktif saat diskusi.
3. Kelebihan dan Kelemahan Student Facilitator and Explaining

Adapun kelebihan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining


menurut Joko (2005:91), antara lain:
a. Dapat mendorong tumbuh dan berkembangnya potensi berpikir kritis siswa
secara optimal.
b. Melatih siswa aktif dan kreatif dalam menghadapi setiap permasalahan.
c. Mendorong tumbuhnya tenggang rasa, mau mendengarkan dan menghargai
pendapat orang lain.
d. Mendorong tumbuhnya sikap demokratis.
e. Melatih siswa untuk meningkatkan kemampuan saling bertukar pendapat secara
obyektif dan rasional guna menemukan suatu kebenaran dalam kerjasama
anggota kelompok.
f. Mendorong tumbuhnya keberanian mengutarakan pendapat siswa secara
terbuka.
g. Melatih siswa untuk dapat mandiri dalam menghadapi setiap masalah.
h. Melatih kepemimpinan siswa.
i. Memperluas wawasan siswa melalui kegiatan saling bertukar ide, pendapat, dan
pengalaman antar siswa.

Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Student


Facilitator and Explaining dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Siswa menjadi
10

lebih aktif dalam pembelajaran dan berani untuk tampil ke depan kelas. Peningkatan
keaktifan siswa dalam pembelajaran diharapkan dapat membuat siswa semakin
bersemangat dan termotivasi untuk belajar.

Selain mempunyai kelebihan model pembelajaran Student Facilitator and


Explaining ini juga mempunyai kelamahan yaitu:
1) Peserta didik yang malas mungkin akan menyerahkan bagian pekerjaannya
kepada teman yang pandai.
2) Penilaian individu sulit dilakukan karena tersembunyi dibalik
kelompoknya.
3) Model pembelajaran kooperatif Student Facilitator and Explaining
memerlukan persiapan yang rumit.
4) Peserta didik yang malas memiliki kesempatan untuk tetap pasif dalam
kelompoknya dan memungkinkan akan mempengaruhi kelompoknya
sehingga usaha kelompok tersebut akan gagal.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak tertutup kemungkinan


bagi siswa pemalas untuk menyerahkan tugasnya kepada siswa yang rajin. Akibatnya, siswa
yang rajin akan semakin rajin dan siswa yang pemalas kurang tetuntut untuk aktif.

4. Pendekatan Saintifik

Pendekatan saintifik adalah pembelajaran yang terdiri atas kegiatan mengamati,


merumuskan pertanyaan, mencoba/ mengumpulkan data dengan berbagai teknik,
menganalisis/mengolah data dan menarik kesimpulan serta mengkomunikasikan hasil yang
terdiri dari kesimpulan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Menurut
Daryanto (2014:51-80) menjelaskan bahwa penerapan pendekatan saintifik dalam
pembelajaran melibatkan keterampilan proses seperti mengamati, mengklarifikasi, mengukur,
meramalkan, menjelaskan, dan menyimpulkan. Dalam melaksanakan proses tersebut bantuan
guru diperlukan. Pembelajaran dengan metoda saintifik memiliki karakteristik sebagai
berikut:
a) Berpusat pada peserta didik
b) Melibatkan keterampilan proses sains dalam mengkonstruksi konsep, hukum atau
prinsip
c) Melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang
perkembangan intelek, khususnya berpikir tingkat tinggi peserta didik
d) Dapat mengembangkan karakter peserta didik.
11

Beberapa prinsip pendekatan saintifik dalam kegiatan pembelajaran menurut Hosnan


(2014:37):
a) Pembelajaran berpusat siswa
b) Pembelajaran membentuk students self concept
c) Pembelajaran terhindar dari verbalisme
d) Pembelajaran memberikan kesampatan pada siswa untuk mengasimilasi, dan
mengakomodasi konsep, hukum, dan prinsip.
e) Pembelajaran mendorong terjadinya peningkatan kemampuan berpikir siswa
f) Pembelajaran meningatkan motivasi belajar siswa dan motivasi mengajar guru
g) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kemampun dalam
komunikasi.

Pada dasarnya pendekatan saintifik dalam pembelajaran berpusat pada siswa


mendorong terjadinya peningkatan kemampuan berfikir siswa ,meningkatkan motivasi
belajar siswa serta melatih kemampuan siswa dalam berkomunikasi. Pendekatan saintifik
meliputi lima pengalaman belajar sebagaimana tercantum dalam Tabel 2.

Tabel 2.Deskripsi Pengalaman Pembelajaran Pendekatan Saintifik

Langkah
Deskripsi Kegiatan
Pembelajaran

Mengamati dengan indra (membaca, mendengar,


Mengamati
menyimak, melihat, menonton, dan sebagainya)
(Observing)
dengan atau tanpa alat

Membuat dan mengajukan pertanyaan, Tanya


Menanya jawab, berdiskusi tentang informasi yang belum
(questioning) dipahami, informasi tambahan yang ingin
diketahui, atau sebagai klarifikasi

Mengeksplorasi, mencoba, berdiskusi,


mendemonstrasikan, meniru bentuk / gerak,
Mengumpulkan
melakukan eksperimen, membaca sumber lain
informasi / mencoba
selain buku teks, mengumpulkan data dari
(experimenting)
narasumber melalui angket, wawancara, dan
memodifikasi / menambahi / mengembangkan

Menalar/ Mengolah informasi yang sudah dikumpulkan,


12

mengasosiasi menganalisis data dalam bentuk membuat kategori,


(associating) mengasosiasi atau menghubungkan fenomena /
informasi yang terkait dalam rangka menemukan
suatu pola, dan menyimpulkan

Mengkomunikasikan Menyajikan laporan dalam bentuk bagan, diagram,


(communicating) atau grafik; menyusun laporan tertulis; dan
menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan
kesimpulan secara lisan
(Sumber : Permendikbud No.103 tahun 2014)
Berdasarkan uraian diatas, pendekatan saintifik terdiri atas tahapan mangamati,
menanya, mengumpulkan informasi, menganalis data dan mengkomunikasikan. Penerapan
pendekatan saintifik dibutuhkan bahan ajar yang dapat menunjang proses pembelajaran.
Bahan ajar tersebut adalah bahan ajar yang berbasis pendekatan saintifik bermuatan karakter.

4. Kompetensi Holistik Siswa

Kompetensi dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dimiliki oleh siswa setelah
menerima pembelajaran. Proses pembelajaran diarahkan pada pengembangan tiga ranah
kompetensi secara utuh/ holistik, hal ini berarti bahwa pengembangan ranah yang satu tidak
bisa dipisah dengan ranah yang lain. Ketiga ranah tersebut meliputi kompetensi sikap,
pengetahuan dan keterampilan. (Permendikbud No 22, 2016: 4)
a. Kompetensi Sikap
Kompetensi sikap merupakan ekspresi nilai-nilai yang dimiliki oleh seseorang.
Kompetensi sikap yang dimaksud yaitu pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang dan
diwujudkan dalam bentuk perilaku. Sikap atau tingkah laku seseorang bisa dibentuk sesuai
dengan yang diinginkan. Kompetensi sikap meliputi sikap spiritual (KI 1) dan sikap sosial
(KI 2). Dalam kurikulum 2013, kompeteni sikap baik spiritual (KI 1) maunpun sosial
(KI 2) tidak diajarkan melalui pembelajaran langsung namun terintegrasi dalam setiap
pembelajaran.
b. Kompetensi Pengetahuan
Penilaian kompetensi pengetahuan dilakukan dengan tujuan untuk mengukur
kemampuan kognitif siswa berupa kemampuan factual, konseptual, procedural dan
metakognitif serta kacakapan berpikir siswa. Penilaian pengetahuan digunakan untuk
13

mengetahui apakah siswa sudah mencapai ketuntasan dalam belajar. Penilaian ini
juga digunakan untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan siswa dalam penguasaan
materi.
c. Kompetensi Keterampilan
Penilaian keterampilan ini menitikberatkan pada keterampilan tertentu dalam
pembelajaran. Hasil belajarnya berkaian dengan proses yang dilakukan siswa. Penilaian
pada kompetensi keterampilan ini mencakup kemampuan menggunakan alat, sikap kerja,
kemampuan menganalisis suatu pekerjaan, kecepatan mengerjakan tugas, kemampuan
membaca gambar dan simbol.
Penilaian kompetensi keterampilan merupakan penilaian yang digunakan untuk
mengukur pencapaian siswa terhadap kompetensi dasar pada KI 4. Penilaian ini
dimaksudkan untuk mengetahui apakah pengetahuan yang dimiliki peserta didik dapat
diaplikasikan dalam penyelesaian masalah dalam kehidupan.
5. Penelitan yang Relevan
Beberapa penelitian yang relevan dengan bahan ajar interaktif dengan pendekatan
saintifik bermuatan karakter sebagai berikut :
a. Murtiani (2017) berjudul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Elektronik Mata
Pelajaran Fisika SMA Berbasis Nilai-Nilai Karakter Dengan Pendekatan Saintifik
Sebagai Upaya Implementasi Kurikulum 2013”.
b. Anggraini (2017) dalam skripsiya yang berjudul “Desain Modul Interaktif Dengan
Pendekatan Saintifik Bermuatan Karakter Pada Materi Kinematika Untuk Meningkatkan
Kompetensi Holistik Siswa SMA Kelas X” Penelitian ini telah diuji validitas,dan
praktikalitas oleh tenaga ahli. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produk bahan ajar
interaktif ini memiliki kriteria valid dan praktis.
c. Frioga (2017) dalam skripsi yang berjudul “Pembuatan Bahan Ajar Interaktif Dengan
Pendekatan Saintifik Bermuatan Karakter Pada Materi Hakekat Fisika, Pengukuran Dan
Vektor Kelas X SMA”. Penelitian ini telah diuji validitas dan praktikalitas oleh tenaga
ahli. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produk bahan ajar interaktif ini memiliki
kriteri valid dan praktis.
Perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti
adalah pada penelitian ini menggunakan bahan ajar elektronik interaktif dengan pendekatan
saintifik bermuatan karakter dengan materi, waktu dan tempat penelitian yang berbeda.
6. Kerangka Berfikir
14

Berdasarkan latar belakang dan kajian teori yang telah dikemukakan, pembelajaran
fisika disekolah harus berpedoman kepada kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik
bermuatan nilai-nilai karakter agar dapat meningkatkan kompetensi holistik siswa dan
didukung dengan perangkat pembelajaran yang memadai. Salah satu perangkat pembelajaran
yang dapat digunakan adalah bahan ajar elektronik interaktif dengan pendekatan saintifik
bermuatan nilai-nilai karakter. Pengaruh penerapan bahan ajar ini adalah salah satu cara
belajar yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Untuk lebih jelasnya kerangka berfikir dari peneliti ini adalah :

Pembelajran Fisika Menurut kurikulum


2013

Pelaksanan Model pembelajaran


pembelajaran Student Facilitator
and Explaining
Si Peng
k et
Ketera
a a
mp
p h
ila
Real u
n
laborato a
ry n LK
P
D
Kompetensi Siswa

Gambar 1. Skema Kerangka Berpikir

H. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan permasalahan dan kajian teori yang telah dirumuskan, dikemukakan
hipotesis kerja (Hi) yaitu, terdapat pengaruh yang berarti pada Penggunaana LKPD
15

Menggunakan Model Pembelajaran Student Facilitator And Explaining Terhadap Kompetensi


Siswa SMP Kelas VII Pada Materi Hukum Newton Sekolah SMPN 7 Sangir.
I. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan berupa penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment
research). Arifin (2011:74) menyatakan bahwa tujuan dari penelitian ekperimen semu adalah
untuk memprediksi keadaan yang dicapai melalui ekperimen yang sebenarnya, tetapi tidak
ada pengontrolan dan manipulasi terhadap seluruh variabel yang relevan. Penelitian
eksperimen semu ini digunakan kelas ekperimen dan kelas kontrol. Untuk kelas eksperimen
diberikan perlakuan berupa pembelajaran Fisika dengan menggunakan bahan ajar elektronik
interaktif dengan pendekatan saintifik, sedangkan pada kelas kontrol menggunakan bahan
ajar biasa.

2. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Randomized Control Group Only Design
. Menurut Djamas (2015:72-73) menyatakan bahwa dalam rancangan ini sekelompok subjek
yang diambil dari populasi tertentu dikelompokkan secara rambang menjadi dua kelompok,
yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen diberikan variabel
perlakuan tertentu dalam jangka waktu tertentu, lalu kedua kelompok itu dikenai pengukuran
yang sama. Perbedaan yang timbul dianggap bersumber pada variabel perlakuan. Secara
bagan, bentuk rancangan penelitian dapat dilihat pada Tabel .
Tabel . Rancangan Penelitian

Group Pretest Treatment Posttest

Eksperimen - X T2

Kontrol - - T2
(Sumber: Djamas 2015 : 73)
Keterangan :
X : Perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen yaitu pengaruh penggunaan bahan ajar
elektronik interaktif dengan pendekatan saintifik
T2 : Tes akhir yang diberikan kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
3. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Populasi adalah sejumlah individu yang sejenis yang terdapat pada suatu daerah atau
tempat dan memiliki karakteristik tertentu, populasi sesuatu yang merupakan sumber
16

informasi atau objek penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah semua Siswa SMP Kelas
VII SMPN 7 Sangir Tahun Pelajaran 2017/2018 dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Jumlah siswa kelas VII SMPN 7 Sangir

No Kelas Jumlah Peserta Didik

6
(Sumber: Guru Fisika SMPN 7 Sangir)
b. Sampel
Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh suatu
populasi (Sugiyono, 2012:81). Sampel adalah sebagian dari populasi yang merupakan wakil
dari populasi tersebut dalam semua aspek atau karakteristik populasi. Pengambilan sampel
dilakukan dengan teknik Cluster Sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan daerah
populasi yang telah ditetapkan. Pada kelas X SMAN 15 Padang terdapat 6 lokal MIA dan
memiliki 2 guru fisika yang mengajar pada lokal tersebut, masing-masing guru kelas X
tersebut ada yang mengajar 4 lokal dan 2 lokal. Peneliti memilih salah satu kelas guru yang
mengajar 4 lokal, dengan asumsi bahwa kelas tersebut mewakili populasi.
4. Variabel dan Data
a. Variabel Penelitian
Berdasarkan hipotesis yang telah dikemukakan variabel dalam penelitian ini adalah :
1) Variabel bebas yaitu variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab

perubahan atau timbulnya variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini
adalah bahan ajar dengan pendekatan saintifik bermuatan karakter.
2) Variabel terikat yaitu variabel yang menerima akibat dari variabel bebas. Variabel
terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa.
3) Variabel kontrol yaitu variabel yang dijaga tetap atau konstan. Variabel pada
penelitian ini adalah materi yang diajarkan dan waktu.
b. Jenis Data Penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data pimer, yaitu data yang
diambil sendiri oleh peneliti dan data sekunder yaitu data yang didapat peneliti melalui
17

sekolah. Data dalam penelitian ini adalah data berupa hasil belajar siswa dalam kompetensi
pengetahuan, sikap, dan ketrampilan.
5. Prosedur Penelitian
Secara umum, prosedur penelitian dapat dibagi atas tiga bagian yaitu: tahap persiapan,
tahap pelaksanaan dan tahap penyelesaian.
a. Tahap Persiapan
Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap persiapan adalah sebagia berikut:
1) Menentukan tempat dan jadwal penelitian dan pokok bahasan yang akan diteliti.
2) Mengurus surat izin penelitian.
3) Menentukan populasi dan sampel penelitian.
4) Menentukan kelas eksperimen dan kontrol
5) Mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP) dan bahan ajar elektronik interaktif dengan pendekatan saintifik
bermuatan karakter.
6) Membuat instrumen penelitian pada kompetensi sikap yaitu lembar observasi,
penilaian praktik/kinerja dan rubrik penskoran untuk kompetensi keterampilan
7) Mempersiapkan kisi-kisi soal tes akhir
8) Mempersiapkan instrumen penelitian berupa tes akhir
b. Tahapan Kegiatan Pembelajaran
Adapun tahapan kegiatan pembelajaran yang dilakukan pada tahap pelaksanaan dapat
dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Tahapan kegiatan pembelajaran

Kelas Eksperimen Kelas Kontrol


Pendahuluan Pendahuluan
(10 menit) (10 menit)
 Guru mengucap salam  Guru mengucap salam
 Guru meminta ketua kelas  Guru meminta ketua kelas
memimpin doa memimpin doa
 Guru mengabsen siswa  Guru mengabsen siswa
 Guru mereview pembelajaran  Guru mereview pembelajaran
sebelumnya dan meminta siswa sebelumnya dan meminta siswa
mengaitkan materi sebelumnya mengaitkan materi sebelumnya
dengan materi yang akan dengan materi yang akan
dipelajari dipelajari
 Guru menyampaikan tujuan  Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran pembelajaran
 Guru memotivasi siswa  Guru memotivasi siswa
 Guru menyampaikan cakupan  Guru menyampaikan cakupan
18

materi yang akan dipelajari materi yang akan dipelajari


 Guru menjelaskan tentang menggunakan bahan ajaar cetak
tatacara penggunaan bahan
ajar elektronik interaktif
kepada siswa
 Guru membagi siswa dalam
beberapa kelompok

Kegiatan Inti (115 menit ) Kegiatan Inti (115 menit )


Mengamati Mengamati
 Guru menayangkan bahan  Guru membagikan bahan ajar
ajar elektronik interaktif cetak kepada siswa
dengan pendekatan saintifik  Guru menyuruh siswa untuk
pada siswa membaca buku yang telah
 Guru menyuruh siswa dibagikan.
mengamati dan memahami
masalah yang disajikan bahan
ajar elektronik interaktif

Menanya Menanya
 Guru menyuruh siswa  Guru menyuruh siswa
mengajukan pertanyaan mengajukan pertanyaan
terhadap bahan ajar yang terhadap bahan ajar cetak
ditayangkan. yang dibagikan

Menalar Menalar
 Guru membimbing siswa  Guru membimbing siswa
untuk mencari jalan untuk mencari jalan
penyelesaian dari masalah penyelesaian dari masalah
yang ditemukan yang ditemukan

Mencoba Mencoba
 Guru menyuruh siswa  Guru menyuruh siswa
mencobakan virtual lab menuliskan masalah yang
19

sederhana pada bahan ajar telah dirumuskan sebelumnya


elektronik
Mengkomunikasikan Mengkomunikasikan
 Guru menyuruh siswa untuk  Guru menyuruh siswa untuk
merumuskan masalah dari merumuskan masalah dari
virtual lab yang telah bahan cetak
dicobakan  Guru menyuruh perwakilan
 Guru menyuruh perwakilan dari siswa untuk
dari siswa untuk mempresentasikan jawaban
mempresentasikan jawaban mereka
mereka
Penutup (10 Menit) Penutup (10 Menit)
 Guru membimbing  Guru membimbing
menyimpulkan materi menyimpulkan materi
 Guru memberikan siswa  Guru memberikan siswa
tugas rumah tugas rumah
 Guru memberikan  Guru memberikan
penghargaan terhadap kinerja penghargaan terhadap kinerja
siswa siswa

c. Tahap Penyelesaian
Langkah-langkah dalam tahap penyelesaian ini adalah :
1) Melaksanakan test akhir untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol
2) Mengumpulkan data hasil belajar pada aspek sikap, pengetahuan dan ketrampilan
3) Mengumpulkan dan menganalisis data yang diperoleh dari kedua kelas sampel

4) Membuat laporan penelitian

6. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembaran observasi untuk
kompetensi sikap, tes tertulis untuk kompetensi pengetahuan dan penilaian unjuk kerja untuk
kompetensi keterampilan.
a. Instrumen Kompetensi Sikap
Penilaian kompetensi sikap yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar
observasi. Format penilaian kompetensi sikap melalui lembar observasi dapar dilihat pada
Tabel 7.
Tabel 7. Format penilaian Observasi pada Kompetensi Sikap
Format penilaian Observasi
20

Nama Satuan Pendidikan :


Tahun Pelajaran :
Kelas/Semester :
Mata Pelajaran :
Nama Kerja Tanggung Rasa
N Siswa Spiritual Disiplin Jawab Ingin Skor Nilai
sama
Tahu
o

1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3

Keterangan :
Aspek Spiritual terdiri dari :
1. Berdoa sebelum memulai pembelajaran.
2. Mengucapkan syukur setelah pembelajaran berakhir.
3. Mengucapkan salam ketika memasuki ruangan pembelajaran.

Aspek Disiplin terdiri dari :


1. Teliti dan tertib dalam mengerjakan tugas yang diberikan
2. Mematuhi petunjuk dan langkah-langkah yang telah ditetapkan dalam bahan ajar.
3. Mentaati tata tertib yang berlaku saat mengikuti proses pembelajaran

Aspek Kerja Sama terdiri dari:


1. Melakukan praktikum dengan anggota kelompok gagasan/ pemikiran mengenai
pokok.
2. Berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan.

Aspek Tanggung Jawab terdiri dari :


1. Menjawab pertanyaan dan soal ujian secara mandiri.
2. Memecahkan masalah dan menjawab pertanyaan secara mandiri.
3. Berdiskusi dan belajar mandiri tanpa diawasi.

Aspek Rasa Ingin Tahu terdiri dari :


1. Bertanya atau membaca sumber lain di luar bahan ajar elektronik interaktif
21

2. Bertanya dan mendiskusikan gejala alam yang terjadi disekitarnya yang berkaitan
dengan materi yang sedang dipelajari.
3. Bertanya dan mendiskusikan mengenai topik-topik sesuatu yang baru didengarnya
yang berkaitan dengan materi yang dipelajari.

Pedoman penskoran untuk kompetensi sikap dibuat dengan skala 1 sampai dengan 4.
Keterangan : (1) Tidak pernah; (2) Kadang-kadang; (3) Sering; (4) Selalu.

Nilai akhir siswa dapat diperoleh dengan cara :

skor yang diperoleh


nilai   100
skor maksimum

b. Instrument Kompetensi Pengetahuan


Instrumen yang digunakan pada kompetensi pengetahuan adalah tes tertulis. Instrumen
penelitian berupa soal pilihan ganda yang dilaksanakan diakhir penelitian. Instrumen yang
digunakan harus memenuhi syarat untuk menjadi instrumen penelitian yang baik, untuk itu
dilakukan langkah-langkah berikut : (1) Membuat kisi-kisi soal, (2) Menyusun soal pre-test
dan post-test sesuai dengan kisi-kisi yang telah dibuat (3) Melakukan uji coba tes, dimana
dari hasil uji coba ini dilakukan analisis soal untuk memilih soal yang memenuhi syarat
instrumen yang baik. Langkah-langkah dalam menganalisis soal tes sebagai berikut :
1) Validitas tes
Sumarna (2004:50) mengemukakan, “Validitas adalah suatu konsep yang yang
berkaitan dengan sejauh mana tes telah mengukur apa yang seharusnya diukur”. Langkah-
langkah memvalidasi tes :
a) Melaksanakan uji coba tes
Sebelum tes diberikan, terlebih dahulu tes diujicobakan pada sekolah lain yang
memiliki kemampuan rata-rata yang hampir sama dengan kelas sampel. Uji coba tes ini
bertujuan agar tes yang diberikan memiliki kualitas yang baik.

b) Mengalisis hasil uji coba tes


Analisis ini dilakukan untuk mengidentifikasi soal-soal yang dipakai, direvisi atau
dibuang. Untuk mengetahui kualitas tes perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
(1)Daya pembeda soal
Tujuan analisis soal ini adalah untuk menentukan dapat tidaknya suatu soal
membedakan kelompok dalam aspek yang diukur sesuai dengan perbedaan itu. Penentuan
daya beda digunakan untuk membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa
yang berkemampuan rendah ( Sumarna 2004: 23). Instrumen yang digunakan dalam
22

penelitian ini adalah tes tulis berupa soal pilihan ganda, maka untuk menentukan daya beda
digunakan rumus pada persamaan (Sumarna 2004: 31) :

D
A  B (2)
nA nB

Keterangan :
D : indeks daya beda
ƩA : jumlah peserta tes yang menjawab benar pada kelompok atas
ƩB : jumlah peserta tes yang menjawab benar pada kelompok bawah
nA : jumla peserta kelompok atas
nB : jumlah peserta kelompok bawah

Tabel 8. Klasifikasi Indeks Daya Beda Soal

No Indeks Reliabilitas Kriteria

1  0,3 Diterima

2 0,1 – 0,29 Direvisi

3 < 0,1 Ditolak


(Sumber : Sumarna, 2004:47)
(2)Tingkat kesukaran
Tingkat kesukaran digunakan untuk melihat soal mudah, sedang atau sulit. Dimana
tingkat kesukaran dapat dinyatakan melalui beberapa cara diantaranya (1) proporsi menjawab
benar, (2) skala kesukaran linear, (3) indeks Davis, dan (4) skala Bivariat (Sumarna 2004:12).
Dalam penelitian ini akan digunakan cara pertama yaitu proporsi menjawab benar yang
disimbolkan dengan p, Sumarna (2004:12) menyatakan dengan rumus :

p
x (3)
Sm N

Keterangan :
p : Proporsi menjawab benar atau tingkat kesukaran
Ʃx : Banyak peserta yang menjawab benar
Sm : Skor maksimum
N : Jumlah peserta
Tabel 9. Kategori Tingkat Kesukaran
23

Nilai p Kategori

p < 0,3 Sukar

0,3  p  0,7 Sedang

p > 0,7 Mudah


(Sumber: Sumarna, 2004)
(3)Validitas
Validitas tes digunakan untuk mengetahui kualitas tes dalam kaitannya dengan
mengukur hal yang seharusnya diukur (Sumarna 2004: 50). Tingkat validitas dapat ditentukan
dengan melihat validitas isi , validitas konstruk, validitas preditif, dan validitas konkuren.
Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity), validititas
isi disebut juga validitas kurikulum karena suatu tes dikatakan valid apabila sesuai dengan isi
kurikulum yang hendak diukur. Isi dari tes harus mewakili secara keseluruhan materi
pembelajaran yang akan diujikan. Langkah-langkah yang dilakukan untuk mendapatkan tes
yang valid adalah membuat kisi-kisi soal yang akan diujikan. (Sumarna 2004).

(4) Reliabilitas
Reliabilitas merupakan ketetapan suatu tes apabila diteskan kepada subjek yang sama.
Untuk menentukan reliabilitas soal digunakan rumus Alpha yang dilakukan Sudijono
(2001:208) :

n   Si 
2

r11  1   (4)
n  1  S t2 

Dimana

 x  2

x
i
2
i  (5)
S  2 N
i
N

 y  2

y
i
2
i  (6)
S  2 N
t
N
Keterangan :
r1 : reliabilitas tes secara keseluruhan
n : banyakbutir soal
24

1 : Bilangan konstan
S i
2
: jumlah varian skor tiap butir tes
S t2 : varians total
xi : jumlah rerata tes
yi : skor total perolehan perbutir tes
Tabel 10. Klasifikasi Indeks Reliabilitas Soal

Indeks reliabilitas Klasifikasi

0,80 ≤ r1 < 1,00 Sangat tinggi

0,60 ≤ r1< 0,80 Tinggi

0,40 ≤ r1< 0,60 Sedang

0,20≤ r1< 0,40 Rendah

0,00 ≤ r1< 0,20 Sangat rendah


(Sumber: Suharsimi,2008)
c. Instrumen Ranah Keterampilan
Instrumen yang digunakan pada ranah keterampilan adalah rubrik penskoran untuk
penilaian unjuk kerja selama proses pembelajaran. Aspek-aspek yang dinilai dalam ranah
keterampilan disesuaikan dengan penampilan siswa selama proses penyelesaian tugas.
Format penilaian unjuk kerja dan rubik penskoran dapat dilihat pada Tabel 10 dan Tabel 11.

Tabel 11. Format Penilaian Unjuk Kerja Kompetensi Keterampilan


Format Penilaian Unjuk Kerja
Mata Pelajaran :
Alokasi Waktu:
Kelas/Semester :
Tahun Pelajaran :
Kompetensi Dasar :

Persiapan Pelaksanaan Hasil


NO Mempersiapkan Pengambilan Keselamatan Mengolah Laporan Skor Nilai
Alat Data Kerja Data Kesimpulan

3
25

skor yang diperoleh


nilai   100 (7)
skor maksimum

Keterangan :
Skor maksimal = jumlah skor tertinggi setiap kriteria

Tabel 12. Rubrik Penskoran Penilaian Unjuk Kerja


Kriteria Aspek Skor Indikator
3 Merangkai alat tepat dan rapi
Persiapan Merangkai 2 Merangkai alat tepat atau rapi
(skor maks=3) Merangkai alat tidak tepat dan
Alat 1
tidak rapi
Langkah kerja dan waktu
3
pelaksanaan tepat
Pengambilan Langkah kerja atau waktu
2
data pelaksanaan tepat
Langkah kerja dan waktu
1
Pelaksanaan pelaksanaan tidak tepat
(skor maks=6) Memperhatikan keselamatan kerja
3
dan kebersihan
Keselamatan Memperhatikan keselamatan kerja
2
Kerja atau kebersihan
Tidak memperhatikan keselamatan
1
kerja dan kebersihan
Mencatat dan mengolah data
3
dengan tepat
Mengolah Mencatat atau mengolah data
2
Hasil Data dengan tepat
(skor maks=6) Mencatat dan mengolah data tidak
1
tepat
3 Simpulan tepat
Kesimpulan 2 Simpulan kurang tepat
1 Simpulan tidak tepat
Laporan Sistematika Sistematika sesuai kaidah
(skor maks=3)
Penulisan 3 penulisan dan isi laporan akhir
benar
2 Sistematika sesuai kaidah
penulisan atau isi laporan akhir
benar
26

Kriteria Aspek Skor Indikator


Sistematika tidak sesuai kaidah
1 penulisan dan isi laporan akhir
benar
7. Teknik Analisis Data
Analisis data bertujuan untuk menguji apakah hipotesis yang dikemukakan dalam
penelitian diterima atau ditolak. Analisis ini digunakan untuk membandingkan nilai rata-rata
pre-test dan post-test kelas eksperimen yang telah ditentukan sebelumnya. Berikut akan
dibahas teknik analisi data pada masing-masing kompetensi:
a. Hasil Belajar Kompetensi Pengetahuan
1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah sampel berasal dari populasi yang
terdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas ini dilakukan pada data nilai pre-test dan data
nilai post-test. Untuk menguji normalitas digunakan uji Liliefors. Sudjana (2002: 466),
merumuskan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Data x1, x2, x3,……….xn yang diperoleh dari data yang terkecil hingga
data yang terbesar.
2) Data x1, x2, x3, ….xn dijadikan bilangan baku Z1, Z2, Z3,……Zn dengan
rumus:
Xi  X
Z1  (8)
S
Keterangan :
X i = skor yang diperoleh siswa ke-i

X = skor rata-rata
S = simpangan baku
3) Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian dihitung peluang F ( Zi )
= P ( z ≤ Zi ).
4) Dengan menggunakan proporsi Z1, Z2 , Z3, …Zn yang lebih kecil atau
sama dengan Zi, jika proporsi ini dinyatakan dengan S ( Zi ), maka:
Banyaknya Z 1 , Z 2 , Z 3 ,...Z n yang  Z i
S Zi  
n
5) Menghitung selisih F(Zi) - S(Zi ) yang kemudian ditentukan harga
mutlaknya
6) Diambil harga yang paling besar diantara harga mutlak selisih tersebut
yang disebut Lo.
7) Membandingkan nilai Lo dengan nilai kritis Lt yang terdapat dalam tabel
nilai kritis L untuk uji Liliefors pada taraf nyata α = 0,05. Kriteria terimanya yaitu
27

hipotesis tersebut normal jika Lo lebih kecil dari Lt, selain dari itu ditolak.

b. Uji Hipotesis
Uji hipotesis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah uji regresi linier sederhana
dan uji korelasi yang dijelaskan sebagai berikut:
1) Uji Regresi Linier Sederhana dan Uji Korelasi
Persamaan umum regresi linear sederhana dalam sugiyono (2012: 261) adalah
sebagai berikut:
Y  a  bX (9)
Keterangan:
= Subyek dalam variabel dependen yang dipresiksikan
= Harga Y ketika harga X = 0 (konstan)
= Angka arah atau koefesien regresi
= Subyek pada variabel independent yang mempunyai nilai tertentu.
Untuk memperoleh harga a dan b dapat dipergunakan rumus :

a
 Y   X  X  X
i i
2
i i  Yi
(10)
n. X   Xi
2
i
2

n   X i  Yi   X i  Yi
b (11)
n. X i2   X i2

dengan Xi adalah data variable X, dan Yi adalah data variable Y.


Sugiyono (2012: 265) menyebutkan bahwa “salah satu asumsi dari analisis regresi
adalah linearitas”. Untuk mempermudah linearitas kita dapat menggunakan daftar analisis
variansi sederhana regresi linear sederhana, seperti pada Tabel 12.
Table 12. Daftar Analisis Variansi Regresi Linier Sederhana
Sumber DK JK KT F
Variansi
Total N Y 2
Y 2

Koefisien (a) 1 JK (a) JK (a)

Regresi b/a 1 JK (b/a) b 2


S reg
S reg  JK  
Sisa a 2
S sis
n-2 JK (S) JK  S 
2
S sis 
n2
28

Tuna cock k-2 JK (TC) JK  TC 


2
S TC 
k 2
2
S TC
Galat n-k JK (G) JK  G  S G2
S G2 
nk

Sumber: Sugiyono (2012: 266)


Adapun rumus yang digunakan dalam uji linear adalah:

JK a 
Y i
2

JK  b a   bX i Yi 
 X Y i i

n
JKT  Y 2

JKS  JKT  JKa  JK  b a 

  Y  2
JK  TC    Y  JK  b   JK reg  a    Y 
 2  2
 reg    n
 a 
JKG  JKS  JK  TC 

Keterangan:
JK (a) = jumlah kuadrat koefisien a
JK (b/a) = jumlah kuadran regresi (b/a)
JK (T) = jumlah kuadran total
JK (S) = jumlah kuadran sisa
JK (TC) = jumlah kuadran tuna cocok
JK (G) = jumlah kuadran galat
Untuk uji keberartian, dengan h0 adalah koefisien arah regresi tidak berarti (b=0) dan hi

2
S reg
adalah koefisien itu berarti (b ≠ 0), maka digunakan statistik, F  2
sebagai Fhitung. Fhitung
S sis
dibandingkan dengan F Tabel dengan dk pembilang 1 dan dk penyebut n-2. Kriterianya adalah
tolak H0 jika Fhitung > FTabel dengan taraf kesalahan dan dk yang sesuai. (Sugiyono: 2012:
273)
29

Selanjutnya, untuk uji linieritas dengan h 0 adalah regresi linier dan hi adalah regresi

2
S TC
non linier digunakan statistik F  sebagai Fhitung. Fhitung kemudian dibandingkan dengan
S G2
FTabel dengan dk pembilang = (k-2) dan dk penyebut (n-k). kriterianya adalah tolak hipotesis
regresi linier, jika F hitung > FTabel dengn arah taraf kesalahan dan dk yang sesuai. (Sugiyono,
2012: 274)
Selanjutnya dilakukan perhitungan koefisien korelasi r menggunakan rumus Korelasi
Product Momen dari pearson sebagai berikut:

 X  Y
X Y
i i
i i 
r n
X 2
Y 2

 xi2  Yi 2   y12 
i i

N N
Untuk menguji hubungan variable X dan Y, bandingkan nilai r hitung dengan nilai r
Tabel untuk taraf nyata 5% atau 1%. Apabila nilai rhituung > rTabel, berarti H0 ditolak dan Hi
diterima. Untuk mengetahui koefisiem determinasi dapat digunakan rumus:
KD  r 2  100%
Dimana KD adalah koefisien determinasi, dan r adalah koefisien korelasi
2. Hasil Belajar Kompetensi Sikap
Data kompetensi siswa pada aspek sikap dianalisis dengan melakukan langkah-langkah
sebagai berikut:
a. Pemberian dan penghitungan skor keseluruhan dari tiap indikator yang tampak dalam
proses pembelajaran. Aspek penilaian terdiri dari sikap atau karakter yang ada pada bahan
ajar, dimana tiap-tiap aspek dinilai sesuai dengan kriteria yaitu nilai 4 sering terlihat, 3
untuk kadang- kadang terlihat, 2 jarang terlihat dan 1 untuk sangat tidak terlihat yang
diisikan pada kolom yang disediakan dalam rubrik penilaian sikap. Setelah mendapatkan
data penilaian keseluruhan maka skor yang diperoleh dari setiap indikator dijumlahkan.
b. Skor total yang diperoleh dikonversikan menjadi nilai dengan rumus yang terdapat dalam
Purwanto (2001: 102) yaitu:
R
NP   100
SM

Keterangan:
Np = Nilai siswa
R = Jumlah skor perolehan siswa sesuai dengan tanda cek yang diberikan
SM = Jumlah skor maksimum lembar pengamatan
30

Pada penelitian ini skor maksimum yang dapat diperoleh siswa adalah 24 dan skor
minimum adalah 0 untuk setiap kali pertemuan. Skor yang diperoleh siswa lalu dikonversi ke
nilai, maka untuk analisis selanjutnya sama dengan analisis hasil belajar siswa pada
kompetensi pengetahuan. Analisis data hasil belajar siswa pada kompetensi sikap meliputi uji
normalitas, dan uji hipotesis.
3. Hasil Belajar Kompetensi Keterampilan
Hasil belajar kompetensi keterampilan teknik analisis data yang digunakan untuk hasil
belajar siswa pada kompetensi keterampilan sama dengan teknik analisis data hasil belajar
siswa pada kompetensi pengetahuan. Adapun langkah-langkah dalam menganalisis data hasil
observasi kompetensi keterampilan sebagai berikut:
a. Pemberian dan penghitungan skor keseluruhannya dari setiap kompetensi keterampilan
yang dinilai
b. Penghitungan skor yang diperoleh dikonversi menjadi nilai dengan menggunakan
perumusan Depdiknas (2010: 72):
skor yang diperoleh
nilai   100
skor maksimum

Skor yang diperoleh siswa lalu dikonversi ke nilai, untuk analisa selajutnya sama
dengan analisa hasil belajar pada kompetensi pengetahuan. Analisa data hasil belajar
kompetensi keterampilan meliputi uji hipotesis.