Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah unit pelaksana teknik Dinas


Kesehatan Kabupaten/ Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan
Pembangunan kesehatan suatu atau sebagian wilayah kecamatan. Puskesmas
sebagai unit organisasi fungsional dibidang kesehatan dasar yang berfungsi sebagai
pusat pembangunan kesehatan, membina peran serta masyarakat dan pelayanan
kesehatan dasar secara menyeluruh dan terpadu. Untuk mewujudkan pelaksanaan
fungsi dan program kegiatan puskesmas, maka telah dilengkapi dengan sistem
manajemen, seperti Lokakarya Mini Bulanan Puskesmas, Lokakarya Mini Lintas
Sektor Tribulanan, SP2TP, monitoring bulanan, laporan bulanan, laporan triwulan,
laporan tahunan dan hal yang menunjang pelaksaanannya.

Profil kesehatan Puskesmas Dolo menggambarkan situasi kesehatan di wilayah


kerja Puskesmas Dolo yang diterbitkan secara berkala setiap tahun hingga sekarang
tahun 2016. Penerbitan Profil Kesehatan Puskesmas Dolo tahun 2016 secara umum
bertujuan untuk memberikan gambaran situasi dan kondisi kesehatan masyarakat di
wilayah kerja Puskesmas Dolo pada tahun 2016 dalam mendorong dan mewujudkan
sistem informasi kesehatan yang berdaya guna dan berhasil guna yang mampu
menyediakan data dan informasi yang akurat, tepat waktu dan sesuai dengan
kebutuhan, sebagai bahan untuk mengevaluasi pencapaian pembangunan kesehatan
di Wilayah Puskesmas Dolo.

Adapun tujuan secara khusus yakni untuk memutakhirkan data dasar


Puskesmas yang mencakup data bangunan, peralatan, sarana penunjang, tenaga serta
biaya di Puskesmas dan jaringannya, yaitu dengan melakukan updating dan validasi
data dasar Puskesmas. Sehingga tersedianya data dasar Puskesmas yang valid dan
reliable dapat menjadi suatu kebutuhan dalam pengambilan keputusan di seluruh
jenjang administratif mulai dari Puskesmas, kota, provinsi, dan para stake holder.

Penyajian Profil Kesehatan Puskesmas Dolo Tahun 2016 dengan sistimatika


sebagai berikut : (I) Pendahuluan menjelaskan tentang maksud dan tujuan
penyusunan Profil Kesehatan Puskesmas Dolo, isi dan sistimatika penyajian, (II)
Gambaran Umum meliputi kependudukan, ekonomi, pendidikan, sosial budaya dan
lingkungan, (III) Situasi Derajat Kesehatan Masyarakat, meliputi angka kematian,

1
angka kesakitan dan status gizi masyarakat, (IV) Situasi Upaya Kesehatan meliputi
pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang,
pemberantasan penyakit menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi
dasar, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan. Upaya
pelayanan kesehatan yang diuraikan dalam bab ini juga mengakomodir indikator
kinerja Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan serta upaya pelayanan
kesehatan lainnya yang diselenggarakan oleh kabupaten/kota, (V) Situasi Sumber
Daya Kesehatan meliputi sarana kesehatan, tenaga kesehatan, pembiayaan kesehatan
dan sumber daya kesehatan lainnya, (VI)Kesimpulan membahas hal-hal penting
yang perlu disimak dan ditelaah lebih lanjut dari Profil Kesehatan Kabupaten/Kota di
tahun yang bersangkutan.

2
BAB II
GAMBARAN UMUM

A. GEOGRAFI
Luas wilayah Puskesmas Dolo ± 36,05 km2 dengan jumlah desa sebanyak
11 desa. secara geografis wilayah Puskesmas Dolo terdiri dari dataran sehingga
transportasi dan komunikasi relatif mudah dijangkau.

Puskesmas Dolo merupakan puskesmas yang terdapat di Kecamatan Dolo


dan terletak di ibukota kecamatan yang secara administratif pemerintahan
sekarang terdiri dari 11 desa dan 37 dusun dengan batas-batas wilayah kerja
Puskesmas Dolo adalah sebagai berikut:
 Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Biromaru
 Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kecamatan Biromaru
 Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Biromaru dan
Kecamatan Dolo Barat
 Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Marawola dan
Kecamatan Dolo Barat

Berdasarkan elevasi (ketinggian dari permukaan laut) dan bentuk


permukaan tanah maka desa-desa di wilayah kerja Puskesmas Dolo terdiri dari :
100 % dataran.

Jika dilihat dari segi jarak antara ibu kota kecamatan dengan tiap desa yang
ada maka jarak terdekat dari ibu kota kecamatan (Puskesmas) berkisar antara 0,5
- 1 km² dengan waktu tempuh berkisar 5 menit. Sedangkan jarak terjauh berkisar
antara 1 - 8 km² dengan waktu tempuh berkisar antara 30 menit.

a. Suhu dan Kelembaban Udara


Suhu udara di wilayah Puskesmas Dolo berkisar 31,1°C – 35,3°C dengan
kelembaban udara rata-rata 72 % - 82 %

b. Curah Hujan dan Keadaan Angin


Rata-rata curah hujan di wilayah Puskesamas Dolo bervariasi 24–110 mm
sedangkan keadaan angin mempunyai kecepatan rata-rata berkisar antara 5 –
6 knots.

3
B. KEPENDUDUKAN
Dalam mekanisme perencanaan pembangunan, penduduk dilIhat sebagai
salah satu faktor strategis karena disadari posisinya bukan hanya sebagai sasaran
tetapi juga sebagai pelaksana pembangunan. Atas dasar pemikiran ini,
pembangunan nasional di titik beratkan pada peningkatan sumber daya manusia
yang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Dolo tahun 2016 yaitu


21.973 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk sekitar 9.417 jiwa/km². Jika dilihat
berdasarkan kepadatan penduduk wilayah desa, maka kepadatan penduduk
tertinggi terdapat di desa Kabobona (1836 jiwa/km² ), sedangkan kepadatan
penduduk terendah terdapat di desa Waturalele (85 jiwa/km² ).

Tabel II.1.
Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Dan
Jenis Kelamin Puskesmas Dolo Tahun 2016

Golongan Penduduk Persentase (%)


umur
(Tahun) Laki-laki Perempuan Jumlah Laki- Perempuan Jumlah
laki
0–4 1145 1028 2173 10.04 9.72 100.0
5–9 959 895 1854 8.42 8.46 100.0
10 – 14 1158 1015 2173 10.16 9.59 100.0
15 – 19 1295 1070 2365 11.37 10.11 100.0
20 – 24 1009 876 1885 8.86 8.28 100.0
25 – 29 865 766 1631 7.59 7.24 100.0
30 – 34 884 852 1736 7.76 8.05 100.0
35 – 39 884 856 1740 7.76 8.09 100.0
40 – 44 803 751 1554 7.05 7.09 100.0
45 – 49 638 640 1278 5.59 6.05 100.0
50 – 54 527 565 1092 4.63 5.34 100.0
55 – 59 417 442 859 3.66 4.18 100.0
60 – 64 319 272 591 2.79 2.57 100.0
65+ 491 551 1042 4.31 5.21 100.0
TOTAL 11394 10579 21973 100.0 100.0 100.0
Sumber: Badan Pusat Statistik Kab. Sigi

Berdasarkan tabel diatas jumlah penduduk di wilayah Puskesmas Dolo


tahun 2016 yaitu 21973 jiwa yang terdiri dari jumlah laki-laki sebanyak 11394
jiwa (51.85%) dan jumlah perempuan 10579 jiwa (48.15%). Hal ini
menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah penduduk dari tahun 2015

4
sebanyak 21.470 jiwa yang terdiri dari jumlah laki- laki sebanyak 11.136 jiwa
(51.87%) dan jumlah perempuan sebanyak 10.088 (46.99%).

Grafik 1
PROPORSI PENDUDUK MENURUT UMUR DAN JENIS KELAMIN
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DOLO TAHUN 2016

: Laki- Laki

: Perempuan

Sumber : Badan Pusat Statistik Kab. Sigi

Sedangkan jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur pada tahun 2016


menunjukkan bahwa penduduk Usia Non Produktif (0–14 tahun & >64 Tahun)
sebesar 7242 jiwa (33%), sedangkan penduduk berusia produktif usia 15-64
tahun sebanyak 14731 jiwa (67.04) %. Dengan tingginya usia produktif di suatu
daerah diharapkan secara tidak langsung dapat meningkatkan laju ekonomi
pertumbuhan penduduk.

C. TINGKAT PENDIDIKAN
Kemampuan baca-tulis penduduk tercermin dari Angka Melek Huruf, yaitu
persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis
huruf latin atau huruf lainnya. Persentase penduduk yang berumur 10 tahun
keatas yang melek huruf adalah 1.92%

5
Kondisi pendidikan merupakan salah satu indicator yang kerap di telaah
dalam mengukur tingkat pembangunan manusia suatu wilayah khususnya dalam
ini adalah Kecamatan. Melalui pengetahuan, pendidikan berkontribusi terhadap
perubahan perilaku kesehatan. Pengetahuan yang dipengaruhi oleh tingkat
pendidikan merupakan sala satu factor pencetus (predisposing) yang berperan
dalam mempengaruhi keputusan seseorang untuk hidup sehat.

Grafik 2
PERSENTASE PENDUDUK MENURUT TINGKAT PENDIDIKAN
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DOLO TAHUN 2016

Sumber : Badan Pusat Statistik Kab. Sigi

Dari Grafik 2 Persentase Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Di


Wilayah Kerja Puskesmas Dolo Tahun 2016 dapat dilihat bahwa persentase
penduduk tidak memiliki ijazah SD sebesar 26.29%, tingkat SD/MI sebesar
16.45%, tingkat SMP/MTS sebesar 29.16%, tingkat SMA/SMK sebesar 33.01%,
tingkat Diploma sebesar 4.44%, tingkat Universitas sebesar 3.71%.

Adanya peningkatan jumlah penduduk berbanding lurus dengan tingkat


pendidikan penduduk. Hal ini berarti bahwa dari tahun 2015 ke tahun 2016
tingkat pendidikan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Dolo semakin
meningkat. Dapat dilihat dari tahun 2015 persentase penduduk tingkat SD/MI
sebesar 13.87%, tingkat SMP/MTS sebesar 24.59%, tingkat SMA/SMK sebesar
27.84%.

D. PROGRAM KESEHATAN PUSKESMAS DOLO

6
Tujuan Pembangunan Kesehatan Puskesmas Dolo diarahkan untuk
mewujudkan Masyarakat Sehat yaitu meningkatnya kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang optimal ditandai oleh penduduk hidup dalam perilaku sehat,
memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu
secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di seluruh
wilayah Puskesmas Dolo.

1. Visi dan Misi Pembangunan Kesehatan


V I S I:
Terwujudnya Kecamatan Dolo Sehat

M I S I:
Untuk mewujudkan visi tersebut, maka Puskesmas Dolo melaksanakan
Misi sebagai berikut :
1. Menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan masyarakat dan
perorangan yang berkualitas dan merata di seluruh wilayah Kecamatan
Dolo
2. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas dan jajarannya
3. Mendorong kemandirian masyarakat untuk meningkatkan kesehatan
individu, keluarga, dan masyarakat untuk hidup sehat.
4. Meningkatkan kualitas SDM tenaga kesehatan Puskesmas
5. Meningkatkan kerjasama dan kolaborasi lintas sektor dalam berbagai
kegiatan

2. Sasaran Pembangunan Kesehatan Puskesmas Dolo


Sasaran pembangunan kesehatan Puskesmas Dolo dalam rangka
mewujudkan Dolo Sehat adalah :
1) Meningkatnya kesadaran dan tanggung jawab masyarakat untuk
memelihara lingkungan sehat serta terciptanya pemberdayaan individu,
keluarga dan masyarakat untuk meningkatkan dan melindungi
kesehatan diri dan lingkungan sesuai dengan sosial budaya setempat.
2) Menurunnya angka kematian bayi dan ibu serta angka kesakitan
penyakit menular maupun tidak menular.
3) Meningkatnya kemampuan masyarakat menjangkau pelayanan
kesehatan yang bermutu, efektif dan efisien.
4) Terciptanya lingkungan fisik dan sosial yang sehat.

7
5) Menurunnya prevalensi gizi kurang dan gizi lebih serta meningkatnya
kesadaran masyarakat / keluarga akan gizi ( Kadarzi ).
6) Meningkatnya pendayagunaan tenaga kesehatan yang ada serta
didukung oleh komitmen pimpinan dengan pengembangan tenaga yang
professional.

3. Tata Nilai dan Budaya Kerja


1) Kerjasama
2) Ramah
3) Disiplin
4) Tanggungjawab

4. Program Kesehatan Puskesmas Dolo


Program- program strategik yang telah dilaksanakan disesuaikan
dengan prioritas masalah kesehatan yang ditemukan dalam masyarakat dan
kecenderungannya pada masa mendatang yaitu :

A. Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)


Upaya Kesehatan Masyarakat merupakan setiap kegiatan yang
bertujuan memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan
menanggulangi timbulnya masalah kesehatan di masyarakat. Upaya
Kesehatan Masyarakat dengan kata lain dapat dijabarkan sebagai
pelayanan luar gedung yang dilakukan oleh Puskesmas yang berupa
program kesehatan. UKM dapat dibagi menjadi 2 kategori menurut
sifatnya yaitu:

a. UKM Esensial (Wajib)


UKM Esensial atau wajib merupakan upaya kesehatan
masyarakat yang wajib dilakukan atau diselenggarakan oleh
Puskesmas di seluruh Indonesia karena merupakan upaya kesehatan
yang sifatnya dasar. UKM Esensial yang diselenggarakan oleh
Puskesmas Dolo yaitu sebagai berikut.

1. Promosi Kesehatan
Tujuan program Promosi Kesehatan (Promkes) adalah
meningkatkan kemampuan individu, keluarga, serta kelompok
masyarakat untuk hidup sehat dan mengembangkan upaya

8
kesehatan yang bersumber dari masyarakat serta terciptanya
lingkungan yang kondusif untuk mendorong terbentuknya
kemapuan tersebut.
Kegiatan promosi kesehatan yang dilakukan di
Kecamatan Dolo yaitu:
a. Refreshing Pengetahuan Kader mengenai masalah
kesehatan
b. Pertemuan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)
c. Penyuluhan PHBS di sekolah
d. Pembinaan dokter kecil bersama program UKS
e. Penyuluhan kesehatan reproduksi
f. Deteksi nikotin bersama program PTM
g. Penyuluhan PTM bersama program PTM
h. Distribusi Fe pada anak sekolah
i. Pendataan penduduk
j. Pendataan PHBS rumah tangga

2. Kesehatan Lingkungan
Tujuan program ini adalah mewujudkan kualitas
lingkungan hidup yang lebih sehat, memberdayakan individu
dan masyarakat dalam bidang kesehatan melalui peningkatan
pengetahuan, sikap positif, perilaku dan peran aktif individu,
keluarga dan masyarakat sesuai dengan sosial budaya setemapt
untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya
sendiri dan lingkungannya menuju masyarakat yang sehat,
mandiri dan produktif.
Kegiatan kesehatan lingkungan yang dilaksanakan di
wilayah Kecamatan Dolo yaitu:
a. Pengawasan sumber air minum dan jamban
b. Pengawasan / pemeriksaan sumber air minum di depot
c. Pengawasan tempat pengelolaan makanan
d. Pengawasan tempat-tempat umum
e. Pemicuan stop BAB sembarangan
f. Pengawasan kesling dan kantin sekolah
g. Pengawasan tenpat usaha kesehatan kerja
h. Pembinaan panti asuhan

9
3. Perbaikan Gizi Masyarakat
Tujuan program ini adalah meningkatkan intelektualitas
dan produktivitas sumber daya manusia dan meningkatkan
kemandirian keluarga dalam upaya perbaikan status gizi,
meningkatkan pelayanan gizi untuk mencapai keadaan gizi yang
baik dengan prevalensi gizi lebih dan meningkatkan
penganekaragaman konsumsi pangan bermutu untuk
memantapkan ketahanan pangan tingkat rumah tangga.
Kegiatannya adalah:
a. PSG balita / pekan penimbangan
b. Distribusi vitamin A di 28 posyandu
c. Distribusi tablet Fe ibu hamil
d. Distribusi tablet Fe anak sekolah / remaja putri
e. Distribusi PMT bumil
f. Pemantauan gizi buruk
g. Promosi ASI eksklusof dan IMD
h. Pemantauan kesehatan anak pra sekolah (tumbuh kembang)

4. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan Keluarga Berencana


(KB)
Program KIA-KB adalah upaya kesehatan yang
menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu
bersalin, ibu nifas, bayi dan anak balita serta keluarga berencana
dan kesehatan reproduksi. Tujuan dari program ini adalah
tercapainya kemampuan hidup sehat melalui peningkatan derajat
kesehatan yang optimal bagi ibu dan keluarganya untuk
mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka
Kematian Bayi (AKB).
Kegiatan yang dilaksanakan oleh program KIA adalah:
a. Posyandu ibu hamil
b. Kelas ibu hamil
c. Audit Maternal Perinatal (AMP) tingkat puskesmas
d. Kemitraan bidan dan dukun
e. Pemantauan neonatal risiko tinggi
f. Pemasangan stiker P4K
g. Deteksi Tumbuh Kembang di TK dan Paud
h. Deteksi Tumbuh Kembang bayi dan balita di posyandu

10
i. Pemantauan bumil risiko tinggi
j. Otopsi verbal kematian maternal dan perinatal
Kegiatan yang dilaksanakan oleh program KB adalah:
a. Sweeping akseptor KB yang drop out
b. Promosi KB dan IVA

5. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2)


Program ini bertujuan menurunkan angka kesakitan,
kematian, dan kecacatan yang diakibatkan penyakit menular dan
penyakit tidak menular.
Kegiatan yang dilaksanakan yaitu program pencegahan
dan pengendalian penyakit menular dan tidak menular, seperti:
1. Surveilans
Kegiatan yang dilaksanakan yaitu:
a. Penemuan suspek DBD
b. Penanganan kasus DBD
c. Survei jentik
d. Monitoring Kejadian Luar Biasa (KLB)

2. Imunisasi
Kegiatan program ini yaitu:
a. Pelaksanaan imunisasi di posyandu
b. Sweeping imunisasi
c. Pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS)
d. Crash campak

3. P2 TB Paru
Kegiatan yang dilaksanakan yaitu:
a. Penemuan kasus baru BTA positif
b. Penemuan kasus TB anak
c. Pengobatan kasus TB
d. Penjemputan sputum
e. Penyuluhan etika batuk
f. Kunjungan rumah

4. P2 Kusta

11
Kegiatan yang dilaksanakan adalah:
a. Penemuan kasus baru kusta
b. Pengobatan kusta
c. Penyuluhan kusta
d. Pemberian obat ke desa
e. Pelacakan kasus kusta

5. P2 ISPA
Kegiatan yang dilaksanakna adalah:
a. Penemuan dan penanganan kasus pneumonia anak
b. Penyuluhan ISPA
c. Pelacakan bayi dan balita pneumonia

6. P2 Diare
Kegiatan yang dilaksanakan adalah:
a. Penemuan dan penanganan kasus diare
b. Penyuluhan diare
c. Pelacakan kasus diare (kunjungan rumah)

7. P2 Malaria
Kegiatan yang dilaksanakan adalah:
a. Penemuan penderita (suspek)
b. Pengambilan dan penjemputan spesimen malaria
c. Penyuluhan malaria
d. Pembinaan panti asuhan
e. Pengendalian vektor (survei jentik)

8. P2 Rabies
Kegiatan yang dilaksanakan adalah:
a. Penemuan kasus rabies
b. Penyuluhan rabies
c. Pelacakan kasus baru

9. P2 HIV/AIDS
Kegiatan yang dilaksanakan adalah:
a. Penemuan kasus IMS
b. Penemuan kasus HIV/AIDS

12
c. Penyuluhan kesehatan reproduksi pada remaja dan
penderita berisiko
d. Penyuluhan ABAT ke sekolah
e. Pelacakan kasus HIV/AIDS

10. PTM (Penyakit Tidak Menular)


Kegiatan yang dilaksanakan adalah:
a. Pos pembinaan terpadu PTM
b. Deteksi nikotin (rapid tes) di sekolah
c. Pembinaan PTM ke bidan desa
d. Penyuluhan PTM

b. UKM Pengembangan
UKM Pengembangan merupakan kegiatan yang memerlukan
upaya yang sifatnya inovatif disesuaikan dengan prioritas masalah
kesehatan, kekhususan wilayah kerja dan potensi sumber daya yang
tersedia di masing-masing Puskesmas.

Kegiatan yang dilaksanakan UKM Pengembangan Puskesmas


Dolo yaitu:
1. Kesehatan Usila
Kegiatan yang dilaksanakan yaitu:
a. Posyandu usila
b. Senam usila
c. Kunjungan rumah usila risiko tinggi

2. Kesehatan Jiwa dan Napza


Kegiatan yang dilaksanakan yaitu:
a. Penemuan kasus gangguan kesehatan jiwa
b. Penanganan kasus gangguan kesehatan jiwa sesuai standar

3. Kesehatan Indera
Kegiatan yang dilaksanakan yaitu:
a. Penemuan kasus gangguan kesehatan indera
b. Penanganan kasus gangguan kesehatan indera

4. Kesehatan Haji

13
Kegiatan yang dilaksanakan yaitu:
a. Pemeriksaan calon jamaah haji
b. Pembinaan calon jamaah haji
c. Pelacakan calon jmaah haji tiba di tanah air

5. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)


Kegiatan yang dilaksanakan yaitu:
a. Penjaringan kesehatan anak sekolah (kelas 1 dan 7)
b. Pembentukan dokter kecil
c. Pembinaan dokter kecil
d. Penyuluhan ABAT bersama program HIV/AIDS

6. Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS)


Kegiatan yang dilaksanakan yaitu:
a. Penjaringan kesehatan gigi anak sekolah
b. Penemuan kasus gigi

7. Pengobatan Tradisional (Batra) / Tanaman Obat Keluarga


(TOGA)
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan dan kemampuan manusia dalam menghadapi kondisi
matra yang berubah secara bermakna, sehingga tetap dapat
survive dalam kehidupannya dan melakukan aktifitasnya, serta
mampu untuk mengatasi permasalahan secara mandiri tanpa harus
bergantung pada bantuan pihak lain. Kegiatan yang dilaksanakan
yaitu:
a. Penanaman TOGA
b. Penyuluhan tanaman obat
c. Pengobatan penyakit dengan TOGA

c. Program Pendukung Lain


1. SP2TP (Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas)
Kegiatan yang dilaksanakan yaitu:
a. Evaluasi laporan SP2TP kepada bidan desa
b. Pembinaan SP2TP ke desa
c. Validasi data

14
2. Pelayanan Farmasi yang bersifat UKM
Kegiatan yang dilaksanakan yaitu:
a. Pembinaan kefarmasian di bidan desa
b. Evaluasi hasil kunjungan pembinaan

3. Pelayanan Laboratorium yang bersifat UKM


Kegiatan yang dilaksanakan yaitu:
a. Pemeriksaan Hb usila
b. Pemeriksaan protein urin bumil di posyandu
c. Pemeriksaan Gula urine usila

B. Upaya Kesehatan Perorangan (UKP)


Upaya Kesehatan Perorangan merupakan setiap kegiatan yang
bertujuan memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan
menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan. Upaya
Kesehatan Perorangan dengan kata lain dapat dijabarkan sebagai
pelayanan dalam gedung yang dilakukan oleh Puskesmas berupa unit
layanan klinis.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh UKP yaitu:


1. Pelayanan Kesehatan Dasar
a) Memberikan pelayanan kesehatan dasar yang berkualitas.
b) Memberikan pengobatan yang rasional.
c) Mengikuti pelatihan tenaga kesehatan guna meningkatkan
ketrampilan/skill.
d) Berpartisipasi dalam pemberian pelayanan kesehatan kepada
masyarakat yang dilaksanakan instansi lain.

Dalam menyelenggarakan upaya kesehatan dasar ini,


Puskesmas Dolo memiliki unit pelayanan dan kegiatan sebagai
berikut.
1) Loket / Pendaftaran
2) Poli Umum
3) Poli Gigi
4) Poli MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit) / Poli Anak
5) Ruang Tindakan dan kegawatdaruratan
6) Laboratorium

15
7) Kamar Obat / Farmasi
8) Ruang TB/Kusta
9) Ruang Konseling
a. Promosi kesehatan
b. Kesehatan lingkungan
c. Gizi
d. Batra/ TOGA
e. Akupressur

2. Pelayanan Kesehatan Rujukan


a) Memberikan rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan sesuai
indikasi medis.
b) Mengadakan fasilitas penanganan kegawatdaruratan pra rujukan.
c) Meningkatkan ketrampilan staf dalam penanganan kasus
kegawatdaruratan sebulum dirujuk.

Program Sumber Daya Kesehatan


a. Peningkatan kemampuan manajemen bagi staf manajerial dan peningkatan
keterampilan untuk seluruh staf medis melalui pelatihan dan pendidikan.
b. Peningkatan mutu pelayanan sebagai FKTP
c. Pengadaan sarana perawatan khususnya penderita kasus kegawatdaruratan
obstetri.
d. Pengadaan obat dan bahan habis pakai yang sangat dibutuhkan secara
mandiri.

BAB III

16
SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Tujuan Pembangunan Kesehatan Puskesmas Dolo diarahkan untuk


mewujudkan Masyarakat Sehat yaitu meningkatnya kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang optimal ditandai oleh penduduk hidup dalam perilaku sehat,
memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara
adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di seluruh wilayah
Puskesmas Dolo.

A. MORTALITAS (ANGKA KEMATIAN)


Salah satu alat untuk menilai keberhasilan program pembangunan
kesehatan yang telah dilaksanakan adalah dengan melihat perkembangan angka
kematian dari tahun ke tahun.

1. Angka Kematian Bayi


Angka Kematian bayi merupakan indikator yang sangat penting
untuk mengetahui gambaran tingkat permasalahan kesehatan masyarakat.
Menurut BPS, Angka Kematian Bayi diperkirakan pada periode 2000 - 2005
mencapai 48,97 ‰ kelahiran hidup.
Angka Kematian Bayi di wilayah kerja Puskesmas Dolo (IMR)
tahun 2016 terdapat 4 kematian bayi dari 343 kelahiran Hidup. Hal ini
menunjukkan terjadinya penngkatan Angka Kematian Bayi (IMR) dari
tahun 2015 yakni 3 kematian bayi dari 343 kelahiran Hidup.

2. Angka Kematian Balita


Angka Kematian Anak (CMR) adalah jumlah kematian anak umur
1-4 tahun per Jumlah penduduk usia 1-4 tahun dalam wilayah yang sama.
Angka Kematian Balita menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan
anak dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita
seperti gizi, sanitasi, dan penyakit infeksi.
Pada tahun 2016 Angka Kematian Balita (CMR) yakni 1 balita.
Berbeda dengan tahun 2015 tidak terdapat angka kematian balita di wilayah
kerja Puskesmas Dolo.

3. Angka Kematian Maternal

17
Angka Kematian Maternal menggambarkan tingkat kesadaran perilaku
hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan,
tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, waktu melahirkan
dan masa nifas. Angka Kematian Ibu Maternal adalah akumulasi dari jumlah
kematian ibu hamil, jumlah kematian ibu melahirkan, jumlah kematian ibu
nifas per 100.000 kelahiran hidup.
Pada tahun 2016 tidak terdapat kasus kematian ibu hamil. Berbeda
dengan tahun- tahun sebelumnya. Pada tahun 2015 terdapat 1 kasus
kematian ibu hamil di desa Tulo dan pada tahun 2014 terdapat pula 1 kasus
kematian ibu hamil di Desa Potoya (MMR 1.5 ‰). Pada tahun 2013
terdapat 1 (satu) Kematian Ibu Hamil dengan kasus Kehamilan Ektopik
Terganggung (KET). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih
semakin tanggap dalam hal pemeriksaan kehamilan (Antenatal care)
terutama dalam mendeteksi dini permasalah kesehatan yang dihadapai.

4. Angka Kematian Kasar


Angka Kematian Kasar (AKK) di wilayah kerja Puskesmas Dolo
tahun 2016 yaitu 147 kematian. Terjadi peningkatan angka kematian
dibandingkan tahun sebelumnya di Tahun 2015 yakni 4 kematian dan pada
tahun 2014 sebanyak 112 kematian.

B. ANGKA KESAKITAN (MORBIDITAS)


Angka kesakitan penduduk didapat dari data yang berasal dari masyarakat
dan dari sarana pelayanan kesehatan yang dipeoleh dari laporan rutin melalui
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP).

Tabel. IV.1

18
Pola Penyakit Untuk Semua Golongan Umur di Puskesmas Dolo
Tahun 2016

NO NAMA PENYAKIT KASUS


JUMLAH %
1 Ispa 3105 27,0
2. Gastritis / Dispesia 1831 16,0
3 Penyakit Kulit dan Jar. Subkutan 1293 11,3
4 Hipertensi 1119 10,0
5 Penyakit Otot dan Jar. Penyekat 844 7,3
6 Penyakit Rongga Mulut 814 7,0
7 Diare 632 6,0
8 Common Cold 544 5,0
9 Kencing Manis (DM Tipe 2) 514 4,4
10 Dislipidemia 498 4,3
Jumlah 11194 100
Sumber : Data primer dari SIK Puskesmas Dolo 2016

Dari Tabel IV.1 menunjukkan Tahun 2016 penyakit terbanyak adalah ISPA
3105 (27%), Gastritis 1831 (16%), Peny. Kulit & Jar. Sub Kutan 1293 (11.3%),
Hipertensi 1119 (10%), Pey. Otot & Jar. Penyekat 844 (7.3%), disusul penyakit
Peny. Rongga Mulut, Diare, Comond Cold, Kencing Manis, Dislipi demia.
Beberapa hal yang memungkinkan tingginya angka kasus penyakit ISPA adalah
kurang bersihnya lingkungan di sekitar rumah.

Beberapa Penyakit Menular (PM) dan Penyakit Tidak Menular (PTM)


yang mengakibatkan tingginya angka kesakitan adalah:
1. Tuberculosis
Ada 4 indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasiln
Program TBC yaitu : (1) Penemuan Penderita (Case Detection Rate),
diharapkan mencapai 70% dari perkiraan kasus BTA (+); (2). Konversi
Rate > 80%; (3). Angka Kesembuhan (Cure Rate) > 85%; (4). Angka
Kesalahan Laboratorium (Error Rate) < 5%.Penyakit TB Paru dengan
BTA(+) yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat.
Tahun 2015 jumlah kasus 28 penderita tbc bta positif positif
(6.5%). Sedangkan pada tahun 2016 jumlah kasus tbc bta positif sebanyak
26 kasus (6,70%). Hal ini menunjukkan terjadinya peningkatan kasus tbc
positif di wilayah kerja Puskesmas Dolo.

2. Pneumonia Balita

19
Di dunia, dari 9 juta kematian Balita lebih dari 2 juta Balita
meninggal setiap tahun akibat pneumonia atau sama dengan 4 Balita
meninggal setiap menitnya. Dari lima kematian Balita, satu diantaranya
disebabkan pneumonia. Upaya pemerintah dalam menekan angka kematian
akibat pneumonia diantaranya melalui penemuan kasus pneumonia Balita
sedini mungkin di pelayanan kesehatan dasar, penatalaksanaan kasus dan
rujukan. Adanya keterpaduan dengan lintas program melalui pendekatan
MTBS di Puskesmas serta penyediaan obat dan peralatan untuk Puskesmas
Perawatan dan di daerah terpencil. Tahun 2016 jumlah kasus pneumonia
balita di wilayah kerja Puskesmas Dolo adalah 90 balita.

3. HIV, AIDS dan Syphilis


Sifilis adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh
bakteri spiroseta, Treponema pallidum. Sifilis dapat mempertinggi risiko
terinfeksi HIV. Hal ini dikarenakan oleh lebih mudahnya virus HIV masuk
ke dalam tubuh seseorang bila terdapat luka. Sifilis yang diderita juga akan
sangat membahayakan kesehatan seseorang bila tidak diobati. Baik pada
penderita lelaki maupun wanita, spirochaeta dapat menyebar ke seluruh
tubuh dan menyebabkan rusaknya organ-organ vital yang sebagian besar
tidak dapat dipulihkan. Sifilis pada ibu hamil yang tidak diobati, juga dapat
menyebabkan terjadinya cacat lahir primer pada bayi yang ia kandung.
Pada tahun 2016 tidak ditemukan penyakit HV- AIDS dan Syphilis di
wilayah kerja Puskesmas Dolo.

4. Diare
Menurut data WHO (World Health Organization) pada tahun 2009,
diare adalah penyebab kematian kedua pada anak dibawah 5 tahun. Secara
global setiap tahunnya ada sekitar 2 miliar kasus diare dengan angka
kematian 1.5 juta pertahun. Pada negara berkembang, anak-anak usia
dibawah 3 tahun rata-rata mengalami 3 episode diare pertahun. Setiap
episodenya diare akan menyebabkan kehilangan nutrisi yang dibutuhkan
anak untuk tumbuh, sehingga diare merupakan penyebab utama malnutrisi
pada anak (WHO, 2009).
Penyakit ini masih merupakan penyebab utama kematian pada balita.
Selama dua tahun terakhir telah terjadi peningkatan kasus diare di wilayah
kerja Puskesmas Dolo. Berdasarkan hasil pemantauan dari unit pelayanan
dari unit pelayanan kesehatan berupa laporan rutin selama tahun 2015

20
mengalami peningkatan dari 601 kasus (2.8%) menjadi 711 kasus
(3.25%) di Tahun 2016.

5. Kusta
Penyakit kusta adalah sebuah penyakit infeksi kronis yang
disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Leprae. Berdasarkan manifestasi
klinis, penyakit kusta dibedakan atas kusta tuberkuloid, kusta
lepromatosa(penyakit Hansen multibasiler) dan kusta multibasiler
(borderline leprosy). Kusta Tuberkuloid ditandai dengan satu atau lebih
hipopigmentasi makula kulit dan bagian yang tidak berasa (anestetik).
Sedangkan Kusta Lepormatosa dihubungkan dengan lesi, nodul, plak kulit
simetris, dermis kulit yang menipis, dan perkembangan pada mukosa
hidung yang menyebabkan penyumbatan hidung (kongesti nasal) dan
epistaksis (hidung berdarah) namun pendeteksian terhadap kerusakan saraf
sering kali terlambat. Sememntara Kusta Multibasiler, dengan tingkat
keparahan yang sedang, adalah tipe yang sering ditemukan. Terdapat lesi
kulit yang menyerupai kusta tuberkuloid namun jumlahnya lebih banyak
dan tak beraturan; bagian yang besar dapat mengganggu seluruh tungkai,
dan gangguan saraf tepi dengan kelemahan dan kehilangan rasa rangsang.
Tipe ini tidak stabil dan dapat menjadi seperti kusta lepromatosa atau kusta
tuberkuloid.
Berdasarkan hasil pengamatan data di wilayah kerja Puskesmas Dolo
Tahun 2016, tercatat 7 kasus baru penderita kusta. Terdiri dari 1 kasus
Pausi Basiler (PB)/ Kusta kering dari Desa Karawana dan 6 kasus Multi
Basiler (MB)/ Kusta Basah dari Desa Langaleso, Kotarindau, Karawana
dan Desa Watubula. Sedangkan, Jumlah kasus penderita kusta selesai
berobat adalah 10 kasus.
Tujuan penanggulangan kusta di Indonesia adalah mencapai PR
(Prevalens Rate) kurang dari 1 per 10.000 penduduk di semua kabupaten,
dan kesinambungan program kusta di seluruh wilayah. Ditempuh melalui
kebijakan deteksi dini kasus kusta dan pengobatan dengan Multiple Drugs
Therapy (MDT), mencegah kecacatan, mengubah image (pandangan)
masyarakat luas dan menjamin ketersediaan dan kualitas obat kusta
(MDT).

6. Penyakit Menular yang dapat dicegah dengan Immunisasi adalah


1) Difteri

21
Penyakit difteri adalah penyakit menular akut yang menyerang
bayi (0 – 1thn) serta sebagian besar anak yang tidak mendapat
vaksinasi DPT pada kelompok umur 1 – 4 tahun dengan penyebab
penyakit adalah Coryne Bacterium Diphteriae. Jumlah kasus dan
Angka Insidence per 1000 penduduk kelompok umum > 1 tahun dan 1
– 4 tahun, dari laporan yang masuk secara rutin tahun 2015- 2016
tidak lagi dijumpai kasus Difteri yang terlapor di unit pelayanan
pemerintah.

2) Pertusis
Penyakit pertusis merupakan penyakit menular akut pada saluran
pernapasan, ditemui pada anak dengan kelompok umur kurang dari 5
tahun. Tahun 2015- 2016 tidak lagi dijumpai kasus pertusis yang
terlapor diunit pelayanan kesehatan tingkat pertama dan rujukan.

3) Tetanus
Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh basil clostridum
tetani. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja tanpa memandang
kelompok umur atau strata ekonomi. Bila dilihat dari angka Insidence
tahun 2015- 2016 kelihatannya penyakit ini tidak ada terlapor ke
tingkat Kabupaten berarti kasus tetanus sudah tidak ada, namun
kemungkinan besar tidak terlapor.

4) Tetanus Neonatorum
Penyakit tetanus yang terjadi pada bayi (bayi kurang dari 1
bulan) disebut dengan Penyakit Tetanus Neonatorum. Upaya
pencegahannya telah dilakukan melalui program immunisasi rutin
dengan pemberian TT pada wanita usia subur, pemeriksaan kehamilan
sekaligus pemberian imunisasi TT dan imunisasi saat sweeping. Kasus
tetanus neonatorum sampai saat ini tidak dijumpai.

5) Polio
Penyakit polio yang telah merupakan kesepakatan global dimana
seharusnya Indonesia telah bebas Polio pada tahun 2000 yang ditandai
dengan pemberian sertifikasi bebas polio oleh WHO, namun
kenyataannya sampai saat ini Indonesia belum lagi bebas dari Polio

22
yang membawa dampak program imunisasi polio masih harus tetap
berjalan.

6) Campak
Penyakit campak merupan penyakit akut yang mudah menular
dan sebagian besar penderita meninggal karena terjadinya komplikasi
seperti radang paru, radang otak dan berak-berak, sebagian besar
kematian dapat dicegah dengan penanganan kasus yang baik. Kasus
penyakit campak pada tahun 2015- 2016 ini tidak dijumpai.

7) Hepatitis B
Penyakit Hepatitis dapat menyerang semua orang, melalui
sistem surveilance terpadu didapat gambaran bahwa penyakit hepatitis
dari tahun 2015- 2016 juga tidak ditemukan ditemukan kasus. Ini
menunjukan bahwa kasus ini belum ditemukan, namun pun begitu
Sistem surveilance harus tetap waspada dan berkoordinasi.

7. Demam Berdarah Dengue (DBD)


Indonesia adalah salah satu negara dengan kasus DBD tertinggi di
Asia Tenggara. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan (Ditjen PP & PL) Kementerian Kesehatan RI menyatakan
bahwa Angka Kesakitan/Incidence Rate (IR) DBD cenderung meningkat
dari tahun ke tahun. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) harus
mendapat perhatian yang serius di wilayah Puskesmas Dolo sebab
mempunyai potensi yang besar terhadap terjadinya KLB, mengingat daerah
ini berbatasan dengan daerah-daerah endemis tinggi dan kepadatan vektor
yang juga tinggi. Selama dua tahun terakhir angka Insidence DBD
menurun di wilayah kerja Puskesmas Dolo. Hal ini dilihat pada Tahun 2015
kasus DBD tercatat 69 kasus menurun pada Tahun 2016 menjadi 27 kasus.

8. Malaria
Sulawesi Tengah merupakan wilayah endemis malaria dengan
kategori daerah endemis sedang (AP 1-5 per 1000 penduduk ). Annual
Parasite Insidence (API) adalah angka kesakitan malaria (berdasarkan hasil
pemeriksaan laboratorium) per 1000 penduduk dalam 1 tahun (permil).
Suspek penyakit malaria di wilayah kerja Puskesmas Dolo Tahun 2016
sebanyak 242 jiwa.

23
Dalam pemberantasan penyakit malaria, ada 2 kegiatan pokok yang
dilakukan yakni: (1) penemuan dan pengobatan penderita yaitu penemuan
secara pasif yang dilakukan melalui unit pelayanan kesehatan yang
kemudian diberi pengobatan secara cepat dan tepat; (2) pemberantasan
vektor yang dilakukan dengan penyemprotan rumah, kelambunisasi,
penebaran ikan pemakan jentik, pemberantasan jentik melalui kegiatan
larvaciding dan pengelolan lingkungan.

9. Filariasis
Filariasis adalah suatu infeksi cacing gelang melalui nyamuk yang
hanya sesekali bersifat zoonik. Dapat menimbulkan pembesaran yang
menyolok dan cacat dari anggota tubuh. Pada tahun 2016 ditemukan 1
kasus filariasis.

10. Hipertensi
Terjadinya transisi epidemiologi yang paralel dengan transisi
demografi dan transisi teknologi di Indonesia telah mengakibatkan
perubahan pola penyakit dari penyakit infeksi ke penyakit tidak menular
(PTM) meliputi degeneratif dan man made disease yang merupakan faktor
utama masalah morbiditas dan mortalitas . Hal ini disebabkan terjadinya
perubahan sosial ekonomi, lingkungan dan perubahan struktur penduduk,
saat masyarakat telah mengadopsi gaya hidup tidak sehat seperti merokok,
kurang aktivitas fisik, makanan tinggi lemak dan kalori serta konsumsi
alkohol yang diduga merupakan faktor risiko PTM. WHO memperkirakan
pada tahun 2020 PTM akan menyebabkan 73% kematian dan 60% seluruh
kesakitan di dunia.
Diperkirakan negara yang paling merasakan dampaknya adalah
negara berkembang yakni Indonesia. Salah satu PTM yang menjadi
masalah kesehatan sangat serius saat ini adalah hipertensi (the silent killer).
Di Indonesia angka kejadian hipertensi diperkirakan cenderung meningkat
namun masih banyak yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan di
daerah pedesaan. Jumlah kasus Hipertensi yang ditemukan Tahun 2016 di
Posbindu Kecamatan Dolo yaitu 19 orang.

11. Obesitas

24
Menurut WHO, angka tersebut menempati peringkat kelima
penyebab utama kematian di dunia. Menurut, American Cancer society, 94
persen perempuan dan 48 persen pria yang tidak aktif dan duduk lebih dari
enam jam sehari memiliki risiko lebih besar mengidap penyakit degeneratif
yang menyebabkan kematian daripada mereka yang tidak aktif atau duduk
kurang dari tiga jam per hari.
Pemerintah pun tengah berupaya menurunkan angka obesitas di
Indonesia. Salah satu program yang digalakkan oleh Pemerintah adalah
perilaku CERDIK. Program CERDIK yaitu C (Cek kondisi kesehatan
secara rutin), E (Enyahkan asap rokok), R (Rajin aktivitas fisik), D (Diet
sehat dengan kalori seimbang), I (Istirahat yang cukup), dan K (Kelola
stres). Kasus obesitas yang ditemukan di Posbindu yaitu 20 orang.

12. Kanker Leher Rahim pada Wanita


Kanker leher rahim adalah tumor ganas/karsinoma yang tumbuh di
dalam leher rahim/serviks, yaitu suatu daerah pada organ reproduksi wanita
yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim
(uterus) dengan liang senggama (vagina). Kasus IVA positif pada Tahun
2016 yaitu 1 kasus.

13. Benjolan Payudara


Kanker payudara akan memunculkan benjolan di payudara. Namun,
tidak semua benjolan pada payudara merupakan kanker. Delapan puluh
persen kasus benjolan di payudara bukanlah kanker. Hal ini karena
sejumlah kondisi medis lainnya dapat pula menimbulkan benjolan di
payudara.
Pada kasus nonkanker, benjolan di payudara merupakan pertanda
kondisi berikut.
1) Kista
Merupakan kantong berisi cairan dalam jaringan payudara, sehingga
menimbulkan benjolan. Jika diraba, benjolan terasa lunak. Umumnya
kista dialami oleh perempuan berusia di antara 35-50 tahun. Kista yang
berukuran lebih dari 2.5 cm dapat menyebabkan rasa sakit dan tidak
nyaman pada payudara.

2) Perubahan fibrokistik

25
Merupakan perubahan pada payudara karena ketidakstabilan hormon
selama siklus menstruasi. Perubahan tersebut menimbulkan benjolan di
payudara yang terasa nyeri.
3) Fibroadenoma
Merupakan benjolan padat yang terjadi akibat kelebihan pembentukan
kelenjar penghasil susu atau lobulus dan jaringan di sekitar payudara.
Benjolan tidak terasa sakit, dan jika ditekan akan bergeser.
4) Infeksi bakteri seperti mastitis juga dapat menimbulkan benjolan yang
terasa nyeri. Kondisi ini kerap dijumpai pada ibu menyusui. Infeksi
terjadi ketika bakteri dari permukaan kulit Anda atau dari mulut bayi
masuk ke saluran susu melalui puting. Penyebab lainnya yaitu
tertutupnya saluran susu.

Benjolan Kanker, Benjolan pada payudara juga dapat merupakan


pertanda kanker payudara. Sel kanker berkembang lebih cepat dari sel
normal, sehingga menimbulkan benjolan.
1) Benjolan terasa keras, berbeda dengan daerah di sekitarnya. Biasanya jarang
ditemukan rasa sakit. Jika ditekan, benjolan tidak bergeser.
2) Payudara mengalami perubahan ukuran atau bentuk.
3) Puting susu tertarik ke bagian dalam.
4) Walaupun jarang, puting susu mengeluarkan cairan yang mengandung
darah.
5) Pada jenis kanker yang jarang, muncul bintik-bintik merah di sekitar puting
susu yang terlihat seperti eksim.
6) Pada beberapa area payudara, terdapat penebalan kulit

Kasus benjolan payudara yang ditemukan pada Tahun 2016 yaitu 7


kasus.

14. Kejadian Luar Biasa (KLB)


Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah salah satu status yang diterapkan
di Indonesia untuk mengklasifikasikan peristiwa merebaknya suatu wabah
penyakit. Kriteria tentang Kejadian Luar Biasa mengacu pada Keputusan
Dirjen No. 451/91, tentang Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan
Kejadian Luar Biasa. Menurut aturan itu, suatu kejadian dinyatakan luar
biasa jika ada unsur:

26
1) Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak
dikenal
2) Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun
waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu)
3) Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan
dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
4) Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat
atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun
sebelumnya.

Pada tahun 2016 di wilayah kerja Puskesmas Dolo tidak terdapat


kasus KLB (Kejadian Luar Biasa) yang ditemukan.

27
BAB IV
SITUASI UPAYA KESEHATAN

1. PELAYANAN KESEHATAN
Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang sangat
penting dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar secara cepat dan tepat,
diharapkan sebagaian masalah kesehatan masyarakat sudah dapat diatasi. Upaya
kesehatan dasar merupakan langkah awal yang sangat penting dalam
memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Berbagai pelayanan
kesehatan dasar yang dilaksanakan pada pelayanan fasilitas kesehatan.

Wilayah kerja Puskesmas Dolo terdapat dua Puskesmas Pembantu serta 28


Posyandu telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memperoleh pelayanan
kesehatan dasar. Upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
diarahkan pada kegiatan / program yang mempunyai daya ungkit besar dalam
menurunkan angka kematian bayi (IMR), AKI (MMR) dan Angka Kesakitan .
Selain itu penguatan upaya promotif , preventif menjadi salah satu prioritas yang
dilakukan di Puskesmas Dolo dengan melakukan berbagai kemitraan pada
kelompok / lembaga masyarakat di berbagai tingkatan, disamping itu
peningkatan manejemen kesehatan juga mendapat perhatian.

Pelayanan Kesehatan Dasar meliputi;


1) Pelayanan Antenatal Care (ANC)
Pelayanan ANC di Puskesmas Dolo berguna untuk memberikan
gambaran tingkat kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan
kehamilan secara berkala, persiapan persalinan dan deteksi dini risti pada
ibu hamil serta perawatan bayi. Cakupan pelayanan K1 tahun 2016 sebesar
474 (94.99%) dan K4 417 (83.7%) dari sasaran 499 Bumil. Persalinan oleh
tenaga kesehatan dan ibu bersalin/ nifas yang mendapat pelayanan kesehatan
pada tahun 2016 sebesar 400 (83.01,%) dari 479 sasaran Bulin.

2) Imunisasi TT pada Ibu Hamil


Cakupan imunisasi TT1 pada ibu hamil sebanyak 409 (81.96%), dan TT2
sebanyak 612 (122.65%)

28
3) Distribusi Tablet Fe Untuk Ibu Hamil
Pemberian tablet Fe pada ibu hamil bertujuan untuk menanggulangi
anemia gizi secara dini. Pada Tahun 2016 pemberian tablet Fe1 277
(55.5%), Fe3 414 (82,97%) dari 499 jumlah sasaran ibu hamil. Perkiraan
bumil dengan komplikasi adalah 100 ibu dari 499 jumlah ibu hamil.

4) KB
Program KB merupakan salah satu program guna menekan laju
pertumbuhan penduduk. Keberhasilan program KB dapat di ketahui dari
beberapa indikator pencapaian, antara lain: pencapaian akseptor KB baru,
cakupan peserta KB aktif dan cakupan KB aktif yang menggunakan metode
kontrasepsi efektif terpilih (MKET).
Tahun 2015 ada 320 peserta KB Baru (9.3%) dari 3435 Pasangan Usia
Subur (PUS) yang ada di Puskesmas Dolo dengan Metode Kontrasepsi
Jangka Panjang (MKJP) sebanyak 20 dan Non Metode Kontrasepsi Jangka
Panjang (NMKJP) sebanyak 300. Sedangkan pada Tahun 2016 menigkat
menjadi 747 (22.4%) dari 3335 Pasangan Usia Subur (PUS). Metode
Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) sebanyak 175 (23.4%) dan Non
Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (NMKJP) sebanyak 572 (76.6%)
Pencapaian Peserta KB aktif selama tahun 2015 sebesar 3727
(108.5%) dari jumlah 3435 Pasangan Usia Subur (PUS) dengan penggunaan
MKJP sebanyak 500 dan NMKJP sebanyak 3227. Pada Tahun 2016 peserta
KB aktif menurun menjadi 1192 (91.8%) penggunaan MKJP sebanyak 500
dan NMKJP sebanyak 106 (8.17%).

5) Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah


Tahun 2016 jumlah bayi lahir ditimbang sebanyak 397 bayi (100%)
dari 397 jumlah lahir hidup. Angka kasus BBLR pada tiga tahun terakhir
terjadi angka yang fluktuatif. Hal ini dapat dilihat pada Tahun 2014 terdapat
8 kasus BBLR dari 346 kelahiran, kemudian terjadi peningkatan kasus
BBLR Tahun 2015 terdapat 16 kasus BBLR dari 343 jumlah lahir hidup dan
peningkatan pada Tahun 2016 terdapat 20 kasus BBLR dari 397 kelahiran
hidup (5,04%).

29
6) Kunjungan Neonatus
Jumlah Kunjungan Neonatus Puskesmas Dolo Tahun 2016 KN1 390
(113.70%) dan KN lengkap 394 (114.87). Bayi Lahir dengan BBLR
sebanyak 20 kelahiran.

7) Bayi diberi ASI Eksklusif


ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi tanpa ada makanan
tambahan cairan lain. Pemberian ASI Ekslusif dianjurkan untuk jangka waktu 6
bulan, setelah itu bayi boleh diberi makanan makanan padat. Jumlah bayi yang
diberi ASI eksklusif yang tercatat yaitu 59 bayi.

8) Pelayanan Kesehatan Bayi


Pelayanan kesehatan bayi bertujuan guna meningkatkan pelayanan
kesehatan bayi baru lahir sehingga dapat mengetahui sedini mungkin bila
terdapat kelainan pada bayi dan cepat mendapatkan pertolongan,
pemeliharaan kesehatan. Adapun pelayanan kesehatan bayi terdiri dari
kunjungan bayi satu kali pada umur 29 hari- 2 bulan, kunjungan bayi satu
kali pada umur 3-5 bulan, kunjungan bayi satu kali pada umur 6-8 bulan,
kunjungan bayi satu kali pada umur 9- 11 bulan. Pelayanan kesehatan bayi
Tahun 2016 yaitu sebanyak 391 bayi.

9) Desa UCI
Target desa UCI merupakan tujuan antara yang berarti cakupan
imunisasi untuk BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis B harus
mencapai 80% di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten bahkan di setiap
desa. Tahun 2016 terdapat 9 desa UCI dari 11 desa yang ada di wilayah
kerja Puskesmas Dolo.

30
10) Imunisasi Lengkap
Suatu upaya untuk mencegah terjadinya penyakit dengan cara
memberikan mikroorganisme bibit penyakit berbahaya yang telah
dilemahkan (vaksin) kedalam tubuh sehingga merangsang sistem
kekebalan tubuh terhadap jenis antigen tersebut dimasa yang akan
datang. Pada Tahun 2016 cakupan imunisasi DPT- HB3 sebanyak 424
(188%), cakupan imunisasi polio pada bayi sebanyak 432 (192%) dan
campak sebanyak 392 (174%) dari 225 bayi.

11) Bayi dan Balita yang Mendapat Vitamin A


Pemberian tablet vitamin A pada bayi dan balita dilaksanakan
pada bulan Februari dan Agustus, diperuntukkan untuk pencegahan
terjadinya gangguan akibat kekurangan Vitamin A seperti Buta Senja
dan lain-lain. Tahun 2016 cakupan pemberian vitamin A pada bayi
sebnyak 218 (96.89%), balita sebesar 1863 (91,01%).

12) Baduta, Balita ditimbang dan Berat Badan Dibawah Garis Merah (BGM)
Penimbangan merupakan salah satu kegiatan utama program
perbaikkan gizi yang menitik beratkan pada pencegahan dan peningkatan
keadaan gizi anak. Penimbangan terhadap bayi dan balita yang merupakan
upaya masyarakat memantau pertumbuhan dan perkembangannya. Partisipasi
masyarakat dalam penimbangan tersebut digambarkan dalam perbandingan
jumlah balita yang ditimbang (D) dengan jumlah balita seluruhnya (S).
Semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam penimbangan, maka semakin
banyak pula data yang dapat menggambarkan status gizi balita.
BGM adalah merupakan hasil penimbangan dimana berat badan
Balita berada di bawah garis merah pada Kartu Menuju Sehat (KMS). Tidak
semua BGM dapat menggambarkan gizi buruk pada Balita, hal ini masih
harus dilihat tinggi badannya, jika tinggi badan sesuai umur maka keadaan ini
merupakan titik waspada bagi orang tua untuk tidak terlanjur menjadi lebih
buruk lagi, namun jika Balita ternyata pendek maka belum tentu anak tersebut
berstatus gizi buruk.Target yang harus dicapai secara nasional untuk BGM
adalah 5% atau lebih rendah.
Tahun 2016 balita ditimbang di wilayah kerja Puskesmas Dolo
sebanyak 902 balita (62.81%), sedangkan balita BGM sebanyak 123
(13.64%). Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah meningkatnya
pengetahuan ibu sehingga mau berpartisipasi secara rutin dalam penimbangan
balita.nya di posyandu.

31
13) Pelayanan Kesehatan Anak Balita
Pelayanan kesehatan anak balita terdiri dari pemantauan pertumbuhan
balita dengan KMS, pemberian kapsul vitamin A, pelayanan posyandu,
manajemen terpadu balita sakit, konseling pada keluarga balita. Tahun 2016 di
wilayah kerja Puskesmas Dolo terdapat 1.863 (91.91%) balita yang mendapat
pelayanan kesehatan dari jumlah 2.047 balita.

14) Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan


Jumlah balita gizi buruk yang mendapat perawatan gizi buruk Tahun
2016 yakni 3 balita di wilayah kerja Puskesmas Dolo. Pada balita gizi kurang
atau buruk ditangani sesuai kondisi kesehatannya, jika diperlukan balita akan
ditangani di Puskesmas Dolo atau dirujuk ke Rumah Sakit untuk pengobatan
penyakit penyerta. Pada semua balita dilakukan analisis gizi melalui data
antropometri dan anamnesa diet. Pada keluarga diberikan konseling dan MP –
ASI dan pemantauan berkelanjutan.

15) Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat


Pada Tahun 2016 sebanyak 398 siswa SD yang melakukan
penjaringan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Dolo. Penjaringan
kesehatan peserta didik meliputi pemeriksaan keadaan fisik secara umum,
pengukuran tekanan darah dan denyut nadi, pemeriksaan gigi dan mulut,
pemerikasaan indera (penglihatan dan pendengaran).

16) Rasio Tumpatan/Pencabutan Gigi Tetap


Pelayanan kesehatan gigi dan mulut adalah bagian integral dari
palayanan kesehatan dalam upaya pencapaian pemerataan, jangkauan dan
peningkatan mutu pelayanan kesehatan gigidan mulut.
Penumpatan gigi merupakan suatu tindakan restorasi gigi dengan cara
membuang jaringan karies dan meletakan bahan restorasi pada gigi yang
mengalami kerusakan. Tindakan perawatan menggunakan bahan restorasi
lebih efektif dibandingkan dengan pencabutan karena pertimbangan estetika
dan fungsional. Jumlah tumpatan gigi tetap 26, pencabutan gigi tetap 67 dan
rasio tumpatan/ pencabut.an 0.4%.

17) SD/MI yang mendapat pelayanan gigi/ UKGS


Penyakit gigi dan mulut sangat mempengaruhi derajat kesehatan,
proses tumbuh kembang, bahkan masa depan anak. Anak-anak menjadi rawan
kekurangan gizi karena rasa sakit pada gigi dan mulut menurunkan selera
makan mereka.Kemampuan belajar anak pun akan menurun sehingga akan
berpengaruh pada prestasi belajar. UKGS adalah suatu komponen Usaha

32
Kesehatan Sekolah (UKS) yangmerupakan suatu paket pelayanan asuhan
sistematik dan ditujukan bagi semuamurid sekolah dasar dalam bentuk paket
promotif, promotif-preventif dan paket optimal. Pada Tahun 2016 sebanyak
398 siswa SD yang mendapat pelayanan gigi/ UKGS di wilayah kerja
Puskesmas Dolo.

18) Pelayanan Kesehatan Usila (60 tahun +)


Peningkatan usia harapan hidup terutama kualitas usia lanjut tidak
diikuti oleh peningkatan kualitas kehidupannya, karena secara fisiologis usia
lanjut akan mengalami banyak kemunduran dalam semua aspekkehidupannya.
Hal ini dapat mengakibatkan tingkat produktifitas dan kemandiriannya secara
nyata semakin berkurang, karena kemunduran inimungkin akan menimbulkan
ketergantungan pada orang lain. Cakupan pelayanan kesehatan usila sebanyak
1537 (42.6%) di wilayah kerja Puskesmas Dolo.

2. AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN


1) Peserta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Tahun 2016 kunjungan Askes sebanyak 5115 (56.3 %) dari total kunjungan
Puskesmas. Tahun 2016 cakupan kepesertaan asuransi di wilayah kerja Puskesmas
Dolo terdiri dari peserta Jaminan Kesehatan Nasional sebanyak 131. 893, Penerima
Bantuan Iuran (PBI) sebanyak 104.656, Pekerja Penerima Upah (PPU) sebanyak
16.497, Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) sebanyak 7.463, Bukan Pekerja (BP)
sebanyak 3.277, Jamkesda sebanyak 35.416.

2) Cakupan Kunjungan Rawat Jalan dan Cakupan Kunjungan Rawat Inap, dan
Gangguan Jiwa di Sarana Pelayanan Kesehatan.

33
Pelayanan gangguan kesehatan jiwa di Puskesmas Dolo telah
dilaksanakan dengan baik khususnya dalam pemberian rawat jalan dan
rujukan ke rumah sakit, dan telah dilakukan pencatatan dan pelaporan khusus
kesehatan jiwa secara rutin karena sudah ada sistem pelaporan ke dinas
kesehatan kabupaten dan propinsi. Kunjungan rawat jalan Puskesmas Dolo
Tahun 2016 yaitu sebanyak 16.813 kunjungan, dan pelayanan kesehatan Jiwa
di puskesmas Dolo tahun 2016 sebanyak 29 kunjungan

3. KEADAAN LINGKUNGAN
Masih tingginya prevalensi kejadian penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan kesehatan lingkungan di Puskesmas Dolo seperti; penyakit
ISPA, Diare, Demam Berdarah Dongue, penyakit Kulit dan lain-lain,
menunjukkan bahwa kesehatan lingkungan yang kurang baik masih menjadi
penyebab utama tingginya angka morbiditas di wilayah Puskemas Dolo.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka perlu dilakukan upaya-upaya
perbaikan higine dan sanitasi lingkungan, meliputi:

1) Rumah Sehat
Rumah adalah salah satu kebutuhan manusia untuk beristirahat,
berlindung. Namun rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan justru dapat
menyebabkan beberapa penyakit seperti, ISPA, Diare, malaria, DBD dan lain-
lain. Oleh karenanya diupayakan supaya rumah-rumah masyarakat dalam
keadaan bersih dan sehat.
Berdasarkan data tahun 2016 jumlah rumah di wilayah Puskesmas
Dolo sebanyak 5075 rumah. Jumlah rumah memenuhi syarat (sehat) adalah
4083 (80.45%).

2) Penduduk Yang Memiliki Akses Air Minum Yang Layak


Air merupakan kebutuhan sangat vital bagi kelangsungan hidup
manusia. Oleh karena itu air harus memenuhi syarat kesehatan guna
mencegah terjadinya berbagai macam penyakit yang bersumber dari air.
Persyaratan yang dimaksud yaitu, persyaratan fisik, kimia dan bakteriologis.
Berdasarkan data tahun 2016 jumlah Kepala keluarga yang ada di
wilayah Puskesmas Dolo yaitu 5400 KK. Menurut jenis sarana air bersih,
jumlah pengguna pompa air 4651 (86.1%), pengguna sumur gali 40 KK (0,7
%) jadi total Keluarga yang memiliki akses terhadap air bersih 4691 (86.9 %)

34
dari seluruh keluarga. Pada Tahun 2016 terjadi peningkatan akses terhadap
penggunaan air bersih meliputi jumlah pengguna pompa air 4771, pengguna
sumur gali 13 KK jadi total Keluarga yang memiliki akses terhadap air bersih
4797 dari seluruh keluarga.

3) Penyelenggara Air Minum Memenuhi Syarat Kesehatan


Jumlah sampel air minum diperiksa di wilayah kerja Puskesmas Dolo
sebanyak 5438. Sedangkan jumlah air minum memenuhi syarat (fisik,
bakteriologi, dan kimia) adalah 4811 (88.47%)

4) Penduduk yg memiliki Akses Sanitasi Layak (Jamban Sehat)


Jumlah jenis sarana jamban yaitu jamban leher angsa yang memenuhi
syarat yaitu 2.061 sarana dengan 10.305 pengguna, dan penduduk dengan
akses sanitasi layak (jamban sehat) yaitu 2.061 orang (9,38%).

5) Desa STBM
Di Tahun 2016 belum ada desa yang melaksanakan STBM (Sanitasi
Total Berbasis Masyarakat).

6) Tempat-Tempat Umum Memenuhi Syarat


Tempat umum dan tempat pengolahan makanan mempunyai pengaruh
yang cukup untuk menimbulkan beberapa penyakit seperti; diare, keracuanan
makanan dan minuman dan lain-lain.
Berdasarkan hasil pemeriksaan tahun 2016, tempat pengolahan
makanan yang diperiksa yaitu 90 tempat. TPUM yang memenuhi syarat
higiene sanitasi sebanyak 6 tempat (6,67%).

35
BAB V
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN

Upaya pembangunan kesehatan dapat berdaya guna dan berhasil guna bila
kebutuhan sumber daya kesehatan dapat terpenuhi. Sumber daya kesehatan
mencakup sumber daya tenaga, sarana dan pembiayaan.

A. SARANA KESEHATAN
1) Jumlah Posyandu, Posyandu Aktif dan Ratio Posyandu per 100 Balita
Jumlah posyandu di Puskesmas Dolo tahun 2016 yaitu 28 pos yang
tersebar pada 11 desa, dimana rata-rata setiap desa mempunyai 3 posyandu
dengan frekwensi penimbangan sekali dalam sebulan dan ratio kader aktif per
posyandu yaitu 4 orang.
Berdasarkan strata posyandu, maka terdapat 10 (35.7%) Posyandu
Madya, 18 (64.3 %) Posyandu Purnama, untuk posyandu Mandiri belum ada.
Jumlah posyandu aktif 18. Ratio posyandu per 100 balita adalah 1,29%.

Gambar .3

Sumber : Data primer dari SIK Puskesmas Dolo 2016

2) Jumlah Pustu, Poskesdes, Polindes


Jumlah Pustu sebanyak 2 buah, Polindes 4 buah, dan Poskesdes 5 buah.

B. TENAGA KESEHATAN
Dalam pembangunan kesehatan diperlukan berbagai jenis tenaga kesehatan
yang memiliki kemampuan melaksanakan upaya kesehatan dengan paradigma
sehat yang mengutamakan upaya peningkatan, pemeliharaan kesehatan, dan
pencegahan penyakit.
Jumlah tenaga dokter umum di Puskesmas Dolo tahun 2016 yaitu
sebanyak 3 orang, dokter gigi 1 orang, bidan 27 orang, perawat 21 orang,
perawat gigi 1 orang, tenaga farmasi 4 orang, tenaga kesehatan masyarakat 5
orang, tenaga kesehatan lingkungan 4 orang, dan tenaga gizi 1 orang.

36
C. PEMBIAYAAN KESEHATAN
Dalam melaksanakan upaya pembangunan kesehatan diperlukan
pembiayaan, baik yang bersumber dari pemerintah, maupun masyarakat
termasuk swasta. Pembiayaan kesehatan yang bersumber dari pemerintah terdiri
atas (1) Anggaran Departemen Kesehatan, (2) Anggaran Pembangunan Belanja
Daerah (APBD), (2) Dana Kesehatan dalam APBD dan (3) Pinjaman Luar
Negeri (BLN).
Anggaran kesehatan APBD 59,765,025,660. Jumlah anggaran APBN
sebanyak 13,132,571,387. Adanya anggaran pembiayaan kesehatan ini
diharapkan mampu membantu petugas kesehatan dalam menjalankan
pembangunan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Dolo

37
BAB VI
KESIMPULAN

Derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Dolo yang


berpenduduk 21.973 jiwa pada tahun 2016 tetap mengalami perbaikan, meskipun ada
beberapa hal yang menurun dibandingkan hasil tahun sebelumnya maupun hasil di
kabupaten, provinsi dan standar nasional. Jumlah kematian bayi mengalami fluktuatif
dari tahun 2013 sebanyak 2 dari 355 kelahiran hidup, meningkat di tahun 2014
menjadi 13 dari 355 kelahiran hidup, kemudian tahun 2015 menurun menjadi 4 dari
341 kelahiran hidup dan tahun 2016 menjadi 4 dari 343 kelahiran hidup. Angka
kematian balita tahun 2016 yaitu 1 kasus, dan tidak terdapat kematian ibu. Demikian
juga penyakit-penyakit menular dan penyakit yang berhubungan dengan lingkungan
seperti ISPA masih merupakan masalah kesehatan karena masih termasuk dalam 10
penyakit terbanyak yang ditemukan, bahkan penyakit ISPA menempati rangking
pertama dengan 3105 kasus (27,0%). Disamping itu terdapat penyakit-penyakit
metabolisme seperti Diabetes Mellitus, Hipertensi, Dispepsia.

Upaya perbaikan gizi masyarakat yaitu kasus gizi buruk ditemukan 3 kasus di
Tahun 2016. Cakupan pemberian Vitamin A pada Bayi sebesar 218 (96,89%) dan
Balita sebesar 1863 kapsul (91,01%). Balita dengan Distribusi pemberian Fe3 pada
Bumil sebesar 414 (82,97%) meningkat dari pencapaian tahun sebelumnya di tahun
2015 yakni 269 (53,9%).

Terjadi peningkatan kunjungan peserta JPKM seperti ASKES dan


ASKESKIN (JPS) ke sarana pelayanan kesehatan. Hal ini menunjukkan makin
meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan dimana terjadi peningkatan kunjungan
dari tahun ke tahun di Puskesmas Dolo.Penyuluhan kesehatan tetap dilaksanakan
dengan berbagai materi penyuluhan khususnya penyuluhan HIV/AIDS dan
penyalahgunaan NAPZA telah dilakukan beberapa kali di sekolah.

Dalam hal pelayanan kesehatan dasar, masalah yang masih perlu


mendapatkan perhatian yaitu, masih adanya pertolongan persalinan masih adanya
persalinan yang ditolong oleh dukun, hal ini dapat menyebabkan terjadianya
kematian bayi dan atau ibu melahirkan. Pada tahun 2016 tidak terdapat kasus
kematian ibu di wilayah Kecamatan Dolo, namun pengetahuan dan partisipasi

38
masyarakat masih kurang dalam hal meningkatan derajat kesehatan. Dengan
pencapaian saat ini diharapkan dapat menurunkan Angka Kematian Ibu dan Anak.

Dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan lainnya telah dilakukan


berbagai macam upaya melalui rangkaian kegiatan program yang diarahkan pada
upaya peningkatan kemampuan keluarga dan masyarakat, perbaikan lingkungan
hidup, perbaikan status gizi, penurunan angka kematian serta peningkatan dan
pemerataan pelayanan kesehatan.

Pemberdayaan masyarakat juga menjadi faktor pendukung yang dapat


memberikan kontribusi terhadap akselerasi peningkatan derajat kesehatan
masyarakat. Oleh karena itu pembinaan terhadap kader kesehatan melalui program
UKBM juga tetap menjadi bagian dari upaya pembangunan kesehatan di Puskesmas
Dolo. Upaya-upaya yang dilakukan adalah melalui kegiatan-kegiatan yang dapat
menigkatkan peran serta masyarakat khususnya dalam bidang kesehatan.

39