Anda di halaman 1dari 29

1

A. DASAR TEORI

1. Padanan Kata

Azwar (2016) mengemukakan bahwa Tes Potensi Akademik (TPA) dirancang

khusus untuk menggali kemampuan seseorang dalam menghadapi problem

kognitif yang menghendaki pendekatan solusi yang strategis dan cepat. Abilitas

semacam ini merupakan kemampuan penalaran umum yang menopang

performansi individu dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi dimana

akuisisi ilmu dan keterampilan sudah tidak banyak lagi ditentukan oleh cara dan

metode penyampaian serta ketertiban mengikuti silabus pelajaran sebagaimana

terjadi di tingkat pendidikan menengah dan rendah.

TPA-07 terdiri atas 3 (tiga) subtes; yaitu Subtes Verbal, Subtes Kuantitatif dan

Subtes Penalaran. Subtes Verbal dirancang untuk mengukur kemampuan

penalaran melalui pemahaman akan makna kata secara kontekstual baik eksplisit

maupun implisit. Padanan Kata memiliki indikator kemampuan yakni

mengidentifikasi pasangan kata yang memiliki arti yang sama atau berdekatan,

sedangkan versi Tes Potensi Akademik Pascasarjana, Padanan Kata memiliki

indikator yakni menemukan pasangan kata yang memiliki makna kontekstual

paling dekat.

Dalam kehidupan sehari-hari, kata makna digunakan di berbagai bidang atau

konteks pemakaian. Dalam bahasa Indonesia pengertian makna sering

disejajarkan dengan arti, gagasan, konsep, pesan, informasi, maksud, isi, atau

pikiran. Dari sekian banyak pengertian itu, hanya arti yang paling dekat
2

pengertiannya dengan makna. Meskipun demikian, hal itu tidak berarti bahwa

keduanya bersinonim mutlak karena arti adalah kata yag telah mencakup makna

dan pengertian (Prawirasumantri, Sitaresmi, & Rahmina, 1998).

Depdiknas (2005) mengemukakan bahwa makna adalah arti; maksud

pembicara atau penulis; pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk

kebahasaan. Verhaar (Prawirasumantri, Sitaresmi, & Rahmina, 1998)

mengemukakan bahwa makna berbeda dengan maksud dan informasi. Makna

adalah sesuatu yang berada di luar ujaran. Makna menyangkut segi lingual

(bahasa) itu sendiri, sedangkan informasi menyangkut segi objek atau segi dari

yang sedang dibicarakan. Dengan kata lain, makna adalah gejala dalam ujaran

(utterance internal phenomenon), sedangkan informasi adalah gejala di luar

ujaran (utterance external phenomenon).

Informasi memiliki persamaan dan perbedaan dengan maksud. Persamaannya

adalah keduanya merupakan gejala di luar ujaran. Perbedaannya adalah informasi

dipandang dari segi objek atau yang dibicarakan, sedangan maksud dipandang

dari segi subjek, pengujar (penutur), orang yang berbicara. Maksud tidak dapat

dikaji dari segi lahiriah tuturan (ujaran).

Odgen dan Raichard (Prawirasumantri, Sitaresmi, & Rahmina, 1998)

mengumpulkan tidak kurang dari 22 pengertian tentang makna, yakni: suatu sifat

yang instrinsik; suatu hubungan yang unik atau khas dengan benda-benda lain

yang tidak dapat dianalisis; kata-kata lain yang digabungkan dengan sebuah kata

dalam kamus; konotasi suatu kata; suatu esensi, intisari, pokok; suatu kegiatan
3

atau aktivitas yang diproyeksikan ke dalam suatu objek; suatu peristiwa yang

diharapkan, suatu keinginan (kemauan); tempat atau wadah sesuatu dalam suatu

sistem; konsekuensi praktis dari suatu hal (benda) dalam pengalaman kita dimasa

yang akan datang; konsekuensi teoritis yang terkandung dalam sebuah pernyataan;

emosi yang ditimbulkan oleh sesuatu; sesuatu yang secara aktual dihubungkan

dengan suatu lambang oleh hubungan yang telah dipilih; - efek yang membantu

ingatan terhadap suatu perangsang, - beberapa kejadian lain yang membantu

ingatan terhadap kejadian yang pantas, - suatu lambang seperti yang kita tafsirkan,

- segala sesuatu yang disarankan oleh sesuatu, - segala sesuatu yang secara aktual

merupakan tempat mengacu sang pemakai lambang; wadah tempat pemakai

lambang harus mengacukan diri; wadah tempat pemakai suatu lambang

meyakinkan dirinya diacuhkan; wadah penafsir suatu lambang, - mengacu, -

meyakini dirinya diacukan, - meyakini pemakai acuan.

Dari sejumlah batasan atau pengertian yang dirumuskan oleh Richards dan

Odgen dapat disimpulkan bahwa makna adalah maksud yang akan disampaikan

oleh penutur kepada penanggap tutur melalui pengunaan seperangkat lambang

bunyi bahasa sesuai dengan aturan kebahasaan dan aturan sosial kebahasaan.

Makna dapat pula diartikan sebagai hubungan antara bahasa dengan dunia luar

yang telah disepakati bersama oleh para pemakai bahasa sehingga dapat saling

dimengerti. Dalam pnegertian ini tersirat adanya tiga unsur pokok yang tercakup

di dalamnya, yakni: makna merupakan hasil hubungan antara bahasa dengan

dunia luar; penentuan hubungan terjadi karena kesepakatan para pemakai bahasa;
4

perwujudan makna dapat digunakan untuk menyampaikan informasi sehingga

dapat saling dimengerti.

Depdiknas (2005) mengemukakan bahwa padanan adalah kata atau frasa dalam

sebuah bahasa yang memiliki kesejajaran makna dengan kata lain, misal Masion

dalam bahasa Perancis, padanannya Rumah dalam Bahasa Indonesia. Azwar

(2016) mengemukakan bahwa aitem Padanan Kata, ditampilkan satu kata benda,

atau kata kerja, atau kata sifat, atau kata keadaaan yang sedang populer dan

bukan kata yang diambil dari istilah teknis suatu bidang ilmu tertentu, sebagai

stem atau stimulus. Pilihan jawaban adalah kata-kata yang sejenis yang salah

satunya menjadi kunci jawaban, yaitu yang diberikan sebagai stimulus.

Komponen Padanan Kata mengukur kemampuan memahami makna kata, bukan

menguji pengetahuan tentang sinonim. Perbedaan mendasar Sinonim dengan

Padanan Kata adalah Sinonim menggunakan kata yang telah dipelajari, sedangkan

Padanan Kata tidak menggunakan kata yang dipelajari.

2. Analisis

a. Validitas Isi (CVR)

Lawshe’s CVR (content validity ratio) merupakah salah satu metode yang

digunakan secara luas untuk mengukur validitas isi. Teknik ini dikembangkan

oleh Lawshe (1975). Pendekatan ini pada dasarnya adalah sebuah metode untuk

mengukur kesepakatan di antara penilai atau hakim tentang pentingnya item

tertentu. Lawshe (1975) mengusulkan bahwa setiap penilai/subject matter experts

(SME) yang terdiri dari panel juri untuk menjawab pertanyaan untuk setiap aitem
5

dengan tiga pilihan jawaban yaitu (1) esensial, (2) berguna tapi tidak esensial, (3)

tidak diperlukan.

Menurut Lawshe, jika lebih dari setengah panelis menunjukkan bahwa item

penting/esensial, maka aitem tersebut memiliki setidaknya validitas isi. Formula

yang diajukan oleh Lawshe :

2ne
CVR  1
n

Ket :

CVR : Content Validity Ratio

ne : Jumlah anggota panelis yang menjawab ‘Esensial’

n : Jumlah Total Panelis

CVR diinterpretasikan secara relatif dalam rentang -1,0 sampai dengan +1,0.

Semua aitem yang memiliki CVR yang negatif atau sama dengan nol, jelas harus

dibuang atau dieliminasi, sedangkan aitem yang CVRnya positif diartikan sebagai

soal yang memiliki validitas isi yang baik dalam kadar tertentu.

b. Analisis Aitem (ITEMAN)

Item and Test Analysis (ITEMAN) merupakan perangkat lunak (software) yang

dibuat melalui bahasa pemrograman komputer dan dibuat khusus untuk analisis

butir soal dan tes. Hasil analisis meliputi: tingkat kesukaran butir soal, daya

pembeda soal, statistik sebaran jawaban, kehandalan/reliabilitas tes, kesalahan

pengukuran (standar error), dan distribusi skor serta skor setiap peserta tes.
6

Untuk tes yang terdiri dari butir-butir soal yang bersifat dikotomi misalnya pilihan

ganda, berikut adalah output dari setiap butir soal yang dianalisis dari ITEMAN :

1. Seq. No. adalah nomor urut butir soal dalam file data.

2. Scala item adalah nomor urut butir soal dalam tes.

3. Prop. Correct adalah Proporsi siswa yang menjawab benar butir tes. Nilai

ekstrem mendekati nol atau satu menunjukkan bahwa butir soal tersebut terlalu

sukar atau terlalu mudah untuk peserta tes. Indeks ini disebut juga indeks tingkat

kesukaran soal secara klasikal.

4. Biser adalah indeks daya pembeda soal dengan menggunakan koefisien korelasi

biserial. Nilai positif menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir

soal mempunyai skor relatif tinggi dalam tes tersebut. Sebaliknya nilai negatif

menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal memperoleh skor

yang relatif rendah dalam tes. Untuk statistik pilihan jawaban (alternatif), korelasi

biserial negatif sangat tidak dikehendaki untuk kunci jawaban dan sangat

dikehendaki untuk pilihan jawaban yang lain.

5. Point biserial adalah juga indeks daya pembeda soal dan pilihan jawaban

(alternatif) dengan menggunakan koefisien korelasi point biserial, penafsirannya

sama dengan statistik biserial. Menurut Ebel (Azwar, 2015) terdapat panduan

dalam evaluasi Indeks Diskriminasi aitem, yaitu :


7

Indeks Daya Beda Evaluasi


≥ 0.40 Sangat Bagus
0.30 - 0.39 Lumayan Bagus, tidak membutuhkan revisi
0.20 - 0.29 Belum memuaskan, perlu direvisi
< 0.20 Buruk dan harus dibuang

c. Validitas Faktorial (Kaiser-Meyer-Olkin)

Validitas faktorial menjelaskan hubungan di antara banyak variabel dalam

bentuk faktor/variabel laten/variabel bentukan, bahkan antarresponden. Faktor

berupa besaran acak yang sebelumnya tidak dapat diamati/diukur. Tujuan

dilakukan validitas faktorial adalah mereduksi jumlah variabel asal yang banyak

menjadi variabel baru yang lebih sedikit (mereduksi data), mengidentifikasi

adanya hubungan antara variabel pembentuk faktor dengan faktor yang terbentuk,

uji validitas dan reliabilitas instrumen dengan analisis faktor konfirmatori, uji

validasi data untuk mengetahui hasil analisis faktor dapat digeneralisasikan ke

populasi, dan menggunakan analisis faktor dengan teknik analisis lain.

Ketika melakukan analisis faktor, keputusan pertama yang harus diambil oleh

peneliti adalah menganalisis data yang ada apakah cukup memenuhi syarat di

dalam analisis faktor. Langkah pertama ini dilakukan dengan mencari korelasi

matriks antara indikator-indikator yang diobservasi, salah satu cara adalah dengan

menggunakan Kaiser-Meyer-Olkin (KMO). Metode ini paling banyak digunakan

untuk melihat syarat kecukupan data untuk analisis faktor. Metode KMO ini
8

mengukur kecukupan sampling secara menyeluruh dan mengukur kecukupan

sampling untuk setiap indikator.

d. Relibilitas

Reliabilitas berasal dari kata reliability berarti sejauh mana hasil suatu

pengukuran dapat dipercaya. Suatu hasil pengukuran dapat dipercaya apabila

dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok yang sama,

diperoleh hasil pengukura yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri

subjek memang belum berubah (Nur, 1987). Nur (1987) mengemukakan bahwa

reliabilitas ukuran menyangkut seberapa jauh skor deviasi individu, aau skor -z,

relatif konsisten apabila dilakukan pengulangan pengadministrasian dengan tes

yang ekivalen. Konsep reliabilitas dalam arti reliabilitas alat ukur berkaitan

dengan masalah kekeliruan pengukuran. Kekeliruan pengukuran sendiri

menunjukkan sejauh mana inkonsistensi hasil pengukuran ulang terhadap

kelompok subjek yang sama. Sedangkan konsep reliabilitas dalam arti reliabilitas

hasil ukur berkaitan erat dengan kekeliruan dalam pengambilan sampel yang

mengacu pada inkonsistensi hasil ukur apabila pengukuran dilakukan ulang pada

kelompok yang berbeda. Sudjana (2004) menyatakan bahwa reliabilitas alat

penelitian adalah ketepatan atau keajegan alat penilaian tersebut digunakan akan

memberikan hasil yang relatif sama. Azwar (2015) mengemukakan kriteria yang

dapat dijadikan acuan untuk menentukan reliabilitas tes, yakni:


9

Jika r < 0.20 Tidak reliabel


r = 0.21 - 0.41 Rendah
r = 0.41 - 0.70 Sedang
r = 0.71 - 0.90 Tinggi
r = 0.91 - 1.00 Sangat Tinggi

e. Norma

Anastasi (1990) mengemukakan bahwa norma adalah penyebaran skor-skor

dari suatu kelompok yang digunakan sebagai patokan untuk memberi makna pada

skor-skor individu. Terdapat dua jenis norma, yaitu :

1. Norma perkembangan; digunakan untuk menginterpretasikan skor-skor pada

tes-tes perkembangan. Norma perkembangan dibagi menjadi mental age, basal

age, nilai rata-rata yang diperoleh kelompok umur tertentu, skala ordinal, criterion

referenced testing, expectancy tables.\

2. norma kelompok (within norms); digunakan untuk mengetahui posisi subjek

dalam distribusi sampel normatif adalah skor subjek dibandingkan dengan skor

kelompok. Sata peneliti hendak menggunakan menggambarkan posisi individu

dengan cara membandingkan antar kemampuan dan kelompok, raw score harus

sitransformasikan ke dalam skala yang sama. Berikut adalah acuan dalam

menggunakan norma, yakni :


10

Konversi Kategori
(M + 1,5.SD) < X Sangat Tinggi
(M + 0.5 . SD) < X < (M + 1,5.SD) Tinggi
(M - 0.5 . SD) < X < (M + 0.5 . SD) Sedang
(M - 1.5 . SD) < X < (M - 0.5 . SD) Rendah
X < (M - 1.5 . SD) Sangat Rendah

B. HASIL

1. Deskripsi Subjek

a) Jenis Kelamin

Dari 100 orang partisipan, 34% partisipan diantaranya berjenis kelamin laki-

laki dan 66% partisipan diantaranya berjenis kelamin perempuan.


11

b) Semester

Dari 100 orang partisipan, 42% partisipan berada di semester 1, 41%

partisipan berada di semester 3, 13% partisipan berada di semester 5, 3%

partisipan berada di semester 7, dan 1% berada di semester 9.

c) Prodi

Dari 100 orang partisipan, terdapat 19% partisipan berasal dari prodi

Manajemen, 11% partisipan berasal dari prodi Hukum Acara Peradilan dan

Kekeluargaan, 6% partisipan berasal dari prodi PPKn, 4% partisipan berasal dari


12

prodi Pendidikan IPS, 2% partisipan berasal dari prodi Pendidikan Sejarah, 1%

partisipan berasal dari prodi Sosiologi, 2% partisipan berasal dari prodi

Pendidikan Administrasi Perkantoran, 2% partisipan berasal dari prodi Pendidikan

Bahasa Inggris, 2% partisipan berasal dari prodi Business English, 2% partisipan

berasal dari Pendidikan Bahasa Arab, dan 43% partisipan berasal dari prodi

Psikologi.

1. Jurusan

Dari 100 orang partisipan, 43% partisipan berasal dari Fakultas Psikologi, 15%

partisipan berasal dari Fakultas Ilmu Sosial, 6% partisipan berasal dari Fakultas

Peternakan, 19% partisipan berasal dari Fakultas Ekonomi, 11% partisipan berasal

dari Fakultas Syariah dan Hukum, dan 6% partisipan berasal dari Fakultas Bahasa

dan Sastra.
13

2. Universitas

Dari 100 orang partisipan, 83% partisipan berasal dari Universitas Negeri

Makassar, 6% partisipan berasal dari Universitas Hasanuddin, dan 11% partisipan

berasal dari Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

2. Validitas Isi (CVR)

No Subject Matter Experts


CVR Keterangan
Soal 1 2 3 4 5
1 E T E G E 0,2 Valid
2 E E E E E 1 Valid
3 G G E G E -0,2 Tidak Valid
4 E E E E E 1 Valid
5 E E G E G 0,2 Valid
6 E E T E E 0,6 Valid
7 G E G G E -0,2 Tidak Valid
8 E E E E E 1 Valid
9 E E E E E 1 Valid
10 E G T E E 0,2 Valid
11 E E G E E 0,6 Valid
12 G G G G E -0,6 Tidak Valid
14

13 E E E E E 1 Valid
14 E E E E E 1 Valid
15 E E E E E 1 Valid
16 E G G E E 0,2 Valid
17 E G G E E 0,2 Valid
18 E G T G E -0,2 Tidak Valid
19 E E G E E 0,6 Valid
20 G E G G E -0,2 Tidak Valid
21 E E E E E 1 Valid
22 E G T E E 0,2 Valid
23 T G T E E -0,2 Tidak Valid
24 E E G G E 0,2 Valid
25 G G G G E -0,6 Tidak Valid
26 E E T G E 0,2 Valid
27 G E E G E 0,2 Valid
28 E E E E E 1 Valid
29 E E G E E 0,6 Valid
30 E G G E E 0,2 Valid
31 G E G G E -0,2 Tidak Valid
32 E G G G E -0,2 Tidak Valid
33 G G T E E -0,2 Tidak Valid
34 E G T G E -0,2 Tidak Valid
35 E E G G E 0,2 Tidak Valid
36 E G T G E -0,2 Tidak Valid
37 E G G G E -0,2 Tidak Valid
38 E G G G E -0,2 Tidak Valid
39 G E G E E 0,2 Valid
40 E E E E E 1 Valid
15

41 E E G E E 0,6 Valid
42 E E G G E 0,2 Valid
43 E E E E E 1 Valid
44 G E G E E 0,2 Valid
45 E E G G E 0,2 Valid
46 E G G G E -0,2 Tidak Valid
47 E E E E E 1 Valid
48 E E E E E 1 Valid
49 E G E G G 0,2 Valid
50 G E E E E 0,6 Valid

Tabel diatas merupakan hasil dari perhitungan CVR dari expert judgement.

Expert judgement yang digunakan dalam validitas isi ini sebanyak lima orang

yang berasal dari jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan

Sastra, Universitas Negeri Makassar. Dari 50 butir soal yang telah dibuat, 34

butir soal dinyatakan valid dan 16 butir soal dinyatakan gugur, yakni soal nomor

3,7,18,20,23,31,32,33,34,35,36,37,38,46 (CVR = -,0,2) dan soal 12,25 (CVR = -

0,6).

3. Analisis Aitem

a. Tingkat Kesukaran

No. Urut
No Prop. Correct Keterangan
Baru

1. 0.540 Sedang 11
2. 0.770 Mudah 5
3. 0.750 Mudah 6
16

4. 0.380 Sedang 18
5. 0.410 Sedang 16
6. 0.810 Mudah 3
7. 0.500 Sedang 13
8. 0.590 Sedang 8
9 0.730 Mudah 7
10. 0.390 Sedang 17
11. 0.250 Sulit 21
12. 0.790 Mudah 4
13. 0.070 Sulit 34
14. 0.340 Sedang 19
15. 0.520 Sedang 12
16. 0.850 Mudah 2
17. 0.870 Mudah 1
18. 0.120 Sulit 32
19. 0.160 Sulit 30
20. 0.100 Sulit 33
21 0.570 Sedang 9
22. 0.550 Sedang 10
23. 0.140 Sulit 31
24. 0.200 Sulit 23
25. 0.480 Sedang 14
26. 0.210 Sulit 22
27. 0.410 Sedang 15
28. 0.160 Sulit 29
29. 0.180 Sulit 26
30. 0.190 Sulit 25
31. 0.160 Sulit 28
17

32. 0.190 Sulit 24


33. 0.260 Sulit 20
34. 0.170 Sulit 27

Tabel diatas merupakan hasil tingkat kesukaran aitem berdasarkan analisis

ITEMAN. Dari 34 soal yang dianalisis, terdapat 7 butir soal (nomor 2, 3, 6, 9, 12,

16, dan 17) masuk ke dalam kategori mudah, 12 butir soal (nomor 1, 4, 5, 7, 8,

10, 14, 15, 21, 22, 25, dan 27) masuk ke dalam kategori sedang, dan 15 butir soal

(11, 13, 18, 19, 20, 23, 24, 26, 28, 29, 30, 31, 32, 33, dan 34) masuk ke dalam

kategori sulit.

b. Daya Diskriminasi Aitem

Point No. Urut


No Keterangan
Biserial Baru

1. (0.258) Belum Memuaskan 8


2. (0.251) Belum Memuaskan 3
3. (0.408) Sangat Bagus 4
4. (0.199) Buang Buang
5. (0.297) Belum Memuaskan 12
6. (0.098) Buang Buang
7. (0.238) Belum Memuaskan 9
8. (0.332) Lumayan Bagus 5
9 (0.113) Buang Buang
10. (0.013) Buang Buang
11. (0.109) Buang Buang
12. (0.170) Buang Buang
13. (0.129) Buang Buang
18

14. (0.166) Buang Buang


15. (0.160) Buang Buang
16. (0.315) Lumayan Bagus 2
17. (0.417) Sangat Bagus 1
18. (0.158) Buang Buang
19. (-0.167) Buang Buang
20. (0.150) Buang Buang
21 (0.333) Lumayan Bagus 6
22. (0.534) Sangat Bagus 7
23. (0.197) Buang Buang
24. (0.152) Buang Buang
25. (0.508) Sangat Bagus 10
26. (0.177) Buang Buang
27. (0.346) Lumayan Bagus 11
28. (0.313) Lumayan Bagus 19
29. (0.399) Lumayan Bagus 16
30. (0.378) Lumayan Bagus 15
31. (0.401) Sangat Bagus 18
32. (0.399) Lumayan Bagus 14
33. (0.395) Lumayan Bagus 13
34. (0.449) Sangat Bagus 17

Tabel diatas merupakan hasil daya diskriminasi aitem berdasarkan analisis

ITEMAN. Dari 34 soal yang dianalisis, terdapat 15 butir soal masuk kedalam

kategori sangat bagus (nomor 3, 8, 16, 17, 21, 22, 25, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33,

dan 34), terdapat 4 butir soal masuk ke dalam kategori belum memuaskan (1, 2,

5, dan 7), dan terdapat 15 butir soal yang masuk ke dalam kategori buang (nomor
19

4, 6, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 18, 19, 20, 23, 24, dan 26). 15 butir soal yang

masuk ke dalam kategori buang dibuang karena memiliki nilai point biserial

dibawah 0,2. Jadi, aitem yang tersisa sebanyak 19 butir.

c. Efektivitas distraktor

No Pilihan Jawaban
Keterangan
Soal A B C D E
1 √ √ √ √ * Distraktor dipertahankan
2 √ √ √ √ * Distraktor dipertahankan
3 √ √ * √ √ Distraktor dipertahankan
4 * √ √ √ X Distraktor E dibuang
5 √ √ √ * √ Distraktor dipertahankan
6 X * √ √ √ Distraktor A dibuang
7 * X √ √ √ Distraktor B dibuang
8 √ * √ √ √ Distraktor dipertahankan
9 √ √ * √ √ Distraktor dipertahankan
10 √ √ * √ √ Distraktor dipertahankan
11 √ * √ √ √ Distraktor dipertahankan
12 √ * √ √ √ Distraktor dipertahankan
13 √ * √ √ √ Distraktor dipertahankan
14 * √ √ √ √ Distraktor dipertahankan
15 √ √ √ √ * Distraktor dipertahankan
16 * √ √ √ √ Distraktor dipertahankan
17 √ √ √ * √ Distraktor dipertahankan
18 √ √ √ * √ Distraktor dipertahankan
19 √ √ * √ √ Distraktor dipertahankan
20

Tabel diatas merupakan hasil efektivitas distraktor berdasarkan analisis

ITEMAN. Terdapat 3 butir soal yang salah satu distraktornya harus dibuang

(nomor 4, 6, dan 7) dan terdapat 16 butir soal yang semua distraktornya tetap

dipertahankan.

4. Validitas Faktorial (Kaiser-Meyer-Olkin)

No. Kaiser-Meyer-Olkin Keterangan


Aitem Anti-Image
1 0,489 Tidak Valid
2 0,371 Tidak Valid
3 0,717 Valid
4 0,529 Valid
5 0,334 Tidak Valid
6 0,539 Valid
7 0,739 Valid
8 0,784 Valid
9 0,661 Valid
10 0,719 Valid
11 0,819 Valid
12 0,562 Valid
13 0,442 Tidak Valid
14 0,572 Valid
15 0,757 Valid
16 0,558 Valid
17 0,609 Valid
18 0,589 Valid
19 0,730 Valid
21

Tabel di atas merupakan tabel Validitas Faktorial KMO (Kaiser-Meyer-Olkin

Anti Image). Nilai KMO Anti Image diatas menggugurkan 4 (nomor 1, 2, 5, dan

13) butir soal tes (nilai anti-image dibawah 0,5). Karena menggugurkan 4 aitem,

maka soal yang tersisa harus kembali dianalisis menggunakan KMO.

No. Kaiser-Meyer-Olkin Keterangan


Aitem Anti-Image
1 0,732 Valid
2 0,659 Valid
3 0,535 Valid
4 0,744 Valid
5 0,786 Valid
6 0,711 Valid
7 0,779 Valid
8 0,817 Valid
9 0,731 Valid
10 0,641 Valid
11 0,787 Valid
12 0,655 Valid
13 0,678 Valid
14 0,637 Valid
15 0,789 Valid

Dari 15 butir soal yang dianalisis di KMO, semua aitem diatas termasuk valid

(nilai KMO Anti-Image diatas 0,5).


22

5. Reliabilitas

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha Based
on
Cronbach's Standardized
Alpha Items N of Items
,730 ,736 15

Tabel di atas merupakan tabel Reliabilitas Tes Padanan Kata. Hasil diatas

berdasarkan uji reliabilitas dengan menggunakan analisis SPSS 24 for windows

setelah menggugurkan 4 butir soal (nomor 1, 2, 5, dan 13). Nilai reliabilitas Tes

Padanan Kata dengan melihat Cronbach’s Alpha adalah 0,730 (reliabilitas tinggi).

6. Norma

Kategori Norma
Sangat Tinggi 5
Tinggi 23
Sedang 34
Rendah 28
Sangat Rendah 10
23

Dari 100 orang partisipan, 5% memiliki nilai dengan kategori sangat tinggi (11

< x), 23% partisipan memiliki nilai tinggi (8 < x < 11), 34% partisipan memiliki

nilai sedang (5 < x < 8), 28% partisipan memiliki nilai rendah (2 < x < 5), dan

10% partisipan memiliki nilai sangat rendah (x < 2).


24

7. Soal Baru

1. RENTAN 7. METODE
a. Peka a. Cara
b. Perasa b. Konsep
c. Peduli c. Struktur
d. Lemah d. Penggunaan
e. Mudah
8. EVOLUSI
2. STERIL
a. Persatuan
a. Suci b. Perubahan
b. Segar c. Perpaduan
c. Murni d. Pemahaman
d. Jernih e. Perencanaan
e. Bersih
9. KONKRET
3. HIRAU
a. Asli
a. Peka b. Quasi
b. Paham c. Nyata
c. Peduli d. Tampak
d. Perasa e. Langsung
e. Percaya
10. BASIS
4. MAYORITAS
a. Isi
a. Besar b. Inti
b. Umum c. Dasar
c. Ragam d. Pokok
d. Macam e. Utama

5. LIAR 11. ISOLASI


a. Gila a. Pergi
b. Cela b. Pisah
c. Nakal c. Parah
d. Ganas d. Pindah
e. Buruk e. Pinggir

6. KEDALUWARSA 12. AUDIENSI


a. Basi a. Ketepatan
b. Mati b. Kunjungan
c. Lama c. Kesesuaian
d. Busuk d. Keramahan
e. Kedatangan
25

13. ANYAR a. Asli


b. Palsu
a. Tren
c. Layak
b. Baru
d. Umum
c. Panas
e. Langka
d. Populer
e. Modern
18. LEGITIMASI
14. LESAK a. Peradilan
b. Persatuan
a. Tertanam
c. Perwakilan
b. Terbuang
d. Pengesahan
c. Terendam
e. Perkumpulan
d. Tergenang
e. Tercampur
19. TENTATIF
15. BIAS a. Sepakat
b. Sepanjang
a. Ilegal
c. Sementara
b. Absah
d. Selamanya
c. Rancu
e. Selanjutnya
d. Keluar
e. Simpangan

16. INTERIM
a. Sejalan
b. Sepanjang
c. Sementara
d. Selamanya
e. Selanjutnya

17. GENERIK
26

C. KESIMPULAN

Azwar (2016) mengemukakan bahwa aitem Padanan Kata, ditampilkan

satu kata benda, atau kata kerja, atau kata sifat, atau kata keadaaan yang

sedang populer dan bukan kata yang diambil dari istilah teknis suatu bidang

ilmu tertentu, sebagai stem atau stimulus. Pilihan jawaban adalah kata-kata

yang sejenis yang salah satunya menjadi kunci jawaban, yaitu yang diberikan

sebagai stimulus.

Soal yang digunakan dalam pra uji-coba adalah soal yang telah dianalisis

berdasarkan reviu teman sebaya. Ada lima butir soal yang dibuang di reviu

teman sebaya yang kemudian peneliti membuat soal ulang. Soal yang

digunakan dalam Uji coba telah dilakukan analisis CVR, yakni menentukan

validitas isi dari soal tersebut. Teradapt 16 butir soal yang dibuang di analisis

CVR. Berdasarkan analisis ITEMAN, ada 15 butir soal yang dibuang, karena

memiliki daya diskriminasi rendah (x < 0,2). Dari 34 soal yang dianalisis,

terdapat 7 butir soal (nomor 2, 3, 6, 9, 12, 16, dan 17) masuk ke dalam

kategori mudah, 12 butir soal (nomor 1, 4, 5, 7, 8, 10, 14, 15, 21, 22, 25, dan

27) masuk ke dalam kategori sedang, dan 15 butir soal (11, 13, 18, 19, 20, 23,

24, 26, 28, 29, 30, 31, 32, 33, dan 34) masuk ke dalam kategori sulit.

Berdasarkan hasil ITEMAN, terdapat 3 butir soal yang salah satu

distraktornya harus dibuang (nomor 4, 6, dan 7) dan terdapat 16 butir soal

yang semua distraktornya tetap dipertahankan.


27

Berdasarkan hasil analisis KMO (Kaiser-Meyer-Olkin), ada 4 (nomor 1, 2,

5, dan 13) butir soal tes yang digugurkan (nilai anti-image dibawah 0,5).

Karena menggugurkan 4 aitem, maka soal yang tersisa harus kembali

dianalisis menggunakan KMO. Setelah melakukan analisis ulang, 15 aitem

tersebut sudah dinyatakan valid. Berdasarkan uji reliabilitas dengan

menggunakan analisis SPSS 24 for windows setelah menggugurkan 4 butir

soal (nomor 1, 2, 5, dan 13). Nilai reliabilitas Tes Padanan Kata dengan

melihat Cronbach’s Alpha adalah 0,730 (reliabilitas tinggi). Dari 100 orang

partisipan, 5% memiliki nilai dengan kategori sangat tinggi (11 < x), 23%

partisipan memiliki nilai tinggi (8 < x < 11), 34% partisipan memiliki nilai

sedang (5 < x < 8), 28% partisipan memiliki nilai rendah (2 < x < 5), dan 10%

partisipan memiliki nilai sangat rendah (x < 2).


28

DAFTAR PUSTAKA

Anastasi, A. (1990). Psychological testing (6th ed). New York: Macmillan.


Azwar, S. (2016). Konstruksi tes: kemampuan kognitif. Yogyakarta: Pustaka
Belajar.
Azwar, S. (2015). Reliabilitas dan Validitas Skala. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Bahrul, H., & Sumarna, M.S. (1997). Pedoman penggunaan ITEMAN (Manual
Item and Test Analysis. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem
Pengujian.
Depdiknas. (2005). Kamus besar bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
http://Analisis%20Faktor%20-%20Uji%20Statistik-Validitas-Faktorial.html.
diakses pada tanggal 28 Desember 2016 18.09 WITA.
Lawshe, C. H. (1975). A Quantitative Approach to Content Valididty, Personnel
Psychology, (28), 563-575.
Nur, M. (1987). Teori tes. Surabaya: IKIP Surabaya.
Prawirasumantri, A., Sitaresmi, N., & Rahmina, H. M. (1998). Semantik bahasa
Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sudjana, N. (2004). Penilaian hasil proses belajar dan umpan balik. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Nur, M. (1987). Teori tes. Surabaya: IKIP Surabaya.
29

REFLEKSI

A. Yang Dikuasai

Selama mempelajari Konstruksi Alat Ukur Psikologi Kognitif, saya sekarang

mahir menggunakan relibilitas analisis di SPSS. Selain itu, saya juga mengetahui

cara cepat dalam mentabulasi data di Excel, yang pengetahuan tersebut didapatkan

di bangku SMP. Terima kasih telah mengingatkan kembali pengetahuan ini.

B. Insight

Saya baru menyadari bahwa dalam pembuatan soal, dibutuhkan adanya expert

judgement yang menilai soal yang dibuat. Suatu tes yang baik tidak dibuat asal-

asalan, melainkan dengan struktur yang sistematis.

C. Harapan

Saya berharap tahun depan, jumlah uji coba untuk Konstruksi Alat Ukur

Psikologi Kognitif berjumlah minimal 201 orang. Setelah itu, soal yang dibuat

bisa betul-betul dipublikasikan untuk masyarakat publik. Sebaiknya tugas ini

dibuat per kelompok, agar lebih memudahkan dalam penyelesaian uji coba

sebanyak 201 orang.