Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Genetika adalah ilmu pewarisan faktor keturunan (hereditas). Ilmu


genetika ini meliputi studi tentang apa yang dimaksud dengan gen, bagaimana
gen dapat membawa informasi genetik, gen direplikasikan dan dilewatkan dari
generasi ke ganerasi, bagaimana gen dapat mengekspresikan informasi di dalam
organisme yang akan menentukan karakteristik organisme yang bersangkutan,
dan kelainan genetik (Laksono, et al. 2011).
Kelainan genetik dapat disebabkan oleh kelainan kromosom maupun
mutasi gen dominan maupun gen resesif pada autosom maupun kromosom seks.
Kelainan kromosom dapat berupa kelainan jumlah maupun struktur. Kelainan
genetic ini berhubungan dengan DNA (Deoxyribonucleic Acid) dan disebabkan
oleh gen-gen dan kromosom yang tidak normal. Kelainan genetik biasanya dipicu
oleh lingkungan yang ditempati seseorang. Ketidaknormalan atau abnormalitas
pada gen terjadi sebagai akibat dari mutasi atau penambahan/ pengurangan
kromosom, yang dikenal sebagai variasi gen. Beberapa dari kelainan genetis
termasuk kelainan gen tunggal yang dikenal sebagai kelainan Mendelkian atau
Monogenik. Kelainan mitokondria dan kelainan kromosom membentuk kelainan
genetik lain. Kelainan gen tunggal mencakup anemia sel sabit, fibrosis kista, dan
sindrom marfans. (Laksono, et al. 2011)
Kondisi ini disebabkan oleh mutasi. Kelainan gen tunggal dapat terjadi
karena gen abnormal dari salah satu kedua orang tua yag kondisinya masing-
masing dikenal sebagai autosomal dominan dan autosomal resesif. (Doktermu,
2010).

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu kesalahan metabolisme saat lahir?


2. Apa saja pewarisan terbatas pada jenis kelamin?
3. Apa saja heterogenitas genetika suatu penyakit?
4. Apa itu tipe aksi gen dan tipe penyakit?
5. Apa itu fenokopi?
6. Apa saja contoh cacat gen tunggal?

1.3 Tujuan

Tujuan dari dibuatnya paper ini adalah untuk memenuhi tugas genetika
veteriner pada semester 2 dan juga paper ini dibuat agar mahasiswa kedokteran
hewan mengetahui tentang kesalahan metabolisme saat lahir, pewarisan terbatas
pada jenis kelamin, heterogenitas genetika suatu penyakit, tipe aksi gen dan tipe
penyakit, fenokopi dan contoh cacat gen tunggal.

1.4 Manfaat

Melalui paper ini diharapkan pembaca dapat memahami tentang


kesalahan metabolisme saat lahir, pewarisan terbatas pada jenis kelamin,
heterogenitas genetika suatu penyakit, tipe aksi gen dan tipe penyakit, fenokopi
dan contoh cacat gen tunggal, dan penyakit apa saja dalam cacat akibat gen
tunggal ini.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kesalahan Metabolisme Saat Lahir

Metabolisme adalah sebuah reaksi kimia di dalam tubuh untuk


mempertahankan aktifitas penting dalam kehidupan, seperti imunitas,
pertumbuhan, dan perkembangan otak. Contoh dari metabolisme termasuk
pencernaan makanan untuk menghasilkan energi, dan pengiriman zat ke dalam
dan di antara sel-sel. Reaksi kimia metabolisme difasilitasi oleh enzim, yang
bertindak sebagai katalis untuk mengatur dan mempercepat reaksi (Softilmu,
2014)
Polipeptida berperan sebagai enzim atau bagian dari enzim, mutasi
pada gen penyandinya kadang-kadang menyebabkan defisiensi pada enzim
tersebut, dengan pengeblokan di dalam alur proses biokimianya dimana enzim itu
diperlukan. Penyakit akibat terjadinya pengeblokan di dalam alur proses
biokimianya dimana enzim itu diperlukan. Penyakit akibat terjadinya
pengeblokan itu disebut kesalahan metabolism saat lahir (inborn errors of
metabolism) (Nicholas, F.W, 2004).
Contoh penyakit pada hewan akibat kesalahan metabolisme saat lahir
adalah citrullinaemia, yang terjadi pada sapi Friesian Holstein. Pedet berpenyakit
citrullinaemia tampak normal pada saat lahir, tetapi menunjukkan tanda-tanda
depresi hanya dalam waktu beberapa jam saja. Esok harinya, mereka
menunjukkan depresi hebat, lidah membengkak dan jalannya tidak stabil.
Penurunan ini terus berlanjut dalam hari-hari berikutnya. Menjelang hari ke 3-5,
mereka pingsan dan mati (Nicholas, F.W, 2004).
Penyebab dari munculnya tanda-tanda klinis semacam itu adalah
keracunan amonia karena kerusakan di dalam siklus urea, yang merupakan proses
biokimia yang mengubah amonia beracun (dari katabolisme protein) menjadi
urea, yang dikeluarkan melalui urine. Pedet dengan citrullinaemia kekurangan
satu dari beberapa enzim yang terlibat dalam siklus urea, yaitu argininosuccinate
synthetase (ASS) (Womack, J. E. , 1992)

3
Gambar 1. Siklus Urea

Sumber : (Nicholas, F.W, 2004)

Bovine citrullinaemia adalah kelainan genetik pada sapi Friesians


Holstein spesifik pada metabolisme ternak di seluruh dunia mirip dengan leukosit
defisiensi adhesi dan deficiency of uridine monophosphate synthase, penyakit
turunan autosomal resesif dan breed tertentu. Penyakit ini hasil dari kekurangan
argininosuksinat sintase, menyebab kangangguan enzimatik siklus urea. Mutasi
melibatkan substitusi basa tunggal (C-T) diekson 5 dari argininosuccinate
synthetase (ASS), yang mengubah CGA kodon yang mengkode arginin-86
keTGA, sebuah translasi kodon terminasi. Hal ini menghasilkan produk peptida
singkat (85 asam amino bukan 412) yang berfungsi menekan aktifitas (Gholap et
al., 2014).
Secara klinis, citrullinemia menyebabkan ammonemia (peningkatan
amonia dalam peredaran darah) dan tanda-tanda yang berhubungan dengan
neurologis. Anak sapi yang terkena penyakit citrulllinemia menyebabkan ataksia,
kebutaan, kejang dan kematian. Berbagai berhasil menemukan berbagai frekuensi
4
pada citrullinemia seperti di AS ditemukan 0,3% kejadian. Sekuensing DNA
menunjukkan bahwa sapi jantan heterozigot untuk mutasi translasi terminasi
sebagai penyebab citrullinaemia sapi diamati bahwa frekuensi pembawa
citrullinemia adalah 0,16% teruji pada sapi Holstein Cina (Gholapet al., 2014).
Kelainan genetik bovine citrullinaemia juga ditemukan dibeberapa negara seperti
Australia (Healy at al., 1991), Taiwan (Lin at al., 2001), China (Mei et al., 2009;
Li et al., 2011), Hungary (Fesus et al., 1999) dan India (Kotikalapudi, 2014).

Gambar 2. Citrullinaemia pada sapi Friesians Holstein


Sumber : (Kamaruddin, 2015)

2.1.1 Tipe Aksi Gen

Pada kasus citrullinaemia banyak kasus kesalahan metabolisme saat


lahir lainnya, alel normal dikatakan bersifat dominan terhadap alel cacat, dalam
hal tanda-tanda klinis. Cara lain mengekspresikan ini adalah bahwa alel cacat
bersifat resesif terhadap alel normal, atau bahwa citrullinaemia merupakan
penyakit resesif. Secara lebih umum, alel bersifat resesif untuk sifat apa saja jika
efeknya dalam sifat itu tidak tampak pada heterozigot. Demikian juga, alel
bersifat dominan dalam hal sifat tertentu jika efeknya pada heterozigot sama
dengan efeknya pada homozigot (Nicholas, F.W, 2004).
Dalam hal ini, alel normal dan alel cacat dikatakan bersifat masing-
masing ko-dominan atau dominan tak lengkap, karena heterozigot
menunjukkan efek dari kedua alel tersebut. Istilah resesif, dominan, ko-dominan
dan dominan tak lengkap menerangkan hubungan antar alel, atau tipe aksi gen.

5
Tipe dari aksi gen dapat dibedakan menjadi dua katagori umum yaitu antar alel
pada lokus yang sama (intralokus) dan antar alel pada lokus-lokus yang berbeda
(interlokus) (Nicholas, F.W, 2004).
 Interaksi Intralokus
Terdapat tiga macam interaksi intralokus. Tipe pertama adalah
dominan seperti yang disimpulkan oleh mendel dalam penelitiannya.
Pada tipe dominan, rasio F2 dari dua tetua homozigot adalah 3:1. Tipe
kedua adalah tidak dominan (no-dominance/incomplete dominance).
Pada tipe ini fenotipe dari heterozigot berada di tengah-tengah di antara
kedua tetua. Tipe ketiga adalah overdominance. Pada situasi ini
heterozigot memiliki nilai fenotipe di luar kisaran antara kedua tetua.
(Detikbiologi, 2010).

 Interaksi interlokus
Interaksi interlokus menyebabkan distribusi F2 berubah.
Ekspresi dari alel berubah karena kehadiran atau ketakhadiran alel atau
alel-alel pada lokus yang berbeda. Tipe aksi gen lainnya yang tidak
termasuk epistasis adalah additive gene action. Pada aditif tiap alel pada
satu lokus akan menambah atau mengurangi derajat nilai fenotipe
(Detikbiologi, 2010).

2.1.2 Genotipe dan Fenotipe

Satu segmen DNA yang diturunkan sesuai dengan hukum Mendel


(misalnya gen) disebut lokus (locus, jamak: loci). Informasi genetik pada satu
lokus gen disebut sebagai genotip. Menggunakan simbol D untuk alel normal,
dan d untuk alel cacat, genotipe untuk carrier citrullinaemia adalah Dd,
sedangkan pedet terinfeksi bergenotipe dd (Jameson,J.L. 1998).
Fenotip adalah karakteristik yang dapat dilihat atau diukur pada satu
individu. Dalam kaitannya dengan aktivitas ASS, ada tiga fenotipe berbeda
(aktivitas normal, aktifitas 50%, dan aktivitas nol) yang mencerminkan secara
tepat tiga genotipe tersebut (DD, Dd, dan dd) (Jameson,J.L. 1998).

6
2.2 Pewarisan terbatas pada jenis kelamin (Sex-limited inheritance)

Sebright Bantam dan Golden Campine menemukan dimana ayam jantan


mempunyai tipe tumbuh bulu yang sama seperti ayam betina, dan tidak mengikuti
pola pembuluan yang khas pada ayam jantan pada umumnya. Keanehan ini
dinamakan henny feathering. Itu akibat dari mutasi di dalam gen penyandi
aromatase, yang menyebabkan gen tersebut diekspresikan di dalam kulit baik
pada ayam jantan maupun betina. Pada ayam jantan, ini menjadikan level
estrogen yang sangat tinggi (abnormal), yang selanjutnya menghasilkan henny
feathering. (Nicholas, F.W, 2004).

Gen aromatase bersifat autosom, tetapi bentuk penurunan henny


feathering tidaklah seperti apa yang biasanya terlihat dengan mutasi autosom,
karena fenotipe yang terkait dengan mutasi tersebut (tumbuhnya bulu pada betina
di dalam jantan) dapat dilihat hanya pada ayam jantan. Ini merupakan contoh
tentang keanehan terbatas pada jenis kelamin (sexlimited disorder) (Nicholas,
F.W, 2004).

Gambar 3. henny feathering


Sumber : (http://forum.backyardpoultry.com)

Henny feathering ini menarik untuk tiga hal. Pertama, itu menunjukkan
bahwa tidak semua mutasi menyebabkan hilangnya aktivitas, kedua dalam hal
aktivitas aromatase di dalam kulit, aksi gen bersifat ko-dominan; yaitu
heterozigot mempunyai aktivitas enzim di tengah-tengah antara aktivitas enzim
7
pada kedua homozigot. Akan tetapi, dalam hal ini aktivitas di dalam kulit
homzigot normal adalah nol. Dalam hal tumbuhnya bulu, mutan tersebut bersifat
dominan, karena heterozigot menghasilkan enzim yang cukup di dalam kulit, dan
oleh karenanya juga menghasilkan estrogen yang cukup, untuk menyebabkan
terjadinya henny feathering. Ke tiga, ketika mutasi menimbulkan fenotipe yang
hanya dapat dilihat pada ayam jantan, ekspresi normal gen tersebut hanya dapat
dilihat pada ayam jantan. Jadi, dua alel pada satu lokus menimbulkan dua bentuk
pewarisan yang terbatas pada jenis kelamin (Nicholas, F.W, 2004).

2.3 Heterogenitas Genetika Suatu Penyakit

Heterogenitas genetik adalah perubahan fenotip yang nampaknya mirip


walaupun defek (cacat) terjadi pada gen yang berbeda. Misalnya, heterogenitas
genetik pada penyakit dermatosparaxis atau cutaneous asthenia (Jameson,J.L.
1998).
Ternak yang dilahirkan dengan kondisi kulit yang sangat rapuh
(lemah) dan secara mudah dapat ditarik-ulur, suatu kondisi yang dikenal sebagai
gejala Ehlers-Danlos, dermatosparaxis atau cutaneous asthenia. Pada ternak
yang menderita penyakit ini, terjadi luka goresan yang sangat parah akibat dari
suatu goresan ringan dimana bila itu terjadi pada ternak normal hanya
mengakibatkan luka yang tak berarti. Penyebab gejala klinis yang parah ini
adalah adanya kolagen tipe-I yang tidak normal di dalam kulit. Seperti semua
kolagen, kolagen tipe-I merupakan protein, dan oleh karenanya, mestinya itu
merupakan produk suatu gen. Pada kenyataannya, ini merupakan produk dari dua
gen, karena molekul kolagen tipe-I terdiri atas suatu triple heliks dari dua rantai
alfa-1 (produk dari satu gen) dan satu rantai alfa-2 (produk dari satu gen lainnya).
Sebagai contoh, pada sapi dan domba, mutasi telah terjadi pada satu dari
beberapa gen yang menyandi pembentukan satu dari beberapa rantai pada enzim
PCP-N-I. Hewan yang bersifat homozigot untuk jenis mutasi tersebut mengalami
defisiensi enzim itu, dan akibatnya mengalami perbaikan (buildup) molekul
kolagen yang diproses sebagian, yang masih mempunyai asam-asam amino
tambahan pada ujung-ujung terminal-N-nya. Gejala klinis yang ditimbulkan
adalah kulit yang rapuh dan mudah ditarik-tarik (Nicholas, F.W, 2004).

8
Heterogenitas genetika suatu penyakit tidak terbatas pada situasi
dimana lebih dari satu gen terlibat; itu juga terjadi jika ada dua atau lebih mutasi
yang berbeda pada satu gen. Pada beberapa gen manusia, ratusan mutasi yang
berbeda telah terdeteksi. Tidaklah mengherankan, beberapa mutasi mempunyai
efek klinis yang lebih besar daripada mutasi lainnya; secara rata-rata, misalnya,
mutasi non-sens dan penghilangan (deletion) pada sekuen penyandi menghasilkan
gejala klinis yang lebih serius daripada mutasi mis-sens. Dalam beberapa kasus,
mutasi yang berbeda pada satu gen menimbulkan sesuatu gejala klinis yang
berbeda (Nicholas, F.W, 2004).
Pada ternak, ada sedikit informasi yang dapat dibandingkan. Akan
tetapi, pada beberapa kasus, ada bukti tak langsung bahwa gejala klinis yang
sama pada populasi yang berbeda dalam spesies merupakan akibat dari mutasi
yang berbeda. Pada ayam pedaging, misalnya, kekerdilan (dwarfism) terpaut-
kelamin merupakan akibat dari penghilangan pada gen reseptor hormon
pertumbuhan (growthhormone receptor), tetapi pada ayam petelur dengan
penyakit yang sama, tidak ada bukti adanya penghilangan pada gen itu. Mutasi
pada gen yang berbeda dapat menimbulkan gejala klinis yang persis sama, dan
mutasi yang berbeda pada gen yang sama dapat menimbulkan gejala klinis yang
berbeda (Nicholas, F.W, 2004).

Gambar 4. Dermatosparaxi pada ternak


Sumber : (http://www.scielo.br/scielo.php)

9
2.4 Tipe Aksi Gen dan Tipe Penyakit

Tipe aksi gen merupakan hubungan antar alel yang menunjukkan sifat
alel tersebut resesif, dominan, ko-dominan, atau dominan tak lengkap.
Penyimpangan dalam tipe aksi gen menyebabkan penyakit gen (Nicholas, F.W,
2004). Satu penyakit diturunkan sebagai suatu kondisi yang bersifat resesif
autosom dan terkait dengan defisiensi enzim. Penyakit lainnya diturunkan sebagai
suatu kondisi yang bersifat dominan autosom, dan disebabkan karena mutasi pada
satu dari gen-gen penyandi kolagen tipe-I. Pada umumnya, penyakit resesif
cenderung disebabkan karena defisiensi enzim, sedangkan penyakit dominan atau
ko-dominan lebih disebabkan karena cacat pada polipeptida non-enzim (Nicholas,
F.W, 2004).
Komentar khusus harus dinyatakan berkaitan dengan hal penyakit
terpaut kromosom X, karena ketidakaktifan X secara acak mempunyai implikasi
praktis penting. Pada betina yang bersifat heterozigot untuk penyakit terkait-X,
separuh selnya diharapkan mengekspresikan alel normal, sedangkan separuh
sisanya diharapkan mengekspresikan alel mutan. Jika produk gen secara normal
berfungsi di luar sel, misalnya di darah atau larutan tubuh lainnya, hasilnya sama
seperti pada heterozigot untuk penyakit autosom: produk gen hanya separuh dari
konsentrasi normal. Akan tetapi, jika peranan normal produk gen ada di dalam
sel, semua sel yang hanya mengekspresikan alel mutan mengalami defisiensi
pada produk gen tersebut, dan ternak mungkin menunjukkan beberapa gejala
klinis. Selain itu, karena ketidakaktifan tersebut merupakan proses acak, tidak
semua betina mempunyai separuh dari setiap tipe sel (Nicholas, F.W, 2004).
Pada kenyataannya, berbagai proporsi kandungan dua tipe sel tersebut
dapat saja terjadi, dari betina yang sebagian besar selnya mengandung alel normal
aktif, sampai betina yang sebagian besar selnya mengandung alel mutan aktif.
Akhirnya, walaupun dalam suatu kasus dimana alel mutan bersifat aktif hanya
dalam proporsi kecil sel, jika hanya sel-sel tersebut menjadi tempat gen terpaut-X
ditranskrip dan ditranslasi, betina tersebut mungkin menunjukkan gejala klinis.
Jelaslah, ketidakaktifan X dapat menciptakan komplikasi substansial dalam pola
penurunan untuk penyakit terpaut-X, dan untuk deteksi secara biokimia terhadap
carrier penyakit tersebut (Nicholas, F.W, 2004).

10
2.5 Fenokopi

Fenokopi ialah perubahan fenotip yang tidak hereditas disebabkan oleh


faktor lingkungan. Salah satu contoh fenokopi ditunjukkan pada 𝛼-mannosidosis,
yang merupakan penyakit penyimpanan lisosom pada kucing dan sapi. Lisosom
adalah organel kecil terikat membran yang ditemukan di dalam sitoplasma.
Lisosom merupakan sistem pencernaan sel: mereka mengandung banyak enzim
yang bekerja secara berurutan untuk merusak molekul kompleks menjadi unit
monomer lipida sederhana, asam amino, monosakarida dan nukleotida. Jika
enzim lisosom tidak ada atau tidak aktif, degradasi secara berurutan menjadi
terhenti, dengan dampak terbentuknya penyimpanan material yang secara normal
dirusak oleh enzim itu. Dengan kata lain, kesalahan dini (inborn error)
katabolisme lisosom menghasilkan penyakit penegunah lisosom (lysosomal
storage disease). Untuk kebanyakan penyakit peneguhan lisosom, ternak yang
terinfeksi biasanya dalam keadaan normal pada saat dilahirkan tetapi tidak dapat
tumbuh secepat rekannya yang normal; dalam banyak kasus, ada kemunduran
neurologis, yang disebabkan oleh pembentukan produk penyimpanan di dalam sel
syaraf, yang menghasilkan inkoordinasi dan agresi yang tiba-tiba menyebabkan
kematian, biasanya sebelum dewasa kelamin (Mittal, Ellman,dan Cannon. 2008).
Pada 𝛼-mannosidosis, enzim yang mengalami defisiensi adalah
amannosidase. Dalam banyak kasus, defisiensi ini disebabkan oleh mutasi pada
gen penyandi pembentukan a-mannosidase, dan oleh sebab itu 𝛼-mannosidosis
merupakan penyakit resesif gen tunggal. Tetapi, jika sapi merumput di padang
penggembalaan yang mengandung hijauan Darling Pea (Swainsona spp.),
mereka sering mengalami 𝛼-mannosidosis. Alasan untuk ini adalah bahwa
tanaman pada genus Swainsona menghasilkan trihydroxylated indolizidine
alkaloid yang dinamakan swainsonine, yang menghambat 𝛼-mannosidase
dengan mengikatnya, yang oleh karenanya menghasilkan bentukan persis sama
dengan oligosakarida kaya-mannose yang merupakan karakteristik dari bentuk
penurunan penyakit tersebut (Nicholas, F.W, 2004).

11
Gugusan yang sama juga dihasilkan oleh tanaman pada genus
Astragalus dan Oxytropis. Malahan, tanaman yang termasuk dalam genus ini
dinamakan locoweed, karena gejala klinis yang ditimbulkannya. Oleh karena itu,
fenokopi merupakan penyebab potensial lain dari komplikasi dalam pola
penurunan (Nicholas, F.W, 2004).

Gambar 5. Hijauan Darling Pea (Swainsona spp.)

Sumber : (Glenda, 2014)

12
2.6 Contoh Cacat Gen Tunggal

Jumlah total cacat gen tunggal jauh lebih besar daripada jumlah total
gen: defisiensi pada hampir semua polipeptida tampaknya akan menimbulkan
letal tahap embrio (spontaneous abortion) atau gejala klinis, mutasi yang berbeda
pada gen yang sama dapat menimbulkan gejala klinis yang berbeda. Memang,
mutasi yang menimbulkan letal tahap embrio susah terdeteksi. Pada contoh cacat
gen tunggal ini terdapat 2 macam mutasi yaitu mutasi mis-sense dan mutasi non-
sense (Nicholas, F.W, 2004).

 Mutasi Mis-sense
Mutasi salah arti (mis-sens mutation), yaitu perubahan suatu
kode genetik (umumnya pada posisi 1 dan 2 pada kodon) sehingga
menyebabkan asam amino terkait (pada polipeptida) berubah. Perubahan
pada asam amino dapat menghasilkan fenotip mutan apabila asam amino
yang berubah merupakan asam amino esensial bagi protein tersebut. Jenis
mutasi ini dapat disebabkan oleh peristiwa transisi dan tranversi
(Hendrapalaga, 2010). Contoh penyakit dari mutasi mis-sense yaitu :

 Hemofili B pada anjing


Penyakit ini disebabkan oleh substitusi basa A menjadi G pada
urutan basa ke-1477 pada gen penyandi terbentuknya canine factor
IX, yang menyebabkan substitusi asam glutamat menjadi glisin pada
posisi 379 pada molekul faktor-IX tersebut. Situs ini sangat
terpelihara sepanjang proses evolusi ada glisin yang terdapat pada
posisi ini pada faktor IX dari manusia, babi, dan sapi. Oleh karena
itu, tidaklah mengherankan, substitusi asam amino tunggal ini
merubah struktur tersier molekul faktor-IX, ke suatu tingkat di mana
faktor IX yang berfungsi tidak dapat dideteksi (Nicholas, F.W,
2004).

13
 Bovine Leukocyte Adhesion Deficiency (BLAD)
Bovine leukocyte adhesion deficiency (BLAD) atau sindrom
granulositopati adalah penyakit genetik pada sapi yang disebabkan
oleh kejadian mutasi titik pada ekson 2 gen CD18 sehingga tidak
mengekspresikan molekul heterodimer β2 integrin yang seharusnya
ada di permukaan neutrofil. Pada kondisi homozigot resesif, mutasi
ini menyebabkan letal atau mati dini pada sapi (Farajallah,et al.,
2007).
Defisiensi ini pada sapi bersifat letal atau mati dini karena sel
darah putih tidak mampu menempel pada dinding vaskular.
Kemampuan sel-sel darah putih menempel ke dinding vaskular salah
satunya diatur oleh gen CD18 (Herodita, 2009).
Sapi yang menderita BLAD mudah terinfeksi bakteri seperti
pneumonia, radang gusi, kehilangan gigi, luka lama sembuh,
pertumbuhan terhambatyang ditandaidengan neutrophilia.
Kebanyakan ternak dengan BLAD mati sebelum sempat dilakukan
diagnosis, mungkin sebelum usia satu tahun (Ribeiro,et al., 2000).
Beberapa sapi bertahan selama lebih dari dua tahun. Namun
performansproduksi susu dan reproduksiburuk. Akibatnya, BLAD
merupakan penyakit yang secara ekonomis penting menekankan
perlunya skrining genetik untuk menghilangkan alel mutan
dalampopulasi. Molekuler dasar dari BLAD adalah mutasi
titik(Adenin (A) menjadi Guanin (G))pada nukleutida ke 383 pada
gen CD18 terletak pada kromosom 1 sapi (Meydan,et al., 2010).

Gambar 6. Radang gusi dan hilangannya gigi sapi pada


penyakit BLAD
Sumber : (lib.dr.iastate.edu)
14
 Mutasi Non-sense
Mutasi tanpa arti (nonsense mutation), yaitu perubahan kodon
asam amino tertentu menjadi kodon stop. Hampir semua mutasi tanpa
arti mengarah pada inaktifnya suatu protein sehingga menghasilkan
fenotip (Hendrapalaga, 2010). Contoh penyakit pada mutasi Non-sense
yaitu :

 Pewarisan gondok pada sapi Afrikander dan kambing Dutch


Pada sapi Afrikander, pewarisan gondok akibat dari mutasi
non-sense pada gen tiroglobulin. Gen itu sendiri panjangnya kira-
kira 250 kb, sedangkan mRNA hanya terdiri atas 8.431 basa.
Penyakit ini muncul karena substitusi C menjadi T pada exon 9,
yang merubah triplet CGA (arginin) menjadi TGA (stop). Pada
kambing Dutch, mutasi non-sense pada exon 8 gen tiroglobulin,
yang merubah TAC (tirosin) menjadi TAG (stop), menyebabkan
penyakit yang sama (Nicholas, F.W, 2004).

 Deficiency of uridine monophosphate synthase (DUMPS)


Deficiency of uridine monophosphate synthase (DUMPS)
merupakan kelainan genetik autosomal yang ditandai dengan
kerusakan enzim UMP sintase (Robinson et al. 1983; Shanks et al.
1987; Kuhn & Shanks 1993). Enzim uridin monofosfate (UMP)
sintase berfungsi mengkatalisis biosintesis nukleotida pirimidin pada
mamalia (Suchi et al. 1997). Asam orotik yang berasal dari limbah
metabolisme protein dalam tubuh akan bereaksi dengan 5-
fosforibosil-1-pirofosfat menjadi orotidin-5-monofosfat. Orotidin-5-
monofosfat kemudian mengalami dekarboksilasi membentuk UMP
dengan bantuan enzim UMP sintase. Jika enzim UMP sintase
mengalami kerusakan akan mengakibatkan sintesis pirimidin
terganggu yang menyebabkan kelebihan asam orotik dalam tubuh
(Smith et al. 1985; Evans & Guy 2004).
Kelainan genetik DUMPS pertama kali diumumkan di Amerika
Serikat oleh Holstein Association of Amerika (HAA) pada akhir
15
tahun 1987 (Patel et al. 2006), skreening program diawali dengan
menggunakan uji biokimia berdasarkan pada eritrosit UMP sintase.
Amerika Serikat memulai tes DUMPS pada tahun 1988. Hasil tes
tersebut menunjukkan semua sapi karier berasal dari keturunan sapi
elit Skokie Sensation Nedyang lahir pada tahun 1957. Sejak Januari
1988 Holstein Associationmelakukan tes DUMPS sapi FH di
Amerika utara yang didukung oleh Universitas Illinois. Di negara
Eropa seperti Belanda, Belgia dan Jerman tes tersebut dipercayakan
kepada Universitas Nijmegen (Robinson et al.1993). Enzim UMP
sintase disandikan oleh gen UMPS dengan panjang 1869 pb terdiri
dari enam ekson (No. Acc GenBank NM X65125) (Harlizius et
al.1996). Gen UMPS terdapat pada kromosom 1 (q31-36) (Harlizius
et al.1996). Mutasi titik pada ekson 5 gen UMPS berupa mutasi basa
C menjadi basa T akan membuat kodon premature. Pada kodon
prematur, kodon penyandi arginin berubah menjadi kodon stop
sehingga mekanisme transkripsi normal gen UMP terganggu (Viana
et al.1998).
Pada satu lokus terdapat sepasang alel. Alel tersebut dalam
kondisi berpasangan dapat dijumpai dalam kondisi homozigot
dominan, kondisi heterozigot dan kondisi homozigot resesif.
Dengan demikian, kondisi homozigot dominan mempunyai enzim
UMP sintase normal. Kondisi heterozigot mempunyai enzim UMP
sintase yang bersifat klinikal asimptomatik, yaitu aktifitas UMP
sintase setengah normal pada eritrosit, hati, limpa, ginjal, otot dan
beberapa kelenjar pada mamalia (Shanks & Robinson 1989),
sedangkan kondisi homozigot resesif dicirikan dengan tidak adanya
enzim UMP sintase yang bersifat letal (Shanks et al. 1987).
Penyebaran penyakit kelainan genetik pada populasi sapi perah
di dunia, salah satunya adalah pengaruh dari program inseminasi
buatan. Dalam program untuk meningkatkan produksi dan kualitas
susu diperlukan langkah-langkah deteksi awal terhadap berbagai
karakter yang menganggu produksi dan kualitas susu, misalnya
DUMPS. Kelainan genetik DUMPS dapat dideteksi dengan metode
16
PCR-RFLP (polymerase chain reaction-restriction fragment length
polymorphism). Pada awalnya untuk menguji kualitas susu
dilakukan dengan uji biokimia dari susu yang bisa dilakukan jika
sapi sudah mencapai umur produksi. Sedangkan pada metode PCR-
RFLP tidak perlu menunggu umur produksi karena bisa dilakukan
terhadap sampel sel yang mengandung DNA. Dengan demikian
metode PCR-RFLP bisa mendeteksi kelainan genetik lebih praktis
dan cepat bahkan bisa mendeteksi sumber bibit, misalnya pedet
ataupun pejantan penghasil sperma (Shanks et al. 1987).

17
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kelainan genetik pada cacat akibat gen tunggal berhubungan dengan DNA
yang disebabkan oleh gen-gen dan kromosom yang tidak normal. Ketidaknormalan pada
gen terjadi sebagai akibat dari mutasi atau penambahan/ pengurangan kromosom, yang
dikenal sebagai variasi gen. Beberapa dari kelainan genetis termasuk kelainan gen
tunggal yang dikenal sebagai kelainan Mendelkian atau Monogenik.
Dalam hal ini jumlah total cacat gen tunggal jauh lebih besar daripada jumlah
total gen, defisiensi pada hampir semua polipeptida tampaknya akan gejala klinis, mutasi
yang berbeda pada gen yang sama dapat menimbulkan gejala klinis yang berbeda.
Memang, mutasi yang menimbulkan letal tahap embrio susah terdeteksi. Pada contoh
cacat akibat gen tunggal ini terdapat 2 macam mutasi yaitu mutasi mis-sense dan mutasi
non-sense. Yang terdapat banyak macam contoh penyakit yang ada pada mutasi tersebut.

18
DAFTAR PUSTAKA

Doktermu. (2011). Kelainan Genetik. [online]. Tersedia di : http://doktermu.com/Psikologi/


kelainan-genetik.html . [Diakses 11 Maret 2016]

Lyrawati, D. (2004). DNA Recombination and Genetic Techniques, Transmission of Human


Disease. [online] . Tersedia di : https://lyrawati.files.wordpress.com/2008/12/teknik-
dna-dan-genetik-pada-studi-transmisi-penyakit-genetik.pdf . [Diakses 11 Maret 2016]

Mittal V.A., Ellman L.M., Cannon T.D. (2008). Gene-Environment Interaction and
Covariation in Schizophrenia: The Role of Obstetric Complications. Schizophrenia
Bulletin vol. 34 no. 6 pp. 1083–1094, 2008. Diunduh dari
http://schizophreniabulletin.oxfordjournals.org/ Tanggal 11 Maret 2016

Hendrapalaga. (2010). Mutasi Genetik. [online]. Tersedia di : https://hendrapagala.wordpress.


com /2010/01/21/mutasi-genetik/. [Diakses 11 Maret 2016]

Nurmulyaningsih. (2015). Indentifikasi Alel Pembawa Bovine Leukocyte Adhesion Deficiency


(BLAD) Pada Sapi Perah di Kapubaten Enrekan. Disertasi Doktor pada FAPET
Universitas Hasanudin : tidak diterbitkan

Kusnandar. (2008). Identifikasi Defisiensi Uridin Monofosfat Sintase pada Sapi Friesian-
Holstein. Disertasi Doktor pada FMIPA Institut Pertanian Bogor : tidak diterbitkan

Gholap, P.N, D.S. Kale., and A.R. Sirothia. 2014. Genetic diseases in cattle. Research
Journal of Animal Veterinary and Fishery SciencesUniversity, Nagpur, MS, INDIA .
2(2): 24-33. [Diakses 11 Maret 2016]

Kurniah. (2015). Identifikasi Alel Pembawa Bovine Citrullinaemia (BC) Pada Sapi Perah di
Kabupaten Enrekang. Disertasi Dokter pada Fakultas Peternakan Universitas
Hasanuddin Makasar : Tidak Diterbitkan

Nicholas, F.W. (2004). Pengantar ke Genetika Veteriner. Australia : Oxford Press

Detikbiologi. (2010). Prinsip Genetika. [online]. Tersedia di :


http://detikbiologi.blogspot.co.id/2010/04/prinsip-genetika.html?m=1. [Diakses 11
Maret 2016]

19