Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH PENGOLAHAN LIMBAH

DENGAN ZERO WASTE

DOSEN PENGAMPU:

Happy Mulyani ST.,MT

Disusun Oleh:

Nama: Wahyu Efendi


NIM: 22160299D

UNIVERSITAS SETIA BUDI


SURAKARTA
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun
domestik (rumah tangga), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak
dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi,
limbah ini terdiri dari bahan kimia organik dan anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas
tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi
kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya
keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah.
Karakteristik limbah:
1 Berukuran mikro
2 Dinamis
3 Berdampak luas (penyebarannya)
4 Berdampak jangka panjang (antar generasi)

1.2.RUMUSAN MASALAH
Rumusan makalah yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain tentang :
a. Bagaimana pengolahan atau meminimalisir limbah dengan etode zero waste
1.3.TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah juga
untuk lebih mengetahui tentang cara meminimalisir limbahdi kehidupan kita.
BAB II
PEMBAHASAN

ZERO WASTE

Zero Waste adalah mulai dari produksi sampai berakhirnya suatu proses produksi dapat
dihindari terjadi .produksi sampah. atau diminimalisir terjadinya .sampah. Konsep Zero
Waste ini salah satunya dengan menerapkan prinsip 3 R (Reduce, Reuse, Recycle).

1. Penanganan Sampah Pengertian Zero Waste

3-R, 4-R dan 5-R


Pemikiran konsep zero waste adalah pendekatan serta penerapan sistem dan teknologi
pengolahan sampah perkotaan skala kawasan secara terpadu dengan sasaran untuk melakukan
penanganan sampah perkotaan skala kawasan sehingga dapat mengurangi volume sampah
sesedikit mungkin, serta terciptanya industri kecil daur ulang yang dikelola oleh masyarakat
atau pemerintah daerah setempat.
Konsep zero waste yaitu penerapan rinsip 3R (Reduce, Reuse, dan recycle), serta
prinsip pengolahan sedekat mungkin dengan sumber sampah dengan maksud untuk
mengurangi beban pengangkutan (transport cost). Orientasi penanganan sampah dengan
konsep zero waste diantaranya meliputi :
1. Sistem pengolahan sampah secara terpadu
2. Teknologi pengomposan
3. Daur ulang sampah plastik dan kertas
4. Teknologi pembakaran sampah dan insenator
5. Teknologi pengolahan sampah organik menjadi pakan ternak
6. Teknologi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah
7. Peran serta masyarakat dalam penanganan sampah
8. Pengolahan sampah kota metropolitan
9. Peluang dan tantangan usaha daur ulang.

Produksi bersih merupakan salah satu pendekatan untuk merancang ulang industri yang
bertujuan untuk mencari cara-cara pengurangan produk-produk samping yang berbahaya,
mengurangi polusi secara keseluruhan, dan menciptakan produk-produk dan limbah-
limbahnya yang aman dalam kerangka siklus ekologi. Prinsip ini juga dapat diterapkan pada
berbagai aktivitas termasuk juga kegiatan skala rumah tangga. Prinsip-prinsip yang dapat
diterapkan dalam penangan sampah misalnya dengan menerapkan prinsip 3-R, 4-R atau 5-R.
Penanganan sampah 3-R adalah konsep penanganan sampah dengan cara reduce
(mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle (mendaur-ulang sampah), sedangkan 4-
R ditambah replace (mengganti) mulai dari sumbernya. Prinsip 5-R selain 4 prinsip tersebut
di atas ditambah lagi dengan replant (menanam kembali). Penanganan sampah 4-R sangat
penting untuk dilaksanakan dalam rangka pengelolaan sampah padat perkotaan yang efisien
dan efektif, sehingga diharapkan dapat mengrangi biaya pengelolaan sampah.
Prinsip reduce dilakukan dengan cara sebisa mungkin lakukan minimisasi barang atau
material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak
sampah yang dihasilkan.
Prinsip reuse dilakukan dengan cara sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa
dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang sekali pakai. Hal ini dapat
memeperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.
Prinsip recycle dilakukan dengan cara sebisa mungkin, barang-barang yang sudah tidak
berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah
banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi
barang lain.
Prinsip replace dilakukan dengan cara teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah
barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Juga
teliti agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, ganti
kantong keresek kita dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan Styrofoam
karena kedua bahan ini tidak bisa diurai secara alami.
Prinsip replant dapat dilakukan dengan cara membuat hijau lingkungan sekitar baik
lingkungan rumah, perkantoran, pertokoan, lahan kosong dan lain-lain. Penanaman kembali
ini sebagian menggunakan barang atau bahan yang diolah dari sampah.

Tabel 1. Upaya 5-R di Daerah Perumahan dan Fasilitas Sosial


Penanganan 5-R Cara Pengerjaannya
Reduce - Hindari pemakaian dan pembelian produk yang menghasilkan
sampah dalam jumlah besar.
- Gunakan produk yang dapat diisi ulang.
- Kurangi penggunaan bahan sekali pakai
- Jual atau berikan sampah yang telah terpisah kepada pihak yang
memerlukan.
Reuse - Gunakan kembali wadah/kemasan untuk fungsi yang sama atau
fungsi lainnya.
- Gunakan wadah/kantong yang dapat digunakan berulang-ulang.
- Gunakan baterai yang dapat diisi kembali.
- Kembangkan manfaat lain dari sampah.
Recycle - Pilih produk dan kemasan yang dapat didaur-ulang dan mudah
terurai.
- Lakukan penangan untuk sampah organic menjadi kompos dengan
berbagai cara yang telah ada atau manfaatkan sesuai dengan
kreatifitas masing-masing.
- Lakukan penanganan sampah anorganik menjadi barang yang
bermanfaat.
Replace - Ganti barang-barang yang kurang ramah lingkungan dengan yang
ramah lingkungan.
- Ganti pembungkus plastik dengan pembungkus yang lebih
bersahabat dengan lingkungan.
- Gantilah barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan
barang yang lebih tahan lama.
Replant - Buat hijau dan teduh lingkungan anda, dan gunakan bahan/barang
yang dibuat dari sampah.
Tabel 2. Upaya 5-R di Daerah Fasilitas Umum
Penanganan 5-R Cara Pengerjaannya
Reduce - Gunakan kedua sisi kertas untuk penulisan dan fotokopi.
- Gunakan alat tulis yang dapat diisi kembali.
- Sediakan jaringan informasi dengan computer.
- Maksimumkan penggunaan alat-alat penyimpan elektronik yang
dapat dihapus dan ditulis kembali.
- Khusus untuk rumah sakit, gunakan incinerator untuk sampah
medis.
- Gunakan produk yang dapat diisi ulang.
- Kurangi penggunaan bahan sekali pakai.
Reuse - Gunakan alat kantor yang dapat digunakan berulang-ulang.
- Gunakan peralatan penyimpan elektronik yang dapat dihapus dan
ditulis kembali.
Recycle - Olah sampah kertas menjadi kertas kembali.
- Olah sampah organic menjadi kompos.
Replace - Gantilah barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan
barang yang lebih tahan lama.

Replant - Buat hijau dan teduh lingkungan anda, dan gunakan bahan/barang
yang dibuat dari sampah.

Tabel 3. Upaya 5-R di Daerah Komersial (Pasar, Pertkoan, Restoran, Hotel)


Penanganan 5-R Cara Pengerjaannya
Reduce - Berikan insentif oleh produsen bagi pembeli yang mengembalikan
kemasan yang dapat digunakan kembali.
- Berikan tambahan biaya bagi pembeli yang meminta
kemasan/bungkusan untuk produk yang dibelinya.
- Memberikan kemasan/bungkusan hanya pada produk yang benar-
benar memerlukan.
- Sediakan produk yang kemasannya tidak menghasilkan sampah
dalam jumlah besar.
- Kenakan biaya tambahan untuk permintaan kantong plastic
belanjaan.
- Jual atau berikan sampah yang telah terpilah kepada yang
memerlukannya.
Reuse - Gunakan kembali sampah yang masih dapat dimanfaatkan untuk
produk lain, seperti pakan ternak.
- Berikan insentif bagi konsumen yang membawa wadah sendiri,
atau wadah belanjaan yang diproduksi oleh swalayan yang
bersangkutan sebagai bukti pelanggan setia.
- Sediakan perlengkapan untuk pengisian kembali produk umum isi
ulang.
Recycle - Jual produk-produk hasil daur ulang sampah dengan lebih menarik.
- Berilah insentif kepada masyarakat yang membeli barang hasil
daur ulang sampah.
- Oleh kembali buangan dari proses yang dilakukan sehingga
bermanfaat bagi proses lainnya.
- Lakukan penanganan sampah organic menjadi kompos atau
memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan.
- Lakukan penanganan sampah anorganik.
Replace - Ganti barang-barang yang kurang ramah lingkungan dengan yang
ramah lingkungan.
- Ganti pembungkus plastik dengan pembungkus yang lebih
bersahabat dengan lingkungan.
Replant - Buat hijau dan teduh lingkungan anda, dan gunakan bahan/barang
yang dibuat dari sampah.

2 Pemilahan Sampah
Berdasarkan uraian tentang 3-R, 4-R atau 5-R tersebut, maka pemilahan sampah menjadi
sangat penting artinya. Adalah tidak efisien jika pemilahan dilakukan di TPA, karena ini akan
memerlukan sarana dan prasarana yang mahal. Oleh sebab itu, pemilahan harus dilakukan di
sumber sampah seperti perumahan, sekolah, kantor, puskesmas, rumah sakit, pasar, terminal
dan tempat-tempat dimana manusia beraktivitas. Mengapa perlu pemilahan? Sesungguhnya
kunci keberhasilan program daur ulang adalah justru di pemilahan awal. Pemilahan berarti
upaya untuk memisahkan sekumpulan dari “sesuatu” yang sifatnya heterogen menurut jenis
atau kelompoknya sehingga menjadi beberapa golongan yang sifatnya homogen. Manajemen
Pemilahan Sampah dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan penanganan sampah sejak
dari sumbernya dengan memanfaatkan penggunaan sumber daya secara efektif yang diawali
dari pewadahan, pengumpulanan, pengangkutan, pengolahan, hingga pembuangan, melalui
pengendalian pengelolaan organisasi yang berwawasan lingkungan, sehingga dapat mencapai
tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan yaitu.lingkungan bebas sampah.
Pada setiap tempat aktivitas dapat disediakan empat buah tempat sampah yang diberi
kode, yaitu satu tempat sampah untuk sampah yang bisa diurai oleh mikrobia (sampah
organik), satu tempat sampah untuk sampah plastik atau yang sejenis, satu tempat sampah
untuk kaleng, dan satu tempat sampah untuk botol. Malah bisa jadi menjadi lima tempat
sampah, jika kertas dipisah tersendiri. Untuk sampah-sampah B3 tentunya memerlukan
penanganan tersendiri. Sampah jenis ini tidak boleh sampai ke TPA. Sementara sampah-
sampah elektronik (seperti kulkas, radio, TV), keramik, furniture dll. ditangani secara
tersendiri pula. Jadwal pengangkutan sampah jenis ini perlu diatur, misalnya pembuangan
sampah-sampah tersebut ditentukan setiap 3 bulan sekali.
Di Australia, misalnya, sistem pengelolaan sampah juga menerapkan model pemilahan
antara sampah organik dan sampah anorganik. Setiap rumah tangga memiliki tiga keranjang
sampah untuk tiga jenis sampah yang berbeda. Satu untuk sampah kering (an-organik), satu
untuk bekas makanan, dan satu lagi untuk sisa-sisa tanaman/rumput. Ketiga jenis sampah itu
akan diangkut oleh tiga truk berbeda yang memiliki jadwal berbeda pula. Setiap truk hanya
akan mengambil jenis sampah yang menjadi tugasnya. Sehingga pemilahan sampah tidak
berhenti pada level rumah tangga saja, tapi terus berlanjut pada rantai berikutnya, bahkan
sampai pada TPA.
Nah, sampah-sampah yang telah dipilah inilah yang kemudian dapat didaur ulang menjadi
barang-barang yang berguna. Jika pada setiap tempat aktivitas melakukan pemilahan, maka
pengangkutan sampah menjadi lebih teratur. Dinas kebersihan tinggal mengangkutnya setiap
hari dan tidak lagi kesulitan untuk memilahnya. Pemerintah Daerah bekerjasama dengan
swasta dapat memproses sampah-sampah tersebut menjadi barang yang berguna. Dengan
cara ini, maka volume sampah yang sampai ke TPA dapat dikurangi sebanyak mungkin.

3 Tempat Pembuangan Akhir (TPA)


TPA tipe open dumping sudah tidak tepat untuk menuju Indonesia sehat. Oleh sebab itu,
secara bertahap semua Kota dan Kabupaten harus segera mengubah TPA tipe open dumping
menjadi sanitary landfill. Dianjurkan untuk membuat TPA yang memenuhi kriteria minimum,
seperti adanya zona, blok dan sel, alat berat yang cukup, garasi alat berat, tempat pencucian
alat berat, penjaga, truk, pengolahan sampah, dan persyaratan lainnya.

Penerapan Zero Waste di SMAN 9

Surabaya- Pengolahan sampah telah dilakukan dengan serius di SMA Negeri 9, satu diantara
15 SMA/SMK terbaik Surabaya Eco School 2012. Pengolahan sampah yang dilakukan
diantaranya dengan memilah sampah menjadi tiga jenis, yaitu sampah kertas, sampah plastik
dan sampah organik. “Nyaris tidak ada sampah yang dibuang ke luar sekolah. Semuanya
termanfaatkan dan diolah lebih lanjut,” ujar Kepala SMA Negeri 9 Surabaya Hari Sutanto
kepada Tunas Hijau saat pemantauan Surabaya Eco School, Jumat (30/11).

Kepala SMAN 9
Surabaya Hari
Sutanto menunjukkan kompos dalam kemasan yang diproduksi warga sekolahnya.

Sampah organik khususnya sampah daun yang dihasilkan diolah menjadi kompos. “Kami
mengoperasikan mesin pencacah sampah daun ini tiga kali dalam seminggu Pengoperasian
mesin pencacah dilakukan setiap dua hari sekali,” terang Hari Sutanto sambil menunjukkan
cara kerja mesin pencacah. Volume sampah organik yang dihancurkan dengan mesin
pencacah itu sebanyak dua karung besar.

Pengolahan sampah organik menjadi kompos di SMAN 9 bahkan telah membuahkan hasil
berupa kompos yang dijual kepada warga sekolah. Sebagian kompos yang dihasilkan juga
digunakan untuk pemupukan tanaman yang ada di sekolah. “Satu kantong plastik kompos ini
dijual dengan harga tiga ribu rupiah,” kata Hari Sutanto.

Pengomposan sampah organik juga dilakukan dengan menggunakan lubang resapan biopori
yang banyak dibuat di hutan sekolah. Mengenai lubang resapan ini, Tunas Hijau
menyarankan agar jarak antar lubang dibuat dengan kerapatan maksimal 1 meter. “Keindahan
dan safety juga perlu diperhatikan dalam pembuatan lubang resapan biopori. Jangan sampai
ada pipa yang keluar dari permukaan tanah seperti ini,” saran aktivis senior Tunas Hijau
Mochamad Zamroni kepada kepala SMAN 9.

Lebih lanjut, Zamroni menyarankan agar lubang resapan biopori diprioritaskan dibuat di
saluran khusus air hujan yang ada di sekolah. “Tujuannya, sebanyak mungkin air hujan
ditangkap dan diresapkan ke dalam tanah. Sehingga kemungkinan banjir bisa diminimalkan,”
terang Zamroni sambil menunjukkan saluran air yang bisa dibuat lubang resapan. “Semua
kelas bisa dilibatkan dengan masing-masing kelas membuat 5 lubang. Tunas Hijau bisa
meminjami banyak bor untuk merealisasikannya,” kata Zamroni.

Sementara itu, sampah plastik yang dihasilkan di sekolah selama ini telah diolah lebih lanjut
melalui program bank sampah dan didaur ulang menjadi kerajinan. “Biasanya penjualan
sampah plastik kepada bank sampah dilakukan setiap bulan sekali,” terang Hari Sutanto.
Sedangkan sampah kertas sebagian dijual melalui bank sampah dan sebagian didaur ulang.

Surabaya Eco School 2012 adalah program lingkungan hidup berkelanjutan untuk sekolah-
sekolah di Surabaya dengan tema Wujudkan Pola Hidup Ekonomi Hijau Sekolah. Program
yang memadukan kompetisi dan pembinaan ini diselenggarakan oleh Tunas Hijau,
Pemerintah Kota Surabaya dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Surabaya Eco
School didukung oleh PT. Dharma Lautan Utama dan PPS Teflon Paint Protection.

TEKNOLOGI RAMAH LINGKUNGAN

A. Prinsip Dasar Industri Ramah Lingkungan

Ramah lingkungan pada dasarnya adalah penerapan konsep “zero waste”, pada
pelaksanaanya industri ramah lingkungan diharapkan dalam proses industri melakukan
strategi mencegah, mengurangi dan menghilangkan terbentuknya limbah sebagai bahan
pencemar lingkungan. Hal tersebut dapat berjalan bila dalam aktivitasnya telah dirancang
mulai dari bahan baku, teknologi proses sampai akhir kegiatan adalah ramah lingkungan.
Untuk mendukung terlaksananya strategi tersebut diperlukan suatu perubahan yang mendasar
dalam hal komitmen serta perilaku pimpinan dan karyawan, penyediaan sarana dan prasarana
penunjang dan peningkatan kompetensi SDM. Industri yang menerapkan strategi ramah
lingkungan mempunyai tujuan:

1. menciptakan produk yang sehat, aman dan berkualitas,


2. meminimalkan potensi kontaminasi bahan-bahan yang beracun atau berbahaya pada
produk,

3. melindungi kesehatan dan keselamatan pekerja

4. meminimalkan terbentuknya limbah baik dalam jumlah dan toksisitasnya.

Untuk mencapai kondisi yang ramah lingkungan dalam suatu industry dapat diterapkan 6
(enam) prinsip dasar yaitu Refine, Reduce, Reuse, Recycle, Recovery dan Retrieve Energy.
Model industri yang menerapkan 6 prinsip tersebut dapat berupa nir limbah (zero waste),
produksi bersih (cleaner production), produktivitas hijau (green productivity) atau perusahaan
hijau (greencompany). Model-model tersebut berupaya untuk meningkatkan produktivitas,
menjaga keberlanjutan produksi dengan tetap memelihara kelestarian lingkungan dan
kesehatan serta keselamatan pekerja.

1. Refine, adalah penggunaan bahan atau proses yang lebih ramah

lingkungan dibandingkan dengan bahan atau proses yangada saat ini.

2. Reduce, adalah pengurangan jumlah limbah atau kehilangan bahan

dengan optimalisasi proses atau operasional menghasilkan limbah

yang mengalami pemborosan. Contoh: mengganti keran atau pipa

bocor, memasang alat penangkap ceceran/lelehan.

3. Reuse, adalah pemakaian kembali bahan-bahan atau limbah pada

proses yang berbeda.

4. Recycle, adalah penggunaan kembali bahan-bahan atau sumberdaya

untuk proses yang sama.

5. Recovery, adalah kegiatan pengambilan kembali sebagianmaterial

penting dari aliran limbah untuk pemanfaatan ulang dalam proses

atau dimanfaatkan untuk proses atau keperluan lain.

6. Retrieve Energy, adalah pemanfaatan limbah untuk digunakan

sebagai bahan bakar atau dalam arti yang luas adalah penghematan

energi dalam proses produksi.

B. Manfaat Penerapan Strategi Ramah Lingkungan

Beragam manfaat dapat diperoleh perusahaan dengan menerapkan strategi ramah lingkungan.
Beberapa manfaat tersebut diantaranya adalah:
1. Sebagai pedoman bagi perbaikan produk dan proses produksi.

2. Efektif dan efisien dalam penggunaan sumberdaya alam dan

energi.

3. Mengurangi atau mencegah terbentuknya bahan pencemar atau limbah.

4. Mencegah berpindahnya pencemar dari satu media lingkungan ke

media lingkungan lain.

5. Mengurangi resiko terhadap kesehatan dan lingkungan.

6. Mendorong pengembangan teknologi pengurangan limbah pada

sumbernya, teknologi bersih dan produk akrab lingkungan.

7. Menghindari biaya clean-up.

8. Meningkatkan daya saing produk di pasar internasional melalui

penggunaan teknologi baru dan/atau perbaikan teknologi.

9. Kerjasama yang lebih erat antara pemerintah, agro-industri dan

masyarakat.

10. Pengurangan biaya yang tinggi karena penerapan sistem

pengelolaan limbah ujung pipa (end off pipe treatment).

C. Penerapan Teknik Ramah Lingkungan

Penerapan teknik ramah lingkungan pada industri dapat dimulai dengan hal-hal yang mudah
dan tidak memerlukan biaya investasi dan secara bertahap dikembangkan sesuai dengan
kesiapan perusahaan. Secara garis besar, pilihan penerapan industri ramah lingkungan dapat
dikelompokkan dalam 5 (lima) bagian yaitu:

1. Perubahan bahan baku

1.1. Mengurangi atau menghilangkan bahan baku yang mengandung

bahan berbahaya dan beracun seperti logam berat, zat pewarna,

pelarut.

1.2. Menggunakan bahan baku yang berkualitas dan murni untuk

menghindari kontaminasi dalam proses produksi.

1.3. Menggunakan bahan-bahan daur ulang untuk menciptakan pasar


bagi bahan-bahan daur ulang.

2. Tata cara operasi dan housekeeping

2.1. Tindakan pencegahan kehilangan bahan baku, produk ataupun

energi dari pemborosan, kebocoran dan tercecer dengan cara

memasang bendungan/dike untuk menampung tumpahan dari

tangki, memasang safety valve, perancangan tangki yang sesuai

dan mendeteksi kebocoran.

2.2. Penanganan bahan untuk mengurangi kehilangan bahan akibat

kesalahan penanganan seperti bahan telah kadaluarsa.

2.3. Penjadwalan produksi dapat membantu mencegah pemborosan

energi, bahan dan air.

2.4. Melakukan koordinasi pengelolaan limbah.

2.5. Memisahkan atau segregasi limbah menurut jenisnya untuk

memudahkan pengelolaan kerugian akibat kerusakan peralatan

dan mesin.

2.6. Mengembangkan tata cara penanganan dan inventarisasi bahan

baku, energi, air, produk dan peralatan.

3. Penggunaan kembali

3.1. Menggunakan kembali sisa air proses, air pendingin, dan bahan

lainnya di dalam atau di luar sistem produksi.

3.2. Mengambil kembali bahan buangan sebagai energi.

3.3. Menciptakan kegunaan limbah sebagai produk lain yang dapat

dimanfaatkan oleh pihak luar.

4. Perubahan teknologi

4.1. Merubah peralatan, tata letak dan perpipaan untuk memperbaiki

aliran proses produksi dan meningkatkan efisiensi.

4.2. Memperbaiki kondisi proses seperti suhu, waktu tinggal, laju aliran,
dan tekanan sehingga meningkatkan kualitas produk dan

mengurangi jumlah limbah.

4.3. Menghindari penggunaan bahan-bahan B3 (bahan beracun dan

berbahaya).

4.4. Menggunakan atau mengatur peralatan seperti motor dan pompa

yang lebih hemat energi.

4.5. Menerapkan sistem otomatisasi dapat menghasilkan perbaikan

monitoring dan pengaturan parameter operasi untuk menjamin

tingkat efisiensi yang tinggi.

5. Perubahan produk

5.1. Merubah formulasi produk untuk mengurangi dampak kesehatan

bagi konsumen.

5.2. Merubah bahan pengemasan untuk mengurangi dampak

lingkungan.

5.3. Mengurangi kemasan yang tidak perlu.

BEBERAPA TEKNOLOGI RAMAH LINGKUNGAN DI INDONESIA

1. Biogas adalah gas mudah terbakar (flammable) yang dihasilkan dari proses fermentasi
bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi kedap
udara). Pada umumnya semua jenis bahan organik bisa diproses untuk menghasilkan biogas,
namun demikian hanya bahan organik (padat, cair) homogen seperti kotoran dan urine (air
kencing) hewan ternak yang cocok untuk sistem biogas sederhana. Disamping itu juga sangat
mungkin menyatukan saluran pembuangan di kamar mandi atau WC ke dalam sistem Biogas.
Di daerah yang banyak industri pemrosesan makanan antara lain tahu, tempe, ikan pindang
atau brem bisa menyatukan saluran limbahnya kedalam system Biogas, sehingga limbah
industri tersebut tidak mencemari lingkungan di sekitarnya. Hal ini memungkinkan karena
limbah industri tersebut di atas berasal dari bahan organik yang homogen. Jenis bahan
organik yang diproses sangat mempengaruhi produktifitas sistem biogas disamping
parameter-parameter lain seperti temperatur digester, pH, tekanan dan kelembaban udara.
Salah satu cara menentukan bahan organik yang sesuai untuk menjadi bahan masukan sistem
Biogas adalah dengan mengetahui perbandingan Karbon (C) dan Nitrogen (N) atau disebut
rasio C/N.

2. Biopori atau yang biasa disebut dengan Teknologi Lubang Resapan Biopori merupakan
metode alternatif untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah, selain dengan sumur resapan.
Pemanfaatan Biopori ini akan membuat keseimbangan alam terjaga, sampah organik yang
sering menimbulkan bau tak sedap dapat tertangani, disamping itu juga dapat menyimpan air
untuk musim kemarau. Selain itu kelebihan dari Biopori ini adalah memperkaya kandungan
air hujan, karena setelah diresapkan kedalam tanah lewat Biopori yang mengandung lumpur
dan bakteri, air akan melarutkan dan mengandung mineral mineral yang diperlukan oleh
kehidupan. Adapun tujuan Lubang Resapan Biopori (LRB) ini adalah agar air masuk
sebanyak mungkin kedalam tanah.Kelebihan LRB lainnya adalah selain sederhana, alat ini
sangat mudah digunakan oleh kaum perempuan.

Selain itu 10 manfaat dari LRB ini antara lain adalah memelihara cacing tanah; mencegah
terjadinya keamblesan (subsidence) dan keretakan tanah; menghambat intrusi air laut;
mengu-bah sampah organik menjadi kompos; meningkatkan kesuburan tanah; menjaga
keanekaragaman hayati dalam tanah; mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh adanya
genangan air seperti Demam Berdarah, Malaria, Kaki Gajah, (mengurangi masalah
pembuangan sampah yang mengakibatkan pencemaran udara dan perairan); mengurangi
emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan); serta mengurangi banjir, longsor dan kekeringan.

3. Energi alternatif biofuel yang dapat diperbarui dapat memperkuat ketersediaan bahan
bakar. Karenanya untuk mengembangkan bahan bakar tipe ini perlu kerja sama yang
harmonis dari semua pihak, termasuk pemerintah, industri otomotif dan swasta. Ada dua
macam jenis biofuel yang bisa dikembangkan yaitu, etanol dan biodiesel. Etanol berasal dari
alkohol yang strukturnya sama dengan bir atau minuman anggur. Untuk membuat alkohol
dilakukan melalui proses fermentasi dari bahan baku tumbuhan yang mengandung
karbohidrat tinggi, seperti ketela pohon. Etanol dipergunakan untuk menggerakkan mesin
berbahan bakar bensin.Khusus untuk mesin diesel, bias mempergunakan bahan bakar jenis
biodiesel. Diproduksi dari dari senyawa kimia bernama alkil ester yang bisa diperoleh dari
lemak nabati. Bahan ester ini memiliki komposisi yang sama dengan bahan bakar diesel
solar, bahkan lebih baik nilai C-etananya dibandingkan solar. Sebagai bahan bakar cair,
biodiesel sangat mudah digunakan dan dapat langsung dimasukkan ke dalam mesin diesel
tanpa perlu memodifikasi mesin. Selain itu, dapat dicampur dengan solar untuk menghasilkan
campuran biodiesel yang memiliki C-etana lebih tinggi. Biodieselpun sudah terbukti ramah
lingkungan karena tidak mengandung sulfur. Menggunakan biodiesel dapat menjadi solusi
bagi Negara Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada impor

bahan bakar solar sebesar 39,7%.

4. Fenomena alam sering menjadi inspirasi bagi peneliti untuk menciptakan teknologi ramah
lingkungan. Biopulping adalah salah satunya yang meniru proses mikroorganisme pada
proses pelapukan untuk digunakan dalam tingkat industri. Alam sering memberi ide
cemerlang bagi hidup manusia dari proses pelapukan kayu, ranting, daun atau lainnya. Saat
bahan-bahan itu melebur, terjadi pembusukan yang membuatnya hancur bersama alam. Tak
ada sampah atau limbah. Bila ditelaah lebih detail, proses tersebut dimotori oleh
mikroorganisme. Mikroorganisma yang terdiri atas sejumlah mikroba membantu proses
pelapukan sehingga sampah alam itu terurai, kembali menjadi tanah berupa humus. Hasil
kerja mikroorganisma yang sempurna tak menghasilkan polusi tersebut memberi inspirasi
pada para ilmuwan kita untuk memanfaatkannya dalam sektor industri. Industri kertas dan
pulp terkenal dengan limbahnya yang sulit diatasi. Limbah ini berasal dari bahan kimia
seperti soda api, sulfit dan garam sulfida dalam proses penghilangan kandungan lignin. Bahan
kimia inilah yang dianggap sebagai sumber pencemaran lingkungan.

Proses penggunaan sulfur mencemari udara dan sudah dilarang di sejumlah negara maju
seperti Jerman. Pengolahan pulp yang ideal adalah biopulping, yakni mengolah pulp dengan
menggunakan bantuan mikroba.

BAB III

KESIMPULAN

Prinsip dasar penerapan teknologi ramah lingkungan adalah strategi mencegah, mengurangi
dan menghilangkan terbentuknya limbah sebagai bahan pencemar lingkungan. Beberapa
model industry seperti; nir limbah (zero waste), produksi bersih (cleaner production),
produktivitas hijau (green productivity) atau perusahaan hijau (green company) menerapkan
6 (enam) prinsip dasar teknologi ramah lingkungan yaitu

Refine, Reduce, Reuse, Recycle, Recovery dan Retrieve Energy berupaya untuk
meningkatkan produktivitas, menjaga keberlanjutan produksi dengan tetap memelihara
kelestarian lingkungan dan kesehatan serta keselamatan pekerja.

Manfaat lain penerapan teknologi ramah lingkungan adalah diperoleh keuntungan secara
ekonomis, misal biaya mencegah terbentuk limbah lebih ringan dibandingkan beban
pengolahan limbah. Di Indonesia sebenarnya banyak contoh penerapan teknologi ramah
lingkungan tetapi belum luas, sehingga pencemaran lingkungan masih lebih dominant
beredar.

DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/19534777/Pengolahan_limbah

https://plus.google.com/114318324787521505595/posts/jKnYjpc7Sqg

https://www.academia.edu/31497816/Zero_Waste_Agro-_chemical_industry

https://www.academia.edu/9626570/A_comprehensive_review_of_the_development_of_zero
_waste_management_Lessons_learned_and_guidelines