Anda di halaman 1dari 28

Bagian Obstetri dan Ginekologi Laporan Kasus

Abortus Inkomplit pada Pasien dengan


Ventricular Septal Defect

Disusun Oleh :

Windy Christine Sesa, S.Ked

N 111 16 081

Pembimbing Klinik :

dr. Syahrir`, Sp.OG

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS TADULAKO

PALU

2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

Setiap tahunnya di Indonesia, berjuta-juta perempuan mengalami


kehamilan yang tidak direncanakan, dan sebagian besar dari perempuan tersebut
memilih untuk mengakhiri kehamilan mereka, walaupun dalam kenyataannya
aborsi secara umum adalah ilegal. Seperti di negara – negara berkembang lainnya
dimana terdapat stigma dan pembatasan yang ketat terhadap aborsi, perempuan
Indonesia sering kali mencari bantuan untuk aborsi melalui tenaga – tenaga non
medis yang menggunakan cara – cara antara lain dengan meminum ramuan –
ramuan yang berbahaya dan melakukan pemijatan pengguguran kandungan yang
membahayakan.
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan adalah kehamilan kurang dari 20
minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Angka kejadian abortus sukar
ditentukan karena banyak kasus abortus provokatus tidak dilaporkan, kecuali bila
sudah terjadi komplikasi. Abortus spontan dan tidak jelas umur kehamilannya
hanya sedikit memberikan gejala atau tanda sehingga biasanya ibu tidak melapor
atau berobat. Sebagian besar kegagalan kehamilan ini disebabkan oleh kegagalan
gamet (misalnya sperma dan disfungsi oosit).
Di Indonesia saat ini hukum tentang aborsi didasarkan pada hukum
kesehatan tahun 1992. Walaupun bahasa yang digunakan untuk aborsi adalah
samar – samar, secara umum hukum tersebut mengizinkan aborsi bila perempuan
yang akan melakukan aborsi mempunyai surat dokter yang mengatakan bahwa
kehamilannya membahayakan kehidupannya, surat dari suami atau anggota
keluarga yang mengijinkan pengguguran kandungannya, test laboratorium yang
menyatakan perempuan tersebut positif dan pernyataan yang menjamin bahwa
setelah melakukan aborsi perempuan tersebut akan menggunakan kontrasepsi.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup di luar kandungan. Sebagai batasan adalah kehamilan kurang dari
20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.

B. EPIDEMIOLOGI
Insidensi dari aborsi bervariasi tergantung dari variabel yang digunakan
untuk menentukan status aborsi dari suatu kehamilan. Menurut penelitian yang
dilakukan Aan Guttmacher Institute, angka kejadian aborsi di Amerika Serikat
adalah 1.287.000 kasus pada tahun 2003 dengan rasio 20.8 per 1000 kelahiran
pada wanita usia produktif (15 – 49 tahun). Di Indonesia sendiri, sebuah
penelitian menunjukkan angka kejadian aborsi sebesar 2.000.000 kasus pada
tahun 2000 dengan rasio 37 per 1000 kelahiran pada wanita usia produktif (15
– 49 tahun). Penelitian ini dilakukan pada fasilitas kesehatan dari 6 wilayah.
Dari penelitian yang telah dilakukan, terbukti sebagian besar perempuan yang
melakukan aborsi memiliki profil khusus yaitu mereka yang cenderung sudah
menikah dan hampir dua pertiga sudah pernah duduk di bangku Sekolah
Menengah Atas. Hal ini bertentangan dengan kenyataan bahwa hanya 38%
dari perempuan pernah kawin yang pernah duduk di bangku Sekolah
Menengah Atas. Selanjutnya ditemukan bahwa hampir setiap klien yang
melakukan aborsi berusia lebih dari 20 tahun (58% berusia lebih dari 30
tahun). Dan hampir separuh dari perempuan – perempuan tersebut sudah
memiliki paling sedikit dua anak. Hampir sebagian besar dari mereka yang
melakukan praktek aborsi mengaku karena sudah tidak ingin memiliki anak
lagi.

3
C. ETIOLOGI
Aborsi memiliki banyak faktor penyebab, tetapi beberapa studi
menunjukkan 60% disebabkan oleh kelainan kromosom. Berikut adalah
penyebab yang umum didapatkan dalam kasus aborsi :
1. Faktor janin
a. Aborsi aneuploidi
95% dari kelainan kromosom yang berkaitan dengan aborsi disebabkan
oleh kesalahan gametogenesis. Trisomi autosomal paling sering
ditemukan berkaitan dengan kelainan kromosom pada aborsi pada
trimester pertama. Sedangkan monosomi X adalah kelainan kromosom
tunggal spesifik yang paling sering ditemukan.
b. Aborsi euploidi
Janin dengan kromosom normal cenderung untuk aborsi lebih jauh di
kemudian hari dibandingkan dengan aborsi aneuploidi. Angka kejadian
dari aborsi euploidi berkurang dramatis setelah umur ibu lebih dari 35
tahun.

2. Faktor ibu
a. Infeksi
Infeksi tidak umum menyebabkan aborsi. Studi yang dilakukan
Simpson dan teman – teman (1996) tidak menemukan bukti aborsi
akibat infeksi. Studi lain yang dilakukan Oakshet dan teman – teman
(2002) menunjukkan hubungan antara aborsi pada trimester kedua
dengan bakterial vaginosis.
b. Hipotiroid
Defisiensi tiroid yang berat mungkin berkaitan dengan aborsi. Efek
dari hipotiroid sendiri terhadap aborsi belum banyak diteliti namun
peningkatan autoantibodi terhadap tiroid berkaitan dengan peningkatan
angka kejadian dari aborsi.

4
c. Diabetes mellitus
Kadar gula darah yang tidak terkontrol meningkatkan angka kejadian
aborsi.
d. Merokok
Kebiasaan merokok berkaitan dengan meningkatnya resiko dari aborsi
euploidi. Resiko ini meningkat sesuai dengan peningkatan frekuensi
dan dosis dari merokok itu sendiri.
e. Alkohol
Konsumsi alkohol pada 8 minggu pertama kehamilan berkaitan erat
dengan peningkatan angka kejadian aborsi.
f. Kafein
Peningkatan resiko aborsi baru terjadi pada mereka yang
mengkonsumsi kafein lebih dari 500 mg per hari.
g. Defek uterus
Resiko aborsi meningkat pada sindrom Asherman.
h. Servik inkompeten
Servik inkompeten adalah terjadinya dilatasi servik yang tidak sakit
pada trimester kedua. Kejadian tersebut bisa diikuti oleh prolap dan
penggembungan dari membran ke vagina sehingga terjadi ekspulsi dari
janin prematur.

D. KLASIFIKASI
Secara umum, aborsi dibagi menjadi :
1. Abortus spontan
a. Abortus yang mengancam (iminens)
Ditandai oleh terjadinya perdarahan pada awal kehamilan yang tidak
disertai dengan dilatasi servix dan pengeluaran janin.
b. Abortus insipiens
Ditandai oleh terjadinya perdarahan pada awal kehamilan yang disertai
dengan dilatasi servix dan nyeri.

5
c. Abortus inkomplit
Ditandai oleh pengeluaran sebagian hasil konsepsi dari cavum uterus.
d. Abortus komplit
Ditandai oleh pengeluaran seluruh hasil konsepsi.
e. Abortus tertunda
Ditandai oleh kematian janin tanpa disertai pengeluaran hasil konsepsi.
f. Abortus habitualis
Dirandai oleh abortus yang berlangsung selama 3 kali atau lebih secara
berurutan.
g. Abortus septik
Abortus yang disertai dengan infeksi pada uterus.

2. Abortus yang diinduksi


Abortus yang dicetuskan karena pertimbangan medis atau secara elektif.

E. PATOGENESIS
Walaupun sebagian besar kasus abortus spontan disebabkan oleh karena
kelainan kromosom, pada prakteknya banyak ditemukan anak lahir dengan
kelainan kromosom tersebut. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk
memahami proses terjadinya abortus secara umum. Dalam sebagian besar dari
kasus aborsi, terdapat plasentasi yang tidak adekuat sehingga menyebabkan
kegagalan dari sel – sel trofoblast untuk masuk dalam arteri spiralis.
Kegagalan dari sel – sel trofoblast tersebut mengakibatkan terjadinya
perdarahan dari ibu ke anak yang prematur. Masuknya darah ibu tersebut lama
kelamaan menyebabkan terjadinya ekspulsi dari kantung kehamilan. Selain
hal tersebut, kegagalan sel – sel trofoblast di atas mengakibatkan peningkatan
tekanan olsigen di ruang intervilli sehingga terjadi peningkatan stress dan
berkurangnya fungsi dari plasenta.

6
F. GEJALA KLINIS
Gejala klinis pada abortus pada umumnya sama, antara lain :
a. Perdarahan atau bercak darah dari jalan lahir pada trimester pertama
b. Jumlah darah umumnya sedikit
c. Warna darah bervariasi dari kecoklatan hingga merah segar
d. Perdarahan bisa berlangsung hingga beberapa hari
e. Biasa didahului oleh mulas – mulas atau sakit pinggang

G. DIAGNOSIS
a. Abortus iminens
Anamnesis
- Perdarahan pada trimester pertama kehamilan
- Bisa berupa bercak – bercak
- Bisa atau tidak disertai dengan mulas atau nyeri pinggang
- Tidak ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir
Pemeriksaan fisik
- Inspekulo : Ditemukan bercak darah di sekitar dinding vagina
Portio tertutup
Tidak ditemukan jaringan

b. Abortus insipiens
Anamnesis
- Perdarahan pada trimester pertama kehamilan
- Biasa berupa darah segar yang mengalir
- Disertai dengan mulas atau nyeri pinggang
- Tidak ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir
Pemeriksaan fisik
- Inspekulo : Ditemukan darah segar di sekitar dinding vagina
Portio terbuka
Tidak ditemukan jaringan

7
c. Abortus inkomplit
Anamnesis
- Perdarahan pada trimester pertama kehamilan
- Bisa berupa darah segar yang mengalir
- Disertai dengan mulas atau nyeri pinggang
- Ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir
Pemeriksaan fisik
- Inspekulo : Ditemukan darah segar di sekitar dinding vagina
Portio terbuka
Bisa ditemukan jaringan di jalan lahir

d. Abortus komplit
Anamnesis
- Perdarahan pada trimester pertama kehamilan
- Darah biasa berupa bercak – bercak
- Disertai dengan mulas atau nyeri pinggang
- Ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir
Pemeriksaan fisik
- Inspekulo : Ditemukan bercak darah di sekitar dinding vagina
Portio tertutup
Tidak ditemukan jaringan

e. Abortus tertunda
Anamnesis
- Uterus yang berkembang lebih rendah dibandingkan usia
kehamilannya
- Bisa tidak ditemukan perdarahan atau hanya bercak – bercak
- Tidak ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir

Pemeriksaan fisik
- Inspekulo : Bisa ditemukan bercak darah di sekitar dinding vagina

8
Portio tertutup
Tidak ditemukan jaringan

f. Abortus septik
Anamnesis
- Ditemukan satu atau lebih tanda – tanda abortus di atas
- Riwayat sedang menggunakan IUD
- Riwayat percobaan aborsi sendiri

Pemeriksaan fisik
- Demam > 38oC
- Inspekulo : ditemukan salah satu tanda abortus seperti di atas

Pemeriksaan penunjang :
- Serum β-hCG
Serum β-hCG > 6500 IU per mL disertai dengan USG abdomen
merefleksikan 90% kehamilan intrauterin
- USG
Gerakan jantung janin harusnya sudah bisa dilihat sejak masa gestasi 6
– 7 minggu

H. PENATALAKSANAAN
Secara umum, tatalaksana aborsi dibagi 2, yaitu :
a. Terapi medikasi
Terapi medikasi menggunakan mifepristone yang disusul dengan
penggunaan misoprostol atau mungkin hanya misoprostol saja. Terapi
medikasi ini digunakan pada aborsi dengan masa gestasi 4 – 9 minggu
dan lebih dari 14 minggu. Terapi bedah cenderung digunakan pada masa
gestasi 9 – 14 minggu. Regimen lain seperti metothrexate disusul dengan
misoprostol juga sering digunakan.

9
Indikasi penggunaan terapi medikasi :
- Pilihan pasien
- Masa gestasi yang kecil
- Obesitas (BMI > 30) tanpa kelainan kardiovaskular
- Fibroma uterus
- Malformasi uterus
- Riwayat bedah servik sebelumnya

Kontraindikasi terapi medikasi


- Riwayat alergi mifepristone, misoprostol, atau obat terapi medikasi
lainnya
- Mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang
- Gagal ginjal kronik
- Kelainan pembekuan darah
- IUD yang masih terpasang
- Infeksi daerah panggul yang berat

Rekomendasi WHO dan IPPF


- Mifepristone 200 mg oral diikuti misoprostol 800 μg 36 – 48 jam
setelahnya (oral, sublingual, bukal atau intravaginal) dalam satu dosis
atau dibagi menjadi dua dosis 400 μg yang diberikan selang 2 jam.

Rekomendasi FAA Amerika Serikat


- Hari pertama : Mifepristone 600 mg per oral dalam satu kali minum
- Hari kedua : Rh-imunoglobin 50μg tidak lebih dari 48 jam sesudah
terjadinya tanda - tanda aborsi pada pasien dengan Rh-
- Hari ketiga : bila proses aborsi belum selesai dan dikonfirmasi dengan
USG, berikan misoprostol 400 μg
- Hari keempat belas : cek kembali keadaan aborsi pasien dengan USG
atau serum β-hCG. Serum β-hCG seharusnya berada dibawah 1.000

10
IU/L setelah 2 minggu pemberian mifepristone. Bila proses aborsi
belum selesai, dilanjutkan dengan aspirasi vakum.

b. Terapi bedah
Indikasi terapi bedah
- Pilihan pasien
- Sterilisasi
- Terdapat kontraindikasi pada pemakaian terapi medikasi
- Pasien tidak mampu datang untuk kontrol setelah terapi medikasi

Pendekatan terapi bedah yang umum dilakukan yaitu :


- Aspirasi vakum
Aspirasi vakum adalah prosedur yang aman dan efektif dan menjadi
terapi pilihan sebelum teknik dilatasi dan kuretase. Teknik ini bisa
digunakan hingga masa gestasi 12 minggu dan 99,5% efektif.
Komplikasi teknik ini lebih rendah dibandingkan teknik dilatasi dan
kuretase, dilatasi servik yang dibutuhkan lebih kecil, harga yang lebih
murah, tidak diperlukan anestesi umum.
- Dilatasi dan kuretase
Teknik ini lebih berbahaya dan lebih sakit dibandingkan teknik
aspirasi vakum sehingga pemilihan teknik ini umumnya dibatasi bila
aspirasi dan terapi medikasi tidak bisa diberikan. Teknik ini bisa
digunakan hingga masa gestasi 12 minggu dan 99% efektif.

I. KOMPLIKASI
Komplikasi pada aborsi dibagi dua antara lain :
a. Komplikasi akut
Komplikasi ini terjadi selama prosedur atau 3 jam sesudah proses abortus
selesai :
- Perdarahan
- Luka serviks

11
- Perforasi uterus
- Hematometra
b. Komplikasi lanjut
- Infeksi
- Jaringan sisa
- Sensitisasi Rh

J. FOLLOW UP
Pasien yang mendapat terapi medikasi sebaiknya diobservasi selama 4 – 6
jam terlebih dahulu. Pada pasien dengan terapi medikasi yang ingin segera
pulang, minum obat di rumah, atau yang proses abortusnya belum selesai
sebaiknya kembali kontrol ke dokter 10 – 15 hari setelah mendapat terapi
untuk mengkonfirmasi status aborsinya.
Setelah terapi bedah, pasien idealnya kembali kontrol ke dokter 7 – 10 hari
setelah mendapat terapi. Pasien sebaiknya diberi informasi bahwa mungkin
terdapat tanda – tanda perdarahan dari bercak hingga sebanyak darah
menstruasi untuk beberapa minggu ke depan. Pasien juga sebaiknya mendapat
informasi tentang gejala – gejala klinis yang memerlukan intervensi medis
segera dan sebaiknya segera kembali ke rumah sakit seperti perdarahan yang
banyak, demam lebih dari satu hari disertai nyeri panggul.
Selain kontrol berkaitan dengan aborsinya, semua pasien sebaiknya
mendapat informasi mengenai kontrasepsi. Secara umum, semua jenis
kontrasepsi aman digunakan pada wanita post abortus. Penelitian
menunjukkan bahwa kesuburan akan kembali normal dalam 2 minggu dan
75% wanita akan mengalami ovulasi dalam 6 minggu, setiap pasien sebaiknya
diberi informasi bahwa ia bisa melahirkan kembali sebelum menstruasi
berikutnya.

12
K. PROGNOSIS
Resiko dari kematian atau komplikasi medis yang serius lebih banyak
terjadi pada wanita dengan kehamilan cukup bulan dibandingkan aborsi.
Kesehatan secara umum lebih baik pada pasien abortus dibandingkan
kelahiran cukup bulan. Resiko kematian yang berkaitan dengan kehamilan dan
kelahiran berkisar 7 – 8 per 100.000 kelahiran sedangkan bila dikaitkan
dengan abortus, berkisar kurang dari 1 per 100.000 kelahiran. Beberapa studi
tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara aborsi dengan penurunan
kesuburan atau resiko terjadinya kehamilan ektopik. Sebuah studi di Cina
berkaitan dengan pemakaian mifepristone dan misoprostol menunjukkan tidak
ada hubungan antara pemakaian obat tersebut dengan peningkatan resiko
kehamilan prematur.

13
BAB III

LAPORAN KASUS

Tanggalpemeriksaan : 23-8-2017
Jam : 15.00 WITA
Ruangan : Perawatan Kasuari (Nifas Atas) RSU Anutapura Palu

IDENTITAS
Identitas Pasien
Nama : Ny. N
Umur : 27 Tahun
Alamat : Jl. Bekuku
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Pendidikan : SMP

Indentitas Suami
Nama : Tn. AR
Umur : 27 tahun
Alamat : Jl. Bekuku
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam
Pendidikan : SM

14
ANAMNESIS
GIVPIIIA0 Usia Kehamilan : 14 minggu
HPHT : 02-03-2017 Menarche : 14 tahun
TP : 09-12-2017 Perkawinan : I, ± 9 tahun

Keluhan Utama : Perdarahan dari jalan lahir

Riw. Penyakit Sekarang :


Pasien G4P3A0, Gravid 14 minggu masuk ke IGD Kebidanan RSU
Anutapura Palu dengan keluhan perdarahan dari jalan lahir yang dialami sejak 3
hari yang lalu. Darah yang keluar berwarna merah segar disertai keluarnya
gumpalan jaringan merah disertai nyeri perut bagian bawah. Pasien juga
mengeluhkan cepat lelah saat beraktivitas, badan sering menjadi biru terutama
saat kelelahan, dan sering mengeluh sesak napas. Keluhan mual (-), muntah (-),
pusing (+), sakit kepala (-), demam (-).BAB (+) biasa dan BAK (+) lancar.
Riwayat konsumsi obat-obatan termasuk percobaan pengguguran
disangkal. Riwayat berhubungan terakhir dengan suami ± 2 hari sebelum
keluarnya bercak darah, riwayat jatuh atau urut kandungan disangkal pasien,
riwayat demam atau sakit selama kehamilan disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Pasien belum pernah mengalami keguguran sebelumnya. Riwayat
hipertensi (-), diabetes mellitus (-), asma (-), dan alergi (-). Pasien memiliki
riwayat penyakit jantung terdiagnosis sejak 2014 dengan VSD dan rutin kontrol
dengan dr. Julia Sari, Sp.JP. Pasien mengeluhkan cepat lelah saat berkativitas
sedang, badan sering menjadi biru terutama saat kelelahan, dan sering mengeluh
sesak napas. Riwayat konsumsi obat rutin Lisinopril namun dihentikan sejak
kehamilan diketahui (UK 6 minggu)

15
Riwayat Obstetri :
 Hamil pertama : Tahun 2009, Anak perempuan, preterm usia kehamilan 6-
7 bulan, lahir normal di Rumah dan di tolong oleh bidan. BBL 1500gram.
Meninggal 2 jam setelah lahir
 Hamil kedua : Tahun 2011, anak perempuan, aterm, lahir normal di
rumah ditolong bidan. BBL 2500.
 Hamil ketiga : Tahun 2016, anak laki-laki, prematur, lahir di Undata
ditolong bidan BBL 1800 gram
 Hamil sekarang

Riwayat ANC : 1x trimester I.

Riwayat Imunisasi : Tidak ada.

Riwayat kontrasepsi : Tidak ada

PEMERIKSAAN FISIK
KU : Sakit sedang
Kesadaran : Kompos mentis

Tanda-Tanda Vital
TekananDarah : 110/70 mmHg
Nadi : 78x/menit
Pernapasan : 20x/menit
Suhu : 36,8ºC
- Kepala : Simetris, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-,
- Leher : Pembengkakan kelenjar getah bening (-)
- Dada : I :Pergerakan dinding dada simetris bilateral
Pa : Vocal Fremitus simetris bilateral
Pe : Sonor +/+
Au : Rhonchi (-/-), Wheezing (-/-)

16
- Jantung : Prekordial thrill (+), Bunyi jantung I dan II normal. Pansistolik
murmur area sternal bawah sebelah kiri. Gallop (-)
- Abdomen : Nyeri tekan abdomen (+) regio suprapubik
- Alat kelamin : Alat kelamin wanita normal, Perdarahan pervaginam (+)
- Anggota gerak : Edema Pretibial tidakada, varisestidak ada
- Refleks : Refleks fisiologis normal, refleks patologis negatif

Pemeriksaan Obstetri :
PemeriksaanLuar
 TFU teraba 3 jari di atas tepi simfisis Os pubis
 HIS :-
 DJJ :-
 PergerakanJanin : Tidak ada (Dirasakan Ibu)

Pemeriksaan Dalam
 Vulva / Vagina : Lesi tidak ada
 Porsio : Lunak, Tebal, teraba jaringan
 Pembukaan : ± 2 cm
 Pengeluaran : Lendir (-), air (-), Darah (+)

17
PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Darah rutin:

Parameter Hasil Satuan Range Normal


WBC 9,6 103/uL 4,8 – 10,8
RBC 4,3 106/uL 4,7 – 6,1
HGB 12,7 g/dL 14 – 18
HCT 33,3 % 42 – 52
MCV 77,4 fL 80 – 99
MCH 29,5 pg 27 – 31
MCHC 38,1 g/dL 33 – 37
PLT 339 103/uL 150 – 450
RDW-CV - % 11,5 – 14,5
RDW-SD - fL 37 – 54
NEUT % 66,6 % 40 – 74
LYM % 25,5 % 19 – 48

 Immunoserologi : HbsAg Non-reaktif, anti HIV nonreaktif

RESUME
Pasien perempuan 27 tahun GIVPIIIA0 gravid 14 minggu masuk dengan keluhan
Perdarahan pervaginam sejak 3 hari yang lalu, Volume perdarahan ± 50 cc,
bergumpal disertai keluarnya gumpalan jaringan merah. Nyeri pada daerah
suprapubik. Riwayat penyakit jantung VSD terdiagnosis sejak tahun 2014.
Pemeriksaan fisik didapatkan TD : 110/70 mmHg, N : 78x/menit, R :
22x/menit, S: 36.8ºC. prekordial thrill (+), Pansistolik murmur (+). Nyeri tekan
suprapubis. Pemeriksaan obstetri : TFU 3 Jari di atas tepi simfisisos pubis. Pada
Pemeriksaan Dalam (VT) : portio tebal, lunak, teraba jaringan, pembukaan 2 cm,
ada pelepasan darah.
Pemeriksaan penunjang, Darah rutin: WBC (9,6), RBC (4,3), HGB (12.7),
HCT (33,3), PLT (339), HbSAg dan anti HIV (non reaktif),

18
DIAGNOSIS
GIVPIIIA0 + Gravid Preterm, UK 14 minggu + Abortus Inkomplit + Ventricular
Septal Defect

PENATALAKSANAAN
 IVFD RL 28 tetes/menit
 Transamin 1 amp/8jam/IV
 Rencana USG

PROGNOSIS
 Quo ad vitam : Bonam
 Quo ad functionam : Bonam
 Quo ad cosmeticam : Bonam

FOLLOW UP

Perawatan hari ke-1, 8 Juni 2017 jam 08:00 WITA

S : Pelepasan darah (+) bergumpal ± 100 cc (3x ganti pembalut),


Sakit perut (+) , sakit kepala (+), mual muntah (-), nyeri dada (+)
BAB (-) terakhir kemarin, BAK (+) lancar.
O. : Keadaan umum : Sakit Sedang
TD : 110/70 MmHg P : 20x/ menit
N : 82 x/menit S : 36,8ºC
Konjungtiva anemis -/-
Pansistolik murmur
Nyeri tekan suprapubis (+)
TFU 2 Jari di atas tepi simfisisos pubis.
DJJ : Tidak ada

A : GIVPIIIA0 + Gravid Preterm, UK 14 minggu + Abortus Inkomplit + VSD

19
P : IVFD RL 20 tetes/menit
Transamin 1 amp/12jam/IV
Ketorolac 1 amp/8jam/IV
Rencana USG (siang)

Perawatan hari ke-2, 9 Juni 2017

S : Pelepasan darah(+) Sakit perut (+) , mual (-), muntah (-),


BAB (-) terakhir kemarin, BAK (+) lancar.
O. : Keadaan umum : Sakit Sedang
TD : 110/70 MmHg P : 20x/ menit
N : 82 x/menit S : 36,8ºC
Pansistolik murmur (+)
Nyeri tekan suprapubik
USG:

1. Uterus membesar, tampak GS dengan tepi reguler


2. Tidak tampak echo cairan bebas dalam cavum Doughlas
Kesan : Abortus Inkomplit
A : GIVPIIIA0 + Gravid 14 minggu + Abortus Inkomplit + VSD
P : IVFD RL 20 tetes/menit
Transamin 1 amp/12 jam/IV
Ceftriaxon 1 gr/12 jam
Ketorolac 1 amp/8 jam/IV
Konsul jantun dan rencana kuretas

20
Perawatan hari ke-3, 10 Juni 2017
S : Pelepasan darah (+), Sakit perut (+) , mual (-), muntah (-), pusing (+),
nyeri dada sekali-kali (+).
BAB 1 kali hari ini, BAK (+) lancar.

O. : Keadaan umum : Sakit sedang


TD : 110/70 MmHg P : 20x/ menit
N : 82 x/menit S : 36,8ºC
Konjungtiva anemis -/-
Pansistolik murmur
Nyeri tekan supra pubis

Hasil Konsul Jantung (dr. Julia Sari, Sp.JP)


Pasien dengan VSD kecil, besar jantung normal, EF 65%
KU sedang/Composmentis
TD: 100/60
HR: 84x/mnt
SpO2: 99%

EKG : SR, HR 75x/mnt, axis normal, ST-T changes tidak ada


Corr: cardiomegali (-), S1-S2 normal reg, Holosistolik murmur 4/6 di SIC II-III
LPSS

Ass: VSD kecil dengan besar jantung dan fungsi baik


Kesimpulan:
- Very low risk
- Risiko kejadian kardiovasular mayor 0,4%
- Acc kuret

21
A : GIVPIIIA0 + Abortus Inkomplit+VSD
P : IVFD RL 20 tetes/menit
Ceftriaxon 1 gr/12 jam
Transamin 1 amp/8 jam
Rencana Kuret besok

Perawatan hari ke-4, 11 Juni 2017

S : Pelepasan darah (+),Sakit perut (+) berkurang, mual (-), muntah (-),
pusing (-), sakit kepala (-), nyeri dada (-)
BAB (+), BAK (+) lancar.
O. : Keadaan umum : Sakit Ringan
TD : 110/70 MmHg P : 20x/ menit
N : 82 x/menit S : 36,8ºC
Konjungtivaanemis -/-
Nyeri tekan supra pubis tidak ada
Pansistolik murmur
A : GIVPIIIA0 + Abortus Inkomplit+VSD
P : IVFD RL 20 tetes/menit
Ceftriaxon 1 gr/12 jam
Transamin 1 amp/8 jam
Kuret hari ini

Perawatan Hari Ke-5 (12 Juni 2017)


S : Pelepasan darah (+) sedikit,Sakit perut (+-), mual (-), muntah (-), pusing
(-), sakit kepala (-), nyeri dada (-)
BAB (+), BAK (+) lancar.
O. : Keadaan umum : Sakit Ringan
TD : 110/70 MmHg P : 20x/ menit
N : 86 x/menit S : 36,6ºC
Konjungtivaanemis -/-
Nyeri tekan supra pubis tidak ada

22
Pansistolik murmur (+)
A : PIIIA1 + Post Kuret H1 a/i Abortus Inkomplit + VSD
P : IVFD RL 20 tetes/menit
Cefadroxil 500mg 2x1
Transamin 1 amp/8 jam
Asam Mefenamat 500 mg 3 x1
Vit C 3x1
Metilergometrin 3x1
Rencana pulang besok

23
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada pasien ini, diagnosis abortus inkomplit ditegakkan berdasarkan


anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang relevan.
Berdasarkan defenisi, abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi
sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Sebagai batasan adalah
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
Dari anamnesis pasien didapatkan bahwa pasien adalah seorang
perempuan berusia 27 tahun dengan riwayat obstetri G4P3A0 gravid 14
minggu dengan perdarahan pervaginam sejak 3 hari yang lalu di mana
pengeluaran darah disertai dengan pengeluaran gumpalan jaringan berwarna
kemerahan. Pasien juga mengeluhkan adanya nyeri pada daerah suprapubik
yang menyertai pengeluaran darah pervaginam. Temuan tersebut mendukung
ditegakkannya diagnosis abortus inkomplit karena pasien datang dengan
perdarahan pada usia kehamilan masih di bawah 12 minggu di mana usia
kehamilan ditentukan berdasarkan HPHT. Hal ini didukung oleh adanya nyeri
perut bawah dan amenore. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan TFU berada
dua jari di atas simphisis pubis. Dari pemeriksaan obstetri didapatkan portio
tebal, lunak, teraba jaringan dengan pembukaan 2 cm disertai pelepasan darah.
Oleh karena itu berdasarkan pemeriksaan klinis pasien didiagnosis kerja
dengan abortus inkomplit. Hal ini sesuai dengan teori pada literatur yang
menyatakan bahwa pada abortus inkomplit dapat ditemukan pada:
Anamnesis
- Perdarahan pada trimester pertama kehamilan
- Bisa berupa darah segar yang mengalir
- Disertai dengan mulas atau nyeri pinggang
- Ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir
Pemeriksaan fisik
- Inspekulo : Ditemukan darah segar di sekitar dinding vagina
Portio terbuka

24
Bisa ditemukan jaringan di jalan lahir
Hasil tersebut dikonfirmasi dengan temua USG yang didapatkan gambaran
uterus membesar dengan tepi GS ireguler. Tidak tampak echo cairan bebas
dalam cavum Doughlas yang memberikan kesan abortus inkomplit.
Lebih dari 80% abortus spontan terjadi dalam 12 minggu pertama gestasi.
Dengan terhentinya kehamilan pada trimeseter pertama, kematian fetus atau
embrio hampir selalu mendahului ekpulsi spontan. Kematian biasana disertai
perdarahan ke dalam desidua basalis. Hal ini diikuti dengan nekrosis jaringan
sekitar yang menstimulasi kontraksi uterus dan ekspulsi. Membran gestasi
yang intak biasanya terisi terisi cairan dan dapat atau tidak berisi embrio atau
fetus. 7
Penyebab terjadinya abortus bisa ditinjau dari 3 faktor, yaitu faktor fetal,
maternal , dan paternal. Separuh dari abortus adalah anembrionik yaitu tidak
teridentifikasinya element embrio yang kemudian disebut blighted ovum.
Sedangkan separuh sisanya adalah abortus embrionic yang menunjukkan
abnormalitas perkembangan zigot, embrio, atau fetus atau juga plasenta. Lebih
lanjut separuh dari abortus embrionik menujuukan abnormalitas kromosom
(aborsi aneuploid), sisanya adalaha aborsi euplodi yang menunjukkan
kromosom yang normal. Perlu digaris bawahi adalah anomali kromosom akan
berkurang seiring dengan bertambahnya umur kehamilan. 95% abnormalitas
kromosom disebabkan oleh kegagalan gametogenesis maternal dan 5% oleh
kegagalan paternal.7
Ditinjau dari segi maternal, abortus dapat disebabkan oleh infeksi baik
virus, bakteri, dan agen infeksius lainnya yang kemudian menyebabkan
terhentinya kehamilan. Faktor lain adalah kelainan medis. Abortus dini
umumnya jarang pada penyakit kronik seperti tuberkulosis dan
karsinomatosis. Namun ada beberapa kondisi medis spesifik yang dapat
dihubungkan dengan peningkata frekuensi berhentinya kehamilan seperti
diabetes melitus dan penyakit tiroid, celiac disease (penyebab abortus
berulang dan infertilitas pada wanita). Penyakit jantung sianotik yang tidak
dikoreksi adalah salah satu risiko terjadinya abortus. Keadaan lain seperti

25
gangguan makan-anorexia nervosa, bulimia nervosa, inflamatori bowel
disease dan SLE juga meningkatkan resiko. Hal lain yang mungkin adalah
pasien dengan abortus berulang, kemungkinan menderita infark miokard.
Faktor lain yang dapat berpengaruh adalah obat-obatan, kanker, faktor
lingkungan, sosial dan ekonomi, beserta faktor imunologis seperti
antiphospolipid antibody syndrom.7
Faktor paternal terjadinya abortus belum diteliti lebih lanjut, tetapi
peningkatan umur paternal secara signifikan dihubungkan dengan peningkatan
resiko abortus.7
Hal yang perlu mendapatkan perhatian khusus pada pasien ini adalah
pasien diketahui mengidap penyakit jantung bawaan yaitu ventricular septal
defect. Pasien didiagnosis sejak tahun 2014 dengan echocardiografi dan secara
rutin kontrol dengan kardiologis. Hal yang menunjang diagnosis adalah pasien
sering mengeluh sesak napas, PND (+), sering cepat lelah, dan kadang badan
menjadi biru terutama saat kelelahan. Dari pemeriksaan fisik didapatkan
pasien relatif kecil dan kurus untuk usianya dan pansistolik murmur di tepi
bawah sternum sinistra dan precordial thrill pada palpasi.’
Secara umum, VSD adalah kelainan jantung bawaan yang di mana
terdapar lesi yang menghubungkan antara ventrikel kiri dan ventrikel kanan
karena adanya defek pada dinding yang memisahkan dua ruangan tersebut,
yaitu septum interventrikular. Etiologi VSD tidak diketahui secara pasti dan
walaupun abnormalitias genetik tunggal telah diidentifikasi sebagai penyebab
pada beberapa kasus, namun sebagian besar VSD diyakini adalah hasil dari
interaksi beragam predisposisi genetik dan lingkungan. Terjadinya VSD dapat
dihubungkan dengan abnormalitas kongenital seperti Trisomi 13, 18, dan 21,
VACTERL association (vertebral, vascular, anorectal, tracheo-esofageal
fistule, renal and limb abnormalities), dan CHARGE syndrome (Coloboma,
defek jantung, atresia koana, retardasi, genitourinari, ear abnormalities).8
Adanya VSD pada pasien ini dapat menjadi faktor resiko utama terjadinya
abortus dan mungkin berhubungan dengan abnormalitas kehamilan dan
persalinan sebelumnya. Seperti yang dietahui bahwa salah satu faktor maternal

26
yang dihubungkan dengan terjadinya abortus adalah adanya kondisi medis
tertentu yang diderita ibu seperti kelainan jantung konegenital sianotik yang
tidak dikoreksi, salah satu diantaranya adalah ventricular septal defek. Selain
itu, faktor maternal lain antara lain obat yang dikonsumsi. Pasien ini secara
rutin mengkonsumi obat golongan ACE inhibitor yaitu lisinopril untuk kondisi
VSD yang dialaminya. Sperti diketahui bahwa obat golongan ACE inhibitor
dan ARB tidak boleh diberikan pada ibu hamil karena berdasarkan penelitiann
menyebabkan kematian janin pada hewan coba, dan penggunaan pada
manusia dapat menyebabkan defek jantung, fetopati, oligohidramnion,
gangguan pertumbuhan, agenesis renal, dan gagal ginjal anuria pada neonatus.
7,9

Pada dasarnya, dalam kehamilan normal terjadi berbagai bentuk


perubahan fisiologis. Yang utama di antaranya adalah peningkatan volume
darah, cardiac output, Left ventricular stroke work, dan konsumsi oksigen.10
VSD umumnya ditemukan sebagai defek terisolasi. Defek yang besar
cenderung membawa pada overload volume ventrikel kiri dan gagal jantung di
awal kehiduapan dan umumnya dikoreksi pada saat masa kanak-kanak. Oleh
karenanya, sebagian besar defek yang tidak dikoreksi pada populasi dewasa
adalah lesi kecil. Sindrom Eisenmenger adalah keadaan berisiko tinggi untuk
ibu dan janin karena menyebabkan kematian maternal 40-50% dan abortus
30%. Pada pasien ini, kemungkinan telah terjadi Eisenmenger syndrome
karena dari anmnesis pasien mengatakan badan sering menjadi kebiruan
terutama saat kelelahan. Hal ini menunjukkan telah terjadinya pembalikan
arah pirau dari kanan ke kiri.10.
Penanganan pada pasien ini adalah dengan melakukan kuretase yang
dilakukan setelah berkonsultasi dengan ahli penyakit jantung dan vaskular di
mana didapatkan VSD kecil dengan besar jantung dan fungsi baik dengan
kesimpulan very low risk, risiko kejadian kardiovascular mayor 0,4%
sehingga kuretase dapat dilakukan tanpa komplikasi dan pasien dipulangkan
dalam keadaan baik.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Guttmatcher Institute. Aborsi di Indonesia. Guttmatcher Institute. 2008


2. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. P.T. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. 2009
3. Norman F. Gant MD, Kenneth J., Md Leveno, Larry C., Iii, Md Gilstrap, John
C., Md Hauth, Katharine D., Md Wenstrom, John C. Hauth, J. Whitridge
Obstetrics Williams (Editor), Steven L. Clark, Katharine D. Wenstrom.
Williams Obstetrics 23rd Ed: Mc Graw-Hill Professional
4. McBride, Dorothy E. Abortion in United State. ABC-CLIO. 2008
5. Evans, Arthur T. Manual of Obstetric 7th ed. Lippincot Williams and
Willkins. 2007
6. World Health Organization. Safe Abortion: Technical and Policy Guidance
for Health Systems. World Health Organization. 2003
7. Cunningham, et al. William`s Obstetri 24th Edition. McGrawHill Medical.
2014.
8. Rolo,V, et al. 2015. Ventricular Septal Defect. World Federati0on of Societies
of Anaesteiologist
9. Myrtha, R. Penatalaksanaan Tekanan Darah pada Preeklampsia. CDK
vol.42, no 4, pp262-266. 2015.

28