Anda di halaman 1dari 48

BAB II

KAJIAN TEOR I, KERANGKA BERPIKIR,

DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kajian Teori

Mengetahui dan memahami pengertian dari strategi misi dalam kekristenan

tentu sangat penting bagi gereja-gereja Tuhan saat ini, agar pelayanan misi yang

dilaksanakan dapat di terima di berbagai lapisan masyarakat dan budaya. Sebab tugas

misi ini telah diperintahkan langsung oleh Tuhan Yesus Kristus sebagai kepala gereja.

Maka sebagai orang yeng telah percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan

Juruselamat wajib melakukan perintah ini seperti yang tertulis dalam Matius 28:19-20.

Agar seluru manusia datang bersekutu dan memuliakan nama Tuhan.

1. Defenisi Operasional

Pertanyaan awal dan sederhan adalah apakah misi itu? Mengapa misi itu

menjadi kewajiban dan tanggung jawab setiap orang Kristen? Karena itu, adalah

penting memahami arti misi itu sendiri, supaya dalam pelaksanaannya tepat

sesuai dengan kehendak Allah. Dalam arah itu, maka penulis akan menguraikan

secara singkat tentang misi, yang meliputi:

a. Pengertian Misi

Kata “misi” adalah istilah Indonesia untuk kata Latin “mission” yang

berarti “perutusan”. Kata “mission” adalah bentuk subtantif dari kata kerja

1
“mittere” (mitto, missi, missum) yang memiliki beberapa pengertian dasar,

yaitu: pertama, membuang, menembak, membentur; kedua, mengutus,

mengirim; ketiga, membiarkan, membiarkan pergi, melepaskan pergi; keempat,

mengambil/ mengendap, membiarkan mengalir (darah).1

Pengertian Misi ini diperkuat juga dalam Ensiklopedia Alkitab

Masa Kini II, dimana Misi adalah Kegiatan menyebarkan kabar gembira (Injil)

dan mendirikan jemaat-jemaat setempat, yang dilakukan atas dasar pengutusan

sebagai kelanjutan misi Kristus. 2

Di dalam Vulgata, kata “mittere” adalah terjemahan dari kata Yunani

“pempein” dan “apostelein” yang berarti juga mengutus. Kedua istilah Yunani

ini terdapat 206x di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. “Orang yang diutus” atau

“missionaries” diterjemahkan dari kata Yunani “apostolos” terdapat 79x di

dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, sedangkan tugas yang mereka laksanakan

disebut “mission”, sebagai terjemahan dari kata Yunani “apostelo” terdapat 4x

dalam Kitab Suci Perjanjian Baru”.3

Dalam penggunaan selanjutnya, istilah “misi” dalam kata

“apostolate” atau “Rasul” dalam Kamus Besar bahasa Indonesia berarti Orang

yang menerima Wahyu Tuhan untuk disampaikannya kepada manusia.4 Dalam

Strong‟s Concordance Rasul dalam bahasa Yunani στολος (apostolos) yang

artinya seorang utusan, khususnya seorang utusan Laskar Kristus, Rasul

Kristus, dengan kuasa mujizat: Rasul, pemberi Kabar, dia yang diutus.5 Dalam

Perjanjian Baru muncul lebih dari 80 kali, kebanyakan dalam tulisan Lukas

1
K. Prent, c.m., dkk., eds., Kamus Latin – Indonesia,( Yogyakarta: 1969), hlm. 539-540.
2
. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini II (Yayasan Komunikasi Bina Kasih,1999), 587
3
L. Legrand, Unity and Plurality: Mission in the Bible, (New York: 1990), hlm. 14.
4
. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, hlm. 730
5
. James Strong, The New Strong’s exhaustive concordance of the Bible (Tennesse : Thomas
Nelson Publishers,1082), 12
2
dan Paulus.6 Sedangkan kata “misi” atau “perutusan” dipakai untuk kegiatan

penyebaran iman.

Istilah “misi” tidak hanya dipakai dalam lingkup keagamaan, tetapi

juga di dunia profane seperti misi diplomatis, misi politis, misi ilmu

pengetahuan, misi kebudayaan, misi dalam dunia kemiliteran. Semuanya berarti

pelimpahan tugas dan tanggung jawab.

Di dalam gereja, istilah “misi” digunakan baik untuk menunjuk

kegiatan yang lebih luas dan umum, yakni menyangkut semua kegiatan gereja7

maupun untuk karya khusus pewartaan dan penyebaran iman Kristen.

Pengertian yang berikut di lanjutkan oleh George W. Peters menulis,

Misi adalah “the total biblical assignment of the church of Jesus Christ. It

is a comprehensive term including the upward, inward and outward ministries of the

church” menurut penulis ini, “missions” adalah “a specialized term. By it I mean the

sending forth of authorized persons beyond the borders of the New Testament

Church….”.8

Yakob Tomatala, mengatakan: “Misi adalah karya Allah yang

menghimpun bagi diri-Nya suatu umat yang bersekutu dengan Dia, melayani Dia dan

menyembah Dia dalam hubungan yang harmonis dan utuh untuk kejayaan Kerajaan

Allah. Menurut penulis ini, misi adalah karya Allah. Allah berkarya dalam pengutusan-

Nya, yang menghimpun umat-Nya untuk bersekutu, menyembah dan melayani-Nya

dalam hubungan yang harmonis bagi kejayaan kerajaan-Nya. Selanjutnya dikatakan

bahwa penginjilan adalah rancangan dan karya Allah yang menghimpun bagi diri-Nya

suatu umat untuk bersekutu, menyembah serta melayani Dia secara utuh dan serasi bagi

kejayaan Kerajaan Allah”.9

6
. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini II (Yayasan Komunikasi Bina Kasih,1999), 307
7
J. Moltmann. Gott Kommt und der Mensch wird Frei, (Munchen: 1975), hlm. 21.
8
George W. Peters. A Biblica Theology of Missions, (Chicago: Moody Press, 1972), hlm. 11.
9
Yakob Tomatala. Penginjilan Masa Kini, Jilid 2,( Malang: Gandum Mas), 1998, hlm. 27.
3
Menurut Dr. Y. Jones Akal misi adalah pengutusan untuk pelayanan

komperhensif. Pelayanan konperhensif berdiamensi empat yaitu pelayan ke bawah

(downward ministry), pelayanan ke atas (upward ministry), pelayanan ke dalam

(inward ministry), dan pelayanan ke luar (outward ministry).”10

David J. Bosch merumuskan beragam pengertian tradisional tentang misi

dan mengusahakan suatu synopsis teologis yang lebih khas sebagai konsep yang telah

dipergunakan secara tradisional. Ia mencatat bahwa kata ini telah di parafrasekan

sebagai: 1) penyebaran iman; 2) perluasan pemerintahan Allah; 3) pertobatan orang-

orang kafir; 4) pendirian jemaat-jemaat baru”.11

Menurut penulis, misi adalah pola, cara dan model kerja yang

digunakan oleh Tuhan dalam rangka menyelamatkan manusia berdosa yang ada

di dalam dunia, sehingga mereka yang diselamatkan oleh Tuhan beroleh hidup

yang kekal. Mereka yang diselamatkan oleh Tuhan dihimpun dalam suatu

persekutuan dengan tujuan untuk menyembah dan melayani Allah serta menjadi

alat anugerah Allah untuk memberitakan Injil kepada dunia.

a.1. Dalam Perjanjian Lama

Banyak orang Kristen mengangap misi penyelamatan atau

pekabaran Injil itu dimulai setelah Yesus Kristus datang ke dunia (stelah

Perjanjian Baru) memang benar juga tetapi misi penyelamatan atau pekabaran

Injil itu sudah dimulai sejak manusia jatu dalam dosa. Kejadian 3 ayat 8 “Tuhan

Allah datang mencari manusia yang sudah jatuh dalam dosa” lalu Dia berjanji

akan mengutus Juruselamat ke dalam dunia ini (Kej. 3:15)

10
Yunny Jones Akal. Diktat Strategi Misi, (Jakarta: IFTK Jaffray, 2005), hlm. 5.
11
D. J. Bosch. Transformasi Misi Kristen,( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), hlm. 1.
4
Demikian Edmund Woga mengatakan bahwa karya misi pertama-

tama adalah karya Allah, yakni Allah mengutus diri-Nya kepada dunia ini.

Allah hadir ditengah-tengah kehidupan manusia dan memanggilnya untuk

menerima tawaran rahmat-Nya. Edumund juga mengutip pendapat C.

Stuhmueller bahwa menempatkan misi dalam konteks integral sejarah dunia

dan melihatnya sebagai peristiwa historis umum yang oleh bangsa Israel

berdasarkan interpretasi dan motivasi religious mereka ditafsir sebagai karya

penyelamatan Allah dalam sejara, dimana Allah sebagai Tuhan atas gereja.

Peranan bangsa Israel dalam hal ini ialah menjadi tanda (symbol sacral)

kehadiran yang Ilahi yang membuka mata dunia untuk menyadari unsur-unsur

dan daya iman dalam keseharianya. Pengalaman iman tersebut memberi arah

(menjadi “jiwa”bagi) seluruh kehidupan manusia.

Selanjutnya Edmund mengutip L. Legrand bahwa defenisi misi

dalam melihat fenomena missioner umat Allah Perjanjian Lama. Misi dapat

dimengerti sebagai: Pertama, usaha untuk mendekati orang kafir dan membawa

mereka kepda iman yang sejati dan kepda Allah yang benar. Kedua, Usaha

untuk menjadikan diri (bangsa Israel sebagai umat Allah) Sehinga bangsa-

bangsa lain datang dan berkumpul bersama di Yerusalem. Ketiga, ziarah dari

bangsa yang telah di tebus menuju kepada tanah perjanjian (aspek eskatologi).

Israel adalah bangsa yang di bebaskan dari perhambaan Mesir (Kel. 13, 3:24)

dan sedang berziarah menuju tanah perjanjian.12 Misi ini dikaitkan dengan

pemilihan Israel sebagai bangsa yang dipilih Allah dan juga hubungan Israel

dengan bangsa-bangsa lain. Allah telah mempersiapkan misi-Nya lewat umat-

12
. Edmund Woga. Dasar-dasar Misiologi, (Yokyakarta: Kanisus, 2002), hal. 58-59
5
Nya, Israel sebagai anak-anak Abraham, untuk menjadi berkat bagi segala

bangsa.

William Dyrness dalam pengamatanya berpendapat: Perjanjian lama

mempersiapkan sebuah berita universal yang dalam Perjanjian Baru akan

menjadi misi universal.” Misi dalam perjanjian lama bersifat sentripetal (dari

luar ke pusat), dalam pengertian bangsa-bangsa datang kepda Israel dan mereka

dapat mengenal serta menyembah Tuhan yang benar. Perjanjian lama tidak

berisikan misi; Perjanjianlama itu sendirilah misi dalam dunia.

Menurut George Peters sesungguhnya Perjanjian Lama adalah buku

misi dan Israel adalah bangsa misi.”13 Kebanyakan Theolog berpandangan

bahwa misi baru dimulai pada era Perjanjian Baru, namun Alkitab mencatat

bahwa sesungguhnya misi sudah di mulai pada zaman Perjanjian Lama.14

Dalam kitab Kej 1:11 dijelaskan tentang karya Allah terhadap

bangsa-bangsa dan ciptaan-Nya. Sehinga dapat dimengerti bahwa Alah

memberkati umat-Nya dan memerintahkan umat pilihan-Nya untuk pergi

memberitakan Misi-Nya. Peters menjelaskan bahwa” Perjnjian Lama adalah

buku misi, dan Israel adalah bangsa misi.15

Alkitab secara utuh dan jelas baik Perjanjian Lama maupun

Perjanjian Baru berbicara tentang misi secara jelas. Konsep misi penginjilan

mulai berkembang dari Perjanjian Lama, kemudian menjadi nyata dan jelas

dalam Perjanjian Baru.

13
. Jongkuk Kim. Diktat Tren-tren Misi Sedunia, (Karawaci: STTPI, 2012), hlm. 52
14
David R Bruogham. Merencanakan Misi Lewat Gereja-gereja Asia, (Malang: Gandung Mas,
1986), hlm. 13
15
. George W Peter. A Biblical Theology Of Missions, (Chicago: Moody Press, 1967), hal. 129-
130
6
Kebenaran pokok ini biasa dilihat tatkala menelusuri sejarah Tuhan

dengan manusia. Mulai dari kitab Kejadian dan seterusnya, sampai kepada

panggilan terhadap Abraham, bagaimana Tuhan menghadapi Israeldan firman

Tuhan yang menubuatkan kehadiran sang juruselamat. Penciptaan dan

kejatuhan manusia dan janji menuju keselamatan. Dari kekal sampai kekal

Tuhan telah merencanakan penciptaan manusia menurut gambar-Nya sendiri,

maka Allah menciptakan manusia itu menurut gabar-Nya, menurut gambar

Allah diciptakannya Dia; laki-laki dan perempun diciptakannya mereka,16

Tuhan menciptakan manusia untuk memenuhi kehendaknya, yakni yang selalu

disebut mandate kebudayaan.17

Tuhan telah menetapkan manusia ditaman Eden dan memberi Hawa

sebagai penolongnya, untuk melaksanakan kehendak-Nya Tuhan telah

mengatakan kepada Adam dengan jelas apa yang diharapkan-Nya dari Adam,

dan jelas bahwa ia harus mengajar isterinya. Kejadian 3 memuat kisah sedih

kegagalan mereka tidak mematuhi perintah-perintah Tuhan. Permulaan ketidak

patuhan manusia dan kejatuhan dalam dosa. Akibat-akibanya tidak dapat

dihindarkan: Tuhan harus bertindak sesuai dengan apa yang dikatakan-Nya,

dan karena itu Allah mengeluarkan adam dan Hawa, maksud yang terkandung

dari hati Tuhan untuk mendamaikan manusia dengan diri-Nya sendiri, dan

untuk memulihkan dia kepada maksud-Nya yang sesungguhnya . hal ini bias

dilihat ketika Tuhan berkata dalam kejadian 3:15, bahwa benih wanita itu akan

mermukan kepala ular itu. Sehinga dengan hal ini Dr. Peters menyebut

16
. Lihat. Kejadian 1:27.
17
. Lihat alkitab Kejadian 2:18.
7
sebagai”sebuah janji ayang memiliki luas,” sebab janji itu diberikan kepada

seluru umat manusia Ia menlandaskan “segi rasial” itu, karena baru pada waktu

itu Kristus akan menjadi Juruselamat umat manusia, maka kejadian 3:15

sungguh di genapi18

Hubungan Tuhan yang baru dengan umat manusia, seperti yang

diperkenalkan dalam kejadian 12 melalui pengilan atas diri Abraham. “bersifat

khusus, jika dipandang dari segi metodenya , tetapi masih bersifat umum, kalau

dilihat dari sudut perjanjian, rancangan dan akibatnya,” Tuhan memanggil satu

orang, tetapi disaat yang sama memikirkan seluru dunia. Tuhan ingin memberi

berkat dan keselamatan kepada semua ras dan bangsa, melalui satu orang, dari

benih dan keturunanya. Tuhan tidak memanggil Abraham untuk kepentingan

Abraham sendiri, melainkan dengan pandangan kedepan, yakni demi umat

manusia.

Rancngan janji-janji Allah kepda Abraham mempunyai tujuan umum.

Anak Abraham, Ishak, mewarisi janji ini, dan kemudian Yakub (Kej 26:4;

28:14). Menyusul Yehuda (Kej 49:10), dan menunjuk kedepan yaitu kepada

Juruselamat yang akan datang. Benar bahwa dalam Kristuslah janji Abraham

digenapi. Sehinga janji Abraham itu sampai kepda bangsa Israel. Dalam kitab

Keluaran, dapat mempelajari bagaimana Tuhan mengankat bangsa Israel serta

mengingatkan mereka bahwa merekalah pewaris Abraham dan sekaligus

pewaris janji Tuhan (Keluaran 19:4-6a).

Melalui mereka Tuhan akanmemberkati bangsa-bangsa. Melalui

bangsa Israel Ia akan menyampaikan rencana keselamatan-Nya sampai kepada

suku-suku bangsa ditempat yang paling terpencil sekalipun.

18
. Jongkuk Kim. Diktat, hlm. 52.
8
Panggilan Abraham adalah bahagian utuh dari rencana misi Allah

yang bertujuan membawa shalom kepada manusia dan seluruh ciptaan-Nya.

Untuk melaksanakan rencana misi-Nya ini, Allah telah memberikan “mandate

misi” bagi umat-Nya untuk menjadi mandataris-Nya, sebagai mandate taris

misi Allah, umat Tuhan diberikan tanggung jawab untuk memenuhi bumi

dengan umatya serta melakukan dan menguasai bumi bagi kemuliaan-Nya (Kej

1:28). Mandat Misi Allah inilah yang menjadi dasar penting bagi penginjilan19

Sejak kejatuhan manusia kedalam dosa (Kej 2 dan 3), maka Allah

memberikan “janji penyelamatan/kabar baik/injil yang paling awal” dengan

tujuan terpenting yaitu untuk membebaskan manusia dari dosa (Kej 3:15;

Galatia 4:4; Matius 1:21; 1 Timotius 2:5). Ketika Adam jatu kedalam dosa (1

Petrus 2:24; Roma 5:12-21; Kejadian 6:5) akibat manusia kehilangan

kemuliaan Allah, kehilangan peluang untuk menukmati shalom Allah. Dengan

demikian setiap orang yang berbuat dosa pasti kehilangan kedamaian. Dosa

menyebabkan mereka kehilangan shalom. Maka pembebasan direncanakan

Allah untuk dilakukan untuk dilakukan melalui Tuhan Yesus Kristus. ( I Petrus

1:18-2; 2:18-25, Roma 1:16-17) dari janji pembebasan inilah kuasa-kuasa

pembebasan Allah itu dinyatakan, dimana ia terus membebaskan manusia

berdosa ( Ibrani 11), sampai kuasa pembebasan-Nya berpuncak pada

pengorbanan Yesus Kristus.

Yakob Tomatala berkata bahwa Allah berdaulat itulah yang

menyelamatkan bagi dirinya suatu umat dimana kepada mereka Ia telah

memberikan mandate misi yang ditopang oleh janji berkat-Nya (Kejadian 1:26-

28; 12:1-3; Ulangan 28). Pada pihak lain ada pada umatnya tanggung jawab

19
. Y Tomatala. Penginjilan Masa Kini jilid , (Malang: Gandum Mas, 2004), hlm. 7.
9
untuk melaksanakan misi Allah itu. Disinilah terletak beban yang harus

dilaksanakan serta dipertanggung jawabkan kepada Allah, pemberian mandate

misi tersebut.20

Dengan demikian penulis menyimpulkan bahwa, misi dapat diartikan

sebagai melaksanakan tugas perdamaian, tugas membawa shalom, berita

keselamatan seutuhnya dari Allah. Tugas inilah yang diproglamirkan oleh

setiap Nabi dalam Perjanjian Lama, dengan memanggil orang berdosa untuk

bertobat kepada Allah. Sehingga misi dalam Perjanjian Lama memiliki dasar

yang kuat yang beranjak dari hati Allah dengan rancangan shalom-Nya yang

kekal. Pada sisi lain umat-Nya atau orang percaya memiliki tanggung jawab

menikmati serta memproklamirkan shalom Allah bagi manusia berdosa,

dengan menjadi alat berkat dari Allah kepada dunia yaitu manusia berdosa di

segala abad dan tempat.

a.1. Dalam Perjanjian Baru

Berbeda dengan Perjanjian Lama, di dalam Perjanjian Baru “Misi”

merupakan tema utama. Hampir semua Kitab dan Surat yang ada di dalamnya

berbicara tentang misi. Dimulai dari kedatangan Yesus Kristus ke Bumi, ini

merupakan misi yang sangat Agung, Ini disebut dengan “Missio Christi

(pengutusan Kristus) : dalam arti (a). Kristus mengutus murid-muridNya, (b).

Kristus diutus Allah. Yohannes 20:21. Sebagaimana Bapa telah mengutus Aku,

demikianpun Aku mengutus kamu.21 ”

20
. Tomatala. hlm. 8.
21
. H.Venema, Injil Untuk Semua Orang,( Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1997), hlm.
10
10
Para rasul dan gereja mula-mula dikatakan juga demikian, karena

semua tulisan kepada gereja-gereja dibangun melalui usaha-usaha misionari

yang menyatukan misi Yesus dengan misi Gereja. Kehidupan Yesus dan

kehidupan Gereja dalam Lukas dan Kisah Para Rasul menjadi satu dalam Roh

Kudus.22

Herold menyatakan bahwa “dalam Perjanjian Baru, misi adalah

ekspresi yang wajar dari kekristenan yang hidup.” Dia menegaskan bahwa sifat

hakiki kekristenan itulah misi”.23

Yesus Kristus mengajarkan bahwa Dialah satu-satunya jalan kepada

Bapa (Yoh 14:6) Ia berkata kepada pendengar-Nya bahwa mereka akan mati

dalam dosa mereka, jika mereka tidak percaya bahwa Dialah Juruselamat itu.

(Yoh 8:24). Perjajian Baru dapat disebut buku misi, dari Perjanjian Baru misi

ditentukan oleh pengetahuan bahwa waktu eskatologi telah menyingsing,

sambil membawa keselamatan dalam jangkauan semua orang yang

digambarkan dalam pengenapan-Nya yang terakhir. Dan gereja yang

melakukan pelayanan misi dimungkinkan oleh kedatangan Kristus dan

menyingsing peristiwa keselamatan yang eskatologis. Sewaktu Yesus sebagian

besar hidup-Nya di dunia untuk melayani bangsa-Nya sendiri, yaitu orang-

orang Yahudi, jelas bahwa Ia juga mencita-citakan pelayanan Injil di seluru

dunia (Luk 13; Mat 24:14; 15; 21-2; 8:5-13). Sepanjang masa perjalanan hidup-

Nya, Yesus berusaha menyiapkan murid-murid-Nya untuk pelayanan mereka

membawa Injil kepada semua bangsa.24

22
Widi Artanto. Menjadi Gereja Missioner, (Yogyakarta: Kanisius dan BPK Gunung Mulia,
1997), 41.
23
. Ibid., hlm. 54
24
. Jongkuk Kim. Ditat. hlm. 56.
11
Seperti yang diamati oleh Stott, tema mengenai pekabaran Injil semakin meningkat
dalam Perjanjian Baru, “Misi pertama adalah milik Allah, karena Dialah yang
mengutus nabi-nabi-Nya, Anak-Nya, Roh-Nya. Dari antara misi-misi ini, misi
Anak Allah merupakan puncak dari pelayanan, dan dalam misi ini tercakup
pengutusan Roh Kudus sebagai klimaknya. Berita Perjanjian Baru adalah bahwa
Allah Perjanjian Lama yang mengabarkan Injil itu telah datang, dalam rupa seorang
manusia, sehingga Ia dapat memberikan keselamatan kepada ciptaan yang dahulu
memilih untuk tidak taat kepada-Nya. Tetapi ada lebih dari itu yaitu kepada mereka
yang menerima keselamatan dari penebusan Ilahi yang diutus Allah, diberikan satu
tugas untuk mengabarkan berita itu keseluru dunia. Misi dalam Perjanjian Baru
bersifat sentrifugal (dari pusat keluar), yang berarti bahwa dari Gereja atau dari
Israel kabar keselamatan akan di sampaikan kepada semua suku-suku bangsa.25
Dapat disimpulkan bahwa misi yang dimaksud dalam Perjanjian Baru

adalah karya Keselamata Tuhan Yesus Kristus yang digenapi dengan

pengorbanan diri-Nya sebagai korban untuk menebus dosa manusia karena

focus utama misi adalah mahkota penciptaan.26

Tidak ada keselamata tanpa penderitaan Yesus Kristus. Semua ini

tergenapi di dalam Yesus Kristus yang bersedia menjadi korban bagi umat

manusia yang berdosa. Misi sedunia adalah kehendak Allah, oleh karena itu

setiap orang Kristen harus terlibat dan mengambil bagian dalam pekerjaan yang

mulia ini.

Perintah Amanat Agung yang diberikan Tuhan Yesus untuk

memuridkan segalah bangsa akan tetapi berlaku sampai akhir zaman. Tugas

sebagai orang adalah memberitakan Injil kepada setiap suku dan bahasa dan

kaum dan bangsa. Amanat Agung ini merupakan tugas ini dari misi,

yaitu”menjadikan murid” dari segala suku bangsa.

25
. John R. W. Stott, Christian Mission in the Modern World (Downer Grove: Inter-Varsity
Press, 1975),15-34.
26
. David J Bosch. Transformasi Misi Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), hlm. 84.
12
Fokus inti misi yaitu “menjadikan murid” akan melibatkan dan akan

menggerakkan umat Allah untuk pergi sebagai proses pelaksana strategi dan

tanda taat kepada Allah untuk memberitakan Injil, Babtis sebagai proses

Inkorporasi kedalam wadah umat Allah untuk ditegukan menjadi anggota

gereja, dan Ajar sebagai proses konseptualisasi yang menunjang pemahaman,

perubahan dan pendewasaan hidup serta peran umat Allah27

Karena PB adalah dokumen misi itu sendiri dalam Alkitab, maka

pembahasannya tidak akan spesifik kitab per kitab tetapi hanya akan melihat

konsep Misi Yesus Kristus yang diamanatkan-Nya kepada murid-murid dan

kisah Rasul “Paulus” dalam garis besar.

1. Misi Dalam Kitab Injil

Yesus dan Misi Misi dalam Perjanjian Lama bersifat sentripetal (dari

luar ke dalam) dalam pengertian bangsa-bangsa datang kepada Israel dan

mereka dapat mengenal dan menyembah Tuhan yang benar sedangkan Misi

dalam Perjanjian Baru bersifat sentrifugal (dari pusat ke luar)yang berarti bahwa

dari gereja atau dari Israel kabar keselamatan akan disampaikan kepada semua

suku-suku bangsa.

Dalam kehidupan Tuhan Yesus pada waktu Dia masih tinggal di dunia

ini, seolah-olah hanya memikirkan Israel saja, tetapi dalam kesempatan yang

lain Dia juga memperhatikan orang-orang bukan Israel.

2. Misi dan Amanat Agung

Bagian Alkitab yang paling terkenal berhubungan dengan tugas misi

adalah Amanat Agung.Amanat Agung merupakan kerinduan dan isi hati Allah

27
. Widyatmadja Josef P. Yesus dan Wong, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), hlm. 31.
13
terhadap dunia ini.Dalam PerjanjianBaru diuraikan tentang kepribadian Allah

yang ingin berkomunikasi dengan manusia.Melalui Roh Kudus, Allah

menggerakkan murid-murid untuk mengkomunikasikan Injil. Pada umumnya

orang Kristen hanya mengenal satu atau dua nats Alkitab yang memuat

AmanatAgung, tetapi Alkitab sendiri menceritakan ada 5 bentuk ucapan

Amanat Agung :

a. Matius 28:18 – 20 –Allah mempunyai otoritas dalam misi sampai akhir

zaman.

b. Markus 16:15 – 18 – Metode dan akibat misi sedunia.

c. Lukas24:46 – 49 – Kristus adalah dasar misi.

d. Yohanes20:11 – 23 – Misi bersifat rohani.

e. Kisah Rasul 1:8–Kuasa Misi sedunia.

Amanat Agung berfokus kepada keselamatan dalam 2 hal :

1. Pemberitaan Injil.

2. Pemuridan.

Misi sedunia adalah kehendak Allah, oleh karena itu setiap orang Kristen harus

terlibat dalampekerjaan yang mulia ini. Roh Kudus yang akan memampukan

gerejaNya untuk mentaati Amanat Agung.

2.1. Misi dan Amanat Agung Menurut Matius.

Menurut Matius Amanat Agung dimulai pada saat Allah mengutus murid-

murid untukmemberitakan Injil. Dialah Tuhan atas tuaian, ia dapat

membuka dan menutup pintu bagi pekerjaan misi, oleh karena itu murid-

murid tidak perlu takut atas kesulitan yang akan dihadapi, sebab mereka

mempunyai Allah yang Maha kuasa.

Tugas pengikut-pengikut Tuhan Yesus :

14
1. Menjadikan semua bangsa muridNya

2. Membaptis mereka

3. Mengajar mereka

Tujuan Amanat Agung dan penginjilan adalah pemuridan supaya

manusia menjadi serupadengan Allah (II Korintus 3:18) sehingga diubah

menjadi serupa dengan gambarNya, dalam kemuliaan yang semakin besar

(Yohanes 3:2). Menjadi murid Kristus berarti mengidentifikasikan diri

sendiri secara total dengan Kristus dan memikul salibNya.

Seorang murid Kristus terus-menerus mengindentifikasikan diri

sendiri dengan Kristus dan bersedia mati bagi Tuhan. Tuhan Yesus ingin

mempunyai murid dari setiap suku bangsa(Matius 28:18-20); Kosep Misi

Yesus Kristus dalam Matius 28:18-20 adalah pernyataan misi yang keluar

dari Yesus Kristus yang dikenal dengan The Great Commision (Amanat

Agung).

Jadi konsep misi dalam Injil Matius adalah konsep Yesus Kristus

sendiri yaitu membawa semua bangsa takluk pada kekuasaan Mesias

pemilik segala kuasa di bumi dan di sorga. Konsep ini jelas merupakan

kelangsungan dari pernyataan-pernyataan Mesianik dalam Perjanjian

Lama.

2.2. Misi dan Amanat Agung Menurut Markus

1. Ditujukan kepada semua makhluk oleh karena Allah adalah pencipta,

Kristus meminta jemaat-Nya membawa keselamatan kepada seluruh

makhluk di dunia tanpa terkecuali.

2. Pemberitaan Injil dibuktikan dengan tanda-tanda.

15
1.3. Misi dan Amanat Agung Menurut Lukas

Karena murid-muridnya sangat kecewa dengan rencana untuk

mendirikan kerajaan secara politis tidak terlaksana, maka Yesus

menghibur mereka dengan sambutan : “Damai sejahtera bagi kamu.”

Sesudah itu Tuhan menjelaskan rencana misi kepada mereka :

1. Misi berdasarkan kitab-kitab suci : Taurat Musa, Nabi-nabi dan

Mazmur. (Lukas 24:44).

2. Inti Injil : kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus (Lukas 24:22).

3. Tujuan : pertobatan dan pengampunan.

4. Pemberitaan Injil bagi segala Bangsa (Lukas 24:47).

5. Alat yang dipakai bagi misi sedunia adalah murid-muridNya.

6. Kuasa dan kekuatan untuk melaksanakan Amanat Agung berasal dari

Roh Kudus yangsudah dijanjikan Allah Bapa (Lukas 24:49).

1.4. Misi dan Amanat Agung menurut Yohanes

Injil Yohanes mengingatkan kita, bahwa murid-murid diutus sama

seperti Bapa mengutusAnakNya yang Tunggal yaitu Tuhan Yesus

(Yohanes 20:21-23). Murid-murid harus mengidentifikasikan diri dengan

Kristus, karena mereka telah diperlengkapi oleh Roh Kudus“terimalah Roh

Kudus” (Yohanes 21:22).

2. Rasul Paulus dan Misi.

Paulus adalah seorang Penginjil dan Misionaris yang paling berhasil.Dia

berkotbah disinagoge, di pasar dan di tempat-tempat yang lain, menguatkan

jemaatnya yang baru didirikan agar sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan.

Paulus senantiasa mengabarkan bahwa Allah sudah mengutus seorang

16
Juruselamat, yaitu Yesus Kristus untuk menyelamatkan seluruh umat manusia.

Dalam II Korintus 5:19 “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh

Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah

mempercayakan berita pendamaian itu kepada gereja”

Walaupun Paulus tidak mengulangi Amanat Agung, dia menyebutkan

bagian tersebut dalamRoma 10:12-18; II Kor.5:4-21; Ef.3:1-12; Roma 1:13-17;

I Kor.9:1-16; Fil.2:14-16; ITim.2:1-7.

Konsep Misi Rasul Paulus; misi Rasul Paulus tergambar dalam suratnya

yang kedua kepada jemaat di Korintus yaitu 2 Korintus 5:19-21. Misi dalam

ayat tersebut berkaitan dengan rancangan Allah untuk “mendamaikan dunia

dengan diri-Nya” yang telah dikerjakan melalui penebusan Yesus Kristus.

Paulus dalam motivasi misinya; menurut Michael Green ada tiga motif utama

yaitu: rasa bersyukur, rasa tanggung jawab dan rasa keprihatinan.28 Maksudnya

ia bersyukur karya Kristus yang mulia, ia merasa bertanggung jawab atas

amanat misi untuk menyampaikan kabar baik kepada bangsa yang bukan

Yahudi dan ia merasa prihatin kepada yang tertindas baik karena dosa maupun

karena tekanan kehidupan yang tidak menguntungkan.

Paulus mengindentikan diri dari para pembawa berita pendamaian itu

sebagai  (presbys), “seorang tua” atau “”duta” artinya bertindak

sebagai seorang duta atau kadang hanya semata-mata pembawa berita. Seorang

duta adalah petinggi sebuah kerajaan atau negara yang ditugaskan untuk

menjadi wakil di negara lain. Ia diutus untuk mengetahui keinginan negara

asing, bernegosiasi tentang perdagangan, perang atau perdamaian. Widi Artanto

menulis:

28
David. J Bosch, Tranformasi Misi Kristen. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999),208-209.
17
Bagi Paulus tujuan misi bukanlah Gereja itu sendiri, tetapi rekonsiliasi

antara Allah dan dunia karena di dalam Kristulah Allah mendamaikan diri-

Nya tidak hanya dengan Gereja tetapi dengan dunia. Kristus dimuliakan

oleh Allah dan diberi nama di atas segala nam supaya dalam nama Yesus

semua lutut bertekuk menyembah Dia. Itulah sebabnya Paulus menyebut

‘semua bangsa’ dalam Roma 1:5 sebagai sasaran paling luas dari misi yang

diterimanya dari Kristus. Tugas inilah yang membawa Paulus berkeliling

di wilayah Meditererania untuk melaksanaan misi.29

Jadi misi merupakan kehadiran Allah di tengah manusia, melalui

duta-duta-Nya, dengan maksud penawaran perdamaian antara Allah dan alam

semesta (manusia).

b. Pengertian Strategi

Scara etimologi kata strategi dalam Kamus Besar Bahasa

Indonesia adalah Ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa

untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam perang dan damai, Ilmu

dan seni memimpin bala tentara untuk menghadapi musuh dalam perang

dalam kondisi menguntungkan, Rencana yang cermat mengenai kegiatan

untuk mencapai sasaran khusus, Tempat yang baik menurut siasat

perang30. Lebih lanjut lagi disampaikan oleh Dessy Anwar dalam Kamus

29
Widi Artanto. Menjadi Gereja Missioner. (Yogyakarta: Kanisius dan BPK Gunung Mulia,
1997), 42.
30
. Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,
2008), hlm. 1092.
18
Lengkap Bahsa Indonesia bahwa: Strategi adalah suatu yang direncanakan

untuk mencapai suatu maksud dan tujuan yang telah ditetapkan.31

Penulis dapat mengambil suatu pengertian tentang strategi

adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai suatu

sasaran khusus, demi suatu tugas yang dianggap sebagai kewajiban yang

dilakukan demi agama. Sehingga ketika mau mengerjakan sebuah misi

pemberitaan Injil maka perlu strategi.

Maka hal yang sama yang dikemukakan juga oleh C. Peter

Wangner bahwa: Strategi adalah cara yang dipakai untuk mencapai sasaran

yang telah ditentukan sebelumnya.32 Dari defenisi yang sederhana tersebut,

menjadi jelas bahwa perencanaan strategi itu penting sebagai bagian dari

kehidupan sehari-hari agar dapat mengetahui sasaran-saran apa saja yang

sudah di capai. Untuk menyususn suatu strategi, maka harus mempunyai

sasaran yang jelas. Mengenai dengan Strategi David Royal juga

memaparkan argumennya bahwa startegi akan disusun apabilah sasaran-

sasaran sudah di tentukan. Berikut argumenya.

…sasaranya haruslah, melalui segala sasaran yang tersedia, dengan

waktu yang sedini mungkin, sehingga tiap orang akan mendapatkan

kesempatan untuk mendengar, mengerti dan menerima Kabar baik

itu. Namun untuk mencapai sasran ini dibutukan adanya startegi.33

31
Dessy Anwar. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Korga Abdi Tama, 2001), hlm.
450
32
. C. Peter Wagner. Strategi perkembangan gereja, (Malang: Gandum Mas, 2003), hal.14
33
. David Royal Brougham. Merencanakan misis lewat gereja-gereja Asia, (Malang: Gandum
Mas, 2001), hal.202.
19
Pandangan David diatas sangat jelas yang memposisikan

staretgi adalah suatu yang sangat penting dari setiap sasaran-saran yang

ingin dicapai, karena melaui staretgi akan mendidik dan melibatkan tiap

orang percaya dalam karya mencapai orang-orang yang terhing. Gereja

harus menyadari tanggung jawabanya menuju sasaran ini, harus ada

pengukuhan rencana-rencana kedalam strategi yang efektif, yang akan

mengerahkan orang-orang percaya, dan membuat tiap orang percaya untuk

menyusun strategi demi target-target yang sudah ditentukan dan

direncanakn agar mendapatkan pencapaian yang lebih baik. Untuk

mencapai hasil yang lebih baik dalam penjangkauan jiwa-jiwa maka

Dayton dan Fraser juga menulis bahwa:

People and culture are not like standardized machines that have

interchangeable parts. We cannot simply use an evangelism approach that

has worked in one context in another and expect the same results. Strategies

must be as unique as the peoples to whom they apply.34

Berdasarkan pandangan diatas maka penulis menyimpulkan

bahwa misi penginjilan yang dilaksanakan harus disesuaikan konteks pada

suatu tempat, artinya Injil harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi

dalam suatu masyarakat dan budaya agar berita Injil yang dibawa dapat

diterima oleh pendengar. Karena pendekatan Injil yang telah dilaksanakan

dalam satu konteks, belum tentu sama dengan konteks yang lainnya, sebab

34
. Gailyn Van Rheenen. Biblical Foundations dan Contempotary Strategies, (America:
Zondervan Publishing House, 1996), hlm. 145
20
setiap tempat mempunyai konteks yang berbeda. Jadi untuk memenangkan

jiwa, harus mempunyai strategi yang sesuai, yang terdapat dalam

masyarakat dan budaya setempat.

Untuk memahami bagaimana merencanakan suatu strategi misi

bagi penginjilan yang akan diadakana melalui gereja lokal, maka

komponen-komponen dasar berikut perlu di perhitungkan. Dapat dilihat

berikut ini:

a.1. Hakekat Injil Dalam Rencana Keselamatan Dari Allah adalah

Landasan Bagi Strategi Misi

Hakekat dan tempat Injil dalam rencana keselamatan Allah

seutuhnya dapat dilihat dalam korelasi integral dari Injil itu sendiri. Hal

dimaksud dapat dipahami dengan melihat kisi kebenaran seperti dibawah

ini:

b.1.1. Injil adalah kuasa Allah yang membawa keselamatan dari

Allah (Roma 1:16-17). Injil telah ditetapkan oleh Allah

untuk memenuhi rencana keselamatan-Nya yang kekal

yang membawa shalom kepada manusia (II Petrus 3:9)

b.1.2. Inti Injil adalah Yesus Kristus, Mesias, Juruselamat dunia

(Roma 1:2; I Korintus 15:1-4; 11:23-26; Kisah Para

Rasul 4:12; Yohanes 14:6), sehinga Ia adalah “Core

Truth” dan “Ultimate Aim” dan seluru rencana Allah

21
yang merupakan sumber shalom ( Yohanes 14:6, 27;

Yesaya 32:17).

b.1.3. Injil membebaskan manusia berdosa seutuhnya (Lukas

4:18-19), sehinga pendangan dan pelayanan Kristen

harus bersifat utuh (holistic) yang menyentuh kebutuhan

manusia dari segala aspek.

b.1.4. Allah menyelamatkan melalui Yesus Kristus dalam

pembritaan Injil (Roma 10:9-15; Kisah Para Rasul 4:12),

sehingga pekerjaan keselamatan Allah dalam seluruh

sejara suci-Nya bertumpu pada Kristus yang adalah

“Hinge of History.”

b.1.5. Keselamatan Allah yang transformative bekerja dalam

kuasa Injil melalui suatu proses yang dinamis

bersinambung (Roma 10:9-15; II Timotius 3:15-17; II

Korintus 5:17). Proses kerja Inji yang membawa shalom

dari Allah ini berawal dari penyentuhan serta

pembebasan orang berdosa sampai kepada pendewasaan

dan peneguhan hidup orang percaya baru yang

diselamatkan oleh Allah Injil itu kea rah kedewasaan.

b.1.6. Sasaran terfokus dari Injil ialah menjadikan murid

(Matius 28:19-20), dimana setiap kali Injil diwartakan,

terlihat secara simultan adanya tindakan Allah yang

menyelamatkan dan meneguhkan setiap mereka yang

telah diselamatkan “menjadi murid”/ atau umat milik-

Nya, untuk menikmati shalom-Nya.

22
b.2 Peranan Gereja Sebagai Umat Allah dalam Misi Melalui

Pekabaran Injil

Dalam kaitan dengan peran gereja sebagai umat Allah,

maka perlu ditekankan bahwa gereja mempunyai kedudukan yang penting

dalam seluru rencana Allah. Terkait dengan ini maka dapat dikatakan

bahwa gereja yang adalah umat Allah adalah juga “Vice-regent”-Nya

dengan tugas mendatori membawa berita tentang Yesus Kristus ( II

Korintus 5:20; I Korintus 3:5-9; Roma 1:5; Efesus 4:9-16; Matius 10:1-4).

Gereja dalam hal ini harus mewujud-buktikan tanggung jawab

pemberitaan Injil berlandaskan kebenaran berikut:

b.2.1. Bagi umat Allah penginjilan harus diambil sebagai “ tugas

Apostolik” (Matius 28:19-20; Yohanes 17:18; 20:21).

b.2.2. Motif dasar umat Allah dalam melaksanakan tugas

penginjilan ialah KASIH (Yohanes 13:2, 34-35; Markus

10:45; Matius 9:35).

b.2.3 Fokus penginjilan adalah dunia, dimana tugas pekabaran

injil yang dilakukan dari dalam dan melalui gereja (gereja

lokal) kepada dunia menegaskan bahwa gereja sedang

bertanggung jawab membawa Injil yang shalom sampai ke

“ujung bumi.” Injil yang shalom ini akan sampai keujung

bumi apabilah gereja dengan segenap upaya

menyampaikan Injil kepada “segala bangsa” (Matius

28:19-20).

23
b.3. Pola Dasar Pelaksanaan Tugas Penginjilan.

Pola dasar pelaksanaan tugas penginjilan beranjak dari

perspektif dan praktek pelayanan Tuhan Yesus. Pola dasar bagi

pelaksanaan tugas pekabaran ini dapat dirangkum sperti di bawa ini:

b.3.1 Pemilihan (Lukas 6:13) dari Allah atas umat-Nya berawal

dari panggilan-Nya bagi mereka kepada keselamatan-Nya

(Yohanes15:16; 10:28-29; Roma 8:29-30; Matus 9:35-38;

10:1-15). Pemilihan Allah ini adalah dasar bagi panggilan

pelayanan dari setiap orang Kristen untuk mengabdi

kepada-Nya.

b.3.2. Persekutuan (Matius 28:20; Kisah Para Rasul 2:41-43)

yang merupakan langka penguatan dan peneguhan dari

Allah bagi kehidupan umat-Nya, yang dibangun diatas

firman-Nya. Dari persekutuan umat Tuhan inilah tugas

pekabaran Injil dapat dilakukan secara bertanggung jawab.

b.3.3. Persiapan (Matius 11:29) atau perlengkapan adalah bagian

dari tugas “pemuridan” yang bertujuan untuk

memperlengkapi setiap komponen anggota gereja untuk

disiapkan menjadi saksi Kristus ditengah masyarakat.

b.3.4. Pengurapan (Yohanes 20:22) yaiyu meneguhkan khusus

dari Allah oleh Roh Kudus yang memperlengkapi setiap

dan semua orang Kristen di dalam gereja dengan kuasa

(Matius 28:19-20; Markus 16:15-16) guna memberitakan

Injil.

24
b.3.5. Keteladanan (Yohanes 13:15) dari pemimpin dan setiap

orang Kristen merupakan bagian dari tanggung jawab

hidup dan kehidupan yang harus di wujudkan dalam

praktek hidup keseharian secara konsisten. Hidup

keteladanan ini berperan memberikan “model” yang

mendorong terjadinya pelibatan dari semua anggota dalam

pelayanan (Ibrani 13:7,17; I Petrus 5:1-5).

b.3.6. Pengutusan (Matius 4:19; Yohanes 17:18; 20:21)

merupakan tidakan inisiasi misi, yang dilakukan oleh

Tuhan Yesus dengan mengutus gereja ke dalam dunia

untuk menginjil yang pada gilirannya gerejapun mengutus

(ulang) semua anggotanya dalam cara dan tujuan yang

sama.

b.3.7. Pengawasan (Markus 8:17), adalah tugas pemastian bahwa

pelayanan pekabaran Injil dilakukan dengan penuh

tanggung jawab, sehinga Injil yang disebarkan dapat

menjangkau sebanyak mungkin orang oleh pelayanan

semua anggota jemaat.

b.3.8. Berbuah (Yohanes 15:16) adalah kenyataan yang

menunjuk kepada adanya “reproduksi” yang membawa

hasil nyata, yaitu adanya jiwa-jiwa baru yang telah

dimenagkan bagi Kristus melalui pelayanan gereja-Nya.

b.4. Model Pendekatan Penginjilan dalam Tugas Misi.

25
Metode pendekatan penginjilan yang sesungguhnya dalam

pelaksanaan tugas misi adalah bersifat kontekstual. Pendekatan misi

yang kontekstual dengan matra-matranya yang utuh berperan sebagai

dasar untukmembangun suatu pendekatan bagi pelaksanaan tugas misi

dan pekabaran Injil yang relevan dan produktif. Landasan kontekstual

dimaksud tidak akan disinggung di sini, sebaliknya yang akan dibahas

ialah beberapa aspek fondasional yang olehnya dapat dibangun metode

pendekatan bagi pekabaran Injil dalam situasi actual. Aspek fondasional

dimasud dapat ditemukan dalam penjelasan berikut di bawa ini.

b.4.1. “Pendekatan Presence” atau kehadiran, dalah aspek yang

menunjukan kepada tanggung jawab gereja yang

berkesadaran dan yang diwujudkan dengan tidakan social

melalui “kehadiran terencana”

b.4.2. “Tugas Proclamation” atau pewartaan adalah aspek yang

berkaitan dengan kerygma, yaitu pemberitaan tentang

Tuhan Yesus Kristus Juruselamat, sebagai inti atau focus

berita injil.

b.4.3. “Tindakan Persuasion atau peyakinan” adalah spek yang

berhunbungan dengan upaya “meyakinkan” isi berita

Injilyang telah disampaikan untuk memberikan peluang

bagi pendengar Injil agar mereka dapat mengambil waktu

dan membuat keputusan yang bijaksana (Yohanes 1:12;

3:16; I Yohanes 5:13).

b.4.4. Langkah Incorparation into the Body” atau pelibatan yang

adalah aspek yang bertalian dengan tindakan melibatkan

26
setiap atau semua orang yang baru percaya ke dalam gereja

dan persekutuan jemaat agar mereka dibangun dalam iman

dan pada gilirannya membangun orang lain dalam

pelayanan yang berkomunitas (Efesus 4:9-16; I Korintus

12:1-11, 13, 27-30; 14:26).

Pendekatan apa pun yang dipakai, sasran praktis

penginjilan harus terfokus secara tegas kepada upaya

“memenangkan orang berdosa” bagi Kristus (II Korintus 9:19-

27), dan kemudian melibatkan mereka ke dalam gereja (gereja-

Nya), untuk bertumbuh, bertambah dan reproduksi.

b.5. Strategi Pelaksanaan Tugas Misi dan Penginjilan dari dalam dan

melalui Gereja.

Telah ditegaskan bahwa “Pertumbuhan gereja adalah penginjilan,”

yang dapat menuntun kepada kesimpulan bahwa penginjilan harus dimulai

dari atau melalui dan oleh orang Kristen dalam setiap gereja local. Dengan

demikian, langka-langka penginjilan yang dapat dilakukan bagi

pertumbuhan gereja perlu memperhatikan pendekatan seperti yang akan

diuraikan di bawah ini:

b.5.1. Langkah persiapan.

Persiapan penginjilan dalam gereja harus dilkukan

dengan penuh perencanaan untuk diwujudkan

secara bertanggung jawab, antara lain:

1) Doa puasa.

27
2) Perencanaan (Lukas 14:28-29), yang

diawali dengan menetapkan tujuan

pertumbuhan gereja yang jelas dan

merencanakan program yang terfokus yang

memiliki kriteria khas berikut:

a) Target yang spesifik:

b) Program yang dapat dilaksankan:

c) Tugas dapat dicapai:

3) Hasil kerja yang dapat diukur atau dinilai:

Mobilisasi dan latihan.

Mobilisasi dilaksankan dengan

melibatkan semua anggota yang digerakan

untuk dilatih bagi tugas penginjilan. Hal

dimaksud dapat dilakukan dengan langkah

berikut:

a) Memantapkan komitmen dari semua

anggota yang ditunjukan kepada Allah,

gereja, dan penginjilan dunia.

b) Menolong agar setiap anggota jemaat

mengenal karunia rohani (Kharisma)

c) Mengadakan pelatihan PI (pekabaran

Injil).

d) Penugasan tugas penginjilan dan

dimanajemen sedemikian rupa untuk

28
memastikan tugas dan pelayanan setiap

anggota jemaat secara terpadu.

b.5.2. Pelaksanaan tugas penginjilan.

Pelaksanaan tugas penginjilan harus

dirancang degan apik dalam semua sector

bagi semua strata masyarakat yang

dilaksanakan melalui penginjilan pribadi.

b.5.3. Penanaman gereja baru.

Menanam gereja (charch Planting) local

baru, harus dilakukan melalui upaya

penginjlan seperti yang telah disinggung

diatas.

b.5..4. Pengutusan Misionari

Pengutusan misionari merupakan tindak

lanjut strategi penginjilan untuk

menjangkau orang-orang dalam jarak

geografis dan budaya yang jauh (Kisah Para

Rasul 13) baik berada dalam satu Negara

atau pun diluar batas negara dimaksud. 35

C. Teologi Misi

35
. Yakob Tomatala. Teologi Misi, (Jakarta: YT Leadership Foundation, 2003), hlm. 209-219
29
Secara khusus pengertian Misi secara teologis dapat defenisikan sebagai berikut :

Arie de Kuiper menjelaskan tentang asal kata Misi, dalam Ilmu pengetahuan dipakai

istilah missiologia atau Ilmu yang mempelajari tentang misi. Istilah Missiologia berasal

dari kata Latin mittere atau mission artinya to send off atau pengutusan.36 Dalam Bahasa

Yunani dipakai dua kata: apostello artinya mengutus dan pempo yang artinya mengirim.

Dalam Yohannes 20:21 kedua kata ini dipakai dalam satu ayat, “Sama seperti Bapak

mengutus (apostello) Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus

(pempo, mengirim) kamu.” Kata kerja Latin mittere (mengirim) digunakan sebagai

terjemahan untuk kedua kata Yunani apostello dan pempo. Sudah jelas dari terjemahan

Yohannes 20:21, bahwa kedua kata ini dipakai dengan arti yang sama. Hanya, kata pempo

lebih luas artinya dari apostello Dalam Bahasa Indonesia juga kata mengirim lebih luas

dari mengutus.37

Dalam bahasa Inggris/Jerman/Perancis adalah Mission. Belanda Missie

dipergunakan dalam kalangan Gereja Roma Katolik, padahal Gereja Protestan umumnya

memakai istilah Zending.21 Dalam bahasa Yunani kata misi berpadanan dengan kata

apostello, Kata ini tidak berarti mengirim/kirim secara umum, istilah ini lebih berarti

mengirim dengan otoritas.38 Lebih lanjut lagi Tomatala menuliskan bahwa di dalam

36
Yakob Tomatala, Teologi Misi ( Jakarta: YT Leadership Foundation, 2003),16
37
H.Venema, Injil Untuk Semua Orang,( Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1997), 46
21
Arie De Kuiper, Missiologia (Jakarta:BPK Gunung Mulia,2006), 1
38
Yakob Tomatala, 16
30
“misi” berbicara bahwa Allah adalah sebagai pengutus, Allah adalah sumber , inisiator,

dinamisator, pelaksana dan penggenap Misi.39

Jadi dapat disimpulkan sementara berdasarkan penjelasan di atas bahwa misi

(mission) adalah misi Allah (missio Dei) sedangkan misi (missions) adalah tugas dari

misi Allah itu (yang dipercayakan oleh Allah kepada umat-Nya). Menurut artinya, dapat

dikatakan bahwa "mission” adalah "pengutusan TUHAN," dimana "mission beranjak

dari hati Allah ke dalam jagad ciptaan-Nya, dan "missions" adalah tugas-tugas "mission,"

yaitu tugas-tugas pengutusan yang dilaksanakan oleh umat Allah untuk menggenapkan

keseluruhan rancangan Allah yang kekal guna membawa keselamatan bagi ciptaan-Nya.

Selanjutnya Misi atau pengutusan yang adalah mandat Kristus yang diberitakan

kepada setiap orang percaya, Tomatala menyebutkan bahwa

“misi adalah suatu mandate yang harus dilihat dari sisi penugasan pengutusan Allah, di

mana telah diungkapkan sebelumnya bahwa misi mulia di hati Allah, sehingga misi

dengan sendirinya berpusat pada Allah.” Ari De Kuiper mengurutkan Pengutusan sebagai

berikut:

Pertama40,Missio Ecclesiae (Pengutusan Gereja) : pekerjaan missioner dari

Jemaat Kristen sepanjang sejarah dunia. Kedua, Mission Apostolorum

(pengutusan para rasul): Pekerjaan Para Murid-murid yang diutus untuk

menyampaikan Injil kepada semua orang.KeMissio Christi (pengutusan Kristus)

39
ibid,16
40
Yakob Tomatala, hlm 77
31
: dalam arti (a) Kristus mengutus murid-muridNya, (b). Kristus diutus Allah.

bnd.Yohannes 20:21. Sebagaimana Bapa telah mengutus Aku, demikianpun Aku

mengutus kamu. Ketiga, Missio Dei (Pengutusan Allah) : yakni keseluruhan

pekerjaan Allah untuk menyelamatkan dunia : pemilihan Israel, pengutusan para

nabi kepada Israel dan kepada bangsa-bangsa sekitarnya, pengutusan Kristus

kepada dunia, pengutusan rasul-rasul dan pekabar-pekabar Injil kepada bangsa-

bangsa. Allah adalah Pengutus Agung. 41

Misio Dei mempunyai tujuan khusus yaitu Allah berencana untuk mendamaikan

manusia dengan diriNya dan dengan manusia lain dan mempersatukan mereka ke dalam

suatu kesatuan yang terdiri atas manusia dari setiap kelompok manusia baik etnik,

budaya, bahasa dan geografi, sehingga suatu jumlah besar orang yang tak terhitung

banyaknya dari setiap suku dan bangsa, kaum dan bahasa akan diselamatkan dan berdiri

di hadapan Allah di dalam surga (Wahyu 5:9; 7:9). Fokus ini terlihat dengan jelas dari

awal Perjanjian Lama hingga akhir Perjanjian Baru. Kemudian Chris Marantika

menuliskan bahwa alasan orang percaya untuk turut berpartisipasi dalam proyek Allah

yaitu Misi sebagai proyek Allah bagi dunia adalah karena Allah itu baik, kemudian Allah

itu baik dalam kemanusiaanNya, Allah itu baik dalam tujuanNya, Allah itu baik dalam

penampilanNya, Manusia itu indah dimana sebelum jatuh dalam dosa manusia

diciptakan dalam kondisi sempurna secara keseluruhan, seimbang, dan mulia..

Selanjutnya adalah kedudukan manusia dalam ciptaan sangat indah,dan terakhir Dosa

41
Arie De Kuiper,hlm 10
32
itu tidak baik dan Keselamatan adalah Pemberiaan Allah yang sangat mulia.42 Sebagai

kesimpulan dari penjelasannya Chris Marantika menyimpulkan empat hal yaitu :

Pertama, Misi dunia dimulai dari hati dan pikiran Allah. Dia adalah awal dari

semuanya, Dia merencanakan dengan kasih dan kuasa. Kedua, Misi dunia adalah

rencana Ilahi untuk membawa manusia kembali kepada keadaan mereka semula

yang diciptakan Indah. Ketiga, Misi Dunia adalah sesuatu yang penting karena

dosa telah merusak keindahan manusia dan dunia. Keempat, Misi dunia adalah

harapan dunia karena Penebusan Allah telah siapkan di kekekalan untuk

menyelamatkan yang hilang.43

Sejarah keselamatan dalam Alkitab merupakan cara yang Allah pakai agar

tujuanNya tercapai. Dalam rencana Allah yang sedikit dipakaiNya untuk menjangkau

yang banyak. Dia memilih satu bangsa (Yahudi), satu orang (Abraham) serta benihnya

atau keturunannya, Mesias (Yesus) agar seluruh umat manusia dikembalikan kepada

pengetahuan yang benar dan persekutuan dengan Allah serta membawa keselamatan

kepada semua kaum di dunia. Maka, berkat Allah sebagaimana dijanjikan kepada

Abraham sekarang dapat diberikan kepada orang-orang bukan Yahudi (Galatia 3:14).

Pemahaman tentang misi seperti di atas sejalan dengan pandangan George W.

Peters, yang mengatakan bahwa mission adalah ”tugas total dari gereja Yesus Kristus.”28

Pengertian misi sebagai tugas total begitu komprehensif, sehingga kaitannya mencakup

42
Chris Marantika, Principles & Practice of The world Mission (Yogyakarta:Iman
Press,2002),17-27
43
ibid, 29-30
33
hubungan ke atas (Allah), dengan diri (ke dalam), dan hubungan dengan dunia (ke luar)

sebagai fokus misi.

Misi termasuk dalam bagian Ilmu Teologi. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya

bahwa Ilmu yang mempelajari tentang misi dalam Ilmu teologi disebut Misiologia atau

Misiologi.44 Pendapat beberapa ahli tentang kedududukan misiologi dalam dunia teologi,

Pertama, F.E Daunbaton mengatakan bahwa misiologi memiliki tempat tersendiri dari

Teologi, jadi misiologi memiliki kedudukan yang sama dengan Bibliologi, Ekklesiologi,

Soteriologi dan seterusnya. Venema memberikan tanggapan atas penempatan misiologi

yang disampaikan oleh Daunbaton ini bahwa kedudukan ini sangat berbahaya karena

hubungan misiologi dengan bagian-bagian teologi yang lain gampang atau tidak

kelihatan lagi.45 Kedua, J.H Bavinck bersama dengan Teologi

Reformed menempatkan Misiologi dalam Diakonialogi, karena menurut Teologi

Reformed bahwa Misiologi adalah merupakan pelayanan diakoni gereja Yesus Kristus.46

Ketiga, J.C.Hoekendijk yang memiliki pengaruh yang besar dalam gerakan oikumene

mengatakan bahwa teologi adalah bagian dari misiologi, pandangan ini merupakan

kebalikan dari semua pandangan pada umumnya, karena umumnya mengatakan bahwa

misiologi itu merupakan bagian dari dunia teologi. Menurut pandangan ini gereja

hanyalah alat dari penginjilan, gereja dapat disebut sebagai gereja kalau mengarahkan

kepada dunia. Yang diutamakan adalah dunia. Pendapat ini ditolak oleh De Kuiper

dengan mengatakan bahwa pandangan ini memberikan kepada misiologi tempat yang

terlalu luas , karena kalau begitu, maka ilmu teologi tidak lebih daripada teori untuk

44
George Peters, A Biblical Theology of Missions (Chicago:Moody Press, 1979), 11
45
H.Venema, 52-53
46
ibid,55-56
34
Misiologi.47 Selanjutnnya De Kuiper memperbaharui pandangan dari Hoekendijk, ia

berkata “sewajarnyalah menurut hemat kami, jika misiologi merupakan puncak atau

tujuan dari segenap ilmu teologi, dimana terjadi pelaksanaan teori di dalam praktek,

lagipula misiologi merupakan batu loncatan antara usaha teologis dengan usaha

gerejani dan juga mempunyai fungsi kontrol terhadap usaha teologis tersebut.48 Keempat,

hasil pembaharuan dari pandangan Hoekendijk, De

Kuiper mengatakan kedudukan misiologi dalam Teologi merupakan bagian integral

(bulat, utuh) dari segenap ilmu Teologi, sehingga bagian-bagiannya termasuk dalam

bagian–bagian Teologi. De Kuiper menggambarkan kedudukan Misiologi/Pekabaran

Injil dalam Teologi dalam bagan berikut : 33

Allah

Yesus Kristus

Roh Kudus
Filsafat
Ki tab Suci

Sejarah Gereja
dunia Biblika

Historika Theologia Systematika

Praktika
Pekabaran Injil/Misiologi
Dunia

J.Verkuyl memberikan tanggapannya dengan berkata bahwa misiologi adalah

47
Arie De Kuiper,15
48
ibid, 16-17
35
Ilmu yang melengkapi teologi dengan kata lain misiologi adalah Ilmu komplementer.

Tanpa misiologi Ilmu Teologi tidak lengkap atau komplit. Pada setiap segi Teologi perlu

dibahas juga sebagian dari Ilmu misiologi sebagai kelengkapannya.34 Melihat dari

penjelasan- penjelasan yang ada maka penulis lebih setuju dengan pendapat De

Kuiper, Bergema dan Verkuil. Dari bagan diatas dijelaskan bahwa Misiologi atau

Pekabaran injil adalah merupakan pintu gerbang teologi kepada dunia dan kebudayaan,

jadi semua aspek Teologi yang berasal dari Allah sampai kepada gereja disampaikan

kepada dunia melalui Pekabaran Injil yaitu Misiologi. sehingga misi sangat penting dalam

kekristenan karena misi adalah pintu gerbang kekristenan kepada dunia.

Mengkaitkan uraian terdahulu tentang pengertian misi yang menyangkut

“mission, missions,” maka alasan mendasar bagi penggunaan istilah teologi misi

(theology of mission) dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Teologi Misi dalam Penggunaan Khusus.

Kata “Theology” dapat dijelaskan sebagai ilmu pengetahuan

tentang Allah, sedangkat kata “mission” ilah pengutusan Allah yang

diwudkan dalam “self revelation of God,” yaitu pernyataan diri Allah dalam

melaksanakan rencana-Nya yang kekal. Alasan dipakai istilah ini berkenaan

dengan asal-usul pengembangan dan pengunaan istilah misiologi atau teologi

misi yang telah digunakan cukup lama dalam kalangan gereja. Dalam

perjalanan sejarahnya, “misi” itu dipahami oleh gereja sebagai tugasnya

(mission ecclesiarum) dimana misi sudah dikerjakan dengan sadar sekalipun

penggunaan istilah atau teori misi belum dikembangkan secara ilmia dalam

tulisan-tulisan secara luas.


36
a. Defenisi Misi dalam Teologi Misi.

Meninjau balik dari akan apa yang telah diungkapkan didepan

maka untuk mempertegas konsep teologi misi yang dibahas dalam seluru

isi tulisan, pokok pikiran tentang misi (mission dan missions) serta

teologis misi akan didefenisikan secara spesifik. Ada pun tujuan

mendefenisikan semuanya ini ilah untuk mengingat suatu gagasan

konseptual yang berperan sebagai landasan guna mengintegrasikan seluru

bahasa.

1) “Mission” adalah rencana pengutusan Allah (mission Dei) yang kekal

yang (utuh) membawa shalom kepada manusia (umat-Nya) dan

segenap ciptaan-Nya demi kejayaan kerajaan-Nya .” Defenisi ini

mengemukakan bahwa misi adalah rencana Allah yang ESA yang

merupakan isi hati-Nya sejak kekal (kekekalan masa lampau)

yangbertujuan membawa shalom bagi manusia dan segenap ciptaan-

Nya. Rencana shalom ini diteguhkan Allah dengan “perjanjian berkat-

Nya” (Kejadian 1:28a- berkat disini berarti shalom yang utuh), yang

ditunjukan bagi Adam, dimana di dalam Adam seluruh shalom Allah

di untukan bagi umat-Nya. Pada gilirannya adan atau umat Allah

terutus sebagai pembawa shalom bagi segenap ciptaan-Nya (Kejadian

1:28a; Markus 16:15-18; Matius 5:9; Yohanes 20:21)

Tujuan tertinggi dari misi Allah yang membawa shalom itu

adalah “ atau pemerintahan Allah (the Kingdom of God) yang

membawa kemuliaan bagi nama-Nya (Roma 11:36; I Tawarikh 16:24-

37
29; Mazmur 8:2; 29:1-3; Roma 16:25-27; Efesus 3:20-21; Filipi 4:20;

II Petrus 3:9), yang merupakan focus utama dari karya dan penyataan

diri-Nya. Defenisi misi (mission) yang diungkapkan di sini

menegaskan kebenaran-kebenaran asasi berikut:

a) Misi berpusat dan berasal dari Allah (mission Dei).

b) Misi adalah “pengutusan” TUHAN sebagai bahagian dari

pernyataan diri dan karya-Nya yang utu kepada dan melalui

umat-Nya (mission ecclesiae).

c) Misi memiliki motif dan tujuan primer, yaitu membawa rahmat

shalom (mission gratiae).

d) Misi mendapat utopi abadi (tujuan ideal yang tertinggi), yaitu

“kerajaan Allah” yang membawa kemualian bagi TUHAN

Allah, serta merupakan landasan, kerangka dan focus dari

kehidupan umat-Nya.

1) Missions adalah tugas-tugas misi (mission) yang dimandatkan oleh

Allah kepada umat-Nya untuk menjadi “alat shalom-Nya kepada

manusia dari segala bangsa”. Penekanan diatas menandaskan bahwa,

“misi adalah tanggung jawab dari umat Alah, dimana hal ini telah

dimandatkan-Nya kepada mereka. Kebenaran ini bersifat inklusif yang

menyentuh aspek-aspek berikut:

a) Misi adalah mandate shalom dari Allah kepada umat-Nya

untuk menjadi penikmat dan alat berkat-Nya. Mandat shalom

ini adalah mandate misi yang satu (yang memiliki aspek yang

utuh, yaitu aspek rohani, kultural, social, ekonomi,

pemerintahan, politik, pendidikan, kesehatan, teknologi,

38
pembangunan, masyarakat (Kejadian 1:28; Matius 28:19-20)

dengan tugas-tugas yang beragam untuk membawa membawa

shalom kepada manusia dari segala bangsa.

b) Misi adalah tugas-tugas shalom dari umat Allah (yang

berkoinonia, ber-diakonia, ber-marturia, dan ber-kerygma)

dengan bermisi (missions) untuk menjadi berkat melalui

“penginjilan” yang membawa “pertumbuhan kehidupan umat

Allah” (pertumbuhan gereja). Implikasi dari penjelasan di atas

adalah sebagai berikut ini:

o Tugas-tugas misi merupakan tanggung jawab umat

Allah (gereja), dimana mereka harus hidup bagi dan

untuk misi dengan membawa shalom (Kejadian 12:3;

Galatia 3:8; I Korintus 9:16; Matius 5:9).

o Tugas-tugas membawa shalom ini hanya akan terwujud

apabila umat Allah hidup ber-koinonia, ber-diakonia,

ber-marturia dan ber-kerygma dalam konteks

kehidupannya yang nyata sehingga mereka dapat

menikmati serta menjadi berkat (Yohanes 13:34-35;

15:16; 20:21; Kolose 3:12-17).

o Tugas-tugas shalom ini adalah holistic (shalom yang

holistic). Shalom yang holistic ini akan terwujud

melalui penginjilan (presence, proclamation,

persuasion, Incorporation) dimana apabila hal ini

dilaksanakan maka aka ada pertumbuhan kehidupan

39
umat Allah (pertumbuhan gereja) yang shalom (penuh

berkat).49

c) Misi adalah tugas-tugas shalom yang ditunjukan kepada

manusia dari segala bangsa. Kebenaran ini menegaskan

tentang unsur dan nilai universalitas dari tugas-tugas misi

(yang bersifat inklusif) dengan segala aspeknya yang komleks

dengan demikian, tugas-tugas shalom ini hanya dapat

terlaksana melalui pendekatan yang berorientasi kepada segala

bangsa.50

Berdasar uraian diatas maka penulis dapat menyimpilkan bahwa teologi misi yang

dikembangkan dalam tulisan ilmia ini adalah dokmatika Alkitab tentang misi yang Uni-

trinitarian. Teologi misi dimaksud menguraikan mengenai seluk-beluk ajaran Alkitab

yang menjelaskan aspek-aspek utuh dari misi.

Penekanan utama yang terlihat dalam tulisan ini ilah bahwa Allah adalah segala-

galanya bagi misi-Nya. Sisi lain dari kebenaran yang sama mengaitkan misi shalom Allah

dengan umat-Nya (gereja) sebagai alat misi, dan manusia sebagai focus dan penikmat

seluru janji berkat-Nya, Allah berinisiatif membuka diri menemuka manusia pada

konteks kehidupannya yang multifaset, guna mewujudkan shalaom-Nya bagi mereka dan

segenap ciptaan-Nya, dlam mengenapkan rencana misi-Nya yang kekal yang

direncanakan-Nya.

d. Strategi dan Misi Paulus

49
. Y. Tomatala. Pengunjilan Masa Kini Jilid 1, (Jakarta: Gandum Mas, 2004) hlm. 50
50
. Ibid. hlm. 23-27
40
Pauluslah adalah misionaris Kristen yang paling berhasil sepanjang

zaman. Dalam kurun waktu kurang dari satu generasi, ia mengadakan

perjalanan ke seluruh wilayah dunia Laut Tengah, dan mendirikan jemaat-

jemaat Kristen yang berkembang serta aktif ke mana pun ia pergi.

Strategi yang dilakukan oleh Paulus, menurut John Drane dalam bukunya

memahami Perjanjian Baru adalah sebagai berikut:

(1). Paulus sadar bahwa ia hanya seorang pembawa berita, dan kuasa Roh

Kudus sematalah yang membawa perubahan dalam kehidupan orang yang ditemuinya.

Sewaktu mengingat segala penderitaanyang dialaminya, ia menggambarkan dirinya

sebagai "bejana tanah liat" hanya tempat penampung sementara dari kuasa Allah sendiri

(2Korintus 4:7). (2). Tetapi Paulus juga seorang ahli strategi yang ulung. Rutenya tidak

pernah sembarangan, dan cara-cara komunikasinya didasarkan atas

pengertian yang luas tentang proses orang berpikir dan mengambil

keputusan. (3). Paulus merupakan seorang penginjil penjelajah tapi Ia dapat saja

menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun di dalam melintasi wilayah

yang belum dipetakan, atau menempuh jalan-jalan pedesaan menuju daerah-

daerah terpencil. (4). Paulus memanfaatkan jalan-jalan raya utama yang dibangun orang-

orang Roma di seluruh wilayah kekaisaran mereka.

Para pembaca modern surat-surat Paulus mungkin mengira bahwa

pemberitaan Paulus dapat diringkaskan menjadi uraian yang abstrak

tentang dosa, pembenaran atau penebusan. Tetapi bukan demikian cara

Paulus berkhotbah. Ia mulai di tempat dimana para pendengarnya berada

dan bersedia membicarakan kebutuhan-kebutuhan mereka. Kadang-kadang

41
berkhotbah merupakan cara pendekatan yang salah dan Paulus serta

rekan-rekannya selalu siap mendampingi orang orang dan menolong mereka

dalam menghadapi kesulitan hidup sehari-hari. Itulah sebagian rahasia

keberhasilan di Tesalonika: "Kami berlaku ramah di antara kamu, sama

seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya ... bukan saja rela

membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan

kamu" (1Tesalonika 2:7-8). Sikap kepedulian terhadap orang serta keluwesan dalam

pemberitaan Injil inilah yang kemudian diringkaskan Paulus dalam ucapan: "Aku

menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan

sebanyak mungkin orang... Bagi semua orang aku telah menjadi segala-

galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka"

(1Korintus 9:19-22).51 Dan dilanjutkan oleh Paulus Daun, mengenai dengan prinsip-

prinsip dalam strategi misi yaitu:

a. Prinsip Misi Penginjilan di Kota

Pekerjaan misi Paulus di pusatkan di beberapa kota besar, yaitu Galatia,

efesus, Akhaya, Makedonia, Korintus, Roma dan sebagainya. Kota –kota pusat

transportasi, kebudayaan, ekonomi, politik, dan agama adalah tempat yang strategis

bagi penginjilan. Sebab itu, di kota-kota besar ini Paulus mendirikan gereja dengan

pengharapan bias dijadikan tempatpinjak pekerjaan misi untuk mengabarkan injil

ke kota-kota kecil dan desa-desa yangberada disekitarnya. Sebab itu tatkala gereja

Tesalonika belum satu tahun berdiri, Paulus menyebut iman mereka sudah tersebar

sampai ke seluru Makedonia dan Akhaya (I Tesalonika 1:8).

51
. John Drane, MEMAHAMI PERJANJIAN BARU, (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1996),
Halaman : 344 – 345
42
Dari seni dapat diketahui bahwa Paulus bukan sekedar mengabarkan Injil,

tetapi selalu berusaha di tempat-tempat strategi mendirikan gereja yang koko,

bertumbuh dan berdiri. Ia bukan hanya menabur, tetapi berharap dapat menuai. Ia

pernah berdiam satu setengah tahun di korintus, dua tahun di Efesus dan sering

kembali berkunjung untuk membantu, menguatkan iman keyakinan mereka,

sehingga gereja-gereja tersebut menjadi gereja yang koko, bahkan tatjala

ditinggalkan karena mati syahid, gereja-gereja tersebut tetap berdiri dengan kuat.

b. Mengutamakan Sinagoge

Walaupun Paulus disebut sebagai “Rasul Orang Kafir” (Galatia 2:8),tetapi

cinta kasihnya terhadap orang Yahudi tidak perlu diragukan (Roma 9:2-3). Oleh

karena itu, kemana saja ia pergi, tentu terlebih dahilu mencari tempat ibadah

(sinagoge) orang Yahudi. Karena di sinagoge bukan saja berkumpul orang-orang

Yahudi, tetapi juga orang-orang yang non Yahudi yang sudah disunat dan meneria

seluruh adat istiadat orang Yahudi. Selain itu, berkumpul juga orang yang disebut

sebagai “orang sale” seperti Kornelius yang tertarik pada ajaran agama Yahudi

tetapi belum disunat. Sebab itu, di tengah-tengah sinagoge ini, Paulus bias

mendapatkan rekan kerja , bukan saja rekan kerja Yahudi, tetapi juga non Yahudi

dan “orang saleh”.

c. Prinsip Kolektif

Dalam pekerjaan misi, Paulus tidak bekerja sendiri, tetapi bersama rekan

kerja. Rekan kerjanya boleh dibagi menjadi tiga macam, yang pertama, rekan kerja

yang berpengalaman yang dapat diandalkan disegalah lini, seperti Barnabas, Silas,

Apolo, Akwila, Priskila. Kedua rekan kerja yang muda, seperti Timotius, Titus.

Biasanya mereka adalah rekan kerja yang akrap dan murid; Paulus menyebut

43
Timotius dan Titus sebagai “anaknya” (I Timotius 1:2; Titus 1:4), dan yang ketiga

wakil dari berbagai gereja dan pemimpin muda yang potensial, diantaranya

Tikhikus dan Trofimus, Aristarkhus dan sekundus (Kisah Para Rasul 20:4-5).

Paulus menekankan pembianaan bagi rekan yang baru, sering

membimbing dan menguts mereka untuk menggembalakan gereja yang

membutukan pemngembalaan. Dari surat kiriman yang ditujukan pada Timotius

dan Titus dengan jelas terlihat bagaimana sikap kasih sayang Paulus terhadap rekan-

rekan.

Paulus belum pernah mengharapkan umat Kristen meninggalkan

persekutuan menjadi umat Kristen yang mengasingkan diri. Sejak dibenarkan

karena percaya, mereka masuk satu kedalam persekutuan baru dan persekuatuan ini

biasa disebut “Umat yang Kudus”, “Umat yang dipilih”, “Umat yang dipanggil”,

“orang yag di kasihi Tuhan”.

Persekutuan antara umat Kristen dapat diketahui melalui sebutan yang

diucapkan Paulus. Dlam suratnya yang sangat singkat kepada umat di Tesalonika

pertama, Paulus telah mengunakan istilah “saudara-saudara” sebanyak 18 kali. Pada

waktu orang dibabtis, ia bukan saja masuk menjadi bagian dalam Kristus (Roma

6:3), tetapi juga melalui babtisan ia bersatu dengan umat Kristen lainnya menjadi

satu tubuh ( I Korintus 12:13)

Dan pelu pulah diketahui bahwa gereja bukan saja satu persekutuan yang

dapat memancarkan kemulian nama Tuhan, tetapi juga mempunyai tugas dan

tanggung jawab untuk menasehatkan agar dunia berdamai dengan Allah (II Koristus

5:18-20). Oleg karena itu gereja bukan keluar dari dunia, tetapi ikut terlibat dengan

segala urusan dunia. Dengan kata lain, gereja adalah gereja yang bermisi. Oleh

sebab itu Paulus beranggapan bahwa gereja itu sangat penting artinya.

44
Hal ini juga yangmenyebabkan Paulus berusaha disetiap tempat

mendirikan gereja yang kokoh. Ia berusaha untuk berdiam akak lama di suatu

tempat, seperti di Efesus tinggal selama dua tahun, Korintus satu setengah tahun.

Tujuan adalah untuk membina para umat agar bertumbuh menjadi dewasa (Efesus

4:11-16). Ia juga mengusahakan didalam situasi yang memungkinkan untuk

mengangkat penatua agar jangan samapai gereja tanpa pemimpin.

d. Prinsip Toleransi

Tatkala melaksanakan misi gereja, Paulus tidak mau berkompromi di

dalam kebenaran, tetapi bersikap toleran di bidang kebudayaan. Ia mengatakan,

“Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi..” (I Korintus

9:19-23). Ini yang menyebabkan ia bias memikul tanggung jawab sebagai “rasul

orang kafir.” menurut Tom Jacobs dalama buku Rasul Paulus yaitu bahwa:

Paulus tidak berkonfrontasi secara frontal dengan obyek sesembahan

agama lain tetapi mengarahkan obyek itu kepada Allah yang benar yang hidup yang

menciptakan langit dan bumi.52

Corak dan isi khotbah Paulus mempunyai hubungan erat denga objek

khotbahnya. Pada waktu berkhotbah disinagoge, mengutip ayat-ayat Perjanjian

Lama, bahkan secara langsung membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias yang

dinubuatkan (Kisah Para Rasul 13:16-41; 17:2-3). Tetapi waktu ia sampai di Atena

dan diundang untuk berbicara di depan siding Areopagus, (Kisah Para Rasul 17:19-

34), sedikit sedikit pun ia tidak mengunakan ayat-ayat Alkitab, bahkan nama Yesus

52
. Tom Jacobs. RASUL PAULUS, ( Kanisius, Yogyakarta, 1984), hlm.
45
pun tidak disebutnya. Ia menggunakan syair atau kata-kata filsuf aliran Stoa sebagai

jembatan untuk memperkenalkan Injil.

Paulus juga mengajar agar umat Kristen mematuhi para penguasa (Roma

13:1), penguasa yang dimaksud bukan saja menguasai politik, tetapi juga penguasa

di bidang ekonomi dan kebudayaan. Berdasarkan pandangan ini, maka Paulus

meminta para perempuan di Korintus untuk berkerudung (I Korintus 1:5-16), karena

hal ini adalah adat istiadat setempat.

Paulus juga tidak pernah menentang sistem perbudakan, tetapi

mengajarkan, “baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia

dipanggil Allah. Adakah engakau hamba waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-

apa, tetapi jika engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah

kesempatan itu” (Korintus 7:20-21).

Dengan kata lain, Paulus bukan orang revolusioner, ia belum

mendatangkan revolusi dibidang kebudayaan; tetapi ia bukan orang yang

menentang, tetapi hanya menekankan sunat atau tidak sunat bukan satu hal penting,

yang penting menjadi orang yang baru dalam Kristus (Galatia. 6:15). Jikalau setiap

umat Kristen menjadi manusia baru, maka ia lebih dapat mengembangkan secara

maksimal fungsi garam dan terangnya, sehingga membawa pengaruh bagi orang

sekitarnya menjadi baik.

Di samping itu, ia juga melihat benda-benda sebagai lambing kebudayaan,

misalnya pakaian, makanan, kebiasaan dan music, jika tidak bersufat prinsip tidak

perlu dipertahankan. Tetapi jika berhadapan dengan lambing tertentu dari agama,

maka perlu berhati-hati, jangan sampai menjadi batu sandungan. Hal ini berkaitan

46
dengan dengan prinsip pengajaran tentang makanan yang sudah dipersembahkan (I

Korintus 10:19-33).53

53
. Paul Daun. Misiologi dalam Prespektif Doktrinal, (Manado: Yayasan Daun Family, 2011),
hlm. 109-115
47
48