Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

CA SERVIKS

Oleh:
Mitha Faramita
030.11.191

Pembimbing:
dr. Cipta Pramana, Sp.OG (K)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan


Rumah Sakit Umum Daerah K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang
Periode 15 Januari - 24 Maret 2018
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
2018
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.............................................................................................................................. 2

BAB I LAPORAN KASUS ....................................................................................................... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................... 7

2.1 Definisi ............................................................................................................................. 7


2.2 Epidemiologi .................................................................................................................... 7
2.3 Etiologi dan Faktor risiko ................................................................................................ 8
2.4 Diagnosis.......................................................................................................................... 8
2.5 Tatalaksana .................................................................................................................... 11
2.6 Komplikasi ..................................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 18
BAB I
LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS
Nama : Ny. R
Rekam Medik : 424661
Umur : 53 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Sedayu Jati II RT/ RW 03/05 Semarang
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
MRS : 27 Januari 2018

B. ANAMNESIS (autoanamnesis tanggal 29 Januari 2018)


Keluhan Utama : Nyeri di perut bagian bawah sejak 2 minggu SMRS
Keluhan Tambahan : Keluar darah dari liang vagina, lemas, pusing

Riwayat penyakit sekarang :


Pasien datang dengan ke RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro keluhan nyeri perut bagian
bawah sejak 2 minggu sebelum masuk RS. Pasien merasakan keluhan nyeri di perut bagian
bawah bertambah berat dari hari ke hari. Sebelumnya pasien mengalami perdarahan dari
liang vagina sejak 1 tahun sebelum masuk RS. Darah keluar dari liang vagina terus-menerus
setiap hari, darah yang keluar berwarna merah segar, kadang-kadang disertai dengan lendir,
dan keputihan namun tidak berbau. Pasien sudah beberapa kali berobat ke klinik, lalu nyeri
hilang namun keputihan tetap dirasakan. Keputihan berwarna bening dan encer terkadang
kental seperti susu. 2 minggu sebelum masuk RS pasien merasa sakit di perut bagian bawah
yang semakin lama semakin bertambah berat, nyeri dirasakan muncul tiba-tiba saja dan
dirasakan terus menerus, selain itu pasien juga merasa tubuhnya sangat lemas dan terasa
pusing.
Pasien mengaku sudah berhenti menstruasi sejak tahun 2016, setelah itu pasien tidak
pernah mengalami menstruasi. Pasien juga mengeluh nafsu makan berkurang, mulut terasa
pahit dan mual. Pasien merasa mengalami penurunan berat badan semenjak sakit. BAB dan
BAK tidak ada keluhan.

1
Riwayat Perkawinan : 1 x lamanya 37 tahun.
Riwayat Reproduksi : Menarche umur 12 tahun, haid teratur, siklus 28 hari, lamanya
7 hari, nyeri saat haid.
Riwayat Obstetri : P4A1
Riwayat KB : Tidak pernah
Riwayat penyakit dahulu :
 DM disangkal
 Hipertensi disangkal
 Penyakit jantung disangkal
 Hepatitis B disangkal
 TBC disangkal
 Asma disangkal
 Riwayat trauma disangkal
 Riwayat infeksi TORCH selama kehamilan disangkal
Riwayat penyakit keluarga:
 DM disangkal
 Hipertensi disangkal
 Penyakit jantung disangkal
 Asma disangkal
 Riwayat lahir preterm (Adik dari pasien)
 Riwayat gemelli disangkal

C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum Kesadaran: Compos Mentis
Kesan sakit: Tampak sakit sedang
Tanda vital Tekanan darah: 140 /90 mmHg
Nadi: 90x/menit
Respirasi: 20x/menit
Suhu: 36,5°C
Kepala Normosefali, rambut hitam, tidak rontok, terdistribusi merata, tidak
terdapat jejas atau bekas luka,
Mata Pupil isokor,reflex pupil -/-, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
Telinga deformitas (-), kemerahan (-), oedem (-), serumen (-), nyeri tekan(-)

2
Hidung Deviasi septum (-), deformitas (-), sekret (-), pernapasan cuping
hidung (-)
Tenggorokan Uvula ditengah, arcus faring simetris, T1/T1
Mulut Mukosa bibir normal, sianosis (-), gusi kemerahaan (-) oedem (-),
lidah kotor(-)
Leher tidak terdapat pembesaran KGB dan kelenjar tiroid, JVP (5+1 cm)
Thorax Inspeksi: bentuk dada normal,gerak dinding dada simetris, tipe
pernapasan thorakoabdominal, sela iga normal, sternum datar,
retraksi sela iga (-),
Palpasi: pernapasan simetris, vocal fremitus simetris, tidak teraba
thrill, ictus cordis tidak teraba
Perkusi: hemitoraks kanan dan kiri sonor, batas paru dan hepar
setinggi ICS VI linea midclavicularis dextra dengan perkusi redup,
batas bawah paru dan lambung setinggi ICS VIII linea axillaris
anterior sinistra dengan perkusi timpani. Batas paru dan jantung
kanan setinggiICS IV linea parasternal dextra, batas paru dan
jantung kiri setinggi ICS VI lateral dari linea midclavicularis
sinistra, batas atas jantung ICS II linea parasternalis sinistra,
pinggang jantung setinggi ICS III lateral dari linea parasternal
sinistra
Auskultasi: Suara napas vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-,
Bunyi Jantung I dan II reguler, gallop (-), murmur (-)
Abdomen Inspeksi: bentuk cembung, ikterik (-),kemerahan (-),benjolan (-),
Umbilikus terdorong kedepan (+), Caput medusae (-),ascites(-)
Auskultasi: bising usus 3x/menit, arterial bruit (-), Venous hum (-)
Palpasi: Distensi, massa (-), nyeri lepas (-), dan lien tidak
membesar, ballottement ginjal (-).
Nyeri tekan - - -
- - -
+ + +
Perkusi: shifting dullness (-), 4 kuadran timpani.
Ekstremitas Ekstremitas Atas
Simetris kanan dan kiri, turgor kulit baik, deformitas -/-,CRT < 2

3
detik, akral hangat +/+, oedem -/-, Palmar eritem (-)Terry's nail (-)
Ekstremitas Bawah
Simetris kanan dan kiri, deformitas -/-,CRT < 2 detik, akral hangat
+/+, oedem -/-,
Pemeriksaan Inspekulo : Porsio endofilik, rapuh dan mudah berdarah
Ginekologi VT : Porsio berdungkul sampai ke adnexa kanan dan kiri

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hematologi
Hematologi Hasil Satuan Nilai Normal
Leukosit 14.0 H Ribu/µl 3.6 – 11.0
Hemoglobin 8.8 L g/dl 11.7 – 15.5

Hematokrit 27.90 L % 25 - 47
Trombosit 948 H Ribu/µl 150 - 400

Kimia Klinik

Glukosa Sewaktu 109 mg/dl 70.0 – 115.0


Albumin 3.0 g/dL 3.4 – 4.8
Kalium 4.20 Mmol/L 3.50 – 5.0
Calsium 1.18 Mmol/L 1.12 – 1.32
Natrium 135 Mmol/L 125.0 – 147.0

Sero Imunologi
Hbsag Negatif Negatif

E. DIAGNOSIS KERJA
P4A1
Susp. Ca serviks
Hipertensi

4
F. DIAGNOSIS BANDING

G. PEMERIKSAAN YANG DIANJURKAN


- Biopsi jaringan  pemeriksaan Patologi Anatomi
- Tumor marker

H. RENCANA PENGELOLAAN
Non Medikamentosa:
- Rawat inap
- Konsultasi spesialis penyakit dalam
- Rujuk

Medikamentosa:
- IVFD RL : NaCl 0,9% : D 5% = 1:1:1 / 24 jam
- Inj. Cefotaxime 3x1 gr vial bolus IV
- Inj. Asam Tranexamat 3x1 ampul bolus IV
- Inj. Vitamin C 2x1 ampul bolus IV
- Inj. Neurobion 1x1 ampul bolus IV
H. PENATALAKSANAAN
1. Konservatif
2. Observasi his, denyut jantung janin, tanda vital ibu.
3. Batasi aktivitas / tirah baring.
4. Tokolitik : Nifedipine
5. Injeksi Amoxicilin
6. Pemeriksaan laboratorium darah rutin, urin rutin

I. PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad malam
Ad functionam : dubia ad malam
Ad sanationam : dubia ad malam

5
J. FOLLOW UP SOAP

27/1/2018 28/1/2018 29/1/2018 30/1/2018


S Perdarahan pervaginam Perdarahan pervaginam Perdarahan pervaginam Tidak ada keluhan
(+), nyeri perut (+), (-), nyeri perut (-), (-), nyeri perut (-),
lemas (+), pusing (+) lemas (+), pusing (+) lemas (-), pusing (-)
O TD: 120/80, Nadi: 80 TD: 120/70, Nadi: 84 TD: 120/90, Nadi: 76 TD: 140/90, Nadi:
x/menit, Suhu: 36oC, x/menit, Suhu: 36oC, x/menit, Suhu: 37,3oC, 72 x/menit, Suhu:
RR: 20x/menit RR: 20x/menit RR: 16x/menit 36,7oC, RR:
Mata: CA +/+ Mata: CA +/+ Mata: CA -/- 18x/menit
Abdomen: Abdomen: Abdomen: Mata: CA -/-
Inspeksi: perut datar Inspeksi: perut datar Inspeksi: perut datar Abdomen:
Palpasi: supel, Nyeri Palpasi: supel, Nyeri Palpasi: supel, Nyeri Inspeksi: perut datar
tekan (-) tekan (-) tekan (-) Palpasi: supel, Nyeri
Perkusi: Tymphani Perkusi: Tymphani Perkusi: Tymphani tekan (-)
Auskultasi: BU (+) Auskultasi: BU (+) Auskultasi: BU (+) Perkusi: Tymphani
Hasil Pemeriksaan Hasil pemeriksaan Auskultasi: BU (+)
Laboratorium: Laboratorium:
Hb: 9,6 g/dl, leukosit: Hb: 11,5 g/dl, leukosit:
9600, trombosit: 12000, trombosit:
389000, hematokrit: 391000, hematokrit:
32% 37%

Hasil pemeriksaan USG


abdomen:
Diameter uterus 131x
65,1x 82,1 mm
Bagian tengah uterus
lebih hipoechoic
A Suspek Ca serviks Suspek Ca serviks Suspek Ca serviks Suspek Ca serviks
stadium II B dengan stadium II B dengan stadium II B dengan stadium II B dengan
anemia sedang anemia sedang anemia sedang dengan anemia sedang
Dd/: Ca endometrium Dd/: Ca endometrium perbaikan dengan perbaikan
Dd/: Ca endometrium Dd/: Ca
endometrium
P - IVFD RL : NaCl - IVFD RL : NaCl - IVFD RL : NaCl - IVFD RL : NaCl
0,9% : D 5% = 1:1:1 0,9% : D 5% = 1:1:1 0,9% : D 5% = 1:1:1 0,9% : D 5% =
/ 24 jam / 24 jam / 24 jam 1:1:1 / 24 jam
- Inj. Cefotaxime 3x1 - Inj. Cefotaxime 3x1 - Inj. Cefotaxime 3x1 - Inj. Cefotaxime
gr vial bolus IV gr vial bolus IV gr vial bolus IV 3x1 gr vial bolus
- Inj.Asam - Inj.Asam - Inj.Asam IV
Tranexamat 3x1 Tranexamat 3x1 Tranexamat 3x1 - Inj.Asam
ampul bolus IV ampul bolus IV ampul bolus IV Tranexamat 3x1
- Inj. Vitamin C 2x1 - Inj. Vitamin C 2x1 - Inj. Vitamin C 2x1 ampul bolus IV
ampul bolus IV ampul bolus IV ampul bolus IV - Inj. Vitamin C
- Inj. Neurobion 1x1 - Inj. Neurobion 1x1 - Inj. Neurobion 1x1 2x1 ampul bolus
ampul bolus IV ampul bolus IV ampul bolus IV IV
- Ciprofloxacin 3x500 - Ciprofloxacin 3x500 - Ciprofloxacin 3x500 - Inj. Neurobion
mg oral mg mg oral 1x1 ampul bolus
- Transfusi WB dan - Transfusi WB dan IV
PRC PRC - Ciprofloxacin
- Periksa tumor 3x500 mg oral
marker: Ca-125

6
BAB II
PARTUS PREMATURUS

2.1 Definisi
Partus Prematurus Imminens adalah persalinan yang berlangsung pada umur
kehamilan 20 – 37 minggu dihitung dari hari pertama menstuasi terakhir (HPMT)
(ACOG, 1995). Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa bayi premature
adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan 37minggu atau kurang.1,2
Menurut Wibowo (1997), persalinan prematur adalah kontraksi uterus yang teratur
setelah kehamilan 20 minggu dan sebelum 37 minggu , dengan interval kontraksi 5
hingga 8 menit atau kurang dan disertai dengan satu atau lebih tanda berikut: (1)
perubahan serviks yang progresif (2) dilatasi serviks 2 sentimeter atau lebih (3) penipisan
serviks 80 persen atau lebih. Menurut Mochtar (1998) partus prematurus yaitu persalinan
pada kehamilan 28 sampai 37 minggu, berat badan lahir 1000 sampai 2500 gram.1
Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI di Semarang tahun 2005 menetapkan
bahwa persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi pada usia kehamilan 22-37
minggu.1

2.2 Epidemiologi
Pemicu obstetri yang mengarah pada partus prematurus antara lain: (1)
persalinan atas indikasi ibu ataupun janin, baik dengan pemberian induksi ataupun
seksio sesarea; (2) partus prematurus spontan dengan selaput amnion utuh; dan (3)
dengan ketuban pecah dini, terlepas apakah akhirnya dilahirkan pervaginam atau
melalui seksio sesarea. Sekitar 30-35% dari partus prematurus berdasarkan indikasi, 40-
45% partus prematurus terjadi secara spontan dengan selaput amnion utuh, dan 25-30%
partus prematurus yang didahului ketuban pecah dini.3
Konstribusi penyebab partus prematurus berbeda berdasarkan kelompok etnis.
partus prematurus pada wanita kulit putih lebih umum merupakan partus prematurus
spontan dengan selaput amnion utuh, sedangkan pada wanita kulit hitam lebih umum
didahului ketuban pecah dini sebelumnya. partus prematurus juga bisa dibagi menurut
usia kehamilan: sekitar 5% partus prematurus terjadi pada usia kehamilan kurang dari
28 minggu (extreme prematurity), sekitar 15% terjadi pada usia kehamilan 28-31

7
minggu (severe prematurity), sekitar 20% pada usia kehamilan 32-33 minggu
(moderate prematurity), dan 60-70% pada usia kehamilan 34-36 minggu (near term).
Dari tahun ke tahun, terjadi peningkatan angka kejadian partus prematurus, yang
sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya jumlah kelahiran preterm atas indikasi.3

2.3 Etiologi dan Faktor risiko


Faktor resiko PPI menurut Wiknjosastro (2010) yaitu :1
1. Janin dan plasenta : perdarahan trimester awal, perdarahan antepartum, KPD,
pertumbuhan janin terhambat, cacat bawaan janin, gemeli, polihidramnion
2. Ibu : DM, pre eklampsia, HT, ISK, infeksi dengan demam, kelainan bentuk uterus,
riwayat partus preterm atau abortus berulang, inkompetensi serviks, pemakaian
obat narkotik, trauma, perokok berat, kelainan imun/resus
Namun menurut Rompas (2004) ada beberapa resiko yang dapat menyebabkan partus
prematurus yaitu :
1. Faktor resiko mayor : Kehamilan multiple, hidramnion, anomali uterus, serviks
terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, serviks mendatar/memendek
kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester II
lebih dari 1 kali, riwayat persalinan pretem sebelumnya, operasi abdominal pada
kehamilan preterm, riwayat operasi konisasi, dan iritabilitas uterus.
2. Faktor resiko minor : Penyakit yang disertai demam, perdarahan pervaginam
setelah kehamilan 12 minggu, riwayat pielonefritis, merokok lebih dari 10 batang
perhari, riwayat abortus pada trimester II, riwayat abortus pada trimester I lebih
dari 2 kali.
Terdapat 4 penyebab langsung terjadinya partus prematurus di Amerika, diantaranya:2
1. Kelahiran dengan ketuban yang tidak pecah
2. Ketuban pecah dini sebelum 37 minggu
3. Indikasi melahirkan karena alasan keselamatan ibu atau janin
4. Gemeli atau kelahiran multifetal

2.4 Diagnosis
1. Anamnesis
Anamnesis diperlukan untuk mencari faktor resiko. Faktor resiko ini penting dan
dalam kaitannya dengan terjadinya persalinan preterm. Berikut adalah beberapa faktor
resiko terjadinya persalinan preterm :

8
1. Faktor resiko mayor :
a. Kehamilan multipel
b. Polihidramniom
c. Anomali uterus
d. Dilatasi serviks > 2cm pada usia kehamilan 32 minggu
e. Riwayat abortus 2 kali atau lebih pada trimester II
f. Riwayat persalinan preterm sebelumnya
g. Riwayat menjalani prosedur operasi pada serviks (cone biopsy, loop electrosurgical
excision procedure)
h. Penggunaan cocain dan amphetamine
i. Operasi besar pada abdomen .

2. Faktor resiko minor


a. Perdarahan pervaginam setelah 12 minggu
b. Riwayat pyelonefritis
c. Merokok
d. Riwayat abortus
Pasien tergolong resiko tinggi apabila ditemukan lebih dari satu faktor resiko mayor
atau dua atau lebih fator resiko minor, atau keduanya. Disamping faktor resiko di atas
faktor resiko lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat sosiobiologi (usia ibu, jumlah
anak, obesitas, status sosioekonomi yang rendah, ras, stress lingkungan) dan komplikasi
kehamilan lainnya (infeksi maternal, preeklampsia-eklampsia, plasenta previa,
kehamilan yang diperolh melalui bantuan medikasi, terlambat atau ridak melakukan
asuhan antenatal) (Rima, 2010).
2. Gejala klinis
Sering terjadi kesulitan dalam diagnosis ancaman persalinan preterm. Differensiasi dini
antara persalinan palsu dengan persalinan sebenarnya sulit ditentukan sebelum adanya
pendatarandan dilatasi serviks. Kontraksi uterus sendiri sulit dibedakan karena adanya
kontraksi braxtons hicks. Kontraksi ini digambarkan sebagai kontraksi yang tidak teratur,
tidak ritmis, tidak begitu sakit atau tidak sakit sama sekali, namun dapat menimbulkan
keraguan besar dalam diagnosis persalinan preterm. Tidak jarang wanita yang
melahirkan sebelum aterm memiliki kontraksi yang mirip dengan braxtons hicks yang

9
mengarahkan ke diagnosis yang salah, yaitu persalinan palsu. Beberapa kriteria yang
dapat dipakai sebagai ancaman persalinan preterm :
a. Usia kehamilan antara 20 dan 37 minggu atau 140 dan 259 hari.
b. Kontraksi uterus (his) yang teratur yaitu berulang 7-8 kali atau 2-3 kali dalam 10
menit.
c. Merasakan gejala seperti kaku di perut, menyerupai rasa kaku seperti menstruasi, rasa
tekanan intrapelvik, nyeri punggung bawah (low back pain).
d. Mengeluarkan lendir bercampur darah pervaginam.
e. Pemeriksaan dalam menunjukkan serviks telah mendatar 50-80%, atau telah terjadi
pembukaan sedikitnya 2 cm.
f. Selaput amnion sering kali telah pecah.
g. Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina ischiadika.
Kriteria lain yang diusulkan oleh American Academy of Pediatrics dan The American
College of Obstreticians and Gynecologists, adalah sebagai berikut :
a. Kontraksi yang terjadi 4 kali dalam 20 menit atau 8 kali dalam 60 menit dan
perubahan progresif pada serviks.
b. Dilatasi serviks lebih dari 1 cm.
c. Pendataran serviks sebesar 80% atau lebih.

3. Perubahan serviks
a. Dilatasi serviks
Dilatasi serviks asimtomatik setelah pertengahan masa kehamilan diduga sebagai faktor
resiko persalinan preterm.
b. Panjang serviks
Serviks memegang peranan ganda pada kehamilan. Serviks mempertahankan isi uterus
terhadap pengaruh gravitasi dan tekanan intrauterin sampai persalinan, dan serviks akan
berdilatasi untuk memungkinkan isi uterus untuk melewatinya selama proses persalinan.
Kompetensi serviks tergantung pada kesatuan antara anatomi dan komposisi biokimia
dari serviks. Salah satu indikator dini dari inkompetensia serviks adalah terjadinya
pemendekan dari serviks. Berdasarkan hasil penelitian dengan ultrasounografi sebagai
prediktor persalinan preterm menentukan bahwa panjang serviks kurang dari 25 mm
pada usia kehamilan 24-28 minggu dapat meningkatkan resiko persalinan preterm (Rima,
2010).
c. Inkompetensia Serviks

10
Inkompetensia serviks adalah diagnosis klinis yang ditandai dengan dilatasi serviks
berulang, tanpa rasa sakit, dan kejadian kelahiran spontan pada midtrimester tanpa
adanya pecah ketuban spontan, peradarahan, ataupun infeksi. Dilatasi serviks ini dapat
diiikuti prolaps dan menggembungnya membran janin ke dalam vagina, dan akhirnya
ekspulsi janin imatur. Penyebab inkompetensia serviks ini belum jelas, namun terkait
dengan riwayat trauma pada serviks seperti dilatasi , kuretase, kauterisasi (Rima, 2010).

3. Indikasi Wanita yang beresiko mengalami persalinan preterm


Cara utama untuk mengurangi resiko persalinan preterm dapat dilakukan sejak
awal, sebelum tanda – tanda persalinan muncul. Dimulai dengan pengenalan pasien yang
beresiko, untuk diberi penjelasan dan penilaian klinik terhadap persalinan preterm serta
pengenalan kontraksi sedini mungkin, sehingga tindakan pencegahan dapat segera
dilakukan. Pemeriksaan serviks mempunyai manfaat yang cukup besar dalam
memprediksi terjadinya persalinan preterm. Bila dijumpai serviks pendek (< 1cm) yang
disertai dengan pembukaan yang merupakan tanda serviks matang/inkompetensia
serviks, maka pasien tersebut dikatakan memiliki resiko mengalami persalinan preterm
3-4 kali.

2.5 Tatalaksana
Manajemen persalinan perterm meliputi:4
1. Tirah baring (Bedrest)
2. Hidrasi dan sedasi
3. Pemberian tokolitik
4. Pemberian steroid
5. Pemberian antibiotik
6. Emergency Cerclage
7. Perencanaan persalinan

1. Tirah baring (bedrest)


Kepentingan istirahat rebah disesuaikan dengan kebutuhan ibu, namun secara
statistik tidak terbukti dapat mengurangi kejadian kurang bulan secara statistik. 1,4

2. Hidrasi dan sedasi

11
Hidrasi oral maupun intravena sering dilakukan untuk mencegah persalinan
preterm, karena sering terjadi hipovolemik pada ibu dengan kontraksi premature,
walaupun mekanisme biologisnya belum jelas. Preparat morfin dapat digunakan untuk
mendapatkan efek sedasi. 1,4

3. Pemberian tokolitik1,4
Tokolitik akan menghambat kontraksi myometrium dan dapat menunda
persalinan. Berikut adalah alasan pemberian tokolitik pada persalinan preterm (Sarwono,
2010) :
a. Mencegah mortalitas dan morbiditas pada bayi prematur.
b. Memberi kesempatan bagi terapi kortikosteroid untuk menstimulir surfaktan paru
janin.
c. Memberi kesempatan trasnfer intrauterin pada fasilitas yang lebih lengkap.
d. Optimalisasi personel.
Beberapa macam obat yang dapat digunakan sebagai tokolisis :
a. Nifedipin
Nifedipin adalah antagonis kalsium diberikan per oral. Dosis inisial 20 mg,
dilanjutkan 10-20 mg, 3-4 kali perhari, disesuaikan dengan aktivitas uterus sampai 48
jam. Dosis maksimal 60mg/hari, komplikasi yang dapat terjadi adalah sakit kepala dan
hipotensi (P.O.G.I, 2011).Antagonis kalsium merupakan relaksan otot polos yang
menghambat aktivitas uterus dengan mengurangi influks kalsium melalui kanal kalsium
yang bergantung pada 19 voltase. Terdapat beberapa kelas antagonis kalsium, namun
sebagian besar pengalaman klinis adalah dengan nifedipin (Hadrians, 2007).
Nifedipin diabsorbsi cepat di saluran pencernaan setelah pemberial oral ataupun
sublingual. Konsentrasi maksimal pada plasma umumnya dicapai setelah 15-90 menit
setelah pemberian oral, dengan pemberian sublingual konsentrasi dalam plasma dicapai
setelah 5 menit pemberian.5

b. Magnesium sulfat
Magnesium sulfat dipakai sebagai tokolitik yang diberikan secara parenteral.
Dosis awal 4-6 gr IV diberikan dalam 20 menit, diikuti 1-4 gram per jam tergantung dari
produksi urin dan kontraksi uterus. Bila terjadi efek toksik, berikan kalsium glukonas 1
gram secara IV perlahan-lahan.4

12
Terapi tokolitik magnesium sulfat terbukti aman dan bermanfaat terhadap janin
dan ibu. Namun, perubahan tulang yang terlihat melalui rontgen terlihat pada neonatus
dari pasien yang menerima infus magnesium sulfat jangka panjang (lebih dari 1 minggu).
Perubahan-perubahan ini termasuk abnormalitas tulang secara radiografi seperti
perubahan dari tulang panjang, penipisan tulang parietal, dan mineralisasi tulang yang
abnormal.Ketika magnesium sulfat digunakan dengan hati-hati sebagai obat tokolitik,
efek sampingnya terhadap ibu, janin dan neonatus biasanya sedikit dan tidaklah serius
atau merusak.5
c. Atosiban
Antagonis oksitosin salah satu contohnya adalah atosiban dapat menjadi obat
tokolitik di masa depan. Obat ini merupakan alternatif menarik terhadap obat-obat
tokolitik saat ini karena spesifisitasnya yang tinggi dan kurangnya efek samping terhadap
ibu, janin atau neonatus. Atosiban adalah obat sintetik baru pada golongan obat ini dan
telah mendapat izin penggunaannya sebagai tokolitik di Eropa (Hadrians, 2007).
Atosiban menghasilkan efek tokolitik dengan melekat secara kompetitif dan memblok
reseptor oksitosin. Dosis awal 6,75mg bolus dalam satu menit, diikuti 18mg/jam selama
3 jam per infus, kemudian 6mg/jam selama 45 jam.4

d. Beta2-sympathomimetics
Saat ini sudah banyak ditinggalkan. Preparat yang biasa dipakai adalah ritodrine,
terbutaline, salbutamol, isoxsuprine, fenoterol and hexoprenaline. Contoh: Ritodrin
(Yutopar) Dosis: 50 mg dalam 500 ml larutan glukosa 5%. Dimulai dengan 10 tetes per
menit dan dinaikkan 5 tetes setiap 10 menit sampai kontraksi uterus hilang. Infus harus
dilanjutkan 12 — 48 jam setelah kontraksi hilang. Selanjutnya diberikan dosis
pemeliharaan satu tablet (10 mg) setiap 8 jam setelah makan. Nadi ibu, tekanan darah
dan denyut jantung janin harus dimonitor selama pengobatan. 5
Kontra indikasi pemberian adalah penyakit jantung pada ibu, hipertensi atau
hipotensi, hipertiroidi, diabetes dan perdarahan antepartum. Efek samping yang dapat
terjadi pada ibu adalah palpitasi, rasa panas pada muka (flushing), mual, sakit kepala,
nyeri dada, hipotensi, aritmia kordis, edema paru, hiperglikemi, dan hipoglikemi.Efek
samping pada janin antara lain ft.tal takhikardia. Inpoglikemia, hipokalemi, ileus dan
hipotensi.5
e. Progesteron

13
Progesteron dapat mencegah persalinan preterm. Injeksi alpha-
hydroxyprogesterone caproate menurunkan persalinan pretern berulang. Dosis 250 mg
(1 mL) im tiap minggu sampai 37 minggu kehamilan atau sampai persalinan. Pemberian
dimulai 16-21 minggu kehamilan.4
f. COX (Cyclo-oxygenase) -2 inhibitor
Indomethacin
Dosis awal 100 mg, dilanjutkan 50 rng per oral setiap 6 jam untuk 8 kali
pemberian. Jika pemberian lebih dari dua hari,dapat rnenimbulkan oligohidramnion
akibat penurunan renal blood flow janin. Indometasin direkomendasikan pada
kehamilan>32 minggu karena dapat mempercepat penutupan ductus arteriosus.4

4. Pemberian Steroid
Pemakaian kortikosteroid dapat menurunkan kejadian RDS. kematian neonatal
dan perdarahan intraventrikuler. Dianjurkan pada kehamilan 24 — 34 minggu, namun
dapat dipertimbangkan sampai 36 minggu. Kontra indikasi : infeksi sistemik yang berat,
(tuberkulosis dan korioamnionitis). Betametason merupakan obat terpilih, diberikan
secara injeksi intramuskuler dengan dosis 12 mg dan diulangi 24 jam kemudian. Efek
optimal dapat dicapai dalam 1 - 7 hari pemberian, setelah 7 hari efeknya masih
meningkat. Apabila tidak terdapat betametason, dapat diberikan deksametason dengan
dosis 2 x 5 mg intramuskuler per hari selama 2 hari.4

5. Antibiotika
Pemberian antibiotika pada persalinan tanpa infeksi tidak dianjurkan karena tidak
dapat meningkatkan luaran persalinan. Pada ibu dengan ancaman persalinan preterm dan
terdeteksi adanya vaginosis bakterial, pemberian klindamisin ( 2 x 300 mg sehari selama
7 hari) atau metronidazol ( 2 x 500 mg sehari selama 7 hari). atau eritromisin (2 x 500
mg sehari selama 7 hari) akan bermanfaat bila diberikan pada usia kehamilan minggu. 4
6. Emergency cerclage
Di negara maju telah dilakukan emergency cerclage pada ibu hamil dengan
pembukaan dan pendataran serviks yang nyata tanpa kontraksi. Secara teknik hal ini sulit
dilakukan dan berisiko untuk terjadi pecah ketuban. 4
7. Perencanaan Persalinan
Persalinan preterm harus dipertimbangkan kasus perkasus, dengan
mengikutsertakan pendapat orang tuanya. Untuk kehamilan <32 minggu sebaiknya ibu

14
dirujuk ke tempat yang mempunyai fasilitas neonatal intensive care unit (NICU)..
Kehamilan 24- 37 minggu diperlakukan sesuai dengan risiko obstetrik lainnya dan
disamakan dengan aturan persalinan aterm. Tidak dianjurkan forsep atau episiotomi
elektif.4

2.6 Komplikasi
1. Pada ibu, setelah persalinan preterm, infeksi endometrium lebih sering terjadi
mengakibatkan sepsis dan lambatnya penyembuhan luka episiotomi. Bayi-bayi preterm
memiliki risiko infeksi neonatal lebih tinggi; Morales (1987) menyatakan bahwa bayi
yang lahir dari ibu yang menderita anmionitis memiliki risiko mortalitas 4 kali lebih
besar, dan risiko distres pernafasan, sepsis neonatal, necrotizing enterocolitis dan
perdarahan intraventrikuler 3 kali lebih besar.
2. Sindroma gawat pernafasan (penyakit membran hialin).
Paru-paru yang matang sangat penting bagi bayi baru lahir. Agar bisa bernafas dengan
bebas, ketika lahir kantung udara (alveoli) harus dapat terisi oleh udara dan tetap
terbuka. Alveoli bisa membuka lebar karena adanya suatu bahan yang disebut
surfaktan, yang dihasilkan oleh paru-paru dan berfungsi menurunkan tegangan
permukaan. Bayi prematur seringkali tidak menghasilkan surfaktan dalam jumlah yang
memadai, sehingga alveolinya tidak tetap terbuka.
Diantara saat-saat bernafas, paru-paru benar-benar mengempis, akibatnya terjadi
Sindroma Distres Pernafasan. Sindroma ini bisa menyebabkan kelainan lainnya dan
pada beberapa kasus bisa berakibat fatal. Kepada bayi diberikan oksigen; jika
penyakitnya berat, mungkin mereka perlu ditempatkan dalam sebuah ventilator dan
diberikan obat surfaktan (bisa diteteskan secara langsung melalui sebuah selang yang
dihubungkan dengan trakea bayi).
3. Ketidakmatangan pada sistem saraf pusat bisa menyebabkan gangguan refleks
menghisap atau menelan, rentan terhadap terjadinya perdarahan otak atau serangan
apneu. Selain paru-paru yang belum berkembang, seorang bayi prematur juga memiliki
otak yang belum berkembang. Hal ini bisa menyebabkan apneu (henti nafas), karena
pusat pernafasan di otak mungkin belum matang. Untuk mengurangi mengurangi
frekuensi serangan apneu bisa digunakan obat-obatan. Jika oksigen maupun aliran
darahnya terganggu. otak yang sangat tidak matang sangat rentan terhadap perdarahan
(perdarahan intraventrikuler) atau cedera .

15
4. Ketidakmatangan sistem pencernaan menyebabkan intoleransi pemberian makanan.
Pada awalnya, lambung yang berukuran kecil mungkin akan membatasi jumlah
makanan/cairan yang diberikan, sehingga pemberian susu yang terlalu banyak dapat
menyebabkan bayi muntah. Pada awalnya, lambung yang berukuran kecil mungkin
akan membatasi jumlah makanan/cairan yang diberikan, sehingga pemberian susu yang
terlalu banyak dapat menyebabkan bayi muntah.
5. Retinopati dan gangguan penglihatan atau kebutaan (fibroplasia retrolental)
6. Displasia bronkopulmoner.
7. Penyakit jantung.
8. Jaundice.
Setelah lahir, bayi memerlukan fungsi hati dan fungsi usus yang normal untuk
membuang bilirubin (suatu pigmen kuning hasil pemecahan sel darah merah) dalam
tinjanya. Kebanyakan bayi baru lahir, terutama yang lahir prematur, memiliki kadar
bilirubin darah yang meningkat (yang bersifat sementara), yang dapat menyebabkan
sakit kuning (jaundice).
Peningkatan ini terjadi karena fungsi hatinya masih belum matang dan karena
kemampuan makan dan kemampuan mencernanya masih belum sempurna. Jaundice
kebanyakan bersifat ringan dan akan menghilang sejalan dengan perbaikan fungsi
pencernaan bayi.
9. Infeksi atau septikemia.
10. Sistem kekebalan pada bayi prematur belum berkembang sempurna. Mereka belum
menerima komplemen lengkap antibodi dari ibunya melewati plasenta.
Resiko terjadinya infeksi yang serius (sepsis) pada bayi prematur lebih tinggi. Bayi
prematur juga lebih rentan terhadap Necrotizing enterocolitis
(peradangan pada usus).
11. Bayi prematur cenderung memiliki kadar gula darah yang berubah-ubah, bisa tinggi
(hiperglikemia) maupun rendah (hipoglikemia).
12. Perkembangan dan pertumbuhan yang lambat.
13. Keterbelakangan mental dan motorik.

Masalah – masalah utama jangka pendek dan jangka panjang pada berat badan bayi
sangat rendah

Organ atau Masalah jangka pendek Masalah jangka panjang


sistem

16
Paru – paru Sindroma distress pernafasan, Displasia bronkopulmunore,
kebocoran udara, displasia penyakit jalan nafas reaktif, asma.
bronkopulmuner, pneumoprematuritas.

Gastrointestinal Hiperbilirubinemia, gangguan makan, Gagal tumbuh, sindroma short-


atau nutrisional necritizing enterocolitis bowel, kolestasis

Imunologi Infeksi nosokomial, infeksi perinatal, Infeksi respiratory syncitial virus,


imunodefisiensi. bronkiolitis.

Sistem saraf Perdarahan intraventrikularm Cerebral palsy, hidrosefalus, atrofi


pusat leukomalasia periventrikular, serebral, hambatan
hidrosefalus neurodevelopmental, gangguan
pendengaran

Oftalmologi Retinopati prematuritas Kebutaan, ablasio retina, miopia,


starbismus

Kardiovaskuler Hipotensi, paten ductus arteriosus, Hipertensi pulmonal, hipertensi saat


hipertensi pulmonal dewasa
Renal Ketidakseimbangan air dan elektrolit Hipertensi saat dewasa

Hematologi Anemia iatrogenik, memerlukan


transfusi berulang, anemia prematuritas

Endokrinologi Hipoglikemia, kadar tiroksin rendah Kelemahan regulasi glukosa,


sementara, defisiensi kortisol peningkatan resistensi insulin

Tabel 1. Komplikasi Partus Prematurus

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Wiknjosastro GH, Rachimhadhi T. Ilmu Kebidanan. 4th ed. Jakarta: Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo: 2008
2. Cunningham M.D, et all. Preterm Birth. In: Williams Obstetrics. 24th ed. New York:
McGraw- Hill. 2012
3. Oxorn Harry, dkk. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan (Human Labor
and Birth). Yogyakarta : YEM. 2010

4. Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI. Panduan Pengelolaan Persalinan Preterm


Nasional. Bandung: Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI. 2011
5. Hadrians. K. 2007. Obat – Obat Tokolitik dalam Bidang Kebidanan. Departemern
Obstetri dan Ginekologi Universitas Sriwijaya. RSUP Moh. Hoesin
Palembang.http://digilib.unsri.ac.id/download/obat%20tokolitik.pdf.

18