Anda di halaman 1dari 13

ANATOMI HEWAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN

PROSES FISIOLOGI

Makalah

Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Biologi Umum


Yang dibina oleh Bapak Dr. H. Sueb, M.Kes
Disajikan Pada Hari Rabu Tanggal 4 Oktober 2017

Disusun oleh :

Kelompok 8 Offering I 2017

1. Nadilah Nur Anggraeni (170342615521)


2. Fitriana Hadayani (170342615514)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN BIOLOGI

PRODI BIOLOGI

Oktober 2017
Anatomi Hewan dan Hubungannya Dengan Proses Fisiologi

Nadilah Nur Anggraeni, Fitriana Hadayani, dan Bapak Dr. H. Sueb, M.Kes

Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Malang

Email : nadilah99anggraeni@gmail.com dan sueb.fmipa@um.ac.id

Abstrak

Berbagai macam hubungan anatomi hewan dan fisiologinya dapat ditemukan pada
semua makhluk hidup yang saling berkaitan tentang lingkungan, baik lingkungan internal
maupun eksternal yang membentuk adaptasi bentuk tubuh dan fungsi tubuh di berbagai
kelompok hewan. Tujuan dalam penulisan makalah ini yaitu untuk mendeskripsikan anatomi
hewan dan hubungannya dengan proses fisiologi. Struktur dan fungsi jaringan pada hewan
dapat terbagi menjadi beberapa komponen utama yang memiliki fungsi, ciri, maupun bentuk
yang berbeda – beda. Dengan strutur dan fungsi jaringan yang berbeda – beda ini, seekor
hewan dapat menyesuaikan lingkungan internal setiap adanya perubahan lingkungan
eksternal melalui sistem endokrin dan sistem saraf yang menjaga agar lingkungan internal
tetap stabil, dengan bantuan adanya regulasi dan konformasi, serta homeostatis.

Kata kunci : anatomi hewan, fisiologi hewan, homeostatis, regulasi dan konformasi.

Abstrack

Various relationship between anatomy and physiology can be found in all


interconnected living things about environment, both internal and external environments that
build an adaptation of body shape and body function in animal groups. The purpose of
writting this letter is to describe animal anatomy and its relationship with physiology process.
The stucture and function of tissue in animal can be devided into several main components
that have different function, characteristic, and forms. With these different structures and
functions, an animal can adjust with the internal environment of any change in the external
environment through the endocryn system and the nervous system that keeps the internal
environment stable, with the help of regulation and conformation and homeostatis.

Keyword : anatomy of an animal, animal physiology, homeostatis, regulation and


conformation.
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat, inayah,
taufik serta hidayahNya sehingga makalah anatomi hewan dan hubungannya dengan proses
fisiologi dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih atas
bantuan dari pihak yang telah memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Harapan kami semoga makalah ini dapat memperluas dan menambah pengetahuan
dan pengalaman bagi pembaca, agar kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Kami menyadari bahwa di dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan
jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami mengharapkan adanya kritik dan saran
pembaca sebagai bahan evaluasi kami dalam pembuatan makalah berikutnya. Semoga
makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan
wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Malang, 31 Agustus 2017

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Makhluk hidup memiliki keanekaragaman jenis dan spesies. Setiap keanekaragaman


tersebut memiliki struktur dan fungsi yang berbeda – beda, baik dalam segi organ yang
seringkali mengandung jaringan – jaringan dengan peran fisiologis yang berbeda – beda.

Ukuran dan bentuk tubuh hewan merupakan aspek – aspek yang mendasar dari bentuk
secara signifikan yang memengaruhi cara hewan berinteraksi dengan lingkungannya.
Walaupun kita dapat menyebut ukuran dan bentuk sebagai unsur – unsur ‘bangun tubuh’ atau
‘desain’ ini tidak mengimplikasikan suatu proses perancangan secara sadar. (Campbell, 2010)

Oleh karena itu, makalah ini akan membahas bagaimana anatomi hewan dan
hubungannya dengan fisiologi dengan mengkaji tingkat – tingkat organisasi dalam tubuh
hewan dan sistem – sistem untuk mengkoordinasi aktivitas – aktivitas dari bagian – bagian
tubuh yang berbeda. Selanjutnya, akan dibahas bagaimana hewan meregulasi suhu tubuh
untuk mengenalkan dan mengilustrasikan konsep homeostatis, serta bagaimana anatomi dan
fisiologi berkaitan dengan interaksi hewan dengan lingkungannya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana hewan melakukan pertukaran zat dengan lingkungannya ?


2. Bagaimana struktur dan fungsi jaringan pada hewan ?
3. Bagaimana hewan mengkoordinasi dan mengontrol lingkungan internalnya ?
4. Bagaimana hewan mempertahankan lingkungan internalnya ?

1.3 Tujuan

1. Mendeskripsikan anatomi hewan dan hubungannya dengan proses fisiologi.

1.4 Manfaat

1. Mengetahui anatomi hewan dan hubungannya dengan proses fisiologi.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pertukaran Zat dengan Lingkungan pada Hewan

Hewan perlu bertukar material dengan lingkungannya. Pertukaran terjadi sewaktu zat
yang terlarut dalam medium berair bergerak melintasi membrane plasma setiap sel.
Kesempatan untuk melakukan pertukaran sangat dipengaruhi oleh jumlah sel. Kebanyakan
hewan dengan organisasi internal yang sederhana memiliki struktur tubuh yang
memungkinkan pertukaran langsung antara lingkungan eksternal dan hampir semua sel.
Misalnya, cacing pita parasitik, yang panjangnya bisa mencapai beberapa meter. Bentuk yang
pipih dan tipis menempatkan sebagian besar sel cacing dalam kontak langsung dengan
lingkungannya yang terspesialisasi cairan usus kaya nutrient dari inang vertebrata. Demikian,
setiap material sel tubuh melakukan pertukaran langsung dengan lingkungan disekitranya.

2.2 Struktur dan Fungsi Jaringan pada Hewan

Sel terorganisasi menjadi jaringan, yaitu kelompok sel dengan kenampakan yang
serupa dan fungsi yang sama. Jaringan hewan digolongkan dalam empat kategori utama,
yaitu :

a. Jaringan Epitel
Jaringan epitel menutupi bagian luar tubuh serta melapisi organ – organ dan rongga –
rongga dalam tubuh. Jaringan epitel berfungsi sebagai penghalang melawan cedera mekanis
dan kehilangan cairan.

b. Jaringan Ikat
Fungsi paling umu dari jaringan ikat adalah untuk mengikat dan mendukung jaringan
– jaringan lainnya di dalam tubuh. Jaringan ikat terdiri dari populasi sel – sel longgar yang
tersebar di seluruh matriks ekstraseluler.

c. Jaringan Otot

Jaringan otot adalah jaringan yang bertanggung jawab terhadap hampir semua tipe
gerakan tubuh.

d. Jaringan Saraf
Fungsi jaringan saraf adalah untuk mengindra rangsangan dan mentransmisikan sinyal
dalam bentuk impuls – impuls saraf dari satu bagian hewan ke bagian hewan yang lain.

2.3 Koordinasi dan Kontrol Hewan

Jaringan, organ, dan sistem organ seekor hewan harus bekerja sama satu sama lain.
Misalnya selama menyelam untuk waktu yang cukup lama, anjing laut memperlambat detak
jantungnya, mengempiskan paru – paru dan menurunkan suhu tubuhnya sambil mendorong
dirinya k depn dengan sirip belakang (Campbell et al, 2010)

Koordinasi aktivitas disekujur tubuh hewan membutuhkan komunikasi. Ada dua


sistem utama untuk kontrol dan koordinasi yaitu sistem endokrin dan sistem saraf. Pada
sistem endokrin, molekul persinyalan yang dilepaskan ke dalam aliran darah oleh sel
endokrin mencapai seluruh lokasi di dalam tubuh. Pada sistem saraf, neuron – neuron
mentransmisikan informasi diantara lokasi – lokasi yang spesifik.

2.4 Hewan Mengelola Lingkungan Internalnya

a. Regulasi dan konformasi

Campbell et al (2010) berpendapat bahwa seekor hewan disebut sebagai regulator bagi
variabel lingkungan tertentu jika menggunakan mekanisme kontrol internal untuk meregulasi
perubahan internal saat menghadapi fluktuasi eksternal. Seekor hewan disebut sebgai
konformer bagi variabel lingkungan tertentu jika membiarkan kondisi internalnya untuk
berkonformasi (menyesuaikan) dengan perubahan – perubahan eksternal di dalam variabel
tersebut. Seekor hewan bisa meregulasi beberapa kondisi internal sambil membiarkan kondisi
– kondisi lain berkonformasi dengan lingkungan.

b. Homeostatis

Homeostatis adalah kesetimbangan dinamis, timbal balik antara faktor – faktor


eksternal yang cenderung mengubah lingkungan internal dan mekanisme kontrol internal
yang melawan perubahan – perubahan semacam itu. (Campbell et al, 2010)
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Pertukaran Zat dengan Lingkungan pada Hewan

Kesempatan untuk melakukan pertukaran sangat dipengaruhi oleh jumlah sel.


Organisme bersel tunggal, seperti amoeba memiliki area permukaan membran yang cukup
dalam melakukan kontak dengan lingkungan untuk melaksanakan semua pertukaran yang
diperlukan. Sebaliknya, pada hewan bersel banyak, masing – masing memiliki membrane
plasma sendiri yang harus dilewati oleh zat yang dipertukarkan. Oleh karena itu, organisasi
multiseluler hanya berhasil jika setiap sel memiliki akses ke lingkungan berair yang sesuai,
baik di dalam maupun di luar tubuh hewan.

Terlepas dari tantangan pertukaran dengan lingkungan yang lebih besar, struktur
tubuh yang kompleks memiliki manfaat nyata daripada struktur tubuh sederhana. Misalnya,
rangka eksternal dapat melindungi dari predator, dan organ sensoris yang dapat memberikan
informasi detail tentang lingkungan sekitar hewan. Dengan cara ini, seekor hewan dapat
mempertahankan lingkungan internal yang relatif stabil sewaktu hidup di lingkungan
eksternal yang berubah – ubah.

3.2 Struktur dan Fungsi Jaringan pada Hewan

Jaringan hewan digolongkan ke dalam empat kategori utama yaitu:

a. Jaringan epitel, memiliki fungsi sebagai penghalang melawan cedera mekanis,


patogen, dan kehilangan cairan. Jaringan epitel terbagi menjadi lima macam, yaitu

(1) Epitelium kubus, memiliki sel seperti dadu yang terspesialisasi untuk sekresi,
menyusun epitelium tubulus ginjal dan banyak kelenjar, termasuk kelenjar tiroid dan
kelenjar ludah

(2) Epitelium kolumnar sederhana, yang melapisi usus dan berfungsi menyekresikan
getah pencernaan dan menyerap nutrient

(3) Epitelium kolumnar bersilia dan berlapis semu, membentuk membran mukus
yang melapisi bagian saluran respirasi pada vertebrata. Silia yang berdenyut
menggerakkan lapisan mukus di sepanjang permukaan
(4) Epitelium skuamosa berlapis, beregenerasi dengan cepat melalui pembelahan sel
di dekat lamina basal. Sel baru terdorong ke luar, menggantikan sel yang terkikis
lepas. Epitelium ini dapat ditemukan pada permukaan yang mengalami abrasi,
misalnya kulit terluar serta lapisan esofagus, anus, dan vagina

(5) Epitelium skuamosa sederhana, yang tipis dan mudah ditembus, berfungsi dalam
pertukaran material melalui difusi. Tipe ini melapisi pembuluh darah dan kantong
udara paru – paru, tempat difusi nutrien dan gas menjadi sangat penting.

b. Jaringan ikat, pada jaringan ikat serat, tersusun atas tiga macam protein, seperti
serat kolagen (memberikan kekuatan sekaligus fleksibilitas), serat elastik (berbentuk
panjang dan terbuat dari protein yang disebut dengan elastin), dan serat retikular
(bentuknya sangat tipis dan bercabang, serta tersusun atas kolagen dan bersambung
dengan serat kolagen). Variasi pada struktur matriks ini tercermin pada keenam tipe
utama jaringan ikat pada vertebrata, yakni :

(1) Jaringan ikat longgar, merupakan jaringan ikat yang paling tersebar luas dalam
tubuh vertebrata. Serat berkolagen, elastik, dan retikular dalam tipe jaringan ini
mengikat epitelum ke jaringan – jaringan di bawahnya dan menahan organ di
posisinya. Jaringan ikat yang menahan banyak jaringan dan organ secara bersamaan
di posisinya mengandung sel yang tersebar dengan fungsi yang bervariasi. Diantara
sel tersebut terdapat dua tipe sel yang mendominasi yaitu fibroblas yang berfungsi
menyekresikan bahan protein dari serat ekstraseluler (Campbell et al, 2010).

(2) Kartilago, memiliki serat kolagen yang melimpah dan tertanam di dalam matriks
yang bersifat elastis dan terbuat dari protein-karbohidrat yang disebut kondroitin
sulfat. Pada embrio vertebrata memiliki rangka berkartilago, namun saat embrio telah
dewasa akan tergantikan oleh tulang keras.

(3) Jaringan ikat berserat, memiliki struktur rapat berkat jaringan berkolagen. Serat
tersebut membentuk serabut parallel yang memaksimalkan kekuatan nonelastik.
Jaringan ini terdapat di tendon, yang mengikatkan antara otot dengan tulang, dan
ligamen yang menghubungkan tulang dengan persendian.

(4) Jaringan adiposa, merupakan jaringan ikat longgar terspesialisasi yang menyimpan
lemak di dalam sel adiposa yang didistribusikan di seluruh matriks jaringan tersebut.
Jaringan ini membantali dan mnginsulasi tubuh dan menyimpan bahan sebagai
molekul lemak. Setiap sel adiposa terdiri dari tetesan lemak yang membesar ketika
lemak tersimpan dan menyusut ketika lemak digunakan sebagai bahan bakar

(5) Tulang, merupakan jaringan ikat yang termineralisasi. Sel pembentuk tulang
disebut osteoblas, menumpuk matriks dari kolagen. Kalsium, magnesium, dan fosfat
berkombinasi menjadi mineral yang keras di dalam matriks. Kombinasi antara
kolagen dan mineral membuat tulang bersifat lebih keras daripada kartilago tanpa
mudah patah. Struktur mikroskopik dari tulang mamalia yang keras terdiri dari unit
berulang yang disebut osteon. Setiap osteon memiliki lapisan – lapisan konsentrik dari
matriks yang termineralisasi, yang tertumpuk di sekeliling pusat kanal dan
mengandung pembuluh darah dan saraf.

(6) Darah, mentransportasikan zat diseluruh tubuh dan fungsinya berbeda dari
jaringan ikat yang lain, memiliki matriks ekstraselular cair yang disebut plasma dan
terdiri dari air, garam, dan protein terlarut. Plasma mengandung eritrosit (sel darah
merah) yang membawa oksigen, leukosit (sel darah putih) yang berfungsi dalam
pertahanan melawan penyakit, dan fragmen – fragmen sel (platelet atau trombosit)
berfungsi membantu dalam penggumpalan darah.

c. Jaringan otot, merupakan jaringan yang paling banyak jumlahnya pada kebanyakan
hewan, dan aktivitas otot menyusun sebagian besar kerja selular yang mengonsumsi
energi pada hewan yang aktif. Jaringan otot terdiri atas filament yang mengandung
protein aktin dan myosin, yang memungkinkan otot untuk berkontraksi. Terdapat tiga
jenis jaringan otot pada tubuh hewan, yaitu :

(1) Otot rangka atau otot lurik, yang melekat pada tulang oleh tendon dan
bertanggung jawab untuk pergerakan sadar. Otot ini terdiri dari berkas sel panjang
yang disebut serat otot. Susunan unit kontraktil (sarkomer) di sepanjang serat otot
menyebabkan sel terlihat belang – belang (lurik).

(2) Otot jantung, membentuk dinding kontraktil jantung. Lurik ini seperti otot rangka,
dan memiliki sifat kontraktil yang mirip dengan otot rangka. Tetapi, tidak seperti otot
rangka, otot jantung berada dibawah pengawasan tidak sadar seperti kontraksi
jantung. Serat otot jantung bercabang dan saling berhubungan melalui cakram
interkalar, yang menyampaikan sinyal dari satu sel ke sel yang lain selama terjadinya
detak jantung.
(3) Otot polos, dinamakan karena tidak berlurik, ditemukan pada dinding saluran
pencernaan, kandung kemih, arteri, dan organ internal lainnya. Bentuk selnya seperti
gelendong dan bekerja lebih lambat daripada rangka otot, tetapi otot polos dapat
mempertahankan kontraksi yang lebih lama. Otot polos bertanggung jawab terhadap
aktivitas tubuh tak-sadar, seperti pengadukan makanan di lambung.

d. Jaringan saraf, mengandung sel saraf (neuron) yang merupakan unit dasar sistem
saraf. Neuron terdiri dari badan sel dan dua atau lebih penjuluran yang disebut sebagai
dendrit dan akson. Dendrit berfungsi mentrasmisikan sinyal dari ujung ke seluruh
bagian neuron. Akson seringkali terkumpul bersama menjadi saraf, mentransmisikan
sinyal ke arah neuron lain atau ke arah efektor, strukturnya seperti sel otot yang
melaksanakan respons tubuh. Jaringan saraf juga mencakup bentuk sel glial (glia)
yang membantu menyediakan makanan, menginsulasi, dan menyegarkan kembali
neuron.

3.3 Koordinasi dan Kontrol Hewan

Terdapat dua sistem utama untuk koordinasi dan kontrol, yaitu sistem endokrin dan
sistem saraf. Pada sistem endokrin, molekul – molekul persinyalan yang disebarkan ke
seluruh tubuh oleh sistem endokrin disebut hormon. Hormon yang berbeda menyebabkan
efek yang berbeda pula, dan hanya sel yang memiliki resptor untuk hormon tertentu yang
akan merespon. Hormon bekerja relatif lambat. Perlu waktu berdetik – detik agar insulin dan
hormon – hormon lain dilepaskan ke dalam aliran darah dan diangkut ke seluruh tubuh. Efek
hormon seringkali bertahan lama, sebab hormon tetap berada di dalam aliran darah dan
jaringan target hingga berjam – jam.

Pada sistem saraf, sinyal tidak dipancarkan ke seluruh tubuh. Sebagai gantinya, setiap
sinyal yang disebut impuls akan berjalan ke sel target di sepanjang jalur komunikasi,
terutama yang terdiri dari penjuluran neuron yang disebut akson. Ada empat tipe sel penerima
impuls saraf, yaitu neuron lain, sel otot, san endokrin, dan sel eksokrin. Berbeda dengan
sistem endokrin, sistem saraf meneruskan informasi melalui jalur yang diambil oleh sinyal.

Sistem endokrin cocok sekali untuk mengkoordinasi perubahan – perubahan bertahap


yang mempengaruhi seluruh tubuh, seperti pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi,
proses metabolik, serta pencernaan. Sistem saraf cocok untuk mengarahkan respons yang
langsung dan cepat ke lingkungan, terutama dalam mengontrol lokomosi cepat dan perilaku.
Kedua sistem berkontribusi dalam menjaga lingkungan internal yang stabil.
3.4 Hewan Mengelola Lingkungan Internalnya

Lebih dari 1 abad yang lalu, fisiologi prancis Claude Bernard (1867) mengakui bahwa
dua lingkungan sangat penting pada hewan. Pertama, lingkungan eksternal yang berada di
sekitar hewan dan lingkungan internal dimana terdapat sel yang aktif. Lingkungan internal
dari vertebrata adalah cairan intersititial yang mengisi ruang antarsel. Beberapa hewan
menjaga kondisi yang relatif konstan di lingkungan internal mereka

Bernard berkonsep (1867) dari lingkungan internal seperti prinsip homeostatis, yang
mengartikan ‘kondisi tetap’. Sebagai contoh, kondisi bisa berubah – ubah (berfluktuasi)
secara luas pada lingkungan eksternal, tetapi mekanisme homeostatis mengatur kondisi
internal, hasilnya berupa perubahan kecil pada lingkungan internal hewan. Hewan mencapai
homeostatis dengan mempertahankan suatu variabel, misalnya suhu tubuh atau konsentrasi
zat terlarut . Sebagai contoh, burung dan mamalia mempunyai sistem kontrol yang dapat
mengatur tubuh agar tetap pada suhunya, meskipun perubahan besar terjadi pada lingkungan
eksternalnya. Lingkungan internal pada hewan selalu mengalami perubahan walaupun
sedikit. Homeostatis pada hewan mengatur sistem utama kondisi internal dalam susunan
dimana terjadinya proses metabolik.

Homeostatis pada hewan sangat bergantung pada umpan balik negatif, yaitu respon
yang mengurangi atau membungkam rangsangan. Terdapat pula umpan balik positif yang
memicu mekanisme – mekanisme yang memperbesar, bukan mengurangi rangsangan.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Simpulan

Berbagai macam hubungan anatomi hewan dan hubungannya dapat ditemukan pada
semua makhluk hidup yang saling berkaitan tentang lingkungan, baik lingkungan internal
maupun eksternal yang membentuk adaptasi bentuk tubuh dan fungsi tubuh di berbagai
kelompok hewan.

Struktur dan fungsi jaringan pada hewan dapat terbagi menjadi beberapa komponen
utama yang memiliki fungsi, ciri, maupun bentuk yang berbeda – beda. Dengan strutur dan
fungsi jaringan yang berbeda – beda ini, seekor hewan dapat menyesuaikan lingkungan
internal setiap adanya perubahan lingkungan eksternal melalui sistem endokrin dan sistem
saraf yang menjaga agar lingkungan internal tetap stabil, dengan bantuan adanya regulasi dan
konformasi, serta homeostatis.

4.2 Saran

Makalah ini masih sangat sederhana, untuk itu kami berharap kepada para pembaca
agar memberikan kritik serta saran terhadap makalah ini demi kesempurnaan penulisan
makalah di kemudian hari.

Penulis menyarankan agar makalah ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik – baiknya
oleh para pembaca.
DAFTAR RUJUKAN

Campbell, Neil A., Jane B. Reece, Lisa A. Urry, Michael L.Cain. Steven A. Wasserman,
Peter V. Minorsky, Robert B. Jackson. 2010. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 3.
Jakarta : Erlangga.

Reece, Jane B., Martha R. Taylor, Eric J. Simon, Jean L. Dickey. 2012. Campbell Biology
Concepts & Connection Seventh Edition. San Fransisco : Pearson Benjamin
Cummings.