Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) diare adalah bertambahnya defekasi

(buang air besar) lebih dari biasanya atau lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan

perubahan konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah, secara klinik di bedakan

tiga macam sindroma diare yaitu diare cair akut, disentri, dan diare persisten. Mekanisme

diare ada yang bersifat sekretorik dan ada yang bersifat osmotik. Pada umumnya, diare akut

di sebabkan oleh infeksi virus (40-60%). Hanya 10% di sebabkan infeksi bakteri

Diare merupakan kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi

karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair

(Suriadi,2001)

Di Indonesia dapat di temukan penderitan diare sekitar 60 juta kejadian setiap

tahunnya. Sebagian besar (70-80) dari penderita ini anak di bawah lima tahun (lebih kurang

40 juta kejadian) sebagian dari penderita (1-2%) akan jatuh ke dalam dehidrasi dan kalau

tidak segera di tolong (50-60%) di antaranya dapat meninggal (Soegijanto,2002)

Data dari dinas kesehatan. Sumatera selatan menunjukkan, penyakit diare meningkat

sejak maret dengan jumlah penderita 14.783 orang, sedangkan april 15.220 orang. Sebanyak

40% penderita diare. Anak berusia lima tahun (balita) . (Dinkes, 2009)

Peran ibu adalah sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, juga mempunyai peranan

untuk megurus rumah tangga, sebagai pengasuh, pelindung dan pendidik anak-anak sebagai
salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari

lingkungannya. Di samping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan

dalam keluarga (Effendi,1998) maka untuk perawatan penyakit diare pada balita peranan-

peranan ibu tersebut sangat di perlukan dalam perawatan karema ibu orang yang paling dekat

dengan balita.

Berdasarkan data rekam medik puskesmas Kertapati Palembang penderita yang

dirawat dengan diare mengalami priode kenaikan dan penurunan pada priode bulan januari –

desember, 2003 jumlah balita yang menderita diare sebanyak 202 anak, sedangkan priode

januari- desember 2004 jumlah balita yang menderita diare sebanyak 249 anak. Sementara

pada prode bulan januari- desember 2005 jumlah balita diare adalah 190 anak, priode bulan

januari- desember 2006 jumlah balita diare adalah 247 anak dan pada bulan januari –

desember 2007 jumlah diare adalah 90 anak, dan priode pada bulan januari- desember 2008

jumlah penderita balita diare adalah 250 anak

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian

dengan judul “ Peran Ibu Dalam Perawatan kulit pada balita Diare Di Puskesmas

Kertapati palembang.

1.1 Rumusan Masalah

Belum diketahui bagaimana peran ibu dalam perawatan kulit pada balita dengan

diare di Puskesmas Kertapati Palembang.

1.2 Pertanyaan Penelitian


1. Bagaimana peran ibu sebagai pendidik dalam perawatan kulit pada balita dengan

diare di puskesmas Kertapati palembang?

2. Bagaimana peran ibu sebagai Pemberi ASI dalam perawatan kulit pada balita dengan

diare di puskesmas Kertapati palembang?

3. Bagaimana peran ibu sebagai pelindung dalam perawatan kulitpada balita dengan

diare di puskesmas Kertapati palembang?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan umum

Untuk mengetahui peran ibu dalam perawatan kulit pada balita dengan Diare di

Puskesmas Kertapati Palembang

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Diketahui peran ibu sebagai pendidik dalam perawatan kulit pada balita

dengan diare di puskesmas Kertapati palembang

2. Diketahui peran ibu sebagai Pemberi ASI dalam perawatan kulit pada dengan

balita diare di puskesmas Kertapati palembang

3. Diketahui peran ibu sebagai pelindung dalam perawatan kulit pada balita

dengan diare di puskesmas Kertapati palembang

1.4 Ruang Lingkup Penelitian

1.4.1 Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan dipuskesmas Kertapati palembang.

1.4.2 Waktu penelitian


Waktu penelitian akan direncanakan pada tanggal 22 februari – 6 Maret.

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Institusi Pendidikan

Untuk memperkaya pengetahuan tentang ilmu keperawatan anak diperogram

studi diploma DIII Keperawatan Stikes Muhammadaiyah Palembang.

1.5.2 Bagi puskesmas

Memberikan informasi tentang peran ibu dalam perawatan kulit pada balita

dengan diare di puskesmas Kertapati palembang

1.5.3 Bagi Peneliti

Dapat manambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi peneliti.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep dasar peran ibu

2.1.1 Definisi peran ibu

Ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak –anaknya, tetapi ibu juga

mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga dan suami, Ibu sebagai

pengaruh,pendidik dan pelindung anak –anaknya.Tampaknya menjadi semakin jelas bahwa

dalam kebanyakan keluarga peran –peran penting tertumpu pada ibu yaiti posisi sebagai ibu

dari ank-anaknya Ibi sebagai pemimpin dan sebagai pembuat keputusan dalam pemberian

asuhan keperawatan di dalam keluarga (Widjaja, 2001)

Balita adalah bayi dibawah umur lima tahun, balita membutuhkan rangsangan atau

stimulus dari lingkungan, baik perilaku maupun asupan asupan materi pembelajaran lainnya.

Merupakan penentu terbentuknya jaringan-jaringan sel secara permanen dewasa kelak

(Media com.id., di unduh pada tanggal 10/03/2008).

Peran ibu adalah sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, juga mempunyai peranan

untuk megurus rumah tangga, sebagai pengasuh, pelindung dan pendidik anak-anak sebagai

salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari

lingkungannya. Di samping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan

dalam keluarga (Effendi,1998) maka untuk perawatan penyakit diare pada balita peranan-

peranan ibu tersebut sangat di perlukan dalam perawatan karema ibu orang yang paling dekat

dengan balita.
2.1.2 Klasifikasi peran ibu

a. sebagai pendidiks

Peran ibu sebagai pendidik anak adalah mendidik dan menyekolahkan anak untuk

memberi pengetahuan tentang perawatan diare. Ada begitu banyak hal yang harus di pelajari

anak-anak, banyak ibu terlalu berfokus pada pengajaran akademis terlalu dini, anak-anak

prasekolah perlu mempelajari sukacita-sukacita yang hangat dari pelukan-pelukan dan

sentuhan-sentuhan anda.mereka perlu menemukan sukacita dari alam, ciptaan tuhan-

ringannya biji dan delion, halusnya kelopak mawar, semangat dalam lari seekor tupai, dan

keajaiban dari pelangi dan matahari terbenam. Hal-hal ini terus-menerus menjadi sumber

sukacita yang mengagumkan.

Saya biasa bekerja keras untuk berusaha keras mengajarkan kepada anak-anak saya

sukacita dari alam, baru beberapa hari yang lalu, dua dari mereka mengambil waktu untuk

berusaha menggambarkan kepada saya berkilaunya sinar matahari terbenam sore itu. Salah

satu dari mereka bahkan berhenti di tepi jalan utama di mana ia sedang menyetir dan

memakir mobilnya supaya ia dapat duduk dan menyelami keindahan yang mempesona itu.

Dari itu saya mengetahui bahwa pengajaran saya selama masa kecil mereka telah terbayar.

Ajarlah anak-anak anda untuk menjadi anak yang baik hati, adil, dan jujur. Bantulah

mereka untuk mengasihi dan bermurah hati. Tunjukkan kepada mereka cara untuk

menyelesaikan masalah sehingga mereka tidak akan pernah merasa sama sekali tidak

berdaya.(Ketterman,2005)
b. Sebagai pemberi ASI

ASI adalah makanan paling penting buat bayi, komponen zat makanan tersebut

tersedia dalam bentuk yang ideal dan seimbang untuk di cerna dan di serap secara optimal

oleh bayi. ASI mempunyai khasiat secara preventif dan secara immunologik dengan adanya

anti bodi dengan zat-zat lain yang di kandungnya dapat melindungi dari penyakit diare.

Seorang ibu akan merasa bahagia jika ibu dapat menyusui anaknya sendiri. Rasa kasi

sayang melalui hangatnya pelukan si ibu saat menyusui akan di rasaka oleh anaknya karena

berbagai sebab, akan merasa kehilangan tempat untuk mencurahkan kasih sayangnya. Sikap

ibu terhadap anak memenuhi kebutuhan anak itu. Anak memerlukan cinta ibu tanpa syarat,

yang tidak mengharapkan imbalan atas ketidakberdayaan anaknya. Anak juga memerlukan

pengasuhan secara lahiriah juga kejiwaan.(Widya,2006)s

c. Sebagai pelindung

Adalah para ibu yang harus mengamati dan mengenali kemampuan-kemampuan anak

anda. Segera setelah itu siap untuk duduk, merangkak, berdiri, atau berjalan, bantulah anak

itu untuk melakukannya dengan aman. Ketika itu siap untuk menaiki tangga, berlatihlah

bersamanya. Dan pastikan si kecil dapat meluncur turun kembali, tentu saja anda harus

memastikan adanya pelindung yang dapat mencegahnya untuk jatuh dari pinggil Pada semua

usia dan tahapan, perhatikanlah bagaimana anak anda menggembangkan kemapuan-

kemampuan fisik yang baru, berlatihlah bersamanya sampai anda yakin anak itu dapat

berlari, memanjat dan berayun dengan aman. Kurangi pengawasan anda sedikit demi sedikit

ketika anda melihat bahwa si kecil dapat di percaya. Ingat, kecelakaan-kecelakaan bisa saja
terjadi, maka berusahalah untuk mencegahnya tanpa bersikap terlalu melindunginya.

Berdoalah selalu untuk memhon perlindungan dari tuhan.

Seorang tokoh berkata,”sabda malaikat-malaikatnya akan di perintahkan-Nya

kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu.”Itu adalah janji penghibur yang dapat

anda pegang ketika anda sendiritidak mungkin lagi menjaga anak-anak anda.

Doronglah anak-anak anda untuk mempelajari dengan baik cara berenang, bersepatu

roda, bermain, memanjat, bersepeda dan olahraga-olahraga permainan. Libatkan diri anda

dan berilah semangat pada mereka. Setiap keberhasilan memperkuat percaya diri seorang

anak dan memperluas kesempatan.

Dunia saat ini mengigatkan saya pada kebutuhananak-anak kita untuk

mendapatkan perlindungan bagi pikiran mereka. Ada begitu banyak kekerasan, kejahatan dan

cemoohan terhadap nilai-nilai dan iman kepada tuhan. Luaskan peran anda sebagai pelindung

untuk memonitor tontonan dan bacaan mereka. Ajarkan pada mereka apa yang menjadikan

sesuatu itu buruk dan apa yang menjadikannya baik. Bantulah mereka memahami bahwa

kebaikan, iman, kebaikan hati, dan ingtegritas adalah kualitas-kualitas yang di banggakan

oleh tuhan. Tuntunlah mereka untuk mengalahkn kejahatan dengan kuasa tuhan.

Perlindungan anda atas roh-roh mereka akan berguna sampai kekalan.(Ketterman,2005)

d. Sebagai temen bermain

Sebagai seorang ibu, saya dengan sedih harus mengatakan, saya dengan sedih harus

mengatakan, saya sering kali merasa bahwa membersihkan rumah, memasak, dan mencuci

pakaian lebih penting dari pada bermain. Jangan melakukan kesalahan itu! Ambillah waktu

untuk berhenti berkerja dan bermain dengan anak-anak anda. Kendarailah truk mereka,

mainkan permainan mereka, dan ajarkan paadaa mereka sebagian dari kesenangan anda.
Permainan yang asyik, canda tawa, dan kompetisi yang sehat sama pentingnya untuk suka

cita anak anda seperti juga makanan untuk perutnya.(Widya, 2006)

e. Sebagai ahli kesedihan

Banyak ibu tidak berfikir tentang banyak ”kesedihan-kesedihan ”dari anak-anak,

padahal setiap kehilangan, besar atau kecil, melibatkan proses berduka yang kompleks.

Ketika saya tidak mendapat persetujuan dari ibu saya, saya merasakan duka cita yang

mendalam. Bagaimana saya dapat menemukan penghiburan dari seseorang yang begitu

melukai saya. ”adalah seorang penghibur yang sangat lembut”.

Setiap ibu kadang-kadang harus menimbulkan rasa sakit untuk mengoreksi. Namun,

ia bisa dan harus juga seperti seorang penghibur bagi kesedihan anaknya, lembut,

menampung air mata; sebuah tempat berteduh yang hangat dan menyenangkan.

Selama masa berduka dalam kesedihan-kesedihan mereka, anak-anak lebih perlu

didengar lebih dari pada mendengar. Mereka perlu diizinkan untuk meneriakkan kesedihan

mereka. Mereka membutuhkan seorang ibu untuk menjadi penahan goncangan. Ketika ada

balasan ketenangan, mereka dapat mendengar kata-kata penghiburan anda dan tawaran

pengharapan akan kesembuhan.

f. Sebagai pengawasan ruang belajar

Sudah ada kecenderungan yang menabjubkan dikalangan para pelajar selama

bertahun-tahun. Setelah anak-anak menemuka sedikit kesenangan dalam belajar dan rasa

ingin tahu yang terpuaskan, mereka akan membutuhkan imbalan. Prestasi menjadi bayaran

mereka. Selain itu, proses ini juga akan terbantu bila anda sebagai ibu menumbuhkan rasa

ingin tahu.
Para ibu, jangan pernah bertanya kepada anak-anak anda apakah mereka mempunyai

pekerjaan! Tentu saja, anda akan mengungkapkan apresiasi untuk usaha-usaha mereka seperti

juga memberikan imbalan kepada mereka sekali-sekali dengan sesuatu yang menyenangkan.

Anda akan menemukan suka cita dalam pertumbuhan intelektual anda sendiri semetara anda

bekerja bersama dengan anak-anak anda.

Ada terlalu banyak peran ibu yang perlu diuraikan seluruhnya. Anda adalah pengajar

nilai-nilai. Anda yang menentukan fokus spiritual bagi keluarga. Andalah, para ibu, yang

paling mungkin mengajarkan kemampuan-kemampuan komunikasi. Anda dapat

membimbing para anggota untuk berusaha saling memahami dan memahami diri mereka dan

menunjukan belas kasihan.(ketterman,2005)

g. Sebagai pengasuh

Ibu berperan sebagai secara naluriah setiap orang tua pasti akan mengasuh dan

melindingi anaknya, apabila anak masih dalam usia balita dan dianggap masih belum mandiri

dan belum memiliki keterampilan dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dan menjaga

dirinya dari penyakit.

Seorang anak balita yang seharusnya sangat tergantung dengan pengasuhan orang tuanya

justru malah banyak yang mengalami gangguan gizi seiring bertambahnya usia. Dengan

logika sederhana seharusnya dengan bertambahnya usia, anak akan tumbuh semakin kuat dan

mandiri serta semakin jauh tentang masalah gizi dan kesehatan pada umumnya.

(hernawati,2003)
2.2 Konsep dasar diare

2.2.1 Difinisi

Diare adalah Suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti

biasanya, ditandai dengan peningkatan volume, keenceran serta frekuensi lebih dari 3 kali

sehari dan pada neonatus lebih dari 4 kali sehari dengan atau tanpa lendir darah. (Aziz, 2006).

Diare pada dasarnya adalah frekuensi buang air besar (BAB) yang lebih sering dari

biasanya dengan kosentrasi yang lebih encer dan frekuensi buang air besar (BAB) lebih dari

4 kali pada bayi dan lebih 3 kali pada anak (Nursalam,2008).

Diare merupakan salah satu gejala dari penyakit pada sistem gastrointestinal atau

penyakit lain diluar saluran pencernaan. (Ngastiyah, 2005).

2.2.2 Etiologi

Factor Etiolagi diare dapat di bagi dalam beberapa

1. Faktor infeksi

a. Infeksi enteral ; infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan

penya\ebab utama diare pada anak.

b. Infeksi parenteral ialah infeksi di luar alat pencernaan makanan seperti: otitis

media akut (OMA), tonsillitis/ tonsilofaringitis, bronkopneumonia,

ensefalitis, dan sebagainya.keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak

berumur di bawah 2 tahun

2. Faktor malabsorbsi

- Malabsorbsi karbonhidrat disakarida (Intoleransi loktosa,

maltosa, dan sukrosa); manosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, dan


galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering (Intoleransi

laktosa).

- Malabsorbsi lemak

- Malabsorbsi protein

3. Faktor makanan, maknan, basi, beracun, alergi terhadap makanan.

4. Faktor psikologis, rasa takut dan cemas (jarang, tetapi dapat terjadi pada anak

yang lebih besar (Ngastih,2005).

2.2.3 Tanda dan gejala

Mula-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan

berkurang atau tak ada, kemudian timbul diare, tinja cair, mungkin disertai lendir atau lendir

dan darah. Warna tinja makin lama berubah berubah kehijauan karena bercampur dengan

empedu. Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karenna sering defeksi dan tinja makin

lama makin asam sebagai akibat makin banyak asam laktat yang berasal dari laktosa yang

tidak diabsorsi oleh usus selama diare. (Ngastiyah,2005)

2.2.4 Komplikasi

Akibat dan kehilangan cairan serta elektrolit secara mendadak dapat terjadi berbagai

komplikasi sebagai berikut:

1. Dehidrasi (ringan,sedang,berat,hipotonik.isotonik, atau hipertonik).

2. Ranjatan hipovolemik.

3. Hipokalemia (gejala meteorismu,hipotoni otot lemah,dan bradikardi).

4. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim

laktose.
5. Hipoglikemia

6. Kejang terjadi pada dehidrasi hipertonik.

7. mal nutrisi energi protein (akibat muntah dan diare jika lama dan kronik)

(Nursalam,2008).

Berdasarkan tanda dan gejala yang timbul, medikasi anak harus menjalni perawatan

adalah panas tinggi dan kejang lebih dari 5 menit, kehilangan air dan elektrolit (terjadi

dehidrasi), gangguan air sebagai akibat kelaparan (masukan makanan kurang, pengeluaran

bertambah), kulit pucat, air seni keluar sedikit, dan bewarna gelap, anak menangis tanpa air

mata, warna tinja semakin lam berubah kehitam- hitaman karena bercampur denagn empedu

(Nursalam,2008)

2.2.5 Patogenesis

Mekanisme dasar yang menyebabkab timbulnya diare ialah :

1. Gangguan osmotik

Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan

tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolik

ke dalam rongga usus.

2. Gangguan sekresi

Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi

peningkatan sekresi air dan elektrolik ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare

karena terdapat peningkatan isi rongga usus.

3. Gangguan motilitis usus


Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap

makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan

mengakibatkan bakteri timbul berlebihan, selanjutnya timbul diare pula. (Ngastih,2002)

2.2.6 Patofisiologi

Sebagai akibat diare baik akut maupun krinik akan terjadi:

1. Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi) yang mengakibatkan

gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolik, hipokalemia)

2. Gangguan gizi akibat kelaparan (masukan kurang, pengeluaran bertambah)

3. Hipoglikemia

Macam-Macam diare

(Lab/UPF IKA, 1994: 39)

Menurut pedoman dari laboratorium/UPF Ilmu Kesehatan Anak,Universitas

Airlangga (1994), diare dapat di kelompokkan menjadi:

1. Diare akut, yaitu diare yang terjdi mendadak dan berlangsung paling lama

3-5 hari.

2. Diare berkepanjangan bila diare berlangsung lebih dari 7 hari.

3. Diare kronik bila diare berlangsung lebih dari 14 hari

Sedangkan menurut pedoman MTBS (2000), diare dapat di kelompokkan

atau di klasifikasikan menjadi;

1. Diare akut, terbagi atas (a) diare dengan dehidrasi berat, (b) diare dengan

dehidrasi ringan/sedang, dan (c) diare tanpa dehidrasi.


2. Diare persisten bila diare berlangsung 14 hari atau lebih, terbagi atas: (a) diare

persisten dengan dehidrasi dn (b) diare persisten tanpa dehidrasi.

3. Disentri apabila diare berlangsung di sertai dengan darah.

(Nursalam,2008).

2.2.7 Pencegahan Diare

 Beri ASI eksklusif sampai empat atau enam bulan dan teruskan menyusui

sampai setidaknya setahun.• Hindari pemberian susu botol.Setelah usia 4-6

bulan, berikan makanan yang bergizi, bersih dan aman untuk mulai menyapih.

 Gunakan makanan matang yang baru dimasak untuk memberi makan anak-

anak.

 Bersihkan wadah yang digunakan untuk mengumpulkan dan menyimpan air

minum setiap hari.

 Jika anda tidak yakin tentang kualitas air minum, rebuslah selama 10 menit

dan tutuplah serta simpanlah dalam wadah yang sama.

 Hindari kontak antara tangan dan air minum ketika menyajikannya

 Cucilah tangan dengan sabun dibawah air yang mengalir sebelum memberi

makan anak, memasak, setelah pergi ke WC atau membersihkan anak.

 Buanglah tinja yang dikeluarkan anak dalamWC segera mungkin.

 Segeraah cuci baju yang terkena tinja anak dengan air hangat

 Berikan imunisasi campak kepada akan pada usia sembilan bulan karena

resiko diare parah dan malnutrisi yang mengikutinya lebih tinggi. Setelah infeksi

campak.
 Pastikan bahwa daerah dimana anak bermain atau merangkak tetap bersih.

Cucilah mainan yang anak mainkan secara teratur.

2.2.8 Pengobatan untuk diare

a. Obat anti sekresi

Asetosal dosis 25 mg / tahun dengan dosis minimun 30 mg klorpromazin.

Dosis 0,5 – 1 mg / kg BB / hari

b. Obat spasmolitik

Umumnya obat spasmolitik seperti papverim, ekstrak beladora, opium

loperamid tidak digunakan untuk mengatasi diare akut lagi.

c. Antibiotik

Umumnya antibiotik tidak diberikan bila tidak ada penyebab yang jelas.

Bila penyebab kolera, diberikan tetrasiklin 25-50 mg / KG / BB / hari. Antibiotik

juga diberikan bila terdapat penyakit penyerta seperti : OMA, faringitis, bronkitis

atau bronkopneumonia

(Ngastiyah,2003).

2.2.9 Penatalaksanaan

Penyakit diare walaupun tidak semua menular ( missal. Diare karena faktor

malabsorbsi), tetapi perlu perawatan di kamar yang terpisah dengan perlengkapan cuci tangan

untuk mencegah infeksi ( selalu tersedia desinfektan dan air bersih) serta tempat pakaian

kotor tersendiri. Masalah pasien diare yang perlu di perhatikan ialah risiko terjadi gangguan

sirkulasi darah, kebutuhan nutrisi, risiko terjadi komplikasi, gangguan rasa aman dan

nyaman, kurang pengetahuan orang tua terhadap suatu penyakit.


Cara pemberian cairan dan terapi ndehidrasi sebagai berikut: jika belum ada

dehidrasi berikan minum per oral sebanyak anak mau makan(Adlibitum) atau satu gelas

setiap diare. Jika telah terjadi dehidrasi ringan, berikan minum sebanyak-banyaknya, kira-kira

1 gelas setiap kali setelah pasien defekasi. Cairan harus mengandung elektrolit; seperti oralit.

Bila tidak ada oralit dapat di berikan larutan gula garam dengan 1 gelas air matang yang agak

dingin di larutkan dalam 1 sendok the gula pasir dan 1 jemput garam dapur. Penganti air

matang dapat the atau air tajin. Cara melarutkan oralit lihat petunjuk kemasannya karena ada

yang untuk 1 liter atau 1 gelas.

Untuk bayi di bawah umur 6 bulan, oralit di larutkan 2 kali lebih encer ( untuk 1

gelas menjadi 2 gelas). Jika anak terus muntah/ tidak mau minum sama sekali perlu di

berikan melalui sonde. Bila pemberian cairan per oral tidak dapat di lakukan, di pasang

infuse dengan cairan ringer laktat ( RL ) atau cairan lain yang tersedia setempat jika tidak ada

RL ( atas persetujuan dokter). Yang penting di perhatikan adalah apakah tetesan berjalan

lancer terutama pada jam-jam pertama karena di perlukan untuk mengatasi dehidrasi.

Pengobatan diaetik untuk anak di bawah 1 tahun dan anak di atas 1 tahun dengan

berat badan kurang dari 7 kg jenis makanan antara lain : susu, (ASI air susu formula yang

mengandung loktosa rendah dan asam lemak tidak jenuh, misalnya LLM, Almiron, atau jenis

lainnya ). Makanan yang setengah padat ( bubur ) atau makana padat ( nasi tim ) pada anak

yang tidak mau minum susu karena di rumah tidak biasa.selain itu terdapat susu khusus yang

di sesuaikan denga kelainan yang di temukan misalnya, susu yang tidak mengandung laktosa

atau asam lemak yang berkadang sedang atau tidak jenuh (Ngastiyah,2003)

Perawatan kulit pada balita dengan diare


Rawatlah kulit bayi dan balita secara benar. Apa saja yang harus dilakukan :

Hindari Sabun Keras

1. Bersihkan kulit dari kotoran yang menempel pada kulit seperti sisa makanan, air seni, dan

tinja dengan air. Mandi dua kali sehari juga akan membantu membersihkan kulit. Jika

kegiatan dan gerak anak sangat tinggi, mandi dapat dilakukan sampai 3 kali sehari.

2. Perhatikan sabun pembersih kulit. "Hindari sabun yang terlalu keras. Pilih sabun khusus

untuk balita dan bayi yang memiliki pH 4.5-5 dan agak berminyak untuk menghindari iritasi.

Gunakan pula pelembab berupa lotion dan krim khusus bayi dan balita. Fungsinya

mempertahankan atau menambah kandungan air dalam kulit terutama bagian terluar kulit ari

(epidermis). Berikan setelah mandi.

3. Cegah bayi terpapar sinar ultraviolet dari matahari atau gunakan pelindung sinar matahari.

Pukul 08.00 ke atas, intensitas ultraviolet sangat tinggi. Jadi menjemur bayi seharusnya

sebelum jam itu dan sebaiknya tetap gunakan krim atau lotion pelindung sinar matahari

khusus bayi dan balita.

Yang tak kalah penting, sebelum membeli produk perawatan kulit untuk bayi dan balita, teliti

informasi produk. Teliti, isi, tujuan, cara pemakaian, tanggal produksi, kedaluwarsa serta izin

dari badan POM agar terhindar dari faktor pemicu atau pencetus timbulnya penyakit.

Mencegah Eksim Popok

- Popok dari kain sebaiknya langsung diganti jika basah, jika popok sekali pakai sebaiknya

segera diganti jika air seni atau tinja yang diserap sudah melebihi daya tampung.
- Untuk mencegah jagalah kebersihan daerah kulit yang ditutupi popok. Setelah buang air

kecil dan besar, bersihkan kulit secara lembut dengan air hangat, lalu bilas bersih-bersih.

- Gunakan sabun khusus setelah buang air besar, lalu keringkan dengan handuk atau kain

lembut, dan tunggu 2 menit sebelum dipakaikan popok baru. Ini akan mencegah kulit tidak

lembab.

- Setelah itu, bisa dibubuhkan bedak yang berfungsi sebagai pelicin dan penyerap

kelembaban supaya mengurangi gesekan antara kulit dengan popoknya. Tapi harus digunakan

dalam keadaan kulit kering dan bersih. Jangan saat lembab karena malah bisa memicu

timbulnya jamur dan kuman. Juga jangan berlebihan karena bisa terhisap dan mengganggu

pernapasaan.

Mengusir biang keringat

Biang keringat muncul akibat saluran keringat tersumbat sel yang sudah berganti. Akibatnya,

rasa gatal terpicu. Berikut agar si kecil terhindar dari biang keringat :

1. Bayi atau anak dianjurkan mandi secara teratur, sedikitnya dua kali sehari menggunakan

air dingin dan sabun. Mandi yang teratur merupakan salah satu cara agar keringat dapat

keluar dengan bak dan lancar.

2. Jika bayi dan balita Anda banyak dan sering mengeluarkan keringat, basuh dengan handuk

atau kain lembut. Setelah itu taburi dengan bedak, tapi jangan pada saat kulit dalam kondisi

lembab.
3. Gunakan pakaian yang menyerap keringat, misalnya yang terbuat dari katun. Kalau

pakaiannya sudah basah oleh keringat, cepat ganti dengan yang kering. Sebaiknya bawa

beberapa potong baju jika sedang bepergian untuk mempermudah mengganti pakaian.
BAB III

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERSIONAL

3.1 Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah Absraksi yang terbentu oleh generalisasi dari hal-hal

khusus. Kerangka konsep penelitian ini mengenai peranan ibu terhadap perawatan diare,

peranan ibu semuanya harus di teliti tetapi peneliti hanya meneliti hanya 3 antara lain

sebagai pendidik, pemberi asi, pelindung.(EFFendy, 1998). Kerangka konsep pada dasarnya

adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin di amati melalui penelitian-

penelitian yang akan di lakukan.(Natoatmodjo, 2002) maka kerangka konsep yang dapt di

jabarkan sebagai berikut:

Variabel indevenden Variabel devenden

Peran ibu
- Pendidik
Perawatan
- Pemberi ASI
Kulit pada balita
- Pelindung
- teman
bermain
- Ahli kesedihan
- Pengawasan ruang belajar
- Pengasuh

Keterangan :

: Di teliti

: Tidak di teliti
3.2 Definisi Operasional

Definisi Skala
No Variabel Cara ukur Alat ukur Hasil ukur
perasional ukur
1 Peran ibu Segala Wawancara Kuesioner 1. Baik: Ordinal

tentang sesuatu yang jika ibu

perawatan harus di menjawab

kulit pada mengerti oleh pertanyaan

balita ibu tentang dengan benar

dengan perawatan ≥75%

diare kulit pada 2. Cukup:

balita dengan Jika ibu

diare dapat

menjawab

pertanyaan

dengn benar

60-74%

3. Kurang

: jika ibu

tidak

menjawab

dengan benar

<60%

(Arikunto,

2002)
2 Peran ibu Ibu berperan Wawancara Kuesioner 1. Baik: Ordinal

sebagai dalam jika ibu

pendidik mendidik dan menjawab

menyekolahka pertanyaan

n dengan

anaknyauntuk benar ≥75%

memberi 2. Cukup:

pengetahuan Jika ibu

tentang hal dapat

yang baik dan menjawab

hal yang tidak pertanyaan

baik dengn benar

60-74%

3. Kurang

: jika ibu

tidak

menjawab

dengan

benar <60%

(Arikunto,

2002)
3 Peran ibu Ibu Wawancara Kuesioner 1. Baik: Ordinal

tentang memberikan jika ibu

pemberi ASInya menjawab

ASI pada karena ASI pertanyaan

penyakit merupakan dengan

diare makanan benar ≥ 75%

paling 2. Cukup:

penting, buat jika ibu

bayi karena menjawab

ASI pertanyaan

mempunyai dengan

khasiat benar 60-

74%

3. Kurang

: jika ibu

tidak

menjawab

pertnyaan

dengan

benar <60%

(Arikunto,

2002)
4 Peran ibu ibu dapat Wawancara Kuesioner 1. Baik: jika Ordinal

sebagai melindungi ibu menjawab

pelindung anaknya pertanyaan

dari suatu dengan benar ≥

kecelakaan 75%

- 2. Cukup: jika

kecelakaan ibu menjawab

yang bisa pertanyaan

membahay dengan benar

akannya 60-74%

3. Kurang:

jika ibu tidak

menjawab

pertnyaan

dengan benar <

60%
BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Desain penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian yang bersikap deskriftif pada ibu yang

mempunyai anak yang menderita penyakit diare di puskesmas kertapati palembang tahun

2009.

4.2 Populasi dan sampel penelitian

4.2.1 Populasi penelitian

Populasi penelitian adalah keseluruhan subjek penelitian atau objek yang akan di

teliti (Natoatmojo, 2002)

Populasi ini adalah semua ibu yang mempunyai anak yang di rawat dengan penyakit diare di

puskesmas kertapati palembang tahun 2010

4.2.2 Sampel penelitian

Sampel penelitian adalah bagian populasi yang di teliti atau sebagian jumlah dari

karakteristik yang di miliki oleh populasi dan di anggap mewakili seluruh populasi (Azis,

2007)

Pemilihan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling yaitu

semua ibu yang mempunyai anak dengan penyakit diare di puskesmas kertapati palembang

4.3 Tempat dan waktu penelitian

Penelitian ini di lakukan di puskesmas pembina palembang pada tanggal 22-6 maret

2010

4.4 Teknik dan instrumen pengumpulan data


4.4.1 Teknik pengumpulan data

1. Data primer

Data primer di proleh melalui koesioner dan observasi atau wawancara langsung

dengan ibu-ibu yang memeriksakan anak balitanya ke puskesmas pembina

palembang

2. Data sekunder

Data yang di peoleh oleh puskesmas kertapati palembang, data dari medical

record puskesmas pembina palembang

4.4.2 Instrumen pengumpulan data

Instrumen pengumpulan data menggunakan koesioner yang meliputi variabel : peran

ibu dalam dalam perawatan kulit pada balita dengan diare Peran ibu dapat dilakukan drngan

wawancarayang menanyakan isi materi yang ingin di ukur dari subjek penelitian atau

responden.

4.5 Pengolahan data

Teknik pengolahan data menggunakan langka-langka sebagai berikut

4.5.1 Coding (pengkodean data)

Coding adalah suatu usaha yang mengklasifikasi jawaban-jawaban atau hasil yang

ada menurut macamnya ke bentuk yang lebih ringkas dalam menggunakan kode-kode

4.5.2 Editing (pengetikan data)

Editing adalah meneliti kembali apakah isian pada kuesioner atau formulir sudut

cukup baik yang dapat di proses lebih lanjut

4.5.3 Entriy data (pemasukan data)


Data yang telah selesai di coding dan di masukan kedalam kode, selanjutnya di

masukan ke dalam kartu tabulasi

4.5.4 Claning data (pembersihan data)

Setelah pemasukan data selesai lakukan pengecekan ulang apakah sudah benar-benar

dari kesalahan.

4.6 Tekhnik analisa data

analisa data yang dilakukan adalah analisa univariat terhadap tiap variabel dari hasil

penelitian dengan maksud unutk mengetahui distribusi frekuensi dari variabel-variabel yang

diteliti maupun: peran ibu dalam perawatan diare.

Untuk kriteria penelitian dalam penelitian ini penulis melakukan berdasarkan

penghitungan rumus yaitu apabila responden menjawab dengan benar maka sekornya 1 dan

responden menjawab salah sekornya 0 kemudian jawaban responden di kategorikan sebagai

berikut bila nilai > 75% kategori cukup jika nilai 60-74% dan kategori kurang jika nilai <

60%

4.7 Etika penelitian

Setelah dilakukan wawancara keluarga mendatangi format persetujuan sebagai

responden dalam penelitian.

Beri Nilai