Anda di halaman 1dari 17

HANDOUT

PROSES PERUBAHAN BAHAN KIMIA DALAM LINGKUNGAN HIDUP

Oleh

ZAHRINA NIM. 1506103040032

Untuk memenuhi salah satu tugas dan persyaratan guna mengikuti Mata kuliah Kimia Lingkungan

HANDOUT PROSES PERUBAHAN BAHAN KIMIA DALAM LINGKUNGAN HIDUP Oleh ZAHRINA NIM. 1506103040032 Untuk memenuhi salah satu

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA

2018

PROSES PERUBAHAN BAHAN KIMIA DALAM LINGKUNGAN HIDUP

1. Pelapukan

Pelapukan adalah proses desintegrasi atau disagregasi secara berangsur dari material penyusun kulit bumi yang berupa batuan. Pelapukan sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim, temperatur, dan komposisi kimia dari mineral-mineral penyusun batuan. Pelapukan dapat melibatkan proses mekanis (pelapukan mekanis), aktivitas kimiawi (pelapukan kimia), dan aktivitas organisme (termasuk manusia) yang dikenal dengan pelapukan organis (Noor, 2014 : 261). Proses pelapukan batuan membutuhkan waktu yang sangat lama. Semua proses pelapukan umumnya dipengaruhi oleh cuaca. Batuan yang telah mengalami proses pelapukan akan berubah menjadi tanah.

  • 1.1 Jenis-jenis pelapukan Proses pelapukan yang terjadi dibedakan atas pelapukan fisik, pelapukan

kimia, dan pelapukan biologis.

  • 1.1.1 Pelapukan Fisik Proses pelapukan batuan atau mineral mejadi partikel yang lebih halus

menyebabkan terjadinya kenaikan permukaan spesifik tanpa menyebabkan perubahan komposisi kimia, tetapi sangat diperlukan sebelum terjadi pelapukan

kimia. Pelapukan fisik disebabkan oleh fluktuasi suhu dan air membeku.

  • 1.1.1.1 Fluktuasi suhu

Perubahan sushu yang terjadi antara siang (panas) dan malam (dingin) menyebabkan pengembangan dan kontraksi antara bagian permukaan dan sakhil (dalam) batujan atau mineral sehingga menghasilkan cekaman (stress), pengelupasan (splitting), retakan (fissuring), dan perombakan (decay). Proses-

proses terseut merupakan ciri khas diwilayah yang beriklim gurun atau arid.

  • 1.1.1.2 Air membeku

Volume es 9% lebih besar dibanding air; air yang membeku diretakan batuan mengakibatkan batuan menjadi pecah. Proses ini merupakan ciri khas

diwilayah yang mempunyai iklim dingin bersalju dan iklim kutub. (Sutanto, 2005 : 29-31)

diwilayah yang mempunyai iklim dingin bersalju dan iklim kutub. (Sutanto, 2005 : 29-31) Gambar 1.1 Pelapukan

Gambar 1.1 Pelapukan fisik pada batuan (Sumber : Tanjung, 2015 : 178)

  • 1.1.2 Pelapukan Kimia

Proses pelapukan batuan atau mineral malalui reaksi kimia menghasikan material yang memiliki komposisi berbeda dangan bahan aslinya (proses disolusi, hidrolisis, asidolisis, dan oksidasi). Agen utama terjadinya proses pelapuka kimia

adalah H 2 O, CO 2 , O 2 , dan ion H + .

  • 1.1.2.1 Disolusi

Terutama terjadi pada garam-garam yang larut dalam air seperti natrium klorida (NaCl), dan gipsum (CaSO 4 .2H 2 O); terjadi pelarutan karena pengikatan

antara molekul air kutub ganda (dipole) dan kation serta anion (penyusun garam) serta kehilangan ion dalam larutan. Proses disolusi sangat penting terutama pada proses desalinisasi tanah-tanah salin (garaman) dan pembentukantanah dari batuan yang banyak mengandung gipsum.

  • 1.1.2.2 Hidrolisis

Dekomposisi atau pelapukan oleh air (H 2 O) akan terjadi pada garam- garam, baik yang mudah larut maupun yang sukar larut, yang terjadi atas basa kuat dan asam lemah karena disosiasi H 2 O manjadi H + dan OH - .

Contoh :

Hidrolisis CaCO 3 tanpa adanya CO 2

  • i) Hidrolisis CaCO 3 : CaCO 3 + 2HOH Ca (OH) 2 + H 2 CO 3

Contoh : Hidrolisis CaCO tanpa adanya CO i) Hidrolisis CaCO : CaCO + 2HOH Ca (OH)

ii) Hidrolisis mineral silikat : terbeentuk ikatan baru (neoformasi antara Al-O dan Si-O membentuk aluminosilikat) dan senyawa bersifat asam lemah. iii) Hidrolisis ortokelas KAlSi 3 O 8 :

K + .H 2 O, Na + .H 2 O, Ca 2+ .2H 2 O, Mg 2+ .2H 2 O KAlSi 3 O 8 + HOH K + [OH + H] AlSi 3 O 8 Proses hidrolisis lebih lanjut terjadi dalam waktu lama dan terbentuk mineral amorf berukuran < 2µm. HAlSi 3 O 8 + 4HOH Al(OH) 3 + 3H 2 SiO 3 (Sutanto, 2005 :31-32) 1.1.2.3 Asidolisis

Contoh : Hidrolisis CaCO tanpa adanya CO i) Hidrolisis CaCO : CaCO + 2HOH Ca (OH)
Contoh : Hidrolisis CaCO tanpa adanya CO i) Hidrolisis CaCO : CaCO + 2HOH Ca (OH)
 

Reaksi

mineral

dengan

ion

H 3 O +

(H + ).

Reaksi

ini lebih intensif

dibandingkan dengan hidrolisis di dalam air murni. Ion H atau proton terutama berasal dari asam lemah H 2 CO 3 yang dihasilkan dari reaksi CO 2 atmosfer dan air.

H + berasal ari asam H 2 CO 3 : hasil reaksi antara CO 2 udara dengan H 2 O

CO 2 + H 2 O

CO + H O H CO H berasal dari asam organik : -

H 2 CO 3

H + berasal dari asam organik : -

: H + HCO COOH - COO + H

: H + + HCO 3 COOH

-

: H + HCO COOH - COO + H

COO - + H +

 
 

-

ROH

RO + H

RO - + H +

Contoh :

 

Peranan H + terhadap CaCO 3 :

 
 

CaCO 3 + H2CO 3

CaCO + H2CO Ca(HCO )

Ca(HCO 3 )

2

Ion H + melarutkan Ca 2+ dari kristal mineral dan bersama dengan CO 3 membentuk CaCO 3 dan dalam larutan membentuk Ca(HCO 3 ) 2 .

2-

1.1.2.4 Oksidasi Unsur tereduksi (Fe 2+ , Mn 2+ , S 2 ) mengalami oksidasi karena ada oksigen (O 2 ) dan H 2 O serta mikroorganisme sehingga terbentuk Fe 3+ , Mn 4+ , S 4+ . Proses Oksidasi Fe 3+ Fe(OH) 3 menyebabkan warna merah. Tanah berwarna merah menunjukkan pelapukan lanjut. Tanah yang tergenang kuat akan mengalami proses reduksi, warna merah cenderung kelabu, Fe 3+ tereduksi menjadi Fe 2+ (mobilitas tinggi) dan hilang bersama air. Tanah sawah dengan penggenangan dan pengeringan secara bergantian menyebabkan tanah mengalami proses reduksi dan oksidasi sehingga didalam tanah dijumpai bercak-bercak berwarna merah karat. Contoh :

Ion H melarutkan Ca dari kristal mineral dan bersama dengan CO membentuk CaCO dan dalam larutan

Oksidasi augit (kombinasi hidrolisis dan asidolisis) :

Ion H melarutkan Ca dari kristal mineral dan bersama dengan CO membentuk CaCO dan dalam larutan

4CaFeSi 2 O 6 dan O 2 + 4H 2 CO 3 + 6HOH 4CaCO 3 + 4FeOOH + 8H 2 SiO 3

Oksidasi pirit (FeS 2 ) :

Ion H melarutkan Ca dari kristal mineral dan bersama dengan CO membentuk CaCO dan dalam larutan

4FeS 2 + 15O 2 + 10HOH 4FeOOH + 8H 2 SO 4

Ion H melarutkan Ca dari kristal mineral dan bersama dengan CO membentuk CaCO dan dalam larutan

H 2 O + SO 3

Organisme tanah dan perakaran tanaman berinteraksi dengan hasil pelapukan kimia menghasilkan : CO 2 (melalui respirasi); ion H + (pertukaran dengan kation kompleks absorpsi tanah); anion organik (sitrat, malat, oksalat) membentuk kompleks yang mudah larut bersama dengan Al, Fe, Mn; dan merusak kriatal mineral. Disamping itu, juga terjadi oksidasi Fe 2+ , S 2+ , Mn 2+ melalui kegiatan mikrobia (Sutanto, 2005 : 32-33).

Gambar 1.2 Pelapukan kimiawi (Sumber : Tanjung, 2015 : 178) 1.1.3 Pelapukan Organik (Biologis) Pelapukan Organik

Gambar 1.2 Pelapukan kimiawi (Sumber : Tanjung, 2015 : 178)

  • 1.1.3 Pelapukan Organik (Biologis)

Pelapukan Organik adalah pelapukan batuan yang terjadi dikarenakan oleh makhluk hidup. Pelapukan jenis ini dapat bersifat kimiawi ataupun mekanis,

yang menjadi pembedanya adalah subjek pelakunya, yaitu makhluk hidup berupa manusia, hewan, ataupun tumbuhan. Misalnya lumut, cendawan, ataupun bakteri yang merusak permukaan batuan.

Gambar 1.2 Pelapukan kimiawi (Sumber : Tanjung, 2015 : 178) 1.1.3 Pelapukan Organik (Biologis) Pelapukan Organik

Gambar 1.3 Pelapukan biologis (Sumber : Tanjung, 2015 : 178)

1.2

Faktor-Faktor yang mempengaruhi pelapukan

  • 1.2.1 Keadaan struktur batuan Struktur batuan adalah sifat fisik dan kimia yang dimiliki oleh batuan.

Sifat fisik batuan, seperti warna batuan, sedangkan sifat kimia batuan adalah unsur-unsur kimia yang terkandung dalam batuan tersebut. Kedua sifat inilah yang menyebabkan perbedaan daya tahan batuan terhadap pelapukan. Batuan yang mudah lapuk contohnya batu lempeng(batu sedimen) dan batuan yang sukar lapuk contohnya batuan beku.

  • 1.2.2 Keadaan Topografi

Topografi muka bumi turut mempengaruhi terjadinya proses pelapukan batuan. Batuan yang berada pada lereng yang curam cenderung akan mudah melapuk jika dibandingkan dengan batuan yang berada di tempat yang landai. Pada lereng yang curam, batuan akan dengan sangat mudah terkikis atau akan mudah terlapukkan karena lansung bersentuhan dengan cuaca sekitar. Namun, pada lereng yang landai atau rata, batuan akan terselimuti oleh berbagai endapan sehingga akan memperlambat proses pelapukan dari hutan tersebut.

  • 1.2.3 Cuaca dan iklim

Unsur cuaca dan iklim yang mempengaruhi proses pelapukan adalah suhu udara, curah hujan, sinar matahari, atau angin. Pada daerah yang memiliki iklim

lembab dan panas, batuan akan cepat mengalami proses pelapukan jika dibandingkan dengan daerah yang memiliki iklim dingin. Pergantian temperatur antara siang yang panas dan malam yang dingin akan semakin mempercepat pelapukan.

  • 1.2.4 Keadaan Vegetasi

Vegatasi atau tumbuh-tumbuhan juga akan memperngaruhi proses pelapukan. Akar-akar tumbuhan tersebut dapat menembus celah-celah batuan. Jika akar tersebut semakin membesar, kekuatannya akan semakin besar pula dalam menerobos bebatuan. Selain itu, serasah dedauann yang gugur juga akan membantu mempercepat proses pelapukan batuan. Serasah batuan tersebut mengandung zat asam arang dan zat humus yang dapat merusak kekuatan batuan. (Hartono, 2007 : 69-69)

1.3

Parameter pelapukan

  • 1.3.1 Intensitas pelapukan

Pelapukan fisik dipercepat oleh variasi fluktuasi suhu (kisaran terpanas

dan terdingin), pelapukan kimia meningkat dengan meningkatnya kelembapan, suhu, dan konsentrasi H + serta menigkatnya permukaan spesifik.

  • 1.3.2 Ketahanan mineral terhadap pelapukan

Tergantung pada struktur mineral (struktur mineral kisi dan kerangka bersifat lebih stabil), yaitu perbandingan antara ikatan Si-O (stabil) dan ikatan

tidak stabil Na-O, K-O, Mg-O, dan Ca-O. Urutan ketahanan mineral terhadap pelapukan (berdasarkan ukuran partikel yang sama):

Gipsum < kalsit < dolomit Olivine < anortit < apatit < hornblende < albit Biotit < muskovit < ortokelas Kuarsa < magnetit < zircon

  • 1.3.3 Ketahan batuan terhadap pelapukan

Tergantung pada sifat fisik batuan (kompak atau lepas-lepas), komposisi mineral, struktur batuan (krisal kasa < kristal halus ), cerat (clevage), stratifikasi mineral, foliasi (mineral banyak karatan kurang stabil), dan tipe bahan sementasi

(karbonat < lempung < hidroksida dan oksida).

  • 1.3.4 Tingkat pelapukan batuan

Berdasarkan indeks pelapukan, yaitu nisbah antara mineral stabil dan tidak satbil pada mineral yang belum terlapuk. Makin lanjut pelapukan, perbedaan

nisbah antara bahan induk dan tanah makin besar. Contoh : Indeks kuarsa/feldspar = Total kuarsa/total feldsfar (% berat).

  • 1.4 Pemanfaatan Pelapukan

Butiran-butiran mineral yang membentuk bagian padat dari tanah merupakan hasil pelapukan dari batuan. Pembentukan tanah dari batuan mduknya atau pelapukan merupakan proses terurainya batuan menjadi partikel-partikel yang lebih kecil akibat proses mekanis maupun kimia. Pelapukan mekanis dapat

disebabkan oleh memuai dan menyusutnya batuan akibat perubahan suhu

dancuaca yang terus-menerus yang akhimya dapat menyebabkan hancurnya batuan tersebut. Unsur fisik lainnya yang menyebabkan pecahnya batuan adalah es gletser, angin, gelombang air laut, dan air yang mengalir dikali atau disungai (Braja M. Das, I, 1995). Air yang meresap kedalam pori batuan dan diantara retak halus pada celah-celah batuan, bila temperatur udara turun dibawah titik beku, air tersebut menjadi es dan volumenya memuai. Tekanan yang terjadi itu umumnya cukup besar untuk memecahkan batuan yang besar sekalipun. Pada proses pelapukan kimia, mineral batuan induk diubah menjadi mineral-mineral baru melalui reaksi kimia. Air dan karbon dioksida dari udara membentuk asam-asam karbon yang kemudian bereaksi dengan mineral-mineral batuan dan membentuk mineral-mineral bam ditambah garam-garam terlarut. Garam-garam yang terlarut tersebut ada pada air tanah, dan asam organik yang terbentuk dalam proses membusuknya bahan-bahan organik juga menyebabkan terjadinya pelapukan kimia. Akibat pelapukkan mekanaik pada batuan, batu berubah menjadi pasir, yang bermanfaat untuk membuat beton pada konstruksi bangunan. Pasir kwarsa terjadi dari pelapukan batuan yang mengandung kristal kuarsa yang dicuci oleh alam misalnya oleh sungai, danau, serta gelombang air laut di pantai. Kegunaan pasir kuarsa sangat banyak, seperti tanah liat, industri kimia, industri keramik dan pengecoran besi.

2. Erosi

  • 2.1 Pengertian Erosi

Erosi adalah hasil pengikisan permukaan bumi oleh tenaga yang melibatkan pengangkatan benda-benda, sepertia ir mengalir, es, angin, dan gelombang atau arus. Secara umum, terjadinya erosi ditentukan oleh faktor-faktor iklim (terutama intensitas hujan), topografi, karakteristik tanah, vegetasi penutup tanah, dan penggunaan lahan. (Lihawa, 2017 : 47) Secara umum, erosi ada dua yaitu erosi geologi dan erosi dipercepat. Erosi geologi merupakan proses pengangkutan tanah yang terjadi secara alami. Sedangkan erosi dipercepat adalah erosi yang terjadi karena pengaruh interaksi

alam dan manusia sebagai pengguna sumberdaya alam. Menurut bentuknya, erosi dibedakan dalam erosi lembar, erosi alur, erosi parit, erosi tebing sungai, longsor dan erosi internal (Satriawan, 2014 : 12-13).

  • 2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi erosi Secara hubungan fungsional, erosi terjadi karena interaksi kerja dari iklim,

topografi, vegetasi dan manusia terhadap tanah.

  • 2.2.1 Iklim

Di daerah beriklim basah faktor iklim yang mempengaruhi erosi adalah hujan. Besarnya curah hujan, intensitas dan distribusi hujan menentukan kekuatan dispersi hujan terhadap tanah, jumlah dan kecepatan aliran permukaan dan besarnya erosi. Curah hujan adalah volume air yang jatuh pada suatu areal tertentu, biasanya dinyatakan dalam satuan tinggi air (mm). Intensitas hujan menyatakan besarnya curah hujan dalam satu satuan waktu yang singkat yaitu 5, 15, atau 30 menit yang dinyatakan dalam mm/jam atau cm/jam. Klasifikasi intensitas hujan menurut Kohnke dan Betrand (1959) :

Tabel 1.1 Klasifikasi intensitas hujan

Intensitas hujan (mm/jam)

Klasifikasi

< 6.25

Rendah

6.25-12.50

Sedang

12.50-50

Lebat

>50

Sangat lebat

  • 2.2.2 Topografi

Dua unsur pokok topografi yang paling berpengaruh terhadap aliran permukaan dan erosi adalah kemiringan dan panjang lereng. Unsur lain yang juga berpengaruh adalah konfigurasi, keseragaman dan arah lereng. Semakin besar kemiringan lereng, selain akan menyebabkan semakin besarnya jumlah dan kecepatan runoff, juga memperbesar energi angkut air.

Dua unsur pokok topografi yang paling berpengaruh terhadap aliran permukaan dan erosi adalah kemiringan dan panjang

Gambar 2.1 Hubungan antara besarnya kemiringan lereng, dengan aliran permukaan dan erosi.

Panjang lereng dihitung mulai dari titik pangkal aliran permukaan sampai suatu titik dimana air masuk ke dalam saluran atau sungai, atau dimana kemiringan lereng berkurang sedemikian rupa sehingga kecepatan aliran air berubah. Hal ini berarti semakin banyaknya air yang mengalir dan besarnya kecepatan aliran dibagian bawah lereng dibandingkan dibagian atasnya, berarti semakin besar kemungkinan erosi yang terjadi. Bentuk lereng dapat menggambarkan bentuk erosi yang terjadi. Pengamatan secera umum menunjukkan bahwa erosi lembar yang besar terjadi pada lereng yang berbentuk cembung, sedangkan erosi parit lebih banyak terjadi pada lereng yang berbentuk cekung. 2.2.3 Vegetasi Vegetasi sebagai penutup tanah dapat mengurangi pengaruh hujan dan topografi terhadap erosi. Pengaruh vegetasi terhadap aliran permukaan dan erosi dapat dibagi dalam empat bagian; (1) intersepsi hujan oleh akar tanaman; (2) mengurangi energi, kecepatan aliran permukaan dan kekuaan perusak air dan

selanjutnya mengurangi kemampuan aliran permukaan untuk melepas dan mengangkut partikel tanah; (3) pengaruh akar dan aktivitas biologis yang berhubungan dengan pertumbuhan vegetasi dan pengaruhnya terhadap stabilitas struktur dan porositas tanah; dan (4) transpirasi yang mengakibatkan kandungan air tanah berkuran, sehingga terjadi kesetimbangan kadar air tanah. 2.2.4 Tanah Tiap jenis tanah mempunyai kepekaan terhadap erosi yang berbeda. Kepekaan tanah yaitu sifat mudah atau tidaknya tanah tereros, yang merupakan interaksi sifat-sifat fisik dan kimia tanah (Satriawan, 2014 : 15-17).

  • 2.3 Permasalahan akibat erosi dan pencegahannya

Peningkatan keragaman aktivitas penduduk dalam rangka meningkatkan produksi tanaman pertanian terkait erat dengan peningkatan kebutuhan terhadap lahan. Masalah tersebut dapat menyebabkan terjadinya eksploitasi lahan pertanian yang terus menerus tanpa memperhatikan kaedah-kaedah konservasi, sehingga menyebabkan penurunan produktifitas lahan baik sifatnya sementara maupun tetap yang pada gilirannya akan berdampak pada perubahan ekosistem yang mengarah ke degradasi lingkungan. Menurut FAO (1976 dalam Arsyad, 2010) berdasarkan prioritas penanganan masalahnya, penyebab terjadinya degradasi lahan dibagi ke dalam 3 kategori, yaitu : kategori pertama penyebabnya adalah erosi dan sedimentasi, akumulasi garam/ basa/ bahan polutan, terjadi pH yang luar biasa rendah, limbah bahan organik dan ancaman penyakit infeksi. Kategori dua disebabkan oleh limbah bahan anorganik dari industri, pestisida, radioaktif, keracunan logam berat dan ancaman banjir dan kekeringan, sementara untuk kategori tiga penyebabnya adalah proses penambangan, penggunaan pupuk yang salah, penggunaan air yang berkualitas jelek, tercemar deterjen dan amblesan (subsidence). Kecamatan Lembah Seulawah berdasarkan peta wilayah merupakan daerah rawan bencana khususnya di Kabupaten Aceh Besar dan Kecamatan ini juga rentan terhadap degradasi lahan berupa longsor dan erosi. Secara makro Kecamatan Lembah Seulawah memiliki morfologi perbukitan dan pegunungan,

sehingga proses-proses pengikisan permukaan tanah oleh air hujan mengakibatkan erosi dan longsor berjalan intensif. Penduduk di Kecamatan Lembah Seulawah sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dengan mengolah lahan di lereng perbukitan. Cara pemanfaatan lahan untuk kegiatan pertanian masih belum menerapkan kaidah konservasi tanah dan air. Areal tanaman semusim yang digunakan oleh masyarakat di Kecamatan Lembah Seulawah seluas 12.788 ha dan areal tanaman tahunan campuran seluas 2.975 ha (BPP Lembah Seulawah, 2010) yang tersebar di desa-desa yang ada di Kecamatan Lembah Seulawah. Berdasarkan kondisi morfologis, Kecamatan Lembah Seulawah sebagian besar berupa daerah perbukitan dan mayoritas lahannya dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Salah satu penyebab degradasi dipengaruhi oleh erosi oleh air hujan. Laju erosi akan menjadi lebih berbahaya apabila didukung oleh hilangnya tutupan tanah, lahan berlereng dan panjang ketebalan olahan tanah sehingga terangkutnya bahan organik yang ada di atas permukaan tanah oleh aliran permukaan (run off). Erosi adalah peristiwa terdispersinya agregat tanah kemudian terangkut ke tempat lain oleh aliran permukaan. Faktor yang mempercepat proses terjadinya erosi adalah kegiatan manusia dalam usaha produksi pertanian maupun kegiatan kehidupan lainnya yang memanfaatkan sumberdaya alam secara tidak bertanggung jawab (Arsyad, 2010). Konservasi tanah adalah penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan persyaratan yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Sifat fisika, kimia tanah dan keadaan topografi lapangan menentukan kemampuan untuk suatu penggunaan dan perlakuan yang diperlukan. Untuk penilaian tanah tersebut dirumuskan dalam sistem klasifikasi kemampuan lahan yang ditujukan untuk; (1) mencegah kerusakan tanah oleh erosi, (2) memperbaiki tanah yang rusak dan (3) memelihara serta meningkatkan produktivitas tanah agar dapat dipergunakan secara lestari. Oleh karena itu, konservasi tanah tidaklah berarti penundaan penggunaan tanah atau pelarangan penggunaan tanah, tetapi menyesuaian macam penggunaannya dengan

kemampuan tanah dan memberikan perlakuan sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan, agar dapat berfungsi secara lestari. Pengendalian atau pencegahan erosi (tindakan konservasi tanah) berarti menjaga agar struktur tanah tidak terdispersi, yang dapat dilakukan dengan cara mengatur kekuatan gerak dan jumlah aliran permukaan. Beberapa usaha yang dilakukan untuk mengendalikan erosi, yaitu ; (a) menutup tanah dengan tumbuh tumbuhan dan tanaman atau sisa-sisa tanaman, agar tanah terlindung dari daya rusak butir-butir hujan yang jatuh. Butir-butir hujan yang jatuh diusahakan tidak langsung mengenai tanah sehingga tanah tidak terdispersi. Di samping itu dengan adanya tanaman penutup tanah (sisa-sisa tanaman yang dapat menutup tanah), akan menghindari butiran tanah untuk ikut terbawa aliran permukaan, (b) memperbaiki dan menjaga keadaan tanah agar resisten terhadap penghacuran butiran tanah dan terhadap pengangkutan butir tanah oleh aliran permukaan serta memperbesar daya tanah untuk menyerap air di permukaan tanah dan (c) mengatur aliran permukaan agar mengalir dengan kecepatan yang tidak merusak dan memperbesar jumlah air yang terinfiltrasi ke dalam tanah (Arsyad, 2010).

DAFTAR PUSTAKA

Hartono. 2007. Geografi : Jelajah Ilmu dan alam semesta. Bandung : Citra Praya Lihawa, Fitryane. 2017. Daerah Aliran Sungai Alo Erosi, sedimentasi, dan longsor. Yogyakarta : Deepublish Noor, Djauhari. 2014. Pengantar Geologi. Yogyakarta : Deepublish Rusdi., M.Rusli Alibasyah., Abubakar Karim. 2013. DEGRADASI LAHAN AKIBAT EROSI PADA AREAL PERTANIAN DI KECAMATAN LEMBAH SEULAWAH KABUPATEN ACEH BESAR. Jurnal Manajemen Sumber Daya Lahan. Vol. 2 (3) Hal. 240-249. Satriawan, Halus., dkk. 2014. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Yogyakarta :

Deepublish. Sutanto, Rachman. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Yogyakarta : Kanisius. Tanjung, Darlina. 2015. Pengaruh Pelapukan dan Erosi. Jurnal Al Ulum Seri Saintek. Vol. 3 (1) Hal. 169-182

Soal-Soal

  • 1. Jelaskan perbedaan antara pelapukan batuan dan erosi! Jawab: Pelapukan batuan menambah massa tanah, sedangkan erosi malah mengurangi massa tanah. Pelaupkan batuan bersifat statis, tidak ada transportasi pada batuan, sedangkan erosi bersifat dinamis, ada transportasi oleh air, angin, dan es.

  • 2. Berikan contoh reaksi pelapukan kimia!

Jawab : Peranan H + terhadap CaCO 3 :

CaCO 3 + H2CO 3 Ca(HCO 3 ) 2

Soal-Soal 1. Jelaskan perbedaan antara pelapukan batuan dan erosi! Jawab: Pelapukan batuan menambah massa tanah, sedangkan
  • 3. Tindakana apa yang harus dilakukan untuk mencegah erosi? Jawab : Hal yang harus dilakukan unuk mencegah erosi adalah

    • - Lakukan konservasi tanah

    • - Membuat saluran air

    • - Reboisasi

    • - Lakukan rotasi tanam

    • - Menjaga kelestarian Daerah aliran sungai

  • 4. Jelaskan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pelapukan Jawab :

    • 1. Keadaan struktur batuan

  • Struktur batuan adalah sifat fisik dan kimia yang dimiliki oleh batuan. Sifat fisik batuan, seperti warna batuan, sedangkan sifat kimia batuan adalah unsur-unsur kimia yang terkandung dalam batuan tersebut. Kedua sifat inilah

    yang menyebabkan perbedaan daya tahan batuan terhadap pelapukan. Batuan yang mudah lapuk contohnya batu lempeng(batu sedimen) dan batuan yang sukar lapuk contohnya batuan beku.

    • 2. Keadaan Topografi

    Topografi muka bumi turut mempengaruhi terjadinya proses pelapukan batuan. Batuan yang berada pada lereng yang curam cenderung akan mudah

    melapuk jika dibandingkan dengan batuan yang berada di tempat yang landai. Pada lereng yang curam, batuan akan dengan sangat mudah terkikis atau akan mudah terlapukkan karena lansung bersentuhan dengan cuaca sekitar. Namun, pada lereng yang landai atau rata, batuan akan terselimuti oleh berbagai endapan sehingga akan memperlambat proses pelapukan dari hutan tersebut.

    • 3. Cuaca dan iklim

    Unsur cuaca dan iklim yang mempengaruhi proses pelapukan adalah suhu udara, curah hujan, sinar matahari, atau angin. Pada daerah yang memiliki iklim

    lembab dan panas, batuan akan cepat mengalami proses pelapukan jika dibandingkan dengan daerah yang memiliki iklim dingin. Pergantian temperatur antara siang yang panas dan malam yang dingin akan semakin mempercepat pelapukan.

    • 4. Keadaan Vegetasi

    Vegatasi atau tumbuh-tumbuhan juga akan memperngaruhi proses pelapukan. Akar-akar tumbuhan tersebut dapat menembus celah-celah batuan. Jika akar tersebut semakin membesar, kekuatannya akan semakin besar pula dalam menerobos bebatuan. Selain itu, serasah dedauann yang gugur juga akan membantu mempercepat proses pelapukan batuan. Serasah batuan tersebut mengandung zat asam arang dan zat humus yang dapat merusak kekuatan batuan.

    • 5. Apa saja manfaat pelapukan bagi kehidupan ? Jawab : Pelapukan dapat membuat tanah menjadi subur, akibat dari proses pelapukan kimia.